Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 15 April 2005 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

لَقَدْ جَآءَ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِاْلمؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

‘Laqad jaa-akum rasuulum min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu-miniina ra-uufur rahiim.’

“Sesungguhnya seorang Rasul diantara kalian telah datang kepada kalian. Dia tidak kuat menahan derita yang kalian tanggung. Dia menghendaki kebaikan pada kalian. Dia sangat murah hati dan penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At-Taubah [9]: 128)

Dimana Hadhrat Rasulullah saw gelisah untuk kebaikan rohani orang lain dan kaumnya dan guna mengikatkan mereka kepada Allah Ta’ala, disana timbul gejolak simpati yang mendalam yang memenuhi hati beliau saw disebabkan penderitaan makhluk. Kesadaran akan penderitaan orang lain melebihi penderitaan beliau saw sendiri. Bahkan, penderitaan sendiri beliau saw tidak rasakan. Setiap waktu beliau saw berpikir, dimana aku mendapatkan peluang dan aku punya rasa simpati terhadap makhluk Allah, aku dapat berguna untuknya, aku panjatkan doa-doa bagi mereka dan aku singkirkan penderitaan-penderitaan mereka. Kata-kata yang digunakan oleh Allah Ta’ala bagi beliau saw adalah Rasul ini menghendaki kebaikan kalian. Kata ‘menghendaki’ bukanlah makna terbatas sebagaiman kita katakan sebagai keserakahan. Meskipun termasuk dalam keserakahan juga, ini bukanlah hal yang biasa. Kalau dunia serakah, maka itu terjadi supaya kita mendapat untung, penderitaan-penderitaan kita menjadi jauh. Tetapi, jika Junjungan Tercinta kita saw ‘serakah’, maka itu terjadi supaya orang-orang lain memperoleh manfaat, penderitaan-penderitaan mereka disingkirkan.

Pendeknya, kata ini memiliki makna yang lebih luas lagi. Itu artinya, “Memiliki keinginan keras sehingga aku dapat mendatangkan faedah kepada orang lain dengan cara apa saja dan di dalamnya mengandung ketertarikan pribadi. Lalu, menghormati perasaan orang lain dengan sangat hati-hati dalam kaitan ini, memiliki rasa simpati dan empati kepadanya dan menanggung penderitaan sendiri untuknya.”

Inilah sikap Hadhrat Rasulullah saw. Beliau menyaksikan penderitaan orang lain, lalu menggunakan seluruh sarana dan prasarana untuk menjauhkan penderitaan tersebut. Dalam hati beliau tertanam gejolak kasih sayang yang amat dalam untuk menjauhkan penderitaan-penderitaan tersebut dan mendatangkan ketenangan kepada orang lain. Beliau saw tidak pernah lelah dalam hal itu. Gejolak rasa simpati dan kasih sayang kepada orang lain adalah sifat beliau saw, sehingga tidak ada yang dapat menandingi sifat tersebut. Contoh sempurna dan mulia dari sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Tuhan kepada orang-orang hanya dan hanya terdapat dalam pribadi beliau saw Hal ini disaksikan sendiri oleh Allah Ta’ala.

Dalam kaitan ini, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Daya tarik dan semangat diberikan kepada seseorang” (yakni, kekuatan untuk merasakan penderitaan-penderitaan dan kesadaran untuk menjauhkan penderitaan diberikan) “Ketika dia berada di bawah jubah Allah Ta’ala dan menjadi naungan Allah Ta’ala (zhilullah). Lalu, dia mendapati dalam dirinya sebuah kegelisahan demi rasa simpati dan kebaikan kepada makhluk. Nabi kita yang mulia saw melebihi semua Nabi dalam kedudukan ini. Oleh karena itu, beliau saw tidak tega melihat penderitaan makhluk. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ Itu artinya, Rasul ini tidak tega menyaksikan penderitaan-penderitaan kalian. Beliau sangat menderita terhadap hal itu dan beliau merasakan kegelisahan setiap saat guna mendatangkan manfaat-manfaat yang besar bagi kalian.”[2]

Jadi, kondisi perasaan beliau saw kepada orang lain menjadi lebih jelas.

Suatu penderitaan diantara berbagai macam penderitaan, kegelisahan yang akan menimpa seseorang, kurang lebihnya akan dihadapi olehnya. Bahkan, sebaiknya dikatakan bahwa setiap orang akan mendapati penderitaan dalam corak apapun. Itu bisa berupa kedukaan maupun penyakit jasmaniah. Sekarang, saya akan sampaikan sisi teladan Hadhrat Rasulullah saw bahwa bagaimana beliau saw selalu konsen terhadap menjenguk dan menjaga orang sakit serta doa-doa.

Kita ketahui dari teladan beliau saw bahwa gejolak perasaan yang beliau saw ungkapkan demi penderitaan orang lain tidak beliau saw tampilkan untuk diri beliau saw dan penderitaan beliau saw sendiri. Sebagaimana telah saya katakan bahwa beliau senantiasa memanjatkan doa-doa dengan penuh rintihan, sehingga sangat sulit untuk mendapati bandingannya. Saya akan sampaikan beberapa contoh, beberapa peristiwa, bagaimana beliau saw selalu berdoa untuk orang-orang sakit? Bagaimana beliau pergi dan menanyai mereka? Bagaimana karakter beliau saw? Tetapi, sebelumnya aku akan kemukakan kesaksian seorang sahabat ra.

Tertera dalam sebuah riwayat, Hadhrat Abu Umamah ra memberikan kesaksian, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ شَيْءٍ عِيَادَةً لِلْمَرِيضِ ‘Wa kaanan Nabiyya shallallahu ‘alaihi wa sallam ahsana syai-in ‘iyaadatan lil mariidh.’ – “Beliau saw adalah sebaik-baik penjenguk (orang sakit) diantara semua orang.”[3]

Jadi, jelas bahwa beliau saw selalu mengunjungi orang sakit dengan penuh rasa simpati melebihi sahabat-sahabat beliau saw. Penderitaan sekecil apapun pasti dirasakan oleh seseorang. Di dalamnya juga beliau saw selalu bertanya-tanya. Ketika seseorang terserang penyakit, tetapi jika sakitnya lebih dari 2/3 hari dan diketahui oleh beliau saw, maka beliau saw segera pergi menjenguknya dan berdoa untuknya.

Karena itu, tertera dalam sebuah riwayat dalam kaitan ini bahwa Hadhrat Anas Bin Malik ra menceritakan, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ لاَ يَعُودُ مَرِيضًا , إِلاَّ بَعْدَ ثَلاَثٍ. ‘Kaanan Nabiyya shallallahu ‘alaihi wa sallama laa ya’uudu mariidhan, illa ba’da tsalaatsin.’ – “Nabi yang mulia saw selalu pergi mengunjungi orang sakit yang lebih dari 3 hari.”[4]

Sebagaimana tertera dalam riwayat pertama bahwa tidak ada penjenguk orang sakit melebihi beliau saw Ketika beliau saw pergi untuk mengunjungi orang sakit dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka setengah penyakit orang tersebut seolah-olah menjadi hilang sendiri. Pada umumnya nampak bahwa jika seorang dokter memeriksa seorang pasien dengan konsentrasi (penuh perhatian) mendengarkan keluhannya maka setengah penyakit pasien tersebut menjadi hilang.

Para pasien menyukai para dokter yang memperhatikan mereka dengan penuh perhatian dan mendengarkan perkataan mereka. Bagaimana mungkin seorang pasien tidak akan merasakan kepulihan dengan kedatangan seorang tabib seperti itu yang melebihi semua tabib dan semua dokter? Yakni kedatangan seorang tabib yang mendengarkan keluhan pasien dengan penuh perhatian dan mendoakannya juga.

Keberkatan yang ada dalam pengobatan seorang pasien terjadi dengan karunia Allah Ta’ala. Kalau tidak ada izin Allah Ta’ala, maka tidak ada penyembuhan dalam obat. Penyembuhan dalam obat juga terjadi dengan perintah Allah Ta’ala. Inilah cara beliau saw bahwa kapan pun beliau saw pergi kepada orang sakit, pertama-tama beliau saw memanjatkan doa untuknya.

Hadhrat Aisyah ra menjelaskan bahwa ketika Hadhrat Rasulullah saw pergi untuk menjenguk seorang istri beliau saw, maka beliau saw mengusapkan tangan kanan beliau saw dan berdoa:

 اَذْهِبِ اْلبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ وَ اشْفِ اَنْتَ الشَّافِىْ لاَ شِفَاءَ اِلاَّ شِفَاءُكَ شِفَاءٌ لاَّ يُغَادِرُ سَقَمًا

Adz-hibil ba-sa Rabban naasi wasyfi Antasy Syaafi laa syifaa-a illa syifaa-uka syifaa-an laa yughaadiru saqama’

“Jauhkanlah penyakit ini, wahai Tuhan umat manusia. Berikanlah kesembuhan, karena Engkau Maha Penyembuh. Tidak ada penyembuhan kecuali penyembuhan Engkau. Berikanlah kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikit pun tanda penyakit itu.”[5]

Ini bukan hanya untuk keluarga beliau saw sendiri, bahkan beliau saw bersikap demikian kepada orang-orang sakit yang lain. Kapanpun beliau saw pergi untuk menjenguk orang sakit, maka beliau saw pasti memanjatkan doa untuknya.

Karena itu, terdapat dalam riwayat tentang kasihsayang beliau saw kepada para sahabat dan doa yang dipanjatkan oleh beliau saw bagi mereka dalam sakitnya. Hadhrat Aisyah binti Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu anhuma menceritakan: Ayahku menerangkan, “Aku sedang sakit keras di Mekkah. Lalu Rasulullah saw datang untuk menjengukku dan aku memohon, ‘Wahai Rasulullah saw! Aku memiliki banyak harta kekayaan, namun pewarisku hanya seorang anak perempuan’. Atas hal itu beliau bertanya, “Seberapa banyak properti yang harus aku tinggalkan (wariskan) untuknya?” — memang sedang ada perbincangan tentang properti (harta-kekayaan-warisan) – “Beliau bertanya, “Seberapa banyak yang harus aku tinggalkan (wariskan) untuknya?’”

Di sini karena [bahasan khotbah ini] berhubungan dengan bagian penyakit, saya sampaikan bagian itu saja. “Setelah perbincangan tersebut Hadhrat Rasulullah saw mengusapkan tangan beberkat beliau pada dahiku lalu mengusapkannya pada wajah dan perutku seraya berdoa: اَللّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا وَ اَتِمَّ لَهُ هِجْرَتَهُ (‘Allahummasyfi Sa’dan wa atimma lahu hijratahu.) — “Ya Allah, sembuhkanlah Sa’ad dan sempurnakanlah hijrahnya”. Hadhrat Sa’ad ra mengatakan bahwa “Manakala aku teringat peristiwa tersebut, maka aku merasakan kesejukan tangan Rasulullah saw pada perutku.”[6]

Lalu, Ibnu Munkadir meriwayatkan bahwa beliau mendengar Jabir bin Abdullah ra berkata, suatu kali aku sakit, maka Nabi yang mulia saw dan Abu Bakar ra datang untuk menjengukku. Mereka mendapatiku lagi pingsan. Hudhur saw berwudhu. Lalu, air sisa wudhu tersebut, beliau saw tuangkan kepadaku. Aku pun menjadi siuman. Ketika aku sadar, maka aku mendapati Nabi yang mulia saw sedang berada di sampingku.[7]

Demam tinggi dapat dipulihkan dengan air. Saat ini pun air digunakan untuk kompres. Tetapi, air yang ada pada saat itu penuh dengan doa-doa dan wudhu juga mungkin beliau saw lakukan karena beliau saw pada saat itu hendak memanjatkan doa khusus untuknya.

Kemudian, Abdullah bin Umar ra menerangkan bahwa kami hadir dalam majelis Hudhur saw. Tiba-tiba ada seorang Anshar datang. Hudhur saw bertanya kepadanya, ‘Bagaimana kabar saudaraku Sa’ad bin ‘Ubadah? Dia mengatakan, ‘Baik’. Hudhur saw bersabda, ‘Siapa saja diantara kalian yang akan berangkat menjenguknya?’ Oleh karena itu, Hudhur saw bangkit dan kami kira-kira 13 orang berangkat bersama Hudhur saw dan mencari tahu tentang kesehatan Hadhrat Sa’ad bin ‘Ubadah.[8]

Beliau saw membawa para sahabat beliau saw menengok orang sakit untuk memberikan kesadaran bahwa kita harus menjenguk orang sakit, kita harus merawat orang sakit. Adapun metode umum berdoa beliau saw adalah supaya orang-orang mengikutiku, kita akan berdoa dan sebanyak-banyaknya orang ikut serta dalam doa.

Ketika sakit, dalam pribadi seseorang banyak yang dirasa. Orang-orang yang jauh dari tanah kelahirannya, dalam keadaan demikian mereka banyak mengingatnya. Suatu kali, Hadhrat Abu Bakar ra dan Hadhrat Bilal ra sakit, kondisi perasaan mereka juga demikian rindu dengan tanah airnya (Makkah). Dalam kaitan detailnya, Ummul Mukminin, Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan bahwa ketika Hadhrat Rasulullah saw datang ke Madinah, Abu Bakar ra dan Bilal ra terkena penyakit demam. Hadhrat Aisyah ra mengatakan bahwa aku pergi untuk menjenguk mereka. Aku katakan kepada Hadhrat Abu Bakar ra, “Bapak! Bagaimana kabarnya? Dan engkau Bilal, bagaimana dengan kabarmu?”. Hadhrat Aisyah ra menceritakan bahwa ketika Hadhrat Abu Bakar ra demam, maka beliau membacakan syair:

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِىْ اَهْلِهِ

 وَ اْلمَوْتُ اَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ

‘Kullu mri-in mushabbahun fii ahlihi

Wal mautu adnaa min syiraaki na’lihi.’

“Setiap orang berpagi bersama dengan keluarganya

Padahal kematian lebih dekat daripada tali sandalnya.”

Ketika demam Hadhrat Bilal ra hilang, beliau menanggalkan cadar (selimutnya), beliau membaca syair karena ingat Makkah, “Wahai, merinding bulu romaku. Apakah aku akan bermalam di suatu lembah yang dikelilingi rumput-rumput idzkhir dan jalil? Apakah pada suatu hari aku menginginkan air Majnah? Apakah mereka akan menampakkan kebagusan dan kekeruhanku?” [Mengungkapkan kerinduan akan kampung halaman di Makkah dan kurang betah tinggal di Madinah. Red.]

Hadhrat Aisyah ra mengatakan bahwa ketika aku menyaksikan kondisi Hadhrat Abu Bakar ra dan Hadhrat Bilal ra, maka aku datang memberitahukannya kepada Hadhrat Rasulullah saw. Atas hal itu, Nabi yang mulia saw berdoa: “Ya Allah! Jadikanlah kami lebih menyintai kota Madinah seperti kami menyintai Makkah atau melebihinya. Perbaikilah iklimnya. Berkatilah sha’ dan mud bagi kami (yakni, ukuran). Pindahkanlah dan jauhkanlah penyakit ini ke daerah Juhfah.”[9]

Hadhrat Rasulullah saw bukan hanya merasakan gejolak perasaan mereka dan memanjatkan doa kesembuhan dari penyakit, bahkan memanjatkan doa untuk melahirkan kecintaan kepada kota Madinah guna menyingkirkan kegelisahan mereka karena jauh dari tanah air.

Lalu, dalam kaitan dengan doa-doa, Ummul Mukminin, Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan bahwa ketika ada seseorang dari antara keluarga Hadhrat Rasulullah saw sakit, maka Hudhur yang mulia saw selalu membacakan 2 surah Qul dan meniupkannya. Hadhrat Aisyah ra mengatakan bahwa ketika Hudhur saw sakit terakhir, maka aku bacakan kedua surah ini pada tangan Hudhur saw dan meniupkannya. Mengusapkan tangan beliau saw pada tubuh beliau saw Karena tangan beliau saw lebih beberkah daripada tanganku.[10]

Pelajaran yang diajarkan oleh beliau ini, selalu digunakan oleh para sahabat beliau saw

Lalu, ada sebuah riwayat. Hadhrat Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Nabi yang mulia saw mengunjungi orang sakit demam dan bersabda kepadanya, “Beberkahlah kamu. Allah Ta’ala berfirman, ‘Demam adalah api-Ku. Aku menguasakannya pada hamba-hamba-Ku yang berdosa, supaya mereka mendapatkan bagian dari api jahannam di dunia ini.’”[11]

Demikianlah, beliau saw menenangkannya dan menganjurkannya untuk bersabar. Beliau saw senantiasa menyampaikan kata-kata kepada orang yang sakit sesuai dengan keadaannya dan mengungkapkan kata-kata hiburan kepada berbagai orang sesuai dengan kondisi keimanannya.

Lalu, Hadhrat Zaid bin Arqam ra meriwayatkan, “Ketika mataku sakit, maka Hadhrat Rasulullah saw datang untuk menjengukku.”[12]

Ummul Mukminin, Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan bahwa ketika tangan Sa’ad bin Mu’adz ra terkena tombak musuh di perang Khandaq yang membuat urat nadinya putus, maka Hadhrat Rasulullah saw memasangkan tendanya di mesjid Nabawi, supaya beliau dapat mengurusnya dari dekat.[13]

Ketika luka ini tidak membaik, meskipun diobati, maka beliau saw menganggap tepat disebabkan kecintaan yang beliau saw berikan kepada para sahabat bahwa aku mendekatinya, supaya pengobatan dapat diawasi dan aku juga mendapatkan kepuasan dan beliau saw sendiri dapat merawat Hadhrat Sa’ad ra. Tertera dalam riwayat juga bahwa beliau saw telah mengatur sedemikian rupa untuk beliau, sehingga beliau saw menetapkan seorang perawat yang mengobati beliau, memperban beliau secara teratur dan merawat beliau. Di mesjid Nabaw terpasang tenda-tenda, dimana diatur untuk pengobatan orang-orang sakit setelah peperangan dan mereka dirawat secara teratur.

Lalu, Hadhrat Ummu ‘Ala ra menceritakan, “Aku sedang sakit dan Hadhrat Rasulullah saw datang ke rumahku untuk jenguk dan beliau saw bersabda untuk menenangkanku, ‘Ummu ‘Ala! Di satu sisi, penyakit itu menyenangkan. Karena Allah Ta’ala menjauhkan kesalahan-kesalahan seorang Muslim karena penyakit, seperti halnya api menjauhkan kotoran emas dan perak.’”[14]

Lihatlah, dengan cara apa beliau saw selalu memberikan ketenangan kepada orang-orang sakit? Beliau saw tidak membenarkan bahwa orang yang sakit didoakan buruk karena suatu penyakit. Orang yang sakit dicaci bahwa orang ini terkena penyakit menular, seperti halnya telah menjadi kebiasaan sebagian orang.

Hadhrat Jabir ra meriwayatkan bahwa Nabi yang mulia saw pergi ke Ummu Saib. Beliau saw melihat beliau berada dalam penderitaan. Atas hal itu, Hadhrat Rasulullah saw bertanya, “Apa yang terjadi padamu?” Ummu Saib menjawab, “Aku demam, semoga Tuhan merampasnya”. Mendengar hal ini, Nabi saw bersabda, “Tunggu, jangan caci demam. Karena ini menjauhkan kesalahan-kesalahan orang mukmin, seperti halnya panggang api menjauhkan kotoran emas.”[15]

Kita harus memanjatkan doa kesembuhan kepada Allah Ta’ala. Beliau saw sendiri senantiasa melakukannya bagi orang-orang sakit, tetapi jangan sampai memanjatkan doa buruk sedemikian rupa. Kita hendaknya memohon pertolongan Allah Ta’ala dengan doa, sedekah dan kebaikan-kebaikan. Anjuran tentang kesabaran terhadap penyakit tidak hanya untuk orang lain, bahkan jika dia sendiri sakit atau berada dalam penderitaan, maka dia harus lebih memperlihatkan kesabaran lebih dari sebelumnya.

Peristiwa tentang penyakit beliau pernah disinggung dalam sebuah riwayat. Hadhrat Abu Sa’id Khudri ra meriwayatkan bahwa beliau hadir di hadapan Nabi yang mulia saw dalam keadaan beliau saw demam dan beliau berbaring dengan memakai cadar (selimut). Hadhrat Abu Sa’id Khudri ra mengusapkan tangan beliau di atas cadar beliau saw, maka beliau merasakan panas demam Hudhur saw dari atas cadar. Demam yang cukup tinggi. Hadhrat Abu Sa’id ra mengatakan, “Ya Hadhrat Rasulullah saw! Demam anda begitu tinggi”.

Atas hal itu Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Ujian menimpa kami sedemikian kerasnya dan pahala juga demikian meningkat diberikan kepada kami”. Hadhrat Abu Sa’id Khudri ra memohon, “Ya Hadhrat Rasulullah! Siapa saja yang akan menghadapi ujian yang begitu keras?”. Hudhur saw bersabda, “Para Nabi. Setelah itu, orang-orang shaleh dan seseorang diantara orang-orang shaleh akan diuji dengan kemiskinan dan karena miskinnya, dia hanya memiliki jubah untuk digunakan dan dimanfaatkan untuk pakaian dan jubah juga. Kadang dia diuji dengan kutu dan kutu tersebut begitu banyak, sehingga dia dibunuhnya dan diantara mereka begitu senang terhadap ujian, seperti halnya seseorang diantara kalian senang dengan mendapatkan sesuatu.”[16]

Ini memang uswah beliau saw bahwa sabar terhadap penyakit dan lebih banyak tunduk di hadapan Allah Ta’ala. Para memang suci dan beliau saw adalah yang paling suci. Beliau saw bersabda bahwa setanku telah menjadi Muslim. Penyakit para Nabi bukanlah untuk menyucikan dari dosa-dosa, bahkan untuk memperlihatkan sebuah model kesabaran dan keikhlasan. Supaya para pengikutnya mengetahui bahwa mereka ini bukan hanya penasehat, bahkan orang yang mempraktekkan hal tersebut dan pelopornya.

Seraya berjalan pada uswah Hadhrat Rasulullah saw, para sahabat beliau saw juga senantiasa menitikberatkan pada doa-doa selama sakit dan mengedepankan cara ini.

Abdul Aziz meriwayatkan bahwa aku dan Tsabit datang kepada Anas bin Malik ra. Tsabit mengatakan, “Hai Abu Hamzah! Aku sakit”. Atas hal itu, Anas berkata, “Tidakkah aku tiupkan kepadamu yang biasa dilakukan oleh Hadhrat Rasulullah saw?”. Beliau berkata, “Mengapa tidak”. Lalu, Hadhrat Anas meniupkan kata-kata:

 اَللّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ اْلبَأْسِ اِشْفِ اَنْتَ الشَّافِىْ لاَ شَافِىَ اِلاَّ اَنْتَ شِفَآءٌ لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

‘Allahumma Rabban naasi Mudz-hibal ba-sa isyfi Antasy Syaafi laa syaafiya illa Anta syifaa-an laa yughadiru saqama.’

Ya Allah! Tuhan umat manusia, Penyingkir penderitaan. Anugerahkanlah kesembuhan. Karena Engkau Maha Penyembuh. Tidak ada Penyembuh kecuali Engkau. Anugerahkanlah kesembuhan kepadanya yang tiada meninggalkan bekas penyakit.[17]

Orang yang sakit juga hendaknya berdoa untuk penyakitnya daripada mencela penyakitnya. Orang-orang yang menjenguknya juga hendaknya berdoa untuknya. Demikian juga, perlu memperhatikan sedekah-sedekah bersama doa. Hadhrat Rasulullah saw menarik perhatian lebih dalam kaitan ini.

Sebagaimana tertera dalam sebuah riwayat. Beliau bersabda, داووا مرضاكم بالصدقة فإنها تدفع عنكم الأمراض والأعراض ‘daawuu mardhakum bish shadaqati fa-innahaa tadfa’u ‘ankumul amraadh wal a’raadh.’ – “Sertailah untuk kesembuhan orang sakit diantaramu dengan sedekah-sedekah. Ini menjauhkan penyakit-penyakit darimu dan bala bencana yang akan datang.”[18]

Dalam kondisi sakit, diperintahkan untuk sedekah karena ini merupakan satu jenis obat. Untuk menghindar dari berbagai penyakit dan bala bencana juga perlu konsentrasi terhadap sedekah-sedekah. Karena manakala bencana yang kecil sekalipun melanda, maka Allah Ta’ala menjaganya dari akibat-akibat buruk karena doa dan sedekah.

Beliau saw juga senantiasa mengurus makanan sesuai kehendak orang sakit waktu menjenguknya. Dalam kaitan orang sakit, tidak ada satu sisi pun yang beliau saw tinggalkan.

Dalam hal ini, terdapat dalam sebuah riwayat. Hadhrat Ibnu ‘Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi yang mulia saw mengunjungi seseorang dan bertanya kepadanya, “Apa yang kamu inginkan?”. Dia menjawab, “Aku ingin makan roti tepung gandum”. (Pada waktu itu, makanan ini tidak tersedia bagi setiap orang). Mendengar perkataannya, Hudhur saw bersabda, “Orang yang mempunyai roti tepung gandum, berilah saudaranya ini”. Lalu, Nabi yang mulia saw bersabda, “Manakala orang yang sakit diantaramu menghendaki sebuah makanan, maka dia harus memberinya.”[19]

Kemudian, tertera juga dalam sebuah riwayat lain. Hadhrat Anas bin Malik ra meriwayatkan bahwa Nabi yang mulia saw pergi untuk mengunjungi orang sakit dan bertanya kepadanya, “Makanan apa yang kamu inginkan?”

Selanjutnya, disabdakan, “Apakah kamu suka makan roti tepung gandum yang diadon dengan gula dan susu?” (Roti manis itu sangat nikmat rasanya). Orang yang sakit itu berkata, “Ya”. Oleh karena itu, beliau saw memerintahkan supaya menyediakan roti yang diinginkan oleh orang sakit tersebut.[20]

Sebagian dokter melarang para pasiennya makan beberapa jenis makanan. Tetapi berbeda dengan para dokter itu, beliau saw selalu menasehati untuk memenuhi hasrat orang yang sakit [terkait keinginannya untuk makanan yang ingin dimakannya]. Dalam keadaan sakit, orang biasanya makan sangat sedikit. Seberapa banyak makanan yang bisa dimakan oleh orang yang sakit, itu juga dapat mendatangkan kerugian baginya. Manakala dokter menetapkan aturan [ketat soal makanan], maka itu lebih-lebih lagi melemahkannya. Namun, saat ini para dokter lebih cenderung kepada hal ini bahkan sering mengatakan bahwa apa yang diinginkan pasien untuk dimakan, itu harus diberikan dan dibiarkan dimakan. Tetapi, para hakim (dalam bahasa Urdu, hakim artinya dokter atau tabib) yang ada di negara kita tetap bersikukuh dalam hal ini, “Obat mereka harus dimakan. Kami menyediakan daftar makanan-makanan yang tidak boleh dimakan. Seberapa hati-hati dia [menahan diri] tidak makan makanan-makanan tersebut, maka sebegitu juga penyakit tidak akan tetap tinggal [akan berhenti].”

Untuk kesembuhan orang sakit, beliau saw juga mengajarkan cara-cara berdoa. Sebagaimana Hadhrat Anas ra meriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah saw menjenguk seorang Muslim yang badannya menjadi lemah akibat penyakit. Sehingga badannya pun seperti anak ayam (sangat kurus). Hadhrat Rasulullah saw bersabda kepadanya, “Apakah kamu tidak memanjatkan doa istimewa?” Dia menjawab, “Ya”. Lalu, dia memberitahukan bahwa aku berdoa, “Ya Allah! Hukuman yang akan Engkau berikan kepadaku di akhirat, berikanlah kepadaku di dunia ini.” Mendengar hal ini, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Subhanallah! Kamu tidak memiliki kekuatan atasnya. Mengapa kamu tidak berdoa: اَللّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّ فِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ‘Allahumma aatinaa fid dunyaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaaban naar.’ – ‘Ya Allah! Anugerahilah kami kebaikan di dunia ini dan kebaikan di akhirat kelak serta selamatkanlah kami dari azab api.’” Perawi mengatakan bahwa ketika orang sakit tersebut membaca doa ini, maka Allah Ta’ala menganugerahkan kesembuhan kepadanya.[21]

Karena itu, kita hendaknya senantiasa memohon kebaikan-kebaikan dua alam kepada Allah Ta’ala.

Sebagaimana telah saya katakan, dimana beliau saw gelisah melihat penyakit jasmaniah, menghibur, mendoakan, maka disana timbul juga kegelisahan untuk orang-orang yang sakit rohaniah. Beliau saw memiliki perasaan yang amat pedih secara khusus dengan orang-orang yang terikat dengan beliau saw. Beliau saw senantiasa berupaya supaya hati mereka suci dan ketika mereka hadir di hadapan Allah Ta’ala, pandangan rahmat-Nya tertuju pada mereka. Didapati juga keterangan tentang suatu peristiwa dalam sebuah hadis. Hadhrat Anas ra menceritakan bahwa seorang anak Yahudi (pelayan Hadhrat Rasulullah saw) sakit. Hadhrat Rasulullah saw pergi untuk menjenguknya. Beliau saw duduk di bantalnya dan menanyakan ihwal keadaannya serta mendorongya untuk menerima Islam. Anak tersebut memandang bapaknya yang sedang duduk di sampingnya. Bapaknya mengatakan, “Percayailah perkataan Abul Qasim (Hadhrat Rasulullah saw).” Oleh karena itu, dia menerima Islam. Hudhur saw pulang dari sana sambil berkata penuh bahagia, “Segala puji bagi Tuhan Yang Mahagagah yang telah menyelamatkan pemuda ini dari api neraka”.[22]

Hadhrat Abdullah bin ‘Abbas ra mengatakan bahwa janganlah gaduh ketika mengunjungi orang sakit dan janganlah duduk terlalu banyak dengan orang sakit. Karena sedikit duduk dengan orang sakit merupakan sunnah.[23]

Gaduh di ruangan orang sakit dan duduk berkerumun terlalu lama bertentangan dengan amal beliau saw. Hendaknya kembali pulang setelah menjenguk orang sakit. Orang-orang yang mengurus rumah hendaknya tinggal di sana. Jika berada di hospital, maka patuhilah aturan hospital. Terkadang kaum kerabat berdesak-desakan di rumah sakit, sehingga pasien yang ada di sampingnya mulai terganggu oleh anak-anaknya dan diri mereka sendiri. Dalam keadaan demikian, terkadang pihak rumah sakit perlu bertindak keras. Di lingkungan kita, pada umumnya sudah biasa berdesak-desakkan.

Terkadang, disebabkan terlalu ramai di dekat pasien, disebabkan nafas orang-orang, berbagai macam orang, suasana menjadi tidak sedemikian bersih, sehingga memungkinkan penderitaan pasien semakin bertambah. Oleh karena itu, beliau saw menetapkan sebuah teladan ke hadapan kita bahwa kunjungilah orang sakit, hiburlah dia, berdoalah untuknya dan pulanglah. Janganlah duduk di sana dengan bermajelis-majelis. Demikian pula, hendaknya tidak membuat kegaduhan berlebihan, kecuali orang yang rumah yang mengurus orang sakit.

Kemudian, beliau saw menarik perhatian umatnya untuk memiliki akhlak tersebut dan mengunjungi orang-orang sakit. Tertera dalam sebuah riwayat. Hadhrat Abu Hurairah ra menjelaskan bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Allah Ta’ala akan berfirman pada hari Kiamat: ‘Hai Bani Adam! Aku sakit, engkau tidak mengunjungiku.’ Atas hal itu, dia menjawab: ‘Engkau adalah Tuhan semesta alam. Bagaimana Engkau bisa sakit dan bagaimana aku dapat menjenguk Engkau?’ Allah Ta’ala berfirman: ‘Tidakkah engkau tahu bahwa hamba-Ku si fulan sakit dan engkau tidak pergi untuk menjenguknya. Tidakkah engkau paham bahwa jika engkau menjenguknya, engkau mendapati-Ku padanya dan menjenguknya berarti menjenguk-Nya.’”[24]

Jadi, menjenguk orang-orang sakit adalah sarana untuk mendapatkan kedekatan Allah Ta’ala. Kita hendaknya konsen terhadap hal ini. Khususnya badan-badan yang selalu kuperintahkan kepada mereka. Khidmat-e-Khalq yang merupakan bidang mereka, Lajnah, Khuddam, Anshar hendaknya membuat sebuah program untuk selalu menjenguk orang-orang sakit, pergi ke rumah sakit. Mereka hendaknya mengunjungi kawan dan lawan semuanya. Tidak ada halangan di dalamnya. Bahkan, ini sesuai dengan sunnah. Kita hendaknya senantiasa berupaya agar kita memilih sarana-sarana untuk meraih kedekatan Allah Ta’ala semaksimal mungkin.

Selanjutnya, Hadhrat Rasulullah saw menjelaskan kepada kita, bagaimana cara menjenguk (orang sakit). Beliau saw bersabda, “Salah satu cara terbaik menjenguk adalah seseorang pergi kepada orang sakit, dia meletakkan tangannya pada kening atau tangan orang sakit dan bertanya, ‘Bagaimana tabiat (keadaan) engkau?’ Cara terbaik bertemu satu sama lain adalah bermushafahah (bersalaman) waktu bertemu satu sama lain. Dengan demikian, rasa persaudaraan dan kecintaan semakian meningkat”.[25]

Tertera juga dalam sebuah riwayat bahwa beliau saw memerintahkan kepada para sahabat, supaya senantiasa mengunjungi orang-orang sakit. Oleh karena itu, kita hendaknya mengamalkan perintah tersebut.[26]

Selanjutnya, beliau saw bersabda, “Ketika kamu pergi menjenguk orang sakit atau bergabung dalam jenazah seseorang, maka ucapkanlah kata-kata baik. Karena para malaikat meng-amin-kan ucapan-ucapanmu.”[27]

Ucapkanlah kata-kata baik di sana. Berdoalah untuk diri sendiri dan orang sakit juga.

Selanjutnya, seraya mendorong untuk menjenguk (orang sakit), beliau saw bersabda, yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah ra. Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menjenguk orang sakit atau pergi bertemu dengan saudaranya demi keridhaan Allah Ta’ala, maka seorang penyeru dari Allah Ta’ala mengucapkan, ‘Berbahagialah. Beberkahlah perjalanan engkau. Tempat tinggalmu berada di surga”.[28]

Pada dasarnya, ini adalah pengumuman menuangkan gejolak perasaan baik dan simpati satu sama lain. Jadi, setiap orang hendaknya berupaya untuk menyebarkan semangat tersebut. Barulah kita dapat menjadi orang-orang yang meraih keridhaan Allah Ta’ala, surga-surga-Nya dengan berjalan pada uswah beliau saw.

Ketika Hadhrat Rasulullah saw menjenguk orang-orang sakit, acapkali beliau saw merekomendasikan beberapa resep. Hal itu terdapat dalam riwayat-riwayat. Beberapa diantaranya aku akan sampaikan. Ini adalah bukti tambahan bahwa beliau saw senantiasa memikirkan orang-orang sakit. Beliau saw senantiasa memperhatikan obat, makanan dan yang lainnya buat mereka. Beliau saw senantiasa mengobati orang-orang sakit.

Ummul Mukminin, Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan bahwa aku mendengar Nabi yang mulia saw bersabda, “Di dalam biji hitam ini terdapat obat untuk menyelamatkan diri dari segala penyakit, kecuali kematian.”[29]

Beliau saw selalu merekomendasikan resep untuk beberapa penyakit kepada orang-orang bahwa makanlah ini. Katanya, ini sangat bagus untuk rasa perih dan penyakit lain. Sebagaimana Hadhrat Rasulullah saw sabdakan.

Selanjutnya, suatu kali Hadhrat Abu Sa’id Khudri ra mengatakan bahwa seseorang datang kepada Nabi yang mulia saw dan memohon bahwa perut saudara saya sakit. Atas hal itu, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Minumkanlah madu!” Dia kembali lagi datang seraya berkata, “Masih belum pulih juga!” Disabdakan, “Minumkanlah madu lagi!” Masih juga belum pulih. Ketiga kalinya beliau saw bersabda, “Minumkanlah madu lagi!” Tetapi, setiap kali dia mengeluh seperti itu.

Atas hal itu, beliau saw bersabda: صَدَقَ اللهُ وَ كَذَبَ بَطْنُ اَخِيْكَ ‘shadaqAllahu wa kadzaba bathnu akhiika.’ – “Mahabenar Allah, tetapi perut saudara engkau berkata dusta. Minumkanlah madu kepadanya.”[30]

Tidak tahu, bagaimana dia meminumkannya. Pendeknya, dia selalu meminumkannya, akhirnya dengan karunia Allah Ta’ala dia menjadi sembuh. Madu juga memiliki banyak jenis untuk beberapa pengobatan.

Kemudian, tertera juga keterangan sebuah resep dalam riwayat-riwayat bahwa beliau saw bersabda, “Biasakanlah makan buah ara (at-Tiin). Itu adalah buah sangat baik diantara buah-buah. Jika aku katakan bahwa buah turun dari surga, maka aku akan katakan bahwa buah ara adalah buah yang turun dari surga yang tidak mengandung biji. Jadi, makanlah itu. Karena ini menjauhkan penyakit wasir dan bermanfaat untuk sakit encok”.[31]

Bagi mereka yang menderita sakit encok juga bagus.

Kemudian, disinggung juga tentang sebuah resep. Berkenaan dengan kismis tertera bahwa kita hendaknya mengkonsumsinya. Karena ini bisa menjauhkan rasa pahit, dahak, memperkuat otot, menjauhkan badan kurus, memperbaiki akhlak, menyenangkan hati dan menjauhkan kesedihan.[32]

Dalam kaitan ini juga, orang-orang besar juga telah mengujinya. Sebagian orang makan kismis dengan memasukkannya ke dalam air mawar. Orang-orang yang saluran jantungnya berhenti dan dokter merekomendasikannya untuk dioperasi, dengan karunia Allah saluran jantungnya itu bisa terbuka. Eksperimen ini telah diberitahukan kepadaku oleh beberapa orang.

Lalu, berkaitan dengan zaitun tertera bahwa itu harus selalu digosok. Karena di dalamnya terdapat obat untuk 70 penyakit termasuk kolera. Biasakanlah untuk memakannya.[33]

Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan bahwa beliau ra selalu mengatakan kepada orang sakit dan yang sedih untuk memakan olahan madu dan tepung karena aku mendengar dari Hadhrat Rasulullah saw bahwa olahan ini menyenangkan hati orang sakit dan mengurangi kesedihannya.[34]

Kemudian, disabdakan berkenaan dengan kurma bahwa ini juga harus dimakan. Karena bisa menjauhkan penyakit lambung. [35]

Ringkasnya, banyak sekali resep.

Satu lagi yang akan saya sampaikan. Disabdakan bahwa kita juga harus minum susu sapi. Karena ini adalah obat. Dalam lemak dan menteganya juga ada obat. Kamu harus menghindari makan dagingnya, karena dalam dagingnya terdapat sebuah penyakit.[36]

Hal ini memang terbukti bahwa kebanyakan makan daging sapi bisa menimbulkan berbagai penyakit. Misalnya, orang-orang yang menderita penyakit encok disarankan oleh para dokter supaya tidak memakan daging sapi. Banyak sekali penyakit yang lain. Bisa jadi, orang yang sakit tertentu dinasehati disebabkan oleh penyakit tertentu. Mungkin karena banyak mengkonsumsi daging sapi. Orang-orang yang menderita tekanan darah tinggi dan penyakit jantung juga disarankan oleh dokter untuk menjauhi memakan daging sapi. Lihatlah! 14 abad silam, beliau saw telah jelaskan semua hal ini dan baru diketahui dalam riset dewasa ini.

Sejauh berkenaan dengan lemak, belum jelas bahwa apa kekhususan di dalamnya. Para ahli nutrisi dapat menjelaskannya. Jika seseorang tahu apa manfaat dari lemak dan lemak bagian mana yang bisa mendatangkan manfaat bagi tubuh. Jika ada seorang ahli yang bisa mengetahuinya, tolong beritahu. Jika masih belum diketahui, maka berupayalah untuk mengetahuinya sebagaimana beliau saw telah sabdakan dan memberikan guideline (garis pedoman). Telah saya katakan bahwa banyak sekali resep yang beliau saw rekomendasikan saat mengobati. Kini, tidak perlu untuk menerangkan semuanya. Ini semua dikarenakan beliau saw memiliki kecintaan, kasih sayang dan simpati yang tidak berhingga kepada sesama makhluk. Hati beliau selalu dipenuhi rasa simpati yang menyebabkan beliau saw setiap waktu berpikir, bagaimana aku dapat mendatangkan faedah kepada makhluk Allah Ta’ala?

Semoga ribuan shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Suci saw Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada kita untuk berjalan pada uswah tersebut dan nasehat-nasehat yang bisa memberikan taufik kepada kita untuk mengkhidmati makhluk-Nya.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Al-Hakam, jilid 6, nomor 26, halaman 6, tanggal 24 Juli 1902

[3] Sunan An-Nasai, kitab Al-Jana’iz, bab ‘Adad At-Takbir ‘Ala Al-Janazah

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلٍ قَالَ مَرِضَتِ امْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِي وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ شَيْءٍ عِيَادَةً لِلْمَرِيضِ فَقَالَ: «إِذَا مَاتَتْ فَآذِنُونِي». فَمَاتَتْ لَيْلاً فَدَفَنُوهَا وَلَمْ يُعْلِمُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ سَأَلَ عَنْهَا فَقَالُوا كَرِهْنَا أَنْ نُوقِظَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ. فَأَتَى قَبْرَهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَكَبَّرَ أَرْبَعًا.

[4] Sunan Ibnu Majah, kitab Al-Jana’iz, bab Maa Ja’a Fi ‘Iyadat Al-Maridh

[5] Muslim, kitab As-Salam, bab Istihbab Ruqyat Al-Maridh

[6] Al-Adab Al-Mufrad Lil Bukhari, bab Al-‘Iyadat Jauf Al-Lail (menjenguk orang sakit malam-malam)

5659 – حَدَّثَنَا الْمَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا الْجُعَيْدُ عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ سَعْدٍ أَنَّ أَبَاهَا قَالَ تَشَكَّيْتُ بِمَكَّةَ شَكْوًا شَدِيدًا فَجَاءَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُنِي فَقُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنِّي أَتْرُكُ مَالًا وَإِنِّي لَمْ أَتْرُكْ إِلَّا ابْنَةً وَاحِدَةً فَأُوصِي بِثُلُثَيْ مَالِي وَأَتْرُكُ الثُّلُثَ فَقَالَ لَا قُلْتُ فَأُوصِي بِالنِّصْفِ وَأَتْرُكُ النِّصْفَ قَالَ لَا قُلْتُ فَأُوصِي بِالثُّلُثِ وَأَتْرُكُ لَهَا الثُّلُثَيْنِ قَالَ الثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ ثُمَّ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى وَجْهِي وَبَطْنِي ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اشْفِ سَعْدًا وَأَتْمِمْ لَهُ هِجْرَتَهُ فَمَا زِلْتُ أَجِدُ بَرْدَهُ عَلَى كَبِدِي فِيمَا يُخَالُ إِلَيَّ حَتَّى السَّاعَةِ

[7] Al-Adab Al-Mufrad Lil Bukhari, bab ‘Iyadat Al-Maghma ‘Alaih

عن بن المنكدر سمع جابر بن عبد الله يقول مرضت مرضا فأتاني النبي صلى الله عليه و سلم يعودنى وأبو بكر وهما ماشيان فوجداني أغمى علي فتوضأ النبي صلى الله عليه و سلم ثم صب وضوءه على فأفقت فإذا النبي صلى الله عليه و سلم فقلت يا رسول الله كيف أصنع في مالي اقض في مالي فلم يجبنى بشيء حتى نزلت آية الميراث

[8] Shahih Muslim, kitab Al-Jana’iz, bab Fi ‘Iyadat Al-Mardha

[9] Al-Adab Al-Mufrad Lil Bukhari, bab Maa Yaquulu Lil Maridh (bab tentang apa yang hendaknya dibicarakan dengan orang sakit)

525 – حدثنا إسماعيل بن أبى أويس قال حدثني مالك عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة انها قالت لما قدم رسول الله صلى الله عليه و سلم المدينة وعك أبو بكر وبلال قالت فدخلت عليهما قلت يا أبتاه كيف تجدك ويا بلال كيف تجدك قالت وكان أبو بكر إذا أخذته الحمى يقول
( كل امرئ مصبح في أهله … والموت أدنى من شراك نعله ) وكان بلال إذا أقلع عنه يرفع عقيرته فيقول
( ألا ليت شعرى هل أبيتن ليلة … بواد وحولى إذخر وجليل )
( وهل أردن يوميا مياه مجنة … وهل يبدون لي شامة وطفيل ) قالت عائشة رضي الله عنها فجئت رسول الله صلى الله عليه و سلم فأخبرته فقال اللهم حبب إلينا المدينة كحبنا مكة أو أشد وصححها وبارك لنا في صاعها ومدها وانقل حماها فاجعلها بالجحفة

[10] Muslim, kitab As-Salam, bab Ruqyat Al-Maridh Bil Mu’awadzdzat Wan Naffats

[11] Tirmidzi, kitab At-Thibb, bab At-Tadawi Bir Rimad

عن أبي صالح الأشعري عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه و سلم عاد رجلا من وعك كان به فقال أأبشر فإن الله يقول : هي ناري أسلطها على عبدي المذنب لتكون حظه من النار

[12] Abu Dawud, kitab Al-Jana’iz, bab Al-‘Iyadat Min Ar-Ramd

[13] Abu Dawud, kitab Al-Jana’iz, bab Fi Al-‘Iyadat Miraran

[14] Sunan Abu Dawud, kitab Al-Jana’iz (tentang Jenazah), bab ‘Iyadat An-Nisa (menengok wanita yang sakit)

[15] Al-Adab Al-Mufrad Lil Bukhari, bab ‘Iyadat Al-Mardha (menengok orang sakit)

عن أبى الزبير عن جابر قال دخل النبي صلى الله عليه و سلم على أم السائب وهي تزفزف فقال مالك قالت الحمى أخزاها الله فقال النبي صلى الله عليه و سلم مه لا تسبيها فإنها تذهب خطايا المؤمن كما يذهب الكير خبث الحديد

[16] Al-Adab Al-Mufrad Lil Bukhari, bab Hal Yakunu Qaul Al-Maridh ‘Inni Waj’un Syikayat, nomor 510

عن أبى سعيد الخدري أنه دخل على رسول الله صلى الله عليه و سلم وهو موعوك عليه قطيفة فوضع يده عليه فوجد حرارتها فوق القطيفة فقال أبو سعيد ما أشد حماك يا رسول الله قال إنا كذلك يشتد علينا البلاء ويضاعف لنا الأجر فقال يا رسول الله أي الناس أشد بلاء قال الأنبياء ثم الصالحون وقد كان أحدهم يبتلى بالفقر حتى ما يجد إلا العباءة يجوبها فيلبسها ويبتلى بالقمل حتى يقتله ولأحدهم كان أشد فرحا بالبلاء من أحدكم بالعطاء

[17] Bukhari, kitab At-Thibb (tentang Pengobatan), bab Ruqyatun Nabi saw

[18] Kanzul ‘Ummal, kitab At-Thibb, hadis nomor 28182

28182 – داووا مرضاكم بالصدقة فإنها تدفع عنكم الأمراض والأعراض
( فر ) عن ابن عمر ( قال في فيض القدير ( 3 / 515 ) قال البيهقي منكر بهذا الإسناد . ص )

[19] Sunan Ibnu Majah, kitab Al-Jana’iz, bab Maa Ja’a Fi ‘Iyadat Al-Maridh

[20] Sunan Ibnu Majah, kitab Al-Jana’iz, bab Maa Ja’a Fi ‘Iyadat Al-Maridh

[21] Muslim, kitab Ad-Dzikr Wa Du’a, bab Kirahatud Du’a Bi Ta’jil Al-‘Uqubat Fi Dunya (Doa mempercepat hukuman di dunia untuk diri sendiri adalah hal yang tidak patut/dibenci)

[22] Bukhari, kitab Al-Jana’iz, bab Idza Aslam As-Shabiyyu Fa Maata, Hal Yushalli ‘Alaih

[23] Misykat Al-Mashabih, kitab Al-Jana’iz, Al-Bab Al-Awwal ‘iyaadatul maridh wa tsawabul mardh (menengok orang sakit dan pahala atas kesakitan saat mengalami sakit), Al-Fashl Ats-Tsalits, hadis nomor 1589

كتاب الجنائزباب عيادة المريض وثواب المرض

 وعن ابن عباس قال : من السنة تخفيف الجلوس وقلة الصخب في العيادة عند المريض قال : وقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لما كثر لغطهم واختلافهم : ” قوموا عني ” رواه رزين

[24] Muslim, kitab Al-Birr Wa As-Shilat, bab Fadhl ‘Iyadat Al-Maridh

[25] Sunan at-Tirmidzi, Abwab Al-Adab (Bab-bab tentang adab tata-krama), bab Maa Ja’a Fi Al-Mushafahah (mengenai berjabat tangan)

[26] Shahih al-Bukhari, kitab Al-Mardha (tentang orang sakit), bab Wujub ‘Iyadat Al-Maridh (kewajiban menengok orang sakit)

5649 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْعِمُوا الْجَائِعَ وَعُودُوا الْمَرِيضَ وَفُكُّوا الْعَانِيَ

[27] Shahih Muslim, kitab Al-Jana’iz, bab Maa Yaquulu ‘Inda Al-Maridh Wa Al-Mayyit (Apa yang hendaknya dikatakan di dekat orang sakit dan orang mati)

[28] Sunan Ibnu Majah, kitab Al-Jana’iz, bab Maa Ja’a Fi Tsawab Man ‘Ada Maridhan

[29] Shahih al-Bukhari, kitab At-Thibb, bab Al-Habbat As-Sauda

[30] Bukhari, kitab At-Thibb, bab Ad-Dawa Bil ‘Asli Wa Qaulullahi Ta’ala Fihi Syifa’u Linnaas

[31] Kanzul ‘Ummal, kitab At-Thibb, Al-Bab Al-Awwal, Al-Fashl Al-Awwal, hadis nomor 28280

28280 – كلوا التين فلو قلت إن فاكهة نزلت من الجنة قلت هذه لأن فاكهة الجنة لا عجم ( عجم : العجم بفتحتين – النوى وكل ما كان في جوف مأكول كالزبيب ونحوه . والعامة تقول : عجم – بالتسكين . المختار ( 328 ) . ب ) فيها فكلوه فإنه يقطع البواسير وينفع من النقرس ( النقرس : بالكسر – داء معروف . المختار ( 534 ) . ب )

[32] Kanzul ‘Ummal, kitab At-Thibb, Al-Bab Al-Awwal, Al-Fashl Al-Awwal, Az-Zabib (kismis), hadis nomor 28265

28265 – عليكم بالزبيب فإنه يكشف المرة ويذهب بالبلغم ويشد العصب ويذهب بالعياء ويحسن الخلق ويطيب النفس ويذهب بالهم
أبو نعيم – عن علي

[33] Kanzul ‘Ummal, kitab At-Thibb, Al-Bab Al-Awwal, Al-Fashl Al-Awwal, Asy-ya Mutafarriqah, hadis nomor 28299

28299 – كلوا الزيت وادهنوا به فإن فيه شفاء من سبعين داء منها الجذام
أبو نعيم في الطب – عن أبي هريرة

[34] Bukhari, kitab At-Thibb, bab At-Talbiyyat Lil Maridh

5689 – حَدَّثَنَا حِبَّانُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا كَانَتْ تَأْمُرُ بِالتَّلْبِينِ لِلْمَرِيضِ وَلِلْمَحْزُونِ عَلَى الْهَالِكِ وَكَانَتْ تَقُولُ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ التَّلْبِينَةَ تُجِمُّ فُؤَادَ الْمَرِيضِ وَتَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ

[35] Kanzul ‘Ummal, kitab At-Thibb, Al-Bab Al-Awwal, Al-Fashl Al-Awwal, At-Tamr, hadis nomor 28195

28195 – أكل التمر أمان من القولنج
أبو نعيم في الطب – عن أبي هريرة

[36] Kanzul ‘Ummal, kitab At-Thibb, Al-Bab Al-Awwal, Al-Fashl Al-Awwal, Al-Laban (tentang susu), hadis nomor 28210

28210 – عليكم بألبان البقر فإنها دواء وأسمانها فإنها شفاء وإياكم ولحومها فإن لحومها داء
ابن السني وأبو نعيم ( ك ) عن ابن مسعود