Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

7 Mei 2004 

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

ان لكل امة فتنة و فتنة امتى المال

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia dan kebaikan-kebaikan yang kekal adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta sangat baik untuk menjadi harapan.Al-Kahfi 47

Sudah merupakan pandangan umum bahwa harta benda, kekayaan, industri –industri /pabrik-pabrik, sawah ladang yang membentang luas beribu-ribu hektar yang dengan bangganya diawasi oleh para pemilik tanah, sementara orang lain atau orang umum menurut pandangan mereka dibandingkan dengan mereka adalah rendah dan tidak ada apa-apanya. Kemudian anak-anak yang mendukung mereka, pembantu dan pelayan yang melakukan pengkhidmatan pada mereka semua hal-hal ini menciptakan rasa congkak dalam kalbu orang-orang duniawi. Dan menurut mereka, yakni menurut pandangan orang-orang duniawi andaikata semuanya diperoleh maka artinya inilah sudah segala-galanya dan merupakan tujuan yang mereka telah raih. Dan oleh sebab itulah seorang duniawi melupakan hak-hak Allah,tidak ada perhatiannya untuk melakukan ibadah pada-Nya. Dalam hemat mereka beranggapan bahwa semua ini kami /mereka telah raih akibat jerih payah mereka sendiri dan tidak tersisa celah dalam hati sanubari mereka untuk menyadarkan mereka akan karunia-karunia Allah. Sama sekali tidak ada perhatian untuk melaksnakan pelunasan pembayaran hak-hak Allah dan tidak pernah sama sekali terbetik pemikiran mereka untuk dapat bermamfaat pada saat suka dan duka, sakit dan senang untuk para karyawan, para stap dan bagi para pegawainya. Jadi Ini semua karena, pada hemat mereka maksud semua kehidupan ini hanya semata-mata untuk dunia semata , sementara syaitan tambah lebih menampilkan keindahan dunia ini dan perhiasannya. Selaras dengan itulah Allah berfirman bahwa sesuatu yang abadi adalah kebaikan , amal-amal saleh, rasa takut pada Allah dan menjalankan ibadah pada-Nya. Oleh karena itu jadilah kamu hamba-hamba yang beribadah pada-Nya jika ingin meraih redha-Nya. Dunia ini hanya untuk beberapa hari saja,seorang sebanyak-banyak hanya dapat hidup seratus tahun dan sesudahnya manusia wafat lalu hadir di hadapan Tuhan. Karena itu daripada terus menumpuk harta di dunia, kumpulkanlah harta untuk akherat. Berfirman, jika kalian menciptakan pemikiran ini maka harta benda dan kekayaan, anak dan bisnis yang luas akan menjadi sebuah harta benda yang terbaik bagi kalian. Sebab, seorang yang tengah berkhidmat pada agama dengan hartanya, tengah mengkhidmati negara dan bangsanya dan tengah mengkhidmati kemanusiaan maka anggaplah bahwa kamu telah meraih sesuatu yang terbaik dari Tuhan kamu dan telah meraih sesuatu sedemikian rupa yang setelah matipun akan bermamfaat pada diri kalian. Dan jika sifat-sifat atau karakter ini kalian ciptakan / tanamkan pada diri kalian maka dunia tidak hanya akan memuji bahkan untuk nenek moyang kalianpun mereka akan mendoakan; untuk kalianpun mereka akan mendoakan dan untuk anak-anak kalianpun mereka akan mendoakan. Dari itu kebaikan-kebaikan kamu pun akan terus bertambah dan akherat kalian pun akan terus menjadi bertambah dihias. Jadi pemikiran dan upaya ini seyogianya ada pada diri setiap orang yang beriman yang mana tidak hanya terdapat pemikiran untuk diri mereka bahkan bagi generasi mereka yang akan datangpun mereka menaruh perhatian. Kalian renungkanlah dan carilah dunia tetapi tujuan jangan hanya untuk dunia semata,bahkan sepanjang berkaitan dengan kasus hak-hak hamba-hamba-Nya maka pada saat itu sama sekali jangan tertarik pada dunia.

Hadhrat Muslih Mauud r.a.dalam tafsirnya bersabda yang sedikit cuplikannya saya akan sampaikan, “ Bahwa di dalam ayat ini dibertahukan bahwasanya harta dan anak-anak sungguh merupakan perhiasan dunia, tetapi jika itu dipergunakan dengan benar, yakni harta dibelanjakan dalam agama dan anak-anak diserahkan untuk pengkhidmatan terhadap agama maka Allah pun akan menganugerahi kerdawaman/kelanggengan padanya. Uang menjadi terbelanjakan, tetapi dampak baiknya akan tersisa. Anak mati akan tetapi nama baiknya akan tersisa /tertinggal dan karenanya nama baik kedua orang tuanyapun akan tetap hidup. Kemudian berfirman bahwa وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ dan perbuatan yang baik disebut albaaqiyaatushaalihaat.(penginggalan/keturunan yang baik )

 خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

Mempunyai dua arti, satu adalah kebaikan yang akibatnya baik di dunia, dan berkenaan dengan itu di masa yang akan datang pun terdapat niat-niat yang tulus, seolah-olah ثَوَابًا terkait dengan resiko hasil di dunia, dan أَمَلًا terkait dengan akherat. Maksud ثَوَابًا sendiri terkait dengan terciptanya hasil-hasil atau dampak-dampak baik terkait dengan pribadi orang-orang yang mengamalkan, dan أَمَلًا adanya harapan-harapan terbaik untuk generasi-generasi yang akan datang. Maksudnya adalah hasil perbuatan-perbuatan baik pun akan kamu dapatkan baik dan juga generasi-generasi kamu. Sebab, sudah merupakan sunnah Tuhan bahwa Dia juga mendatangkan faedah pada anak-anak /keturunan orang-orang yang saleh. Tafsir Kabir jilid 4 hal. 457

Akan tetapi tatkala manusia cenderung pada kebaikan, berupaya menunjukkan untuk tidak tertarik pada dunia,berupaya untuk menggunakan hartanya untuk agama dan untuk makhluk Allah maka syaitan juga akan memperlihatkan pekerjaannya dan akan terus mencegahnya untuk melakukan pekerjaan yang baik; dan dengan mengiming-imingi dengan pelbagai ketamakan dan keinginan dia terus mendesak manusia. Dan jika seorang mu’min tidak tunduk di hadapan Tuhan, tidak memohon karunia-Nya, sebab taufik untuk melakukan kebaikan juga diraih dari adanya karunia Allah, maka tidak ada jalan lain untuk menghindar dari syaitan. Hanya inilah jalan untuk terhindar dari syaitan,yakni tunduk patuh pada Tuhan dan memohon karunia-Nya dan senantiasa memanjatkan doa pada-Nya semoga Allah di setiap langkah senantiasa melindungi kita dari syaitan ;sebab, untuk menghindar dari syaitan jika tidak datang pada perlindungan Allah maka kemudian syaitan akan senantiasa sukses dalam penyerangannya, akan terus memasukkan fikiran dalam hati bahwa hartamu adalah milikmu, apa perlunya kamu membelanjakan harta untuk agama, apa perlunya kamu membelanjakan untuk mengkhidmati ummat manusia. Maka Allah di tempat lain berfirman bahwa apabila syaitan melakukan penyerangan seperti itu maka janganlah terpedaya dalam perangkapnya. Ingatlah, bahwa jika kamu terpedaya dalam perangkapnya, maka kamu akan terus terpedaya dalam tipuannya, karena itu penting bagimu setiap saat menghindar darinya, sebagaimana di suatu tempat berfirman

 يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Hai manusia, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah penipu besar, syetan dapat memperdayakan kamu. Al-Fathir 6

Kemudian beliau bersabda,” Ingatlah, janji Allah itu adalah benar, bahwa Dia pasti akan menghukum orang-orang yang mengikuti jejak-jejak syaitan dan pasti Dia akan menganugerahi perlindungan pada orang yang menghindar dari syaitan dan patuh tunduk di hadapan-Nya. Oleh karena itu merupakan kewajiban kamu untuk senantiasa tunduk pada Tuhan dan janganlah pernah hanyut pada tipu daya syaitan. Harta kamu, kedudukanmu atau dengan mempertunjukkan kegemerlapan kebesaran wibawa keluargamu dan kecemerlangannya syaitan mencegah kamu untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik;dia dapat menciptakan was-was di dalam hati kamu terkait dengan para pengurus dan menciptakan rasa permusuhan dan rasa ketakabburan dalam hati kamu terhadap nizam Jemaat; karena itu seberapa besar kedudukan yang Allah telah berikan kepada kamu; seberapa banyak kekayaan yang Allah telah berikan kepada kamu sebanyak itulah kamu harus tunduk patuh pada Tuhan dan mintalah perlindungan pada-Nya untuk terhidar dari serangan syaitan,kalau tidak syaitan akan menjerat kamu dalam tipu dayanya dan kamu akan menghancurkan sediri kehidupan dunia dan akheratmu.

Dalam surat takaatsur Allah telah menerangkan terkait dengan orang-orang yang hanyut dalam tipuan rayuan syaitan dan hanya mencurahkan perhatian mereka pada urusan-urusan dunia, bahwa

 أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُر.حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِر. كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ. كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

Bermegah-megahan satu dengan yang lain telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Ingatlah, kelak kamu akan mengetahui, dan kemudian, kelak kamu akan mengetahui. Waspadalah,jika kamu mengetahui sebatas ilmu yakin. Hadhrat Muslih Mauud r.a. dari pelbagai aspek telah memberikan komentar tentang hal itu dengan terinci. Pada saat ini saya akan menyampaikan beberapa butir point berkenaan dengan itu. Tidaklah mesti bahwa bahwa keinginan untuk bersaing dalam hal banyaknya harta , takabbur dan rasa congkak hanya terdapat pada para penyelenggara pemerintah atau hanya untuk kelompok-kelompok besar belaka,bahkan pada areal masing-masing bahwa siapapun yang melakukan gerakan-gerakan sepeti itu maka dia akan berhadapan dengan resiko-resiko seperti itu.

Hadhrat Muslih Mauud a.s. :

Pertama: Pada kalangan ummat manusia timbul reaksi unmtuk melakukan perlawanan terhadap mereka; sebab, akibat dari التَّكَاثُر beromba dalam bermegah-megah dalam harta benda timbul ketakabburan. Dan akibat ketakabburan timbul kezaliman dan perampokan dan pada akhirnya di kalangan ummat manusia timbul gejolak untuk melakukan perlawan terhadapnya dan mereka bangkit untuk menghancurkan pemerintahan itu atau di wilayah mereka siapapun yang melakukan keaniyaan maka orang-orang akan bangkit untuk melakukan perlawanan.

Kedua: Terkadang di kalangan ummat manusia tidak timbul reaksi untuk bangkit melakukan perlawanan terhadap mereka, tetapi anak-anak keturunan mereka sendiri melakukan poya-poya menggunakan penghasilan jerih payah mereka dan dengan demikian terjadi kemunduran di kalangan mereka. Oleh karena harta kekayaan ibu bapak secara gratis didapatkan, karena itu dengan terjerumus dalam poya-poya mereka menghancurkan semuanya. Terdapat banyak raja-raja besar tetapi karena mereka terjerumus dalam poya-poya, kondisi mereka sedemikian rupa berpoya-poya /melakukan pelanggaran moral sehingga mereka menyimpan wanita –wanita tunasusila; terus menerus meminum minuman keras dan sama sekali tidak ada perhatian pada tugas-tugas pemerintahan maka sebagai dampaknya mereka menjadi binasa. Dan pemerintahan mereka terbagi di tangan pimpinan-pimpinan atau para raja-raja kecil. Demikian pula di lingkaran mereka masing-masing sejumlah para pemimpin jika mereka merupakan sosok yang memiliki karakteristik seperti itu, lebih penting pada pandangan dunia, tidak ada tarbiat /pendidikan pada anak-anak maka kondisi anak-anak mereka pun bersama harta-harta kekayaan mereka inilah akibat buruk yang akan dilami.

Ketiga, bersabda bahwa pada akhirnya akan terjadi perseteruan orang-orang itu dengan Tuhan,yakni terjadi suatu faktor yang tidak terjadi dari segi harta benda duniawi tetapi azab Tuhan turun pada mereka lalu menghancurkan sepenuhnya bangsa itu. Singkat kata pabila ada suatu kaum akibat التَّكَاثُر -takaatsur sampai pada kedudukan زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ- zurtumulmaqaabir (menuju ke liang lahat) maka di dalamnya, dari tiga kondisi itu pasti terbentuk satu kondisi. Atau di kalangan rakyat timbul suatu reaksi dan mereka lalu menghancurkan pimpinan-pimpinan / pemuka-pemuka mereka. Atau secara internal di kalangan para pemimpin terjadi kemunduran sehingga diantara mereka sendiri terjadi perpecahan , atau para pemimpin seperti itu keturunan mereka tidak dididik dengan baik maka setelah mereka memakan harta kekayaan mereka, mereka sendiri yang menghabiskan hartanya sendiri. Dan disaksikan pula orang-orang seperti itu yang mana ibu bapak dan nenek moyang mereka tadinya sedemikian sangat kaya raya dan memiliki harta kekayaan yang berlimpah ruah kini mereka mencari makan dari rumah ke rumah. Kemudian hal yang ketiga beliau sampaikan bahwa kemudian kepada mereka turun azab Tuhan lalu menghancurkan mereka. Tafsir Kabir jilid 9 hal 535-536

Terkait dengan tidak tertarik pada harta dunia dan tunduk patuh pada Tuhan saya akan menyampaikan beberapa hadis. Rasulullah saw sedemikian rupa risau terhadap ummat beliau supaya mereka jangan hanya terlibat dalam urusan-urusan dunia belaka. Hudhur saw bersabda bahwa berkenaan dengan ummat beliau hal-hal yang paling saya khawatirkan adalah ummat saya jangan sampai terbawa oleh hawa-hawa nafsu /keinginan-keinginan dan kemudian mereka jangan berangan-angan panjang untuk harapan-harapan /ambisi-ambisi dunia. Karena dampak dari mengikuti hawa nafsu keinginan dunia itu adalah mereka akan jauh dari kebenaran. Dan dengan kesibukan memupuk kegiatan-kegiatan program dunia akan melalaikan mereka dari kehidupan akherat. Hai orang-orang, dunia ini siap untuk melakukan perjalanan dan tengah melakukan perjalanan. Dan akherat pun siap untuk menjemput Dan dari antara keduannya (dunia dan akherat) masing-masing memiliki pelbagai sahaya dan hamba-hamba. Jadi, jika kamu mampu untuk tidak menjadi hamba dunia maka tempuhlah cara itu. Kamu kini berada di daarulamal/tempat berupaya dan waktu hari hisab belum tiba tetapi besok kamu akan berada di hari pehisaban dan disana tidak akan ada amal.

Ini merupakan peringatan.Bukanlah maksudnya bahwa jika kamu mampu maka kamu menjadi hamba dunia. Ini merupakan sebuah peringatan bahwa di dalam diri kamu tidak ada kekuatan karena itu dalam kaitan urusan dunia kalian jangan sampai melupakan Tuhan. Dan jika kalian melupakan Tuhan maka hukumannya pasti kalian akan dapatkan, disini kalian tidak akan dapatkan, bahkan engkau akan dapatkan di akherat kelak. Renungkan dan fikirkanlah,apakah kalian tahan akan hukuman Tuhan. Sungguh diantara kita tidak akan ada yang dapat melakukan itu bahwa ia dapat mengatakan saya yang dapat menahan. Bersabda,karena itu dalam kehidupan yang hanya beberapa hari, dalam itu berupayalah untuk meraih redha Tuhan dan membuat Tuhan senang supaya kamu dapat selamat dengan karunia Allah, semorga Allah menjadikan kita menjadi orang-orang yang berjalan pada jalan keredhaan-Nya dan senantiasa tunduk patuh pada-Nya.

Ka’ab bin ‘Iyaz meriwayatkan bahwa saya telah mendengar Rasululah saw bersabda

ان لكل امة فتنة و فتنة امتى المال

inna likulli ummatin fitnatan wafitnatu ummati almaalu – bahwa untuk semua ummat ada suatu ujian dan ujian ummatku adalah dengan perantaraan harta” tirmidzi kitabuzzuhud bab majaaa fi fitnati haadzihil ummah filmaali

Oleh karena itu, perhatikanlah, di zaman inipun kita menyaksikan dan sesuai dengan itu bagaimana kondisi ummat manusia. Kita menjadi malu melihat dan mendengar bahwa keinginan dan kerakusan pada dunia telah menjadikan mereka tidak menghiraukan rasa takut pada Allah. Terjadi kekurangan dalam timbangan, kekurangan dalam ukuran timbangan dan terjadi tipuan dalam jual beli , lain yang diperlihatkan dan lain pula yang diberikan. Akibat dari pengaruh lingkungan sejumlah orang-orang Ahmadi pun terlibat dalam keburukan serupa itu, mereka menjadi terpengaruh. Terjadi penipuan kepada kerabat dekat sendiri dan juga kepada orang lain kemudian mereka terpaksa menanggung malu di hadapan orang lain. Kendatipun dari ribuan itu hanya satu orang Ahmadi sekalipun yang nampak terjeremus,sebab sebuah gambaran/paradigma tentang keahmadiahan tetap melekat dalam dirinya,karennya apabila nampak misal seperti itu maka dengan sangat jelas itu tampil mengemuka. Orang-orang seperti itu yang terlibat dalam gerakan-gerakan/kasus semacam itu diberikan juga hukuman dan diberikan juga sangsi, tetapi setiap orang ahmadi sediri seyogianya berfikir bahwa dia mempunyai urusan dengan Tuhan dan dia telah mengikat janji baiat dengan Masih Muhammad saw,dia telah meperbaharui baiat bahwa kami akan senantiasa menghindar dari segenap keburukan .Oleh karena itu, sesudahnya jika terjadi gerakan-gerakan seperti itu maka apakah orang yang melakukan tindakan seperti itu layak untuk tetap tinggal dalam lingkungan Jemaat ? Hadhrat Masih Mauud a.s. berkaitan dengan orang-orang seperti itu bersabda bahwa mereka akan dicampakkan.

Bersumber dari Hadhrat Sahel r.a. “ Seorang hadir di hadapan Rasululah saw lalu memohon kepada Rasulullah saw, hai Rasul Allah ! bertahukanlah kepada saya pekerjaan yang yang kapan saja saya melakukan itu maka Allah mencintai saya dan orang-orang lain pun mulai menyukai saya. Beliau bersabda, janganlah tertarik pada dunia dan putuskanlah hubungan dengan itu maka Allah akan mulai mencintai kamu. Dan apapun yang ada di tangan orang lain janganlah kamu menginginkannya, jangalah memandang pada orang-orang lain dengan pandangan tamak maka orang-orang akan mulai mencintai kamu” Ibnu majah babuzzuhud fiddunya

Bersabda bahwa jika kamu melakukan ini maka kamu pun tearhidar dari pemikiran tamak dan rakus dan terhindar dari upaya untuk mendatangkan kerugian pada orang lain. Jangankan mendatang kerugian, terfikir ke arah itu tidak akan timbul dalam dirimu.Tidak tertarik pada dunia yang Rasulullah saw telah definisikan, jika setiap mu’min meraih standar itu kemudian sejalan dengan qanaat /rasa puas juga meraih sifat zuhud /lepas dari dunia dan dengan menyatunya sifat qanaat dan zuhud orang mu’min inilah baru dapat menegakkan standar yang tinggi.

Beliau bersabda, “Rasa tidak tertarik pada dunia dan zuhud /berlepas dari dunia bukanlah bahwa seorang menjadikan yang halal itu menjadi haram untuk dirinya lalu menghancurkan hartanya. Tetapi zuhud adalah bahwa kamu lebih bersandar pada anugerah dan karunia Tuhan ketimbang bersandar pada harta bendamu sendiri. Dan tatkala datang musibah -musibah maka fikiran /pandanganmu hanya tertuju pada ganjaran dan balasan yang akan dan kamu meyakini bahwa musibah-musibah merupakan perantara untuk meraih ganjaran. Jami’ tirmidzi an abi Dzar

Oleh karena itu, perhatikanlah,sejumlah orang menyesalkan apabila harta mereka menjadi sia-sia, padahal turun dan naik dalam urusan bisnis aalah merupakan hal yang senantiasa terjadi . Terkadang permusuhan- permusuhan terjadi , orang-orang bersifat syaitan pun menimpakan kerugian, maka atas kejadian serupa itu maka cukup hanya dengan membaca

انا لله innalillahi( wainnan ilahi raajiuun ) lalu bertakwa dan berserah diri pada Allah. Seharusnya tunduk sujud dihadapan-Nya bukannya menangis,meratapi dan memperlihatkan ketidak sabaran. Dan seyogianya yakin bahwa Tuhan yang sebelumnya telah menganugerahkan nikmat-nikmat-Nya kini juga dapat kembali menaganugerahkan. Seyogianya terjadi jalinan dengan Tuhan, dan dengan Dialah semata ikatan itu senantiasa erat dan apabila dengan keyakinan ikatan itu tetap kita tegakkan maka Dia akan senantiasa menganugerahkan. Orang-orang Ahmadi di berbagai peluang kapan saja di Pakistan atau dimanapun timbul kerusuhan terhadap mereka, kita telah menyaksikan pemandangan ini, kita mendapat pengalaman bahwa ratusan ribu rupis bisnis mereka dibakar maka Allah sedemikian rupa menganugerahkan yang mana akibat kesabaran dan keyakinan pada Zat Allah dalam diri mereka dan akibat karena Jemaat, mereka mengalami kerugian Allah akan menganugerahkan,maka Allah telah menganugarahkan dan menggantikannya dengan jutaan rupis. Jika yang dibakar adalah ratusan ribu maka sebagai gantinya Dia menganugerahkan jutaan rupis. Jadi inilah yang senantiasa Allah perlakukan dengan hamba-hamba-Nya dan kita pun senantiasa mengalaminya dalam kehidupan kita. Semoga Allah senantiasa menganugerahi taufik pada orang-orang Ahmadi untuk senantiasa mendapat taufik untuk senantiasa bersandar pada-Nya dan dapat menciptakan keyakinan utuh pada diri mereka kepada Allah.

Bersumber dari Hadhrat Sahal r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda”,Andaikata menurut pandangan Allah dunia sama dengan sayap seekor nyamuk sekalipun maka orang kafir tidak akan mendapatkan bagian setetes air sekalipun dari itu” . Riyadhushshalihin bab fadhluzzuhdi fiddunya

Jadi, pada pandangan Allah kewalitas /kedudukan dunia ini tidak sama dengan sebelah sayap seekor nyamuk; sebab kalau ada nilai/kedudukannya maka tentu Allah akan berfirman bahwa ini,kan nikmat-nikmat Saya, ini tentu Saya berikan pada orang-orang mu’min,kenapa Saya harus berikan pada orang-orang kafir. Sementara kita, menuntut keluarga sendiri ke dewan Qadha , melaporkan /membawa mereka ke kantor polisi , menuntut mereka ke kantor pengadilan dll karena itu kedua kubu seyogianya merenungkan hal itu.Bahwa apakah setelah menjadi Ahmadi ,setelah menyatakan diri bergabung dalam Jemaat Imam Mahdi, apakah standar ini yang seyogiannya ada di dalam diri kita atau tidak ada rasa tertarik pada dunia. Keberadaan harta bukanlah merupakan dosa. Tapi senantiasa melekat dan rasa tamak dan setiap saat tenggelam di dalamnya ini adalah terlarang. Jika setiap orang diantara kita dengan penuh perhatian mulai memikirkan hal itu maka perselisihan urusan harta benda dan keuangan orang-orang ahmadi akan berakhir dan terhenti.

Kemudian dalam sebuah riwayat Rasulullah saw bersabda: Perbandingan dunia dan akherat adalah nilainya/kwalitasnya adalah sebagaimana diantara kalian seorang memasukkan jari tangannya ke samudera kemudian mereka mengeluarkan lalu melihatnnya maka berapa banyak kah air yang melekat di tangannya.” Turmudzi kitabuzzuhd bab maajaa fi huwaniddunya ‘alallah

Inilah nilai dunia/kedudukan dunia pada pandangan Allah. Di dunia ini, segala sesuatu yang terus kita cari dan berkaitan dengan akhirat kita sama sekali tidak berfkir, andaikata ingin memperbandingkan maka perhatikanlah bahwa ganjaran dan hukuman yang akan didapatkan di akherat itu sedemikian luas sehingga seorang seharusnya senantiasa risau untuk itu. Sementara dunia yang sama sekali tidak ada nilainya, sama dengan setetes air pun juga tidak dalam perbandingan samudera kita terus menerus mengejarnya.

Hadhrat Umar bin As meriwayatkan bahwa Rasulullah saw mengirim perintah yakni beliau memerintahkan kepada Hadhrat Umar bin ‘As bahwa datanglah pada saya dengan bersenjatakan lengkap dan baju besi. Maka beliau berkata bahwa takala saya datang dengan bersenjatakan lengkap maka pada saat itu beliau tengah berwudhu. Beliau bersabda kepada saya bahwa saya memanggil kamu dengan tujuan bahwa saya ingin mengirim kamu untuk tujuan perang. Di dalam ekspedisi ini semoga Allah membawa kamu kembali dengan selamat dan akan menganugerahkan pada kamu harta ganimah. Dan saya akan menghadiahkan sejumlah harta yang banyak kepada kamu. Maka beliau berkata bahwa atas hal itu saya berkata, hai Rasul Allah ! saya tidak berhijrah untuk meraih harta . Hijrah saya hanya semata-mata untuk Allah dan Rasul-Nya. Maka beliau bersabda,” Harta yang baik merupakan sesuatu yang sangat baik untuk orang yang baik/saleh.” Misykaatulmashaabih

Maksudnya ialah bahwa jika mendapatkan harta yang baik maka itupun jangan diingkari karena Allah tidak melarang dari itu. Harta yang baik dan harta yang dibelanjakan dengan tujuan-tujuan yang baik maka tidak ada keburukan untuk meraihnya. Bahkan keburukan itu adalah manusia hanya terfikir dan tamak hanya akan harta belaka lalu menusia terus mengejar itu dan melupakan Tuhan.

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa Rasululah saw bersabda,” Jika kamu melihat sosok seorang yang tidak tertarik pada dunia dan dianugerahi sifat kurang bicara maka kujungilah majlisnya, yakni duduklah di dalamnya, ambillah mamafaat dari itu sebab orang seperti itu merupakan orang yang pembicaraannya penuh hikmah”.Sunan Ibni majah kitabuzzuhud

Semoga Allah menciptakan sebanyak-banyaknya orang–orang serupa itu di dalam Jemaat. Yang mana sifat tamak dan rakus terhadap dunia tidak ada dalam diri mereka.

Bersumber dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa seorang penyair ternama Labid berkata yang mana tidak pernah ada seorang penyair pernah katakan perkataan yang benar lebih dari itu. Yakni Dia mengatakan ungkapan yang sungguh benar bahwa selain Allah segala sesuatu sia-sia dan tidak ada artinya. Dia-lah satu satunya pemilik untung/mamfaat dan rugi . Muslim kitabusyi’r

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa seorang datang pada Rasulullah saw dan berkata, berilah nasehat yang singkat dan lengkap pada saya. Untuk itu beliau bersabda, apabila kamu berdiri untuk melakukan shalat maka lakukanlah shalat seperti orang yang akan meninggalkan dunia dan janganlah mengeluarkan dari mulut kamu yang jika pada hari kiamat dilakukan hisab maka tidak akan ada lagi tersisa sesuatu untuk kamu akan dikatakan. Dan harta apapun yang merupakan milik orang lain kamu jangan hiraukan sama sekali .” Misykat

Hal pertama di dalamnya adalah laksanakanlah shalat sebagaimana kamu sebentar lagi akan meninggalkan dunia dan timbul rasa takut meninggalkan dunia. Pada saat wafat orang-orang besar yang pernah melakukan kezaliman yang luar biasa sekalipun terkadang mereka menunjukkan ketidak berdayaan yang luar biasa.

“Hadhrat Umar r.a. meriwayatkan bahwa tatkala Rasulullah saw untuk selama sebulan memisahkan diri dengan istri-istri suci beliau dan beliau tinggal di ruang tingkat atas ,maka saya hadir untuk berjumpa dengan beliau.Apa yang saya lihat ternyata beliau tidur di tikar yang kosong yang di atasnya tidak ada selimut atau lapisan dll dan akibat dari tikar itu terlihat bekas di tubuh beliau yang penuh berkat. Beliau bersender di sebuah bantal yang di dalamnya penuh dengan daun kurma. Saya melihat di seluruh rumah maka disana tidsak terdapat apa-apa selain tiga buah kulit yang kering . Saya berkata pada beliau bahwa berdoalah supaya Allah menganugerahi kepada ummat Tuan kemurahan kelapangan rezeki. Kepada orang-orang Iran dan orang-orang Romawi betapa Allah telah menganugerahi kemudahan rezeki pada mereka padahal mereka tidak menyembah Tuhan. Rasulullah saw bangun lalu duduk dan bersabda: Hai Umar ! kamu pun tengah berada dalam lamuman itu. Orang-orang itu di dunia inilah lebih dahulu mereka dianugerahi barang-barang yang bagus sementara orang-orang yang mu’min akan dianugerahi dimasa yang akan datang ”.bukhari kitabuttafsir . suuratuttahrim bab tatbtaghi martdhaata azwaajik

Jadi, disini satu beliau bersabda bahwa janganlah sedemikian rupa kamu mencintai harta sehingga kamu melupakan Tuhan,inilah modal orang-orang yang beriman. Tapi dari itu bukanlah maksudnya bahwa Rasulullah saw melarang untuk memperoleh harta. Tertera juga dalam sebuah riwayat bahwa tatkala seorang kafir pada waktu itu belum baiat dia melihat sekawanan domba –domba Rasululah saw di sebuah lembah di antara dua buah gunung dia terus memandang itu dengan sangat senang. Maka Rasulullah saw bersabda bahwa apakah kamu menyukainya. Dia menjawab, ya. Maka beliau memberikan semuanya. Maksudnya juga adalah bahwa pada beliau sedemikian rupa banyaknya harta benda dan kebun, dan beliau juga memiliki sekawanan kambing-kambing yang banyak tetapi beliau tidak hanya bersandar pada itu sehingga itu diduduki/ditiduri bahwa ini semua merupakan harta benda dan modal, bahkan sepenuhnya beliau berserah diri pada Tuhan dan yakin pada-Nya yang senantiasa beliau utarakan dan kepada kitapun inilah yang senantiasa beliau harapkan bahwa di dalam diri kita pun lahir keyakinan dan iman seperti itu pada Allah swt.

Hadhrat Umar bin Auf meriwayatkan bahwa Rasulullah saw mengirim Abdullah bin Aljarrah sebagai gubenur Bahrain supaya sampai disana memungut uang jizyah/pajak lalu bawa kembali. Sesuai dengan itu beliau membawa tex dari sana (Yakni tex yang diperoleh dari sana ) Maka pada saat orang-orang ansor mengetahui akan hal itu maka pada pagi-pagi benar mereka datang untuk shalat subuh. Tatkala Rasulullah saw telah melaksanakan shalat dan beliau menghadap kepada ma’mum maka beliau mendapatkan sekumpulan orang-orang banyak /ramai di hadapan beliau. Beliau tersenyum lalu bersabda ,menurut hemat saya kalian telah mendengaar akan kedatangan Abu Ubaidah. Orang-orang menjawab,ya, Rasulullah saw. Habar gembira bagi kalian dan harapkanlah akan berita yang menggembirakan itu. Demi Allah saya tidak khawatir bahwa kalian akan menjadi miskin. Kini, hari hari kemiskinan dan hari hari senantiasa memerlukan telah berlalu, yakni tidak ada lagi rasa takut akan kemiskinan dan tidak rasa takut tidak akan terpenuhinya keperluan.Yang saya khawatirkan adalah bahwa hazanah dunia akan dibukakan pada kalian sebagaimana dibukakan untuk orang-orang terdahulu. Kalian akan cenderung pada dunia dan kalian mulai tamak pada itu sebagaimana orang-orang sebelum kalian merasa tamak untuk itu. Jadi dalam diri kamupun ketamakan pada dunia akan menghancurkan kalian sebagaimana telah menghancurkan orang-orang terdahulu“ .bukhari kitabuljihad bab aljizyah walmawaddah

Semoga Allah melindungi kita dari rasa tamak itu dan melindungi kita dari kehancuran. Dan menjalankan kita pada jalan keredhaan-Nya.

“Tertera dalam sebuah riwayat dimana Khalid bin Umair berkata bahwa Utbah bin Adwan ( gubenur Bashrah) menyampaikan ceramahnya bahwa saya melihat diri saya bersama Rasulullah saw dalam kondisi bahwa saya merupakan orang yang ketujuh dan ada lagi enam orang lainnya dan beliau berkata bahwa kondisi ekonomi sedemikian sulitnya yang mana selain daun pepohonan berduri tidak ada yang lain. Sehingga akibat memakan daun-daun pohon mulut kami menjadi berbintik hitam dan kondisi kurangnya kain sedemikian rupa sehingga pada suatu kali saya mendapatkan selembar selimut maka saya memotongnnya menjadi dua bagian. Setengah digunakan oleh Saad bin Malik dan setengah saya gunakan sendiri. Tetapi dewasa ini kami masing-masing yang bertujuh telah menjadi gubenur di salah satu daerah. Tapi saya berlindung pada Tuhan untuk menganggap diri saya besar karena berada pada posisi itu lalu saya menjadi hina pada pandangan Tuhan. targiib wa tarhiib bahawalah muslim

Yakni, rasa takut ialah bahwa saya tidak ada kelebihan karena kedudukan, dasarnya adalah rasa takut pada Allah. Inilah yang senantiasa tegak dalam hati saya. Setiap orang jangan seyogianya melupakan kondisi mereka yang semula. Jangan seyogianya seperti orang-orang yang pada saat uang (banyak) baru datang maka mereka melupakan keluarganya yang miskin dan mereka sama sekali tidak memahami. Mereka menutup pintu rumah mereka untuk mereka. Berbicara secara lemah lembut dengan mereka, mereka anggap merupakan keaniyaan. Seharusnya senantiasa berupaya bahwa terhadap keluarganya pun senantiasa diberikan perhatian,mereka dihormati, dimuliakan dan pabila mereka datang ke rumah maka segenap tuntutan memuliakan tamu juga dipenuhi untuk mereka.

Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa beliau menggunakan dua potongan kain dari daerah Kattan (semacam kain yang berkwalitas tinggi) yang halus. Dengan salah satu kain itu beliau mengelap ingus beliau dan bersabda wah-wah Abu Hurairah ! dengan kain Kettan dia membersihkan ingus. Dan beliau sendiri berkata bahwa beliau sendiri mendapatkan diri beliau dalam kondisi /mengalami pingsan karena lapar. Dan dalam kondisi itu beliau ditarik-tarik dari antara mimbar Rasulullah saw dan kamar Hadhrat Aisyah r.a. Dan orang-orang menginjakkan kakinya di leher saya dengan anggapan bahwa saya kurang waras padahal pada saat itu saya tengah pingsan akibat lapar. Targiib wa tarhiib bahawalah bukhari wa muslim

Ini bukanlah bahwa beliau meludahi karena timbul rasa takabbur dalam diri beliau atau akibat banyaknya harta atau lahir rasa arogansi dalam diri bahkan itu merupakan pernyataan rasa tidak tertarik pada dunia,karena zuhud, pandangan hanya tertuju pada bagaimana mengamalkan hukum-hukum Allah dan bagaimana menarik redha-Nya bukan ke arah benda-benda dunia itu, untuk orang-orang dunia ini mungkin akan merupakan pakaian yang mewah.tapi untuk para wali Allah untuk orang yang sampai pada Tuhan tidak ada artinya apa-apa.

Hadhrat Wahab meriwayatkan bahwa Rasulullah saw mempersaudarakan Hadhrat Salman dan Hadhrat Abu Darda’. Hadhrat Salman, pada saat datang untuk berjumpa dengan Abu Darda’ maka beliau melihat bahwa istri Abu Darda’ menggunakan kain yang aut-autan seperti orang yang tengah bekerja yang menjadikan penampilannya wajahnya menjadi sangat aneh. Salman bertanya kenapa kondisi kamu ini. Perempuan itu menjawab bahwa saudara kamu Abu Darda’ sama sekali tidak perlu pada dunia. Dia tidak menghiraukan dunia. Pada saat itu Abu Darda pun datang. Dia menyuruh menyiapkan makanan untuk Hadhrat Salman dan berkata padanya, Tuan makanlah saya sedang berpuasa. Salman berkata bahwa selama Tuan tidak makan maka saya pun tidak makan. Maka diapun membuka puasanya(mungkin dia sedang berpuasa nafal) Dan tatkala malam tiba maka Abu Darda’ berdiri untuk melaksanakan shalat. Salman berkata padanya kini teruskanlah tidurmu, maka diapun tidur. Tidak lama kemudian beliau bangun untuk melaksanakan shalat. Maka Salman berkata padanya kini teruskanlah tidurmu. Kemudian tatkala tiba bagian malam terakhir maka Salman berkata padanya kini bangunlah. Maka keduanya bangun menunaikan shalat. Kemudian Salman berkata wahai Abu Darda’, Pencipta kamupun mempunyai hak atas dirimu dan diri kamu mempunyai hak padamu. Istri kamupun memiliki hak pada dirimu. Maka berilah setiap yang berhak haknya. Sesudah itu Abu Darda’ datang kepada Rasulullah saw dan menyebutkan peristiwa itu kepada beliau , Hudhur bersabda bahwa benar apa yang Salman katakan.bukhari kitabushaum bab man aqsama ‘ala akhiihi liyafthara fi ttatawwu’

Zuhud bukanlah manusia melupakan hak-hak istri dan anak-anak secara lahiriah yang Allah telah berikan atau manusia meninggalkan pekerjaan. Pekerjaan dunia pun harus ikut serta tapi maksud jangan hanya ini bahkan segenap hak-hak orang orang itu dibayar.

Hadhrat Masih Mauud a.s. ,”Orang-orang yang datang dari Allah mereka meninggalkan dunia, maksud dari itu adalah bahwa tidak menyatakan itu sebagai tujuan dan maksudnya, dan dunia akhirnya menjadi khadim dan pelayannya. Sebaliknya, orang yang menyatakan dunia sebagai tujuan dan maksudnya yang hakiki kendatipun dia meraih dunia bagaimanapun banyaknya juga tapi pada akhirnya dia menjadi hina. Dzikri habib hal.134

Kemudian beliau bersabda ,”Mereka yang jatuh pada dunia seperti anjing-anjing, semut-semut dan srigala dan jika dia merupakan orang yang tenteram dengan dunia maka dia tidak dapat meraih qurubnya. ( Dia tidak akan dapat meraih kedekatan Tuhan ) Bahtera Nuh Ruhani Hazain jilid 19 hal 13

Kemudian bersabda,” Barangsiapa yang terperangkap dalam ketamakan dunia dan tidak ada perhatian pada akherat,maka dia bukanlah dari Jemaatku.” Bahtera Nuh ruhani Hazain jilid 19 hal 18

Bersabda”,Shalat dan puasa secara lahiriah jika tidak diiringi dengan keikhlasan dan ketulusan tidak ada keindahan di dalamnya, para yogi (sufi Hindu) dan sansasi ( pemuja dalam agama Hindu) melakukan kerja keras dalam beribadah. Janganlah sama sekali terputus dari dunia. Bersabda bahwa banyak dilihat mereka terkadang menjadikan tangan mereka kaku menjadi kering /lumpuh dan mereka menanggung derita yang sangat berat; mereka memasukkan diri mereka dalam musibah-musibah dan kesulitan-kesulitan ,tetapi kesulitan-kesulitan ini tidak menganugerahkan nur padanya. Dan tidak pula mereka mendapatkan ketenteraman dan kerukunan , bahkan kondisi mereka di dalam menjadi rusak dan mereka melakukan praktek-praktek fisik keras yang sedikit hubungannya dengan batin dan tidak ada pengaruhnya pada keruhaniannya. Malfuzhaat jilid 2 hal. 696 Cetakan Rabwah

Jadi, dalam keberadaan nikmat-nikmat dunia seyogianya mengambil faedah dari itu dan kendatipun demikian rasa takut pada Allah dan rasa takwa pada-Nya dan tunduk patuh dihadapan-Nya seyogiannya senantiasa mendapat perhatian. Kemudian beliau bersabda bahwa sama sekali bukanlah maksud saya bahwa orang-orang Muslim seyogiannya menjadi malas. Islam tidak menjadikan siapapun menjadi malas. Merekapun harus menjadi sibuk dalam usaha/bisnis dan pekerjaan mereka tapi saya tidak menyukai bahwa tidak ada waktu mereka yang luang untuk Tuhan. Ya, mereka melakukan bisnis saat harus berbisnis dan rasa takut dan takwa pada Tuhan pun pada saat itupun terus mendpat perhatian supaya bisnis merekapun dapat membentuk corak ibadat. Pada saat waktu-waktu shalat, mereka tidak meninggalkan shalat. Dalam setiap situasi mereka harus mendahukan agama. Janganlah tujuan utamanya hanya semata-mata untuk dunia,bahkan tujuan utamanya harus hanya untuk agama kemudian baru pekerjaan dunianyapun akan bercorak /menjadi pekerjaan agama. Perhatikanlah para sahabah, pada saat sesulit-sulitnya mereka tidak meninggalkan Allah Saat perang dan pedang bereaksi sedemikian rupa berbahaya sehingga dengan membayangkannya manusia menjadi timbul rasa takut . Pada saat timbulnya gejolak dan timbulnya rasa amarah pada saat seperti itu pun meraka tidak lalai pada Tuhan,tidak meninggalkan shalat. Mereka menempuh cara-cara doa. Kini merupakan suatu kemalangan,jelas mereka sedemikian rupa melakukan kerja keras dari segala segi,,menyampaikan ceramah-ceramah , menggelar pertemuan-pertemuan supaya orang-orang Islam meraih kemajuan,tetapi sedemikian rupa mereka lalai pada Tuhan sehingga setelah lupa sekalipun mereka tidak menaruh perhatian ke arah itu. Kemudian dalam kondisi seperti itu apa yang dapat diharapkan sehingga upaya-upaya mereka mendatangkan faedah atau kesemuanya itu hanya untuk dunia belaka. Ingatlah, selama

لااله الاالله

Laailaaha illallah tidak meresap di dalam kalbu dan pemerintahan Islam dan cahaya Islam tidak merasuk dalam setiap zarrah dari wujudnya maka sama sekali tidak akan ada kemajuan yang akan terjadi” Malfuzhat jilid I hal. 410 Cetakan Rabwah

Bersabda” Pekerjaan dunia tidak pernah seorang menyempurnakannya dan tidak akan dapat dia lakukan. Orang dunia tidak memahami bahwa kenapa kita datang di dunia dan kenapa pergi dari sini , siapa yang memberikan pengertian sementara Tuhan telah memberikan pengertian;mengerjakan pekerjaan dunia bukanlah dosa. Orang mu’min pada hakekatnya adalah orang yang menganggap agama lebih utama. Dan sebagaimana untuk kesuksesan dunia yang kotor dan tidak bersih ini siang malam dia berfikir sehingga saat mereka berbaring di tempat tidurpun mereka merenung dan menjadi sangat sedih atas kegagalan dunianya,sedemikian pulalah seyogiannya dia tetap sibuk karena keprihatinannya pada agama. Melekatkan hati dengan dunia merupakan tipuan yang sangat besar, entah kapan kematian datang menjemput, tidak dapat dipercaya” maktuubaat Ahmadiyah jilid 5no. 4 maktuub no.9hal. 72-73

Semoga Allah sambil menjalankan kita dibawah jalan keredhaan-Nya Dia juga terus menganugerahkan nikma-nikmat-Nya dan melindungi kita dari menjadi ulat dunia. Amin.

Qamruddin Syahid