Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz)

Jumat, 20 Oktober 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada Jumat sebelumnya, saya membacakan kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam yang menyebutkan keadaan umat Muslim umumnya. Beliau bersabda, “Jika kemunduran sampai ke tingkat ini dan mereka tidak menjauhkan diri mereka dari esensi ajaran Islam apa perlunya kedatangan saya? Keadaan keimanan mereka telah amat melemah dan mereka benar-benar tidak menyadari makna dan tujuan Islam.”

Selanjutnya, beliau as menjelaskan sesuatu yang belum saya sebut sebelumnya, “Orang-orang itu menganggap kita bertentangan dengan Islam dalam hal mana? Kita mengucapkan dua kalimah Syahadat (umat Islam umumnya mengatakan mereka membaca dua kalimah syahadat), kita menegakan Shalat, menjalankan puasa pada hari-hari yang ditentukan dan membayar Zakat juga. Namun, saya katakan semua perbuatan mereka tidak memiliki sikap dari amalan yang baik (amal saleh). Jika memang benar amalan tersebut mencerminkan amalan baik (amal saleh), mengapa amalan tersebut tidak menampakkan hasil yang suci murni? Suatu amal perbuatan tidak akan terhitung saleh selama belum bebas dari kerusakan, penipuan, namun dari mana ada hal-hal ini pada mereka?”

Pada hari-hari ini kita menyaksikan yang paling banyak dalam hal berbagai jenis kekacauan ialah terdapat di Negara-negara Islam dan organisasi-organisasi Islam. Mereka sibuk dalam menghabisi satu sama lain dan setiap dari mereka meski mengucapkan Syahadat menumpahkan darah mereka yang juga berSyahadat, merampas haknya, dan berusaha berbuat buruk dengan semua jalan, maka apakah ini ajaran al-Qur’an yang mereka amalkan dan apakah ini juga keteladanan yang didirikan oleh Nabi Muhammad saw?

Kita saksikan bahwa materialisme (kegilaan pada materi) merata di mana-mana. Jika orang-orang menyebut-nyebut soal agama, itu hanya untuk mempromosikan barang (kepentingan) politik mereka atau mendirikan kekuasaan mereka atau demi menyelamatkan (melindungi) kekuasaan mereka sesuai anggapan mereka.

Tapi ucapan Hadhrat Aisyah tentang kehidupan dan akhlak Rasulullah saw berikut ini layak ditulis dengan tinta emas. Beliau r.anha mengatakan:كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ  kaana khuluquhul Qur’an. Itu artinya, jika kalian ingin mengetahui sifat dan akhlak beliau saw, maka pelajarilah al-Quran Karim, karena di dalamnya menggambarkan akhlak dan kehidupannya secara rinci.” Nabi Muhammad saw telah mempersembahkan contoh bagus dengan keteladanan beliau supaya para pengikut beliau mengamalkannya dan itu bukan demi slogan-slogan semata.

Itu juga yang Allah Ta’ala frimankan, “Kamu tidak akan bisa menjalin hubungan yang sejati dengan Aku kalau cuma sekedar mengucapkan Syahadat saja. Sebaliknya apabila kamu ingin meraih kecintaan-Ku, maka ikutilah Rasul-Ku yang terkasih dan terapkanlah akhlaknya, maka kamu akan meraih derajat kedekatan kepada-Ku (Qurb Ilahi). Jika tidak demikian, ucapan syahadatmu hanya kosong belaka.” Allah Ta’ala telah berfirman: قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintai dan mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Surah Ali Imran, 3:32)

Dapatkah keadaan umat Islam dewasa ini dengan apa-apa yang mereka lakukan akan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang dicintai Allah? Para ulama yang mengklaim diri kekasih Allah dan dekat dengan-Nya merupakan orang-orang yang banyak menciptakan kekacauan di dunia. Di Pakistan sekarang para Analis dan Kolumnis (penulis) menulis di suratkabar-suratkabar dan media-media sosial lain bahwa keadaan umat Muslim ini disebabkan oleh mereka yang mengaku diri Ulama. Keadaan mereka secara umum saat ini menuntut adanya orang yang menjelaskan hakikat Al-Qur’an dan sunnah Rasul saw.

Allah Ta’ala telah mengutus seseorang yang melakukan hal ini sesuai janji-Nya namun para Ulama tidak mendengarkannya dan tidak membiarkan orang-orang lain untuk mendengarkannya bahkan mereka mengeluarkan fatwa sesat terhadap seseorang yang datang dari Allah Ta’ala yang berakibat telah menciptakan suasana ketakutan, teror, kekacauan dan korupsi.

Setiap hari tuduhan tersebut dilontarkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, bahwa naudzubillah, beliau mendirikan Jemaat guna memperoleh dan memenuhi kebutuhan duniawi beliau, dan demi menampakkan ketinggian status beliau. Kendati begitu, kita paham bahwa beliau merupakan pecinta sejati Rasulullah saw, dan Allah Ta’ala mengutus beliau untuk menyegarkan agama-Nya. Beliau as telah memberi pengertian pada kita melalui sarana ilmu-ilmu dan makrifat-makrifat A-Qur’an. Beliau as membimbing kita di tiap kesempatan dalam cahaya ajaran Al-Qur’an.

Beliau as menjelaskan ayat, “Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintaimu,” dalam berbagai segi keistimewaan yang berbeda dan menguraikan sejumlah makna-maknanya di berbagai kesempatan dan hal itu ialah yang memungkinan kita untuk lebih dekat dengan Allah Ta’ala dan menjadikan kita sebagai orang-orang yang dikasihi-Nya dan mengeluarkan kita dari fitnah-fitnah dan kerusakan-kerusakan serta bagi umat Muslim tidak ada jalan lain demi kekekalan, keselamatan, mengibarkan keamanan dan kedamaian di negeri-negeri mereka serta menampakkan keagungan Islam kepada dunia. Akibat-akibat baik tampak sebagai hasil mengikuti secara benar terhadap Hadhrat Rasulullah saw. Jika tidak demikian maka ucapan Syahadat hanya omong kosong belaka dan batil.

Pada hari ini saya ingin menguraikan ayat tersebut dengan kutipan dari sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau bersabda : “Satu-satunya penyebab terbagi-baginya umat Islam dalam berbagai golongan ialah dikarenakan kecintaan kepada dunia ini. Sebab, jika mereka mengutamakan ridha Allah Ta’ala, mereka akan paham dengan mudah bahwa prinsip-prinsip perpecahan ialah seperti demikian dan jauh lebih jelas daripada hal yang lain, dan mereka menghadapinya dan bersatu. Sekarang, saat kerusakan menyebar karena kecintaan terhadap dunia, dapatkah orang-orang yang tidak mengikuti teladan Rasulullah saw itu disebut orang Islam? Padahal Allah Ta’ala telah berfirman: قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ’Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan bersahabat denganmu.’

Pada masa ini kecintaan terhadap duniawi begitu diutamakan dibandingkan kecintaan Ilahi dan mengikuti Rasulullah saw. Apakah demikian cara mengikuti Nabi Muhammad saw? Apakah Rasulullah saw itu seorang yang tenggelam duniawi? Apakah na’udzu billah, beliau saw menerima riba? Apakah beliau saw memperlihatkan kelalaian dalam memenuhi kewajiban beliau terhadap perintah-perintah Tuhan? Apakah beliau, na’udzu billah, memiliki unsur kemunafikan atau kepura-puraan, dan apakah beliau lebih memilih dunia daripada agama? Renungkanlah (hal ini)! Mengikuti Rasulullah saw berarti mengikuti setiap langkah beliau, lalu perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala melimpahkan karunia-karunia-Nya.”

Namun, keadaan umat Islam hari-hari ini secara amal perbuatan, terlebih, contoh perbuatan yang ditunjukan Allah Ta’ala membuktikan fakta bahwa betapa buruknya kondisi mereka. Masing-masing Negara Islam saling bertengkar, beberapa Negara Islam mendekati dan memohon Negara-negara lain untuk melawan Negara-negara Islam lainnya.

Beberapa hari belakangan ini, presiden USA (Amerika Serikat) sekali lagi telah mengumumkan bahwa restriksi (pembatasan) diberlakukan terhadap Iran, dan hal tersebut bertentangan dengan kepercayaan seluruh negara Eropa. Uni Eropa dan beberapa Negara lainnya pun menentang keputusan tersebut. Bahkan di UK, seorang kolumnis menulis bahwa seluruh dunia menentang keputusan Presiden USA tersebut.

Tapi ada tiga Negara yang mengatakan bahwa USA telah bertindak tepat. Ketiga Negara tersebut adalah pertama Amerika Serikat sendiri, kedua Israel dan ketiga Arab Saudi. Kini Arab Saudi mengijinkan Negara non-Islam berperang melawan Negara Islam. Bahkan, itu didukung oleh Arab Saudi. Oleh karena itu, inilah kondisi umat Islam dan inilah yang persis digambarkan Hadhrat Masih Mau’ud as saat menyebutkan bahwa umat Islam terpecah-belah. Lalu bagaimana caranya mereka memperoleh karunia-karunia Allah Ta’ala jika mereka terpecah-belah?

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai bagaimana manusia dapat meraih kebaikan hakiki dan mendapatkan ridha Allah dan bagaimana ia dapat memperoleh nikmat-nikmat Ilahi serta bagaimana beliau as sendiri mendapatkan nikmat ini? Fatwa-fatwa menentang beliau as telah banyak diterbitkan yang menyebutkan – wal ‘iyaadz biLlaah – beliau as mengubah-ubah ajaran Nabi Muhammad saw bahkan ajaran Islam.

Beliau as bersabda: “Saya berkata dengan sungguh-sungguh dan saya melakukannya berdasarkan pengalaman pribadi saya bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar dapat beramal saleh secara hakiki, meraih keridhaan Allah Ta’ala, atau memperoleh ganjaran, keberkatan, ma’rifat (kebijakan), hakikat dan kasyaf-kasyaf yang membawa ke tahap tertinggi Tazkiyatun Nafs (kesucian jiwa), (ketika seseorang mencapai tahap tertinggi kesucian jiwa, baru kemudian ia menerima ganjaran dan keberkatan dari Allah Ta’ala, serta penglihatan kasyaf dan bercakap-cakap dengan Allah Ta’ala)

“Apabila ia telah tunduk memfanakan dirinya dengan mengikuti Rasulullah saw. Inilah apa yang dijelaskan dalam firman Allah Ta’ala, قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ  Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintaimu.’” Beliau as bersabda, “Saya secara perbuatan menjadi pendakwa dan bukti nyata hidup dari firman tersebut.”

Ini artinya, “Pada masa, Allah Ta’ala bercakap-cakap dengan saya karena saya telah memfanakan diri kepada Rasulullah saw dan mengikuti beliau sepenuhnya sehingga Allah Ta’ala pun memperlakukan saya dengan kasih sayang-Nya.”

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjawab mereka yang menuduh beliau as menurunkan derajat kedudukan Rasulullah saw, maka beliau as menegaskan bahwa kedudukan beliau as diperoleh melalui kecintaan kepada Rasulullah saw serta sungguh-sungguh mengikuti Junjungan beliau as (Nabi Muhammad saw) sehingga Allah Ta’ala menganugerahi beliau kehormatan hingga derajat kekasih-Nya sebagai hasil dari kecintaan kepada Junjungan beliau as dan Kekasih beliau.

Berkenaan dengan tugas yang dilimpahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai natijah (hasil) dari kepengikutan yang sempurna kepada Rasulullah saw, beliau bersabda: “Saya diutus untuk menegakan kembali kemuliaan yang hilang dari Rasulullah saw dan memperlihatkan kembali kebenaran al-Quran ke seluruh dunia. Semua pekerjaan-pekerjaan ini telah terpenuhi tetapi mereka yang memiliki tutupan atas mata mereka tidak akan dapat melihat hal ini.”

Hadhrat Masih Mau’ud as selanjutnya bersabda: “Pengakuan kecintaan kalian kepada Allah Ta’ala, baru akan terbukti keotentikan dan kesungguhannya apabila kalian mengikuti Rasulullah saw.” (inilah terjemahan ayat suci tersebut) Sabda beliau, “Apa makna hal itu? Ketaatan kepada saya tidak menyebabkan terputusnya kasih sayang Allah, bahkan menarik ampunan atas dosa-dosa dan menjadikannya kekasih Allah.” (Mengikuti dan menaati Nabi Muhammad saw membawa seseorang pada ampunan atas dosa-dosanya dan tidak terbatas hanya itu saja bahkan menjadikan hamba tersebut sebagai kekasih Allah Ta’ala)

Jelas dari ayat tersebut bahwa seseorang tidak dapat menjadi kekasih Allah atau layak mendapatkan Qurb-Nya hanya dengan berbagai upayanya sendiri dan amalan keruhaniannya sendiri. Keagungan cahaya-cahaya dan keberkahan Ilahi tidak dapat turun kepada siapapun hingga orang itu memfanakan diri seluruhnya kedalam ketaatannya kepada Rasulullah saw.

Seseorang yang melenyapkan dirinya kedalam kecintaan kepada Rasulullah saw, dan menanggung segala jenis pengorbanan di jalan ketaatan dan kepengikutan kepada beliau saw dalam corak warna kematian, akan menerima nur keimanan, kecintaaan dan keasyikan yang membebaskan dirinya dari segala sesuatu penghambaan selain Tuhan, serta membebaskannya dari dosa dan menjadikannya sumber keselamatan. Ia menjalani kehidupan yang suci (saleh) di dunia ini, dan menyelamatkannya dari kuburan hasrat nafsu dan duniawi yang sesak (sempit) dan gelap. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits sabda Rasulullah saw, أنا الحاشر الذي يحشر الناس على قدمي “Aku adalah yang membangkitkan orang-orang mati dan umat manusia akan dihidupkan kembali melaluiku.”

Nabi Muhammad saw ialah orang yang menghidupkan orang-orang yang mati rohaninya dan mereka yang mengikuti beliau saw akan menjadi kekasih Allah Ta’ala. Mengenai hal itu, beliau as menjelaskan lebih lanjut, “Allah Ta’ala telah menjadikan jalan satu-satunya untuk kebahagiaan agung yaitu menaati orang itu, Rasulullah saw, sebagaimana Dia firmankan dengan jelas pada ayat, قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ  Makna hal itu bukanlah beribadah secara taqlid saja. Jika hakikat agama ialah demikian maka apa makna shalat dan hakikat puasa? Namun, seseorang mencegah diri dari beramal yang berasal dari dirinya sendiri lalu melakukannya dengan sendirinya.” (Hendaknya tidak melaksanakan shalat-shalat karena taqlid tetapi melaksanakannya sebagaimana itu ialah haknya. Memang pasti melakukan secara teguh pada waktu-waktunya lalau wajib beribadah kepada ALlah dan seolah-olah kamu berada di hadapan Allah dan tanpa itu seluruh ibadah kalian takkan dianggap sebagai taqlid dan omong kosong.)

Beliau as bersabda, “Islam tidak berarti sebuah nama saja. Makna Islam ialah menyerahkan leher seperti orang taklukan. Sebagaimana Nabi saw bersabda, ‘Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, hidupku dan matiku untuk Allah, Tuhan Semesta Alam semata, dan saya yang pertama Muslim.’”

Oleh karena itu, orang-orang yang mengikuti Nabi saw dengan sebenar-benarnya perlu meningkatkan standar amal ibadah mereka. Setiap orang dari kita harus merenungkan dan memperbaiki hal ini, jikalau tidak maka pengakuan akan ketaatan dan kesetiaan kita kepada beliau saw hanya omong kosong belaka.

Membahas tentang Hadhrat Rasulullah saw sebagai Muwahhid sempurna kepada Tuhan, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Allah Ta’ala telah memerintahkan, قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ‘Wahai Rasul! Katakanlah kepada orang-orang, “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka sebagai natijahnya, Allah akan menjadikan kalian orang-orang yang dicintai-Nya.”’” (ini adalah terjemahan ayat tersebut)

Beliau bersabda lagi, “Sesorang dapat menjadi kekasih Allah dengan menunjukan ketaatan yang sepenuh-penuhnya kepada Rasulullah saw. Hal tersebut menjelaskan bahwa beliau saw merupakan teladan (panutan) Muwahhid yang sempurna kepada Tuhan.”

Artinya, Hadhrat Masih Mau’ud as beristimbath (mengambil kesimpulan) dari ayat ini sebuah dalil akan keadaan Nabi Muhammad saw sebagai Muwahhid sempurna. Artinya, beliau telah mencapai kedudukan yang tidak dapat dicapai seorang pun. Untuk itu, Allah Ta’ala telah menjadikan beliau saw teladan bagi kita dalam peribadatan sebagaimana beliau juga teladan dalam akhlak-akhlak luhur lainnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda di kesempatan lain: “Seseorang tidak dapat menciptakan dalam dirinya jalinan kecintaan dengan Allah Ta’ala secara sempurna tanpa menggunakan akhlak dan keteladanan Rasulullah saw sebagai dalil dan pedoman baginya. Maka dari itulah Allah berfirman: قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ‘Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintaimu.’ Artinya, mengikuti Nabi Muhammad saw ialah suatu keharusan bagi seseorang untuk menjadi kekasih Allah. Makna ketaatan hakiki terhadap Rasulullah saw adalah menerapkan akhlak luhur beliau saw.”

Pada satu segi, hendaknya berakhlak dengan akhlak Nabi saw yang berkaitan dengan ibadah-ibadah dan pada segi lainnya, hendaknya mendirikan corak standar akhlak yang tinggi. Makna ittiba ash-shaadiq (menjadi seorang pengikut orang benar tersebut) berarti menanamkan dalam diri kalian karakteristik akhlak Nabawiyah saw yang mana itu telah digariskan dalam al-Quran Karim. Hal itu sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Aisyah, “Akhlak beliau saw ialah Al-Qur’an.” Ini artinya, “Jika kalian ingin melihat akhlak-akhlak luhur Nabi Muhammad saw, kalian perlu membaca al-Quran. Sebab, al-Quran-lah yang merinci hal itu.”

Dari segi ini, hendaknya kita membaca al-Quran dan sebelum kita menasehati orang lain, kita perlu menilai diri kita sendiri, bahwa sudah sejauh mana kita setelah menerima Imam Mahdi menjadikan al-Quran sebagai kode etik kita dalam kehidupan kita – hal ini juga bagian dalam baiat kita – ? Sampai tingkat mana kita tetap berpegang teguh kepada kebenaran dan keadilan? Sejauh mana kita berupaya untuk menegakan hak-hak orang lain?

Beliau as bersabda, “Setiap orang tidak dapat sampai kepada Tuhan dengan sendirinya, tapi dia memerlukan sarana untuk tujuan ini, dan media itu adalah Alquran dan Nabi Muhammad saw, dan siapapun yang meninggalkannya tidak akan pernah mendapatkan tujuannya. Manusia itu pada hakikatnya benar-benar seorang budak, dan budak harus mematuhi semua perintah tuannya. Jika Anda ingin menerima aliran-aliran karunia Nabi, Anda harus menjadi budak baginya. Allah berfirman di dalam Al Qur’an: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ‘Katakanlah, “Hai hamba-hamba-ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus harapan akan rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa.”’ (Az-Zumar, 39:54).

Apa yang dimaksud dengan hamba sahaya (budak) adalah budak dan bukan makhluk pada umumnya. Sebagai hamba, Anda harus menjadi hamba Rasulullah, bershalawat kepadanya dan tidak menentang apapun perintahnya, tapi melakukan semua perintahnya, seperti firman Allah: قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ‘Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintaimu.’ Itu artinya, jika Anda mencintai Allah, jadilah sepenuhnya taat kepada Nabi saw dan fana di jalannya, maka Allah akan mencintaimu.”

Jika yang paling berdosa mencari pengampunan dari Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw serta mengubah dirinya sendiri, menjadi mungkin baginya untuk dicintai oleh Allah dalam keadaan itu.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Satu-satunya jalan mendapatkan ridha Allah Ta’ala adalah memperlihatkan ketaatan sejati kepada Rasulullah saw. Kita saksikan orang-orang sudah sedemikian rupa terlibat dalam segala jenis taqlid (adat kebiasaan dan ritual-ritual yang dilaksanakan begitu saja tanpa dasar agama). Ketika ada orang yang meninggal, mereka memberlakukan berbagai taqlid. Adat kebiasaan baru yang telah direka-reka tidak hanya melanggar perintah Rasulullah saw, tapi merupakan hinaan bagi beliau saw. Hal demikian terjadi karena mereka menganggap sabda-sabda Rasulullah saw kurang begitu memadai (cukup) sehingga mereka melakukan hal tersebut. Jika sabda-sabda beliau saw itu cukup, mengapa mereka harus membungkuk kepada segala bentuk adat istiadat dan ritual yang derajatnya rendah tersebut?”

Dengan demikian, mereka yang memfatwakan kafir pada kami, hendaknya memeriksa diri sendiri.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ Jadi, jelas dari ayat ini bahwa selama seseorang belum mengikuti dengan sepenuhnya terhadap Rasulullah saw, ia tidak akan dapat meraih karunia dan keberkatan Allah Ta’ala, dan tidak akan ada yang menganugerahi ma’rifat (ilmu mendalam) dan bashirat (hikmah) yang dapat membebaskan kehidupannya dari hal-hal yang lekat dengan dosa-dosa dan memadamkan api hasrat nafsunya yang berkobar-kobar. Orang-orang semacam itu termasuk kedalam ungkapan Rasulullah saw berikut, علماء أمتي ‘ulamā-u ummatiy (Para Ulama umatku).”

(Jika kalian ingin memadamkan api hasrat nafsu yang berkobar-kobar maka perlu bagi kalian untuk mengikuti secara sempurna Nabi saw dan menapaki keteladanan beliau saw. Jika kalian ingin meraih ma’rifat hakiki dan mengenali Allah serta berkeinginan menjadi orang-orang yang dikasihi-Nya maka mau tak mau kalian harus mengikuti beliau saw. Jika kalian ingin bersih dari kehidupan yang lekat dengan dosa-dosa maka perlu bagi kalian mengikuti beliau saw. Mereka yang melakukan hal itu akan mencapai kedudukan yang disebut oleh Nabi saw dalam sabdanya, عُلَمَاءُ أُمَّتِيْ كَأَنْبِيَاءِ بَنِيْ إِسْرَائِيْل ‘ulamā-u ummatiy ka-anbiyā-i banī Isrāīla – ‘para Ulama umatku seperti nabi-nabi bani Israil’

Namun, ulama-ulama sekarang bukan termasuk golongan ini. Mereka belum mencapai kedudukan ini karena mereka tidak mempercayai faidh (aliran-aliran keberkahan) Nabi saw masih berlangsung. Mereka tidak memahami bahwa aliran keberkahan tersebut masih dapat diraih.

Kemudian, beliau as bersabda, “Kedudukan tertinggi Nabi Muhammad saw ialah sebagai habibuLlah (kekasih Allah). Allah Ta’ala juga mengarahkan orang-orang untuk sampai kepada kedudukan itu sebagaimana firman-Nya, Berpikirlah sekarang, jika mengikuti Nabi nan benar itu menjadikan seseorang sebagai kekasih Allah maka apa lagi setelah itu?”

Di tempat lain beliau as bersabda mengenai kedudukan Nabi saw: “Seseorang yang mengatakan keselamatan dapat diraih tanpa mengikuti Rasulullah saw, adalah dusta karena hal tersebut sangat bertentangan sepenuhnya dengan yang diajarkan Allah Ta’ala kepada kita. Allah berfirman: ‘Wahai Muhammad! Biarkanlah orang-orang tahu: Apabila kalian mencintai Allah maka ikutilah aku: Maka Allah akan mencintaimu.’ Tanpa mengikuti Rasulullah saw tidak ada seorang pun dapat meraih keselamatan. Orang-orang yang memiliki permusuhan dan kebencian terhadap Rasulullah saw juga tidak akan meraih kebaikan selamanya.” (Inilah bagian dari keimanan kita.)

Pada satu kesempatan, Hadhrat Masih Mau’ud as berdebat dengan seorang Kristen [tanya-jawab tertulis]. Orang Kristen itu menyampaikan sebuah referensi tentang kedudukan Yesus, dimana Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius, 11:28) dan “Akulah Cahaya”, dan juga, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.” (Yohanes, 14:6); apakah pendiri Islam (Rasulullah saw) juga menyatakan dirinya dengan kalimat seperti itu atau yang semacamnya? Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab: “Al-Quran dengan jelas mengatakan, قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ‘Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintai dan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.’”

Lebih lanjut beliau as bersabda: “Janji tersebut bahwa dengan mengikuti Rasulullah saw seseorang akan dicintai Tuhan, melebihi semua yang diucapkan Yesus, karena tidak mungkin ada kedudukan yang lebih tinggi daripada meraih kecintaan Tuhan.” (Yesus berkata, ‘Marilah dan dapatkanlah cahaya’, tetapi Allah Ta’ala berfirman kepada Rasulullah saw agar beliau mengumumkan bahwa siapa saja yang mengikuti beliau akan menjadi kekasih Allah, juga akan diampuni dosa-dosanya.) Siapakah dalam hal ini yang lebih mulia, apakah ia yang memproklamirkan dirinya adalah cahaya lebih mulia kedudukannya, daripada ia yang siapa pun dengan menapaki jalannya menjadi sebagai kekasih Ilahi?”

Pada masa itu para Pendeta menyebarluaskan Kekristenan di tiap tempat. Ratusan ribu umat Muslim di India telah menjadi Kristen. Para Ulama dan pemimpin Muslim tidak mempunyai kesempatan untuk membela Islam dan tidak mampu menjelaskan kedudukan dan keagungan Nabi Muhammad saw yang dapat membuat bungkam orang-orang non Muslim.

Pada situasi seperti ini Hadhrat Masih Mau’ud as berjuang sendirian. Beliau-lah yang telah diutus oleh Allah Ta’ala untuk menjelaskan keagungan Islam dan Nabi Muhammad saw ke dunia. Sejarah India telah menyaksikan bahwa pahlawan dari Tuhan ini telah menangkis serangan para pendeta ini terhadap Islam dengan bukti dan dalil. Tidak hanya itu, namun telah mengalahkan mereka.

Kita temukan dalam sejarah bahwa cendekiawan Muslim pada zaman itu telah menyebutkannya. Hal ini diakui juga oleh para ilmuwan kontemporer dari pihak penentang kita juga. Dr Israr Ahmad almarhum mengakui bahwa orang yang membela Islam sebenarnya pada waktu itu adalah (Hadhrat) Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sendiri. Singkatnya, kebenaran kokoh bahwa beliau as menjunjung tinggi keagungan Islam dan Nabi Muhammad saw yang mana tidak ada cendekiawan Muslim lainnya yang seperti beliau as.

Lalu dalam rangka membuktikan kewafatan Yesus, Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan argumen yang sangat cemerlang dari ayat قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintai dan mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Secara khusus di kalangan bangsa Arab sekarang Hadhrat Isa al-Masih dianggap masih hidup di langit dan ini adalah pandangan yang amat merasuk secara mendalam.

Beliau bersabda guna menanggapi hal itu dengan dalil berikut ini: “Seorang beriman dalam pandangan saya ialah yang mengikuti Nabi Muhammad saw dan meraih sesuatu kedudukan tertentu, sebagaimana Allah berfirman, قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ‘Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintai.’

Termasuk tuntutan kecintaan bahwa harus ada kecintaan khas terhadap apa yang dilakukan (diperbuat, terjadi) pada orang yang dicintai. Kematian termasuk sunnah Rasulullah saw (yaitu Rasulullah saw pun mengalami kematian). Apabila beliau saw pun telah wafat maka bagaimana mungkin ada orang yang masih hidup atau mendambakan untuk hidup selamanya, atau menyetujui agar orang lain hidup selamanya.” (Seorang yang mengimani beliau saw dengan benar takkan mengharap hidup abadi dan begitu pula orang beriman takkan mempunyai pandangan ada orang lain yang masih hidup selamanya.)

Beliau as melanjutkan, “Cinta yang hakiki menuntut agar seseorang benar-benar tenggelam dalam kepatuhannya terhadap Rasulullah saw dan ia memiliki kendali perasaan-perasaannya, dan mencerminkan dari umat mana dia berasal. Seseorang yang mempercayai Yesus masih hidup di langit, bagaimana mungkin ia sungguh-sungguh mengakui mencintai dan mengikuti Rasulullah saw? Ia menganggap Yesus as lebih mulia daripada Rasulullah saw, karena percaya Yesus masih hidup di langit sementara Nabi saw sudah wafat.”

(Di satu sisi mereka menyatakan mencintai Rasulullah saw dan mengikuti perintahnya, namun di sisi yang lain meyakini Yesus masih hidup di langit sehingga itu memuliakan Yesus dibanding beliau saw. Maka dari itu, pada zaman ini, hanya Hadhrat Masih Mau’ud as yang membela Islam dan Rasulullah saw dari setiap serangan lawan di berbagai segi, serta meninggikan derajat beliau. Inilah tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as, tetapi para ulama Islam hanya melontarkan fitnah terhadap beliau.)

Selanjutnya, beliau bersabda menjelaskan Nabi yang hidup ialah Rasul kita, “Renungkanlah sedikit bahwa mereka yang berkata-kata bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah bahwa Isa (Yesus) masih ada hidup di langit, dengan demikian memberi keuntungan (kesempatan) kepada para Pendeta untuk melontarkan celaan. Mereka berkata, ‘Rasul kalian telah mati. Dia telah menjadi tanah. Wal ‘iyaadz biLlaah.”

Inilah apa yang diulang-ulang di berbagai stasiun televisi. Namun, mereka yang berkata demikian saat mendengar dalil-dalil kita di program al-Hiwar al-Mubasyar di stasiun televisi kita amat takjub. Mereka yakin dengan itu meski para Ulama tidak menerimanya.

Selanjutnya sabda beliau as, “Para Pendeta berkata, ‘Rasul kalian telah mati. Dia ada di tanah. – wal ‘iyaadz biLlaah – sementara Isa ada di langit dan dia masih hidup.’ Mereka mencaci Nabi saw dengan menyifatkannya sebagai sudah mati.” (Inilah yang diterbitkan oleh para Pendeta secara umum bahwa Isa masih hidup dan di langit sementara Nabi kalian di bumi karena telah mati/wafat)

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih jauh bersabda: “Setelah merenung dengan hati-hati, beritahukanlah kepada saya bukankah dengan mempercayai hal ini mereka tengah mencela kehebatan Afdhalur Rusul (yang terbaik diantara para Rasul) dan Khatamun Nabiyyin dank e-Khatam-an beliau saw? Tentu saja, mereka pasti tengah menghina beliau saw.

Keyakinan saya bulat bahwa sejauh mana mereka (yaitu umat Islam yang percaya Yesus masih hidup) memberikan kesempatan kepada (membela) para pastur dan pendeta untuk berbicara buruk tentang Islam dan mencaci Rasulullah saw, sebesar itu pula hukuman dan kehinaan yang menimpa mereka. Inilah alasan dari kondisi umat Islam saat ini. Padahal, Allah Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Muhammad saw sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an, وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا ‘Karunia Allah kepada engkau amat besar.’ (Surah an-Nisa, 4:114)

Maka, apakah firman ALlah ini salah? Tidak, bahkan itu benar namun bohonglah mereka yang berkata Nabi itu telah wafat. Tidak ada kalimat cacian terhadap Nabi saw yang lebih buruk dari perkataan mereka ini. Pada hakikatnya, Nabi Muhammad saw-lah yang meraih afdhaliyat yang mana tidak ada Nabi lain yang menemani beliau saw dalam hal ini. Merupakan madzhab saya bahwa orang yang tidak menjelaskan perihal kehidupan Nabi Muhammad saw maka ia kafir.”

Lebih jauh beliau as menjelaskan bahwa: “Di satu sisi mereka mengemukakan Hadhrat Rasulullah saw sebagai Nabi yang paling agung dari antara semua Nabi-Nabi yang lain, namun di sisi lain mereka mempercayai bahwa beliau saw wafat di usia 63 tahun, sementara Yesus masih hidup hingga hari ini. …. Sangat disesalkan bahwa orang-orang yang menghubungkan diri mereka dengan Rasulullah saw, ternyata mereka sendiri yang menyifatkan Nabi saw sebagai telah mati, wal ‘iyaadz biLlaah, sementara itu, Nabi yang akibat akhir umatnya ialah (ditimpakan kehinaan dan penderitaan) وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ, mereka anggap masih hidup.”

Setelah Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan fakta Nabi-Nabi sebelum Rasulullah saw tidak akan muncul lagi di dunia; maka dari itu, sekarang Yesus tidak bisa datang lagi karena beliau merupakan bagian dari kenabian Musa dan sudah wafat; dan salah seorang pun dari Nabi-nabi dari umat Musa tidak akan bisa datang lagi. Selanjutnya, lebih lanjut beliau as menjelaskan bahwa tidak mungkin aliran keberkatan ini dapat berlanjut dan diraih tanpa melalui kepengikutan kepada Nabi Muhammad saw, karena hanya beliau-lah Nabi yang hidup.

Pada zaman ini Allah Ta’ala mengutus Al-Masih yang dijanjikan dan Al-Mahdi dalam status sebagai bawahan dari Nabi Muhammad saw. Beliau as juga bukan pembawa Syariat.

Beliau as bersabda, “Saya telah memperoleh bagian penuh dari anugerah ini yang mana itu dianugerahkan kepada para Nabi dan Rasul Allah serta selain mereka dari kalangan orang-orang terpilih nan saleh. Namun, hal ini bukan karena kepantasan, keahlian dan keberhakan dari pihak saya melainkan murni semata-mata karunia Allah Ta’ala. Suatu hal yang tidak mungkin bahwa saya memperoleh kenikmatan ini jika tidak mengikuti jalan-jalan Junjungan saya dan Majikan saya, Muhammad, Nabi yang Mulia, kebanggaan para Nabi dan sebaik-baik makhluk. Tiap-tiap yang saya peroleh ialah berkah mengikuti sunnah Muhammad dan jalan beliau saw.

Saya mengetahui secara yakin – berdasarkan pengetahuan saya yang benar dan penuh – tidak mungkin seseorang sampai kepada Allah dan tidak mungkin mendapat bagian ma’rifat sempurna tanpa mengikuti Rasul yang mulia itu saw. Biarkan saya mengabarkan pada kalian dalam hal ini mengenai sesuatu yang timbul di hati pada sejak awal sebagai natijah mengikuti secara benar dan sempurna kepada Rasulullah saw; ketahuilah itu adalah qalbun saliim (hati yang damai). Artinya, hati yang dingin dalam hal kecintaan terhadap dunia dan mencari tahu terhadap pencapaian-pencapaian kenikmatan abadi yang tanpa putus.

Selanjutnya, hati yang damai ini memudahkan kecintaan terhadap Allah secara sempurna dan jernih.” (itu artinya, bila kecintaan duniawi pergi, kecintaan terhadap Allah yang menggantikan tempat di hati itu.) “Seseorang mewarisi kenikmatan-kenikmatan ini sebagai berkat mengikuti Nabi Muhammad saw, sebagaimana firman Allah, قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ‘Katakanlah, Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintai..’

Kenyataannya, pernyataan cinta dari satu pihak saja ialah sebuah kedustaan dan pengakuan kosong. Ketika seseorang menyintai Allah dengan kejujuran dan keikhlasan maka Allah akan menyintainya juga. Kemudian, Dia menempatkan untuk penerimaannya di bumi. Dia memasukkan kecintaan yang jujur dari orang itu ke dalam hati ribuan orang dan menganugerahinya kekuatan daya tarik dan Dia anugerahi orang itu cahaya yang menyertainya senantiasa.”

Dapat kita perhatikan di hari-hari ini juga bagaimana Allah Ta’ala merasukkan kecintaan ini di hati orang-orang bahkan hingga di negeri-negeri terpencil seperti di Afrika ketika ratusan ribu orang bergabung dengan Jemaat dan beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Ketika seseorang dengan sepenuh hati mencintai Allah Ta’ala dan mengutamakan-Nya dibandingkan dengan hasrat dan tujuan duniawi, serta menghapus dalam hatinya segala bentuk kemuliaan dan keagungan sesuatu selain Tuhan, dan menganggap semua itu lebih rendah daripada seekor serangga, maka Allah Ta’ala, Yang Maha Melihat hati sang hamba akan menghinggapi hatinya dengan tajalli-Nya yang Maha agung, seakan-akan seperti sebuah cermin bening yang dihadapkan kearah matahari, karena pantulan dari matahari tersebut maka secara kiasan dapat dikatakan bahwa matahari yang ada di langit hadir di cermin kaca tersebut. Dengan cara seperti pula Tuhan turun atas hati orang-orang tersebut dan membuat singgahsana-Nya dalam hati mereka. Inilah yang untuk apa manusia itu diciptakan.”

Dengan demikian, Hadhrat Masih Mau’ud as merupakan muhib shadiq (pecinta sejati) dan muthii’ kaamil (yang menaati dengan sempurna) kepada Rasulullah saw, dan karena inilah maka Allah Ta’ala mencintai beliau dan memuliakan beliau dengan martabat beliau sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi serta sebagai Nabi bawahan (tabi’ dan umati) dari Nabi Muhammad saw. Setelah mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as, kita berdoa semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk menghargai beliau as dengan sebenar-benarnya dan untuk menjadi pengikut sempurna Hadhrat Rasulullah saw. Semoga Dia menganugerahi setiap orang dari kita untuk mengikuti dengan sempurna teladan Rasulullah saw sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita masing-masing, dan semoga Dia memberikan anugerah kepada umat Islam agar mereka mengimani dan mengikuti pecinta sejati dari Rasulullah saw. Amiin!

(Visited 28 times, 2 visits today)