Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz Pada 28 Juli 2017 di Jalsah Gah Hadiqatul Mahdi, Oaklands Farm, Green Street, East Worldham, Alton, Distrik Hampshire, UK (United Kingdom of Britain).

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala, hari ini Jalsah Salanah United Kingdom (UK) akan dimulai. Sangat dibutuhkan doa pada hari-hari ini. Bagi yang mampu dapat juga bersedekah supaya Allah Ta’ala menjadikan Jalsah ini berlangsung dengan penuh sukses di segala segi. Setiap Ahmadi baik yang hadir di Jalsah ini maupun yang berada di mana pun tempat tinggalnya dan yang sedang menyaksikan aktifitas Jalsah melalui MTA di seluruh dunia hendaknya berdoa demi kesuksesan Jalsah dan ALlah Ta’ala memberkan perlindungan dari setiap kejahatan para musuh (yang memusuhi).

Pada khotbah Jumat yang lalu saya menasehatkan para sukarelawan di bidang Dhiyafah mengenai kewajiban mereka terhadap para tamu yang hadir. Saat ini saya ingin menyampaikan bahwa, para tamu yang hadir dalam Jalsah juga memiliki kewajiban dan tanggungjawab yang harus mereka tunaikan.

Tidak diragukan lagi bahwa di dalam Islam terdapat banyak hak bagi seorang tamu namun Islam adalah agama yang I’tidaal (seimbang) juga dalam segala hal. Islam bukanlah agama yang menekankan kewajiban kepada satu pihak saja untuk mereka tunaikan, tetapi juga memerintahkan pihak kedua agar memenuhi kewajiban yang terpikul pada mereka dan hak-hak yang seharusnya mereka tunaikan sebab hal ini membantu berdirinya masyarat yang berdasarkan kecintaan dan persaudaraan secara timbal-balik.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam pada satu kali periode tidak mengadakan Jalsah untuk mengungkapkan kemarahan beliau. Penyebabnya adalah perangai salah sebagian kalangan yang datang ke Jalsah di tahun sebelumnya. Artinya, sebagian para tamu yang mengikuti Jalsah membuat beliau as bersedih dan marah karena mereka tidak memenuhi kewajiban mereka dan menunaikan hak-hak sesama sebagaimana mestinya.

Beliau as tidak menyatakan kemarahannya di depan mereka secara langsung melainkan beliau bersabda bahwa sebagian peserta tidak memenuhi hak-hak sesamanya. Bukan hanya itu saja bahkan mereka berperilaku dengan mengembangkan ananiyah (egoism) dan kebanggaan diri. Mereka mengutamakan kenyamanan diri sendiri dibandingkan orang-orang lain.

Mereka berperilaku seolah-olah datang untuk berpartisipasi dalam pesta duniawi padahal tujuan mengikuti Jalsah Salanah ini ialah demi memajukan ketakwaan, meninggikan tingkat hubungan dengan Allah Ta’ala, memenuhi hak-hak orang lain dan meningkatkan tolok ukur pengorbanan demi mementingkan orang lain dibanding diri sendiri. Maka, ketika Hadhrat Masih Mau’ud as melihat sebagian orang tidak mencapai tolok ukur ini, beliau pun bersedih sekali dan menyatakan kesedihan beliau dengan sangat jelas.

Dengan demikian, orang-orang yang datang demi mengikuti Jalsah, mereka bukan hanya menjadi tamu saja yang mengharapkan perlakuan baik dan kenyamanan hingga batas luar biasa melainkan mereka harus menjadi orang-orang yang memperlihatkan keteladanan dalam hal pengorbanan dan mengutamakan orang lain. Mereka harus menempatkan tujuan Jalsah sebagai pedomannya, yaitu, sebagaimana telah saya katakan, kemajuan dalam hal kerohanian dan hubungan dengan Allah serta menunaikan hak-hak orang lain.

Berkaitan dengan tamu-tamu bukan Ahmadi, sesuai dengan kemampuan kita harus semaksimal mungkin menolong mereka dan menaruh perhatian pada mereka. Kita juga harus menyediakan kenyamanan dan kemudahan bagi mereka serta menunaikan hak tamu sesuai kemampuan yang mungkin bisa kita lakukan.

Perhatian khusus harus diberikan kepada para pemuka bangsa dan datang kepada kita sebagai tamu. Hal ini karena Nabi Muhammad saw memerintahkan untuk memperhatikan secara baik terhadap mereka, menjamu dan menghormati mereka, إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوهُ ‘Idza atakum kariimu qaumin fakrimuuhu.’ – “Jika orang terhormat sebuah bangsa datang kepada kalian, hormatilah ia.”[2]

Begitu juga, banyak orang yang sedang mencari kebenaran datang ke Jalsah, mereka pun harus kita hormati sungguh-sungguh siapa pun mereka. Inilah yang Hadhrat Masih Mau’ud as nasehatkan. Beliau as mengarahkan kepada para karyawan Darul Dhiyafah untuk mengkhidmati tamu tanpa membeda-bedakan, apakah itu mereka kenal atau tidak kenal, orang kecil atau besar, orang miskin atau kaya.

Tapi, seorang Ahmadi yang menghadiri Jalsah harus menganggap dirinya sebagai tamu dan juga sebagai tuan rumah sekaligus pada waktu yang sama. Dengan begitu ia akan terisi dengan perasaan pengorbanan dan pengutamaan orang lain selanjutnya hal itu memungkinkan suasana Jalsah menjadi damai dan penuh kecintaan. Seorang tamu juga harus berusaha memastikan tuan rumah tidak merasa terbebani namun tetap nyaman. Inilah petunjuk dari Nabi Muhammad saw.

Dikarenakan pengaturan Jalsah adalah sementara, semoga dimaklumi bahwa para tamu tidak dapat diberi kemudahan seperti dalam pengaturan penyambutan tamu yang permanen. Kemah-kemah besar didirikan untuk tempat tinggal banyak orang sebagaimana juga disediakan kemah-kemah untuk tempat tinggal keluarga juga. Bisa jadi dalam hal itu terdapat kelemahan-kelemahan dalam sistem.

Berbagai kelompok panitia Jalsah berkedudukan sebagai tuan rumah Jalsah. Maka dari itu, bukannya memandang para panitia ini sebagai pesuruh (pembantu) karena telah menyambut mereka dan mengkhidmati mereka sehingga bila menemukan sesuatu kekurangan atau kelemahan lalu menjadi hak mereka untuk menuntut dan berusaha meraih kemudahan-kemudahan. Ini pemikiran yang salah.  Sebab, mereka (para panita) yang telah dipercaya mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as bukanlah pembantu (pelayan) kita melainkan merupakan kerendahan hati mereka dan kecintaan mereka untuk berkhidmat sehingga mereka mempersembahkan diri mereka mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as.

Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi juga dan berkedudukan terpandang di masyarakat. Para tamu harus bersikap baik dan lembut dalam berbicara demi mengungkapkan keperluan mereka kepada para panitia. Jika karena terpaksa lalu tuan rumah (panitia) menolak permintaan tamu maka tamu harus dengan senang hati dan prasangka baik mematuhinya.

Para pemuda dan pemudi kita menjalankan tugas pengkhidmatannya dengan penuh semangat. Beberapa orang dewasa tidak berkelakuan baik dan cara bicara mereka yang buruk dapat berpengaruh (mengecewakan) pada para muda/i tersebut. Hal itu bisa menyebabkan para muda/i panitia tersebut tergelincir (kecewa). Semua harus memperhatikan hal ini. Orang-orang dewasa harus menunjukkan perilaku santun terhadap mereka yang umurnya lebih muda.

Para Ahmadi yang datang sebagai tamu janganlah menganggap diri sebagai tamu melainkan harus menjadikan tujuan mereka menghadiri Jalsah ialah – sebagaimana telah saya katakan – memperoleh keberkatan Jalsah, menjadi pewaris aliran karunia doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as dan memajukan kerohanian mereka. Para tamu janganlah menyia-nyiakan waktu mereka dengan sedikit-sedikit mengeluh hanya demi kepentingan-kepentingan materi yang sepele dan biasa. Hal itu mengganggu kesucian suasana (Jalsah).

Namun, saya ingin berkata berkali-kali kepada para panitia juga bahwa kewajiban mereka untuk memperlihatkan akhlak baik, kelapangan dada dan kesabaran di semua hal meski keadaan dan perlakuan seseorang terhadap mereka. Tamu harus menerima apa adanya makanan yang mudah bagi mereka dalam tiga hari ini dengan perasaan riang gembira.

Perhatikanlah! Betapa agungnya perasaan mereka yang sebenarnya ialah officer (pejabat) di beberapa posisi penting yang minta izin dari pekerjaan mereka lalu berkhidmat di bidang masak-memasak dengan senang hati dan perasaan penuh sembari beranggapan bahwa mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as terdapat keberkatan. Maka dari itu, jika Anda melihat ada kekurangan rasa maka janganlah mudah untuk mengajukan keluhan. Namun, para Khuddam yang memasak makanan dan menyajikan makanan harus berlaku penuh penghormatan kepada orang-orang yang kepada mereka makanan disajikan. Jika ada seseorang 10 kali meminta sesuatu maka mereka (panitia bidang makanan) harus menuangkannya baginya. Dan meski seseorang meminta masakan sesuai pilihan kesukaan mereka maka mereka (panitia) harus menuangkan sesuai keinginan mereka itu.

Terkadang di tempat penuangan makanan, pembicaraan hal-hal kecil menyebabkan kesalahpahaman yang mana Anda harus menghindarinya. Begitu pula, para tamu setelah selesai makan juga harus keluar dari tempat memakan makanan secepat mungkin supaya tamu-tamu lain juga bisa masuk ke tempat itu dan memakan makanan.

Semua panitia tentu berusaha untuk membagikan makanan kepada sejumlah besar orang di waktu yang sama sebagaimana pula mereka menyediakan tempat yang lebih luas tapi dikarenakan banyaknya tamu yang hadir tentu ada saja terjadi kekurangan-kekurangan. Oleh karena itu, jika tamu bisa bekerja sama, tentu banyak terjadi kemudahan.

Selanjutnya, kemudahan lain juga telah diusahakan seperti di tempat MCK (Mandi, Cuci, Kakus) dengan baik. Namun, sebagaimana telah saya katakan dan disebabkan itu pengaturan sementara maka para tamu terkadang mengalami kesulitan dan kesusahan sehingga mereka terpaksa menanggungnya.

Kemarin saya menerima laporan bahwa ada bagian pipa saluran air (drain pipe) yang pecah di tempat MCK yang mana panitia terpaksa menutupnya sementara waktu. Hal itu membuat para tamu menanggung kesulitan. Memang benar bahwa panitia mencari solusi permanen namun dalam kasus ini para tamu dapat menghadapi lebih banyak masalah.

Selain itu, seperti yang saya katakan di khotbah lalu, ada beberapa perubahan dalam sistem transportasi untuk kenyamanan para tamu, dan perubahan ini terbukti bermanfaat dan mudah sesuai dengan laporan yang saya terima. Kemacetan lalu lintas telah berkurang dan itu menyebabkan aliran (flow) lalu lintas lancar dan mudah.

Namun, meski demikian, tetap saja tamu harus bekerja sama dengan para panitia sukarelawan di tempat itu dan memarkir kendaraan sesuai urutan (qeue) sebagaimana yang diminta oleh para panitia. Kami telah menyewa tempat parkir yang luas di tempat luar dan akan mengantar para tamu dari sana menuju halte bus. Mereka harus bekerja sama dengan para panitia. Jika mereka bekerja sama dalam hal ini, mereka dapat mengakses tempat itu dengan mudah dan tanpa kemacetan lalu lintas.

Hal yang biasa terjadi ialah orang-orang datang terlambat ke tempat Jalsah pada hari Jumat. Saya lihat mereka memasuki Jalsah Gah hingga ke waktu yang amat terlambat. Namun, sistem (pengaturan) perihal ini di bagian kaum ibu mulai tampak lebih baik dari waktu sebelumnya. Jika tidak bekerjasama di masa mendatang untuk perbaikan maka sebagian kesulitan akan muncul juga.

Demikian pula saya telah katakan sebelumnya bahwa mereka yang datang untuk Jalsah pada hari Jumat harus memulai perjalanan lebih awal supaya sampai pada waktu yang tepat, supaya dapat mengatur waktu pemarkiran kendaraan mereka, dapat sampai ke tempat Jalsah Gah dengan mudah dan di waktu yang tepat.

Begitu pula, harap diketahui bahwa kesulitan-kesulitan dalam sistem pengamanan bertambah setiap tahun. Anda sekalian harus bekerjasama dengan panitia bidang security checking (pemeriksaan keamanan). Perlihatkan pada panitia AIMS Card (kartu identitas pribadi yang disediakan Jemaat) Anda dan jika kartu ini tidak tersedia lalu diminta tunjukkan kartu tanda pengenal biasa, surat undangan (dari ketua Jemaat) maka mau tak mau perlihatkanlah itu setiap kali para panitia meminta itu diperlihatkan.

Jangan memberikan kepada orang lain tanda pengenal kalian atau kartu yang diberikan kepada kalian untuk memasuki area tertentu. Harap diketahui bahwa terkadang sebagian orang memberikan kartu mereka kepada orang lain demi duduk-duduk di area yang sejuk hijau. Pernah terjadi hal ini di tahun-tahun lalu bahwa sebagian peserta Jalsah meminjamkan kartu khusus mereka memasuki area hijau atau tempat tertentu kepada seseorang kenalan mereka atau teman mereka.

Perilaku salah ini terkadang dilakukan oleh para panitia Jalsah bahkan termasuk pimpinannya juga. Maka dari itu, mereka harus cermat dan hati-hati. Jika ada seseorang yang mempunyai dua kartu – selain kartu identitas dari Jemaat – para panitia scanning harus memeriksanya agar sesuai dengan namanya.

Pada tahun ini panitia pemeriksa (di gerbang masuk) harus memeriksa bawaan peserta terkait botol berisi cairan dan mencegah itu masuk. Para tamu harus bekerjasama terkait hal ini karena pihak berwenang (pemerintah daerah) telah mendorong kita untuk memperhatikan itu dalam rangka langkah pencegahan. Semua harap bekerjasama dalam hal ini.

Termasuk kewajiban para panitia bidang security (keamanan) untuk memeriksa setiap orang dari peserta dan tamu, baik itu yang mereka kenal atau tidak, pekerja (panitia) atau bukan, meminta atau tidak. Para tamu tidak boleh kesal dan para panitia tidak boleh malu (segan atau sungkan) untuk melakukan hal ini.

Setiap orang harus bersikap awas (waspada) mengarahkan pandangan di sebelah kanan dan sebelah kiri mereka dalam lingkungan mereka. Ini adalah hal yang wajib. Hal terpenting dari itu semua ialah sebagaimana telah saya katakan sebelumnya ialah berdoa kepada Allah Ta’ala di setiap hari sebanyak-banyaknya. Semoga Allah menjadikan Jalsah ini penuh dengan keberkahan dari segala segi. Simaklah acara-acara Jalsah dan janganlah berjalan kesana-kemari (berkeliaran).

Ada hal yang saya ingin agar para panitia memperhatikannya. Saya telah membicarakan hal itu sebelumnya berkali-kali yaitu Nizham Jalsah harus mengusahakan kemudahan lebih banyak lagi kepada para tamu. Sebagian tamu datang ke tempat Jalsah pagi-pagi sekali tanpa sarapan atau tidak menyiapkan makan pagi kemudian makanan pun terlambat datang juga. Hal ini mempengaruhi keseimbangan kesehatan mereka. Sebagian orang sakit tidak mampu menanggung rasa lapar dalam jangka waktu lama. Contoh-contoh seperti itu membuat panitia harus menyediakan sesuatu untuk dimakan di dalam kemah setiap waktu dan di tempat itu ada personal panitianya. Para tamu juga segera setelah selesai makan harus kembali ke kemah pusat (Jalsah Gah) untuk mendengarkan pidato-pidato.

Demikian pula, para panitia harus menekankan bahwa Bazaar ditutup sepenuhnya. Setiap kios dan stand hendaknya dikosongkan oleh penjaganya [saat acara Jalsah berlangsung] dan mereka semua menyimak acara-acara Jalsah.  Seksi Bazaar juga harus mengatur pengamanannya juga. Seiring itu, jika para penjaga Bazaar atau stand tidak merasa tenang karena kosongnya tempat mereka dan mereka tidak diizinkan duduk di dalam stand mereka maka mereka dapat membuat tempat khusus di sudut Bazaar dan menyimak Jalsah melalui televisi.

Begitu pula, saya ingin mengatakan kepada Jemaat bahwa pada tahun-tahun lalu telah diselenggarakan beberapa pameran juga dan diantaranya ialah pameran dari Review of Religion. Di dalamnya dipamerkan mengenai kain kafan Al-Masih juga sehingga orang-orang yang spesialis daari non Muslim dalam bidang ini datang. Mereka menyampaikan presentasi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan. Bagi para peserta Jalsah yang suka, dapat menyerap manfaat dari hal itu.

Demikian pula, program baru dimulai di Jalsah UK ini yaitu القلم (Al-Qalam), dibawah Review of Religion, penyediaan kesempatan menulis ayat-ayat Al-Quran dengan tangan. Orang-orang mengikutinya dengan senang hati. Mereka yang suka dalam hal ini, dapat ikut serta.

Lalu ada juga pameran tabarruk-tabarruk di bawah departemen Arsip yang juga selayaknya dikunjungi. Pameran foto-foto dari Makhzan-e-Tasaweer juga ada. Tapi ingatlah bahwa semua ini harus tutup saat acara Jalsah berlangsung. Semua harus menyimak program-program Jalsah dengan perenungan dan menyerap manfaat dari pidato-pidato. Para ulama Jemaat telah dengan penuh kerja keras mempersiapkan ceramah-ceramah dengan karunia Allah. Maka dari itu ambillah manfaat dari ceramah-ceramah tersebut.

Hendaknya orang-orang tidak memilih-milih kesukaan dalam hal mendengarkan ceramah sebagian pembicara tertentu yang mereka favoritkan saja atau suka pada tema-tema tertentu saja dan tidak menaruh perhatian pada selainnya yang membuat mereka datang untuk mendengarkan pembicara favorit mereka itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Dengarlah! Wahai orang-orang yang saya sayangi! Camkanlah! Bagi diri dan jiwa saya sendiri dan bagi Jemaat saya, saya tidak ingin dan merasa tidak suka jika seseorang hanya menyintai tampilan lahiriah dari kata-kata, gaya dan kekuatan kalimat yang tampak dalam pidato-pidato dan pembicaraan-pembicaraan. Sementara itu, semua maksud dan tujuan [menghadiri pertemuan] seharusnya janganlah berpusat [terbatas] pada betapa menarik pembicaranya dan bagaimana ajaib kata-katanya.

Kepuasan (kerelaan) saya tidak berputar pada hal-hal itu. Yang paling saya sukai dari hati nurani terdalam saya (bukan terpaksa, bukan dibuat-buat tapi itu tuntutan fitrat saya dan nurani saya) ialah apa pun yang dilakukan dan apa pun yang dikatakan itu karena Allah dan demi meraih ridha-Nya.”

Selanjutnya, beliau as bersabda bahwa segala sesuatu karena Allah, “Maka dari itu, setiap yang kita katakan, katakanlah itu demi Allah dan untuk meraih ridha-Nya; dan apa saja yang kita simak, simaklah itu dengan menganggapnya firman Allah dan demi mengamalkannya. Janganlah keikutsertaan kita di pertemuan-pertemuan penuh nasehat berpokok pada kekaguman semata terhadapnya.”

Lantas, beliau as bersabda, “Inilah sebab terbesar penurunan dan resesi (kejatuhan) di kalangan umat Muslim; (mengapa umat Muslim lainnya mundur? Sebab, mereka menyimak ceramah tanpa niat mengamalkannya) meski mereka menyelenggarakan begitu banyak konferensi, ada begitu banyak asosiasi, dan mereka melaksanakan begitu banyak pertemuan yang para pembicaranya sangat fasih dan para guru menghasilkan kuliah-kuliah mereka serta membuat pidato yang demikian bagus dan mungkin mereka meratapi dan menyatakan keprihatinan pada kondisi bangsa melalui syair-syair dan puisi mereka; apa sebab sehingga hal itu tidak mempengaruhi umat secara mutlak? Sebaliknya, bukannya kemajuan, malahan bangsa mundur dari hari ke hari. (Inilah yang kita lihat dan di hari-hari ini kemunduran keadaan mereka lebih banyak) Sesungguhnya sebabnya ialah para peserta dalam pertemuan itu tidak menghadirkan ketulusan mereka.”

Semua harus memahami hal pokok ini dan termasuk kewajiban mereka untuk harus berpartisipasi dalam program-program Jalsah dengan ikhlas, menyimak pidato-pidato dan mendengarkannya demi mengamalkannya sesuai kemampuannya berusaha untuk mengamalkannya.

Merupakan anugerah Allah yang luar biasa kepada para Ulama (cendekiawan) kita bahwa mereka mempersiapkan pidato-pidato dengan menyerap manfaat dari sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as. Setelah mereka menarik faedah dari firman Allah dan Rasul-Nya saw lalu menyampaikan kepada Anda sekalian. Mereka menjelaskan pokok-pokok tema kerohanian dan keilmuan.

Jika Anda menyerap manfaat dari itu secara benar dan jika Anda benar-benar menarik manfaat dari itu semua tentu terjadi revolusi (perubahan menyeluruh) dalam kehidupan Anda. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap peserta untuk dapat memenuhi tujuan Jalsah Salanah. (آمين)  Aamiin

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono.

 

________________________________

[1] Syahadatul Qur’an, Ruhani Khazain jilid 6, h. 395

[2] Sunan Ibni Majah, Kitab tentang Adab, bab mengormati tamu orang mulia, 3712.

[3] Malfuzhat, jilid 6, h. 226.

[4]Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Adab, bab memuliakan tamu dan mengkhidmatinya, no. 6135. Dari Abi Syarih al-Ka’bi bahwa Rasulullah saw bersabda, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، جَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهْوَ صَدَقَةٌ، وَلاَ يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَثْوِيَ عِنْدَهُ حَتَّى يُحْرِجَهُ ‏”‏ “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya siang dan malam, dan bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah baginya, tidak boleh bagi tamu tinggal (bermalam) hingga (ahli bait, tuan rumah) merasa keberatan.”

[5] Malfuzhat, jilid 1, h. 398-401, edisi 1985, terbitan UK.

(Visited 38 times, 1 visits today)