Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 27 Mei 2005 di Masjid Baitul Futuh, UK.

Hari ini, dengan karunia Allah Ta’ala, adalah hari dalam Sejarah Jemaat Ahmadiyah, dimana Allah Ta’ala semata-mata dengan karunia-Nya, setelah kewafatan beliau as, telah mengubah keadaan takut orang-orang yang mengikuti Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam menjadi keamanan. Sesuai dengan janji-Nya, Dia mengaruniakan kemuliaan kepada Jemaat Ahmadiyah, yaitu menegakkan keagungan dan keteguhannya yang semula. Allah Ta’ala dengan kesaksian tindakan-Nya membuktikan, bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as adalah utusan dan Nabi-Nya dan beliaulah Khalifatullah yang akan menegakkan kembali syariat yang turun kepada Hadhrat Rasulullah saw di dunia, di abad ke-14. Setelah beliau as, sesuai dengan nubuatan Rasulullah saw, rangkaian Khilafat beliau as akan terus berlanjut sampai hari kiamat. Jadi hari ini, setelah berlalu 97 tahun, setiap anak, pemuda, orang tua, laki-laki dan perempuan Jemaat Ahmadiyah menjadi saksi bahwa saya telah melihat kesaksian fi’li (secara tindakan) Allah Ta’ala mengenai hal ini sejak 97 tahun lalu dan sedang melihatnya. Dan bukan hanya Ahmadi, bahkan orang-orang non Jemaat pun mengakui hal itu. Sebelumnya telah banyak sekali contoh, setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as, kemudian setelah kewafatan Hadhrat Khalifah Awal ra, kemudian setelah kewafatan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Tetapi sebagaimana satu kali telah saya beritahukan, bahwa setelah melihat proses pemilihan Khalifah kelima, yang ditayangkan di MTA, para musuh (pihak-pihak yang memusuhi Jemaat] mengakui, ‘Kami tidak tahu tentang kebenaran kalian, tapi kami tahu bahwa kesaksian fi’li Allah Ta’ala beserta kalian.’

Jadi, bagaimanapun ini adalah kebaikan Allah Ta’ala yang sangat besar kepada Jemaat Ahmadiyah, dan nikmat-Nya, yang seberapapun kita mensyukurinya, masih saja kurang. Syukur inilah yang akan terus menambah nikmat tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾ ‘…la-in syakartum la-aziidannakum…’ – “… jika kamu bersyukur maka Aku akan menambahkannya. Nikmat yang paling mulia itu, Aku akan terus menambahkannya untuk kalian…” (Surah Ibrahim, 14 : 8)

Pendeknya, pertama, karena pentingnya hari ini, sekarang 27 Mei. Kedua, yang menjadi penggerak khotbah ini adalah satu artikel yang telah ditulis oleh Hadhrat Mirza Basyir Ahmad Sahib ra tetapi baru-baru ini ada orang yang mengirimkannya ke berbagai orang lainnya. Hadhrat Mirza Basyir Ahmad Sahib ra sebenarnya menulisnya untuk menjelaskan kedudukan Khilafat, dan dalam menjelaskan itu, sesuai dengan kecondongannya, juga menyebutkan sampai kapan Khilafat akan berlangsung dalam Jemaat, atau apa syaratnya. Tapi hal ini jelas, sedikit pun tidak bisa diragukan, tidak ada dalam pikiran atau maksud Hadhrat Mirza Basyir Ahmad sahib ra., kapan pun, untuk menyebarkan kebingungan dalam Jemaat.

Tetapi orang itu, yang sekarang mengirim artikel ini kepada berbagai orang, dari tindakannya itu nampak bahwa hal ini supaya Jemaat merasa ragu-ragu terhadap Khilafat. Misalnya, dari situ nampak niatnya tidak baik karena fotokopi artikel itu dikirim melalui pos, diatasnya ditulis terstempel, “Hadiah dari kawan Ahmadi.” Sekarang jika niatnya baik, dia bisa mengirimkannya dengan disertai nama, bahkan dapat mengirimkannya setelah bertanya pada Nizham Jemaat atau kepada saya, bahwa saya ingin menyebarkan artikel ini. Dia memperlihatkan kecerdikannya (kelicikannya) yakni dia mengirim artikel yang di dalamnya terdapat pokok bahasan yaitu Tuhanlah yang menjadikan Khalifah, Khalifah tidak dapat dimakzulkan (diturunkan dari jabatan) dan lain-lain. Tapi dia juga mengarahkan pada pendapat Hadhrat Mia Sahib bahwa satu waktu kerajaan akan menggantikan Khilafat, yakni kerajaan akan tiba. Padahal ini adalah pendapat pribadi Hadhrat Mia Sahib. Setelah mengetahui hal itu, Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra waktu itu juga telah menyebarkan satu penjelasan untuk membantah hal itu.

Dalam penjelasan selanjutnya saya akan membuka beberapa hal. Dari tindakan orang itu tampak seakan-akan dia ingin membuktikan, “Kekhalifahan empat Khalifah awal itu benar, tapi sekarang Khilafat sudah tidak ada lagi.” Pendeknya, mengenai hal ini saya akan memperlihatkan dari artikel itu, artikel Hadhrat Mia Sahib, bahwa ini adalah kesalahan pemikiran orang itu. Orang-orang yang mendapat artikel itu, diantara mereka kalau pun ada yang terdapat keraguan dalam hatinya, semoga itu hilang.

Tapi sebelumnya, saya hendak sedikit menjelaskan ayat yang telah saya tilawatkan, yang terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Barangsiapa diantara kalian yang beriman dan beramal saleh, Allah memberikan janji teguh kepadanya bahwa Dia pasti akan menjadikannya Khalifah di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebagai Khalifah sebelumnya dan akan mengaruniakan keteguhan kepada agama mereka yang Dia sukai untuk mereka, bagi mereka dan akan menggantikan, setelah keadaan takut mereka menjadi keamanan. Mereka akan beribadah kepada-Ku, tidak akan menyekutukan-Ku dan barangsiapa tidak bersyukur setelah itu, mereka inilah orang-orang yang fasik.”

Itu artinya, janji menegakkan Khilafat, adalah untuk orang-orang yang memiliki keimanan teguh dan beramal saleh. Ketika orang mukmin menegakkan standar ini, kemudian Allah Ta’ala sesuai janji-janji-Nya akan menjalankan Nizham Khilafat setelah kewafatan Nabi, dengan perantaraan Khalifah, dan setelah kewafatan Khalifah, dengan perantaraan Khalifah berikutnya, kondisi ketakutan ini akan terus berubah menjadi keamanan. Hal inilah yang selalu kita lihat sejak 100 tahun lalu. Tetapi, syaratnya adalah, mereka orang-orang yang beribadah kepada satu Tuhan, dan permainan dunia tidak mempengaruhi mereka serta menjatuhkan mereka kedalam syirik. Jika mereka tidak bersyukur, lalai dalam ibadah, dalam pandangan mereka urusan dunia lebih dicintai dari perintah-perintah Allah Ta’ala, maka karena kedurhakaan mereka itu, mereka akan dimahrumkan dari nikmat tersebut. Maka, orang-orang yang tidak memahami pentingnya nikmat Khilafat hendaknya khawatir. Bukanlah Khalifah yang akan dijatuhkan dari kedudukan Khilafat, justru orang-orang itulah yang karena tidak memahami kedudukan Khilafat termasuk dalam orang-orang fasik. Orang itu akan hancur, yaitu yang tidak memahami kedudukan Khalifah atau Khilafat dan menjadikannya barang cemoohan. Jadi, ini adalah peringatan untuk mereka, yang mengatakan dirinya Muslim. Ini adalah peringatan untuk para para Ahmadi yang lemah, yang bukannya berdoa demi tegak dan teguhnya Khilafat malahan justru terus mencari-cari celah untuk mengajukan keberatan.

Sekarang contohnya, seseorang menulis kepada saya, yakni masalah yang awal tadi, “Anda menjadi Khalifah dengan membuat rencana besar.” Apa rencananya? Yaitu, “Pengumuman kewafatan Hadhrat Khalifatul Masih keempat di Al-Fazl dan MTA disampaikan oleh anda, supaya orang-orang memberikan perhatian kepada anda?” Innaa lillaahi. Saya terpaksa melakukannya karena sesuai peraturan, disebabkan kedudukan saya sebagai Nazir A’laa harus melakukan ini. Pendeknya, orang yang menulis ini pun tidak punya keberanian, karena surat ini tidak ada namanya. Jadi, orang seperti ini dia sendiri munafik. Jika tidak yakin pada Khilafat maka tidak ada faedahnya menjadi Ahmadi. Kemudian seandainya pun orang seperti ini membuktikan dirinya sebagai Ahmadi, maka dia munafik.

Ringkasnya, saya beritahukan, waktu itu keadaan saya adalah, ketika nama saya disebut, saya gemetar dan terus berdoa supaya tidak ada yang mengangkat tangan untuk [memilih] saya. Keadaan saya selama proses itu, saya tahu, dan Tuhan saya tahu. Adalah hal yang bodoh jika ada yang berpikir bahwa ada yang mengajukan dirinya sendiri untuk Khilafat. Umumnya, ketika orang lain bertanya kepada saya, saya memberikan jawaban Hadhrat Khalifatul Masih ketiga berikut ini, seseorang juga bertanya kepada beliau rha, “Apakah anda tahu bahwa anda akan terpilih sebagai Khalifah?” jawaban beliau adalah, “Tidak ada seorang pun yang berakal yang bisa memikirkan hal ini.” Jadi, penulis surat ini, entah menganggap saya bodoh – dan perkataannya sendiri membantah hal ini (yang darinya nampak bahwa orang ini [Khalifah kelima] tidak bodoh) karena dia sendiri mengatakan, “Anda (Hudhur) mengajukan nama sendiri dengan cerdik.” Pendeknya setiap kesempatan setan menjalankan muslihatnya.

Hadhrat Rasulullah saw menyatakan bahwa rangkaian Khilafat setelah Hadhrat Masih Mau’ud adalah untuk selamanya. Sebagaimana terbukti dari hadist ini. Sekarang saya akan menyampaikan hal yang menjadi jaminan, bahwa Khilafat akan tetap tegak dalam Jemaat Ahmadiyah.

Hadhrat Hudzaifah ra. menjelaskan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kenabian akan tegak diantara kalian sampai yang Allah kehendaki. Kemudian Dia akan mengangkatnya dan akan tegak Khilafat ‘alaa minhaajin nubuwwah (Khilafat diatas jalan kenabian). Kemudian ketika Allah kehendaki juga akan mencabut nikmat itu. Kemudian sesuai dengan takdirnya akan berdiri kerajaan yang kejam. Ketika masa ini berakhir, maka akan berdiri kerajaan lebih lalim dari itu sampai masa yang Allah kehendaki. Kemudian Allah juga akan mengangkatnya. Setelah itu akan berdiri Khilafat ‘alaa minhajin nubuwwah (Khilafat diatas jalan kenabian) dan setelah mengatakan hal itu beliau diam.”[2]

Sesuai dengan kabar dari Nabi saw, [Khilafat] yang akan berdiri kembali di akhir zaman ini, akan berdiri dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud as Jadi, diamnya beliau saw memberitahukan bahwa silsilah Khilafat yang akan dimulai setelah Hahdrat Masih Mau’ud as ini tidak akan terputus. Ini adalah takdir Ilahi dan tidak ada pembuat fitnah, bahkan tidak ada orang yang punya kekuatan mengubah takdir Ilahi. Itulah dia Kudrat Tsaniyah (Kudrat Kedua) atau Nizham Khilafat yang sekarang ini, yang insya Allah akan tetap tegak dan jangka masanya itu tidak ada hubungannya dengan jangka waktu kekhalifahan setelah Hadhrat Rasulullah saw, jika dimaksudkan bahwa itu (Khilafat Rasulullah) 30 tahun. Harap diketahui, bahwa masa 30 tahun Khilafat beliau saw itu sesuai dengan nubuatan beliau saw sendiri.[3] Sedangkan masa selamanya dari Khilafat ini (Khilafat Imam Mahdi) juga sesuai dengan nubuatan beliau saw.

Apa yang akan terjadi sampai waktu kiamat, Allah yang lebih mengetahui. Tapi saya beritahukan bahwa masa Khilafat ini akan terus berjalan sampai anak, cucu, cicit, sampai keturunan anda-anda sekalian yang tidak terhitung, insya Allah Ta’ala. Dengan syarat kebaikan dan ketakwaan tetap tegak dalam diri anda. Oleh karena itu, untuk tetap tegak dalam hal itu, sejak dulu saya menyampaikan rangkaian khotbah dan lain-lain mengenai masalah-masalah tarbiyat. Janji atau kabar yang Allah Ta’ala berikan kepada Rasulullah saw, Allah Ta’ala juga memfirmankan dan memperbarui kabar itu kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Demikianlah, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Jadi, Dia (Allah Ta’ala) menyatakan dua macam kudrat: Pertama, dengan tangan para Nabi diperlihatkan-Nya tangan kudrat-Nya. Kedua, sepeninggal Nabi, di waktu menghadapi kesukaran-kesukaran, sedang musuh lagi berusaha sekuat tenaga dan menyangka bahwa sekarang usaha gagal, dan mereka yakin, bahwa sekarang Jemaat ini akan hancur. Orang-orang dari kalangan Jemaat pun jadi merasa ragu-ragu. Mereka jadi putus pengharapan, malah beberapa yang sial diantaranya, mereka menyimpang ke jalan murtad. Dalam keadaan demikian Allah Ta’ala untuk kedua kali menunjukkan kudrat-Nya yang amat kuat, dan Jemaat yang hampir akan roboh itu disambut-Nya kembali.

Jadi, orang yang sabar sampai akhir, ia akan menyaksikan mukjizat Allah Ta’ala ini. Sebagaimana telah terjadi di waktu Hadhrat Abu Bakar Siddiq ra., ketika Rasulullah saw wafat yang disangka orang bukan pada waktunya, dan banyak diantara orang-orang dusun yang bodoh balik murtad dan sahabat-sahabat ra. pun karena terlampau sedihnya – hampir-hampir seperti fila rupanya; pada ketika itulah Allah Ta’ala menegakkan Hadhrat Abu Bakar Siddiq ra. untuk memperlihatkan kudrat-Nya kedua kali, dan Islam yang hampir-hampir akan tumbang itu ditopang-Nya kembali. Dan janji yang difirmankan-Nya ditepati-Nya, yaitu:

وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ

Yakni: Akan Kami kuatkan lagi kaki mereka sesudah kecemasan dan ketakutan.

Begitu pula kejadian di waktu Hadhrat Musa as, ketika wafat di perjalanan antara Mesir dan Kanaan sebelum beliau dapat membawa Bani Israel ke tempat yang dituju menurut perjanjian. Wafat beliau menyebabkan suatu kesedihan yang luar biasa di kalangan Bani Israel. ……….sebab itu wahai saudara-saudara! Karena sejak dahulu begitulah sunnatullah, bahwa Allah Ta’ala menunjukkan dua kudrat-Nya, supaya diperlihatkan-Nya bagaimana cara menghapuskan dua kegirangan yang bukan-bukan dari musuh, maka sekarang tidak mungkin Allah Ta’ala akan meninggalkan sunah-Nya yang tidak berubah-ubah itu. Maka janganlah kamu bersedih hati karena uraianku yang aku terangkan di mukamu ini. Jangan hendaknya hatimu jadi kusut, karena bagimu perlu pula melihat kudrat yang kedua.

Kedatangannya kepadamu adalah membawa kebaikan, karena dia selamanya akan tinggal bersama kamu, dan sampai kiamat silsilahnya tidak akan putus-putus. Kudrat Kedua itu tidak dapat datang sebelum aku pergi; akan tetapi bila aku pergi, maka Tuhan akan mengirimkan Kudrat Kedua itu kepadamu, yang akan tinggal bersam kamu selama-lamanya; sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam Barahin Ahmadiyah. Janji itu bukan untuk aku, melainkan untuk kamu. Seperti firman Tuhan, ‘Aku akan memberi kepada Jemaat ini. Yaitu pengikut-pengikut engkau kemenangan diatas golongan-golongan lain sampai kiamat.’

Dari itu mestilah datang kepadamu hari perpisahanku, supaya sesudah itu baru datang hari yang jadi hari perjanjian kekal. Tuha kita adalah Tuhan yang menepati janji, setia dan benar. Dia akan memperlihatkan kepadamu segala apa yang sudah dijanjikan-Nya. Meskipun masa ini adalah masa akhir dunia serta banyak malapetaka akan tiba, tetapi mestilah dunia akan tetap berdiri sebelum segala hal yang dikhabarkan Tuhan itu terjadi semuanya. Aku lahir sebagai suatu khudrat dari Tuhan. Aku adalah kudrat Tuhan yang berjasad. Kemudian sesudah aku ada lagi beberapa wujud yang jadi mazhar (cerminan) Kudrat Kedua.

Sebab itu senantiasalah kamu berhimpun sambil berdoa, menanti kudrat Tuhan yang kedua itu.

Hendaknya tiap Jemaat para salihin di tiap negeri senantiasa berhimpun dan terus-menerus berdoa supaya Kudrat Kedua turun dari langit. Dan kepada kamu diperlihatkan, bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Kuasa. Anggaplah ajalmu telah dekat. Kamu tidak tahu bila saat itu akan tiba.

Hendaknya orang-orang suci Jemaat yang berjiwa bersih, sepeninggalku menerima baiat atas namaku dari orang-orang. (maksudnya bukan dalam satu waktu ada banyak orang, maksudnya adalah di waktu yang berbeda akan terus ada)

Allah Ta’ala menghendaki agar semua ruh yang berdiam di seluruh pelosok bumi, baik di Eropa ataupun di Asia, semuanya yang bertabiat baik akan ditarik kepada tauhid dan akan dihimpun-Nya di dalam satu agama. Inilah kehendak Allah, yang karenanya aku diutus ke dunia

Ikutilah olehmu kehendak ini, tetapi dengan lemah-lembut, dengan akhlak dan dengan banyak berdoa. Dan sebelum ada yang berdiri dengan beroleh Ruhulqudus dari Tuhan, sementara itu bekerjalah semuanya bersama-sama sepeninggal aku.”[4]

Jadi, perhatikanlah! betapa jelasnya ini, “Allah Ta’ala berjanji kepadaku, ‘Aku akan memenangkan Jemaat yang mengikuti engkau, yang beriman kepada engkau diatas yang lain. Kemenangan ini akan terjadi karena berdiri pada tauhid dan berkumpul pada satu tangan.” Allah Ta’ala tidak berfirman, “Aku akan menegakkan orang dari keluarga tertentu atau dari negara tertentu yang akan berusaha untuk menguatkan agama”, bahkan berfirman, “Jemaat orang-orang saleh di setiap negara berkumpullah dan sibuklah dalam doa.”

Jadi daripada memperlihatkan kepandaian dan kecerdikan, jadilah orang saleh dan sibuklah dalam doa, supaya nikmat Khilafat ini tetap berjalan diantara kalian. Seperti yang saya katakan untuk menjaga tetap tegaknya kehormatan ini seandainya ini datang pada orang-orang dari negara tertentu atau datang pada khandaan (keluarga) Hadhrat Masih Mau’ud as, maka untuk menegakkannya, diperlukan doa-doa dan amal saleh. Karena ini adalah janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa kudrat ini untuk selamanya. Tidak ada keraguan didalamnya, tapi bersama kudrat kekal itu ada syarat-syarat. Amal saleh.

Sekarang juga, seperti tahun lalu, saya ingin menjelaskan pemandangan keikhlasan dan kesetiaan para Ahmadi yang saya lihat dalam kunjungan ke berbagai negara kali ini. Sebagian hanya bisa dirasakan, tidak bisa dijelaskan. Di suatu daerah yang sangat terpencil di Tanzania, dimana jalannya sangat rusak, sehingga untuk pergi dari satu kota ke kota lain, 600-700 km kadang-kadang ditempuh dalam 8-10 hari. Kami pergi ke sebuah kota yang agak besar di daerah itu, di mana terdapat bandara kecil, dengan pesawat kecil. Di sana orang-orang dari sekeliling juga datang untuk bertemu. Semangat dalam diri mereka dapat dilihat. Banyak tempat di sana yang tidak punya sarana MTA. Karena itu tidak dapat dikatakan bahwa hubungan ini timbul setelah melihat MTA dan melihat tayangan. Semangat ini memberitahukan, bahwa orang-orang yang beramal baik itu memiliki kecintaan dan hubungan yang istimewa dengan Khilafat sehingga bagi saya pun sulit untuk menjelaskan ghairat mereka ketika bersalaman. Saya akan memberikan satu contoh. Untuk bersalaman orang membentuk barisan. Seseorang mengajukan tangan, bersamaan dengan itu dia mulai menangis karena diliputi ghairat (rasa haru dan semangat). Apakah penngungkapan hubungan ini, kecintaan ini, berhubungan dengan dengan negara atau kerajaan, ataukah ditanamkan oleh Tuhan di dalam hati.

Seorang Ahmadi lama sakit parah karena lumpuh berkeras menempuh jarak 40-50 km untuk berjumpa dengan saya. Karena lumpuh, tangannya bengkok, dengan tangan yang bengkok itu dia memegang tangan saya dengan kuat sehingga saya merasa seperti tangan saya dijepit penjilid buku. Apakah ada yang memperlihatkan kepedulian sebesar itu untuk orang duniawi. Jadi ada berbagai bentuk ghairat. Beginilah keadaan dalam diri para Ahmadi di daerah terpencil di Kenya. Demikian pula ghairat para Ahmadi yang tinggal di daerah terpencil di Uganda. Bacalah laporan yang akan diterbitkan, kalian akan tahu sendiri betapa kadar keikhlasan orang-orang untuk Khilafat. Insya Allah Ta’ala, amal baik dan keikhlasan dalam Jemaat Ahmadiyah ini akan terus menjadi dikarenakan tetap tegak dan teguhnya Khilafat.

Saya akan menyampaikan satu kutipan lain dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as bersabda, “Ingatlah! Meskipun di dalam Al-Qur’anul Karim banyak sekali ayat semacam ini yang memberikan kabar suka Khilafat yang kekal dalam umat, dan Hadist pun sangat banyak tentang hal ini, tetapi secara praktis cukuplah menulis sebatas ini bagi orang-orang itu, yang menganggap kebenaran yang telah terbukti itu sebagai keberuntungan besar dan menerimanya. Tidak ada prasangka buruk yang lebih besar terhadap Islam selain menganggapnya sebagai agama yang mati dan berkat-berkatnya hanya terbatas pada qarn awwal (generasi, pengikut awal).”[5]

Jadi setelah ini, tidak ada lagi alasan yang tersisa bagi kita untuk berbantah mengenai Khilafat akan berdiri sampai kapan dan kapankah (bilakah) akan berganti menjadi kerajaan. Insya Allah Ta’ala, orang-orang yang beramal baik akan terus lahir dan rangkaian Khilafat akan terus berjalan. Sebagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, bahwa tidak ada prasangka buruk yang lebih besar selain menganggap Islam sebagai agama yang mati dan berkat-berkatnya hanya terbatas pada orang-orang di masa awal. Hanya terbatas di tahun-tahun awal, yang merupakan tahun-tahun awal Islam. Demikian pula, merupakan suatu prasangka buruk dengan mengatakan bahwa sebagaimana dulu ada 4 Khilafat di masa awal [setelah masa Nabi saw], akan datang pula empat Khilafat saja (di dalam Jemaat), lalu berhenti. Allah Ta’ala hanya punya kekuatan demikian yaitu menganugerahkan nikmat Khilafat sekitar tiga kali lipat dibandingkan Khilafat Rasyidah pertama.[6] [Saya tidak kuasa berkata apa-apa selain mengucapkan,] Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Seperti yang saya perlihatkan dari Hadits dan kutipan Hadhrat Masih Mau’ud, bahwa jika ada yang berpikiran demikian, itu adalah keliru. Allah Ta’ala menyempurnakan janji-Nya. Ya, setiap orang dari kalian hendaknya memikirkan amal masing-masing.

Sekarang, saya kembali bahas orang itu, yang berusaha menciptakan keraguan dalam hati sebagian orang dengan secara sangat cerdik (licik) menyebarkan artikel itu. Dia berusaha menjadikan orang-orang yang mungkin jatuh dalam pemikiran itu sebagai alat. Tapi dia tidak tahu bahwa kebanyakan anggota Jemaat memiliki kesetiaan dan kecintaan sejati kepada Khilafat dan orang-orang yang dikirimi artikel ini, mereka melaporkannya kepada Nizham atau kepada saya dan mengirimkannya kepada kami. Setan melakukan satu muslihat tetapi itu tidak berhasil. Tetapi, kewajiban saya adalah memberitahukan kepada Jemaat supaya di masa mendatang mereka berhati-hati dan waspada.

Orang itu menekankan perkataan Mia Basyir Ahmad sahib, “Setelah seorang Nabi, rangkaian Khilafat pengganti tidak berjalan selamanya, tapi hanya sampai ketika Allah menganggap perlu untuk menyempurnakan pekerjaan kenabian dan setelah itu, tibalah masa kerajaan, (Khilafat) tidak akan berlanjut. Khalifah tidak silih berganti. Secara rohaniah rangkaian itu akan berakhir.” Tetapi, di sini jelas untuk ditanyakan bahwa apakah misi Hadhrat Masih Mau’ud as sudah sempurna? Seperti yang telah saya katakan, ini adalah pemikiran pribadi Hadhrat Mia Sahib, dan mengenai hal itu, saya membaca kalimat yang serupa di satu atau dua tempat lain berkenaan dengan topik ini. Tapi orang itu juga membaca kalimat berikut ini dalam artikel Hadhrat Mia Sahib tersebut, yaitu mengenai tanda-tanda para Khalifah yang benar. Beliau ra menulis mengenai hal ini, “Tanda pertama dan yang nampak adalah bahwa Jemaat orang-orang mukmin dengan suara bulat atau suara mayoritas memilih seseorang sebagai Khalifah.”

Sekarang, orang ini coba beritahukan apakah dalam pemilihan Khalifah kelima hal ini tidak terjadi? Banyak sekali anggota majelis intikhab (pemilihan) yang tidak mengenal saya, tapi dibawah takdir Ilahi mereka memberikan suara untuk saya, dan kebanyakan berkata, “Dalam hati kami timbul gerakan dari Tuhan.” Hadhrat Mia Sahib pun menjelaskan hal ini dalam artikel tersebut. Pendeknya, saya bicara dengan merujuk pada Mia Sahib karena di dalam artikel itu sendiri terdapat jawabannya dan juga supaya kalian tidak tergesa-gesa.

Kemudian beliau menulis, “Tanda kedua yang karena termasuk dalam tanda batiniah memerlukan perhatian dan penelaahan. Itu adalah ayat istikhlaf Quran Karim yakni,

وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ

“Dan akan mengaruniakan keteguhan kepada agama mereka yang Dia sukai untuk mereka, bagi mereka. Dan akan menggantikan, setelah keadaan takut mereka menjadi keamanan.”

Beliau menulis, “Setelah kewafatan setiap Khalifah umumnya di Jemaat terjadi satu gempa. Orang-orang Jemaat menjadi takut. Pada waktu seperti itu sudah menjadi sunnah Tuhan bahwa Dia menganugerahkan ketenteraman dan keteguhan dengan perantaraan Khalifah yang telah ditetapkan-Nya.”

Sekarang, setiap orang dari antara kalian menjadi saksi, bahkan setiap Ahmadi di dunia menjadi saksi, setiap anak menjadi saksi, bahwa kondisi ketakutan yang terjadi setelah kewafatan Hadhrat Khalifatul Masih keempat rh. apakah Allah tidak mengubahnya menjadi ketenteraman? Jika dalil ini tidak cukup bagi orang itu, maka semoga Allah merahimi.

Tanda ketiga, Hadhrat Mia sahib memberitahukan tanda kegemaran beliau ra, “Allah Ta’ala sedikit banyak mengungkapkan kepada Nabi, siapa yang akan menjadi (Khalifah) di masa mendatang.” Pendeknya, hubungannya adalah dengan Nabi. Tidak harus bahwa tiap tempat diperlihatkan kepada seorang Nabi.

Jadi saya mengatakan kepada orang itu dengan kata-kata Hadhrat Mia Sahib bahwa kenalilah kadar zaman ini, dan tinggalkanlah contoh yang baik untuk keturunan kalian di masa mendatang supaya keturunan yang di belakang mengingat kalian dengan kecintaan dan kebanggaan, dan mengingat kalian diantara orang-orang yang membangun Ahmadiyah, bukan yang (berusaha) merusaknya. Pendeknya saya ingin memberitahukan bahwa ketika artikel ini dulu telah disebarkan, seperti yang saya sampaikan di awal, Hadhrat Khalifatul Masih Tsani juga menulis tanggapannya. Maka ayah saya, Sahibzada Mirza Mansoor Ahmad Sahib menulis kepada Hadhrat Khalifatul Masih Tsani, “Saya tidak sependapat dengan artikel Hadhrat Mia Sahib ini, bagian yang mengenai kerajaan.” Dari sebagian tulisan dan ilham-ilham Hadhrat Masih Mau’ud as, hal (pendapat) ini tidak terbukti.

Saya ingin memberitahukan bahwa surat yang Ayah saya tulis kepada Hadhrat Khalifatul Masih Tsani, juga sudah saya baca. Suatu hari saya sedang melihat dokumen-dokumen lama, saya menemukannya di situ dan didalamnya juga terdapat catatan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani bahwa, ‘Pendapat anda benar.’ (karena tulisannya sudah cukup lama) saya ingat beliau juga menulis, Khilafat Ahmadiyah tidak akan berganti dengan kerajaan. Pendeknya, Hadhrat Khalifatul Masih Tsani lalu menyebarkan sebuah pesan dalam Al-Fazl, yang akan saya bacakan supaya kesalahpahaman dalam pikiran mereka hilang. Ini bisa disebut kebetulan, seperti yang saya beritahukan, atau takdir Ilahi bahwa dengan perantaraan ayah sayalah pada waktu itu timbul perhatian Khalifah-e-Waqt kepada hal itu, dan beliau menjelaskannya.

Demikianlah beliau ra bersabda, “Yang terhormat Mirza Mansoor Ahmad telah menarik perhatian saya pada satu artikel, yang disebarkan oleh Mirza Basyir Ahmas Sahib berkenaan dengan Khilafat dan beliau menulis, ‘Mungkin saya tidak memperhatikan sepenuhnya satu segi artikel itu yang didalamnya Tn. Mirza Basyir Ahmad menulis bahwa daur (masa) Khilafat berdasarkan sebuah Hadits, adalah sementara. Sebelum surat itu saya tidak membaca artikel ini. Berdasarkan surat itu saya mengetahui bagian dari artikel tersebut, maka saya paham bahwa di dalamnya tidak disampaikan fakta yang benar mengenai Khilafat. Dalam Hadits itu tidak dijelaskan suatu ketetapan, tetapi dinubuatkan mengenai keadaan-keadaan sepeninggal Rasul Karim saw dan nubuatan itu hanya berkaitan dengan satu waktu. Tidak berkaitan dengan semua waktu.

Itu artinya, bahwa sepeninggal Rasul Karim saw akan ada Khilafat, dan setelah Khilafat akan ada kerajaan yang lalim, dan demikianlah yang terjadi. Dari situ (Hadits tersebut) tidak dapat disimpulkan, ‘Demikianlah yang akan terjadi setelah wafatnya setiap utusan (Rasul dan Nabi).’ Dalam Quran Karim, dimana disebutkan tentang Khilafat, disana diberitahukan bahwa Khilafat adalah suatu nikmat. Jadi, selama suatu kaum berhak menerima nikmat itu, dia akan terus menerima nikmat itu. Sejauh berkenaan dengan ketetapan dan hukum, itu hanyalah bahwa sepeninggal setiap Nabi ada Khilafat, dan Khilafat itu akan terus berlangsung selama kaum itu sendiri tidak meluputkan [tidak membuat hilang] dirinya dari nikmat Khilafat. Tapi, dari pokok mendasar itu tidak dapat disimpulkan bahwa Khilafat mesti pupus.

Khilafat Hadhrat Isa as sampai sekarang terus berlangsung. Tidak diragukan lagi bahwa kita mengatakan, Paus bukanlah Khilafat Hadhrat Isa as dalam pengertian yang benar. Tapi bersamaan dengan itu kita juga meyakini bahwa umat Kristen pun bukan umat Masih dalam pengertian yang benar. Jadi, sebagaimana yang serupa akan mendapatkan yang serupa, tapi tentu mendapatkan. Bahkan kita mengetahui bahwa sebagaimana sepeninggal Musa as, Khilafat beliau hanya sementara, tapi sepeninggal Hadhrat Isa as, Khilafat beliau dalam suatu corak tetap tegak sampai ribuan tahun. Begitu pula, meskipun sepeninggal Rasul Karim saw, Khilafat Muhammadiyah keberlangsungannya hanya sementara, tetapi Khilafat Masih Muhammadi, seperti Masih Musawi akan terus berlangsung sampai masa yang tidak ditentukan.

Hadhrat Masih Mau’ud as berkali-kali menekankan ketentuan ini bahwa Masih Muhammadi akan menyerupai Masih Musawi dalam hal-hal yang menunjukkan penyempurnaan dan keunggulan hal-hal itu kecuali masalah-masalah yang darinya sebagian mendapatkan musibah. Dalam hal itu, hukum Muhammadi unggul diatas hukum Musawi dan menciptakan perubahan yang baik. Seperti, al-Masih awal digantung diatas salib, tapi al-Masih kedua tidak digantung diatas salib. Sebab, di belakang al-Masih awal adalah kekuatan Musawi, sedangkan di belakang al-Masih kedua adalah kekuatan Muhammadi. Karena Khilafat adalah sebuah nikmat, bukan musibah, karena itu kepada Ahmadiyah bisa datang hal-hal yang lebih baik dari yang didapatkan al-Masih awal, tapi dia tidak bisa dimahrumkan dari nikmat-nikmat yang didapatkan umat Masih awal. Karena pada generasi al-Masih awal terdapat berkat Musawi, dan pada generasi Masih kedua terdapat berkat Muhammadi.

Jadi menurut saya, pertengkaran ini bukan hanya tidak berguna, tapi berbahaya karena kita telah mulai bertengkar mengenai masa Khilafat [berdebat tentang sampai kapan Khilafat Ahmadiyah ini tetap akan ada? Red.], selain itu jelas bahwa dalam silsilah Ahmadiyah Khilafat akan berlangsung sampai masa yang sangat panjang, yang sekarang tidak bisa diperkirakan. (yakni, mengenai masa yang panjang itu tidak bisa diperkirakan, bahwa ini akan sampai kapan) Jika –na’udzubillah– ada jeda diantaranya, itupun bukan jeda hakiki, tapi suatu jeda seperti sungai kadang-kadang masuk kedalam tanah kemudian keluar lagi. Karena yang terjadi pada masa Islam awal, itu adalah khusus untuk zaman itu, itu bukanlah ketetapan untuk setiap zaman.”[7]

Jadi penjelasan Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ini menurut pendapat saya cukup karena beliau mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala. Beliau adalah seorang Khalifah, Mushlih Mau’ud. Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa beliau (Khalifah Tsani) ra akan dipenuhi ilmu lahiriah dan batiniah. Bagaimanapun juga, melawan Khalifah, jika ada yang mau, sepandai apapun dia, tetap saja akan kalah. Karena, untuk petunjuk dan perbaikan Jemaat, Allah Ta’ala mengeluarkan lafaz-lafaz dari Khalifah, yang sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Jadi, setiap Ahmadi hendaknya berusaha, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, jangan terjatuh dalam hal laghaw (absurd, sia-sia) dan tidak berguna. Berdoalah untuk teguhnya Khilafat supaya berkat Khilafat tetap tegak diantara kalian.

Sejauh berkaitan dengan saya, jika kesalahan saya terlihat maka beritahukan kepada saya. Tapi kalian tidak punya hak duduk di setiap tempat atau dengan teman-teman tertentu (dari beberapa tempat diterima laporan seperti ini) mengatakan, ‘Dia (Khalifah) punya kekurangan ini atau kelemahan ini.’ Jika berniat baik maka beritahukan kepada saya.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra. di satu tempat lain bersabda, ‘Saya mengerti bahwa jika Jemaat Ahmadiyah tetap tegak pada iman kepada Khilafat dan terus melakukan usaha yang benar untuk tegaknya, dengan karunia Allah Ta’ala, silsilah Khilafat ini akan terus tegak sampai kiamat, dan tidak ada setan yang bisa meletakkan rintangan di dalamnya.”[8]

Oleh karena itu, setiap Ahmadi hendaknya memperhatikan hal ini dan meraih karunia-karunia yang telah Allah Ta’ala janjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, dengan perantaraan doa-doa. Ingatlah pengorbanan nenek moyang kalian dan ingatlah selalu mereka yang banyak sekali memberikan pengorbanan untuk tegak dan teguhnya Khilafat. Diantara kalian banyak sekali orang yang duduk di depan saya, atau bisa memahami perkataan saya dalam bahasa saya. Ciptakanlah perubahan khusus dalam diri kalian. Majulah dalam iman dan keikhlasan lebih dari sebelumnya.

Lihatlah kearah orang-orang yang walaupun tidak bisa memahami bahasanya secara langsung, walaupun sedikit sekali menjalin hubungan, banyak sekali orang yang dalam hidupnya baru pertama kali melihat Khalifah, namun keikhlasan dan kesetiaan mereka lebih besar. Misalnya, di Uganda ketika kami turun dan keluar dari mobil, seorang wanita terus berlari menyertai sambil membawa anaknya, anak usia 2 ½ tahun. Dari pandangannya bisa dikenali, nampak satu hubungan dengan Khilafat dan Jemaat, terlihat hubungan kesetiaan. Anak itu tidak memperhatikan saya. Setelah agak lama sedikit-sedikit dia memalingkan wajah anak itu kemari (kearah saya), yakni, ‘Lihatlah.’ Dan dia terus berlari sampai cukup jauh. Begitu terburu-buru sehingga mulai terguncang-guncang, tapi dia tidak peduli. Akhirnya ketika pandangan anak itu tertuju pada saya, anak itu melihat dan tersenyum, melambaikan tangan. Ketika itulah ibunya menjadi tenang. Keceriaan dan senyuman di wajah anak itu, itu seperti yang terlihat dari ribuan lainnya. jadi, selama terus lahir ibu yang seperti ini, yang dari pangkuannya tumbuh anak-anak yang mencintai Khilafat, sampai waktu itu tidak ada bahaya terhadap Khilafat Ahmadiyah.

Jadi, seperti yang sebelumnya saya katakan, Allah Ta’ala bukanlah keluarga seseorang. Dia memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada orang-orang yang beriman, yang juga beramal saleh. Dan menyempurnakan janji-Nya. Jadi, kasihanilah dirimu sendiri, kasihanilah keturunanmu, dan daripada sibuk dalam pertengkaran yang sia-sia, daripada duduk di majelis para petengkar seperti itu, perhatikanlah perintah dan janji Allah Ta’ala dan perkuatlah Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as. Jemaat, sekarang dengan karunia Allah Ta’ala telah menyebar luas. Karena itu hendaknya jangan ada yang berpikiran bahwa keluarga kita, negara kita, dan suku bangsa kitalah yang menjadi standar Ahmadiyah. Yang menjadi standar Ahmadiyah adalah orang-orang yang beramal baik dan berpegang teguh pada Khilafat.

Tiga tahun lagi Khilafat akan menyempurnakan 100 tahun. Sebelum perayaan 100 tahun Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Khalifatul Masih ketiga menarik perhatian, mendorong Jemaat kepada beberapa doa. Sekarang pun saya kembali menarik perhatian kepada doa-doa itu. Pertama, pada waktu itu beliau bersabda, bacalah surat Al-Fatihah 7 kali setiap hari. Jadi bacalah surat Al-Fatihah dengan penuh perhatian, supaya selamat dari segala macam fitnah dan dajjal.

Bacalah banyak-banyak doa,

‘Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabraw wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.’ dan bersamaan dengan itu saya juga menarik perhatian pada satu doa lain yang tidak termasuk dalam doa-doa sebelumnya, yakni

‘Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa mil ladunka rahmatan innaka antal Wahhaab.’

Ini juga doa yang sangat penting dan baik untuk meluruskan hati. Setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Nawab Mubarakah Begum Sahibah melihat dalam mimpi bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as datang dan bersabda, bacalah banyak-banyak doa ini. Lalu bacalah, اللَّهُمَّ اِنَّا نَجْعَلُكَ فِى نُحُوْرِهِمْ وَ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ ‘Allahumma innaa naj’aluka fii nuhuurihim wa na’uudzubika min syuruurihim.’ Kemudian membaca istighfar, اَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّى مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَ اَتُوْبُ اِلَيْهِ ‘Astaghfirullaha Rabii min kulli dzanbiw wa atuubu ilaihi.’

Kemudian banyaklah membaca shalawat. Wiridkanlah (dzikir-dzikir tersebut diatas). Dalam tiga tahun mendatang setiap Ahmadi hendaknya memberi perhatian kepada hal ini. Kemudian, untuk kemajuan Jemaat, serta tegak dan teguhnya Khilafat, kerjakanlah dua rakaat shalat nafal setiap hari.

Setelah itu, saya ingin mengatakan bahwa jika ada yang dalam hatinya terdapat keburukan, maka beristighfarlah, dan hilangkan itu. Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyebar sedemikian rupa dan dengan karunia Allah Ta’ala maju dalam keimanan. Sehingga walaupun tidak ada sarana rabtah, insya Allah Ta’ala tidak ada makar, skema untuk menjauhkan dari Khilafat, yang akan pernah berhasil.

Saya ingin memberitahukan bahwa walaupun saya kembali dari kunjungan ke 3 negara Afrika selatan, dan juga berusaha untuk mencapai Jemaat-Jemaat miskin di dalam negeri. Tapi orang-orang dari negara-negara lain seperti Ethiopia, Somalia, Burundi, Kongo, Mozambik, Zambia, Zimbabwe, juga datang sebagai perwakilan dan diadakan mulaqat juga dengan mereka. Sebagian orang, walaupun tidak ada sarana perjalanan dan jalan yang rusak, datang menempuh perjalanan sejauh 2500 km. Walaupun miskin, mereka datang dengan biaya sendiri. Mereka tidak mendapat bantuan. Orang-orang juga berkumpul untuk bertemu para pemimpin dan raja-raja duniawi, tapi di sebagian tempat mereka dikumpulkan (tidak datang sendiri-pent). Di Pakistan dan tempat lainnya kebanyakan demikianlah yang terjadi. Mereka datang karena dikumpulkan, kemudian orang-orang malang itu tidak punya uang untuk pulang. Tapi itu adalah orang-orang dari negara mereka (sesama bangsa), mereka berkumpul untuknya. Tapi, seseorang yang bukan kaum mereka, tidak mengetahui bahasa mereka, tidak ada yang dipahaminya. Kalaupun ada persamaan, itu adalah satu hal, yakni mereka adalah Ahmadi dan memiliki hubungan dengan Khilafat. Karena itulah mereka datang dengan penuh kegelisahan dan jelas mereka memiliki kecintaan kepada Khilafat, Hadhrat Masih Mau’ud as dan Rasulullah saw. Dan yang paling utama, karena berusaha mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala lah mereka menanggung kesulitan seberat ini.

Jadi, selama terus lahir orang-orang seperti ini, dan insya Allah Ta’ala akan terus lahir, dengan karunia Allah Ta’ala Jemaat Ahmadiyah sesuai dengan janji-janji Allah Ta’ala akan terus menerima nikmat-nikmat yang telah Allah sebutkan itu, Yang Rasul-Nya saw dan Hadhrat Masih Mau’ud as telah beritahukan kepada kita. Semoga Allah Ta’ala selalu memajukan setiap Ahmadi dalam keikhlasan, kesetiaan, dan amal saleh, dan selalu memiliki hubungan dengan Khilafat.

Dalam masa kunjungan itu ada juga sebuah kejadian yang menyedihkan yang berpengaruh besar pada hal itu. Dari Zambia datang satu perwakilan. Ketika pulang mereka mengalami kecelakaan, dimana seorang muallim kita yang ditugaskan di Ghana, Tn. Ibrahim beserta lima orang lain syahid. Di dalamnya juga ada seorang sopir ghair Ahmadi. Tapi kecelakaan itu tidak menyebabkan kelemahan dalam iman mereka bahkan hubungan orang-orang yang selamat serta keluarga orang-orang yang wafat semakin kuat dengan Jemaat. Mereka menganggapnya sebagai takdir Allah Ta’ala, dan merelakannya serta menyatakan bahwa maut bisa datang dimana saja. Semoga Allah Ta’ala semakin memperkuat keimanan mereka yang hidup. Semoga Allah Ta’ala meliputi mereka yang wafat dengan rahmat dan maghfirat-Nya.

Mubaligh kita di Ghana, beliau orang yang setia, pemuda yang sangat tampan. Sampai sekarang wajahnya yang tersenyum berputar-putar di hadapan saya. Pada waktu mulaqat beliau bertekad bahwa kami akan menyampaikan pesan Jemaat dan meningkatkan pekerjaan tarbiyat dari awal. Keluarga beliau yang malang juga ikut meninggal. Istri dan dua anak beliau pergi. Pada kejadian itu istri dan satu anak beliau juga syahid.

Seorang anak, yang usianya 5 tahun selamat. Bagaimanapun, kecelakaan itu sangat membekas pada pikiran anak itu. Berdoalah juga untuknya semoga di masa mendatang Allah Ta’ala menyelamatkannya dari setiap kesedihan. Semua jenazah itu dikirim ke Ghana dimana mereka dikuburkan. Semoga Allah meninggikan derajat mereka semua. Berdoalah untuk ketinggian derajat mereka. Setelah shalat Jum’at saya akan mengimami shalat jenazah ghaib untuk mereka.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Misykat Al-Mashabih, bab al-indzar wat tahdzir. Tercantum juga dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Kuffiyyiin (kabar-kabar dari orang-orang Kufah) Musnad An-Nu’man bin Basyir (Amir Kufah Zaman Muawiyah), jilid no. 6 halaman 285,Hadits nomor 19596 Alamul Kutub, Beirut-Lebanon, 1998.تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ.

[3]               Kitab Dalailun Nubuwwah (dalil-dalil kenabian) karya al-Baihaqi, bab fi ikhbarihi ‘an muddatil Khilaafah ba’dahu tsumma takuunu mulkan fakaana kamaa akhbara (bab tentang pengabaran mengenai jangka waktu Khilafah setelah beliau saw lalu berlaku Kerajaan dan telah terjadi apa-apa yang telah beliau kabarkan). Dari Ali bin Zaid, dari Abdur Rahman ibn Abi Bakrah, dari ayahnya yang berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda, خلافة نبوة ثلاثين عاما ثم يؤتي الله الملك من يشاء ‘Khilaafatun nubuwwatun tsalaatsiina ‘aaman tsumma yu-tiLlahul mulka may yasyaa-u.’ “Khilaafah Nubuwwah (Kepemimpinan KeNabian) terjadi selama 30 tahun, kemudian Allah memberikan mulk (kerajaan, kekuasaan) kepada siapa yang Dia kehendaki.” فقال معاوية قد رضينا بالملك Muawiyah berkata, “Kami suka dengan kerajaan.”

Di kitab yang sama juga tercantum hadits sabda Nabi saw, خلافة النبوة ثلاثون سنة ثم يؤتي الملك من يشاء أو قال ملكه من يشاء ‘Khilaafatun Nubuwwati tsalaatsuuna sanatan tsumma yu-til mulka may yasyaa-u aw qaala mulkahu may yasyaa-u.’

Dalam kitab Hadits Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi, Kitab ke-48, yaitu tentang al-manaqib (keutamaan), membahas keutamaan Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhum ajma’in, dalam kitab Hadits Musnad Ahmad ibn Hanbal, dalam hadits Safinah maula/pembantu Rasulullah saw, dalam kitab Hadits Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Fitan (tentang fitnah-fitnah), Safinah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك “al-Khilaafah di dalam umatku selama 30 tahun dan setelah masa itu ialah mulk (kerajaan).” Safinah berkata, أمسك خلافة أبي بكر و خلافة عمر و خلافة عثمان “Peganglah Khilafat Abu Bakr, Khilafat Umar dan Khilafat Utsman.” Lalu ia berkata, أمسك خلافة علي قال فوجدناها ثلاثين سنة “Peganglah juga Khilafat Ali. Kita dapati semua Khilafat itu 30 tahun lamanya.” قال سعيد فقلت له إن بني أمية يزعمون أن الخلافة فيهم فقال كذبوا بنو الزرقاء بل هم ملوك من شر الملوك Menjawab pertanyaan tentang Banu Umayyah yang menyatakan diri Khalifah, perawi menjawab bahwa mereka menegakkan kerajaan, bukan Khilafat.

[4] Risalah Al Wasiyat, Ruhani Khazain jilid 20 hal. 304-307

[5] Syahadatul Quran, Ruhani Khazain jilid 6 hal 355

[6] Masa Khulafa-ur-Rasyidin atau Khilafat Rasyidah, yaitu Hadhrat Abu Bakr ra, Hadhrat Umar ra, Hadhrat Utsman ra dan Hadhrat Ali ra pada 11-40 H/632-661 Masehi, sekitar 30 tahun. Sedangkan masa Khilafat Ahmadiyah dari masa awal sampai zaman Khilafat keempat, yaitu dari 1908-2002, sekitar 90-an tahun.

[7] Al-Fazl 3 April 1952, halaman 3

[8] Tafsir Kabir jilid 6 hal. 390

(Visited 35 times, 1 visits today)