Hadhrat Ammar putra Yasir dan Hadhrat Abu Lubabah h radhiyAllahu ‘anhuma

Pengumuman Shalat jenazah dan dzikr khair dua Almarhum/ah.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 29 Juni 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada khotbah yang lalu saya telah sampaikan masih ada sebagian riwayat yang belum tersampaikan perihal Hadhrat Ammar radhiyAllahu ta’ala ‘anhu (ra). Untuk itu pada hari ini akan saya sampaikan.

Diriwayatkan olah Hadhrat Hasan (ra), قال رجل لعمرو بن العاص أرأيت رجلا مات رسول الله (صلى الله عليه وسلم) وهو يحبه أليس رجلا صالحا قال بلى bahwa Hadhrat Amru bin Ash mengatakan, “Siapa yang dicintai Hadhrat Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (saw) sampai akhir hayat beliau, saya berharap semoga Allah tidak memasukkannya ke dalam neraka [karena dia orang saleh].”

Orang-orang mengatakan: قد مات رسول الله (صلى الله عليه وسلم) وهو يحبك وهو استعملك “Kami menyaksikan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) mencintai Anda dan beliau pun menjadikan Anda sebagai Amil [suatu jabatan tertentu].”

Hadhrat Amru Bin Ash (عمرو بن عاص) mengatakan, قد استعملني فوالله ما أدري أحبا كان لي منه أو استعانة بي ولكن سأحدثك برجلين مات وهو يحبهما عبد الله بن مسعود وعمار بن ياسر “Allah-lah yang lebih mengetahui apakah Rasul Allah mencintai saya atau beliau yang membuat saya menyintai beliau, namun kami menyaksikan beliau (saw) mencintai seseorang.”

Orang-orang bertanya, “Siapa gerangan orang itu?”

Hadhrat Amr Bin Ash mengatakan: “Ammar Bin Yasir adalah orang yang selalu dicintai Hadhrat Rasulullah (saw).”

Mendengar itu, orang-orang berkata, ذاك قتيلكم يوم صفين “Kalian yang mensyahidkan beliau dalam perang Siffin, kan?”

Hadhrat Amru Bin Ash saat itu tengah berpihak pada Amir Muawiyah.[1]

Hadhrat Amru Bin Ash mengatakan: قد والله فعلنا قد والله فعلنا “Demi Allah, kami-lah yang telah berperang melawan beliau hingga beliau terbunuh.”[2]

Dalam riwayat lain, Hadhrat Amru Bin Ash mengatakan, إِنِّي وَاللّهِ مَا أَدْرِي أَحُبًّا ذَلِكَ كَانَ أَمْ تَأَلُّفًا يَتَأَلّفُنِي، وَلَكِنِّي أَشْهَدُ عَلَى رَجُلَيْنِ أَنّهُ قَدْ فَارَقَ الدُّنْيَا وَهُوَ يُحِبُّهُمَا: ابْنُ سُمَيَّةَ، وَابْنُ أُمِّ عَبْدٍ. “Saya menjadi saksi atas dua orang yang mana Hadhrat Rasulullah (saw) mencintai mereka sampai akhir hayat beliau, yaitu Ibn Sumayyah (Hadhrat Ammar Bin Yasir) dan Ibn Umm ‘Abdin (Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud).”[3]

Abu Bakr Bin Muhammad Bin Amru Bin Hazm (أَبِي بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ) meriwayatkan dari ayahnya bahwa ketika Hadhrat Ammar Bin Yasir disyahidkan, Hadhrat Amru Bin Hazm datang kepada Hadhrat Amru Bin Ash dan mengatakan, “Ammar telah disyahidkan. Saya pernah mendengar Hadhrat Rasulullah (saw) saw bersabda, تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ ‘Yang akan mensyahidkannya ialah kelompok pemberontak (pembangkang).’”

Mendengar itu Hadhrat Amru bin Ash ketakutan lalu pergi kepada Hadhrat Muawiyah (مُعَاوِيَةُ‏). Hadhrat Muawiyah bertanya, مَا شَأْنُكَ‏؟‏ “Anda baik baik saja, kan?”

Hadhrat Amru Bin Ash mengatakan, قُتِلَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ “Ammar Bin Yasir telah disyahidkan.”

Hadhrat Muawiyah bertanya, قُتِلَ عَمَّارٌ، فَمَاذَا‏؟‏ “Memang Ammar telah disyahidkan, lantas kenapa?”

Hadhrat Amar mengatakan, “Saya mendengar Hadhrat Rasulullah (saw) saw bersabda bahwa yang akan mensyahidkannya ialah kelompok pemberontak.”

Muawiyah berkata: أَنَحْنُ قَتَلْنَاهُ إِنَّمَا قَتَلَهُ عَلِيٌّ وَأَصْحَابُهُ‏؟‏ جَاءُوا بِهِ حَتَّى أَلْقَوْهُ بَيْنَ رِمَاحِنَا أَوْ سُيُوفِنَا “Apakah kita telah mensyahidkannya? Ali dan kawan-kawannyalah yang telah membuat kita membunuhnya karena merekalah yang membuatnya (Ammar) datang ke depan tombak-tombak atau pedang-pedang kita.”[4]

Dengan demikian, terdapat satu kebaikan pada Hadhrat Amru Bin Ash yang mana beliau merasa khawatir, namun Amir Muawiyah tidak begitu menganggap penting terhadapnya. Bagaimanapun para sahabat merasa khawatir ketika sampai riwayat kepada mereka atau jika mereka dengar langsung bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) saw telah bersabda mengenai sesuatu peringatan atau kabar suka.

Hadhrat Aisyah bersabda perihal Hadhrat Ammar bahwa dari mulai telapak kaki sampai ujung rambut Hadhrat Ammar Bin Yasir dipenuhi dengan keimanan.

Hadhrat Khabbab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu hadir ke hadapan Hadhrat Umar radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Hadhrat Umar (ra) berkata kepada beliau, “Mendekatlah! Tidak ada yang lebih berhak atas majlis ini dari anda kecuali Ammar.” Lalu Hadhrat Khabbab memperlihatkan tanda luka-luka di pinggang kepada Hadhrat Umar, yang disebabkan oleh orang-orang musyrik. Hadhrat Umar tengah memuji dan menghormati beliau saat itu karena beliau banyak menanggung derita pada masa-masa awal. Bersamaan dengan itu mengatakan juga perihal Hadhrat Ammar bahwa Hadhrat Ammar pun banyak menanggung derita.

Ada juga satu riwayat Hadhrat Ammar mengenai pensyahidan Hadhrat Ali radhiyAllahu ta’ala ‘anhu yang berkaitan dengan nubuatan Hadhrat Rasulullah (saw). Diriwayatkan oleh Hadhrat Ammar Bin Yasir, “Suatu ketika pada peperangan Dzul ‘Asyirah (غَزْوَةِ ذِي الْعَشِيرَةِ) saya bersafar dengan Hadhrat Ali. Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) memasang kemah di suatu tempat, kami melihat beberapa orang Banu Mudallij (بَنِي مُدْلِجٍ) yang tengah bekerja pada sumber mata air kebun, Hadhrat Ali berkata kepada saya, يَا أَبَا الْيَقْظَانِ ، هَلْ لَكَ أَنْ تَأْتِيَ هَؤُلاءِ فَتَنْظُرَ كَيْفَ يَعْمَلُونَ ؟ ‘Wahai Abu Yaqzhan (panggilan untuk Hadhrat Ammar]! Ayo kita melihat bagaimana mereka bekerja.’

Lalu kami pergi menghampiri mereka. Kami melihat mereka bekerja sebentar saja, lalu kami mengantuk dan pulang, kemudian kami terlentang diatas tanah di sebuah kebun. Demi Tuhan, Hadhrat Rasulullah (saw) lah yang membangunkan kami dengan menggerakkan kaki beliau. Kami berlumuran tanah.

Saat itu Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Ali, يَا أَبَا تُرَابٍ ‘Wahai Abu Turab (bapak tanah! Disebabkan tampak pada beliau lumuran tanah itu sehingga beliau dianggil Abu Turab oleh Nabi saw.) أَلا أُحَدِّثُكُمَا بِأَشْقَى النَّاسِ رَجُلَيْنِ ؟ Maukah kuberitahukan perihal dua orang yang sangat merugi?

Kami berkata, بَلَى ، يَا رَسُولَ اللَّهِ ‘Tentu, wahai Rasul!’

Beliau bersabda, أُحَيْمِرُ ثَمُودَ الَّذِي عَقَرَ النَّاقَةَ ‘Pertama, laki-laki berwarna merah dan putih di kaum Tsamud yang telah memotong kaki unta.

وَالَّذِي يَضْرِبُكَ يَا عَلِيُّ عَلَى هَذِهِ يَعْنِي قَرْنَهُ حَتَّى تُبَلَّ مِنْهُ هَذِهِ يَعْنِي لِحْيَتَهُ Yang kedua – wahai Ali! – adalah orang yang menyerang kepala Anda dan membasahi janggut Anda dengan darah.’”[5]

Abu Majlis (ابو مجلس) meriwayatkan suatu kali Ammar bin Yasir mengimami shalat dengan ringkas, maka seseorang menanyakan alasannya. Hadhrat Ammar menjawab, ‘Saya tidak membedakan sedikitpun dengan shalat Hadhrat Rasulullah (saw).’

Mengenai riwayat ini yang lebih rinci sebagai berikut: Abu Majlis meriwayatkan suatu kali Ammar bin Yasir mengimami shalat dengan ringkas (cepat). Orang-orang heran dibuatnya. Hadhrat Ammar berkata, “Bukankah saya menyempurnakan ruku dan sujud?” Mereka menjawab, “Kenapa tidak!?” (Tentu saja.)

Hadhrat Ammar mengatakan, “Di dalam shalat itu, saya memanjatkan doa yang biasa Hadhrat Rasulullah (saw) panjatkan yaitu: اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ، وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، “Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui Hal Yang ghaib, kekuasaan Engkau meliputi segenap mahluk, أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي، hidupkanlah hamba jika Engkau tahu bahwa kehidupan ini lebih baik untuk hamba, dan matikanlah hamba jika Engkau tahu bahwa kematian itu lebih baik untuk hamba.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، Ya Allah, hamba memohon kepada Engkau, tumbuhkan rasa takut kepada Engkau dalam diri hamba ketika tersembunyi (sendirian) dan terang-terangan (di kalangan banyak orang); وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ،dan hamba memohon kepada Engkau ucapan kebenaran ketika ridha dan ketika marah; وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ،dan hamba memohon kepada Engkau kesederhanaan ketika fakir dan ketika kaya; وَأَسْأَلُكَ نَعِيمَاً لاَ يَنْفَدُ، dan hamba memohon kepada Engkau nikmat yang tidak hilang, وأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لاَ تَنْقَطِعْ، dan hamba memohon kepada Engkau penyejuk mata yang tiada terputus; وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعَدَ الْقَضَاءِ، dan hamba memohon kepada Engkau sifat rela kepada keputusan takdir; وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، dan hamba memohon kepada Engkau kenyamanan kehidupan setelah kematian hamba; وَأَسْأْلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلاَ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ،dan hamba memohon kepada Engkau nikmatnya memandang wajah Engkau dan rasa rindu untuk bertemu dengan Engkau, tidak dalam keadaan kesulitan yang membahayakan dan tidak juga dalam fitnah yang menyesatkan.

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ ‘Allahumma zayyinaa bi ziinatil iimaani, waj’alnaa hudaatam muhtadiin.’ – Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami pemberi petunjuk bagi orang-orang yang diberi petunjuk.”[6]

Dalam riwayat juga dikatakan, أنَّ عمَّار بن ياسر رضي الله عنهما كان يقرأ يوم الجمُعة على المنبر بـ[يس] Hadhrat Ammar Bin Yasir setiap hari jumat menilawatkan surat Yaasiin di mimbar.

Harits bin Suwaid (الْحَارِثِ بْنِ سُوَيْدٍ) mengatakan, أَنَّ رَجُلا مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ وَشَى بِعَمَّارٍ إِلَى عُمَرَ ، قَالَ : فَقَالَ لَهُ عَمَّارٌ : أَمَا إِنْ كُنْتَ كَاذِبًا ، فَأَكْثَرَ اللَّهُ مَالَكَ وَوَلَدَكَ ، وَجَعَلَكَ مُوَطَّأَ الْعَقِبَيْنِ “Ada seseorang yang melaporkan Hadhrat Ammar kepada Hadhrat Khalifah Umar. Kabar ini sampai kepada Hadhrat Ammar, lalu beliau mengangkat tangan dan berdoa, ‘Ya Allah! Jika memang orang tersebut mengada-adakan kedustaan mengenai hamba, berikanlah padanya kelapangan di dunia ini dan hukumlah di akhirat.’”[7]

Abu Naufal Bin Abi Aqrab (أَبُو نَوْفَلٍ بنُ أَبِي عَقْرَبٍ) meriwayatkan, كَانَ عَمَّارُ بنُ يَاسِرٍ قَلِيْلَ الكَلاَمِ، طَوِيْلَ السُّكُوْتِ، وَكَانَ عَامَّةُ قَوْلِهِ: عَائِذٌ بِالرَّحْمَنِ مِنْ فِتْنَةٍ، عَائِذٌ بِالرَّحْمَنِ مِنْ فِتْنَةٍ، “Hadhrat Ammar bin Yasir adalah orang yang paling pendiam dan paling kurang berbicara. Beliau selalu mengatakan, ‘Hamba berlindung kepada Yang Maha Rahman dari fitnah, hamba berlindung kepada Yang Maha Rahman dari fitnah.’”[8]

Khaitsmah Bin Abi Sabrah (خَيْثَمَةَ بْنِ أَبِي سَبْرَةَ) meriwayatkan, “Suatu kali saya datang ke Madinah dan berdoa kepada Allah, إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يُيَسِّرَ لِي جَلِيسًا صَالِحًا ‘Ya Allah! Berikanlah hamba kemudahan untuk dapat bergaul dengan orang baik.’

Lalu Allah ta’ala mempertemukan saya dengan Abu Hurairah. Hadhrat Abu Hurairah bertanya padaku, مِنْ أَيْنَ أَنْتَ ‘Anda berasal dari mana?’

Saya jawab, مِنْ أَهْلِ الْكُوفَةِ ‘Saya berasal dari Kufah (Irak sekarang). جِئْتُ أَلْتَمِسُ الْخَيْرَ وَأَطْلُبُهُ Saya datang ke sini untuk menuntut ilmu dan kebaikan.’

Hadhrat Abu Hurairah mengatakan, أَلَيْسَ فِيكُمْ سَعْدُ بْنُ مَالِكٍ مُجَابُ الدَّعْوَةِ ‘Apakah Anda berkawan dengan orang yang doanya makbul Hadhrat Sa’d Bin Malik (Sa’d ibn Abi Waqqash); وَابْنُ مَسْعُودٍ صَاحِبُ طَهُورِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَنَعْلَيْهِ orang yang selalu mengangkatkan air minum dan sandal Hadhrat Rasulullah (saw) yaitu Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud; وَحُذَيْفَةُ صَاحِبُ سِرِّ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم dan Hadhrat Huzaifah Bin Yaman, sang penjaga rahasia Hadhrat Rasulullah (saw); وَعَمَّارٌ الَّذِي أَجَارَهُ اللَّهُ مِنَ الشَّيْطَانِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ dan Ammar Bin Yasir yang berkenaan dengannya Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda bahwa Allah ta’ala melindunginya dari syaitan; وَسَلْمَانُ صَاحِبُ الْكِتَابَيْنِ (وَالْكِتَابَانِ الإِنْجِيلُ وَالْفُرْقَانُ) juga Hadhrat Salman, orang yang menguasai pengetahuan dua kitab yakni Quran dan injil?’[9]

Lalu Abu Hurairah berkata, “Ketika ada orang-orang ini ada, lantas kenapa kita tidak mengambil manfaat dari mereka?”

Muhammad Bin Ali Bin Al-Hanafiyah (مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ) meriwayatkan Hadhrat Ammar Bin Yasir datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw). Saat itu Rasul tengah sakit Rasul bersabda kepada Hadhrat Ammar, أَلَا أُعَلِّمُكَ رُقْيَةً رَقَانِي بِهَا جِبْرَئِيلُ‏؟‏ “Maukah saya ajarkan jampi kepada Anda yang mana telah Jibril ajarkan kepada saya?

Hadhrat ammar berkata, بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ “Tentu wahai Rasul!”

Lalu Rasul mengajarkan jampi ini kepada beliau: بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، وَاللَّهُ يَشْفِيكَ مِنْ كُلِّ دَاءٍ يُؤْذِيكَBismillaahi arqiika wallaahu yasyfiika min kulli daain yudziika’ – artinya, ‘Saya jampi setelah memulai dengan nama Allah dan semoga Allah menyembuhkanmu dari penyakit yang mengganggumu.’ خُذْهَا فَلْتَهْنِكَ Peganglah ini dan berbahagialah.[10]

Diriwayatkan oleh Hadhrat Anas (أنس بن مالك) bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda,الجنة تشتاق إلى أربعة علي وسلمان وبلال وعمار “Surga sangat merindukan kedatangan empat orang berikut ini: Hadhrat Ali, Hadhrat Salman, Hadhrat Bilal dan Hadhrat Ammar radhiyAllahu ‘anhum.”[11]

Diriwayatkan oleh Hadhrat Hudzaifah (حُذَيْفَةَ), كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ “Ketika kami tengah duduk bersama dengan Nabi yang mulia (saw), beliau (saw) bersabda, إِنِّي لاَ أَدْرِي مَا قَدْرُ بَقَائِي فِيكُمْ فَاقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي وَأَشَارَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَاهْتَدُوا بِهَدْىِ عَمَّارٍ وَمَا حَدَّثَكُمُ ابْنُ مَسْعُودٍ فَصَدِّقُوهُ ‘Saya tidak tahu berapa lama lagi akan tinggal di tengah-tengah kalian. Untuk itu sepeninggal saya ikutlah orang-orang ini – beliau mengisyarahkan kepada Abu Bakr dan Umar radhiyAllahu ta’ala ‘anhuma -, tirulah cara-cara Ammar dan yakinilah apa yang disampaikan oleh ibnu Mas’ud kepada kalian.’”[12]

Telah disampaikan juga perihal Hadhrat Ammar pada Jumat lalu bahwa Hadhrat Ammar telah terkecoh oleh para pengacau. Ketika Hadhrat Khalifah Utsman mengutus Hadhrat Ammar untuk menyelidiki seorang Gubernur atau Amir (Mesir), tapi beliau pergi kepada grup pengacau, sehingga penyelidikan tidak dilakukan sepenuhnya. Dalam menjelaskan hal ini Hadhrat Khalifatul Masih tsani Ra menulis, “Penyebab timbulnya kerusuhan terhadap Hadhrat Utsman dan penentangan terhadap Khilafat adalah tidak adanya tarbiyat yang benar terhadap orang-orang itu, mereka sangat jarang berkunjung ke markas, kurangnya pengetahuan mengenai Al-Quran dan kurangnya ilmu agama,”

Untuk itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menasihatkan kepada para Ahmadi untuk menjadikan hal ini sebagai pelajaran. Yakni pertama, pelajarilah ilmu Al Quran, jalinlah hubungan dengan markas dan tuntutlah ilmu agama, sehingga dengan demikian jika di masa mendatang timbul jenis fitnah fasad (kericuhan) apa saja dalam Jemaat, kalian akan terselamatkan darinya. Untuk itu kita harus selalu ingat.

Memang tidak setiap orang dapat datang ke markas dan tidak pula semua orang dapat berhubungan secara pribadi dengan Khilafat, namun terdapat sarana kemudahan untuk mempelajari ilmu agama dan Al-Quran. Allah Ta’ala telah memberikan sarana kepada kita semua di zaman ini dengan perantaraan MTA (Muslim Television Ahmadiyya). Jika kita mau, kita dapat mempelajari ilmu agama dari MTA, ada daras Quran, daras hadits, daras buku Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam, ada tayangan khotbah yang dengannya hubungan dengan khilafat dapat terjalin, juga ceramah-ceramah lainnya dan jalsah-jalsah. Sekurang-kurangnya jika kita menjalinkan diri sendiri dan anak keturunan kita dengannya maka ini merupakan sarana yang baik untuk tarbiyat. Hal itu dapat menyelamatkan kita dari berbagai macam fitnah kekacauan dan meningkatkan ilmu agama kita. Untuk itu para Ahmadi hendaknya menaruh perhatian yang dalam atas hal ini yakni menjalinkan diri dengan sarana MTA yang Allah Ta’ala anugerahkan.

Saya akan sampaikan juga perihal sahabat lain bernama Hadhrat Abu Lubabah h Bin Abdul Mundzir (أبو لبابة بن عبد المنذر الأنصاري) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Terdapat perbedaan pendapat perihal nama asli Hadhrat Abu Lubabah h. Sebagian menyebutnya Basyir (بُشَير بن عَبْد المُنْذِر بن زَنْبَر), menurut Ibnu Ishaq namanya Rifa’at (رِفَاعَةُ بْنُ زَنْبَرٍ), menurut Allamah Zamakhsyari bernama Marwan (مروان). Beliau adalah berasal dari Qabilah Aus, dari kalangan Anshar (penduduk Madinah) dan termasuk kedalam 12 naqib dan ikut serta dalam baiat Aqabah.

Ketika perang Badar, pada saat meninggalkan Madinah, Hadhrat Rasulullah (saw) menetapkan Hadhrat Ummi Maktum sebagai pejabat sementara Amir, namun ketika beliau sampai di dekat daerah Rauha yang berjarak 36 mil dari Madinah, mungkin disebabkan karena Abdullah ummi maktum seorang tuna netra dan ada kabar kemungkinan datangnya pasukan Quraisy untuk itu diharapkan pengaturan di Madinah kokoh, sehingga akhirnya beliau Saw menunjuk Abu Lubabah h sebagai Amir Madinah dan memulangkannya.

Hadhrat Rasulullah (saw) memerintahkan perihal Hadhrat Ummi Maktum untuk ditugaskan sebagai Imam Shalat saja, sedangkan untuk pemerintahan dibebankan kepada Hadhrat Abu Lubabah h. Akhirnya Abu Lubabah h kembali lagi ke Madinah setelah menempuh setengah perjalanan.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) menetapkan bagian untuk Abu Lubabah h dari harta rampasan. Saat perang Badar, setiap tiga orang menunggangi satu ekor unta secara bergantian. Hadhrat Abu Lubabah h, Hadhrat Ali bin Abi Thalib dan Hadhrat Rasulullah (saw) menunggangi satu ekor unta. Pada saat tiba giliran Hadhrat Rasulullah (saw) untuk berjalan, keduanya berkata, ‘Biar kami saja yang berjalan.’ Beliau bersabda, ‘Kalian berdua tidaklah lebih kuat dari saya. Saya pun masih memerlukan pahala, lebih dari yang kalian berdua perlukan.”

Setelah perang Badar baru usai, Hadhrat Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat Zaid Bin Haritsah untuk menyampaikan kabar suka [kemenangan perang Badar] ke Madinah. Hadhrat Zaid datang dengan mengendarai unta Hadhrat Rasulullah (saw). Ketika beliau sampai di tempat shalat, beliau mengumumkan dari atas kendaraan dengan suara keras, “Dua putra Rabiah, yaitu Utbah dan Syaibah, anak anak Hijaj, Abu Jahal, Abul Bakhtari Zam’ah bin Al Aswad dan Umayyah Bin Khalf kesemuanya telah terbunuh. Adapun Suhail Bin Amru dan banyak tokoh [Quraisy] yang lain-lainnya telah menjadi tawanan.”

Orang-orang tidak yakin atas perkataan Zaid Bin Haritsah dan mengatakan, “Zaid telah kalah dan pulang.” Hal ini telah membuat umat Muslim marah. Orang-orang munafik dan para penentang selalu mengatakan itu. Mereka sendiri ketakutan, karena itulah mereka mengatakan seperti itu. Ada seorang dari kalangan munafik yang berkata kepada Hadhrat Usamah putra Zaid bin Haritsah, “Pemimpin kamu dan orang-orang yang besertanya telah terbunuh.”

Seseorang telah mengatakan kepada Abu Lubabah h, “Sekarang kawan-kawanmu telah bercerai-berai sehingga tidak mungkin untuk bersatu lagi. Muhammad saw sendiri dan para sahabat besarnya telah syahid. Ini adalah unta beliau dan kita mengenalnya.” Karena ru’ub (kewibawaan) Hadhrat Zaid, mereka tidak memberitahukan (menyampaikan) hal ini kepadanya.

Para penentang itu mengatakan, “Karena ketakutan, Zaid sendiri tidak paham apa yang tengah dikatakannya, kalah dan pulang.”

Hadhrat Abu Lubabah h mengatakan, “Allah Ta’ala akan mendustakan perkataanmu. Itu juga yang dikatakan orang-orang Yahudi yakni Zaid telah gagal dan kembali pulang.”

Hadhrat Usamah Bin Zaid mengatakan, “Secara terpisah saya katakan kepada ayah saya, ‘Wahai ayah, apakah yang Ayah katakan itu benar?

Hadhrat Zaid berkata: ‘Wahai, Nak! Demi Allah, itu adalah benar apa yang Ayah katakan.’”

Hadhrat Usamah mengatakan, “Dengan itu hati saya menjadi teguh.”

Berkenaan dengan kesederhanaan dan kecintaan Hadhrat Abu Lubabah h kepada Hadhrat Rasulullah (saw) di dalam riwayat dijelaskan bahwa pada tahun ke-5 Hijriah, setelah selesai dari perang Khandaq, Hadhrat Rasulullah (saw) kembali ke kota.

Baru saja beliau menurunkan senjata dan lain-lain dengan susahnya dan selesai mandi dan berbasuh, beliau dikabari Allah melalui kasyaf bahwa sebelum diputuskan perihal pembangkangan dan pemberontakan Banu Quraizhah, hendaknya beliau jangan dulu menurunkan senjata. Beliau mengumumkan kepada para sahabat untuk menuju semuanya ke benteng (kubu) Banu Quraizhah. Shalat Ashar akan dilaksanakan di sana.

Pada mulanya orang Yahudi memperlihatkan kesombongannya, namun seiring berjalannya waktu, mereka mulai merasakan kesulitan dan ketidakberdayaan yang ditimbulkan oleh kepungan umat Muslim. Pada akhirnya mereka bermusyawarah membahas apa yang harus dilakukan pada saat itu. Mereka mengusulkan untuk memanggil seorang muslim yang pernah memiliki hubungan dengan mereka dan sederhana sehingga bisa terpengaruh oleh mereka.

Selanjutnya, mereka akan berusaha mencari informasi dari Muslim tersebut, apa yang dikehendaki oleh Rasul dari mengenai mereka sehingga berdasarkan itu dapat diusulkan untuk masa yang akan datang. Lalu mereka mengutus seseorang ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw) untuk memohon supaya Hadhrat Rasulullah (saw) mengutus Abu Lubabah h Bin Munzir ke banteng mereka untuk mendengarkan pendapat mereka. Beliau mengizinkan Abu Lubabah h dan pergi ke banteng mereka.

Para pemimpin Banu Quraizhah membuat satu rencana yakni ketika Abu Lubabah h memasuki banteng mereka nanti, semua wanita dan anak-anak Yahudi menangis dan mengelilingi Abu Lubabah h untuk memberikan kesan padanya akan penderitaan dan musibah yang dirasakan mereka. Lalu, mereka melakukan itu.

Atas pertanyaan Bani Quraizhah yang menyatakan, “Wahai Abu Lubabah h, bagaimana kondisi kami sesuai dengan yang kamu lihat? Apakah kami akan keluar dari benteng kami atas putusan Hadhrat Rasulullah (saw)?”

Abu Lubabah h langsung menjawab, “Ya kalian akan keluar namun – sembari memberikan isyarah tangan memotong leher mengatakan – Hadhrat Rasulullah (saw) akan memerintahkan untuk membunuh kalian.”

Hadhrat Abu Lubabah h mengatakan, “Ketika teringat saya telah berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya – apa yang dia isyarahkan itu adalah hal yang keliru [karena Nabi saw tidak menitipkan pesan apa pun kepadanya] – maka kaki saya terasa kaku.”

Lalu beliau pergi ke Mesjid Nabawi dan mengikatkan diri sendiri pada tiang di masjid Nabawi dan mengatakan, “Ini adalah hukuman untuk saya. Sebelum Allah Ta’ala menerima taubat saya, saya akan terikat terus seperti ini.”

Hadhrat Abu Lubabah h menuturkan, “Kabar perihal kepergian saya ke Banu Quraizhah dan apa yang saya lakukan di sana diketahui Hadhrat Rasulullah (saw). Beliau bersabda, ‘Tinggalkan dia sebelum Allah ta’ala berfirman perihal apa yang dikehendaki-Nya. Jika seandainya dia datang pada saya, maka saya akan mintakan ampunan untuknya. Namun jika dia tidak datang pada saya dan malah pergi, untuk itu biarkan pergi.’”

Hadhrat Abu Lubabah h mengatakan, “Saya diliputi penderitaan itu selama 15 hari, saya melihat mimpi dan saya selalu mengingatnya, dalam mimpi itu bahwa kami telah mengepung Banu Quraizhah dan seolah olah saya berada di dalam lumpur yang berbau. Saya tidak dapat keluar dari lumpur itu dan hampir saja saya binasa karena baunya. Lalu saya melihat sungai yang tengah mengalir. Saya melihat diri saya tengah mandi didalamnya sehingga aku membersikan diri sendiri. Baru saya mencium bau wangi.”

Lalu beliau pergi ke hadapan Hadhrat Abu Bakr untuk menanyakan tabir mimpi itu. Hadhrat Abu Bakr menabirkan, “Anda akan menghadapi masalah yang akan membuat Anda bersedih. Lalu Anda akan dibebaskan darinya.”

Hadhrat Abu Lubabah h mengatakan, “Ketika terikat itu saya teringat perkataan Hadhrat Abu Bakr dan berharap supaya taubat saya diterima.”

Hadhrat Ummu Salamah mengatakan, “Kabar mengenai diterimanya taubat Abu Lubabah h turun di rumah saya. Wahyu tersebut turun kepada Hadhrat Rasulullah (saw) pada saat sahur. Saya mendengar Hadhrat Rasulullah (saw) tertawa pada waktu sahur saya bertanya: ‘Wahai Rasulullah (saw), apa gerangan yang baginda tertawakan?’

Hadhrat Rasulullah (saw) menjawab, ‘Allah telah mengampuni dosa Abu Lubabah h. ‘Aku bertanya kepadanya: ‘Apakah aku boleh menyampaikan berita gembira itu kepadanya?. ‘Hadhrat Rasulullah (saw) menjawab: ‘Boleh saja kalau kau mau’. Dia lalu berdiri di pintu kamarnya; kejadian itu terjadi sebelum kewajiban berhijab (pardah) diundangkan. Saya berkata: ‘wahai Abu Lubabah h, bergembiralah, Allah telah mengampuni dosamu.’

Setelah itu, banyaklah orang yang datang hendak melepaskan ikatannya, namun ia menolak seraya berkata: ‘Tidak. Demi Allah, saya tidak mau sebelum Hadhrat Rasulullah (saw) datang membebaskan saya dengan tangannya sendiri.’

Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) hendak shalat shubuh, baginda menghampirinya dan membukakan ikatannya.”

Abu Lubabah h lalu berkata kepada Hadhrat Rasulullah (saw): “Kiranya akan sempurna taubat saya kalau saya meninggalkan kampung halaman kaumku tempat saya melakukan dosa di sana dan aku sumbangkan seluruh harta saya?”.

Hadhrat Rasulullah (saw) menjawabnya, ”Kau hanya dibenarkan menyumbangkan sepertiganya saja.” Lalu Abu Lubabah h menyumbangkan sepertiga dari hartanya dan meninggalkan rumah leluhur beliau.

Selain menjelaskan hal tersebut, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ta’ala ‘anhu menjelaskan peristiwa lengkapnya bahwa masih harus dibuat perhitungan perihal Banu Quraizhah. Pembangkangan mereka tak dapat dibiarkan begitu saja. Setelah sampai Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada para sahabat untuk jangan beristirahat dulu, sebelum matahari terbenam kalian harus sampai di bentengnya Banu Quraizhah. Kemudian beliau mengutus Hadhrat Ali ke sana untuk menanyakan, mengapa Banu Quraizhah telah melanggar janji mereka.

Banu Quraizhah tidak menunjukkan penyesalan atau kecenderungan untuk minta maaf. Sebaliknya, mereka menghina dan mengejek Hadhrat Ali dan anggota-anggota delegasi lainnya serta mulai melemparkan cacian dan makian terhadap Hadhrat Rasulullah (saw) dan para wanita keluarga beliau. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak ambil perduli akan Muhammad (saw) dan tak pernah mengadakan perjanjian dengan beliau. Ketika Ali kembali memberi laporan tentang jawaban kaum Yahudi itu, ia menyaksikan Hadhrat Rasulullah (saw) dan para Sahabat tengah bergerak menuju perbentengan Yahudi itu. Kaum Yahudi tengah mencaci-maki Hadhrat Rasulullah (saw), istri-istri dan anak-anak beliau. Khawatir kalau-kalau hal itu akan menyakiti hati Hadhrat Rasulullah (saw), Ali mengemukakan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) sendiri tak perlu ikut, sebab kaum Muslimin sendiri sanggup menghadapi kaum Yahudi itu. Hadhrat Rasulullah (saw) mengerti maksud Ali dan bersabda, “Kamu menghendaki aku tak mendengar caci- maki mereka, hai Ali?”

“Ya, tepat sekali,” ujar Ali.

“Tetapi mengapa?” Sabda Hadhrat Rasulullah (saw). “Musa adalah dari sanak-saudara mereka sendiri. Meski demikian, mereka telah menimpakan penderitaan kepada beliau, lebih daripada kepadaku.” Hadhrat Rasulullah (saw) terus maju. Orang Yahudi mengatur pertahanan dan memulai pertempuran. Wanita-wanita mereka pun ikut. Beberapa prajurit Muslim sedang duduk di kaki dinding benteng. Seorang wanita Yahudi yang melihat kesempatan itu menjatuhkan batu ke atas mereka dan menewaskan seorang yang bernama Khallad. Pengepungan benteng itu terjadi beberapa hari.

Akhirnya, kaum Yahudi merasa tak dapat bertahan lama lagi. Maka para pemimpin mereka mengirimkan permohonan kepada Hadhrat Rasulullah (saw) untuk mengutus Abu Lubabah , seorang pemimpin Anshar dari suku Aus yang baik perhubungannya dengan kaum Yahudi. Mereka ingin meminta nasihatnya untuk mencapai suatu penyelesaian.

Hadhrat Rasulullah (saw) menyuruh Abu Lubabah pergi kepada orang-orang Yahudiyang menanyakan apakah mereka sebaiknyamenghentikan pertempuran dan menerima syarat-syarat perdamaianHadhrat Rasulullah (saw). Abu Lubabah mengatakan bahwa hal itu merupakansyarat mutlak. Tetapi, pada saat itu juga ia mengisyarahkan dengan tangan memotong leher, isyarat kematian dengan pembunuhan.

Hadhrat Rasulullah (saw) tak berkata apa-apa kepada siapa juga tentang perkara itu. Tetapi Abu Lubabah yang khawatir bahwa atas kejahatan itu tak ada balasan lain kecuali “hukuman mati”, tanpa disengaja telah membuat gerakan isyarat itu, yang ternyata menjadi malapetaka bagi kaum Yahudi. Mereka menolak nasihat Abu Lubabah untuk menyerahkan nasib kepada keputusan Hadhrat Rasulullah (saw). Andai kata merekamenerimanya, maka hukuman paling berat yang akan mereka terima ialah pengusiran dari Medinah. Tetapi, nasib buruk mereka membuat mereka menolak putusan Hadhrat Rasulullah (saw)

Daripada menerima keputusan Hadhrat Rasulullah (saw), mereka lebih suka menerima keputusan Sa’d bin Muadz pemimpin sekutu mereka, suku Aus. Mereka bersedia menerima apa pun yang diusulkannya. Suatu pertengkaran timbul di
antara orang-orang Yahudi. Beberapa dari mereka mulai mengatakan bahwa kaum mereka sesungguhnya telah mencabut persetujuan dengan kaum Muslimin. Di pihak lain, sikap dan perilaku kaum Muslimin menunjukkan kebenaran serta kejujuran, dan bahwa agama mereka pun agama yang benar. Mereka yang beranggapan demikian terus masuk Islam. Amir bin Sa’id, salah seorang pemimpin Yahudi, menyesali kaumnya dan berkata, “Kamu telah melanggar kepercayaan dan telah mengkhianati janji yang telah kamu berikan. Jalan satu-satunya yang masih terbuka untuk kamu ialah masuk Islam atau membayar jizyah”.

Mereka berkata: “Kami tak mau masuk Islam dan tak mau membayar jizyah, sebab mati adalah lebih baik daripada membayar
jizyah.” Amir menjawab bahwa dalam keadaan demikian ia cuci tangan, dan sambil berkata demikian ia meninggalkan benteng itu. Ia terlihat oleh Muhammad bin Maslamah (مُحَمَّد بْن مَسْلَمَةَ), panglima pasukan Muslim, yang bertanya siapa dia. Setelah diketahui asal-usuinya, dikatakan kepadanya bahwa ia boleh pergi dengan aman dan Muhammad bin Maslamah sendiri berdoa keras: اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمنِي إِقَالَة عَثَرَات الْكِرَام “Ya Tuhan, berilah hamba selalu kekuatan untuk menutupi kesalahan-kesalahan orang-orang yang sopan.”[13]

Yakni karena orang ini menyesali Perbuatannya dan perbuatan kaumnya. Maka telah menjadi kewajiban kaum Muslimin memaafkan orang-orang semacam itu. Untuk itu saya tidak menangkapnya dan mendoa semoga Allah taala senantiasa memberikanku taufik untuk selalu mengerjakan amal baik serupa itu.

Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Muhammad bin Maslamah, yaitu melepaskan seorang pemimpin Yahudi itu, beliau tak memarahinya. Bahkan sebaliknya, beliau membenarkan tindakannya itu.   Kesediaan berdamai dan menerima keputusan Hadhrat Rasulullah (saw) telah diungkapkan hanya oleh orang-orang Yahudi secara perseorangan. Sebagai kaum, mereka tetap bersikepala batu dan tetap menolak keputusan Hadhrat Rasulullah (saw), dan daripada menerima keputusan Hadhrat Rasulullah (saw), mereka malah meminta keputusan Sa’d bin Mu’adz dan sesuai dengan kitab mereka diputuskanlah bahwa tidak ada tuduhan atas Hadhrat Rasulullah (saw) tidak juga atas para sahabat bahwa mereka telah melakukan kezaliman

Allamah ibn Saad menulis bahwa pada perang Qainuqa dan Sawik juga Hadhrat Abu Lubabah h mendapatkan kemuliaan untuk mewakili Hadhrat Rasulullah (saw) di Madinah. Pada saat fatah Mekah, Hadhrat Abu Lubabah h menyertai Hadhrat Rasulullah (saw) dalam kendaraan. Di tangan beliau terdapat panji kabilah Ansar, Amar Bin Auf. Hadhrat Abu Lubabah h selalu menyertai Hadhrat Rasulullah (saw) dalam berbagai peperangan.

Berkenaan dengan kewafatan beliau diriwayatkan bahwa sebagian orang berpendapat beliau wafat pada zaman kekhalifahan Hadhrat Ali, sebagian lagi mengatakan beliau wafat paska pensyahidan Hadhrat Utsman. Ada pendapat lain lagi bahwa beliau terus hidup sampai tahun ke-50 Hijriah.

Said Bin Musayyab (سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ) meriwayatkan Hadhrat Abu Lubabah h Bin Abdul Munzir mengatakan, “Pada hari Jumat Hadhrat Rasulullah (saw) memanjatkan doa turun hujan. Beliau berdoa, اللَّهُمَّ اسْقِنَا ‘Allaahumma asqinaa, Allaahumma asqinaa, Allaahumma asqinaa.’ – ‘Ya Tuhan turunkanlah hujan atas kami, Ya Tuhan turunkanlah hujan atas kami, Ya Tuhan turunkanlah hujan atas kami.’

Saya (Abu Lubabah h) berdiri dan berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ التَّمْرَ فِي الْمَرَابِدِ ‘Ya Rasulullah! Buah-buahan di kebun-kebun.’

Pada saat itu tidak tampak awan di langit, Hadhrat Rasulullah (saw) pun bersabda lagi, اللَّهُمَّ اسْقِنَا ‘Ya Allah turunkanlah hujan atas kami.’

Selanjutnya beliau (saw), حَتَّى يَقُومَ أَبُو لُبَابَةَ عُرْيَانًا يَسُدُّ ثَعْلَبَ مِرْبَدِهِ بِإِزَارِهِ ‘Turunkanlah hujan sedemikian rupa sampai-sampai Abu Lubabah h membuka pakaiannya lalu menutup lubang air di ladangnya dengan pakaiannya.’

Diriwayatkan, setelah doa tersebut mulailah turun hujan dari langit, awan muncul dan hujan turun. Lalu Hadhrat Rasulullah (saw) memimpin shalat.

Kaum Anshar mendatangi saya (Abu Lubabah h) dan mengatakan, يَا أَبَا لُبَابَةَ إِنَّ السَّمَاءَ وَاللَّهِ لَنْ تُقْلِعَ حَتَّى تَقُومَ عُرْيَانًا فَتَسُدَّ ثَعْلَبَ مِرْبَدِكَ بِإِزَارِكَ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‘Wahai Abu Lubabah h! Demi Allah! Hujan ini tidak akan berhenti sebelum sesuai dengan sabda Rasul, Anda dengan badan telanjang menutup lubang air di kebun dengan pakaian Anda.’

Lalu saya (Abu Lubabah h) bangkit untuk menutup jalan air dengan pakaiannya. Setelah itu hujan terhenti.”[14]

Hadhrat Abu Lubabah h membungkus cucunya bernama Abdurrahman bin Zaid ibn Khaththab – keponakan Hadhrat Umar – dengan kulit pohon kurma lalu datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw). [Lubabah h, putri Abu Lubabah h menikah dengan Zaid ibn Khaththab, saudara Hadhrat Umar ibn Khaththab]

Hadhrat Rasulullah (saw) bertanya: “Wahai Abu Lubabah h, apa yang Anda bawa itu?”

Hadhrat Abu Lubabah h mengatakan, “Ya Rasulullah (saw) ini adalah cucu saya. Saya tidak melihat bayi yang selemah ini.’

Lalu Hadhrat Rasulullah (saw) menggendong bayi itu dan mengusapkan tangan beliau di kepala bayi dan mendoakan. Berkat doa beliau itu, ketika Abdurrahman Bin Zaid berdiri di saf dengan orang-orang tampak paling tinggi diantara orang-orang. Hadhrat Umar menikahkannya dengan putrinya bernama Fatimah yang lahir dari perut Ummi Kultsum. Hadhrat Ummi Kultsum merupakan putri Hadhrat Ali dan Hadhrat Fatimah. [Hadhrat Umar ra juga merupakan menantu Hadhrat Ali ra]

Hadhrat Anas Bin Malik meriwayatkan bahwa diantara para sahabat RasuluLlah (saw), dua orang sahabat yang rumahnya paling jauh adalah Hadhrat Abu Lubabah h bin Abdul Munzir yang terletak di Quba dan kedua ada rumah Abu Abbas Bin Jabriyah yang tinggal di Qabilah Banu Haritsah. Namun mereka berdua selalu datang untuk shalat Ashar bersama dengan Hadhrat Rasulullah (saw).

Demikianlah peri kehidupan para sahabat tadi. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat mereka setinggi tingginya. Amin.

Setelah shalat Jumat saya hendak mengimami shalat jenazah, satu jenazah hadir dan satu ghaib. Jenazah Ghaib adalah Almarhum Qazi Syu’baan Ahmad Khan Sahib Syahid penduduk tsawabah Garden di Lahore (Pakistan). Qazi Syu’baan Ahmad Khan Sahib Bin Qazi Muhammad Salman Sahib wafat pada tanggal 25 juni 2018 pada usia 47 tahun setelah disyahidkan oleh para penentang jemaat yang memasuki rumah dan menembak beliau, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn.

Kisah lengkapnya, pada malam hari tanggal 25 juni orang yang memakai penutup wajah memasuki rumah beliau. Saat itu Qazi Sahib dan istri tengah berada di kamar dan putri-putri beliau berada di kamar yang lain. Istri Qazi sahib tengah berada di kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi, istri beliau melihat ada dua orang yang memakai penutup wajah. Melihat itu salah seorang dari mereka memukulkan pistol ke kepala beliau lalu menyeretnya ke kamar putri beliau. Sedangkan yang satunya lagi berada di kamar Qazi Sahib lalu menembakkan tiga peluru di perut beliau yang menyebabkan beliau wafat seketika, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn.

Syahid Almarhum telah baiat beserta istri pada tahun 2001 dengan perantaraan kawan beliau Muhammad Iqbal sahib. Qazi Sahib adalah penduduk Muzaffar Abad Kashmir. Pada tahun 2001 beliau berpindah ke Nasytar Koloni Tsawabah Garden Lahore. Sebelumnya beliau pernah tinggal juga di Township Lahore. Qazi Syaban Sahib mengelola sekolah anak-anak penyandang cacat (SLB).

Tempat tinggal beliau berada di lantai atas sekolah tersebut. Pada saat membangun sekolah yang terletak di bawah rumah beliau dan memasuki tahapan pengecoran. Ternyata kedua orang tak dikenal tadi sudah bersembunyi sebelumnya di bangunan tersebut lalu melakukan aksinya pada saat yang tepat.

Syahid Almarhum memiliki banyak sekali keistimewaan. Setelah baiat almarhum terbukti menjadi insan yang mukhlis dan soleh. Memiliki kecintaan yang dalam pada khilafat. Almarhum telah memasang antenna parabola untuk dapat menonton MTA agar dapat menjalinkan kedekatan diri dan keluarga beliau dengan khilafat. Beliau gigih dalam pengorbanan harta. Beliau berkhidmat di cabang sebagai sekretaris audio viedo dan beliau biasa memperbaiki parabola orang lain tanpa meminta bayaran.

Qazi Sahib menikah dengan sepupu sendiri. Dalam keluarga besar beliau hanya keluarga beliaulah yang Ahmadi, selebihnya menentang beliau karena jemaat. Beberapa bulan sebelumnya, kakak ipar Qazi Sahib datang ke rumah beliau dan mengatakan, “Kami dapat kabar bahwa kalian sudah menjadi Mirzai (sebutan orang India-Pakistan terhadap Ahmadi).”

Saat itu pandangan sang kakak ipar tertuju pada parabola yang ada di atap lalu ingin menghancurkannya. Qazi Sahib menghentikannya dan akhirnya keduanya saling cekcok.

Setelah itu sang kakak ipar berkata pada adik (Istri Qazi sahib), “Nikah kamu sudah batal, ayo ikut saya, karena suamimu sudah jadi Mirzai.”

Mendengar hal itu istri Qazi sahib mengatakan pada kakaknya, “Saya sendiri adalah Ahmadi dan Muslim. Saya pun menganggap Qazi sahib sebagai Muslim. Saya tidak akan ikut kamu.”

Istri beliau mengatakan, “Syahid almarhum saat itu diancam oleh para penentang sehingga membuat beliau khawatir dan membuat beliau bersedih beberapa hari dan mengurangi pergi keluar rumah. Qazi sahib juga pernah mengatakan pada saya (istri), ‘Jika terjadi apa apa dengan saya, maka infokan langsung kepada ketua jemaat.’”

Untuk itu setelah peristiwa pensyahidan, istri beliau langsung melakukannya dan menginfokan kepada para pengurus jemaat.

Dengan memperlihat iostiqomah, meskipun kerabat ghair Ahmadi yang datang menjenguk, namun istri almarhum mengatakan, “Jenazah akan dishalatkan dan dikuburkan oleh orang-orang Jemaat.”

Kerabat dekat almarhum pun datang ke masjid Baitun Nur paska kewafatan, namun mereka tidak ikut menyolatkan.

Istri dan putri-putri beliau ikut serta ke kuburan. Almarhum syahid meninggalkan istri Shahnaz Syaban sahibah 40 tahun dan putri beliau bernama Kiran 19 tahun dan Sidrah Syaban 18 tahun dan malaikah 11 tahun. Ketiga putrinya ini cacat karena polio. Semoga Allah Ta’ala sendiri yang menjaga mereka, menjauhkan mereka dari segala kesulitan dan meninggikan derajat Qazi Sahib.

Jenazah kedua adalah jenazah hadir, beliau bernama Ammatul Hayyi Begum sahibah binti Seth Muhammad Ghouts Sahib yang wafat tanggal 23 Juni pada usia lebih dari 100 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Ayahanda beliau, Seth Muhammad Ghouts Sahib memiliki dua keistimewaan yakni pertama, meskipun beliau bukan sahabat, namun Hadhrat Khalifatul Masih kedua (ra) telah merestui jenazah beliau dimakamkan di tempat para sahabat dimakamkan di Bahesyti Maqbarah. Kedua, pada buku Ashaab e Ahmad tertulis bahwa sejak 42 tahun yang lalu Seth Muhammad Ghouts Sahib adalah insan yang beruntung yang mana jenazah beliau dishalatkan persis di tempat dimana jenazah suci Hadhrat Masih Mau’ud (as) diletakkan. Pada saat itu Hadhrat Syeikh Yaqub Ali Irfani Sahib berdiri diatas kursi dan memberikan kesaksian dengan suara yang keras.

Meskipun pada saat pernikahan Amatul Hayyi Sahibah ayahanda beliau ada, namun atas permohonan ayahanda beliau, yang bertindak sebagai wali nikah adalah Hadhrat Khalifatul Masih tsani Ra dan juga menikahkan beliau.

Dalam khutbah nikah tersebut beliau Ra bersabda: “Saat ini saya umumkan nikah putri bungsu Seth Sahib bernama Ammatul Hayyi dengan kerabat dekat Dr Muhammad Abdullah Sahib yang bernama Muhammad Yunus Sahib. Dalam perjodohan ini Seth Sahib sangat memperhatikan pada keikhlasan.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Karena perbedaan kebiasaan, sehingga saya selalu menulis surat kepada beliau untuk mencari jodoh di Hydarabad, namun beliau berkeinginan untuk mendapatkan jodoh di Qadian Punjab, supaya ada satu pendorong lagi bagi beliau untuk datang ke Qadian. Muhammad Yunus Sahib adalah penduduk daerah Karnaal yang berdekatan dengan Delhi. Namun dibandingkan dengan hydarabad, sangat dekat jaraknya dari Qadian. Keluarga Seth Sahib adalah keluarga yang mukhlis. Para wanita dalam keluarga ini memiliki hubungan keikhlasan sedemikian rupa dengan para wanita dalam keluarga kami, begitu juga putri-putri mereka dan putra-putra mereka, sehingga seolah-olah merupakan satu keluarga. Keluarga kami bergaul tanpa segan dengan keluarga beliau.

Pernikahan dalam salah satu keluarga kami dirasakan sebagai pernikahan keluarga sendiri begitu juga dalam merasakan kesedihan. Telah ditetapkan pernikahan putri beliau dengan Muhammad Yunus Sahib Bin Abdul aziz Sahib penduduk Ladwa daerah Karnaal dengan maskawin sebesar 1000 rupees.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Seth Sahib meminta saya bertindak sebagai Wali pengantin wanita.”

Ammatul Hayyi Sahibah dawam puasa dan shalat, rajin berdoa,taat pada khilafat, mukhlis. Beliau juga sering datang berjumpa dengan saya meskipun sudah tua renta dan menzahirkan keikhlasan. Salihah, dan seorang musiyah. Beliau meninggalkan dua putra dan dua putrid an banyak sekali cucu. Beliau adalah ibunda dari Muhammad Idris Sahib Hydarabadi Jerman. Disini juga ada satu cucu beliau yang berkhidmat di Khuddamul Ahmadiyah bernama Mushawwir Sahib.

Semoga Allah ta’ala meninggikan derajat beliau dan memberikan taufik kepada para keturunan beliau untuk menjalin hubungan sejati dan hakiki dengan Khilafat. [Aamiin].

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi Syahid;

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

[1] Amir Muawiyah ialah gubernur Syam atau Suriah dan sekitarnya sejak masa Khalifah Umar ra. Beliau berbeda pandangan dengan Khalifah Ali perihal prioritas, cara dan timing/kapan waktunya menegakkan hukuman terhadap para pemberontak yang mensyahidkan Khalifah sebelumnya, Hadhrat Utsman pada 656. Hadhrat Ammar berpihak di pasukan Hadhrat Ali. Perang Shiffin (37H/657 Masehi) yang hampir dimenangkan Hadhrat Ali ra berakhir dengan perundingan Tahkim. Hasil Tahkim berakibat pelemahan pasukan Hadhrat Ali ra. Sekelompok qurra (keras dalam ibadah dan ahli baca Qur’an) yang kecewa, memisahkan dari dari pasukan Hadhrat Ali ra. Mereka-lah cikal bakal golongan Khawarij.

[2] Siyaar A’lam an-Nubala, para Shahabat ridhwaanullah ‘alaihim, Amru ibn al-Ash; Tarikh Dimashq

[3] Siyaar A’lam an-Nubala, para Shahabat ridhwaanullah ‘alaihim, Amru ibn al-Ash.

[4] Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل), Musnad orang-orang Syam (مسند الشاميين), Hadits Amru ibn al-Ash.

[5] Fadhailush Shahaabah karya Imam Ahmad ibn Hanbal (فضائل الصحابة لأحمد بن حنبل), (أَخْبَارُ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ), keutamaan Amirul Mu’minin Ali ra (وَمِنْ فَضَائِلِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), no. 1026. Hadhrat Ali mengutus Hadhrat Abdullah ibn Abbas untuk menyadarkan golongan Khawarij. Ribuan dari mereka bertaubat. Sisa dari mereka yang tidak bersedia bertaubat, diantaranya ialah Abdurrahman ibn Muljam dan kawan-kawannya yang membuat konspirasi untuk melakukan pembunuhan terhadap tiga tokoh yang mereka anggap mengacaukan dunia Muslim; Hadhrat Ali ra, Hadhrat Amru bin Ash dan Hadhrat Muawiyah. Hadhrat Amru dan Hadhrat Muawiyah selamat dari upaya pembunuhan, sedangkan Hadhrat Ali ra dapat mereka syahidkan pada 40 Hijriyah (661) di bulan Ramadhan saat shalat di waktu menjelang Shubuh di Kufah. Beberapa bulan kemudian Hadhrat Muawiyah dan Hadhrat Hasan ra putra Hadhrat Ali ra mengadakan perundingan yang dengan beberapa syarat hasilnya ialah Hadhrat Muawiyah memegang kekuasan seluruh wilayah Muslim.

[6] Sunan an-Nasai, Kitab as-Sahwi (كتاب السهو), bab 62 (باب نَوْعٌ آخَرُ), no. 1306

[7] Siyaar A’lam an-Nubala

[8] Siyaar A’lam an-Nubala

[9] Sunan at-Tirmidzi (سنن الترمذي), Kitaab/Abwaab al-Manaaqib (المناقب), Bab (باب مناقب عبد الله بن مسعود رضي الله عنه)

[10] Siyaar A’lam an-Nubala

[11] Tarikh Wasith oleh Al-Aslam ibn Sahl ar-Razaaz, w. 292 H, (تاريخ واسط لأسلم بن سهل الرزاز); Di dalam Sunan at-Tirmidzi (سنن الترمذي), Kitaab/Abwaab al-Manaaqib (المناقب), Bab Manaqib Shahabat, bab Manaqib ‘Ammar ibn Yasir (باب مناقب عمار بن ياسر رضي الله عنه), sub bab keutamaan Ammar (فضل عمار), ada juga Hadits serupa, إِنَّ الْجَنَّةَ لَتَشْتَاقُ إِلَى ثَلاَثَةٍ عَلِيٍّ وَعَمَّارٍ وَسَلْمَانَ

[12] Sunan at-Tirmidzi (سنن الترمذي), Kitaab/Abwaab al-Manaaqib (المناقب), Bab Manaqib Shahabat, bab Manaqib ‘Ammar ibn Yasir (باب مناقب عمار بن ياسر رضي الله عنه), sub bab keutamaan Ammar (فضل عمار)

[13] Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Hisyam

[14] Dalailun Nubuwwah karya al-Baihaqi.

(Visited 45 times, 1 visits today)