Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

14 Juli 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Doa-Doa Qur’ani untuk Pendidikan Anak

Banyak pria dan wanita menulis kepada saya melalui surat atau berkata langsung saat Mulaqat, “Kami tengah menunggu anak yang belum lahir. Doakanlah baginya.” Atau mereka bertanya, ‘Dengan doa apa kami mendoakan bagi anak-anak yang belum lahir?” Atau, “Doa apa yang hendaknya kami panjatkan untuk tarbiyat anak-anak kami yang telah melewati masa kanak-kanak dan memasuki masa remaja dan masa dewasa?” Terkadang, para orang tua meminta petunjuk, “Bagaimana cara mendidik anak-anak mereka supaya mereka tetap kokoh di jalan yang benar, melakukan kebaikan-kebaikan dan amal-amal saleh?”

Dengan karunia Allah, sebagian besar Jemaat memikirkan hal ini dan mereka berfokus pada bagaimana caranya melakukan tarbiyyat kepada anak-anak mereka. Ini adalah rahmat dan pertolongan Allah Ta’ala yang luar biasa kepada kita para Ahmadi yaitu dikarenakan kita telah mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as, maka kita mempunyai pemikiran hasanah (kebaikan) di dunia bagi anak-anak kita. Pada masa ini, ketika hasrat-hasrat duniawi telah meliputi setiap orang, kita tidak hanya khawatir mengenai kesejahteraan duniawi anak-anak kita, namun kita juga berjuang untuk peduli mengenai peningkatan keimanan mereka.

Sebagaimana Allah Ta’ala juga mengaruniai kita, umat Muslim – dengan syarat umat Muslim menaruh perhatian terhadap hal itu dan mengamalkannya – bahwa ada pedoman-pedoman yang jelas dalam Al Quran tentang doa-doa dan cara-cara pelatihan akhlak bagi anak-anak di tiap tingkatan yang dilalui mereka bahkan sejak mereka belum lahir ke dunia. Tanggungjawab para orangtua untuk memperhatikannya. Al-Quran mengajarkan doa-doa untuk tujuan ini. Jika kita tetap terus memohon dengan doa-doa ini dan melazimkan diri dengan cara-cara ini dalam memberikan Tarbiyyat pada anak anak kita, maka itu memungkinan kita menghasilkan keturunan yang saleh di masa mendatang.

Tidak diragukan lagi bahwa tarbiyyat pada anak-anak bukanlah hal yang mudah; terutama pada masa ini yang di setiap harinya kita menghadapi daya pikat dan daya tarik di berbagai tikungan yang diciptakan setan untuk menggoda kita dengan berbagai macam cara. Itu adalah pekerjaan yang sulit. Namun, ketika Allah Ta’ala mengajari kita dengan doa-doa dan cara-cara Tarbiyat maka itu ialah demi menyelamatkan jiwa-jiwa kita dan anak-anak kita dari serangan-serangan setan. Jika memang kita mau. Tapi, itu ialah perkara yang mengharuskan doa yang berkelanjutan, permohonan pertolongan kepada Allah Ta’ala, usaha dan upaya serius, artinya perjuangan yang terus-menerus. Mukmin hakiki (orang beriman sejati) memang diharapkan dengan terikat kepada Allah Ta’ala, dia harus menyelamatkan dirinya sendiri dan juga anak-anaknya dari serangan gencar Setan, bukannya menyerah pada keputusasaan dan perasaan-perasaan negatif saat ketakutan.

Telah tampak di depan saya beberapa hari ini contoh mengerikan pemikiran negatif ketika seseorang menulis surat kepada saya sebagai berikut, “Terdapat persaingan ketat di dunia ini dalam mengumpulkan harta benda. Pelanggaran susila giat dilakukan hingga mencapai puncaknya sebagaimana muncul berbagai jenis obat-obatan narkotika dan penyalahgunaannya. Keadaan kebobrokan moral secara umum bertambah di masyarakat. Atas hal itu, saya berpikiran untuk menikah tapi lebih baik untuk tidak mempunyai anak setelahnya.”

Ini pandangan pesimistik dan putus asa yang ekstrim. Hal ini sama saja dengan mengakui kekalahan dari Setan dan menerima Setan sebagai sumber kekuatan akhir. Seolah-olah Allah Ta’ala tidak memiliki kekuatan [na’udzu biLlah] untuk menyelamatkan kita dan anak-anak kita dari serangan gencar Setan, tak peduli berapa banyak jerih upaya yang telah kita lakukan dan doa yang kita panjatkan. Dengan kata lain, ini seperti memberikan kebebasan penuh kepada Setan dan para pengikutnya, yang mengarah pada pemusnahan dan pembasmian keturunan orang-orang beriman selangkah demi selangkah. [Dengan pemikiran itu berarti orang-orang beriman ingin tidak berketurunan lagi] Hal ini tidak boleh terjadi. Karena itu, pemikiran seperti ini sangat berbahaya dan mengecewakan. Pemikiran seperti ini tidak layak bagi para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as. Pemikiran seperti itu merendahkan seluruh kemampuan dan kekuatan kita sendiri.

Kita harus menggunakan kemampuan-kemampuan dan sarana-sarana kita seoptimal mungkin agar dapat ikut serta dalam revolusi yang mana untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud as dikirimkan ke dunia oleh Allah Ta’ala. Kita juga harus memasukkan semangat ini kepada anak keturunan kita. Kita pasti membesarkan anak-anak kita dengan Tarbiyat yang baik dan kita harus berdoa untuk tujuan-tujuan kita sehingga meskipun segala kekotoran dan ketidaksenonohan tersebar di dunia, kita tidak akan membiarkan Setan menang, Insya Allah. Kita harus berusaha keras untuk menegakkan Kerajaan Tuhan di bumi ini.

Karena itu, tidak ada alasan untuk berkecil hati melainkan kita harus bertindak laku sesuai dengan jalan yang telah ditentukan oleh Allah Ta’ala dengan tekad yang bulat. Seperti yang telah saya sebutkan, Allah Ta’ala telah mengajarkan kita doa-doa dalam Al Quran agar dikaruniai rezeki berupa keturunan yang saleh dan berbudi luhur.

Di suatu tempat dalam Al-Qur’an, terdapat doa yang Dia ajarkan kepada Hadhrat Zakaria as: رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ ‘Rabbi hab lii mil ladunka dzurriyatan thayyibah. Innaka samii’ud du’aa.’ – “Wahai Rabbku, karuniakanlah hamba anak keturunan yang saleh dari Engkau. Sesungguhnya, Engkau Maha Pendengar doa-doa.” (Surah Ali Imran; 3:39)

Allah Ta’ala telah mengajarkan doa ini dan berfirman, “Aku Maha Pendengar doa-doa. Atas hal itu kalian harus mengatakan, ‘Ya Allah! Engkau Maha Pendengar doa-doa sehingga kami berdoa kepada Engkau supaya Engkau mengabulkan doa-doa kami dan menganugerahi kami keturunan yang suci.’”

Jadi, saat seseorang ingin punya anak yang saleh maka ia harus berdoa agar dianugerahi anak keturunan yang saleh. Selain itu, ia juga harus beramal saleh dan bertakwa, yang mana merupakan sifat dan karakter orang-orang saleh dan para Nabi. Agar dapat menjaga keturunan kita dari pengaruh buruk masa ini, adalah penting suami dan istri bertindak laku dan beramal saleh. Terkadang para ibu amat perhatian dalam urusan agama dan ibadah sementara para bapak tidak. Terkadang pula para bapak perhatian sangat akan hal itu sementara para ibu tidak memenuhi tanggungjawabnya dengan sempurna. Keinginan mempunyai keturunan suci/saleh yang terlindungi daripada pengaruh-pengaruh buruk yang tersebar di masyarakat dan lingkungan sekitar menuntut para pasangan suami-istri juga untuk mengamalkan kesalehan-kesalehan sebelum memunculkan keinginan dalam diri dan sebelum kelahiran anak.

Ada sebuah peristiwa seorang Sahabat yang didoakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as agar dikaruniai anak namun beliau as menyampaikan syarat kepadanya agar orang tersebut melakukan perubahan suci dalam dirinya. Orang ini belum Ahmadi dan belum baiat. Namun, mungkin karena sebagian kebaikannya sehingga Hadhrat Masih Mau’ud as mendoakan baginya. Orang ini adalah Tn. Munshi ‘Ata Muhammad, seorang pemungut pajak. Tn. Munshi ‘Ata Muhammad mengatakan: “Saya dulunya adalah seorang non-Ahmadi. Saya jauh dari agama. Saya diundang ke dalam Ahmadiyah oleh seorang teman Ahmadi. Tapi, saya tidak menaruh perhatian atas hal itu. Suatu hari ia meminta dengan sangat kepada saya agar menyimak baik kata-katanya dan supaya saya merenungkannya. Saya katakan kepadanya, ‘Jika engkau bersikeras atas hal ini, maka saya minta doa kepada engkau yang bila dikabulkan, saya akan merenungkannya. Engkau mengatakan doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as itu maqbul. Maka dari itu, saya meminta beliau berdoa bagi saya agar Allah Ta’ala memberikan seorang putra dari istri saya yang pertama. Saya telah menikah dengan 3 istri satu demi satu demi keinginan keras untuk punya keturunan namun tidak ada satu pun dari istri saya yang pernah hamil.

Orang Ahmadi itu pun menuliskan surat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dengan kata-kata saya di dalamnya. Beberapa waktu singkat kemudian, saya menerima surat dari Maulwi Abdul Karim Sahib sebagai jawaban yang di dalamnya beliau ra menulis, ‘Hadhrat Masih Mau’ud as telah mendoakan Anda dan bersabda, “Ia akan dikaruniai anak dengan syarat ia bertobat seperti tobat Zakaria as.”’

“Pada hari-hari itu saya lalai dengan agama amat lalai, biasa minum minuman keras, dan sangat menyukai uang suap (korupsi). Tahu apa saya soal tobat Zakaria as? Supaya tahu apa itu tobat Zakariah, saya perhatian mengunjungi Masjid. Saat Imam Masjid melihat saya dengan keheranan seolah-olah berkata, ‘Apa ini! Pemabuk datang ke Masjid!’ Saya pun menyampaikan pertanyaan saya namun dia tidak mampu menjawabnya. Saya lalu mengarahkan perhatian kepada Maulwi Fath Din Ahmadi di desa lain dan mengajukan pertanyaan yang sama. Ia menjawab, ‘Taubat Zakaria adalah menjauhkan diri dari kelalaian beragama, mendapat nafkah halal, shalat dan puasa secara teratur dan mengunjungi masjid lebih sering.’

Setelah mendengar hal ini, saya meninggalkan minum minuman keras, menjauhkan diri dari mengambil uang suap, dan menjadi teratur dalam shalat dan berpuasa. Dalam waktu sekitar 4-5 bulan berlalu istri saya yang pertama suatu hari menangis karena munculnya beberapa perubahan dalam dirinya. Setelah diperiksa tampaklah bahwa itu menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Setelah mendengarkan perkataan istri saya perihal itu, saya mengabarkan istri saya bahwa saya telah meminta didoakan oleh Hadhrat Mirza. Inilah tanda kehamilan. Tidak diragukan lagi.

Saya mengatakan pada orang-orang bahwa saya akan dikaruniai seorang putra, yang akan tumbuh sehat dan tampan. Dan sesuai dengan hal itu, seorang putra terlahir. Saya berbaiat setelah itu dan banyak orang dari daerah itu juga berbaiat.”

Namun, secara tersirat, harap diperhatikan ketika Allah ingin seseorang husnul khatimah maka Dia menjadikan harapan orang itu agar memperoleh anak menjadi sarana perbaikan dirinya dan perubahan suci padanya. Hadhrat Masih Mau’ud as menjadikan pengabulan doanya bersyarat dengan terdapatnya perubahan suci padanya. Jadi, ketika kita berdoa dengan doa Zakaria untuk kelahiran anak-anak kita, adalah perlu bagi kita untuk membangun perubahan suci dalam diri kita juga.

Saya ingin mengisahkan peristiwa lain juga. Ada orang yang menceritakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as perihal meminta didoakan oleh beliau agar dikaruniai anak maka ia akan baiat. Singkat peristiwa, beliau as bersabda, “Pendakwaan saya ialah sebagai Al-Masih yang dijanjikan. Saya tidak pernah mengumumkan bahwa saya diutus sebagai sarana bagi umat manusia agar dikaruniai anak.”

Situasi dan kondisi orang itu amat berbeda [dengan kondisi Tn. Ata Muhammad]. Sebagai seorang Nabi, Hadhrat Masih Mau’ud as dengan firasatnya tahu bahwa persyaratan ini telah tumbuh dalam perasaan orang itu. Adapun Sahabat yang telah diceritakan tadi, Allah Ta’ala menginginkan kebaikan bagi akhir hidupnya. Ia telah melakukan kebaikan-kebaikan lainnya sehingga Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan kabar gembira padanya setelah beliau as menerima informasi dari Allah Ta’ala sehabis berdoa bahwa ia akan dikaruniai anak.

Janganlah hilang dalam pemikiran bahwa tidak boleh meletakkan syarat-syarat dalam setiap permohonan. Bukan hal yang benar untuk menjadikan pembaiatan [bergabung dengan Ahmadiyah] dengan syarat-syarat doa-doa pribadi dikabulkan. Sebagian orang menulis surat kepada saya, “Jika saya berhasil memperoleh sesuatu dan bisa begini dan begitu maka saya akan bergabung dengan Jemaat.” Menaruh persyaratan untuk bergabung dengan Jemaat bukanlah termasuk menerima dengan keimanan. Malahan hal itu seperti memaksakan kepada Allah Ta’ala untuk menerima persyaratan-persyaratan kita. Allah Ta’ala tidaklah menyediakan petunjuk kepada seseorang karena terpaksa demi memenuhi syarat-syarat orang itu. Kita-lah yang memerlukan untuk mengikuti petunjuk-Nya, sementara itu, Dia tidak memerlukan kita sama sekali. Namun demikian, seperti yang telah saya sebutkan, ketika kita berdoa kepada Allah untuk mengaruniai kita anak-anak, kita juga harus membangun perubahan suci di dalam diri kita sendiri.

Doa Nabi Zakaria kita temukan dalam Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya: رَبِّ لَاتَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ ‘Rabbi laa tadzarnii fardaw wa Anta Khairul waaritsiin.’ – “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.” (Al Anbiya; 21:90). Dalam doa ini Allah Ta’ala telah menyifatkan Diri-Nya sebagai “Pewaris Terbaik”. Jelas dari doa ini bahwa seseorang berdoa untuk diberikan keturunan janganlah hanya untuk menjadi pewaris mereka dalam duniawi saja. Tidak demikian, melainkan doa agar dikaruniai Allah Ta’ala pewaris yang mengutamakan keimanan mereka di atas duniawi dan anak-anak. Jelas bahwa tidaklah berdoa dengan doa ini kecuali mereka sendiri yang mengutamakan agama diatas duniawi. Bagaimana mungkin seorang yang terlibat mendalam dalam hal-hal materi berdoa supaya pewarisnya ialah orang-orang saleh. Jika seorang wanita berdoa supaya mendapatkan keturunan termotivasi keinginan alami wanita untuk melahirkan atau terkadang demi memenuhi harapan suaminya maka terkadang keturunan ini menjadi sebab cobaan. Keinginan untuk memiliki anak adalah keinginan yang sah, namun di atas hal itu, seseorang juga harus berdoa bagi pewaris yang saleh.

Hadhrat Masih Mau’ud as dalam satu tempat bersabda bahwa hendaknya tidak menginginkan anak-anak sebagai pewaris bahkan membuat anak-anak tidak saleh dan suci dapat menjadi penyebab ujian: “Ujian perihal anak-anak sangat rentan berbahaya. Jika anak-anak itu saleh maka seseorang tidak akan menghadapi hal mencemaskan. Allah Ta’ala sendiri berfirman (Surah Al-A’raf, 7:197) وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ artinya, Dia sendiri akan menjamin orang-orang saleh dan melindungi mereka. Jika terdapat anak-anak yang rusak dan kalian mewariskan jutaan harta pada mereka maka itu akan mereka habiskan dalam keburukan dan mereka menjadi bangkrut dan miskin lalu menghadapi berbagai masalah dan kesulitan yang dipastikan akan mereka alami. Mereka yang menjadikan kehendaknya itu sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala dan ridha-Nya akan menjadi pembimbing bagi anak-anaknya. (apa itu ridha Allah? Yaitu mendahulukan agama diatas duniawi) Dalam rangka itu, ia harus berusaha keras dan berdoa bagi kebaikan dan perbaikan mereka. Dalam hal ini Allah Ta’ala Sendiri akan menjamin mereka dan memperbaiki mereka. Adapun jika mereka rusak maka Dia akan tinggalkan mereka dan kondisi mereka serta tidak Dia pedulikan sikap mereka yang menyia-nyiakan diri.”

“Jadikanlah diri kalian saleh dan berlakulah dengan cara yang menjadi teladan kesalehan dan ketakwaan bagi anak-anak. Berusaha dan berdoalah untuk membuat mereka menjadi insan yang bertakwa dan beragama. Sebagaimana kalian begitu bekerja keras untuk mengumpulkan harta demi anak-anak, pada masa yang sama dengan serius usahakanlah juga tarbiyat bagi anak-anak.”

Seseorang harus berusaha untuk mengajarkan anak-anak mereka tentang agama, membuat mereka teguh dalam keimanan mereka dan memberikan pendidikan agama pada mereka sekuat mereka berupaya dalam perolehan-perolehan duniawi. Fakta yang sebenarnya, seseorang lebih banyak berusaha dalam hal duniawi dan sedikit yang dilakukannya dalam hal agama. Itulah yang menyebabkan manusia berada dalam ujian-ujian dan persoalan-persoalan.”

Beliau as bersabda, “Orang-orang berharap mempunyai anak-anak. Mengapa? Terkadang saya mendengar orang-orang kaya dan makmur berkata, ‘Supaya anak-anak tersebut menjadi pewaris harta kekayaan kami.’ Jadi, keinginan mereka ialah demi harta kekayaan belaka supaya tidak berpindah ke orang-orang lain. Namun mereka tidak menyadari akan meninggalkan dunia ini tanpa teman dan anak-anak menyertai. Mereka semua akan menjadi orang lain baginya.”

Allah Ta’ala telah mengajarkan kita doa yang berikut ini dalam Al-Quran: وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (Al Ahqaf; 46:16)

Ketika seseorang berdoa bagi anak-anaknya maka ia harus mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala dan menaati-Nya juga. Saat itulah baru doa-doanya dikabulkan. Inilah tanggungjawab besar para Ayah dan para Ibu untuk membiasakan diri berdoa untuk tetap terus ishlaah dan Tarbiyat terhadap anak-anak mereka dan memperlihatkan keteladanan baik.

Jika keteladanan mereka bertentangan dengan ajaran-ajaran Allah dan berlawanan dengan nasehat-nasehat mereka sendiri terhadap anak-anaknya maka ini berarti mereka bukan termasuk mukhlish (ikhlas) dan berniat baik dalam doa-doa mereka. Jika keadaan amal mereka memang demikian maka mengapa mereka mengeluh telah banyak berdoa demi anak-anak mereka dan seiring itu anak-anak mereka menjadi rusak atau menjadikan mereka berada dalam ujian-ujian. Di ayat tersebut, Allah Ta’ala mengajari kita doa untuk ishlaah (perubahan baik) anak-anak, dan bersamaan dengan hal itu juga doa agar termasuk diantara mereka yang menaati Allah Ta’ala dan menyerahkan diri kepada-Nya.

Allah Ta’ala kemudian mengajarkan kita doa yang jaami’ (komprehensif) dalam Al Quran. Keistimewaan mereka yang hendak menyelamatkan diri dari serangan-serangan setan dan menghindarinya serta menjadi hamba-hamba Allah ialah memanjatkan doa berikut : رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Furqaan: 75). Doa bagi anak-anak dan pasangan suami-istri ini wajib diamalkan oleh kaum laki-laki maupun kaum wanita. Ketika seorang laki-laki dan seorang wanita berdoa supaya dikaruniai anak-anak saleh maka tanggungjawab mereka tidak berhenti serta merta dengan lahirnya anak-anak mereka bahkan tiap-tiap orangtua dan suami-istri ialah Imam di domain/wilayah masing-masing. Ia takkan memenuhi kewajiban ini selama tidak menapaki jalan-jalan ketakwaan dan kecuali mereka meninjau amal perbuatan mereka disamping doa-doa mereka kepada anak-anak mereka. Oleh karena itu, Allah Ta’ala telah berulangkali menasihati kita dengan setiap doai dalam Al Quran bahwa kita harus menjaga perilaku dan amalan kita jika kita ingin mempunyai keturunan yang bertakwa.

Hadhrat Masih Mau’ud as menguraikan ayat ini secara rinci di suatu tempat: “Ada tujuan lain juga dari pernikahan yang mana telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an dalam Surah al-Furqaan dengan firman-Nya (Surah Al-Furqan, 25:75), وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا artinya, ‘Orang-orang yang beriman ialah mereka yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, anugrahilah  kami penyejuk hati terkait istri-istri kami dan anak keturunan kami, dan jadikanlah para istri kami dan anak keturunan kami sebagai orang-orang yang bertakwa dan kami sebagai yang terdepan diantara mereka.”

Di ayat ini juga Allah Ta’ala mengajarkan para Ayah dan para Ibu supaya memperlihatkan teladan mereka secara amal perbuatan seiring dengan doa yang mereka panjatkan وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ‘waj’alnaa lil muttaqiina imaama.’ Keadaan seseorang sebagai Imam artinya ia menjadi teladan dalam amal perbuatan. Maka dari itu, Allah Ta’ala menasehatkan dalam Al-Qur’an bersamaan dengan tiap doa, “Jika kalian ingin punya anak keturunan yang baik maka kalian harus senantiasa lebih dahulu menyelidiki amal perbuatan kalian.”

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan mengenai mengapa seseorang mengharapkan mempunyai anak atau kenapa seharusnya ia berkeinginan untuk memiliki anak atau hendaknya selalu menyadari tujuan penciptaan manusia atau saat anak-anak lahir ia harus menyadari hal itu. Demikian pula ia harus meninjau dirinya sendiri dan menaruh kepedulian atas ishlaah dirinya sendiri supaya anak-anak mereka juga menjadi saleh/ah. Ia seharusnya mempunyai anak tidak hanya sebatas agar dapat memiliki pewaris (penerus) di dunia ini yang menjaga harta kekayaannya saja. Bagaimana dan dengan urutan apa hendaknya kita mengamalkan doa ini?

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan secara rinci tiap hal ini, “Seseorang hendaknya berpikir mengapa ia ingin punya anak? Hendaknya ia tidak bersikeras dalam keinginan alaminya seperti kehausan dan kelaparan. Tetapi, ketika ia melebihi batasan tertentu dalam keinginannya ini maka mau tak mau ia harus melakukan ishlaah [perbaikan] dirinya. Tuhan telah menciptakan manusia supaya mereka menyembah-Nya, sebagaimana firman-Nya: وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ Dan tidaklah Ku-ciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepada-Ku’. (Adz-Dzariyaat, 51:57)

Namun, jika seseorang tidak menjadi mukmin, tidak mengabdikan dirinya dalam penghambaan kepada Allah, tidak memenuhi tujuan sesungguhnya penciptaannya, tidak menunaikan kewajiban ibadah secara sempurna, bahkan hidup dalam kefasikan dan kejahatan serta melakukan dosa demi dosa maka bagaimana hasil dari keinginan mempunyai anak dari seorang laki-laki yang semacam itu? Dengan begini berarti ia akan meninggalkan pengganti lain yang seperti dirinya yang melakukan dosa-dosa. Apakah ia telah membatasi diri sendiri dalam hal ini hingga ia mengharapkan anak-anak juga?”

“Selama keinginan untuk memperoleh keturunan tidak bertujuan supaya anak-anaknya menjadi saleh, bertakwa, setia kepada Allah dan menjadi pengkhidmat agama-Nya, maka sama sekali merupakan hal yang sia-sia, bahkan merupakan sebuah corak kemaksiatan. Dan daripada menyebutnya الباقيات السيئات al-baaqiyaatush shaalihaat (keturunan yang saleh) akan lebih tepat menyebutnya الباقيات الصالحات al-baaqiyaatus sayyiaat (generasi atau keturunan yang buruk, yakni bukan keturunan yang baik, tetapi keturunan yang buruk). Jika ada orang yang mengatakan menginginkan keturunan saleh, takut akan Allah dan menjadi pengkhidmat agama, maka ucapannya ini pun hanya semacam sebuah pendakwaan belaka selama ia tidak memperbaiki diri sendiri. Jika ia sendiri hidup dalam kefasikan dan dosa lalu mengatakan ingin mendapat keturunan yang saleh dan muttaqi maka ia dusta pernyataannya.”

(Banyak orang datang kepada saya berkata, ‘Hudhur, doakanlah kami supaya Allah Ta’ala menganugerahi kami anak-anak yang saleh.’ Ketika saya menanya mereka soal keteraturan mereka dalam menjalankan shalat-shalat, mereka berkata, ‘Kami tengah mencoba melaksanakan semua shalat.’ Orang-orang yang tidak shalat bahkan hingga shalat-shalat yang wajib maka bagaimana mungkin ia mencapai usaha tertinggi kebaikan lainnya.)

Hadhrat Masih Mau’ud as melanjutkan, “Sebelum adanya keinginan memperoleh keturunan yang saleh dan muttaqi perlu terlebih dahulu melakukan ishlaah (perbaikan) pada diri sendiri, baru keinginannya seperti itu akan berdampak positif dan keturunan seperti itu akan menjadi layak kita sebut sebagai penyempurnaan الباقيات الصالحات (al-baaqiyaatush shaalihaat -keturunan yang baik). Jika hanya sekedar berharap saja supaya mengekalkan namanya dan mewariskan kesejahteraan dan kekayaannya pada anak-anaknya atau supaya dianggap orang besar maka menurut saya itu harapan yang syirk (menyekutukan Allah).”

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut menjelaskan hal ini: “Ada hal lain juga bahwa terdapat orang-orang yang menginginkan punya anak yang banyak dan mereka mendapatkan banyak rezeki. Namun, kami tidak melihat mereka berupaya memberikan pendidikan yang baik, memberikan pelatihan akhlak yang baik dan ketaatan kepada Allah, tidak pernah mendoakan mereka dan tidak memperhatikan tingkat-tingkat pendidikan.” (seseorang harus mendoakan mereka dan memberikan pendidikan baik bagi mereka)

“Keadaan saya adalah sedemikian rupa tidak ada satu shalat pun yang di dalamnya saya tidak berdoa untuk teman-teman saya, anak-anak saya dan istri saya. Banyak para Ayah yang mengajarkan kebiasan-kebiasaan buruk kepada anak-anak mereka. Saat anaknya berlaku salah, mereka tidak menasehatinya sejak awal. Tidak pula diperingatkan. Sebagai dampaknya, perlahan-lahan tindakan-tindakan buruk mereka akan meningkat hari demi hari.”

Jika para Ayah tidak memperingatkan anak-anak mereka sejak kecil – mungkin karena kecintaan – mereka akan bertambah dalam keburukan selangkah demi selangkah.

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut bersabda, “Banyak orang mengharapkan mempunyai anak-anak bukan untuk mengkhidmati agama melainkan sebagai pewaris duniawi bagi mereka. Ketika mereka dikaruniai anak-anak, mereka tidak menaruh perhatian pada Tarbiyat anak-anak mereka dan tidak berusaha memperbaiki akidah (kepercayaan) mereka.” (Mengajarkan agama adalah suatu keharusan. Para Ayah (orangtua) tidak boleh beralasan tidak punya waktu karena kesibukan duniawi mereka atau anak-anak sedang sibuk belajar. Jika demikian, selanjutnya para orangtua akan tidak perhatian akan keagamaan mereka sendiri dan tidak menaruh perhatian akan Tarbiyat anak-anak mereka. Sangat penting untuk mengajarkan mereka atau menyediakan pengaturan bagi mereka pengajaran tentang keimanan, agama dan kepercayaan mereka.) “Jika tidak demikian, maka akhlak mereka takkan menjadi baik.”

Tolok ukur akhlak berbeda-beda. Contohnya di masyarakat ini terdapat tolok ukur akhlak yang berbeda. Namun tolok ukur-tolok ukur yang Al-Qur’anul Karim ajarkan kepada kita jauh lebih luhur dari standar-standar duniawi. Kita harus memenuhi standar-standar yang Allah Ta’ala ajarkan kepada kita dan apa yang Islam ajarkan kepada kita dan Rasulullah tegaskan dengan amal perbuatan beliau saw. Maka, itulah standar-standar yang harus kita buktikan dalam pengamalan kita di hadapan generasi penerus kita.

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut bersabda, “Iman seseorang tidak akan dapat benar selama ia tidak menghargai hubungan kekeluargaan. Jika ia sendiri lemah dalam hal itu maka bagaimana dapat diharapkan darinya pokok-pokok kebaikan besar lainnya? Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an telah menyebutkan perihal harapan terhadap anak-anak, رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ‘Ya Tuhan kami, anugrahilah kami penyejuk hati terkait istri-istri kami dan anak keturunan kami, dan jadikanlah para istri kami dan anak keturunan kami sebagai orang-orang yang bertakwa dan kami sebagai yang terdepan diantara mereka.’ (Surah Al-Furqan, 25:75)

Hal ini hanya mungkin terjadi ketika mereka (para orang tua itu sendiri) tidak menjalani hidup yang penuh dosa maupun kefasikan. Namun, mereka menjalani hidup seperti para hamba Tuhan ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Mereka mengutamakan Tuhan di atas segala hal. Selanjutnya, وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ‘dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’ Jika anak keturunan seseorang itu saleh-saleh dan bertakwa semua, maka tentulah orang tersebut adalah Imam bagi mereka. Oleh karena itu, doa ini juga mengandung doa agar menjadi seorang yang bertakwa.”

Itu artinya seseorang berdoa agar dirinya menjadi orang yang bertakwa dan berdoa agar Allah Ta’ala membuat anak keturunannya berjalan di jalan ketakwaan juga.

Kemudian, beliau as bersabda, “Seseorang harus mendidik anak-anaknya dengan dorongan kasih sayang dan itu bukan demi menjadikan mereka pewarisnya melainkan menjadi khadim bagi agama yang dimulai dari titik pokok وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ‘jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’ Berapa banyak orang yang mendoakan anak-anak mereka agar menjadi pahlawan agama? Tidak ragu lagi, mereka yang melakukan itu jumlahnya amat kecil. Sebagian besar lagi lalai sepenuhnya sebab yang mendorong mereka berusaha untuk mempunyai anak. Banyak dari mereka yang ingin menjadikan anak-anak mereka hanya sebagai pewaris mereka saja. Tidak ada tujuan lain. Keinginan besar mereka ialah bagaimana agar harta kekayaan mereka tidak berpindah ke lawan mereka. Namun, ingatlah keagamaan mereka akan rusak sepenuhnya dengan jalan-jalan ini. Wajibkanlah bagi kalian keinginan mempunyai anak supaya mereka menjadi para pengkhidmat agama.” Secara khusus, para orang tua anak-anak Waqaf e Nou harus memberikan banyak perhatian pada pendidikan agama anak-anak mereka.

Lantas, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Saya menyaksikan orang-orang yang tidak mengamalkan apa-apa yang dia ketahui kecuali demi dunia semata. (Artinya, ia beramal karena dorongan kecintaan dunia dan bukan demi ridha Allah) Jika seseorang ingin mempunyai anak-anak maka ia harus menjadikan firman Allah Ta’ala ini sebagai pedoman, وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا ‘dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’ Artinya, jika seseorang dikaruniai seorang anak makan jadikanlah itu sarana untuk meninggikan kalimat Islam. Jika seseorang berniat dengan niat suci ini maka Allah Maha Kuasa untuk mengaruniainya anak-anak yang seperti anak-anak Zakaria. Namun, saya lihat orang-orang tidak berpikiran melebihi agar anak-anak itu menjadi pewaris belaka dari keluarga dan harta kekayaan mereka agar salah seorang kerabat lain dengan gerutunya tidak mengambil harta mereka. Hai orang yang malang mengapa engkau tidak berpikir jika telah meninggal maka teman dan musuh berkedudukan sama saja.”

Sabda beliau as, “Telah saya saksikan banyak orang berkata, ‘Doakanlah kami supaya dikaruniai anak untuk mewarisi harta kekayaan kami agar kerabat kami yang lain tidak mengambil harta kami.’ Itu seolah-olah mereka ingin anak-anak walaupun buruk penghidupannya. Inilah puncak pengetahuan mereka tentang Islam.”

Hal ini telah menjadi tampak terlihat secara luas diantara kaum Muslim dan untuk alasan ini, banyak upaya dilakukan guna mendapatkan keturunan laki-laki. Para laki-laki pada gilirannya tidak memberikan jatah waris pada saudara-saudara perempuannya atau para orang tua juga tidak mewariskan kekayaan mereka pada anak-anak perempuannya bahkan memberikan semuanya kepada putra-putra mereka – yang justru bertentangan dengan ajaran Islam. Selanjutnya, para pria ini pada gilirannya malah memboroskan dan menyia-nyiakan harta yang diberikan kepada mereka. Contoh seperti ini banyak kita saksikan di dunia hingga sekarang.

Namun demikian, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, para orang tua anak-anak Waqf-e-Nou harus memberikan perhatian khusus pada pendidikan moral anak-anak mereka dan bersamaan dengan ini mereka harus berdoa untuk anak anak mereka agar dapat mengutamakan agama dibanding duniawi saat mereka dewasa kelak. Menjadi Waqifin itu berarti terdapat kewajiban yang mereka harus pikul. Itu bukan sekedar sebutan ‘Waqif’ saja yang ketika dewasa lalu mengatakan telah bekerja di pekerjaan mereka. Tidak demikian.

Termasuk kewajiban para Waqifin-e-Nau ialah meminta izin kepada Jemaat sebelum memulai suatu pekerjaan di bidang apa saja. Lantas, ia harus bertanya, “Apakah Jemaat memerlukan pekerjaan jenis ini atau tidak?” Jika Jemaat memberi izin, barulah kalian memulainya. Mereka harus pula mempersembahkan diri mereka bagi Jemaat secara setia dan tulus untuk menyempurnakan janji mereka dan janji orangtua mereka atas Waqf mereka dengan murni demi meraih ridha Allah semata.

Suatu keharusan bahwa seseorang mengharap mempunyai anak-anak seiring dengan doa-doa dan pemikiran dikaruniai anak-anak yag mengutamakan keimanan dibanding semua tujuan duniawi mereka, melanjutkan kemuliaan orangtua dan kakek-nenek mereka serta keluarga. Ada banyak keluarga yang termasuk anak keturunan para Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun, hal ini tidak cukup bagi mereka. Banyak Ahmadi yang dengan bangga diri mengatakan bahwa mereka keturunan para Sahabat. Tak ragu lagi bahwa ini sebab kemuliaan dan kebanggaan dengan syarat menjadi orang yang mengamalkan kebaikan-kebaikan yang diamalkan oleh para Sahabat tersebut.

Menjadi anak keturunan seorang Sahabat itu tidak cukup, bahkan wajib bagi para orangtua untuk berdoa bagi anak keturunan mereka supaya mereka menghidupkan senantiasa kebaikan-kebaikan orangtua dan kakek-nenek mereka. Jika para orangtua berdiri kokoh dalam doa ini maka mereka akan didekatkan dengan amal perbuatan leluhur mereka. Hal itu takkan dapat terjadi tanpa mengoreksi amal perbuatan mereka hal mana itu dapat membuat abadi nama-nama para leluhur saleh mereka. Para orangtua wajib mengoreksi amal perbuatan mereka. Begitu pula mereka harus berdoa bagi anak keturunan mereka hingga nafas terakhir dari hidupnya supaya mereka termasuk kedalam golongan yang mengembangkan sifat-sifat suci dan saleh.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Pertolongan Tuhan turun hanya kepada orang-orang yang unggul dalam amal saleh dan tidak stagnan berada pada satu tempat (tetap bertumbuh dalam amal salehnya). Inilah orang-orang yang memiliki husnul khatimah (akhir yang sejahtera).”

Agar seseorang dapat menerima akhir yang baik, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Seseorang harus berdoa secara terus-menerus untuk dirinya sendiri, juga untuk istri dan anak-anaknya.”

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan para orangtua nasihat: “Lakukanlah amal perbuatan yang menjadi contoh terbaik bagi anak-anak kalian.” Ini adalah tanggung jawab dari para orang tua. Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut menerangkan dengan bersabda: “Karena itu, suatu keharusan untuk terlebih dahulu mereformasi (mengubah diri sendiri). Jika kalian menjadi orang yang saleh dan bertakwa terlebih dahulu, dan jika Allah telah ridha (senang) atas kalian, maka terdapat harapan pasti bahwa Allah Ta’ala juga akan selalu menunjukkan kebajikan pada anak keturunan kalian.

Dalam Al-Quran, Allah Ta’ala menyebutkan kisah Khidhr dan Musa ‘alaihimas salaam yang bersama-sama memperbaiki sebuah bangunan dinding yang merupakan milik dua anak yatim. Mengacu pada hal ini Allah Ta’ala berfirman: وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا ‘Ayah mereka berdua adalah seorang yang saleh.’ (Surah al-Kahfi, 18:83) Keadaan dari anak-anaknya sendiri tidak disebutkan, dan malahan, orangtuanya yang disebutkan. Berusahalah untuk mencapai tujuan ini. Cita-cita (pengharapan) mempunyai anak keturunan senantiasa bersyarat kalian juga harus menjadi saleh senantiasa.”

Selanjutnya, sebagai ganjarannya, Allah Ta’ala akan menganugerahi kalian sarana-sarana dan persediaan, memberi kalian anak-anak dan menjadikan mereka termasuk orang saleh dan juga memiliki kecukupan rezeki.

Ini adalah prinsip-prinsip fundamental yang mana dinasihatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as kepada kita berkali-kali. Faktanya, nasehat beliau as ini adalah penjelasan dari prinsip-prinsip Al-Quran, yaitu contoh perilaku sang Ibu dan sang Ayah memainkan peran mendasar dalam mendidik anak-anak.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahi setiap kita taufik untuk menjadi contoh terbaik bagi anak-anak kita. Semoga kita dapat memenuhi janji Baiat untuk mengutamakan keimanan dibanding semua obyek-obyek duniawi. Sebagian orang punya kebiasaan memelototi keadaan orang lain; bukannya fokus pada perbaikan diri sendiri dan berjalan di jalan ketakwaan. Hanya dengan demikian kita dapat meninggalkan keturunan yang saleh untuk masa depan. Berdoalah juga agar kita menapaki jalan-jalan ketakwaan. Semoga kita tanpa putus terus-menerus berdoa bagi anak-anak kita, sehingga Allah Ta’ala membuat mereka qurrata a’yun (penyejuk mata hati) kita selamanya dan tanpa putus berlanjut dalam amal perbuatan ini. aamiin آمين

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono.

Bantuan teks terjemahan dari terjemahan bahasa Inggris oleh Ratu Gumelar

(Visited 118 times, 1 visits today)