Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Kasyaf dan Mimpi Benar Para Sahabat Masih Mau’ud as

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

28 Desember 2012 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

 

Saat ini saya telah memilihkan riwayat-riwayat sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as untuk disampaikan di hadapan Saudara-saudara yang berkenaan dengan rukya dan kasyaf-kasyaf mereka.

Hadhrat Muhammad Fadhil Sahib ra

Pertama adalah riwayat Hadhrat Muhammad Fadhil Sahib ra Beliau datang untuk tinggal beberapa lama di Qadian. Beliau bergaul dengan Hadhrat Masih Mau’ud as yang dari itu ada beberapa peristiwa yang dialaminya. Salah satu riwayat beliau akan disampaikan di kesempatan ini.

Lebih lanjut, beliau menceritakan,

“Setelah 5 atau 6 hari saya minta izin pulang (yakni, pulang kampung dari Qadian). Sesampainya di rumah sendiri di daerah saya, saya mulai melakukan tabligh. Awalnya, saya rabtah kepada guru saya dengan tujuan tabligh. Pada waktu malam saya menablighinya dan sahabatnya, Mian Laal Din Arain Sahib (penduduk di sana). Malam hari ketika saya tidur setelah shalat, Hadhrat Masih Mau’ud as hadir dalam mimpi. Pada pinggang beliau as terikat kain sarung dan dengan sangat keras beliau memegang tangan kanan saya dan dengan sangat cepat membawa saya pergi.

 Di kota Madinah Syarif, di sana beliau (yakni, Hadhrat Masih Mau’ud as) menyuruh membangun rumah-rumah beberkat Nabi Yang Mulia [Nabi Muhammad] saw, (lalu perawi mengatakan bahwa dalam mimpi) saya tidak melihat beliau as dan setelah melihat rumah-rumah yang belum permanen berjumlah 9 buah, saya mengatakan, ‘Istri-istri Rasulullah saw yang beberkat tinggal di rumah-rumah tersebut dan di sebelah utaranya ada sebuah mesjid yang tidak permanen.’ Dalam mimpi saya mengatakan bahwa ini adalah mesjid Nabawi. Lalu mata saya terbuka (bangun).

Pada waktu pagi, saya menceritakan mimpi ini kepada Maulwi Sahib (guru saya) dan menyodorkan buku ‘Ainah Kamalat-e-Islam’ (Cermin Kesempurnaan Islam) kepada beliau, dan saya minta izin pulang kepada beliau. Setelah 15 hari Maulwi Sahib membaca buku ini, lalu berangkat ke Qadian dan baiat lalu pulang. Demikian pula, Mian Laal Din juga bergabung dalam baiat.”[1]

Hadhrat Nizamuddin Sahib ra

Hadhrat Nizamuddin Sahib ra baiat pada tahun 1890 atau 1891. Beliau melihat Hadhrat Masih Mau’ud as pada tahun 1883-1884 sebelum beliau baiat beberapa lama kemudian. Beliau menceritakan:

“Waktu itu saya belum bergabung dalam baiat. Saya sedang turun dari tangga-tangga lama mesjid Mubarak setelah shalat Ashar. Saya bertemu dengan 2 orang terhormat yang berjubah putih di gerbang pintu yang tertutup. (Kedua pemuda ini baru sampai di Qadian). Mereka bertanya kepada saya, ‘Tolong beritahu kami Mirza Sahib ada dimana? Kami baru sampai di sini setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh.’ Saya katakan, ‘Ayo saya tunjukkan beliau ada dimana!’ Mereka berkata, ‘Tidak! Tuan di belakang saya saja, supaya kalau beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as) ada di depan kami, kami segera mengenalinya.’ Saya di belakang mereka menaiki anak tangga di depan saya.

Selanjutnya, setelah berjalan di depan ada sebuah pertemuan (yakni, majelis Hadhrat Masih Mau’ud as) dan Hudhur as duduk dalam keadaan santai sedang menurunkan sorban dari kepala beliau. Seorang diantara kedua tamu datang ke hadapan Hudhur dan bertanya, ‘Apakah nama tuan adalah Ghulam Ahmad?’ Beliau as bersabda, ‘Ya’. Kemudian dia berkata, ‘Tuan mendakwakan diri sebagai Masih Mau’ud?’ Hudhur bersabda, ‘Ya’. Lalu dia berkata, ‘Pertama saya sampaikan salam Hadhrat Rasul Maqbul (Nabi Muhammad) saw kepada tuan dan kemudian salam dari saya.’

 Selanjutnya orang tersebut menceritakan mimpi yang dialaminya,

‘Dalam mimpi, saya melihat, saya berada di hadapan Hadhrat Rasulullah saw. Tangan Rasul Tuhan itu berada di atas pundak kanan Tuan (Hadhrat Masih Mau’ud as) dan Rasulullah saw bersabda, Hadza Masihu – ‘Ini Masih yang dijanjikan itu.’, berbaiatlah kepadanya dan sampaikan salamku.’”

 Hadhrat Nizamuddin Sahib, menceritakan kisah selanjutnya,

“Barulah hati saya gemetar sekali dan berdoa dengan sangat merintih di mesjid Aqsa. Kebenaran dari Allah dan kedekatan-Nya, betapa cepat Dia telah mengangkat derajat hamba lemah yang penuh dosa ini dengan doa junjungan saya.

Mulai malam itu, kabar-kabar suka agung bermunculan (ketika saya selesai berdoa). Untuk semua mimpi diperlukan medan kertas untuk menuliskannya (mimpi itu tiada akhirnya). Hanya satu mimpi terakhir yang telah memberkahi pendosa yang penuh maksiat seperti saya ini untuk mendapatkan karunia melakukan baiat. Dalam mimpi saya melihat sebuah sungai mengalir dari arah Timur ke arah Barat yang lebarnya kira-kira 1 mil. Airnya sangat murni sebagaimana seorang pujangga mengatakan [dalam bahasa Persia]:

Mushaffa hamcho chashm niz binan

Mushaffa hamcho az khalwat nashinan

Yakni, “betapa bersihnya laksana mata memandang pemandangan nan bersih; laksana hati bersih seseorang yang berada dalam khalwat (keterasingan, dalam kesendirian); seseorang yang memiliki pemikiran suci sedang duduk menyendiri.” Permisalan ini diberikan oleh beliau.

Pendek kata, airnya sangat murni. Tidak ada hal menyeramkan di dalamnya dan saya berenang dengan senang sekali. Ketika Maulwi Abdullah Kashmiri yang sampai saat itu belum baiat, dia berteriak dari sebelah selatan yang amat jauh, ‘Hai Munshi ji, Hai Babu ji! Apakah Tuan sedang mandi? Lihatlah sejenak suasana hati yang benar-benar kering.’

Saya sedang mandi, tetapi terdengar suara, “Lihatlah hati! Meskipun berenang dalam air, tetapi hati benar-benar kering.” Dalam keadaan seperti itu, barulah saya melompat dan melihat, ternyata suasana hati saya benar-benar kering. Saya melompat dan menciduk air ke tangan sepenuh hati tetapi kering.

Saya mengatakan, ‘Maulwi Abdullah, kenapa demikian?’ Dia menjawab, ‘Tengoklah ke sebelah timur.’ Karena saya sedang pergi (berenang) ke arah barat, ketika saya melihat ke sebelah timur, di sana ada sebuah jembatan yang sangat besar di atas sungai dan di atas jembatan tersebut terdapat rumah Mirza Sahib. Saya mengatakan, ‘Saya tidak akan pergi (berenang) ke sana, karena ada rumah Mirza.’ Lalu, Maulwi Abdullah mengatakan, ‘Pergilah, tidak apa-apa. Lalu, saya jawab, ‘Saya tidak akan pergi.’ Lalu Maulwi Abdullah menangis dan mengatakan dengan suara keras, ‘Pergilah, tidak apa-apa.’

Barulah saya berenang ke seberang timur jembatan, ketika sampai di sana, saya mendapati air yang ada rerumputannya. Dengan susah payah saya berdiri di tepi rerumputan tersebut dan mengusap seluruh badan dengan air (membersihkan diri), tetapi yang kering adalah tempat hati” — yakni, pertama-tama ketika beliau sedang berenang di sungai, maka hati itu kering, tetapi ketika mulai mengusap tubuh dengan air, beliau mengatakan bahwa tempat yang kering itu adalah hati – “Sekarang dari sana mengalir air yang mengalir seperti mata air, tidak sampai kering. Mata saya pun terbuka (bangun) dan pada hari itu saya mengambil baiat dan menjadi tenang.”[1]

Hadhrat Khairuddin Sahib ra,

Hadhrat Khairuddin (Khair Din) Sahib r.a, putra Mustaqim Sahib, yang baiat pada tahun 1906 menceritakan satu mimpinya, “Saya telah melihat satu mimpi lagi bahwa beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as) baru saja telah mengimami salat Jumat seperti telah mengimami salat ‘Id. Ada sebuah ruangan untuk menyampaikan khotbah. Beliau sedang memegang Al-Qur’an asy Syarif dan masuk ke dalam ruangan itu. Kamar tersebut berada di sebelah kanan mesjid.

Di belakang beliau ada 4 orang Sikh yang bajunya kotor dan mereka diketahui nampak bersenjata, tetapi secara lahiriah tidak kelihatan, karena senjata itu berada di dalam baju. Pada waktu itu, terbersit dalam hati saya bahwa jangan-jangan orang ini akan menyerang Hadhrat Aqdas. Tetapi, diketahui bahwa beliau as sedang membaca Al-Qur’an asy Syarif yang diletakkan di atas meja sambil duduk di atas kursi dan ke-4 orang Sikh tersebut duduk di samping beliau mendengarkan Al-Qur’an asy Syarif.

Setelah beberapa lama mereka keluar. Pada waktu itu air mata mereka berlinang. Mereka pergi dengan menggisik-gisik matanya. Saya tahu bahwa mereka menangis dan menjadi murid. Mereka mengucapkan kata-kata dalam bahasa Punjabi, “Chandah Aiwain Te Nain Nan Mangda”. Seolah-olah, mereka sudah menjadi pengikut.[1]

Hadhrat Maulwi Abdur Rahim Nayar Sahib ra

Hadhrat Maulwi Abdur Rahim Nayar Sahib ra yang telah baiat pada tahun 1901 menceritakan, “Pada tahun 1902 dalam sebuah tulisan Hudhur terdapat kata-kata ‘kenabianku’ dan ‘Kerasulanku’.”

 Yakni beliau membaca tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as yang didalamnya terdapat kata-kata, ‘kenabianku’ dan ‘kerasulanku’.

“Setelah melihat itu dalam tabiat saya muncul keraguan…” — yakni kenabian dan kerasulan kenapa tertulis begitu jelas? –

“Saya tidak berbicara selama dua-tiga hari kepada siapapun. Akhirnya pada hari ketiga saya diberi tahu melalui ilham “لا ريب فيه”. ‘laa raiba fiihii’ (tidak ada keraguan di dalamnya). Setelah itu saya pergi ke Aodh untuk urusan pekerjaan dan mendapatkan kesempatan menelaah. Dengan karunia Tuhan ada kemajuan dalam ilmu sehingga tibalah waktu ketika Allah Ta’ala menarik saya untuk pergi ke Qadian.[1]

Hadhrat Mian Abdur Rasyid Sahib ra

Hadhrat Mian Abdur Rasyid Sahib ra yang baiat pada tahun 1897 menceritakan, “Saya baiat melalui Hadhrat Walid Sahib (ayahanda) dan dikarenakan sebuah mimpi dimana saya melihat Rasulullah saw sedang berbaring di atas ranjang dan dalam kondisi sangat sakit. Hadhrat Masih Mau’ud as berdiri di depan beliau saw seperti sedang merawat seorang pasien.

Hudhur saw berdiri dari ranjang dengan bertopangkan pundak beliau as dan mulai memberikan pidato yang di dalamnya menjelaskan mengenai kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. Setelah itu saya melihat Hudhur saw sembuh dan wajah beliau berseri-seri. Saya mengartikan, kini Islam akan hidup kembali dengan perantaraan Hadhrat Sahib, karena itu saya berbaiat setelah mimpi tersebut.”[1]

Hadhrat Sayyid Zainul Abidin Waliullah Shah Sahib ra

Hadhrat Sayyid Zainul Abidin Waliullah Shah Sahib ra. Beliau baiat pada tahun 1903, dan merupakan saudara dari Hadhrat Ummi Tahir [istri Hadhrat Khalifatul Masih II ra dan ibunda dari Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rha, Khalifatul Masih IV], menceritakan bahwa, “Usia saya waktu itu antara 7 dan 8 tahun.” — yakni, perhatikanlah bagaimana pada zaman itu anak yang berusia 7 atau 8 tahun dibimbing oleh Allah Ta’ala — Saya ingat benar di rumah ada perbincangan bahwa seseorang telah mendakwakan diri sebagai Mahdi dan dia (Hadhrat Pendiri Jemaat) melihat dalam mimpi bahwa ada beberapa malaikat yang sedang menanam tanaman yang berwarna hitam sambil mengatakan, ‘Ini adalah tanaman tha’un (wabah pes) dan tha’un akan menyebar ke dunia dan ini merupakan tanda kedatanganku.’

Waktu itu kami tinggal di Ra’iyah. Bapak saya incharge Doctor (dokter kepala) rumah sakit di sana. Saya melihat sebuah mimpi seseorang datang ke rumah dan memberitahukan bahwa kakek sedang menuju kemari. Oleh karena itu, kami berlari keluar menyambutnya. Apa yang saya lihat di sebelah timur dinding rumah sakit? Kakek sedang menunggang kuda dengan memakai sorban hijau dan berwajah ceria. Berwarna kulit gandum dan putih serta berjenggot putih. Matahari pada saat itu sedang naik. Beliau berkata kepada saya, “Saya datang kepada engkau untuk mengajarkan Al-Qur’an.”

 Pada hari-hari itu saya melihat mimpi ada sebuah mesjid Ra’iyah dan di dinding pintunya bertuliskan “لا إله إلا الله محمد رسول الله” ‘Laa Ilaaha illaLLaahu Muhammadur Rasulullah’. Tetapi sejauh yang saya ingat, kata-katanya (tulisannya) samar-samar. Lalu Imamuz Zaman (Imam Zaman) datang. Beliau masuk mesjid. (Perawi melihat pemandangan di pintu yang bertuliskan Laa Ilaaha illaLLaahu Muhammadur Rasulullah yang tulisannya samar-samar. Setelah itu ia melihat Hadhrat Masih Mau’ud as datang dan masuk kedalam mesjid). Saya pun pergi menyertainya. Shaf-shaf mesjid bengkok, lalu beliau as meluruskan shaf-shaf tersebut.

Saat itu kami belum menjadi Ahmadi. Sedang ramai diperbincangkan bahwa orang-orang Islam telah sangat rusak dan akhir abad ke-13 telah datang, dan sekarang adalah masa datangnya Hadhrat Imam Mahdi dan setelah itu Hadhrat Isa akan datang.”

Gambaran atau pandangan umum orang-orang Islam adalah Isa dan Mahdi adalah dua orang yang berbeda.

Selanjutnya beliau mengatakan, “Hal ini yang sedang diperbincangkan. Karena itu Hadhrat Walidah Sahibah (ibunda yang mulia) menceritakan tentang kedatangan Mahdi dan Isa dengan senang hati bahwa masa itu sudah dekat. Beliau menjelaskan juga bahwa terjadinya gerhana bulan dan matahari adalah khusus untuk masa Hadhrat Mahdi dan kedua gerhana itu telah terjadi juga.”

 Selanjutnya beliau menulis, “Mungkin mimpi-mimpi ini nampak pada masa kanak-kanak di bawah pengaruh ucapan-ucapan [perbincangan yang ramai dibicarakan], akan tetapi peristiwa-peristiwa yang terjadi memberitahukan bahwa kedatangan Mahdi dan Isa sedang ramai diperbincangkan dan mimpi-mimpi selalu hadir baik kepada orang-orang kecil maupun orang dewasa.” — yakni angin-angin samawi berhembus dari Allah Ta’ala sehingga mimpi-mimpi sama-sama didapatkan kepada semua orang, baik kecil maupun besar (anak-anak dan dewasa) – “berisi info samawi tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.”

Oleh karena itu, seluruh keluarga Hadhrat Sayyid Dr. Abdus Sattar Shah Sahib menjadi Ahmadi dan sangat maju dalam keikhlasan dan kesetiaan.[1]

Hadhrat Munsyi Qadhi Mahbub Alam Sahib ra

Hadhrat Munsyi Qadhi Mahbub Alam Sahib ra yang baiat pada tahun 1898 menceritakan; “Hudhur as bersabda kepada saya [ketika saya berkunjung ke Qadian]: ‘Pergilah bersama Hamid Ali ke Guest House dan nanti akan berjumpa dengan saya pada waktu Dhuhur.’

 Ketika saya pergi ke Guest House, saya makan di sana dan istirahat sejenak. Adzan Zhuhur sudah dikumandangkan. Pertama-tama, Hamid Ali Sahib berkata kepada saya, ‘Pergilah dan duduklah di shaf (barisan) pertama.’ Oleh karena itu, saya duduk di shaf pertama di awal waktu sesuai instruksi tersebut.

Hudhur datang, shalat dilaksanakan. Setelah shalat Hudhur mengajak bicara kepada saya dan bersabda, ‘Bilakah tuan akan pulang lagi?’ Saya katakan: ‘Hudhur! Saya akan tinggal 1 atau 2 hari lagi di sini.’ Hudhur bersabda, ‘Sebaiknya tinggal minimal 3 hari lagi.’ Pada hari kedua waktu Zhuhur saya ingin baiat. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Belum saatnya. Tinggallah di sini agak lama lagi.’ Beliau as mengetahui kondisi kami. Setelah itu, kami mengambil baiat. Tetapi pada malam pertama saya melihat mimpi di Darul Dhiafat.”

Ini merupakan bimbingan dari Allah Ta’ala melalui mimpi tersebut. Orang-orang ghair Ahmadi atau sebagian orang berpikir dan mengatakan bahwa orang-orang ingin baiat tanpa berpikir matang. Padahal Hadhrat Masih Mau’ud as selalu mengambil baiat dengan sangat santai (tidak tergesa-gesa). Beliau as mengambil baiat sesuai kondisi setiap orang, ketika orang tersebut sudah merasa puas [yakin akan kebenaran baiatnya].

Selanjutnya beliau mengatakan, “Saya melihat dalam mimpi dari langit turun sebuah cahaya dan masuk ke dalam salah satu telinga saya lalu melewati seluruh badan dan mengarah ke langit” — yakni, tidak keluar begitu saja, melainkan setelah nur ini masuk dan melewati seluruh badan, lalu keluar dari arah lain dan langsung naik ke langit – “Lalu datang cahaya dari satu sisi dan di dalamnya terdapat berbagai macam warna, seperti hijau, merah dan biru, sampai-sampai tidak dapat dihitung. Nur itu seperti pelangi dan diketahui bahwa seluruh dunia menjadi terang dan di dalamnya terdapat banyak kesenangan dan ketenangan, sehingga saya tidak dapat menjelaskannya.

Ketika saya bangun pagi, saya tahu bahwa maksud dari mimpi itu adalah saya akan mendapatkan banyak bagian dari berkah-berkah samawi dan saya sebaiknya mengambil baiat. Berdasarkan pada mimpi tersebut, saya hendak baiat kepada Hadhrat Sahib pada waktu Zhuhur di hari yang lain.

 Tetapi Hudhur tidak setuju dan beliau menetapkan syarat tiga hari. Oleh karena itu, pada hari ketiga di waktu Zhuhur saya memohon: ‘Hudhur! Saya merasa lapang dada dan terimalah baiat saya demi Allah. Oleh karena itu, Hudhur menerima baiat saya dan saya minta izin langsung pulang ke Lahore.’”[1]

 

Hadhrat Munshi Mahbub Alam Sahib ra

Hadhrat Munshi Mahbub Alam Sahib ra, (baiat pada tahun 1898-sebelumnya juga sudah ada diceritakan riwayat beliau), menceritakan, “Di Lahore ada seorang pengacara yang bernama Karim Bakhs. Beliau biasa mengeluarkan cacian yang sangat keji kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Suatu hari ketika sedang ada debat, dia mengatakan, ‘Siapa yang mengatakan Masih (Isa) sudah wafat?’ Saya menjawab: ‘Saya buktikan bahwa Masih sudah wafat.’ Tiba-tiba dia menampar saya dengan sangat keras. Oleh karena itu, saya hilang kendali dan terjatuh (yakni, keadaan tidak sadar).

Saya pergi dari sana. Malam berikutnya saya melihat dalam mimpi Karim Bakhs sedang berada di atas sebuah ranjang yang patah dan di bawah ranjangnya ada sebuah lubang. Dia jatuh ke dalamnya dan dalam keadaan sangat tidak berdaya.

Pagi harinya saya bangun dan pergi ke hadapannya dan berkata, ‘Saya diberitahu dalam mimpi bahwa engkau akan terhina.’

Oleh karena itu, setelah beberapa lama, seorang anak perempuannya yang sudah menjanda hamil dengan tidak semestinya [di luar nikah]. Dia berupaya untuk menggugurkan janin tersebut. Tetapi, anak perempuan dan janinnya mengalami kematian. Ketika polisi mengetahui dilakukanlah penyelidikan yang membuat ratusan rupiah lenyap dan kehormatan pun hancur.

Dia tidak keluar rumah karena menanggung malu. Ketika saya tahu, saya pergi ke rumahnya dan memanggilnya. Dia keluar. Saya mengatakan, ‘Engkau telah merasakan akibat menentang atau menghinakan Hadhrat Masih Mau’ud as.’ Dia mencaci saya dan masuk ke dalam rumah dengan malu (yakni, sedikit pun tidak terpengaruh) dan tidak pernah datang kepada saya lagi.”[1]

Peristiwa-peristiwa semacam ini sekarang pun masih terjadi. Kezaliman-kezaliman yang terjadi di Pakistan selalu disertai dengan peristiwa-peristiwa [penghukuman] semacam ini. Hal ini tidak diceritakan di sini karena ada beberapa sebab, yaitu karena berkaitan dengan keadaan di sana supaya para Ahmadi [yang sudah ditekan] tidak tambah dipersempit (dibuat lebih kesusahan) lagi. Namun demikian, di Pakistan, Allah Ta’ala senantiasa membalas orang-orang yang menghina Hadhrat Masih Mau’ud as.

Orang-orang menulis surat kepada saya menceritakan banyak peristiwa mengenai bagaimana Allah Ta’ala merenggut para penentang dan bagaimana Allah Ta’ala mengatur atau membuat sarana bagi kehinaan dan kenistaan mereka.

Tetapi ketika waktunya sudah tepat maka itu akan diceritakan. Namun dengan karunia Allah Ta’ala, setelah melihatnya keimanan orang-orang di daerah tersebut tetap meningkat.

 

Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki Sahib ra

Riwayat Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki Sahib ra. Beliau baiat pada tahun 1897 dengan perantaraan surat dan berkunjung 2 tahun setelahnya. Beliau mengatakan, “Pada tahun 1897 Maulwi Imamuddin Sahib suatu kali pergi ke Qadian sebelum saya, tetapi datang membawa pikiran-pikiran menentang” – (yakni memang pergi ke Qadian, tetapi tidak baiat dan tidak hanya tidak baiat, bahkan lebih lagi dalam menentang).

“Namun, ketika saya melihat mimpi berulang kali dan saya melihat dalam mimpi itu bahwa Rasulullah saw datang ke Qadian, maka beliau (Imamuddin Sahib) menjadi terkesan. Kami berdua pergi melakukan baiat pada tahun 1899. Ketika kami sampai di depan mesjid Mubarak, Maulwi Sahib berada paling depan di anak tangga dan saya berada di belakang. Saya pernah mendengar perkataan bahwa mengunjungi orang-orang suci hendaknya tidak tangan kosong [melainkan membawakan hadiah].

Saya berdiri di anak tangga belakang dan mengeluarkan uang dari saku. Maulwi Sahib mendahului bertemu dengan Hadhrat Sahib. Hadhrat Sahib berkata kepada Maulwi Sahib, ‘Tolong panggil anak laki-laki yang berada di belakang tuan!’. Ketika saya hadir, seraya memandang kemuliaan Hudhur as, saya bersin. Hadhrat Sahib berulang kali mengusap punggung saya dan menghibur saya, tetapi saya malahan menangis.”[1]

 Hal itu karena mimpi-mimpi itu masih teringat oleh beliau, bagaimana beliau melihat Rasulullah saw berada di Qadian; dan pada waktu itu demikianlah kondisi beliau kala melihat langsung pribadi Hadhrat Masih Mau’ud as.

Hadhrat Choudry Ahmad Din Sahib ra

Hadhrat Choudry Ahmad Din Sahib ra (baiat kira-kira pada tahun 1905) menceritakan, “Di Rawalpindi, sebelum melihat buku-buku, saya melihat sebuah mimpi — (yakni, sebelum menelaah buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s) – Saya melihat seolah-olah saya berada di taman Hadhrat Data Ganj Bakhs Sahib, dan saya pada waktu itu menganggap bahwa ini adalah taman Rasulullah saw yang dikelilingi pagar berlapiskan perak.

Di tangan seseorang ada sebuah kalung bebungaan. Dia menjulurkan kedua tangannya dari atas sebuah kuburan hingga ke bawahnya. Kalung bebungaan yang berada di tangannya tersebut diletakkannya di bawah jasad Rasulullah saw, (yakni, meletakkan kalung bunga tersebut di bawah jasad Rasulullah saw). Sebagai akibatnya, orang yang sudah terkubur itu muncul (keluar) dalam bentuk jasmani seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dan pertama-tama beliau memeluk saya. Rupa anak laki-laki itu serupa dengan Hadhrat Mirza Sahib. Saya pada waktu itu berpikir bahwa bagaimana Rasulullah saw dapat hidup kembali ke dunia? Bukankah itu bertentangan dengan janji Tuhan? Pada waktu itu pula terpikir oleh saya bahwa Mirza Sahib yang mendakwakan diri sebagai buruz (bayangan) Muhammad saw. Maka peristiwa ini tidak terjadi. Sementara itu, saya kemudian terbangun. Dengan mimpi tersebut, saya menjadi terkesan berkenaan dengan kebenaran Hadhrat Sahib.”[1]

Hadhrat Mahar Ghulam Hasan Sahib ra

Hadhrat Mahar Ghulam Hasan Sahib ra (baiat pada tahun 1898 atau 1899) menceritakan, “Setahun sebelum baiat, saya melihat sebuah mimpi.

Pada waktu itu, kami adalah penganut mazhab Chakralwi. Sebelumnya, kami adalah golongan Ahli Hadits. Seorang Ahmadi datang ke perkampungan kami. Kami melarangnya mengerjakan shalat di mesjid dan mengambil air dari sumurnya. Hal demikian karena kami menganggapnya telah keluar dari koridor Islam.

Saya melihat dalam mimpi bahwa di sebelah barat sumur kami ada sebuah ruangan para Pendeta Amerika. Saya melihat di sebelah baratnya ada sebuah jalan. Di jalan seseorang [tua] berdiri sedang menerbangkan layang-layang. Saya melihat orang itu dan kepada orang ini (dua orang). Pada saat itu saya melihat dalam ruangan [para Pendeta Amerika] itu terdapat papan yang terhias. Di atasnya duduk seorang tampan yang sedang meniup terompet dan sedang mengibarkan papan itu di udara.

Orang tua yang sedang menerbangkan layang-layang itu menerbangkan layang-layang ke arah anak laki-laki itu, sehingga layang-layang itu menempel pada kepala anak laki-laki tersebut. Melekat padanya sehingga timbul asap. Tidak ada papan, tidak ada anak laki-laki itu. Semuanya menjadi asap. Pertama-tama, wajah anak laki-laki menjadi hitam, lalu berubah menjadi asap. Tetapi layang-layangnya tidak rusak. Lalu saya pergi ke mesjid Kabutra dan memperdengarkan mimpi tersebut kepada Maulwi Faiz Din Sahib. Tetapi beliau mengatakan bahwa ini hanya angan-angan belaka. Biarkan itu hilang begitu saja.”

Kemudian, beliau menceritakan mimpi yang lain, “Saya melihat dalam mimpi bahwa kami berdua, saya dan saudara saya sedang pergi ke pasar. Semua penduduk desa adalah orang-orang Hindu. Kami mendengar ada seorang laki-laki sedang membaca Al-Qur’an. Ketika kami pulang dia tetap saja membaca Al-Qur’an. Saya berpikir dalam hati bahwa orang ini adalah Muslim sejati yang kuat keimanannya dan orang yang tak kenal takut yang sedang membaca Al-Qur’an di desa orang-orang Hindu.

Tatkala saya melihat rupa Hadhrat Sahib setelah saya baiat, maka saya pun tahu bahwa beliaulah orangnya yang saya lihat dalam mimpi pertama sedang menerbangkan layang-layang, dan beliaulah orangnya yang juga sedang membaca Al-Qur’an di desa orang-orang Hindu di mimpi yang kedua (yakni, dalam dua mimpi itu orangnya tetap satu).””[1]

Hadhrat Mahar Ghulam Hasan Sahib ra selanjutnya menceritakan, “Suatu kali saya pergi ke Qadian. Hadhrat Sahib bersabda, ‘Tolong beritahukan bagaimana kondisi tha’un (wabah pes) di Sialkot?’ Saya menceritakan kondisinya. Bersamaan dengan itu saya juga menceritakan sebuah mimpi: ‘Ya Hadhrat, saya melihat bahwa aparat kepolisian yang bersenjata berdiri di rumah kami.’ Hadhrat Sahib bersabda, “Rumah tuan akan selamat dari tha’un. Semoga Allah menjaganya.”[1]

Hadhrat Syeikh Ata Muhammad Sahib ra

Hadhrat Syeikh Ata Muhammad Sahib ra menceritakan, “Saya datang ke Qadian setelah kelahiran anak saya, Abdul Haq dan dalam keadaan mimpi di mesjid Mubarak saya melihat Hudhur sedang berjalan-jalan di mesjid tersebut. Di dalam di masjid ada sebuah kotak. Beliau mencatatkan nama saya dalam sebuah buku dengan tinta merah dan bersabda, ‘Katakan kepada Babu Fatah Din bahwa pada tanggal 13 Desember sekarang tidak akan diadakan Jalsah.’

Mesjid ini pada waktu itu tidak begitu luas. Saya melihat dalam mimpi bahwa ada tujuh orang pemungut pajak pertanian sedang duduk di pintu mesjid Mubarak. Dari antara ketujuh orang tersebut, Hudhur hanya memanggil saya saja. Atas pertanyaan tentang ta’bir mimpi tersebut, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa semua pemungut pajak itu akan menjadi Ahmadi.”[1]

Hadhrat Malik Ghulam Husein Muhajir Sahib ra

Hadhrat Malik Ghulam Husein Muhajir Sahib ra (baiat pada tahun 1891) menceritakan, “Di Rahtas kami biasa mendengarkan pembacaan buku-buku oleh saudara kami, Munshi Gulab Din, tentang martsiyah (buku-buku berbagai macam untuk memuliakan imam-imam, seperti Husain dan lain-lain), qasidah-qasidah dan yang lainnya. Karena kami adalah dari golongan Syiah Ghulat. Kami biasa menyelenggarakan tradisi matam (duka cita mengenang kewafatan atau kesyahidan imam-imam) dan tradisi lainnya. Kami biasa membaca Mir’atul ‘Asyiqin dan lain-lain. Terkadang kami biasa memperdengarkan perkataan-perkataan Imam Ghazali, Syeikh [Fariduddin] Ath-thar dan lain-lain.

Suatu hari beliau (Munshi Gulab Din) mengatakan, ‘Seandainya seorang penulis seperti Imam Ghazali (pengarang Sirajul Salikin) lahir hari ini, meskipun kita harus berjalan kaki seratus, dua ratus atau empat ratus mil, kita pasti akan pergi menemuinya.’

Secara kebetulan dari sini (yakni, dari Qadian) dua risalah Taudhih-e-Maram dan Fath-e-Islam sampai ke sana. Selebaran ini dibawa oleh Baba Qutbuddin dari Malerkotla.”

 Beliau bermimpi pergi ke Sialkot dan di sana bertemu dengan Hadhrat Sahib sehingga membulatkan tekadnya untuk segera pergi ke sana. Beliau melihat Hudhur dan pakaian beliau as seperti halnya yang beliau saksikan dalam mimpi.

Beliau membawa kedua buku tersebut. Akhirnya, beliau (Baba Qutbuddin dari Malerkotla) bertemu dengan Munshi Gulab Din dan memberikan buku-buku itu seraya berkata, ‘Saya harus pergi berkunjung ke putri saya. Tuan lihat buku-buku ini dalam waktu 1, 2 hari’ – (yakni, buku-buku ini diberikan kepada beliau lantas berkata, ‘Saya harus melakukan perjalanan selanjutnya, dua atau tiga hari. Tuan lihat buku-buku ini!’) Dua buku itu dibacakan kepada kami oleh Munshi Sahib dan berkata, ‘Tulisan ini melebihi tulisan Syekh Aththar, Imam Ghazali dan yang lainnya.’ Dulu beliau biasa membaca buku-buku mereka, ketika beliau-beliau membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as beliau mengatakan ‘Tulisan ini lebih unggul dari buku-buku beliau-beliau.’”

Selanjutnya beliau bercerita, “Pada hari-hari itu selebaran bai’at diberikan oleh Hudhur. Saya (yakni, Periwayat) dan Munshi Gulab Din Sahib serta Mian Allah Data ketiganya menulis surat bai’at pada waktu itu. Ini kira-kira tahun 1891.

Setelah mereka mendengar risalah-risalah itu, saya berkata, ‘Kalian berjanji jika bertemu dengan orang semacam ini, meskipun kita harus pergi 400 mil kita akan pergi. Kini kita telah baiat dan mendekati Jalsah Salanah 1892 selebaran telah diterbitkan. Ayo kita berkunjung dan menyaksikan jalsah.’

Pendek kata, kami bertiga membulatkan tekad. Saya biasa berjualan di sebuah tempat yang jaraknya 5 atau 6 mil. Diputuskan bahwa kami akan pergi besok lusa. Tetapi mereka ternyata telah pergi sampai [ke stasiun] sebelum sampainya saya ke sana.“ Di sana ada sebuah stasiun Kiryala; mereka pergi ke stasiun Kiryala.

Perawi mengatakan bahwa, “Saya naik dari Jhelum. Kami bertiga berkumpul di Kiryala. Hari berikutnya kami sampai di Lahore. Kami makan roti dari sebuah warung tukang roti. Orang-orang mengatakan bahwa kereta api akan berangkat jam 6 sore. Oleh karena itu, kami bertamasya dulu ke museum, kebun binatang dan lain-lain.

Sore hari, kami sampai di stasiun dan mendapatkan tiket ke Batala. Pukul 00.00 kami sampai di sebuah penginapan Batala. Tidak ada ranjang dan di sana sangat kotor. Kami tidak nyaman tinggal di sana. Di kota [Batala itu], kami sampai di sebuah mesjid. Kami bermalam di mesjid itu. Memang kuasa Tuhan, mesjid itu adalah milik Maulwi Muhammad Husein Batalwi.

Ketika kami duduk setelah mengerjakan shalat Subuh, maka Maulwi Muhammad Husein Batalwi bertanya, ‘Tamu dari mana?’ Kami berkata kepada Munshi Gulabuddin Sahib, ‘Tuan terpelajar dan kenal Maulwi ini. Tuan bicaralah.’ Oleh karena itu, beliau mengatakan, ‘Kami datang dari Rahtas Distrik Jhelum.’ Maulwi Sahib menganggap kami tamu dan menyuguhkan jus tebu.

Kemudian (Maulwi Muhammad Husein Batalwi) bertanya, ‘Tuan mau pergi kemana?’ Munshi Sahib berkata, ‘Qadian.’ Maulwi Sahib berkata, ‘Ada pekerjaan apa ke sana?’ Munshi Sahib mengatakan, ‘Mirza Sahib telah mendakwakan diri dan mengumumkan perihal Jalsah.’ Ada satu hal yang tertinggal. Ketika Munshi Sahib memperdengarkan majalah di Rahtas, maka Bhaiullah Datta Teli Sahib mengatakan: ‘Mirza Sahib mengatakan bahwa “Masih (Isa) sudah wafat dan aku adalah Masih yang akan datang.” Ini bukanlah perkataan yang sepele dan orang yang telah mengatakan demikian bukanlah orang biasa yang telah menyingkap suatu kesalahan besar sedemikian rupa sejak dari 13 abad silam.’

Beliau mengatakan, “Kami sedang berbicara dengan Maulwi Muhammad Husein Sahib. Ia mengatakan, ‘Kalian telah kehilangan akal. Jika Mirza benar, lalu mengapa kami tidak pergi? (kenapa aku pergi tanpa baiat?) Jadi, pulanglah kalian.’

Maulwi Sahib berkata, ‘Mirza Sahib ialah salah satu kenalan saya. Saya benar-benar mengetahui siapa beliau. Ia membuka sebuah toko yang tidak pernah mendapatkan keuntungan/laba. Buat apa tanpa sebab kalian menghancurkan uang kalian? Apa faedahnya pergi ke hadapannya?’

Mendengar hal ini, teman-teman saya langsung terdiam. Saya katakan kepadanya (Maulwi Husain Batalwi): ‘Uang yang kami habiskan, itu telah dibelanjakan. Kini, kami harus pergi dan bila telah melihat beliau maka akan pulang lagi.’ Akhirnya, kami memintakan roti dan kami pun memakannya dan setelah itu kami jalan kaki.

Ketika sampai di Qadian, Jalsah sudah dimulai. Yang hadir sekitar antara 25 dan 30 orang.[2] Jalsah dilakukan di tempat berbentuk persegi. Ada sebuah papan tertutup dan beberapa shaf (barisan). Untuk makan, disiapkan nasi kebuli, nasi kuning dan roti capati. Kami pun memakannya. Dr. Abdul Hakim Sahib menyediakan kasur dan tempat akomodasi. Beliau juga memberitahu kami tempat tersebut. Kami makan pagi-pagi sekali dan ikut serta dalam Jalsah pukul 10.00. Hadhrat Sahib datang. Hudhur biasa mengenakan topi Romawi pada kepala beliau dan di atasnya diikatkan sorban dan topi tersebut nampak dari sorban. Ketika Hudhur berdiri di atas mimbar, maka saya mengatakan, ‘Lihatlah! Wajah yang begitu tampan dan berseri-seri nampak di hadapan kita. Jika kita mengikuti ucapan-ucapan Maulwi Muhammad Husein, maka kita tidak akan beruntung.’”[1]

Hakim Abdus Somad Sahib

Hakim Abdus Somad Sahib menceritakan perihal mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as (beliau baiat pada tahun 1905): “Hadhrat Sahib bersabda dalam sebuah pidato, ‘Allah Ta’ala telah mengutusku sebagai Masih Mau’ud” dan bersabda, “Orang-orang yang tidak dapat membuat keputusan tentang diriku karena kekurang-tahuannya, mereka harus sering membaca doa yang Allah Ta’ala beritahukan dalam shalat 5 waktu mereka, yaitu: اِهْدِنَا الصِّرَاطَ اْلمسْتَقِيْمَ.صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ Mereka harus sering membaca doa ini setiap waktu, saat berjalan, saat duduk, bahkan saat berdiri sekalipun. Maksimal sampai 40 hari, Allah Ta’ala akan menampakkan kebenaran kepada mereka.’

Saya memulainya dari hari itu juga. Sebelum lewat 1 minggu, kebenaran sudah terbuka kepada saya. Saya melihat (dalam mimpi) bahwa saya sedang berada di mesjid blok Hamid. Hadhrat Masih Mau’ud as datang ke sana. Saya hendak melangkah untuk bermushafahah (bersalaman) dengan Hadhrat Sahib. Tiba-tiba seorang Maulwi buta melarangku. Di sisi lain, saya ingin melangkah, tetapi dari sana juga dia melarangku. Lalu, ketiga kalinya saya melangkah maju hendak bermushafahah, dia melarangku lagi. Barulah saya marah dan mengangkat tangan untuk memukulnya.

Hadhrat Sahib bersabda, ‘Tidak, jangan marah, jangan pukul.’ (beliau menceritakan mimpi). Saya memohon, ‘Hudhur! Saya ingin bermushafahah dengan Hudhur dan orang ini menghalangiku.’ Sementara itu, mataku terbuka (bangun tidur).

Pada waktu pagi, saya menceritakan peristiwa ini kepada Mir Qasim Ali Sahib, Maulwi Mahbub Ahmad Sahib dan Mistry Qadir Bakhs Sahib. Mir Sahib mengatakan, ‘Tulislah surat kepada beliau.’ Saya menulisnya. Beliau mengatakan, ‘Tulislah di bawahnya bahwa saya menetapkan mimpi ini sebagai sarana baiat ke hadapan Hudhur.’ Saya menulisnya. Maulwi Mahbub Ahmad Sahib yang masih ghair Ahmadi mengatakan, ‘Engkau harus tahu juga kondisi bapak engkau. Beliau tidak akan membiarkan engkau tinggal di rumahnya walaupun hanya 1 jam.’ Saya mengatakan, ‘Saya tidak pedulikan beliau.’

Pendeknya, Hadhrat Sahib menyetujui baiat dan menulis kepada saya, ‘Baiat engkau sudah diterima. Jika kepada engkau menimpa segunung cacian, janganlah memandangnya.’[1]

Walhasil, inilah beberapa peristiwa yang telah saya sampaikan pada saat sekarang ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada anak keturunan para sesepuh tersebut untuk tetap terikat kepada Jemaat dengan setia dan juga memberikan taufik kepada setiap orang di antara kita untuk tetap maju dalam keimanan dan keyakinannya.

Jalsah Qadian

Akhir-akhir ini, sedang ada persiapan-persiapan Jalsah di Qadian. Mulai hari besok, Insya Allah Ta’ala, akan dimulai Jalsah di sana. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala, semoga Allah Ta’ala memberkahi Jalsah dari segala segi dan siapa pun yang ikut serta, mereka berupaya mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari Jalsah tersebut. Banyak sekali tamu yang datang dari seluruh dunia. Saat ini, di sana kira-kira sudah ada 21 atau 22 perwakilan negara-negara. Saya katakan juga kepada mereka bahwa mereka yang pergi untuk maksud Jalsah tersebut, harus memenuhinya, menghabiskan waktunya dalam berdoa. Jika mereka mendapatkan peluang (kesempatan), maka mereka harus berdoa di tempat suci, dimana Hadhrat Masih Mau’ud as biasa memanjatkan doa-doa dan harus lebih banyak lagi berdoa demi kemajuan Jemaat, memanjatkan doa khusus untuk menyelamatkan diri dari para musuh. Di sana hendaknya doa-doa yang paling banyak dipanjatkan adalah berkenaan dengan Ahmadiyah.

Demikian pula, panjatkanlah doa-doa bagi umat Islam. Semoga Allah Ta’ala membimbing mereka pada jalan lurus, memberikan hidayah kepada mereka dan memberikan taufik kepada mereka untuk mengakui Imam Zaman. Begitu pula, akhir-akhir ini kondisi negara-negara Muslim, khususnya negara Timur Tengah dan Syria sangat hancur. Para Ahmadi di sana menulis bahwa kondisinya demikian hancur sehingga tidak dapat dibayangkan sedikit pun.

Kita berdoa secara umum bagi semua orang tersebut dan khususnya bagi para Ahmadi, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari segala cara, segala kejahatan, segala penderitaan dan kegelisahan. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan pemahaman kepada para pemimpin pemerintahan dan kepada masyarakat biasa yang sedang saling berperang, semoga mereka dapat memecahkan masalahnya dengan maslahat dan pemahaman, bukannya peperangan.

Orang-orang yang menyukai kekerasan dan yang memusuhi Islam sedang berupaya mengambil keuntungan dari kondisi tersebut dan dengan faktor inilah kondisi tersebut kian memburuk. Semoga Allah Ta’ala mengakhiri kedua kelompok tersebut, supaya rencana-rencana busuk orang-orang tersebut untuk menodai Islam atau rencana-rencana salah yang dilakukan oleh para simpatisan Islam atas nama Islam, semuanya menjadi gagal dan corak Islam yang indah yang sedang dikemukakan oleh Jemaat Ahmadiyah ke dunia menjadi terang dan bersih.

Semoga Allah Ta’ala memberkahi niat, iradah dan upaya-upaya kita dan kita menyaksikan seluruh dunia berada di bawah panji Rasulullah saw. Oleh karena itu, saya katakan kepada orang-orang yang di sana, yang sedang pergi untuk Jalsah bahwa secara khusus panjatkanlah doa-doa tersebut dalam hari-hari Jalsah.

Shalat jenazah: Prof. Basyir Ahmad Choudry Sahib

Selain itu, setelah shalat Jumat, saya akan menyalatjenazahkan 3 orang. Jenazah pertama adalah Prof. Basyir Ahmad Choudry Sahib. Beliau adalah putra dari Mukarram Choudry Siraj Din Sahib Lahore. Beliau wafat pada tanggal 2 Nopember dalam usia 68 tahun setelah sakit beberapa hari. Innaa liLLaahi wa innaa ilahi raaji’uun.

 Pada peristiwa Lahore tanggal 28 Mei 2010, beliau sedang berada di mesjid Nur Moddle Town, dimana beberapa peluru mengenai tubuh beliau. Beliau terluka cukup parah. Lengan kanan, kaki kiri dan punggung beliau terkena tembakan. Sampai 1 tahun lebih, beliau terus menerus menjalani pengobatan lewat dokter medis. Beliau menanggung penderitaan tubuh dan mental. Tetapi, meskipun dalam keadaan sakit, beliau menghabiskan waktu yang sangat lama dengan sabar, semangat dan berani dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata mengeluh. Beliau memang sudah mampu berjalan, tapi pada bulan sebelumnya beliau wafat.

Pendek kata, ini merupakan takdir Allah Ta’ala. Beliau sangat disiplin shalat 5 waktu, pecinta Alquranul Karim dan berkarakter rendah hati. Beliau selalu siap dalam tugas-tugas Jemaat dan sangat mencintai Khilafat. Beliau mendapat gelar M.A dalam bidang bahasa Inggris dan Ekonomi. Beliau pernah menjabat sebagai guru bahasa Inggris di Punjab University dan pernah menjabat sebagai Advisor juga dalam lembaga tersebut. Sebelumnya, beliau menjadi Prof. bahasa Inggris di FC College. Beliau mengarang 6 buku bahasa Inggris yang diajarkan di sekolah-sekolah di sana. Beliau adalah seorang penyair bahasa Inggris. Pada level distrik, beliau mendapat taufik untuk berkhidmat dalam bidang Waqf-e-Nou dan Ta’lim.

Di Gilberg, rumah beliau menjadi tempat shalat sampai 20 tahun. Beliau selalu ikut ambil bagian dalam pembayaran candah dan gerakan-gerakan yang lainnya. Selain meninggalkan istri, beliau juga meninggalkan 5 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesabaran dan ketabahan kepada semua dan meninggikan derajat beliau.

Babar Ali Sahib

 Jenazah kedua adalah Babar Ali Sahib yang wafat pada usia 30 tahun dalam sebuah kejadian tanggal 17 Desember 2012. Innaa liLLaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Ini merupakan salah satu bentuk mati syahid. Beliau sedang mengunjungi sebuah Jemaat dengan mengendarai sepeda motor bersama circle incharge beliau. Semuanya terjadi selama tugas Jemaat. Oleh karena itu, beliau juga mendapat gelar syahid.

Kira-kira pukul 19.00 sore hari, beliau pulang setelah menyelasaikan kunjungan. Karena musim dingin, di sana diselimuti awan dan jalannya kecil. Tiba-tiba sepeda motor beliau menabrak sebuah traktor yang datang dari arah yang berlawanan. Karena kejadian itu, beliau dan Syeikh Abdul Qadir Sahib kedua-duanya terluka cukup parah. Kejadian itu terjadi di tempat yang tidak ramai. Orang-orang melihatnya setelah beberapa lama. Kemudian dilaporkan kepada polisi dan dilarikan ke rumah sakit. Tetapi, Babar Ali Sahib (mualim) yang mengendarai sepeda motor, beliau terluka cukup parah pada lengan kanan dan dada beliau yang menyebabkan beliau wafat di jalan karena tidak dapat menahan luka tersebut. Innaa liLLah.

Almarhum adalah orang berfitrat sangat baik, pekerja keras, taat, setia dan seorang wakif zindegi. Beliau selalu bekerja memasang pemancar-pemancar baru MTA dengan senang hati dan kerja keras. Ayahanda beliau wafat ketika beliau masih kanak-kanak. Beliau meninggalkan seorang ibu yang sudah tua-renta dan saudari yang sudah menikah.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesabaran dan ketabahan kepada ibunda beliau. Almarhum adalah seorang mushi. Beliau dimakamkan di Bahesyti Maqbarah Qadian. Abdul Qadir juga terluka. Kita doakan beliau, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesembuhan yang segera dan seperti sedia kala kepada beliau.

Wabinah Nusrat Zafar Sahibah

Jenazah ketiga adalah Wabinah Nusrat Zafar Sahibah yang merupakan istri dari Mukarram Mirza Zafar Ahmad Sahib (syahid Lahore). Beliau wafat pada tanggal 3 Desember karena terserang penyakit kanker kira-kira 2 tahun. Innaa liLLaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Suami beliau disyahidkan pada tanggal 28 Mei di Darudz Dzikr Lahore. Beliau tanggung semua kesedihan ini dengan penuh ketabahan dan sabar. Ketika jenazah suami beliau dibawa ke rumah, maka kata-kata yang terucap oleh lidah beliau, ‘jangan tangisi kesyahidannya’. Beliau melarang setiap orang yang menangis. ‘Selalu-lah ridha terhadap keridhaan Allah Ta’ala’, ini selalu beliau ucapkan. Beliau berlinang air mata, tetapi almarhumah selalu tabah, semangat dan menghibur serta menyemangati semua orang rumah.

Beliau cukup lama tinggal di Siera Leone bersama ayahanda beliau. Setelah menikah, suami beliau pergi ke Jepang pada tahun 1988. Beliau juga ikut pergi. Di sana beliau berkhidmat sebagai Sekretaris Islah-o-Irsyad di sadr Lajnah Tokyo dan Majelis Amilah Nasional. Beliau ikut berpartisipasi dalam beberapa program tabligh. Beliau selalu meningkat dalam pengorbanan harta. Beliau menyerahkan perhiasan kepada Jemaat. Pada tahun 2004, mereka kembali dari Jepang, maka di sini (Pakistan) beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat di Lajnah dengan cukup lama.

Beliau adalah Naib Sekretaris Tahrik Jadid Qiyadat Baitun Nur dan Sadr Halqah Town Lahore. Beliau menjalin ikatan setia dengan Khilafat. Beliau selalu mendengarkan khotbah-khotbah melalui MTA dan mencatat poin-poinnya dan beliau menyampaikannya pada berbagai kesempatan.

Beliau menanggung penderitaan dengan penuh kesabaran cukup lama. Beliau tidak pernah mengucapkan kata-kata keluhan. Beliau selalu mendapatkan hadiah kecil-kecilan berbentuk uang dan segera membayarkannya untuk candah. Adik kecil beliau adalah sekretaris Maal dan selalu mengatakan, ‘Kumpulkanlah candah satu kali dalam sebulan.’ Tetapi, beliau mengatakan, ‘Ketika ada penghasilan, maka saat itu pula harus membayar candah, supaya tidak ketinggalan dalam urusan Allah Ta’ala. ‘

Beliau datang ke sini pada Jalsah 2011. Beliau datang setelah terkena penyakit. Tetapi, dengan karunia Allah, beliau selalu semangat. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Beliau tidak memiliki keturunan.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2][2] Menurut Tarikh Ahmadiyyah [buku sejarah Ahmadiyah yang terdiri dari banyak jilid], peserta Jalsah pada tahun 1892 sejumlah 327 orang. Mereka (perawi diatas) baru melihat sekilas dan sedang menyaksikan tempat dimana orang-orang biasa sedang makan bukan keseluruhan tempat. [Sumber teks Urdu Khotbah ini].

(Visited 84 times, 1 visits today)