Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 19 November 2010 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

           

وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَنُبَوِّئَنَّہُمۡ مِّنَ الۡجَنَّۃِ غُرَفًا تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ نِعۡمَ اَجۡرُ الۡعٰمِلِیۡنَ ﴿٭ۖ﴾

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, Kami pasti menempatkan mereka di surga pada tempat-tempat yang tinggi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal di dalamnya. Sebaik-baik ganjaran bagi orang-orang yang beramal.” (Surah al-Ankabut; 29:59)

Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciptakan sebuah kaum yang terdiri dari orang-orang beriman yang maju dalam keimanannya. Beliau adalah Nabi terakhir yang melalui beliau iman dan keyakinan manusia telah mencapai derajat yang paling sempurna. Keridhaan Allah Ta’ala hanya bisa diraih dengan mencapai kesempurnaan agama dan amal saleh standar keimanan seperti itu. Para sahabat beliau memiliki keimanan yang sangat tinggi dan sangat tangguh sekali sehingga apa saja yang mereka lakukan semata-mata demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Dan hal itu menjadi daya tarik bagi turunnya sumber kedamaian dari Allah Ta’ala bagi masyarakat sekitar dan bagi mereka semua. Amal perbuatan yang dilakukan untuk menarik ridha Allah Ta’ala disebut amal saleh.

Ayat yang ditilawatkan pada awal khotbah ini menjelaskan bahwa Rasulullah saw telah berhasil mengadakan revolusi atau perobahan besar pada diri para sahabat dengan usaha disertai upaya keras melalui daya kekuatan samawi yang dianugerahkan Tuhan kepada beliau saw dan berbagai latihan. Dengan meninggalkan kebiasaan buruk yang biasa dilakukan di masa lampau para sahabat memperoleh martabat iman yang sangat tangguh, bahwa untuk mencapai martabat iman yang tangguh dan memperoleh amal-amal shaleh harus dengan pengorbanan-pengorbanan sangat besar.

Bilamana mereka diminta untuk bertahan menghadapi penganiayaan, maka dengan diam-diam mereka memenuhinya dan mereka tidak membalas kekerasan yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dengan kekerasan lagi. Bilamana mereka diminta untuk meninggalkan rumah mereka guna melakukan hijrah mereka mena’atinya dengan hati yang sangat rela. Bilamana mereka telah diizinkan melawan musuh demi mempertahankan diri, dengan keteguhan keimanan disertai amal shaleh ini mereka segera mengambil senjata dan maju dengan gagah berani menghukum musuh-musuh mereka. Hal ini sudah tidak diperhatikan lagi bagi mereka apakah ada senjata atau tidak di tanganku, tidak juga mempertimbangkan bagaimana kekuatan musuh dibanding dengan kekuatanku, yang terpenting adalah mencari ridha-Nya dengan terlebih dahulu memiliki keimanan disertai amal dan kebaikan juga.

Di dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman bahwa bilamana amal perbuatan seorang Mu’min tunduk pada kehendak dan keinginan Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa dan menganggap jiwa raganya hanyalah sebagai amanat dari-Nya, maka Allah Ta’ala akan memasukkan orang itu ke dalam surga dan di surga juga sedemikian rupa kondisinya sehingga seseorang bisa bertemu dengan Junjungannya yang senantiasa didambakannya dan keberlangsungan berbagai nikmat surgawi ini ditandai dengan keberlangsungan kehidupannya. Allah Ta’ala berfirman bahwa Kami akan memberikan ganjaran yang terbaik bagi orang yang beriman dengan sempurna dan melakukan segala amalnya karena Allah Ta’ala, maka orang-orang seperti ini memang layak mendapatkan ganjaran surga, disebabkan pengorbanan-pengorbanan yang dia lakukan itu dengan penuh kesabaran dan senantiasa menjaga keimanan.

Pemeliharaan ketawakalan mereka beserta keyakinan mereka terlihat dari kesabaran yang ditunjukkan demi menjaga keimanan mereka dan hanya demi mencari ridha-Nya mereka melakukan setiap amalan sehingga Allah Ta’ala pasti akan memenuhi janji-Nya untuk mengganjar mereka. Jadi dari segi kekuatan iman para sahabat inilah dalam mempertahankan ketabahan dalam melakukan setiap amal saleh hanya demi mencari ridha-Nya, sebagaimana telah saya katakan, semuanya itu diciptakan berkat tarbiyat dan quwwat qudsiah (kekuatan penyucian) Hadhrat Rasulullah saw.

Hari ini saya akan mempersembahkan beberapa hadits tentang kesabaran yang Hadhrat Rasulullah saw telah ajarkan hal inii kepada kita semua untuk menciptakan kondisi akhlaq para Mu’min dan kemudian para sahabat telah berhasil menegakkan sabar dan istiqamah dengan standar tinggi terbukti dengan kemajuan pada setiap harinya dengan menyandarkan kepada ridha Ilahi semata. Rasulullah saw telah menunjukkan contoh kesabaran di tengah suasana peperangan yang tengah berkecamuk melawan musuh. Hal itu semua merupakan nasehat untuk kita, terkadang kita harus melakukan itu semua?

Sekarang terlebih dahulu saya akan sajikan hadits yang tidak terkait dengan para musuh (penentang), namun mengenai cara seseorang menghadapi kehidupan sehari-hari terkait dengan kesabaran terhadap keluarga dan istri. Saya telah menerima laporan dan surat-surat dari banyak kaum perempuan dan apabila mereka memperoleh waktu untuk mulaqat pada waktu itu juga mereka mengemukakan banyak sekali keluhan. Misalnya, seorang wanita yang hanya mempunyai anak-anak perempuan saja, maka suaminya, mertuanya dan ipar-iparnya sering mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan bahkan sangat menyakitkan hati. Sehingga anak-anak perempuannya sendiri menulis surat melaporkan kepada saya, “Ayah kami tidak berlaku baik terhadap kami karena keadaan kami sebagai anak-anak perempuan. Ia membuat kehidupan kami menderita.”

Kepada orang-orang yang menyakitkan seperti itu, saya hendak menunjukkan satu hadits yang sedemikian rupa perlu diperlihatkan. Sebab, banyak orang yang demikian itu, padahal mereka memiliki ilmu agama dan aktif dalam kegiatan Jemaat, namun, kelakuan mereka tidak baik di dalam rumah-rumah mereka. Saya berpikir, setelah menyampaikan hadits tersebut, kebanyakan orang dengan melihat lebih dalam secercah kondisi keimanannya, maka mereka tidak akan mencela (mengecam) terhadap istri ataupun anak-anak perempuan sekalipun karena keadaan mereka sebagai perempuan.

Hadhrat Aisyah ra pernah menjelaskan bahwa Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda, مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ الْبَنَاتِ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنْ النَّارِ ‘Man ibtala bi syai-in minal banaati fa shabara ‘alaihinna kunna lahu hijaaban minan naar.’ “Jika seseorang diuji dengan hanya mempunyai anak-anak perempuan saja dan ia tetap bersabar dalam menghadapi ujian itu, maka sesungguhnya anak-anak perempuannya itulah yang akan menjadi penghalang antara dirinya dengan api neraka di akhirat nanti.” [2]

Di dunia ini, siapakah orangnya yang tidak terlibat dalam kesalahan-kesalahan atau dosa walaupun sekecil saja? Siapakah orangnya yang tidak menginginkan mendapat perlindungan Allah Ta’ala? Setiap orang pasti ingin mendapat perlindungan Allah Ta’ala. Maka, sesungguhnya ini adalah kabar suka bagi mereka yang mempunyai anak-anak perempuan bahwa orang Mu’min akan mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala karena anak-anak perempuan mereka. Nampaknya, mempunyai anak perempuan menjadi masalah bagi sebagian masyarakat kita bahkan juga di sebagian dari kalangan kita (Jemaat). Merupakan sebuah tanda orang beriman, bahwa mereka bersikap toleran (lunak dan lemah lembut) kepada mereka (kaum perempuan), dan tidak memperlihatkan atau menyebut-nyebut keadaan mereka sebagai anak perempuan, atau  tidak menyebut-nyebut sang ibu karena mereka melahirkan anak-anak perempuan. Karena itulah, dengan mengamalkannya, Allah Ta’ala berfirman bahwa hal tersebut menjadi penghalang antara orang tuanya dengan api neraka.

Ada satu riwayat hadits lain yang bisa menjadi nasehat bagi orang-orang yang cepat naik darah. Karena hal-hal kecil saja cepat marah sehingga hal itu membuatnya tidak menyukai bergaul dengan orang-orang.

Dari Yahya bin Watsab, dari seorang buzurg (Syaikh, sesepuh), salah seorang sahabat Rasulullah saw, dari Nabi saw, beliau saw bersabda: “Jika seorang Muslim bergaul (berinteraksi sosial) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang Muslim yang tidak bergaul (tidak berinteraksi sosial) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka.”[3]

Untuk bisa melakukan perbaikan dalam kapasitas besar maka seseorang harus memiliki akhlaq mulia dan sabar akan memberi peluang lebih lanjut kepadanya untuk melakukan amal baik yang lebih bermutu, menghasilkan nasehat yang bagus, menciptakan hal lebih baik dalam masyarakat. Seseorang hendaknya berusaha untuk memperbaiki diri sendiri dan kemudian dengan demikian barulah dia bisa memperbaiki masyarakat di sekitarnya. Manusia mampu melakukan perbaikan lebih luas dengan memiliki kesabaran ini, dari modal ini maka kebaikan-kebaikan yang lainnya bisa bermunculan, kemudian kebaikan ini terus berkembang. Kemudian hal ini juga merupakan sebuah nasehat yang perlu saya sampaikan bahwa manusia harus menanamkan kesabaran pada diri mereka, berbagai permasalahan biasa timbul akibat sifat tidak sabar dan terburu nafsu karena emosi harus berusaha dihindari dengan upaya untuk selalu sabar. Untuk sebuah perbaikan yang lebih luas Hadhrat Rasulullah saw menasehatkan dalam sebuah hadits.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa seorang yang kuat itu bukanlah orang yang dapat menaklukkan dan menjatuhkan lawannya, akan tetapi orang yang kuat itu adalah orang yang dapat mengendalikan dan menguasai kemarahannya. [4]

Jadi, pada pandangan Tuhan dan Rasul-Nya saw, orang yang kuat adalah dia yang selalu mengendalikan amarah dan emosinya. Itulah sebuah amal saleh yang dapat mendekatkan diri seorang beriman dengan Allah Ta’ala.

Bagaimanakah Hadhrat Rasulullah saw menjadi contoh agung bagi manusia dalam menggapai kesabaran? Dalam hal ini, Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah saw tidak pernah memukul seorang pun, tidak juga terhadap perempuan maupun terhadap seorang budak sekalipun, kecuali dalam pertempuran di jalan Allah Ta’ala melawan musuh. Beliau saw tidak pernah melakukan pembalasan terhadap seseorang yang menyakiti beliau. Ya, jika ada yang menyerang kedudukan mulia Allah ta’ala secara tak wajar, maka beliau saw membalas demi Allah ta’ala semata.[5]

Jadi inilah contoh agung dalam hal kesabaran yang diajarkan kepada kita.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Kabsyah Anmari ra yang menerangkan, “Saya telah mendengar, Hadhrat Rasulullah saw menjelaskan, ‘Saya menekankan tiga perkara kebaikan dan saya akan membicarakan satu perkara lagi. Jadi kalian harus memperhatikannya.’ Beliau saw bersabda: ‘Seorang hamba tidak akan berkurang hartanya karena sedekahnya, seseorang yang teraniaya dan terhadap hal itu dia senantiasa sabar maka Allah Ta’ala akan meningkatkan derajat kehormatannya dan seorang hamba yang selalu meminta-minta maka Allah Ta’ala membukakan (menjadikan) pintu kemiskinan baginya.’” [6]

Jadi, pada kesempatan ini yang ingin saya tekankan adalah berkaitan dengan kesabaran. Perlu senantiasa untuk diingat bahwa dapat menghadapi kelaliman dengan kesabaran demi ridha Ilahi adalah suatu amal perbuatan yang diterima oleh Allah sedemikian rupa sehingga Dia akan menegakkan kehormatan orang-orang yang mengamalkannya. Jika masyarakat kita terbiasa dalam kehidupan sehari-harinya memahami dengan baik pokok bahasan ini maka suasana aman dalam masyarakat dapat ditegakkan.

Kemudian ada satu riwayat lagi. Dari Umar bin Sa’ad, dari ayahnya, Sa’ad bin Abi Waqqash ra meriwayatkan bahwa Nabi Karim saw bersabda: “Keadaan orang Mu’min sangat mengagumkanku. Apabila ia mendapat sesuatu kemudahan dalam urusannya dan memperoleh suatu hal yang menggembirakan hatinya maka ia memuji Allah Ta’ala dan sangat bersyukur kepada-Nya. Sedangkan apabila ia mendapatkan musibah maka ia mengharapkan kebaikan atasnya dan bersabar atas itu semua.” [7]

Bagi seorang Muslim untuk setiap hal pastilah ada ganjaran maupun kebaikannya, sampai pada tingkatan ini selain disimpan dalam hati juga selalu disebut-sebut nikmat tersebut.

Satu riwayat yang lain menjelaskan lebih lanjut. Hadhrat Shahib bin Sunan ra mengatakan, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Perihal orang Mu’min merupakan suatu hal yang ajaib karena seluruh urusan dan perbuatannya penuh dengan keberkatan demi keberkatan. Karunia ini hanya khusus untuk orang Mu’min saja. Jika ia mendapatkan kegembiraan dan nasib yang baik maka ia selalu bersyukur kepada Allah Ta’ala, dan kebaikan-kebaikannya selalu akan berkembang dikarenakan ia melewatinya dengan banyak bersyukur. Jika mendapatkan kedukaan, penderitaan, kesusahan dan kehilangan harta maka ia senantiasa bersabar. Cara yang dilakukan orang Mu’min seperti itu menjadi sumber kebaikan dan keberkatan baginya, sebab berkat kesabaran itu dapat memetik ganjaran.” [8]

Kemudian ada riwayat lagi. Hadhrat Abu Hurairah ra menjelaskan bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “Setiap musibah, setiap kedukaan, setiap kesedihan dan kesengsaraan, setiap kesulitan dan kebimbangan yang dihadapi oleh seorang Muslim, maka ia sampai di sini tidak pernah putus asa sehingga jika sampai ada sebuah duri menusuk anggota badannyapun, maka Allah Taala membuatnya sebagai sumber penebusan dosa-dosa yang pernah dia perbuat. [9]

Ada sebuah riwayat panjang, yang di dalamnya terdapat beberapa amalan yang disukai maupun tidak disukai oleh Allah Ta’ala. Hal itulah yang akan saya sampaikan. Muththaraf bin Abdullah menerangkan bahwa ada satu riwayat dari Hadhrat Abu Dzar ra yang sampai kepadaku saat saya bertemu dengannya dan saya senantiasa mengenangnya. Kemudian ketika saya bertemu dengannya lagi saya mengingatkannya kembali. Wahai Abu Dzar ra! Hadits yang Tuan riwayatkan sudah sampai padaku. Saya selalu mengenangnya sebagai kenangan-kenangan bertemu dengan Tuan dan saat ini saya ingin menanyakannya lagi. Hadhrat Abu Dzar ra berkata: “Tuan sudah bertemu denganku, sekarang tanyakanlah!” Saya menjawab: “Satu perkara telah sampai kepadaku apa yang Tuan pernah katakan bahwa saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa ada tiga orang yang disukai oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan demikian juga ada tiga orang yang tidak disukai Allah ‘Azza wa Jalla.” Hadhrat Abu Dzar ra menjawab: “Ya dan saya membayangkannya saja juga tidak bisa bahwa saya mengatakan kedustaan terhadap apapun dari Rasulullah Khalil saw. Jadi dikatakan bahwa perkara ini intinya ada tiga martabat, maka saya menanyakan siapa saja tiga orang yang Allah ‘Azza wa Jalla menyukainya, maka beliau bersabda: “Seseorang yang keluar untuk berperang di jalan Ilahi, menjadi Mujahid dengan pahala yang kadarnya ditentukan oleh Allah Ta’ala sendiri kemudian ia terbunuh oleh musuh. Dan kalian juga mengetahui dari Kitab Allah ‘Azza wa Jalla bahwa Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang senantiasa menepati segala janjinya. Serta seseorang yang tetap tersenyum ketika ditimpa kesulitan dan menghadapi kesulitan tersebut dengan kesabaran, bahkan tidak hanya berhenti sampai di sini maka Allah Ta’ala akan mencukupinya dalam hidup maupun matinya. Demikian juga seseorang yang ketika berada dalam perjalanan bersama kaumnya tidak mengantuk dan tidak tidur serta terjaga pada sebagian malam yang terakhir, seseorang itu juga selalu menjaga wudhunya dan mendirikan sholat.” Saya akan menerangkan tiga orang yang Allah Ta’ala tidak menyukainya, beliau bersabda: “Yaitu orang yang sombong atau tinggi hati, takabbur dan kalian juga mengetahui dari Kitab Allah ‘Azza wa Jalla bahwa sesungguhnya orang yang berlagak dan orang yang sombong tidak dicintai Allah. Serta seseorang yang pelit terhadap perbuatan baik dan demikian juga orang yang mampu namun membenci untuk berbagi.” [10]

Hal yang perlu diingat juga berkenaan tiga orang yang disukai adalah orang yang sabar. Orang sabar adalah orang yang sangat dicintai oleh Allah Ta’ala.

Hadhrat Ali ra mengatakan: الصبر من الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد ‘Ash-shabru minal iimaani bi manzilatir ra-si minal jasadi.’ “Kedudukan kesabaran dalam iman sedemikian rupa adalah laksana kedudukan kepala pada tubuh kita. ” [11]

Ketika sabar tidak ada maka iman juga tidak ada.

Seorang Mu’min hendaknya senantiasa menyatakan dalam sikap yang seperti apa tatkala menghadapi berbagai kesulitan dan kedukaan dalam penderitaannya? Seperti apa riwayat yang ada? Doa yang seperti apa yang ingin dipanjatkan? Semua permasalahan ini sebetulnya telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya kepada kita.

Pada kesempatan ini terdapat sebuah hadits, Ummu Salamah ra menjelaskan: “Saya telah mendengar sabda Rasulullah saw sebagai berikut: ‘Seorang hamba yang mendapatkan musibah dan mengucapkan doa; إنا لله و إنا إليه راجعون اللهم آجرني في مصيبتي و اخلف لي خيرا منها Innalillahi wa inna ilaihi rooji’uun – Allahumma ajirnii fi mushiibatii wakhluf lii khoirom minha – “Sesungguhnya semua kami adalah milik Allah dan sesungguhnya semuanya akan kembali kepada Allah – Ya Allah! Berikanlah kepada hamba pahala dari musibah hamba ini dan anugerahkanlah kebaikan kepada hamba setelahnya.’ Maka Allah akan menggantikan musibahnya dengan pahala dan memberinya yang lebih baik.” [12]

Dan inilah dia musibah-musibah maupun kesulitan-kesulitan yang merupakan bagian dari kehidupan di dunia juga, bagian dari kehidupan Jemaat juga, bagian dari kehidupan kaumku juga. Asal usul hal ini terjadi pada semua tempat sehingga Allah Ta’ala telah mempersiapkan cara untuk menghadapi berbagai kesulitan tersebut, yakni dengan memperlihatkan sabar dan semangat, dengan cara seperti ini telah disediakan pahala bagi yang melakukannya. Allah Ta’ala juga telah memberikan petunjuk-Nya dalam Al Qur’anul Karim berkenaan cara melewati cobaan dan musibah dengan firman-Nya:

 الَّذِیۡنَ اِذَاۤ اَصَابَتۡہُمۡ مُّصِیۡبَۃٌ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلَیۡہِمۡ صَلَوٰتٌ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رَحۡمَۃٌ ۟ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُہۡتَدُوۡنَ

“Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali. Orang-orang seperti inilah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna, rahmat dari Tuhan mereka dan juga mendapatkan petunjuk.” (Qs Al Baqarah 2: 157-158)

Jadi inilah hukum yang telah ditetapkan oleh Al Qur’anul Karim

Sekarang saya akan ceritakan beberapa kejadian tentang kesabaran dari para sahabat Rasulullah saw berkat adanya tarbiyat dari Hadhrat Rasulullah saw dengan menampilkan contoh tauladan yang sangat istimewa dalam kesabaran.

Pada satu kesempatan Hadhrat A’isyah ra meriwayatkan bahwa orang-orang Muslim banyak sekali mendapatkan ujian dan cobaan dalam bentuk penyiksaan serta penindasan yang sangat kejam dilakukan oleh lawan atau musuh Islam pada waktu itu. Pada suatu kali Ayah beliau, Hadhrat Abu Bakar ra memutuskan untuk berhijrah dari Mekkah ke Habshah, Abisinia. Ketika beliau sampai di tempat Barkul Ghimad maka kepala kabilah dari Qarah Ibnu Dagunah bertemu dengan beliau. Dia bertanya: “Wahai Abu Bakar! Kemanakah Tuan hendak pergi?” Atas hal tersebut Abu Bakar menjawab: “Kaumku telah mengusirku, untuk itulah saya pergi dari bumi Allah ini dan memiliki tujuan untuk beribadah kepada Tuhanku dengan bebas.” Ibnu Dagunah menjawab: “Seorang yang seperti Anda tidak perlu keluar dari Mekkah dan tidak layak orang-orang itu mengusir Anda. Anda itu orang yang banyak berbuat baik, menjalani kehidupan dengan kebaikan serta kasih sayang, orang yang penuh pengertian, orang yang menghormati tamu dan orang yang memiliki rasa emphatic terhadap orang yang memerlukan bantuan. Jadi saya berkenan memberikan tempat perlindungan terhadap Anda. Kembalilah ke kota Anda dan beribadahlah kepada Tuhan Anda.” Akhirnya Hadhrat Abu Bakar ra kembali. Ibnu Dagunah juga menyertainya kembali. Pada malam harinya orang-orang Quraish berdatangan ke rumah Abu Dagunah, dan Abu Dagunah mengatakan: “Orang baik seperti Abu Bakar ini tidak perlu hijrah atau dipaksa untuk berhijrah, apakah kalian mau mengusir orang yang memiliki sifat baik dan bermartabat tinggi seperti ini?” Orang-orang Quraish tidak mengingkari perlindungan Ibnu Dagunah ini, bahkan mereka mengatakan kepada Ibnu Dagunah supaya Abu Bakar kembali ke rumahnya sendiri dan beribadah kepada Tuhannya dengan leluasa, disana kami persilahkan melakukan sholat dan apapun yang akan dilakukan supaya ditunaikan saja tetapi dengan kegiatan tersebut jangan sampai menimbulkan pertentangan dengan kami dan jangan menggunakan suara yang keras dalam melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Dikarenakan kami merasa khawatir jangan sampai para perempuan kami dan anak-anak kami tergelincir dalam fitnah. Ibnu Dagunah telah mengatakan perkara ini semua kepada Hadhrat Abu Bakar ra supaya melakukan peribadahan dalam rumah beliau saja, jangan mengeluarkan suara yang keras saat melakukan sholat dan tidak boleh melakukannya selain di rumah serta jangan membaca Al Qur’an dengan suara keras. Kemudian terpikirkan dalam benak beliau untuk membangun sebuah mesjid di halaman rumah beliau, disana beliau melaksanakan sholat dan beliau menilawatkan Al Qur’an dengan suara keras. Waktu itu para perempuan musyrikin dan anak-anaknya dapat mengintip Hadhrat Abu Bakar ra sehingga dari hal yang kelihatannya sepele ini banyak mendapatkan hasil pertablighan yang efektif. Hadhrat Abu Bakar ra adalah orang yang banyak menangis dan banyak membaca Al Qur’an sehingga tidak membiarkan kedua matanya sia-sia. Sehingga saudara perempuan beliaupun mulai menangis karenanya. Tokoh-tokoh Quraisy mulai sangat mengkhawatirkan perkara ini sehingga mereka melaporkan hal ini kepada Ibnu Dagunah. Ketika berjumpa dengannya, mereka mengatakan bahwa kita mengingat berkenaan dengan perlindunganmu kepada Abu Bakar ra dengan syarat dia akan beribadah kepada Tuhannya di rumahnya, tetapi rupanya dia mengabaikannya dan malah membangun sebuah masjid di depan rumahnya. Dia sholat disana dan membaca Al Qur’an Karim dengan suara yang keras. Kami mengkhawatirkan hal tersebut akan berpengaruh kepada para perempuan dan anak-anak kami. Kemudian mereka menanyakan kepada Ibnu Dagunah, apakah perlindunganmu akan dicabut? Karena kami tidak menyukai hal tersebut berlangsung sehingga kami keberatan dengan perlindungan tersebut dan kami tidak bisa mengizinkan Abu Bakar ra untuk melakukan ibadahnya. Hadhrat A’isyah ra menerangkan bahwa Ibnu Dagunah mendatangi Hadhrat Abu Bakar ra dan mengatakan bahwa saya telah menentukan kesepakatan dengan Anda tentang perkara tersebut atau telah terbangun sebuah kerjasama atau sayalah yang bertanggung jawab atas perkara tersebut. Dikarenakan perkara tersebut tidak mengenakkanku dengan sebab orang-orang Arab telah datang kepadaku dan menyatakan keberatan setelah mendengar kabar berkenaan perkara tersebut. Sehingga saya terpaksa membuat kesepakatan dengan mereka. Hadhrat Abu Bakar mengatakan bahwa saya mengembalikan jaminan perlindungan Anda dan saya lebih menyukai mengganti dengan perlindungan keamanan dari Allah. [13]

Setelah itu orang-orang Quraish memprotes terhadap Hadhrat Abu Bakar ra berkenaan bangunan tanah berkarang yang berfungsi sebagai masjid di tempatnya. Riwayat ini menyatakan bahwa kaum Kufar sangat menghujat Hadhrat Abu Bakar ra. Kemudian beliau disiksa sedemikian rupa, dipukuli, rambut kepala dan janggut beliau ditarik-tarik oleh para penentang. Dan meskipun mendapatkan penganiayaan yang sedemikian rupa beratnya tetapi beliau tetaplah sabar. [14]

Saya jadi teringat sebuah peristiwa di Pakistan orang-orang Ahmadi tidak diperbolehkan melaksanakan shalat-shalat mereka. Kelemahan kita adalah menyembunyikan sholat-sholat kita di depan mereka, kalian juga melakukan manipulasi dalam hal ini sehingga hal tersebut muncul di permukaan. Oleh karena itu munculah peraturan dan tidak hanya ditujukan satu tempat bahkan terjadi di beberapa tempat, khabar ini tersebar di Pakistan. Para Ulama atau Maulwi ghair Ahmadi meminta kepada Polisi agar minggu ini saat Hari Raya Haji orang-orang Ahmadi dilarang melakukan penyembelihan hewan kurban, sampai disini sudah memasuki ranah syiar Islam, oleh karena itu mereka berniat menghentikannya, sehingga perasaan kita terlukai. Sehingga permasalahan berhenti sampai disini. Polisi memanggil dan mengumpulkan orang-orang Ahmadi serta menyarankan agar mereka melakukan pemotongan hewan qurban mereka di balik dinding pagar rumah mereka, sehingga berita tentangnyapun tidak boleh disebarkan. Itu semua dilakukan karena kalian dianggap tidak berhak melakukan qurban dan kalian juga dianggap tidak berhak untuk melukai perasaan hati orang-orang Muslim lain. Padahal kita semua mengetahui bahwa para Ahmadi telah melakukan qurban pada tahun-tahun sebelumnya di rumah-rumah mereka sendiri. Bahkan orang-orang Ahmadi sudah mengatakan kepada polisi bahwa mereka sudah mengurung kegiatan mereka hanya di dalam batas dinding rumah mereka dan tidak melakukan pemotongan hewan kurban di luar pekarangan rumah mereka; tetapi para ulama atau Maulwi mereka itu tetap saja menyebarkan kebencian, keributan dan mengajak bertengkar.

Kemudian ada satu riwayat lagi, sekarang berkenaan dengan sabar dan istiqomahnya seorang wanita yang bernama Hadhrat Ummi Syarik ra yang telah menerima Islam. Sehingga ia mendakwahkan Islam dengan sembunyi-sembunyi kepada wanita-wanita Quraish. Ketika ilmu pertablighan sampai kepada mereka, mereka mengatakan bahwa kami akan mengembalikan kamu kepada kabilahmu. Kemudian sebagian orang yang tidak beriman mengikat si ibu ini pada seekor unta dan disuruh berjalan selama 3 hari. Mereka tidak memberinya bekalan makan dan minum. Mereka menempatkan unta tersebut dibawah terik sinar matahari yang panas sedangkan mereka sendiri berlindung di tempat yang teduh. Ibu ini telah melihat sebuah tempat berisi air dan menggapainya untuk minum dan memercikkan air itu pada tubuhnya untuk mengurangi kesan panas dari sengatan terik matahari. Ketika orang-orang tidak beriman itu kembali, mereka melihat keadaan si ibu ini lebih baik dan segar, mereka melihat ada tanda-tanda percikan air pada tubuhnya. Mereka menuduh si ibu ini telah melepaskan dirinya dan mengambil serta meminum air mereka; ia menyangkal tuduhan tersebut dan menceriterakan kejadiannya. Mereka memeriksa tempat air mereka dan mendapatkan bahwa airnya tetap utuh seperti semula. Mereka berkata bahwa ternyata keimanan orang ini benar sehingga mereka sangat terkesan akhirnya mereka menerima dan masuk Islam. [15]

Jadi ini juga merupakan pemandangan ajaib bagaimana Allah Ta’ala membalas kesabaran dengan balasan yang sedemikian rupa indahnya. Tiga hari dalam kondisi lapar dan kehausan, namun dengan kecintaan keimanan yang teguh sehingga itu semua dilaluinya.

Kemudian satu riwayat lagi berkaitan dengan Hadhrat Abu Fukaih ra, ia adalah seorang anak dari Abdud Daar, ketika beliau menerima Islam, maka orang-orang mulai menentangnya dengan mengatakan supaya segeralah keluar dari Islam. Namun beliau ra mengingkarinya. Banu Abdud Daar yang keras pada suatu waktu pernah menurunkan dan menyobek pakaian beliau dalam suasana panas yang terik sehingga saat berdiri semakin parah sobeknya. Kemudian ternyata sebuah batu karang telah disimpan di belakang beliau. Atas kejadian tersebut beliau sangat sedih tetapi menganggap hal ini tidak masalah, beliau nampak terhuyung-huyung demi untuk melaksanakan sabar dan istiqomahnya. [16]

Kita telah mendengar kisah tentang Hadhrat Bilal ra, Umayyah bin Khalaf yang merupakan budak dari Habsyi Ghulam. Umayyah mengisahkan bahwa Bilal ra ditelentangkan dengan punggung terbuka di atas tanah pasir yang panas dan ditaruh batu sangat berat diatas dada beliau agar beliau tetap terbaring; dipaksa untuk mengimani Laata dan ‘Uzza dan mengingkari Muhammad, walaupun menderita sebuah penganiayaan sedemikian rupa bahkan seolah-olah akan mati. Bilal ra terus mengatakan: “Ahad-ahad, Allah adalah esa, Allah adalah esa.” Tidak lama kemudian Hadhrat Abu Bakar ra datang dan telah membebaskan Bilal dari genggaman majikannya dengan diganti oleh budak yang lain bernama Umayyah bin Khalaf. [17]

Kemudian ada riwayat Hadhrat Khabab ra juga. Pada zaman Hadhrat Umar ra pernah suatu kali Hadhrat Khabab ra mendatangi majlis beliau maka beliau memanggil Hadhrat Khabab ra untuk duduk di atas kursi khususnya bersama beliau dan bersabda: “Khabab! Anda layak untuk duduk bersama saya disini. Sementara saya tidak melihat dari antara hadirin seseorang yang berhak duduk bersamaku di tempat ini kecuali Bilal.” Beliau menjawab: “Wahai Amirul Mu’minin! Tidak diragukan lagi bahwa Bilal ra sangat berhak untuk itu ditambah lagi ada yang menyelamatkan Bilal saat terjadi kezaliman terhadapnya oleh orang-orang musyrik. Namun tidak ada yang menyelamatkan saya dari kezaliman tersebut. Satu hari dia bercerita sedemikian rupa bahwa ia ditangkap oleh orang-orang kafir dan dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala serta didorong masuk ke dalamnya. Saya meminta beliau untuk menceritakan berbagai penderitaan yang dialami pada awal-awal masuk Islam. Kemudian beliau membuka bajunya dan menunjukkan kepada Hadhrat Umar ra punggungnya sehingga terlihat tanda memutih bekas penganiayaan disana yang diakibatkan oleh bara api. [18]

Hadhrat Khabab bin Art ra adalah seorang pandai besi dan banyak membikin berbagai pedang. Rasulullah saw menempatkan beliau sebagai sahabat yang setia. Seperti halnya telah diketahui bahwa beliau dulunya merupakan budak dari majikan Malikah Ummu Anmar. Dialah yang meletakkan sebatang besi panas diatas kepala beliau. Hadhrat Khabab ra mengingat satu hal saat berkhidmat kepada Nabi Karim saw. Beliau saw berdoa: اللهم انصر خبابا ’Allahumma nshar Khababan’ “Yaa Allah tolonglah Khabab!” Sebagai balasan atas kesabarannya perempuan majikannya itu yang bernama Malikah Ummu Anmar mempunyai semacam penyakit dan katanya kepala perempuan itu harus disentuh dengan besi yang panas menyala. Perempuan ini meminta kepada Hadhrat Khabab untuk meletakkan besi panas diatas kepalanya, Hadhrat Khabab berkata bahwa kemudian saya meletakkan besi panas diatas kepalanya. [19]

Allah Ta’ala juga telah mengganti sedemikian rupa ganjaran maupun balasan atas kesabarannya itu.

Hadhrat Utsman bin Mazh’un ra mendapatkan jaminan keamanan baik pagi hingga sore dari Walid bin Mughirah, tetapi dia melihat sahabat-sahabat Rasulullah saw yang lainnya dalam cobaan yang berat. Maka beliau berfikir bahwa saya bisa bebas bergerak pagi hingga petang karena perlindungan seorang musyrik, sungguh saya merasa tidak nyaman dikarenakan teman-temanku dan saudara rohaniku mengalami berbagai musibah, penganiayaan dan kesulitan. Setelah itu beliau pergi menemui Walid bin Mughirah dan berkata: “Wahai Abu Syams! Perlindunganmu sudah sempurna. Saya ingin mengembalikan perlindunganmu.” Dia bertanya: “Wahai anak saudaraku! Mengapa? Apakah ada dari kaumku yang hingga memberikan kesulitan kepadamu?” Beliau berkata: “Tidak. Saya lebih menyukai perlindungan Allah dan saya tidak menyukai perlindungan selain-Nya.” Walid berkata: “Baiklah, mari kamu bersama saya pergi ke masjid yakni ka’bah. Dengan demikian nanti saya umumkan perihal perlindungan ini, demikian juga kamu hendaknya mengumumkan bahwa perlindunganku telah dikembalikan kepadaku.” Hadhrat Usman bin Mughirah berkata: “Kita sudah sampai di masjid.” Dan Walid berkata: “Ini Usman yang datang untuk mengembalikan jaminan perlindunganku.” Hadhrat Usman berkata: “Dia berkata benar, saya telah mendapatkan jaminan perlindungannya dengan baik tetapi saya tidak suka jaminan perlindungan selain jaminan perlindungan dari Allah. Untuk itulah saya mengembalikan jaminan perlindungannya.” Kemudian Hadhrat Usman ra berjalan melewati sebuah majlis orang-orang Quraisy yang mana Labid bin Rabi’ah sedang bersyair. Hadhrat Usman ra bin Mughirah juga duduk bersama dalam majlis tersebut, ketika Labid berkata: Aalaa kullu syai-im maa kholallaha baathil” yakni ingatlah bahwa segala sesuatu selain Allah akan binasa. Atas hal tersebut Hadhrat Usman bin Mazh’un berkata: “Kamu benar!” Kemudian Labid berkata lagi: Wa kullu na’iimil laa mahaalata zaa-il” artinya dan semua nikmat niscaya akan sirna. Atas hal itu spontan Hadhrat Usman ra berkata: “Kamu dusta! Nikmat surga tidak akan pernah sirna.” Labid bin Rabi’ah berkata: “Wahai Kaum Quraisy! Diantaramu ada seseorang yang menentangku. Hal ini mulai merusak forum. Seseorang dari antara mereka berkata: “Inilah seseorang yang membawa sebuah pemahaman yang salah bersama teman-temanya, yang mana mereka telah bersiap-siap untuk memisahkan agama kita. Oleh karena itu dalam hatinya tidak ada penyesalan mengenai yang dipertentangkan tadi.” Hadhrat Usman ra menjawab: “Sampai disini mari berlomba kebaikan”, dan seseorang berdiri serta memukul mata beliau hingga salah satu mata beliau bengkak. Walid bin Mughirah yang duduk disamping beliau melihat kejadian tersebut. Dia berkata: “Demi Allah! Wahai anak dari saudaraku! Jika engkau tidak menghentikan jaminan keamananku maka hal ini tidak terjadi sampai seperti ini, sehingga engkau akan selamat.” Hadhrat Usman ra berkata: “Demi Allah! Saya merindukan hal ini, mataku yang satunya menjadi iri dengan apa yang dialami oleh saudara sejawatnya. Dan wahai Abu ‘Abdusy Syams! Sungguh saya berada di bawah perlindungan jaminan keamanan Dzat yang lebih perkasa daripada kamu dan jauh lebih mulia.” Walid bin Mughirah berkata kepadanya: “Ooh anak dari saudaraku, jika engkau menghendaki untuk kembali dalam perlindunganku saya persilahkan”, namun Hadhrat Usman menolaknya. [20]

Tidak diragukan lagi bahwa Hadhrat Rasulullah saw telah memberikan semangat baru dalam hal kecintaan, kesetiaan dan kesabaran kepada para sahabat. Salah seorang sahabat yang dipenjara saat peristiwa Raji’ adalah Hadhrat Zaid bin Datsanah juga. [21] Shafwan bin Umayyah menebus beliau untuk membunuh beliau dalam rangka menuntut balas atas kematian ayahnya oleh beliau [dalam perang Badr]. Ketika Hadhrat Zaid [setelah dibawa keluar kota] sudah pasrah untuk dibunuh maka di sana Abu Sufyan berkata: نشدتك الله يا زيد أتحب أن محمدا عندنا الآن مكانك فنضرب عنقه وأنك في أهلك ‘NasyadtukaLlah yaa Zaid! A tuhibbu an Muhammadan ‘indanaa al-aan makaanaka fa nadhribu ‘unuqahu wa annaka fi ahlika?’ – “Wahai Zaid! Aku bersumpah kepada Allah untukmu, apakah hal ini tidak akan menyenangkanmu bahwa Muhammad saw didatangkan di tempatmu di sini untuk dibunuh menggantikan dirimu sementara dirimu dikembalikan kepada keluargamu?” Hadhrat Zaid menjawab: والله ما أحب أن محمدا الآن في مكانه الذي هو فيه تصيبه شوكة تؤذيه وأني جالس في أهلي ‘Wallahi! Maa uhibbu an Muhammadan al-aan fii makaanihi lladzii huwa fiihi tushiibu syaukatun tu-dziihi wa annii jaalisun fii ahlii.’ – “Demi Allah! Bahkan, saat ini pun aku tidak merasa nyaman (tidak suka) bahwa Muhammad saw tertusuk duri yang menyakitinya di tempatnya sekrang (di Madinah) sementara diriku duduk-duduk saja bersama keluargaku.” Abu Sofyan berkata, ما رأيت أحدا من الناس يحب أحدا كحب أصحاب محمد محمدا ‘Maa ra-aitu ahadan minan naasi yuhibbu ahadan ka hubbi ash-haabi Muhammadin Muhammadan.’ “Belum pernah saya melihat kecintaan di kalangan manusia seperti kecintaan para sahabat Muhammad dalam mencintai Muhammad.” [22]

Kemudian perhatikanlah bagaimana di zaman itu para ibu sedemikian rupa menasehati anak-anaknya dengan kesabaran dan keteguhan hati. Sebuah riwayat yang mengisahkan, pada hari ketika Hadhrat Abdullah bin Zubair ra syahid, beliau menghadap ibundanya. Ibundanya berkata kepada Hadhrat Abdullah ibn Zubair: يا بني لا تقبلن منهم خطة تخاف فيها على نفسك الذل مخافة القتل فوالله لضربة بسيف في عز خير من ضربة بسوط في ذل ‘Yaa bunayya, laa taqbalan minhum khithatun takhaafu fiihaa ‘alaa nafsikadz dzillu makhaafatanil qatlu, fa waLlaahi ladharbatun bi saifin fi ‘izzin khairum min dharbatun bi suuthin fii dzillin.’ – “Wahai anakku! Janganlah menerima syarat-syarat demikian karena cemas atas keselamatan diri dan takut dibunuh sehingga kamu menjadi terhina. Demi Allah! Terbunuh oleh sabetan pedang dalam menjaga kehormatan itu lebih baik dari pada mendapat cambuk satu kali dalam kehinaan.” [23]

Dari riwayat tersebut dapat diketahui bagaimana tekad kuat dan ghairat (semangat kehormatan) keagamaan dari para ibu di masa itu yang juga sedemikian rupa mendidik anak-anak mereka agar sama sekali tidak memperlihatkan kelemahan iman. Ini adalah sebuah keteladanan dalam hal pengorbanan dan kesabaran yang dapat kita lihat terukir dalam sejarah Islam yang terlihat oleh semua orang baik perempuan, laki-laki, tua maupun muda. Tentang generasi tersebut Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan dalam sabdanya:

“Nabi kita Hadhrat Rasulullah saw pada masa hidupnya tidak pernah mengangkat pedang terlebih dahulu. Bahkan, dalam satu masa hingga masa tertentu tangan-tangan orang-orang kafir mendatangkan berbagai kedukaan kepada beliau. Kadar kesabaran beliau mencapai derajat yang sedemikian rupa sehingga tidak ada manusia lainnya yang dapat tahan tinggal dalam kedudukan itu. Demikian pula para sahabat memegang teguh pokok ajaran luhur beliau saw ini dengan disiplin penuh ketaatan dan sebagaimana beliau saw memerintahkan kepada mereka, ‘Bersabarlah dalam kedukaan!’ seperti itu pula mereka memperlihatkan kesabaran dengan tulus. Mereka diinjak-injak oleh orang-orang dewasa namun mereka tidak pernah menyerah. Anak-anak mereka dibunuh dengan dicincang menjadi potongan-potongan di depan mata mereka. Mereka disiksa dengan api dan air namun mereka menahan diri untuk melawan kejahatan tersebut seolah anak singa yang sedang tidak enak badan. Siapa yang dapat setabah dan setangguh itu? Bukankah tidak ada satu pun dari umat seluruh nabi yang pernah datang di dunia ini yang dapat meraih keberhasilan akhlak sedemikian rupa sehingga sahabat-sahabatnya bisa seperti itu? Adakah seseorang ataupun kelompok lain yang mampu setabah dan setangguh seperti itu?

Meskipun mereka itu mempunyai kekuatan, keberanian dan kemampuan untuk menghadapi lawan dalam pertempuran, namun mereka tidak bangun untuk melawan para penyerang sehingga bisa bersabar sampai 13 tahun? Junjungan dan panutan kita beserta para sahabatnya bisa bersabar tidak karena terpaksa bahkan kesabarannya pada zaman ini membuktikan bahwa mereka betul-betul para sahabat setia dari beliau bagaikan tangan dan punggung beliau sendiri seolah-olah mereka melihat sesuatu hal setelah menerapkan perintah jihad tersebut. Dan berhasil melampau segala derita dalam menghadapi para penentang dalam waktu yang cukup panjang. Banyak orang telah memahami bahwa mereka menghadapi musuh di Mekkah dengan sabar bukan karena takut maupun lemah, namun mereka meletakkan senjata demi mendengar perintah dari langit. Dan mereka siap sedia untuk disembelih sebagaimana halnya sapi maupun kambing.

Tidak diragukan lagi bagaimana hebatnya kekuatan kesabaran manusia-manusia tersebut dimana kita tidak menemukan akhlak yang sedemikian mulianya pada umat nabi manapun yang lain dalam rentan waktu sejarah ketika para nabi telah datang. Jika ada pahlawan kesabaran yang muncul di permukaan bumi ini, pastilah semua itu akan terlewatkan sebagai contoh yang diketahui mungkin Qurain. Wujud kesabaran tersebut memang ada namun telah ditetapkan dalam kadar tertentu. Namun ini adalah sebuah kaum yang para tentaranya tidak digaji dan dengan contoh teladan keberanian dan kekuatan hati Sang Majikanya serta kemudian mereka menyaksikan anak-anaknya dibunuh di depan mereka sementara mereka tidak mengadakan pembelaan juga demi ridha Ilahi. Inilah yang tidak ada tara bandingannya, sehingga Nabi karim saw kita dan para sahabat beliau bisa memperlihatkan kesabaran yang sedemikian rupa tingginya selama 13 tahun berturut-turut. Sungguh hal ini tidak ada bandingannya dalam kesabaran dari kelompok atau kaum lainnya dalam sejarah yang mampu memperlihatkan kesabaran dalam rentan waktu yang panjang yakni selama 13 tahun. Dan jika ada yang meragukan hal ini, saya katakan supaya memperlihatkan kesabaran tersebut dalam beberapa tahun saja, mampu atau tidak?”

Beliau bersabda: “Di tempat ini ada hal lain juga yang perlu untuk disebutkan, yaitu Nabi kita yang Mulia saw, atas dasar ijtihad beliau saw dan tidak pernah mengeluh terhadap seberat apapun kadar kelaliman yang ditimpakan waktu itu bahkan sering beliau nasehatkan supaya memperlihatkan kesabaran yang sempurna dan jika terdapat sedikit saja hasrat untuk melawan maka beliau menghimbau untuk segera hentikan hasrat seperti itu serta beliau menegaskan bahwa saya diperintahkan supaya bersabar. Setelah Hadhrat Rasulullah saw selalu menetapkan perintah kesabaran akhirnya datanglah perintah berperang mengangkat senjata dari langit. Sekarang menjadi tugas kalian untuk mencari contoh betapa pentingnya kesabaran pada generasi awalin dan akhirin, kemudian jika memungkinkan hingga menjangkau kepada berbagai contoh yang terjadi dalam umat Hadhrat Musa as atau kaum hawariyy Hadhrat Isa as, setelah itu hasilnya laporkan kepada saya!”[24]

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi taufiq kepada kita semua untuk selalu memperlihatkan kesabaran dan istiqamah (keteguhan hati); khususnya, kita doakan kepada mereka yang tinggal di negara-negara yang terus mendapatkan penganiayaan keras, sebagaimana yang terjadi di Pakistan dan negara lainnya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesabaran dan istiqomah kepada mereka juga dan semoga Dia memperlihatkan Qudrat khas-Nya dengan menciptakan situasi untuk menghukum para musuh. Semoga kita semua amal perbuatan baik yang kita lakukan senantiasa dapat meraih ridha Allah Ta’ala dan kita menjadi pewaris segala karunia-Nya.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Sunan At-Tirmidzi, Kitaab al-Birri wash Shilah (Berbakti dan menyambung Silaturrahmi), bab maa jaa-a fin Nafaqaat ‘alal banaat wal ukhuwwaat (memberikan nafkah kepada anak perempuan dan saudara perempuan)

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ابْتُلِيَ بِشَيْءٍ مِنْ الْبَنَاتِ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنْ النَّارِ

[3] Sumber : Tirmidzi; Kitab : Sifat qiamat, penggugah hati dan wara’; Bab : LAIN2; No. Hadist : 2431. Ibnu Abi Adi berkata: Syu’bah berpendapat syeikh itu adalah Ibnu Umar.

 عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ عَنْ شَيْخٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى قَالَ ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ كَانَ شُعْبَةُ يَرَى أَنَّهُ

[4] Shahih al-Bukhari, Kitabul Adab, bab al-hadzr minal ghadhab (mewaspadai kemarahan), “لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.” ‘Laisasy syadiidu bish shura’ati innamaasy syadiidul ladzii yamliku nafsahu ‘indal ghadhabi.’

[5] Shahih Muslim-Kitabul Fadhail, Bab. Muba’idatuhu Mulatsamu Wa Ikhtiyaruhu. Sumber lain : Musnad Imam Ahmad; Kitab : Sisa musnad sahabat Anshar; Bab : Lanjutan Musnad yang lalu;

 عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ خَادِمًا لَهُ قَطُّ وَلَا امْرَأَةً وَلَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ شَيْئًا قَطُّ إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا خُيِّرَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا كَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَيْهِ أَيْسَرُهُمَا حَتَّى يَكُونَ إِثْمًا فَإِذَا كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ الْإِثْمِ وَلَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ مِنْ شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونَ هُوَ يَنْتَقِمُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Aisyah berkata; “Rasulullah saw tidak pernah memukul pembantunya dengan tangannya sama sekali dan tidak pula isterinya. Rasulullah saw juga tidak pernah memukul dengan tangannya kecuali ketika beliau berjihad di jalan Allah. Dan tidaklah beliau pernah diberi pilihan antara dua perkara kecuali beliau lebih menyukai yang lebih mudah dari keduanya, melainkan perkara tersebut mengandung dosa. Apabila ia mengandung dosa maka beliau adalah orang yang paling jauh dari dosa. Dan, tidaklah beliau pernah membalas untuk dirinya dari sesuatu yang menimpanya sehingga akan melanggar aturan-aturan Allah Azza wa Jalla, tapi beliau hanya membalas karena Allah Azza wa jalla.”

[6] Sumber Kutipan Sunan at-Tirmidzi, Kitab : Zuhud, Bab : Matsalud Dunya Matsalu Arba’atu Nafirun (Dunia bagaikan empat orang). Dari Sa’id Ath Tho’i Abu Al Bakhtari berkata: telah menceritakan kepadaku Abu Kabsyah Al Anmari ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tiga hal, aku bersumpah atasnya dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah, tidaklah seseorang diperlakukan secara lalim lalu ia bersabar melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya dan tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya -atau kalimat sepertinya- dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya dunia itu untuk empat orang; Pertama, seorang hamba yang dikarunia Allah harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allah dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allah memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik, Kedua, selanjutnya hamba yang diberi Allah ilmu tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, ia berkata: Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama, Ketiga, selanjutnya hamba yang diberi harta oleh Allah tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu menggunakan hartanya, ia tidak takut kepada Rabbinya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allah padanya, ini adalah tingkatan terburuk, Keempat, selanjutnya orang yang tidak diberi Allah harta atau pun ilmu, ia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan mengelola hartanya, dan niatnya benar, dosa keduanya sama.”

عَنْ سَعِيدٍ الطَّائِيِّ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو كَبْشَةَ الأَنْمَارِيُّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «ثَلاَثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ». قَالَ: «مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلاَّ زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابُ مَسْأَلَةٍ إِلاَّ فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابُ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ» قَالَ: «إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلاَ يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ».

[7] Musnad Ahmad bin Hambal, Musnad Saad bin Abi Waqash ra, Jilid Awal, h. 479, hadits number 1531.

[8]Shahih Muslim, Kitab az-Zuhd war Riqaq, bab AlMu’minu Amruhu Kulluhu Khair-semua perkara bagi orang beriman menjadi kebaikan baginya.

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ».

Dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”

[9] Sumber Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Sakit, Bab mengenai Penjelasan tentang kafarah orang sakit;

Dari Abu Sa’id Al Khudri dan dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Tidaklah seorang Muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.”

[10] Sumber : Musnad Ahmad bin Hanbal; Kitab : Musnad sahabat Anshar; Bab : Hadits Abu Dzar Al Ghifari Radliyallahu Ta’ala ‘anhu; No. Hadist : 20550

عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ قَالَ بَلَغَنِي عَنْ أَبِي ذَرٍّ حَدِيثٌ فَكُنْتُ أُحِبُّ أَنْ أَلْقَاهُ فَلَقِيتُهُ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا ذَرٍّ بَلَغَنِي عَنْكَ حَدِيثٌ فَكُنْتُ أُحِبُّ أَنْ أَلْقَاكَ فَأَسْأَلَكَ عَنْهُ فَقَالَ قَدْ لَقِيتَ فَاسْأَلْ قَالَ قُلْتُ بَلَغَنِي أَنَّكَ تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَثَلَاثَةٌ يُبْغِضُهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ نَعَمْ فَمَا أَخَالُنِي أَكْذِبُ عَلَى خَلِيلِي مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثًا يَقُولُهَا قَالَ قُلْتُ مَنْ الثَّلَاثَةُ الَّذِينَ يُحِبُّهُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ رَجُلٌ غَزَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَقِيَ الْعَدُوَّ مُجَاهِدًا مُحْتَسِبًا فَقَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ وَأَنْتُمْ تَجِدُونَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا } وَرَجُلٌ لَهُ جَارٌ يُؤْذِيهِ فَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُ وَيَحْتَسِبُهُ حَتَّى يَكْفِيَهُ اللَّهُ إِيَّاهُ بِمَوْتٍ أَوْ حَيَاةٍ وَرَجُلٌ يَكُونُ مَعَ قَوْمٍ فَيَسِيرُونَ حَتَّى يَشُقَّ عَلَيْهِمْ الْكَرَى أَوْ النُّعَاسُ فَيَنْزِلُونَ فِي آخِرِ اللَّيْلِ فَيَقُومُ إِلَى وُضُوئِهِ وَصَلَاتِهِ قَالَ قُلْتُ مَنْ الثَّلَاثَةُ الَّذِينَ يُبْغِضُهُمْ اللَّهُ قَالَ الْفَخُورُ الْمُخْتَالُ وَأَنْتُمْ تَجِدُونَ فِي كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ } وَالْبَخِيلُ الْمَنَّانُ وَالتَّاجِرُ وَالْبَيَّاعُ الْحَلَّافُ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا ذَرٍّ مَا الْمَالُ قَالَ فِرْقٌ لَنَا وَذَوْدٌ يَعْنِي بِالْفِرْقِ غَنَمًا يَسِيرَةً قَالَ قُلْتُ لَسْتُ عَنْ هَذَا أَسْأَلُ إِنَّمَا أَسْأَلُكَ عَنْ صَامِتِ الْمَالِ قَالَ مَا أَصْبَحَ لَا أَمْسَى وَمَا أَمْسَى لَا أَصْبَحَ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا ذَرٍّ مَا لَكَ وَلِإِخْوَتِكَ قُرَيْشٍ قَالَ وَاللَّهِ لَا أَسْأَلُهُمْ دُنْيَا وَلَا أَسْتَفْتِيهِمْ عَنْ دِينِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَتَّى أَلْقَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ ثَلَاثًا يَقُولُهَ

dari Mutharrif bin Abdullah bin Syikhir berkata, telah sampai padaku sebuah hadits dari Abu Dzar, maka aku lebih suka mendatanginya dan bertemulah aku dengannya, lalu aku katakan padanya, “Wahai Abu Dzar, telah sampai padaku sebuah hadits darimu, aku menyukai untuk langsung bertemu denganmu sehingga aku bisa langsung bertanya kepadamu.” Abu Dzar berkata, “Engkau telah menemuiku, maka sekarang bertanyalah kepadaku.” Mutharrif berkata, “Aku lalu bertanya, “Telah sampai padaku bahwa engkau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga golongan yang dicintai Allah Azza Wa Jalla, sedang tiga golongan selainnya dimurkai’?” Abu Dzar menjawab, “Benar, dan aku tidak mungkin berbohong terhadap kekasihku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atas tiga hal yang beliau sebutkan.” Mutharrif berkata, “Aku bertanya, “Siapa tiga golongan yang Allah mencintainya?” Abu Dzar menjawab, “Seseorang yang berperang di jalan Allah dengan ikhlas dan berharap ridla Allah, lalu ia maju hingga gugur, dan kalian dapatkan dalam Kitabullah: ‘(Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur) ‘ (Qs. Ash Shaff: 4). Kedua seseorang yang mendapatkan tetangganya selalu mencaci dan mengganggunya sedang ia tetap bersabar dan berharap Allah akan menghentikannya dengan kematian atau semasa hidupnya. Dan seseorang yang melakukan perjalanan dengan sekelompok kaum hingga terasa lelah dan kantuk mereka, tetapi ia bangun di akhir malam, ia bangun dan shalat.” Mutharrif berkata, “Lalu siapa tiga kelompok yang Allah murka padanya?” Abu Dzar menjawab, “Orang-orang yang sombong lagi berbangga diri, dan engkau dapatkan dalam Kitabullah; ‘(Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri) ‘ (Qs. Luqman: 18). Orang bakhil yang menyebut-nyebut pemberiannya, serta pedagang atau pembeli yang mengumbar sumpah.” Mutharrif berkata, “Wahai Abu Dzar, apa saja yang termasuk harta itu?” Abu Dzar menjawab, “Kambing dan unta.” Mutharrif berkata, “Aku menjawab, “Bukan itu yang aku tanyakan, hanyasanya aku menanyakan emas dan perak (timbunan harta)?” Abu Dzar berkata, “Ia tidak boleh menginap dan tidak boleh ada hingga pagi harinya, sebaliknya bila ada di pagi ia harus lenyap di sore hari.” Murtharrif berkata, “Wahai Abu Dzar, ada apa antara engkau dengan kawan-kawanmu, bangsa Quraisy?” Ia menjawab, “Demi Allah, aku tiada berharap dunia dari mereka dan aku tidak meminta fatwa dalam urusan agama Allah Tabaraka Wa Ta’ala ini pada mereka, sehingga aku menemui Allah dan Rasul-Nya.” Ia mengatakannya hingga tiga kaliا

[11] Kanzul Umal-Al Kitabuts Tsaalitsu fii Akhlaqi, Qismul Af’al, Bab Ash Shobru wa Fadhluhu. ( فر ) عن أنس ( حب ) عن علي

[12] Al-Jaami li Syi’bil Iman (kumpulan cabang-cabang iman) karya Imam Abu Bakr Ahmad bin al-Husain Baihaqi, Jilid 12, Hal. 182, As-Sab’uuna min Syi’bil Aiman (Cabang ke-70 dari 77 cabang iman), Bab Fish Shobri ‘alal Mashoo-ibi (Sabar dalam musibah), Hadits 9697, Mathbu’ah Maktabatur Rusydi, 2004. Hadhrat Ummu Salamah ra menikah dengan Nabi saw beberapa waktu setelah kewafatan suaminya, Abu Salamah.

عن أبي سفينة مولى أم سلمة عن أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه و سلم قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ما من عبد تصيبه مصيبة فيقول إنا لله و إنا إليه راجعون اللهم آجرني في مصيبتي و اخلف لي خيرا منها إلا آجره الله في مصيبته و أخلف له خيرا منها

[13] Talkhish oleh al-Bukhary-Kitabu Manaqibul Anshori, Bab. Hijratun Nabi saw wa Ashhaabahu Ilal Madinati….Alaj.

[14] As-Sirah al-Halabiyyah (Insanul ‘Uyuun fi Sirah al-Amin al-Ma-mun) karya Ali bin Burhanuddin al-Halabi, Bab Istikhafa-uhu wa ashhabuhu fii Daril Arqom Ibni Abi Arqam, Darul Kutub al- ‘Ilmiyyah, Beirut 2002.

فخرج أبو بكر حتى دخل المسجد فوجد رسول والناس مجتمعون عليه، فقال: ويلكم، أتقتلون رجلاً أن يقول ربي الله وقد جاءكم بالبينات من ربكم، فكفوا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم فأقبلوا على أبي بكر يضربونه، قالت بنته أسماء: فرجع إلينا فجعل لا يمس شيئاً من غدائره إلا أجابه وهو يقول: تباركت يا ذا الجلال والإكرام»
وجاء «أنهم جذبوا رأسه ولحيته حتى سقط أكثر شعره

[15] Al-Ishabah fi Tamyizish Shahaabah, jilid 8, Kitabun Nisa, ‘fii man ‘arafa kuniyah minan nisaa, harf asy-Syiin, Ummu Syarik, halaman 417-418, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2005. Penulis buku ini, Ibnu Hajar al-Asqalani atau lengkapnya Syihab al-Din Abu al-Fadl Ahmad ibn Ali ibn Muhammad ibn Muhammad ibn ali ibn Mahmud ibn Ahmad al-Asqalani al-Mishri al-Qahiri. Beliau seorang Qadhi (Hakim), rawi dan memiliki gelar al-Hafiz dalam hadis. Beliau juga seorang Sejarawan sekaligus juga ulama dari golongan Syafi’i. Ibnu Hajar lahir di Mesir pada tanggal 12 Sya’ban 773 Hijriyah (18 Februari 1372). Beliau wafat pada akhir bulan Dzulhijjah tahun 852 Hijriyah (Februari 1449). Kitab al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah memuat 12.267 biografi rawi dari kalangan sahabat dan merupakan hasil penyempurnaan beberapa kitab tarikh sahabat sebelumnya.

[16] Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ash-hab (penguasaan pengetahuan mengenai para sahabat), Jilid. 4, Kitabul Kunii, Bab. Al Fa-u “Abu Fukaih”, hal. 293, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002. Kitab ini disusun oleh Abu ‘Umar Yusuf bin ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abd al-Barr al-Andalusi (w. 463H) dan mengandung lebih kurang 3.500 biografi para sahabat Nabi saw.

[17] As-Sirah an-Nabawiyah (Perjalanan Hidup Nabi) karya tulis ibni Hisyam, dzikr ‘udwaanil musyrikiin ‘alal mustadh’ifiin mim man aslama bil adza wal fitnah (permusuhan orang musyrik terhadap orang-orang lemah yang masuk Islam dengan cara menyiksa dan memfitnah), halaman 235, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2003

[18] Ath-Thabaqaat al-Kubra (Tingkatan Generasi-Generasi Agung) karya Ibn Sa’ad, juz 3 halaman 88, ath-Thabaqat al-Ula ‘alas sabiqah fil Islam ‘’Khabab bin al-Arth”, Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996.

عن سفيان عن أبي إسحاق عن أبي ليلى الكندي قال جاء خباب بن الأرت إلى عمر فقال ادنه فما أحد أحق بهذا المجلس منك إلا عمار بن ياسر فجعل خباب يريه آثارا في ظهره مما عذبه المشركون قال أخبرنا أحمد بن عبد الله بن يونس قال أخبرنا حبان بن علي عن مجالد عن الشعبي قال ما على الأرض أحد أحق بهذا المجلس من هذا إلا رجل واحد قال له خباب من هو يا أمير المؤمنين قال بلال قال فقال له خباب يا أمير المؤمنين ما هو بأحق مني إن بلالا كان له في المشركين من يمنعه الله به ولم يكن لي أحد يمنعني فلقد رأيتني يوما أخذوني وأوقدوا لي نارا ثم سلقوني فيها ثم وضع رجل رجله على صدري فما اتقيت الأرض أو قال برد الأرض إلا بظهري قال ثم كشف عن ظهره فإذا هو قد برص

[19] Usdul Ghabah, Jilid. Awwal, Khabab bin Al-Arth, hal. 675, Darul Fikir, Beirut 2003.

عن خباب قال شكونا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو متوسد ببرد له في ظل الكعبة فقلنا ألا تستنصر لنا فجلس محمرا وجهه فقال قد كان من قبلكم يؤخذ الرجل فيحفر له في الأرض ثم يجاء بالميشار فيجعل فوق رأسه ما يصرفه عن دينه ويمشط بأمشاط الحديد ما دون لحمه من عظم وعصب ما يصرفه عن دينه وليتمن الله هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت لا يخشى إلا الله عز وجل والذئب على غنمه ولكنكم تعجلون وقال أبو صالح كان خباب قينا يطبع السيوف وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يألفه ويأتيه فأخبرت مولاته بذلك فكانت تأخذ الحديدة المحماة فتضعها على رأسه فشكا ذلك إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال اللهم انصر خبابا فاشتكت مولاته أم أنمار رأسها فكانت تعوي مثل الكلاب فقيل لها اكتوي فكان خباب يأخذ الحديدة المحماة فيكوي بها رأسها وشهد بدرا وأحدا والمشاهد كلها مع رسول الله قال الشعبي سأل عمر بن الخطاب خبابا رضي الله عنهما عما لقي من المشركين فقال يا أمير المؤمنين انظر إلى ظهري فنظر فقال ما رأيت كاليوم ظهر رجل قال خباب لقد أوقدت نار وسحبت عليها فما أطفأها إلا ودك ظهري ولما هاجر آخى رسول الله صلى الله عليه وسلم بينه وبين تميم مولى خراش بن الصمة وقيل آخى بينه وبين جبر بن عتيك روى عنه ابنه عبد الله ومسروق وقيس ابن أبي حازم وشقيق وعبد الله بن سخبرة وأبو ميسرة عمرو

[20] As Siratu Liibni Hisyam, Qishatu ‘Usman bin Mazh’un fi roddi Jawaril Walid, Hal. 269, Beirut, Edisi 2001.

[21] Peristiwa pengiriman guru-guru mengaji al-Quran atas undangan satu suku. Namun, di satu tempat bernama Raji’, guru-guru kiriman Nabi saw ini, oleh mereka malahan dibunuhi dan 3 orang diantaranya ditawan lalu dijual ke Makkah. Peristiwa ini terjadi setelah perang Badr.

[22] Usdul Ghaabah fii Ma’rifatish Shahaabah (Singa-Singa Pemberani, Pengetahuan mengenai para Sahabat Nabi saw), Jilid. 2, Hal. 147, “Zaid bin Datsanah”, Darul Fikir, Beirut 2003

[23] Usdul Ghaabah fii Ma’rifatish Shahaabah, jilid 3, halaman 139, Abdullah ibn az-Zubair, Daarul Fikr, Beirut, 2003.

Hadhrat Abdullah putra Hadhrat Zubair bin Awwam r.anhuma, sahabat Nabi saw. Ibunda beliau Hadhrat Asma binti Abu Bakr ra. Ia termasuk yang tidak baiat kepada Yazid bin Muawiyah. Segera setelah pensyahidan Imam Husain ra (61 H), kota Madinah dan Makkah melepaskan diri dari kekuasaan Yazid di Damaskus. Yazid mengirim ribuan pasukan ke Madinah dan membunuh ratusan warga termasuk anak-anak sahabat. Setelahnya, pasukan Yazid bergerak menuju Makkah yang saat itu dibawah pimpinan Abdullah bin Zubair, mengepung dan melempari kota dengan panah api dan ketapel batu. Yazid di Damaskus meninggal pada 64 H (684) dan pasukannya mundur kembali. Pengakuan atas kekuasaan Abdullah bin Zubair meluas ke sebagian besar wilayah Muslim sehingga hanya kota Damaskus yang dipegang oleh pesaingnya, bani Umayyah. Yazid bin Muawiyah digantikan oleh Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah yang wafat 40 hari kemudian. Kekuasaan Bani Umayyah (termasuk Bani Umayyah di Spanyol) beralih dari keturunan Muawiyah bin Abu Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf kepada Marwan bin al-Hakam bin Abul-Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams, sepupu Khalifah ketiga, Hadhrat Utsman bin Affan bin Abul-Ash ra. Sementara dari jalur ayah, Nabi Muhammad saw adalah keturunan Hasyim bin Abdu Manaf. Beberapa tahun kemudian, pengganti Marwan, Abdul Malik bin Marwan mengirim ribuan pasukan ke Makkah dibawah pimpinan al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Makkah dikepung dan diblokade berbulan-bulan. Abdullah bin Zubair melawan penyerangan hingga syahid. Kepalanya dipenggal untuk dibawa ke Damaskus dan tubuhnya disalib. Bani Umayyah dipimpin keturunan Marwan bin Hakam merebut dominasi politik seluruh wilayah Muslim. Saat syahidnya, Abdullah bin Zubair berusia 73 tahun dan ibunya, Asma bint Abu Bakr sekitar 97 tahun.

[24] Government Inggrisi Aur Jihad (Pemerintah Inggris dan Jihad), Ruhani Khazain, Jilid. 17, Halaman 10-11.