Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)

5 Juli 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا کُتِبَ عَلَیۡکُمُ الصِّیَامُ کَمَا کُتِبَ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّکُمۡ تَتَّقُوۡنَ ﴿۱۸۳﴾ۙ

 

 

[Terjemahan] Sebuah bait syair Hadhrat Masih Mau’ud as. berbunyi:

Wahai Yang Maha Pemurah, bagaimana aku mengungkapkan

rasa syukurku yang  mendalam kepada-Mu

Dari mana aku mendapatkan kefasihan

Yang dapat menyampaikan rasa syukurku yang mendalam dengan semestinya

Adalah tidak mungkin bersyukur kepada Tuhan atas karunia-karunia dan ihsan-ihsan-Nya. Setiap perjalanan yang Hadhrat Khalifatul Masih lakukan meliputi karunia dan ihsan Allah dengan cara yang berbeda. Baru-baru ini beliau menghadiri Jalsah Salanah di Jerman dan di sana, baik di Jalsah maupun  dalam kesempaatan-kesempatan lainnya beliau merasakan begitu banyak rahmat dan karunia Ilahi tersebut yang semakin memperkuat keyakinan bahwa memang Tuhan setiap hari menyempurnakan janji-janji yang Dia berikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. dengan keagungan baru. Amir Jerman mengatakan bahwa apa pun yang ia lihat melampaui harapannya dan rekan-rekannya. Rakyat Jerman serta pers Jerman menunjukkan minat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ada perhatian luar biasa yang ditunjukkan oleh masyarakat setempat, pemerintah dan bahkan pendeta Kristen pada peresmian masjid dan upacara peletakan batu pertama mesjid. Rahmat Allah selama Jalsah juga dirasakan lebih dari sebelumnya. Tidak mungkin bagi pikiran manusia untuk menghitung berkat Ilahi; setidaknya apa yang terjadi di Jerman tak ada bandingannya; meskipun harapannya tinggi, tetapi tentu saja tidak dalam kondisi bagaimana Tuhan memberkati kesempatan ini.

Seperti kebiasaan beliau, Hadhrat Khalifatul Masih menyampaikan ceramah tentang berkat-berkat Ilahi setelah tur. Beliau juga biasa mengucapkan terima kasih kepada para pekerja Jalsah dan beliau ingin melakukannya hari ini. Ini adalah perjalanan sepuluh hari yang singkat, yang didalamnya dua masjid diresmikan dan peletakan batu pertama untuk dua buah masjid dilakukan. Dengan rahmat Allah resepsi yang diadakan pada kesempatan ini sangat sukses dan membantu dalam menenangkan keberatan orang-orang terhadap masjid. Batu pondasi telah diletakkan untuk Masjid Subhan di Morfelden, dan Masjid Baitul Ata di Florsheim diresmikan. Baitual Ata telah diubah menjadi masjid dari bangunan yang sudah ada. Anggota Jemaat melakukan wikar-e-Amal selama tujuh ribu jam untuk mengubah masjid ini. Baitur Rahim, Neuweid adalah masjid lain yang diresmikan, sementara Batu pondasi telah diletakkan untuk Baitul Hameed di Fulda. Program-program ini dihadiri oleh walikota, pejabat, pemimpin politik dan agama setempat.

Pada peresmian Baitul Ata di Florsheim am Main, sekretaris negara distrik Hesse mengatakan bahwa ia juga telah menghadiri peresmian Jamiah Ahmadiyah. Dia menyampaikan tentang ajaran Jama’at serta sikap para Ahmadi. Ia berterima kasih kepada program Jama’at yang menggambarkan citra positif Islam seperti perjalanan amal, membersihkan jalan-jalan dll. 270 tamu Jerman menghadiri peresmian masjid ini yang termasuk empat walikota, sekretaris negara, politisi, anggota parlemen nasional, pendeta, seorang komisaris polisi dan para perwakilan dari dewan kota.

Pada upacara peletakan batu pertama mesjid Baitul Hameed anggota pertama dewan kota mengatakan bahwa Ahmadiyah adalah bagian dari kota Fulda. Dia mengatakan dia tahu tentang kegiatan kita dan merasa bahwa membangun sebuah masjid di Fulda adalah tanda bahwa kita ingin terlibat dengan masalah-masalah sipil kota. Dia mengatakan bahwa tidak hanya ia mendengar kata-kata positif dari para Ahmadi tapi kata-kata ini didukung dengan tindakan, dan bahwa para Ahmadi adalah warga negara yang taat hukum. Seorang tamu lokal berusia 81 tahun mengatakan bahwa ia mungkin tidak akan melihat di masa hidupnya pemenuhan hal-hal yang Hadhrat Khalifatul Masih katakan dalam pidato beliau, tetapi dunia akan menerima pesan dari pendiri Jemaat Ahmadiyah melalui beliau. Tamu tersebut kembali keesokan harinya dan mengatakan bahwa dalam hatinya ia telah menemukan kebenaran agama. Dia meminta diajarkan shalat sehingga ia bisa berdoa. Presiden dewan distrik mengungkapkan keinginannya supaya Hadhrat Khalifatul Masih mengunjungi kantor pusat mereka. Dia mengatakan orang berpendapat bahwa pidato Hudhur yang berpikiran terbuka, mencerahkan intelektual serta  menggerakkan hati. Sadr Lokal melaporkan bahwa orang terus-menerus datang untuk melihat masjid tersebut. Lebih dari 500 pengunjung telah datang dan mereka telah menunjukkan minat yang besar terhadap ajaran Islam.

Seorang tamu wanita berkata bahwa ia senang bahwa pidato Hadhrat Khalifatul Masih sesuai dengan Kristen. Dia merasa ada lebih banyak persamaan dan lebih sedikit perbedaan antara agama-agama. Tamu lain mengatakan bahwa Hadhrat Khalifatul Masih juga menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama damai di kesempatan sebelumnya dan ini adalah pesan yang sangat penting yang terus beliau ulangi. Tamu lain mengatakan bahwa ia senang mendengar kata cinta sering disebutkan di acara tersebut. Ia mengatakan bahwa ia adalah seorang Protestan aktif dan kata cinta juga sangat penting untuk dia tapi mungkin dia tidak mendengarnya lagi di gerejanya sesering ia dengar di sini. Dia bilang dia merasakan cinta yang besar dalam kesempatan tersebut. Dia merasa orang-orang yang memiliki kesalahpahaman tentang Islam biasanya bahkan tidak kenal seorang muslimpun.

Hadhrat Khalifatul Masih diwawancarai oleh TV dan surat kabar. Keseluruhan tiga puluh surat kabar, tiga stasiun radio dan lima saluran TV memberikan liputan untuk acara ini. Jemaat diliput oleh saluran nasional Jerman untuk pertama kalinya. Pesan kita menjangkau sekitar 1,2 juta orang sedangkan Jama’at diperkenalkan melalui TV nasional yang juga menyiarkan foto Hudhur. Saluran lain yang juga ditonton di Swiss dan Austria juga menyiarkan berita Jalsah. hasilnya pesan kita menjangkau tiga negara, yang Jama’at Jerman tidak memperkirakannya. Sebuah surat kabar melaporkan bahwa Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa di tempat di mana barang-barang dulunya dibeli dengan uang – bangunan yang diubah jadi mesjid itu dulunya toko – sebagai masjid membagi-bagikan keruhanian secara gratis.

Jemaat kini telah memperoleh kedudukan di Jerman, yang dengan itu Jemaat dapat memiliki sekolahnya sendiri dan mendapatkan bantuan dari Pemerintah. Namun, Hadhrat Khalifatul Masih menegaskan bahwa Jama’at adalah swadana, anggotanya paling semangat berkorban dan membangun masjid dan kita tidak perlu meminta bantuan apapun dari Pemerintah.

Seorang tamu mencatat bahwa ikatan kecintaan antara anggota Jama’at dan Khalifatul Masih tak ada bandingannya dan menyaksikan ikatan ini dari dekat adalah pengalaman yang tak terlupakan. Memang, banyak yang telah mengamati hal ini dan mengungkapkannya. Pesan Hudhur – bahwa ajaran Islam dan Jemaat adalah menghormati semua agama dan bahwa  masjid baru akan mewakili ajaran ini – disorot di media, terutama pada situs web.

Dengan rahmat Tuhan Jalsah Salanah Jerman tahun ini dihadiri oleh para mubayi’in baru dan teman-teman yang sedang ditablighi dan simpatisan dari Perancis dan Belgia serta dari Malta, Estonia, Islandia, Lithuania, Lapar, Latvia, Rusia, Tajikistan, Kyrgyzstan, Kosovo , Albania, Bulgaria dan Macedonia. Delegasi dari Bulgaria delapan puluh orang sedangkan Lima puluh tiga orang berasal dari Makedonia. Setiap orang, termasuk orang luar, tergerak oleh suasana keruhanian Jalsah Salanah. Jalsah Jerman menduduki peran sentral untuk Eropa Timur dan negara-negara Eropa lainnya. Dengan demikian, lapangan Tabligh menjadi semakin luas. Seperti biasa, para tamu terkesan oleh anak-anak yang menyediakan air minum, perhatian dari orang-orang dewasa dan pengaturan secara umum yang baik. Beberapa orang mengatakan itu semua itu tampak ajaib bagi mereka.

Seorang wanita Kristen tamu dari Makedonia, yang adalah seorang profesor bahasa Inggris, mengatakan bahwa ini adalah kunjungan pertamanya dan dia mendapati Jalsa sangat terorganisir. Dia merasa bahwa semua orang termasuk anak-anak, saling membantu dan ini memberikan kesan kepadanya bahwa Jama’at memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Dia memahami ajaran damai Islam setelah mendengarkan pidato Hadhrat Khalifatul Masih dan merasa bahwa Jalsah telah membawa perubahan dalam dirinya.

Seorang dokter dari Makedonia mengatakan bahwa ia terkesan memperhatikan suasana Jalsah yang multi-nasional namun tidak diskriminatif. Ketika mendengarkan pidato Jalsah ia merasa telah menemukan tempatnya yang sebenarnya. Dia Bai’at pada hari terakhir Jalsah. Dia mengatakan bahwa dia telah pergi haji tetapi mendapati suasana di sana bernuansa politik dan hatinya tidak puas. Dia menghargai perbaikan seperti yang ditunjukkan oleh Jama’at dan merasa bahwa Jama’at memperkuat Islam. Ia mengatakan sekarang dia telah menerima Ahmadiyah dan baginya itu adalah Siratal Mustaqiim (jalan yang benar). Dia merasa kagum bahwa tidak ada polisi yang datang dalam pertemuan yang demikian besar, memang Pemerintah merasa yakin untuk tidak mengirimkan polisi dalam pertemuan ini. Dia belum pernah mendengar hal-hal seperti yang dijelaskan oleh Hadhrat Khalifatul Masih dari Maulwi manapun. Dia bangga menjadi bagian dari Jemaat. Dia mengatakan ketika ia mengetahui bahwa Jama’at memiliki seorang khalifah, ia merasa telah menemukan jalannya!

Seorang pria muda, seorang mubayi’in baru dari Makedonia yang berasal dari keluarga Muslim yang sangat ortodoks, ditentang keras ketika ia menerima Ahmadiyah. Dia harus meninggalkan rumah selama enam bulan, kemudian istrinya juga Bai’at. Dia menghadiri Jalsah Salanah dan meminta izin untuk membacakan sebuah syair yang ditulis oleh orang-orang dari Makedonia. Hudhur memberinya izin. Puisinya menciptakan suasana yang menakjubkan, mungkin MTA akan menyiarkannya. Dia memiliki suara yang bagus dan anak-anak bergabung dengannya dalam menyanyikan syair itu.

Hadhrat Khalifatul Masih berkata kepada panitia [Jalsa] Jerman bahwa mereka hendaknya mengizinkan orang membaca syair mereka bukan hanya membaca syair dalam bahasa Urdu. Lajnah juga mengeluhkan bahwa mereka tidak memiliki syair Jerman dan hanya syair Urdu yang dibacakan. Hadhrat Khalifatul Masih mengatakan perhatian harus diberikan kepada hal ini.

Seorang teman dari Belgia mengatakan bahwa ia tergerak oleh persatuan dan persaudaraan dalam Jama’at dan pengkhidmatan mereka kepada umat manusia. Ia telah meneliti Jama’at selama dua tahun. Ketika ia mendengar pidato Hadhrat Khalifatul Masih di Jalsah ia merasakan perubahan dalam dirinya dan memutuskan untuk Bai’at, yang dia lakukan.

Seorang pemuda dari Ghana yang sedang ditablighi datang ke Jalsah. Hatinya jelas tentang Ahmadiyah tapi ia merasa ia tidak bisa Bai’at dulu karena beberapa kesulitan. Ketika ia kembali pada malam harinya ia penuh semangat dan mengatakan bahwa ia telah mendengar pidato Hadhrat Khalifatul Masih dan sekarang tidak ada alasan mengapa ia tidak menjadi seorang Ahmadi. Ia kemudian Bai’at.

Seorang teman Kristen mengatakan bahwa ia sangat senang mendengar pidato Hadhrat Khalifatul Masih karena beliau menjelaskan ajaran Islam dengan singkat namun sangat jelas. Ia mengatakan ia ingin mendengar kejelasan semacam itu dari Kristen dan merasa bahwa hanya beberapa orang yang kadang-kadang berbicara dengan jelas seperti itu.

Seorang tamu wanita berkata bahwa dia telah belajar banyak hal baru di Jalsah dan terkesan dengan pidato Hadhrat Khalifatul Masih. Beliau telah menjelaskan dengan cara yang indah hal-hal yang kompleks, yang mengenainya para teolog menulis banyak buku untuk menjelaskannya.

Seorang Ahmadi menceritakan bahwa seorang pemuda Jerman datang kepadanya dan mengatakan bahwa ia dulu adalah seorang Kristen. Selama percakapan ia mengucapkan nama Rasulullah saw.  dengan penuh penghormatan. Dia mengatakan sudah waktunya untuk shalat, ia telah mengambil Wadhu dan berharap untuk Shalat belakang Hadhrat Khalifatul Masih. Dia mengatakan dia diperkenalkan kepada Jamaat Ahmadiyah enam bulan lalu. Dia telah membaca buku ‘Riwayat Hidup Rasulullah saw.[1]‘ dan ketika ia berbicara kepada pendetanya tidak bisa menjawabnya secara memuaskan. Jadi pemuda ini mengatakan ia telah meninggalkan Kristen dan sangat cenderung kepada Islam dan memohon doa supaya sisa hambatannya disingkirkan!

Seorang guru bahasa Jerman berasal dari Lithuania. Dia mengatakan dia sangat terkesan dengan Jalsah. Ini adalah perkenalan pertamanya dengan Jama’at dan semua pandangan negatifnya tentang Islam telah benar-benar berubah. Dia mendapat kesempatan untuk secara pribadi bertanya kepada Hadhrat Khalifatul Masih mengapa takbir yang diucapkan di Jalsah bukannya bertepuk tangan. Ia mengatakan ia diberi jawaban yang paling elegan bahwa walaupun bertepuk tangan memang merupakan ekspresi sukacita, tetapi takbir memiliki unsur sukacita serta pujian kepada Tuhan.

Seorang pendeta Kristen yang mengajar filsafat di University of Malta dan telah membaca beberapa buku Hadhrat Masih Mau’ud as. mengatakan ia memiliki kesan yang sangat positif dari Jalsah tersebut. Ia mengatakan ia benar-benar percaya bahwa Ahmadiyah adalah Jemaat yang damai. Dia membeli sebuah cincin dengan ukiran ‘Alaissallahu’ dan bertanya apa artinya. Ketika dijelaskan kepadanya, dia mengatakan kalimat seperti itu harus selalu dipegang oleh orang. Dia bertanya apakah Paus telah dihubungi oleh Jama’at. Ketika ia diberitahu bahwa Hadhrat Khalifatul Masih telah menulis surat kepadanya yang diserahkan secara langsung, namun Paus bahkan tidak membalasnya, tamu tersebut tampak agak kecewa.

HadhratKhalifatul Masih memberikan pemahaman sejarah mengenai masalah menghubungi Paus. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih II ra. pergi ke Italia selama tur Eropa beliau mencoba menghubungi Paus. Tanggapan datang bahwa Istana Vatikan sedang direnovasi sehingga sulit mengadakan pertemuan. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih II ra. ditanya oleh pers apakan beliau  akan bertemu Paus, beliau menceritakan situasinya kepada mereka. Pers memberitakan dengan sepatutnya dengan catatan di akhir bahwa diharapkan untuk menghindari pertemuan dengan Khalifah Ahmadi, renovasi istana kepausan tidak akan pernah selesai.

seorang Ahmadi dari Kirgistan mengatakan dia Bai’at pada tahun 2007 tetapi karena mereka tidak memiliki masjid di negara asalnya, ia mendapat taufik untuk mengerjakan Shalat di masjid Ahmadiyah di Jerman ketika ia datang untuk menghadiri Jalsah dan dengan demikian memenuhi harapan besarnya .

Seseorang asal Niger yang tinggal di Belgia mengatakan ia telah mendengar banyak pidato para pemimpin agama di Afrika tetapi efek dan manfaat ia rasa dari mendengarkan pidato Hadhrat Khalifatul Masih belum pernah terjadi sebelumnya. Dia mengambil di Jalsah.

Seorang teman dari Maroko mengatakan bahwa ia telah membaca banyak tafsir Al Qur’an oleh banyak ulama Muslim lainnya juga dari Hadhrat Masih Mau’ud as. dan para khalifah beliau, dan yang dari Hadhrat Masih Mau’ud as. dan para khalifah beliau adalah tafsir yang shahih/benar. Dia telah menerima Ahmadiyah sebelumnya dan keluarganya bergabung dengannya dalam menerima Ahmadiyah di Jalsah.

Seorang teman Muslim dari Niger mengatakan bahwa ia sering bertanya-tanya jika ada Nabi Allah yang tetap hidup seharusnya adalah Rasulullah saw.  dan bukan Hadhrat Isa as.. Ketika ia tiba di Belgia dan bertemu para Ahmadi, ia menemukan jawabannya. Dia juga cepat memahami masalah berkat-berkat Khilafat. Dia mengatakan bahwa dia menghargai bahwa masalah apa pun yang Jemaat sampaikan, itu dengan mengacu pada Al-Qur’an atau hadis. Dia Bai’at pada hari terakhir Jalsah.

Seorang teman dari Kirgistan mengatakan ia sering bertanya-tanya apakah ia pernah akan bertemu dengan Khalifah-e-waqt. Sekarang setelah bertemu dengan beliau, keimanannya menjadi lebih kuat.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda doa harus dipanjatkan untuk Ahmadiyah Kyrgyzstan. Mereka menghadapi kesulitan besar. Semoga Tuhan memberikan pengertian kepada para Mullah yang hanya namanya, yang telah menciptakan kekacauan di sana, atau mengazab mereka!

Seorang mubayi’in baru Libanon mengatakan bahwa suatu kali anaknya yang berumur tiga belas tahun bertanya tentang akhir zaman. Sang ayah mengatakan kepadanya akhir zaman adalah ratusan tahun ke depan. Sang putra membantahnya dan mengatakan bahwa sebenarnya kita sedang menjalani akhir zaman. Dia juga mengatakan kepada ayahnya bahwa Dajjal bukanlah nama orang, melainkan suatu kaum. Sang ayah bertanya bagaimana dia mengetahui hal ini. Si anak menjawab bahwa suatu kali ia memindah-mindah channel ketika ia menemukan MTA di Jerman dan sekarang dia menyaksikan secara teratur. karena ayahnya tidak tahu Jerman, si anak mulai menjelaskan kepada ayahnya apa yang disampaikan di MTA. Suatu hari sang ayah menjadi marah dan memperingatkan anaknya untuk tidak menonton MTA meskipun jauh di lubuk hati dia merasa pesan itu benar. Kemudian, si ayah bertemu dua orang Ahmadi dan mendapati bahwa anaknya selama ini benar. Dia Bai’at.

Seorang teman dari Bosnia mengatakan bahwa ia sangat tersentuh oleh Jalsah dan memohon doa supaya ia terus merasakan pengaruhnya ketika kembali ke rumahnya.

Seorang teman dari Kirgistan, yang kehadirannya Hadhrat Khalifatul Masih perhatikan di Jalsah, telah Bai’at beberapa waktu lalu. Dia telah pergi haji dan dengan penuh kasih memberitahu Hudhur bahwa ia telah membawa air Zamzam dari haji dan berpikir untuk memberikannya kepada Khalifah-e-waqt ketika bertemu dengan beliau. Demikianlah ia menyatakan kecintaannya dan membeirkan air itu kepada Hudhur.

Seorang teman dari Aljazair mengatakan bahwa ia pernah melihat dua orang yang bertabligh dan mendengarnya menyebutkan munculnya Imam Mahdi. Dia sangat marah mendengarnya dan merasa bahwa orang-orang itu telah mengotori atmosfer. Di hari-hari awal percakapan dia hanya mengolok-olok mereka, namun, ia merasa bahwa mereka mendukung setiap argumen dengan bukti yang kuat. Dia menghubungi saluran TV Arab yang sangat terkenal dan bertanya kepada mereka tentang Jemaat Ahmadiyah. Dia diberitahu bahwa stasiun TV akan menelepon dia sebagai gantinya. Ketika mereka meneleponnya mereka mengatakan bahwa para Ahmadi adalah kafir dan harus dihindari. Stasiun TV menelponnya setiap hari menekankan kekafiran para Ahmadi. Namun ketika ia mendengarkan orang-orang Ahmadi ia merasa mereka jujur ​​tetapi menjadi ragu ketika ia mendengarkan para maulwi. Dia terus membaca mengenai masalah tersebut dan akhirnya kebenaran menjadi jelas baginya. Ketika ia tiba di Jalsah dan melihat orang-orang dari semua bangsa dia pikir bagaimana mungkin bahwa mereka semua adalah pendusta dan ia sendiri yang benar. Dia merasakan ketenangan pikiran dan Bai’at.

Seorang teman dari Niger mengatakan bahwa menghadiri Jalsah telah benar-benar mengubah hidupnya. Dia bukan seorang Ahmadi tapi sekarang dia adalah Ahmadi dan merasa bangga bahwa ia telah Bai’at dan bergabung dengan Jama’at.

Seorang teman dari Bosnia mengatakan sebelum menerima Ahmadiyah mereka terlibat dalam setiap dosa. Mereka telah merasakan perubahan murni setelah datang ke Jalsah dan sekarang ingin menjalani hidup yang bersih. Mereka memohon doa yang sangat mengharukan mengenai hal ini.

Seorang pemuda Turki yang menghadiri Jalsah merasa bahwa ia belum siap untuk Bai’at pada hari ketiga. Namun, ketika tiba saatnya untuk Bai’at dia ingin Bai’at dan menangis sepanjang upacara. Dia mengatakan Kekuatan gaib telah memasukkan dia di antara mereka yang mengambil Bai’at.

Seorang teman dari Niger mengatakan bahwa sebelum Jalsah ia bahkan tidak memikirkan Bai’at tetapi ketika ia melihat kecintaan para Ahmadi kepada Khalifatul Masih mereka ia memutuskan untuk Bai’at.

67 orang dari enam belas negara Bai’at di Jalsah Jerman tahun ini.

Dalam masalah manajemen, tahun ini MTA van diparkir di luar ruangan dan ruang penterjemahan juga terletak di luar. Akibatnya beberapa transmisi terjemahan mengalami gangguan. Diharapkan ini akan diperbaiki. Demikian pula, beberapa terjemahan tidak tersedia di bagian wanita sehingga mereka harus datang ke ruang pria. Dewasa ini Fasilitas tersedia dimana perangkat mobile digunakan untuk mendengarkan terjemahan, demikianlah di Jama’at Inggris. Sound system lebih baik tapi masih ada beberapa resonansi dan Hadhrat Khalifatul Masih bisa mendengar suaranya menggema. Ada beberapa kesalahan, upaya harus dilakukan untuk menghapusnya. Dengan kasih karunia Allah ada 3.100 laki-laki dan 3.700 perempuan pekerja di Jalsah. Lebih dari 100 Khuddam sehari bekerja selama 14 jam untuk mempersiapkan lokasi. Departemen dhiafat bekerja lebih baik dari sebelumnya, air tersedia di meja makanan. Ini memang perintah dari Nabi saw. untuk mencuci tangan ketika makan. Kualitas roti juga lebih baik, Hudhur mencicipinya dan menunggu untuk mendengar apa yang dipikirkan peserta Jalsa. Kebersihan juga ditingkatkan begitu juga sistem scanning. Pria, tua dan muda serta wanita dan anak perempuan melayani tamu Hadhrat Masih Mau’ud as. di Jalsa. Semoga Allah memberikan ganjaran kepada mereka dan terus memberi taufik kepada mereka untuk berkhidmat dan meningkatkan ketulusan mereka.

Hudhur berikutnya bersabda bahwa Jalsah Salanah Kanada, Belgia dan Irlandia mulai hari ini. Semoga Tuhan memberi taufik kepada mereka untuk berpartisipasi dengan semangat sejati Jalsah dan semoga Jalsah ini berakhir dengan aman. Demikian pula hari ini Ijtima Khuddam Inggris dimulai. Semoga Tuhan memberi taufik kepada para pemuda untuk memenuhi tujuan Ijtima dalam arti yang sesungguhnya. Setiap khudam dan anggota Jemaat harus ingat bahwa tujuan Ijtima dan Jalsa adalah untuk meraih keridhaan Allah dan untuk meningkatkan kondisi keruhanian dan akhlak seseorang. Perhatian khusus harus diberikan pada hal ini.

[1] Bagian kedua dari buku Pengantar Mempelajari Alquran