Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

tanggal 6 Sulh 1391 HS/Januari 2012 di Masjid Baitul Futuh, London.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

الرَّحْمَن

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

‘Lan tanaalul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuuna wa maa tunfiquu min syai-in fa innallaha bihi ‘aliim’ – “Sekali-kali kamu tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu membelanjakan di jalan Allah sebagian dari apa yang kamu cintai; dan apapun yang kamu belanjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Surah Ali Imran, 3: 93)

Birr artinya a’la qism ki neiki (kebaikan yang tertinggi mutunya) dan birr juga berarti kaamil neiki (kebaikan yang sempurna), sebagaimana telah saya sebutkan dalam terjemahan tersebut. Jadi, seorang beriman sejati yang selalu mencari-cari jalan untuk meraih ridha Allah Ta’ala, ia berusaha meraih mutu (kualitas, standar tinggi) kebaikan-kebaikan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Pada satu segi Al-Qur’anul Karim menyebutkan tentang pelbagai corak dan berbagai jenis kebaikan untuk meraih qurb (kedekatan dengan) Allah Ta’ala dan pengarahan perhatian ke arah tersebut, sementara di segi lainnya membicarakan tentang membelanjakan harta, berbagai skill (keahlian) dan apa pun di jalan Allah Ta’ala yang juga pasti ditetapkan sebagai kebaikan.

Ayat-ayat tersebut juga menyatakan pembelanjaan sesuatu di jalan Allah Ta’ala sebagai amal kebaikan yang sangat tinggi mutunya. Allah Ta’ala berfirman, “Apa saja baik itu harta-benda atau pun sesuatu yang kamu cintai itu kamu belanjakan di jalan Allah Ta’ala baru akan disebut satu kebaikan yang tinggi mutunya.” Tidak diragukan lagi, sekalipun Allah Ta’ala mengganjar setiap kebaikan yang dilakukan manusia demi meraih ridha-Nya, tetapi ganjaran yang sangat baik baru dapat diperoleh jika benda atau barang yang paling baik itu dikorbankan di jalan Allah Ta’ala.

Hamba yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah dia yang demi ridha-Nya berusaha meraih mutu tinggi kebaikan-kebaikan dan untuk mencapai itu ia tidak merasa sayang menyerahkan barang-barang yang paling baik dan paling dicintainya di jalan Allah Ta’ala. Pendek kata, iman yang benar, kebaikan yang sebenar-benarnya serta pengorbanan yang berkualitas tinggi baru akan diketahui bila sesuatu yang dikorbankan itu adalah yang paling disukai dan dicintai. Orang beriman senantiasa siap sedia mengorbankan segala sesuatu demi kekuatan dan keselamatan iman dan bagi seorang beriman hakiki hendaknya selalu siap sedia. Seorang beriman sejati juga setiap waktu selalu merindukan kesempatan meraih mutu kebaikan yang tinggi.

Beberapa hadits menyebutkan tentang ayat ini bahwa, “Ketika ayat ini turun [kepada Nabi saw] seorang sahabat bernama Abu Talhah r.a. datang kepada Nabi saw dan berkata, ‘Sesungguhnya harta saya terbaik dan paling saya sukai adalah [sebuah sumur, biasanya dikelilingi oleh tanam-tanaman yang dinamai] Bairuha dan sesungguhnya itu saya sedekahkan (dermakan) di jalan Allah Ta’ala.’ Hadhrat Rasulullah saw senang sekali mendengar hal itu. Kemudian beliau saw juga menjelaskan mengenai bagaimana membelanjakan hasilnya untuk pengorbanan di jalan Allah.”[1] Singkatnya, para sahabat setiap waktu merindukan kesempatan, “Kapankah suatu perintah untuk melakukan kebaikan akan kami terima dan untuk melaksanakannya kami akan menyatakan keimanan, keikhlasan, penuh kesetiaan dan pengorbanan.”

Hadhrat Rasulullah saw menyatakan sangat kagum kepada orang-orang yang membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala. Nampak oleh kita tidak terhitung banyaknya para sahabat ridhwaanullahu ‘alaihim yang memperoleh taraf atau tingkat tersebut [standar tinggi dalam pengorbanan harta mereka] yang membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala secara sembunyi-sembunyi ataupun secara terang-terangan juga. Mereka membelanjakan hartanya di jalan Allah secara diam-diam dan secara terbuka juga agar mereka meraih nilai pengorbanan yang dikehendaki Allah Ta’ala. Allah Ta’ala juga mengetahui niat (motivasi) pengorbanan mereka dan kemudian Allah Ta’ala membalasnya dengan anugerah yang tidak terbatas.

Suatu waktu terjadi bahwa orang (sahabat) yang memberikan [pengorbanan] sederhana telah menjadi pemilik harta berjumlah jutaan. Semakin melimpah harta kekayaan mereka semakin meningkat kecemerlangan iman mereka sehingga tidak ada rasa berat dan takut sedikitpun untuk mengorbankan harta kekayaan mereka itu di jalan Allah Ta’ala. Mereka betul-betul telah memahami bahwa semakin banyak membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala semakin banyak menerima anugerah pembalasan dari pada-Nya. Tujuh ratus kali lipat bahkan lebih banyak lagi dari itu. Allah Ta’ala tidak pernah berhutang kepada siapapun. Dan, hal yang paling penting dari semua itu adalah bahwa quwwat qudsi Hadhrat Rasulullah saw telah menciptakan revolusi rohani dalam diri mereka sehingga mereka selalu berpikir bagaimana usaha yang harus dilakukan agar kecintaan dan ridha Allah Ta’ala dapat diraih lebih banyak lagi. Itulah yang menjadi tujuan dari usaha mereka yang selalu mereka lakukan. Kehidupan para sahabat telah menjadi saksi bahwa maksud dan tujuan itu telah mereka raih dengan sebaik-baiknya; untuk itu mereka telah berupaya keras dan mereka telah meraih tanda bukti ridha Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai para sahabat radhiyallahu ‘anhum itu, “Apakah para sahabat yang mulia itu telah meraih kedudukan seperti itu dengan gratis (cuma-cuma)? Berapa banyak biaya harus dikeluarkan dan betapa banyak kesulitan yang harus dipikul untuk memperoleh pangkat dalam kehidupan duniawi. Pergilah ke mana saja, niscaya akan didapati bahwa tidak akan ada suatu kedudukan kecil sekalipun yang membuat hati tenteram dapat diperoleh tanpa melakukan suatu usaha. Karena itu, pikirkanlah! Pangkat [Gelar]”رضي الله عنهم” ‘radhiyallahu ‘anhum’ – “Allah meridhai mereka” yang menjadi tanda ketenangan dan ketenteraman hati serta sebuah bukti ridha Allah Ta’ala itu apakah telah mereka peroleh dengan mudah?” Beliau bersabda, ”Sebenarnya ridha Allah Ta’ala yang menjadi kegembiraan hakiki itu tidak dapat diraih tanpa menanggung kesulitan-kesulitan sementara dengan sabar dan tabah. Tuhan tidak dapat ditipu. Selamat sejahteralah mereka yang tidak menghiraukan kesulitan demi meraih ridha Allah Ta’ala, sebab kegembiraan kekal dan cahaya ketenteraman abadi hanya dapat diperoleh orang-orang beriman setelah melewati kesulitan-kesulitan yang sifatnya sementara itu.”[2]

Hadhrat Masih Mau’ud as telah Allah Ta’ala utus ke dunia untuk perbaikan dunia pada zaman ini dan untuk mendekatkan dunia kepada-Nya. Dengan menyaksikan teladan para sahabat radhiyallahu ‘anhum, beliau as menjelaskan kepada kita, “Kehidupan suci mereka [para sahabat ra] itu adalah contoh bagi kita semua. Berusahalah berjalan diatas langkah-langkah mereka. Jika kalian betul-betul mengikuti langkah mereka pasti kalian akan menjadi orang-orang yang mampu melakukan kebaikan-kebaikan dan menjadi peraih ridha Allah Ta’ala.” Dan kemudian kita menyaksikan dalam sejarah Jemaat Ahmadiyah bahwa berkat tarbiyyat langsung dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s terdapat ribuan anggota Jemaat yang selalu siap sedia mengorbankan segala harta milik mereka di jalan Allah Ta’ala semata-mata demi meraih ridha-Nya. Berkat pengorbanan-pengorbanan dan semangat iman mereka itu tahap kemajuan Jemaat terus berkembang setiap hari. Di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as juga orang-orang yang mendapat karunia bergaul dengan beliau as sangat memahami terhadap amanat yang disampaikan oleh beliau as ini bahwa pintu kebaikan begitu sempit.

Beliau as bersabda, “Pintu kebaikan itu sempit sekali. Maka ingatlah baik-baik dalam otak kalian bahwa seseorang tidak akan dapat masuk ke dalamnya dengan hanya membelanjakan sesuatu yang tidak ada nilainya. Sebab dari nash [firman Tuhan ini] sangat jelas sekali, لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ‘Lan tanaaluul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuun’ – [“Sekali-kali kamu tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu membelanjakan sebagian dari apa yang kamu cintai…” (Ali Imran 93).] Selama kalian tidak membelanjakan sesuatu yang sangat kalian sukai dan cintai, kalian tidak akan memperoleh derajat yang dicintai dan disukai dari Allah Ta’ala.” [3]

Setelah memahami betul perkara itu, para sahabat, yang merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as selalu menunggu-nunggu kesempatan menyerahkan pengorbanan harta milik mereka. Mereka senantiasa memohon doa kepada Hadhrat Masih Mau’ud as agar mereka mampu memperoleh kebaikan yang bermutu tinggi. Mereka juga berusaha keras sekali untuk itu dan kemudian mereka menyaksikan turunnya karunia-karunia Allah Ta’ala atas mereka. Pada kesempatan ini saya kemukakan satu dua contoh, sebagai berikut: [1] Hadhrat Sufi Nabi Bakhsy Shahib radhiyallahu ‘anhu Muhajir Qadian menjelaskan, “Pada suatu hari ketika saya menghadiri Jalsah Salanah saya berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Hudhur, saya ingin berbicara dengan Hudhur secara terpisah.’ Beliau as bersabda, ‘Mari masuklah ke dalam [kamar]!’ Kebetulan pintu juga terbuka dan beberapa orang teman saya dan anggota Jemaat ikut juga masuk ke dalam. Saya berkata, ‘Hudhur, ayah saya berkata, “Kami memberi pendidikan sangat baik kepada anak kami ini. Namun semenjak ia mulai bekerja tidak ada pengkhidmatan yang ia lakukan terhadap kami.”’

(Saya ceritakan kepada Hudhur as bahwa ayah saya telah menyekolahkan anaknya [yaitu saya] sampai tamat dan sekarang sudah pun mulai bekerja, namun anaknya ini tidak berkhidmat kepadanya, tidak/belum membalas jasa kepadanya.) “Dan istri saya juga berkata, ‘Engkau seorang Ahmadi yang baik, perhiasan yang pernah saya miliki telah engkau jual.’” (Ayahnya dan istrinya juga mengeluh.) Selanjutnya saya berkata kepada Hudhur as, ‘Di sini saya lihat murid-murid Hudhur menyerahkan pengorbanan ribuan Rupees dalam rangka berkhidmat terhadap Jemaat ini. Hudhur, doakanlah saya semoga Allah Ta’ala memberi gaji dua atau tiga kali lipat agar saya dapat berkhidmat kepada Hudhur.”

‘Dari satu segi, ayah mengeluh katanya anak sudah mendapat pendidikan tinggi dan sudah bekerja tapi tidak berkhidmat kepada saya. Istri saya juga mengeluh bahwa saya tidak memberi apa-apa kepadanya, sedangkan perhiasan pun telah diambil dan dijual. Hudhur, saya menyaksikan orang-orang sedang giat berkhidmat dan saya menyaksikan orang-orang berdatangan menyerahkan pengorbanan ribuan Rupees kepada Jemaat. Hudhur, berdoalah semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada saya juga untuk berkhidmat seperti itu kepada Jemaat.’ Setelah mendengar semua perkataan saya itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Baik sekali, kami akan mendoakan anda, ingatkanlah saya selalu untuk itu.’

Pada waktu itu gaji saya 55 Rupees setiap bulan. Setelah itu ketika pergi ke Lahore saya mengirim sepucuk surat kepada Hudhur mengingatkan beliau agar berdoa untuk saya. Tidak lama setelah itu saya menerima tawaran bekerja di Ugandan Railway (Jawatan Kereta Api Uganda, Afrika) dengan gaji 120 Rupees ditambah 35 Rupees sebagai tambahan. Ketika saya mulai bekerja dan menerima gaji pertama saya kirim segera semua gaji itu kepada Hudhur as sebagai nazranah yaitu hadiah yang telah saya niatkan sebelumnya kepada Jemaat. (dibelanjakan sebagai candah bagi Jemaat) Selama tinggal di Uganda, saya menerima gaji tiga kali lipat dari gaji yang pertama saya terima. Hal ini adalah mukjizat pengabulan doa beliau as[4]

[2] Kemudian seorang sahabat, Hadhrat Tn. Munsyi Zhafr Ahmad melalui Tn. Mian Muhammad mengatakan bahwa Tn. Choudhri Rushtam Ali Khan almarhum bekerja sebagai Railway Inspector (Inspektur Jawatan Kereta Api). Beliau menerima gaji setiap bulan 150 Rupees. Beliau sangat mukhlis dan bagi Jemaat kita beliau seorang yang patut diingat, dikenang. Dari gaji 150 Rupees itu beliau ambil 20 Rupees keperluan keluarga beliau sendiri dan selebihnya (130 Rupees) beliau serahkan semua kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau melakukannya tiap bulan.[5] Selanjutnya perhatikanlah bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as menanamkan pengertian sembari membangkitkan semangat orang-orang miskin juga agar mengkhidmati agama dan memberikan pengorbanan. Hati orang-orang miskin yang tidak mempunyai penghasilan juga tergugah. Mereka miskin, banyak anak dan biaya untuk kehidupan sehari-hari juga tidak mencukupi namun bagaimana mereka telah memberikan pengorbanan.

[3] Hadhrat Tn. Qazi Qamaruddin radhiyallahu ‘anhu menceritakan peristiwa-peristiwa tentang Tn. Sa’in Diwan Syah, “Saya pernah beberapa kali bertanya kepada Tn. Sa’in, ‘Anda pergi ke Qadian Syarif apakah karena ada pekerjaan yang tertentu di sana?’” [Hal demikian ditanyakan karena] apabila Tn. Sa’in pergi ke Qadian selalu melewati kampung beliau dan bermalam di situ. Tn. Sa’in tinggal di Narowal dan selalu melewati kampung beliau (Qazi Qamaruddin) apabila Tn. Sa’in Diwan pergi ke Qadian. Beliau jalan kaki dari Narowal ke Qadian yang jarak tempuhnya sekurang-kurangnya 100 mil jauhnya. Beliau bertanya, “Apakah tuan (Tn. Sa’in) pergi ke Qadian karena ada sesuatu yang dikerjakan di sana atau karena semangat kecintaan untuk mulaqat (berjumpa dengan Masih Mau’ud as)? Tn. Sa’in berkata, “Karena saya seorang gharib (miskin) tidak bisa membayar candah. Oleh karena itu saya pergi ke Qadian untuk merajut anyaman caarpaay (tempat tidur terbuat dari kerangka kayu alasnya berupa anyaman dari tali) untuk mehmaan khaanah (tempat penginapan tamu, guest house) supaya dengan melakukan demikian terbayarlah candah saya.” Jadi, di Langgar Khana banyak caarpaay yang alasnya harus dirajut, itulah pekerjaan saya di sana, dari hasil pekerjaan itu terbayarlah candah saya. [6]

Inilah dua-tiga contoh yang telah saya kemukakan. Demikianlah, standar pengorbanan-pengorbanan mereka yang telah diperoleh berkat bergaul dan mendengar nasihat-nasihat Hadhrat Masih Mau’ud as dan terdapat riwayat seperti itu yang tak terhitung (sangat banyak). Akan tetapi mengingat waktu yang sempit saya menerangkan kisah beberapa orang sahabat saja. Dan saya hendak menyampaikan hal itu dan dengan mengemukakannya hati kita dipenuhi dengan puji syukur kepada Allah Ta’ala dan kita harus selalu bersujud di hadapan Allah Ta’ala lebih banyak daripada sebelumnya.

Hal demikian (sujud syukur dikarenakan) Jemaat yang telah ditegakkan oleh Allah Ta’ala dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud as ini untuk menghimpun dunia di bawah naungan bendera Hadhrat Rasulullah saw; di dalamnya (di dalam Jemaat) terdapat standar pengorbanan-pengorbanan yang tinggi, standar untuk mengorbankan harta milik yang sangat mereka sukai dan cintai di jalan Tuhan, yang tidak akan berhenti bersamaan dengan masa kehidupan para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as (akan berlanjut terus setelah masa sahabat). Bukan hanya berjalan satu atau dua generasi saja melainkan sampai melewati masa lebih dari seratus tahun juga dengan karunia Allah Ta’ala semangat dan keikhlasan berkorban tetap berdiri tegak di dalam Jemaat. Bahkan, lebih hebat dari itu di berbagai negara di dunia nampak gejolak semangat di dalam hati para Ahmadi baru untuk mengorbankan harta milik yang sangat mereka cintai di jalan Allah Ta’ala.

Pada masa kini saat manusia membelanjakan harta kekayaan mereka untuk berfoya-foya demi kepuasan dan kesenangan duniawi, para Ahmadi mengorbankan harta mereka demi kepentingan agama. Pengorbanan para Ahmadi itu menurut pendapat saya cukup sebagai bukti kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as untuk membuka mata dunia. Di Asia, Eropa, Afrika, Amerika, di setiap tempat di dunia nampak pemandangan pengorbanan ini. Orang-orang yang menyerahkan pengorbanan-pengorbanan. Mereka berusaha keras untuk memahami amanat Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengamalkan sepenuhnya. Jadi, selama kita mendahulukan kepentingan agama dari kepentingan duniawi, usaha-usaha ini akan berlanjut secara terus-menerus, musuh tidak akan mampu menghadang atau menggoncang kita sedikitpun. Insya Allah.

Untuk menambah kesegaran iman kita pada hari ini saya akan menyampaikan beberapa kisah pengorbanan para anggota Jemaat. [1] Peristiwa pertama, saya ambil dari laporan Nazim Maal (pengurus keuangan) bagian Waqf-e-Jadid India. Katanya, “Khaksaar (saya) bersama inspekstur Waqf-e-Jadid pergi melakukan daurah (kunjungan dinas keJemaatan) ke Jemaat Kerwalai di daerah Kerala untuk menyusun anggaran Waqf-e-Jadid. Tatkala sudah sampai lalu berjumpa dengan seorang kawan yang mukhlis. Katanya, ‘Saya baru saja memulai membuka usaha furniture. Tahun ini saya berjanji akan membayar 400 ribu Rupees. Selain dari itu apabila saya mendapat keuntungan dari bisnis saya ini maka akan saya bayar 10% lagi dari income (penghasilan) saya untuk Waqf-e-Jadid.’ Dengan karunia Allah Ta’ala bisnis barunya itu berjalan dengan baik. Ia berpesan kepada isterinya untuk memisahkan uang candah dari pendapatannya setiap hari. Setelah satu tahun ketika dihitung ternyata telah terkumpul 550 ribu Rupees untuk candah Waqf-e-Jadid itu kemudian langsung dibayarkan. Ia berkata, ‘Untuk tahun depan akan saya tingkatkan lagi dari 10% menjadi 25 % untuk candah Waqf-e-Jadid.’”

(2). Setelah itu dari India juga Tn. Inspektur Waqf-e-Jadid menjelaskan, “Di bulan Maret 2011 saya berkunjung ke Jemaat Bethari untuk menyusun tasykhish budget (anggaran perorangan) perjanjian Waqf-e-Jadid. Di sana ketika diberi anjuran dan keterangan (memperdengarkan kisah-kisah) kepada seorang ibu mengenai peristiwa-peristiwa bagaimana kaum wanita Muslim dan Ahmadi telah mengorbankan jiwa dan harta maka beliau ini telah menuliskan perjanjian sejumlah satu bulan gaji beliau (untuk Waqf-e-Jadid). Beliau itu hanyalah seorang guru biasa dan sederhana dan tidak menerima banyak gaji setiap bulan dan beliau menuliskan perjanjian 5000 Rupees gaji sebulan penuh.

Saya lalu pergi ke rumah bapak perempuan itu. Beliau Sadr (ketua) Jemaat di sana. Ketika diberitahu kepadanya, ‘Anak bapak sangat banyak berkorban.’ Tiba-tiba beliau menangis karena terharu bercampur gembira kemudian dipanggil anak beliau perempuan paling besar dan dikatakan kepadanya, ‘Adik engkau begitu banyak berkorban, engkau lebih besar dari dia sekarang apa yang akan engkau lakukan?’ Anak beliau itupun segera menuliskan perjanjiannya dengan menambah seribu rupees lebih besar dari adiknya itu sambil berkata, ‘Saya sebagai kakaknya lebih besar darinya dan perjanjian saya pun seribu lebih besar dari perjanjiannya.’

Kemudian sekarang bagaimana orang-orang Ahmadi yang belum lama masuk ke dalam Jemaat, dengarlah ceritanya ini. (3). Tn. Amir Jemaat Mali (Afrika Barat) melaporkan, “Seorang kawan Jemaat kita, Tn. Tarabare bekerja di Union Council. Beliau sangat rajin dan teratur membayar candah dan tidak mau ketinggalan dalam pengorbanan lainnya juga. Beliau memberitahukan, ‘Untuk pekerjaan di bidang sensus telah dibentuk sebuah tim terdiri dari 32 orang dan dikatakan bahwa pekerjaan harus dilakukan selama sebulan terus-menerus sampai selesai tanpa libur walaupun sehari. Sebagai imbalannya setiap orang dibayar 100.000 Franc Siva. Setelah menandatangani perjanjian, pekerjaan pun mulai dilaksanakan. Ketika pekerjaan itu tinggal enam hari lagi akan selesai, di wilayah saya, Fana Region, akan diadakan Jalsah Salanah.’

‘Pada mulanya berpikir untuk menyampaikan kepada Jemaat adanya uzur (halangan) dan tidak mengikuti Jalsah. Namun tiba-tiba timbul dalam pikiran saya bahwa pekerjaan Jemaat harus didahulukan bahkan saya sudah berjanji untuk mengutamakan pekerjaan Tuhan diatas semua pekerjaan lain. Sekarang biar saya tidak mendapat uang yang 100.000 Franc Siva itu.’ Kemudian beliau berkata, ‘Demi mengikuti program Jalsah saya tinggalkan pekerjaan itu. Kerabat kerja kerja mulai memaki saya, “Mengapa kamu menyia-nyiakan uang dengan meninggalkan pekerjaan itu?” Katanya, ‘Seminggu setelah Jalsah ketika kembali ke tempat kerja itu, Wali Kota di sana berkata kepada saya, “Anda telah melanggar janji kemudian meninggalkan pekerjaan. Tetapi timbul di dalam pikiranku bahwa anda pergi karena Allah Ta’ala. Oleh sebab itu telah saya simpan 100.000 Franc Sifa bagian anda, sekarang ambillah uang itu dari saya.”

Setelah itu Wakil Walikota yang menjadi pengawas pekerjaan, memanggil saya pula dan berkata dengan nada yang sama, “Walaupun anda telah pergi meninggalkan pekerjaan, namun timbul dalam pikiran saya uang 100.000 Fr Sifa itu harus saya simpan untuk diberikan kepada anda, ambillah sekarang uang ini.” Ketika saya bertemu orang yang bekerja di bagian keuangan di kantor itu, diapun berkata dengan nada yang sama pula katanya, “Oleh karena anda tidak ada di sini, uang 100.000 Franc Sifa telah saya simpan terpisah untuk diberikan kepada anda, sekarang ambillah uang ini, namun jangan diberitahu kepada siapapun.” Katanya, ‘Ketiga orang itu berpesan sama kepada saya: “Jangan diberitahu kepada siapapun.”

Dan ketika saya tanya para petugas lain yang pernah bekerja dengan saya, “Berapa uang yang telah kalian terima?” Setiap orang mengatakan menerima bayaran itu setelah dikenai potongan ini-itu yang biasa berlaku di negeri ini. Seorang pun tidak ada yang menerima genap 100.000 Franc Sifa. Sedangkan saya menerima tiga kali lipat sebanyak 300.000 Franc Sifa tanpa ada potongan apapun. Ini semata-mata berkat mendahulukan kepentingan agama dari kepentingan dunia.” Selanjutnya ia pun langsung membayar candah sebanyak 20.000 Franc Sifa kepada Jemaat.

[4] Selanjutnya dari Gambia juga ada sebuah kisah keteladanan lagi. Tn. Amir Gambia menulis, “Pada suatu hari seorang Ahmadi, tuan Kuto Trawally datang ke kantor saya dan berkata, ‘Saya hendak membayar candah 100.000 sambil berkata saya bisa berhutang kepada manusia namun saya tidak bisa berhutang kepada Allah Ta’ala. Orang Ahmadi ini seorang miskin tidak berpenghasilan banyak sehingga ia dengan susah menafkahi keluarganya. Tetapi beliau ini selalu menaati Nizam Jemaat dalam segi pengorbanan dan setiap waktu selalu siap untuk memberi sedikit banyak pengorbanan. Tidak lama setelah itu beliau memberitahu bahwa ketika selesai membayar candah 1000 uang lokal tiba-tiba beliau mendapat uang lebih banyak dari itu. Katanya, ‘Saya yakin betul, kapan saja pengorbanan dilakukan Allah Ta’ala menganugerahkan pembalasannya jauh lebih besar dari itu.’” Jadi, itulah tanda bukti kecintaan dan keikhlasan yang sejati para anggota Jemaat dalam mendahulukan kepentingan Agama Allah Ta’ala diatas kepentingan pribadi.

[5]. Inilah beberapa yang saya sebutkan. Ada banyak laporan serupa yang jumlahnya tidak terhitung. Seorang Mubaligh kita di Sierra Leone telah melaporkan, “Tuan Komara seorang Ahmadi sangat mukhlis namun dari segi keuangan sangat lemah. Ketika saya pergi ke kampungnya untuk menagih pembayaran Tahrik Jadid dari para anggota Jemaat, ternyata Tn. Komara masih mempunyai tunggakan. Sedangkan tahun perjanjian sudah hampir berakhir. Setelah sampai di rumah beliau dan melihat keadaannya dapat diperkirakan bagaimana lemahnya keadaan ekonomi beliau.

Beliau berkata, ‘Pada waktu ini kami hanya memiliki uang untuk membeli 20 cawan (gelas) beras supaya sampai besok makanan dapat disediakan. Itu artinya, saya hanya memiliki uang untuk makan sampai besok sore. Selain dari uang ini tidak ada harapan dari mana lagi saya akan dapat uang. Tetapi uang ini akan saya bayarkan untuk melunasi sisa perjanjian Tahrik Jadid saya. Saya tidak menghiraukan keperluan keluarga saya lagi. Sudah saya beri tahu istri dan anak-anak saya bahwa Tuhan akan menyediakan makanan untuk kita.’ Pada malam hari itu juga adik perempuannya mengirimkan satu karung berisi beras sebagai hadiah baginya. Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala telah menyediakan rezki bagi mereka itu.”

[6.] Muballigh kita di Ivory Coast (Pantai Gading, Afrika Barat) melaporkan, “Seorang Khadim, Mubayi’ Baru bernama Harun, penjual telur di kota Sandra. Suatu kali Muallim setempat berjumpa beliau dan menganjurkan untuk mengikuti program tarbiyyat di Tarbiyyat Centre. Segera beliau bersiap mengikutinya dan beserta seseorang lain lagi sampai ke tempat Tarbiyyat Centre. Kursus itu berjalan sampai tiga bulan lamanya sehingga beliau mendapat kesempatan untuk memperluas pengetahun tentang Ahmadiyah. Beliau berpikir, ‘Saya sedang pergi melaksanakan pekerjaan Allah Ta’ala dan dengan tawakkal kepada Allah Ta’ala bisnis telur di kota diserahkan kepada adik saya untuk mengendalikannya. Dan saya betul-betul yakin dan tawakkal kepada Allah Ta’ala bahwa Dia tidak akan membiarkan bisnis saya terganggu.

Setelah tiga bulan mengikuti tarbiyyat course (semacam KPA untuk orang dewasa Ahmadi) dan kembali ke rumah, saya tidak henti-hentinya merasa heran bahwa begitu banyak keuntungan diterima selama tiga bulan saya tinggalkan yang saya sendiri tidak pernah mengalaminya.’ Kemudian beliau membayar candah dari 500 ditingkatkan menjadi 1000 Franc Sifa. Setelah itu Allah Ta’ala terus-menerus memberkatinya sehingga sekarang dengan karunia Allah Ta’ala beliau tingkatkan pembayaran candah dari 1000 menjadi 4000 Franc Sifa setiap bulan. Beliau bukan hanya membayar Candah Tahrik Jadid dan Waqf-e-Jadid beliau sendiri akan tetapi beliau juga membayar atas nama kedua almarhum orang tua beliau juga yang mungkin mereka belum menjadi Ahmadi, namun mereka dimasukkannya di dalam perjanjian Tahrik Jadid dan Waqf-e-Jadid.”

(7). Tn. Amir Jemaat Burkina Faso melaporkan, “Seorang mubayi’ baru dari kota Bogo, Tn. Sulaiman berkata; Setelah saya mendengar Khutbah Jum’ah menjelaskan tentang pentingnya Waqf-e-Jadid, pada malam hari saya tidak bisa tidur dan berpikir terus bahwa Jemaat sedang melakukan banyak pekerjaan yang besar-besar sedangkan saya tidak mengambil bagian sepenuhnya didalamnya. Maka pada keesokan harinya saya membayar candah Waqf-e-Jadid sebanyak 4500 Francsifa. Namun pada tengah malam berikutnya saya dikerumuni perasaan gelisah kembali. Esok harinya saya pergi ke Mission House untuk membayar 4500 Francsifa lagi. Barulah sekarang pikiran saya menjadi tenang.”

[8] Muballigh Incharge Switzerland (Swiss) menulis, “Teman Ahmadi Afrika kita asal Nigeria bernama tuan Idris bekerja di sebuah perusahaan internasional. Ketika datang dan mulai tinggal di Swiss, beliau langsung membayar candah 9000 Swiss Franc ke dalam akun rekening masjid Jemaat sambil memberikan nama dan nomor teleponnya.” Beliau (Mubaligh kita) berkata, ‘Saya tidak kenal betul siapa orang ini karena ia pendatang baru. Ia telah membayar candah begitu besar.’ Kemudian ditelepon kepadanya dan ditanya, ‘Anda telah mengirim uang yang cukup besar ke dalam rekening Jemaat untuk pembayaran apakah itu?’ Beliau jawab, ‘Saya sudah 3 bulan berada di Switzerland dan saya kirim uang itu untuk membayar candah saya.’ Dikatakan lagi kepadanya, ‘Untuk membayar candah tiga bulan juga masih terlalu besar.’ Beliau jawab lagi, ‘Sebelum datang ke Switzerland saya bekerja di suatu negara selama 3 bulan yang tidak ada Jemaat. Saya masih mempunyai tunggakan candah untuk 3 bulan selama tinggal di sana. Jadi uang 9000 Franc Swiss ini untuk membayar candah saya selama 6 bulan.’”

Demikianlah standar iman orang-orang Ahmadi tersebut diatas Orang lain tidak tahu keadaan kita namun Allah Ta’ala mengetahuinya. Oleh sebab itu setiap orang Ahmadi harus membuat perhitungan yang bersih dengan Allah Ta’ala di manapun ia berada.

Seorang Ahmadi asal Pakistan bekerja di sebuah Perusahaan di Switzerland. Beliau menuliskan perjanjian untuk membayar candah 5000 Euro. Beliau mempunyai harapan untuk menerima bonus dari Perusahaan sebanyak 5000 Euro. Beliau pikir jika bonus sudah diterima maka uang itu akan dipergunakan untuk membeli keperluan-keperluan lain. Namun ketika beliau ingat perjanjian Waqf-e-Jadid 5000 Euro belum dibayar dan batas waktu pembayarannya sudah dekat sekali maka beliau bertekad untuk melunasi perjanjian itu dahulu dan keperluan-keperluan lainnya akan ditinggalkan. Selanjutnya berkata, “Setelah itu Allah Ta’ala menurunkan karunia-Nya tanpa diduga bahwa Perusahaan itu menaikkan bonus itu dari 5000 Euro menjadi 10.000 Euro.” Demikianlah Allah Ta’ala telah menganugerahkan karunia-Nya sehingga keperluan pribadinya juga dapat terpenuhi dan perjanjian Waqf-e-Jadid juga dapat dilunasi.

(9). Demikian pula Mubaligh Silsilah kita di Benin-Afrika menulis, “Ketika Muallim Jemaat kita pergi ke suatu tempat untuk mengumpulkan candah Tahrik Jadid, seorang anggota bernama Abdul Latif membayar 3100 Francsifa untuk candah Tahrik Jadid sambil berkata, ‘Berdoalah untuk saya, jika mendapat rezki lagi akan saya tambah lagi candah saya.’ Apa yang terjadi, pada minggu itu juga Tn. Abdul Latif memanggil Bapak Muallim dan memberi candah lagi sebanyak 7000 Francsifa sambil berkata, ‘Pada hari ketika saya membayar 3100, seorang pasien datang untuk berobat. Dia mula-mula membayar biaya pengobatan itu 34000 Francsifa, namun kemudian ia berkata saya tidak punya uang untuk biaya pulang, saya ambil lagi 3000 Francsifa. Jadi ia membayar 31000 Francsifa kepada saya.’ Hati saya segera memberi kesaksian Allah Ta’ala telah menambah rizki 10 kali lipat kepada saya, yaitu 3100 menjadi 31000. Itulah sebabnya saya tambah 7000 Francsifa lagi candah saya.’”

[10] Demikian pula, muballigh kita di Liberia menulis, “Ketika saya pergi daurah (kunjungan) ke suatu tempat, seorang anak berumur 8 tahun dari rumah berlari menyambut saya sambil memberi minuman, membawakan tas saya dan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya. Anak-anak di sana juga sangat hormat dan semangat sekali mengkhidmati Muballighin yang datang ke tempat mereka. Muballigh kita dengan senang hati memberi hadiah 5 dollar Liberia kepada anak itu. Lima dollar Liberia sangat berharga nilainya. Setelah shalat, Muballigh kita memberi penjelasan kepada anggota Jemaat tentang pentingnya candah Tahrik Jadid. Anak-anak juga secara khusus perlu diikutsertakan dalam candah Tahrik Jadid ini. Setelah selesai memberi penjelasan, anak yang tadi telah diberi uang itulah yang pertama bangkit dari tempat duduknya menuju samping ayahnya sembari berkata di dekat telinga ayahnya, ‘Ayah, saya juga mau membayar Tahrik Jadid, saya sekarang juga punya uang.’ Ayahnya berkata, ‘Jika engkau punya uang bayarlah!’ Uang yang telah diterimanya sebagai hadiah itulah yang ia bayarkan untuk Tahrik jadid. Perbuatan anak itu telah menimbulkan kesan yang sangat baik kepada anak-anak yang lain, sehingga mereka juga meminta uang kepada orang tua mereka untuk ikut serta dalam candah Tahrik Jadid itu.

[11] Muballigh kita di Kirgistan (Kirgistan, Asia Tengah, Selatan Rusia) menulis, “Seorang mubayi’ baru, tuan Zameer kira-kira tiga tahun yang lalu baiat masuk Jemaat. Pada tahun 2008 ketika akan dilangsungkan Jalsah memperingati Sadsalah Jubilee Khilafat Ahmadiyyah (Peringatan 100 Tahun Khilafat Ahmadiyah, 1908-2008) Pusat menganjurkan untuk mengumpulkan dana. Beliau bekerja dengan gaji 66 dollar pada waktu itu. Negara itu miskin. Ketika muballigh kita, tuan Basyarat Ahmad berkata kepadanya, ‘Tuan juga silakan menuliskan perjanjian candah Jubilee Khilafat (memperingati 100 tahun Khilafat)!’ Beliau berjanji untuk membayar 44 dollar.

Ketika beliau menerima gaji langsung beliau datang ke Mission House dan melunasi perjanjiannya sebanyak 44 dollar sisanya 22 dollar dibawa pulang. Allah Ta’ala sangat menghargai keikhlasan beliau itu. Pekerjaan tambahan dalam waktu singkat beliau dapatkan. Setiap bulan mulai menerima gaji tambahan sebanyak 150 dollar. Dan dengan karunia Allah Ta’ala sejak tiga bulan lalu beliau mulai bekerja di perusahaan asing dan sekarang beliau dengan karunia Allah Ta’ala mendapat gaji 770 dollar setiap bulan. Beliau telah berwasiyat juga. Ketika Murabbi Sahib (Bapak Mubaligh) mengatakan kepada beliau setelah berwasiyyat bukannya membayar 1/16 dari penghasilan tetapi harus membayar (sekurang-kurangnya) candah wasiyyat 1/10 (10 %) dari penghasilan, beliau berkata, ‘Kalau begitu semenjak saya baiat saya sudah mulai membayar candah 10 % dari penghasilan saya.’”

[12] Demikian pula seorang mubayi’ah baru (wanita yang baru baiat), Jildiz Shahibah (Ny. Jildiz) di Kirgistan [Asia Tengah, Selatan Rusia]. Beliau seorang yang sangat mukhlis. Beliau telah baiat setahun lalu namun belum membayar candah. Ketika disampaikan kepada beliau mengenai candah, dijelaskan mengenai pentingnya candah dan disampaikan mana yang wajib (sesuai ukuran tetap) dan mana yang harus dibayar menurut kehendak sendiri (sukarela). Ketika itu di masjid sedang disampaikan mengenai gerakan pengorbanan harta maka beliau segera menanggapinya dan keesokan harinya beliau berkata (lewat telepon) kepada Sadr (presiden, ketua) Jemaat, ‘Saya ingin berjumpa.’ Namun Presiden berkata, ‘Saya sudah siap mau berangkat ke suatu tempat untuk pekerjaan.’ Beliau mendesak, ‘Saya ingin berjumpa dengan segera’ Maka setelah datang berjumpa beliau menyerahkan 15000 Kirgis untuk candah. Presiden berkata, ‘Uang ini cukup banyak bagaimana maksudnya?’ Beliau jawab, ‘Saya telah menghitungnya betul-betul dan ini semua untuk menutupi candah saya selama satu tahun dan termasuk beberapa candah gerakann pengorbaanan lainnya juga.’

Demikianlah kisah-kisah kesetiaan dan keikhlasan para Ahmadi yang baru masuk Jemaat. Sedemikian rupa telah timbul semangat dan kecintaan dalam diri mereka untuk menyerahkan pengorbanan. Setelah beberapa peristiwa itu, dengan ini saya umumkan Tahun Baru Waqf-e-Jadid dan saya sampaikan beberapa hal.

Tanggal 1 Januari tahun ini periode Waqf-e-Jadid dimulai. Tahun ke-54 telah berakhir. [Tahun 2012 sekarang ini] kita memasuki tahun yang ke-55 Waqf-e-Jadid dan jumlah pengorbanan secara keseluruhan dari seluruh dunia sesuai dengan laporan-laporan yang telah diterima (sekalipun banyak laporan dari berbagai wilayah dari beberapa negara Afrika tidak termasuk atau belum termasuk karena lambat). Sebanyak £ 4,693,000.00 dari segi pembayaran. Dengan karunia Allah, dilihat dari segi pembayaran £ 510,000 lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu. Alhamdulillah.

Seperti tahun lalu Pakistan [tahun ini juga] menduduki peringkat pertama, sekalipun keadaan penghidupan [ekonomi] di sana sangat buruk akan tetapi mereka tidak mengurangi dalam pengorbanan harta. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan keberkatan atas diri mereka dan juga atas harta benda mereka. Semoga Dia menempatkan mereka di bawah perlindungan-Nya dan semoga Dia melindungi mereka dari setiap jenis keburukan dan kejahatan. Setelah itu [yang kedua], Amerika (USA, Amerika Serikat). Setelah Amerika kemudian Britania (Inggris). Wakaalat Maal [pengurus Tahrik Jadid bidang keuangan] tadinya memperkirakan Britania akan menduduki peringkat kedua. Tetapi Jemaat Amerika menduduki posisi kedua setelah menyisihkan Britania di belakang mereka sesuai dengan laporan terakhir yang dikirim kepada saya. Perbedaannya kira-kira 11.000 Pound.

Tadinya Britania peringkat kedua tetapi berdasarkan laporan yang masuk kepada saya kemudian ternyata peringkat ketiga. Namun peningkatan yang diperoleh Jemaat Britania merupakan peningkatan yang luar biasa, sangat mengherankan. Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada semua pemberi candah itu, keberkatan yang tidak terkira atas jiwa dan harta benda mereka. Dan di sini [di UK] juga kehidupan ekonomi masyarakat sangat buruk. Di samping membayar pengeluaran, membayar kewajiban candah [yang sudah lazim], mereka sedang menaruh perhatian untuk pembangunan masjid juga.

Walaupun demikian, Jemaat Britania telah meningkatkan jumlah pengorbanan yang luar biasa baik dalam candah Tahrik Jadid maupun candah Waqf-e-Jadid. Inilah hal yang nampak jelas bahwa mereka telah memahami ruh firman Tuhan حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ hatta tunfiquu mimma tuhibbuun – “sebelum mereka mengorbankan apa-apa yang mereka cintai.” Semoga Allah menjadikan Jemaat di sini bahkan semua Jemaat di seluruh dunia juga terus berderap maju ke depan dalam setiap segi kebaikan. Lajnah UK juga telah menunaikan kewajibannya yang sangat besar dalam hal ini (pengorbanan). Dan mereka telah jauh melompat dalam jumlah besar pengorbanan Tahrik Jadid maupun Waqf-e-Jadid. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan pembalasan sebaik-baiknya kepada semua saudari-saudari dan juga anak-anak perempuan mereka.

Britania meraih posisi ketiga kemudian Jerman nomor empat setelah itu Kanada selanjutnya India, Australia, Indonesia, Belgia dan Switzerland. Dari segi peningkatan dalam perhitungan mata uang lokal, Jemaat India adalah yang pertama. Mereka telah meningkatkan jumlah yang besar sekali kira-kira sampai 36 % setelah itu Belgia sekalipun Belgia negara kecil dan Jemaatnya juga kecil namun mereka telah meningkatkan dalam jumlah sangat besar sampai 30% lalu Australia, Britania dan Indonesia. Dari segi pembayaran candah per kapita (per orang) Amerika posisi pertama, kemudian Switzerland, Britania, Belgia dan Irlandia. Oleh karena itu nampaknya Amerika sudah mencapai posisi sulit untuk meningkat lagi kecuali jumlah pejanji mereka bertambah. Namun Jemaat Britania masih mempunyai peluang cukup terbuka dan dapat meraih posisi yang lebih baik.

Di Afrika dari segi penerimaan secara keseluruhan terdapat lima buah Jemaat pertama diantranya posisi pertama Jemaat Ghana, Nigeria, Mauritius, Burkina Faso dan Uganda. Dengan karunia Allah Ta’ala peningkatan jumlah pembayar sebanyak 90.000 orang. Jumlah pejanji tahun ini adalah 690.000 orang, namun masih banyak sekali peluang untuk bertambah lagi. Saya anjurkan kepada Jemaat di negara-negara Afrika untuk meningkatkan jumlah para pejanji. Vakalat Mal akan menentukan target bagi mereka untuk meningkatkan jumlah para pejanji, insya Allah!

Para pendatang baru dalam Jemaat ini harus diikutsertakan dalam gerakan pengorbanan ini. Hadhrat Masih Mau’ud as juga sangat menegaskan kebiasaan berkorban harus dimulai sejak awal permulaan masuk Jemaat. Jemaat-Jemaat di Afrika jika berusaha kearah itu mudah-mudahan dapat memperoleh peningkatan sesuai dengan yang diharapkan sebab di sana masih banyak sekali peluang. Target yang diberikan oleh Wakalat Mal harus diusahakan untuk memenuhinya, yakni meningkatkan jumlah pejanji, sekalipun mulai dengan hanya sedikt saja uang perjanjiannya. Pada tahun ini yang telah banyak berusaha untuk meningkatkan jumlah para pejanji-nya adalah, Jemaat Nigeria, Niger, Sierra Leone, Burkinafaso, Benin dan Uganda. Saya berkata kepada Jemaat Ghana, anda tidak berusaha banyak untuk meningkatkan jumlah para pejanji, sesungguhnya Jemaat Ghana sangat besar harus berusaha keras meningkatkan jumlah pejanjinya.

Tiga Jemaat di Pakistan yang terdiri dari para pejanji dewasa meraih posisi pertama yaitu Lahore, kedua Rabwah dan ketiga Karachi. Sepuluh posisi terbesar di tingkat daerah; pertama Sialkot, Rawalpindi, Islamabad, Faisalabad, Sheikhupura, Sargodha, Gujranwala, Umarkot, Gujarat dan Bahwalnagar. Dari segi pejanji tingkat Athfal terdapat 3 posisi terbesar, pertama Lahore, kedua Karachi dan ketiga Rabwah. Dari pejanji Athfal tingkat distrik, pertama Sialkot, ke-2 Rawalpindi, ke-3 Islamabad, ke-4 Faisalabad, ke-5 Sheikhupura, ke-6 Gujranwala, ke-7 Umarkot, ke-8 Sargodha, ke-9 Narowal dan ke-10 Gujrat.

Dari segi jumlah penerimaan di Amerika terdapat lima besar Jemaat, pertama Los Angeles, Inland Empire, kedua Silicon Valley, ketiga Detroit, keempat Chicago dan kelima Seattle. Posisi pertama sepuluh Jemaat di Britania adalah; Raynes Park, New Malden, Worcester Park, Fazl Mosque, West Croydon, Birmingham West, Leamington Spa, Manchester South, Gillingham and Southall. Di tingkat wilayah di Britania lima Jemaat terbesar ialah; South Region pertama, lalu Midlands, London, Islamabad dan Middlesex.

Di tingkat wilayah lima Jemaat di Jerman adalah Hamburg nomor pertama, Frankfurt nomor dua, Grossgrau nomor tiga, Darmastad nomor empat dan Wezbaun nomor lima. Sepuluh besar Jemaat di Jerman adalah sebagai berikut: nomor pertama adalah Roddermark, Koln, Faloirzehm, Nouis, Neda, Volda, Freidburg, Rodbago, Mahdi Abad nomor sembilan dan Hannover nomor sepuluh. Peringkat Jemaat-Jemaat di Kanada; Peace Village nomor pertama, lalu Rexdale, Western South, Woodbridge dan Edmonton. Lima Jemaat [di Kanada] dari segi daftar athfal [yang mengikuti progam Waqf-e-Jadid]; pertama adalah Western South, Peace Village South, Western North, Durham and Hamilton North.

Jemaat-Jemaat di Bhaarat (India) yang meraih posisi sebagai berikut; nomor satu Kerala, kemudian Tamil Nadu, Jammu Kashmir, Andhra Pradesh, Karnataka, Punjab, Orissa, Uttar Pradesh, Maharashtra and Delhi. Dari segi jumlah pembayaran, Jemaat-Jemaat di India ialah Kalikut, Kerwalai, Kannurtown, Qadian, Heydarabad, Koimtaur, Calkutta, Chennai, Bangalore, Rishinagar dan Karonagabli.

Semoga Allah Ta’ala memberikan balasan kepada orang-orang yang telah mengambil bagian dalam gerakan Waqf-e-Jadid ini dan menganugerahkan keberkatan-Nya yang tak berhingga kepada jiwa-raga dan harta benda mereka; seiring dengan itu pada hari ini saya umumkan mulai dibukanya perjanjian baru tahun 2012. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik (kesempatan, kelapangan) kepada Jemaat di seluruh dunia untuk meningkatkan pengorbanan mereka dan menganugerahkan berkat-berkat-Nya dalam pengorbanan mereka. Dan semoga Allah Ta’ala melimpahkan berkat-Nya yang tidak terhitung dalam harta benda milik Jemaat juga. Mengingat keadaan yang sedang terjadi di dunia sekarang ini (krisis keuangan), dengan hanya karunia Allah Ta’ala sajalah sehingga kita terus mendapat taufik untuk tetap dapat melanjutkan semua program dan rencana Jemaat, menyempurnakan serta meningkatkannya (mengembangkannya menjadi bertambah baik). Semua usaha kita tidak akan ada hasilnya tanpa pertolongan dan karunia-Nya. Oleh sebab itu, dalam doa-doa, kita harus berdoa agar harta-benda (dana pengorbanan Jemaat) diberkati. [Aamiin]

[1] Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tafsir bab lan tanaalul birra hatta…

 أنه لما نزلت هذه الآية جاء الصحابي أَبُو طَلْحَةَ النبي وقال: َإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ (بئر تُسمّى) بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ. فسُرّ رَسُولُ اللَّهِ

[2] Malfuuzhaat jilid awwal (I) halaman 47, edisi 2003, Terbitan Rabwah.

[3] Malfuuzhaat jilid awwal (I) halaman 47, edisi 2003, Terbitan Rabwah.

[4] Register Riwayaat Shahabah radhiyallahu ‘anhum ghair mathbu’ah rejister number 15 halaman 105 riwayat Hadhrat Shufi Nabi Baksy Shahib ra.

[5] Register Riwayaat Shahabah radhiyallahu ‘anhum ghair mathbu’ah rejister number 13 halaman 360 riwayat Hadhrat Munsyi Zhafr Ahmad Shahib ra.

[6] Register Riwayaat Shahabah radhiyallahu ‘anhum ghair mathbu’ah rejister number 2 halaman 96 riwayat Hadhrat Munsyi Zhafr Ahmad Shahib ra.

(Visited 53 times, 1 visits today)