Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Keistimewaan Shalat Berjamaah

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

20 Januari 2017 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Siapa diantara kita yang tidak tahu bahwa mengerjakan shalat adalah kewajiban bagi umat Islam. Al-Qur’an telah menarik perhatian kita ke arah itu di berbagai tempat dengan menjelaskan pentingnya. Menurut Nabi Muhammad saw, shalat adalah inti ibadah.[1] Beliau saw bahkan mengatakan bahwa meninggalkan shalat membuat seseorang lebih dekat dengan kekafiran dan penyembahan berhala.[2] Kemudian, menjelaskan pentingnya Salat, Nabi saw bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ

“Sesungguhnya amal perbuatan seorang hamba yang pertama kali akan dihisab (dimintai pertangungjawaban, penilaian) pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi…”[3]

Demikian juga, untuk membuat anak-anak terbiasa dalam shalat, Nabi Muhammad saw bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Anak-anak hendaknya diperintahkan untuk mengerjakan shalat ketika mereka mencapai usia 7. Dan pada usia 10, beberapa ketegasan yang diperlukan (sikap keras) juga bisa diterapkan untuk membuat mereka konsisten dalam Shalat.” (Sunan Abi Daud, Kitab tentang Shalat, bab ke-26 bilakah seorang anak disuruh shalat, no. 495)

Namun, jika orang tua sendiri tidak disiplin dalam shalat maka bagaimana mereka dapat mengharapkan anak-anak mereka untuk melakukan shalat. Atau jika mereka belajar tentang sabda Nabi Muhammad saw ini di beberapa pertemuan Jemaat atau melalui jalan lain tetapi di rumah mereka tidak menemukan ayah mereka disiplin dalam menjalankan Shalat, bagaimana kesan ini bagi anak-anak?

Anak-anak dari para ayah yang demikian akan berpikiran tidak pentingnya perintah shalat itu. Bahkan, sebagai konsekuensinya, dengan mengabaikan pentingnya satu perintah, semua perintah Islam lainnya akan dihapuskan nilai pentingnya dalam hati si anak. Orang-orang seperti itu, menurut sabda Nabi saw tidak hanya merugi diri mereka sendiri tetapi bertanggung jawab untuk memasukkan keturunan mereka diantara yang merugi juga. Orang tua menunjukkan kepedulian mereka untuk memenuhi keinginan dan keberhasilan duniawi mereka sendiri dan kemajuan materi anak-anak mereka, tetapi mereka tidak mengindahkan keprihatinan nyata atas sesuatu yang seharusnya [yaitu kondisi agama anak keturunan].

Seorang beriman sejati tidak hanya sekedar mengerjakan shalat saja, melainkan ia harus mengerjakan shalat untuk menghapus korosi spiritual (karat-karat rohaniah). Sebagaimana Nabi Muhammad saw menjelaskan dengan sebuah contoh,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَىْءٌ

“Bagaimana pendapat kalian seandainya di depan pintu seorang dari kalian terdapat sebuah sungai. Setiap hari ia mandi lima kali di dalamnya. Apakah masih ada kotoran yang melekat di tubuhnya?” Para Sahabat beliau saw menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada jejak kotoran akan ditinggalkan!”

Atas hal ini, Hadhrat Rasulullah bersabda,

فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

“Itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah menghilangkan dosa dan menghilangkan kelemahan,”[4]

Dengan demikian, tidak tersisa sedikit pun karat rohaniah pada jiwa seorang yang shalat lima waktu. Nabi saw menjelaskan pentingnya shalat dengan perumpamaan yang demikian cemerlang. Tapi seperti yang saya sudah katakan, perintah bagi orang beriman sejati ini tidak hanya tentang menjalankan Salat saja melainkan Nabi Muhammad saw lebih lanjut menjelaskan tentang pembersihan ruh dari kekotoran,

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وَأَتَى الْمَسْجِدَ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْهُ خَطِيئَةً حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ

“…bila seseorang yang melakukan wudhu di rumahnya dengan sempurna lalu keluar dari rumahnya menuju Masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjamaah, maka tidak ada satu langkah pun dari langkahnya kecuali akan meningkatkan statusnya (derajat rohaniahnya), dan akan menghapus salah satu dari dosa-dosanya …” (Shahih Al-Bukhari, Kitabush Shalat.) Ini berarti bahwa setiap langkah akan mendapatkan dia pahala.

Di kesempatan lain, Nabi saw bersabda menjelaskan pentingnya shalat berjamaah, أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ “Maukah kalian aku tunjukkan tentang sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat-derajat? Para sahabat yang selalu siap untuk menemukan cara-cara untuk mendapat ridha Allah, dan untuk mencapai kedekatan-Nya dan terlepas dari dosa-dosa mereka, memohon, بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ‘Tentu saja, mohon katakanlah, wahai Rasulullah.’ Beliau berkata, إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ‘Menyempurnakan wudhu dalam keadaan yang tidak disukai (sulit), memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat (yang berikutnya) setelah melakukan shalat, (Hal ini membuat orang terlepas dari dosa.) Tidak hanya itu, tapi ini adalah sejenis ribaath (menjaga perbatasan).”[5]

Artinya, itu penjagaan perbatasan oleh para prajurit sebagaimana negara-negara membangun perbatasan di perbatasan dengan negara-negara lain dan menunjuk angkatan bersenjata untuk tugas penjagaan itu. Mengapa batas-batas perlu dijaga? Supaya negara dapat dilindungi dari serangan pihak lain dan pasukan negara itu sesaat dapat siap sedia bila diserang musuh. Ancaman bahaya terbesar yang mana keamanan dan pagar batas diperlukan bagi orang mukmin adalah dari Setan dan dari hasrat-hasrat duniawi yang ditanamkan Setan di dalam hati orang beriman. Setan menyerang melalui itu. Agar dapat terlindungi dari serangan-serangan tersebut, shalat berjamaah berfungsi sebagai sebuah pagar batas. Ini adalah batalion para penjaga yang akan melindungi orang beriman dari serangan-serangan tersebut. shalat berjamaah juga akan menyelamatkan orang-orang beriman dari dosa-dosa dan membuat mereka condong untuk melakukan perbuatan baik.

Demikian pula, sebuah hadis mengisahkan bahwa Nabi saw bersabda,

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

‘shalaatul jamaa’ati tafdhulu shalaatal faddi bisab’i wa ‘isyriina darajah.’

“Shalat dengan berjamaah lebih tinggi derajatnya 27 kali daripada shalat sendirian.”[6]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda menjelaskan pentingnya shalat berjamaah:

“Maksud banyaknya pahala dalam shalat berjamaah ialah karena itu menciptakan persatuan. Fokus perhatian agar dapat merawat dan memelihara persatuan ini telah ada dalam corak perbuatan, yaitu para mushalli (yang shalat) diperintahkan supaya kaki-kaki mereka pun dalam satu barisan yang lurus sejajar selama shalat…” (hal itu sempurna bila meluruskan tumit-tumit, telapak kaki bagian belakang) dan Jemaah harus berdiri dengan saling merapatkan. Seolah-olah mereka itu satu wujud…” (supaya tercipta kekuatan) Hal itu supaya nur (cahaya) ruhani dari seseorang akan meresap atau mengalir kepada orang lain dan hilang diantara mereka corak-corak pengutamaan diri sendiri atas orang lain yang melahirkan keakuan, ‘ujb (kebanggaan) dan keserakahan. (Artinya, terlepas dari kaya atau miskin, semua orang akan berdiri dalam satu shaf. Sebab, beberapa orang memiliki kebanggaan dan keakuran dalam hati mereka, yang terkikis dengan shalat berjamaah.) [7]

“Perhatikanlah betul tentang hal ini bahwa manusia memiliki kapasitas untuk menyerap cahaya ruhani orang lain.” (Sebagian orang yang lebih banyak perbuatan baiknya dan mencapai status keruhanian yang lebih tinggi dapat mempengaruhi teman sepergaulannya, begitu juga melalui shalat berjamaah.) Oleh karena itu, shalat berjamaah sangat penting untuk memberikan pengaruh kesalehan. Jadi, dengan shalat berjamaah, di satu sisi, Tauhidul Ummah (kesatuan umat) yang Allah ingin buat diantara para Jemaatnya dapat ditunjukkan, dan di sisi lain hal itu juga akan membantu penyaluran pengaruh kebaikan jamaah lainnya [diantara jamaah shalat]. Ketika dalam satu shaf ada orang yang lebih saleh dan maju secara rohani, mereka akan memiliki dampak pengaruh pada orang-orang yang rohaninya lemah yang bersamanya di shat tersebut. Hasilnya, orang-orang yang lemah juga akan mendapatkan kekuatan dalam melakukan perbuatan baik dan kemajuan secara rohani. Ketika kesatuan ini muncul secara sempurna dan ketika keruhanian mengalami kemajuan, maka kekuatan setan pun melemah.

Pada era ini, Allah Ta’ala telah mengutus seorang yang merupakan hamba sejati bagi Nabi Muhammad saw yang menuntun kita dalam mencapai pemahaman yang sejati mengenai ibadah dan shalat. Jika di satu sisi kita mengklaim bahwa kita telah menerima hamba sejati Rasulullah saw, yang merupakan Masih Mau’ud dan Imam Mahdi yang dijanjikan untuk meninggikan tingkat rohani kita dan untuk penegakan kesatuan, tetapi di sisi lain kita memiliki kelemahan pada amal perbuatan kita; terutama kelemahan dalam melakukan perintah Islam yang paling mendasar, sesuatu yang merupakan tujuan Allah menciptakan kita dan merupakan standar minimal mencapai tujuan penciptaan kita ini (shalat). Jika hal ini yang terjadi, maka bagaimana kita bisa dengan benar mengklaim bahwa kita telah menaati seruan Nabi Muhammad  saw dan kita telah mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as untuk kemajuan keruhanian kita dan dalam rangka mengikuti perintah Allah?

Seperti telah saya katakan, bahkan dalam Al-Quran kewajiban dari shalat 5 waktu telah disebutkan di sejumlah tempat. Sabda-sabda Nabi Muhammad saw tentang ini yang telah saya sebutkan juga jelas. Tak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat adalah wajib pada setiap Ahmadi, namun seiring dengan itu, mengerjakan shalat secara berjamaah juga adalah wajib bagi yang tiap laki-laki yang berakal dan baligh (sudah usia pubertas) sebagaimana perintah jelas dari Rasulullah saw. Tapi seperti yang kita lihat, orang-orang tidak memperhatikan ke arah itu. Masih saja kelemahan dalam hal ini dapat dilihat.

Tidak diragukan lagi bahwa shalat adalah wajib pada setiap orang beriman sejati dan mereka sendiri bertanggung jawab untuk memperhatikan hal itu, tapi kita juga memiliki sistem dalam Jemaat. Organisasi Jemaat juga harus selalu mengingatkan orang-orang tentang shalat berjamaah dan menjelaskan nilai pentingnya secara kontinyu. Saya terus menarik perhatian Jemaat pada pentingnya shalat di mayoritas khotbah saya dalam berbagai cara. Tapi ini adalah tanggung jawab para mubaligh dan organisasi (nizham Jemaat) setelahnya untuk menyebarkan instruksi saya dalam rangka menarik perhatian setiap orang Jemaat ke arah itu. Mereka harus menyampaikan pesan tentang pentingnya shalat berjamaah berulang-ulang untuk setiap anggota Jemaat.

Pada kenyataannya, kita hanya akan dapat memenuhi tugas keadaan kita sebagai seorang Ahmadi dengan kita menjaga shalat kita dan mampu mencapai kesenangan ruhani dari shalat tersebut. Ketika kita mulai mencapai kesenangan dan kegembiraan rohani dari shalat-shalat kita maka kita secara otomatis akan cenderung untuk menunaikan ibadah shalat tersebut. Jadi, seperti telah saya sampaikan, suatu keperluan bagi setiap Ahmadi untuk menaruh perhatian pada pengertian shalat yang mencapai kesenangan dan kegembiraan ruhani.

Sementara menarik perhatian kita terhadap menunaikan shalat, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan bagaimana kesenangan dalam pelaksanaan shalat dapat dicapai. Beliau bersabda:

“Saya melihat bahwa ketika seorang peminum minuman keras tidak mendapatkan kenikmatan dari sedikit yang ia minum darinya maka ia terus minum. Begitu banyaknya gelas demi gelas air minuman keras ia minum sehingga ia mabuk. Orang bijak dapat mengambil keuntungan dari contoh ini. (Ini berarti orang yang cerdas dapat mendapatkan keuntungan dari contoh ini dengan cara disiplin dalam shalat, bertambah shalat dan meningkatkan terus tingkat keruhaniannya)

“Dia bisa melakukannya dengan teguh dan tepat waktu dalam shalat dan dengan tidak pernah meninggalkan shalat. Dia harus terus menunaikan shalat, sampai ia mendapat kenikmatan dalam shalat.” (seperti layaknya seorang pecandu alkohol yang memiliki anggapan kenikmatan tertentu dalam mabuk minuman keras yang ia usahakan demikian keras untuk mencapainya. Demikian pula, seorang rohaniwan, seorang mukmin sejati juga harus menetapkan standar keruhanian yang harus ia capai. Jadi ini adalah bagaimana jika seseorang terus berusaha dengan konsisten, hanya dengan demikian ia akan mendapatkan kenikmatan dari shalat.)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Sama seperti ini, pikiran dan semua kekuatan fisik diarahkan pada bagaimana mencapai kenikmatan dalam shalat.” Seorang yang beribadah ketika menunaikan shalat harus melibatkan semua upaya dan kekuatan fisik dan persepsi untuk mencapai tujuan mencapai kenikmatan dalam shalat. Hal ini membutuhkan kemauan yang lebih kuat. Hanya dengan demikian konsistensi dapat dicapai.

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut bersabda,

“Maka, ia harus berdoa dalam kemurnian dengan ketulusan sempurna dan bersemangat untuk mencapai kenikmatan tersebut. Perumpamaannya seperti pecandu alkohol tersebut yang dengan taraf kegelisahan dan rasa sakit demi kelezatan mabuknya itu. Jika ia melakukan hal itu, saya katakan dan dengan benar saya katakan dia pasti akan mencapai kenikmatan dalam shalat.” (Seorang yang shalat harus tetap merasa menderita, cemas dan gelisah demi meraih pencapaian kenikmatan dalam shalat dan ia harus mengekspresikan rasa sakitnya dan kecemasannya ini di hadapan Allah sekali dan seterusnya selama shalat. Jika ia melakukannya, ia pasti akan mencapai kenikmatan dalam shalatnya itu. Jadi upaya mencapai kenikmatan dalam shalat dengan tekad dan tanpa berhenti, pada akhirnya dapat melembutkan hati dan memberikan kenikmatan yang diinginkan.) Namun, bersamaan dengan itu, kita perhatikan ayat إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Shalat menjauhkan seseorang dari berbuat buruk dan jahat.”

Sebagaimana telah Hadhrat Masih Mau’ud as juga jelaskan bahwa Allah telah berfirman dan bertanya juga kepada manusia, “Mengapa orang-orang masih terlibat dalam perilaku buruk meskipun mereka mengerjakan shalat?” Menurut Hadhrat Masih Mau’ud as, jawabannya adalah,

“Mereka tidak menunaikan shalat dengan semangat pengertian dan ruh kebenaran. Sebaliknya, mereka hanya melakukan tindakan fisik shalat sebagai adat kebiasaan saja seperti burung gagak mematuk-matuk.”

Jadi kita harus selalu ingat bahwa karena Allah berfirman bahwa shalat menyelamatkan kita dari perbuatan buruk, maka itu pasti benar. Firman Allah tidak bisa salah. Mereka yang masih melakukan perbuatan jahat meskipun menunaikan shalat, shalat mereka hanya di kulit saja, mereka tidak mengerti ruh shalat. Jadi ini adalah masalah yang sangat mencemaskan. Masing-masing dari kita harus memeriksa kondisi keruhanian kita.

Jika kita menemukan kenikmatan dan kegembiraan dari shalat dan doa kita, atau kita menetapkan diri untuk mencapainya dengan keyakinan penuh maka bagaimana mungkin salah satu dari ini tidak tepat waktu dan kontinyu dalam shalat-shalatnya. Semua orang dari kita mendapat rasa nikmat ini sesekali dan itu pasti terjadi pada kita semua. Ketika seseorang menghadapi kesulitan dan tantangan, kita melihat mereka menangis dan merendahkan diri dalam shalat-shalat mereka. Bahkan saat melaksanakan tugas sehari-hari mereka berdoa kepada Allah dan selalu cenderung ke arah-Nya. Karena ini, mereka juga memperhatikan ibadah mereka. Mereka harus memiliki pemikiran tertentu dan perasaan menderita tertentu di hati mereka, yang mana karenanya, mereka secara konsisten dan kontinyu terlibat dalam doa saat musibah. Tapi ketika hasrat dan keinginan mereka terpenuhi dan mereka keluar dari hutan kesulitan maka ada banyak yang menjadi lamban dan kendor dalam doa-doa mereka (meminta kepada Allah) ketika shalat.

Oleh karena itu, seperti yang telah disabdakan Hadhrat Masih Mau’ud as, kita harus selalu dan dengan upaya maksimal mempertahankan target ini di depan kita – terlepas dari situasi apapun, baik dalam kesulitan atau kemakmuran, kita harus terus berusaha untuk mencapai kenikmatan dan kesenangan dalam shalat-shalat yang bisa membuat kita mabuk ruhaniah. Tidak hanya karena masalah pribadi saja, tetapi seorang mukmin sejati harus juga merasakan sakit atas masalah-masalah sosial masa kini. Ketika seseorang berada dalam kondisi rasa prihatin dan kepedihan yang demikian, hal ini menyebabkannya untuk memohon doa.

Di Pakistan, misalnya, Jemaat sedang melalui masa-masa yang sangat sulit. Panah-panah kebencian sedang ditembakkan kepada setiap anggota Jemaat. Permusuhan dan pertentangan terhadap Ahmadiyah dilahirkan secara terbuka. Bahkan, karena rasa takut pada para ulama atau kesalahpahaman yang diciptakan oleh para ulama terhadap kita, teman-teman non-Ahmadi kita yang sudah lama menjalin hubungan baik dengan kita juga meningkat dalam permusuhan mereka terhadap kita. Juga, secara umum, penindasan telah melewati batas-batasnya. Di Pakistan, para Ahmadi tidak hanya harus menunaikan shalat yang membuat mereka meraih kenikmatan dan kesenangan, namun mereka harus berusaha untuk mengisi masjid-masjid mereka juga.

Beberapa hari yang lalu, saya menerima laporan dari Majelis Khuddamul Ahmadiyah Pakistan yang berisi proposal pelaksanaan Syura. Mereka melaporkan seberapa baik mereka melakukan melaksanakan berbagai capaian ini dan itu dalam program yang berkaitan dengan Tarbiyat. Ini adalah hal yang sangat baik karena menunjukkan kemajuan mereka. Diantara implementasi hal tarbiyat (pendidikan moral dan akhlak ini), salah satu adalah perhatian beberapa ribu Khuddam telah ditarik menuju mendengarkan khotbah Jumat saya. Namun, persoalan yang memprihatinkan adalah mereka yang shalat berjamaah hanyalah 1/3 saja dari mereka yang mendengarkan khotbah Jumat, atau sedikit lebih banyak dari 1/3 itu.

Demikian pula, orang-orang yang shalat secara teratur juga jauh lebih sedikit daripada mereka yang mendengarkan khotbah Jumat. Jika demikian, apa gunanya mendengarkan khotbah Jumat, jika perhatian kita masih belum ditarik terhadap Allah dan terhadap kewajiban mendasar yang sangat penting?

 Setiap dua atau tiga Jumat, saya membahas penunaian shalat berjamaah dan ibadah dalam khotbah saya. Jika tidak ada dampak khotbah-khotbah ini, maka tidak ada ada gunanya mengangkat laporan bahwa jumlah Khuddam yang mendengar khotbah sebanyak demikian dan demikian itu. Bahkan setelah kondisi yang merugikan sedemikian rupa bagi para Ahmadi di Pakistan, jika perhatian mereka tidak tertarik terhadap Allah, maka kapan perhatian mereka kepada Allah akan terjadi.

Apakah kita ingin menguji Allah? (Naudzubillah) bahwa kita akan tetap sama dan tanggung jawab Allah-lah untuk mengubah situasi kita. Jika ini adalah bagaimana perasaan kalian, maka kalian selamanya tidak punya hak untuk mengeluh kepada Allah. Tidak pernah dimanapun Allah berfirman, “Engkau dapat melakukan seperti yang engkau inginkan, terlepas dari apakah engkau memenuhi hak-hak Aku atau tidak, karena engkau telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as, oleh karena itu, Aku akan membuat engkau sukses.”

Untuk mencapai kesuksesan, dibutuhkan untuk membentuk diri kita sesuai dengan kehendak Allah.

Saya telah menyebutkan laporan Khuddam yang tadi – ini tidak berarti hanya mereka yang memiliki kelemahan ini. Ansar juga memiliki masalah-masalah yang sama. Jadi setiap Ahmadi Pakistan harus memperhatikan ke arah itu. Pencapaian tidak dapat diraih melalui tidur saja; pencapaian tidak dapat dicapai karena kecerobohan. Pencapaian akan dapat diraih dengan ribaath (berjaga-jaga, yaitu seperti para pasukan yang selalu waspada dan berjaga-jaga di perbatasan).

Inilah gambaran yang sama keadaan para Ahmadi Pakistan yang telah bermigrasi ke negara-negara lain termasuk ke negara maju  atau para Ahmadi di mana saja, yaitu di Negara-negara maju dan selainnya di seluruh dunia. Kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka telah menegakkan shalat atau menjadi sangat tepat waktu dalam shalat-shalat mereka setelah mereka bermigrasi. Banyak kelemahan tentang shalat dapat ditemukan melalui laporan-laporan evaluasi Jamaat. Jika setiap organisasi pendukung yang ada di semua negara di dunia mengevaluasi diri mereka sendiri tanpa bias, hasilnya akan cukup jelas.

Sebaliknya, mereka yang telah meninggalkan Pakistan dan tinggal di luar negeri Pakistan, secara khusus harus lebih memperhatikan hal-hal seperti itu. Sebab, karunia-karunia kemuliaan dari Allah atas mereka menjadikan mereka wajib bersyukur atas rahmat dan berkat-berkat yang telah mereka terima. Bagaimana secara sempurna menyatakan kesyukuran itu?  Dalam beberapa Jamaat, ada yang kehadirannya sudah baik dalam shalat berjamaah. Tapi tetap saja, beberapa orang selalu kehilangan satu atau dua shalat [secara berjamaah] dan kadang-kadang sebagian lagi terlewatkan menunaikan shalat di sana-sini. Kadang-kadang penyebabnya ialah organisasi Jemaat tidak menarik perhatian mereka terhadap masalah ini. Dan organisasi Jemaat tersebut memiliki preferensi (pengutamaan atas hal) lainnya.

Tidak semua orang mendengarkan khotbah saya. Salah untuk menyimpulkan semua anggota 100% mendengarkan Khotbah Jumat saya. Dan bahkan jika mereka mendengarkan, tanggung jawab masih terletak pada organisasi Jemaat untuk terus mengingatkan. Sebab, Nizham Jemaat telah dibangun dalam rangka tarbiyat (memberikan perhatian pada pelatihan akhlak dan rohani). Beberapa hari yang lalu, saya telah mengadakan pertemuan dengan Majelis Amila lokal. Ketuanya mengatakan kepada saya, “Sejak saya bertugas sebagai ketua, saya telah memberikan banyak perhatian pada masalah keuangan. Dan sekarang kami unggul dalam hal itu dengan sangat cepat.”

Jadi saya mengatakan, “Upaya ini adalah baik dan bagus. Saya telah menyatakan penghargaannya dalam hal ini. Namun, shalat merupakan perintah mendasar dan wajib bagi umat Islam. Bagaimana yang Anda lakukan supaya tiap anggota Jemaat melazimkan diri menegakkan shalat?”

Pak Ketua pun diam. Tidak menjawab. Meskipun, ketika kemudian saya bertanya tentang kehadiran shalat berjamaah pada waktu Subuh dan Isya, angka yang muncul tidak bermasalah. Namun, itu bukan karena upaya organisasi Nizham Jemaat dalam corak apa pun. Jika terdapat pada kita orang-orang yang shalat dengan penuh kenikmatan dan kegembiraan, maka sistem keuangan akan meningkat dan baik secara otomatis. Sebab, selagi standar ketakwaan seseorang meningkat, ia akan memberikan perhatian lebih untuk pengorbanan harta. Tidak hanya ini, tetapi jika orang-orang yang shalat melakukannya dengan semestinya dan dengan benar maka permasalahan pada Dewan Qadha (pengadilan internal Jemaat) yang melibatkan bidang Umur Amah akan dapat diselesaikan secara luas. Dan departemen-departemen yang lain akan menjadi aktif juga.

Saat ini, tidak hanya Pakistan tetapi tampak umumnya di dunia bahaya perang dan kehancuran menjadi lebih tampak terlihat di depan. Pemerintah-pemerintah juga sudah mulai mengungkapkan keprihatinan mereka tentang bahaya itu dan sampai batas tertentu telah mulai mengambil langkah-langkah ke arah itu. Dalam keadaan seperti itu, hanya berlindung kepada Allah-lah yang bisa menyelamatkan kita.

Orang-orang banyak yang menulis surat dan bertanya apa yang akan terjadi jika perang telah pecah? Bagaimana kita harus melanjutkan sesuatu yang dapat dilakukan? Satu-satunya jawaban saya atas mereka adalah bahwa jika Anda ingin diselamatkan dari bencana seperti itu, maka seperti yang Hadhrat Masih Mau’ud as sabdakan, kita harus menyintai Allah, Pemilik keajaiban-keajaiban. Dan hanya ada satu cara untuk menunjukkan cinta kasih yang demikian – yaitu kita mencoba untuk mencapai kenikmatan dan kegembiraan dengan membentuk shalat-shalat dan ibadah-ibadah kita sesuai dengan keinginan-Nya.

Banyak orang setelah datang ke negara-negara Barat dan mengalami kemakmuran, sering melupakan Tuhan. Dalam pandangan mereka, mereka telah berkubang dalam kemakmuran duniawi karena kemajuan negara-negara tersebut. Mereka berpikir bahwa orang-orang ini (orang Barat) begitu maju tanpa shalat, doa dan perbuatan baik. Beberapa dari mereka juga berpikiran bahwa diri mereka setidaknya lebih baik dari orang orang Barat tersebut karena mereka menunaikan minimal dua atau tiga shalat (bukan 5 waktu shalat) dan berdoa.

Tetapi, saya katakana, “Kita harus ingat bahwa adzab penderitaan diperuntukkan bagi mereka yang melupakan Allah. Oleh karena itu, janganlah mengikuti orang-orang ini. Jika kita ingin diselamatkan dari cengkraman murka Allah dan ingin menyelamatkan generasi masa depan kita, janganlah kita melihat kondisi lahiriah orang-orang ini. Melainkan, ikutilah ajaran Allah sebagaimana yang Allah inginkan dari kita. Allah telah memerintahkan kita, setelah kita beriman kepada-Nya, untuk mendirikan Shalat. Jadi setiap Ahmadi baik pria dan wanita harus memberikan perhatian terhadap penunaian shalat dan para pria Ahmadi harus secara khusus memperhatikan supaya biasa shalat berjamaah.

Pada masa ini, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan secara rinci pentingnya shalat, mutu pelaksanaannya, dan filosofinya. Semata-mata dengan karunia Allah, Allah memungkinkan kita untuk menerima beliau sebagai Masih Mau’ud. Namun, meskipun percaya kepada beliau, jika kita tidak mengikuti perintah-perintah dasar dan mengikuti contoh dari kebanyakan orang non Ahmadi yang menganggap menunaikan beberapa shalat saja sudah cukup; maka tidak ada gunanya Baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Sekarang ini saya akan mengutip beberapa sabda Hadhrat Masih Mau’ud as yang menjelaskan kepada kita status tinggi yang ingin beliau as lihat ada pada kita di bidang shalat. Bagaimana dan dengan corak prinsip pokok apa beliau as uraikan pada kita hal itu. Seorang mukmin menyatakan Keesaan Allah dengan mengucapkan لا إله إِلاَّ اللَّهُ “tidak ada Tuhan selain Allah.” Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan apa itu Keesaan?

“Ingatlah ini dan ingatlah ini lagi – bahwa untuk bersujud atau bertekuk lutut kepada selain Allah adalah serupa dengan memotong hubungan dengan Allah. Shalat seseorang dan pegang teguhnya ia pada Tauhid tidak berguna dan tanpa berkat ketika ia tidak membawa semangat pengingkaran diri dan kerendahan hati, dan jika hatinya tidak hanif (murni cenderung ke arah Tuhan. Sebab, pernyataan Tauhid secara amalan ialah shalat.) Dengarlah, doa yang tentangnya disebutkan ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ‘Berdoalah kepada-Ku.; maka Aku akan jawab doamu’, (40:61), menuntut adanya jiwa yang jujur​. Jika jiwa hampa dari kerendahan hati, maka doa yang diucapkan dalam keadaan demikian tidak lebih dari layaknya kalimat yang diucapkan burung beo.”

Maka dari itu, suatu keharusan untuk menciptakan semangat sejati, kerendahan hati, dan merendahkan diri [dalam berdoa dan shalat]. Jika tidak ada, maka tidak ada faedahnya berdoa. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, Allah mengabulkan doa jika ada kerendahan hati dan merendahkan diri di dalamnya. Lalu Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan bahwa posisi yang berbeda dari Shalat seperti berdiri, duduk, membungkuk dan bersujud, menggambarkan keadaan kegelisahan. Sama seperti dalam kegelisahan, seseorang terus berubah posisi seperti berdiri dan di lain waktu duduk. Dan ketika kecemasan ini tercapai di semua posisi maka kenikmatan dan kelezatan juga akan dicapai pada tiap waktu bersujud, berdiri dan ruku’ (membungkuk).

Selain itu, tentang status tunduk dan kerendahan hati yang sejati dan tentang Shalat yang membakar dosa-dosa, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Ketika ruh (jiwa) seseorang menjadi sepenuhnya mengingkari atau menafikan diri (yaitu ketika seseorang menandai diri dengan hadirnya kerendahan hati dan tidak menganggap dirinya sebagai sesuatu yang pantas disebut), maka jiwanya mengalir menuju Tuhan seperti mengalirnya mata air. (kerendahan hati seseorang akan terlihat saat ruhnya mengalir menuju Allah) Dan sang jiwa memotong dirinya sendiri dari siapapun selain Allah. Pada saat itu, cinta kasih Allah turun atas jiwa tersebut.

Ketika seseorang memutuskan hubungan dengan semua kecuali Allah dengan membuat upaya dan dengan memohon rahmat-Nya, maka cinta kasih Allah turun kepadanya. Dan ketika cinta Allah yang demikian rupa turun atas seseorang, maka dosa-dosanya terbakar menjadi abu. Setelah ini kenikmatan dan kegembiraan dalam Shalat dicapai secara permanen.”

Jadi, bukannya mengeluh atau berpikir bahwa shalat kita tidak memberi kita kenikmatan, kita perlu mencoba untuk membangun hubungan khusus dengan Allah. Kita perlu menganalisa kondisi kita apakah kita hanya melakukan gerakan Shalat seperti burung gagak bergerak, atau memenuhi syarat Shalat yang benar.

Selain itu, tentang metode untuk mencapai cahaya dan kenikmatan dalam Salat, Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut menjelaskan:

“Mengerjakan Shalat dengan disiplin dan menjaga hal itu senantiasa adalah hal yang sangat penting – sehingga hal itu menjadi sebuah kebiasaan kuat yang tidak bisa dipecahkan dan pikiran seseorang untuk selalu menuju Allah menjadi lazim. Setelah ini waktunya akan datang secara bertahap ketika secara otomatis menikmati keadaan inqitha (pemutusan dengan selain Allah) secara penuh lalu ia cahaya dan kelezatan.” (Orang tersebut mencapai tingkat setelah kondisi terputus penuh dari duniawi dan memfokuskan perhatian pada Allah dan kemudian ia dalam Shalat-shalatnya menikmati kelezatan dan kegembiraan yang dicarinya).[8]

Jadi pertama-tama ialah membuat terbiasa untuk Shalat. Membuat diri terbiasa dengan Shalat adalah penting. Terlepas dari apakah orang tersebut menganggapnya secara lahiriah menguntungkan atau tidak. Namun ia masih melakukan Shalat karena merupakan hal yang wajib. Manusia harus membuat kebiasaan berupa mempertimbangkan untuk harus hanya berbalik kepada Allah saja dalam satu atau lain kondisi (di tiap keadaan), dan menaruh perhatian pada hal ini pada setiap kebutuhan dan tidak meminta pada seorang pun. Jika tekad ini menang, maka waktu akan datang ketika hak-hak untuk menunaikan Shalat juga akan terpenuhi. Kelezatan dan kenikmatan juga akan dicapai dalam Shalat. Setelah ini, setelah bertanya tentang Shalat, jawabannya tidak akan “Saya mencoba untuk menunaikan Shalat tapi saya malas.”

Hadhrat Masih Mau’ud as pernah bersabda,

“Kelemahan dan kemalasan hanya terjadi ketika seseorang tidak menaruh perhatian yang cukup terhadap shalat atau menganggap orang lain atau hal lain lebih penting daripada Allah. Jika ia memiliki keyakinan dan keimanan penuh kepada Allah, maka bagaimana mungkin ia menampilkan kemalasan.”

Oleh karena itu, dengan memperhatikan situasi kontemporer di dunia, untuk menyelamatkan diri dan generasi kalian dari efek buruk kejadian terkini yang berlangsung di dunia saat ini, adalah sangat penting untuk bersujud di hadapan Allah dengan ketulusan yang utama. Cara terbaik yang telah diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya saw dan di zaman ini, ditegaskan lagi oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dalam hal merendahkan diri kepada Allah ialah kita harus memperhatikan dalam mendirikan dan menjaga Shalat-shalat kita.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Waspadailah lalu waspadailah [jangan sampai] hal-hal duniawi menjadi tujuan Anda bergabung (memasuki) dalam Jemaat ini. Sebaliknya, peraihan ridha Allah harus jadi tujuan Anda. Sebab, dunia ini adalah دار الفناء daarul fana (fana, sementara) dan bagaimanapun pasti hanya akan kita lewati [kita semua akan melewatinya satu per satu]. Menurut pepatah Persia, ‘Malam pasti akan terlewati apakah itu dingin atau panas.’ (Artinya bahwa setiap situasi akan terlewati terlepas apakah itu baik atau buruk.)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Jagalah jarak sepenuhnya dengan duniawi dan tujuan-tujuannya. Jangan campur-baurkan duniawi ini dengan agama. Karena dunia ini adalah fana sedangkan agama dan buahnya adalah yang kekal. Kehidupan duniawi sangatlah singkat. Anda melihat bahwa ribuan orang meninggal setiap menit dan setiap saat. Berbagai penyakit dan wabah bencana mempengaruhi dunia ini. Dahulu, penyakit kolera terkadang menghancurkan orang dan sekarang wabah tha’un-lah yang memusnahkan dunia. (saat itu penyakit tha’un merajalela) Siapa yang tahu untuk berapa lama kita akan hidup. Ketika kita tidak tahu kapan kematian akan datang, adalah kesalahan besar untuk tetap lalai, tidak menyadari akan Allah. Oleh karena itu, sangat penting bahwa seseorang memikirkan akhirat. Orang yang cemas tentang akhirat, Allah akan membantunya di dunia ini. Allah telah berjanji bahwa ketika seseorang menjadi Mukmin sejati, Dia membuat pembeda antara orang Mukmin sejati tersebut dan orang lain. Oleh karena itu, pertama jadilah orang yang beriman yang hanya mungkin dilakukan dengan tidak mencampur-baurkan urusan duniawi dengan tujuan sebenarnya dari Bai’at yang didasarkan pada ketakwaan dan takut akan Allah.

Tegakkanlah shalat dan teruslah sibuk dalam bertaubat dan mencari pengampunan dari Allah. Jagalah hak-hak umat manusia dan jangan merugikan siapa pun. Majulah dalam kebenaran dan kesucian maka Allah akan memberkati kalian dalam segala hal. Beritahukan kepada kaum wanita Anda di rumah juga untuk tepat waktu dalam shalat dan hentikan mereka dari kebencian, kedengkian, keluhan, (ghibat) bongkar aib dan fitnah. Ajarkan mereka kesucian dan kebenaran.”

Saya hanya bisa memberitahukan Anda, sekarang adalah kewajiban Anda untuk bertindak atas hal tersebut. Untuk dapat membuat orang lain, kaum wanita dan anak-anak memahami hal ini, pertama-tama kita harus harus memberikan contoh tentang kesucian dan kebenaran oleh diri kita sendiri.

Lebih lanjut beliau bersabda,

“Berdoalah dalam Shalat-shalat Anda sehari-hari. Tidak dilarang untuk berdoa dalam bahasa Anda sendiri. Shalat tidak bisa menyenangkan atau mendatangkan kenikmatan kecuali ada hudhuur (kehadiran, perhatian khusus) di dalamnya. Dan perhatian khusus dari hati tidak akan tercapai sampai adanya kerendahan hati dan merendahkan diri. Kerendahan hati dicapai ketika seseorang memahami apa yang diucapkannya. Oleh karena itu, semangat dan kerendahan hati dapat diciptakan dengan memohon dalam bahasa Anda sendiri. Namun, seseorang tidak boleh mengartikan [kata-kata saya] ini bahwa Shalat dapat ditunaikan semuanya dalam bahasanya sendiri.

Tidak demikian! Apa yang saya maksud dengan ‘berdoa dalam bahasa sendiri pada waktu shalat’ ialah setelah mengucapkan doa-doa dan dzikir-dzikir yang masnuun [setelah mengucapkan doa dan dzikir yang diajarkan dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad saw dalam shalat], maka berdoalah dalam bahasa Anda sendiri juga. Allah telah membuat suatu berkah khusus dalam kata-kata yang diucapkan saat Shalat. Shalat adalah nama lain dari doa. Oleh karena itu, berdoalah dalam Shalat agar Allah menyelamatkan Anda dari bencana di dunia ini dan di akhirat, akhir Anda diberkati dan semua tugas Anda dicapai sesuai dengan kehendak-Nya dan ridha-Nya. Berdoalah untuk istri dan anak-anak juga. Jadilah orang yang saleh dan jagalah diri Anda dari segala macam kejahatan dan keburukan.”[9]

Semoga Allah memungkinkan kita untuk melindungi Shalat-shalat kita. Semoga Dia memungkinkan kita untuk tepat waktu melaksanakannya. Semoga Allah memungkinkan kita untuk menjalankan Shalat kita dengan ketulusan untuk mencapai ridha-Nya. Semoga Allah menciptakan kesenangan dan kegembiraan dalam shalat kita. Semoga kita tidak pernah menunjukkan kelesuan dalam doa-doa kita. Semoga kita memahami kebenaran bahwa kita hanya dapat diselamatkan dari bencana dan kesulitan hari ini ketika kita mampu memenuhi kewajiban penyerahan diri kepada Allah. Semoga Allah memungkinkan kita untuk melakukannya.


Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono

Sumber referensi resmi: www.Islamahmadiyya.net (teks bahasa Arab), terjemahan dari bahasa Inggris oleh Ratu Gumelar (https://www.alislam.org/friday-sermon/2017-01-20.html) dan rekaman audio berbahasa Indonesia hasil penerjemahan langsung dari bahasa Urdu oleh Mln. Mahmud Ahmad Wardi (https://www.alislam.org/archives/sermons/mp3/FSA20170120-ID.mp3)

[1] Sunan At-Tirmidzi, riwayat Anas ibn Malik menyebutkan «الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ» ‘ad-du’aa-u mukhul ibaadah’  -“Doa adalah sumsum ibadah.”; Hadits lainnya yang serupa, الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

[2] Shahih Muslim, Kitab tentang Iman, Jabir bin Abdullah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, ‏ “‏ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ ‏” “Seseorang berada diantara Syirk dan kekafiran dengan meninggalkan shalat.”

[3] Sunan Abi Daud no. 864, riwayat Harits bin Qubaishah. Lanjutan Hadits tersebut ialah, “…Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula [dari yang wajib lalu dinilai dari yang nafal].”

[4] Shahih Muslim, Kitab tentang Shalat, Kitab tentang masjid-masjid dan tempat-tempat shalat, bab berjalan ke masjid, no. 667

[5] Shahih Muslim, Kitab tentang kebersihan, bab melaksanakan wudhu dengan benar; Muwatha Imam Malik kitab tentang mengqashar shalat saat perjalanan.

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang adzan; Shahih Muslim, Kitab tentang Masjid dan shalat, no. 650

[7] Lecture Ludhiana, Ruhani Khazain jilid 20, h. 281-282.

[8] Muqaranah al-Adyaan (Review of Religion), jilid 3, no. 1, h. 1-7

[9] Al-Hakam, jilid 7, h. 2, 17 Oktober 1903

(Visited 236 times, 2 visits today)