Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal  10 Aman 1385 HS/Maret 2006

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Pribadi Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan serangan kritik dari pihak non-Islam sebagai berikut, bahwa beliau s.a.w. na’udzu billaah – sedemikian rupa dalam membawakan ajaran agama tidak melakukan selain kekerasan, pembunuhan dan perampokan, dan Islam adalah agama pemaksaan dan kekerasan serta di dalamnya tidak ada wawasan kebebasan sedikit pun, dan sebagai dampaknya sampai sekarang menjadi bagian dari fitrat perilaku umat Islam. Beberapa kali saya juga telah mengatakan sebelumnya, bahwa alangkah malangnya (sayangnya), beberapa kelompok dari umat Islam menciptakan citra buruk ini, dan dalam melakukannya mereka saling mendukung dan menolong, dan sayangnya lagi, pandangan dan praktek mereka itu telah menciptakan kesempatan bagi penyampaian pemikiran-pemikiran yang sia-sia, merendahkan, menghinakan dan kasar terhadap Junjungan Kinasih (Terkasih) kita, Hadhrat Muhammad  Mushthafa shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia non-Islam, khususnya di negara-negara Barat.

Kita sungguh-sungguh mengetahui, di beberapa tingkatan tertentu dan di beberapa kalangan dalam dalam umat Islam melakukan amal perbuatan yang sepenuhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan dasar-dasar akhlaknya yang luhur. Ajaran Islam adalah ajaran yang sedemikian rupa indahnya yang dengan keindahan dan kebaikan ajarannya memberi kesan atau pengaruh bagi setiap orang sehingga menjadi bersih dari ta’ashshub (kefanatikan). Di berbagai tempat dalam Al-Qur’an Karim banyak sekali didapati penjelasan mengenai indahnya ajaran Islam, yang selain untuk kalangan internal umat Islam sendiri, di dalamnya juga membahas mengenai  hukum-hukum yang ditujukan bagi mereka yang non Muslim. Seperti halnya berlaku baik terhadap orang-orang non Muslim, memperhatikan hak-hak mereka, berlaku adil terhadap mereka, tidak melakukan suatu tindak kekerasan dan pemaksaan apa pun dalam hal agama mereka, dan lain sebagainya.ribadi Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan serangan kritik dari pihak non-Islam sebagai berikut, bahwa beliau s.a.w. na’udzu billaah – sedemikian rupa dalam membawakan ajaran agama tidak melakukan selain kekerasan, pembunuhan dan perampokan, dan Islam adalah agama pemaksaan dan kekerasan serta di dalamnya tidak ada wawasan kebebasan sedikit pun, dan sebagai dampaknya sampai sekarang menjadi bagian dari fitrat perilaku umat Islam. Beberapa kali saya juga telah mengatakan sebelumnya, bahwa alangkah malangnya (sayangnya), beberapa kelompok dari umat Islam menciptakan citra buruk ini, dan dalam melakukannya mereka saling mendukung dan menolong, dan sayangnya lagi, pandangan dan praktek mereka itu telah menciptakan kesempatan bagi penyampaian pemikiran-pemikiran yang sia-sia, merendahkan, menghinakan dan kasar terhadap Junjungan Kinasih (Terkasih) kita, Hadhrat Muhammad  Mushthafa shallallaahu ‘alaihi wa sallam di dunia non-Islam, khususnya di negara-negara Barat.

Ya, memang dalam beberapa keadaan tertentu peperangan pun diizinkan, akan tetapi ini dalam corak ketika musuh yang terlebih dahulu memulai peperangan tersebut, mereka melanggar perjanjian, menumpahkan darah orang-orang yang tidak berdosa atau berbuat kezaliman yang telah mencapai puncaknya. Akan tetapi dalam hal ini pun bukanlah menjadi hak dari suatu golongan atau kelompok dalam suatu negara, melainkan ini merupakan tugas dari pemerintah untuk mengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya untuk mengakhiri kezaliman tersebut, bukannya setiap orang mengatur suatu gerakan jihad dan mulai melaksanakan tugas ini secara tersendiri.

Di zaman Hadhrat Rasulullah s.a.w. pun oleh pihak musuh ditimbulkan keadaan-keadaan khusus peperangan yang oleh karenanya kaum Muslimin terpaksa melakukan peperangan sebagai balasan. Akan tetapi – sebagaimana yang telah saya katakan bahwa – gerakan-gerakan jihad pada masa sekarang ini tanpa adanya alasan-alasan yang membolehkan dan cara-cara yang dibenarkan, dan dengan semboyan-semboyan jihad dan aksi-aksi mereka, telah memberikan kesempatan kepada orang-orang dari agama lainnya untuk melakukan serangan balasan, dan di dalam diri mereka telah timbul keberanian sedemikian rupa sehingga dengan sangat kurang ajar dan tanpa rasa malu telah melakukan serangan-serangan yang sia-sia  terhadap pribadi suci Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan ini sedang terus mereka lakukan.

Sedangkan keadaan pribadi yang penuh kasih-sayang ini sendiri, yang telah berlaku ihsan kepada umat manusia dan seorang penjaga agung hak-hak kemanusiaan, dalam kondisi perang sekalipun beliau tidak pernah memberikan suatu kesempatan yang bisa memberikan kemudahan bagi para musuh untuk melakukan serangan dengan alasan sebagai balasan.

Setiap amal perbuatan dalam kehidupan beliau s.a.w., setiap detik dari kehidupan beliau s.a.w. menjadi saksi akan hal ini, bahwa beliau s.a.w. adalah penjelmaan dari sifat kasih-sayang dan hati beliau senantiasa gelisah, sehingga tidak ada hati seseorang pun yang bisa memenuhi tuntutan dan standar kemurahan hati yang telah beliau s.a.w. raih tersebut¸ baik itu dalam keadaan aman maupun dalam keadaan perang, ketika sedang di rumah maupun sedang di luar, dalam urusan-urusan beliau s.a.w. sehari-hari maupun ketika beliau s.a.w. melakukan perjanjian-perjanjian dengan orang-orang dari agama lainnya.

Beliau s.a.w. telah memberikan permisalan-permisalan dalam hal menegakkan standar tinggi kebebasan beragama, berkeyakinan serta toleransi. Kemudian pada saat memasuki kota Makkah dalam kondisi telah meraih kemenangan besar, dimana sikap memaafkan dan perlakuan kasih-sayang beliau s.a.w. terhadap kaum yang telah ditaklukkan itu, dalam hal ini pun beliau s.a.w. telah memberikan hak penuh kebebasan beragama dan telah menegakkan sebuah contoh luhur dari perintah Al-Qur’an berikut ini, yaitu: لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ ‘Laa Ikraaha fiddiin…’ (QS Al-Baqarah:257) yakni, “agama adalah urusan hati kalian, yang menjadi kehendak-Ku adalah hendaknya kalian menganut agama yang benar, memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat kalian, mencari sarana pengampunan bagi diri kalian, akan tetapi dalam hal ini tidak ada paksaan.”

Kehidupan beliau s.a.w. dipenuhi dengan begitu banyak contoh-contoh  yang menggambarkan toleransi dan kebebasan beragama serta berkeyakinan seperti ini. Beberapa diantaranya akan saya sampaikan. Siapa yang tidak mengetahui bahwa kehidupan beliau s.a.w. di Makkah selama 13 tahun setelah penda’waan kenabian begitu keras dan menderitanya. Beliau s.a.w. dan para sahabat ridwaanullaahi alaihim begitu banyak menanggung kedukaan dan musibah. Di siang hari bolong mereka diseret di atas pasir yang panas membara, dada mereka ditindih dengan batu panas, dicambuk, para wanita dibunuh dengan cara dirobek dari kedua kakinya, mereka dibunuh, disyahidkan.

Beliau s.a.w. dizalimi dengan berbagai cara. Kadang pada saat bersujud punggung beliau s.a.w. ditindih dengan jeroan unta yang karena karena beratnya beliau s.a.w. sampai tidak bisa bangun. Dalam perjalanan ke Thaif, anak-anak melempari beliau s.a.w. dengan batu, mencaci-maki beliau s.a.w. dengan kata-kata kotor dan tidak pantas, pemimpin mereka menyemangati dan memanas-manasi mereka. Beliau begitu terluka parah, sehingga mulai dari kepala hingga kaki beliau s.a.w. berlumuran darah, darah yang mengalir dari bagian atas tubuh beliau s.a.w. pun memenuhi sepatu beliau.

Terdapat juga peristiwa Syi’bi Abi Thalib. Beliau s.a.w., keluarga beliau s.a.w. dan para pengikut beliau s.a.w. diboikot selama bertahun-tahun. Tidak ada sesuatu pun yang bisa dimakan dan diminum. Anak-anak kecil pun menangis karena kelaparan dan kehausan. Dalam keadaan seperti itu seorang sahabat dalam kegelapan merasa ada sesuatu yang lunak di kakinya, lalu ia mengambilnya dan memasukannya ke dalam mulut, dan berharap bahwa barangkali itu sesuatu yang bisa dimakan. Ini adalah keadaan yang menggambarkan rasa lapar yang sangat luar biasa. Demikianlah kondisi yang terjadi pada saat itu. [2]

Akhirnya ketika keadaan seperti ini memaksa mereka untuk berhijrah, sesampainya di Medinah, di sana pun musuh tidak melepaskan mereka begitu saja dan terus melakukan serangan-serangan. Mereka menghasut orang-orang Yahudi yang tinggal di Medinah supaya memusuhi beliau s.a.w. Dalam keadaan seperti itu – yang mana secara ringkas telah saya jelaskan – jika timbul suatu bentuk peperangan, dan si teraniaya mendapatkan kesempatan untuk menuntut balas, maka ia akan berusaha untuk menuntut balas kezaliman tersebut dengan kezaliman lagi.

Dikatakan bahwa di dalam peperangan segala cara dihalalkan. Akan tetapi Nabi kita saw dalam keadaan seperti ini tetap menegakkan standar kelembutan hati dan kasihsayang yang luhur. Belumlah lama berlalu setibanya beliau s.a.w. dari Makkah, luka penderitaan itu masihlah segar, rasa sakit beliau s.a.w. pun semakin bertambah dengan melihat dan merasakan penderitaan para pengikut beliau. Akan tetapi beliau tetap tidak melanggar ajaran, asas dan kaidah yang diajarkan Islam. Beliau s.aw. tidak melanggar standar tinggi akhlak yang merupakan bagian dari fitrat beliau dan juga bagian dari ajaran Islam.

Sekarang lihatlah, beberapa negara Barat yang sedang berperang di masa sekarang ini, mereka menghalalkan segala cara ketika mereka berperang dengan yang lainnya. Akan tetapi kebalikannya, lihatlah suri teladan beliau s.a.w. yang tercatat di dalam tarikh berikut ini:

“Tempat yang dipilih lasykar Islam untuk berkemah pada saat perang Badar bukanlah suatu tempat yang bagus. Atas hal ini Hubab bin Munadzir r.a. bertanya kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. bahwa apakah tempat yang beliau s.a.w. pilih untuk berkemah itu berdasarkan ilham dari Allah Ta’ala? Apakah Allah Ta’ala yang memberitahukan tempat itu atau karena beliau s.a.w. sendiri menyukai tempat itu? Apakah menurut pemikiran beliau s.a.w. tempat itu bagus untuk pergerakan lasykar Islam? Maka beliau s.a.w. menjawab bahwa hanya karena alasan strategi perang saja beliau s.a.w. merasa tempat itu lebih baik, karena terletak di ketinggian.

Maka sahabat itu berkata bahwa di sana bukanlah tempat yang baik. Sebaiknya beliau membawa orang-orang untuk menguasai sumber mata air, kemudian membuat sebuah kolam penampungan air minum dan barulah kemudian berperang. Dalam keadaan seperti itu lasykar Islam dapat minum air sedangkan musuh tidak akan bisa mendapatkan air. Beliau s.a.w. menyetujui usulan tersebut. Lantas para sahabat pun berangkat dan mendirikan kemah di sana. Tidak berapa lama kemudian beberapa orang Quraisy datang ke kolam penampungan air itu untuk minum. Lalu ketika para sahabat berusaha mencegahnya beliau bersabda: ‘Jangan, biarkanlah mereka mengambil air.’”[3]

Inilah standar tinggi akhlak Rasulullah s.a.w., bahwa meskipun beberapa waktu sebelumnya para musuh membendung sumber mata air, sampai-sampai anak-anak kaum Muslimin tidak bisa minum, akan tetapi beliau s.a.w. dengan mengabaikan kejadian yang telah lampau itu, beliau s.a.w. tidak mencegah para tentara musuh yang datang untuk mengambil air sampai ke kolam penampungan dan mata air yang sudah berada di bawah penguasaan beliau s.a.w. tersebut. Karena dengan melakukan hal ini akan mencederai asas moralitas. Keberatan terbesar yang diajukan terhadap Islam adalah bahwa Islam tersebar dengan tebasan pedang. Dapat saja dilakukan tindakan pemaksaan kepada orang-orang yang datang untuk mengambil air ini, bahwa jika mereka ingin mengambil air di sana maka mereka harus mematuhi syarat-syarat tertentu. Dalam beberapa peperangan orang-orang kafir melakukan hal seperti itu. Akan tetapi tidak, beliau s.a.w. tidak melakukan hal itu.

Memang dalam situasi ini bisa dikatakan bahwa kaum Muslimin pada saat itu belum mempunyai kekuatan yang penuh dan masih sangat lemah, oleh karena itu mungkin mereka melakukan tindakan baik ini hanya untuk menghindari perang. Ini adalah suatu pemahaman yang salah. Anak-anak di kalangan umat Islam pun tahu bahwa kaum kafir Makkah sangat haus akan darah orang-orang Islam, dan dengan melihat sosok seorang Muslim mata mereka menjadi sangat beringas. Oleh karena itu pemahaman seperti itu tidak mungkin terlintas dalam benak seseorang, tidak pula dalam benak Rasulullah s.a.w. Semua perlakuan kasih-sayang ini beliau s.a.w. lakukan semata-mata karena kasih-sayang yang sempurna dan melindungi hak-hak kemanusiaan. Beliau s.a.w. juga yang mengenalkan ajaran yang sangat menghargai hak-hak kemanusiaan.

Kemudian lihatlah bagaimana peristiwa seorang musuh Islam yang telah dijatuhi hukuman mati, akan tetapi beliau s.a.w. memaafkannya, bahkan beliau s.a.w. mengizinkan dia untuk tinggal bersama kaum Muslimin dalam keadaan tetap berpegang pada agama dan keyakinannya semula. Peristiwa itu tercatat sebagai berikut: Anak Abu Jahal yang bernama Ikrimah seperti halnya ayahnya, ia sepanjang umur melancarkan peperangan terhadap Rasulullah s.a.w.. Pada saat peristiwa Fatah Makkah pun meskipun ada pengumuman mengenai pengampunan dan keamanan dari Rasulullah s.a.w., dia masih tetap menyerang sekelompok pasukan Muslim dan menjadi penyebab pertumpahan darah di haram (Area/wilayah yang dianggap suci di sekitar Makkah di mana di sana tidak boleh ada peperangan. Pent.). Dikarenakan kejahatan perangnya itulah dia dinyatakan sebagai waajibul qatl (orang yang wajib dibunuh).

Akan tetapi dikarenakan melihat bahwa pada saat itu tidak ada satu pun pihak yang bisa menghadapi kaum Muslimin, maka setelah peristiwa Fatah Makkah dia melarikan diri ke Yaman untuk menyelamatkan dirinya.

Istrinya datang ke hadapan Rasulullah s.a.w. memohon supaya suaminya itu dimaafkan. Maka beliau s.a.w. dengan penuh kasihsayang bersabda bahwa Ikrimah telah dimaafkan. Ketika dia sendiri pergi untuk membawa kembali suaminya tersebut, maka Ikrimah tidak yakin atas pemberian maaf itu. Dia merasa bahwa dia telah berbuat kezaliman sedemikian rupa dan telah begitu banyak membunuh orang-orang Islam bahkan berperang hingga hari terakhir, maka bagaimana mungkin dirinya bisa dimaafkan.

Singkatnya, istrinya itu telah dengan sedemikian rupa meyakinkan suaminya – yakni, Ikrimah – dan membawanya kembali pulang. Ketika Ikrimah pulang dan sampai di pintu rumah Rasulullah s.a.w. dan ingin mendapatkan konfirmasi akan hal pemberian maaf atas dirinya tersebut, maka Rasulullah s.a.w. menyambut kedatangannya itu dengan perlakuan baik yang sangat menggugah.

Pertama, beliau s.a.w. berdiri demi menghormati pemimpin kaum musuh itu. Dia adalah pemimpin kaum musuh, sudah selayaknya untuk dihormati, maka beliau s.a.w. pun berdiri, dan kemudian beliau s.a.w. menjawab pertanyaan Ikrimah tersebut dengan bersabda bahwa beliau s.a.w. telah memaafkannya.[4] 

Ikrimah kemudian bertanya, “Apakah meskipun dengan keadaan diriku tetap pada agamaku?”  yakni dia belum masuk Islam, apakah dalam keadaan syirik seperti itu beliau s.a.w. tetap memaafkan dan mengampuninya, maka Rasulullah s.a.w. menjawab bahwa “Ya”, beliau s.a.w. telah memaafkannya.

Terkesan dengan hal itu maka hati Ikrimah pun terbuka untuk menerima Islam, dan dengan sangat terharu ia berkata, “Wahai Muhammad (saw), engkau adalah seseorang yang sangat penyantun, sangat mulia dan selalu menjalin tali silaturahmi.” Ikrimah telah masuk Islam dengan melihat mukjizat keindahan akhlak  Rasulullah s.a.w. ini.[5]

Demikianlah, Islam tersebar dengan keindahan akhlak serta kebebasan untuk beragama dan keyakinan. Panah keindahan akhlak dan kebebasan beragama serta berkeyakinan inilah yang dalam sekejap telah menghujam ke hati orang seperti Ikrimah. Hadhrat Rasulullah s.a.w. juga mengizinkan para tawanan dan budak untuk menganut agama yang mereka kehendaki. Adapun tuntutan tabligh dalam Islam adalah, bahwa Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum Muslimin untuk memberitahukan dan menjelaskan kepada orang lain mengenai ajaran Islam, karena mereka belum mengetahuinya, dan hal ini tidak lain melainkan sebagai rasa simpati terhadap manusia supaya mereka mendapatkan kelezatan qurb Ilahi dengan perantaraan ajaran ini.

Berikut ada sebuah peristiwa tentang seorang tawanan. Di mana Sa’id bin Abi Sa’id meriwayatkan, bahwa ia mendengar Hadhrat Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah s.a.w. mengutus satu pasukan ke daerah Najd. Lalu pasukan itu membawa pulang seorang tawanan dari Banu Hanifah yang bernama Tsumamah bin Atsal. Para sahabat mengikatnya di salah satu tiang Mesjid Nabawi. Rasulullah s.a.w. datang menghampirinya dan bertanya, “Wahai Tsumamah, apakah engkau memiliki pembelaan atas diri engkau? Atau apakah engkau mempunyai pendapat apa yang harus dilakukan terhadap diri engkau?”

 Ia menjawab, ”Aku berbaik sangka. Jika engkau membunuhku, maka engkau akan membunuh seseorang yang adalah penumpah darah. Jika engkau memberikanku hadiah, maka engkau akan memberikan hadiah kepada seseorang yang tahu bagaimana caranya berterimakasih, dan jika engkau menginginkan harta, maka ambillah berapa pun yang engkau inginkan.”

Untuk hal tersebut kaumnya akan sanggup memberikan berapa pun harta yang diminta. Hingga sampailah keesokan harinya, Rasulullah s.a.w. datang dan bertanya kembali mengenai apa yang diinginkannya. Ia menjawab, “Seperti yang telah kukatakan, jika engkau memberikan hadiah, maka engkau akan memberikan hadiah kepada orang yang tahu caranya berterimakasih.” Kemudian Rasulullah s.a.w. meninggalkannya. Kemudian pada hari yang ketiga Rasulullah s.a.w. kembali menemuinya dan bertanya, ”Apa yang engkau inginkan?” ia menjawab, “Apa yang aku inginkan, aku telah mengatakannya.” Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda, “Lepaskan dia,” maka Utsamah pun dibebaskan.

Kemudian ia pergi ke kebun kurma di dekat mesjid dan mandi. Lalu ia memasuki mesjid dan mengucapkan Kalimat syahadat, dan berkata, ”Hai Muhammad s.a.w., demi Tuhan, dahulunya wajah yang paling kubenci di dunia ini adalah wajah engkau dan sekarang wajah engkau telah menjadi wajah yang paling aku cintai di muka bumi ini.

Demi Tuhan, dahulunya agama yang paling aku benci di dunia ini adalah agama engkau, akan tetapi sekarang ini agama yang paling aku cintai adalah agama yang dibawa oleh engkau. Demi Tuhan, dahulu kota yang paling aku benci adalah kota engkau, sekarang kota itu menjadi kota yang paling aku cintai. Para pasukan penunggang kuda engkau telah menangkapku ketika aku sedang ingin pergi untuk umrah. Apa pendapat engkau mengenai hal ini?”

Ditanya mengenai bahwa dirinya (Tsumamah) ditangkap ketika dalam perjalanan untuk melaksanakan umrah, dan ia meminta petunjuk dari Rasulullah s.a.w. mengenai hal itu, maka Rasulullah s.a.w. memberikannya kabar suka, mengucapkan mubarak atas bergabungnya ia ke dalam Islam dan memerintahkan kepadanya, “Pergilah kamu umrah! Semoga Allah Ta’ala menerima engkau.”

Ketika ia (Tsumamah) sampai di Makkah, seseorang bertanya kepadanya,”Apakah engkau  telah menjadi seorang Shabi?” Maka ia menjawab, “Tidak, tetapi aku telah beriman kepada Muhammad Rasulullah s.a.w. dan demi Allah, mulai dari hari ini dan untuk selanjutnya tidak akan datang sebutir gandum pun dari Yamamah untuk kalian hingga Rasulullah s.a.w. mengizinkannya.[6]

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa setelah menerima Islam ia pergi untuk melaksanakan umrah. Mengetahui bahwa ia telah masuk Islam, maka orang-orang kafir Makkah berusaha untuk memukulinya atau bahkan sudah memukulnya. Oleh karena itulah ia berkata, ”Tidak akan ada lagi gandum yang datang selama belum ada izin dari Rasulullah s.a.w.

Kemudian ia kembali ke negerinya dan memerintahkan hal ini kepada kaumnya. Sejak itulah tidak ada lagi gandum yang datang dari sana. Hingga akhirnya keadaan kaum Quraisy sudah cukup memburuk. Datanglah Abu Sufyan ke hadapan Rasulullah s.a.w. menyampaikan kabar bahwa sedang terjadi kelaparan dan ia memohon kasih-sayang dari Rasulullah s.a.w. untuk kaumnya.

Pada kesempatan itu beliau s.a.w. tidak menjawab, ”Kalian baru akan mendapatkan gandum apabila kalian telah masuk Islam,” akan tetapi yang beliau s.a.w. lakukan adalah segera mengirim pesan ke Yamamah untuk segera mengakhiri pemboikotan ini, karena ini merupakan suatu kezaliman. Anak-anak, orang dewasa, orang-orang yang sakit, orang-orang tua yang sudah lemah, semua membutuhkan makanan. Gandum ini harus tersedia bagi mereka.[7]

Di sisi lain lihatlah, kepada Tsumamah – yang pada saat itu berkedudukan sebagai tawanan – tidaklah  dikatakan, “Engkau sekarang dalam penguasaan kami, maka masuk Islamlah kamu sekarang juga.” Melainkan justru selama tiga hari dia diperlakukan dengan baik, bahkan standar perlakuan baik itu sedemikian rupa luhurnya hingga pada akhirnya dia dibebaskan. Perhatikanlah pula, Tsumamah pun memiliki penglihatan rohaniah. Setelah menerima kebebasan itu ia mempersembahkan dirinya ke dalam penghambaan dan ketaatan kepada Rasulullah s.a.w. dan menganggap hal ini sebagai kebaikan baginya di dunia dan akhirat.

Ada juga sebuah peristiwa lain di mana Rasulullah s.a.w. tidak melakukan tindakan pemaksaan terhadap seorang budak Yahudi yang berada di bawah penguasaan beliau s.a.w.. Tidaklah dikatakan kepadanya bahwa dikarenakan dia adalah budak yang berada di bawah penguasaan beliau s.a.w., maka dia harus menuruti setiap apa yang beliau s.a.w. katakan. Hingga ketika ia sakit, dan ketika dilihat keadaannya sudah cukup parah, maka beliau s.a.w. memikirkan bagaimana supaya ia memperoleh kesudahan yang baik dalam hidupnya. Beliau s.a.w. memikirkan bagaimana supaya ia tidak meninggalkan dunia ini dalam keadaan ia belum menerima dan membenarkan syariat Allah yang terakhir, akan tetapi sudah dalam keadaan menerima dan membenarkannya, sehingga hal ini akan menjadi sarana pengampunan dari Allah Ta’ala Maka beliau s.a.w. pergi untuk menjenguknya dan dengan penuh kasih-sayang memintanya supaya masuk Islam.

Kemudian dari Anas r.a. meriwayatkan, bahwa seorang budak Yahudi Rasulullah s.a.w. yang masih anak-anak jatuh sakit. Rasulullah s.a.w. datang untuk menjenguknya dan duduk di samping kepalanya kemudian bersabda,”Terimalah Islam.” Dalam riwayat lain bahwa anak itu melihat ke arah ayahnya. Bagaimanapun, entah itu atas izin dari dari ayahnya atau karena keinginannya sendiri, akhirnya ia masuk Islam.”[8]

Singkatnya, anak laki-laki yang menerima Islam ini tentunya dikarenakan pengaruh perlakuan baik dan kasihsayang yang beliau s.a.w. berikan kepadanya dalam kedudukan ia sebagai budak beliau s.a.w.. Tentunya ia bersedia menerima agama yang benar ini karena ia tahu tidaklah mungkin wujud yang penuh cinta dan kasih-sayang ini menjerumuskannya ke dalam sesuatu hal yang buruk. Beliau s.a.w. selalu berkata benar, selalu menyeru dan menasihati orang lain kepada kebaikan. Jadi inilah kebebasan yang beliau s.a.w. tegakkan. Di dunia ini tidak akan pernah ditemui teladan seperti ini.

Sebelum penda’waan kenabian pun beliau s.a.w. sudah menyukai kehidupan yang merdeka, menjunjung tinggi kebebasan beragama dan berkeyakinan, serta sangat membenci perbudakan.  Hadhrat Khadijah r.a. setelah menikah dengan Hadhrat Rasulullah s.a.w., maka beliau r.a. menyerahkan seluruh harta benda dan budak-budaknya kepada beliau s.a.w..

Atas hal ini beliau s.a.w. berkata kepada Hadhrat Khadijah r.a., “Jika semuanya ini engkau berikan kepadaku, maka semuanya akan berada di bawah wewenangku, dan aku boleh melakukan hal apa pun yang aku inginkan.” Hadhrat Khadijah menjawab, “Untuk itulah aku memberikannya.” Beliau s.a.w. selanjutnya bersabda, “Aku juga akan membebaskan para budak.” Hadhrat Khadijah r.a. menjawab, “Apa pun yang engkau inginkan, lakukanlah. Aku telah memberikannya kepada engkau. Sekarang aku tidak lagi memiliki wewenang apa pun, semuanya telah menjadi milik engkau.”

Maka Hadhrat Rasulullah s.a.w. saat itu juga memanggil para budak Hadhrat Khadijah r.a. dan mengatakan kepada mereka bahwa sejak hari itu mereka bebas. Demikian juga beliau s.a.w. membagi-bagikan sebagian besar dari harta itu kepada orang-orang miskin. Di antara budak-budak yang beliau merdekakan ada salah satu diantaranya yang bernama Zaid r.a..

Nampaknya beliau r.a. lebih cerdas dan pintar  dibanding budak-budak yang lainnya. Beliau r.a. memahami, bahwa kemerdekaan yang semestinya beliau r.a. dapatkan, kini beliau r.a. telah mendapatkannya. Cap sebagai seorang hamba sahaya yang dahulu melekat pada diri beliau r.a., kini telah berakhir. Namun beliau r.a. menyadari, justru di sinilah letaknya kebaikan bagi diri beliau r.a., yakni dengan tetap berada dalam penghambaan kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Beliau r.a. berkata, “Baiklah, engkau telah memerdekakanku, akan tetapi aku tidak ingin merdeka. Aku ingin tetap menjadi budak engkau dan tinggal bersama engkau.” Oleh karena itu beliau r.a. tetap tinggal bersama Rasulullah s.a.w. dan ikatan kecintaan diantara keduanya itu semakin lebih erat lagi.

Zaid r.a. adalah seseorang yang berasal dari keluarga terhormat dan kaya dengan penghidupan yang sangat baik di rumahnya. Hingga pada suatu hari para perampok menculik beliau r.a., lalu beliau r.a.  diperjualbelikan ke sana-sini, sampai akhirnya tibalah beliau r.a. di Makkah, maka kedua orang tuanya dan sanak kerabatnya melakukan pencarian beliau.

Akhirnya mereka mengetahui bahwa anak tersebut – yakni Zaid r.a. – berada di Makkah. Kemudian ketika mereka mengetahui bahwa beliau r.a. bersama Rasulullah s.a.w., kemudian mereka hadir di dalam majlis Rasulullah s.a.w. dan memohon kepada beliau s.a.w., “Berapa pun harta yang anda inginkan ambillah dari kami dan merdekakanlah anak kami. Ibunya terus menerus menangis dan kondisinya sangat memprihatinkan.” Beliau s.a.w. menjawab, “Telah sejak lama sebelumnya aku memerdekakannya, ia telah merdeka. Jika ia ingin pergi, maka pergilah dan aku sama sekali tidak membutuhkan uang sepeser pun.” Mereka berkata, “Ayo nak, kita pulang,” Sang anak menjawab, “Aku telah bertemu dengan engkau, itu sudah cukup. Jika suatu hari ada kesempatan, aku pun akan bertemu dengan ibu. Akan tetapi aku tidak bisa ikut dengan engkau sekarang. Aku sekarang telah menjadi hamba-sahaya Rasulullah s.a.w., tidak menjadi persoalan bagiku berpisah dengan engkau. Sekarang kecintaanku kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. melebihi kecintaanku kepada ayah dan ibu.”

Ayah dan paman Zaid r.a. beserta yang lainnya begitu bersikeras untuk membawa beliau r.a. pulang, akan tetapi beliau r.a.  menolaknya. Melihat kecintaan Zaid r.a. ini Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sejak dahulu pun Zaid sudah merdeka, namun mulai sekarang dia adalah anakku.” Melihat kondisi seperti ini Ayah dan paman Zaid r.a. lalu kembali ke kampung halamannya dan Zaid r.a. kemudian selamanya tinggal di sana [bersama Nabi s.a.w.].[9]

Setelah memasuki masa kenabian, nilai-nilai kemerdekaan yang beliau s.a.w. anut itu semakin mempesona. Kini sejalan dengan fitrat baik beliau s.a.w. itu, syariat yang turun kepada beliau s.a.w. pun memerintahkan supaya memberikan kepada para hamba sahaya hak-hak mereka. Jika tidak mampu untuk memberikan hak-haknya, maka hendaknya ia dimerdekakan.

Dalam sebuah riwayat, konon ada seorang sahabat yang memukuli budaknya. Rasulullah s.a.w. melihat hal tersebut dan sangat marah sekali. Oleh karena itu sahabat tersebut lalu memerdekakan budaknya itu, dan berkata, ”Aku telah memerdekakannya.” Maka Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jika engkau tidak memerdekakannya, maka engkau akan berada dalam cengkeraman Allah Ta’ala[10]

Itulah contoh berkenaan dengan kemerdekaan dan kebebasan, selanjutnya lihatlah juga sebuah contoh  bagaimana beliau s.a.w. menghormati hak dan kebebasan para penganut agama lain dalam mengemukakan pendapat mereka. Contoh dan suri teladan itu dapat kita temui dalam pemerintahan beliau s.a.w., yakni di masa pemerintahan beliau s.a.w. telah berdiri di Medinah.

Terdapat sebuah riwayat dari Hadhrat Abu Hurairah r.a, bahwa ada dua orang yang saling mencacimaki satu sama lain, salah satu diantaranya adalah seorang Muslim, sementara satu yang lainnya adalah seorang Yahudi. Muslim itu berkata, “Demi Dzat yang telah memilih Muhammad s.a.w. atas sekalian alam dan menganugerahkan kelebihan kepadanya.“ Atas pernyataan itu lalu orang Yahudi tersebut menimpali, “Demi Dzat yang telah memberikan keunggulan kepada Musa a.s. di atas sekalian alam dan telah memilihnya.” Mendengar hal itu Muslim tersebut mengangkat tangannya dan menampar orang Yahudi tadi. Lalu orang Yahudi itu mengadukan peristiwa tersebut kepada Rasulullah s.a.w. yang atas hal itu kemudian beliau meminta penjelasan kepada Muslim tadi dan bersabda, “Laa tukhayyiruuni ‘ala Musa,“ yakni “Janganlah engkau melebihkanku atas Musa.”[11]

Inilah standar tinggi kebebasan dan kemerdekaan. Standar kebebasan beragama dan menyampaikan pendapat yang beliau s.a.w. tegakkan di dalam naungan pemerintahan yang beliau s.a.w. dirikan setelah hijrah ke Medinah. Beliau s.a.w. mengikat perjanjian dengan kabilah-kabilah dan orang-orang Yahudi yang ada di Medinah untuk menegakkan keamanan dan perdamaian.

Pemerintahan itu berada di tangan beliau s.a.w. dikarenakan banyaknya kaum Muslimin yang ada di sana dan juga atas kesepakatan orang-orang lainnya yang bukan Islam yang bergabung dengan kaum Muslimin. Akan tetapi adanya pemerintahan ini tidak berarti bahwa hak-hak masyarakat yang bukan Muslim dan sentimen keagamaan mereka tidak diperhatikan. Meskipun ada kesaksian dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa beliau s.a.w. adalah yang paling unggul diantara seluruh rasul lainnya, namun beliau s.a.w.  tidak bisa menerima jika dikarenakan membanding-bandingkan para nabi suasana berubah menjadi memanas.

Beliau s.a.w. setelah mendengar perkataan orang Yahudi itu lalu menegur seorang Muslim tadi, bahwa, “Janganlah engkau membawa-bawa nama para nabi dalam pertengkaran engkau. Ya, memang benar menurut engkau bahwa aku adalah yang paling unggul di antara seluruh rasul – Allah Ta’ala pun memberikan kesaksian berkenaan dengan hal itu – akan tetapi dalam pemerintahan kita, sentimen keagamaan seseorang menuntut supaya tidaklah hendaknya ada seseorang yang melontarkan kata-kata yang tidak patut terhadap nabinya. Aku tidak mengizinkan hal seperti itu. Untuk menghormatiku hendaknya kalian menghormati juga nabi-nabi lainnya.”

Inilah, standar keadilan, kebebasan dan kemerdekaan yang beliau s.a.w. tegakkan, tidak hanya memperhatikan kaum Muslimin sendiri, melainkan juga masyarakat dari agama lainnya. Bahkan terkadang perasaan kaum dari agama yang lainnya justru lebih diperhatikan.

Satu lagi contoh yang menggambarkan bagaimana beliau s.a.w. dalam menghormati hak-hak kemanusiaan dan kebebasan beragama. Abdurrahman bin Abi Lailah meriwayatkan bahwa Sahl bin Hanif dan Qais bin Sa’ad sedang duduk-duduk di suatu tempat yang bernama Qadsiyah. Lalu ada jenazah yang lewat di hadapan mereka, maka keduanya lantas berdiri. Ketika diberitahukan kepada mereka bahwa ia seorang dzimmi, maka keduanya berkata, “Suatu kali ke hadapan Rasulullah s.a.w. lewatlah satu jenazah, lalu beliau berdiri dengan sikap hormat. Dikatakan kepada beliau bahwa itu adalah jenazah seorang Yahudi. Atas hal tersebut Rasulullah s.a.w. bersabda, “Alaisat nafsan,” yakni, “Bukankah dia manusia juga?”[12]

Walhasil, inilah suatu bentuk penghormatan terhadap agama lain dan juga terhadap kemanusiaan. Inilah suatu bentuk ungkapan dan contoh yang dengannya tercipta suasana toleransi keagamaan. Ungkapan ini jugalah yang menciptakan kelemahlembutan dalam hati, dan kelemahlembutan ini jugalah yang dengannya tercipta suasana yang aman, penuh cinta dan kasihsayang. Tidak seperti halnya amalan-amalan orang-orang dunia di masa sekarang ini, yang tiada lagi yang mereka lakukan selain menabur benih-benih kebencian.

Kemudian terdapat juga riwayat lainnya, yakni pada peristiwa penaklukkan Khaibar kaum Muslimin menemukan beberapa naskah Taurat. Orang-orang Yahudi datang ke hadapan beliau s.a.w. dan meminta supaya kitab suci mereka itu dikembalikan kepada mereka. Maka beliau s.a.w. memerintahkan kepada para sahabat untuk mengembalikan kitab keagamaan orang Yahudi tersebut.[13]

Meskipun dikarenakan sikap mereka yang salah, mereka – yakni orang-orang Yahudi – mendapatkan hukuman, akan tetapi beliau s.a.w. tidak sudi jika harus memperlakukan musuh dengan perlakuan yang dapat melukai sentimen keagamaan mereka.

Peristiwa-peristiwa yang sifatnya menyangkut pribadi beberapa telah saya sampaikan, dan saya juga telah menyebutkan bahwa di Madinah telah diadakan suatu perjanjian. Di dalam perjanjian itu beliau s.a.w. membuat peraturan dan perundangan, yang   beberapa di antaranya yang terdapat di dalam riwayat akan saya sampaikan. Yakni, bagaimana beliau s.a.w. datang ke lingkungan ini (Madinah) dan berusaha untuk menciptakan suasana toleransi yang baik, dan hal-hal apa yang beliau s.a.w. kehendaki untuk mewujudkan keamanan di lingkungan masyarakat tersebut, sehingga dalam masyarakat itu keamanan dan martabat kemanusiaan pun dapat ditegakkan. Sesampainya di Madinah, beliau s.a.w. mengadakan perjanjian dengan orang-orang Yahudi, beberapa persyaratannya adalah sebagai berikut:

Orang-orang Islam tinggal bersama-sama dengan orang-orang Yahudi dengan rasa simpati dan ketulusan, dan hendaknya jangan berlaku zalim dan aniaya terhadap satu sama lain. (Dan meskipun orang-orang Yahudi selalu melanggar persyaratan ini, namun beliau s.a.w. senantiasa berbuat ihsan, sehingga ketika orang-orang Yahudi itu melampaui batas, barulah beliau s.a.w. secara terpaksa melakukan tindakan yang keras terhadap mereka.)

Persyaratan kedua adalah bahwa setiap kaum hendaknya mendapatkan kebebasan beragama. (Meskipun kaum Muslimin adalah mayoritas, namun mereka – yakni orang-orang Yahudi dan non Muslim lainnya – bebas dalam agama mereka)

Persyaratan yang ketiga adalah, seluruh jiwa dan harta para penduduk harus terjaga dan dihormati, kecuali seseorang yang berbuat suatu kezaliman atau melakukan tindakan kriminalitas. (Dalam hal ini pun beliau tidak membeda-bedakan. Seseorang yang melakukan suatu tindak kejahatan, baik itu Muslim maupun non Muslim, bagaimana pun dia harus dihukum. Selain itu, untuk menjaganya adalah merupakan tanggung jawab bersama dan juga tugas dari  pemerintah)

Selanjutnya adalah, segala macam sengketa dan perselisihan hendaknya dibawa ke hadapan Rasulullah s.a.w. untuk diputuskan dan setiap keputusan akan diambil berdasarkan pada perintah ilahi. (Dan maksud dari “perintah ilahi” itu adalah, sesuai dengan syariat masing-masing yang dimiliki oleh setiap kaum. Bagaimana pun, pengambilan keputusan akan dihadapkan pada Hadhrat Rasulullah s.a.w., karena pada saat itu beliau s.a.w. adalah pemegang kekuasaan tertinggi, oleh karena itulah beliau s.a.w. lah yang akan mengambil keputusan. Akan tetapi keputusan akan diambil berdasarkan syari’at kaum yang bersangkutan. Dan ketika sebagian keputusan terhadap orang-orang Yahudi diambil berdasarkan syari’at mereka, lalu atas hal itu pun umat Kristen dan lainnya mengajukan keberatan, bahwa orang-orang Yahudi telah berbuat aniaya dalam pengambilan keputusan tersebut. Padahal sesuai dengan permintaan mereka, keputusan itu diambil berdasarkan syariat mereka.)

Kemudian ada satu syarat lagi yaitu, “jangan  ada suatu golongan yang keluar untuk berperang tanpa izin dari Rasulullah s.aw.” (oleh karena itu, mereka yang tinggal di bawah suatu pemerintahan, maka mereka wajib untuk menaati pemerintahan tempat mereka bernaung tersebut. Persyaratan ini hendaknya menjadi petunjuk bagi gerakan-gerakan jihad di masa sekarang ini, bahwa tanpa mendapatkan izin dari pemerintahan yang di bawahnya mereka tinggal, mereka tidak bisa melakukan suatu bentuk gerakan jihad. Kecuali apabila bergabung dalam tentara pemerintah dan jika negara atau pemerintahan itu berperang, maka hal ini baru dibenarkan.

Kemudian ada satu syarat dimana, “jika ada suatu kaum yang berperang melawan orang-orang Yahudi dan kaum Muslimin, maka mereka akan bangkit bersama-sama untuk saling membantu satu sama lain.”

(Yakni jika salah satu dari antara keduanya ada yang berperang dengan suatu kaum, maka yang satunya lagi akan menolong dan membantunya. Dan jika tercapai perdamaian dengan musuh, dan dari perdamaian itu baik kaum Muslimin dan orang-orang Yahudi mendapatkan faedah dan  manfaat, maka keduanya akan mendapatkan bagiannya masing-masing.) Demikian juga, jika ada yang menyerang Madinah, maka semuanya akan bersatu padu menghadapinya.

Syarat yang lainnya adalah, “Quraisy Makkah dan para sekutunya tidak boleh mendapatkan bantuan dan perlindungan dalam bentuk apa pun dari orang-orang Yahudi.“

(Karena para penentang dari Makkah telah mengusir kaum Muslimin dari sana, dan sekarang kaum Muslimin datang ke Madinah untuk meminta perlindungan, maka sekarang penduduk yang tinggal dalam pemerintahan tersebut tidak dapat membuat suatu jenis perjanjian apa pun dengan kaum musuh, tidak pula memohon perlindungan.)

Selanjutnya “Semua kaum akan menanggung biaya hidupnya masing-masing.”

Dari segi perjanjian ini, tidak ada seorang pun pelaku tindak kriminal, atau seseorang yang berbuat aniaya dan keonaran akan selamat atau terbebas dari hukuman. Dia akan dikenakan hukuman atau dituntut balas.

(Yakni, seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa seseorang yang berbuat aniaya, melakukan suatu pelanggaran, berbuat kesalahan, maka bagaimana pun dia akan ditangkap dan mendapatkan hukuman. Dan hal ini tidak akan membeda-bedakan apakah dia itu seorang Muslim atau Yahudi, atau yang lainnya.)[14]

Kemudian untuk menegakkan toleransi dan kebebasan beragama itu beliau s.a.w. mengizinkan para utusan dari Najran untuk beribadah di Mesjid Nabawi, dan mereka melaksanakan ibadah mereka dengan menghadap ke arah timur. Sedangkan para sahabat beranggapan bahwa hal ini tidak boleh dilakukan. Atas hal tersebut Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa tidak ada bedanya, yakni tidak ada masalah berkenaan dengan hal tersebut.

Kemudian diriwayatkan pula bahwa beliau s.a.w. melaksanakan perjanjian damai dengan para penduduk Najran. Di dalamnya beliau s.a.w. menerima tanggung jawab untuk menjaga batas-batas wilayah kaum Kristen Najran dengan bala tentara kaum Muslimin. Kaum Muslimin berkewajiban untuk menjaga gereja mereka, tempat peribadatan mereka, tempat penginapan mereka, baik itu yang terletak di wilayah-wilayah yang jauh maupun yang ada di kota-kota, di pegunungan maupun di hutan-hutan.

Mereka bebas untuk beribadah sesuai dengan agamanya masing-masing dan untuk menjaga kebebasan mereka dalam beribadah pun merupakan kewajiban kaum Muslimin. Beliau s.a.w. bersabda, “Dikarenakan mereka sekarang adalah rakyat dari pemerintahan Muslim, oleh karena itu dalam hal ini untuk menjaga mereka pun merupakan kewajibanku, karena sekarang mereka telah menjadi rakyatku.”

Selanjutnya kaum Muslimin pun tidak memaksa mereka untuk bergabung dengan pasukan perang kaum Muslimin tanpa sekehendak hati mereka sendiri. Para padri dan pemuka-pemuka agama mereka tidak diberhentikan dari posisi dan kedudukan mereka, mereka tetap melaksanakan aktifitas keagamaan mereka sebagaimana biasa.

Tidak akan ada campur tangan terhadap tempat-tempat ibadah mereka. Tempat-tempat ibadah itu tidak akan digunakan di luar dari fungsi asalnya, tidaklah diubah menjadi tempat penginapan, tidak pula diambil alih oleh seseorang, atau digunakan untuk tujuan-tujuan lainnya tanpa izin dari mereka. Ulama-ulama atau rahib-rahib mereka di mana pun mereka berada tidak akan dikenakan jizyah atau pajak. Jika seorang Muslim mempunyai istri seorang Kristen, maka ia mendapatkan kebebasan penuh untuk beribadah menurut kepercayaannya itu. Jika ada seseorang yang ingin pergi untuk menanyakan suatu perkara kepada ulama-ulama mereka, maka tidak ada larangan.

Untuk memperbaiki gereja-gereja dan bangunan-bangunan lainnya milik mereka, Rasulullah s.a.w. memerintahkan bahwa jika mereka meminta bantuan berupa dana maupun tenaga dari kaum Muslimin, maka kaum Muslimin harus menolong mereka, karena ini merupakan suatu hal yang baik dan ini bukanlah termasuk jenis piutang, bukan pula termasuk sikap ihsan (jasa kebaikan), bahkan ini merupakan suatu bentuk upaya agar tali perjanjian itu terjalin lebih baik lagi, sehingga dengan cara demikian dapat terwujud ikatan sosial kemasyarakatan dan sikap saling menolong antara satu sama lain.[15]

Inilah standar yang dipegang beliau s.a.w. dalam menegakkan kebebasan dan toleransi beragama. Dengan demikian, menuduh beliau s.a.w. telah berbuat aniaya dan menyebarluaskan Islam dengan pedang merupakan suatu kezaliman yang besar.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Walhasil, ketika perilaku dan cara hidup para Ahli Kitab dan kaum Musyrikin Arab telah sangat rusak, mereka menganggap keburukan-keburukan yang mereka lakukan sebagai suatu kebaikan, mereka tidak pernah jera dari melakukan perbuatan-perbuatan dosa, serta melanggar perjanjian-perjanjian damai, maka Allah Ta’ala memberikan hukuumat (tampuk pemerintahan) ke tangan Nabi-Nya, dan melalui tangan utusan-Nya itu Dia ingin menyelamatkan orang-orang yang tidak berdaya, dan dikarenakan negeri Arab merupakan suatu negeri yang bebas dan tidak berada di bawah pemerintahan seorang raja, oleh karena itu setiap kelompok dan golongan melewati kehidupan mereka dengan begitu bebas dan berani.”

Yakni  tidak ada peraturan dan perundangan, karena mereka tidak di bawah pemerintahan mana pun.

“Dan, dikarenakan tidak adanya hukum yang berlaku, dari hari ke hari mereka semakin meningkat dalam hal perbuatan-perbuatan dosa, maka Allah Ta’ala menurunkan kasihsayangnya kepada negeri ini. Dia tidak hanya mengutus Rasulullah s.a.w. sebagai rasul ke negeri ini, bahkan juga menjadikan beliau s.a.w. badsyaah (sebagai raja) bagi negeri tersebut. Dia telah menyempurnakan Al-Qur’an Karim selayaknya sebuah peraturan dan perundangan, yang di dalamnya terdapat petunjuk-petunjuk berkenaan dengan urusan-urusan administrasi, militer, ekonomi dan lainnya.

Jadi, dengan kedudukan beliau s.a.w. sebagai seorang raja, maka beliau s.a.w. menjadi hakim bagi semua kelompok dan golongan yang ada di sana, dan para penganut dari setiap agama mengajukan perkara-perkara mereka ke hadapan beliau s.a.w. untuk meminta keputusan beliau s.a.w..

Terbukti dalam Al-Qur’an Syarif, bahwa suatu kali seorang Muslim dan seorang Yahudi mengajukan perkara mereka ke pengadilan beliau s.a.w. setelah beliau s.a.w. melakukan penyelidikan, beliau s.a.w. lalu menyatakan bahwa Yahudi itulah yang benar dalam kasus tersebut, dan menjadikan Muslim tersebut sebagai terdakwa.”  — Saya telah menceritakannya sebelum ini — “Beberapa penentang yang tuna ilmu dan tidak membaca Al-Qur’an Karim secara seksama, mereka mengaitkan segala sesuatunya – seperti halnya kasus di atas – dengan tugas kerasulan beliau s.a.w., padahal hukuman-hukuman serupa ini diberikan dalam kedudukan beliau s.a.w. sebagai Khilafat, yakni dalam kapasitas sebagai raja.”

Yakni, ini adalah merupakan perkara pemerintahan, selanjutnya bersabda:

“Di kalangan Bani Israil setelah masa Hadhrat Musa ‘alaihis salaam, nabi memiliki kedudukan tersendiri, dan raja memiliki kedudukan tersendiri yang memiliki tugas menegakkan keamanan dengan melalui sarana umuuri siyaasat (perkara-perkara atau kebijakan-kebijakan politis). Namun, di masa Hadhrat Rasulullah s.a.w., Allah Ta’ala telah menganugerahkan kedua macam kedudukan ini kepada beliau s.a.w.. Dengan memberikan pengecualian terhadap orang-orang yang berbuat tindak kejahatan, lantas inilah sikap beliau s.a.w. terhadap mereka yang non Muslim, sebagaimana tergambar dalam ayat berikut ini:

فَاِنۡ حَآجُّوۡکَ فَقُلۡ اَسۡلَمۡتُ وَجۡہِیَ لِلّٰہِ وَ مَنِ اتَّبَعَنِ ؕ وَ قُلۡ لِّلَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ وَ الۡاُمِّیّٖنَ ءَاَسۡلَمۡتُمۡ ؕ فَاِنۡ اَسۡلَمُوۡا فَقَدِ اہۡتَدَوۡا ۚ وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّمَا عَلَیۡکَ الۡبَلٰغُ ؕ وَ اللّٰہُ بَصِیۡرٌۢ بِالۡعِبَادِ ﴿٪﴾

‘…Dan wahai Rasul,  katakanlah kepada para ahli kitab dan orang-orang Arab yang jahil, bahwa, “Masuklah kalian ke dalam agama Islam. Jika mereka menerima Islam, maka mereka telah mendapatkan petunjuk. Dan jika mereka berpaling, maka tugasmu hanyalah menyampaikan perintah Ilahi.”’ (Al-Imran, ruku 3)

Dalam ayat ini tidaklah tertulis, ‘Tugas engkau adalah berperanglah dengan mereka.’ Di sini menjadi jelas bahwa perang hanya terhadap para pelaku tindak kejahatan yang membunuh orang-orang Islam, melanggar perjanjian-perjanjian damai, dan biasa melakukan pencurian atau perampokan, dan perang ini di lakukan dalam kedudukan sebagai raja, bukan dalam kapasitas sebagai rasul.”

 Yakni, ketika beliau s.a.w. memegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, maka beliau s.a.w. berperang, tetapi beliau tidak melakukannya dalam kedudukan beliau s.a.w. sebagai nabi.    “Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 وَ قَاتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَکُمۡ وَ لَا تَعۡتَدُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡمُعۡتَدِیۡنَ ﴿﴾

“Dan berperanglah kamu di jalan Allah dengan orang-orang yang memerangi kamu, dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Surah Al-Baqarah, 2:191)[16]

Walhasil, ketika syariat ini [tentang perang ini] saja turun kepada Nabi suci s.a.w. ini, bagaimana mungkin beliau s.a.w. berlaku aniaya dalam hal hukum-hukum yang menyangkut masalah mu’amalah.

Pada peristiwa Fatah Makkah, beliau s.a.w. mengumumkan pemberian maaf secara umum tanpa mengajukan syarat bahwa mereka harus terlebih dahulu beriman atau masuk Islam. Kita telah melihat salah satu contohnya tadi. Bentuk pemberian maaf ini bermacam-macam, akan tetapi syaratnya tidak harus menerima Islam terlebih dahulu baru dimaafkan.

Pada peristiwa itu diumumkan bahwa barangsiapa yang masuk ke tempat-tempat tertentu yang telah ditentukan, atau berada di bawah bendera seseorang yang telah ditentukan, atau mereka yang memasuki Ka’bah atau rumah seseorang tertentu, maka ia akan aman. Ini merupakan suatu suri teladan agung yang tidak bisa kita lihat dan temukan di tempat lain. Secara sempurna telah diumumkan bahwa, ‘Laa tatsriiba ‘alaikum al-yaum.’ Yakni, pergilah, hari ini tidak ada perhitungan atas kalian.” [Surah Yusuf, 12: 93 قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ ؕ یَغۡفِرُ اللّٰہُ  لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿۹۲﴾ Ia (Yusuf) berkata, “Tiada celaan bagi kamu pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kamu! Dan Dia-lah Yang Paling Penyayang diantara para penyayang.”]

Ribuan shalawat dan salam atas beliau s.a.w., yang telah menegakkan standar suri teladan agung ini dan mengajarkannya kepada kita. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya. Amin.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Pengurungan Nabi s.a.w., orang-orang Islam dan keluarga besar beliau s.a.w. di lembah Abu Thalib. Tepi-tepi lembah dijaga dengan orang-orang Quraisy bersenjata.

[3] Al-Sirat Al-Nabawiyyah li Ibni Hisyam, Jilid II, Hal. 284, Gazwat al-Badar al-Kubraa. Masywarat al-Hubab ‘ala al-Rasul saw.

[4] Muwatha Imam Malik, Kitab al-Nikah. Nikah al-Musyrik Idza Aslamat Zaujatuhu Qoblahu

[5] Al-Siirat al-Halabiyah, Jilid. III, Hal. 109, Beirut. Bab Dzikr Maghaziyyat Sallallahu ‘alaihi Wasallam. Fatah Makah Syarafahallahu ta’ala

[6] Bukhari, Kitaab al-Maghazi, Bab Wafad Bani Hanifah- Wa Hadits Tsumaamah Ibni Atsaal. Shabi adalah julukan/penamaan dari orang-orang Kuffar Makkah kepada orang-orang Islam di masa Nabi saw. Sebagai kota dagang [tidak ada tempat pertanian], Makkah menggantungkan pasokan bahan makanan dari kabilah-kabilah dekat dan jauh yang berdagang ke sana.

[7] Al-Siirat al-Nabawiyyah li Ibni Hisyam. Asir Tsumamah Ibni Atsal al-Hanafi, wa Islamuhu, Khurujuhu ilaa Makkah wa Qishshatuhu Ma’a Quraisy (bahasan mengenai penawanan Tsumamah ibn Atsal, keislamannya, kepergiannya menuju Makkah dan kisahnya bersama orang-orang Quraisy).

[8] Sahih Bukhari, Kitaab al-Janaaiz, Idza Aslama al-Shabiyyu fa Maata. Hadits no. 1356

[9] Dikutip dari Pengantar Mempelajari al-Quran karya Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad ra. Kahalifatul Masih al-Tsani. Hal. 112

[10] Shahih Muslim, Kitabul Iman, Bab Shuhbat  al-Mumalik, hadits no. 4308

[11] Bukhari, Kitaabul Khusuumat, Bab Maa yadzkuru fi al-Asykhas wa Khusumat baina al-Muslimu wa al-Yahudu

[12] Shahih Bukhari, Kitaab al-Janaaiz, Bab Man Qooma li Janaazati Yahudiyyi

[13] Al-Siirat al-Halabiyah, Bab ma Dzakara Maghaaziyah saw Ghazwat Khaibar, Jilid.III, Hal. 49

[14] Siirat Khaatam al-Nabiyyiin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad ra. Hal.279

[15] Zaad al-Ma’aad fi Hadyi Khair al-‘Ibaad karya Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Fashlu fii Quduumi wa Wafdi Najran

[16] Casymah Ma’rifat, Rohani Khazain, Jilid 23, Hal. 242-243

(Visited 178 times, 1 visits today)