Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

21 Juli 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Jalsah Salanah Jemaat kita di UK, InsyaAllah, dilaksanakan pada hari Jum’at mendatang. Dengan karunia Allah Ta’ala, para tamu sudah mulai berdatangan dari berbagai negara untuk ikut serta dalam Jalsah ini. Seiring mendekat hari-hari Jalsah, bertambah pula jumlah tamu yang datang dari Negara-negara yang dekat dan jauh. Begitu pula dari kota-kota di Britania. Selain para Ahmadi yang datang untuk mengambil faedah dari Jalsah yang penuh berkat ini, para tamu jalsah yang sekarang pun terdiri dari para Muslim ghair Ahmadi dan para non-Muslim, yang datang bukan hanya dari Inggris raya melainkan juga dari berbagai Negara.

Para tamu ini termasuk perwakilan pemerintah atau pejabat publik dari beberapa Negara serta orang-orang berpengaruh dari akademisi. Begitu juga, jumlah orang-orang yang terkait dengan pers dan media kini juga mulai meningkat. Semua peserta dari luar [Jemaat] tersebut, mengamati segalanya dengan pengamatan sangat teliti dan secara umum terkesan. Mereka mengamati secara khusus pada Nizham Jemaat yang menjangkau ke semua bidang pengkhidmatan oleh para sukarelawan. Hal tersebut membuka bagi kita jalan-jalan pertablighan dan perkenalan lebih banyak karena orang-orang berusaha mengenal Jemaat lebih banyak. Jadi selama tiga hari ini, para relawan kita yang terdiri dari pria, wanita, para remaja putra, remaja putri dan anak-anak bertugas melakukan tabligh secara diam-diam dan melalui media informasi, Ahmadiyah diperkenalkan secara luas ke seluruh penjuru dunia.

Media-media ini mulai memperhatikan kita dalam periode belakangan ini setiap kali peristiwa tertentu terjadi, misalnya, setelah terjadinya aksi-aksi teroris di Negara-negara Eropa, para anggota Jemaat, pria dan wanita, telah berupaya untuk menyampaikan pesan Islam yang benar kepada dunia dan telah memainkan peran utama di bidang media dalam Jemaat kita dengan menerbitkan sejumlah wawancara para Muballigh kita di media global, yang mana itu memperkenalkan kepada dunia mengenai komunitas kita secara luas sebagai sebuah Jamaah yang menyerukan ajaran-ajaran Islam tentang kedamaian. Dengan bertambahnya teladan dalam hal ini maka dunia bertambah mengenal kita.

Singkatnya, Tuhan menciptakan melalui Jalsah Salanah sarana-sarana untuk memperkenalkan Islam secara luas di dunia. Jika para Ahmadi menghadiri pertemuan ini, mereka akan mempelajari dari berbagai kegiatan pertemuan seperti pidato dan lainnya, berusaha memajukan keruhaniannya, bagaimana para tamu yang bukan komunitas kita dan para wartawan mendengarkan ajaran-ajaran dan keyakinan kita dan melihat suasana Jalsah umumnya dan apra relawan, pria dan wanita yang mengkhidmati tamu dengan semangat pengkhidmatan dan penghormatan tamu, dan begitulah mereka melihat ajaran Islam yang indah diterapkan dalam praktek, dan dengan demikian Jalsah menjadi cara yang bagus untuk pertablighan.

Dengan demikian, para relawan mempuyai peranan yang sangat besar dalam pertablighan. Kapan saja atau dalam kapasitas apapun para relawan ini berkhidmat, mereka memiliki arti penting tersendiri. Arti penting ini harus diingat oleh semua relawan, mulai dari panitia biasa hingga para ketua panitia. Tindakan pengkhidmatan tulus dan sikap baik setiap relawan – seperti anak kecil yang mengedarkan air minum demi meraih ridha Allah – memberikan sebuah dampak bagi para pengamat yang berasal dari luar Jemaat tersebut.

Demikian pula, para officers dan ketua berbagai bidang dalam Jalsah janganlah hanya main suruh-suruh kepara anggota Panitia dan asisten mereka dengan berpikiran mereka datang untuk berkhidmat. Bahkan, mereka sendiri juga harus mengkhidmati para tamu dengan kerendahan hati dan memimpin dengan memberikan contoh dalam bekerja sebagaimana seorang panitia biasa. Mereka harus memperlakukan para asisten dan anggota panitia serta selain mereka dari kalangan tetamu dengan kesantunan dan semangat saling bekerjasama. Tanda kerendahan hati dan kelembutan harus terpancar dari raut wajah mereka hingga ke derajat tertinggi. Suara mereka harus lembut dan ketinggian standar akhlak mereka harus ditampakan. Mereka harus selalu ingat bahwa keramahan merupakan bagian yang sangat penting.

Ingatlah senantiasa, dhiyafah (pengkhidmatan tamu) adalah bagian penting dalam Jalsah ini. Pengertian Dhiyafah bukan sekedar menghidangkan makanan, minuman dan penginapan saja melainkan setiap bagian (seksi kepanitiaan) dari semua bagian kepanitiaan Jalsah, apa pun namanya, berada di bawah divisi Dhiyafah. Siapa saja yang menghadiri Jalsah adalah tamu. Memenuhi keperluan para tamu dengan sarana yang dimungkinkan merupakan kewajiban setiap sukarelawan yang bekerja di bidang mana pun dalam pengkhidmatan Jalsah. Sehubungan dengan hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengungkapkan perasaannya di satu tempat, yang merupakan prinsip dasar dan tuntunan bagi kita.

Di satu kesempatan beliau (as) bersabda, “Saya senantiasa memikirkan agar tidak ada seorang tamu pun yang mengalami kesukaran atau ketidaknyamanan. Oleh karena itu saya selalu tekankan agar para tamu diberikan kenyamanan sebaik mungkin.” Lebih Lanjut beliau bersabda: “Perasaan para tamu itu laksana kaca rapuh, yang dapat pecah dengan sedikit rasa sakit.”

Jadi, kita harus menjadikan pesan ini sebagai pedoman kita dan mengedepankan kenyamanan dan kemudahan para tamu bahkan hingga jika upaya tersebut malah menyusahkan kita dan menekan perasaan kita terkadang.

Selanjutnya saya ingin sampaikan hal ini kepada para ketua seksi panitia di setiap bidang bahwa jika perilaku mereka lembut, akhlak mereka baik, sabar dan menahan diri dari perkataan yang tidak menyenangkan, maka sudah pasti wakil serta asisten mereka pun akan menampilkan perilaku tersebut kepada para tamu, juga akan menjadi contoh keramahan yang sempurna. Namun jika wajah para ketua seksi tampak kasar dan kesal, memiliki suara yang kasar, tidak mau mendengar dan tidak sabaran, maka para wakil serta asisten mereka pun akan menampilkan perilaku yang demikian.

Oleh karena itu, guna mewujudkan standar keramahan yang tinggi, para ketua seksi di setiap bidang harus senantiasa menilai diri mereka sendiri, dan berusaha keras meningkatkan keramahan dan kerendahan hati mereka hingga mencapai standar yang tinggi. Sebagaimana saya telah sebutkan bahwa bukan hanya satu atau beberapa seksi yang masuk dalam kategori Dhiyaafah (penyambutan dan pelayanan tamu) dan memang harus bersikap ramah tama melainkan semua seksi di kepanitiaan pengkhidmatan Jalsah ini merupakan seksi Dhiyaafah. Sama saja apakah itu seksi akomodasi, persiapan dan penyediaan makanan, penghidangan makanan, komunikasi, kebersihan umum, kebersihan toilet, medikal dan ambulan, penunjuk jalan, penjagaan dan keamanan yang mana itu semua dilakukan oleh para Khuddam dan anggota lainnya; semua bagian ini dan selain itu, semuanya berada dibawah naungan Dhiyaafah (penyambutan dan pelayanan tamu).

Pengawas harus ingat untuk menyediakan akomodasi dan perhatian khusus untuk tempat tidur kaum perempuan dan anak-anak di tempat-tempat akomodasi kolektif dan di tenda-tenda yang tersebar juga. Tidak ada keraguan bahwa kita berada dalam hari-hari musim panas, tapi sekarang udara malam dengan tiba-tiba dapat dingin, terutama di Hadiqatul Mahdi – tempat pertemuan (Jalsah) diselenggarakan dengan izin Allah – di tempat itu suhu lebih rendah empat atau lima derajat Celsius dibandingkan dengan London. Untuk ini, semua yang datang dengan tenda-tenda pribadi milik sendiri atau yang mengatur sendiri hal-hal tempat tinggal mereka harus ingat ini dan pastikan untuk mengamankan (menyediakan) tempat tidur yang tepat untuk mereka di malam hari. Menurut pengalaman tahun lalu bahwa mereka yang memiliki anak yang menyertai mereka telah khawatir di malam hari karena suhu rendah dan cuaca dingin.

Demikian pula, mereka yang bertugas membagikan makanan – mereka secara langsung berinteraksi dengan para tamu – saya ingatkan agar saat menyajikan makanan dan meletakannya di piring harus mempertimbangkan pilihan makanan sesuai kecocokan tamu tersebut. Meskipun hal ini memakan banyak waktu dan merupakan hal yang sulit, namun cobalah untuk memperhatikan ini dengan seksama. Kemudian, jika memang tidak ada pilihan lain maka mintalah maaf dengan cara yang lemah lembut, daripada harus bersikap kasar yang dapat melukai perasaan orang tersebut.

Kita tahun ini telah mengubah piring yang digunakan untuk makan. Telah dilaporkan tentang piring yang digunakan sebelumnya yang seharusnya tidak ditaruh makanan panas lebih dari suhu tertentu karena itu menyebabkan produksi beberapa bahan kimia berbahaya, dan diketahui bahwa makanan kita sangat panas. Untuk itu, Ketua Jalsah telah memperlihatkan piring terbuat dari kertas khusus yang akan digunakan tahun ini. Mungkin piring-piring itu agak tipis. Para pengguna harus berhati-hati dan mereka dapat menggabungkan dua piring untuk penguatan. Departemen distribusi pangan juga harus membimbing orang dalam hal ini.

Lalu ada adalah sistem yang sangat penting, sistem lalu lintas. Kali ini karena tempat parker mobil jauh maka bus-bus pengantar akan berlimpah, dan keharusan bagi pengurus Jalsah untuk menggiatkan sistem lalu lintas sehingga orang sampai ke pertemuan tepat waktu. Mereka yang datang ke tempat Jalsah dengan mobil mereka sendiri hendaknya ingat tempat memarkir mobil mereka juga berada pada jarak tidak bermasalah, untuk itu harus mengingatnya ke dalam benak pikiran dan kemudian mulai perjalanan mereka dekat tempat Jalsah sebelum waktunya.

Lalu ada bagian-bagian lain dan orang-orang lain juga. Hendaknya para pekerja (panitia Jalsah) harus menyediakan kenyamanan lebih dan lebih bagi para tamu melalui komitmen mereka dengan perencanaan berlakunya pekerjaan mereka dan mendidik [menyiapkan] para pekerja.

Para relawan dalam Divisi khidmat-e-khalq (khidmat sesama makhluk) dan penjaga keamanan harus bekerja dengan waspada dan lebih perhatian pada situasi saat ini yang berlaku di dunia. Demikian juga, mereka harus melakukan tugas mereka ini seiring dengan tetap sadar akan perasaan dan martabat para tamu.

Para pekerja di bagian pemeriksaan kartu Jalsah dan memindai (scanning) harus melakukan proses pemeriksaan penuh dan fokus, mulai dari hari pertama sampai akhir. Jika seseorang keluar beberapa kali dan kembali masuk maka itu harus diperiksa dengan tetap mempertimbangkan agar ia tidak merasa seperti di bawah pengawasan atau telah diperlakukan buruk.

Dalam kasus apapun, semua pengaturan Jalsah ialah sementara, dan saya tahu pengaturan ini – yang sementara waktu itu – tidak dapat bebas dari kesalahan dan kelalaian. Bahkan, pengaturan permanen juga dapat tersusupi kesalahan dan kekurangan tersebut. Tapi kita harus melakukan apa yang bisa kita lakukan dan mengerahkan semua kompetensi, kemampuan dan sarana prasarana kita untuk memberikan kenyamanan bagi para tamu. Setiap orang yang berpartisipasi dalam pertemuan tahunan (Jalsah Salanah) adalah tamu Al-Masih yang dijanjikan (Hadhrat Masih Mau’ud as). Kita akan menganggap semuta tamu itu sebagai tamu istimewa karena status mereka sebagai tamu Hadhrat Masih Mau’ud as. Kita akan mencoba yang terbaik pelayanan tamu.

Tidak ada keraguan bahwa dalam Nizham Jalsah terdapat bagian khusus untuk mengawasi kinerja orang-orang dan mengendalikan semua hal, para pekerja mengamati semua orang dan kemudian mencatat dan memberitahukan kekurangan dan kelalaian yang terjadi di dalamnya kepada ketua Jalsah. Tapi direktur (ketua) masing-masing divisi juga dapat menunjuk beberapa staf yang tugasnya mencari kekurangan dan kelemahan para pekerjanya, dan menyerahkan laporannya setiap malam selama pertemuan, dan bahwa laporan tersebut akan memberikan kontribusi pada peningkatan kinerja dalam sesi Jalsah tahun depan.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengisyaratkan ke topik pemeriksaan (inspeksi) ini suatu kali, “Ketua seksi konsumsi (Langgar Khana) harus terus menerus memeriksa kebutuhan para tamu. Tapi karena ia seorang diri, terkadang ia tidak mungkin dapat mengawasi semuanya dan bisa jadi beberapa hal luput dari perhatiannya. Orang-orang lain dapat mengingatkannya soal ini. Cara yang dapat menjadi contoh oleh karena itu ia mempunyai wewenang menunjuk seseorang yang bertugas untuk memeriksa dan memberitahukannya dimana letak kekurangan dan kelemahan pengaturannya. Suatu keharusan untuk memuliakan para tamu, sama saja, baik itu orang kaya maupun orang miskin.”

Hadhrat Masih Mau’ud as juga memberitahu kita soal beberapa hal kecil juga dalam rangka membimbing kita. Seraya menarik perhatian dan menganalisis hal tersebut, pada satu kesempatan beliau as bersabda mengenai cara-cara penghormatan terhadap tetamu, “Para tamu baru yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup – saat ini di sini juga datang tamu-tamu baru dari Negara-negara lain – hak mereka atas kita ialah agar kita harus terus menerus memeriksa kebutuhan mereka, contohnya sebagian tidak tahu tempat toilet yang mana hal ini banyak membuat mereka kesusahan. Suatu keharusan bagi kita untuk memperhatikan keperluan para tamu. Merupakan kewajiban mereka yang ditunjuk bertugas di bidang-bidang ini untuk tidak sampai terjadi kesempatan yang membuat muncul pengaduan dan kritikan. Sebab, orang-orang datang demi berbahas mengenai kebenaran dengan segenap kejujuran dan ketulusan menempuh perjalanan ratusan dan ribuan kilometer.”

Demikian pula, terdapat keterangan-keterangan lainnya dari beliau as terkait Dhiyaafah yang mana pernah saya tegaskan kuat mengenainya. Sebagaimana saya katakan bahwa para tamu ghair Ahmadi atau para perwakilan Media yang menghadiri Jalsah kita sering menilai perilaku kita secara umum di Jalsah ini. Oleh sebab itu, standar akhlak para panitia di setiap bidang harus sangat tinggi. Lalu di satu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Menurut pendapat saya jika seorang tamu datang dan situasinya menyebabkan orang tersebut melontarkan cercaan dan makian, maka kita harus menolerir hal tersebut (menerima dan menahan diri).” Dengan demikian, kita harus menahan diri atas sikap kasar para tamu juga, baik Ahmadi atau bukan.

Seorang Ahmadi telah menulis mengenai standar tinggi Hadhrat Masih Mau’ud as dalam menghormati tamu, “Sayyidina, hujjah Allah, Hadhrat Masih Mau’ud as merupakan contoh luhur dan teladan hidup pengkhidmatan tetamu menyerupai Hadhrat Rasulullah saw. Mereka yang biasa bergaul dengan beliau as pasti tahu persis bahwa bila tamu mana saja – Ahmadi atau bukan – menderita kesusahan sekecil saja maka itu membuat kesedihan dan kegelisahan beliau as. Terlebih lagi bila tamu tersebut ialah orang-orang Mukhlish dalam Jemaat hal mana ini membuat semangat dan kesantunan terhadap mereka sangat dominan.”

Jadi, suatu keharusan untuk menampakkan semangat ini dan kesantunan kepada para tamu lebih banyak. Apa petunjuk Rasulullah (saw) yang diberikan kepada kita mengenai pentingnya para tamu dan menghormati mereka? Dalam sebuah riwayat Hadits, Hadhrat Rasulullah saw pernah bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. ‘Man kaana yu-min biLlaahi wal yaumil aakhiri fal yaqul khairan au liyashmut wa man kaana yu-min biLlaahi wal wal yaumil aakhiri falaa yu-dzi jaarahu wa man kaana yu-min biLlaahi wal yaumil aakhiri falyukrim dhaifahu.’ –
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya mengatakan perkataan yang baik atau tidak, tetaplah diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya tidak menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya menghormati para tamunya.” (Shahih Muslim Kitab tentang Iman, bab 19 (motivasi menghormati tetangga dan tamu), no. 47

Jadi, menghormati tetamu merupakan salah satu syarat dari syarat-syarat keimanan kepada Allah dan hari akhir. Terdapat banyak syarat lainnya. Atau dengan kata lain dapat kita katakan bahwa penghormatan terhadap tetamu merupakan salah satu syarat diantara syarat-syarat tingkat tinggi keimanan seorang beriman.

Saya ingin menjelaskan secara khusus juga bahwa Hadhrat Rasulullah saw peduli dengan peningkatan agama dan tarbiyat para tamu beliau. Sehingga dalam satu hadits kita baca bahwa setelah menjamu makan, beliau mengajak para tamu tersebut tidur di masjid, sesuai keinginan mereka. Kemudian membangunkan mereka semua untuk shalat subuh. Maka dari itu bidang tarbiyat ketika jalsah pun dibentuk, fungsinya untuk mengingatkan para tamu soal waktu shalat dan membangunkan mereka semua untuk melaksanakan shalat Tahajud dan Subuh, namun dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang. Pendek kata, inilah beberapa hal yang hendak saya bicarakan secara khusus bidang Dhiyaafah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada seluruh panitia dalam mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as dengan cara yang terbaik.

[Bagian terjemahan yang diringkaskan] Setelah shalat saya akan memimpin shalat jenazah ghaib. Pertama jenazah Mr Sayyed Muhammad Ahmad Sahib, putra dari Hadrat Dr Mir Muhammad Ismail yang wafat di Lahore pada tanggal 13 Juli, dalam usia 92 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajioon. Beliau putra tertua Dr Mir Muhammad Ismail dan Hadrat Ummul Mu’mineen Ammaan Jan [Istri Hadhrat Masih Mau’ud (as)] adalah bibi beliau dari pihak ayah. Beliau menikah dengan putri bungsu Hadhrat Mirza Bashir Ahmad. Sehingga beliau merupakan mantu paling bungsu Hadhrat Mirza Bashir Ahmad.Hadrat Dr Mir Muhammad Ismail menikah dua kali. Pertama dengan Hadrat Shaukat Sultan Sahiba tahun 1906. Mereka tidak memiliki keturunan. Kedua dengan Amatul Latif begum Sahiba tahun 1917, putri dari Hadrat Mirza Muhammad Shafi’ Sahib Dehlwi, auditor of Sadr Anjuman Ahmadiyya. Dengan karunia Allah Ta’ala, dari istri kedua ini lahir 7 anak perempuan dan 3 anak laki-laki.

Dua peristiwa yang menggugah keimanan tentang sejarah Ahmadiyah dimana beliau terlibat di dalamnya. Beliau adalah orang yang sangat saleh yang membaktikan dirinya dengan ibadah. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat beliau dan mengasihi beliau. Semoga Dia meridhoi anak-anak beliau untuk meneruskan semua amal saleh beliau.

Jenazah kedua adalah Mrs Mahmooda Begum Sahiba, istri dari Chaudhry Muhammad Siddique Sahib Bhatti. Beliau adalah ibu dari Asghar Ali Bhatti Sahib, Mubaligh yang berkhidmat di Niger. Beliau wafat tanggal 16 Juli di usia 73 tahun, Inna lillahi wa inna ilaihi rajioon. Almarhumah adalah seorang Musi. Disamping suami, Almarhumah pun meninggalkan dua putri dan enam putra. Semoga Allah menganugerahi anak-anak beliau kesempatan untuk melanjutkan amal-amal saleh beliau.

Dildaar Ahmad & Yusuf Awwab

(Visited 173 times, 1 visits today)