Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 12 Fatah 1393 HS/Desember 2014

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Pada hari ini pun saya hendak menyampaikan beberapa peristiwa yang diriwayatkan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu yang menyoroti berbagai perspektif kehidupan beberkat Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam. Meskipun kita telah mengetahuinya, namun dengan metode periwayatan yang digunakan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, akan tampil beberapa hal dari sudut pandang yang beraneka ragam yang dengannya kita dapat mengenal kedudukan dan martabat Hadhrat Masih Mau’ud as dan dukungan Ilahi yang senantiasa menyertai beliau as dalam satu corak lainnya.

Allah Ta’ala telah menyatakan sebuah prinsip dalam surah Yunus berkaitan dengan kebenaran para Nabi-Nya: فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu dalam masa yang panjang sebelum ini. Tidakkah kamu menggunakan akal ?” (QS.10:17) Allah Ta’ala telah berfirman kepada Hadhrat Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam, memerintahkan beliau saw agar mengatakan hal itu kepada kaum kafir. Bagaimanapun, prinsip kebenaran seorang nabi adalah kehidupannya yang telah lalu menampilkan gambaran kehidupan mereka.

 Dalam salah satu kesempatan, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pernah menyampaikan di salah satu pidato beliau, dan kesempatan pidato ini ialah ketika para ulama besar penentang Jemaat mengadakan kumpulan massa di Qadian dimana mereka berunjuk rasa, berpidato panjang berisi lontarkan caci-maki terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan cara seperti itu, mereka ingin menciptakan kekacauan. Tetapi, dengan karunia Allah Ta’ala, mereka tidak berhasil. Bagaimanapun juga, mereka tetap berpidato panjang-panjang melontarkan caci-maki, kecaman dan celaan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Setelah itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga berbicara pada suatu pertemuan sederhana dimana beliau ra menjawab berbagai keberatan yang muncul serta membuktikan kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as.

Namun demikian, pada kesempatan ini saya tidak bisa mengutip keseluruhan pidato beliau ra tersebut. Berikut ini adalah sebagian kecil dari apa yang beliau ra singgung dalam pidato beliau itu: “Hadhrat Mirza Shahib (Masih Mau’ud) as berkali-kali mengumumkan kepada orang Sikh, Hindu dan Muslim pada saat itu, apakah mereka dapat mengajukan keberatan terhadap kehidupan masa lalu beliau as? (Namun tak seorang pun yang berani, melainkan mereka terpaksa mengakui kesucian beliau as) Sungguh, setiap orang menjadi saksi atas kehidupan masa lalu beliau as yang suci atau paling tidak, tidak ada satu pun orang yang mengajukan keberatan. Bahkan, Maulwi Muhammad Husain Batalwi yang di kemudian hari menjadi penentang keras beliau as, telah bersaksi dalam risalahnya atas kebersihan dari cela dan kesucian Hadhrat Masih Mau’ud as, begitu juga ayah dari Master Zafar Ali Khan telah memberikan kesaksian dalam surat kabarnya berkenaan dengan kehidupan beliau as pada masa permulaan bahwa beliau as adalah seorang yang suci. Lalu, bagaimana seseorang yang telah menjadi suci selama 40 tahun tiba-tiba menjadi kotor dalam beberapa malam saja? Para ahli psikologi berpendapat setiap aib dan penyakit moral selalu timbul secara perlahan-lahan, bertahap dan penurunan moral tidak dapat terjadi secara tiba-tiba.”[2]

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah al-Mu-min: إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا ‘inna lananshuru rusulana’ “Sesungguhnya, tentu Kami akan menolong para rasul Kami…” (40:52) Bagaimana kita melihat pertolongan yang diberikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as? Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa segala macam upaya dilakukan untuk membunuh Hadhrat Masih Mau’ud as, telah ditetapkan orang-orang yang akan membunuh beliau as dan hal itu telah diketahui, tapi rencana itu gagal. Beliau diajukan ke Pengadilan atas tuduhan palsu mengenai percobaan pembunuhan Martin Clark. Tuduhan itu dilancarkan oleh Dr Martin Clarck sendiri. (Dengan skenario) ada seseorang mengaku, “Aku telah ditunjuk oleh Tn. Mirza untuk membunuh Dr Martin Clark.” Magistrat (Hakim) untuk kasus ini bertekad, “Mengapa sampai kini tidak ada yang mampu menjerat orang yang telah mengaku sebagai Al-Masih dan al-Mahdi ini? Aku akan menahannya.”

Pada akhirnya, hakim itu sendiri yang mengakhiri pengadilan dengan berkali-kali mengatakan bahwa kasus pengadilan ini adalah palsu dan seluruh kasusnya telah selesai. Orang yang melontarkan tuduhan itu dipisahkan dari orang-orang Kristen itu dan ia ditempatkan di officer (petugas) polisi. Orang itu menangis dan mengakui, ”Orang-orang Kristen itulah yang telah mengajariku untuk membuat-buat tuduhan palsu ini dan Tuhan telah menghapuskan tuduhan palsu itu.” Uraian rinci selebihnya akan saya sampaikan nanti.

Beliau ra bersabda, “Demikian pula seorang Muballigh kita yang berani bernama Maulwi Umer Din Sahib penduduk Shimlah selalu menceritakan kejadian yang beliau alami bahwa beliau baiat setelah mengetahui standar kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau menceritakan bahwa Maulwi Muhammad Husain, Maulwi Abdur Rahman Siyah dan beberapa orang lainnya bermusyawarah di Shimlah membicarakan mengenai cara apa lagi yang harus ditempuh untuk menghadapi Mirza Shahib? Maulwi Abdur Rahman berkata: ‘Tn. Mirza telah mengumumkan bahwa dia tidak akan berdebat lagi. Jadi, kita sebarkan saja selebaran yang berisi ajakan untuk berdebat. Jika dia menyetujuinya, kita bisa mengatakan bahwa dia telah berbohong karena pernah mengatakan bahwa dia tidak akan berdebat lagi, tapi kenapa sekarang malah tampil untuk berdebat. Dan jika dia tidak setuju, kita bisa menciptakan kehebohan bahwa dia telah kalah.’

Maulwi Umer Din (yang saat itu belum baiat) menyarankan bahwa itu semua tak perlu dilakukan karena dia sendiri yang akan pergi membunuh Hadhrat Masih Mau’ud as as. Mendengar hal itu Maulwi Muhammad Husain Batalwi berkata padanya, ‘Anak muda! Cara itu sudah pernah dicoba. Tidak berhasil.’ Hal ini membuat Maulwi Umer Din berpikir bahwa orang yang sedemikian rupa dilindungi oleh Allah Ta’ala pasti berasal dari Allah Ta’ala. Beberapa waktu kemudian, beliau pun baiat. Kemudian, di dekat stasiun kereta api Batala, dia bertemu dengan Muhammad Husain Batalwi yang bertanya: ‘Dari mana kamu?’ Beliau menjawab: ‘Saya dari Qadian telah baiat.’ (Maulwi mengatakan) ‘Kamu orang yang sangat jahat, aku akan tuliskan surat pada ayahmu.’ Maulwi Umer Din menjawab, ‘Maulwi sahib, apapun yang terjadi, terjadi karena anda.’”[3] Walhasil, para penentang berkeinginan untuk membunuh beliau as, namun Allah Ta’ala menyelamatkan beliau. Bahkan, musuh sekalipun, jika memiliki fitrat baik, dia sendiri akan beralih dan berbaiat.

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan lebih lanjut mengenai gugatan orang-orang Kristen terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as atas tuduhan percobaan pembunuhan sebagaimana tadi telah saya sampaikan. Hal ini telah dijelaskan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra secara rinci. Itu adalah persidangan Martin Clarck dan Maulwi Muhammad Husain Batalwi juga hadir sebagai saksi dalam persidangan itu. Bagaimana Allah Ta’ala menuntunnya kearah kehinaannya sendiri. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pernah menulis bahkan menyampaikan dalam khotbah bahwa Martin Clark menyatakan dalam persidangan, ‘Tn. Mirza telah mengutus seseorang untuk membunuhku.’ Mereka yang menamakan dirinya ulama di kalangan umat Islam pun ikut bergabung dengannya dalam kehebohan itu. Maulwi Muhammad Husain Batalwi Sahib hadir dalam persidangan itu untuk memberikan kesaksian yang memberatkan beliau as. Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as sebelum hal itu terjadi, yakni akan tampil seorang maulwi dari pihak lawan, namun Allah Ta’ala akan menghinakannya. Meskipun dalam ilham telah dikabarkan berkenaan dengan kehinaannya, namun untuk menggenapi ilham tersebut perlu melakukan upaya-upaya lahiriah yang jaiz secara khusus.” (Tapi apa yang terjadi?)

Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda: “Tn. Fazl Din adalah pengacara di Lahore yang menjadi pembela Hadhrat Masih Mau’ud dalam persidangan itu. Beliau mengatakan sendiri kepada saya, ‘Ketika saya ingin mengajukan satu pertanyaan yang dapat mempermalukan Maulwi Muhammad Husain Sahib, Hadhrat Masih Mau’ud as tidak mengizinkan hal tersebut. … Dalam persidangan-persidangan itu diajukan beberapa pertanyaan yang dapat mengungkap dia adalah orang yang jauh dari kebenaran. (beberapa pertanyaan dilontarkan untuk mengungkap hal yang sebenarnya dari seseorang). Ketika Maulwi Fazl Din membacakan kepada beliau as daftar pertanyaan yang ingin beliau ajukan kepada Maulwi Muhammad Husain Batalwi Sahib, setelah mendengar salah satu diantaranya beliau as bersabda bahwa beliau as tidak menolerir beberapa pertanyaan seperti itu. Maulwi Fazludin sahib mengatakan, ‘Dengan mengajukan pertanyaan ini akan melemahkan gugatan pihak lawan. Jika ini tidak dilakukan, tuan akan mendapatkan kesulitan. Dalam hal ini pihak saksi berperan sebagai pemimpin umat Islam, kita perlu membuktikan orang ini (Muhammad Husain Batalwi) tidak layak untuk itu. Tetapi, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Tidak, kami tidak dapat mengizinkan hal seperti itu.’

Tn. Maulwi Fazl Din bukanlah seorang Ahmadi melainkan pengikut mazhab Hanafi dan pimpinan mazhab Hanafi. Beliau pengurus “أنجمن لقمانية” Anjuman Luqmaniyah yang aktif dll. Oleh karena itu, dari sisi mazhab, beliau adalah seorang yang fanatik. Namun jika dalam majlis-majlis ghair Ahmadi dilontarkan keberatan terhadap diri Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau menentangnya dengan keras dan mengatakan, ‘Perkara akidah adalah urusan lain. Saya melihat tidak ada satu pun ulama yang dapat menyaingi beliau dalam hal akhlak. Saya telah menguji beliau dari sisi akhlak, dalam beberapa kesempatan. Saya berkesimpulan tidak ada satu pun Maulwi yang mampu menandingi beliau dalam hal akhlak.’

Sekarang perhatikan! Di satu sisi, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menerima wahyu tentang terhinanya seorang saksi persidangan, sedangkan di sisi lain kesaksian orang itu dapat membuat beliau as sebagai terdakwa, namun beliau as tidak mengizinkan untuk melontarkan beberapa pertanyaan yang dapat menjatuhkan posisi orang itu (saksi). Tetapi, Tuhan Yang telah mengabarkan keterhinaan Maulwi Muhammad Husain sebelum hal itu terjadi, di satu sisi Dia telah menampilkan akhlak dan menegakkan kehormatan beliau as (Kedudukan beliau as sangat luhur dalam pandangan pengacara yang notabene seorang ghair Ahmadi). Di segi lainnya, Dia telah menghinakan Maulwi sahib dengan menciptakan sarana yang luar biasa.

Hal yang terjadi adalah sebagai berikut ini. (kehinaan yang menimpa Maulwi sahib). Deputi Komisioner yang sebelum itu memiliki tabiat yang keras, seketika melihat wajah Hadhrat Masih Mau’ud as, (di satu sisi dia pernah mengatakan akan menahan beliau as, tapi ketika melihat wajah beliau as), ia menjadi berubah pikiran. Selanjutnya, meskipun Hadhrat Masih Mau’ud as hadir sebagai seorang terdakwa, namun Deputy tersebut meminta untuk diambilkan kursi lalu mempersilahkan beliau as untuk duduk di atasnya. Sementara itu, Maulwi Muhammad Husain hadir untuk memberikan kesaksian. Dia datang dengan disertai harapan agar Hadhrat Masih Mau’ud ditahan atau sekurang-kurangnya dihadirkan dengan perlakuan yang tidak hormat. Dia pun sangat geram ketika mengetahui Hadhrat Masih Mau’ud as dipersilahkan duduk di kursi oleh sang hakim dan duduk di dekat hakim itu. Maulwi itu pun segera menuntut supaya dia diberikan kursi lalu mengatakan bahwa dia berasal dari keluarga terhormat dan selalu dipersilahkan duduk dipersilahkan duduk ketika bertemu Gubernur. Deputi Commisioner menjawab, ‘Memang seperti itu, bahkan seorang tukang sapu pun akan dipersilahkan untuk duduk di kursi ketika menemuinya. Tetapi ini adalah pengadilan. Tn. Mirza berasal dari keluarga rais (kepala daerah, terhormat), perlakuan yang diberikan kepadanya pun berbeda.”[4]

Setelah melihat wajah Hadhrat Masih Mau’ud as, terjadi perubahan dalam sikap keras seorang Deputi Komisioner yang telah menyatakan akan menangkap beliau as. Itu bukanlah hal yang sepele. Penentangan yang dilakukan oleh Kapten Douglas bukanlah hal yang biasa, bahkan dia [sebagai hakim] membawa ranah agama [kedalam tugasnya]. Dalam menjelaskan hal itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Beberapa hari sebelumnya, dia berkata, ‘Di Qadian ada seorang yang menyatakan diri sebagai Al-Masih serta telah menghina Tuhan kami (Yesus), kenapa tidak ada yang dapat memenjarakan orang ini?’ Ketika diterima berkas-berkas pengadilan (karena dia ingin mengeluarkan warrant, surat penahanan), juru tulis mengatakan, ‘Tuan! surat warrant tersebut tidak dapat dikeluarkan dalam kasus ini, melainkan summons (surat pemanggilan). Untuk itu, warrant tidak dapat dikeluarkan. sebagai gantinya, dikeluarkan surat pemanggilan.’

Pada masa itu Jalaludin adalah seorang inspektur polisi, bukan seorang Ahmadi, namun memiliki rasa keadilan yang mendalam. Beliau mengingatkan Deputi Komisioner bahwa mengeluarkan warrant adalah ketidakadilan yang sangat. Ini bukanlah kasus warrant, melainkan summons, untuk itu seyogyanya summons-lah yang dikeluarkan, bukan warrant. Dengan demikian, dikirimkanlah surat summons kepada Hadhrat Masih Mau’ud as as dan Jalaluddin itulah yang diutus ke Qadian untuk mengeksekusi (menyampaikan surat tersebut).

Untuk memenuhi perintah itu, Hadhrat Masih Mau’ud as berangkat ke Batala pada tanggal yang ditentukan. Pada saat itu Deputi Komisioner baru kembali dari suatu kunjungan. Ketika beliau sampai di Pengadilan, Deputi Komisioner yang telah sebelumnya pernah mengatakan, ‘Orang itu (Hadhrat Masih Mau’ud as) telah menghina ketuhanan Yesus, kenapa tidak ada yang menangkapnya?’ Dia justru malah memberikan penghormatan kepada beliau as (seperti yang telah disinggung sebelumnya). Beliau as dipersilahkan duduk, dan dipersilahkan untuk menjawab pertanyaannya sambil duduk. (Seperti yang telah disampaikan sebelumnya), Maulwi Muhammad Husain Batalwi pun hadir sebagai saksi dalam persidangan itu. Saat itu di luar persidangan dipenuhi dengan banyak orang yang dengan sangat antusias mengikuti jalannya persidangan.

Ketika Maulwi Muhammad Husain sampai dan melihat Hadhrat Masih Mau’ud as duduk di atas kursi, merasa geram karena dia telah datang dengan asumsi untuk melihat Hadhrat Masih Mau’ud as dengan tangan diborgol dan dihinakan. Ini adalah pengadilan yang dipimpin oleh seorang Deputi Komisioner berkebangsaan Inggris dimana penggugatnya juga merupakan pendeta berkebangsaan Inggris, Dr Martin Clark. Dr Clark dikenal secara luas sebagai seorang berkebangsaan Inggris meskipun sebenarnya dia keturunan seorang Pathan yang menikah dengan seorang wanita Inggris. Seorang pemuka agama terkenal seperti Maulwi Muhammad Husain hadir sebagai saksi pada kasus tersebut. Namun pada akhirnya para musuh Hadhrat Masih Mau’ud as gagal dan dipermalukan. Di satu sisi Hadhrat Masih Mau’ud as diperlakukan dengan penuh hormat sementara para penentang beliau terpaksa menerima rasa malu.

Ketika Maulwi Muhammad Husain melihat beliau as dipersilahkan duduk di kursi (sebagaimana disebutkan sebelumnya), alih-alih diperlakukan seperti itu, dia justru ditempatkan di ruang pendakwaan, hal itu membuat emosinya terbakar. Maulwi Muhammad Husain juga meminta untuk diberikan kursi pada pengadilan tersebut tetapi ditolak oleh Deputi Komisioner. Di masa itu, orang Inggris sangat menganggap rendah para maulwi. Deputi Komisioner mengatakan: ‘Terserah kami! Kepada siapa kami persilahkan duduk ataupun tidak. Saya mengetahui beliau as dari keluarga terhormat yang biasa mendapatkan kursi di pengadilan, karena itu saya persilahkan beliau duduk di kursi. Lantas, apa kedudukanmu?’

Maulwi Muhammad Husain Sahib menjawab, ‘Saya advokat golongan Ahli Hadits dan saya biasa pergi menjumpai gubernur serta banyak berbincang-bincang dengannya.’ (dan ia mengatakan hal-hal yang meninggikan derajatnya) Deputi berkata, ‘Saya melihat Anda sebagai orang bodoh. Siapapun yang pergi untuk berjumpa dengan gubernur, dia akan dipersilahkan duduk di kursi. Sementara ini adalah pengadilan, bukanlah rumah dinas gubernur.’ Bagaimanapun, Maulwi itu merasa tidak puas. Ia mulai mendebat sehingga membuat Deputi Komisioner marah dan memintanya untuk pergi dan berdiri di belakang di tempat sepatu. Para petugas keamanan melihat, kearah siapa pandangan Deputi sahib tertuju. Lalu setelah mendengar perintah Deputi sahib, para penjaga memegang tangan Maulwi Muhammad Husain dan membawanya ke tempat sepatu.

Pada saat Maulwi tersebut merasa dirinya terhina, di luar persidangan telah berkumpul ribuan orang. Ia berpikir jika mereka mengetahui kehinaan yang tengah dirasakannya, apa yang akan mereka katakan mengenainya nantinya. Dia keluar dari ruang persidangan. Dia melihat sebuah kursi di beranda. Maulwi sahib berpikir ini adalah kesempatan baik untuk menutupi kehinaan yang dialaminya, lantas dia segera menarik kursi itu dan duduk di atasnya, dengan pikiran bahwa jika orang-orang melihatnya tengah duduk di kursi, mereka akan beranggapan bahwa di dalam ruangan sidang pun dia mendapatkan jatah kursi.

Ketika penjaga melihat hal itu dan dia telah melihat sendiri sikap Tn. Deputi. Dia berpikir mungkin Deputi Komisioner akan marah jika melihat Maulwi itu duduk di kursi, maka dia memintanya untuk meninggalkan kursi tersebut, dengan mengatakan: ‘Kosongkan kursi itu!’ Ruang beranda pun lepas dari tangannya, sampai akhirnya Maulwi Muhammad Husain pergi keluar dimana orang-orang berkumpul. Beberapa orang duduk beralaskan beberapa lembar kain yang mereka bawa, menunggu hasil keputusan dari persidangan itu. Dia melihat ada tempat kosong yang sudah beralaskan kain kemudian duduklah di sana.

Pemilik kain itu adalah Mia Muhammad bakhsy Sahib Marhum Batalwi, ayah dari Maulwi Muhammad Husain, Muballig Silsilah (putra pemilik kain itu di kemudian hari menjadi muballig) Pada masa itu Muhammad Bakhsy Sahib belum baiat, beliau menjadi Ahmadi di kemudian hari. Ketika pemilik kain tersebut melihat Maulwi Muhammad Husain duduk diatasnya, spontan marah dan mengusirnya, seraya berkata: ‘Tinggalkan kain saya ini, kamu telah mengotori kain ini.’ Dia mencelanya dengan mengatakan, ‘Kamu seorang Maulwi tetapi datang untuk mendukung orang-orang Kristen.’ Lalu dia terpaksa meninggalkan kain cadar itu, demikianlah di setiap tempat Tuhan telah menghinakannya.

Perhatikanlah الآيات البينات ‘tanda-tanda yang nyata’ ini! Bagaimana Allah membebaskan Hadhrat Masih Mau’ud as dari para musuh. Tidak hanya sampai disitu, Allah Ta’ala juga memperlihatkan tanda-tanda-Nya yang lain kepada Captain Douglas yang akan dia ingat hingga akhir hayatnya. Sir Douglas sendiri yang menuturkan kepada saya ketika saya (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra) berkunjung ke Inggris pada tahun 1924. Sir Douglas memiliki seorang head clerk (kepala petugas) yang bernama Ghulam Haidar penduduk Rawalpindi atau penduduk Sargodha yang di kemudian hari menjabat sebagai tahsildar (camat). Ghulam Haidar menceritakan kepada saya, ‘Ketika berlangsung persidangan Henry Martin Clarck, saat itu saya masih menjabat sebagai kepala petugas Deputi Komisioner Gurdaspur. Setelah persidangan selesai, Deputi Komisioner berkata kepada saya, “Saya ingin segera pergi ke Gurdaspur, kamu segeralah memesan ruangan dalam kereta untuk kita tempati! Aturlah barang-barang di gerbong nanti!” Lalu saya pergi ke stasiun untuk mengatur segala sesuatunya. Sekeluarnya saya dari stasiun setelah menyelesaikan semua urusan, saya berdiri di trotoar. Saya lihat Captain Douglas mondar-mandir di jalan dengan gelisah. Saya hampiri beliau dan bertanya, ”Tuan! Anda di luar? Saya sudah siapkan kursi di ruang tunggu, silahkan duduk di dalam.“

Beliau mengatakan, “Tn. Munshi! Biarkan saya sendiri, saya sedang tidak enak badan.” Saya (Ghulam Haidar) tanya lagi: ”Tuan tidak mau berbagi cerita dengan saya walaupun sedikit? Tuan tidak enak badan? Kalau iya, supaya bisa dilakukan pengobatan.” Dia (Captain Douglas) berkata, “Sejak melihat wajah Tn. Mirza, saya merasa seolah-olah malaikat memberi isyarat tangan ke arah Tn. Mirza dan mengatakan kepada saya, ‘Orang ini tidak berdosa dan tidak bersalah.’ Lalu, saya tunda persidangan tersebut dan datang kemari. Ketika berjalan-jalan dan sampai pada ujung sana, nampak kepada saya wajah Tn. Mirza dan berkata, ‘Aku tidak melakukan perbuatan ini. Semua ini adalah bohong.’ Ketika saya berbalik arah dan sampai di ujung lainnya, nampak lagi wajah Tn. Mirza dan berkata, ‘Aku tidak melakukan apapun. Semua ini adalah bohong.’ Jika kejadian ini terus terjadi kepada saya, bisa-bisa saya gila.” Saya (Ghulam Haidar) katakan: ”Tuan! Silahkan duduk di ruang tunggu. Di sana terlihat seorang inspektur (pengawas) polisi. Beliau pun seorang berkebangsaan Inggris. Mari kita berbicara dengannya. Mungkin saja dengan mendengar nasihatnya, Anda akan merasa lebih baik.”

Pengawas polisi itu bernama Limar Cand. Sir Douglas memerintahkan untuk memanggilnya. Sayapun memanggil beliau. Ketika tamu itu datang, Sir Douglas mengatakan kepadanya, ”Lihatlah keadaanku! Aku sedang diliputi kekhawatiran yang mendalam. Ketika tengah berjalan-jalan di stasiun dan sampai pada ujung sana dengan diliputi rasa takut, nampak kepadaku Tn. Mirza tengah berdiri dan berkata kepada, ‘Saya tidaklah bersalah. Tuduhan yang dilontarkan padaku adalah dusta.’ Ketika saya berbalik arah dan sampai di ujung lainnya, nampak lagi wajah Tn. Mirza dan berkata, ‘Saya tidak bersalah. Apa yang sedang diupayakan ini, semuanya adalah dusta.’ Melihat kejadian ini, kondisiku menjadi seperti orang yang kurang waras. Jika dalam hal ini Anda bisa melakukan sesuatu, lakukanlah, karena jika tidak, aku bisa-bisa akan jadi gila.”

Inspektur itu berkata, “Ini adalah kesalahan Anda sendiri, bukan siapa-siapa, karena Anda telah mempercayakan saksi utama kepada para pendeta. Saksi itu tinggal di lingkungan para pendeta dan orang-orang Kristen. Saksi itu yang mengatakan, ‘Saya telah dikirim oleh Tn. Mirza untuk membunuh Pendeta Martin Clark’, malahan telah Anda serahkan kepada para pendeta untuk tinggal di lingkungan mereka. Apapun yang telah diajarkan oleh para pendeta kepada orang itu disampaikannya di persidangan. Saya (pengawas polisi) sarankan saksi utama, Abdul Hameed, diserahkan ke polisi kemudian lihatlah keterangan apa yang akan dia berikan kepada polisi.” Saat itu juga Captain Douglas meminta kertas dan pena. Ia mengeluarkan perintah supaya Abdul Hamid diserahkan ke kantor polisi dan sesuai dengan perintah, Abdul Hamid diambil dari para pendeta oleh para petugas pengadilan dan diserahkan kepada polisi. Pada hari berikutnya, atau pada hari itu juga dia segera mengakui, sebetulnya keterangan yang saya berikan, semuanya adalah dusta.

Menurut keterangan pengawas polisi ketika meminta Abdul Hamid untuk memberikan keterangan yang sejujurnya, pada awalnya dia tetap bersikeras apa yang terjadi memang benar adanya bahwa Tn. Mirza telah mengirimnya untuk membunuh Dr Martin Clark. Pengawas polisi menuturkan: ”Tapi saya beranggapan bahwa Abdul hamid berada dalam tekanan para pendeta, karena itu saya katakan, ‘Saya mendapatkan perintah dari Deputi Komisioner bahwa sekarang kami tidak akan membiarkan kamu dalam pengawasan para pendeta. Mulai sekarang kamu berada dalam pengawasan polisi. Lalu dia tunduk bersimpuh di kaki saya dan mengatakan, ‘Tuan, selamatkanlah saya, sampai saat ini saya telah berdusta.’

Dia (Abdul Hamid) mengatakan kepada saya (Inspektur Polisi): ‘Tuan, anda tidak memperhatikan setiap kali saya hadir di persidangan untuk memberikan kesaksian, saya selalu melihat kearah tangan. Penyebabnya adalah, ketika para pendeta memerintahkan saya pergi untuk memberikan kesaksian palsu di persidangan bahwa Tn. Mirza telah mengirim saya untuk membunuh Dr. Henry Martin Clarck dan memerintahkan saya untuk pergi ke rumah seorang Mistri. (tukang kayu, orang tersebut adalah Tn. Mistri Qutbuddiin. Saat penulisan riwayat ini cucu beliau tengah menuntut ilmu di Jamiah) Saya (Abdul Hamid) tidak mengenal orang-orang Ahmadi di sana. Saya tidak akan ingat namanya. Karena itu, mereka (para pendeta) menuliskan nama Mistri itu pada tangan saya dengan arang, sehingga ketika saya hadir untuk memberikan kesaksian di persidangan, jika Deputi Komisioner meminta keterangan dari saya dengan pertanyaan: ‘Kamu dikirim ke rumah siapa di Amritsar?’ Lantas saya mengangkat tangan saya untuk melihat nama yang tertulis pada tangan saya lalu menjawab: ‘Tn. Mirza telah mengirim saya ke rumah Ahmadi itu.’ (Setiap kali persidangan dituliskan juga nama-nama untuk para saksi)”’

(Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda) Walhasil, dia menjelaskan semuanya dan pada persidangan berikutnya, Sir Douglas membebaskan Hadhrat Masih Mau’ud as. Perhatikanlah! Semua kejadian ini bagi kita merupakan tanda-tanda yang nyata. Tapi, Allah Ta’ala juga memperlihatkan tanda-tanda yang nyata lainnya. Salah satunya, ketika Sir Douglas mondar-mandir di jalan melihat bayangan Hadhrat Masih Mau’ud as di kedua ujung jalan tersebut. Bayangan itu berkata, ‘Saya tidak bersalah.’

Captain Douglas bercerita kepada saya (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra), ‘Suatu kali saya tengah duduk di rumah saya. Datang seorang pejabat senior berkebangsaan India. Orang India itu meminta saya untuk menceritakan beberapa pengalaman hidup yang luar biasa, lalu saya ceritakan kepadanya peristiwa tentang Hadhrat Mirza ini. Pada saat itu, kepala pelayan datang mengatakan, “Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan.” Saya bilang, ”Panggil kemari!” Ketika orang tersebut hadir, saya bertanya, “Anak muda, siapakah engkau? Saya tidak mengenal Anda.” Anak muda itu menjawab, “Anda kenal bapak saya, Pendeta Warits Din.” Saya berkata, “Ya, saya baru saja sedang bercerita mengenainya juga.” Anak muda tersebut berkata, “Saya baru saja menerima telegram beliau sudah meninggal.”’

(Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda) Warits Din adalah pendeta yang membuat semua rekayasa itu untuk menyenangkan Dr Martin Clark dan mengajukan kasus ini. Namun Allah Ta’ala membukakan kebenarannya kepada Deputi Komisioner Captain Douglas dan saksi utamanya juga mengakuinya bahwa apa yang telah diupayakan, semuanya adalah dusta. Bagaimanapun juga, bagi anak Warits Din, sampai di rumah Captain Douglas pada saat dia sedang bercerita dengan tentang peristiwa tersebut merupakan suatu kebetulan yang luar biasa. Hingga Captain Douglas meninggal, dia terus menceritakannya kepada setiap Ahmadi yang datang berkunjung menemuinya. Begitu juga dia menceritakannya kepada saya, Choudri Fatah Muhammad Sayyal Sahib Sialkot dan Choudri Zafrullah Khan Sahib saat kami mengunjunginya. Saat itu saya sedang dalam lawatan ke Inggris pada 1924, Captain Douglas berada dalam kondisi yang sehat. Itu terjadi 32 tahun yang lalu saat umurnya 61 tahun. Sir Douglas telah wafat pada usia 93 tahun.” [riwayat ini ditulis pada 1957]

Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda: ”Pada 1953 saya mengunjungi kota London untuk yang kedua kalinya. Saya mengirim undangan kepada Captain Douglas untuk berjumpa dengan saya. Namun, beliau menyampaikan permohonan maafnya karena sekarang sudah tua dan tidak kuat lagi serta sulit pergi kemana-mana. Sekarang ini saya amat menyesal sekali. Saat itu pada kami ada sebuah mobil. Mobil ini dapat dikirimkan ke Captain Douglas untuk menjemputnya atau kami dapat pergi mengunjunginya pada tahun 1953 itu. Sayang sekali, kami tidak melakukannya. Captain Douglas wafat tak lama setelah itu.

Ini semua sungguh merupakan manifestasi tanda-tanda yang melaluinya Allah Ta’ala menunjukan kebenaran para utusan-Nya. Seorang Mu-min hendaknya berupaya serta menjadi seorang Mu-min sejati. Allah Ta’ala pasti akan menciptakan kondisi-kondisi yang akan menyegarkan kembali keimanan seseorang ketika dia dengan tulus berupaya untuk menjadi seorang Mu-min sejati. Pada kenyataannya tidak ada kebahagiaan tanpa memiliki keimanan seperti ini. Iman yang tidak membukakan mata seseorang dan membiarkannya berada dalam kegelapan, apalah gunanya? Seseorang yang buta di dunia ini, juga akan buta di akhirat. Orang yang tidak menyaksikan tanda-tanda Ilahi di dunia ini, juga tidak akan menyaksikannya di akhirat.”[5]

Keberlangsungan tanda-tanda ini berlanjut hingga sekarang. Peristiwa yang disebutkan tadi telah terjadi lebih dari seratus tahun yang lalu. Tanda tersebut sekarang muncul lagi pada cucu Captain Douglas dari garis ibunya yang telah mengirimkan surat kepada saya menyatakan ingin baiat. Dia menulis, “Saya ingin tahu kebaikan apa yang telah dilakukan oleh kakek saya perihal mana begitu besarnya kebaikan tersebut sehingga muncul hasrat yang sangat kuat dalam diri saya untuk masuk bergabung dalam Jemaat Ahmadiyah.” Perhatikanlah keagungan tanda itu yang saat ini cucu Sir Douglas sendiri berpikir bahwa kakeknya tidak mengimani kebenaran yang tampak kepadanya saat itu, tapi setelah melihat kebenaran itu saat ini ia mengimaninya. Anda semua telah mendengar kisah cicit Martin Clark. Sebelum inipun pernah disampaikan bahwa cicit beliau pernah datang di Jalsah di sini dan mengumumkan secara lantang dan jelas bahwa kakeknya itu bersalah dan Hadhrat Masih Mau’ud as itulah yang benar.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Seorang Mu-min sejati hendaknya tidak akan berhenti untuk senantiasa berdoa dan berdzikir untuk melihat hari ketika Allah membukakan kepadanya kebenaran tentang-Nya dan kebenaran Islam serta Dia perlihatkan Wajah-Nya Nan Berkilau kepadanya. Dan, Dia perlihatkan wajah bercahaya Rasul-Nya, Muhammad saw. Ketika seseorang mengalami hal ini maka akan sama saja baginya [ia tidak merisaukan] apakah kehidupannya, sepanjang siang-malamnya serta tahun-tahunnya itu, ia merasa bahagia ataukah sedih. Jika ia menyaksikan Wajah Allah Ta’ala dan wajah Nabi-Nya yang tercinta saw, tidak akan lagi tersisa rasa kebahagiaan ataupun kesedihan padanya, hanya tersisa satu إحساس ‘ihsaas’ (rasa, indra) yaitu rasa kecintaan. Dalam kecintaan itulah manusia akan larut.

Orang semacam itu akan selalu merasa senang dan puas terhadap apapun yang terjadi serta tidak akan takut terhadap siapapun. Suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menghadapi kasus tuntutan di pengadilan oleh seorang bernama Karam Din. Hakim pengadilan tersebut seorang beragama Hindu. Orang-orang Hindu Arya menghasut sang hakim untuk menghukum Hadhrat Masih Mau’ud as. Sang hakim pun telah berjanji akan berbuat seperti yang dihasutkan tadi. Setelah mendengar hal itu, Khawajah Kamaludin sahib khawatir dan berkata, ‘Hudhur! Ini sangatlah menghawatirkan. Orang-orang Arya itu telah mengambil janji dari sang hakim untuk menghukum Anda (Hadhrat Masih Mau’ud as). Bagaimanapun Hudhur harus meninggalkan Gurdaspur dan berangkat ke Qadian. Jika Hudhur tetap tinggal di Gurdaspur, hakim pasti akan menjatuhkan hukuman kepada Hudhur.’

Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab, ‘Khawajah Sahib! Jika saya pergi ke Qadian di sana pun saya bisa ditangkap, lalu harus kemana lagi? Hakim berwenang untuk mengeluarkan warrant meskipun saya berada di Qadian. Begitu juga di tempat lain. Kemana lagi saya harus pergi?’ Khawajah Sahib mengatakan, ’Para Hindu Arya telah mengambil janji dari hakim untuk menjatuhkan hukuman.’ Pada saat itu Hadhrat Masih Mau’ud as tengah berbaring, lalu bangkit dan bersabda, ‘Khawajah Sahib! Kenapa tuan khawatir? Siapakah yang mampu menyentuh singa Tuhan?’ Demikianlah yang terjadi sesuai sabda beliau as, kasus pengadilan diajukan di depan 2 orang hakim yang berbeda di pengadilan yang berbeda. Mereka berdua mendapatkan hukuman Ilahi yang sangat keras, yang satu diberhentikan dari jabatannya sedangkan anak dari hakim yang kedua sakit jiwa dan bunuh diri dengan melompat dari atap.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda: ”Suatu ketika saya sedang pergi ke Delhi, saya berjumpa dengan sang hakim itu di stasiun Ludhiana, dia mengatakan: ‘Mohon doa, semoga Allah menyelamatkan anak saya yang satu lagi, saya telah melakukan banyak kesalahan.’ Alhasil, sempurnalah sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Siapa yang mampu menyentuh singa Tuhan?’ dan para Arya mendapatkan kegagalan.

Ketika seseorang menjadi milik Tuhan, segala sesuatu di dunia ini menjadi miliknya sebagaimana ilham Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dalam bahasa Punjabi: جے تُوں میرا ہو رہیں سب جگ تیرا ہوِ ‘Je tu mera ho rahe sab jag tera ho’ – ‘Jika engkau menjadi milik Tuhan, seluruh dunia akan menjadi milikmu’. [6] Tidak ada satupun hal di dunia ini yang akan dapat merugikan kalian, tidak ada musuh yang dapat mencelakaimu. Jadilah milik Tuhan dan berdoalah semoga kalian menjadi milik-Nya supaya kondisi ini membawa ketentraman bagi kalian dan Dia memasukkan anak-anak kalian, teman-teman kalian, serta keluarga kalian kedalam keamanan ini. Hendaknya diingat, selama Jemaat tidak dapat berada dalam keamanan, kalian pun tidak dapat tingggal dengan aman tentram. Dan Jemaat, baru dapat berada dalam keadaan aman tentram ketika keturuna kalian seterusnya juga berada dalam keadaan aman dan tentram.”[7]

Lalu berkenaan dengan persidangan itu juga, beliau ra bersabda: “Saya teringat ketika pendeta Dr Martin Clark menyampaikan gugatan, saya gelisah serta berdoa. Malam harinya saya melihat mimpi, saya sedang pulang dari sekolah dan berusaha masuk ke dalam rumah yang posisinya berada di bawah rumah almarhum Mirza Sultan Ahmad. Saya mendapati polisi berseragam berada di sana. Salah satu dari mereka melarangku untuk masuk ke dalam rumahnya. Tetapi yang lain berkata: ‘Dia adalah anggota keluarga ini, biarkan masuk.’ Ketika masuk melalui ruang depan untuk terus ke dalam, di sana biasanya ada ruang bawah yang dibuat oleh kakek kami almarhum.

Di ruangan itu juga terdapat sebuah tangga yang menghubungkan ke ruangan bawah tadi. Di kemudian hari di sini biasanya hanya terdapat bahan bakar dan tong (yakni puing-puing). Ketika saya akan masuk ke dalam rumah, saya melihat para polisi itu menyuruh Hadhrat Masih Mau’ud as berdiri sedang menahan Hadhrat Masih Mau’ud as. Di sana saya menampak tiang-tiang pancang dari kayu di depan dan belakang beliau as. Saya hanya melihat leher beliau as. Saya melihat beberapa polisi tengah berusaha melemparkan minyak ke kayu-kayu tersebut untuk menyalakan api. Menyaksikan itu, saya mencoba untuk memadamkan api tetapi beberapa polisi itu menangkapku. Seorang memegang pinggangku dan seorang lagi memegang kemejaku. Saya sangat ketakutan jangan sampai orang-orang ini membakar kayu-kayu itu. Ketika itu tiba-tiba pandanganku tertuju ke atas. Kulihat tulisan yang indah di pintu yang dicetak tebal: ‘Siapakah yang dapat membakar hamba-hamba terkasih Allah!Ada keamanan dan ketentraman bagi para Mu-min sejati di dunia ini serta juga di akhirat kelak. Saya telah menyaksikan sendiri puluhan peristiwa di dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as dimana meskipun beliau as sama sekali tidak mempunyai senjata atau sarana untuk perlindungan, tetapi Allah Ta’ala telah memberikan perlindungan kepada beliau as.”[8]

Kejadian yang telah diceritakan oleh Kapten Douglas kepada seorang officer ICS (pejabat India) mengandung keterangan juga bahwa dia merasa gelisah karena persidangan itu ternyata palsu. Jadi akhirnya dia mengambil keputusan dan kebenaran pun terbukti. Kemudian dia berkata, “Saya belum pernah melihat orang yang begitu tolerannya seperti Tn. Mirza yakni meskipun beliau berusaha dijerumuskan kedalam tuduhan kejahatan yang berbahaya, tapi ketika saya katakan kepada beliau (pihak pengadilan menawarkan), ‘Tuan dapat menuntut balik dia’, tetapi beliau tidak mau melakukannya.”[9]

Meskipun dihadapkan pada seluruh penentangan yang harus dihadapi oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, itu semua beliau hadapi dengan keberanian dan kelapangandada. Sesuai dengan janji Allah Ta’ala, tidak hanya beliau dilindungi, bahkan Jemaat beliau pun terus bertambah dan Qadian pun terus mengalami kemajuan. Berkaitan dengan kemajuan tersebut, Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda: ”Ada suatu masa ketika para Ahmadi tidak diperbolehkan untuk pergi ke masjid di Qadian. Pintu masjid ditutup dan paku-paku dipancang di atas tanah jalan ke masjid sehingga mereka yang pergi ke masjid akan tersandung karena gelap. Para Ahmadi juga dilarang untuk menimba air dari sumur bahkan sampai-sampai para pengrajin wadah (perabot rumah tangga) dilarang untuk menjual wadah-wadahnya kepada para Ahmadi. Namun sekarang kemana semua penentang itu? Sekarang anak-anak mereka telah menjadi Ahmadi. Anak-anak dari mereka yang dulunya berupaya keras untuk menghapuskan Ahmadiyah, namun sekarang anak-anak itu aktif menyebarkan Jemaat ini.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyampaikan pidato ini di Madrasah, seraya menunjuk tempat ini, beliau bersabda: “Berdasarkan cerita-cerita kuno setempat, kata mereka, jin biasa tinggal di tempat ini dan bahkan tidak ada orang yang berani melewati daerah Madrasah ini sendirian di siang hari. Sekarang lihatlah! Bagaimana jin itu telah kabur. [karena Madrasah itu telah ramai dengan kedatangan para Ahmadi] Perhatikanlah bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as suatu kali menceritakan sebuah mimpi beliau yaitu beliau as melihat Qadian telah meluas hingga ke Sungai Beas dan juga dihuni jauh hingga ke sebelah utara. Padahal, pada saat itu hanya ada 8-10 rumah Ahmadi dari keluarga yang serba berkekurangan di sana. Selebihnya tiba sebagai pendatang. Tetapi, Qadian sekarang sudah lebih berkembang.”[10]

Sekarang dengan karunia Allah Ta’ala, Qadian telah meluas lebih jauh lagi. Banyak bangunan indah sedang dibangun di sana, baik rumah-rumah pribadi maupun bangunan-bangunan guest house Jemaat. Kita menyaksikan desa Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi makmur. Suatu ketika seorang penentang beragama Hindu yang rumahnya berdekatan dengan Masjid Aqsa selalu membuat masalah dan berkata bahwa dia merasa terganggu oleh kegaduhan anak-anak dan terlalu banyak orang yang berkumpul di sana. Dengan perluasan masjid tersebut, sekarang rumahnya telah menjadi bagian dari masjid.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau ra mengalami masa ketika Hadhrat Masih Mau’ud as diboikot. Orang-orang mencaci serta melempari beliau as dengan batu. Dalam setiap kesempatan beliau selalu diolok-olok. Tapi meskipun dihadapkan pada seluruh penentangan itu, apa yang terjadi? Suatu ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud menyampaikan khotbah dimana beliau bersabda, “Sembilan puluh lima persen (95%) orang yang duduk di depan saya sekarang ini adalah mereka yang dulunya pernah menentang, namun kemudian masuk ke dalam Jemaat.”

Beliau bersabda, bahwa setelah Hadhrat Khalifatul Masih I ra wafat, terjadi kehebohan besar dalam Jemaat. Yang menjadi pemimpin grup yang menimbulkan kehebohan itu adalah dia yang pernah menguasai Sadr Anjuman. Mereka berkata dengan nada menghina, “Akankah kita menjadi budak dari seorang bocah kecil?” Namun Tuhan memasukkan ru’b (kewibawaan) anak itu ke dalam hati mereka sehingga mereka meninggalkan Qadian dan tidak kembali. Mereka telah membual bahwa 98% Jemaat ada bersama mereka dan hanya 2% yang ada bersama Khilafat. Tetapi sekarang, bahkan 2 % pun tidak ada bersama mereka dan lebih dari 98% persen ada bersama Khilafat.”[11]

Pada tahun 2014 sekarang, jamaah yang hadir di London pada saat khotbah Jumat disampaikan lebih besar daripada jamaah di masa ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyampaikan khotbah. Faktanya, bahkan, jemaah di masjid Fazl London lebih besar dari saat Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Ini semua tanda-tanda Ilahi yang senantiasa memberikan dukungan serta keberhasilan. Ini semua adalah tanda-tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as serta dukungan Ilahi yang dinikmati oleh Khilafat ini. Semoga kita senantiasa memperhatikan masalah ini serta dapat meningkatkan keimanan kita serta keimanan anak-anak kita.

Penerjemah: Hafizurrahman & Mahmud Wardi, editor: Dildaar Ahmad D.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Mi’yar Shadaqat, Anwarul Ulum jilid 6, 61-62

[3] [3] Mi’yar Shadaqat, Anwarul Ulum jilid 6, 61-62

[4] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 17, h. 553-555.

[5] Al-Fadhl, Qadian, 30 Maret 1957, h. 6-7, jilid 11/46, nomor 77

[6] Tadzkirah, hal. 609, edisi 2009

[7] Al-Fadhl, Qadian, 30 Maret 1957, h. 6-7, jilid 11/46, nomor 77

[8] Sair Ruhani 3, Anwarul Ulum jilid 16, h. 383.

[9] Zhamimah Akhbar al-Fadhl Qadian,

[10] Al-Fadhl, Qadian, 9 Februari 1932, h. 6, jilid 19, nomor 95.

[11] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 15, h. 207