بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu Ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba) tanggal 9 Agustus 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ *

 وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ *

 وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (الأنعام: 152-154)

Khotbah Jumat hari ini adalah kelanjutan dari dua khotbah terakhir, menguraikan ayat 152-154 Surah Al-An’aam. Dua aspek yang dijelaskan hari ini berkaitan dengan membayar hak masyarakat, menghilangkan kekacauan dari masyarakat, menegakkan perdamaian dan keadilan di masyarakat, membuat hati tunduk kepada perintah-perintah Ilahi, dan memenuhi sumpah dan perjanjian, atau berkenaan ajaran Islam tentang mereka.

Keberatan yang diajukan tentang Islam dewasa ini adalah na’udzubillaah, Islam adalah, agama ekstremis yang keras. Baru-baru ini seseorang menulis di Amerika Serikat bahwa hari Jumat adalah hari kekacauan dalam Islam, dan menyampaikan banyak keberatan lain terhadap Islam. Jemaat kita mengontak penerbit yang menerbitkan artikel tersebut dan salah seorang pemuda kita menulis artikel yang bagus sebagai jawaban, menjelaskan ajaran Islam yang indah, tujuan ajaran Islam dan keberatan tentang hari Jumat dalam Islam.

Hadhrat Khalifatul Masih lebih jauh menginstruksikan kepada mereka tentang bagaimana menulis artikel mengenai hal ini. Dewasa ini hanya Jemaat Ahmadiyah yang memajukan misi pecinta sejati Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan bukan hanya membela Islam tetapi juga dengan membungkam musuh melalui akal.

Kadang-kadang Tuhan juga memberi taufik kepada orang-orang non-Muslim yang berfitrat baik untuk mengungkapkan kelebihan Islam. Baru-baru ini seorang sarjana Katolik, seorang  profesor, menulis artikel seperti itu di ‘Daily Telegraph’, memuji Islam dan umat Muslim. Dia mengkritik gerakan atheis dan nasionalis [Inggris] dan menulis bahwa umat Islam harus berusaha dan menjunjung tinggi ajaran dan tradisi mereka yang sangat baik.

Mengenai perintah-perintah Quran tentang keadilan, Al-Quran menyatakan: وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى “… Dan ketika kamu berbicara, perhatikanlah keadilan, walaupun seandainya orang yang bersangkutan adalah kerabat …”  (QS.6:153) menegakkan keadilan memiliki banyak segi, dan Al-Quran telah memberikan petunjuk rinci tentang hal itu. berkaitan dengan menegakkan keadilan terhadap orang yang dekat dan disayangi, Al-Quran menyatakan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ للهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Hai orang yang beriman! tegakkanlan keadilan, dan jadilah saksi karena Allah, meskipun terhadap diri kamu sendiri atau terhadap orang tua dan keluarga. Baik dia kaya atau miskin, Allah lebih memperhatikan mereka daripada kamu. karena itu janganlah mengikuti keinginan rendah supaya kamu dapat bertindak adil. Dan jika kamu menyembunyikan kebenaran atau menghindarinya, maka ingatlah bahwa Allah sangat mengetahui apa yang kamu lakukan. (QS.4:136).

Di sini, dijelaskan bahwa prinsip umum mengenai bersaksi adalah bahwa itu hendaknya murni demi mencari ridha Allah. Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersabda: “Teguhlah pada kebenaran dan keadilan, dan semua kesaksian kamu hendaknya demi Tuhan.”

Memang, kecuali tujuannya adalah untuk bersaksi demi Tuhan maka standar tinggi yang diperlukan tidak akan dapat dicapai. Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersabda: “Menegakkan keadilan adalah raja dari semua kemampuan. Jika kemampuan untuk menegakkan keadilan hilang dari dalam diri seseorang, ia akan diluputkan [dari kebaikan] semua kemampuan yang lain juga.”

Sifat manusia untuk bersikap adil meningkatkan kemampuan lain. Jika hal yang disebutkan dalam ayat di atas diamalkan, yaitu, seseorang bersaksi atas diri sendiri, orang tua dan orang-orang dekat dan disayangi, maka masyarakat yang indah tiada taranya akan tercipta. Bersaksi diperlukan bila ada masalah antara dua pihak sehingga hakekat masalah itu menjadi jelas dan menegakkan keadilan menjadi mudah. Namun  jika kesaksiannya dusta, bisa jadi keputusan pembuat keputusan tidak benar, bahkan keputusan yang salah dapat timbul. Dalam hal ini dosa adalah pada orang yang memberikan kesaksian palsu. Beberapa orang memberikan kesaksian yang salah untuk keuntungan orang-orang dekat dan disayangi.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa siapapun yang membuat beliau memberikan keputusan yang salah dengan memberikan pernyataan palsu, seolah-olah mengambil sepotong api dari beliau.

Ayat yang disebutkan diatas (QS.4:136) juga berlaku dalam hal-hal perselisihan perkawinan. Orang yang berusaha dan terutama mencari apa yang bukan hak mereka dengan memberi kesaksian palsu — apakah itu istri, suami atau keluarga mereka  — memfasilitasi gugurnya keadilan dan mengambil potongan api untuk diri mereka sendiri.  Allah menyatakan bahwa pihak yang berselisih dan saksi, dengan demikian menghindari hal yang adil dengan mengikuti keinginan egois mereka. Dia kemudian menyatakan: وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا “… jika kamu menyembunyikan kebenaran atau menghindarinya, maka ingatlah bahwa Allah sangat mengetahui apa yang kamu lakukan.”

Kesaksian palsu oleh seseorang bisa mengecoh pembuat keputusan dan menjadikan ketetapan hakim menguntungkan mereka dan menentang aturan-aturan keadilan, tetapi Allah Maha Mengetahui dan tidak bisa ditipu.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menarik perhatian dalam khotbah nikah mengenai mengatakan perkataan yang jelas dan lurus, supaya ketika menjalani kehidupan dan pada saat ada perbedaan pendapat, qaul sadid (kata yang benar) tidak ditinggalkan. Meninggalkannya menjauhkan seseorang dari keadilan dan kejujuran dan ini menjadi sumber kekacauan dan keributan.

Ketika masalah perkawinan, khula’[1] atau perceraian, datang ke hadapan Dewan Qadha, kadang-kadang pernyataan yang diberikan tidak didasarkan pada keadilan dan kebenaran (kenyataan yang sebenarnya). Demikian pula, untuk keuntungan sementara, beberapa orang meninggalkan ketakwaan dalam urusan bisnis dan dengan demikian memperoleh potongan api.

Hadits yang menyatakan ‘sepotong api’ adalah tentang masalah warisan antara dua bersaudara [yang datang kepada Nabi saw. meminta keputusan]. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberitahu mereka bahwa mereka seolah-olah mendapatkan sepotong api, mereka terpengaruh dan mengatakan mereka melepaskan hak mereka. Namun, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka bahwa melepaskan hak sendiri juga tidak benar, dan jika tidak ada kesaksian yang jelas hendaknya dengan perkiraan.[2]

Semoga Tuhan mengampuni dan memberikan pengertian kepada orang-orang yang menghambat jalannya keadilan. Jika kesaksian yang adil dan jujur diberikan dalam urusan rumah tangga dan bisnis maka masyarakat kita dapat menjadi contoh (masyarakat) surgawi.

Al-Quran memberikan perintah rinci tentang keadilan. Al-Quran menyatakan:

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya, Allah memerintahkan kamu untuk menyerahkan amanat kepada ahlinya, dan, ketika kamu menghakimi di antara kamu, kamu menghakimi dengan adil. betapa baik apa yang Allah nasehatkan kepadamu! Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.4:59).

Hal pertama yang disebutkan ayat tersebut adalah untuk memberikan amanat kepada mereka yang berhak mendapatkannya. Beberapa waktu yang lalu Hadhrat Khalifatul Masih menyampaikan khotbah Jumat yang rinci menjelaskan bahwa tahun ini adalah tahun pemilihan di Jemaat dan orang [yang dicalonkan] hendaknya tidak dipilih dari kepentingan pribadi,  tetapi dengan kejujuran dan keadilan hendaknya dipilih orang yang akan menegakkan keadilan.

Pemilihan sekarang telah dilakukan dan di beberapa tempat orang telah dipilih berdasarkan kepentingan pribadi, di beberapa tempat Hadhrat Khalifatul Masih telah menunjuk orang-orang untuk jabatan (tertentu) terlepas dari hasil pemungutan suara dan mengangkat orang-orang yang bekerja dengan baik.

Setiap individu memiliki tingkat [kemampuan] bekerja masing-masing, dan jika ia mencapai batas itu, mungkin saja ia tidak dapat berkembang lebih jauh. Ada kemungkinan bahwa ia akan berfungsi lebih baik di bidang yang lain.

Beberapa orang berpikir perubahan [kepengurusan] yang dibuat timbul karena ketidaksenangan [faktor suka dan tidak suka]. Di luar soal ketidaksenangan, faktor utama dalam perubahan-perubahan ini adalah kepentingan Jemaat. Hanya Tuhan yang tahu apa yang ada di hati. Kita hanya dapat bermusyawarah dan memutuskan apa yang nampak. Namun di beberapa negara orang telah terpilih berdasarkan kepentingan pribadi.

Sekarang karena pemilihan telah dilakukan, adalah tugas orang yang terpilih untuk memohon pertolongan dan pengampunan dari Tuhan. Jabatan [Jemaat] adalah rahmat dan karunia Allah dan harus dihargai seperti itu. Mereka yang terpilih untuk jabatan Jemaat sekarang harus merencanakan pendidikan dan pengembangan akhlak anggota Jamaat masing-masing dengan keadilan dan berusaha dan bekerja keras. Setiap pengurus dari lokal ke tingkat nasional termasuk dalam perintah ini.

Kepentingan Jemaat harus ada di atas kepentingan pribadi, jika tidak,  Tuhan memberitahu kita bahwa Dia adalah Maha Melihat dan Dia Mencatat apapun yang kita lakukan. Memang, jika seseorang terpilih untuk melakukan tugas atas nama Tuhan, Dia akan diminta pertanggungjawaban dan jika dia tidak menjalankan tugas dengan kejujuran, maka dia dapat diminta pertanggungwajaban lebih daripada orang-orang duniawi. Pengurus harus menghormati janji-setia jabatan mereka dengan kerendahan hati dan sambil sibuk dalam istighfar. Semoga Tuhan memberi taufik setiap orang untuk melakukannya.

Ada perintah lebih lanjut berkaitan keadilan dan kejujuran dalam masalah atau urusan rumah tangga yang harus dilakukan dengan pengurus:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang yang beriman! Bersiteguhlah demi Allah, berikan kesaksian dengan adil; dan janganlah permusuhan suatu masyarakat mendorong kamu untuk bertindak selain dengan keadilan. Selalulah adil, itu lebih dekat kepada ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.5:9).

Betapa indah ajaran ini untuk menghilangkan kekacauan dari dunia. Mereka yang mengajukan keberatan tentang Islam tidak bisa menyajikan sesuatu yang setingkat ini baik dari ajaran duniawi atau agama. Apapun yang mukmin sejati lakukan, dia melakukannya demi Allah dan dia berusaha supaya tidak ada kelonggaran apapun dalam hal ini. Seorang mukmin memberikan kesaksian dalam mendukung keadilan dan tidak membatasi tingkat keadilan ini kepada keluarga, teman dan rekan.

Sebaliknya, standar keadilan seorang mukmin adalah bagaimana ia menegakkannya kepada musuhnya sekali pun. Dalam ayat ini sebagai kesimpulan dinyatakan lagi bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan dan jika kita tidak menjalankan standar ini, maka kita tidak termasuk orang yang mengikuti ketakwaan.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersabda bahwa meskipun Injil mengajarkan untuk mencintai musuh seseorang, namun Injil tidak mengajarkan untuk tetap teguh pada keadilan dalam menghadapi ketidakadilan dan penindasan oleh masyarakat.

Beliau ‘alaihis salaam bersabda, bahwa adalah mudah untuk berbuat baik dan murah hati kepada musuh, tetapi yang paling sulit adalah melindungi hak-hak musuh dan tetap teguh pada keadilan dalam perbedaan pendapat, perselisihan dll, dan hanya orang yang berani dapat mempraktekkan ini. Kebanyakan orang dapat menunjukkan kecintaan kepada musuh mereka dan berbicara manis dengan mereka, tetapi merebut hak-hak mereka. Seorang saudara mencintai saudaranya dan dengan kedok cintanya ia menipu saudaranya dan merampas haknya. Allah tidak menyebutkan cinta dalam ayat ini (QS.5:9) namun telah menyebutkan patokan (ukuran) cinta, karena orang yang mencintai musuh sengitnya adalah yang benar-benar mencintai.

Setelah perintah adil dan jujur [dalam QS.6:153] Allah memberi perintah: وبِعهدِ الله أوفوا — “… dan penuhi perjanjian Allah …” Ini menarik perhatian kita  kepada ajaran indah Islam yang lain,  dan perintah penting Allah bahwa adalah penting untuk keindahan akhlak dan kerohanian manusia mengikuti semua arahan (petunjuk). Allah telah memberikan berbagai perintah dalam Al-Quran untuk berbagai kesempatan,  dan telah menyatakan bahwa mereka semua harus mencari ridha Allah. Hal mungkin bila hati seseorang tidak tercemar dan penuh dengan semangat bahwa setiap tindakan perlu dilakukan untuk memenuhi perjanjian yang dibuat dengan Allah.

Perjanjian terbesar bagi seorang mukmin, bagi seorang Ahmadi adalah janji baiat. Jika hakekatnya dipahami, orang akan tertarik untuk melakukan setiap kebajikan. Masyarakat Ahmadi dapat dimurnikan jika seseorang dari waktu ke waktu berjalan di atas perjanjian baiat yang diambil oleh Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam. Janji-janji yang kita buat dalam janji baiat adalah, pertama, kita akan menjauhkan diri dari syirik (menyekutukan sesuatu dengan Tuhan) sampai ke hari kematian kita.

Bahwa kita akan menjauhkan diri dari dusta, percabulan, perzinahan, pandangan buruk, pesta-pora, penghamburan uang, kekejaman, ketidakjujuran, kejahatan dan pemberontakan; dan tidak akan terbawa oleh hawa nafsu. Bahwa kita akan secara teratur mengerjakan shalat lima waktu dan membaca shalawat dan terus memohon pengampunan Allah dan akan mengingat karunia-Nya. Kita tidak akan menimbulkan kerugian apapun terhadap makhluk Allah, akan tetap setia kepada Allah dalam segala situasi dan tidak akan pernah berpaling dari-Nya ketika tertimpa kemalangan apapun dan tidak akan mengeluh ketika harus menahan berbagai ujian.

Kita akan menahan diri dari mengikuti adat tidak Islami dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kuasa (perintah) Al-Quran dan sabda Rasulullah shallallqahu ‘alaihi wa sallam. Kita akan meninggalkan kesombongan dan mengamalkan kerendahan hati dan menganggap kehormatan Islam lebih dicintai dari segala sesuatu yang lain. Kita akan berusaha untuk bermanfaat bagi umat manusia sejauh kemampuan dan kekuatan yang diberikan Tuhan kepada kita.

Akhirnya, kita akan masuk ke dalam ikatan persaudaraan dengan Masih Mau’ud ‘alaihis salaam. Berjanji taat kepadanya dan menjalankan pengabdian yang demikian tinggi dalam menjaga ikatan ini, yang tidak dapat ditemukan dalam hubungan duniawi lain manapun. Kita perlu mengintrospeksi diri dan melihat berapa banyak kita memenuhi janji tersebut. Kita mesti tahu bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban tentang perjanjian kita. Orang akan ditanya pada setiap tingkat.

Dalam khotbah Jumat terakhir (yang lalu) Hadhrat Khalifatul Masih V   menjelaskan hak-hak anak yatim sebagai amanat, dan seseorang akan diminta pertanggungjawaban atasnya. Demikian pula, penguasa akan diminta pertanggungjawaban karena tidak memerintah dengan benar, demikian pula rakyat karena tidak membayar (menunaikan) kewajiban mereka. Sayangnya kondisi pemimpin Muslim adalah seperti ini,  dan mereka muncul tanpa rasa takut seolah-olah mereka tidak akan diminta pertanggungjawaban.

Kewajiban pengurus telah disebutkan. Jika mereka tidak adil dan jujur terhadap anggota Jemaat, mereka akan dimintai pertanggungjawaban,  dan memang semua Ahmadi yang telah mengambil baiat akan diminta pertanggungjawaban tentang kondisi baiat mereka sebagaimana yang disebutkan.

Hadhrat Khalifatul Masih ingin menarik perhatian pada satu perjanjian lebih lanjut,  yang setiap warga negara lakukan  atas nama Allah, Al-Quran atau penguasa negara. Memenuhi perjanjian semacam ini adalah kewajiban setiap Muslim,  dan tidak memenuhinya adalah kelemahan iman. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, حب الوطن من الإيمان ‘Hubbul wathani minal iiman.’ bahwa “cinta seseorang pada negara adalah bagian dari iman”. Para Ahmadi harus merenungkan kehalusan hadist ini.

Telah disampaikan kepada Hadhrat Khalifatul Masih bahwa beberapa orang yang memiliki bisnis membayar upah lebih rendah untuk karyawan mereka, atau menunjukkan kepada mereka bahwa mereka dibayar kurang dan menyuruh mereka untuk mengklaim tunjangan dari pemerintah setempat untuk sisanya.

Dengan cara ini mereka tidak menghormati perjanjian mereka dan juga membuat karyawan melanggar perjanjiannya. Pajak juga terkandung pada uang yang disimpan dengan cara ini, dan ini mencurangi pemerintah dan tidak menghormati perjanjian yang dibuat kepada Pemerintah. Semua ini benar-benar perbuatan salah, dan melanggar perjanjian yang dibuat ketika menerima kewarganegaraan; ini juga melanggar perjanjian baiat. Para Ahmadi perlu dan harus  mengintrospeksi diri  dalam segala hal.

Penyakit lain tidak memenuhi perjanjian, yang menghancurkan keluarga adalah tidak mematuhi petunjuk mengenai khula’    (gugatan cerai) dan perceraian. Terdapat perintah mengucapkan kata yang benar  dan kejujuran dalam hal pernikahan. Jika ini dipatuhi  masalah tidak akan muncul, tetapi jika masalah muncul, perintah ini harus diperhatikan sebagai petunjuk, terutama laki-laki harus memperhatikan hal ini. Allah menyatakan:

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآَتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا *وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا (النساء: 21-22)

“Dan jika kamu hendak mengambil seorang istri (beristri atau menikah lagi) untuk ganti yang lain dan kamu telah memberikan salah satu dari mereka harta, jangan mengambil darinya sedikit pun. Apakah kamu akan  mengambilnya dengan dusta dan dosa yang nyata? Dan bagaimana kamu bisa mengambilnya padahal kamu telah bercampur satu sama lain, dan mereka (para wanita) telah mengambil dari kamu perjanjian yang teguh? (QS.4:21-22).

Jika perintah-perintah ini kita taati dalam hal khula’ dan perceraian  maka perselisihan berkepanjangan tidak akan terjadi. Beberapa orang melancarkan fitnah pada saat perceraian, yang merupakan dosa yang nyata. Meskipun jika ada beberapa unsur kebenaran, hendaknya diserahkan kepada Allah. Bagaimana pun dalam hal-hal tersebut diperlukan banyak kesaksian.

Pernikahan adalah perjanjian dan ada janji pribadi yang dibuat antara suami dan istri. Allah menyatakan bahwa meskipun tidak ada saksi dari janji-janji pribadi, namun penting untuk memenuhinya. Jika pernikahan itu harus putus, seharusnya tidak ada permintaan untuk pengembalian hadiah. Dengan pengecualian Qadhi mencatat beberapa ketidaksesuaian dari pihak wanita  maka hak mahar harus dibayar penuh.

Hadhrat Khalifatul Masih mengingatkan pria dan wanita untuk berhati-hati karena pernikahan adalah sebuah perjanjian yang harus dipenuhi. Jika pernikahan putus, hal-hal tertentu harus dipatuhi dan rahasia bersama harus dijaga. Juga menjadi tugas perempuan untuk mengamalkan qaul sadid (perkataan yang benar) dan menghormati kewajiban rumah tangga dan tidak memfitnah pihak pria.

“Semoga Tuhan memberi taufik kepada kita untuk menjalankan ketakwaan dan memenuhi semua perjanjian kita dan semoga kita menjaga upaya apa pun yang telah kita lakukan selama Ramadhan ini untuk mendapatkan ridha Allah.

Semoga Ramadhan ini menjadikan kita penerima berkat lebih dari sebelumnya, dan semoga kita memiliki pemahaman yang semakin meningkat terhadap perintah-perintah Al-Quran. Beberapa contoh perintah Al-Quran yang dijelaskan dalam khotbah, diberikan supaya kita dapat memperhatikannya dan mengamalkannya. Semoga Allah menjadikan sebagian besar dari kita memanfaatkan ini dan terus melakukannya di masa depan!”

[1] Permohonan cerai yang diajukan oleh pihak wanita

[2] Shahih Muslim, Kitab Peradilan, Menghukumi dengan bukti yang ada. Terdapat juga dalam Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Hukum.

Musnad Ahmad bin Hanbal, Sisa Musnad Sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, Abu Hurairah. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ أَنْ يَكُونَ أَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَمَنْ قَطَعْتُ لَهُ مِنْ حَقِّ أَخِيهِ قِطْعَةً فَإِنَّمَا أَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنْ النَّارِ Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Sesungguhnya aku hanyalah manusia, dan mungkin saja sebagian dari kalian lebih fasih dalam menyampaikan alasan-alasannya [lebih pandai bersilat lidah] dari sebagian yang lain, maka siapa saja yang aku putuskan baginya dari [dengan mengambil] hak saudaranya maka sesungguhnya tidaklah aku memutuskan baginya melainkan memberikan sepotong api neraka.”

Dalam teks Urdu lengkap dari khotbah diatas, Hudhur V atba menyebutkan, “Hadhrat Rasulullah saw. bersabda kepada dua orang bersaudara yang sedang berselisih dan datang kepada beliau saw. untuk diputuskan perkaranya, ‘Di hari kiamat potongan api itu akan menjerat lehernya (orang yang menang dalam beperkara dan dia tahu itu mengambil hak saudaranya atau orang lain).’ Mendengar hal ini, kedua orang itu mulai haru dan menangis dan masing-masing berkata melepaskan hak masing-masing dan memberikannya kepada yang lain. Nabi saw. bersabda, “Adalah salah juga untuk melepaskan hak seperti itu. Ambillah hak kalian, dan apabila keputusan tidak terjatuhkan, karena tiadanya catatan-catatan (dokumen) yang pasti, tiadanya para saksi yang menyaksikan dengan pasti, maka buatlah pembagian, saling membenarkan hak, saling membagi, saling merasa rela atas bagian masing-masing.’