Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 13 April 2018 di Masjid Basyarat, Pedroabad, Spain (Spanyol)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

 وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada zaman ini kekacauan merebak di berbagai tempat di dunia ini. Anda temukan ada kekacauan yang ditimbulkan atas nama agama dan ada kekacauan yang ditimbulkan demi membuktikan kekuatan dan keunggulan duniawinya. Ada peristiwa kekacauan lain yang disebabkan pertentangan si miskin dan si kaya dan ada pula yang kekacauan timbul disebabkan kelompok-kelompok keagamaan ingin memperoleh tampuk kekuasaan di pemerintahan. Ada pula kekacauan yang ditimbulkan oleh hal-hal sepele dalam lingkungan rumah tangga. Ada juga timbulnya permusuhan, percekcokan dan kekisruhan disebabkan tidak adanya pelaksanaan tanggung jawab oleh satu pihak terhadap yang lain. Ada juga yang timbul untuk membuktikan keunggulan ras atau garis keturunan. Ada juga yang timbul karena menempuh cara-cara yang salah demi mendapatkan haknya.

Dengan demikian, kalau kita lihat dari sisi mana saja, Anda temukan dunia tengah diliputi kekacauan dan kehancuran. Hal ini membuat orang kaya tidak terlindungi dari itu. Pun, tidak juga orang miskin. Tidak juga orang-orang di negeri-negeri maju selamat dari itu. Tidak juga mereka yang berada di negeri-negeri berkembang atau terbelakang.

Seolah-olah manusia yang beranggapan telah mencapai kemajuan besar di zaman modern ini juga beranggapan ini zaman ilmu pengetahuan, akal dan cahaya pencerahan, sebenarnya mereka terjerumus kedalam kegelapan. Mereka melupakan Allah Ta’ala dan menganggap duniawi sebagai sembahannya, menganggapnya sebagai tuhannya dan tengah berjalan selangkah demi selangkah menuju jurang kehancuran bahkan sudah mendekatinya.

Dalam kondisi demikian, tenggelamnya orang-orang non Muslim dalam gemerlapan duniawi dapat dipahami sampai batas tertentu, karena dalam agama mereka telah tercipta perubahan dan kerusakan. Agama mereka tidaklah memberikan solusi yang lengkap dan sempurna untuk membimbing mereka kepada jalan Allah Ta’ala. Namun yang mengherankan adalah umat Islam, karena mereka memiliki kitab yang lengkap, sempurna dan masih sama keasliannya, juga sesuai dengan janji-Nya, Allah Ta’ala telah mengutus Imam pada zaman ini untuk memperbaiki pertentangan dan kekeliruan dalam tafsir Quran atau agama yang disebabkan oleh perselisihan pendapat antar sesama ulama.

Tapi, bukannya umat Muslim mendengar seruan utusan Allah tersebut dan bersama-sama mengupayakan pada hal-hal yang dapat menyelesaikan pertentangan dan kekisruhan justru mayoritas umat Muslim malah mengikuti para ulama yang menciptakan kerusuhan atas nama agama yang dengan mengikutinya membuat mereka enggan untuk mendengarkan seruan utusan Allah tadi.

Allah Ta’ala sendiri telah mengatur bagaimana menyelesaikan kekacauan di dunia, menciptakan kecintaan dan persaudaraan satu sama lain dan untuk mengenal-Nya. Namun sayangnya umat Muslim tidak mau menaruh perhatian akan hal tersebut dan inilah penyebab umat Muslim paling banyak mengalami kekacauan di dunia saat ini. Pemimpin agama dan pemerintahan mereka mendorong mereka pada kegelapan dan satu sama lain penduduk dari satu negara saling membunuh.

Dunia luar khususnya kekuatan non Muslim memanfaatkan keadaan ini dengan menyuplai peralatan perang dan bantuan pasukan untuk mengadu domba grup-grup Muslim dan untuk mengeruk keuntungan bagi dirinya. Ini merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Keadaan ini menekankan bagi kita yang telah mengimani Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (as) dan juga bagi umat Muslim lainnya yakni umat Muslim umum yang tidak menerima beliau as, supaya memanjatkan doa sebanyak-banyaknya. Keadaan-keadaan ini juga mengharuskan kita menaruh perhatian pada perbaikan keadaan amal perbuatan kita dan menjadikan kondisi ruhani kita seperti yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) harapkan dari kita. Sebab, jika keadaan amal perbuatan kita tidak seperti yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) harapkan, bisa saja kita termasuk kedalam golongan yang terjerumus dalam fitnah dan kekacauan.

Berkali-kali dan secara terus-menerus Hadhrat Masih Mau’ud (as) menasihati para anggota Jemaatnya tentang bagaimana seharusnya keadaan mereka setelah baiat? Untuk itu cara apa yang akan atau yang seharusnya mereka tempuh?

Saat ini saya akan sampaikan beberapa kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang menekankan hal-hal tersebut. Kita harus menyimaknya dengan seksama. Janganlah beranggapan sebelum ini pun pernah mendengarnya atau membacanya berulang-ulang karena terkadang setelah membaca atau mendengar pun masih saja bisa lupa.

Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) jelaskan hal ini secara berulang-ulang dan dari sudut pandang yang berbeda selama bertahun-tahun dalam berbagai majlis beliau menasihatkan para Ahmadi untuk memperbaiki keadaan diri mereka. Hal ini mengungkapkan betapa khawatirnya beliau (as) dengan Jemaat beliau, jangan sampai para Ahmadi melupakan tujuannya, jangan sampai setelah baiat kerusakan menimpa mereka lagi, dan jangan sampai mereka mulai mengarah pada kegelapan.

Pada suatu kesempatan beliau bersabda: “Bagi Jemaat kami penting untuk menempuh jalan taqwa bahwa pada zaman yang penuh gemerlap, di setiap tempat berhembus angin kesesatan, kelalaian dan kehilangan arah. Keadaan penduduk dunia saat ini telah demikian buruk sampai-sampai hukum-hukum Allah Ta’ala mereka anggap tidak bernilai. Mereka tidak memperdulikan hak-hak dan wasiat-wasiat.” (Artinya, mereka tidak mengetahui apa kewajiban, bagaimana harus melaksanakannya dan tidak memperdulikan apa-apa yang dinasihatkan pada mereka atau yang mereka sendiri telah wasiatkan atau nasehatkan pada orang-orang lain.)

“Mereka telah sedemikian rupa lupa diri dalam dunia dan kesibukannya secara berlebihan. Ketika sedikit saja mendapatkan kerugian duniawi, mereka langsung meninggalkan sisi agama dan menyia-nyiakan kewajiban pada Allah Ta’ala sebagaimana semua ini tampak ketika melihat gugatan-gugatan di pengadilan dan ketika pembagian hasil diantara rekan-rekannya. Mereka memperlakukan satu sama lain dengan niat serakah, mereka terbukti lemah ketika menghadapi gejolak emosi diri, disebabkan hal yang sepele saja, mudah terpancing emosinya.

Ketika Allah Ta’ala membiarkan mereka lemah, pada saat itu mereka tidak berani berbuat dosa. Mereka tidak berbuat dosa, karena mereka tengah lemah, mereka takut jangan sampai tertangkap dan dihukum, namun ketika kelemahan itu hilang dan mendapatkan kesempatan untuk berbuat dosa, seketika itu juga dia terjerumus dalam dosa.”

Beliau (as) bersabda, “Sekarang di zaman ini carilah ke berbagai tempat maka kalian akan tahu ketakwaan sejati telah hilang. Keimanan sejati benar-benar telah sirna. Namun Allah Ta’ala menghendaki sebutir dzarrah ketakwaan sejati dan benih keimanan orang-orang Muslim hakiki tidak disia-siakan selamanya sehingga ketika Allah Ta’ala melihat saat ini panen sama sekali hampir sirna, lalu Allah Ta’ala menciptakan panen baru lainnya.” (Maksudnya, jika satu generasi akan rusak atau banyak orang akan rusak atau suatu kaum akan rusak, maka Allah Ta’ala menciptakan kaum lainnya lagi dan menciptakan lagi.)

Beliau (as) bersabda, “Al-Quran yang asli masih tetap ada sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ inna nahnu nazzalnadz dzikra wa inna lahu lahaafizhuun – ‘Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami-lah yang menjaganya’? (Surah al-Hijr ayat 10) artinya, ‘Kami telah menurunkan adz-dzikr ini, yaitu Al-Quran ini, dan Kamilah yang akan tetap menjaganya.’ Sebagian besar Hadits terlindungi dan masih terdapat banyak keberkatan, namun keimanan dan kondisi amal perbuatan benar-benar telah hilang dari dalam hati. Allah Ta’ala telah mengutus saya supaya hal-hal ini terlahir kembali. Ketika Allah Ta’ala melihat medan lapangan ini kosong, maka tuntutan Uluhiyyat-Nya sama sekali tidak menyukai kondisi kekosongan ini.”

(Artinya, jika keburukan menyebar maka tuntutan ghairat dan Uluhiyyat Ilahi untuk memenuhi medan lapangan kosong itu kembali dengan orang-orang atau menciptakan lagi orang-orang yang mendahulukan agama diatas duniawi yang menyegarkan kembali agama, menyebarkan agama dan mengamalkan keagamaan.)

Beliau (as) bersabda, “Saya sama sekali tidak menginginkan medan lapangan ini kosong dan orang-orang terjauh. Sebagai pengganti mereka, Allah Ta’ala ingin menciptakan satu kaum hidup yang baru. Untuk itu seruan kita adalah semoga kehidupan takwa dapat diraih.”[1]

Jadi, jika seorang Ahmadi melakukan baiat secara benar, dia harus ikut serta ke dalam golongan orang-orang yang hidup, golongan orang yang hidup ruhaninya. Jika tidak, baiatnya tidak berguna. Apakah kaum ini menjadi kaum yang baru hanya cukup dengan lisan saja (berkata-kata saja)? Tidak. Melainkan untuk itu perlu menciptakan suatu perubahan keadaan amal perbuatan dan menerapkan ketakwaan sejati. Dengan demikian, barulah kita akan dapat menjadi kaum baru yang memahami hakikat Islam; barulah kita akan menjadi peraih keridhaan Ilahi dan kita akan dapat menjadi orang yang memenuhi janji baiat kita.

Apakah hakikat Islam? Bagaimana kita dapat meraihnya? Berkenaan dengan hal itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Islam artinya nama suatu keadaan mengikuti segala hukum Allah Ta’ala yang mana ringkasannya adalah taat kepada Allah Ta’ala dengan ketaatan sejati dan seutuhnya. Muslim adalah orang yang mempersembahkan seluruh keberadaannya di hadapan Allah Ta’ala semata-mata mengharapkan keridhaan-Nya tanpa memendam suatu harapan supaya dibebaskan dari azab atau mengharapkan hadiah apapun. بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ …man aslama wajhahuu wa huwa muhsin. Itu artinya, Muslim adalah orang yang mewakafkan wujudnya demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala.

Tidak ada yang menjadi tujuan dan maksudnya baik secara amal perbuatan maupun itikad kecuali semata-mata demi meraih keridhaan dan perhatian Allah Ta’ala. Segenap kebaikan dan amal saleh yang dilakukanya tidaklah dianggap sebagai suatu beban atau kesulitan melainkan ia berupaya menimbulkan kelezatan dan keindahan dalam melakukan kebaikan dan amal saleh tersebut.” (Jika dia melakukan suatu kebaikan atau jika mereka mengamalkan perintah Tuhan, dia tidak melakukannya dengan menganggap suatu beban di pundak, melainkan dalam setiap amalan baik yang dilakukannya seyogyanya manusia merasakan suatu kelezatan dan kenikmatan di dalamnya.) “Hendaknya dilakukan dengan hati yang tulus, yang merubah segala macam kesulitan sebagai suatu kenyamanan.”

Beliau as bersabda, “Muslim hakiki menyintai Allah Ta’ala secara ucapan dan mengimani, ‘Dia adalah Kekasihku, Pelindungku, Penciptaku dan Muhsinku (Dermawanku).’ Untuk itu dia meletakkan kepalanya di haribaan Ilahi. Meskipun kepada seorang Muslim sejati dikatakan, ‘Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa sebagai balasan atas amal perbuatan ini. Tidak ada itu surga. Tidak ada itu neraka. Tidak ada itu kesenangan ataupun kelezatan’, namun dia sama sekali tidak akan pernah meninggalkan amal perbuatan salehnya dan kecintaannya kepada Allah.”

(Inilah kecintaan sejati kepada Allah Ta’ala yang ingin beliau (as) ciptakan yakni tidak didasari keinginan untuk mendapatkan imbalan, tidak juga dia melakukannya karena takut pada neraka dan bukan juga didasari keinginan untuk mendapatkan surga, melainkan harus didasari kecintaan yang tulus kepada Allah Ta’ala. Sekalipun dia tidak mendapatkan apa-apa karenanya, tetap masih saja mencintai Allah Ta’ala.)

“Sebab, ibadah kepada Allah Ta’ala, jalinan dengan-Nya dan fana dalam ketaatan kepada-Nya tidak didasari keinginan untuk dibebaskan dari hukuman atau demi mendapatkan ganjaran. Bahkan pada hakikatnya dia menganggap wujudnya sebagai sesuatu yang diciptakan semata-mata untuk mengenal Allah Ta’ala, mencintai-Nya dan untuk taat kepada-Nya dan tidak ada maksud lainnya lagi. Untuk itu, ketika dia mengerahkan segenap potensi pemberian Tuhan dengan didasari tujuan tersebut maka yang tampak kepadanya hanya Wajah Kekasihnya yang Hakiki. Jika kalian menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala tanpa didasari pamrih, maka akan tampak wajah Allah Ta’ala, lalu tercipta jalinan yang benar.” (Pandangannya tidak tertuju pada keinginan mendapat surga maupun selamat dari neraka melainkan hanya tertuju pada keridhaan Allah Ta’ala semata.)

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan mengenai kondisi pribadi beliau as dalam kecintaan kepada Allah Ta’ala, “Saya katakan, jika kepada saya diyakinkan, buah kecintaan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala malah akan mendapatkan hukuman sekeras-kerasnya, maka demi Allah saya katakan, fitrat saya akan selalu siap untuk bersabar dari segala penderitaan dan kesulitan itu dengan penuh kelezatan, rasa cinta dan suka hati.

Meskipun kepada saya diyakinkan, hasil kecintaan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala membuat saya mendapatkan penderitaan dan azab, maka fitrat saya akan menganggap perbuatan tidak taat dan tidak setia kepada Tuhan walau satu langkah, lebih besar dari seribu kematian bahkan tak terhingga dan saya menganggapnya kumpulan musibah dan penderitaan.”

Beliau (as) bersabda: “Dengan demikian, seorang Muslim sejati menganggap melanggar perintah Ilahi sebagai penyebab kehancuran bagi dirinya, sekalipun kepadanya dijanjikan kesenangan dan ketentraman yang sangat banyak untuk bersikap tidak taat.

Maka dari itu, untuk menjadi seorang Muslim yang hakiki perlu meraih fitrat ketaatan dan kecintaan kepada Allah Ta’ala bukan didasari harapan mendapatkan ganjaran atau takut hukuman melainkan harus menjadi keistimewaan alami dan bagian dari fitrat. Selanjutnya, kecintaan itu dengan sendirinya akan menciptakan sebuah surga baginya dan inilah yang merupakan surga hakiki.

Tidak ada manusia yang dapat masuk ke surga sebelum dia menempuh jalan tersebut. Oleh karena itu, – saya nasihatkan bagi kalian – iya, Anda sekalian yang menjalin hubungan dengan saya untuk menempuh jalan ini karena inilah jalan hakiki untuk menuju surga.”[2]

Walhasil, inilah harapan dan keinginan Hadhrat Masih Mau’ud kepada kita ialah mengenai kecintaan dan jalinan kita dengan Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan bahwa taat secara sempurna kepada segala perintah Allah Ta’ala dan hanya meraih keridhaan-Nya semata, bukanlah pekerjaan yang mudah, ini adalah suatu perkara yang memerlukan upaya gigih, dengan begitu baru akan meraih tujuan menjadi seorang Ahmadi. Sebagaimana beliau (as) sendiri mengangkat pertanyaan apakah bersikap taat merupakan perkara yang mudah?

Lalu, beliau (as) bersabda: “Orang yang tidak taat sepenuhnya berarti dia mencemarkan nama baik Jemaat ini. Perintah tidak hanya satu, melainkan banyak. Sebagaimana surga memiliki banyak pintu, sehingga manusia dapat memasukinya memalui salah satu pintunya, begitu juga neraka pun memiliki banyak pintu, jangan sampai kalian menutup salah satu pintunya (neraka) namun tetap membiarkan pintu lainnya terbuka.”[3]

Lalu beliau bersabda, “Ingatlah, hanya dengan mendaftarkan nama saja, tidak lantas membuat seseorang masuk kedalam Jemaat ini sebelum menciptakan hakikat di dalam diri. Saling mencintailah satu sama lain. Janganlah saling merampas hak satu terhadap yang lain. Jadilah seperti orang yang tergila-gila di jalan Allah supaya Dia mencurahkan kasih sayang-Nya pada kalian. Tidak ada sesuatu pun yang berada di luar jangkauan karunia Allah.”[4]

Beliau (as) menjelaskan, “Beriman secara sempurna dan mengamalkannya adalah penting untuk meraih karunia Allah Ta’ala. Contohnya adalah seperti dengan hanya mengatakan manisan atau manis-manis saja, tidak lantas rasa manis akan ada di mulut sebelum memakan sesuatu yang manis. Begitu jugalah hanya di mulut saja pernyataan kecintaan kepada Allah tidak akan memberikan manfaat apa-apa sebelum pengamalan. Pengamalan akan terbukti jika seseorang melepaskan beban sikap mendahulukan duniawi lalu memilih untuk mendahulukan agama.”

Beliau (as) bersabda, “Jika Jemaat kita ingin membuat ridha Allah Ta’ala, dahulukanlah agama. Agama harus menjadi prioritas kalian.”

Beliau memperingatkan, “Jika di dalam diri kalian tidak terdapat kesetiaan dan keikhlasan berarti kalian pendusta. Dalam keadaan demikian, orang yang tidak menghiasi diri dengan kesetiaan akan binasa di depan yang memusuhi.”

Beliau (as) bersabda: “Allah Ta’ala tidak akan bisa tertipu, tidak dapat ditipu dan tidak juga ada yang dapat menipu-Nya. Untuk itu perlu untuk menciptakan keikhlasan sejati dan kejujuran.”[5]

Lebih lanjut, beliau (as) menerangkan lebih banyak lagi perihal mendahulukan agama diatas duniawi, bagaimana kalian dapat meraihnya, bagaimana para sahabat Hadhrat Rasulullah (saw) memberikan prioritas terhadap agama diatas duniawi dan bagaimana seharusnya kalian mengupayakannya?

Beliau (as) bersabda: “Ketahuilah! Ada dua jenis manusia. Pertama, orang yang setelah masuk Islam lalu menyibukkan diri dalam perdagangan dunia dengan segala urusannya dan dikendalikan setan. Bukanlah maksud saya untuk mengatakan berdagang atau pekerjaan duniawi dilarang. Bukan demikian. Sebab, para sahabat Rasulullah pun sibuk berdagang. Namun demikian, mereka senantiasa mendahulukan agama diatas dunia. Mereka telah mengimani Islam lalu mereka meraih ilmu sejati berkenaan dengan Islam yang memenuhi hati mereka dengan penuh keyakinan. Inilah sebabnya dalam bidang apa pun mereka tidak pernah tergelincir karena serangan setan.” (Artinya, setan tidak dapat menyerang mereka. Setan tidak dapat menguasai mereka. Meskipun mereka tengah melakukan pekerjaan duniawi tapi ingatan mereka selalu tertuju pada Allah Ta’ala.) “Tidak ada perkara yang dapat menghentikan mereka untuk menyatakan kebenaran.”

Beliau (as) bersabda: “Dari perkataan ini maksud saya tertuju pada mereka yang sama sekali menjadi hamba dan budak dunia saja yang seolah-olah menjadi penyembah dunia. Mereka biasanya dikuasai dan dikendalikan oleh setan.

Jenis kedua, ialah orang-orang yang selalu memikirkan kemajuan ruhaninya, inilah golongan yang disebut sebagai Hizbullah yakni golongan yang selalu unggul dalam melawan setan dan para tentaranya. Dikarenakan harta dapat bertambah dengan berdagang maka Allah Ta’ala menyebut mencari agama dan keinginan meningkatkan keruhanian sebagai suatu perdagangan. Sebagaimana Dia berfirman هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ ‘Hal adullukum alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzaabin aliim aliim’ yang artinya, ‘Maukah Aku beritahu kalian mengenai suatu perdagangan yang akan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih?’

Perdagangan yang paling baik adalah agama yang akan menyelamatkan kalian dari azab yang pedih. Jadi saya katakan kepada kalian dengan menggunakan kalimat Allah Ta’ala tadi yaitu هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

“Saya katakan kepada orang-orang yang mana saya menaruh harapan besar atas mereka yaitu yang tidak mengurangi kecintaan dan kemajuan dalam keruhaniannya, sebaliknya saya khawatir pada orang yang mengurangi keinginan untuk maju keruhaniannya, jangan sampai setan menguasainya.” [6] (Artinya, orang yang tidak bersikap istiqomah dan tidak dapat meneguhkan prioritas agama diatas dunia lalu kemalasan pun mulai muncul dan perlahan-lahan masuk kedalam pelukan setan.)

Beliau (as) bersabda: “Maka dari itu, jangan sekali-kali malas. Sesuatu yang belum dapat dipahami, tanyakanlah supaya ilmu dan makrifat bertambah. Bertanya tidaklah diharamkan. Bahkan, dalam status menentang pun, seyogyanya bertanyalah. Dan, itu juga demi kemajuan amal perbuatan.” (Jika ada yang mengingkari suatu hal seperti penentang misalnya, tablighilah mereka. Tuntutan keadilan adalah mereka hendaknya bertanya. Seorang beriman, jika ingin mendapatkan kemajuan dalam amal dan meraih ilmu, dia harus mengajukan pertanyaan.)

“Orang yang ingin maju dalam keilmuan, hendaknya membaca Al-Qur’an dengan seksama. Jika ada yang tidak dipahami, bertanyalah! Jika beberapa makrifat tidak difahami tanyakanlah kepada orang lain dan seraplah manfaat dari pencarian ilmu itu. Al-Qur’an merupakan lautan ruhani yang pada bagian dasarnya terdapat mutiara-mutiara yang tak ternilai harganya.”[7]

Suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) menekankan pada para Ahmadi perihal keutamaan taqwa, bersabda: “Beban yang Allah Ta’ala pikulkan kepada saya.” (Yaitu, tujuan pengutusan beliau) “…adalah karena kosongnya medan takwa. Ketakwaan harus dipegang teguh. Bukan dengan mengangkat pedang.”

(Jangan mengangkat pedang! Jangan memenggal kepala orang seperti yang dilakukan beberapa grup radikal atau teroris saat ini yang melakukannya atas nama Islam. Melainkan kita harus menyebarkan agama, menablighkan agama, mendidik diri sendiri. Pertama, ciptakanlah ketakwaan di dalam diri, jika taqwa ada maka seluruh pekerjaan pun perlahan-lahan akan diselesaikan.)

Beliau (as) bersabda: “Janganlah kalian mengangkat pedang, itu haram. Jika kalian menjadi orang yang bertakwa, seluruh dunia akan menyertai kalian. Walhasil, raihlah ketakwaan. Orang yang minum minuman keras atau agama yang menjadikan minuman keras sebagai bagian besar syiarnya tidak mungkin akan berkaitan dengan taqwa. Mereka tengah berperang melawan kebaikan. Jika Allah Ta’ala memberikan keberuntungan kepada kita dan memberikan taufik untuk berperang melawan keburukan lalu meningkat dalam medan ketaqwaan dan kesucian, inilah yang merupakan kesuksesan besar dan tidak ada sesuatu yang lebih berpengaruh lebih dari ini.”

(Janganlah berperang dengan pedang melainkan terlebih dahulu kalian harus berperang melawan hawa nafsu diri untuk menciptakan ketakwaan. Setelah itu manusia dapat menyampaikan pesannya kepada orang lain yang dengannya orang tidak akan tersinggung.)

Beliau (as) bersabda: “Coba lihat seluruh agama di dunia saat ini, niscaya akan Anda temukan tujuan hakiki, yaitu ketaqwaan telah hilang dari mereka. Segala kehormatan duniawi mereka jadikan sebagai tuhan. Tuhan Yang Hakiki disembunyikan. Tuhan sejati dihina. Namun sekarang Tuhan menghendaki supaya diimani dan dikenal oleh dunia. Orang yang menganggap dunia sebagai tuhan tidak mungkin dapat bertawakkal kepada Allah.”[8]

Setiap orang dari kita perlu untuk mengevaluasi diri apakah perhatian kita lebih banyak tertuju pada tujuan-tujuan duniawi ataukah tidak? Jika kita ingin melaksanakan hak-hak Allah Ta’ala, maka kita harus mendahulukan agama dan mengesampingkan tujuan-tujuan duniawi. Maka dari itu, kita harus melihat apakah kita tengah mendahulukan agama ataukah duniawi yang lebih dominan dari keagamaan kita? Apakah ketakwaan kita tengah meningkat atau malah menurun?

Kita harus meningkatkan keilmuan seiring dengan upaya peningkatan keruhanian kita dan menciptakan jalinan lebih erat dengan Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai hal ini: “Hendaknya memahami bahwa ikatan antara Mursyid (guru rohani) dengan murid seperti ikatan pengajar dengan pelajar yang belajar kepadanya. Sebagaimana pelajar mengambil manfaat dari pengajarnya begitu juga murid mengambil manfaat dari Mursyidnya. Namun, jika pelajar yang meski menjalin ikatan pembelajaran dengan gurunya namun tidak meningkat keilmuannya, berarti si pelajar tidak dapat menarik manfaat dari sang guru. Inilah kondisi sang murid dari Mursyidnya.”

(Seorang pelajar yang meski menjalin ikatan pembelajaran dengan gurunya, mengenalnya namun tidak belajar darinya dan tidak mengerjakan tugas-tugas darinya, maka si pelajar tidak dapat mengambil manfaat darinya. Begitu jugalah ikatan antara murid dengan mursyid, dengan hanya mengatakan saya memiliki ikatan dengannya, dia tidak dapat mengambil manfaat darinya sebelum mengamalkan apa-apa yang dinasihatkan padanya.)

Beliau bersabda: “Jadi, dalam hal ini, ciptakanlah jalinan demi meningkatkan ma’rifat dan ilmu. Seorang pencari kebenaran hendaknya jangan terhenti setelah sampai pada satu maqam (level) tertentu. Jika tidak, setan yang terkutuk akan mengarahkan kita ke arah lain seperti halnya dalam air yang tergenang akan timbul bakteri. Jika air tergenang sampai beberapa masa maka akan timbul bau tidak sedap.

Begitu juga jika seorang mukmin tidak berusaha untuk kemajuannya, maka dia akan jatuh.” (Jika Anda seorang beriman sejati, Anda harus melangkah kearah kemajuan. Jika terus berdiri pada satu tempat saja maka tidak akan terus berdiri melainkan akan jatuh tersungkur.)

“Tugas seorang yang beruntung untuk selalu sibuk mencari agama. Tidak ada manusia di dunia ini yang lebih sempurna dari Nabi kita, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Namun, beliau pun diajari Allah Ta’ala supaya memanjatkan doa, رب زدني علما Rabbi zidni ilman – Ya Tuhanku tambahkanlah ilmu padaku-. Lantas, siapa yang berkeyakinan penuh atas ilmu dan makrifatnya sendiri lalu terhenti pada suatu tempat dan tidak merasa perlu untuk meningkat di masa yang akan datang? Semakin manusia meningkat dalam ilmu dan makrifatnya, dia akan terus mengetahui masih banyak hal yang harus dicari solusinya.

Seperti layaknya anak-anak yang pada mulanya menganggap bentuk geometri tidak berarti sama sekali, sebagian orang juga pada pandangan awal menganggap beberapa perkara sebagai sia-sia. Namun, pada akhirnya perkara itu jugalah yang akan tampak kepadanya dalam corak kebenaran. Maka dari itu, betapa perlunya merubah kapasitas diri seiring dengan membuat sempurna segala perkara demi meningkatkan ilmu pengetahuan.

“Anda sekalian telah menerima Jemaat ini setelah terlebih dahulu meninggalkan kesia-siaan. Namun demikian, jika Anda tidak meraih ilmu dan bashirat sepenuhnya mengenai hal itu, lantas apakah manfaat baiat?” (Tidak ada manfaatnya, “Saya telah baiat”, “Saya telah menjadi Ahmadi”, atau “Saya Ahmadi keturunan” sebelum Anda sendiri meraih ilmu, sampai Anda menambah ilmu pengetahuan Anda dan meningkatkan level ilmu keagamaan Anda. Tidaklah status sebagai Ahmadi keturunan atau pembaiatan akan memberikan manfaat pada Anda sekalian.)

Beliau bersabda: “Bagaimana mungkin menguatkan keyakinan dan makrifat kalian jika ilmu tidak ditingkatkan? Disebabkan oleh hal-hal sepele saja langsung timbul keraguan dan dikhawatirkan pada akhirnya goyah langkahnya (tergelincir menjauh dari Jemaat).“[9]

Banyak sekali orang yang mundur dari Jemaat atau yang melontarkan protes dan kritik atau ada juga yang masih teguh dalam Jemaat atau agama disebabkan sanak kerabatnya adalah Ahmadi, orang seperti ini tidak mendapatkan manfaat apa-apa. Andai dia menuntut ilmu, berapa banyak keraguan tadi dapat terjauh dari benaknya. Dia tidak akan goyah lagi dan setan tidak akan menyerangnya.

Sebagaimana sebelumnya saya katakan, Hadhrat Masih Mau’ud telah menasihatkan untuk merenungkan Al-Quran Karim. Begitu juga kita harus menaruh perhatian untuk membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan meningkatkan ilmu agama kita. Demikian pula kita harus berusaha untuk menjalin hubungan dengan Khilafat dan meraih manfaat dari semua program Khalifah.

Nikmat MTA (Muslim Television Ahmadiyya, saluran televisi Ahmadiyah yang menjangkau seluruh dunia) yang Allah Ta’ala anugerahkan, tegakkanlah hubungan kedekatan dengan Khilafat melalui perantaraannya. Ambillah manfaat dari MTA. Saksikanlah semua program Khalifah. Banyak sekali orang yang membina hubungan ini dengan perhatian khusus, menyimak MTA dan menjalin hubungan dengan MTA menulis surat kepada saya menyatakan bahwa keimanannya dan keyakinannya semakin meningkat berkat memirsa MTA. Jadi, ini merupakan sarana yang besar yang mana setiap Ahmadi harus mengambil manfaat.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menasihatkan untuk saling mencintai satu sama lain, menghayati penderitaan sesama dan melaksanakan kewajiban satu sama lain: “Sebenarnya, secara internal seluruh Jemaat tidaklah memiliki derajat yang sama.” (Tidaklah mungkin semuanya sama.) “Apakah dari hasil penanaman benih gandum di bumi muncul gandum yang sama?” (Setelah kita semaikan benih, tidak lantas semua benih tadi berbuah.)

“Banyak juga biji yang pada akhirnya rusak atau ada juga yang dimakan burung. Ada juga yang disebabkan suatu hal benih yang tumbuh itu tidak bisa berbuah.

Walhasil, biji yang baik diantara biji-bijian tadi dan memiliki kemampuan untuk tumbuh, tidak ada yang dapat merusaknya. Jemaat yang siap-sedia demi Allah Ta’ala, ialah كزرع  ka zar’in seperti tanaman. Maka dari itu, membuat perkembangan padanya adalah perlu berdasarkan prinsip tadi.”

(Ada yang lemah dan ada yang banyak ilmu agamanya. Ada yang lebih baik dari suatu sudut pandang. Ada yang memiliki suatu kebaikan diatas umumnya yang lain. Tiap dari mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Namun, jika ada yang lemah, tugas yang kuatlah (yang terdepan) untuk mengajaknya bersamanya.)

Beliau bersabda: “Harus menjadi suatu dustuur (kebiasaan, peraturan) untuk menolong saudara yang lemah dan menguatkannya. Tidaklah sesuai jika ada dua bersaudara, yang satu dapat berenang, yang satunya lagi tidak mampu, lantas tidakkah yang bisa berenang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan yang tidak bisa renang dari ketenggelaman atau malah menenggelamkannya? Tidak! Bahkan, kewajibannya untuk menyelamatkannya dari ketenggelaman. Untuk itu didalam Quran Syarif difirmankan, وتعاونوا على البر والتقوى Ta’aawanuu alal birri wat taqwa yakni saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Pikullah beban saudara yang lemah. Kuatkanlah mereka dalam hal amal perbuatan, keimanan dan harta.”

(Jika ada kelemahan dalam amal perbuatan, bantulah! Bagaimanakah caranya? Bukan dengan cara mengikuti kelemahan itu melainkan berusahalah untuk membuatnya menjauh darinya. Jika di dalam keimanan dia terdapat kelemahan dan jika keimanan kamu kokoh maka berupayalah untuk menyelamatkan keimanannya. Jika ada kelemahan dari sisi keuangan, jika Anda dapat memberikan bantuan harta, lakukanlah! Namun jika tidak terdapat pada Anda kemampuan, beritahukanlah kepada Nizham Jemaat (kepengurusan Jemaat), Nizham Jemaat harus membantunya sebatas kemampuan yang dimiliki.)

Beliau bersabda: “Jika ada kelemahan jasmani pun, obatilah.” (Jika badan sakit, tentu jelas, obatilah.) “Sebuah Jemaat tidak bisa disebut Jemaat jika orang-orang yang kuat di dalamnya tidak membantu yang lemah. Satu cara untuk itu ialah dengan menutupi kelamahan mereka.” (Bukannya saling mengumbar kelemahan, tutupilah kelemahan.) “Inilah yang diajarkan juga oleh para sahabat Nabi saw, yaitu tidak bersikap kesal melihat kelemahan orang-orang yang baru menjadi Muslim karena sebelum ini pun kalian lemah juga. Begitu juga penting bagi orang besar (berkedudukan) untuk mengkhidmati yang kecil (orang biasa) dan memperlakukannya dengan kecintaan dan kelembutan.

Perhatikanlah! Sebuah Jemaat tidak dapat disebut Jemaat jika orang-orang di dalamnya saling memakan. Biasanya jika empat orang duduk bersama lantas menggunjing kelemahan saudara yang lemah.” (Memang tidak ada yang dapat memakan saudaranya, maksud makan di kalimat ini seperti yang difirmankan Allah Ta’ala yakni kalian menggunjing dan berpikiran buruk, dengan begitu sama saja dengan memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Janganlah melihat keburukan orang lain, lihatlah kebaikannya.)

Beliau as bersabda: “Sebuah Jemaat tidak bisa disebut Jemaat jika orang-orang di dalamnya saling memakan satu terhadap yang lain. Jika empat orang duduk bersama lantas menggunjing kelemahan saudara yang lemah, mulai menceritakan keburukannya, menghinanya dan memandang sebelah mata dan dengan penuh kebencian kepada orang yang lemah dan miskin. Hal ini tidak boleh terjadi melainkan dalam suatu perkumpulan harus ada kekuatan dan tercipta persatuan yang dengannya timbul kasih sayang dan keberkatan.

Saya perhatikan, disebabkan hal sepele saja timbul pertentangan yang mengakibatkan para penentang yang selalu berusaha mencari kelemahan kita membesar-besarkan hal itu dan menyebarkannya di suratkabar-suratkabar. Dengan perbuatan tersebut mereka dapat menyesatkan orang-orang.” (artinya, mereka memberitahukan pada orang lain dengan mengatakan: ”Coba lihat ini kelemahan-kelemahan orang-orang Jemaat.”

Para pendengar langsung menelannya bulat-bulat tanpa diteliti sehingga jadi terprovokasi dan tersesatkan.) Bersabda: “Namun, jika kelemahan internal Jemaat tadi tidak ada, lantas bagaimana orang lain akan berani menyebarkan bahasan tadi dan menipu orang lain dengan memuatnya di surat kabar. Kenapa kekuatan akhlaki kita tidak meningkat? Ini akan bisa diperoleh jika rasa simpatik, kasih sayang, sikap memaafkan dan kelembutan diterapkan dan selalu mengutamakan sikap kasih sayang, simpati, menutupi kelemahan dari segala kebiasaan lainnya.”[10]

Itu artinya, jika melihat keburukan orang lain, tutupilah, bukannya malah mengungkapkan aibnya itu. (Janganlah membeberkan kelemahan dan ketercelaannya itu. Sungguh aneh kebiasaan pada masa ini. Sekarang suami istri pun sudah mulai saling membeberkan kelemahan pasangannya satu terhadap yang lain bahkan sampai merekamnya.) Disebabkan hal sepele saja jangan langsung bersikap kasar yang darinya akan mengakibatkan ketersinggungan dan penderitaan.

Beliau (as) memberikan nasihat perihal persaudaraan dan kasih sayang: “Jemaat kita tidak akan berkembang sebelum tercipta di kalangan para anggota Jemaat kita sikap simpatik sejati antara satu terhadap yang lain dengan segala potensi yang dikaruniakan kepada mereka.” (Artinya, jika Anda ingin mengalami kemajuan, harus memunculkan diantara kalian sikap saling mengasihi satu sama lain. Orang yang diberikan kekuatan, cintailah yang lemah.)

Beliau melanjutkan: “Saya mendengar jika ada yang tergelincir (tersesat) malah disikapi dengan perlakuan yang tidak baik bahkan bersikap penuh kebencian dan antipati. Padahal yang seharusnya adalah mendoakannya, mengasihinya dan menasihatinya dengan kelembutan dan akhlak baik. Namun, bukannya bersikap begitu malah menyikapi dengan penuh kebencian dan kedengkian. Jika orang tersebut tidak dimaafkan, tidak diperlakukan dengan belas kasih, maka secara bertahap, keadaannya akan rusak dan akhir hidupnya akan buruk.

“Allah Ta’ala tidak menghendaki perbuatan seperti itu.” (Allah tidak senang dengan sikap seperti itu.) “Sebuah Jemaat dapat disebut Jemaat jika orang-orang di dalamnya saling menyayangi dan menutupi kelemahan satu terhadap lain. Jika kondisi ini tercipta maka para anggota Jemaat akan menjadi satu wujud. Satu sama lain menjadi bagian dari satu tubuh yang utuh dan menganggap diri mereka lebih dari saudara kandung. Jika ada anak seseorang melakukan kesalahan, tutupilah kelemahannya dan nasihatilah secara terpisah (tanpa diketahui publik).

“Dia sekali-kali tidak ingin menyebarkan kelemahan semacam itu.” (Maksudnya, jika kita melihat kelemahan anak kita sendiri, kita pun tidak akan menyebarkan kelemahannya itu kepada orang lain.) “Seorang saudara pasti akan menutupi kelemahan kerabat dekatnya. Tidak lantas disebarkan setelah mengetahuinya. Lantas, ketika Allah Ta’ala menjadikan Anda sekalian bersaudara, apakah pelaksanaan kewajiban kepada sesama saudara seperti itu?” (Maksud saudara di sini adalah kerabat.) “Saudara jasmani saja tidak meninggalkan persaudaraan.”

Kemudian, beliau (as) memberikan contoh kerabat beliau (as) sendiri: “Saya perhatikan Mirza Nizamuddin dan lain-lain..” (mereka adalah kerabat Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan juga penentang beliau (as). Mereka pun sudah terjauh dari agama.) “Mereka menjalankan kehidupan ibaahah (bebas, serba boleh). Namun jika mereka menghadapi suatu masalah atau kesulitan maka ketiga bersaudara itu bersatu. Mereka melupakan segalanya seperti kemiskinan dan kezuhudan di dunia. Terkadang manusia dapat belajar sesuatu dari hewan seperti monyet atau anjing.

Jalan perpecahan internal tidak ada keberkahannya. Allah Ta’ala telah mengingatkan para sahabat Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dengan nikmat dan persaudaraan ini, ‘Sekalipun kalian membelanjakan emas sebesar gunung sekalipun, kalian tidak akan dapat membeli persaudaraan tersebut.’ Yaitu persaudaraan yang tercipta berkat melalui Hadhrat Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pulalah Allah Ta’ala mendirikan Jemaat ini dan persaudaraan seperti itulah yang akan Allah tegakkan dalam Jemaat ini.

Saya menaruh harapan sangat besar kepada Tuhan Yang telah berjanji, “جَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُواإِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ”  ‘jaa’ilul ladziinat taba’uuka fauqa lladziina kafaruu ilaa yaumil qiyaamah.’ Artinya, ‘Aku akan berikan keunggulan kepada orang-orang yang mengikuti engkau diatas orang-orang yang mengingkari engkau sampai hari kiamat.’

Saya mengetahui dengan pasti bahwa Dia Yang Maha Perkasa akan mendirikan satu Jemaat yang akan unggul diatas orang-orang yang mengingkarinya sampai hari kiamat. Namun, pada masa ini yang merupakan masa-masa ujian dan masa-masa kelemahan, tiap orang memperoleh kesempatan untuk memperbaiki diri dan membuat perubahan.”

(Pada zaman itu kondisi Jemaat masih lemah. Saat ini pun Jemaat hidup di masa-masa kelemahan baru, termasuk para Ahmadi Pakistan. Sebab, pemerintah maupun lembaga-lembaga pemerintahan juga aparat pemerintahan tengah giat melakukan penentangan terhadap Jemaat di Pakistan lebih besar dari sebelumnya. Maka dari itu, hendaknya menaruh perhatian pada masa-masa ini untuk secara khusus berusaha menciptakan perubahan dalam diri.)

“Ketahuilah! Saling mencurigai satu sama lain, menyakiti hati, berkata kasar, menimpakan penderitaan pada orang lain dan menganggap hina pada orang yang lemah dan tak berdaya merupakan dosa besar. Sekarang diantara kalian telah terbina satu kekeluargaan dan persaudaraan baru. Mata rantai sebelumnya telah terputus.

Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan kaum baru ini yang di dalamnya berbagai jenis orang ikut serta apakah kaya atau miskin, tua ataupun muda. Kewajiban mereka yang tidak mampu (miskin) untuk menghargai dan menghormati saudara mereka yang sudah mapan (kaya). Sebaliknya, kewajiban bagi mereka yang kaya untuk membantu mereka yang tidak mampu. Janganlah menganggapnya miskin dan hina karena mereka pun adalah saudara juga. Meskipun ayah jasmani kalian berbeda, namun pada akhirnya bapak ruhani kalian semua adalah satu. Kalian merupakan ranting yang berasal dari satu pohon yang sama.“[11]

Beliau (as) menasihati kita untuk membaca buku beliau berjudul Bahtera Nuh berulang-ulang demi perbaikan diri kita. Sebagaimana beliau (as) bersabda, “Berkali-kali saya katakan kepada anggota Jemaat saya untuk tidak bergantung sepenuhnya pada baiat ini saja. Sebelum kalian sampai pada hakikat baiat, kalian belum mendapatkan keselamatan. Orang yang merasa cukup dengan kulit akan luput dari inti.” (Hanya melihat bagian luar saja tidaklah cukup sebelum kalian berusaha untuk meraih handungan isinya.)

Bersabda: “Jika seorang murid tidak mengamalkan petunjuk gurunya, maka kesalehan seorang Mursyid (guru ruhani) tidak akan memberikan faedah padanya. Jika ada seorang tabib memberikan resep pada seseorang, namun resep itu hanya disimpan saja di suatu tempat, maka sang pasien tidak akan mendapat manfaat dari resep itu.” (Artinya, begitu juga tidak akan bermanfaat bagi seorang pasien bila meminta resep dari dokter namun resep itu tidak ditebus dan digunakan. Begitu jugalah kondisi orang yang sakit ruhani. Meskipun sudah mendengarkan nasihat namun tidak diamalkan, maka tidak ada manfaatnya.)

Bersabda: “Sebab, manfaat merupakan buah pengamalan tulisan yang ada pada kertas resep tersebut yang darinya dia luput. Telaahlah buku bahtera Nuh berulang-ulang dan selaraskan diri masing-masing sesuai dengan isi buku tersebut. قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا Qad aflaha man zakkaahaa ‘Sesungguhnya orang yang menyucikan dirilah yang berhasil.’ (Surah asy-Syams, 91:10) Ribuan pencuri, pezina, penjahat, pemabuk dan pelaku ekonomi yang tidak halal mengaku sebagai umat Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, namun apakah mereka umat dalam arti sebenarnya? Sama sekali tidak. Yang disebut umat adalah yang sepenuhnya mengamalkan ajaran Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.”[12]

Lalu, beliau mengarahkan pentingnya memperdengarkan dan membacakan buku Bahtera Nuh di kalangan Jemaat. Beliau (as) bersabda: “Dalam buku Bahtera Nuh telah saya tulis pengajaran-pengajaran saya. Penting bagi setiap orang untuk mengetahui hal tersebut. Seyogyanya berbagai cabang Jemaat mengadakan Jalsah-Jalsah untuk memperdengarkan buku tersebut kepada semua. Jika memungkinkan, kirimlah buku itu kepada orang yang siap dan mempunyai waktu luang untuk membacakannya. Jika dibagikan bukunya begitu saja, meskipun jumlahnya 50.000 eksemplar, tetap tidak akan cukup. Sementara jika dibuat upaya seperti yang telah saya sebutkan itu, akan tersebar luas sehingga persatuan yang kita harapkan akan mulai tercipta dalam Jemaat ini.”[13]

Dengan demikian, harus diatur supaya dibuat program pembacaan buku itu bagi para anggota Jemaat dan ditayangkan pula pada acara MTA. Setiap kita harus menjadikannya sebagai bagian dari kehidupannya. Kita sendiri pun harus membacanya dan harus berusaha untuk mengamalkannya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan nasihat untuk terhindar dari keburukan dan ciri-ciri seorang Ahmadi hakiki, “Tugas kalian saat ini adalah menyibukkan diri dalam berdoa, istighfar, ibadah kepada Allah, penyucian diri dan membersihkan jiwa. Dengan begitu jadikanlah diri sendiri layak mendapat pertolongan Allah Ta’ala dan karunia-Nya yang telah Dia janjikan. Meskipun Allah Ta’ala telah memberikan kepada saya janji-janji agung dan nubuatan-nubuatan yang pasti itu semua akan tergenapi, namun kalian jangan lantas berbangga diri. Hindarilah cara-cara berbagai jenis kedengkian, iri hati, kebencian, ghibat, berbangga diri, kefasikan dan dosa baik yang tersembunyi maupun yang nyata. Tinggalkan juga kemalasan dan kelalaian. Ingatlah dengan baik kemenangan pada akhirnya didapatkan orang-orang muttaqi sebagaimana Allah berfirman, وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ wal aaqibatu lil muttaqiin – kemenangan akhir akan diraih oleh orang muttaqi. Karena itu, berpikirlah untuk menjadi orang yang bertakwa.”[14]

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk menjadi Ahmadi hakiki dan melaksanakan ajaran beliau (as). Semoga kita menjadi orang-orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada Allah Ta’ala, meraih ridha Nya, melaksanakan perbaikan amal perbuatan kita, menaruh perhatian untuk meningkatkan ilmu kita dan juga menjadi orang-orang yang memenuhi hak-hak para hamba Allah Ta’ala.

Pada hari-hari ini berdoalah kepada Allah bagi kondisi Pakistan – sebagaimana sebelumnya pun telah saya isyaratkan – dan para Ahmadi Pakistan sendiri juga hendaknya berdoa banyak-banyak untuk dirinya sendiri. Semoga Allah Ta’ala melindungi mereka dari segala keburukan. Semoga Allah Ta’ala melindungi negeri itu secara umum dari kejahatan para maulwi (Ulama). Sebab, kekisruhan demi kekisruhan baru yang terjadi di dalam negeri itu disebabkan golongan Ulama juga.

Doakanlah juga untuk dunia saat ini secara umum. Dunia saat ini dengan cepatnya tengah menjurus pada peperangan. Rusia dan Amerika keduanya tengah sibuk melakukan persiapan perang. Sebenarnya mereka ingin membuktikan keunggulannya masing-masing meski menggunakan alasan untuk memberikan hak kepada pihak yang dizalimi. Hal yang sebenarnya mereka ingin menghancurkan negeri Muslim dengan mengatasnamakan memberikan hak pada pihak yang lemah.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kebijaksanaan kepada umat Islam supaya mereka mengambil keputusan mereka sendiri, bukannya meminta pertolongan kepada negara adi daya. Semoga mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada rakyatnya. Semoga demikian pula, rakyat mereka melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada pemerintahnya. Semoga Allah Ta’ala mencengkramkan hukuman-Nya kepada grup-grup teroris yang melakukan gerakannya dengan mengatasnamakan Islam mereka.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kebijaksanaan dan pemahaman kepada kedua belah pihak. Yang terpenting semoga mereka beriman kepada Imam zaman karena tanpa beriman kepadanya tidak ada cara lain lagi untuk selamat atau bertahan dalam corak apapun. Semoga Allah Ta’ala memberikan akal sehat kepada mereka. Semoga mereka tidak menjadi bagian tindak kezaliman ini. Semoga umat Islam menjadi orang-orang yang menyebarkan ajaran kecintaan, kasih sayang dan persaudaraan sesuai dengan ajaran Islam hakiki dan menjadi orang-orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Allah Ta’ala. [Aamiin]

[1] Malfuuzhaat, jilid 4, h. 395, edisi 1985, terbitan UK.

[2] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 181-183, edisi 1985, terbitan UK.

[3] Malfuuzhaat, jilid 4, h. 74, edisi 1985, terbitan UK.

[4] Al-Hakam, jilid 6, no. 39, h. 10, 31 Oktober 1902; Malfuuzhaat, jilid 4, h. 75, edisi 1985, terbitan UK.

[5] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 190, edisi 1985, terbitan UK.

[6] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 193-194, edisi 1985, terbitan UK.

[7] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 193-194, edisi 1985, terbitan UK.

[8] Malfuuzhaat, jilid 4, h. 357-358, edisi 1985, terbitan UK.

[9] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 193, edisi 1985, terbitan UK.

[10] Malfuzhat jilid 3, h. 347-348, edisi 1985, terbitan UK.

[11] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 248-249, edisi 1985, terbitan UK.

[12] Malfuuzhaat, jilid 4, h. 232-233, edisi 1985, terbitan UK.

[13] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 408, edisi 1985, terbitan UK.

[14] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 283, edisi 1985, terbitan UK.

(Visited 119 times, 1 visits today)