Keimanan dan Amal Saleh

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

25 Agustus 2017 di Jerman

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Sebagaimana tiap Ahmadi mengetahuinya, hari ini kita berkumpul di sini untuk mengikuti Jalsah Salanah. Kita bukan berkumpul untuk maksud pameran duniawi, keutungan materi atau tujuan duniawi melainkan tujuan kita ambil bagian dalam berbagai kegiatan Jalsah dan tinggal dalam nuansa kerohanian ialah guna menambah kemampuan intelektual dan kerohanian kita, memperbaiki keadaan keyakinan (pemahaman agama) dan amal perbuatan kita, menerapkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, memenuhi hak-hak-Nya dan hak-hak para hamba-Nya, sebagaimana yang telah disebutkan Hadhrat Masih Mau’ud as dalam syarat baiat. Kita harus senantiasa mempedomani hal  ini.

Orang-orang non-Ahmadi mungkin mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa hak-hak Allah dan hak-hak manusia, tapi tidak ada seorang Ahmadi pun yang dapat mengatakan hal demikian, mengingat hal-hal ini berulang-ulang disebutkan terhadapnya. Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberi kita jasa baik yang amat besar dengan menyediakan bagi kita khazanah besar dari informasi yang tidak habis ini . Ada beberapa hal yang kadang-kadang seseorang menganggap telah dia dengar atau dia baca sebelumnya, tapi ketika  mendengar dan membacanya lagi, terungkap baginya kebijaksanaan baru atau aspek lain darinya. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menggarisbawahi dalam syarat baiat perihal semua hak dan kewajiban orang-orang yang bergabung dalam baiat kepada beliau as, jadi kita harus selalu memperhatikan tujuan pertemuan ini.

Saya hendak membacakan beberapa kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as tentang bagaimana pengaruh agama terhadap amal perbuatan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Islam memiliki dua bagian, pertama tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, menaati-Nya dengan ketaatan sempurna dan kesyukuran atas karunia-karunia dan nikmat-nikmat dari-Nya. Siapa yang menentang Allah, Yang Maha Baik dan Maha Pemelihara maka ia itu setan. Hal kedua, mengenali hak-hak ciptaan-Nya dan memenuhinya secara sepatutnya. Seseorang yang menerapkan akidah yang benar dan tanpa cacat serta tidak menyekutukan Allah maka amal perbuatannya pun akan benar dan ketika umat Muslim melepaskan diri dari akidah-akidah yang benar maka pada akhirnya menyebabkan mereka menjadi bertuhankan dajjal dan sebagainya.

Umat-umat terdahulu yang melakukan dosa seperti berzina, mencuri, memfitnah, menipu dan lain sebagainya pada akhirnya hancur dan banyak bangsa hancur karena satu jenis dosa saja yang mereka lakukan. Namun, dikarenakan umat ini dirahmati Allah Ta’ala, itulah sebabnya Dia tidak membinasakannya, jika tidak demikian, tidak ada suatu dosa pun kecuali mereka jatuh kedalamnya. Jenis dosa apakah yang tidak dilakukan oleh umat Muslim pada masa ini. Tiap orang mengambil bagi dirinya sebuah sesembahan terpisah dan bukan hanya sesembahan nan Satu saja. Mereka begitu terlibat dalam keduniaan dan menjadikannya dan para penghuninya sebagai ilaah (sesembahan mereka). pada hakikatnya, jika akidah-akidah seseorang itu baik maka itu mengarahkannya pada amal-amal baik pula. (Jika benar akidah seseorang dan berkeyakinan serta benar dalam hal itu maka pasti ia akan beramal-amal baik.)

Seorang yang benar dan mempunyai keyakinan sempurna serta tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu atau seseorang pun maka pasti itu secara otomatis akan menuntunnya kepada amal perbuatan yang baik. Kita dapati diantara umat Islam yang setelah melupakan keyakinan hakiki,  mulai mempercayai Dajjal dan lainnya sebagai tuhan.

(Bahkan, kita lihat di dunia ini pemerintahan dari banyak negara besar tunduk kepada kekuatan duniawi dan menuhankan mereka. Inilah yang kita saksikan di banyak negara hari ini. Dari tingkat individu hingga pemerintahan Muslim, inilah keadaannya. Dikarenakan mereka meyakini bahwa Dajjal mempunyai sifat-sifat Ilahi maka seolah-olah dikatakan, “Selama kalian menerapkan sifat-sifat Ilahiah kepada Dajjal maka bukan hal yang salah jika seseorang mengatakan Dajjal telah menjadi tuhan kalian karena kalian-lah yang telah memberikan kekuasaan Ilahiyah kepadanya.”)

Beliau as bersabda

“Allah Ta’ala menginginkan amal-amal saleh sebagaimana juga akidah-akidah saleh. Tidak terdapat di dalamnya jenis kerusakan apa pun. Maka dari itu, suatu keharusan untuk berjalan di jalan lurus. Allah Ta’ala telah berfirman kepadaku, الخير كله في القرآن ‘Segala kebaikan terdapat dalam Al-Qur’an.’ Allah Ta’ala telah mengajarkan bahwa Dia itu Esa dan tanpa sekutu. Apa-apa yang Al-Qur’an katakan ialah benar semuanya. Carinya tiap-tiap kebaikan dalam Al-Qur’an. Tunaikanlah huquuquLlah dan huquuqul ‘ibaad. Iman kepada Allah bahwa Dia itu Esa, tanpa sekutu, taat kepada-Nya dengan ketaatan sempurna dan menunaikan kewajiban terhadap-Nya, semua ini menuntut ditunaikannya hak-hak sesama juga.

Hadhrat Masih Mau’ud as berkata bahwa tujuan didirikannya jemaat ini adalah guna menciptakan pemahaman akan Allah Ta’ala dan untuk meraih esensi dari ibadah itu sendiri.

Kaitannya dengan Filosofi Shalat, tidaklah cukup hanya melaksanakan shalat saja ataupun mencari duniawi semata. Allah swt telah memerintahkan kepada kita untuk berupaya keras melaksanakan keduanya, yaitu berupaya sekuat tenaga dalam melaksanakan shalat dan berusaha keras mencari dunia, karena hasil dari kedua upaya kita itu pun diciptakan oleh Allah. Islam yang hakiki adalah memadukan kedua hal tersebut. Itulah sebabnya surah pertama dari Al-Quran, surah Al-Fatihah, kedua-duanya disebutkan. Iyyaka Na’budu merujuk kepada aspek perencanaan. Pertama seseorang merencanakan untuk mengerjakan pekerjaaan duniawi, kedua ia juga harus berdoa (beribadah) kepada Allah Ta’ala. Bahkan Allah Ta’ala sendiri yang menganugerahinya kemampuan untuk beribadah.

Orang-orang Eropa kehilangan keyakinan terhadap Tuhan dan jumlah mereka yang tidak ber-Tuhan meningkat secara signifikan. Menurut Hadhrat Masih Mau’ud as ketidakber-Tuhanan (Ateisme) merupakan racun yang menyebar ke seluruh dunia, namun Allah Ta’ala telah mengirim beliau untuk meleyapkan racun tersebut. Para Ahmadi harus memberikan pencerahan kepada kaum materialistis tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Esa dan mengabarkan kepada mereka mengenai Islam yang sebenarnya. Kita dapat mengenali Tuhan Yang Hakiki dan mencapai puncak ibadah dengan mengikuti perintah Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. Oleh karena itu diperlukan hubungan yang kuat dengan Rasulullah saw.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Semua orang hendaknya ingat bahwa baiat secara resmi saja atau menganggap saya sebagai Imamnya tidak cukup untuk menjamin seseorang najat (keselamatan). Sebab, Allah Ta’ala melihat sampai ke kedalaman hati dan Dia tidak hanya melihat secara lisan saja. Demi meraih najat – sesuai firman Allah Ta’ala berkali-kali – suatu keharusan pertama seseorang yakin secara benar bahwa Allah Ta’ala itu Maha Esa dan tanpa sekutu, meyakini bahwa Muhammad adalah benar-benar Nabi dan memandang Al-Quran sebagai kitab Allah yang mana merupakan sebuah Kitab sehingga tidak pernah ada dan takkan ada Kitab dan Syariat setelahnya hingga Kiamat. (Artinya, tidak ada keperluan adanya Kitab atau Syariat lain setelah adanya Al-Qur’an)”

Kemudian beliau as bersabda,

 “Ketahuilah! Nabi Muhammad saw ialah Khatamul Anbiya. Artinya, tiada lagi setelah Nabi kita adanya Syariat dan juga Kitab baru serta hukum-hukum baru. Melainkan Kitab ini (Al-Qur’an) dan hukum-hukum itu sendiri yang akan berlanjut seterusnya. Kata nabi dan rasul yang digunakan di dalam buku-buku saya mengenai diri saya sendiri tentu saja tidak mengimplikasikan adanya ajaran syariat baru atau hukum-hukum baru. Apapun yang didapatkan beliau merupakan hasil dari ketaatan yang sepenuh-penuhnya terhadap Nabi Karim, Rasulullah saw.”

Ini adalah Sunatullah bahwa ketika dosa sudah merata serta menjadi hal yang lumrah, dan manusia tidak lagi percaya dan cinta kepada Tuhan, maka Dia mengutus seseorang yang merupakan pelayan sejati-Nya ke dunia ini. Di masa orang itu, meskipun orang-orang mengucapkan Kalimah Syahadat namun kata-katanya kosong. Kendati mereka melaksanakan amalan seperti puasa atau shalat, namun tidak memiliki ruh. Oleh karena itu, Hadhrat Masih Mau’ud as diutus untuk menghidupkan kembali esensi dari agama ini. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa amal perbuatan tidak akan bermanfaat tanpa keikhlasan. Jika ada konflik dan motif yang tersembunyi di dalamnya, maka shalatnya itu tidak akan naik satu hasta pun dari bumi, karena tidak adanya ruh dan ketulusan.

Banyak orang mengkritik, “Apa perlunya mendirikan silsilah (Jemaat) baru ini?”

Mengenai perlunya mendirikan sebuah komunitas baru (Jemaat baru), Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan,

“Mereka mengatakan, ‘Bukankah kami shalat dan kami berpuasa?’ Sebenarnya mereka menipu dengan perkataan demikian. Bukan hal yang aneh dalam perkataan mereka dikarenakan tuna ilmu lalu berkata, ‘Selama ini kami shalat, berpuasa, berdzikir dan berdoa lalu mengapa sebuah kelompok dibentuk dalam Jemaat baru.’Ketahuilah! Perkataan serupa ini ialah karena kurangnya pemahaman dan ketiadaan ma’rifat. Saya tidak melakukannya dari diri saya sendiri. Jika ada yang dipersalahkan karena mendirikan perpecahan maka Dia ialah Allah sendiri. Bukan saya sendiri yang mendirikan Jemaat ini. Allah Ta’ala Yang memerintahkan pendirian Jemaat ini maka saya mendirikannya. Jika kalian mengatakan ini perpecahan maka ketahuilah bahwa tuduhan itu kalian arahkan kepada Allah bukan kepada saya. Dialah Yang mendirikan Jemaat ini. Bertanyalah kepada-Nya mengapa Dia mendirikannya.”

“Sebenarnya, keadaan keimanan telah melemah sampai-sampai kekuatan iman telah tidak ada lagi. Allah Ta’ala ingin menanamkan ruh keimanan hakiki yang telah hilang, dan memilih untuk melakukannya dengan mendirikan Jemaat ini. Kritikan mereka itu salah dan sia-sia. Ketahuilah keragu-raguan ini hendaknya tidak terus tertanam dalam hati seseorang selamanya. Hal ini takkan mungkin berlanjut jika seseorang melakukan perenungan dan pemikiran mendalam atas hal ini dengan yang sebenarnya.”

Tujuan sebenarnya kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah agar kita membangun sebuah hubungan sejati dengan Tuhan, mengakui keagungan Rasulullah saw dan mengikuti tuntunan Al-Quran Karim. Oleh karena itu kita perlu memperbaiki keimanan kita dan juga perilaku kita harus sesuai dengan itu.

Dengan demikian, ketika tujuan pengutusan beliau as ialah menciptakan hubungan hakiki dengan Allah, memperkenalkan keagungan Allah dan menjunjung tinggi perintah-perntah Al-Qur’an maka kita yang telah mengimani beliau as seyogyanya memperbaiki keadaan keyakinan dan amal perbuatan kita. Kita juga perlu menilai apakah bai’at kita dilakukan dengan corak yang benar atau tidak? Apakah kita beribadah kepada Tuhan sungguh-sungguh demi Dia semata tanpa mengambil sekutu yang lain ataukah tidak?

Beberapa orang melaksanakan shalat tanpa adanya ruh. Bahkan banyak Ahmadi yang tidak melaksanakan shalat lima waktu dengan teratur lalu ketika mulaqat dengan saya berkata, “Doakanlah agar saya dapat mengamalkannya.” Padahal ini adalah kewajiban yang paling mendasar untuk setiap Ahmadi, setiap Mukmin dan setiap Muslim. Setelah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, seseorang harus melaksanakan shalat dengan kecintaan, gairat dan antusias. Bukan dengan biasa mengqashar dalam menunaikan semua shalatnya lalu berkata kepada saya (Hudhur), “Hudhur, mohon doakan saya.” Jika seseorang tidak dawam dan disiplin dalam shalatnya, maka daripada meminta doa kepada saya lebih baik ia berusaha keras untuk mengupayakannya sendiri dan menerapkan pengaturan guna meluruskan hal itu. Ketika membaca Iyaaka na’budu wa Iyaaka Nastain, mengapa hanya sekedar mengeluarkan kata-kata saja; tidak mengucapkannya dari dalam lubuk hati dan mengamalkannya dengan penuh seksama?

Selama kalian meyakini bahwa Muhammad saw adalah benar-benar seorang Nabi maka kita harus menjadikan tiap tindakan beliau saw sebagai teladan beberkat bagi kita. Seiring dengan meneladani ibadah beliau, maka kualitas akhlak mulia beliau juga merupakan teladan bagi kita, termasuk dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan keluarga. Beliau saw menampilkan bagi kita teladan tinggi dalam berakhlak baik terhadap istri. Beliau saw mengajarkan kita agar menjaga perasaan istri dan anak-anak kita dengan memperlakukan mereka penuh kasih. Tapi, meskipun demikian banyak dari kita yang menciptakan sendiri kekacauan dalam rumah tangga kita. Beliau saw juga mengajarkan kita untuk menjaga perasaan istri, memperlakukan anak-anak dengan penuh belas kasih dan juga menjaga perasaan orang lain pada umumnya. Beliau saw juga mewasiatkan dan mengajarkan kita untuk menghindari permusuhan dan pertengkaran. Beliau pun mengamalkannya. Islam melarang kita dari mengkhianati amanah dengan larangan keras. Beliau saw pun mengamalkan hal ini. Beliau selalu memperlihatkan bagi kita keteladanan dalam kerendahan hati, kebaikan budi pekerti dan menempatkan standar kejujuran yang tinggi. Apa pun jenis akhlak, Nabi saw telah mencapai titik puncak kesempurnaannya.

Selama kita sungguh-sungguh percaya Nabi Muhammad saw sebagai Nabi yang sejati; Selama kita sungguh-sungguh percaya Hadhrat Masih Mau’ud as telah datang dengan keberkatan mengikuti Nabi Muhammad saw sebagai Imam di zaman ini maka kita harus meningkatkan derajat akhlak kita dan standar ibadah kita. Tidak ada tempat melarikan diri bagi kita untuk mengkaji hukum-hukum Al-Qur’an dan memeriksa diri kita dalam cahaya terang perintah-perintah dan larangan-larangan Al-Qur’an untuk melihat apa saja kebaikan-kebaikan yang telah kita amalkan dan yang belum; apa saja keburukan-keburukan yang telah kita hindari dan apa saja yang terdapat kelemahan dalam meninggalkannya. Hal ini penting guna membangun pemahaman yang benar tentang kedudukan agung Hadhrat Masih Mau’ud as dan pendakwaan beliau.

Zaman ini atas nama kemajuan, orang-orang di dunia telah menjauh dari Tuhan. Ini adalah tanggung jawab seorang Ahmadi untuk berusaha menjalin hubungan dengan Tuhan dan membangun pemahaman sejati tentang keberadaan-Nya. Setiap hari kita harus maju dalam hal ini. Kecintaan kita kepada Rasulullah saw tidak hanya sebatas perkataan atau teriakan slogan semata, namun mengikuti segala keteladanan amal perbuatan beliau saw. Kita jangan sampai melakukan kezaliman atas nama beliau sebagaimana yang dilakukan banyak orang Islam hari ini. Banyak sekali kelompok, bahkan pemerintahan yang melakukan kezaliman atas nama Islam dan Rasulullah saw. Rasulullah saw datang sebagai rahmat bagi seluruh dunia, namun karena tindakan mereka sehingga imaji (gambaran tentang) beliau saw berubah menjadi – naudzubillah – seorang penindas yang zalim. Orang-orang itu tidak akan pernah berhasil dengan upaya mereka tersebut karena Al-Masih yang Dijanjikan telah muncul, dan kita terus berupaya untuk menampilkan imaji Islam yang sejati.

Demi menampilkan imaji Islam yang sejati, kita harus terus mengikuti teladan amal perbuatan Rasulullah saw dalam segala hal dan berupaya tunduk pada perintah Al-Quran. Kita harus memastikan bahwa di setiap waktu segala perbuatan kita adalah perbuatan yang benar. Kita pun harus berusaha keras untuk menjauhkan diri kita dari Setan, dan mendekatkan diri kita kepada Yang Maha Pemurah, jika tidak, maka sebagaimana yang Hadhrat Masih Mau’ud as katakan bahwa banyaknya shalat-shalat kita tidak akan naik keatas singgasana (Arsy) Allah Ta’ala. Berkenan dengan keutamaan Shalat, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa shalat hanya akan disebut shalat jika terdapat hubungan yang benar dan suci dengan Allah dan dalam keridhaan dan ketaatan terhadap Allah sampai batas fana sehingga ia mengutamakan agama dibanding duniawi dan ia siap menyerahkan hidupnya dijalan Allah.

Jika keadaan ini tercipta dalam diri seseorang, maka saat itulah shalatnya dapat disebut shalat. Namun, jika hakikat ini tidak timbul dalam diri seseorang dan tidak memperlihatkan keikhlasan sejati dan teladan kesetiaan, maka saat itu shalat-shalatnya dan amal-amalnya sama sekali tidak berpengaruh.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa banyak orang yang dianggap beriman dan bertakwa dinyatakan sebagai non-Muslim di langit. Orang yang beriman dan bertakwa yang sejati adalah ia yang dinyatakan seperti itu di langit, meskipun dari pandangan dunia dianggap kafir. Dunia menganggap kita kafir namun kita tidak perlu khawatir. Jika perbuatan kita baik dan memiliki hubungan dengan Tuhan, maka Tuhan sendiri yang akan mendeklarasikan kita sebagai orang yang beriman.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa demi memiliki keimanan yang sejati, dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan adalah hal yang sangat sulit. Ketika keimanan semacam itu ada, banyak tanda-tanda terwujud. Tanda keimanan sejati terbesar dari mereka yaitu tatkala seseorang melenyapkan segala hasrat keduniawian, menjauhkan dirinya dari dunia, menjadikan keridhoan Allah sebagai tujuan utamanya, juga menerima hal-hal keduniawian.

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan apa itu kebaikan hakiki,

“Takwa berarti menahan diri dari keburukan bahkan hingga ke aspek terkecilnya sekalipun. Namun, ketahuilah, bukanlah makna ketakwaan untuk mengatakan, ‘Saya orang bertakwa. Sebab, saya menahan diri dari keburukan atau kejahatan. Saya tidak pernah mengambil harta orang lain. Saya tidak pernah merampok di rumah orang lain. Saya tidak pernah mencuri. Saya tidak pernah berpandangan birahi. Saya tidak pernah berzina.’

Jenis kebaikan seperti ini akan menjadi bahan tertawaan orang-orang arif (yang berpemahaman mendalam). Sebab, jika keburukan dan kejahatan seperti itu dilakukan, yaitu mencuri, merampok dan lain-lain; tentu seseorang akan mendapatkan hukuman [dari pengadilan atau masyarakat]. Kebaikan seperti ini dalam pandangan orang-orang arif tidak diberi penghargaan istimewa melainkan kebaikan hakiki ialah seseorang mempersembahkan kegembiraan dan memperlihatkan kebenaran dan kesetiaan sempurna di jalan Allah; dan ia siap sedia memberikan pengorbanan jiwa di jalan-Nya. Oleh karena itulah, Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ ‘Sesungguhnya Allah bersama orang-orang bertakwa dan berbuat kebaikan.’ Ini artinya, Dia bersama orang-orang yang menjauhi keburukan dan melaksanakan kebaikan juga.’”

Selanjutnya, beliau as bersabda,

“Ingatlah baik-baik! Hanya menjauhi keburukan-keburukan bukanlah perkara yang patut dipuji selama ia tidak menyertainya dengan kebaikan-kebaikan.[1]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda

Takwa adalah tingkatan terendah (standar dasar), ia ibarat seperti pembersih yang membersihkan peralatan makan sebelum makanan yang terpilih diletakan di atasnya. Bisakah piring kosong mengenyangkan rasa lapar? Tentu saja tidak! Taqwa membersihkan piring Nafs-e-Ammara (jiwa yang mendorong kepada keburukan). Oleh karena itu bersihkanlah piring, letakan makanan amal saleh diatasnya, makanlah makanan tersebut karena ia adalah makanan sejati yang akan membawa kalian dekat kepada Tuhan dan meraih ridho-Nya.”

Salah satu keburukan terbesar adalah dosa kebohongan. Hadhrat Masih Mau’ud as mengarahkan perhatian dalam rangka menyelamatkan diri dari dusta dalam salah satu sabdanya,

“Saya amati ada ribuan perintah dalam Al-Qur’an asy-Syarif yang tidak diterapkan. Demi hal-hal kecil, orang-orang mau saja melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Al-Qur’an. Beberapa kebohongan diucapkan pemilik toko (pedagang) [demi keuntungan] dan yang lainnya berbohong demi sebuah diplomasi, padahal Allah Ta’ala menganggap kebohongan sejajar dengan kotoran.

Namun, banyak orang tidak berhenti juga dari kebiasaan membesar-besarkan saat menggambarkan sesuatu, malah menganggapnya bukan dosa, sementara yang lainnya berbohong saat bercanda. Seseorang tidak bisa dipanggil shadiq (orang yang jujur) sampai ia bisa menahan diri dari segala jenis kebohongan.”

Nilai akhlak agung lainnya adalah menutupi kelemahan orang lain. Ini bukan hanya sekedar akhlak saja bahkan dengan menerapkan akhlak ini maka dapat menjauhkan diri dari pertengkaran dan kerusuhan dan dunia pun terselamatkan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda menjelaskan hal ini,

“Saya amati terdapat sejumlah perselisihan dalam Jemaat ini. Perbedaan-perbedaan pendapat semakin parah diperdebatkan sehingga beberapa orang mulai menyerang kehormatan orang lain. Ketika ada perselisihan maka seseorang harus mengakui kesalahannya demi terjalinnya kerukunan. Salah satu nama Tuhan adalah As-Sattar (menutupi kelemahan). Lantas, mengapa ia tidak mengasihani saudaranya dan memaafkannya serta memperlakukannya dengan menutupi kesalahannya. Dengan demikian, hendaknya seseorang menutupi kelemahan saudaranya dan menahan diri dari menyerang martabat dan kehormatan saudaranya itu.”

Di sebuah buku kecil disebutkan mengenai seorang raja yang tengah mencatat Al-Qur’an. Seorang Mullah (ulama) mengatakan bahwa raja itu salah menuliskan sebuah ayat. Raja tersebut menulis garis terpotong di atas ayat itu. Saat itu dijalankan maka ruang tersebut terpotong. Saat raja ditanya, ia menjawab, “Pada dasarnya saya memang melakukan kesalahan. Waktu itu saya melakukan hal tersebut karena kesal saja.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa penyakit terbesar lainnya dan akar dari seluruh kecongkakan adalah seseorang yang apabila menangkap kelemahan pada diri orang lain, ia menyebarkannya kepada orang-orang yang lainnya. Hal-hal demikian menjadikan kejiwaan seseorang rusak dan hendaknya jangan melakukannya. Semua hal tersebut [yaitu tidak melakukan hal-hal tadi] merupakan bagian dari takwa.

Lebih lanjut beliau as bersabda,

“Berusaha keraslah untuk meraih ketakwaan, baru setelah itu kita akan dianugerahi berkat-berkat Ilahi. Orang-orang bertakwa diselamatkan dari bala bencana di dunia dengan perlindungan Tuhan. Banyak orang yang punya kebiasaan menuduh tuduhan kotor terhadap saudaranya. Janganlah melakukan hal itu. Perlakukanlah saudara kalian dengan baik. Hal pertama sebelum hal-hal lainnya, jauhkanlah diri dari Syirk. Inilah tempat tinggal pertama dari ketakwaan.”

Orang-orang yang tendensinya marah, arogan, congkak, angkuh, penipu atau fanatik tidak akan memperoleh faedah dari baiatnya itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as selanjutnya bersabda orang yang bertakwa dianugerahi keridhoan Ilahi sehingga orang lain dapat melihat bahwa ia pilihan Tuhan. Rasulullah saw adalah model dari seluruh akhlak luhur. Jika seseorang berjanji setia kepada Rasulullah saw dan juga pelayan sejatinya [yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as], maka ia harus mereformasi dirinya sendiri.

Lalu beliau as bersabda bahwa seseorang janganlah menyoroti cacat kelemahan orang lain. Banyak orang memiliki kebiasaan membuat penilaian tak bermoral yang tidak perlu kepada saudara-saudara mereka. Kita harus menunjukan belas kasih kepada umat manusia, memperlihatkan kebaikan kepada para tetangga, menjalin hubungan baik dengan saudara-saudara kita dan menjauhkan diri dari Syirk, Hal ini lah yang merupakan batu pondasi dari Ketakwaan.

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan bagaimana reaksi seseorang saat melihat orang lain melakukan kesalahan sehingga orang itu bisa fokus memperbaiki keadaan akhlaknya sendiri. Lebih lanjut beliau as bersabda,

“Saya sangat bersedih dengan Jemaat saya yang masih saja ada yang tidak menahan diri dari pertengkaran diantara mereka. Suatu kesalahan besar jika di depan publik menyebut bodoh kepada yang lain Jika kita menjumpai ada cacat atau kekurangan pada diri seseorang maka kita harus mendoakan mereka bukannya membicarakan atau mempublikasikan cacat mereka dengan menyebut demikian. Saat kita mendapati anak-anak kita melakukan kesalahan, kita harus memberkan pengertian pada mereka, ‘Ini hal yang tidak baik. Hentikanlah!’ Dengan demikian, sebagaimana kita dengan kesantunan, kebaikan dan kelembutan memperlakukan anak-anak kita maka kita pun harus memperlakukan sesama saudara kita. Saya merasa khawatir dengan bahaya keimanan mereka yang berprilaku buruk, karena perilaku buruk adalah akar kecongkakan. Jika Tuhan tidak ridha, maka seolah ini sia-sia saja.”

Jadi kita tidak mempunyai hak untuk mengatakan sesuatu apapun tentang orang lain. Kita harus khawatir akan diri sendiri.

Berbicara tentang orang-orang yang lebih mengedepankan kemarahan, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa kemarahan dan kebijakan tidak bisa hidup berdampingan. Seseorang yang mudah marah memiliki pikiran dan otak yang tumpul sehingga ia tidak menerima pertolongan Ilahi. Dan kemarahan merupakan bentuk dari penyakit gila.

Lalu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa kita tidak bisa menjadi penerima atas janji-janji yang telah dibuat Allah Ta’ala jika kita tidak menyingkirkan keburukan kita dan memiliki hubungan sejati dengan-Nya. Maka dari itu, apabila seseorang mempunyai tabiat buruk tersebut maka penting bagi mereka untuk merubahnya.

Orang-orang yang menghadiri Jalsah ini menjadi penerima doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as. Tapi mereka tidak bisa menjadi penerima doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as tersebut jika mereka tidak merubah diri mereka sendiri. Di Jalsah beberapa anak muda terlibat pertengkaran dan beberapanya lagi berkeluh kesah yang menyebabkan reputasi Jemaat menjadi buruk.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan bahwa semua nabi Allah telah menjadi target pelecehan dan tak terkecuali beliau. Namun para anggota harus sepenuhnya melenyapkan sifat kemarahan mereka. Karena cahaya dan kegelapan tidak bisa hidup berdampingan. Kegelapan tenggelam saat cahaya bersinar. Kita harus sepenuhnya tunduk kepada Allah Ta’ala, dan berusaha membuang jauh kelemahan kita.

Kita harus bertobat, beristighfar, dan senantiasa berdoa. Karena semua itu adalah senjata kita untuk meraih kemenangan. Beliau as bersabda,

“Senjata kita untuk meraih kemenangan adalah istighfar, taubat, memahami ilmu-ilmu agama, mengagungkan Allah Ta’ala dan menunaikan shalat lima waktu. Shalat adalah kunci pengabulan doa. Ketika melaksanakan shalat, berdoalah di dalamnya dan jangan pernah lalai. Hindarkanlah diri kalian dari keburukan-keburukan baik itu yang berhubungan dengan hak-hak Allah Ta’ala (huquuqullah) maupun hak-hak para hamba-Nya (huquuq al-‘ibaad).”[2]

Semoga Allah Ta’ala berkenan kepada kita untuk mampu mencapai standar-standar tersebut dan setelah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, kita memahami tujuan pengutusan beliau as serta memenuhi tujuan tersebut dengan segenap daya upaya dan sarana yang dapat kita gunakan. Semoga Dia juga berkenan kepada kita untuk dapat mengabarkan kebenaran ini kepada dunia.

Selama Jalsah berlangsung, kalian harus mengikuti acara Jalsah dan mendengarkan semua ceramah yang ada bukannya jalan-jalan kesana-kemari. Karena semua pidato akan menambahkan keilmuan, keimanan dan kerohanian dari satu atau lain segi. Seksi tarbiyat harus berusaha mengimplementasikan hal ini sehingga terlepas dari alasan yang sebenarnya, setiap orang harus duduk di dalam Jalsah Gah. Anda sekalian datang kemari untuk menyimak Jalsah maka harus mendengarkannya. Semua peserta Jalsah harus sepenuhnya koperatif dengan para petugas baik yang ada di area parker, toilet, kebersihan, ketertiban atau di area makan. Membuat antrian dan scanning kendaraan. Bantulah apa yang Anda bisa dan jangan menyerahkan segala sesuatunya kepada para petugas. Kebersihan adalah bagian dari Iman.

Demikian juga para petugas harus memperlakukan setiap orang dengan cara yang sopan. Meskipun, seandainya terjadi sesuatu, setiap panitia siapa saja harus tidak boleh memperlihatkan perlakuan terhadap peserta yang berdampak negatif. Mereka harus berkhidmat dengan wajah cerah ceria. Setiap orang yang hadir dan setiap seksi keamanan harus memperhatikan siapa saja yang ada di sekitar mereka dan lingkungan mereka secara seksama. Karena hal ini penting demi keamanan. Selanjutnya, kalian harus fokus berdoa. Berdoalah untuk diri kalian, untuk Jemaat dan umat Muslim agar Allah menganugerahi mereka kebijakan sehingga mereka dapat menerima Imam Zaman ini. Berdoalah untuk dunia umumnya yang tengah berjalan menuju kehancuran semoga Allah Ta’ala melindunginya dari kerusakan dan kehancuran, dan menganugerahinya hikmah dan pemahaman sehingga mereka dapat mengenali Allah Ta’ala. Amiin!

Dildaar AD & Yusuf Awwab

[1] Al-Badr, jilid 3, edisi 3, h. 3, 16 Januari 1904.

[2] Malfuuzhaat, Jilid V, hal. 303, Edisi 1985, Cetakan London

(Visited 200 times, 1 visits today)