Keteladanan Istimewa Hadhrat Muhammad Rasul Allah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 01 Desember 2017 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada hari 12 Rabī’ul Awwal adalah hari ketika muncul cahaya yang Allah Ta’ala namai Siraajam Muniira (Pelita yang menerangi), shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, beliau yang harus menganugerahi seluruh dunia dengan cahaya ruhaninya, telah beliau lakukan. Beliau yang harus mendirikan hukum Allah di dunia, telah beliau dirikan. Beliau yang harus menghidupkan orang-orang mati sejak berabad-abad kematian ruhani, telah beliau hidupkan. Beliau yang harus menyebarluaskan kedamaian dan keamanan di dunia, telah beliau sebarkan.

Beliau yang Allah Ta’ala berfirman kepadanya, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ “Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat (kasih sayang) untuk seluruh alam.” (Surah al-Anbiya, 21: 108) Beliau yang bukan hanya rahmat bagi umat manusia saja, bahkan bagi binatang-binatang, burung-burung dan lain sebagainya. Beliau yang bukan hanya rahmat bagi umat Muslim saja, bahkan tetap terus menjadi rahmat bagi non Muslim juga. Beliau saw yang Syariat (ajaran) beliau adalah cinta kasih untuk semua orang hingga hari kiamat.

Beliau saw yang Allah Ta’ala berfirman kepada para pengikut beliau (dalam Al-Qur’an) bahwa beliau merupakan teladan sempurna bagi kalian sebagaimana firman-Nya, لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak menyebut Allah.” (Surah al-Ahzab, 33:22) Dengan demikian, seorang Muslim tidak dapat menjadi Muslim hakiki tanpa mengikut teladan sempurna ini.

Nabi kita telah mempersembahkan bagi kita keteladanan luhur dalam penegakan Tauhid, dalam ibadah-ibadah, dalam akhlak-akhlak mulia dan dalam penunaian hak-hak sesama hamba. Namun, amat disayangkan, sebagian besar umat Muslim menyatakan menyintai Nabi Muhammad saw namun perbuatan mereka bertentangan dengan apa yang diajarkan Junjungan kita, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan menyajikan bagi kita keteladanan beliau nan terbaik melalui pengamalan.

Beliau saw datang sebagai rahmatan lil ‘aalamiin (rahmat bagi semesta alam) namun amat disayangkan, yang kita lihat bertentangan dengan hal itu. Orang-orang yang menyatakan diri menyintai beliau saw dan tengah merayakan 12 Rabi’ul Awwal ini dengan begitu semangat, mereka memenuhi negara-negara di dunia Islam dengan kerusakan dan kerusuhan bukan berjanji dengan mengatakan, “Wahai RasuluLlah saw! Kami akan menyebarluaskan rahmat-rahmat di tiap tempat dan segala arah dengan melaksanakan keteladanan terbaik engkau”, malahan kebanyakan di negeri-negeri Muslim terjadi kerusuhan dan kekacauan.

Pada hari suka cita ini setiap Muslim wajib menegaskan melalui amal perilaku mereka, “Nabi yang kami imani ialah Raja Keamanan dan Kedamaian. Beliau rahmat bagi dunia. Beliau saw telah mendirikan keteladanan luhur dalam ibadah-ibadah kepada Allah. Beliau saw mencapai tingkat luhur dalam akhlak-akhlak mulia. Kami orang-orang Muslim menjalankan Sunnah beliau saw sesuai yang Allah Ta’ala perintahkan atas kami.”

Dengan demikian, kita pancarkan mata air kecintaan, persaudaraan dan perdamaian sebagai tanda kegembiraan atas hari kelahiran Nabi Muhammad saw ini. Sebab, hal-hal inilah yang diperintahkan Rasul kita kepada para pengikutnya. Inilah yang beliau saw harapkan atas mereka. Inilah pula yang beliau saw ajarkan pada mereka. Namun, amat disayangkan, sebagaimana tadi saya katakan, yang kita lihat bertentangan dengan hal itu, kerusuhan dan kekacauan menyebar di negara-negara Islam, bahkan di di beberapa negara, orang-orang non Islam takut perilaku orang-orang Islam.

Keadaan di Pakistan sudah sedemikian buruk dan menakutkan sehingga hari ini layanan mobile phone di beberapa kota di Pakistan terpaksa ditutup mengantisipasi menyebarnya api fitnah dan kerusuhan. Aparat pemerintah berbadan tegap berjaga dalam jumlah banyak dimana-mana di kota-kota dan di jalan-jalan. Beginikah cara merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw (Maulid Nabi)?

Orang-orang bersifat terhormat merasa takut. Pemerintah pun ragu-ragu melindungi hukum demi menjaga Law and Order (hukum dan ketertiban) karena takut mereka. Hinaan dan umpatan kotor terhadap orang-orang Ahmadi dengan mengatasnamakan Junjungan yang mulia (saw) merupakan perbuatan sehari-hari, tapi mereka bertambah dalam caci-maki tersebut terhadap kita tatkala memperingati perayaan Siratun Nabi (Maulid Nabi) pada hari ini. Mereka beranggapan dengan melakukan itu sedang memuliakan martabat dan kehormatan Rasulullah (saw).

Apa yang terjadi beberapa hari ini di beberapa kota di Pakistan berupa unjuk rasa, blokade jalan-jalan dengan duduk-duduk di sana dan peletakkan halang rintang di jalan-jalan dari pihak orang-orang yang jahat menyebabkan terhentinya aktifitas sehari-hari, tidak adanya akses menuju ke sekolah, orang sakit ke rumah sakit dan toko-toko sehingga membuat kerugian milyaran uang dalam perputaran ekonomi.

Semua hal itu terjadi disebabkan mereka anggap itu sebagai bentuk rasa cinta kepada Rasulullah (saw) hal mana itu dimunculkan oleh mereka yang menyatakan diri Ulama. Padahal Rasul itu saw merupakan rahmatan lil ‘aalamiin dan menasehati para pengikutnya untuk menunaikan hak-hak di jalan. Rasulullah saw bersabda: Janganlah kalian membuat ribut di pasar-pasar.”

Beliau saw bersabda, إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِي الطُّرُقَاتِ “Janganlah kalian duduk-duduk di jalan-jalan.” Maka para sahabat berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَالِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami terpaksa perlu untuk berbincang-bincang di pinggir jalan.” (Pada waktu itu toko-toko belum ada untuk membuat kesepakatan jual-beli sehingga mereka duduk-duduk di jalan untuk urusan perdagangan) Maka Rasulullah saw menjawab, فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ “Jika kalian tidak bisa melainkan bermajelis di pinggir jalan (duduk di situ), maka berikanlah jalan itu haknya.” Mereka bertanya, وَمَا حَقُّهُ ؟ “Apa hak jalan itu, wahai Rasulullah?” Kata Rasul saw, غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الْأَذَى ، وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ ، وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَر “Menjaga pandangan, tidak mengganggu orang lain, menjawab salam, serta memerintahkan perbuatan yang baik (amar ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar).“

Namun, orang-orang itu telah menyulitkan masyarakat luas dengan menutup jalan-jalan atas nama menjaga kehormatan Nabi Muhammad saw dengan menganggap diri sebagai penjaga agama sehingga merasa berhak menyebut seseorang itu kafir atau beriman sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka melakukannya demi menarik keuntungan mereka sendiri. Perilaku mereka ini tidak ada kesamaannya dengan ajaran dan contoh dari Rasulullah (saw).

Orang-orang ini mungkin saja akan terus melakukan apa yang mereka inginkan, tapi kita sebagai Ahmadi wajib menjadikan segala aspek keteladanan Rasulullah (saw) sebagai pedoman kita dan berusaha mengamalkannya dengan semua kekuatan dan kapasitas yang diberikan pada kita. Saya hendak menguraikan kepada Anda sekalian beberapa aspek kehidupan Rasulullah (saw) sebagai keteladanan sempurna bagi kita.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) berbicara tentang kecintaan Rasulullah (saw) terhadap Allah Ta’ala, “Nabi (saw) amat asyik cintanya terhadap Allah Ta’ala. Beliau saw meraih apa-apa yang belum pernah diraih seorang pun. Beliau saw menyintai Allah Ta’ala sampai-sampai orang-orang berkata, عشق محمد على ربه asyiqa muhammadun ‘ala Rabbihi – ‘Muhammad (saw) asyik dengan Tuhannya.’”

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menuliskan sifat-sifat kecintaan Rasulullah (saw) kepada Allah Ta’ala, “Ketika turun ayat-ayat yang menyebutkan bahwa orang-orang penyembah berhala itu najis, syarrul bariyyah (seburuk-buruk makhluk), bodoh, keturunan Setan dan berhala sesembahan mereka itu akan tinggal di neraka dan menjadi bahan bakar jahannam; Abu Thalib memanggil Nabi saw dan berkata, ‘Wahai putra saudaraku (kemenakan)! Kaum engkau telah bangkit amarahnya disebabkan caci-maku dari engkau. Hampir-hampir mereka membunuh engkau dan juga saya. Engkau telah membodoh-bodohkan para pemuka mereka. Engkau menamai tokoh mereka sebagai seburuk-buruk makhluk. Engkau menyifati berhala-berhala mereka sebagai kayu bakar jahannam dan tempat tinggalnya di neraka. Engkau menganggap mereka kotor, najis dan keturunan setan. Saya peringatkan engkau supaya menahan lidah dan berhenti mencaci-maki. Jika tidak, saya tidak mampu menghadapi kaum itu.’

“Inilah yang dikatakan oleh uwak beliau saw [Abu Thalib ialah kakak Abdullah, ayah Nabi saw] kepada beliau saw. Nabi saw pun menjawab, ‘Sesungguhnya itu bukan caci-maki melainkan menjelaskan kenyataan. Hal itu tepat dijelaskan pada tempatnya. Demi inilah saya telah diutus. Jika saya mati di jalan ini, saya rela dengan kematian saya dengan senang hati. Kehidupan saya dikorbankan untuk jalan ini. Saya tidak akan berhenti mengatakan kebenaran karena takut mati. Jika uwa takut kelemahan dan kekurangan penyokong, maka lepaskanlah tanggungjawab melindungi saya. Demi Allah! Saya tidak memerlukannya.

Sebab, saya tidak akan berhenti bertabligh menyampaikan perintah Allah. Hukum-hukum Tuhan saya lebih saya sukai dari pada diri saya sendiri. Demi Allah! Saya tidak peduli jika saya tidak dibiarkan hidup dan harus kehilangan nyawa berkali-kali Ini bukan kondisi ketakutan melainkan tujuan kebahagiaan saya tersembunyi dalam dukungan di jalan-Nya, Allah.”

Nabi Muhammad saw mengatakan hal itu dengan semangat penuh kejujuran dan cahaya yang meliputi wajah mulia beliau. Setelah beliau saw menyelesaikan ucapannya, Abu Thalib sangat terkesan sehingga mengalir air mata dari matanya karena melihat cahaya kejujuran dan kebenaran dari beliau saw. Abu Thalib berkata, ‘Saya selama ini tidak mengetahui keadaan mulia engkau ini! Engkau mempunyai kedudukan yang aneh dan keadaan yang menakjubkan. Pergilah dengan tugas engkau dan teruskanlah! Saya akan tetap menolong engkau semampu saya selama masih hidup.’”

Pada masa ini para penentang kita menuduh kita dan mengatakan, “Para Ahmadi telah kafir karena beriman kepada Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian.” Peristiwa yang baru saya kutip ini telah kita baca dalam sejarah dan telah kita simak berulangkali namun kelebihan dan kualitas sepenuh hati dari cara Hadhrat Masih Mau’ud (as) menceritakan hal tersebut menunjukkan kecintaan beliau (as) kepada Nabi Muhammad saw yang orang Arab dan yang melalui beliau saw diperlihatkan bagi seseorang jalan-jalan kecintaan Allah Ta’ala juga.

Lebih jauh beliau (as) menguraikan dengan jelas dari segi ini mengenai perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. Tampak beliau (as) tenggelam dalam kecintaan terhadap Nabi saw, “Saya selama ini selalu memandang dengan pandangan takjub kepada Nabi dari bangsa Arab yang bernama Muhammad – ribuan shalawat dan salam atas beliau -. Betapa tingginya derajat beliau. Tidak akan ada yang dapat mencapai ketinggian derajat beliau dan tidak ada manusia yang akan mampu menduga secara tepat keluhuran keruhanian beliau.

Sayang sekali, belum semua manusia menghargai kedudukan beliau itu sebagaimana mestinya. Beliau itulah pahlawan ruhani yang telah mengembalikan kepada dunia Ketauhidan setelah hilang sebelumnya. Beliau mencintai Tuhan-nya dengan sepenuh hati sedangkan hatinya larut dalam kasih kepada umat manusia. Oleh karena itu, Allah Yang Maha Mengetahui rahasia isi hati beliau, telah mengutamakan beliau atas seluruh para Nabi dan atas umat manusia semuanya dari kalangan awal maupun kalangan akhir, serta menyempurnakan apa pun yang beliau inginkan dalam masa hidup beliau.

Beliau adalah sumber mata air semua karunia. “ومن ادعى بأية فضيلة من غير الاعتراف بأنه قد نالها بواسطة النبي ، فليس هو بإنسان، وإنما هو ذرية الشيطان” Jika ada seorang manusia yang menyatakan dirinya dengan tanda-tanda keutamaan tanpa mengakui derajat beliau saw, maka sesungguhnya orang itu bukan manusia tetapi anak keturunan setan. (Artinya, seseorang yang beranggapan diri mereka itu di luar faidh [karunia jasa] Nabi saw maka ia keturunan setan.) Hal demikian karena beliau saw telah dikaruniai kunci semua kebaikan dan beliau telah dirahmati dengan khazanah (harta perbendaharaan) dari setiap ma’rifat (pengetahuan, pemahaman). Mereka yang tidak memperoleh bimbingan melalui jalan beliau, sama dengan orang yang kehilangan segalanya.

Siapakah kami ini dan apa hakekat kami? Kami ini bukan apa-apa dan tidak memiliki apa pun. Kami akan menjadi orang-orang yang ingkar (tidak bersyukur) jika tidak mengakui mendapat pemahaman tentang Ketauhidan hakiki melalui Rasul ini. Ma’rifat mengenai Tuhan yang Maha Hidup, saya peroleh melalui Rasul yang sempurna ini dan dengan Nur beliau. Kehormatan untuk mendapat mukaalamah dan mukhathabah (bercakap-cakap) dengan Allah Ta’ala yang mana melaluinya saya dapat memandang Wajah-Nya adalah juga melalui karunia jasa Nabi agung ini. Sinar matahari pembimbing ini menerpa tubuh kami layaknya nur yang berkilauan dan kami akan memperoleh pencerahan terus-menerus selama kami berdiri untuk menerimanya.”

Maka dari itu, tidak mungkin mengetahui Tauhid hakiki tanpa mengikuti Nabi Muhammad saw, dan tidak mungkin seseorang sampai kepada Allah tanpa mengikuti keteladanan beliau saw, dan ini asas pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Betapa tingginya standar ibadah Nabi Muhammad saw! Hadhrat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan kualitas pemenuhan shalat Tahajjud Nabi saw, مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambahi lebih dari 11 rakaat … Namun, beliau shalat dengan amat lama dan bagusnya. Begitu indahnya. Tentang itu jangan kamu tanyakan betapa bagusnya dan lamanya shalat beliau.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa seorang sahabat Nabi saw berkata, رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي وَفِي صَدْرِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الرَّحَى مِنَ الْبُكَاءِ صلى الله عليه وسلم “Saya pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat, ketika itu beliau menangis. Dari dada beliau keluar rintihan layaknya air yang mendidih.”

Dalam riwayat lain disebutkan, أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ يُصَلِّي وَلِجَوْفِهِ أَزِيزٌ كَأَزِيزِ الْمِرْجَلِ يَعْنِي يَبْكِي “Suatu waktu saya datang menemui Rasulullah, namun saya dapati beliau sedang shalat. Dari rongga dada beliau terdengar isak tangis seperti suara periuk yang sedang mendidih.”

Di riwayat lain disebutkan, dari Aisyah bahwa Nabi saw pada malam hari beribadah begitu tekunnya sehingga kaki beliau bengkak-bengkak disebabkan lama berdiri. Pada suatu ketika Hadhrat Aisyah rha bertanya, لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ “Wahai Rasul Allah! Allah Ta’ala telah melindungi tuan dari berbuat dosa baik di masa lalu maupun di masa mendatang. Mengapa memasukkan diri dalam kesusahan yang sangat?” Beliau bersabda, أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا “Wahai Aisyah! afalaa uhibbu an akuuna ‘abdan syakuura? – Bukankah saya harus senang menjadi hamba Allah yang bersyukur?

Bagaimanakah inqilaab (revolusi, perubahan radikal) yang terjadi dalam diri para Sahabat Nabi saw hingga mencapai tingkat ini? Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenainya, “Saya katakan dengan tegas dan kuat bahwa bila juapun seseorang itu penentang sengit, baik dia itu seorang Masihi (Kristen) atau dari kalangan Arya (Hindu), bila ia mencari-cari tahu keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Hadhrat Rasulullah (saw) lalu memperhatikan perubahan yang terjadi melalui ajaran-ajaran dan pengaruh-pengaruh beliau saw, niscaya otomatis ia akan menyaksikan kebenaran beliau saw.

Al-Qur’an telah menggambarkan keadaan mereka sebelumnya, وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْya-kulu kamaa ta-kulul an’aam’ – ‘Mereka makan-makan seperti binatang makan’. (Surah Muhammad, 47:13) Demikianlah keadaan mereka pada zaman kekafiran. Selanjutnya, ketika pengaruh-pengaruh baik Nabi Muhammad saw terjadi dalam diri mereka, keadaan mereka menjadi وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا  yabiituuna li-Rabbihim sujjadaw wa qiyaama.’ – ‘mereka menghabiskan malam dengan beribadah.’ (Surah al-Furqan, 25:65)

Perubahan yang Nabi Muhammad saw adakan di kalangan bangsa Arab nan biadab dan mengeluarkan mereka dari keadaan yang seperti hina menjadi sedemikian rupa tingginya standar derajat mereka tidak ada tandingannya di sejarah mana pun atau di bangsa mana pun di dunia. Ini bukanlah dongeng-dongeng yang muncul tiba-tiba melainkan kejadian sebenarna yang diakui kebenarannya oleh zaman.”

Termasuk kewajiban anggota Jemaat ‘Aakhariin’ yang terhubung dengan awwaliin untuk meninggikan standar ibadah-ibadah mereka dengan mengikuti keteladanan ini sebagaimana dilakukan oleh para Sahabat Nabi saw dan tidak tenggelam dalam urusan-urusan duniawi saja. Laporan dari Jemaat Lokal dan Pusat serta badan-badan yang menyatakan 40%, 50%, 60% dari anggota Jemaat telah melaksanakan shalat berjamaah ini dan itu, tapi jika tidak 100%, kita tidak bisa merasa nyaman. Ini adalah tanggung jawab bukan hanya atas Nizham Jemaat saja melainkan bagi masing-masing individu untuk memeriksa diri mereka sendiri memperbaiki keadaan tersebut.

Bagaimanakah keteladanan Nabi Muhammad saw dalam hal kejujuran dan kebenaran? Simaklah kesaksian sedemikian rupa dari penentang keras beliau saw sendiri, Nadhr ibn al-Harits [seorang penyair ahli]. Suatu hari para pemuka Quraisy berkumpul. Diantara mereka terdapat Abu Jahl dan Nadhr ibn al-Harits. Salah seorang dari mereka berkata bahwa Nabi Muhammad (saw) ialah seorang tukang sihir. Nadhr ibn al-Harits pun berdiri dan berkata, “Wahai kaum Quraisy, demi Allah! Kalian berhadapan dengan masalah yang sulit untuk dicarikan jalan keluarnya. Muhammad telah ada di kalangan kalian sebagai pemuda populer. Muhammad pernah menjadi pemuda yang paling kalian sukai karena kejujuran dan integritasnya. Ia paling dapat dipercaya diantara kalian hingga kalian lihat ia mulai memutih rambutnya (berusia tua).

Kemudian, ia datang membawa apa yang ia bawa (dakwah agamanya) dan kalian katakan ia tukang sihir. Tidak! Demi Allah, ia bukan tukang sihir. Kita tahu bagaimana tingkah laku tukang sihir. Lalu, kalian katakan ia kaahin (dukun, peramal). Tidak! Demi Allah, ia bukan peramal. Kita tahu bagaimana para peramal mengalami kerasukan dan membaca mantra.

Kalian juga katakan ia penyair. Tidak! Demi Allah, ia bukan penyair. Kita tahu semua jenis syair. Apa yang dikatakannya bukanlah syair indah, tetapi lebih dari itu. Lalu, kalian katakan ia gila. Tidak! Demi Allah! Ia tidak gila! Kita tahu ciri-ciri orang gila dan ia sama sekali tidak memiliki ciri-ciri itu. Jadi, wahai orang-orang Quraisy! Pertimbangkanlah masak-masak persoalan ini. Demi Allah, ini bukan persoalan yang bisa dianggap remeh!”

Abu Jahl pun tidak mampu mengingkari kejujuran Nabi Muhammad saw. Ia berkata yang maknanya, “Saya tidak mendustakan engkau, wahai Muhammad, namun saya mendustakan ajaran yang engkau bawa karena engkau menentang berhala-berhala kami.”

Abu Sufyan juga mengatakan di lantai istana Heraclius [di depan Kaisar Romawi saat itu] bahwa Rasulullah (saw) tidak pernah berkata dusta dan bahkan senantiasa menasehatkan untuk berkata benar.

Kejujuran beliau begitu mulianya sehingga seorang musuh beliau yang paling sengit sekalipun tidak dapat menunjukkan mana kebohongan beliau saw. Ini adalah dalil terkuat kebenaran kenabian beliau saw. Seorang Rahib (pemuka agama dan cendekiawan) Yahudi saat itu pun yang melihat beliau saw pun mengatakan bahwa wajah beliau bukan wajah pembohong.

Bahkan, pada masa sekarang pun, tingkat luhur kebenaran ajaran dan perilaku beliau saw-lah yang dapat membawa orang-orang non-Muslim mendekati Islam. Adapun kebohongan, penipuan dan kepalsuan dapat menambah kebencian dan kegeraman menentang Islam; dan mustahil dapat mendekatkan seseorang kepada Islam. Hal yang mendekatkan orang-orang kepada Islam bukanlah hal-hal materi, pendirian pemerintahan-pemerintahan dan pertahanan mereka yang menyatakan diri Ulama atas mimbar-mimbar mereka berdasarkan kebohongan demi membuktikan keistimewaan Islam.

Maka dari itu, para Ahmadi harus selalu berusaha untuk meningkatkan tingkat kejujuran mereka dengan mengikuti teladan Nabi Muhammad saw hal mana itu memudahkan kita menyebarluaskan Islam yang indah. Tabligh menuntut adanya kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Jika tidak ada kejujuran dalam tindakan maka orang-orang pun akan menganggap ajaran agama itu salah atau dusta. Keberadaan Tuhan itu benar, agama Islam itu benar dan termasuk tugas kita untuk menyebarkan kebenaran ini dengan cara kejujuran.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Orang yang berakal cerdas tidak menemui keraguan atas pernyataan bahwa menjelang kedatangan Islam, semua agama telah rusak dan kehilangan keruhanian. Maka dari itu, Nabi kita saw ialah Pembaharu Agung demi menampakkan kebenaran yang mana mengembalikan kebenaran yang hilang kepada dunia. Tidak ada sekutu Nabi saw dalam kemuliaan ini. Tatkala itu dunia seluruhnya berada dalam kegelapan. Dengan kemunculan beliau saw kegelapan itu berubah kearah cahaya.

Beliau saw meninggalkan dunia ini dalam keadaan kaum beliau yang dulunya menyembah berhala telah menanggalkan keberhalaan; dan mereka mengenakan pakaian Tauhid. Bukan hanya itu saja, bahkan mereka mencapai tingkatan keimanan tertinggi. Tampak dari pribadi mereka tindakan kejujuran, kesetiaan dan keyakinan yang mana tidak ada tandingannya di semua pelosok dunia. Inilah tingkat keberhasilan yang bukan bagian Nabi mana pun kecuali Nabi kita yang mulia saw.

Ini adalah dalil terbesar kebenaran kenabian junjungan kita Rasulullah saw. Beliau saw diutus pada zaman yang tengah tenggelam dalam kezaliman-kezaliman. Keadaan secara alami menuntut pengutusan seorang Juru Perbaikan agung. Beliau meninggalkan dunia ini setelah ratusan ribu orang telah berpegang pada Tauhid dan jalan yang lurus serta kosong dari syirik dan penyembahan pada berhala.

Hal yang sebenarnya perbaikan sempurna ini khusus pada beliau saw saja yang mana beliau mengajarkan sebuah kaum yang biadab dan mempunyai sifat-sifat liar dengan sifat-sifat kemanusiaan atau dalam kata lain beliau merubah mereka yang tadinya bertabiat seperti binatang berubah menjadi manusia, kemudian mendidik orang-orang tersebut hingga menjadi manusia-manusia yang beradab lalu setelah beradab beliau jadikan mereka manusia-manusia Rabbani (bertuhan). Beliau meniupkan keruhanian dalam diri mereka dan menciptakan jalinan dengan Tuhan.”

Jadi, jika kalian ingin disebut Muslim hakiki dan membangun hubungan dengan Tuhan yang Sejati, kalian perlu meningkatkan tingkat kejujuran kalian. Jika ada yang memenuhi kewajiban itu di masa modern ini maka itu hanya para Ahmadi saja yang bisa melakukan ini karena mereka telah berjanji kepada Imam Zaman untuk memilih agama diatas dunia. Ini bukanlah hanya sekedar janji secara lisan belaka, melainkan sebaliknya semua tindakan tiap Ahmadi harus menjadi saksi akan janji baiat itu. Hanya dengan cara itu saja-lah yang menjelaskan kebenaran janji ini.

Akhlak mulia Rasulullah (saw) mencakup kerendahan hati dan kelemahlembutan atau dalam kata lain beliau saw telah mencapai puncak akhlak kerendahan hati. Hadhrat Aisyah (ra) menceritakan, ” مَا كَانَ أَحَدٌ أَحْسَنُ خُلُقًا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، مَا دَعَاهُ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِهِ وَلا مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ إِلا قَالَ : لَبَّيْكَ ، وَلِذَلِكَ أَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى : وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ “ “Tidak ada seseorang yang lebih baik akhlaknya dari Rasulullah saw. Tidak pernah setiap kali ada seseorang dari Sahabat beliau atau anggota keluarga beliau saw yang memanggil beliau saw, beliau tidak menanggapi mereka. Inilah sebabnya Allah berfirman dalam Alquran, وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ ‘Dan sesungguhnya engkau memiliki kedudukan akhlak yang tinggi.’(Surah al-Qalam, 68:5)”

Hadhrat Ali ra meriwayatkan bahwa biasanya setiap kali Nabi Muhammad saw memandang seseorang maka beliau menghadapkan tubuhnya secara sempurna lurus sesuai arah pandangannya. [beliau saw tidak sekedar menengok yang mana arah pandangan dengan arah tubuh berbeda] Beliau saw senantiasa menundukkan pandangan seolah-olah seringkali memandang ke bumi. Beliau saw paling bersegera dalam menyampaikan salam penghormatan.

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلاَ فَخْرَ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ الأَرْضُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ وَلاَ فَخْرَ وَلِوَاءُ الْحَمْدِ بِيَدِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ ‘ana sayyidu waladi Aadama wa laa fakhra; wa ana awwalu syaafi’in wa awwalu musyaffa’in wa laa fakhra; wa liwaa-ul hamdi bi-yadii yaumal qiyaamata wa laa fakhra – “Aku adalah pemimpin anak-keturunan Adam, tapi aku tidak bangga dengan hal itu. Pada hari kiamat aku lah orang pertama yang memberikan syafaat dan yang pertama diterima syafa’atnya, tapi aku tidak bangga dengan hal itu. Pada hari kiamat bendera pujian akan ada di tanganku, tapi aku tidak bangga dengan itu.” Inilah penampilan kerendahan hati beliau saw yang sampai ke puncaknya yang mana itu tampak dari setiap sabda dan perbuatan beliau saw.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Jauhilah saling berbangga, menyombongkan diri dan berprasangka tanpa hak. Hendaklah kalian mewarnai diri dengan sikap rendah hati. Perhatikanlah Nabi Muhammad (saw) yang hakikatnya adalah paling agung dan paling pantas dengan kemuliaan dan kehormatan namun menjadi teladan dalam sikap beliau yang begitu rendah hati sehingga salah satu contoh kerendahan hati beliau ada dalam Al-Quran sebagai berikut: Ada seorang buta yang biasa belajar Al-Qur’an dari beliau saw.

Suatu hari, ketika orang itu datang, Hadhrat Rasulullah (saw) tengah berbincang-bincang dengan para pemimpin Mekkah yang hadir di hadapan beliau. Dikarenakan kesibukan berbincang-bincang dengan mereka, beliau saw terlambat sebentar. Orang buta itu pun balik pulang. Ini adalah hal yang kecil dan biasa saja namun Allah Ta’ala mewahyukan sebuah surah al-Quran kepada beliau (saw) mengenai hal itu (Surah Abasa), lalu beliau pergi ke rumah orang buta itu dan menggelar kain selendang beliau nan penuh berkat di hadapannya supaya orang itu duduk di atasnya.

Pada hakikatnya, orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat keagungan Allah Ta’ala maka mereka tidak menemukan keraguan dalam bersikap rendah hati. Hal demikian karena mereka selalu takut bahwa Allah itu Maha Kaya dan tidak memerlukan apa pun dan mereka gentar takut akan Dia. Sama seperti Dia mengganjar amal saleh yang sekecil-kecilnya, begitu pun Dia tidak menyetujui dosa-dosa yang paling kecil sekali pun. Jika Dia murka terhadap sesuatu hal maka setiap amal perbuatan dapat hangus dalam sekejap. Maka dari itu, renungi dan ingatlah hal-hal ini serta amalkanlah.”

Perjalanan hidup dan keteladanan beliau saw ialah bahasan yang tidak pernah habis. Setiap akhlak beliau saw ialah contoh agung dan mengapa tidak. Beliau saw seorang guru besar dan guru akhlak. Jika ada sesuatu keburukan yang tampak di depan beliau saw, beliau saw pun secara berakhlak dalam menanggapinya. Hadhrat Aisyah (ra) menceritakan bahwa seorang pria meminta untuk berjumpa dengan Hadhrat Rasulullah (saw). Setelah melihat orang itu, beliau (saw) memberitahu Hadhrat Aisyah (ra), «بِئْسَ أَخُو العَشِيرَةِ، وَبِئْسَ ابْنُ العَشِيرَةِ» “Pria itu adalah seorang saudara yang buruk. Artinya, sebagai saudara, ia berlaku buruk di rumahnya. Ia juga anak yang sangat berkelakuan buruk diantara keluarganya.”

Ketika orang itu datang dan duduk, Hadhrat Rasulullah (saw) menyambutnya dengan hormat dan juga berbicara secara menyenangkan dengannya. Meskipun orang itu seorang yang buruk bagi saudaranya, anak yang berkelakuan buruk dalam keluarganya dan berakhlak buruk; tapi Nabi saw menyikapinya dengan santun dan berbicara secara menyenangkan.

Ketika orang itu pergi, Hadhrat Aisyah (ra) bertanya kepada beliau (saw) mengapa beliau sangat sopan dan manampakkan wajah yang menyenangkan meskipun ia orang jahat. Hadhrat Rasulullah (saw) menjawab, «يَا عَائِشَةُ، مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ» “Wahai Aisyah, kapankah engkau lihat saya memakai bahasa yang buruk kepada orang-orang? Saya senantiasa bersikap sopan kepada orang-orang karena pada hari kiamat orang yang paling jahat (buruk) adalah yang dijauhi orang lain karena takut akan keburukannya.”

Pernah suatu kali seseorang bertanya kepada beliau (saw), كَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ إِذَا أَحْسَنْتُ وَإِذَا أَسَأْتُ “Bagaimana cara saya mengetahui apakah saya itu adalah orang baik atau buruk?”

Beliau saw menjawab, إِذَا سَمِعْتَ جِيرَانَكَ يَقُولُونَ قَدْ أَحْسَنْتَ فَقَدْ أَحْسَنْتَ وَإِذَا سَمِعْتَهُمْ يَقُولُونَ ‏:‏ قَدْ أَسَأْتَ فَقَدْ أَسَأْتَ “Jika tetangga Anda mengatakan Anda itu baik, maka ketahuilah, perbuatan Anda juga baik. Jika mereka mengatakan Anda buruk, ketahuilah berarti perilaku Anda buruk dan tidak benar.”

Dengan demikian, kewajiban setiap Ahmadi untuk memperelok lagi akhlak mereka senantiasa dan ini harus menjadi cara hidup setiap Ahmadi. Penyebab mendasar banyaknya fitnah (malapetaka, kesulitan) yang terjadi di dunia Islam saat ini ialah penurunan standar akhlak mereka. Mereka melupakan teladan mulia Rasulullah (saw) dan hanya mendakwakan saja secara pernyataan tanpa pengamalan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan keteladanan Nabi Muhammad saw yang sempurna, “Hadhrat Rasulullah (saw) adalah teladan sempurna untuk semua bidang kehidupan. Perhatikanlah bagaimana beliau memperlakukan para istri beliau saw. Dalam pandangan saya, hanya pengecut dan orang sial saja yang bertengkar (berkelahi) melawan wanita.

Hadhrat Rasulullah (saw) seorang yang mempunyai keadaban agung. Bahkan, sekalipun seorang wanita tua meminta beliau untuk tetap tinggal di tempat tertentu, beliau akan tinggal di situ sampai wanita tersebut mengizinkan beliau pindah. Pernah suatu ketika beliau membeli sesuatu dan seorang sahabat menawarkan diri untuk membawakan barang belanjaan beliau namun beliau menolak seraya mengatakan barang tersebut harus dibawa sendiri oleh orang yang memilikinya. Namun, janganlah memahami dari hal itu bahwa beliau saw biasa membawa seikat kayu bakar juga. Tujuan pembahasan peristiwa-peristiwa ini ialah menunjukkan kesederhanaan beliau saw dan sifat beliau yang tanpa merepotkan orang lain.”

Selanjutnya, beliau (as) bersabda, “Ketika kita perhatikan Nabi kita (saw); beliau melalui 13 tahun masa kenabian beliau dalam kesulitan dan kesengsaraan [yaitu di Makkah], dan hidup 10 tahun sebagai penguasa yang menikmati kekuasaan dan kesejahteraan [yaitu di Madinah]. Beliau menghadapi permusuhan dari banyak sekali kaum. Pertama kaum beliau sendiri (dari Makkah), Yahudi, Kristen, orang-orang Musyrik, Majusi, dan lain sebagainya. Amal perbuatan mereka dalam menyembah berhala dan keyakinan mereka yang merasuk terhadap berhala lebih besar daripada keyakinan terhadap Allah. Mereka tidak melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kebesaran berhala mereka.

Mereka biasa minum minuman keras hingga bisa sampai 5 atau 6 kali sehari. Bahkan, mereka meminum minuman keras seperti minum air biasa dan malah tidak meminum air minum biasa. Mereka memandang memakan hal-hal yang terlarang sebagai sebuah kehalalan seperti bayi meminum air susu ibunya. Membunuh bagi mereka tidak jauh beda seperti memotong sayuran belaka. Ringkasnya, mereka terlibat dalam semua pekerjaan buruk yang juga dikerjakan bangsa-bangsa di dunia seluruhnya. Beliau saw harus memperbaiki kaum itu.

Sementara itu, beliau saw tinggal di Makkah sendirian tanpa penolong dan penyokong. Terkadang beliau temukan sesuatu yang dapat dimakan dan terkadang tidur dalam kelaparan. Sejumlah kecil orang yang mengikuti beliau saw (para sahabat ini) menderita penganiayaan dan penghinaan serta mendapatkan kesulitan setiap harinya. Mereka orang-orang polos yang tanpa tipu-muslihat. Mereka berjalan kesana-kemari dalam kondisi terusir. Orang-orang ini kemudian terpaksa hijrah dari kota kelahiran mereka.

Setelah itu ketika memasuki periode kedua, seluruh Arabia dari satu pelosok ke pelosok lainnya berada dalam kepatuhan pada pemerintahan Rasulullah (saw). Tidak ada satu pun berada dalam corak penentangan terhadap beliau. Allah Ta’ala menganugerahi beliau saw kehebatan dan kekuasaan sedemikian rupa sehingga kalau saja beliau mau, beliau dapat membunuh seluruh penduduk Arabia. Jika saja beliau menuruti hawa nafsu dan mementingkan diri sendiri, beliau memiliki kesempatan yang tepat untuk membalas semua orang yang dulu bertindak kepada beliau. (yang dulu bertindak zalim kepada beliau) Tapi saat beliau datang ke Makkah sebagai penakluk, beliau berseru, قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ‘laa tatsriba ‘alaikumul yaum’ – tidak ada celaan atas kalian pada hari ini…’

Pendek kata, Nabi saw mengalami dua periode dan itu kesempatan yang tepat untuk menguji keaslian akhlak beliau dan pengujian ini berhasil bagus tatkala keadaan beliau bukan gejolak perasaan yang sementara saja melainkan akhlak luhur Rasulullah (saw) benar-benar diuji semuanya dan beliau menunjukkan akhlak berupa kesabaran, istiqlaal (keteguhan), ‘iffat (kesucian), hilm (kesantunan), kuat memikul beban, keberanian, kemurahan hati dan lain sebagiannya. Semua akhlak tersebut tampak dengan gemilang. Tidak ada yang tertinggal.”

Jadi, pada hari ini jika kita ingin melakukan peringatan [Siratun Nabi] secara hakiki maka haruslah kita rayakan dengan mengikuti teladan mulia Rasulullah (saw) yaitu dengan meningkatkan tingkat ibadah, keimanan akan Tauhid dengan sempurna dan standar akhlak yang tinggi. Jika kita tidak melakukan demikian, tidak ada perbedaan antara kita dengan selain kita. Jika kita tidak mengamalkan keteladanan Rasulullah saw ini, tidak ada perbedaan antara kita dengan selain kita yaitu yang terpecah-belah dan menjadi penyebab kesempitan bagi selain mereka dengan mengikuti kepemimpinan sementara mereka dan yang disebut ulama tersebut. Janji baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) menuntut kita agar mempedomani teladan Rasulullah saw dalam semua perbuatan kita. Semoga Allah memberi kita semua taufik untuk melakukan hal tersebut.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai kedudukan luhur Nabi Muhammad saw, “Manusia itu yang mana ialah paling sempurna kemanusiaannya, manusia paripurna dan Nabi yang paling sempurna, yang datang dengan berkat sempurna, yang telah menjadikan pengutusannya sebagai penyebab kerohanian dan al-hasyr (perkumpulan besar) rohaniah tampak sebagai kiamat pertama (perwujudan hari pembalasan) di dunia; dan dengan demikian telah mengembalikan kembali alam sempurna dari kematian menjadi kehidupan. Beliaulah Rasul yang penuh berkat, beliau sayyiduna (junjungan kita) Khatamun Nabiyyin, imaamul ashfiyaa (imam para suci), imaamul muttaqiin (pemimpin orang-orang bertakwa), khatamul mursaliin (terbaik dari antara semua Rasul), fakhrun Nabiyyiin (kebanggaan semua Nabi) adalah Muhammad Mushthafa saw.

فيا ربنا الحبيب ارحم وسلِّم على هذا النبي الحبيب رحمة وسلاما لم ترحم وتسلِّم بمثلها على أحد منذ بدء الخليقة ‘fayaa Rabbanaa al-Habiibirham wa sallim ‘alaa haadzan Nabiyyil habiibi rahmatan wa salaaman lam tarham wa tusallim bi mitslihaa ‘alaa ahadin mundzu bad-il khaliqah.’ – ‘Wahai Tuhan kami nan Terkasih, turunkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi tersayang ini dengan jenis rahmat dan kesejahteraan yang belum pernah Engkau turunkan sebelumnya kepada siapa pun sejak awal penciptaan.’

Jika Nabi Agung ini tidak muncul di dunia maka kami tidak akan memiliki bukti kebenaran para Nabi lainnya yang berada di bawah derajat beliau seperti Yunus, Ayyub, Isa Ibnu Maryam, Maleakhi, Yahya, Zakaria dan lain-lain. Walaupun mereka itu semuanya sosok-sosok yang dihormati dan menjadi kekasih Allah Ta’ala namun mereka berhutang budi kepada Nabi ini yang karena beliau-lah mereka kemudian diakui sebagai orang-orang benar. اللهم صلّ وسلّم وبارك عليه وآله وأصحابه أجمعين. ‘Allahumma shalli wa sallim wa baarik ‘alaihi wa aalihi wa ash-haabihi ajma’iin.’ – ‘Ya Allah, turunkanlah salam dan berkat-Mu atas diri beliau, keluarga dan para pengikut beliau serta para sahabat beliau semuanya.’ Akhir doa kami ialah الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ Semua puji kepunyaan Allah, Tuhan seru sekalian alam.”

Setelah shalat Jumat dijamak dengan Ashar, saya akan memimpin shalat jenazah ghaib bagi almarhumah Ny. Salma Ghani yang tinggal di Philadelphia, USA (Amerika Serikat), dan meninggal pada tanggal 20 November di usia 83. Amir Jemaat USA menulis, “Almarhumah baiat dan bergabung ke dalam Jemaat pada tahun 1960 atau 61 di usia 24 tahun. Ia berprofesi sebagai guru sekolah. Pada tahun 1975/76 ia menghadiri Jalsa di Rabwah tempat ia Mulaqat dengan Hadhrat Khalifatul Masih III (rh). Ia selalu menceritakan hal itu berulang-ulang. Ia mengkhidmati Jemaat sebagai Sadr Lajnah Imaillah level nasional selama 15 tahun dengan penuh ketekunan dan membawa Lajna Imaillah ke tingkat yang baru.

Pada lain kesempatan ia juga menjabat sebagai Sadr Lajnah Imaillah Jemaat Philadelphia beberapa kali. Selain shalat lima waktu ia pun senantiasa menegakan shalat Tahajud. Ia sangat berhasrat dan banyak berdoa agar pembangunan masjid di Philadelphia selesai, dan kita akan mendoakannya. Insya Allah pembangunan tersebut akan selesai. Menurut ketua Jemaat setempat (Philadelpia), Almarhumah menunjukkan ketaatan dan sumbangsih khidmat yang penuh dengan Jemaat setempat. Ia didiagnosa menderita kanker perut dua bulan yang lalu. Menurut dokter yang merawatnya waktu hidupnya hanya empat sampai enam bulan, tapi ia menyadari hanya punya beberapa hari lagi. Ia meninggalkan pesan wasiyat kepada kami agar ada yang mengatur shalat jenazahnya nanti di Masjid Willingborough dan pengurusan penguburannya di Philadelpia. Almarhumah tidak memiliki anak keturunan. Satu pun dari keluarganya tidak ada yang Muslim atau Ahmadi tapi ia memiliki hubungan baik dengan mereka.”

Sadr Lajna USA menulis bahwa masa pendidikannya dihabiskan di lingkungan Kristen, namun sejak usia 15 tahunan ia mulai mempertanyakan kesalahan keyakinan Kristen seperti kematian Yesus di tiang salib dan akidah penebusan. Ia mencari-cari agama yang menentramkan hatinya dan memuaskan akalnya. Dalam masa itu, ia belajar Katolik secara mendalam, serta agama-agama lain seperti Buddhisme, Hinduisme dan juga sekte Kristen lainnya. Ia menemukan poin-poin hebat dalam setiap agama namun satu pun tidak ada yang menentramkan hatinya. Salah seorang temannya yang telah menerma Islam dalam waktu belum lama memberinya sebuah pamflet bahwa Yesus (as) tidak mati di kayu salib. Hal tersebut seakan berisi jawaban atas semua pertanyaannya selama ini.

Ia lalu pergi ke masjid dan membeli berbagai buku. Ia mempelajari buku-buku itu dan akhirnya baiat di Philadelphia tempat ia tinggal sampai kewafatannya. Ia bercerita suatu hari, ‘Selebaran yang menyebutkan tidak wafatnya Al-Masih (Yesus) di tiang salib menyebabkan saya bergabung dengan Islam sebagai agama yang benar.’ Ia menghabiskan usianya selama 57 tahun sebagai Ahmadi, di mana dia menunjukkan standar keteladanan tertinggi dalam keikhlasan, kecintaan dan kesetiaan kepada Jemaat Ahmadiyah dan Khilafat-e-Ahmadiyah. Ia juga menjadi contoh dalam ketaatan.”

Pada masa Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh), ia menjabat sebagai Sadr Lajnah Amerika Serikat selama lima belas tahun, dan kemudian ia juga menjabat sebagai anggota kehormatan Lajnah Imailllah. Ia juga menjabat sebagai ketua komite penasihat Lajnah untuk wilayah Afrika dan Amerika.

Wanita ini senantiasa bertabligh. Karena latar belakangnya Kristen, maka ia bertablighnya kepada orang-orang Kristen secara ilmiah dan mengesankan. Banyak orang yang menerima Ahmadiyah berkat usahanya, dan karena itu ia pun menjadi sumber rujukan bagi banyak orang. Setelah beberapa kunjungannya ke Ghana dan Nigeria, ia dikenal sebagai Bibi Salma Ghani. Di Amerika Serikat wanita ini akan senantiasa diingat atas kesalehan, ketakwaannya dan juga popularitasnya.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhumah dan memberikan keteguhan kepada orang-orang yang menerima Ahmadiyah melaluinya. Semoga Allah memungkinkan Jemaat Amerika Serikat dan rakyat Amerika pada umumnya, untuk mendengarkan dan menerima pesan sejati Islam ini. Aamiin!

(Visited 63 times, 1 visits today)