Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis Ayyadahullaahu Ta’ala Binashrihil ‘Aziiz [1]

Tanggal 7 Februari 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

[آمين. ]

Dalam Program mingguan MTA ‘Rah-e-Huda’ (Jalan Petunjuk), para mubaligh dan ulama kita membahas berbagai masalah dan juga menjawab pertanyaan dari penelepon, termasuk orang-orang ghair Ahmadi, secara live di TV.

Pekan lalu Hadhrat Khalifatul Masih kebetulan menonton bagian dari program ketika seorang penanya ghair Ahmadi mengajukan pertanyaan dengan mengacu pada wahyu Hadhrat Masih Mau’ud as. Dari satu segi, pertanyaannya adalah keberatan dan di awal si penelepon mengatakan bahwa Al-Qur’an, yang merupakan firman Allah, Hadis dan karya orang suci lainnya semua memiliki rangkaian dan kaitan satu dengan yang lain yang tidak bisa dia lihat dalam kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as. Bahkan jika niat penelepon itu tidak mengajukan keberatan, nadanya tampak begitu. Kata-kata wahyu tersebut adalah:

دس دن کے بعد میں موج دکھاتا ہوں

الا ان نصر الله قريب

فى سائل مقياس

دن ول یو گو تو امرتسر

(Transkrip Inggris: “Then will you go to Amritsar.”)

‘[Urdu] Setelah sepuluh hari Aku akan menunjukkan tanda-Ku (yang bergelombang/bergelora).

 [Arab] Dengarkanlah! Pertolongan Allah sudah dekat

 seperti unta betina hamil sedang melahirkan

[ Inggris ] Kemudian kamu akan pergi ke Amritsar.

(Tadkirah, hal. 67 Edisi 2009)

Pertanyaan itu dijawab secara singkat pada program tersebut tapi Hudhur merasa, penting untuk memberikan rincian dalam kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri sehingga penentang yang lain atau anak-anak muda yang kurang pengetahuannya tidak dipengaruhi oleh episode ini, atau mungkin mereka ingin untuk mengetahui rinciannya.

Pertanyaan-pertanyaan kadang-kadang dijawab oleh ulama kita secara langsung pada Rah-e-Huda dan pada waktu lain pertanyaan yang memerlukan jawaban rinci dijawab dalam program berikutnya. Hadhrat Khalifatul Masih bersabda tidak perlu bagi beliau mulai menanggapi setiap keberatan atau pertanyaan, dalam khotbah-khotbah beliau. Alasan beliau menjelaskan masalah ini hari ini karena dalam rangkaian khotbah sebelumnya beliau bersabda bahwa tanda-tanda Hadhrat Masih Mau’ud as dan pertolongan Allah sangat banyak menyertai kita sehingga orang lain (bukan Ahmadiyah) mungkin bahkan tidak memiliki sebagian kecil dari itu! Masalah yang si penanya coba tertawakan telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dalam Barahin Ahmadiyah dan juga dijelaskan secara rinci dalam Tadhkirah. Pertanyaan si penelepon memberitahu kita bahwa setidaknya dia telah membaca Tadhkirah tetapi untuk menyebabkan kebingungan, secara sadar ia tidak menyebutkan konteks yang terkait dengannya. Barahin Ahmadiyah juga menjelaskan hal ini tetapi penelepon mungkin belum membacanya karena buku itu membutuhkan fokus dan perhatian dan Hudhur berpikir penelepon tidak memiliki kapasitas yang diperlukan.

[Kutipan dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as] “Suatu kali saya sangat memerlukan uang. Keperluan mendesak ini benar-benar diketahui oleh rekan-rekan saya orang Arya yang tinggal disini……Oleh sebab itu keinginan ini bergejolak di kalbu, yakni memanjatkan doa kehadirat Sang Maha Esa untuk menjauhkan kesulitan itu, supaya dengan terkabulnya doa tersebut maka pertama kesulitan saya dapat diatasi dan kedua dapat timbul tanda dukungan Ilahi yang diperuntukkan bagi para penentang. Yaitu suatu tanda yang mengenai kebenarannya orang-orang itu sendiri menjadi saksi. Maka, pada hari itu juga doa telah dipanjatkan dan telah dimohonkan kepada Allah Ta’ala supaya Dia memberitahukan melalui bantuan keuangan sebagai tanda. Barulah turun ilham:

دس دن کے بعد میں موج دکھاتا ہوں

الا ان نصر الله قريب

فى سائل مقياس

دن ول یو گو تو امرتسر

(Transkrip Inggris: “Then will you go to Amritsar.”)

Yakni, setelah 10 hari uang akan datang. Pertolongan Allah sudah dekat, dan sebagaimana untuk melahirkan, ekor unta betina akan berdiri serta berarti sudah dekat saat kelahiran anaknya, demikian pula pertolongan Ilahi sudah dekat.

Kemudian dalam kalimat bahasa Inggris, Allah berfirman (“Then will you go to Amritsar”), yakni setelah sepuluh hari, ketika uang akan tiba, engkau akan pula pergi ke Amritsar. Maka sebagaimana Dia berfirman dalam nubuatan ini, seperti itulah yang telah terjadi di hadapan orang-orang Hindu, yakni warga Arya yang disebut diatas. Sesuai maksud nubuatan itu, sampai sepuluh hari satu sen pun tidak ada yang datang. Dan sesudah sepuluh hari, yakni pada hari kesebelas, Muhammad Adfhal Khan Sahib, Superintendent settlement Rawalpindhi, mengirimkan uang Rs 110, dan Rs 20 datang dari tempat lain. Kemudian mulailah berdatangan uang-uang lainnya, yang tidak diharapkan sebelumnya. Pada hari yang sama ketika sudah lewat sepuluh hari datang uang Muhammad Afdhal Khan dan sebagainya, saya pun terpaksa pergi ke Amritsar. Sebab, pada hari itu juga dari pengadilan rendah Amritsar telah tiba surat panggilan yang tertuju pada saya untuk memberikan satu kesaksian.

[Tadhkirah, hlm 66-67, edisi 2009]

Ini adalah wahyu secara keseluruhan dan latar belakangnya. Hadhrat Masih Mau’ud as. telah lebih jauh menjelaskan hal ini di tempat lain :

“Beberapa waktu lalu… seorang pria bernama Nur Ahmad, yang merupakan seorang hafiz dan haji dan mungkin juga tahu bahasa Arab, dan mengajarkan Al-Qur’an dan tinggal di Amritsar, datang ke Qadian dalam perjalanan pengembaraannya…. Karena dia tinggal dengan saya, dan telah menyatakan kepada saya dalam kata-kata yang sangat kuat pendapatnya tentang wahyu, saya merasa sangat sedih karenanya. Saya mencoba dengan setiap cara yang mungkin untuk meluruskan kesalahpahamannya, tetapi pemikiran saya tidak berpengaruh kepadanya. Lalu saya berpaling kepada Allah Ta’ala dan memberitahu Hafiz [Nur Ahmad] bahwa saya akan berdoa kepada Allah Al-Karim, dan tidak akan terkejut jika beberapa nubuatan diturunkan dimana ia sendiri mungkin melihat penyempurnaannya. Oleh karena itu, saya berdoa malam itu dan menjelang pagi saya melihat dalam penglihatan saya surat yang tiba melalui pos yang ada tulisannya dalam bahasa Inggris: ‘I am quarreller.’ (saya orang yang suka bertengkar) dan yang lain dalam bahasa Arab

هذا شاهد نزّاغ

‘Haadza syaahidun nazzaagh’ – ‘Ini adalah saksi menghancurkan.’

Saya juga menerima kata-kata ini melalui wahyu seolah-olah kata-kata itu telah ditujukan kepada saya oleh penulis surat itu. Kemudian kasyaf itu berakhir.

Karena saya tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa Inggris, saya memberitahu Miyan Nur Ahmad kasyaf dan wahyu ini dan bertanya kepada seseorang yang fasih bahasa Inggris apa artinya tulisan bahasa Inggris tersebut. Dia menjelaskan bahwa itu berarti bahwa si penulis adalah petengkar. Dari kalimat singkat ini saya mengerti dengan jelas bahwa saya akan menerima surat yang berkaitan dengan beberapa perselisihan. Saya mengerti bahwa tulisan Arab ‘ini adalah saksi yang menghancurkan’ yang merupakan kalimat berikutnya yang ditulis oleh penulis tersebut berarti bahwa penulis surat itu menulis dalam kaitan dengan beberapa bukti yang berkaitan dengan sengketa. Kebetulan Hafiz Nur Ahmad tidak bisa berangkat ke Amritsar hari itu karena hujan deras. Ketidakmampuannya untuk pergi karena penyebab Samawi sebenarnya merupakan isyarat dari pengabulan doa saya sehingga, seperti permohonan saya, ia sendiri bisa menyaksikan sendiri pemenuhan nubuatan tersebut. Singkatnya, seluruh nubuatan tersebut disampaikan kepadanya.

Pada sore harinya, di hadapannya, saya menerima surat tercatat dari Pendeta Rajab Ali, pemilik dan pengelola Safir Hind Press, Amritsar, melaporkan bahwa ia telah mendaftarkan gugatan terhadap juru tulisnya, yang juga juru tulis buku ini, di Pengadilan rendah dan telah memberikan nama saya sebagai saksi. Pada saat yang sama saya menerima panggilan dari pengadilan. Penafsiran tulisan Arab yang berarti ‘ini saksi yang menghancurkan’ kemudian menjadi nyata karena pemilik Safir Hind Pers benar-benar yakin bahwa kesaksian saya, yang ia yakin akan sesuai dengan fakta-fakta, akan terbukti menghancurkan untuk bobot, kejujuran, dan reliabilitas (dapat dipercaya) terdakwa. Itulah sebabnya pemilik percetakan telah menjadikan saya sebagai saksi. Kebetulan hari di mana nubuatan ini terpenuhi juga hari di mana nubuatan lainnya yang disebutkan di atas juga terpenuhi. Dengan demikian, Miyan Nur Ahmad menyaksikan penggenapan nubuatan juga, yakni, uang yang diterima pada hari itu setelah berakhirnya masa sepuluh hari dan saya dipanggil dan harus pergi ke Amritsar. [ Alhamdulillaahi alaa dzalika) ( Tadhkirah, hlm 67-69, edisi 2009 )

Inilah yang Hudhur ingin katakan sehubungan dengan tanda-tanda Hadhrat Masih Mau’ud as dalam khotbah hari ini yang berdasarkan pertanyaan yang diajukan di program MTA Rah-e-Huda. Beliau akan menguraikan masalah ini di masa mendatang. Hari ini beliau ingin berbicara tentang kekhawatiran Hadhrat Masih Mau’ud as tentang pengamalan Jemaat beliau. Sebelum itu Hudhur membacakan kutipan biografi Hadhrat Masih Mau’ud as yang ditulis oleh Sahibzada Mirza Bashir Ahmad Sahib. Hudhur bersabda bahwa adalah rahmat dan berkat Tuhan pada Jemaat Ahmadiyah bahwa ketika Khalifah-e-waqt ditarik ke suatu masalah, dan jika masalah tersebut bersifat untuk perbaikan maka sebagian besar anggota Jemaat memberikan perhatian atasnya. Hudhur menilai ini dari surat-surat yang beliau terima serta ketika pembantu khalifah mengirimkan kutipan yang relevan yang mereka ingat. Kutipan dari buku Sahibazada Mirza Bashir Ahmad Sahib telah dikirim ke Hudhur oleh seorang mubaligh kita ketika Hudhur membahas tentang perbaikan amal.

Kutipan tersebut menceritakan bahwa Maulwi Syed Shah Sahib memberitahu Sahibzada Mirza Bashir Ahmad Sahib bahwa suatu kali Mir Nasir Nawab Sahib dan Maulwi Muhammad Ali Sahib berselisih dan Mir Sahib memberitahu Hadhrat Masih Mau’ud as tentang hal itu. Ketika Maulwi Muhammad Ali Sahib mengetahui hal ini, ia pergi kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengatakan bahwa ia telah datang ke Qadian sehingga ia bisa mengkhidmati agama dalam beberapa cara, sambil bergaul dengan Hadhrat Masih Mau’ud. Namun, jika keluhan diajukan tentang dirinya kepada Hadhrat Masih Mau’ud dalam hal ini, sangat mungkin bahwa sebagai manusia, Hadhrat Masih Mau’ud mungkin berpikir negatif tentang Maulwi Muhammad Ali. Dalam hal ini bukannya menguntungkan, kedatangannya ke Qadian akan merugikan baginya.

Atas hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ‘Mir Sahib mengatakan sesuatu kepada saya, tapi saya begitu tenggelam dalam kekhawatiran saya sendiri sehingga saya dapat bersumpah demi Allah bahwa saya tidak tahu apa yang dikatakan Mir Sahib dan apa yang dia tidak katakan. Sejak beberapa hari sebuah pemikian telah membuat saya sangat gelisah dan telah benar-benar memisahkan saya dari hal-hal lain. Sepanjang hari hanya pikiran ini saja yang tetap dalam benak saya. Saya duduk dengan orang-orang dan seseorang mengatakan sesuatu kepada saya tapi pikiran yang sama memenuhi pikiran saya. Orang itu mungkin berpikir saya mendengarkannya tapi saya asyik dengan pikiran yang sama. Pikiran itu mengikuti saya ketika saya kembali ke rumah. Singkatnya, hari-hari ini pikiran ini telah sangat menyibukkan benak saya sehingga tidak ada ruang untuk setiap pikiran lain!

Apa pemikiran ini? Ini adalah bahwa tujuan sebenarnya kedatangan saya adalah untuk mempersiapkan sebuah Jemaat orang-orang mukmin sejati yang benar-benar beriman kepada Allah, memelihara hubungan sejati dengan-Nya dan menjadikan Islam sebagai jalannya dan menerapkan teladan penuh berkat Rasulullah saw. Bahwa Jemaat ini menempuh jalan perbaikan dan ketakwaan dan menegakkan teladan moral agar dunia dapat menerima bimbingan dari Jemaat tersebut dan kehendak Allah terpenuhi. Jika tujuan ini tidak terpenuhi, bahkan jika kita mengalahkan musuh dengan bukti-bukti dan penalaran (logika, rasionalitas) dan benar-benar mengalahkannya, maka kemenangan kita bukanlah merupakan kemenangan karena tujuan sejati kedatangan saya belum terpenuhi – itu seolah-olah semua pekerjaan kita menjadi sia-sia. Namun, saya melihat bahwa tanda-tanda nyata kemenangan dalam hal bukti dan penalaran sedang nampak jelas dan musuh juga merasakan kelemahan mereka, namun Jemaat kita sangat lemah berkaitan dengan tujuan sejati kedatangan saya dan sangat perlu memberikan perhatian dalam hal ini. Ini adalah pikiran yang menguasai saya hari-hari ini dan begitu dominan sehingga tidak meninggalkan saya kapan pun!’

Inilah kepedihan yang telah menyebabkan Hadhrat Masih Mau’ud as gelisah. Selain tulisan-tulisan beliau, ada sepuluh volume ‘Malfuzat’ yakni catatan singkat tentang majelis (tanya-jawab dan ceramah nasehat) Hadhrat Masih Mau’ud as. Masing-masing dari sepuluh volume ini memperlihatkan harapan Hadhrat Masih Mau’ud as kepada Jemaat dan nasehat beliau kepada Jemaat serta masalah perbaikan amal dari berbagai segi. Beberapa di antaranya disampaikan oleh Hudhur hari ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Saya telah mengatakan mengenai kecintaan dan kerukunan dalam Jemaat bahwa kalian hendaknya memiliki keharmonisan dan kesatu-paduan. Ini adalah ajaran yang Allah berikan kepada umat Islam, yakni bersatulah jika tidak, kalian akan runtuh. Perintah untuk berdiri dekat satu sama lain dalam Shalat adalah untuk mendorong persatuan, sehingga kebaikan dalam satu orang merembes seperti aliran listrik pada satu sama lain. Jika berselisih dan tidak ada persatuan, kalian akan merugi. Rasulullah saw mengatakan untuk mencintai satu sama lain dan berdoa secara pribadi untuk satu sama lain. Jika seseorang berdoa untuk orang lain secara pribadi malaikat mengatakan ‘semoga yang sama untukmu.’ Betapa baik hal ini! Jika doa manusia tidak dikabulkan, doa malaikat dikabulkan. Aku menasehati kalian dan ingin mengatakan kepada kalian jangan memiliki perselisihan satu sama lain. Aku hanya menyampaikan dua hal. Pertama, tegakkan Keesaan Tuhan dan kedua cintai dan bersimpati satu sama lain. perlihatkan teladan yang menjadi mukjizat bagi orang lain. Ini adalah tanda yang ditanamkan dalam diri para sahabat,

كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ

“… ketika kalian bermusuhan maka dia menyatukan hati kalian dengan kecintaan… ” ( 3:104 )

Ingat, kesatu-paduan adalah sebuah keajaiban. Ingat, kecuali masing-masing dari kalian menyukai untuk saudaranya apa yang dia sukai untuk dirinya sendiri, ia bukan dari Jemaatku. Dia dalam kesulitan dan bencana dan kesudahannya tidak baik.”

“Ingat, menghilangkan kebencian adalah tanda Mahdi. Apakah tanda ini tidak akan terjadi? Tentu, itu akan terjadi. Mengapa kalian tidak bersabar! Sama seperti dalam hal-hal medis beberapa penyakit tidak hilang kecuali mereka benar-benar diberantas. Insya Allah sebuah Jemaat yang saleh akan terbentuk melaluiku. Apa alasan untuk saling bermusuhan? Kikir, kesombongan, egoisme dan emosi. Aku akan mengeluarkan dari Jemaatku semua orang yang tidak memiliki kendali atas emosi mereka dan tidak bisa hidup dengan kecintaan satu sama lain dan persatuan. Mereka yang seperti ini harus ingat bahwa mereka berada di sini (di dunia ini) hanya untuk beberapa hari! Kecuali mereka menunjukkan contoh yang baik aku tidak ingin menanggung keberatan pada diriku sendiri disebabkan oleh orang lain. Seseorang yang ada di Jemaatku tapi tidak bertindak sesuai dengan keinginanku adalah seperti cabang kering. Apa lagi yang bisa dilakukan tukang kebun kecuali memotongnya? Bergabunglah ke cabang hijau. Meskipun cabang kering menyerap air, ia tidak tetap menghijau. Sebaliknya, cabang tersebut juga merugikan cabang-cabang lain. Oleh karena itu, takutlah, orang yang tidak memperbaiki dirinya tidak akan tinggal denganku.”

Hudhur bersabda kita telah mendengar kutipan ini sebelumnya, namun ketika dihubungkan dengan kutipan yang menyatakan kepedihan Hadhrat Masih Mau’ud as selama berhari-hari ketika yang beliau pikirkan adalah perbaikan amal Jemaat beliau, itu menyebabkan perhatian khusus. Dalam menggambarkan seorang mukmin sejati, beliau bersabda:

“Aku katakan secara terbuka bahwa kecuali Allah Ta’ala diutamakan daripada segala sesuatu yang lain, dan kecuali Dia bisa melihat bahwa seseorang adalah kepunyaan-Nya sepenuhnya, orang itu tidak bisa disebut seorang mukmin sejati… Muslim adalah orang yang merupakan gambaran “أسلم وجهه لله”.  ‘aslama wajhahu lillaah’ ‘…menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah…’ ( 2 : 113 ). وجھہ ‘wajhun’ [dalam ayat ini] berarti wajah, namun, hal ini artinya juga berlaku untuk pribadi orang. Dengan demikian, orang yang menyerahkan diri dengan seluruh kemampuannya kepada Allah pantas disebut seorang Muslim sejati. Aku ingat bahwa ada seorang Muslim mengajak seorang Yahudi masuk Islam dan berkata, ‘Kamu harus menjadi seorang Muslim’ tapi dirinya terlibat dalam kejahatan dan dosa. Orang Yahudi itu berkata kepada orang Muslim yang penuh dosa itu, ‘ lihatlah diri kamu terlebih dahulu dan jangan bangga bahwa kamu dikenal sebagai seorang Muslim.’ Allah SWT menginginkan intisari Islam, bukan nama dan kata-kata belaka.”

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda : “Ingatlah hanya kata-kata belaka tidak akan berhasil kecuali didukung oleh amalan. Kata-kata belaka tidak memiliki nilai dalam pandangan Allah, oleh karena itu, Allah Ta’ala telah menyatakan:

كبر مقتا عند الله أن تقولوا ما لا تفعلون

‘.Sungguh dibenci dalam pandangan Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan’ (61:4)

Hadhrat Masih Mau’ud as mengajarkan bahwa jika seseorang ingin mengkhidmati Islam, pertama dia harus menjalankan ketakwaan. Dia berfirman:

صابِروا ورابِطوا ‘…sabarlah dan berusahalah untuk unggul dalam kesabaran…’ ( 3:201 )

Sama seperti perlu memiliki kuda di garis depan sehingga musuh tidak melewati batas, kalian juga harus siap, jangan sampai musuh melewati garis depan dan merugikan Islam. Saya telah mengatakan ini sebelumnya bahwa jika kalian ingin memajukan dan mengkhidmati Islam, pertama jalankan ketakwaan dan kesucian yang dengannya kalian dapat masuk ke dalam perlindungan teguh Allah Ta’ala dan kemudian mendapat hak mengkhidmati Islam. Kalian lihat betapa telah lemahnya kekuatan luar umat Muslim. Bangsa-bangsa melihat mereka dengan kebencian dan penghinaan. Jika kekuatan batin kalian juga melemah dan terkalahkan, maka anggaplah bahwa ini sudah habis. Karena itu, kalian harus memurnikan jiwa kalian supaya kekuatan kesucian meresapinya dan jiwa kalian menjadi kuat dan protektif seperti kuda di garis depan (perbatasan).

Karunia Allah Ta’ala selalu beserta orang bertakwa dan jujur​​. Jangan menjadikan akhlak dan cara hidup kalian sedemikian rupa sehingga mereka menyebabkan cacat pada [nama] Islam. Orang Muslim yang melakukan perbuatan buruk dan tidak mematuhi ajaran Islam adalah penyebab cacat pada [nama] Islam. Ada orang Muslim minum alkohol dan muntah di sembarang tempat. Sorbannya menggantung di lehernya saat ia jatuh di selokan dan dipukuli oleh polisi. Orang-orang Hindu dan Kristen menertawakannya dan perbuatan melawan hukum itu tidak hanya menyebabkan aib diri sendiri, tapi di belakang layar efek [negatif]nya mencapai Islam. Saya sangat sedih membaca berita dan laporan dari penjara semacam itu, ketika saya melihat berapa banyak umat Islam yang patus disalahkan karena perbuatan buruk mereka. Hati saya gelisah bahwa orang-orang yang telah diberi jalan yang benar, tidak hanya merugikan diri mereka sendiri dengan pelanggaran mereka, tetapi juga menyebabkan Islam dihina. Keprihatinan saya adalah bahwa umat Islam bisa terlibat dalam tindakan terlarang yang tidak hanya merugikan mereka tetapi juga Islam. Oleh karena itu, jadikan perbuatan dan tindakan Kalian sedemikian rupa sehingga orang-orang kafir tidak mendapatkan kesempatan untuk melakukan kritik pada Kalian, yang sebenarnya adalah kritik terhadap Islam.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentang syukur: “Syukur sejati adalah dalam [menjalankan] ketakwaan dan kesucian. Syukur sejati bukanlah ketika seorang Muslim menjawab dengan mengatakan Alhamdulillah. Jika kalian menjalankan cara-cara syukur sejati, yaitu ketakwaan dan kesucian, maka aku memberi kabar gembira kepada kalian bahwa tak ada yang bisa mengalahkan Kalian ketika Kalian berdiri di garis depan.”

Hadhrat Masih Mau’ud as melanjutkan dengan menyampaikan cerita yang diberitahukan seorang Hindu, yang adalah seorang perwira pemerintah, kepada beliau. Dia mengatakan bahwa dia bekerja di tempat di mana seorang pekerja Hindu suka diam-diam mengerjakan Shalat, dan pengawas tidak begitu memperhatikannya. Para pekerja Hindu memutuskan untuk membuat dia dipecat dari pekerjaan. Mereka mencoba menyampaikan beberapa keluhan tentang dia dan telah mengumpulkan banyak kritik terhadap dirinya untuk tujuan ini dan biasa melaporkan ke pengawas berulang kali. Jika atasan menjadi terlalu marah dan memanggil orang yang mengerjakan Shalat itu, segera setelah ia muncul, kemarahan atasan akan mereda dan ia mengingatkannya dengan lembut seolah-olah ia tidak melakukan kesalahan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Hendaknya diingat betul bahwa ada manfaat dalam segala hal. Lihatlah di seluruh dunia, dari tanaman tingkat tinggi sampai hewan pengerat dan serangga, tidak ada yang tidak bermanfaat bagi manusia. Semua hal-hal biasa ini, baik mereka dari bumi maupun dari luar, adalah bayangan dari sifat-sifat Allah Ta’ala. Ketika ada begitu banyak manfaat dalam sifat-sifat [Tuhan], bayangkan manfaat yang ada dalam wujud Tuhan! Hal ini juga harus diingat di sini bahwa kita kadang-kadang dirugikan oleh hal-hal ini, yakni karena kesalahan dan kurangnya pemahaman kita sendiri, dan bukan karena hal-hal ini memang merugikan, tapi kerugian ini timbul karena kesalahan dan kekeliruan kita sendiri, demikian pula kita mengalami kesulitan dan masalah karena tidak memiliki pengetahuan tentang beberapa sifat Ilahi, jika Allah Ta’ala adalah Rahim dan Karim. alasan kita mengalami kesulitan dan kesedihan di dunia ini adalah bahwa kita mendapatkan kesulitan karena kurangnya pemahaman dan pengetahuan kita sendiri.”

Hadhrat Masih Mau’ud as selanjutnya menjelaskan bahwa kita mendapati Allah Ta’ala Rahim dan Karim dan sangat berfaedah melampau bayangan kita, melalui sifat-sifat-Nya. Dan orang-orang yang paling dekat dengan Dia mendapatkan banyak manfaat dan kedudukan ini diberikan kepada mereka yang disebut orang mutaki. Orang seperti itu diberi cahaya petunjuk yang membangkitkan cahaya khusus dalam pengetahuan dan akal sehatnya. Sebaliknya semakin jauh seseorang adalah dari Allah Ta’ala kegelapan yang merusak menguasai hati dan pikirannya, sedemikian rupa sehingga ia menjadi contoh: “صم بكم عمي فهم لا يرجعون”.

“Mereka tuli, bisu dan buta… ‘ ( 2:19),

 sementara mereka yang mendapatkan nur dan cahaya diberikan kedamaian dan kehormatan yang sangat tinggi. Allah Ta’ala telah menyatakan:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Dan engkau, hai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu, kamu ridha kepada-Nya dan Dia juga ridha kepadamu ‘ ( 89 : 28-29 ).

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda beberapa orang menemukan kepuasan lahiriah dalam kekuasaan, sebagian menemukan kepuasan dalam harta dan penghormatan, sementara yang lain tampaknya puas dengan anak dan pembantu yang cantik dan pintar. Namun kesenangan semacam ini dan segala macam kesenangan duniawi tidak bisa memberikan manusia kepuasan dan ketenangan sejati. Bahkan itu menghasilkan suatu keserakahan dan keinginan kotor. Orang-orang ini tidak pernah kenyang sampai saatnya tiba ketika mereka dihancurkan. Namun, Allah Ta’ala menyatakan bahwa orang yang menemukan kedamaian pada Allah Ta’ala, adalah mungkin bahwa untuk orang seperti ini kekayaan dan kemegahan duniawi bukanlah penyebab kesenangan sejati. Hadhrat Masih Mau’ud as berabda: “Kecuali manusia menemukan kedamaian dan kepuasan pada Tuhan, ia tidak bisa mendapatkan najat karena najat hanyalah sebuah kata lain untuk kedamaian dan kepuasan!’

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ” Saya telah melihat beberapa orang dan telah membaca tentang banyak orang yang memiliki harta benda dan kekayaan duniawi dan kemewahan palsu dunia, dan segala macam berkat seperti anak-anak dan pembantu. Ketika mereka akan mati dan menyadari bahwa mereka akan meninggalkan dunia ini dan akan meninggalkan semua kepunyaan mereka dan pergi ke alam berikutnya, mereka terbakar oleh keinginan menyesal! Jadi, ini juga merupakan suatu neraka yang tidak dapat membawa kepuasan dan pemenuhan pada manusia, sebaliknya menempatkannya dalam kecemasan dan kegelisahan. Jadi, kenyataan ini hendaknya tidak tersembunyi dari teman-teman saya bahwa seringkali manusia begitu tenggelam dalam hal-hal yang tidak adil dan tak berdasar, kecintaan pada keluarga dan harta benda, sehingga seringkali didorong oleh gairah dan kecintaan yang berlebihan ini ia mulai melakukan tindakan tak berdasar seperti membuat jarak antara dirinya dengan Allah Ta’ala dan mempersiapkan neraka bagi dirinya. Dia tidak ingat kepada waktu ketika ia tiba-tiba terpisah dari mereka dan ia menjadi sangat gelisah. Hal ini dapat dipahami dengan mudah bahwa pemisahan dari sesuatu yang dicintai menciptakan kesedihan dan duka yang menyakitkan. Sekarang, hal ini bukan hanya berdasarkan kitab suci tetapi juga berdasarkan logika. Seperti dinyatakan :

نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ * الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ

“Ini adalah api Allah yang dinyalakan, yang naik sampai ke hati’ (104: 7-8) Ini adalah api kecintaan kepada selain Allah yang membakar hati manusia menjadi abu dan menempatkannya dalam kepedihan dan penderitaan yang amat sangat. Saya katakan sekali lagi bahwa memang benar bahwa manusia tidak dapat mendapatkan najat tanpa [mencapai keadaan] jiwa yang tenang.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Allah Ta’ala tidak peduli pada siapa pun kecuali orang yang bertakwa. Tanamkan kecintaan satu sama lain dan persatuan dan tinggalkan kejijikan dan konflik dan hentikan segala macam ejekan dan cemoohan karena ejekan membuat hati terpencil dan jauh dari kebenaran. Perlakukan satu sama lain dengan hormat dan setiap orang hendaknya mendahulukan kenyamanan saudaranya atas kenyamanan sendiri. Tegakkan perdamaian sejati dengan Allah Ta’ala dan kembalilah pada ketaatan-Nya. Kemurkaan Allah Ta’ala sedang turun ke bumi dan hanya mereka yang diselamatkan dari itu yakni yang benar-benar bertobat atas dosa-dosa mereka dan tunduk kepada-Nya. Ingat bahwa jika kalian menenggelamkan diri di jalan Allah Ta’ala dan setia dalam memajukan agama-Nya, Allah akan menghapuskan semua hambatan kalian dan kalian akan sukses. Apakah kalian tidak memperhatikan bagaimana petani mencabut dan membuang gulma demi tanaman yang baik dan mengatur bidangnya dengan pohon-pohon yang menarik dan tanaman yang menghasilkan! Dia menjaga mereka dan melindungi mereka dari segala bahaya. Namun, sang pemilik tidak peduli jika sapi makan pohon-pohon dan tanaman yang tidak menghasilkan, yang busuk atau kering atau jika seseorang memotongnya untuk kayu bakar. Oleh karena itu, kalian juga harus ingat bahwa jika kalian dianggap benar oleh Allah Ta’ala, tidak ada penentangan yang akan menyulitkan kalian. Namun, jika kalian tidak memperbaiki diri sendiri dan tidak benar-benar berjanji taat kepada Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala juga tidak peduli pada siapa pun. Ribuan domba dan kambing disembelih dan tidak ada yang merasa kasihan pada mereka tetapi jika seseorang dibunuh berapa banyak penyelidikan yang berlangsung! Jika kalian menjadikan diri kalian tidak berguna dan ceroboh seperti binatang, kalian juga akan berakhir begitu. Perlu bahwa kalian mesti bergabung dengan kekasih Tuhan sehingga tidak ada wabah atau bencana akan berani menyerang kalian karena tidak ada yang terjadi di dunia tanpa izin Allah Ta’ala. Hilangkan semua konflik saling permusuhan karena saat ini adalah waktunya kalian menghindari hal-hal yang tidak penting dan menyibukkan diri dalam tugas-tugas penting dan luar biasa!”

Hadhrat Masih Mau’ud as juga mengatakan sebagai berikut: ”Ingat ini sebagai wasiat; jangan pernah bersikap memaksa dan keras. Selalu jelaskan dengan lembut dan jangan gunakan kemarahan.”

“Ingat, untuk masa depan jangan pernah meninggalkan hak-hak [menjaga] keserasian diantara umat manusia, jika tidak hak-hak Allah juga tidak akan terjaga.”

“Aku telah diberitahu bahwa “أن الله لا يغيِّر ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم” ‘… Sesungguhnya, Allah tidak mengubah kondisi suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada di hati mereka…” (13:12)

Dengarkan ini, semua orang mengatakan bahwa mereka mengerjakan Shalat dan juga sibuk dalam Istaghfar, mengapa kemudian mereka menghadapi cobaan dan penderitaan? kenyataanya adalah bahwa orang yang memahami cara-cara Allah Ta’ala sungguh beruntung. Kehendak Allah lain dan manusia mengharapkan yang lain, dan kemudian mengukurnya sesuai dengan kecerdasan dan pemahamannya. Ini tidak benar. Apa pun yang digunakan kurang dari jumlah yang ditentukan tidak akan memberikan manfaat sebagaimana seharusnya. Sebagai contoh, jika obat harus diberikan dalam jumlah yang diperlukan tetapi hanya diambil setetes, apa manfaat yang akan timbul? Jika bukan makan roti, hanya makan remah, bisakah itu menjadi sumber kepuasan, dan bisakah setetes air memuaskan dahaga dibandingkan secangkir air? Sama sekali tidak: demikian juga dengan amalan. Kecuali mereka diatur, mereka tidak datang mencapai batas. Ini adalah jalan Allah yang tidak bisa kita ubah!’

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda :

“Bersimpati kepada saudara adalah seperti sedekah dan amal dan itu termasuk dalam hak-hak umat manusia, yang merupakan kewajiban. Sama seperti Allah Ta’ala telah mewajibkan puasa dan shalat bagi diri-Nya, Dia juga telah mewajibkan melindungi hak-hak umat manusia.”

‘Seseorang yang meninggalkan simpati, seolah-olah ia meninggalkan iman. Al-Qur’an menyatakan :

مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ  اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ  اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾

“… barangsiapa membunuh seseorang – kecuali karena dia membunuh seseorang atau membuat kekacauan di muka bumi – seolah-olah dia telah membunuh umat manusia seluruhnya…” (5:33)

Aku katakan, demikian juga jika seseorang tidak bersimpati kepada saudaranya, maka seolah-olah dia tidak bersimpati kepada seluruh dunia. Jangan mencintai kehidupan sampai tahap kalian kehilangan keimanan. Jangan pernah meninggalkan hak-hak persatuan umat manusia.”

“Para penentang kita memiliki permusuhan terhadap kita dan berharap Jemaat dihancurkan. Hendaknya diingat bahwa meskipun adanya permusuhan mereka, saya setuju dengan mereka dalam satu hal, dan itu adalah bahwa Allah Ta’ala telah menghendaki bahwa Jemaat ini bebas dari dosa dan bahwa Jemaat ini menunjukkan teladan perilaku yang baik dan benar-benar mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan sungguh-sungguh setia dalam ketaan kepada Rasulullah saw. Hendaknya tidak ada saling dendam di dalamnya dan Jemaat ini harus menjadi Jemaat yang sepenuhnya dan benar-benar mencintai Allah Ta’ala. Namun, jika setelah bergabung dengan Jemaat ini, seseorang masih tidak memenuhi tujuan ini dan tidak menunjukkan perubahan tulus dalam amal, maka ia hendaknya ingat bahwa ia akan memenuhi keinginan para pengkritiknya, ia pasti akan hancur. Allah Ta’ala tidak memiliki hubungan dengan siapa pun dan Dia tidak peduli pada siapapun. Keturunan itu yang disebut keturunan para nabi, yaitu bani Israel, di dalamnya banyak Nabi dan Rasul datang, dan yang menjadi penerima berkat-berkat besar dari Tuhan Yang Maha Esa. Namun, apa yang akibatnya ketika kondisi rohaniah mereka memburuk dan mereka meninggalkan jalan yang benar? Mereka menjadi gambaran dari: “ضُربت عليهم الذلة والمسكنة”

‘dhuribat ‘alaihimudz dzillatu wal maskanah’ – ‘…Dan mereka ditimpa kehinaan dan kemiskinan…’ (2: 62)

Kemurkaan Allah menimpa mereka. Ini adalah peringatan. Sebuah pelajaran konstan yang besar dipelajari dari kondisi bangsa Israel. Demikian pula, Allah Ta’ala menjadikan Jemaat ini dengan tangan-Nya sendiri, dan ini adalah sebuah Jemaat yang kepadanya Tuhan akan melimpahkan berkat-berkat besar. Namun, jika seseorang bergabung dengan Jemaat ini dan tidak benar-benar mencintai Allah Ta’ala dan tidak sungguh-sungguh mengikuti Rasulullah saw, baik dia penting atau tidak, dia akan dipotong dan akan dihukum oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kalian harus melakukan perubahan yang menyeluruh dan tidak memburukkan (nama) Jemaat.”

Ini adalah standar yang harus menjadi cita-cita kita, memang, harus cita-cita kita; menjalankan ketakwaan, memperbaiki amalan kita dan meningkatkan derajat keimanan. Ini bukan hal kecil. Kita telah menerima Imam zaman dan kita harus melakukan upaya untuk mencapai harapan beliau. Kita harus berusaha mengerjakan kebajikan sekecil apapun dan harus menghindari setiap kejahatan. Kita perlu meningkatkan kecintaan, kasih sayang dan persatuan. Kita mesti menjadi penolong satu sama lain’, barulah kita bisa memenuhi syarat Bai’at. Semoga Tuhan memberi taufik kepada kita untuk melakukannya!

Selanjutnya Hudhur mengingatkan untuk berdoa bagi negara-negara Muslim, khususnya Suriah dan Mesir di mana kekacauan dan penganiayaan berlangsung. Muslim Ahmadi di Pakistan juga dianiaya dengan keji dan mereka selalu disadarkan mengenai kurangnya keselamatan mereka. Semoga Allah melindungi mereka semua dan semoga Dia cepat mengadili para pemberontak dan orang-orang yang menciptakan kekacauaan!

Penerjemah         : Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin
Editor                    : Mln. Dildaar Ahmad Dartono

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

(Visited 12 times, 1 visits today)