Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 4 Juni 2010 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ اْلملآئِكَةُ اَلاَّ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوْا وَ اَبْشِرُوْا بِاْلجَنَّةِ الَّتِىْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ.نَحْنُ اَوْلِيَآئُكُمْ فِى الْحَيوةِ الدُّنْيَا وَ فِى اْلآخِرَةِ.وَلَكُمْ فِيْهَا مَا تَشْتَهِىْ اَنْفُسُكُمْ وَ لَكُمْ فِيْهَا مَا تَدَّعُوْنَ.نُزُلاً مِّنْ غَفُوْرٍ رَّحِيْمٍ

 

‘Innalladziina qaaluu RabbunAllahu tsummas taqaamuu tatanazzalu ‘alaihimul malaa-ikatu allaa takhaafuu wa laa tahzanuu wa absyiruu bil jannatillatii kuntum tuu’aduuna nahnu aulaa-ukum fil hayaatid dunyaa wa fil aakhirati wa lakum fiihaa maa tastahii anfusukum wa lakum fiihaa maa tadda’uuna nuzulam min Ghafuurir Rahiim.’

“Sesungguhnya mereka yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan kami, kemudian beristiqamah (teguh pendirian), banyak malaikat turun kepada mereka seraya berkata, “Jangan takut dan bersedih serta berbahagialah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepada kamu. Kami menyertai kamu di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat juga. Di dalamnya terdapat segala sesuatu yang dikehendaki oleh jiwa kamu dan di dalamnya juga terdapat segala sesuatu yang diminta kamu. Ini adalah sebagai hidangan dari Tuhan yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang”. (Hā Mim Sajdah; :31-33).

Ini adalah terjemahan dari ayat-ayat yang telah saya tilawatkan. Dalam setiap minggu saya mendapat ribuan surat yang saya baca dan di dalamnya terdapat berbagai jenis surat. Ada yang menulis surat untuk permohonan doa karena sakit. Ada yang menulis untuk rekan-rekannya. Ada yang menulis surat untuk menghadiri acara-acara pernikahan. Ada yang mengekspresikan kegelisahannya dalam mencari hubungan kekeluargaan (rishtanata). Ada yang menceritakan keberkahan-keberkahan bisnis dan pekerjaan-pekerjaan serta masalah-masalah lain. Para pelajar menulis surat demi kelancaran-kelancaran dalam ujian dan orang tuanya juga menulis demikian.

Ringkasnya, demikianlah yang terjadi dan selain itu, ada juga berbagai jenis surat. Tetapi, dalam minggu yang lalu, saya mendapatkan ribuan surat yang melebihi ribuan surat yang biasa dan inti semua surat itu tertuju pada satu poin penting. Di dalamnya dituangkan perasaan-perasaan terhadap pensyahidan agung para syuhada Lahore. Semua perasaannya dituangkan. Ada yang sedih, ada terluka dan ada juga yang marah. Tetapi, dengan segera sikap emosi itu berubah bentuk menjadi kesabaran dan doa dalam kalimat selanjutnya. Semuanya telah lupa dengan masalah-masalah mereka sendiri. Surat-surat ini berasal dari Pakistan, negara-negara Arab, Hindustan, Australia dan pulau-pulau lainnya, Eropa, Amerika dan juga Afrika. Dari antara surat-surat itu jelas membuktikan bahwa bukan hanya Ahmadi keturunan Pakistan yang merasakan gejolak bahwa kezaliman telah terjadi pada orang-orang yang sebangsa dengan mereka. Kezaliman telah terjadi pada orang-orang Ahmadi Pakistan yang merupakan saudara-saudara mereka atau sebangsa dengan mereka. Bahkan, setiap penduduk negara yang dianugerahi taufik oleh Allah Ta’ala untuk bergabung dalam baiat kepada Masih Muhammadi, mengemukakan perasaannya dengan rintihan seperti halnya seorang kerabat yang memiliki ikatan darah menjadi sasaran kezaliman tersebut.

Saudara-saudara dan para kerabat dari mereka yang memperoleh kedudukan yang tinggi dan kemuliaan syahid ini, mereka menuliskan cerita mulia guna memberi penghiburan kepada saya tentang kesabaran dan istiqamah mereka atas syahidnya kerabat-kerabat yang mereka sayangi, anak-anak mereka, bapak-bapak mereka, saudara-saudara mereka dan suami-suami mereka.

Lalu, ketika kami mendapatkan banyak informasi, saya berupaya untuk berta’ziyah (menyampaikan simpati) ke setiap rumah melalui telepon. Jika ada yang tertinggal, tolong beritahu saya. Sebagaimana saya telah katakan, saya telah menelpon ke setiap rumah. Saya mendapati anak-anak, istri-istri, saudara-saudara, ibu-ibu dan bapak-bapak mereka ridha atas keridhaan Allah Ta’ala.

 Memang dalam surat-surat perasaan itu dapat disembunyikan, tetapi pada telepon, pesan ini bisa terdengar secara jelas dalam suara mereka yang penuh tekad, “Kami memprioritaskan firman Allah Ta’ala dan menampilkan reaksi orang-orang mukmin tanpa dibuat-buat dengan mengatakan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kami mengatakan dengan penuh kesadaran dan demi meraih keridhaan Allah Ta’ala bahwa kami bahagia atas ridha Allah Ta’ala. Apalah artinya satu dua pengorbanan saja. Kami siap mengorbankan segala sesuatu dan setiap tetes darah kami untuk jemaat Masih Mau’ud as. Karena itu, hari ini darah kami, pengorbanan-pengorbanan kami akan menampakkan dan mengumumkan Afdhalur Rusul dan Khaatamul anbiya, Hadhrat Muhammad Rasulullah saw ke dunia. Kamilah orang-orang yang akan menegakkan kembali contoh-contoh abad pertama Islam. Kamilah orang-orang yang akan menampilkan contoh-contoh agung para sahabat Rasulullah saw kepada mereka.”

 Setelah membaca dan mendengar semua surat dan curahan perasaan ini, saya tidak mampu mengungkapkan perasaan sendiri. Tetapi Allah Ta’ala telah menetapkan kami pada keyakinan dan menciptakan kekuatan di dalamnya bahwa untuk meraih maksud-maksud mulia Hadhrat Masih Mau’ud as, Allah Ta’ala telah menganugerahkannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Oleh karena itu Hadhrat Masih Mau’ud as dibangkitkan untuk memenuhinya.

Inilah kesabaran dan istiqamah orang-orang yang telah kembali ke hadirat Allah Ta’ala dengan menampilkan contoh-contoh agung keteguhan langkahnya dan mereka menjadi penyempurna sesuai dengan janji Allah Ta’ala: وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِىْ سَبِيْلِ اللهِ اَمْوَاتٌ بَلْ اَحْيَآءٌ وَّ لكِنْ لاَّ تَشْعُرُوْنَ (البقرة:155) Mereka memberitahu dunia bahwa, “Janganlah menganggap kami mati, melainkan kami hidup. Kami memperoleh keridhaan Allah Ta’ala dalam kehidupan abadi. Kami pun menjadi penyiram [kesuburan] agama Allah Ta’ala. Hanya dengan setetes darah kami, ribuan pepohonan yang berbuah pun tumbuh berkembang. Kami telah dipeluk oleh para malaikat. Seraya mengorbankan nyawa, kami tidak tahu, dimana dan berapa peluru yang mengenai diri kami? Kami tidak tahu, betapa banyak luka yang ada akibat serangan granat.”

Kita selalu menyaksikan bahwa corak kesabaran dan keikhlasan, mereka ini gelisah demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, mereka menyumbangkan nyawa mereka demi agama, mereka terluka sampai berjam-jam dan darah mereka pun terus mengalir. Tetapi bukannya mengeluh, malahan mereka selalu menjadikan kondisinya melalui doa dan shalawat sebagai sarana untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Jika seseorang [yang terluka] mengeluarkan kata-kata keluhan (rintihan) dari mulutnya, orang yang terluka di depannya mengatakan, “Semangat dan jangan putus asa. Orang-orang toh mengorbankannya tanpa maksud yang agung. Tetapi kalian berkorban untuk maksud kalian yang agung.” Orang yang bersedih itu selalu membaca shalawat sampai nafas penghabisan. Mereka mengirimkan shalawat kepada Rasulullah saw dan yakin kepada Allah serta Rasul-Nya saw, “Kami sedang memenuhi janji yang kami ikat dengan Masih Muhammadi.”

Saya telah menyaksikan sebuah video (tayangan) yang direkam pada mobile phone (telepon genggam) oleh orang-orang yang terluka. Setelah melihatnya, kondisi hati menjadi terheran-heran. Jadi, inilah mereka yang sungguh-sungguh telah melakukan pengorbanan dengan Allah Ta’ala. Tetapi, para malaikat-Nya telah menurunkan ketenangan kepada mereka. Inilah orang-orang yang menjadi gambaran kesabaran dan keikhlasan berjam-jam tanpa keluhan apapun. Seorang remaja dari Lahore memberitahukan saya (Hudhur), “Saudara saya yang berusia 19 tahun terkena 5 peluru. Tetapi, dia tergeletak berjam-jam dalam kondisi terluka. Tidak sedikit pun bergerak dari tempatnya dan terus berdoa. Kalau saja polisi datang tepat waktu, lebih banyak nyawa yang dapat terselamatkan.” Tetapi, ketika nizam (sistem pemerintahan) sudah bergelimang dalam kerusakan, lalu apa yang bisa diharapkan dari orang-orang itu (yaitu para aparat pemerintahan)?

Seorang pemuda dengan tangannya sendiri, menahan hand granate (granat tangan) musuh, supaya dapat melemparkannya kembali, tapi granat itu meledak karena telah tiba waktu meledaknya dan dia telah menyelamatkan nyawa orang lain dengan mengorbankan nyawanya sendiri. Ada juga seorang sesepuh yang mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan para pemuda dan anak-anak. Beliau lari ke arah penyerang dengan seketika dan membiarkan seluruh peluru bersarang di dadanya.

Saat ini seorang polisi, Tn. K.I.J menyampaikan informasi dengan sangat bangga bahwa polisi telah menangkap 2 orang teroris. Manakala dari atasan sampai bawahan sudah tidak dapat membedakan setiap yang palsu dan nyata, maka informasi seperti inilah yang disampaikan. Padahal, dua teroris yang sudah ditangkap itu ditangkap oleh para remaja kita. Penangkapnya juga memberitahukan kepada saya. Dia seorang remaja lemah dari segi tubuh lahiriah. Ia memiliki tubuh yang sangat ringan namun sarat dengan keimanan. Dia menekan leher teroris tersebut dengan salah satu tangannya dan tangannya yang satu lagi mencegah tangan si teroris menarik pemicu bom rompinya.

Para teroris muda ini adalah orang-orang yang malang. Umur mereka masih belia. Usia mereka baru 18 atau 19 atau 20 atau 21 tahun. Mereka adalah anak-anak miskin yang malang yang berasal dari keluarga miskin. Di masa kanak-kanak, disebabkan kemiskinan, mereka berada dalam genggaman kelompok garis keras zalim yang mengajarkan terorisme atas nama ajaran agama dan melakukan brain wash (pencucian otak) atas mereka. Mereka diiming-imingi tentang surga supaya mau melakukan serangan-serangan bunuh diri padahal kematian dalam corak ini jadi sumber penyebab kemurkaan Allah Ta’ala. Tetapi, dengan mempunyai pemahaman ini, orang-orang tersebut juga mengalami kerugian (kehancuran). Para pemimpin teroris itu tidak pernah terlihat oleh seseorang tampil ke muka; tidak pernah terlihat mengorbankan anak-anaknya. Jikalau mereka melakukan pengorbanan-pengorbanan, maka itu adalah anak-anak orang lain yang di-brain wash. Para teroris yang tertangkap, ditangkap oleh anak-anak kita.

Di satu pihak, nampak kepada kita bagaimana para malaikat turun dan memberikan ketenangan pada para korban tersebut, di pihak lain, orang-orang yang ditinggalkan oleh mereka mendapatkan ketenangan dengan karunia Allah Ta’ala yang khusus yang diberikan-Nya kepada mereka. Disebabkan keimanan yang lahir dalam tubuh kita dengan mengakui Imam Zaman, di sini juga Allah Ta’ala memerintahkan kepada para malaikat, supaya “pergi dan menjadi sumber ketenangan hati hamba-hamba-Ku serta menyediakan sarana-sarana ketenangan dan kesabaran bagi orang-orang yang memanjatkan doa-doa.”

Sebagaimana telah saya katakan, pemandangan-pemandangan ini nampak kepada saya di setiap rumah. Pemandangan-pemandangan menakjubkan sedemikian rupa sehingga kita akan terheran-heran melihatnya; betapa Allah Ta’ala telah menganugerahkan orang-orang seperti itu kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Gambaran setiap orang adalah: اِنَّمَا اَشْكُوْ بَثِّىْ وَ حُزْنِىْ اِلَى اللهِ – ‘innamaa asykuu batstsii wa huznii ilaLlah.’ – “Aku menyerahkan kegelisahan dan kesedihanku kepada Allah Ta’ala”. (Yusuf:87).

Gambaran ini selalu nampak kepada kita. Inilah faktor pembeda seorang mukmin. Orang-orang mukmin dianjurkan oleh Allah Ta’ala untuk bersabar dalam keadaan sedih. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ اِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْنَ — “Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah:154).

Walhasil, seorang hamba yang merupakan hamba hakiki Allah Ta’ala, hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, menyerahkan segala-segalanya kepada Allah Ta’ala, tanpa keluh-kesah, tanpa teriakan dan demo serta tanpa memegang hukum di tangannya. Ketika dia membentengi perasaannya dengan sabar dan doa-doa maka dia ditetapkan berhak memperoleh kabar-kabar suka Allah Ta’ala.

Jamaah orang-orang mukmin telah diberitahu oleh Allah Ta’ala tentang ujian dan cobaan sejak sebelumnya. Dia berfirman bahwa ujian-ujian itu akan selalu datang. Difirmankan: وَ لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ اْلخَوْفِ وَ اْلجُوْعِ وَ نَقْصٍ مِّنَ اْلاَمْوَالِ وَ اْلاَنْفُسِ وَ الثَّمَرَاتِ وَ بَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ — “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, sedikit kelaparan dan kekurangan dalam harta, nyawa dan buah-buahan. Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah:156).

Jadi, Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang kebahagiaan-kebahagian bagi orang-orang yang sabar dan selalu memanjatkan doa. Dia telah mengabarkan tentang menjadi pewaris surga keridhaan-Nya. Kabar suka tentang surga bagi orang-orang yang syahid di jalan Allah. Kabar suka tentang surga bagi orang-orang yang tinggal di dunia ini sesuai dengan keridhaan Allah Ta’ala. Keinginan dan hasrat orang-orang seperti ini menjadi sarana untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Dalam ayat-ayat yang telah saya tilawatkan, Allah Ta’ala telah menerangkan tentang kemuliaan orang-orang mukmin, bahwa orang-orang yang memperlihatkan keteguhan hati (istiqamah) dalam ujian-ujian, para malaikat menyediakan sarana-sarana ketenteraman bagi mereka. Ketika orang-orang mukmin dilanda cobaan dari segala segi, nyawanya dirugikan, hartanya juga dirugikan atau dicoba dirugikan, kehormatannya juga dirugikan atau dicoba dirugikan, terkadang pintu-pintu pertolongan Allah Ta’ala tertutup dari segala segi, pada waktu itu ketika orang-orang mukmin memperlihatkan keteguhan hati (istiqamah) dengan memahami basyirish-shabirin (berilah kabar suka orang-orang yang sabar) maka mereka menjadi orang-orang yang menarik karunia-karunia Allah Ta’ala; mereka berada dalam lindungan Allah Ta’ala. Dalam seketika, kabar-kabar tentang kemenangan dan pertolongan diperoleh; pintu-pintunya terbuka, sehingga tidak dapat dibayangkan oleh seorang mukmin. Allah Ta’ala memperlihatkan keajaiban-keajaiban yang tidak dapat dibayangkan. Walhasil, syaratnya adalah istiqamah (teguh). Beberkahlah para Ahmadi di kota Lahore yang telah memperlihatkan istiqamah, baik yang telah pergi maupun yang ditinggalkan. Jadi, sesungguhnya Allah Ta’ala (Pemilik janji sejati) akan menyempurnakan janji-janji-Nya. Janji-janji untuk ketenangan hati yang sedang nampak kepada kita merupakan tanda sempurnanya janji-janji Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dalam kaitan ini: “Orang-orang yang mengatakan bahwa Tuhan kami adalah Allah dan mereka terpisah dari Tuhan-tuhan palsu, kemudian mereka menempuh istiqamah, yakni tetap teguh langkahnya pada waktu ada berbagai ujian dan cobaan, para malaikat turun kepada mereka seraya berkata, “Jangan takut dan jangan bersedih. Berbahagialah dan penuhilah kebahagiaan, karena kalian telah menjadi pewaris-pewaris kebahagiaan yang telah dijanjikan kepada kalian. Kami adalah sahabat kalian dalam kehidupan dunia ini dan akhirat nanti.”

“Di sini, dengan kalimat-kalimat tersebut diisyaratkan bahwa keridhaan Allah Ta’ala dapat diraih dengan istiqamah tersebut. Memang benar bahwa istiqamah berada di atas karamah. Istiqamah yang sempurna adalah kita menyaksikan bala-bencana menyelimuti keempat penjuru; kita menjerumuskan jiwa, kemuliaan dan kehormatan dalam bahaya di jalan Tuhan. Tidak ada hal yang menenteramkan, sehingga Allah Ta’ala menutup pintu kasyaf, mimpi atau ilham yang menenteramkan sebagai ujian dan meninggalkannya dalam ketakutan-ketakutan yang mengkhawatirkan.

Pada saat itu, kita tidak memperlihatkan ketidak-jantanan; kita tidak berbalik ke belakang seperti para pengecut; kita tidak menciptakan suatu penghalang dalam sifat kesetiaan; kita tidak menampilkan kelemahan dalam kebenaran dan keteguhan; kita gembira terhadap kehinaan; kita ridha terhadap kematian; kita tidak menanti seorang sahabat untuk menetapkan langkah, supaya dia memberikan topangan. Pada saat itu, kita tidak menuntut kabar-kabar suka Allah Ta’ala bahwa saat itu sangat pelik sekali. Meskipun benar-benar melarat, lemah dan tidak mendapati suatu ketenangan, kita tetap berdiri tegak. Setiap waktu merendahkan diri dan menyodorkan leher kita. Kita tidak menggerutu terhadap qada dan qadar. Kita sama sekali tidak memperlihatkan kegelisahan dan keluh-kesah, selama hak ujian itu belum tergenapi. Inilah istiqamah yang karenanya kita mendapati Tuhan. Inilah hal yang masih semerbak wangi dari debunya para rasul, para nabi, para shidiq dan para syahid.”[2]

Dewasa ini, dari debu para syahid kita, muncul semerbak wangi yang mengharumkan otak kita. Keteguhan mereka menyeru kita, “Jangan pernah lepaskan istiqamah dan kesabaran yang kalian jaga. Sungguh! Allah Ta’ala benar terhadap janji-janji-Nya. Lamanya ujian jangan sampai menggoyahkan derajat ketabahan kalian. Jangan pernah keluar kata-kata tak bersyukur dari mulut kalian.” Beberapa mimpi tentang para syahid tersebut memang telah disaksikan dengan sangat baik oleh sebagian orang. Mereka berpijak di surga kebahagian. Bahkan, mereka dihiasi oleh medali-medali (penghargaan derajat syahid-pent). Medali-medali dunia memang diperoleh setelah pengkhidmatan yang cukup panjang. Di sini juga para pemuda mendapatkan medali-medali karena pengkhidmatan di masa muda. Jadi, tangisan dan kesedihan kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Di dalamnya kita jangan pernah membiarkannya berkurang.

Saudara-saudara, orang-orang Lahore yang tentangnya Hadhrat Masih Mau’ud as mendapat ilham,  Lahore me hamare paak member maujud hain.’ – “Di Lahore terdapat banyak anggota kita yang suci.’ (13 Desember 1900) dan juga,  Lahore me hamare paak muhibb hai.’ – “Di Lahore terdapat para pecinta kami nan suci.” Jadi, ini adalah kehormatan yang mana Saudara-saudara harus berupaya untuk menegakkannya. Saudara-saudara harus berupaya untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala dengan sabar dan doa. Kemudian, dalam kaitan ini, banyak sekali kabar-kabar suka yang telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Walhasil, beruntunglah Saudara-saudara yang mana dengan nama kota Saudara-saudara, orang-orang yang tinggal di sana diberi kabar-kabar suka oleh Allah Ta’ala melalui Masih-Nya yang suci as.

Menurut saya, para musuh melakukan penyerangan bukan hanya untuk merugikan jiwa, bahkan punya misi yang lain., yaitu menimbulkan sebuah ketakutan, menjauhkan orang-orang Ahmadi yang lemah dari Ahmadiyah dalam pemandangan dan pikiran mereka serta melahirkan kegelisahan dalam diri para pemuda. Tetapi mereka (musuh) tidak tahu bahwa ini adalah anak-anak dari ibu-ibu yang dalam aliran darah dan air susu mereka berputar janji pengorbanan jiwa, harta, waktu dan kehormatan. Di dalam diri mereka terdapat gejolak untuk memenuhi janji setia.

Musuh yang lain berpikir, bahwa sebagai hasil dari pengorbanan yang begitu besar, orang-orang Ahmadi tidak dapat menanggungnya dan mereka akan berlarian ke jalan-jalan. Akan terjadi perpecahan (kerusuhan) dan mereka akan melakukan demo. Lalu pemerintah dan bawahannya akan melakukan tindakan terhadap orang-orang Ahmadi sesuai dengan kehendaknya sendiri. Reaksi ini akan diekspos ke dunia luar dan orang-orang Ahmadi akan dijelek-jelekkan (dicemarkan nama baiknya). Untuk ditampilkan ke dunia dan supaya dunia luar percaya, orang-orang ini menjanjikan segala bantuan.

Tetapi mereka tidak tahu bahwa orang-orang Ahmadi adalah orang-orang yang selalu memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala dengan kesabaran dan doa yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala dan mereka adalah orang-orang yang berada dalam lindungan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang bernaung di bawah khilafat. Mereka tidak bisa memperlihatkan reaksi yang tidak baik.

Ketika sikap [pihak Ahmadiyah] yang diharapkan para penentang tidak terlihat oleh orang-orang, dan dunia luar juga bersorak gembira terhadap gerakan sadis tersebut dan media juga mengeksposnya, maka lembaga-lembaga pemerintahan berpikir supaya mengekspresikan rasa simpati kepada mereka. Rasa malu mereka dihilangkan. Lalu mulai ada penjelasan panjang lebar, penjelasan tentang rasa simpati.

Herannya, dunia dan orang-orang ini secara khusus belum tahu, apa itu orang-orang Ahmadi? Seratus dua puluh tahun yang lalu, amal setiap detik kehidupan Ahmadiyah belum membuka mata mereka. Ini adalah karena orang-orang yang bangkit dan duduk hanya dengan satu suara imam. Inilah orang-orang yang menerima Masih Mau’ud yang datang untuk membudayakan ajaran Majikan dan Junjungannya, Hadhrat Muhammad Mushtafa saw di dunia, yang telah menjadikan orang-orang yang bertabiat hewani menjadi manusia biasa dan menjadikan manusia biasa menjadi manusia yang bertuhan.

Walhasil, kini ketika kita keluar dari kehidupan buas dan melangkahkan kaki menuju manusia bertuhan, bagaimana mungkin kita dapat melakukan kerusuhan? Bagaimana mungkin kita dapat memperlihatkan reaksi demo, pembunuhan dan pembantaian? Kita mendahulukan keridhaan Allah Ta’ala dan mengatakan, ‘innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’ dan menyerahkan urusan kita kepada Tuhan. Kita telah mempersembahkan rasa sedih dan duka kita kepada Allah Ta’ala, ikhlas terhadap ridha-Nya dan menanti keputusan-Nya. [Kita katakan, sebagai sindiran], “Mubarak (Selamat) bagi kalian, wahai para penumpah darah makhluk Tuhan dan para kekasih Tuhan atas kekejaman dan kezaliman ini, yang kalian lakukan dengan corak atas nama Tuhan! Kalian telah membawa kembali orang-orang awam kedalam kehidupan Jahiliyah 1400/1500 tahun yang lalu atas nama agama dan tinggal di dalamnya.” Orang-orang itu mengatakan, “Kami tidak memerlukan seorang Pembaharu. Sekarang kami tidak perlu kedatangan seorang Masih Mau’ud. Sekarang pun kami masih menolaknya. Cukuplah bagi kami Al-Quran dan syariat.”

Apakah amal perbuatan kalian berkaitan erat pada syariat dan Al-Quran yang dibawa oleh Junjungan kita Hadhrat Muhammad Mushtafa saw? Ternyata sama sekali tidak! Ya, Junjungan kita adalah muhsin (dermawan) kemanusiaan dan sampai Kiamat tidak dapat lahir lagi seorang muhsin kemanusiaan seperti beliau. Kalian adalah orang-orang yang berupaya untuk mencemarkan reputasi muhsin kemanusiaan tersebut. Kalian adalah orang-orang yang mencemarkan nama baik Rasulullah saw atas nama kehormatan kerasulan. Sesungguhnya kalimat laa ilaha illallaahu muhammadur rasulullaah akan mencengkeram setiap orang dari antara kalian dan akan mengantarkan kalian sampai akhir buruk kalian pada hari Kiamat.

Tugas kita adalah sabar dan terus berdoa. Insya Allah, setiap Ahmadi akan istiqamah pada hal ini. Ketika dunia menyaksikan contoh-contoh kesabaran ini, orang-orang lain juga akan heran. Setelah menyaksikan contoh-contoh kekejaman dan kezaliman ini, orang-orang lain bukan hanya memperlihatkan simpati, bahkan cenderung kepada Ahmadiyah. Bahkan, memperlihatkan hasrat untuk baiat. Jadi, kezhaliman yang kalian halalkan kepada kami, kami mulai mendapatkan balasannya dalam corak kenikmatan di dunia ini.

Saya tadinya berpikiran untuk menjelaskan beberapa peristiwa. Tetapi, sebagian peristiwa begitu menyedihkannya, sehingga saya takut terkalahkan oleh gejolak hati saya. Karena itu, saya tidak dapat menjelaskan keseluruhannya. Beberapa peristiwa akan saya sampaikan kepada Saudara-saudara.

Naib Nazir Islah-o-Irshad kita menulis, “Ketika seorang makmum hadir dalam shalat jenazah, dia berbicara kepada seseorang, ‘Saya mendapatkan satu anugerah lagi bahwa saya adalah anak dari seorang bapak yang disyahidkan.’ Dia mengatakan kepada saya bahwa tekad dan semangat beliau sangat tinggi.

Saudara dari Tn. Ijaz Ahmad disyahidkan di Model Town dan beliau mendapat informasi di mesjid dan dikatakan bahwa si fulan masuk rumah sakit. Beliau mengatakan, “Si fulan telah hadir di hadapan Allah Ta’ala (meninggal). Kini, mungkin darah saya diperlukan oleh saudara-saudara Ahmadi. Karena itu, saya akan tetap di sini sekarang.”

Seorang ibu mengatakan, “Seorang pemuda dari pangkuan saya telah berada di pangkuan Tuhan. Amanah-Nya telah kuserahkan kepada-Nya. Murabbi Jemaat kami, Tn. Mahmud Ahmad Shad melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh di Model Town. Selama khotbah, beliau selalu menganjurkan untuk banyak berdoa, beristighfar, bersabar dan membaca shalawat. Beliau selalu mengulang beberapa ayat Al-Quran. Beliau juga sering mengulang doa-doa, bershalawat dengan suara lantang, meneriakkan takbir dan beliau juga telah syahid. Sardar Abdul Sami’ menyampaikan, peristiwa dan pensyahidan di Cak Sikandar selalu disinggung dalam shalat Shubuh, karena ini sudah ditentukan di sana pada waktu itu.

Seorang sahabat menulis, “Ada 150 sampai 200 orang berada di halaman di bawah tangga luar. Waktu itu para teroris melakukan penembakan dari sudut aula. Seseorang diantara teroris mendatangi ke pojok halaman. Seandainya pada saat itu dia keluar, maka 150/200 yang berada di luar mungkin sekarang sudah tidak ada. Tetapi, di hadapan saya ada seorang Anshar yang usianya sekitar 65 atau lebih, beliau keluar dari bawah tiang dan berlari ke arah teroris itu. Oleh sebab itu, peluru bersarang tepat di dada beliau dan beliau pun syahid. Tetapi, disebabkan keberanian beliau, para teroris tertunda beberapa waktu untuk keluar. Tetapi, pada saat itu mereka sudah keluar, banyak Ahmadi telah sampai di tempat yang terlindungi sedangkan si teroris melemparkan granat setelahnya. Ketika kami keluar kami melihat bahwa banyak orang yang telah syahid yang berada tepat di tangga.”

Seorang sahabat menulis kepada saya. Ia pergi ke sana dari Jepang dan bergabung dalam shalat Jenazah, “Pensyahidan orang-orang akharin telah menyegarkan kenangan-kenangan masa beberkah Nabi Akram saw. Wujud-wujud yang beberkah ini dimakamkan di lereng gunung Rabwah. Beberapa terjadi seperti bukan pada zaman ini. Contoh-contoh kesabaran dan keikhlasan demikian tidak mungkin dapat dilukiskan dalam kata-kata.

“Di halaman rumput kantor Ansharullah, saya bertanya kepada seorang sesepuh di sebelah kanan yang sedang duduk menunggu jenazah, ‘Paman, siapa yang meninggal dari keluarga anda?’ Beliau berkata, “Anak saya telah syahid.’ Saya merasa cemas dan setelah melihat raut wajah yang penuh ketegaran, saya tidak mengeluarkan lagi kata-kata sedikit pun sehingga beliau berkata lagi, ‘Alhamdulillah, demikianlah ketetapan yang Tuhan ridhai.’

Di keempat penjuru saya terdapat wajah-wajah yang penuh ketegaran dan saya menahan diri, supaya tidak melakukan sebuah gerakan di depan wujud-wujud yang berwibawa tersebut, sehingga saya harus menanggung malu sendiri. Saya bertemu dengan banyak orang dan setiap kali bertemu saya merasakan kualitas baru. Saya berhenti dan berdiri di depan satu jenazah syahid yang bermandikan darah. Saya mendengar suara, ‘Lihatlah kesyahidanku!’ Inilah berbagai gejolak perasaan yang tak berhingga.”

Seorang perempuan menulis, “Anak-anak kecil saya juga pergi untuk shalat Jumat dan Tuhan telah menyelamatkan mereka dengan karunia-Nya. Ketika sedang terjadi pertumpahan darah di mesjid, maka tetangga kami (perempuan) setelah menonton televisi lari dan menangis. Mereka datang kepada saya sambil menangis karena rumah mereka berada di samping mesjid. Tetapi saya katakan kepada mereka, ‘Masalah kami diserahkan kepada Allah Ta’ala. Apa yang saya khawatirkan dari anak-anak? Di sini seluruhnya memang milik kami. Jika anak-anak saya disyahidkan, mereka akan berada dekat Tuhan dan jika mereka selamat, maka mereka akan menjadi pemberani.’ Setelah mendengar ini, para perempuan menjadi heran dan pulang sambil mengatakan, ‘Apa yang sedang dikatakan orang ini?’”

Kemudian beliau menulis, “Pada kesempatan yang genting seperti ini, kami berterima kasih kepada warga Rabwah yang siang dan malam melakukan pengkhidmatan dan mereka menyertai hati [keluarga syuhada] yang sedang bersedih.”

Seorang ibu memiliki anak laki-laki satu-satunya berusia 18 tahun. Selain anak laki-laki itu ia mempunyai anak-anak perempuan. Anak remajanya itu kuliah di Medical College. Dia disyahidkan dan ibu bapaknya menampakkan kesabaran dan keikhlasan serta mengatakan bahwa kami siap untuk berkorban demi jemaat.

Tuan Muhammad Muslim Darobi juga ada di sana pada saat-saat (penyerangan) itu. Beliau sedikit terluka di kakinya. Beliau adalah Ahmadi Syam (orang Suriah). Beliau mengatakan, “Pemandangan yang seperti ini belum pernah saya lihat. Tidak ada hal yang dibuat-buat. Tidak ada kekhawatiran. Tidak ada ketakutan. Setiap orang melakukan urusannya masing-masing dengan tenang. Pada saat itu musuh sedang menembakkan peluru. Apapun petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh para pengurus, itu dilaksanakan sesuai dengannya.” Beliau mengatakan, “Bagi saya pemandangan ini adalah satu hal penting dan ajaib yang belum pernah saya lihat sebelumnya.”

Walhasil, inilah orang-orang dan inilah ibu-ibu yang telah diciptakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dalam jemaatnya. Contoh agung pengorbanan-pengorbanan. Mereka tidak memikirkan “bagaimana kondisi anak saya” atau “apakah anak saya disyahidkan?” Ibu-ibu ini banyak memanjatkan doa-doa dengan kepedihan semata-mata demi jemaat. Maka, “Wahai ibu-ibu Ahmadi! Jangan pernah membiarkan gejolak yang baik dan suci ini mati. Selama gejolak perasaan ini masih ada, selama pikiran-pikiran yang penuh keteguhan dan ketegaran ini masih ada, maka tidak ada seorang pun musuh yang dapat menghancurkan Jemaat.”

Seorang Ahmadi menulis, “Saya pergi dari Rabwah ke Lahore. Saya mengangkati para jenazah dengan seorang khadim yang masih muda. Akhirnya, dia mengangkat satu jenazah bersama saya dan mengantarkannya sampai ke ambulan. Setelah itu, dia berkata, ‘Ini adalah bapak saya.’ Lalu, dia tidak pergi bersama ambulan itu, malahan kembali lagi ke mesjid dan sibuk dalam tugas yang diserahkan kepadanya.”

Inilah manusia-manusia agungnya Masih Muhammadi yang mempersembahkan seluruh gejolak perasaannya hanya dan hanya kepada Allah Ta’ala. Demikianlah, puluhan peristiwa yang terjadi. Setelahnya, insya Allah (peristiwa-peristiwa) itu akan dikumpulkan dan ditulis juga. Suatu hal yang disampaikan oleh semua orang yang umum dan menyaksikan sendiri menyampaikan bahwa ketika para teroris melakukan semua aksi ini, tidak ada kepanikan sedikit pun di kalangan Ahmadi. Sebagaimana hal itu juga telah ditulis oleh Tn. Darobi. Mereka tetap bekerja dengan tenang atas instruksi Tn. Amir, Tn. Murabbi dan para pengurus selama para pengurus ini masih hidup. [Karena tuan Amir, Murabbi dan banyak pengurus kemudian juga syahid.] Setelah itu juga, tidak ada sikap melarikan diri, bahkan mereka menempel dengan dinding-dinding dengan cara-cara yang terorganisir, supaya dapat selamat dari peluru dan terus berdoa sambil duduk. Dalam keadaan demikian, ada seorang sesepuh yang terus berdoa. Beliau tidak peduli bahwa peluru melesat dari sana-sini. Inilah pandangan orang-orang yang memiliki iman yang sejati.

Ada beberapa pucuk surat yang sampai kepada saya tentang pokok bahasan yang Allah Ta’ala firmankan dalam surah Al-Ahzab ayat 24: مِنَ اْلمُؤْمِنِيْنَ رِجَالٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَ مِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلاً — “Diantara orang-orang mukmin ada laki-laki yang menampakkan benar perkara yang telah diikatnya dengan Allah Ta’ala. Jadi, diantara mereka ada beberapa orang yang telah memenuhi keinginannya dan ada juga yang masih menunggu. Dan mereka sama sekali tidak merubah cara beramalnya”. Sambil menulis wa minhum man yantazhir (dan di antara mereka ada yang masih menunggu) mereka meyakinkan janji setia dan pengorbanannya. Musuh menganggap bahwa mereka dapat melemahkan orang-orang Ahmadi dengan tindakannya itu dan dapat mematahkan kekuatan Jemaat. [menurut mereka] orang-orang [Ahmadi] yang tinggal di kota mungkin tidak memiliki iman yang kuat sedemikian rupa. Tetapi, apakah mereka tahu bahwa mereka [para Ahmadi di kota Lahore] adalah orang-orang kota yang mana Hadhrat Masih Mau’ud as telah menanamkan gejolak keimanan di dalam diri mereka.

Mereka setiap saat sedia untuk melakukan pengorbanan sebesar-besarnya demi agama. Tidak diragukan, mereka juga telah terkena jaringan dunia, tetapi tujuan mereka bukan hanya jaringan dunia. Kapan pun dipanggil untuk agama maka mereka datang dengan mengatakan labbaik! (siap!). Bahkan, sebagaimana saya telah katakan, bahwa mereka adalah sebagai mujahid kemanusiaan bukan kekejaman. Akhirnya, para Ahmadi ini datang dari antara kaum tersebut. Inilah kabilah-kabilah, persaudaraan-persaudaraan dari mana orang-orang yang menampilkan kekejaman dan kezhaliman datang. Tetapi setelah menerima Masih Mau’ud, orang-orang inilah yang memberikan pengorbanan-pengorbanan demi agama, tetapi sesuai dengan aturan yang telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala.

Saya telah jelaskan bahwa pers peristiwa-peristiwa tersebut dan Pers Pakistan juga telah menjelaskan hal ini. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan ganjaran kepada mereka dan menganugerahkan taufik kepada mereka untuk selalu berkata benar. Kini, setelah mengatakan kebenaran, jangan pernah takut dengan sikap para ulama dan berjalan pada jalan lama. Demikianlah beberapa Pers negara di dunia, para pemerintah telah memberikan sebuah pernyataan dan rasa simpati. Berbagai wakil pemerintah, wakil pemerintah di sini dan anggota parlemen Inggris juga telah mengirimkan pesan simpati dan ta’ziyah. Semoga Allah Ta’ala mengganjar semuanya. Memang ada kabar juga dari majelis Khatm-e-Nubuwwat dalam surat kabar bahwa ini adalah pekerjaan yang salah; ini adalah sifat kebuasan dan ini hendaknya tidak ada. Tetapi di spanduk-spanduk dan poster-poster yang terpasang di tembok, jalan-jalan, bahkan di atas papan nama hakim Mahkamah Agung, tertulis kata-kata kotor terhadap warga Ahmadi bahwa warga Ahmadi telah murtad dan wajib dibunuh.

Memang inilah rasa benci dan dendam terhadap orang-orang Ahmadi yang sedang diperlihatkan oleh para ulama yang hanya nama saja. Inilah penyebab utama yang menjadikan semua ini terjadi. Ketua Mahkamah Agung Pakistan mencatat sendiri hal itu sedikit demi sedikit. Hal ini terdapat dalam surat-surat kabar. Memang ini merupakan kezhaliman yang begitu besar dan apa yang terpasang pada spanduk dan poster tidak terpikir oleh beliau bahwa beliau sendiri yang telah mencantumkan catatan-catatan itu dan para ulama yang memprovokasi orang-orang telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan beliau. Apakah standar-standar menegakkan keadilan tergantung pada pilihannya sendiri?

Sebagaimana telah saya katakan, tangisan dan penderitaan kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Kita tidak harus mengambil sedikit pun dari itu. Tetapi, hanya ke arah standar-standarnya saya beritahukan. Setelah setiap ujian, pemahaman kita tentang pengorbanan-pengorbanan demi Allah Ta’ala dan pemahaman tentang meraih keridhaan-Nya lebih meningkat lagi. Hamba-hamba sedikit pun tidak dapat menghancurkan kita dan tidak pula sedikit pun melukai kita.

Tidak diragukan lagi, di dunia dewasa ini terorisme banyak sekali. Di Pakistan sudah mencapai puncaknya. Tetapi tindakan kekerasan terhadap orang-orang Ahmadi mendapatkan perlindungan undang-undang. Oleh karena itu apapun yang ada dalam hati mereka, mereka lakukan. Peristiwa yang terjadi di Monge Rasul juga adalah tindakan terorisme. Teroris-teroris disana ditangkap, namun apa yang diperlakukan kepada mereka? Apakah mereka dihukum? Mereka masih berkeliaran bebas di lorong-lorong Pakistan. Jadi, orang Ahmadi sedikit pun tidak dapat menaruh harapan kepada mereka dan tidak akan. Pelindung kita adalah Allah kita dan kita bertawakal kepada-Nya. Dia-lah Penolong kita dan Insya Allah Dia akan senantiasa menolong kita dan akan menempatkan kita pada pagar perlindungan-Nya. Di masa mendatang kita tidak akan menaruh harapan baik kepada orang-orang ini dan tidak akan pernah. Oleh karena itu, orang-orang Ahmadi perlu waspada. Kita perlu banyak memanjatkan doa-doa. Perbanyaklah membaca doa:

اَللّهُمَّ اِنَّا نَجْعَلُكَ فِىْ نُحُوْرِهِمْ وَ نَعُوْذُبِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ

رَبِّ كُلُّ شَىْءٍ خَادِمُكَ رَبِّ فَاحْفَظْنِىْ وَانْصُرْنِىْ وَارْحَمْنِىْ

‘Allahumma innaa naj’aluka fii nuhuurihim wa na’uudzubika min syuruurihim. Rabbi kullu syai-in khaadimuka Rabbi fahfazhnii wanshurni warhamni.’

Selain itu juga, perbanyaklah membaca doa-doa. Perbanyaklah membaca doa untuk keteguhan langkah. Menangislah di hadapan Allah Ta’ala untuk mengantarkan orang-orang ini guna mendapatkan hukuman. Doakan juga saudara-saudara kita yang terluka di dua mesjid ini. Diantara orang-orang yang menjadi korban, saat ini Tn. Dr. Imran menjadi syahid. Innaa lillzahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesembuhan bagi para korban yang lain (yang luka) dan senantiasa menyelamatkan setiap Ahmadi dari setiap kejahatan. Orang-orang Ahmadi memiliki peranan penting dalam membentuk Pakistan dan telah melakukan lebih daripada orang-orang yang mengklaim telah menjadi penguasa Pakistan. Oleh karena itu, berdoa demi kelangsungan negara ini adalah kewajiban kita. Berdoa juga supaya terhindar dari kejahatan orang-orang tersebut dan berdoa juga untuk akibat buruk mereka yang menyebarkan huru-hara dan kerusakan di negara ini dan telah menghancurkan ketenangan negara. Semoga Allah Ta’ala melindungi setiap Ahmadi dari setiap kejahatan.

Saya hendak mengatakan satu hal lagi. Seorang Ahmadi telah menulis surat dengan penuh perasaan. Tetapi saya heran terhadap pemikiran ini. Karena orang-orang terpelajar juga adalah orang-orang yang mengabdi kepada Jemaat. Sebuah kalimat, ‘Musuh telah menyaring berlian dalam tanah’. Ini sungguh keliru. Berlian-berlian ini tidak disaring dalam tanah. Ya, musuh melakukan upaya tercela untuk menyaring dalam tanah. Tetapi Allah Ta’ala telah meningkatkan kepentingannya sejak sebelumnya juga, mengangkat mereka dan memeluknya. Mereka telah dianugerahi kehidupan yang kekal.

Setiap berlian ini telah menggosok berlian-berlian yang bermunculan belakangan. Berlian-berlian yang telah berlalu ini telah dihias oleh Allah Ta’ala pada langit Islam dan Ahmadiyah dalam bentuk bintang-bintang bercahaya yang telah menyusun lapisan-lapisan baru dan lapisan-lapisan tersebut telah menetapkan jalan-jalan baru bagi kita. Ketika setiap bintang diantaranya terpisah, maka itu menjadi kutub bintang bagi kita. Jadi, tidak ada seorang pun musuh kita yang bisa sukses dalam upayanya yang tercela dan kotor. Setiap pensyahidan melahirkan buah-buah yang besar dan menghasilkan kedudukan yang besar. Walhasil, seorang musuh kita tidak akan pernah berhasil dalam upaya tercela dan rencana busuknya dan setiap pensyahidan melahirkan buah-buah yang sangat besar dan meraih kedudukan-kedudukan yang amat tinggi. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meninggikan derajat semua orang yang mati syahid tersebut dan kita juga termasuk diantara orang-orang yang senantiasa rela berkorban demi agama dengan keteguhan.

Tadinya saya hendak menjelaskan para syuhada tersebut, tetapi ini akan menjadi pembicaraan yang panjang. Insya Allah saya akan jelaskan secara singkat di waktu yang akan datang. Karena syuhada kira-kira ada 85 orang, jika diperkenalkan secara singkat, maka memerlukan waktu yang cukup. Setelah shalat Jumat, insya Allah saya akan memimpin shalat Jenazah mereka.

Selama hari-hari yang lalu itu, dua tiga hari setelah peristiwa tersebut, seorang Ahmadi di Narowal disyahidkan. Namanya Tn. Nimatullah. Beliau sedang tidur di halaman rumahnya. Seseorang datang ke sana dan mensyahidkan beliau dengan tebasan golok. Anak sulung beliau datang untuk menolongnya. Dia juga terkena luka. Dia dilarikan ke rumah sakit. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kesembuhan kepadanya dan meninggikan derajat almarhum. Beliau meninggalkan seorang istri, 3 anak perempuan dan 3 anak laki-laki. Sebagian keluarganya juga termasuk yang disyahidkan di Lahore.

Pelaku pembunuhan anggota majelis Tahaffuz Khatm-e-Nubuwwat. Di satu sisi, majelis Tahaffuz Khatm-e-Nubuwwat mengumumkan, “[Penyerangan terhadap Ahmadi] itu adalah kejadian yang amat buruk”, tetapi di sisi lain mereka memprovokasi orang-orang, “Pergilah dan bunuhlah orang-orang Ahmadi supaya menjadi pewaris surga!” Pembunuhnya ditangkap dan menyatakan, “Saya juga ikut campur dalam peristiwa Lahore, karena ulama kami mengatakan demikian, maka saya datang untuk meraih pahala demi pekerjaan mulia tersebut (yaitu membunuh orang Ahmadi).” Setelah ditangkap, dia juga mengatakan bahwa “Di sini kami tidak akan membiarkan seorang Ahmadi pun hidup.” Memang inilah karakter mereka. Kemudian, mereka mengatakan, “Jika kami diolok-olok di dunia, kalian sendiri akan mencemarkan nama baik di dunia.”

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan setiap Ahmadi dari segala kejahatan. Perbanyaklah kita berdoa. Telah saya katakan bahwa perbanyaklah doa bagi orang-orang yang sakit. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kesembuhan yang optimal dan cepat kepada mereka.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Islami Ushul Ki Filasafi; Ruhani Khazain, jilid 10, halaman 419-420