Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin  Hadhrat  Mirza Masrur  Ahmad  Hadhrat Khalifatul Masih VAtba.[1]

Tanggal 23 Ihsan 1389 HS/Juli 2010

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Insya Allah Ta’ala, pada hari Jumat mendatang Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah Britania (United Kingdom of Britania, Kerajaan Inggris Raya) dimulai. Hal paling utama yang saya ingin sampaikan saat ini dalam berkaitan dengan hal ini, ialah dengan ini  saya serukan kepada Jemaat di seluruh dunia pada umumnya, dan kepada Jemaat Britania pada khususnya, agar banyak-banyak berdoa dan bersedekah untuk keberhasilan dan keberkatan penyelenggaraan Jalsah  ini dalam tiap seginya. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari segala siasat buruk maupun kemudharatan dari pihak yang memusuhi [Jemaat]. Semoga Jalsah ini dapat diawali dan diakhiri dengan berbagai karunia-Nya yang tak terhingga. Sebagaimana biasa disampaikan dalam Khotbah Jumat lainnya satu minggu menjelang suatu Jalsah diselenggarakan, yakni mengenai nasehat kepada seluruh petugas [panitia yang merupakan pengkhidmat atau pun pewakaf dalam Jalsah], baik pria, wanita maupun anak-anak, yakni agar menaruh perhatian terhadap tugas dan tanggungjawab mereka. Dalam rangkaian ini saya sampaikan beberapa hal. Dengan karunia Allah Ta’ala, kini, baik di bagian pria maupun wanita, mereka sudah mendapat tarbiyat yang cukup dan terlatih dengan baik. Para pewaqaf di tiap-tiap seksi sudah memahami bagaimana caranya melaksanakan tugas mereka masing-masing dengan sebaik-baiknya. Namun, untuk lebih meningkatkan unjuk kerja dan lebih memupuk rasa tanggung jawab mereka itu, menasehati mereka kembali adalah pekerjaan penting, sebagaimana diperintahkan di dalam Al Quran:

فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

‘fainnadz dzikra tanfa’ul mu’miniin’ Terjemahannya “…karena sesungguhnya nasehat itu berfaedah bagi orang-orang yang beriman.” (Adz-Dzaariyaat, 51 : 56). Maka dalam hal ini penting pula untuk menanamkan rasa tanggungjawab dalam melaksanakan tugas pengkhidmatan Jalsah ini bagi anak-anak maupun pemuda-pemudi yang baru pertama kalinya berkhidmat, yang boleh jadi mereka itu belum menyadari sepenuhnya. Tugas penyelenggaraan Jalsah bukanlah tugas yang biasa-biasa saja. Baik orang tua maupun muda usia datang untuk mempersembahkan diri mereka agar dapat mengkhidmati para tamu Jalsah, yang mana mereka pun datang untuk memenuhi panggilan Hadhrat Masih Mau’ud as, yakni demi untuk meningkatkan kondisi kerohanian mereka. Boleh jadi juga ada beberapa di antara tamu yang datang hanya untuk bersenang-senang. Namun demikian, hendaknya hal ini pun tidak mengurangi rasa tanggung jawab kita untuk mengkhidmati mereka.

Ada beraneka ragam tamu yang datang menghadiri Jalsah. Satu jenis tamu ialah yang datang dari dalam negeri Inggris sendiri, dan pada saat Jalsah tinggal di lokasi Jalsah dengan menempati tenda-tenda, kemah-kemah dan tempat-tempat tinggal sementara yang disediakan Jemaat. Baik di berbagai macam tenda mereka sendiri maupun tenda yang disediakan oleh Jemaat. Mereka semua itu berurusan dengan hampir semua Seksi Panitia selama tiga hari tiga malam menginap. Maka pewaqaf tiap-tiap Seksi hendaknya dapat memberikan standar akhlak terbaik dalam mengkhidmati mereka. Hendaknya tidak terjadi bahwa para petugas Jalsah terlebih dahulu mengeluarkan kata-kata tak enak atau kemarahan kepada peserta Jalsah yang tinggal di Inggris ini atau siapa saja karena itu berarti tidak menegakkan hak tamu untuk mendapat perlakuan hormat layaknya tamu. Bilamana hal itu sampai terjadi berarti telah terjadi pengkhianatan terhadap tugas. Setiap ada kesalahpahaman, lupakanlah segera. Jangan sampai menjadi ganjalan dalam mengkhidmati mereka. Karena, jika hal ini sampai terjadi, akan menjadi ujian bagi si pewaqaf Jalsah. Kalau pun merasa sudah tidak dapat mengkhidmati seseorang tamu, mintalah rekan sesama pewaqaf lainnya untuk menggantikannya.

Jenis kedua tamu Jalsah adalah mereka yang datang dari dalam negeri (UK atau Inggris Raya), namun datang dan pergi ber-Jalsah setiap hari. Mereka makan satu atau dua kali dari suplai yang disediakan oleh Seksi Ziafat. Maka menjadi tanggung jawab Seksi ini untuk memperhatikan mereka. Pada beberapa tahun terakhir ini ada beberapa keluhan yang diterima [untuk Seksi Konsumsi], yakni bukan hanya makan yang lupa disediakan namun juga sikap para pewaqaf yang tidak berkenan di hati mereka. Tetapi setelah diselidiki, ternyata bukan sepenuhnya kesalahan para pewaqaf, melainkan, makanan tidak tersedia di lokasi yang mereka inginkan. Namun, jika pun demikian, para tamu perlu diberi penjelasan dengan sopan.

Para pengkhidmat Bidang Parkir, Pengaturan Lalu Lintas, dan Keamanan hendaknya dapat memperlihatkan akhlak yang tinggi [sikap sopan dan beretika yang tinggi] ketika berbicara dengan para tamu. Hal ini yang pernah saya bahas tentang keluhan, yang umumnya hal demikian tidak terjadi, ada pula berbagai keluhan yang kadangkala hanya mengada-ada, sehingga menjengkelkan Panitia. Namun secara keseluruhan, para pewaqaf dapat memaklumi berbagai ekses yang ditimbulkan para tamu.

Jenis tamu yang ketiga, adalah yang datang dari berbagai negara Eropa; mereka ini ada yang menginap di tempat yang disediakan oleh Jemaat. Ada pula yang mengurus dirinya sendiri [dalam hal transportasi, penginapan dll]. Namun, karena merasa berasal dari luar negara UK, mereka menaruh beberapa harapan yang lebih. Ini benar adanya bahwa ada beberapa di antara mereka yang meminta sesuatu yang berlebihan. Namun para pewaqaf tetap harus dapat memberikan pengkhidmatan mereka yang sebaik-baiknya. Jangan sampai menimbulkan keluhan mereka.

Ada pula tamu yang datang dari Pakistan, India dan Afrika serta negara-negara lainnya. Khusus para tamu dari Afrika dan Amerika sebetulnya sudah disiapkan secara tersendiri oleh Bidang Penyiaran Luar Negeri (Tabshir) Jemaat. Namun, dikarenakan mereka pun harus berurusan dengan berbagai Seksi Kepanitiaan lainnya, maka berbagai keperluan mereka ini pun hendaknya diperhatikan pula.

Meskipun dalam kondisi yang serba susah karena penentangan, rombongan tamu pun akan datang ke sini dari Pakistan, India dan Bangladesh demi untuk memenuhi dahaga rohani mereka terhadap Khilafat. Khususnya lagi mereka yang berasal dari keluarga para mazhlumiyyat (jemaat yang diserang, teraniaya). Pengkhidmatan yang istimewa dan penuh sopan santun haruslah diberikan kepada mereka. Sebagian dari antara mereka boleh jadi akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi karena bahasa. Maka para pewaqaf pria maupun wanita hendaknya memperlihatkan sikap senantiasa siap untuk mengkhidmati mereka. Jika ada di antara mereka (para tamu) yang meminta sesuatu di luar bidang pengkhidmatan seksi anda, alih-alih langsung menolaknya, antarlah mereka ke tempat atau Seksi yang tepat. Hampir semua tamu dari Pakistan akan dikhidmati oleh sanak saudara mereka yang ada di [London] sini. Namun bagi mereka yang tidak mempunyai saudara, boleh jadi akan timbul suatu kegelisahan. Dalam dua atau tiga tahun terakhir ini, penginapan dan pelayanan kepada tamu yang menginap lebih dari tiga hari dapat diberikan dengan baik. Tetapi, sebagaimana telah saya katakan, pentingnya perkara ini tetap perlu diingat-ingatkan kembali. Yakni, mereka yang mendapat karunia menerima tamu dari Pakistan yang merupakan keluarga hendaknya menyadari, bahwa pelayanan bagi mereka bukan hanya menjadi tanggung jawab Panitia Jalsah, melainkan, mereka pun hendaknya dapat menunjukkan pelayanan yang terbaik karena tamu yang merupakan keluarga itu berhak mendapat pelayanan sebagai tamu.

Jenis tamu lainnya adalah mereka dari kalangan non Ahmadi bukan Muslim dan tamu-tamu Muslim bukan Ahmadi, yang datang atas undangan Jemaat. Sedapat mungkin berkaitan dengan penghormatan tamu ini secara khusus perlu dibuat pengaturan tertentu guna menyambutnya. Mereka ini suka memperhatikan betapa para pewaqaf Jalsah menjalankan tugasnya. Cara kerja dan akhlak pengkhidmat Jalsah kita menjadi catatan tersendiri bagi mereka. Setiap kali mereka datang tiap tahun, mereka memberikan kesan yang sangat baik kepada para pengkhidmat Jalsah kita, baik laki-laki maupun perempuan. Sekarang ini cukup banyak tamu luar negara Jerman yang datang ke Jalsah Jerman, yang mereka katakan sangat terkesan oleh akhlak para pengkhidmat Jalsah dan tahun ini tamu-tamu tersebut yang mayoritas adalah non Ahmadi menyampaikannya langsung kepada saya. Inilah yang sesungguhnya yang menjadi standar akhlak para pewaqaf Ahmadi di mana-mana yaitu memperlihatkan akhlak baik tertinggi. Bahkan mereka yang tidak secara langsung melayani tamu, kesigapan dan kepedulian mereka sangat mengesankan. Inilah para pewaqaf yang melaksanakan tugas pengkhidmatan dengan sebaik-baiknya, yakni, mereka sesungguhnya melakukan ‘tabligh tanpa-wicara’. Sehingga mereka pun mendapat ganjaran pahala yang berganda. Sebabnya ialah pertama, mereka telah mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as. Dan, kedua, mereka telah berhasil memperlihatkan citra Jemaat Ahmadiyah yang sesungguhnya, citra Islam yang sejati, kepada orang-orang yang befitrat baik untuk mengenali suatu nilai kebenaran. Tugas pekerjaan Jalsah Salanah adalah sarana untuk memperoleh keridhaan Allah Ta’ala bagi setiap pewaqaf pria maupun wanita. Semoga Allah Swt memudahkan mereka semua untuk melaksanakan pengkhidmatan ini dengan sebaik-baiknya.

Pada Jalsah UK tahun ini saya mohon perhatian khusus kepada Seksi Keamanan, yang sejak tahun lalu telah berhasil meningkatkan kinerja mereka. Namun untuk sekarang ini, bahkan jika sedikit saja melihat adanya keraguan  atau kecurigaan janganlah menganggapnya sepele. Setiap prosedur [pemeriksaan] hendaknya disampaikan secara tertulis. Kartu Tanda Pengenal yang dikeluarkan oleh Jemaat hendaknya dicek kembali keabsahannya setiap saat dengan mesin scanner secara teliti. Setiap kartu identitas tersebut, bahkan meskipun orangnya anda kenal, tetap harus dicek. Jika ada peserta yang mengoceh tentang hal ini, dengarkan saja. Tetapi jangan pernah berkompromi dalam melaksanakan tugas pengamanan ini.

Pada Jalsah tahun ini, Jemaat Jerman telah dapat menerapkan sistem keamanan yang baik. Semuanya berjalan lancar dikarenakan mereka menyediakan  beberapa pintu masuk pemeriksaan. Semua informasi detail seperti umur, jenis kelamin, asal daerah dari setiap kartu identitas [peserta Jalsah] yang di-scanned tersebut segera terlihat pada pada layar. Jalsah tahun ini, disamping penyelenggaraannya yang baik, sistem keamanan mereka pun sangat canggih dan dapat diandalkan begitu pula sistem checkingnya. Semoga Allah Ta’ala memberi ganjaran berlipat ganda kepada semua Ahmadi dari kalangan mudanya dan menambahkan kecerdasan otak mereka yang telah mengembangkan dan mengerjakan serta menerapkan sistem ini dengan penuh ketertiban. Biasanya saya menyampaikan kepiawaian pengkhidmatan Jemaat Jerman ini pada Jalsah mereka. Namun, karena keterbatasan waktu, baru pada kesempatan inilah saya dapat menyampaikannya secara ringkas. Selama Jalsah dan juga salat Jumat, pemeriksaan di beberapa pintu masuk dan sistem keamanan secara keseluruhan harus dilaksanakan dengan penuh kewaspadaan. Para pewaqaf muda usia jangan dibiarkan bekerja sendiri di tiap-tiap tempat (pos). Melainkan, bahkan di setiap titik pengawasan mereka perlu didampingi oleh naib atau atasan mereka yang sudah dewasa.

Namun demikian, di atas segalanya, hendaklah ingat sebagaimana telah saya sampaikan, andalan utama kita adalah Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tak ada sedikitpun saat yang terlewatkan tanpa diisi dengan doa-doa termasuk saat menjalankan tugas kepanitiaan. Terkait dengan Bidang Keamanan, hendaklah ingat perihal ini bahwa di tempat-tempat penginapan sementara yang berkumpul di Hadiqatul Mahdi (Alton, Hampshire), Islamabad (Surrey) dan Baitul Futuh (Morden), dan juga berbagai perkemahan tenda perseorangan. Secara khusus yang ada di Hadiqatul Mahdi dan Islamabad beberapa kali terjadi kasus pencurian saat sedang sepi [karena peserta mengikuti kegiatan Jalsah].  Oleh karena itu, secara khusus perlu diatur bagaimana keamanan aspek ini yang harus dapat dipastikan. Sebab, jika pencurian saja dapat terjadi, maka marabahaya lainnya pun dapat mereka lakukan. Meskipun seluruh peserta telah diingatkan agar membawa barang-barang berharga mereka, yang mereka sudah lakukan, namun aspek keamanan di beberapa tempat yang telah saya sebutkan tadi haruslah dilakukan dengan penuh kewaspadaan. Para anggota Seksi Keamanan haruslah memiliki rasa percaya diri yang baik. Jangan pernah menunjukkan  kepanikan. Begitu pula petugas selanjutnya. Beberapa kali terjadi saat jam makan, makanan kurang cukup yang membuat para tamu menjadi cemas. [Meskipun] dengan karunia Allah Ta’ala hal demikian sangat jarang, namun diakui ada keterlambatan dalam penyajiannya disebabkan tempat masaknya tidak di lokasi Jalsah. Maka para peserta perlu ditenangkan.

Demikian pula transportasi, pada waktu kedatangan dan kepulangan peserta Jalsah, terjadi pembludakkan peserta di titik kepulangan dan kedatangan, bus maupun kereta api. Sama halnya jika, para pewaqaf diharapkan agar tetap tenang dalam menangani tamu. Sekaligus harus sanggup menenangkan para peserta yang boleh jadi mengalami sedikit ketidaknyamanan. Jangan memperlihatkan kecemasan (kepanikan). Tenteramkanlah mereka dengan tenang. Berbicaralah dengan mereka. Tidak perlu terpancing oleh emosi kemarahan. Begitu pula bidang-bidang [seksi-seksi pengkhidmatan] lainnya. Seksi [penyediaan] air [minum atau lainnya], perlu diantisipasi dari kekurangan. Dikarenakan saat ini cuaca [musim yang] panas yang karenanya seksi ini amat penting. Selain untuk minum, persediaan air juga perlu diperhatikan untuk mck (mandi cuci kakus/toilet). Meskipun di beberapa Seksi Panitia para pewaqafnya telah berpengalaman, namun disebabkan adanya ketidaksabaran dari pihak peserta, boleh jadi akan timbul semacam kepanikan. Oleh karena itu, para pewaqaf dituntut untuk tetap tenang, mereka pun harus mampu membimbing para tamu agar bersabar dengan cara yang menenteramkan. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada semuanya agar dapat menunaikan kewajiban masing-masing.

Menghormati tamu (ikraamudh dhaif atau takriimudh dhuyuuf-Arab, mehmaan nawaazi, Urdu-red.) adalah salah satu ciri khas istimewa orang mukmin. Tambahan lagi, para tamu yang datang khusus untuk urusan rohani, dan memenuhi panggilan Imam Zamannya, perlu diperlakukan sebagai ‘tamu beliau as’, dengan lebih seksama. Niat rohani mereka itu ialah demi untuk mendapatkan faedah maksimal dari ajaran agama yang telah diwahyukan kepada Rasulullah saw juga agar dapat mengadakan inqilabi haqiqi, perubahan suci, serta berusaha untuk memperoleh qurb, kedekatan Ilahi.

Bagaimanakah Hadhrat Rasulullah saw mengkhidmati para tamu yang datang untuk maksud tersebut [belajar ilmu agama]? Banyak contoh tak terhitung mengenainya. Setiap kali kami menyaksikan ada tamu yang datang, beliau saw dari rumah beliau mengirim utusan untuk membawa pesan kepada istri-istri beliau, “Tamuku telah datang. Tolong agar menyiapkan makan.” Namun, satu persatu para istri beliau saw tersebut mengirim pesan balik, bahwa hanya ada air yang tersedia untuk disuguhkan. Tak ada lagi makanan yang tersisa. Lihatlah, hal ini pun menunjukkan maqam (kedudukan tinggi) dari kesabaran dan ketawakkalan para istri beliau saw. Berkat kekuatan daya quwwat qudsiyyah beliau saw, mereka tak pernah mengeluh sedikitpun mengenai kekurangan pangan. Yakni, keluarga Rasulullah saw baru diketahui tak mempunyai makanan di rumahnya setelah kedatangan tamu. Maka salah seorang sahabat beliau saw pun membawa tamu tersebut ke rumahnya. Ia sendiri bukan orang yang kaya atau berkelebihan makanan dan harta. Meskipun ada makanan, namun sebetulnya hanya cukup untuk makan malam anak-anaknya. Maka sahabat itu pun membujuk anak-anaknya dengan sesuatu agar mereka mau cepat tidur. Kemudian, ia memadamkan lampu ketika mempersilakan tamunya untuk santap malam, sedangkan ia sendiri melakukan gerakan dan suara-suara serta bahasa tubuh layaknya orang yang sedang makan. Sehingga tamunya itu pun makan dengan nikmat dan kenyang. Tak menyadari bahwa sebenarnya hanya ia sendiri yang makan, sedangkan tuan rumah dan keluarganya tidak. Namun, bahkan Allah Ta’ala pun sampai tersenyum  menyaksikan adegan luar biasa tersebut, kemudian mengkabar-gaibkannya kepada Rasulullah saw, bahwa amal shalih mukminin dan mukminat tersebut membuat-Nya tersenyum ridha. Maka barangsiapa yang amal-shalihnya mampu membuat Allah Ta’ala senang, orang itu pun niscaya akan memperoleh rahmat karunia-Nya di dunia ini juga dan di akhirat nanti. Inilah haitsiyyat (akibat) dari mengorbankan satu kali waktu makan [untuk berkhidmat kepada tamu yang datang guna kepentingan agama] [2]

Ada lagi peristiwa lain yang dengannya kita dapat membayangkan betapa Hadhrat [Nabi Muhammad] saw demikian tingginya sikap berkhidmat kepada tamunya. Seorang [tamu] Yahudi yang bermalam di rumah Rasulullah saw, pagi-pagi sekali ia sudah pergi tanpa pamit, lalu ditemukan kemudian bahwa ia meninggalkan kotoran di tempat tidurnya disebabkan sakit perut. Kemudian beliau saw sendiri yang membersihkan tempat itu sedangkan para sahabat berkata ketika mengetahui hal itu, “Wahai [Rasul] kesayangan kami, yang bagi engkau kami bersedia mengorbankan ibu-bapak kami, biarlah kami saja yang mengerjakan hal itu!” Namun Rasulullah saw bersikeras kepada para Sahabat, “Tidak! Ia adalah tamu saya. Biar saya sendirilah yang membersihkannya.”

Hadhrat Abu Hurairah r.a., meriwayatkan, Rasulullah saw sering bersabda mengenai tiga 3 (tiga) ciri khas yang dimiliki oleh orang mukmin yang meyakini adanya Allah dan Hari Kemudian. [3] Hal pertama ialah menjadi orang yang memiliki akhlaqul-karimah sehingga kata-kata yang keluar dari mulut adalah kebaikan; kepada siapa saja tidak keluar dari mulut kita hal-hal yang melukai setiap segi dari perasaan orang lain. Hal ini dikarenakan keburukan akhlak akan menyebatkan kerusakan iman. Jadi, berkatalah hal-hal yang baik atau diamlah! Sikap akhlak fadillah ini dapat menarik keridhaan Ilahi, memperkuat keimanan dan juga menjamin ketenteraman hidup bermasyarakat.

Hal kedua yang harus ada dalam diri orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan adanya akhirat ialah, hendaklah ia senantiasa memuliakan tetangganya. Allah Ta’ala telah memberi berbagai perintah yang jelas mengenai [kewajiban untuk memenuhi] hak tetangga; dan Hadhrat Nabi [Muhammad] saw menyampaikan perihal ini kepada orang-orang beriman, “Allah Ta’ala demikian seringnya mewahyukan tentang perlakuan baik dan berhubungan baik dengan tetangga serta memenuhi hak-hak mereka sehingga seakan-akan aku menyangka boleh jadi tetangga termasuk sebagai ahli waris (yang berhak mendapat warisan).” Hendaklah diingat, yang dimaksud dengan tetangga di sini adalah juga mereka yang berada atau bersama anda hanya untuk beberapa waktu. Mereka ini pun mempunyai hak atas diri tuan-tuan. Termasuk dalam hal ini adalah ikhwan Jamaah anda sekalian di dalam Jalsah.

Lalu Hadhrat Nabi [Muhammad] saw memberitahukan ciri khas orang mukmin sejati yang ketiga bahwa ia memuliakan tamu. Memuliakan tamu dapat meneguhkan keimanan dan karenanya adalah perlu untuk memperlihatkan sikap ini dan hal ini dapat menjadi salah satu sarana untuk memperoleh qurb Ilahi (kedekatan dengan Allah Ta’ala). [4] Sebagaimana telah saya sampaikan bahwa Allah Ta’ala demikian gembira menyaksikan amalan sahabat Nabi saw, seorang mu’minah (perempuan yang beriman)  dan mu’min (laki-laki yang beriman) ini [yang keduanya suami-istri). Dia demikian menyatakan kegembiraan-Nya sehingga Hadhrat [Nabi Muhammad] saw pun ikut larut didalamnya. Mereka berdua dalam keadaan lapar menyambut tamu menginap di rumah mereka; bahkan anak-anak mereka dalam keadaan lapar namun mereka terbukti mengamalkan akhlak pengkhidmatan terhadap tamu. Tidak dikatakan, “Untuk anak-anak anda sekian [sudah dijatah agar tidak kelaparan/kesusahan], namun satu dengan yang lain diantara kalian dan juga anak-anak kalian dimasukkan dalam keadaan kesusahan guna memuliakan (mengkhidmati) tamu demi keridhaan Allah Ta’ala karena ada riwayat yang menyebutkan bahwa orang yang sampai melakukan inilah yang disebut mu’min sejati (orang beriman yang sesungguhnya) yang meyakini Allah Ta’ala dan hari akhirat. Kita toh di tempat [Jalsah] ini mengorbankan sedikit saja dari waktu dan perasaan kita demi agama. Dalam waktu yang sedikit ini kita dituntut untuk banyak berkhidmat. Seorang hamba dan pecinta Rasulullah saw yang sejati, yakni Hadhrat Masih Mau’ud as ini pun demikian. Beliau telah berhasil mengikuti contoh berberkat Rasulullah saw dengan sempurna. Dan sikap memuliakan tamu beliau ini tidak hanya bersifat temporer, melainkan selamanya, dan terus meningkat serta  meluas. Meskipun beliau as sudah biasa memuliakan tamu dengan cara mengistimewakan mereka, namun Allah Ta’ala tetap berkenan mewahyukan kepada beliau, ‘Wa laa tusha’ir li khalqillaahi wa laa tas-am minan naas’ yang terjemahannya, “Janganlah takabur terhadap makhluk Allah  [tamu-tamu yang datang apalagi yang datang atas undangan dan demi agama], dan jangan pula merasa penat (merasa keberatan) untuk menerima dan mengkhidmati mereka” [5]

Dengan adanya kebiasaaan beliau as yang memuliakan para tamu dalam batas yang setinggi mungkin, Allah Ta’ala juga tetap berulang kali mengingatkan beliau dalam banyak tempat (peristiwa) tentang pentingnya perkara ini karena jumlah tamu beliau semakin lama semakin banyak. Lalu, sepeninggal beliau pun, nizam khilafat, Khalifah Waqt dan nizam Jemaat hal penting ini dikedepankan, pelajaran penting ini disampaikan dan tak pernah melupakan kewajiban untuk mengkhidmati tamu. Jadi, ini hal penting yang menjadi dzimmah (perjanjian, kehormatan) kita. Inilah sikap sempurna yang hendaknya diingat oleh tiap-tiap orang dari kita yang Allah Ta’ala memberikan taufik kepadanya untuk mengkhidmati para tamu atau yang kalian satu dengna yang lain saling mengkhidmati sebagai tuan rumah dan tamu.

Para sahabat menyaksikan mengenai bagaimana sikap memuliakan Hadhrat Masih Mau’ud as terhadap tamu beliau lalu mereka menyampaikannya kepada kita. Bagaimana beliau as memuliakan para tamu beliau as? Bagaimana jalan (cara)nya beliau as memuliakan para tamu?

Hadhrat Syaikh Yaqub Ali Irfani radhiyallahu ta’ala ‘anhu (salah seorang sahabat beliau as) menulis mengenai tema ini dalam salah satu buku beliau. Hal-hal yang beliau tuliskan, susun dan disampaikannya kepada kita dalam bahasa beliau sendiri, saya (Hudhur) menyampaikannya. Salah satu hal yang beliau (Syaikh Yaqub) sampaikan ialah beliau as sangat ceria ketika menyambut kedatangan para tamu. Kemudian memerintahkan para pengkhidmat di Langar Khanah agar membuat para tamu merasa nyaman. Beliau as juga meminta mereka segera memberi kabar bila ada tamu yang datang. Bahkan sedapatnya agar memperhatikan kebutuhan khusus makanan mereka berdasarkan asal daerah mereka masing-masing. Maksud dari perhatian beliau as ini seperti yang beliau as senantiasa mengingatkannya, “Jika para tamu sampai tidak dalam keadaan sehat (fit), bagaimana mungkin mereka dapat belajar agama dengan baik?” Beliau as menginginkan bila para tamu itu ghair (non Ahmadi) agar diberi kesempatan tinggal beberapa hari supaya dapat lebih jauh diperkenalkan mengenai apa itu Ahmadiyah yang merupakan Islam hakiki. Sabda beliau as selanjutnya, “Janganlah memperlakukan para tamu sedemikian rupa sehingga mereka merasa susah!” Beliau as biasa bersabda, “Para tamu jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikan kebutuhan mereka. Tanpa merasa susah hendaknya menegakkan penghormatan dan kepada para tamu.” Kepada para pelayan, beliau as biasa mengatakannya.[6]

Salah satu keistimewaan beliau as adalah bagaimana untuk kenyamanan istirahat para tamu beliau as berkorban dalam banyak hal. Tuan Maulwi Abdul Karim mengisahkan, “Pada suatu hari yang terik di bulan Juni, saya berkesempatan datang ke tempat tinggal Hadhrat Masih Mau’ud as yang di tempat itu ada satu rumah atau satu bagian dari rumah yang baru dibangun, ketika itu keluarga beliau sedang bepergian ke Ludhiana.” Tuan Maulwi berkata, “Di situ (di dalam rumah yang baru itu) ada carpai (tempat beristirahat berbentuk dipan).” Ada berbagai fasilitas di dalam rumah beliau tersebut, namun bagi orang yang pernah tinggal di anak benua Hindustan akan memahami dan mensyukuri aspek kesejukan di dalam rumah yang baru dibangun, khususnya untuk mengantisipasi tingginya suhu pada Musim Panas. Tuan Maulwi melanjutkan kisahnya, “Di dalam rumah beliau as tersebut ada sebuah dipan sederhana yang saya berbaring di atasnya. Sedangkan Hadhrat Masih Mau’ud as ketika itu sedang berjalan-jalan di luar.” Tuan Maulwi berkisah lagi, “Beberapa saat kemudian, saya tertidur. Ketika terjaga, saya mendapati Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berbaring di lantai samping dipan tempat saya tidur.” Tuan Maulwi berkata, “Setelah melihat hal ini dengan dengan ada rasa segan saya pun bangun dan duduk. Beliau bersabda, ‘Apa yang terjadi? Kenapa tuan bangun sedemikian rupa?’ Lalu saya pun memohon, ‘Hudhur, tempatilah dipan itu karena bagaimana mungkin bisa terjadi saya dapat tidur diatas dipan dalam kondisi seperti itu.’ Namun beliau menjawab sambil tersenyum, ‘Oh, tak mengapa. Saya di sini hanya untuk mencegah agar jangan sampai ada anak-anak yang berbuat gaduh lalu mengusik tidur tuan.’ Inilah dia kecintaan yang tiada banding dalam menghormati tamu. Kecintaan ini hanya dimiliki oleh ibu-bapak [kepada putra-putrinya] bahkan kecintaan itu melebihi ibu-bapak. Hal ini hanya dimiliki oleh (dapat terjadi dalam diri) para utusan Ilahi. Meskipun demikian, kita yang diperintahkan melaksanakan pekerjaan [pengkhidmatan itu], hendaknya berkewajiban untuk menunjukkan sikap seperti ini yaitu ‘khidmatilah para tamu!’. Hendaknya ambil bagian dan menunjukkan pengkhidmatan setinggi mungkin yang dapat kita mau dan mampu lakukan.[7]

Diantara satu keistimewaan beliau as ialah demikian bahwa beliau biasa memperlakukan para tamu dengan menghormati kedudukan dan martabat mereka namun pada umumnya beliau bersikap sama kepada setiap orang. Secara umum penghormatan terhadap tamu dilakukan sampai batas tertinggi [yang dapat dilakukan]. Kita pun memberi perhatian dan pelayanan khusus bagi tamu yang datang dari luar. Tokoh atau pemimpin dari pemerintah beberapa negara, pemimpin kaum/bangsa seperti kepala suku di Afrika dan lain-lain yang mana hendaknya perlu menegakkan mehmaan nawaaazi (perlakuan baik dan hormat terhadap tamu) atau menegakkan pemikiran kearah itu. Mengenainya tak ada satupun kritikan karena sesuai sabda Rasulullah saw, bahwa jika pemimpin suatu kaum (Kepala Negara) datang bertamu, muliakanlah mereka sebagaimana status kemuliaan yang mereka dapatkan. Namun, dalam kaitan Jalsah ini kita bersikap moderat [jalan tengah]. Karena penanganan yang berlebihan kepada para tamu VIP ini akan berbuntut melonjaknya pembiayaan. Oleh karena itu harus dikelola dengan seksama. Saya mendapat informasi, kadangkala beberapa Tenda Akomodasi untuk tamu tetap kosong. Di beberapa titik lokasi, sudah mulai terlihat adanya kekeliruan penyiapan untuk para tamu VIP. Panitia perlu berhati-hati dalam hal ini. Memang perlu memberikan fasilitas khusus bagi para tamu istimewa, namun cukup di satu tempat saja, dan dimanfaatkan dengan tepat.

Disamping memuliakan tamu, Hadhrat Masih Mau’ud as pun mempunyai dua tujuan utama dalam melayani mereka, yakni pertama memberikan tarbiyat kepada para tamu dan juga bertabligh [kepada mereka]. Maka beberapa Seksi terkait dalam penyelenggaraan Jalsah ini perlu memperhatikan perkara ini. Pada waktu Jalsah, para petugas Jalsah hendaknya menaruh perhatian agar bagaimana para peserta Jalsah menyimak dan mengikuti semua program Jalsah namun itu dilakukan dengan kecintaan. Bagi [peserta Jalsah] yang mondar-mandir kesana-kemari mohon diberi pengertian dengan lembut, “Ayo, mari kita ke Jalsah Gah!” Begitu pula seksi tabligh pun perlu melakukan hal ini.

Hadhrat Imam Mahdi as pun tak membeda-bedakan pelayanan kepada para tamu beliau; bahkan ketika para penentang  memerlukan datang, beliau memerintahkan beberapa orang Khuddam untuk melayani mereka dengan disertai pesan: Bila mereka marah-marah, harap jangan dilayani.[8]

Kemudian, demikian pula ada sebuah kisah mengenai seorang maulwi (kyai) yang pada masanya namanya dikenal dengan Syaikh al-Baghdadi (asal keturunan atau daerah Baghdad, Irak). Ia dikenal berani atau dengan blak-blakan suka mengecam atau mencaci-maki karena dalam kesehariannya ia biasa dengan berani suka mencaci orang lain. Ia dikenal menentang kepercayaan golongan Wahabi (Salafi). Hudhur as memerintahkan agar memperlakukan dengan baik tamu tersebut. Ada seseorang yang berkata kepada syaikh itu, “Orang yang memperlakukan tuan dengan baik sebagai tamu adalah seorang Wahabi sedangkan tuan suka mencaci-maki golongan Wahabi.” Mendengar hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan pandangannya bersabda, “Sekalipun banyak mencaci-maki namun saya tidak merisaukannya.” Mengomentari orang yang menyebut-nyebut Hadhrat Masih Mau’ud as juga ‘Wahabi’, beliau as bersabda, “Dari satu segi hal itu benar karena saya juga beranggapan adalah suatu keharusan untuk beramal berdasarkan Alquran syarif dan setelahnya, hadis-hadis.” [9] Beberapa kejadian semacam itu yang penjelasan detailnya tercantum dalam literatur dan buku-buku kita. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk mengikuti langkah Hadhrat Masih Mau’ud as tersebut, yang merupakan keberhasilan beliau dalam mengikuti jejak langkah Rasulullah saw dengan sempurna.

Namun demikian, bersamaan dengan itu, saya ingin menyampaikan satu hal yang juga pernah saya sampaikan sebelumnya ketika sedang menjalankan tugas mengkhidmati para tamu harap juga senantiasa membuka mata lebar-lebar [bersikaplah waspada]. Awasilah keadaan di sekitar anda. Sekarang ini penentangan dan permusuhan terhadap Jemaat yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu mencapai suatu kenakalan [kebiadaban sedemikian rupa sehingga] sudah di luar batas-batas akhlak. Berbagai bentuk bala bencana dapat mereka timbulkan. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada kita semua untuk memenuhi tanggung jawab kita dengan sebaik-baiknya, dan juga melindungi kita dari segala macam keburukan.

Setelah salat Jumat, saya akan memimpin salat jenazah ghaib untuk [almarhumah] Nyonya Mubarakah Begum, istri dari tuan Sufi Nazir Ahmad; beliau wafat pada tanggal 14 Juli 2010 yang lalu dalam usia 89 tahun setelah mengalami sakit di Jerman. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun. Beliau dikenal sebagai seorang ibu yang banyak beribadah, penyabar dan senantiasa bersyukur, serta seorang wanita buzurg (suci berkharisma) yang banyak mengalami ru-ya (mimpi yang benar dan bermakna). Seorang yang sangat cinta, penuh setia dan tulus kepada Khilafat. Ketika sakit beberapa hari menjelang ajal (meninggal), beliau terus menanyakan kabar saya (Hudhur V atba), “Kabar beliau  (Hudhur) bagaimana?” Beliau tidak memikirkan sakitnya sendiri. Beliau pribadi yang suka memberi faedah kepada banyak orang. Tidak suka memperlihatkan kesedihannya kepada orang lain namun menyertai orang yang sedang menderita kesedihan. Jiwa pengorbanannya tinggi. Sekali beliau dimintai bantuan doa, maka beliaupun akan terus mendoakan orang itu. Selalu berupaya memampukan diri untuk melakukan setiap segi kebaikan. Berpembawaan sangat qana’ah (selalu bersyukur, tidak rakus, merasa cukup dan tidak merasa kekurangan). Mengorbankan satu perhiasan beliau untuk Dana Maryam Shadi (untuk membantu urusan pernikahan pihak mempelai wanita). Beberapa hari sebelum meninggal, beliau mengumpulkan uang tabungannya lalu berkata, “Sumbangkanlah untuk Dana Sayyidina Bilal r.a. (untuk keluarga syuhada)!” Ketika istri-istri dua orang saudara laki-lakinya meninggal, beliaulah yang mengurusi tarbiyat anak-anaknya sekaligus keperluan biayanya, meskipun kondisi beliau sendiri terbatas. Almarhumah meninggalkan dua orang anak perempuan dan empat orang anak laki-laki. Dua di antara putranya adalah waqif zindegi [seorang yang menyatakan mewakafkan diri seumur hidup, diterima pernyataannya itu oleh Hadhrat Khalifah dan ditempatkan oleh Jemaat baik menjadi mubaligh maupun pos-pos tugas pengkhidmatan lainnya] dalam gerakan Waqfi Zindegi, yakni yang terhormat tuan Doktor Jalal Shams, yang bertugas menangani Turkish Desk [mengurusi naskah-naskah dan pelbagai hal yang berkaitan dengan Turki seperti buku Jemaat berbahasa Turki, dan lain sebagainya]; dan tuan Munir Javid, Sekretaris Pribadi saya. Salah satu anak perempuan almarhumah menikah dengan tuan Hanif Mahmud, seorang waqif zindegi yang di Rabwah mendapat tugas sebagai Naib Nazir Islah O Irshad. Maka dilihat dari segi ini ketiga anak beliau (almarhumah) tersebut pun termasuk waqifin zindegi. Dua orang putra menjadi waqif zindegi dan putri beliau yang menikah dengan seorang waqif zindegi termasuk waqif zindegi pula. Semoga Allah Ta’ala memberi maghfirah kepada arwah almarhumah, sekaligus juga meningkatkan derajatnya. Dan seperti yang telah saya sampaikan, saya akan mengimami Salat Jenazah Gaib bagi beliau, bada Salat Jumat ini.

            Alih bahasa    : Mahmud Ahmad Surahman, LA-USA

                                      Redaksi Khotbah Jumat

[1]Ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz (semoga Allah yang Mahaluhur menolongnya dengan kekuatan yang agung)

[2] Shahih al-Bukhari, Kitaabul Manaaqib Baab wa yu-tsiruuna ‘alaa anfusihim walau kaana bihim khoshooshoh, hadits nomor 3798

[3] Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”  Referensi Hadis Shahih Bukhori : 6018, 6136, 6475; Shahih Muslim : Kitabul Iman, Bab Al Hatsu ‘ala Ikrami

[4] Shahih Muslim, Kitabul Iman, Bab Ilhats ‘alaa Ikraamil Jaar, hadits nomor 47

[5] (Tadhkirah, hlm.73,  Edisi 2007)

[6] Sirat (Riwayat Hidup) Hadhrat Masih Mau’ud ‘alahish shalaatu was salaam, jilid I h. 141 karya Hadhrat Syaikh Yaqub Ali Irfani sahib

[7] Sirat (Riwayat Hidup) Hadhrat Masih Mau’ud ‘alahish shalaatu was salaam, jilid I h. 156 karya Hadhrat Syaikh Yaqub Ali Irfani sahib

[8] Sirat (Riwayat Hidup) Hadhrat Masih Mau’ud ‘alahish shalaatu was salaam, jilid I h. 160-161 karya Hadhrat Syaikh Yaqub Ali Irfani sahib

[9] Sirat (Riwayat Hidup) Hadhrat Masih Mau’ud ‘alahish shalaatu was salaam, jilid I h. 161-162  karya Hadhrat Syaikh Yaqub Ali Irfani sahib