Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)

2 Agustus 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ *

 وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ *

 وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (الأنعام: 152-154)

                                                                                         

Khutbah Jumat Terakhir didasarkan pada perintah Ilahi seperti dikutip dalam ayat 152-154 Surah Al An’am. Hanya tiga perintah pertama, yaitu Menghindari syirik, perlakuan yang baik kepada orang tua, dan pentingnya pendidikan yang baik kepada anak oleh orang tua, yang telah diuraikan. Hari ini, perintah-perintah lainnya yang mengenainya Allah menyatakan: مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ (الأَنعام 152) ‘… apa yang Tuhanmu telah haramkan untukmu …’ dijelaskan.

Perintah keempat dalam ayat tersebut adalah: وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ “… jangan mendekati perbuatan keji, baik terbuka maupun tersembunyi …’ Perintah ini melarang berbagai perbuatan keji dan keburukan. kata [Arab] ‘Fawahish’ memiliki beberapa arti. Kata ini berarti perbuatan zina, melampaui batas dalam keburukan, tindakan amoral, berbagai dosa besar dan perbuatan setan, mengatakan dan melakukan segala sesuatu yang buruk, dan menjadi sangat kikir. Perintah ini memberantas keburukan pribadi dan sosial dan memberikan pemecahan untuk hal-hal yang menyebarkan kejahatan di rumah dan masyarakat.

Mengenai perbuatan zina, di tempat lain dalam Al-Qur’an ada hukuman yang spesifik. Jika orang yang telah menikah terlibat di dalamnya, dia melupakan hak keluarganya dan mengabaikannya mereka, dan wanita yang terlibat di dalamnya juga tidak memenuhi hak-hak suami dan anak-anak. Jika orang itu belum menikah maka ia bersalah menyebarkan keburukan dan ketidaksenonohan di masyarakat. Orang menjalin hubungan dengan membuat janji-janji palsu, dan jika karena tekanan keluarga, atau tekanan masyarakat atau memang karena janji-janji palsu mereka sendiri, hubungan rusak, pria tidak begitu menderita. Terutama budaya Asia kita menutupi untuk pria, tapi hidup wanita jadi hancur. Contoh semacam itu biasa diberitakan di surat kabar. Jika anak-anak lahir dari hubungan seperti itu, mereka kehilangan hak-hak mereka dan orang tua mereka menjadi bersalah karena ‘membunuh’ anak-anak mereka. Di sini, di negara-negara ini (Eropa), ada beberapa perlindungan hukum bagi anak-anak seperti itu tetapi ada banyak orang yang membunuh anak-anak mereka, sedangkan di negara-negara terbelakang anak-anak tersebut tidak memiliki hak. Ada, jika orang kaya melakukan tindakan busuk seperti itu, mereka tidak tersentuh hukum. terdapat dalam berita di Pakistan baru beberapa hari yang lalu bahwa seorang wanita memiliki anak haram [anak hasil hubungan di luar nikah) dan anehnya, polisi mengajukan kasus terhadap perempuan miskin dan tidak ada tindakan apapun terhadap si pria karena ia memiliki kedudukan sosial. Ini adalah kasus aneh yang diberitakan, siapa yang tahu berapa banyak insiden seperti ini yang terjadi dan berapa banyak keluarga yang hancur. Hal ini karena menjauh dari perintah-perintah Allah. Bila ini adalah kondisi umat Islam, bagaimana kita bisa mengecam orang lain! Sungguh Allah memerintahkan untuk bahkan tidak mendekati perbuatan keji.

Di zaman ini berbagai saran kekejian dapat ditemukan. Ada internet dengan situs web tidak senonoh, film cabul di TV dan, majalah porno yang menjijikkan. Suara sudah mulai muncul di sini (Inggris) sekarang, bahwa publikasi menjijikkan semacam itu mestinya tidak ditampilkan secara terbuka di toko-toko dan kios-kios karena memiliki efek buruk pada akhlak anak-anak. Mereka menyadarinya hari ini sementara Al-Qur’an memberikan ajaran 1400 tahun yang lalu untuk menjauh dari perbuatan keji, itu membuat orang tidak berakhlak, menjauhkan seseorang dari Tuhan dan agama dan bahkan membuat orang melanggar hukum. Islam tidak hanya melarang jelas dan nyata kekejian tetapi juga amoralitas tersembunyi. Perintah pardah dan mengenakan pakaian yang sederhana adalah perlindungan terhadap hubungan terbuka dan bebas antara pria dan wanita.

Islam tidak menyatakan seperti Alkitab bahwa jangan melihat wanita dengan niat buruk. Melainkan, Al-Qur’an menyatakan bahwa matamu akan tertarik pada perempuan dalam suasana yang dekat dan itu akan menimbulkan ketidaksopanan dan kamu tidak akan dapat membedakan antara baik dan buruk. Menurut Allah dan Rasul-Nya dalam pencampuran yang demikian terbuka antara pria dan wanita pihak ketiga adalah setan. Internet baru saja disebutkan. Chatting di Facebook dan Skype termasuk dalam hal ini dan Hadhrat Khalifatul Masih telah melihat banyak keluarga pecah karena hal ini. Beliau mengatakan bahwa beliau sangat menyesalkan bahwa kejadian semacam ini ditemukan di rumah-rumah Ahmadi kita. Padahal perintahnya adalah bahkan jangan mendekati kekejian semacam itu karena Setan akan menguasainya.

Ajaran indah Al-Qur’an memerintahkan pria wanita wanita untuk menahan mata mereka, sungguh, ini mencegah pergaulan bebas serta menonton film cabul. Perintah ini juga termasuk untuk tidak bergaul dengan orang-orang yang mengejar hal-hal semacam ini atas nama kebebasan, yang menceritakan kisah mereka, serta berusaha dan menghasut orang lain pada jalan mereka. Pria dan wanita seharusnya tidak chatting di Skype dan Facebook dan melihat satu sama lain, dan hendaknya tidak menjadikan ini sarana penghubung satu sama lain. Allah menyatakan bahwa ini semua adalah kekejian yang lahiriah dan tersembunyi, dan itu semua mengakibatkan seseorang terbawa oleh emosi, kehilangan akal sehatnya dan akhirnya menimbulkan kemurkaan Allah.

Di zaman ini hal keji lain sedang dipromosikan yang tidak hanya bertetangan dengan kodrat, tetapi sebuah bangsa pernah hancur karena itu. Pemerintah sedang dalam proses melegalkan pernikahan sesama jenis, yaitu, rencana sedang dilakukan pada tingkat pemerintah untuk menyebarkan sesuatu yang keji dan tidak bermoral. Beberapa perdana menteri mengatakan hukum tersebut harus diikuti seluruh dunia. Seorang pendeta [Kristen], mungkin dari Afrika Selatan, yang jelas mengikuti Alkitab yang menyatakan bahwa sebuah bangsa hancur karena homoseksualitas, telah mengatakan bahwa jika pasangan sesama jenis menikah tidak bisa pergi ke surga, maka dia lebih memilih pergi ke neraka. demikianlah tingkat amoralitas di dunia saat ini, jika ini terus menyebar seperti ini, maka bangsa-bangsa ini akan menyaksikan akhir mereka. Ini akan menjadikan hidup mereka di dunia ini neraka dan Tuhan tahu apa perlakuan yang akan mereka terima di akhirat. Penelitian medis telah membuktikan secara jelas bahwa AIDS menyebar cepat di kalangan orang-orang homoseksual. Hukuman Tuhan datang dalam berbagai bentuk. Tidak harus bahwa hukuman Ilahi berupa batu dari langit akan diulang. HIV membawa seseorang pada akhir yang mengerikan dan menyiksa.

Semakin cepat amoralitas menyebar,semakin besar hendaknya upaya seorang Ahmadi untuk menjalin hubungan dengan Allah dan berusaha dan menyelamatkan dirinya sendiri serta dunia dari kehancurannya. Orang-orang duniawi memenuhi tuntutan sebagian masyarakat untuk keuntungan politik, dan mempromosikan sesuatu yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah, dan ingin menyebarkannya di seluruh dunia yang akan mengakibatkan kehancuran. Karena rasa simpati kepada mereka, kita harus memberitahu mereka bahwa Allah adalah Maha Penyayang, Dia telah membukakan pintu pengampunan. Dia menyatakan:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا الله

Dan orang-orang yang, ketika mereka melakukan kekejian atau mendzalimi diri sendiri, mengingat Allah dan memohon pengampunan atas dosa-dosa mereka – dan siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah?” (3:136).

Allah mengampuni jika tidak bersikeras dalam semua perbuatan keji dan seseorang merasa takut pada Tuhan. Kita perlu melindungi diri terhadap semua amoralitas dan juga berusaha dan menunjukkan cara untuk melakukannya kepada orang lain.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersabda: “Tuhan mereka akan mengampuni orang-orang yang setiap kali mereka melakukan perbuatan keji atau mendzalimi jiwa mereka, mereka mengingat Allah Ta’ala dan memohon pengampunan atas dosa mereka dan tidak bersikeras dalam dosa mereka.”

Hadhrat Khalifatul Masih berdoa supaya setiap orang yang terlibat dalam perbuatan keji menggunakan akal mereka dan diselamatkan dari azab Allah. beliau mengatakan, beliau telah menjelaskan hal ini karena beliau merasakan kebutuhan besar untuk itu, karena hal ini telah menjadi sangat umum.

Perintah berikutnya adalah: ولا تقتلوا النفس التي حرم الله “… janganlah kamu membunuh jiwa yang telah Allah haramkan, kecuali dengan hak‘ Perintah ini menarik perhatian kita untuk membayar hak-hak masyarakat, untuk membayar hak-hak saudara-saudara kita, teman dan kolega dengan jujur dan adil. Membunuh di sini bukan hanya berarti mengambil nyawa orang lain. Bahkan, memutuskan hubungan dengan seseorang, merebut hak orang lain, melukai orang lain secara emosional, mempermalukan orang lain seolah-olah seperti membunuh mereka, menghancurkan harga diri mereka juga ‘membunuh’. kemudian ada juga pembunuhan spiritual. Allah telah menganggap bahwa ini semua sama saja dengan pembunuhan dan Dia telah melarangnya. Setiap pembunuhan akhirnya mengakibatkan perpecahan dan keresahan di masyarakat dan Tuhan sangat tidak menyukai hal ini. Pernyataan: “إلا بالحق” ‘… kecuali dengan hak …’ tidak memberikan hak untuk menggenggam hukum di tangan seseorang, dan hukuman hendaknya dibatasi hanya pada apa yang perlu agar perbaikan dapat terjadi. Di sini hendaknya jelas bahwa tidak semua orang memiliki hak untuk menghukum dan membalas. Ini harus ditangani oleh hukum dan hukum harus memberikan keputusan sesuai dengan tuntutan keadilan. Memang, hukum buatan manusia masih terhitung baru sedangkan Allah telah menetapkan ini sejak lama. Hukuman mati dan berbagai hukuman lain semuanya diberikan oleh hukum dan melalui hukum.

Membunuh (qatala) juga berarti proses boikot. Hanya organisasi yang bertanggung jawab yang memiliki hak untuk mengucilkan, memboikot seseorang. Prosedur disiplin juga ada di Jemaat kita dan ini adalah untuk tujuan perbaikan dan bukan sebagai tanda kekejaman. Semua pembatasan adalah demi perbaikan individu, jika tidak, kekejaman yang tidak semestinya juga sama saja dengan pembunuhan. Ketika ketika keputusan diberikan oleh organisasi dalam konflik antara dua pihak, jelas satu pihak dianggap bersalah. Kadang-kadang, pihak lain, yang telah menderita kerugian dll tidak senang dengan tingkat keputusan dan ingin keputusan itu persis seperti yang mereka inginkan. Jika kelompok yang berlawanan diberikan hak untuk memberikan keputusan, satu pembunuhan akan mengikuti yang lain/akan terus terjadi pembunuhan, dan perintah Al-Qur’an menentang hal ini. Tujuan sebenarnya adalah untuk membuat orang menyadari kesalahan dan memperbaiki diri.

Perintah berikutnya adalah dalam ayat berikut dan itu adalah: ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتي هي أحسن “Dan jangan mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang terbaik … ‘ Perintah ini menarik perhatian kita ke bagian masyarakat yang paling rentan, anak-anak yatim. Harta anak yatim harus dijaga dengan cara sedemikian rupa agar tidak mengalami kerugian tetapi untuk membuatnya bermanfaat. Ini harus digunakan atau diinvestasikan sebagai amanat. Ini harus dijaga oleh Jemaat, oleh masyarakat dan tentu saja oleh hukum Negara. Harta anak yatim yang belum mencapai usia baligh harus diinvestasikan dengan cara yang membuatnya berkembang. Ini adalah tanggung jawab besar yang diletakkan pada kerabat dan masyarakat secara keseluruhan. Ada teguran besar tentang tanggung jawab ini. Al-Qur’an menyatakan:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

‘Sesungguhnya, orang yang memakan harta anak yatim secara dzalim, hanya menelan api ke perut mereka, dan mereka akan dibakar di dalam api yang menyala-nyala. “(4:11)

Al-Qur’an perintah tidak memberikan hak kepada satu pihak dengan merebut hak-hak yang lain, oleh karena itu Al-Qur’an juga menyatakan bahwa sementara menjaga milik anak yatim diperbolehkan untuk membelanjakan sebagian dengan memenuhi semua tuntutan keadilan. diperbolehkan membelanjakan dari harta anak yatim untuk pendidikan dan pengasuhannya, tetapi Al-Qur’an juga menekankan agar tidak melampaui batas dalam hal ini. Orang yang kaya hendaknya tidak mengambil apa pun dari harta anak yatim saat ia berada dalam perawatan mereka. Investasi secara baik harta anak yatim harus selalu diperhatikan. kemudian dinyatakan: حتى يبلغ أشده “… sampai ia mencapai kedewasaannya … ‘Artinya, mengembalikan kekayaannya kepadanya pada tahap ini. Terkadang yatim piatu belum mencapai kematangan yang cukup saat memasuki usia dewasa, dalam hal ini kekayaannya harus terus dipelihara sampai ia mencapai kematangan. Dan jika ia tidakmampu belajar (cacat), maka kekayaannya hendaknya dijaga secara permanen. Jika seorang anak yatim piatu dengan ketidakmampuan belajar/cacat menikah dan memiliki anak, hartanya harus dijaga sampai anak-anaknya mencapai usia dewasa.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam menulis: “Artinya, mungkin ada di antara kamu orang kaya yang yatim piatu atau lemah dan bisa jadi ia akan menyia-nyiakan hartanya karena kurangnya akal, kamu hendaknya bertanggung jawab atas hartanya sebagai wali dan tidak menyerahkannya kepadanya, karena seluruh sistem perdagangan dan jaminan sosial tergantung pada perawatan kekayaan secara tepat. Dari laba kekayaannya kamu hendaknya membelanjakan untuk perawatan pemiliknya dan kamu harus mengajarinya semua nilai yang benar yang akan membantu mengembangkan akal dan pemahamannya, dan memberikan dia pelatihan yang tepat sehingga ia tidak tetap bodoh dan tidak berpengalaman. Jika dia adalah putra seorang pedagang dia hendaknya diajarkan cara-cara bisnis dan perdagangan, dan jika ayahnya memiliki profesi atau pekerjaan lain, dia hendakya diberikan pelatihan dalam beberapa pekerjaan yang sesuai. Uji dia dari waktu ke waktu apakah dia membuat kemajuan dalam pelatihan. Ketika ia tiba pada usia kematangan, yaitu sekitar 18 tahun, dan kamu merasa bahwa ia telah cukup mengembangkan kepandaian untuk menjaga hartanya, serahkan hartanya kepadanya. Jangan membelanjakan hartanya secara sia-sia ketika ia di dalam pengawasanmu, karena kekhawatiran bahwa ketika ia tumbuh dewasa ia akan mengambil alihnya darimu. Jika wali dalam keadaan mudah ia hendaknya tidak mengambil biaya apapun untuk mengelola kekayaannya. Tapi jika dia miskin, dia boleh memanfaatkannya sebanyak yang dianggap adil.

Kebiasaan antara wali harta anak yatim di Arab adalah bahwa kekayaan itu digunakan sebagai modal untuk perdagangan dan labanya digunakan untuk anak yatim dan dengan demikian modal tidak hancur. Wali mengambil biaya yang adil untuk menjaga kekayaannya. Ini adalah sistem yang diisyaratkan dalam ayat-ayat ini. Kemudian dikatakan: Ketika kamu menyerahkan kekayaan kepada pemiliknya kamu harus melakukannya dihadapan saksi. Bagi kamu yang cenderung meninggalkan anak-anak kecil hendaknya tidak memberikan perintah melalui wasiat yang mengakibatkkan ketidakadilan terhadap anak-anak. Orang yang memakan harta anak yatim secara tidak adil hanya menelas api ke perut mereka dan mereka akan masuk dalam api yang menyala-nyala.

Perhatikanlah betapa banyak aspek kejujuran yang Allah Taala telah jelaskan dalam ayat-ayat ini. Seseorang yang benar-benar jujur ​​adalah orang yang memperhatikan semua aspek ini. Jika hal ini tidak dilakukan dengan kesungguhan akal kejujurannya akan mengandung banyak ketidakjujuran tersembunyi.”[1]

Perintah berikutnya adalah: وأوفوا الكيل والميزان بالقسط “Dan berikan takaran secara penuh dan timbanglah dengan adil.’ Di sini, perintah umumnya adalah untuk melaksanakan perdagangannya dengan jujur dan tanpa bentuk penipuan apapun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa ketika menjual barang, cacat atau kekuarangan barang tersebut harus dijelaskan sehingga pembeli mengetahuinya. Mengenai hal ini Allah menyatakan dalam Al Qur’an:

ذلك خير وأحسن تأويلا

“. … itulah yang terbaik dan paling terpuji pada akhirnya ‘(17:36)

Memang, kejujuran menghasilkan kepercayaan pelanggan dan ini pada gilirannya menguntungkan bagi pedagang. Allah menyatakan bahwa penipuan menimbulkan kekacauan. Sayang, semakin Al-Qur’an mengungkapkan perintah ini, semakin buruk umat Muslim dalam hal kejujuran. Kondisi para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sedemikian rupa sehingga salah satu dari mereka memiliki seekor kuda untuk dijual dan ia menetapkan harga 500 dirham. Sahabat A menyukai kuda itu dan mengatakan bahwa 500 Dirham bukanlah harga yang pas. Penjual mengira pembeli akan menawarkan jumlah yang lebih rendah. Sebaliknya, pembeli mengatakan itu adalah kuda yang bagus harganya mestinya 2.000 dirham, dan demikianlah mereka berdebat tentang harganya! Begitulah standar Muslim yang ditegakkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu menceritakan sebuah peristiwa terkait hal ini. Beliau pergi ke Kashmir untuk melihat-lihat, ketika beliau muda, dan menyukai beberapa karpet eksklusif yang ditenun tangan di Kashmir. Pembuat karpet menyatakan bahwa karpet buatannya berkualitas sangat tinggi. Hadhrat Mushlih Mau’ud ingin berkeliling melihat-lihat lebih lanjut, sehingga beliau memerintahkan untuk mengambil beberapa karpet sebagai hadiah dan pergi. Setelah kembali, beliau mendapati semua karpet panjang dan lebarnya lebih pendek beberapa inci dari yang beliau minta. Ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud menarik perhatian pria itu bahwa dia meminta jumlah uang yang sama untuk karpet yang jauh lebih kecil ukurannya dan mengingatkannya pada ukuran yang telah beliau minta dan mengatakan bahwa orang-orang sekitar menjadi saksi atas hal itu, bukannya malu, orang itu berulang-ulang terus berkata: “Saya seorang Muslim, dan Anda mengatakan bahwa saya melakukan ini dan itu!”

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda sekarang cukup umum untuk mengabaikan perbuatan buruk dengan menegaskan bahwa seseorang adalah Muslim! Beliau bersabda eksportir beras Basmati [Pakistan] pernah mengatakan kepada beliau bahwa ketika mengemas beras untuk ekspor mereka mencampur biji beras berkualitas rendah di tengah kantong biji beras berkualitas bagus melalui pipa besar sehingga hanya beras kualitas baik yang terlihat. Ini adalah alasan pasar didominasi oleh beras India, meskipun beras India tidak sebagus kualitas beras Pakistan, namun karena ketidakjujuran, beras Pakistan tidak diimpor oleh negara-negara. Nampaknya sekarang beberapa eksportir dari Pakistan, termasuk beberapa Ahmadi, telah mengekspor beras (yang baik), jika tidak, pasar gelap ini telah menghentikan ekspor beras Pakistan.

Sebuah Hadis menceritakan bahwa jika pembeli dan penjual berbicara benar dan mengungkapkan cacat pada barang dagangan, Tuhan akan memberkati perdagangannya. Jika, mereka berdua terlibat dalam kedustaan dan menyembunyikan cacat, atau curang, perdagangan tidak akan beberkat. Hadis lain menceritakan bahwa ketika penjual menakar untuk menjual dia hendaknya menakar dengan murah hati. kedudukan seorang pedagang yang jujur ​​dapat ditemukan dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bersabda bahwa seorang pedagang yang jujur ​​dan dapat dipercaya berhak bersama-sama dengan para nabi, siddiq dan para syuhada.

Semoga Tuhan memberi taufik kepada mereka yang menghubungkan diri mereka dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan standar kejujuran dan kepercayaan sesuai dengan perintah Allah dan pernyataan Rasulullah. Kita juga harus mengintrospeksi diri, ada banyak Ahmadi pedagang/pengusaha. Apakah praktek kita sesuai dengan perintah-perintah Allah? Apakah kita menghormati hak orang-orang yang lemah? Apakah kita bersikap adil dalam bisnis kita? Apakah kita memenuhi hak setiap strata masyarakat? Apakah kita menjaga diri terhadap segala keburukan? Ramadhan menarik perhatian pada kebajikan, kita juga hendaknya tertarik pada hal ini. Semoga Allah menjadikan kita menghindari setiap keburukan yang dilarang Allah!

 

[1]  Filsafat Ajaran Islam, hal