Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

21 Juli 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Jalsah Salanah Jemaat kita di UK (United Kingdom of Britain), Insya Allah, dilaksanakan pada hari Jumat mendatang. Dengan karunia Allah Ta’ala, para tamu sudah mulai berdatangan dari berbagai negara untuk ikut serta dalam Jalsah ini. Seiring mendekat hari-hari Jalsah, bertambah pula jumlah tamu yang datang dari Negara-negara yang dekat dan jauh. Begitu pula dari kota-kota di Britania.

Selain para Ahmadi yang datang untuk mengambil faedah dari Jalsah yang penuh berkat ini, para tamu jalsah yang sekarang pun terdiri dari para Muslim ghair Ahmadi dan para non-Muslim, yang datang bukan hanya dari Inggris Raya melainkan juga dari berbagai Negara. Para tamu ini termasuk perwakilan pemerintah atau pejabat publik dari beberapa Negara serta orang-orang berpengaruh dari akademisi. Begitu juga, jumlah orang-orang yang terkait dengan pers dan media kini juga mulai meningkat. Semua peserta dari luar [Jemaat] tersebut, mengamati segalanya dengan pengamatan sangat teliti dan secara umum terkesan. Mereka mengamati secara khusus pada Nizham Jemaat yang menjangkau ke semua bidang pengkhidmatan oleh para sukarelawan. Hal tersebut membuka bagi kita jalan-jalan pertablighan dan perkenalan lebih banyak karena orang-orang berusaha mengenal Jemaat lebih banyak. Jadi selama tiga hari ini, para relawan kita yang terdiri dari pria, wanita, para remaja putra, remaja putri dan anak-anak bertugas melakukan tabligh secara diam-diam dan melalui media informasi, Ahmadiyah diperkenalkan secara luas ke seluruh penjuru dunia.

Media-media ini mulai memperhatikan kita dalam periode belakangan ini setiap kali peristiwa tertentu terjadi, misalnya, setelah terjadinya aksi-aksi teroris di negara-negara Eropa, para anggota Jemaat, pria dan wanita, telah berupaya untuk menyampaikan pesan Islam yang benar kepada dunia dan telah memainkan peran utama di bidang media dalam Jemaat kita dengan menerbitkan sejumlah wawancara para Muballigh kita di media global, yang mana itu memperkenalkan kepada dunia mengenai komunitas kita secara luas sebagai sebuah Jamaah yang menyerukan ajaran-ajaran Islam tentang kedamaian. Dengan bertambahnya teladan dalam hal ini maka dunia bertambah mengenal kita.

Singkatnya, Tuhan menciptakan melalui Jalsah Salanah sarana-sarana untuk memperkenalkan Islam secara luas di dunia. Jika para Ahmadi menghadiri pertemuan ini, mereka akan mempelajari dari berbagai kegiatan pertemuan seperti pidato dan lainnya, berusaha memajukan keruhaniannya, bagaimana para tamu yang bukan komunitas kita dan para wartawan mendengarkan ajaran-ajaran dan keyakinan kita dan melihat suasana Jalsah umumnya dan apra relawan, pria dan wanita yang mengkhidmati tamu dengan semangat pengkhidmatan dan penghormatan tamu, dan begitulah mereka melihat ajaran Islam yang indah diterapkan dalam praktek, dan dengan demikian Jalsah menjadi cara yang bagus untuk pertablighan.

Dengan demikian, para relawan mempuyai peranan yang sangat besar dalam pertablighan. Kapan saja atau dalam kapasitas apapun para relawan ini berkhidmat, mereka memiliki arti penting tersendiri. Arti penting ini harus diingat oleh semua relawan, mulai dari panitia biasa hingga para ketua panitia. Tindakan pengkhidmatan tulus dan sikap baik setiap relawan – seperti anak kecil yang mengedarkan air minum demi meraih ridha Allah – memberikan sebuah dampak bagi para pengamat yang berasal dari luar Jemaat tersebut.

Demikian pula, para officers dan ketua berbagai bidang dalam Jalsah janganlah hanya main suruh-suruh kepara anggota Panitia dan asisten mereka dengan berpikiran mereka datang untuk berkhidmat. Bahkan, mereka sendiri juga harus mengkhidmati para tamu dengan kerendahan hati dan memimpin dengan memberikan contoh dalam bekerja sebagaimana seorang panitia biasa. Mereka harus memperlakukan para asisten dan anggota panitia serta selain mereka dari kalangan tetamu dengan kesantunan dan semangat saling bekerjasama. Tanda kerendahan hati dan kelembutan harus terpancar dari raut wajah mereka hingga ke derajat tertinggi. Suara mereka harus lembut dan ketinggian standar akhlak mereka harus ditampakan. Mereka harus selalu ingat bahwa keramahan merupakan bagian yang sangat penting.

Ingatlah senantiasa, dhiyafah (pengkhidmatan tamu) adalah bagian penting dalam Jalsah ini. Pengertian Dhiyafah bukan sekedar menghidangkan makanan, minuman dan penginapan saja melainkan setiap bagian (seksi kepanitiaan) dari semua bagian kepanitiaan Jalsah, apa pun namanya, berada di bawah divisi Dhiyafah. Siapa saja yang menghadiri Jalsah adalah tamu. Memenuhi keperluan para tamu dengan sarana yang dimungkinkan merupakan kewajiban setiap sukarelawan yang bekerja di bidang mana pun dalam pengkhidmatan Jalsah. Sehubungan dengan hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengungkapkan perasaannya di satu tempat, yang merupakan prinsip dasar dan tuntunan bagi kita.

Di satu kesempatan beliau (as) bersabda, “Saya selalu memikirkan tidak ada seorang tamu pun yang mengalami ketidaknyamanan. Karena itu, saya selalu tekankan agar para tamu diberikan kenyamanan sebaik mungkin.” Lebih Lanjut beliau bersabda: “Perasaan tamu itu rapuh laksana kaca yang dapat pecah dengan sedikit rasa sakit.”

Dengan demikian, kita harus menjadikan pesan ini sebagai pedoman kita dan mengedepankan kenyamanan dan kemudahan para tamu bahkan hingga jika upaya tersebut malah menyusahkan kita dan menekan perasaan kita terkadang. Selanjutnya saya ingin sampaikan hal ini kepada para ketua seksi panitia di setiap bidang bahwa jika perilaku mereka lembut, akhlak mereka baik, sabar dan menahan diri dari perkataan yang tidak menyenangkan, maka sudah pasti wakil serta asisten mereka pun akan menampilkan perilaku tersebut kepada para tamu, juga akan menjadi contoh keramahan yang sempurna. Namun jika wajah para ketua seksi tampak kasar dan kesal, memiliki suara yang kasar, tidak mau mendengar dan tidak sabaran, maka para wakil serta asisten mereka pun akan menampilkan perilaku yang demikian. Oleh karena itu, guna mewujudkan standar keramahan yang tinggi, para ketua seksi di setiap bidang harus senantiasa menilai diri mereka sendiri, dan berusaha keras meningkatkan keramahan dan kerendahan hati mereka hingga mencapai standar yang tinggi.

Sebagaimana saya telah sebutkan bahwa bukan hanya satu atau beberapa seksi yang masuk dalam kategori Dhiyaafah (penyambutan dan pelayanan tamu) dan memang harus bersikap ramah tama melainkan semua seksi di kepanitiaan pengkhidmatan Jalsah ini merupakan seksi Dhiyaafah. Sama saja apakah itu seksi akomodasi, persiapan dan penyediaan makanan, penghidangan makanan, komunikasi, kebersihan umum, kebersihan toilet, medikal dan ambulan, penunjuk jalan, penjagaan dan keamanan yang mana itu semua dilakukan oleh para Khuddam dan anggota lainnya; semua bagian ini dan selain itu, semuanya berada dibawah naungan Dhiyaafah (penyambutan dan pelayanan tamu).

Pengawas harus ingat untuk menyediakan akomodasi dan perhatian khusus untuk tempat tidur kaum perempuan dan anak-anak di tempat-tempat akomodasi kolektif dan di tenda-tenda yang tersebar juga. Tidak ada keraguan bahwa kita berada dalam hari-hari musim panas, tapi sekarang udara malam dengan tiba-tiba dapat dingin, terutama di Hadiqatul Mahdi – tempat pertemuan (Jalsah) diselenggarakan dengan izin Allah – di tempat itu suhu lebih rendah empat atau lima derajat Celsius dibandingkan dengan London. Untuk ini, semua yang datang dengan tenda-tenda pribadi milik sendiri atau yang mengatur sendiri hal-hal tempat tinggal mereka harus ingat ini dan pastikan untuk mengamankan (menyediakan) tempat tidur yang tepat untuk mereka di malam hari.

Menurut pengalaman tahun lalu, mereka yang memiliki anak yang menyertai mereka telah khawatir di malam hari karena suhu rendah dan cuaca dingin.

Demikian pula, mereka yang bertugas membagikan makanan – mereka secara langsung berinteraksi dengan para tamu – saya ingatkan agar saat menyajikan makanan dan meletakannya di piring harus mempertimbangkan pilihan makanan sesuai kecocokan tamu tersebut. Meskipun hal ini memakan banyak waktu dan merupakan hal yang sulit, namun cobalah untuk memperhatikan ini dengan seksama. Kemudian, jika memang tidak ada pilihan lain maka mintalah maaf dengan cara yang lemah lembut, daripada harus bersikap kasar yang dapat melukai perasaan orang tersebut.

Kita tahun ini telah mengubah piring yang digunakan untuk makan. Telah dilaporkan tentang piring yang digunakan sebelumnya yang seharusnya tidak ditaruh makanan panas lebih dari suhu tertentu karena itu menyebabkan produksi beberapa bahan kimia berbahaya, dan diketahui bahwa makanan kita sangat panas. Untuk itu, Ketua Jalsah telah memperlihatkan piring terbuat dari kertas khusus yang akan digunakan tahun ini. Mungkin piring-piring itu agak tipis. Para pengguna harus berhati-hati dan mereka dapat menggabungkan dua piring untuk penguatan. Departemen distribusi pangan juga harus membimbing orang dalam hal ini.

Lalu ada adalah sistem yang sangat penting, sistem lalu lintas. Kali ini karena tempat parker mobil jauh maka bus-bus pengantar akan berlimpah, dan keharusan bagi pengurus Jalsah untuk menggiatkan sistem lalu lintas sehingga orang sampai ke pertemuan tepat waktu. Mereka yang datang ke tempat Jalsah dengan mobil mereka sendiri hendaknya ingat tempat memarkir mobil mereka juga berada pada jarak tidak bermasalah, untuk itu harus mengingatnya ke dalam benak pikiran dan kemudian mulai perjalanan mereka dekat tempat Jalsah sebelum waktunya.

Lalu ada bagian-bagian lain dan orang-orang lain juga. Hendaknya para pekerja (panitia Jalsah) harus menyediakan kenyamanan lebih dan lebih bagi para tamu melalui komitmen mereka dengan perencanaan berlakunya pekerjaan mereka dan mendidik [menyiapkan] para pekerja.

Para relawan dalam Divisi khidmat-e-khalq (khidmat sesama makhluk) dan penjaga keamanan harus bekerja dengan waspada dan lebih perhatian pada situasi saat ini yang berlaku di dunia. Demikian juga, mereka harus melakukan tugas mereka ini seiring dengan tetap sadar akan perasaan dan martabat para tamu. Para pekerja di bagian pemeriksaan kartu Jalsah dan memindai (scanning) harus melakukan proses pemeriksaan penuh dan fokus, mulai hari pertama sampai akhir. Jika seseorang keluar beberapa kali dan kembali maka itu harus diperiksa dengan tetap mempertimbangkan ia tidak merasa seperti di bawah pengawasan atau telah diperlakukan buruk.

Dalam kasus apapun, semua pengaturan Jalsah ialah sementara, dan saya tahu pengaturan ini – yang sementara waktu itu – tidak dapat bebas dari kesalahan dan kelalaian. Bahkan, pengaturan permanen juga dapat tersusupi kesalahan dan kekurangan tersebut. Tapi kita harus melakukan apa yang bisa kita lakukan dan mengerahkan semua kompetensi, kemampuan dan sarana prasarana kita untuk memberikan kenyamanan bagi para tamu.

Setiap orang yang berpartisipasi dalam pertemuan tahunan (Jalsah Salanah) adalah tamu Al-Masih yang dijanjikan (Hadhrat Masih Mau’ud as). Kita akan menganggap semua tamu itu sebagai tamu istimewa karena status mereka sebagai tamu Hadhrat Masih Mau’ud as. Kita akan berusaha yang terbaik demi pelayanan tamu. Tidak ada keraguan bahwa dalam Nizham Jalsah terdapat bagian khusus untuk mengawasi kinerja orang-orang dan mengendalikan semua hal. Para pekerja mengamati semua orang dan kemudian mencatat lalu memberitahukan kekurangan dan kelalaian yang terjadi di dalamnya kepada ketua Jalsah. Tapi direktur (ketua) masing-masing divisi juga dapat menunjuk beberapa staf yang tugasnya mencari kekurangan dan kelemahan para pekerjanya, dan menyerahkan laporannya setiap malam selama pertemuan dan laporan tersebut akan memberikan kontribusi pada peningkatan kinerja dalam sesi Jalsah tahun depan.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengisyaratkan ke topik pemeriksaan (inspeksi) ini suatu kali, “Ketua seksi konsumsi (Langgar Khana) harus terus menerus memeriksa kebutuhan para tamu. Tapi karena ia seorang diri, terkadang ia tidak mungkin dapat mengawasi semuanya dan bisa jadi beberapa hal luput dari perhatiannya. Orang-orang lain dapat mengingatkannya soal ini.”

Cara yang dapat menjadi contoh oleh karena itu ia mempunyai wewenang menunjuk seseorang yang bertugas untuk memeriksa dan memberitahukannya dimana letak kekurangan dan kelemahan pengaturannya.

Suatu keharusan untuk memuliakan para tamu, sama saja, baik itu orang kaya maupun orang miskin. Hadhrat Masih Mau’ud as juga memberitahu kita soal beberapa hal kecil juga dalam rangka membimbing kita. Seraya menarik perhatian dan menganalisis hal tersebut, pada satu kesempatan beliau as bersabda mengenai cara-cara penghormatan terhadap tetamu, “Para tamu baru yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup – saat ini di sini juga datang tamu-tamu baru dari Negara-negara lain – hak mereka atas kita ialah agar kita harus terus menerus memeriksa kebutuhan mereka, contohnya sebagian tidak tahu tempat toilet yang mana hal ini banyak membuat mereka kesusahan.

Suatu keharusan bagi kita untuk memperhatikan keperluan para tamu. Merupakan kewajiban mereka yang ditunjuk bertugas di bidang-bidang ini untuk tidak sampai terjadi kesempatan yang membuat muncul pengaduan dan kritikan. Sebab, orang-orang datang demi berbahas mengenai kebenaran dengan segenap kejujuran dan ketulusan menempuh perjalanan ratusan dan ribuan kilometer.”

Demikian pula, terdapat keterangan-keterangan lainnya dari beliau as terkait Dhiyaafah yang mana pernah saya tegaskan kuat mengenainya. Sebagaimana saya katakan bahwa para tamu ghair Ahmadi atau para perwakilan Media yang menghadiri Jalsah kita sering menilai perilaku kita secara umum di Jalsah ini. Oleh sebab itu, standar akhlak para panitia di setiap bidang harus sangat tinggi. Lalu di satu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Menurut pendapat saya jika seorang tamu datang dan situasinya menyebabkan orang tersebut melontarkan cercaan dan makian, maka kita harus menolerir hal tersebut (menerima dan menahan diri).”

Dengan demikian, kita harus menahan diri atas sikap kasar para tamu juga, baik Ahmadi atau bukan. Seorang Ahmadi telah menulis mengenai standar tinggi Hadhrat Masih Mau’ud as dalam menghormati tamu, “Sayyidina, hujjah Allah, Hadhrat Masih Mau’ud as merupakan contoh luhur dan teladan hidup pengkhidmatan tetamu menyerupai Hadhrat Rasulullah saw. Mereka yang biasa bergaul dengan beliau as pasti tahu persis bahwa bila tamu mana saja – Ahmadi atau bukan – menderita kesusahan sekecil saja maka itu membuat kesedihan dan kegelisahan beliau as. Terlebih lagi bila tamu tersebut ialah orang-orang Mukhlish dalam Jemaat hal mana ini membuat semangat dan kesantunan terhadap mereka sangat dominan.” Jadi, suatu keharusan untuk menampakkan semangat ini dan kesantunan kepada para tamu lebih banyak.

Apa petunjuk Rasulullah (saw) yang diberikan kepada kita mengenai pentingnya para tamu dan menghormati mereka? Dalam sebuah riwayat Hadits, Hadhrat Rasulullah saw pernah bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. ‘Man kaana yu-min biLlaahi wal yaumil aakhiri fal yaqul khairan au liyashmut wa man kaana yu-min biLlaahi wal wal yaumil aakhiri falaa yu-dzi jaarahu wa man kaana yu-min biLlaahi wal yaumil aakhiri falyukrim dhaifahu.’ – “Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya mengatakan perkataan yang baik atau tidak, tetaplah diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya tidak menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya menghormati para tamunya.”

Jadi, menghormati tetamu merupakan salah satu syarat dari syarat-syarat keimanan kepada Allah dan hari akhir. Terdapat banyak syarat lainnya. Atau dengan kata lain dapat kita katakan bahwa penghormatan terhadap tetamu merupakan salah satu syarat diantara syarat-syarat tingkat tinggi keimanan seorang beriman.

Saya ingin menjelaskan secara khusus juga bahwa Hadhrat Rasulullah saw peduli dengan peningkatan agama dan tarbiyat para tamu beliau. Sehingga dalam satu hadits kita baca bahwa setelah menjamu makan, sesuai keinginan mereka, beliau mempersilakan para tamu tersebut tidur di masjid. Kemudian membangunkan mereka semua untuk shalat subuh.

Maka dari itu, bidang tarbiyat ketika Jalsah pun dibentuk, fungsinya untuk mengingatkan para tamu soal waktu shalat dan membangunkan mereka semua untuk melaksanakan shalat Tahajud dan Subuh, namun dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang. Pendek kata, inilah beberapa hal yang hendak saya bicarakan secara khusus bidang Dhiyaafah. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada seluruh panitia dalam mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as dengan cara yang terbaik.

Setelah shalat Jumat dijamak dengan Ashar, saya akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk dua Almarhum. Pertama jenazah Sayyed Muhammad Ahmad Sahib, putra Hadrat Dr Mir Muhammad Ismail yang wafat di Lahore pada tanggal 13 Juli, di usia 92 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi rajioon. Beliau putra tertua Dr Mir Muhammad Ismail. Hadrat Ummul Mu’mineen Ammaan Jan [Istri Hadhrat Masih Mau’ud (as)] adalah bibi beliau dari pihak ayah. Beliau menikah dengan putri bungsu Hadhrat Mirza Bashir Ahmad sehingga beliau merupakan mantu paling bungsu Hadhrat Mirza Bashir Ahmad. Hadrat Dr Mir Muhammad Ismail menikah dua kali. Pertama dengan Hadrat Shaukat Sultan Sahiba tahun 1906. Mereka tidak memiliki keturunan. Kedua dengan Amatul Latif begum Sahiba tahun 1917, putri dari Hadrat Mirza Muhammad Shafi’ Sahib Dehlwi, auditor Sadr Anjuman Ahmadiyya. Dengan karunia Allah Ta’ala, dari istri kedua ini lahir 7 anak perempuan dan 3 anak laki-laki.

Almarhum berhasil menyelesaikan ujian sekolah menengah di Qadian pada 1939 lalu melanjutkan ujian Bachelor di studi hukum di Lahore pada 1943. Kemudian, Almarhum bergabung dengan Angkatan Udara India (masih dijajah Inggris) sebagai flight cadet (Kadet Penerbang).  Istri beliau, Amatul Latif ialah putri Hadhrat Mirza Basyir Ahmad yang mempunyai 3 putra dan satu putri. Seorang putra beliau, Hasyim Akbar, ketua Jemaat di Hartlepole di sini sedang putri Almarhumah, Dr. Aisyah tinggal di Amerika Serikat.

Setelah shalat Jumat dijamak dengan Ashar, saya akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk dua Almarhum. Pertama jenazah Sayyed Muhammad Ahmad Sahib, putra Hadrat Dr Mir Muhammad Ismail yang wafat di Lahore pada tanggal 13 Juli, di usia 92 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi rajioon. Beliau putra tertua Dr Mir Muhammad Ismail. Hadrat Ummul Mu’mineen Ammaan Jan [Istri Hadhrat Masih Mau’ud (as)] adalah bibi beliau dari pihak ayah. Beliau menikah dengan putri bungsu Hadhrat Mirza Bashir Ahmad sehingga beliau merupakan mantu paling bungsu Hadhrat Mirza Bashir Ahmad. Hadrat Dr Mir Muhammad Ismail menikah dua kali. Pertama dengan Hadrat Shaukat Sultan Sahiba tahun 1906. Mereka tidak memiliki keturunan. Kedua dengan Amatul Latif begum Sahiba tahun 1917, putri dari Hadrat Mirza Muhammad Shafi’ Sahib Dehlwi, auditor Sadr Anjuman Ahmadiyya. Dengan karunia Allah Ta’ala, dari istri kedua ini lahir 7 anak perempuan dan 3 anak laki-laki.

Almarhum berhasil menyelesaikan ujian sekolah menengah di Qadian pada 1939 lalu melanjutkan ujian Bachelor di studi hokum di Lahore pada 1943. Kemudian, Almarhum bergabung dengan Angkatan Udara India (masih dijajah Inggris) sebagai flight cadet (kadet penerbang).  Istri beliau, Amatul Latif ialah putri Hadhrat Mirza Basyir Ahmad yang mempunyai 3 putra dan satu putri. Seorang putra beliau, Hasyim Akbar, ketua Jemaat di Hartlepole di sini sedang putri Almarhumah, Dr. Aisyah tinggal di Amerika Serikat.

Pada tahun 1947 beliau ditransfer ke navigasi udara sipil (penerbangan sipil) dan memberikan layanan sebagai pilot di penerbangan nasional India selama situasi krisis pada tahun 1947. Saat ayahnya, Dr. Hadhrat Mir Mohammad Ismail meninggal, ia tidak bisa menghadiri pemakamannya, tapi datang ke Qadian dua hari kemudian.

Beberapa peristiwa yang terjadi dengan dia dan memiliki hubungan dengan sejarah Jemaat, termasuk diantaranya adalah ketika ia sebagai seorang perwira di Angkatan Udara. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra saat itu membeli dua pesawat kecil ketika partition (pembagian negeri British-India menjadi India dan Pakistan), dan ada kebutuhan untuk pilot, almarhum mengatakan satu malam menerima pesan berupa permintaan dari Hazrat Mirza Bashir Ahmed agar datang segera. Maka, ia segera berangkat hanya untuk ke Qadian. dan setelah sampai di sana diputuskan bahwa Hadhrat Mirza Nasir Ahmad Khalifatul Masih ketiga rahimahuLlah – saat itu Sadr Majlis Khuddamul Ahmadiyah – akan menjadi penanggungjawab umum, almarhum Muhammad Ahmad akan bekerja sebagai naibnya.

Banyak barang-barang penting dipindahkan ke Pakistan. Dia menulis sebuah peristiwa yang menyenangkan, yang sangat penting dan bersejarah: “Suatu hari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meminta saya datang di kantornya di Qasre Khilafat, dan dia berkata kepada saya, ‘Hari ini saya titipkan kepada Anda barang-barang paling berharga yang saya miliki. Anda harus membawanya ke Lahore dan memberikannya kepada Sheikh Bashir Ahmed. Anda harus mengatakan kepada Sheikh terhormat itu agar menjaga barang-barang ini dan berhati-hati dengannya dalam kata-kata yang saya katakan kepada Anda. Anda harus mendapatkan surat tanda terima dari beliau dan membawanya kepada saya setelah kembali dari sana.’

Tn. Mir mengatakan: “Ketika itu saya masih belum matang secara mental. Saya pikir Hudhur II ra mungkin memberi saya sebuah kotak penuh perhiasan atau berlian untuk saya bawa pergi, tapi setelah beberapa saat beliau berdiri dan pergi dari tempatnya lalu datang kepada saya dengan koper kecil usang yang yang isinya penuh dengan kertas.

Beliau ra menempatkan tas ini di depan saya dan mengatakan, ‘Beberapa dari penafsiran al-Qur’an yang saya tulis telah diterbitkan, dan beberapa salinan naskah belum dicetak lagi, tapi di sini sebagian besar belum dituliskan, dan karena salah satu tujuan terbesar hidup saya ialah melengkapi penafsiran ini, sehingga kebiasaan saya bahwa jika terbesit dalam pikiran saya poin-poin Tafsir baik itu di siang atau malam hari, berjalan atau duduk atau saat saya sibuk dalam suatu pekerjaan, segera saya mencatatnya di atas kertas dan menyimpannya di dalam tas ini untuk dimanfaatkan bila diperlukan.’

Kemudian beliau ra bersabda: ‘Hal ini tidak perlu bahwa kertas-kertas ini dibuat dalam urutan apapun, tapi naskah-naskah ini terlalu mahal bagi saya.’ Tn. Mir mengatakan: “Saya mengambil tas dari beliau dan membawanya dengan penerbangan ke Lahore. Di sana saya menghubungi Sheikh Bashir Ahmed via telepon dari bandara dan memintanya untuk datang ke saya. Saya memberinya tas dan meminta surat tanda penerimaan. Ini adalah insiden yang lama dan bersejarah yang dialami oleh Tn. Mir yang kemudian datang lagi ke Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dengan membawa surat tanda penerimaan itu dan memberikan kepada beliau ra dan beliau ra telah sering mengkonfirmasi atas penjagaannya.

Selain itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata kepadanya pada tahun 1950 bahwa ia dapat kembali ke Angkatan Udara di mana ia bertugas hingga 1965 dan mencapai pangkat komandan skuadron, dan dalam periode ini mendapat beberapa sertifikat dan Pelatihan nilai di berbagai tempat dan di Inggris juga. Demikian pula, beliau bekerja sebagai Dosen Sekolah Tentara di kota Quetta antara tahun 1960 dan 1963. Beliau juga menjabat sebagai penanggung jawab untuk perencanaan perang (war planning). Ketika datang di Inggris pada tahun 1953 untuk pelatihan penerbangan, Tn. Chaudhri Zhuhur Ahmad Bajwa adalah Muballigh yang bertugas di sini.

Tn. Mir mengatakan, “Setelah pelatihan selesai ada beberapa hari kemudian untuk saya pulang melalui penerbangan, jadi saya tinggal di pusat komunitas bersama Tn. Bajwa. Kemudian saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Tn. Kolonel Douglas melalui usaha Tn. Bajwa.

Ketika saya pergi ke Kolonel Douglas atas pemberitahuan Tn. Bajwa, saya bertanya kepadanya tentang kasus pembunuhan dituduhkan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, Kolonel Douglas berkata: “Ketika kasus ini didatangkan ke saya, saat itu saya masih sebagai Deputy Commisioner di kota Gurdaspur, tapi saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah yang terjadi beberapa tahun sebelumnya. Saya waktu itu asisten Commisioner wilayah Batala.

Suatu sore saya kembali dari Amritsar ke Batala melalui kereta api, (ini juga merupakan peristiwa bersejarah.)  Saya berada di stasiun kereta api Batala. Saya berada di kereta terakhir kelas pertama. Sebelum kereta mulai dari Amritsar, saya mendapat surat dari asisten Commisioner wilayah Gurdaspur yang mengatakan: ‘Saya ingin berbicara dengan Anda mengenai sesuatu yang penting jadi saya akan menemui Anda di stasiun kereta api di Batala.’ Ketika kereta tiba di Batala saya tidak temukan asisten Commisioner Gurdaspur di stasiun, saya pikir mungkin ia sedang mencari saya di kelas pertama kereta api, saya turun dari kereta dengan cepat dan menuju ke gerbong pertama dengan langkah-langkah cepat berjalan di sebelah dinding stasiun.

Ketika saya tengah melewati hampir dua pertiga dari platform stasiun saya melihat seseorang yang datang dari arah depan saya. Mata orang itu redup (teduh) dan wajahnya amat bercahaya. Dia memiliki daya tarik aneh di wajahnya yang mengguncang hati dan pikiran saya, dan sepertinya orang ini sama sekali tidak menginginkan dunia. Dia berjalan pelan. Saya tidak mampu mengabaikan wajah bercahaya ini, jadi saya terus berjalan sampai dia melewati samping saya tapi saya tidak melepaskan penglihatan saya kepadanya. Saya membalikkan muka saya sedikit demi sedikit ke arahnya.” (Hadhrat Masih Mau’ud as tengah berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah Douglas berjalan. Douglas terus melihat beliau as sampai-sampai mulai berjalan di atas tumitnya supaya tetap mengarahkan wajahnya kepada beliau as.)

Kolonel Douglas mengatakan, “Saya terus berjalan di atas tumit saya supaya dapat tetap mengarahkan wajah kearahnya. Sementara itu, manajer stasiun sedang lewat. Ia orang India tapi tidak melihat saya, dan karena saya berjalan di tumit saya, kami bertabrakan dan jatuh ke tanah. Meskipun kesalahan itu dari saya tapi ia yang mulai meminta maaf kepada saya. Hal demikian karena saat itu kekuasaan tengah berada di bawah pemerintahan orang Inggris. Saya berkata kepadanya: ‘Tidak apa-apa. Anda tidak bersalah, tapi saya yang bersalah.’ Yang penting saya bertanya kepadanya: ‘Siapa pria yang tengah berjalan itu?’ Manajer stasiun berkata: ‘Anda tidak tahu? Itu adalah Tn. Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian.’

Saya merasa tidak pernah melihat wajah yang terang seperti itu sepanjang hidup saya. Saya telah berkesan atas hal ini untuk waktu yang lama, kemudian saya melupakannya sedikit. Selanjutnya, saya menjadi komissionar dan berkas kasus yang dituduhkan kepada Tn. Mirza sampai kepada saya. Saya melihat berkas itu lengkap dalam segala hal dan sepertinya kasusnya sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Tapi ketika saya membaca terdakwa ternyata adalah Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, saya sangat terkejut. Saya teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saya tidak dapat melupakan orang yang saya lihat beberapa tahun lalu di sebuah stasiun. Saya tidak bisa menerima bagaimana mungkin orang seperti itu dapat melakukan sesuatu seperti yang dituduhkan (menyuruh membunuh). Bahkan, tidak mungkin ia memikirkan untuk melakukan hal seperti itu.

“Saya sangat tertekan dan memeriksa file beberapa kali untuk menemukan sesuatu yang salah tapi tidak berhasil. Dalam keadaan bingung dan cemas ini, saya menghubungi DSP (Deputy Superintendent of Police, Kepala Kepolisian level Wilayah) ke kantor saya untuk berkonsultasi dengannya mengenai kasus ini dan bertanya kepadanya, ‘Apakah Abdul Hamid yang menuduh bahwa Tn. Mirza mengirimnya untuk membunuh – na’udzu biLlaah – , berada dalam penahanan polisi atau di bawah naungan Gereja?’

DSP menyimak betul-betul hal ini dan tiba-tiba merasa polisi telah melakukan kesalahan besar karena tidak menahan Abdul Hamid tapi meninggalkannya dalam naungan gereja. Kemudian DSP bergegas keluar sambil berkata, ‘Saya akan segera kembali.’ Setelah ia pulang, ia berkata, ‘Kami memiliki kesalahan besar karena kami meninggalkan Abdul Hamid dalam pengawasan Gereja, tapi kami akan mengembalikannya pada kami sekarang.’

Akhirnya dia mengakui bahwa kasus tersebut benar-benar dusta. Dia membuat-buat keseluruhan cerita itu darinya dengan keinginan untuk mendapatkan uang.”

Kemudian Kapten Douglas mengatakan, “Saya telah membebaskan Tn. Mirza dengan hormat setelah mendengar semua kesaksiannya. Saya mengatakan kepadanya setelah keputusan tersebut: ‘Anda dapat mengajukan sebuah tuntutan untuk mengenakan denda (ganti rugi) dari para penggugat’, namun dia berkata: ‘Saya tidak menginginkan hal itu karena pengadilan kami ialah pengadilan Tuhan dan saya tidak menginginkan sejumlah apapun.’”

Jadi, inilah dua peristiwa yang menggugah keimanan dalam sejarah Ahmadiyah yang mana beliau terlibat di dalamnya. Pertama, terkait pengiriman benda penting saat Partition. Kedua, terkait Kapten Douglas. Rincian-rincian lainnya amat terkenal di kalangan banyak orang maka saya pilihkan bagian ini saja yang mana belum pernah didengar atau dibacakan kecuali segelintir saja yang tahu.

Beliau putra tertua Doktor Muhammad Ismail dan dalam kedudukan beliau sebagai putra tertua Shahabat maka beliau menjadi anggota Majlis Intikhab Khilafat (Dewan Pemilihan Khilafah). beliau ikut serta di lembaga itu saat pemilihan Khalifatul Masih ketiga, keempat dan kelima. Beliau berkata setelah itu, “Saya dapat bersaksi dengan melihat perasaan dan emosi saat pemilihan Khalifah bahwa Khalifah dipilih oleh Allah Ta’ala karena orang-orang memikirkan sesuatu namun Allah Ta’ala memberitahukan pada hatinya pemikiran untuk memilih yang tepat yang diinginkan Allah untuk menjadi Khalifah.”

Beliau adalah orang sangat saleh dan banyak berdoa. Putri beliau menjelaskan kecintaan Almarhum kepada Nabi Muhammad saw, “Almarhum menyintai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw. Beliau biasa menasihati saya, ‘Hendaknya engkau merasakan keagungan Allah setiap hari karena ibadah tidak berfaedah bila itu hanya adat kebiasaan dan ikut-ikutan saja.’ saat beliau menceritakan Sirah Nabi saw, mata beliau berurai dengan air mata dan beliau biasa menceritakan berbagai segi kehidupan Nabi saw dengan sepenuh kecintaan dan perasaan. Beliau biasa berdzikir kepada Allah baik dalam masa kesibukan duniawi seperti jalan-jalan dan sebagainya. Beliau seorang Ayah yang santun dan memperhatikan semua anak-anaknya dan menasehati mereka senantiasa.”

Hubungannya degan Khilafat senantiasa kuat. Komunikasi dengan saya juga intens setelah saya menduduki Khilafat dan ia tetap bertambah dalam ikatan ini dan menampakan keikhlasan besar. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat beliau dan mengasihi beliau. Semoga Dia meridhoi anak-anak beliau untuk meneruskan semua amal saleh beliau.

Jenazah kedua adalah Almarhumah Mahmudah Begum Sahiba, istri Chaudhry Muhammad Siddique Sahib Bhatti. Beliau adalah ibu dari Asghar Ali Bhatti Sahib, Mubaligh yang berkhidmat di Niger. Beliau wafat tanggal 16 Juli di usia 73 tahun, إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi rajioon. Ahmadiyah masuk ke keluarga Almarhumah pada 1928 sebagai hasil baiat dari kakek beliau, Coudri Sarwar Khan. Putra Almarhumah berkata, “Almarhumah hidup dengan memperhatikan tuntutan ekonomis dan kehormatan. Beliau terkemuka dalam wiqaar (kehormatan diri) dan mengisi hidupnya dengan kesabaran dan doa. Beliau amat menyintai Khilafat dan berlomba dalam mengkhidmati Jemaat. Beliau wanita sederhana dan membelanjakan harta untuk orang-orang faqir, disiplin dalam shalat dan membaca Al-Qur’an dengan kecintaan. Beliau rajin shalat tahajjud pada pukul tiga dini hari, setelah pertengahan malam. Almarhumah pernah berkata, ‘Saya biasa shalat Tahajjud sebelum menikah dan saya tidak ingat apakah saya pernah meninggalkannya satu hari saja karena kemalasan.’”

Segera setelah selesai makan sarapan dan urusan rumah tangga penting lainnya, Almarhumah melakukan shalat isyraq (beberapa waktu setelah matahari terbit). Suaminya menjabat sebagai ketua Jemaat setempat selama 28 tahun dan Almarhumah menjadi tuan rumah bagi para tamu yang datang pada saat itu dengan cara yang baik. Orang miskin beliau bantu meski kondisi materi beliau juga  sulit. Kapan pun beliau menghadapi masalah atau situasi yang sulit, beliau segera berdoa dalam shalat.

Demi pendidikan bagi anak-anaknya beliau menjual perhiasan dan hewan ternak. Beliau telah mengalami kesedihan kewafatan saudara laki-laki, orang tua dan cucu perempuannya, namun tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun keluhan. Almarhumah adalah seorang Mushiah. Disamping suami, Almarhumah pun meninggalkan dua putri dan enam putra. Seorang putranya bertugas sebagai Muballigh di Nigeria dan belum bisa ikut shalat jenazah hadir karena tengah di medan tabligh. Semoga Allah menganugerahi ketinggian derajat kepada beliau dan menganugerahi pengabulan pada doa-doa beliau semua terkait anak-anak beliau dan semoga Dia memberi taufik pada mereka untuk melanjutkan amal-amal saleh beliau.

Dildaar Ahmad & Yusuf Awwab

________________________________

[1] Malfuzhat, jilid 5, h. 406, edisi 1985, terbitan UK.

[2] Malfuzhat, jilid 7, h. 220, edisi 1985, terbitan UK.

[3] Malfuzhat, jilid 7, h. 220, edisi 1985, terbitan UK.

[4] Malfuzhat, jilid 5, h. 91, edisi 1985, terbitan UK.

[5] Malfuzhat, jilid 7, h. 101, edisi 1985, terbitan UK.

[6] (Shahih Muslim Kitab tentang Iman, bab 19 (motivasi menghormati tetangga dan tamu), no. 47

[7] Musnad Ahmad ibn Hanbal, Musnad al-Anshar r’anhum; hadits Abdullah ibn Thahfah al-Ghifari no. 23665, Alamul Kutub, Beirut, 1998.

عن الحرث بن عبد الرحمن قال بينا أنا جالس مع أبي سلمة بن عبد الرحمن إذ طلع علينا رجل من بنى غفار بن لعبد الله بن طهفة فقال أبو سلمة الا تخبرنا عن خبر أبيك قال حدثني أبي عبد الله بن طهفة ان رسول الله صلى الله عليه و سلم كان إذا كثر الضيف عنده قال لينقلب كل رجل بضيفه حتى إذا كان ذات ليلة اجتمع عنده ضيفان كثير وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لينقلب كل رجل مع جليسه قال فكنت ممن انقلب مع رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما دخل قال يا عائشة هل من شيء قالت نعم حويسة كنت أعددتها لإفطارك قال فجاءت بها في قعيبة لها فتناول رسول الله صلى الله عليه و سلم منها قليلا فأكله ثم قال خذوا بسم الله فأكلنا منها حتى ما ننظر إليها ثم قال هل عندك من شراب قالت نعم لبينة كنت أعددتها لك قال هلميها فجاءت بها فتناولها رسول الله صلى الله عليه و سلم فرفعها إلى فيه فشرب قليلا ثم قال اشربوا بسم الله فشربنا حتى والله ما ننظر إليها ثم خرجنا فأتينا المسجد فاضطجعت على وجهي فخرج رسول الله صلى الله عليه و سلم فجعل يوقظ الناس الصلاة الصلاة وكان إذا خرج يوقظ الناس للصلاة فمر بي وأنا على وجهي فقال من هذا فقلت أنا عبد الله بن طهفة فقال ان هذه ضجعة يكرهها الله عز و جل إسناده ضعيف لجهالة ابن عبدالله طهفة

Dari Al Harits bin ‘Abdur Rahman berkata: Saat aku duduk bersama Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman, tiba-tiba seseorang dari Bani Ghifar salah satu putra ‘Abdulloh bin Thakhfah datang lalu Abu Salamah berkata: Maukah kau memberitahu kami khabar dari ayahmu? Ia berkata: Telah bercerita kepadaku ayahku, ‘Abdulloh bin Thakhfah bahwa bila banyak tamu di rumah Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Hendaklah masing-masing orang berbalik/pulang dengan tamunya.” Kemudian pada suatu malam ada dua kelompok tamu banyak berkumpul di kediaman beliau, Rasululloh saw bersabda: “Hendaklah masing-masing orang berbalik dengan temannya.” Dan aku termasuk orang yang berbalik bersama Rasululloh saw. Saat beliau masuk, beliau bersabda: “Hai ‘Aisyah, apa ada sesuatu?” Aisyah menjawab: “Ya, sup yang sudah aku persiapkan untuk Tuan berbuka puasa.” Lalu Aisyah membawanya dalam tungku miliknya lalu Rasululloh saw mengambilnya sedikit dan memakannya kemudian beliau bersabda: “Ambillah, bismillaah.” Kami pun memakannya hingga tersisa seperti yang kami lihat. Setelah itu Rasululloh saw bersabda: “Apa kau punya minuman?” Aisyah berkata: Ya, susu yang telah aku persiapkan untuk Tuan.” Beliau bersabda: “Bawa kemari.” Aisyah membawanya lalu Rasululloh saw mengambilnya, beliau mengangkat didekat mulut beliau, beliau minum sedikit kemudian beliau bersabda: “Minumlah, bismillaah.” Kami pun
minum hingga demi Alloh tersisa seperti yang kami lihat. Setelah itu kami keluar dan pergi ke masjid, aku menelungkupkan wajah lalu Rasululloh saw keluar, beliau membangunkan orang-orang: “Shalat shalat.” Bila beliau keluar, beliau membangunkan orang-orang untuk shalat, beliau melewatiku saat wajahku terkelungkup, beliau bersabda: “Siapa ini?” aku menajwab: Saya, ‘Abdulloh bin Thakhfah. Beliau bersabda: “Ini adalah telungkupan yang dibenci Alloh.”

[8] Jabatan pemerintahan di anak benua India dibawah penjajahan Inggris level distrik (mungkin setara kabupaten) ialah Collector Magistrate atau Deputi Komisioner (mengurusi pengadilan juga). Beberapa Komisioner berada dibawah Ketua Komisioner. Diatasnya lagi ialah Letnan Gubernur setelah itu Gubernur. Para Gubernur di berbagai Provinsi di India berada dibawah Gubernur Jenderal dan Viceroy (raja muda). Diatasnya lagi ialah Sekretaris Negara dan Konsilnya untuk India atas nama Mahkota Kerajaan Inggris  yang bertanggungjawab kepada Parlemen. Rujukan: Constitutional Government in India oleh Oleh M.V.Pylee

[9] Al-Fadhl, 26 agustus 2010, h. 3-5, 27 Agustus 2010, h. 3-4, 30 Agustus 2010, h. 5, 18 Mei 2009, h. 3-4.

(Visited 211 times, 1 visits today)