Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

tanggal 31 Juli 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Akhir-akhir ini, sebuah video diperlihatkan kepada saya berkenaan dengan seorang Maulwi (ulama, guru ngaji) Afrika yang mengajarkan Al-Quran kepada orang-orang dewasa dan memukuli mereka tanpa ampun jika mereka berbuat kesalahan kecil. Seseorang yang bahasanya bukan bahasa Al-Qur’an (bahasa Arab) dan pada saat yang sama telah berusia dewasa, yaitu sudah berumur 17-18 tahun atau bahkan lebih dari pada itu, tidak dapat melafalkan setiap huruf dengan tepat seperti halnya para Qurra-a (yang terlatih menilawatkan Al-Quran, bentuk tunggal disebut Qari).

Sebagai dampak dari sikap seperti itu maka orang-orang menghindari membaca/mempelajari Al-Quran dan inilah penyebab banyaknya orang Islam bukan Arab yang tidak tahu/tidak mampu bagaimana cara membaca Al-Quran. Jika kaum Muslimin hendak mempelajari Al-Quran, mereka harus melakukannya dengan cara-cara yang dapat menciptakan kecintaan dan kegemaran untuk membacanya.

Beberapa waktu belakangan ini ada seorang wanita Jepang yang bermukim di UK (Inggris) dan telah berbaiat. Ia mengunjungi saya. Ia berkata bahwa dengan karunia Allah Ta’ala ia telah mengkhatamkan Al-Quran untuk pertama kalinya dalam 3 tahun dan berkeinginan untuk membacakannya di hadapan saya. Ia membacanya dengan cara yang sangat menyentuh. Memang, poin utamanya adalah kecintaan terhadap Al-Quran dan membacanya dengan cara yang menyentuh. Tujuannya bukanlah hanya untuk melantunkan suara supaya menyerupai seorang Qari (pembaca Al-Qur’an yang terlatih baik). Allah Ta’ala memerintahkan untuk membaca Al-Quran dengan tartil, seraya direnungkan dan dengan pelafalan yang sebaik-baiknya. Setahap demi setahap bacalah sehingga dengan memenuhi haq talaffuzh terbaik.

Tidaklah mudah untuk melafalkan Al-Quran seperti orang-orang Arab. Beberapa huruf hijaiyyah tidak dapat dilafalkan dengan tepat oleh orang-orang non-Arab kecuali jika mereka dibesarkan di kalangan orang-orang Arab. Orang-orang Jepang juga tidak mampu melafalkan beberapa huruf secara tepat. Misalnya, wanita Jepang ini juga tidak dapat melafalkan beberapa huruf dengan tepat. Ia tidak mampu membedakan pelafalan antara huruf الحاء ha dengan الخاء kha. Kala ia membaca huruf kha terdengar seperti huruf ha. Namun mendengarkannya membaca Al-Quran memberikan kesan sungguh menyulitkan bagi beberapa orang Jepang – meskipun tidak bisa dikatakan semua orang Jepang – untuk melafalkan beberapa huruf hijaiyyah. Tetapi, bagaimanapun, pokok utamanya adalah kecintaan terhadap firman Allah Ta’ala, dan seseorang sedapat mungkin sesuai kemampuannya membacanya secara benar; dan bukan hanya dengan cara menjadikan seseorang seperti Qari (pembaca Al-Qur’an yang terlatih baik) dan mengikuti musabaqah tilawatil qur’an (lomba baca Al-Qur’an). Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw memandang dengan penuh kasih sayang terhadap kalimat “أسهد” ‘ashadu’ yang diucapkan oleh Hadhrat Bilal ra [saat adzan di masa Nabi saw], bukan kalimat “أشهد” asyhadu’ [Hadhrat Bilal ra sebagai orang ‘Ajam (bukan Arab) tidak dapat melafalkan beberapa huruf Hijaiyyah dengan baik.] Tidak ada seorang Qari atau seorang Arab pun yang sebanding dengan Hadhrat Bilal ra dalam hal kasih sayang dan kecintaan yang beliau dapatkan dari Allah Ta’ala dan rasul-Nya saw itu.[1]

Orang-orang dari berbagai agama sedang masuk kedalam Jemaat ini dan sejumlah besar umat Islam tidak tahu bagaimana cara membaca Al-Quran. Banyak para mubaligh kita dihadapkan pada situasi demikian di Afrika yaitu mengajarkan membaca Al-Quran kepada para Mubayyi’ baru, bahkan dari tingkat dasar. Mengajarkan Al-Qur’an adalah suatu keharusan. Para guru Al-Quran hendaknya mengajarkannya dengan suatu metode yang dapat menanamkan kecintaan dan kegemaran untuk mempelajarinya. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada wanita Pakistani yang tidak hanya mengajarkan wanita Jepang ini cara membaca Al-Quran namun juga menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran di dalam dirinya!

Tujuan utamanya bukan untuk menilawatkan Al-Quran seperti Qari; tentu penting untuk terus membaca Al-Quran dengan cara yang semakin baik. Namun tidak benar untuk berhenti membacanya hanya karena tidak dapat melafalkan beberapa huruf Hijaiyyah dengan tepat. Bahkan, para Ahmadi hendaknya menaruh perhatian terhadap membaca Al-Qur’an setiap hari. Apa yang hendaknya kita lakukan adalah upaya memperbaiki cara pelafalan kita sebaik mungkin sesuai kemampuan kita mendekati bunyi aslinya dan senantiasa terus meningkatkan kualitas kita dalam hal tersebut.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa tidaklah benar untuk berupaya melafalkan setiap kata Al-Quran seperti seorang Qari. Hal demikian karena Allah Ta’ala tidak memberikan kita yang ‘Ajam (bukan Arab), kemampuan untuk itu. Beliau ra bersabda, “Amarhumah istri saya, Ummi Tahir menjelaskan, ‘Ayah kami sangat bersemangat mengajarkan Al-Quran dan telah menyewa pengajar bagi anak-anak beliau, yaitu kami. Para pengajar ini sangat cepat marah dan seringkali memukul kami (Ummi Tahir dan saudara-saudaranya) jika kami membuat kesalahan. Mereka akan memasukkan diantara jari-jari kami dengan ranting kayu lalu menekannya jika kami salah dalam melafalkan huruf. (seperti dilakukan oleh sebagian Ustadz atau guru ngaji jaman sekarang) Dialek kami sebagai orang-orang Punjab membuat kami tidak mampu melafalkan kalimat-kalimat bahasa Arab secara tepat dan benar.’”[2]

Sebagaimana yang dikisahkan pada khotbah Jumat sebelum ini bahwa suatu kali seorang Arab datang menemui Hadhrat Masih Mau’ud as. Di tengah-tengah percakapan, ia mendengar beliau as mengucapkan dua atau tiga kali suatu huruf Hijaiyyah (yaitu huruf dhaadh الضاد) dalam logat Punjabi, ia lalu berkata bahwa bagaimana beliau as dapat menjadi seorang Almasih jika tidak dapat mengucapkan huruf tersebut. Orang Arab tersebut berlaku sangat tidak sopan dan menyerang secara kata-kata padahal setiap bangsa/negeri mempunyai logatnya masing-masing. Bangsa Arab sendiri yang menyatakan diri bahwa merekalah yang dapat mengucapkan huruf الضادdhaadh secara benar yang berarti bangsa Hindi/India tidak dapat melakukannya. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa orang-orang India melafalkan huruf الضادdhaadh dalam 2 cara dengan makhraj yang berbeda, yaitu دال daal dan زاي zaay padahal makhraj huruf الضادdhaadh bukan itu. Jika bangsa Arab mengatakan hanya mereka yang dapat membunyikan huruf الضادdhaadh, lalu untuk apa mereka mengkritik orang selain mereka?[3]

Para Ahmadi yang berbangsa Arab hendaknya memperhatikan hal ini. Sebagian besar mereka memahaminya namun sebagian yang lain memiliki sifat sombong. Di sini (di UK) ada seorang wanita Ahmadi Arab yang menikah dengan seorang Ahmadi Pakistan. Nyonya tersebut menganggap diri telah mengeluarkan suara huruf-huruf Hijaiyyah dari mulutnya dengan lafal yang benar padahal tidak sepenuhnya benar. Jika ia hanya diam dan menyimpannya bagi dirinya sendiri, saya tidak akan menceritakan hal ini. Tetapi saya diberi laporan bahwa di beberapa majelis pertemuan ia berbicara dengan nada mengejek orang-orang Pakistan, “Orang-orang Pakistan tidak dapat melafalkan beberapa huruf Hijaiyyah dengan tepat, tidak dapat membaca Al-Quran. Orang-orang Arab dalam pertemuan mereka senantiasa mengolok-olok orang-orang Pakistan dalam hal ini.”

Saya (Hadhrat Khalifatul Masih V atba) tidak bermaksud mengatakan setiap orang Arab melontarkan cacian seperti ini. Mungkin yang dimaksud ialah keluarga wanita Arab itu yang menikah dengan yang bukan Arab. Islam mengajarkan kita bagaimana harus memenangkan (melapangkan) hati segala etnis (suku bangsa) dan menjadikan mereka akrab dengan firman Allah Ta’ala bahkan juga menanamkan kecintaan terhadap Al-Quran di dalam hati mereka. Namun, orang-orang senantiasa membacanya dengan logat mereka masing-masing; dan karena kecintaannya terhadap Al-Quran, mereka selalu berusaha membacanya dengan sebaik-baiknya.

Memang, hendaknya perhatian diberikan untuk membaca Al-Quran dengan tepat seraya merenungkannya. Mereka yang mengetahui cara pelafalannya yang benar dan mampu membantu hendaknya senantiasa membantu yang lain bukannya melontarkan ejekan kepada mereka. Mereka yang mampu melafalkan secara tepat dan benar harus senantiasa ingat bahwa tiap orang dari suku bangsa dan kabilah yang berbeda-beda yang memiliki dialek khusus dan tiap orang dari mereka tidak dapat melafalkan tiap huruf Arab secara tepat.

Saat ini saya hendak menyampaikan beberapa riwayat dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Beliau  meriwayatkan suatu kisah yang terkenal tentang seorang lelaki yang sangat pengecut yang mengira dirinya pemberani. Ia pergi ke tukang tato dan memintanya untuk menggambar seekor singa di badannya. Adalah kebiasaan di masa lalu bahwa para pemberani suka membuat tato untuk menunjukan keberanian mereka. Tukang tato pun melakukan pekerjaannya. Ketika ia menusuk jarumnya, si pengecut ini bertanya, “Apa yang akan Anda gambar terlebih dahulu?” Tukang tato itu menjawab, “Saya akan menggambar ekor singanya.” Lelaki tersebut berkata, “Seekor singa bisa menjadi singa tanpa ekornya.” Tukang tato itu membenarkannya. Lalu lelaki itu memintanya untuk tidak menggambar ekor singa. Tukang tato kemudian menusuk jarumnya lagi dan lelaki itu bertanya lagi, “Apa yang hendak Anda gambar?” Tukang tato menjawab, “Saya akan menggambar kaki depan kanan singa.” Lelaki itu berkata, “Seekor singa masih dapat menjadi singa tanpa kaki depan kanannya.” Tukang tato membenarkannya. Lelaki tersebut memintanya untuk tidak menggambar kaki depan kanan singa. Hal ini berlanjut ke kaki depan kiri, kaki belakang kanan dan kiri. Pada akhirnya tukang tato tersebut berhenti dan mengatakan tidak ada yang dapat digambar.

Setelah mengisahkan ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Kondisi Islam saat ini juga cukup serupa. Para pemimpin Muslim serta para ulama mengangkat beragam slogan, wacana dan diskursus namun mereka sendiri tidak mengamalkannya. Cara mereka menasehati orang juga tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam. Mereka meminta orang-orang untuk meninggalkan ini dan itu sesuai dengan kebenaran mereka sendiri; padahal mereka menyelamatkan diri masing-masing dari banyak hal.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyajikan contoh lain dalam konteks yang sama ini. Kakek beliau dari pihak ibu, Mir Nashir Nawwab (putra Mir Dard, penyair sufi terkenal dari Delhi) sewaktu kecil berlaku tak hormat. Beliau menceritakan, “Pada musim mangga, orang tua dan saudara-saudara saya duduk bersama di suatu pagi untuk makan mangga. Saya menyimpan mangga yang manis dengan dalih mangga itu asam. Ketika semua mangga telah habis, saya akan berkata, ‘Ah, saya masih lapar. Saya akan makan mangga yang asam itu juga.’ Suatu ketika, saudara saya yang lebih tua berkata, ‘Saya juga masih lapar, saya juga ingin memakan mangga yang asam itu.’ Akhirnya ia mengetahui mangga tersebut sebenarnya manis.

Demikian pula kondisi umat Islam saat ini. Jika mereka yang ingin memaksakan syariah juga keadaannya seperti itu bagaimana pula dengan mereka yang tidak dekat dengan ajaran Islam. Mereka memaksakan penegakan syariah seraya mengesampingkan beberapa hal bagi keuntungan diri mereka dengan cara mempedayai. Sementara kisah kakek Hadhrat Mushlih Mau’ud dari pihak ibu ini bersifat kekanak-kanakan, namun para pemimpin Muslim ini melakukan kesalahan tersebut dengan sengaja.[4]

Mereka yang tidak tahu apa-apa tentang Islam tidak akan meninggalkan sesuatu pun, baik itu daging dan juga tulangnya, bahkan mereka akan melahap segala sesuatunya, meski jika itu salah. Penjarahan dan perampasan atas nama Islam pada zaman ini mereka izinkan demi keinginan pribadi sebagaimana kita lihat di tiap tempat dan pemandangan ini merajalela. Ini merupakan tragedi besar bagi Islam pada masa ini. Disebabkan para pemimpin agama seperti itu, umat Muslim selebihnya sibuk dalam perampasan dan pembunuhan atas nama Islam. Karena ulah para pemimpin agama seperti ini, muncul beberapa kelompok dan organisasi tertentu yang sedang menyebarkan kekejaman. Semoga Allah mengasihani umat Muslim.

Kemudian, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menarik perhatian para anggota Jemaat kearah bagaimana agar dapat meninggikan tingkat keimanan dengan memperbaiki keadaan kerohanian. Beliau ra bersabda, “Jika kalian menanamkan ketakwaan dan keshalehan serta menanamkan kebiasaan shalat dan berdzikir kepada Allah Ta’ala, mengirimkan shalawat dan mendirikan tahajjud, niscaya Allah Ta’ala akan menganugerahi kalian dengan mimpi benar dan kasyaf serta Dia akan memuliakan kalian dengan ilham dan kalam-Nya.” Suatu mukjizat yang hidup merupakan sesuatu yang seseorang saksikan secara pribadi. Tidak diragukan lagi Hadhrat Ibrahim, Hadhrat Musa dan Hadhrat Isa as menunjukan mukjizat agung namun mukjizat besar bagi seseorang hanyalah mukjizat yang ia saksikan secara pribadi. Jika kalian ingin menyaksikan mukjizat, maka jalinlah hubungan erat dengan Allah.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyajikan contoh keteladanan dalam hal kemajuan iman dan penyaksian seseorang atas Tanda kebenaran di dalam dirinya sendiri. Dalam hal ini beliau as menceritakan perihal Hadhrat Tn. Sahibzada Abdul Latif Syahid. Setelah menerima Ahmadiyah, Hadhrat Tn. Sahibzada Abdul Latif Syahid pulang dari Qadian ke kampung halamannya, Kabul (Afghanistan). Gubernur Kabul memintanya untuk bertaubat. Tn. Sahibzada mengatakan padanya bahwa sebelum ia meninggalkan Qadian, ia telah bermimpi ia akan diborgol. Lalu bagaimana ia akan mengubah pendiriannya setelah Allah Ta’ala mengatakan padanya bahwa ia akan diborgol di jalan-Nya! Keyakinannya yang teguh ini berasal dari apa yang telah ia rasakan secara pribadi di dalam mimpi.[5] Ringkasnya, jika seseorang mempunyai iman yang kuat dan terjalin hubungan dengan Allah Ta’ala maka ia takkan takut kepada orang-orang duniawi.

Selanjutnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyajikan contoh lain. Hadhrat Tn. Sufi Ahmad Jan Ludhianwi merupakan seorang saleh dan sangat bertakwa di kalangan orang-orang di masanya. Suatu kali Maharaja Jammu memintanya untuk berkunjung untuk mendoakannya namun ia menjawab, “Jika Anda meminta saya untuk mendoakan Anda, maka Anda-lah yang harus datang mengunjungi saya. Mengapa saya yang harus datang kepada Anda?”[6] Oleh karena itu, jika seseorang mempunyai hubungan dengan Allah Ta’ala maka ia takkan takut kepada siapa pun.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyebutkan betapa orang-orang [di India masa itu] sangat menghargai dan menghormati Hadhrat Masih Mau’ud as sebelum pendakwaan beliau as. Kita tahu ketika Barahin Ahmadiyah diterbitkan, ratusan ribu orang memandang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dengan pandangan yang sangat baik. Tn. Sufi merupakan salah seorang diantara kesaksian mereka itu namun beliau wafat sebelum Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan pendakwaannya. Tn. Sufi memiliki kecintaan mendalam terhadap Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. Tn. Sufi menulis bait syair Urdu kepada beliau as di sebuah surat:  ‘Kami semua yang sedang sakit ini hanya melihat Anda semata, Karena Tuhan, jadilah Anda Al-Masih!’

Tak diragukan lagi, ini merupakan indikasi pandangan jauh ke depan Tn. Sufi, seorang Waliullah yang secara jeli dan tajam melihat Hadhrat Masih Mau’ud as adalah seorang yang dijanjikan, baik beliau as mendakwakan diri atau pun tidak. Dan, sebelum kewafatannya, ia menasehati keluarganya untuk menerima beliau as ketika beliau menyampaikan pendakwaannya. Para ulama lain yang meskipun tidak memiliki pandangan seperti Hadhrat Tn. Sufi, biasa mengatakan, “Hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad-lah yang dapat menyelamatkan Islam”

Namun, ketika Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan pendakwaannya dan memberikan obat penawar, semua orang terkemuka menolak dan berkata apa yang mereka anggap sebagai emas telah menjadi tembaga. Meskipun ia memiliki ratusan ribu orang murid, namun hanya 40 orang yang berbaiat pertama kali kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Padahal Maulwi Sanaullah (yang di kemudian hari menjadi penentang) pernah menulis bahwa ia telah berjalan ke Qadian untuk berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as setelah penerbitan buku Barahin Ahmadiyah dan Maulwi Muhammad Husain Batalwi (juga menjadi seorang penentang setelahnya) juga pernah menulis bahwa tidak ada seorang pun dalam 1300 tahun ini yang telah mengkhidmati Islam seperti Hadhrat Masih Mau’ud as.[7]

Bahkan kini, banyak pengelola saluran (televisi) yang menyatakan diri Islami mengatakan bahwa sungguh beliau as (Pendiri Ahmadiyah) pada masa kehidupan beliau as telah mengkhidmati Islam dengan baik namun kemudian – Naudzubillah – beliau menjadi rusak. Orang-orang yang mengatakan ini buta mata rohani dan tidak memiliki pengetahuan. Alih-alih mencari pertolongan Allah Ta’ala, mereka telah masuk ke dalam kegelapan mereka sendiri. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala mengaugerahkan akal sehat kepada mereka.

Suatu ketika rumah tempat terjadinya baiat pertama di Ludhiana disebut-sebut dalam Majlis Syura Jemaat tahun 1931. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda kepada para anggota Majlis Syura bahwa beliau menganggap rumah di Ludhiana tempat terjadinya baiat pertama sangat penting dan Hadhrat Masih Mau’ud as telah secara khusus menyebutkannya, “باب اللُدّ” ‘Baabul Ludd’ (Pintu Ludd) sebagai suatu tempat Dajjal akan dibunuh berdasarkan Nubuatan Nabi saw, artinya tempat di dalamnya para penentang dan Dajjal dieliminasi.[8] Jemaat harus menaruh perhatian secara khusus pada tempat Hadhrat Masih Mau’ud as untuk mengambil baiat. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih I ra meminta Hadhrat Masih Mau’ud as untuk mengambil baiat, beliau as memilih Ludhiana sebagai tempat pelaksanaan pengambilan baiat. Hadhrat Sufi Jan Sahib yang kepadanya Allah Ta’ala telah berikan pandangan masa depan untuk dapat mengenali Hadhrat Masih Mau’ud as juga berasal dari Ludhiana dan istri dari Hadhrat Khalifatul Masih I ra merupakan putri beliau. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau ingin melihat tempat yang dipilih dan nama-nama dari 40 orang yang berbaiat tertulis di sana.[9]

Dengan karunia Allah, kini rumah tersebut sudah ada di tangan Jemaat. Meski saat ini saya tidak sedang memegang data detail untuk disampaikan, upaya-upaya sedang dilakukan untuk menjadikannya monumen bersejarah sebagaimana Hadhrat Mushlih Mau’ud ra inginkan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan perihal Ludhiana dan nubuatan Mushlih Mau’ud (pembaharu yang dijanjikan) dengan bersabda bahwa Hadhrat Rasulullah saw melihat mimpi yaitu diperlihatkan pada beliau seikat anggur surga dan dikatakan bahwa itu adalah untuk Abu Jahal. Tafsir dari mimpi tersebut adalah bahwa putra Abu Jahal, Ikrimah bin Abu Jahal, akan masuk Surga, dan demikianlah yang telah terjadi. Allah Ta’ala menganugerahi taufik kepada putra Abu Jahal itu untuk menjadi seorang pria saleh dan mempersembahkan pengorbanan yang cemerlang di jalan agama. Suatu ketika selama terjadinya suatu peperangan di masa awal Islam [perang umat Islam melawan kekaisaran Romawi, perang Yarmuk, terjadi pada akhir masa Khilafat Abu Bakr dan awal masa Khilafat Umar], umat Kristen [yang mendukung kekaisaran Romawi] berada di atas angin. Umat Muslim mengalami kondisi yang sulit. Anak-anak panah prajurit Romawi melesat dan banyak mengenai mata-mata (penglihatan) para prajurit Muslim. Banyak juga dari antara para sahabat yang disyahidkan.

Ikrimah tidak dapat menerima keadaan ini. Setelah meminta izin kepada Qaid (komandan tempur) dan mendapatkan izin, beliau bersama 60 prajurit Muslim lainnya dengan gagah berani melompat ke jantung pasukan musuh [pimpinan musuh] dalam peperangan itu. Serangannya begitu kuat sehingga menyebabkan komandan musuh melarikan diri dan terjadi kekacauan di pihak barisan pasukan musuh. Namun demikian, Ikrima dan orang-orangnya juga menderita luka parah.

Orang Muslim petugas pemberi air minum kepada orang-orang yang terluka pun datang menghampirinya namun Ikrimah melihat Hadhrat Suhail bin Amr sedang terluka dan memandang air itu. Beliau pun meminta si pembawa air minum ini untuk terlebih dahulu mendatangi Hadhrat Suhail memberikan air minum itu kepadanya. Ketika ia pergi ke sana, Hadhrat Suhail meminta pembawa air minum itu untuk pergi ke Hadhrat Haris bin Hisham terlebih dahulu. Ketika pembawa air itu mendatangi Hadhrat Haris, ternyata beliau telah wafat. Kemudian ia pergi ke Hadhrat Suhail, ternyata beliau pun juga telah wafat. Akhirnya, ia pergi ke Ikrimah yang ternyata juga telah wafat.[10] Demikianlah, seorang putra dari Abu Jahal.

Dengan demikian, jika ada seorang penjahat, atau Ateis atau pendusta maka tidak mungkin ada orang yang dapat mengatakan anak keturunan orang semacam itu pasti akan sama dengan orang tuanya. Pendek kata, nubuatan Allah Ta’ala terjadi dengan corak yang aneh. Di dalam kalam Allah terdapat kesaksian-kesaksian yang menjelaskan tema bahasannya, jika tak ada di dalamnya kesaksian maka tak layak diterima. Tatkala Hadhrat Rasulullah saw melihat mimpi tersebut, beliau saw terkejut dan berkata dalam hati bagimana mungkin Abu Jahal akan berada di surga mendapatkan seikat anggur. Namun, maksud mimpi itu ialah putra Abu Jahal akan beriman dan mempersembahkan pengorbanan besar bagi Islam.[11]

Berkenaan dengan nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud as tentang ‘Mushlih Mau’ud’, pada diri nubuatan itu sendiri terdapat kesaksian-kesaksian kebenaran yang banyak sebagaimana juga nubuatan-nubuatan lainnya. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa orang-orang sepuh di Qadian pernah menceritakan kepada beliau ra, pada saat disampaikannya nubuatan tersebut, mereka bahkan tidak mengenal ayah ‘Mushlih Mau’ud’ ini. Mereka merasa Tn. Mirza Ghulam Murthadha, kakek ‘Mushlih Mau’ud’ (ayah Masih Mau’ud) hanya memiliki seorang putra, Mirza Ghulam Qadir, uwak ‘Mushlih Mau’ud’, kakak Masih Mau’ud.

Dengan demikian, orang yang tak dikenal itu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menubuatkan Allah Ta’ala akan menganugerahinya anak-anak yang akan berumur panjang, dan diantara anak-anaknya terdapat seorang yang akan menyebarluaskan namanya (nama ayahnya, Mirza Ghulam Ahmad) ke pelosok-pelosok dunia dan melaluinya pesan dakwah Islam akan sampai ke penjuru-penjuru negeri di dunia! Dapatkah ada seseorang di dunia ini yang mampu berkata-kata seperti itu dari dirinya sendiri?

Nubuatan tersebut juga mengatakan bahwa ia akan membuat 3 menjadi 4 yang juga berarti bahwa kelahiran Hadhrat Mushlih Mau’ud terjadi pada tahun keempat nubuatan tersebut. Nubuatan itu diumumkan pada 1886. Beliau ra lahir pada 12 Januari 1889 dan Hadhrat Masih Mau’ud as mengambil baiat dari para pengikutnya pada 23 Maret 1889. Nubuatan ini sangat terkenal di kalangan Jemaat kita dan juga di luar Jemaat. Orang-orang biasa menanyakan siapa anak yang dimaksud tersebut? Nubuatan itu menyebutkan nama Mahmud dan Bashir Tsani sehingga Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dinamai Bashiruddin Mahmud Ahmad.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pergi ke Ludhiana untuk menyatakan diri Pembaharu Yang Dijanjikan tersebut. Jemaat mempunyai hubungan dengan kota Ludhiana dalam beberapa segi. Pertama; kota ini merupakan tempat terjadinya baiat pertama oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Kedua, kota itu juga merupakan tempat berlangsungnya pernikahan Hadhrat Khalifatul Masih I ra dengan putri Hadhrat Tn. Sufi Jan dan ketiga anak yang disebutkan dalam nubuatan ‘Mushlih Mau’ud’ tersebut lahir dari istri Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah pernah tinggal di Ludhiana.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa beliau ingat pernah tinggal sebentar di Ludhiana ketika berumur 2 tahun dan ingat rumah beliau langsung bersebelahan dengan jalan raya. Hanya satu peristiwa yang beliau ingat, ketika beliau sedang berada di luar rumah, ada seorang anak kecil melemparkan seekor kadal mati kepada beliau. Hal itu membuat beliau takut dan lari pulang sambil menangis. Ahmadiyah mempunyai hubungan dengan kota Ludhiana dalam beberapa segi.[12]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa Ludhiana sungguh merupakan tempat yang sangat istimewa. Sebagaimana biasanya, pernyataan-pernyataan yang diumumkan berasal dari Allah Ta’ala senantiasa mendapat penentangan. Setelah nubuatan ini, diadakan pertemuan di berbagai tempat lain namun tidak ada satu pun terjadi penentangan. Tetapi, ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud ra datang ke Ludhiana dan mengumumkan bahwa beliau merupakan Mushlih Mau’ud dan dengan demikian nubuatan tersebut menjadi tergenapi. Beliau mengalami reaksi permusuhan dari orang-orang di kota tersebut. Mereka yang melakukan olok-olok melakukannya karena lupa akan ajaran Hadhrat Rasulullah saw. Namun, nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud tergenapi dengan segala kemuliaannya. Doa semoga Allah Ta’ala menganugerahi penduduk Ludhiana taufik untuk mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as dan menjadikan mereka yang menentang sebagai orang-orang yang berdiri di pihak beliau as.[13]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra meriwayatkan perihal salah seorang Shahabat Hadhrat Masih Mau’ud, Tn. Hadhrat Mian Abdullah Sanori yang memiliki kecintaan dan ikatan mendalam terhadap beliau as. Suatu kali beliau datang ke Qadian. Hadhrat Masih Mau’ud as memberinya sebuah tugas. Ketika cutinya habis, beliau meminta izin kepada Hadhrat Masih Mau’ud as untuk pulang. Hadhrat Masih Mau’ud as memintanya untuk tetap tinggal. Tn. Sanori meminta kepada kantornya untuk memperpanjang cutinya namun permintaannya ditolak. Beliau menceritakan hal ini kepada Hadhrat Masih Mau’ud as namun beliau as memintanya untuk tetap tinggal. Tn. Sanori menulis surat ke kantornya bahwa beliau tidak dapat kembali. Akibatnya, pihak kantor menghentikannya dari pekerjaan. Tn. Sanori menetap di Qadian selama yang Hadhrat Masih Mau’ud as inginkan. Ketika kembali, beliau mendapati orang yang memecatnya tadi tidak diberi wewenang untuk melakukan hal tersebut sehingga beliau tidak hanya mendapatkan kembali pekerjaannya, namun juga gaji yang tertunda.

Ada satu contoh lagi. Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as lainnya, Hadhrat Tn. Munshi Zafar Ahmad dari Kaporthala. Beliau bekerja di pengadilan. Tn. Munshi Zafar Ahmad ini datang ke Qadian untuk bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Kemudian beliau meminta izin pulang pada hari ketiga. Tetapi Hadhrat Masih Mau’ud as memintanya tetap tinggal. Sebulan berlalu. Tidak ada lagi pekerjaan. Beliau menerima berbagai surat teguran keras dari atasan beliau. Beliau begitu senang berada di kalangan para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga tidak mempedulikan apapun dan tidak pula merasa ragu. Ketika menerima surat teguran keras lainnya, beliau menceritakannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as memintanya untuk menjawab surat itu dan mengatakan tidak dapat kembali. Satu bulan kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, “Kini boleh pulang!” kepada Hadhrat Tn. Munshi. Setibanya di Kaporthala, Hadhrat Tn. Munshi mengunjungi Hakim untuk melihat reaksinya. Hakim tersebut berkata, “Tn. Mirza pasti tidak mengizinkan engkau untuk kembali dan perintahnya harus didahulukan!”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa sekelompok orang ini (Jemaat ini) membangun teladan luhur dalam hal kecintaan yang mendalam sehingga membuat kita tidak malu di depan Jemaat-Jemaat para Nabi masa lalu. Di kalangan anggota Jemaat kita bisa jadi terdapat kelemahan dan mereka lalai namun jika para sahabat Hadhrat Musa as menampilkan teladan mereka di depan kita, kita juga dapat memperlihatkan teladan para anggota Jemaat ini yang sebanding dengan mereka. Demikian pula, jika pada hari Kiamat para sahabat Hadhrat Isa as memperlihatkan karya dan perbuatan agung mereka, kita juga dengan bangga dapat menampilkan teladan para sahabat kami. Ketika Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa beliau tidak dapat membedakan antara umat beliau saw dengan umat Imam Mahdi. [14]

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa siap memberikan berbagai macam pengorbanan seperti Hadhrat Abu Bakar ra, Hadhrat Umar ra, Hadhrat Utsman ra dan Hadhrat Ali ra serta para Shahabat Nabi saw lainnya, ridhwanuLlahi ‘alaihim. Mereka juga senantiasa siap sedia memikul segala jenis musibah dan penderitaan di jalan Allah Ta’ala.

Lihatlah teladan Hadhrat Khalifatul Masih I ra yang mendapatkan kedudukan yang khas di dalam Jemaat. Pengorbanan beliau sungguh sangat besar. Ketika beliau datang ke Qadian untuk mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as, pekerjaan dan tanggung jawabnya untuk kembali pulang di Bhaira sangat besar. Ketika beliau meminta izin untuk pulang, Hadhrat Masih Mau’ud as memintanya untuk tetap tinggal. Hadhrat Khalifatul Masih I ra bahkan tidak pulang sama sekali meski hanya untuk membawa barang-barang beliau dari Bhaira. Beliau ra malah meminta tolong seseorang untuk mengambilkannya. Inilah pengorbanan yang menjadikan Jemaat ini istimewa di hadapan Allah Ta’ala. Inilah kedudukan yang setiap kita harus berusaha mencapainya.

Keimanan filosofis saja yang dimiliki seseorang tidak dapat menjadikannya sebagai orang yang memberikan manfaat apapun. Iman yang memberikan manfaat bagi manusia ialah keimanan yang memberikan (dihiasi dengan) kelezatan isyq dan mahabbah (kecintaan). Sementara pada saat yang sama, pada seorang filosof (orang yang berfilsafat) dengan pernyataan kecintaannya, tidak terdapat keteguhan yang lebih, itu tak lebih dari wacana perdebatan filosofis karena ia tidak berpandangan dengan mata hati melainkan dengan mata akal saja, tetapi seseorang yang mengenal kebenaran dari Allah Ta’ala dan mengenal sya’aa-iruLlah (syiar-syiar Allah) dengan mata hatinya dan bukan dengan mata akalnya tidak dapat ditipu oleh siapapun karena pikiran mengilhami filsafat sedangkan hati mengilhami kecintaan yang mendalam.[15]

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk mengenal Imam Zaman dengan mata hati kita dan semoga kita tetap teguh dalam keimanan kita dan kita selamanya menjadi orang-orang yang mengenali sya’aa-iruLlah (syiar-syiar Allah) dan semoga setan tidak pernah dapat memperdayai kita.

Saya hendak mengimami shalat jenazah ghaib bagi seorang Darwaisy, Tn. Maulwi Khushid Ahmad Barbhakar putra Tn. Choudhri Nawab Din. Beliau wafat pada 24 Juli 2015 berusia 94 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون  Beliau lahir di Lyalpur (sekarang Faishalabad). Lahir sebagai Ahmadi dan mengunjungi Qadian pada 1936 pada umur 15 tahun mengikuti Jalsah tanya-jawab dengan Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Karena tidak punya uang, beliau jalan kaki pulang sejauh 95 KM. Ikut Nizham Washiyat pada umur 19 tahun. Shaf Awwal Tahrik Jadid. Bekerja bertugas mengurus tanah-tanah Jemaat di Sind. Mulai waqaf zindegi (seumur hidup) pada 1947. Menjadi Darwisy dengan sabar, syukur dan setia. Bekerja bertabligh sebagai Muballigh Lokal di desa-desa wilayah UP dengan baik. Menjadi guru di Madrasah Talimul Islam Tsanawiyah di Madrasah Ahmadiyah Qadian sepulangnya dari Tabligh.

Beliau mempelajari bahasa Hindi 3 tahun dibawah program Nazharat Dakwah-o-Tabligh dan meraih titel di bidang itu. Beliau tekun mempelajari Kitab Weda, Perjanjian Baru dan Granth (Sikh) dan rajin menulis makalah-makalah perihal kehinduan, Sikh dan kekristenan. Beliau meraih kehormatan menerjamahkan Kitab Suci Al-Qur’an kedalam bahasa Hindi. Suratkabar mingguan Al-Badr di Qadian dari tahun 1952, awal terbit sejak pembagian India-Pakistan hingga 2003 senantiasa memuat tulisan beliau. Majalah Misykat, Rah-e-Iman dan suratkabr Nasional ‘Hind Samachar’, Milab dan koran-koran Kashmir juga pernah memuat artikel tulisannya. Nazharat Dakwah-o-Tabligh [semacam Sekretaris Tabligh di Indonesia, editor] pada 1963 menerbitkan buku beliau berjudul ‘Pemerintah saat ini dan Para Muslim Ahmadi’ dan meraih popularitas besar. Kerajinan, ketekunan dan kerendahan hati beliau luar biasa. Hadhrat Khalifatul Masih IV rha banyak memuji beliau. Jelas dari tulisan beliau bahwa itu semua keluar dari lubuk hati beliau dan makalah beliau begitu ilmiah.

Biasa rajin shalat berjamaah di masjid bahkan ketika sakit. Beliau melihat mimpi-mimpi benar dan mengirimkan kisah mimpi tersebut kepada Khalifah. Beliau telah memberitahukan kepada putra bungsunya, Tn. Ibrahim perihal kewafatannya dan mengingatkannya lagi seminggu sebelum wafat. Beliau seorang berghayyur (rasa hormat) tinggi dan tidak suka menjadi orang yang meminta tolong kepada orang lain. Disamping rajin menulis juga rajin bertani dan beternak dibantu putra/inya. Ketika menjadi pemilik banyak harta, mereka membangun rumah sendiri dan mengembalikan rumah Jemaat kepada Sadr Anjuman Ahmadiyah. Patut jadi contoh teladan.

Beliau menikah dua kali, pertama dengan Ny. Alim Bibi pada 1944 dan dianugerahi putra Tn. Munir Ahmad yang sekarang di Pakistan.  Lalu menikah dengan Ny. Aisyah Begum binti Tn. Abdur Razaq dari Habli Karnatak dikaruniai oleh Allah 5 putra dan 3 putri. Putra belaiau, Tn. Israil Ahmad, Tn. Krisyan Ahmad dan Tn. Ibrahim Ahmad; sementara menantu beliau Tn. Syakil Ahmad dan Tn. Mahmud Ahmad adalah para pengkhidmat Jemaat. Semoga Allah meninggikan derajatnya dan mengaruniai keturunan beliau mengikuti jejak kebaikan almarhum. آمين

[1] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 15, h. 470

[2] Al-Fadhl 11 Oktober 1961, h. 2-3, jilid 15/50, no. 235.

[3] Al-Fadhl 11 Oktober 1961, h. 2-3, jilid 15/50, no. 235.

[4] Al-Fadhl 11 Oktober 1961, h. 2-3, jilid 15/50, no. 235.

[5] Al-Fadhl 22 Juli 1956, h. 5, jilid 10/45, no. 169.

[6] Al-Fadhl 27-30 Maret 1928, h. 9, jilid 15, no. 76-77.

[7] Al-Fadhl 15 Maret 1934, h. 6, jilid 21, no. 110.

[8] Shahih Muslim, no. 2937. فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأَسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِى حَيْثُ يَنْتَهِى طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمُ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ  “Saat Dajjal seperti itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju yang dicelup seraya meletakkan kedua tangannya di atas sayap dua malaikat, bila ia menundukkan kepala, air pun menetas. Bila ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh bau nafasnya sejauh mata memandang. Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd lalu membunuhnya. Setelah itu Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga.”

[9] Report Majlis Musyawarat 1931, h. 106-107.

[10] Tercantum dalam Thabaqat al-Kubra karya ibn Saad dan Ibn Abdil Barr.

[11] Riwayat mimpi tersebut terdapat dalam Kitab Sirah al-Halabiyah, lengkapnya ialah As-Sirah al-Halabiyyah (atau Insanul ‘Uyuun fi Sirah al-Amin al-Ma-mun, Laporan Pandangan Mata atas Sejarah Hidup dia yang Tepercaya lagi Dipercayai/Nabi saw) karya Ali bin Ibrahim bin Ahmad al-Halabi, Abu al-Faraj, Nuruddin bin Burhanuddin al-Halabi. Beliau seorang Sejarawan dan Adib/Sastrawan. Asal dari Halb, wafat di Mesir. Beliau hidup pada abad pertengahan; 2. Gharaibut Ru-ya wa Ajaibut Ta’wil (Keanehan Mimpi dan Keajaiban Penjelasannya), karya Imam Muhammad ibn Sirin; 3. Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 249, Mawqi’ Al Waroq.

[12] Pidato kepada Penduduk Ludhiana, Anwarul ‘Ulum jilid 17, h. 259

[13] Pidato kepada Penduduk Ludhiana, Anwarul ‘Ulum jilid 17, h. 260

[14] Sunan At-Tirmidzi, Kitab al-Amtsal (mengenai perumpamaan); Dari Anas berkata: “Rasulullah saw bersabda: :«مَثَلُ أُمَّتِي مَثَلُ الْمَطَرِ لاَ يُدْرَى أَوَّلُهُ خَيْرٌ أَمْ آخِرُهُ». ‘Matsalu ummatii matsalul mathari laa yudraa awwaluhu khairun am akhiruhu.’ – ‘Perumpamaan umatku seperti hujan tidak diketahui mana yang lebih baik, awalnya atau akhirnya.’” (Yakni, masing-masing dari kedua zaman itu memiliki keagungannya yang tersendiri).

[15] Al-Fadhl, 28 Agustus 1941, h. 6-7, jilid 29, nomor 196