Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

04 Agustus 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Termasuk berkat rahmat dan karunia Allah Ta’ala yang luar biasa-lah, sehingga minggu lalu Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah UK ditutup dengan baik. Selama tiga hari Jalsah, kita menyaksikan pemandangan-pemandangan karunia dan berkat dari Allah Ta’ala. Ada juga rasa cemas dan takut karena melihat situasi terkini. Namun, Allah Ta’ala dengan karunia-Nya saja telah melindungi kita dari dampak-dampak negatif situasi tersebut dan setiap peserta merasa bahwa pertolongan dan keberkatan Allah Ta’ala terus menerus tercurah. Jadi tak perduli betapapun banyaknya kita bersyukur kepada Allah Ta’ala, semua itu tidaklah cukup. Rasa syukur yang hakiki hanya bisa diberikan jika kita secara terus-menerus berusaha keras untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Syukur yang seperti ini harus dijalankan oleh setiap relawan Jalsah supaya kita mengusahakan ridha Allah dengan cara itu dan dengan keberkatan kesyukuran ini kita mengokohkan diri dalam memperelok kemampuan-kemampuan kita.

Para tamu pun harus bersyukur kepada Allah juga supaya mereka dapat menarik karunia Allah Ta’ala lebih banyak lagi dan membuat perubahan-perubahan suci berkesinambungan di dalam diri mereka. Para tamu juga harus menyampaikan kesyukuran (penghargaan dan terima kasih) kepada para Khuddam yang memikul tugas pengkhidmatan. Nabi Muhammad saw telah bersabda, مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ لاَ يَشْكُرِ اللَّهَ ‏ ‘mal laa yasykurinnaasa laa yasykuriLlaah.’ – “Orang yang tidak bersyukur kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala.” Oleh karena itu semua peserta harus berterimakasih (bersyukur) kepada para panitia yang bertanggung jawab atas terlaksananya jalsah tersebut.

Demikian pula, para relawan harus bersyukur di segala segi kepada Allah Ta’ala yang telah berkenan atas mereka untuk mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as, yaitu mereka  yang hadir demi meraih keimanan maupun yang datang untuk memperoleh pengetahuan agama. Diantara tujuan Jalsah ialah menciptakan perasaan-perasaan yang dapat dijadikan teladan dalam persaudaraan dan kesyukuran dalam diri mereka yang hadir. Perasaan-perasaan kecintaan dan persaudaraan yang kita perlihatkan kepada para Ahmadi dan non Ahmadi di kalangan tamu akan berkesan bagi setiap tamu Jalsah.

Perilaku setiap Ahmadi – selain program-program keilmuan dan keagamaan – membekaskan kesan agung bagi para tamu. Di dalam Jalsah, para tamu menemukan teladan hakiki pengamalan ajaran-ajaran Islam. Itu berpengaruh besar pada mereka. Mereka saksikan setiap panitia mulai dari anak-anak hingga orang tua mengkhidmati para tamu dengan penuh ketulusan yang luar biasa.

Demikianlah, para peserta pun mengikuti Jalsah dengan penuh khidmat, tanpa menebarkan kerusuhan atau kejahatan untuk meraih keuntungan dari acara Jalsah. Sikap teladan semacam ini menghadirkan pemandangan yang sangat menakjubkan bagi orang-orang duniawi. Para tamu yang hadir dari kalangan Muslim luar Jemaat dan non Islam pun telah mengungkapkan pandangan mereka. Kini saya akan menyampaikan beberapa pandangan mereka yang mereka ungkapkan setelah menyaksikan suasana Jalsah. Mereka menjelaskan secara terbuka tanpa keraguan bahwa jika memang ini ajaran Islam, maka dunia memerlukan ajaran ini tersebar ke seluruh penjurunya.

Maryam Boni Jialo, Mantan Menteri Luar Negeri Benin, Afrika Barat yang juga saat ini penasehat presiden negara itu dan menteri senior menulis: “Melalui Jalsah ini, saya dapat memahami Jemaat Ahmadiyah secara mendalam dan dekat. Saya begitu terkesan dengan pengelolaan kronologis Jalsah. Level para panitia dalam penyelesaian pekerjaan cemerlang. Saya kagum dengan keikhlasan mereka. Saya telah meninjau pengaturan Jalsah secara mendalam. (lihatlah bagaimana orang-orang secara kritis mengamati Jalsah) Saya tidak menemukan kekurangan atau kelemahan di Jalsah yang agung ini. Saya amati tiap bagian Jalsah dengan penuh selidik. Saya temukan level kepanitiaan yang cemerlang. Setiap kali saya lihat para panitia, saya temukan tiap orang dari mereka – sama saja baik itu anak-anak, dewasa, pemuda, kaum laki-laki maupun wanita –  berusaha mengutamakan kenyamanan (kemudahan) orang lain dibandingkan diri mereka sendiri. Seumur hidup saya tidak akan pernah melupakan wajah-wajah penuh senyuman, yang menemukan kebahagiaan dengan mengkhidmati para tamu. Saya akan membawa kenangan-kenangan indah nan abadi ini dalam hidup saya.”

Saya berharap ini berdiri di negara saya juga. Jemaat Ahmadiyah ibarat akademi yang menyediakan pelajaran-pelajaran bagi para muda/i di tiap negara. Dari segi keruhanian dalam Jalsah ruhaniah ini menambahkan bagi saya atmosfer-atmosfer persaudaraan. Saya telah merasakan suasana lingkungan ini pertama kali dalam kehidupan saya. Mungkin para tamu lain menyaksikan itu sebagai hal pertama kali. Islam yang disajikan oleh Jemaat Ahmadiyah-lah satu-satunya Islam yang menyediakan perdamaian bagi dunia dan itu mampu menyelesaikan problem-problem dunia. Pidato Imam Jemaat di kaum wanita meninggalkan kediaman di pemikiran saya. Dalam pandangan saya, kedudukan wanita di kelompok-kelompok Islam
lainnya  tak lebih seperti pelayan sementara Imam Jemaat Ahmadiyah menyifatkan para wanita sebagai para guru dan menjelaskan kewajiban mereka untuk mendidik dan mengajar generasi-generasi penerus.
 Generasi tersebut ialah masa depan dunia. Artinya, masa depan dunia berada di tangan para wanita. Masa depan agama pun di tangan mereka. kedudukan yang  diberikan bagi kaum wanita begitu tinggi dan hanya melalui inilah masyarakat yang benar dan damai dapat didirikan.”

Kemudian anggota parlemen Guatemala, Amerika Tengah, Iliena Calles (seorang wanita) mengungkapkan perasaannya dengan mengatakan, “Mengikuti jalsah merupakan pengalaman yang sangat unik dan menakjubkan. Telah terjadi perubahan dalam pikiran saya mengenai Islam dan Jemaat Ahmadiyah. Media massa telah menyediakan gambaran yang salah mengenai Islam bahwa ia mengajarkan kekerasan dan kebencian padahal saat ini kita menyaksikan di Jalsah Salanah ini gambaran praktis ajaran sejati Islam nan damai. Moto Jemaat Ahmadiyah ‘Love for all hatred for none’ adalah jalan satu-satunya yang dapat menciptakan di dunia ini kedamaian, kecintaan dan keadilan. Aktifitas para panitia mengkhidmati ribuan tamu mengagumkan saya. Pemandangan ini amat cemerlang dan ajaib. Saya telah mendengarkan pidato Imam Jemaat bagaimana surga  tersembunyi di kaki-kaki para kaum ibu. Dibandingkan berada di tenda laki-laki, saya merasa nyaman, enak dan bebas di tenda wanita. Merupakan ajaran indah Islam bahwa ia mengandung kemuliaan, perlindungan dan kebebasan sempurna bagi kaum wanita. Saya akan kembali ke negara saya sembari membawa ajaran Islam nan indah perihal kedamaian.”

Begitupun, Sergio Moya, profesor dari Universitas Nasional Kosta Rika, Amerika Tengah, mengatakan: “Saya menyaksikan potret baru Islam melalui jalsah ini. Saya telah melihat sebuah komunitas Muslim yang patut dicontoh dalam hal saling mencintai dan menyayangi, dimana hal itu memperlihatkan gambaran praktis tentang keimanan mereka. Setelah pulang ke negara saya, saya akan mengabari kawan-kawan saya dan murid-murid saya bahwa Jemaat Ahmadiyah menyajikan praktik ajaran benar dan indah dari Islam dan pada hakikatnya mengamalkan motonya.” (demikianlah para tamu menjadi sarana tabligh)

Kemudian, Douglas Monteroso, penasihat untuk anggota parlemen Kosta Rika berkata: “Saya menyimak pidato yang disampaikan Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah dengan seksama dan penuh perhatian. Saya amat begitu terkesan dengan nasehat beliau bahwa ketika seseorang memaafkan musuh-musuhnya dan mendoakannya, hatinya akan dibersihkan dari kebencian dan permusuhan.” (Ajaran ini telah diberikan kepada kita oleh Hadhrat Masih Mau’ud as) Dengan ajaran ini saja, perdamaian bisa didirikan di dunia. Pidato ini secara ruhani dan amal perbuatan bermanfaat bagi saya. Di Jalsah, saya menemukan ajaran benar dari Islam dan pengamalannya.”

Joseph Pierre Duplan, utusan presiden Haiti berkata: “Sebelum menghadiri Jalsah, hati saya amat takut karena saya tidak tahu orang-orang Muslim itu dan apa yang akan saya hadapi di sana. Namun, semua ketakutan dan keraguan itu menghilang setelah menghadiri Jalsah tatkala saya lihat setiap pribadi menampilkan kesederhanaan dan kesabaran. Ada aura persaudaraan dalam suasana tersebut. Saya bukan seorang yang relijius (taat beragama), namun setelah meghadiri Jalsah ini dan berjumpa dengan Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah hati saya berkesimpulan bahwa jika ada agama yang benar, maka Islam yang dibawa Ahmadiyah lah agama tersebut.

Tn. Zoucomore, presiden Komisi Hak Asasi Manusia Burkina Faso, Afrika Barat, yang hadir pada acara Jalsah tersebut berkata: “Saat saya diundang untuk menghadiri Jalsah Salanah saya merasa heran saja karena saya non Ahmadi dan juga bukan seorang Muslim. Setelah menghadiri Jalsah, saya perhatikan Jemaat menggemakan kecintaan bagi semua tanpa diskriminasi warna kulit dan kebangsaan dan memperlakukan semuanya dengan kecintaan serta memberikan kemuliaan dan penghormatan bagi setiap orang secara sama. Mereka mengurus semuanya.

Saya telah mendengar pidato dari banyak pemimpin agama. Saat berbicara, mereka berbicara seolah-olah hanya merekalah yang berada di jalan yang benar. Mereka memainkan emosi orang-orang. Tetapi, saat saya menyimak pidato Imam Jemaat Ahmadiyah dengan penuh seksama ternyata titik fokus dari semua pidato tersebut adalah bagaimana membangun perdamaian dunia. Dengan ajaran ini saja menjadi mungkin untuk membentuk perdamaian dunia dan kita dapat mengalahkan teroris dan kesewenang-wenangan.”

Demikian pula, ada seorang wanita bernama Katrina Celjak dari delegasi Kroasia. Ia menyampaikan, “Dahulu saya seorang biarawati di sebuah gereja. (sekarang sedang menacari kebenaran) Suasana jalsah, pameran disini dan segala informasi lainnya tetang Jemaat telah mencerahkan pikiran saya. Saya merasa perjalanan saya dalam mencari kebenaran akan segera tercapai. Pidato-pidato Imam Jemaat Ahmadiyah telah meninggalkan kesan besar di hati saya. Saya telah mulai memeriksa semua hal dengan mendalam.”

Seorang mahasiswa International Business Management dan juga merupakan bagian dari delegasi Kroasia mengatakan bahwa ia amat terkesan dengan kecintaan, dedikasi dan pengkhidmatan para Ahmadi dalam kepanitiaan Jalsah. Ia berkata, “Anak-anak Ahmadi penyedia air minum dengan kecintaan dan keikhlasan. Penataan pemarkiran kendaraan dan lalu lintas di situasi padat serta usaha meninggikan level kebersihan, semua hal ini telah tersimpan baik di hati saya secara mendalam.”

Ia mengatakan juga bahwa itu pertama kalinya menghadiri Jalsah Jemaat. Ia akan membawa kenangan itu hingga sepanjang hidupnya. Jemaat di sana hendaknya tetap mengontak dia senantiasa.

Pasangan tua Muslim ghair Ahmadi dari Kroasia yang pada tahun lalu hadir, kini hadir kembali. Mereka berkata kepada saya dalam pertemuan secara pribadi: “Tahun lalu kami hadir sebagai seorang Muslim umumnya, dan tahun ini kami hadir sebagai Muslim Ahmadi.” (Oleh sebab itu, ada karunia yang besar dari Allah Ta’ala pada acara Jalsah ini, karena banyak orang yang juga menyatakan bai’at.)

Seorang anggota DPR Filipina, Salvador Belaro Jr. yang hadir dalam Jalsah ini mengatakan, “Pengalaman menghadiri Jalsah ini telah membuka mata saya dan saya memiliki kesempatan untuk belajar banyak. Hal yang menurut saya paling menyenangkan adalah para anggota Jemaat saling bergaul satu sama lain dengan penuh kecintaan, penuh akhlak, saling menghormati dan sebanyak mungkin saling membantu antara satu dengan lainnya.”

(Apa-apa yang orang-orang non Ahmadi berkesan di hari-hari Jalsah harus dijaga oleh para Ahmadi di sepenuh tahunnya juga. Tanggungjawab besar bagi tiap Ahmadi untuk tidak menjadikan perilaku mereka hanya sementara saja beberapa hari melainkan dawam untuk seterusnya)

“Jalsah telah menambah pengetahuan saya mengenai Islam. Saya menjadi tahu ajaran indah Islam yang sebelumnya tidak saya tahu. Dengan menghadiri Jalsah saya menjadi tahu bahwa apa-apa yang dikatakan orang tentang Islam di media pemberitaan biasanya secara mutlak tidak ada hubungannya dengan Islam.”

Kemudian seorang tamu dari Irlandia, Darren Howlett Conventry yang merupakan Kepala Polisi Nasional Irlandia mengatakan, “Ini adalah Jalsah pertama saya. Selama Jalsah saya memiliki kesempatan berjumpa dengan orang-orang Jemaat Ahmadiyah tertentu yang pemurah dan berfitrat baik serta terlibat dalam pengkhidmatan.” (orang-orang terkesan dengan pengkhidmatan panitia Jalsah) ”Orang-orang Ahmadi itu tidak hanya mengangkat slogan ‘Love for all, hatred for none’ secara lisan saja bahkan membenarkan itu dengan perbuatan melalui pengkhidmatan terhadap para tamu secara sukarela dan tanpa ketamakan akan upah atau ucapan terima kasih. Saya berterima kasih kepada anda sekalian atas kesediaan kalian memberi saya kesempatan agung untuk merenungi ajaran Islam dan menyimak program Jalsah. Qashidah yang dilantunkan menjelang pidato Imam Jemaat amat berkesan besar pada saya.”

Lalu seorang tamu dari Belanda, Mr. Arnaud Van Doorn menulis, “Suasana selama Jalsa begitu penuh persahabatan dan saya banyak belajar dari kesempatan ini. Bagi saya kunjungan-kunjungan tersebut begitu terkenang. Pesan-pesan positif mencapai puncaknya di udara. Secara khusus berkesan pada diri saya keikutsertaan pada muda yang berkhidmat dengan santun. Menyaksikan para muda bekerja telah menimbulkan di dalam jiwa saya harapan baru. Saya telah menghadiri program-program yang tidak dibatasi hanya bagi Muslim maupun bukan. Namun, saya perhatikan pertama kali perkumpulan ini mengikutsertakan penuh dengan kaum muda.”

Kemudian Pengacara Senior Dewan Kerajaan, Mr David Martin berkata, “Apapun yang hendak saya ucapkan bukanlah dari mulut saya, namun ini dari suara hati saya. Sampai hari ini saya belum pernah menghadiri acara yang seperti ini. Saya seorang Yahudi dari ibu saya. Saya terkadang mengunjungi gereja Inggris juga dan saya katakan dengan yakin saya belum pernah menghadiri acara yang seperti Jalsah Salanah ini. Anda sekalian merupakan gambaran Islam yang terindah dan paling cemerlang. Sampai sekarang saya masih heran kenapa BBC (kantor berita resmi Inggris) masih saja belum membuat liputan Jalsah.”

Saya telah mendengar BBC telah dalam proses perencanaan ke sana sekarang supaya memberitahukan orang-orang pandangan-pandangan Jemaat, keyakinan-keyakinan dan tata cara hidupnya.

Tamu dari Sierra Leon, Abdul Kabba Kargbo menceritakan kembali kesannya, “Saya sangat terpesona menyaksikan pengelolaan Jalsah Salanah. Seandainya saya tidak hadir disini dan hanya mendengar kabar ada lebih dari 37 ribu orang berkumpul selama tiga hari di satu tempat, dan tidak ada kejadian bermasalah sama sekali, kemungkinan besar saya tidak akan percaya. Namun setelah menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri, saya merasa kagum. Saya tidak pernah melihat seorang pun complain (mengeluh) dan semua orang melayani dengan penuh keramahan dan kerendahan hati.” Orang-orang luar Jemaat terkesan dengan para panitia jemaat dan sukarelanya. Setiap panitia baik kecil atau besar, laki-laki atau perempuan melakukan khamusyi tabligh (tabligh diam). Inilah sebagian komentar-komentar orang-orang luar Jemaat.

Hadir juga para pemimpin Muslim yang mewakili pemerintahan mereka. Saya hendak menyajikan komentar-komentar mereka juga. Tn. Alhaj Mahmdu Salim Baa yang merupakan Wakil Ketua Majelis Nasional Guinea Conakry, Afrika Barat mengatakan, “Saya amat terkesan dengan pengelolaan Jalsah dan kedisiplinannya.  Saya tidak merasa ada kekurangan meski telah dicari-cari. Pengelolaan amat luas jangkauannya dan jumlah yang hadir sangat banyak tapi tidak saya temukan ketidakteraturan dan pertengkaran. Saya pernah berkesempatan berhaji ke Baitullah. Begitu pula saya ikut di sejumlah pertemuan agama di beberapa negara Islam namun belum pernah melihat yang sehebat ini keteraturannya yang mana berhak mendapat penghargaan. Inilah dia ruh Islam yang kami lihat di sini.

“Pendidikan anak-anak kecil juga luar biasa. Anak-anak menanyai kami apakah kami memerlukan sesuatu lalu menyediakan yang kami minta. Mereka memberikannya kepada kami dengan wajah ceria. Mereka tidak hanya menanyai keperluan kami sekali saja bahkan berulang kali. Orang-orang dari berbagai negara datang kemari tetapi tiap orang dari mereka menemui yang lainnya seperti itu keluarga mereka. Anda berada diatas semuanya dalam hal amal perbuatan. Anda sekalian berhak diatas jalan yang lurus. Saya tegaskan bahwa tangan Allah bekerja di belakang Anda. Namun sebagian orang tidak bergabung dengan Jemaat disebabkan larangan-larangan duniawi.”

“Sepulangnya kami ke negara kami, kami akan mengarahkan pemerintahan kami agar menolong Jemaat di tiap hal supaya Jemaat kokoh dalam membimbing kami ke ajaran-ajaran Islam  yang benar di negara kami juga.”

Lalu, ada Tn. Hasan Gita yang merupakan Direktur Nasional Kepolisian Guinea Conakry, Afrika Barat mengatakan, “Mengingat keadaan saya sebagai seorang polisi, saya mengamati secara khusus bidang keamanan. Saya perhatikan sistem pengamanan mengagumkan dan tidak saya temukan kelemahan. Setelah mendengarkan pidato-pidato Imam Jemaat Ahmadiyah, saya merasa bangga sebagai seorang Muslim.”

Kemudian anggota parlemen Sierra Leone, Tn. Alie Kaloko menjelaskan: “Ahmadiyah merupakan presentasi Islam yang sebenarnya. Upaya yang para Ahmadi Muslim untuk menyebarkan perdamaian di dunia patut diapresiasikan. Pada hari ini terorisme diasosiasikan ke Islam di tiap tempat. Namun Jemaat Ahmadiyah membuktikan hal itu salah. Pengelolaan Jalsah mengagumkan. Anak-anak kecil juga mengkhidmati para tamu. Pemandangan ini menaikkan keruhaniannya. Saya lihat pemandangan ini saja cukup untuk membuktikan kebenaran Jemaat.”

Seorang tamu dari Turkmenistan, Tn. Abdur Rasyid berkata: “Saya telah mendengar dari seorang kawan saya bahwa motto Jemaat Ahmadiyah ialah love for all, hatred for none. Sejak tiba di London, saya dikelilingi oleh aura kecintaan dan kasih sayang seakan-akan saya berada ditengah-tengah orangtua dan saudara-saudara saya. Satu hal yang amat berkesan di jiwa saya mendalam ialah tatkala di hari keberangkatan saya dari Turkmenistan dan tiba di London. Saya dijemput dari bandar udara hingga ke penginapan. Saat sampai di sana, para pemuda Ahmadi setelah mengucap salam yang disunnahkan berkata, ‘Anda sekalian datang melewati perjalanan nan jauh. Pasti merasa lapar. Maka dari itu, kami berharap terlebih dahulu Anda menyantap makanan lalu beristirahat.’ Mendengar hal ini, ingatlah saya akan Hadits Nabi Muhammad saw ketika datang tamu kepada beliau lalu beliau bersabda kepada para Sahabatnya adakah yang akan menjamu tamu tersebut.” (Lalu ia menyebutkan Hadits panjang itu yang berkenaan dengan pemuliaan para tamu.)

Selanjutnya, ia mengatakan, “Setelah menghadiri Jalsah saya baru paham bahwa sepanjang hidup saya mencari Tuhan, namun baru menjumpai-Nya setelah datang ke sini. Saya mendapat taufik dengan karunia Allah untuk ikut serta dalam baiat internasional dan saya baiat (dia datang ke sini dan baiat juga. Saat berjumpa saya, ia berbicara dengan saya dengan penuh perasaan) ”Saat berbaiat, air mata mengalir dari mata saya. Tidak pernah saya mengalirkan air mata yang seperti itu bahkan ketika kewafatan ayah saya juga. Secara lahiriah tidak ada sesuatu sebab namun saya paham setelahnya bahwa di dunia ini telah muncul sebuah harapan dan sebuah Jemaat tanpa tanding telah bangkit diatasnya. Jemaat itu siap sedia secara amal perbuatan untuk mempersembahkan setiap pengorbanan demi menyelematkan dunia dari tiap musibah dan bencana”

Ketika para Mubayyin Baru menyaksikan suasana yang penuh kasih sayang dan persaudaraan maka semakin meningkatkan keimanan mereka. Ibu Winson Williams, seorang Mubayyi’ah Baru yang datang dari Jamaika berkata: “Dalam Jalsah Salanah, pidato-pidato Amirul Mu’minin nasharahuLlahu ta’ala dan baiat Internasional merupakan pengalaman yang amat menyentuh perasaan. Ketika saya tahu bahwa ada banyak sukarelawan yang berkhidmat secara voluntir (sukarela), terlintaslah dalam benak saya bahwa Jemaat mengarahkan dengan susah payah yang banyak di jalan Tarbiyat bagi para relawan itu. Namun, setelah menyaksikan mereka bekerja dengan ikhlas, saya merasa Jemaat ini betul-betul Jemaat Allah dan Khalifah didukung oleh Allah Ta’ala secara langsung. Saya merasa takjub saat di tempat pemarkiran mobil khususnya para Khuddam menunaikan kewajiban mereka dengan penuh semangat meski lalu lintas tak begitu baik. Belum pernah saya saksikan pemandangan ini sebelumnya di kehidupan saya.”

Seorang walikota di salah satu kota di Negara Pantai Gading, Tn. Zrakpa Dopeu mengatakan: “Ketika saya menerima Islam Ahmadiyah saya harus memikul derita mendengarkan banyaknya komentar negatif dari orang-orang. Waktu itu saya tidak tahu banyak tentang Islam, oleh karena itu saya jadi khawatir bagaimana saya harus memastikan apakah orang-orang Ahmadi ini Muslim atau bukan. Saya terkadang berpikiran apakah saya telah melakukan dosa dengan bergabungnya saya dalam Jemaat. Ketika saya menghubungi Jemaat, mereka mengundang saya untuk hadir di Jalsah Salanah supaya mengamati Jemaat lebih dekat. Saat saya datang ke sini, saya menyaksikan gambaran hakiki Islam.

Setiap pidato Khalifah, dimulai dengan nama Allah dan nama Rasul-Nya dan merujuk pada dua nama itu. Dan seluruh pertanyaan saya yang berkaitan dengan apakah Ahmadiyah itu Muslim atau bukan telah terjawab setelah melihat suasana Jalsah. Sekarang saya dapat katakan dengan bangga bahwa apa yang saya lakukan ini adalah benar. Para Ahmadi ialah Muslim hakiki dan saya tentram dengan hal itu. Seluruh amal perbuatan para Ahmadi ini sesuai dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan Rasul saw.”

Tn. Khalid Bilal yang merupakan Walikota Belmopan, ibukota Negara Belize, Amerika Tengah, mengatakan: “Menghadiri Jalsah merupakan pengalaman yang sangat istimewa. Seakan setiap anggota Jemaat ditugaskan hanya untuk melayani saya. Pengalaman ini menambahkan keinginan saya untuk mengenal Islam. Saya pulang ke negara saya setelah belajar pelajaran soal saling menyayangi dan saling bersaudara. Ini yang saya lihat di berbagai tempat di Jalsah.

Andai saja saya dapat menempatkan itu di sebuah kaca dan saya bawa itu bersama saya untuk saya beritahukan kepada penduduk negeri saya. Tata kelola Jalsah memiliki standar yang amat tinggi dan saya senantiasa mengingat sambutan yang saya terima di sini. Saya akan selalu bersyukur dan merasa berhutang atas kenyataan bahwa anda telah mengundang saya ke sini. Saya sedang sendiri ketika di tenda para tamu datang para pemuda Ahmadi. Saya tahu bahwa mereka mendatangi saya karena merasa saya datang dari luar dan mungkin merasa sendiri. Hal ini berkesan di hati saya bahwa mereka mengenali cara perhatian terhadap tamu.”

Acara Baiat Internasional pun memiliki efek mendalam bagi orang-orang yang bukan Jemaat. Telah saya sebut satu kejadian. Ada juga kejadian lainnya. Anggota Majelis Parlemen Nasional Kroasia, Tn. Auch Koik Domango, yang hadir dalam Jalsah dan menyaksikan proses bai’at Internasional berkata: “Saya  sangat terkesan dengan proses Baiat Internasional. Saya telah banyak menghadiri berbagai acara keagamaan Kristiani. Namun, semangat keikhlasan dan kesetiaan terhadap agama yang saya saksikan saat proses baiat Internasional benar-benar pengalaman nyata dan menakjubkan yang akan saya kenang seumur hidup.”

Tamu dari Mesir, Dr Hani Rashwan mengatakan, “Saya tiba di ruang Jalsah Gah tatkala proses Baiat Internasional berlangsung. Tatkala menyaksikan rantai manusia dari ruangan dalam Jalsah hingga keluar ruangan, saya tampak tergerak dan takjub. Tidak mungkin saya saksikan pemandangan ini di Mesir selamanya. Saya demikian terbawa perasaan hingga saya berhenti di sebuah antrian dan mulai melafalkan istighfar dan kalimat-kalimat berbahasa Arab.”

(Ia melafalkan kalimat-kalimat itu namun ini tidak berarti ia telah berbaiat tetapi dia pada waktu itu dalam keadaan emosional. Tapi ia berkata akan memikirkan soal Jemaat)

Jalsah menarik perhatian  media dan pers terhadap Jemaat. Sekarang mereka terpaksa memberitakan kabar-kabar yang benar mengenai Islam sebagai pengaruh Jalsah Salanah. Nn. Sonia De Lasalle yang merupakan wartawati surat kabar Prancis, Liberation, menceritakan pengalamannya. Ia berkata: “Saat saya pertama kali tiba di sini saya cukup khawatir karena pria dan wanita dipisahkan. Namun tatkala saya mendatangi berbagai arena Jalsah, saya perhatikan bukannya wanita yang menyiapkan makanan malahan para pria yang menyiapkannya  (memasak dll). Saya kemudian menghabiskan banyak waktu di bagian Jalsah Gah kaum ibu dan saya menyadari bahwa karena pengaturan secara terpisah itulah maka para wanita memiliki banyak kebebasan dan yang paling utama adalah mereka bebas melakukan segala yang mereka inginkan.”

Jadi beberapa gadis remaja yang hidup di sini (di negara-negara Barat), dan atas nama pendidikan atau kebebasan mengklaim bahwa mereka diperlakukan secara tidak adil perlu merenungkan hal ini masak-masak, bahkan orang-orang luar Jemaat mengapresiasikan penataan acara Jalsah kita.

Jurnalis lainnya yang bekerja untuk saluran berita nasional di Bolivia mengungkapkan kesannya: “Menurut orang-orang Barat, Islam mengesampingkan wanita dan menganggap mereka tidak berarti sama sekali. Namun saya menyaksikan bahwa pimpinan Jemaat Ahmadiyah memberikan penghargaan kepada wanita yang meraih sukses besar, dan setiap individu dipanggil sesuai nama-nama mereka. Yang timbul di benak saya ialah harapan kuat untuk menulis hal ini di suratkabar tempat saya bekerja sepulangnya saya. Apakah ada pemimpin yang berpidato hanya di kalangan kaum wanita saja? Tidak.”

Seorang Jurnalis perempuan ikut mengulang kata-kata yang dibacakan saat proses baiat Internasional. Saat ditanyakan, wanita itu menjawab: “Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan saya saat itu, dan tidak pernah dalam hidup saya mengalami perasaan dan emosi semacam itu, dan dengan sendirinya saya mulai mengulangi kata-kata tersebut. Saya menyangka dalam acara-acara seperti ini pasti ada musik untuk membuat haru-biru perasaan dan emosi takkan terharukan tanpa adanya musik namun tahulah saya sekarang bahwa perasaan-perasaan itu biasa tercurahkan dari hati-hati para Ahmadi secara langsung dan di sana tidak ada keperluan untuk jenis musik apa pun.”

Jurnalis lainnya dari Bolivia, Tn. Carlos Jamie Oria menuturkan: “Satu hal yang banyak mengesankan saya tentang Jemaat Ahmadiyah adalah tekad dan upaya mereka untuk membangun perdamaian. Pesan mereka tersebut amat penting di hari-hari ini. Demikian pula amat baik keinginan Jemaat menghimpun orang-orang dari berbagai bangsa dan budaya yang berbeda diatas dasar Islam yang benar. Hal ini juga terbetik dalam benak saya bahwa pengaturan luas yang selesai dengan bantuan para relawan saja. Jelas dari hal itu bahwa tidak mungkin menyelesaikan sesuatu pekerjaan betapa pun sulitnya tanpa keimanan, keikhlasan dan usaha yang ikhlas.

Imam Jemaat Ahmadiyah menyampaikan pidato seputar hak-hak kaum laki-laki dan kaum wanita beserta  kewajiban-kewajiban mereka yang mana menghapus banyak keraguan. Menjadi jelaslah bagi saya hikmah ajaran Islam terkait laki-laki dan wanita. Amat membahagiakan melihat wanita-wanita Ahmadi memperoleh prestasi dan kesuksesan. Hal ini membuktikan bahwa wajib bagi setiap jenis kelamin, baik pria maupun wanita untuk berusaha keras meraih kedamaian di dunia ini dimulai dari tingkat keluarga dan naik ke tingkat masyarakat, Negara, lalu ke tingkat internasional. Pidato penutupan Jalsah tidak hanya penting bagi Jemaat tapi juga bagi masyarakat lain di dunia dan seluruh bangsa.”

Jadi, lingkungan Jalsah dan suasana yang diciptakan oleh orang-orang yang diberikan tanggungjawab memberikan kesan mendalam kepada setiap orang yang berpikiran adil. Semoga Allah menganugerahi ganjaran kepada mereka yaitu semua orang yang dilimpahkan tugas dan tanggungjawab, baik kepanitiaan kaum laki-laki maupun perempuan dan juga kepada hadirin yang hikmat mendengarkan ceramah tentang nilai-nnilai Islam. Kita harus ingat ribuan relawan baik laki-laki maupun perempuan yang didalamnya juga termasuk anak-anak, para remaja putra dan putri serta pria dan wanita di dalam doa-doa kita.  

Pada kali ini terjadi kelemahan dalam pengaturan disebabkan hujan dan mungkin bisa terjadi hal lain juga. Namun, para panitia – meskipun demikian – berlaku dengan hikmat dan berusaha keras tidak membiarkan saja tempat itu untuk merasakan kekurangan tersebut. Air terkadang berhenti namun umumnya pengaturan Jalsah baik.

Mayoritas Ahmadi yang ikut dalam Jalsah dan mengungkapkan komentar-komentarnya secara umum baik. Meski ada juga sebagian komentar negatif. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, sebagian kelemahan tetap ada walau bagaimana pun juga di sebuah pengaturan berjangkau luas dan khususnya jika itu hanya sementara. Namun, semua relawan baik laki-laki, perempuan muda atau tua semuanya berhak mendapat penghargaan dari kita. Saya juga ingin mengatakan kepada para panitia bahwa semua pengaduan, keluhan dari peserta atau hal-hal yang memerlukan perhatian harus mereka catat di dalam buku catatan, dan mereka harus berusaha melakukan perbaikan di masa mendatang.

Jurnalis media informasi memberikan liputan yang sangat baik soal aktifitas Jalsah dan dalam cakupan yang luas. Melalui saluran-saluran media, sebanyak 358 laporan berita yang mempublikasikan tentang Jalsah Salanah, dan jumlah ini masih terus meningkat. Pesan Jemaat telah sampai ke 36 juta orang melalui media penerbitan online di internet. Melalui media suratkabar, radio dan televisi; pesan Jemaat mencapai 31 juta orang. Melalui media tercetak pesan Jemaat mencapai satu juta orang. Melalui media sosial Jemaat, pesan Jemaat sampai ke 58 juta orang. Pidato penutupan saya disiarkan langsung melalui MTA dan sekitar 250 ribu orang menyaksikan pidato tersebut via live streaming. Jadi menurut perkiraan kasar, tabligh tersebut disampaikan kepada lebih dari 158 juta orang melalui media-media tersebut.

Beberapa saluran media terkemuka pemberitaan yang meliput tentang Jalsah termasuk: BBC TV, BBC Radio, ITV; Surat Kabar “The Independent”; Surat Kabar “The Times”; Surat Kabar “Sunday Express”; London Evening Standard; New York Times; Facebook Live; Associated Press; Press Association; Special ews Agency, EFE; sebuah agensi surat kabar Indian, PTI, agensi berita Prancis, surat kabar “Liberation” dan “UNILET”.

Ringkasnya, pesan Ahmadiyah atau Islam hakiki sampai ke orang-orang dalam jangkauan luas melalui media-media informasi dan kita harus bersyukur kepada Allah atas hal itu.

Demikian pula di Afrika, jalannya Jalsah Salanah UK pun disiarkan liputannya di Afrika. Disamping MTA Afrika, sepuluh saluran lainnya menayangkan proses Jalsah Salanah dan total liputan yang disiarkan dari berbagai negara di sana lebih dari 150 jam. Melalui saluran-saluran itu diperkirakan lebih dari 60 juta menyaksikan aktifatas Jalsah. Baiat internasional dan pidato-pidato saya juga disiarkan oleh stasiun-stasiun itu. Stasiun televisi nasional di Sierra Leone juga menyiarkan aktifitas Jalsah secara menyeluruh selama 3 hari. Stasiun televisi lokal di kota Kainama di Sierra Leone menyiarkan aktifitas Jalsah secara menyeluruh. Dengan demikian dari pelosok ke pelosok lain negara itu menyaksikan aktifitas Jalsah.  

Stasiun televisi nasional di Gambia menyiarkan pidato-pidato Jalsah hingga ke program-program lainnya untuk pertama kalinya. Selain siaran langsung Jalsah Salanah, BBC Uganda menyiarkan liputan Jalsah Salanah dalam bahasa Swahili, yang disaksikan oleh khalayak ramai. Perlu diketahui bahwa stasiun televisi tersebut menjangkau sangat luas di wilayah itu. Sekitar 10 juta orang menyaksikannya. Demikian pula stasiun televisi dan radio nasional di Ghana juga menyampaikan kabar Jalsah kepada sekitar 50 juta orang. Sementara itu, melalui suratkabar dan stasiun televisi dalam corak ringkasan dan media sosial lainnya di Afrika berita Jalsah Salanah UK mencapai 35 juta orang. Ini semua ialah berkat karunia Allah saja sedangkan usaha kita amat sederhana dan sangat rendah.

Dalam kesempatan ini saya sangat berterimakasih kepada bagian Jurnalistik (Pers dan Media) di kepanitaan Jalsah Salanah UK, serta seksi Pers dan Media dari Negara-negara lain yang juga telah mengupayakan sebaik mungkin. Semoga Allah  memberikan ganjaran kepada mereka. Media-media yang berkomitmen dalam hal ini berperan banyak dalam tabligh dan dakwah serta pengenalan Jemaat bagi orang-orang. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala mengaruniai kita taufik memenuhi tanggungjawab-tanggungjawab kita, menarik karunia-karunia Allah dan mengutamakan agama diatas duniawi.

Hal yang hampir terlupakan untuk saya sebut ialah seperti tahun lalu, tahun ini pun para Khuddamul Ahmadiyah dari Kanada datang secara sukarela dan ambil bagian dalam pekerjaan pembersihan area Jalsah setelah selesai Jalsah. Jumlah mereka hampir 350 orang. Kali ini mereka datang dengan pesawat khusus. Mereka bekerja dengan cara terbaik hingga malam hari dimulai dari hari ketika penutupan Jalsah dan telah menyelesaikan banyak pekerjaan serta tidak ada yang tertinggal. Hari ini para anggota Khuddamul Ahmadiyah Inggris tampak melanjutkannya. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kebaikan kepada mereka semua.

Para Khuddam Kanada yang tiba sebelum acara jalsah, saya harap mereka semua ikut serta menyimak pidato-pidato dalam Jalsah. Jika mereka tidak melakukannya maka ini benar-benar salah. Oleh karena itu jika mereka berkeinginan datang lebih awal, maka mereka harus menyimak acara jalsah selama tiga hari, dan setelah itu mereka baru bisa ambil bagian dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan setelah Jalsah. Semoga Dia menganugerahi pahala bagi para relawan dalam kepanitiaan Jalsah dan memberi kita kesempatan untuk mengambil semua ajaran yang kita dengar selama Jalsah Salanah dan menerapkannya dalam kehidupan kita.

Setelah shalat saya akan memimpin shalat jenazah gaib untuk beberapa jenazah. Pertama, Sahibzadi Dzakiah Begum Sahiba, istri  Brigadir Mirza Daud Ahmad Sahib. Beliau putri Nawab Amatul Hafizh Begum Sahiba (putri Masih Mau’ud) dan Nawab Abdullah Khan Sahib. Beliau wafat di Tahir Heart Institute pada malam hari tanggal 23 Juli 2017, di usia 94 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Suami Almarhumah, adalah putra Mirza Syarif Ahmad (putra Masih Mau’ud). Jadi, Almarhumah ialah cucu Hadhrat Masih Mau’ud as dari pihak ibu dan suaminya ialah cucu Hadhrat Masih Mau’ud as dari pihak ayahnya. Beliau telah sakit sejak 3 atau 4 tahun lalu dan telah berada di Rumah Sakit sejak beberapa bulan lalu.

Dengan karunia Allah Ta’ala beliau merupakan seorang Mushiah dan sudah lama menjadi Mushiah sejak muda. Almarhumah dikaruniai lima putri. Mereka ialah Amatusy Syafi, istri Tn. Mahmud Ahmad Khan, cucu Nawab Mubarakah Begum (putri Masih Mau’ud), Amatun Nashir istri Tn. Mia Syahid Ahmad, Amatul Mushawwar istri Tn. Doktor Nuri, Amatul Mu’idz istri Tn. Manzhurur Rahman yang tinggal di Amerika lalau Amatun Nashir, istri Tn Raja Abdul Malik. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala meninggikan level kebaikan putri-putri beliau dalam ketakwaan dan kebaikan serta mengaruniai taufik pada mereka untuk terus dalam kebaikan ayah dan kakek mereka. Aamiin.

Dr Nuri menulis: “Keramahan merupakan sifat agung beliau. Beliau biasa mengkhidmati tamu tanpa membeda-bedakan dan menerima mereka dengan lapang dada. Ketika saya telah pensiun dari pekerjaan saya dan kemudian mewaqafkan diri saya kepada Jemaat, beliau berkata: ‘Keinginan terbesar saya bahwa ketika dianugerahi anak laki-laki, saya ingin mewakafkannya. Sekarang kamu telah mewaqafkan dirimu, kamu telah memenuhi keinginan saya.’” Semoga Allah Allah Ta’ala mengampuninya, mengangkat derajatnya dan merahmatinya.

Almarhumah Dzakiah Begum mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai ketua Lajnah Imaillah di wilayah Muhammad Ali Society, Karachi. Selama menetapnya ia di kota Kohat, di Pakistan, Almarhumah berperan serta dalam aktifitas Lajnah Imaillah. Suatu kali Nawab Amatul Hafizh Begum (ibunda Almarhumah) menulis sebuah artikel mengenai anak-anaknya dan memuji Almarhumah secara khas. Nawab Amatul Hafizh Begum mengatakan bahwa Almarhumah mengkhidmati Jemaat lebih banyak setelah kewafatan suaminya (ayahnya Almarhumah), Nawab Abdullah Khan.

Jenazah kedua Tn. Tariq Masud, Mubaligh yang berkhidmat di Nazarat Islah-o-Irshad Marakazia, dan putra Mas’ud Ahmad Tahir Sahib. Beliau wafat di Rabwah tanggal 24 Juli di usia 27 tahun, setelah tersengat arus kawat listrik tegangan tinggi  إنا لله وإنا إليه راجعون Innalilahi wa inailahi rajiun. Ahmadiyah dianut keluarga beliau dengan baiatnya kakek ayah beliau, Tn. Meher Bakhsy yang berasal dari kota Rajori di Kashmir. Tn. Meher Bakhsy berbaiat di tangan Hadhrat Khalifatul Masih II ra pada 1920 dan bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah. Almarhum Tariq Mas’ud lulus sekolah menengah ‘Talimul Islam’ di Rabwah pada 2007 lalu menempuh ujian sarjana dan lulus dari sekolah Muballigh di Rabwah pada 2014. Beliau Dai muda yang mukhlis, mulia dan memperhatikan orangtua dan teman-temannya serta para faqir miskin. Beliau banyak berderma kepada orang-orang miskin.

Rencana pernikahannya telah ditentukan beberapa hari sebelumnya tapi Allah telah memanggilnya sebelum waktu pernikahan. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajatnya, mengampuninya dan merahmatinya. Almarhum seorang Mushi. Beliau meninggalkan orangtua dan tiga saudara yaitu, Tn Asyfaq Ahmad Zhafr, Tn. Sarfiraz Ahmad Javid dan Tn. Ataur Rahim serta seorang saudari yaitu Fauziyah Mas’ud.

Ibu Almarhum berkata, “Almarhum berlomba dalam membayar candah dan menasihati kami untuk itu.” Ayahnya berkata, “Almarhum pemuda yang bertakwa. Beliau memiliki kecintaan yang mendalam kepada Khilafat dan pribadi yang sangat saleh. Beliau dawam melaksanakan shalat berjamaah. Bahkan sebelum menjadi mubaligh beliau mendesak keluarganya agar tepat waktu dalam melaksanakan shalat. Setelah shalat Subuh beliau biasa membaca al-Quran. Kami jadi merasa malu akan kelemahan kami bila melihat amal-amal Almarhum. Almarhum anak yang baik, taat dan amat penyayang. Almarhum tidak pernah berselisih dengan keluarganya dan ayahnya. Bila terjadi maka itu amat jarang sekali dan dengan santun Almarhum akan menjelaskan pendapatnya dengan santun. Almarhum amat ghayyur terhadap Khilafat. Jika ada satu orang yang berbicara yang menolak kedudukan Khalifah maka ia akan melarangnya segera. Jika orang itu tidak mau berhenti, ia akan keluar dari Majlis. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala mengangkat derajatnya dan menginspirasi keluarganya dengan kesabaran dan ketabahan.

Jenazah ketiga adalah yang terhormat Shakil Ahmad Munir, mantan missionary in-charge of Australia dan kemudian hari menetap di Karachi. Beliau wafat tanggal 31 Juli 2017 pada usia 85 Tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau sempat menerjemahkan al-Quran kedalam bahasa Maori. Beliau berasal dari kota Monggir di India dan ayah beliau Hakim Khalil Ahmad yang termasuk Ahmadi awal di wilayah Bihar, India dan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as pada 1906 namun tidka mampu baiat langsung di tangan beliau as. Ayah Almarhum mendapat taufik berkhidmat sebagai Nazhir Ta’lim di Qadian.

Almarhum Syakil Ahmad Munir menempuh pendidikan dasar dan menengah di Ta’limul Islam di Qadian dan di Lahore. Kemudian, meraih kelulusan Magister di Faiziya di kota Dakka, Bangladesh. Beliau menempuh jalan pendidikan. Beliau menjalani masa yang panjang bekerja di Afrika Barat. Dalam hal ini beliau tetap berkhidmat di Jemaat. Beliau berkhidmat sebagai ketua lembaga pendidikan dari Wizarat Ta’lim nasional di Nigeria. Beliau juga berkhidmat 8 tahun sebagai ketua Jemaat di wilayah barat dari daerah Wari, Nigeria.

Almarhum dan istrinya mendirikan sekolah bernama Nushrat Jahan Academy di kota Wah, Pakistan. Itu adalah sekolah pertama yang didirikan dibawah skema Nushrat Jahan. Beliau aktif bertabligh dan telah berhasil menyelenggarakan sebuah muktamar agama-agama di Nigeria. Selama tinggal di sana, beliau menulis beberapa buku tentang Islam dan Kekristenan, diantaranya ‘Islam di Spanyol’, ‘Kain Kafan Yesus’, ‘Perbaikan’, ‘Minhaj ‘anil Islam’. beliau telah membangun pusat Jemaat di Nigeria

Beliau telah membangun pusat Jemaat di Nigeria dari uang sakunya sendiri. Beliau mewakafkan diri sebagai hasil ru-ya. Hadhrat Khalifatul Masih IV rha menerima permohonannya ini. Beliau rha menugaskannya sebagai Amir Jemaat dan Missionary incharge di Australia.  Almarhum mengadakan perjalanan ke Australia pada 5 Juli 1985. Beliau mengalami kesulitan untuk mendapatkan visa tinggal di sana karena visa tersebut tidak diberikan sebagai seorang Muballigh Muslim. Namun, beliau mendapatkannya juga sebagai hasil usaha Doktor I’jazul Haq dan mulai bekerja. Almarhum memainkan peran besar dalam pendirian masjid indah Jemaat di Australia bernama Baitul Huda.

Hadhrat Khalifatul Masih IV rha telah meletakkan batu pondasi masjid ini pada 30 September 1983. selanjutnya, Almarhum berlanjut membangunnya meski keadaan-keadaan ekonomi sedang sulit. Maka beliau meminta para anggota Jemaat untuk bekerja sukarela dan beliau juga melakukan hal itu. Suatu hari beliau jatuh dari tangga dan patah tulangnya namun pekerjaan pembangunan Masjid tetap berjalan hingga sempurna menjadi Masjid yang indah dan luas. Ketika Almarhum sampai di Australia, di sana tidak ada tempat untuk tinggal kecuali sebuah langit-langit sederhana terbuat dari timah di sepetak tanah yang dibeli Jemaat. Almarhum tinggal beserta istri di sudut atap tersebut sementara sudut lainnya untuk mendirikan shalat. Almarhum menjalani hari-hari pertamanya dalam corak ini di sana dan mempersembahkan pengorbanan besar.

Pada tahun 1991, beliau diutus lagi ke Nigeria dan berkhidmat sebagai kepala di beberapa tempat. Pada tahun 1989 bertepatan dengan 100 tahun Ahmadiyah, Hadhrat Khalifatul Masih IV rha memulai program penerjemahan Al-Qur’an ke 100 bahasa dan mempercayakan penerjemahan ke bahasa Maori kepada Almarhum. Ketika beliau memeriksa lagi standar penerjemahan itu, tahulah bahwa itu tidak bagus sampai-sampai Almarhum [tanpa sengaja] menuliskan penerjemahan bismillaahir Rahmaanir Rahiim dengan ‘Dengan nama Yesus al-Masih’. Almarhum segera mengirim kabar kepada Hadhrat Khalifatul Masih IV rha bahwa terjemahan tersebut kurang tepat. Selanjutnya, Almarhum mempelajari pendalaman bahasa itu selama tahun-tahun terakhir dan terjemahan tersebut pun sempurna oleh beliau. Saat saya (Hadhrat Khalifatul Masih V atba) mengunjungi New Zealand pada 2013, Al-Qur’an beserta terjemahannya secara sempurna dalam bahasa Maori dihadiahkan kepada Raja Maori. Almarhum ada di acara itu.

Beliau orang yang sangat humble (rendah hati) dan tidak ditemukan sifat ananiyah (keakuan, egoisme). Beliau tidak pernah menampakkan ketinggian kemampuan intelektualnya atau karena telah menerjemahkan al-Quran sehingga meminta diberikan kedudukan yang tinggi atas hal tersebut. Beliau sangat berlimpah dari segi duniawi, bahkan dalam berkhidmat sebagai mubaligh tanpa menuntut tunjangan (allowance). Semoga Allah Ta’ala mencurahkan kasih sayang-Nya kepada beliau dan meninggikan derajat beliau. Semoga Allah memberikan kesabaran dan ketabahan kepada istri beliau. Semoga Allah Ta’ala terus menganugerahi kita di masa depan mubaligh-mubaligh yang benar-benar kosong dari ananiyah (keakuan, egoisme) dan rendah hati dalam segala hal sebagaimana Almarhum. [aamiin]

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono & Yusuf Awwab

 

(Visited 195 times, 1 visits today)