Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)

23 Agustus 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Setelah tasyahud, ta’awwudz dan pembacaan Surat Al-Fatihah, Huzur Aqdas (semoga Allah menguatkan beliau dengan pertolongan-Nya yang) bersabda bahwa:

Dengan karunia Allah Ta’ala, Jalsah Salanah UK (United Kingdom of Britain, Britainia Raya atau Inggris Raya) akan mulai dari Jumat depan, insya Allah. Pekerjaan yang terkait dengan Jalsa mulai berlangsung jauh sebelum Jalsah benar-benar dimulai. Jalsa Inggris adalah sebuah peristiwa yang untuk pengaturannya, kota sementara dibangun untuk beberapa hari. [yaitu tempat jalsah yang luas mirip sebuah kota kecil namun sementara saja selama jalsah)

Ketika Jalsah diadakan di Pakistan (yaitu di kota Rabwah), ada sistem permanen di tempat untuk ‘Langar khana’ – tempat untuk memasak dan mendistribusikan makanan. Demikian pula, ada banyak tempat permanen di mana orang bisa ditampung. Sebelum masa ini, ketika Jemaat masih memiliki sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, itu biasanya digunakan untuk tujuan menampung tamu. Tetapi ketika pemerintah mengambil alih lembaga-lembaga tersebut akomodasi lainnya dibangun.

Namun, karena jumlah orang-orang yang akan datang sangat besar, beberapa akomodasi sementara lainnya masih harus didirikan. Terlepas dari pengaturan ini, banyak sekali  para tamu yang diterima oleh penduduk Rabwah di tempat tinggal mereka sendiri dan makanan bagi para tamu disediakan oleh Langgar khana.

Jadi ada beberapa pengaturan permanen dan sementara untuk mengurus tamu di Jalsah di Rabwah dan penduduk Rabwah juga menjadi ahli dalam mengurus para tamu setelah bertahun-tahun pelatihan. Semoga Allah memberkati mereka lagi dengan kebahagiaan dan suasana penyegaran rohaniah, dan kesempatan untuk berkhidmat.

Demikian pula, di Qadian (India) sekarang, banyak pengaturan permanen telah diadakan. Sejauh berkaitan dengan pengaturan sementara yang mereka butuhkan, ini terutama terbatas hanya untuk kebutuhan untuk Jalsah Gah – tempat dimana Jalsah diadakan. Memang benar bahwa untuk Langar khana, pekerja harus diambil untuk membantu dengan memasak makanan dan pembuatan roti.

Di Jerman juga, karena kita memiliki aula banyak kebutuhan yang ada secara permanen. Mereka harus memasak beberapa makanan dan roti yang mereka beli dari penjual luar dan mereka memakannya dengan pemikiran bahwa ini segar, meskipun saya pikir itu setidaknya sudah seminggu. Jika tidak, dan itu (memang) segar, mereka akan mengatur untuk memberitahu saya secepatnya – pada waktu senja mungkin, karena mereka sangat baik dalam menyampaikan berita kepada saya.

Demikian pula kondisi Jalsah-Jalsah lain di dunia. Tapi Jalsah Inggris kini telah menjadi Jalsah Internasional berdasarkan fakta bahwa Khilafat ada di sini. Sampai tahun lalu semua pengaturan Jalsah masih bersifat sementara.

Pada awalnya ketika Jalsah diadakan di Islamabad, ada pengaturan permanen untuk memasak makanan dan juga ada semacam pengaturan permanen untuk pembuatan roti menggunakan mesin. Tapi karena Jalsah telah dipindahkan ke lokasi Hadeeqatul Mahdi, makanan pun disiapkan di sini di fasilitas sementara, selama dua atau tiga tahun terakhir. Karena sangat sulit memasak makanan di Islamabad dan membawanya ke sini. Beberapa roti yang dibutuhkan dibuat di Islamabad dan beberapa dibeli dari pemasok luar. Namun demikian kita mengalami banyak kesulitan karena semua ini.

Jadi kita telah mencoba untuk bekerja dengan Dewan lokal di sini sehingga mereka akan memberi kita izin untuk membangun fasilitas dapur permanen untuk memasak makanan dan dengan demikian kita bisa menghindari kebutuhan untuk membuat fasilitas memasak sementara di tenda yang tidak hanya merepotkan tetapi juga dalam beberapa segi berbahaya.

Tahun ini Dewan cukup murah hati dengan mengizinkan kita membangun dapur permanen dan salah satu bangunan penyimpanan yang lebih besar dibangun, di dalam dan luar, dan fasilitas dapur permanen yang sangat bagus telah dibangun, di mana – insya-Allah makanan akan disiapkan sesuai kebutuhan.

Tapi sejauh berkaitan dengan penyiapan roti, ketika saya menarik perhatian mereka kepada hal ini, pikiran Amir Sahib dan pengurus lokal adalah bahwa mereka akan menggunakan metode lama yang sama, memasak sebagian roti di Islamabad dan mereka akan membeli sisanya dari pemasok luar. Ketika saya menyebutkan perlunya menginstal mesin mereka khawatir tentang biayanya dan ragu-ragu. Ketika saya mengatakan bahwa Pusat dapat memberikan mereka pinjaman, mereka merasa cukup termotivasi untuk menanggung biayanya.

Jadi, dengan karunia Allah, mesin roti telah dibawa dari Lebanon dan seorang Ahmadi mukhlis dari Pakistan pergi ke Lebanon dan membeli mesin ini dan datang ke sini dan memasangnya. Ia masih meluangkan waktu untuk ini. Dia telah memiliki pengalaman memasang mesin tersebut di Rabwah dan Qadian juga – sehingga pekerjaan ini dilakukan dengan cara yang terbaik di sini juga. Jadi sekarang, dengan karunia Allah, pengaturan permanen telah ada di Hadeeqatul Mahdi untuk memasak makanan dan pembuatan roti. Dalam hal apapun kami sangat berterima kasih kepada Dewan karena mereka memberikan kami izin. Semoga Allah juga memberikan ganjaran kepada mereka.

Tapi tetap, Jalsah ini unik dibandingkan dengan Jalsah lain di dunia, dimana banyak pengaturan sementara harus dilakukan untuk mengurus sekitar 30.000 orang, terutama jika hujan karena hal ini menyebabkan masalah serius dengan jalan dan akomodasi.

Masalah yang berkaitan dengan jalur sebagian besar dapat diselesaikan dengan meletakkan trek tapi tenda-tenda yang dipasang untuk akomodasi, dan pengaturan makanan dan beberapa masalah lain masih ada, dan tidak diselesaikan dengan memuaskan. Tapi insya Allah akan datang waktunya ketika semua masalah ini juga akan diselesaikan dan bukannya tidak mungkin bahwa kota sementara ini menjadi sebuah kota permanen Jemaat Ahmadiyah.

Seperti yang saya katakan ini adalah pengaturan sementara dan banyak pekerjaan ini dilakukan oleh para relawan dari kalangan Khuddam dan Anshar yang memiliki kesehatan yang baik. Jum’at lalu secara kebetulan saya pergi ke Hadeeqatul Mahdi dan saya melihat bahwa, bahkan pada saat itu, selain dari orang-orang yang terlibat dalam uji coba dengan mesin roti, ada banyak anak-anak dan laki-laki muda dan tua di sana untuk tugas dan pekerjaan mereka sendiri, dan berusaha melakukan apa pun yang mereka bisa untuk memastikan bahwa pengaturan untuk Jalsah dilakukan dengan cara yang terbaik.

Di sini saya juga ingin menegaskan bahwa pekerjaan berkaitan dengan memasang mesin roti tidak dilakukan oleh perusahaan luar. Semua yang pekerjaan terkait dilakukan oleh para relawan kita sendiri, insinyur, teknisi dan ahli lainnya. Semoga Allah Ta’ala, memberikan ganjaran kepada mereka semua untuk pekerjaan ini. Standar lokal Inggris adalah sedemikian rupa sehingga itu harus dipenuhi – kondisinya tidak seperti, misalnya di India atau Pakistan, di mana tidak masalah bagaimana sesuatu diselesaikan karena tidak ada pemeriksaan. Suatu hal dapat dilakukan dengan cara yang sementara. Jika ada kabel yang tergantung, biarkan saja menggantung, atau hal-hal lain semacam itu. Di sini kondisinya tidak begitu. Di sini, di setiap langkah ada pengecekan dan departemen Pemerintah terkait datang dan memeriksa dan memberikan persetujuan, baru kalian dapat melanjutkan ke langkah berikutnya. Jadi, dengan karunia Allah Ta’ala, semua persyaratan yang harus dipenuhi untuk mesin roti dan dapur, dipenuhi sesuai standar yang dibutuhkan dan izin telah diberikan.

Pendeknya, yang ingin saya katakan adalah bahwa karena adanya kebutuhan untuk membuat pengaturan sementara dalam skala besar, lebih banyak usaha perlu dikeluarkan di sini dibandingkan dengan tempat lain. Dan dengan karunia Allah, para relawan Ahmadi melaksanakan tugas ini dengan penuh semangat dan ghairat. Semangat ini, yang kita miliki; untuk mencurahkan waktu demi Jemaat, adalah ciri khas dari seorang Ahmadi. Para Ahmadi memberikan segala macam pengorbanan. Asosiasi Insinyur ada melakukan pekerjaannya sendiri. Asosiasi Dokter ada melakukan pekerjaannya sendiri. Lalu ada orang lain dengan segala macam keahlian dan mereka memberikan waktu mereka … dan semua ini terlepas dari semua pekerjaan untuk Jalsah – dan ini terjadi sepanjang tahun. Ini adalah sesuatu yang mengherankan dan khusus untuk Jemaat Ahmadiyah dan sejumlah besar pekerjaan sukarela dilakukan. Ini adalah hasil dari bertahun-tahun pelatihan dan pendidikan terutama ketika kita melihat tradisi yang telah mewujud, mengenai melayani para tamu Jalsah – tradisi ini memang ciri khas dari seorang Ahmadi.

Anak-anak, laki-laki muda dan tua, mereka datang bersegera – mereka semua diresapi dengan ruh pengkhidmatan selama hari-hari Jalsah. Apapun tugas yang diberikan kepada mereka, dapat dilihat mereka dengan penuh dedikasi bekerja untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut. Dan demikianlah seharusnya karena para tamu Jalsah tersebut sebenarnya adalah tamu Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam.

Jadi pelayanan tamu ini adalah gambaran kualitas akhlak yang tinggi serta cerminan iman mereka. Di sini saya juga ingin memberitahu semua orang, sejauh mana Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam berjalan untuk menjalankan tanggung jawab pelayanan beliau sehingga tingkat pelayanan kita juga naik lebih tinggi dan menjadi lebih baik.

Suatu hari Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam merasa kurang sehat dan beliau sedang beristirahat. Seorang tamu tiba dan beliau diberitahu tentang ini, jadi beliau keluar dan mengatakan bahwa, “Saya pikir bahwa tamu memiliki hak untuk dilayani karena ia datang dengan menempatkan dirinya dalam kesulitan besar. Jadi saya keluar untuk menunaikan tugas kepada tamu ini.

Jadi hari ini juga, ini tingkat pelayanan yang sama harus ditampilkan untuk para tamu Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam karena peluang yang saat ini  sedang diberikan kepada kita adalah menjadi tuan rumah orang-orang yang bukan hanya tamu dari Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam, tetapi mereka ini tamu yang datang murni untuk tujuan agama. Mereka datang karena mereka ingin mendengar pembicaraan tentang Allah dan Rasul-Nya,  Hadhrat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka datang karena ingin meningkatkan kondisi spiritual dan akhlak mereka. Mereka berada di sini karena mereka ingin membangun dan memperkuat ikatan kecintaan, persahabatan dan persaudaraan.

Ada banyak tamu yang tiba di sini setelah melibatkan diri dalam kesakitan dan kesulitan. Beberapa orang hidup dengan tingkat kecanggihan yang sangat tinggi dalam rumah tangga mereka sendiri. Mereka datang ke sini dan menghabiskan waktu mereka dalam beberapa keadaan cukup berat. Tapi tetap saja mereka datang. Beberapa tamu datang dari kondisi yang miskin. Mereka menanggung beban berat untuk datang ke sini, murni demi mendapatkan berkah Jalsah. Mereka datang untuk menjawab perintah Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam dan menanggapi panggilan beliau kepada mereka. Mereka datang untuk bertemu dengan Khalifah-e-waqt dan mendengarkan pidato beliau.

MTA tidak diragukan lagi, telah membuat dunia Ahmadiyah sangat dekat. Tapi tetap saja lingkungan dan suasana Jalsah itu sendiri merupakan hal yang unik dan hal yang cukup berbeda yang memiliki dampak tersendiri. Jadi kita hendaknya tidak berpikir, “Kesulitan apa yang ada sekarang ini bagi para tamu untuk datang ke Jalsah?”

Beberapa dari mereka berusia cukup lanjut dan mereka melakukan perjalanan meskipun menderita berbagai penyakit atau kesulitan. Beberapa, seperti yang saya katakan, meninggalkan kemudahan dan kenyamanan rumah mereka demi keimanan dan melakukan perjalanan dan tidur di tenda-tenda dan memilih makanan sederhana. jadi tamu seperti ini memiliki hak yang besar bahwa mereka mesti dilayani dengan baik.

Dengan karunia Allah Ta’ala, sebagian besar tamu datang hanya demi menghadiri Jalsah dan tidak ada alasan lain. Dan sekarang biaya yang diperlukan untuk menghadiri Jalsah telah meningkat sangat besar. Tapi mereka menanggung biayanya dan mereka tidak peduli. Jadi, adalah tugas kita bahwa kita menghormati tamu-tamu ini. Ini adalah tamu yang paling pantas mendapatkan penghormatan tertinggi. Tujuan mereka adalah untuk meraih ridha Allah dan Rasul-Nya.

Menasihati kita tentang subjek yang sama, pada kesempatan lain Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersabda: Lihatlah, banyak tamu telah tiba. Beberapa kalian tahu dan kenal dan yang lain-lain tidak. Jadi hal yang tepat bagi kalian adalah menunjukkan kerendahan hati dan menganggap semua orang pantas dihormati dan dihargai. Saya memiliki kecenderungan baik terhadap kalian semua dan percaya bahwa kalian memberikan setiap kenyamanan untuk para tamu. Layanilah mereka semua sebaik kemampuan kalian.

Jadi semua ini adalah tamu Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam dan telah datang ke sini untuk tujuan keimanan. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan karunia dan keridhaan Allah. Jadi kita perlu memperhatikan petunjuk Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam dan berbuat adil kepada prasangka baik beliau terhadap kita. Dan hati kita harus penuh ghairat dan semangat untuk melayani setiap tamu sebaik kemampuan kita. Dan hati kita harus selalu penuh dengan pikiran bahwa para tamu memiliki hak-hak mereka.

Dimana saja kita diberi tugas, kita akan berusaha dan menunaikan tugas ini kepada para tamu. Pikiran-pikiran ini harus ada dalam hati dan pikiran setiap pekerja dan yang diberi tugas sehingga kita dapat memenuhi harapan baik yang Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam memiliki terhadap kita. Sehingga kita dapat mengatakan bahwa, “Hai Masih yang dikirim oleh Tuhan, dan hai pecinta Sejati,  Hadhrat Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami mengabdikan diri untuk memenuhi segala perintah dan saranmu bahkan sampai hari ini.” Memang inilah yang seharusnya yang diharapkan dari seorang Ahmadi. Perjalanan lebih dari satu abad tidak membuat kita melupakan harapan baik anda terhadap kami. Bahkan saat ini, anak-anak kami, orang-orang muda dan tua kami, dan perempuan kami semua berusaha, sebaik kemampuan mereka, untuk memenuhi tugas dan kewajiban mereka, dan insya-Allah akan terus melakukan hal ini.

Kita perlu selalu menjaga keinginan, harapan, dan kekhawatiran Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam di garis depan dalam pikiran kita. Dan dengan menjaga pikiran-pikiran ini tetap di depan kita, kita harus memperhatikan keprihatinan beliau bahwa, “Aku selalu khawatir bahwa hendaknya tidak ada tamu yang menderita suatu kesakitan atau kesulitan. Memang saya selalu menasihati dan meminta agar sejauh mungkin para tamu harus disediakan setiap kenyamanan. Hati seorang tamu sangat rapuh seperti sepotong kaca dan cenderung pecah karena perlakuan kasar sedikit saja. “

Jadi ini adalah sebuah nasehat yang sangat penting. Ini seharusnya tidak hanya menjadi komitmen lisan kita. Ini harus menjadi contoh praktek dan amalan kita. Jalsah berlangsung di setiap negara, tapi di sini terutama, masyarakat dari seluruh penjuru dunia datang. Dan keinginan dan harapan mereka berbeda, berdasarkan kebangsaan dan strata yang berbeda dari berbagai orang yang datang, dan batas kemampuan mereka untuk menanggung kesulitan juga berbeda. Cara mereka berbicara dan mengekspresikan kesenangan dan ketidaksenangan mereka juga berbeda. Harapan dan preferensi mereka berbeda. Jadi kita perlu menghadapi setiap orang dengan sangat bijaksana.

Inilah sebabnya mengapa kita perlu selalu memperhatikan petunjuk Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam yang indah dan penuh kebijaksanaan ini. Apabila kita memperhatikan ini, semua urusan kita akan menjadi baik, yakni “Hati tamu sangat rapuh seperti sepotong kaca dan mudah pecah karena perlakuan kasar sedikit saja.”

Jika setiap orang yang berkhidmat untuk melayani tamu bisa memegang teguh nasihat ini maka semua masalah kecil ini, yang selalu muncul, tidak akan terjadi, kecuali mungkin hanya sekali-sekali. Tidak akan ada keluhan kecuali dalam kondisi ketika seseorang hanya hanya ingin membuat kekacauan. Dalam kondisi seperti itu tentu saja, sesuai keperluan, beberapa langkah-langkah tegas harus diambil.

Tahun lalu, sebuah insiden terjadi selama makan malam di antara wanita. Seorang tamu wanita yang datang dari tempat yang jauh menjadi marah karena beberapa sebab. Dalam kejadian ini, baik ada yang salah ataupun tidak bukan masalah. Yang harus kita lakukan adalah mengakui bahwa ini terjadi dan jika kita mengakuinya, maka kita dapat melakukan perbaikan dan reformasi bukannya memberikan berbagai penjelasan.

Kali ini ada kebutuhan untuk mengurus hal ini terutama di antara para tamu Tabshir, baik pria maupun wanita sehingga tidak ada yang harus mengalami kesulitan atau kesakitan apapun. Saya berbicara di sini tentang tamu asing dari luar negeri. Tentu saja semua tamu adalah tamu.

Saya juga telah membuat beberapa perubahan dalam staf departemen ini. Perubahan ini adalah hal yang alami dan sebagian besar kami telah melibatkan waqfeen-e-nau dan waaqfat-e-nau. Sekarang, dengan karunia Allah, banyak waqfeen-e-nau dan waqfaat-e-nau telah mencapai usia dimana mereka dapat mulai menjalankan tugas-tugas mereka. Beberapa mengurus tanggung jawab Jemaat pada secara permanen (waqf Zindegi) dan orang lain untuk sementara (waqf Arzhi).

Saya berharap bahwa standar layanan akan menjadi jauh lebih baik tahun ini. Tapi ingat bahwa perbaikan tidak terjadi hanya dengan mengubah wajah atau pengurus. Sebaliknya, kita perlu berdoa kepada Tuhan supaya rahmat-Nya turun kepada kita dan menjadi bagian dari semua tindakan dan perbuatan kita dan kita diberi taufik untuk melakukan perbuatan tersebut dan diberkati untuk bekerja dengan cara seperti yang Tuhan inginkan dari kita. Dan kita harus memohon kemampuan seperti itu dari Allah. Dan berdoalah juga supaya tidak ada kesempatan yang berkembang atau terjadi yang akan menimbulkan kesalahpahaman.

Berkenaan dengan pelayanan tamu saya juga ingin menegaskan bahwa para Ahmadi yang tinggal di Inggris, dan khususnya para Ahmadi yang tinggal di London, harus berhati-hati karena orang-orang yang datang ke sini dari luar negeri juga tamu mereka. Jumlah tamu-tamu ini sekarang kurang lebih 3.000. Jika visa diberikan, maka jumlahnya bahkan bisa lebih besar dari ini. Jadi terlepas dari apakah seorang Ahmadi dari Inggris telah diberi suatu tugas atau tidak dia harus berhati-hati bahwa setiap orang yang ada di sini dari luar negeri juga tamu mereka.

Tentu, Ahmadi Inggris, yang tidak bertugas, adalah tamu di Jalsah. TAPI pengunjung dari luar negeri harus dianggap oleh Ahmadi UK sebagai tamunya. Dengan kata lain, ketika di bawah kondisi tertentu, para tamu dari luar negeri yang terlibat mereka harus diutamakan atas para Ahmadi dari Inggris dan para Ahmadi yang tinggal di sini di Inggris mesti berkorban untuk tamu-tamu dari luar negeri. Jadi ingatlah selalu bahwa, meskipun kalian sendiri tamu, dalam kondisi tertentu, kalian juga tuan rumah.

Ini bukan hanya pekerjaan atau tugas orang yang bertugas – bahkan pemikiran ini perlu diamalkan lebih luas. Dan mengamalkan pemikiran ini membuat kalian menjadi orang-orang yang siap untuk berkorban untuk alasan ini. Dan ketika hal ini terjadi, kita akan melihat sebuah masyarakat yang indah mewujud.

Ketika kita melihat beberapa hadits, sabda Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, timbul dalam pikiran bahwa daripada menjadi tamu kita lebih baik tetap menjadi tuan rumah. Menurut satu hadits, menjadi tuan rumah juga merupakan tanda dari seorang mukmin sejati.

Tertulis dalam sebuah hadits عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. bahwa Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata bahwa Orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat harus menghargai dan menghormati tamu.” Dengan kata lain orang yang tidak menghormati dan menghargai tamu, keimanannya kepada Allah dan hari kiamat lemah.

Jadi berdasarkan fakta bahwa Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam telah berulang kali menarik perhatian kita untuk memberikan pelayanan tamu yang memadai, beliau melakukannya karena sabda dan petunjuk Guru dan Pembimbing beliau, dan karena perintah-perintah Al-Qur’an. Sehingga kita dapat menguatkan keimanan kita.

Kemudian pada hadits lain Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa menghadapi saudara-saudara kita dengan wajah tersenyum bahagia adalah amal kebaikan yang luhur.

Jadi tiga hari Jalsah ini di mana berbagai amal kebaikan dilakukan, tindakan menghadapi satu sama lain dengan wajah tersenyum bahagia juga merupakan amal kebaikan besar. Berbagai kesempatan muncul di mana hal ini perlu dilakukan, dan peluang tersebut akan muncul bagi tuan rumah dan untuk para tamu.

Saya terutama akan menasehati orang-orang yang bertugas bahwa mereka harus menghadapi satu sama lain, sambil berbicara, atau melakukan sesuatu bersama-sama dengan wajah tersenyum, gembira – ketika seseorang lelah, terkadang hal ini menjadi sulit, meskipun demikian pada saat seperti nasehat ini harus diamalkan. Dan para petugas yang bertugas dan mengatur orang yang bekerja di bawah mereka, mereka juga harus menghadapi orang-orang yang di bawah kewenangan mereka dengan sikap senyum, gembira,.

Untuk petugas kepala terkadang ditentukan tempat tertentu di mana mereka dapat mengambil sesuatu untuk makan atau minum, tapi para pejabat lebih rendah lainnya tidak boleh mengambil apa-apa dari situ, dan telah terjadi bahwa jika seorang pekerja biasa mengambil seteguk air saja dari tempat itu, orang-orang sangat marah atas hal ini. Hal-hal seperti ini hendaknya tidak terjadi di antara kita.

bagaimanapun, seperti yang saya katakan, saat bekerja banyak hal yang terjadi dan kadang-kadang kondisinya menjadi serba salah, tapi ingat selalu bahwa kita harus selalu memperhatikan sopan santun dan akhlak yang baik.

Secara alami, kita tentu saja akan, menghadapi tamu kita dengan sikap yang baik dan wajah tersenyum bahagia, tapi jika kita melakukan hal yang sama dalam dalam hubungan diantara kita, ini akan memberikan dampak yang besar dan positif kepada para tamu kita juga, dan suasana juga akan menjadi lebih serasi dan menyenangkan dan ramah. Dan ini juga akan meninggalkan kesan baik pada tamu-tamu non Jemaat yang datang untuk berpartisipasi dalam Jalsah tersebut. Dan kita juga akan meningkatkan amal baik kita sendiri dengan menunjukkan sopan santun dan akhlak ini, dan menjadi orang-orang yang meraih keridhaan Allah.

Lalu, semua yang bertugas perlu ingat bahwa melayani tamu bukan alasan untuk berpikir bahwa kalian memberikan karunia kepada siapa pun. Melainkan, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam telah sabdakan, dan yang telah saya sebutkan sebelumnya, dan itulah yang Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah beritahukan kepada kita, bahwa ini adalah hak tamu. Dan apa yang Allah firmankan tentang perlunya memenuhi kewajiban kita?

Di satu tempat Allah berfirman [17:27]:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“Dan berikan kepada sanak keluarga haknya, dan untuk orang miskin dan para musafir, dan jangan menghambur-hamburkan kekayaanmu dengan berlebih-lebihan.”

Di sini, disebutkan hak-hak dari tiga jenis orang, tetapi dalam kaitannya dengan topik yang sedang dibahas hari ini, saya ingin menarik perhatian semua orang berkaitan dengan musafir. Ada banyak jenis musafir. Tetapi orang-orang yang melakukan perjalanan demi Allah dan karena perintah Allah, mereka adalah musafir yang paling beruntung.

Dinyatakan dalam sebuah hadits bahwa majelis yang didalamnya dibahasa tentang Allah Ta’ala, dan Rasul-Nya, malaikat Allah bahkan mengirimkan Salam mereka dan berdoa bagi mereka yang duduk di pertemuan tersebut. Jalsah kita juga, dengan karunia Allah Ta’ala, adalah majelis seperti itu. Dan dalam rangka untuk bergabung dengan majelis seperti orang-orang yang melakukan perjalanan, kedudukan mereka juga sungguh sangat tinggi karena niat kedatangan mereka, karena para malaikat berdoa untuk mereka. Jadi sungguh beruntung mereka yang melaksanakan kewajiban mereka menjadi tuan rumah bagi musafir seperti ini.

Orang yang haknya telah ditetapkan oleh Allah, orang yang menjalankan atau memenuhi kewajiban tersebut adalah orang yang pasti akan meraih keridhaan Allah. Dan orang yang memenangkan atau meraih keridhaan Allah Ta’ala, siapa yang bisa lebih beruntung dari orang seperti itu?

Jadi jika kita merenungkan, kita akan melihat betapa luar biasanya sistem ini, nizam Jalsah ini, bahwa setelah setiap tindakan kebaikan, pintu lain dibukakan untuk amal baik lainnya bagi semua orang. Jadi, seperti yang saya katakan di awal, semua orang yang sibuk berkhidmat, perlu memahami ruh pengkhidmatan dan selalu memperhatikannya. Mereka mungkin seudah melakukannya, tapi hal ini perlu ditingkatkan.

Mereka yang bertugas tidak boleh melakukan tugas mereka hanya karena Jemaat telah meminta mereka untuk membantu orang-orang yang melakukan pekerjaan, atau karena Sadr Majlis Khuddamul Ahmadiyah telah mengatakan bahwa kita harus melakukan waqar-e-amal, jadi datang dan bergabunglah, atau karena pesan tersebut telah datang dari Sadr Lajnah. Tidak! Tujuannya mesti untuk meraih keridhaan Allah.

Bagaimana para sahabat Hadhrat Rasulullah saw melaksanakan tugas mereka menjadi tuan rumah tamu dalam rangka meraih keridhaan Allah dan memenuhi hak yang wajib untuk mereka? Saya akan menyampaikan salah satu contoh dari hal ini. Tidak peduli berapa kali kita mendengar atau membaca hadist ini, ini selalu memberikan kita rasa sukacita dan kesenangan baru dan kita mendapatkan pelajaran baru.

Hadhrat Abu Huraira ra. menyatakan bahwa sekali seorang musafir datang kepada Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pesan ke rumah untuk mengirim makanan untuk tamu. Datang jawaban bahwa selain air tidak ada apapun di rumah saat ini. Setelah menerima balasan, Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Bertanya pada para sahabat, siapa yang akan mengatur untuk memberi makan musafir ini? Seorang Anshar mengatakan ia akan menyiapkannya. Jadi dia pulang ke rumah dan mengatakan kepada istrinya untuk menjadi tuan rumah tamu dari Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Istrinya mengatakan bahwa hanya ada beberapa makanan untuk anak-anak di rumah. Orang Anshar itu mengatakan padanya untuk menyiapkan makanan dan ketika waktu untuk menghidangkan makanan datang, untuk menyalakan lampu dan membawa anak-anak dan menempatkan mereka ke tempat tidur. Jadi sang istri menyiapkan makanan dan menyalakan lampu dan membawa anak-anak tidur dengan perut lapar dan kemudian bangun, berpura-pura memperbaiki lampu, tetapi memadamkannya. Lalu keduanya duduk dengan tamu dan berpura-pura makan dengan tamu. Jadi mereka juga tetap lapar malam itu.

Di pagi hari ketika itu orang Anshar itu hadir di hadapan Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tersenyum dan mengatakan bahwa bahkan Allah tersenyum saat melihat rencana dan tindakanmu semalam, atau beliau bersabda bahwa Allah sangat senang dengan tindakan kalian berdua tadi malam. Pada kesempatan inilah ayat ini diturunkan:

ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومَن يُوقَ شُحَّ نفسه فأولئك هم المفلحون

“Tapi mereka mengutamakan diatas (melebihi atas) diri mereka sendiri, walaupun kondisi mereka miskin. Dan barang siapa yang menyingkirkan ketamakan jiwanya sendiri – mereka inilah yang akan berhasil “[59:10]

Jadi lihat, betapa besar pengorbanan ini, untuk membawa anak-anak tidur dalam kondisi lapar dan memberi makan tamu. Hari ini, dengan karunia Allah, tidak ada yang kondisinya demikian. Dan terutama untuk tamu Jemaat hal ini pasti tidak terjadi. Para tamu itu, yang demi mereka keluarga ini memberikan pengorbanan ini, mereka juga adalah tamu Jemaat, mereka adalah tamu yang datang demi keimanan. Mereka adalah tamu yang datang untuk menemui Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan memberikan teladan seperti ini mereka telah mengajarkan kita pentingnya masalah melayani tamu ini.

Tamu itu, yang merupakan tamu Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Menempati kedudukan yang luhur, dan hari ini mereka yang menjadi tamu pecinta Sejati Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka juga sangat  dianggap penting. Jadi setiap pekerja harus memperhatikan pentingnya para tamu Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam ini.

Mungkin ini tampak berlebihan bahwa anak-anak terpaksa kelaparan, tetapi sebenarnya contoh pengorbanan dan pengkhidmatan yang sangat luhur telah ditegakkan dengan cara ini, di mana seluruh keluarga tergabung – sebagian dengan senang hati dan sebaigan terpaksa. Pasti Allah telah memberi ganjaran yang berlipat ganda pada anak-anak ini juga, seperti yang jelas dari isi ayat ini.

Allah Ta’ala, telah memasukkan orang-orang seperti ini diantara muflihun – orang-orang yang sukses. Dan siapakah orang yang meraih falah – kesuksesan – ketika kita melihat artinya kita melihat betapa luasnya ini. Mereka adalah orang-orang yang dapat berkembang dan mekar, orang yang diberkati dengan kesuksesan, orang yang meraih kebaikan dan keinginan luhur mereka, dan dengan demikian meraih kebahagiaan dan setiap kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang secara terus berada dalam keadaan sukses dan bahagia. Mereka adalah orang-orang yang meraih perdamaian dan ketenangan dalam hidup mereka. Mereka adalah orang-orang yang akan meraih keselamatan dan keamanan. Jadi dengan mengorbankan makanannya untuk memenuhi tuntutan melayani tamu mereka menjadi layak mendapatkan keridhaan Allah dan ini membawa mereka pada kedudukan yang luhur. Dan orang yang meraih semua ini melalui keridhaan Allah, apa lagi yang dia inginkan?

Jadi ingatlah selalu bahwa ini adalah kedudukan yang diberikan kepada orang-orang yang melaksanakan kewajiban melayani tamu. Ini adalah kedudukan yang kita harus berusaha dan raih dengan melayani tamu kita. Inilah standar yang dengan memberi kita kedekatan dengan Allah akan menghiasai urusan dunia dan akhirat kita. Jadi kita harus ingat bahwa dengan memberikan kita kesempatan untuk melayani para tamu Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam Allah Ta’ala, membuka jalan bagi kita untuk menjadi diantara para muflihin – orang-orang yang sukses.

Semoga semua sukarelawan, semua pengurus dan pekerja menjadi orang-orang yang meraih karunia ini. Dan semoga Allah memudahkan semua pengaturan untuk Jalsah yang sedang dibuat.

Setelah shalat Jum’at saya akan memimpin shalat jenazah ghaib, yakni untuk salah satu dari saudara-saudara kita Zahoor Ahmad Sahib Kayani yang disyahidkan di Kota Orangi, Karachi pada 21 Agustus. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun. kita adalah kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita semua akan kembali.

Insiden ini terjadi sebagai berikut. Zahoor Sahib pergi untuk melihat mobil beliau yang agak jauh dari rumah beliau. Mobil Ini baru saja kembali setelah diperbaiki. Ketika beliau keluar untuk tujuan ini tetangga beliau Nurul Haq Sahib juga keluar. Ini sekitar pukul 11:15. Ketika mereka kembali setelah melihat mobil, dua pengendara sepeda motor datang dan satu turun dan mulai menembaki Zahoor Sahib. Ketika ini terjadi Nurul Haq Sahib berusaha melerai dan ketika itu pengendara sepeda motor yang lain mulai menembaki Nurul Haq Sahib juga dan kemudian mereka lari. Ketika putri Zahoor Sahib mendengar tembakan dia melihat bahwa dua pengendara sepeda motor yang akan pergi dan dia melemparkan cangkir teh yang ia minum pada waktu itu kepada mereka. Orang-orang ini juga kemudian menembakinya. Untungnya dia tidak terluka, tapi Zahoor Sahib syahid di tempat kejadian. Beliau berumur 47 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun. Nurul Haq Sahib, tetangga beliau yang non-Ahmadi juga syahid. Semoga Allah juga memberikan rahmat dan ampunan padanya.

Ahmadiyah masuk ke keluarga Kayani Sahib melalui adik ayahnya, Yusuf Kayani Sahib dan Muhammad Said Sahib Kayani. Keduanya mendapat karunia untuk bai’at pada tahun 1936. Keduanya terpelajar dan keduanya bai’at setelah mempelajari literatur (Jemaat). Kemudian setelah itu, ayah Zahoor Kayani Sahib dan tiga paman lain juga masuk Ahmadiyah. Keluarga ini berasal dari Premkot, Kashmir.

Zahoor Sahib lahir pada tahun 1966 dan pindah ke Karachi pada tahun 1976. Di sana beliau tamat B.A. dan mengambil pekerjaan di dinas perpajakan. Sampai kesyahidan beliau, beliau bekerja di unit anti penyelundupan sebagai panitera atau wakil panitera.

Beliau sangat kooperatif dengan Majlisnya (Ansarullah), sangat ramah dan termasuk orang-orang  yang paling banyak dalam pengorbanan harta. Beliau adalah tuan rumah yang ramah dan sangat menonjol dalam hal ini. beliau tidak akan pernah membiarkan tamu pergi dari rumahnya tanpa menemui mereka dengan ramah.

beliau menghormati setiap pejabat Jemaat dan tidak pernah memberikan orang kesempatan atau alasan untuk mengeluh. Beliau adalah musi dan memiliki ghairat untuk bertabligh dan mendapat berkat untuk membuat seseorang menerima Ahmadiyah melalui usaha beliau pada tahun 2009.

Banyak orang dari kantor beliau yang hadir dalam pemakaman beliau dan semua orang ketinggian akhlak dan kebiasaan beliau. Salah satu dari rekan-rekan beliau yang menunggui jenazah beliau mengatakan, sambil menangis terus menerus, bahwa Zahoor Sahib adalah orang yang penuh kasih dan selalu cenderung pada mewujudkan kesepakatan dan perdamaian.

Rekan ini mengatakan bahwa ketika mereka marah selama dalam pekerjaan mereka beliau selalu menasehatkan untuk bersabar. Kepala/pemimpin beliau menyampaikan bahwa Zahoor Ahmad adalah seorang petugas yang berani, yang bersedia menyerahkan hidup beliau untuk itu, yang menarik semua orang dengan kepribadian beliau dalam waktu singkat. Hari ini kita telah kehilangan seorang rekan yang baik.

Mertua beliau, Bashir Kayani Sahib mengatakan bahwa Zahoor Sahib akan membantu setiap kerabat  beliau. Kondisi keuangan beliau baik, sehingga kapan saja seseorang di keluarga beliau membutuhkan, beliau akan menjadi orang yang menawarkan bantuan. Meskipun diluar keluarga beliau, tidak ada orang yang membutuhkan yang akan pergi dengan tangan hampa dari pintu beliau.

Perlakuan beliau kepada anak-anak juga penuh dengan kecintaan. Beliau memperhatikan keperluan anak-anak sepenuhnya dan beliau selalu memenuhi pendidikan mereka. Beliau sangat memperhatikan masalah-masalah mereka. Istri beliau berkata bahwa Allah telah menganugerahkan hati yang sangat baik kepada beliau, sehingga mungkin untuk kesyahidan inilah beliau telah diberkahi dengan hati yang demikian baik. Beliau tidak pernah mengomeli anak-anak. Dia berkata bahwa sebelum disyahidkan beliau meminta sepatu beliau dibersihkan, karena beliau baru saja pulang. Beliau kemudian tersenyum dan keluar.

Dia mengatakan bahwa setelah serangan itu, ketika dia keluar dan melihat beliau, beliau melihat kepada saya dan anak-anak dengan tersenyum meskipun kondisinya parah, seakan-akan beliau mengucapkan selamat tinggal, kemudian beliau pergi kepada Sang Pencipta.

Beliau sendiri tidak akan mengatakan apapun kepada anak-anak, tetapi ketika khotbah saya (Hudhur) disiarkan dari sini melalui MTA, beliau bersikeras supaya mereka mendengarkannya dan akan memperlihatkan ketidaksukaannya jika ini tidak dilakukan. Beliau sangat tegas dalam hal ini. Beliau memiliki hubungan kecintaan dan kasih sayang yang khas dengan anak perempuan beliau.

Keluarga beliau yang masih ada adalah istri beliau Tahira Zahoor Kayani Sahiba dan tiga putra serta empat putri. Imran Kayani, 20 tahun. Kamran Kayani 14 tahun. Dan Sarfraz 3 tahun. Nurus Saba, 16 tahun.Nurul ‘Ain, 14 tahun. Atiyatul Mujib, 7 tahun. Dan faiqa Zahoor, 5 tahun.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhum dan menjaga anak-anak serta istri beliau dalam penjagaan dan perlindungan-Nya, dan memberi taufik untuk menanggung kehilangan yang menyedihkan ini dengan sabar.

Penerjemah               : Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Editor                         : Dildaar Ahmad, Editor Khotbah Jumat Jemaat Indonesia

Referensi                    : www.alislam.org