(Hadhrat Jabir ibn Abdillah ibn ‘Amru ibn Haraam al-Anshari (جابر بن عبد الله بن عمرو بن حرام), radhiyAllahu ‘anhuma, putra Syahid perang Uhud dari Madinah. Dzikr khair dan pengumuman shalat jenazah gaib untuk Almarhum Bilal Idilbi dari Syria (Suriah) dan Almarhumah Ibu Salima Mir, mantan ketua Lajnah Imaillah Karachi.)

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 30 Maret 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Hadhrat Jabir bin Abdullah merupakan salah seorang sahabat Rasulullah (saw). Beliau putra Hadhrat Abdullah bin ‘Amru bin Haram yang pada salah satu khotbah beberapa Jumat lalu, telah saya ceritakan tentang peristiwa kesyahidannya. Saya mengatakan bahwa Hadhrat Rasulullah saw mengabarkan pada putra Hadhrat Abdullah bin ‘Amru bin Haram bahwa Allah Ta’ala bertanya kepada Hadhrat Abdullah bin ‘Amru bin Haram setelah kesyahidannya, يَا عَبْدِي ،سَلْنِي أُعْطِكَ “Wahai hamba-Ku, jelaskanlah, apa yang engkau inginkan, niscaya akan Aku penuhi?” Beliau berkata, أَسْأَلُكَ أَنْ تَرُدَّنِي إِلَى الدُّنْيَا فَأُقْتَلَ فِيكَ ثَانِيًا “Tuhanku, keinginanku ialah agar Engkau menghidupkanku kembali dan mengirimkanku ke dunia untuk kedua kalinya. Lalu, untuk kedua kalinya saya akan berperang di jalan Engkau.”

Allah Ta’ala menjawab, إِنَّهُ قَدْ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لا يَرْجِعُونَ “Hal itu tidak mungkin karena berlawanan dengan sunnah-Ku. Orang-orang yang sudah mati takkan kembali ke dunia lagi. Ajukanlah permohonan yang lain.”

[Ia berkata, يَا رَبِّ ، فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَائِي ‘Bila demikian, wahai Rabbku, sampaikanlah kepada orang-orang di belakangku nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami’.”]

Hadhrat Jabir bin Abdullah putra dari seorang sahabat yang terkemuka. Beliau Bai’at pada kesempatan baiat al-Aqabah saat beliau masih anak-anak.

Kisah ini menunjukkan keagungan pengorbanan Shahabat ini dan perlakuan Allah Ta’ala yang luar biasa terhadapnya. Jabir ibn Abdullah ialah putra dari Shahabat agung ini. Beliau ikut dalam baiat Aqabah kedua dan saat itu masih anak-anak.

Diriwayatkan bahwa sebelum kesyahidannya, Hadhrat Abdullah bin ‘Amr bin Haram telah berwasiat kepada putranya, “Lunasilah hutang ayah kepada seorang Yahudi dengan menjual hasil panen dari kebun kurma kita setelah kematian ayah.” Dalam riwayat itu Jabir melunasi hutang ayahnya itu. Kebiasaan pada masa itu ialah orang-orang yang berhutang membayarnya [memberikan jaminan bayaran] dengan hasil panenan kebunnya ketika panen tiba. Jabir juga meminjam uang untuk memenuhi keperluannya. Diriwayatkan, beliau meminjam uang kepada seorang Yahudi dengan jaminan hasil panen kebun kurmanya.

Ada riwayat rinci yang menjelaskan bagaimana Hadhrat Jabir bin Abdullah (ra) berkata kepada orang Yahudi yang menagih hutangnya bahwa pada tahun tersebut hasil panen kurmanya tidak bagus atau sangat sedikit sehingga beliau tidak bisa melunasi hutangnya. Beliau memintanya memberikan kelonggaran atau mengambil sebagian hasil panen dan sisanya lagi di waktu yang akan datang. Namun, orang Yahudi itu menolak memberikan kemudahan. Jabir mendatangi Nabi saw atau berita itu sampai kepada Rasulullah saw. Beliau meminta rekomendasi dari Nabi saw di depan orang Yahudi namun orang Yahudi itu tetap menolaknya.

Selanjutnya, bagaimana Nabi saw mengusahakan pelunasan Sahabat ini, mendoakannya dan bersikap kasih sayang kepadanya. Bagaimana Allah Ta’ala memberikan karunia atas Sahabat ini. Hal ini disebutkan dalam beberapa riwayat.

Saya ingin menggarisbawahi di sini bahwa sebagian orang mengatakan kisah ini terkait dengan hutang yang diwasiyatkan oleh Abdullah ibn Amru ibn Haram kepada Jabir, putranya, agar melunasinya. Sementara itu buah-buah kurma belum menghasilkan secara baik sehingga ia minta penangguhan pelunasannya. Hal itu sampai beritanya kepada Nabi saw, sebagaimana saya telah sebutkan tadi.

Namun, riwayat dalam Shahih al-Bukhari menjelaskan bahwa kisah ini berbeda kejadiannya dan terjadi setelah pelunasan hutang yang itu. Ringkasnya, terungkap pada kita kisah ini bagaimana kasih sayang Nabi saw kepada Sahabat beliau saw dan juga mukjizat pengabulan doa Nabi saw.

Riwayatnya ialah sebagai berikut: Dari Jabir ibn Abdillah ra, berkata, “Di kota Madinah ada seorang Yahudi yang setiap tahunnya memberikan hutang kepada saya yang dibayar dengan cicilan (angsuran) sampai panen kurma tiba. Saya memiliki kebun kurma di dekat sumur Rumah. Suatu ketika kebun kurma saya tidak menghasilkan panen seperti biasanya sehingga saya pun terlambat mengangsur hutang. Ketika itu, orang Yahudi itu pun datang pada waktu panen kurma. Saya pun berpikiran tidak akan dapat membayar hutang dan ingin memintanya memberikan kelonggaran. Namun, orang Yahudi itu menolak untuk memberikan tambahan waktu pelunasan.” (sepertinya ia berencana untuk mengambil alih kebun kurma miliknya.)

Saya pun memberitahukan tentang kejadian itu kepada Rasulullah (saw), maka beliau (saw) pun berkata kepada para Sahabat, امْشُوا نَسْتَنْظِرْ لِجَابِرٍ مِنَ اليَهُودِيِّ ‘Mari kita pergi ke orang Yahudi itu untuk meminta kepadanya agar memberikan kelonggaran pelunasan hutang kepada Jabir!’ Mereka pun pergi ke kebun saya. Nabi saw secara pribadi berbicara dengan orang Yahudi itu dan memohon kepadanya agar memberikan beberapa waktu lagi kepada saya (Hadhrat Jabir bin Abdullah ra) untuk melunasi hutang saya. Akan tetapi, dengan sikap yang sedemikian rupa orang Yahudi itu menjawab, أَبَا القَاسِمِ لاَ أُنْظِرُهُ ‘Wahai Abu Qasim! Saya tidak akan memberikan tangguh sedikitpun.’ Melihat perilaku Yahudi tersebut, Rasulullah (saw) berdiri lalu berjalan mengelilingi kebun kurma tersebut satu kali. Lalu beliau (saw) bertanya lagi kepada si Yahudi, namun kembali sang Yahudi menolaknya.”

Hadhrat Jabir bin Abdullah (ra) berkata, “Sementara itu saya mengambil beberapa buah kurma dari kebun dan menyerahkannya kepada Rasulullah (saw) yang kemudian dimakannya. Setelah itu beliau bersabda, ‘Jabir, dimanakah gubuk atau tempat yang biasa kamu gunakan untuk istirahat di kebun ini?’ saya memberitahu beliau tempat tersebut, lalu beliau (saw) berkata, ‘Hamparkan tikar di sana, agar saya bisa beristirahat sebentar.’ Saya pun mengikuti perintah beliau. Lalu Rasulullah (saw) tertidur di tempat tersebut.

Ketika terbangun, saya kembali memberikan beliau sejumput kurma. Beliau saw pun memakan beberapa buah. Beliau saw lalu berdiri dan menemui orang Yahudi itu sekali lagi agar memberikan keringanan. Namun, lagi-lagi orang Yahudi itu menolaknya. Rasulullah (saw) kembali berjalan mengelilingi kebun dan berkata kepada saya, ‘Jabir, sekarang panenlah kurma-kurma tersebut dan lunasilah hutang Anda kepada Yahudi itu.’ Saya mulai memanen buah-buah kurma di kebun saya itu, sementara Rasulullah (saw) tetap berdiri di tengah-tengah kebun kurma. Dari hasil panen tersebut, akhirnya saya bisa melunasi hutang dengan orang Yahudi dan bahkan masih banyak yang tersisa. Saya memberitahukan kabar baik tersebut kepada Rasulullah (saw) dan beliau saw pun bersabda, أَشْهَدُ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ ‘Aku bersaksi bahwa aku adalah Rasul Allah.’” Itu artinya, “Mukjizat dan peristiwa luar biasa ini terjadi karena Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa saya dan memberkahi amal-amal perbuatan saya.”

Kisah ini, sebagaimana mengisyaratkan pada kasih sayang Nabi saw kepada para Sahabatnya dan keberkatan yang terjadi pada buah-buahan dikarenakan pengabulan doa-doa beliau (saw), kita juga menyaksikan kecemasan sahabat beliau (saw) tentang hutang yang harus dilunasi. Perasaan terganjal (tidak merasa tenang) karena belum melunasi hutang harus menjadi ciri khas orang-orang beriman sejati.

Kita saksikan di kalangan kita juga, orang-orang tidak memperhatikan hal ini setelah mengaku sebagai Ahmadi. Mereka menunda-nunda membayar hutang, bahkan tidak melunasinya bertahun-tahun meski pihak lain telah menuntutnya di pengadilan.

Senantiasalah ingat sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, “Anda sekalian hendaknya mengikuti jejak keteladanan para Sahabat Nabi Muhammad saw setelah kalian masuk dalam baiat terhadap saya. Setelah itu barulah mungkin dapat membentuk masyarakat yang indah yang dijanjikan kepada kita penegakannya setelah kedatangan Al-Masih dan Imam Mahdi yang dijanjikan.”

Ada riwayat dari Jabir seputar pentingnya melunasi hutang, namun, sebelum ini saya hendak menceritakan sebuah peristiwa yang terdapat dalam riwayat Hadits bahwa ketika Jabir melunasi hutang ayahnya, Umar juga datang ke sana. Nabi saw bersabda kepada Umar supaya menanyakan kepada Jabir bagaimana melunasi hutangnya itu? Umar menjawab, “Tidak perlu saya menanyakannya karena saya telah yakin ketika Nabi berjalan-jalan di kebun kurmanya demi pelunasan hutangnya maka itu akan terlunasi semua. Ketika Nabi berjalan kaki di sana untuk kedua kalinya saya sempurna keyakinannya bahwa semua hutangnya akan terlunasi hari itu.”

Sebagaimana telah saya sampaikan, suatu kali seorang sahabat wafat yang mana meninggalkan hutang dua dinar, dan Rasulullah (saw) secara pribadi menolak menyalatkan jenazahnya. Atas hal itu, salah seorang sahabat mengatakan kepada Nabi saw bahwa ia mengambil tanggung jawab untuk melunasi hutang tersebut sehingga akhirnya Rasulullah (saw) pun memimpin shalat jenazahnya.

Keesokan harinya, ketika Hadhrat Rasulullah (saw) berjumpa dengan sahabat yang bertanggung jawab atas hutang almarhum lalu bertanya kepadanya, “Apakah hutang dua dinar yang menjadi tanggung jawab Anda tersebut sudah dilunasi atau belum?” Jadi, inilah pentingnya melunasi hutang dan perlu sekali untuk memperhatikan hal tersebut.

Inilah pentingnya melunasi hutang yang mana setiap orang harus menaruh perhatian atasnya. Dalam riwayat lain yang bersumber dari Hadhrat Jabir (ra) didapati Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, مَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِلْوَرَثَةِ apabila seorang mukmin meninggalkan beberapa harta bendanya, maka yang mewarisinya adalah keluarga dan kerabatnya.

Selanjutnya, وَمَنْ تَرَكَ دَيْنًا أَوْ ضَيَاعًا فَإِلَيَّ أَوْ عَلَيَّ، وَأَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ “Jika ia meninggalkan hutang, sementara harta benda yang ditinggalkannya tidak cukup untuk membayar hutang, atau seandainya ia meninggalkan anak-anaknya tanpa ada harta sama sekali, maka kita yang harus mengurus anak-anaknya yang yatim dan menanggung pelunasan hutangnya.”

Artinya, para pengurus yang menanggungnya. Dari segi itu, Islam sangat menekankan mendidik anak yatim dan mengatur kebutuhan hidup mereka.

Pelajaran yang dapat diambil dari dua riwayat berbeda tersebut dalam memutuskan satu hal maka terhadap apa yang tampak bahwa dari kedua peristiwa ini terdapat situasi yang berbeda. Salah satunya, Nabi saw menolak menyalatjenazahkan terhadap seseorang yang berhutang dua dinar. Salah satunya lagi, beliau bersabda agar pengurus pemerintahan membayar hutang si mayyit.

Sabda beliau yang pertama ialah untuk memberikan pemahaman kepada orang-orang yang berhutang tanpa keperluan mendesak dan juga untuk memberitahukan mereka bahwa hutang ialah masalah besar. Pewaris dan keluarga yang ditinggalkan si mayyit yang berhutang, wajib menunaikan kewajiban pembayaran hutangnya.

Dalam sabda yang kedua, pemerintah Islam dan mereka yang memegang kekuasaan harus mengurus hal tersebut yaitu merawat anak yatim dan membayarkan hutang mereka – dalam keadaan tidak ada harta untuk melunasinya. Dalam hal ini terdapat pelajaran dari Hadhrat Rasulullah (saw) kepada semua pemerintah Islam supaya mengenali bagaimana mereka seharusnya mengurus rakyatnya. Namun, amat disayangkan, kebanyakan hak-hak rakyat dirampas di kalangan pemerintahan Islam itu sendiri.

Ada peristiwa lain dalam hal kasih sayang dan kelembutan Nabi saw terhadap Jabir. Perawi menceritakan bahwa ia mendatangi Jabir ibn Abdillah al-Anshari lalu mendesaknya agar menceritakan apa-apa yang pernah ia dengar dari Rasulullah saw. Jabir berkata, “Saya tidak ingat, apakah itu ghazwah atau umrah, yang jelas, saya mengadakan perjalanan bersama Rasulullah saw. Ketika kami telah dekat pulang, yaitu ke Madinah, beliau saw bersabda kepada rombongan, ‘Siapa yang suka untuk sampai ke rumah masing-masing dengan segera, silakan percepat perjalanan Anda sekalian.’

Kami berada di belakang (anggota rombongan yang lain dapat mempercepat kendaraannya dan mendahuluinya di depan). Saya duduk di unta yang tidak begitu sehat. Ia lemah. Nabi saw mendekati saya dan bersabda, ‘Peganglah unta itu kuat-kuat, wahai Jabir!’ Nabi saw lalu menghentak unta itu sembari mendoakannya.

Kemudian, unta itu pun jadi berlari cepat. Di perjalanan, Nabi saw bersabda, ‘Maukah unta itu Anda jual kepada saya?’ Saya jawab, ‘Iya.’

Ketika kami telah sampai di Madinah, Nabi saw masuk ke Masjid diiringi para Sahabat beliau. Saya masuk ke Masjid sementara unta saya ikatkan di sisi dinding luar. Saya berkata, ‘Wahai Nabi, ini unta Anda.’ Beliau keluar dan mengelilingi unta itu dan bersabda, ‘Ini unta kami.’

Beberapa waktu kemudian, Nabi saw mengutus seseorang sembari membawa uang dari emas. Pesan beliau, ‘Berikanlah itu kepada Jabir. Apakah harganya mencukupi?’ Saya menjawab, ‘Iya.’ Beliau saw bersabda, ‘Uang seharga itu dan juga untanya saya berikan bagi Anda.’”

Artinya, Nabi saw membayar kepada Jabir harga unta itu dan mengembalikan unta itu juga sebagai tanda sayang dari beliau. Penyebabnya ialah unta tersebut biasa dipakai untuk membawa air bagi keluarganya. Paman dan kerabat beliau lainnya juga memakainya untuk hal serupa. Pertanyaan mereka ialah kenapa menjualnya? Bagaimana kami dapat mengambil air sekarang? Ringkasnya, Nabi Muhammad saw bersikap kasih sayang dalam corak ini terhadap para Sahabat beliau saw dan khususnya terhadap mereka yang menyajikan pengorbanan istimewa. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat para sahabat itu semua. Saya sering berbagi beberapa peristiwa berkenaan kehidupan mereka tersebut. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kita taufik untuk melanjutkan kebaikan mereka dan mengaplikasikannya di kehidupan kita.

Sekarang, setelah khotbah singkat ini, saya akan berbicara tentang dua sosok orang mukhlis Jemaat yang wafat baru-baru ini. Pertama Bilal Idilbi dari Syria (Suriah). Beliau terluka parah dalam kecelakaan mobil yang terjadi beberapa hari lalu dan wafat pada tanggal 17 Maret 2018 jam 1.30 malam. Penyebab kewafatannya adalah gagal jantung. إنا لله وإنا إليه راجعون Innalilahi wa innailahi rajiun. Beliau lahir pada 1978. Ketika berusia 17 tahun, seorang saudara Ahmadi mencarikannya beberapa pekerjaan di Perusahaan Doktor Musalim Ad-Darubi. Di tempat itu ia diperkenalkan kepada Jemaat Ahmadiyah, beberapa waktu kemudian beliau pun baiat.

Doktor Musallim berkata: “Shalat-shalat berjamaah didirikan di rumah-rumah Ahmadi sejak tahun 2010. Tahun itu setelah kembali dari Qadian, saya mulai melaksanakan shalat berjamaah di rumah tuan Bilal. Beliau menyambut saya dengan antusias tinggi. Merupakan kebiasaannya untuk bersikap ramah terhadap tamu. Hatinya penuh dengan kecintaan khas kepada orang yang memperkenalkannya pada Ahmadiyah.”

Ketua Jemaat Lokal di Suriah menulis tentang beliau: “Saudara Bilal mempunyai toko pakaian olah raga sampai-sampai menolong saudara-saudaranya yang membutuhkan dengan memberikan mereka pakaian. Dan jika di tokonya tidak ada pakaian yang dimaksud maka beliau sendiri yang akan membelikan bagi mereka di tempat lain. Beliau sosok yang amat berbudi. Beliau tidak rela melihat satu saja anggota Jemaat yang tidak memiliki yang diperlukannya atau dalam kesempitan.

Beliau begitu perhatian terhadap anak-anaknya hingga menyekolahkan mereka di sekolah terbaik. Kami melaksanakan shalat berjamaah di kediamannya dua hari sebelum kewafatannya. Sekretaris Mal memberitahu saya bahwa beliau telah melunasi semua pembayaran Wasiyat, Tehrik-e-Jadid dan Waqfe-Jadid. Beliau pun sudah memasukan sebidang tanah baru yang telah dibelinya ke dalam Wasiyat beliau. Beliau teratur dalam membayar candah dan memperhatikan penghitungannya. Beliau begitu mengkhidmati orang lain, sangat memperhatikan sekali akan shalat dan ibadah.

Beliau pun memiliki keterikatan yang mendalam dengan Khilafat dan Khalifah sampai-sampai bila saya membacakan atau menyebutkan kalimat-kalimat Hudhur atba kepadanya, wajahnya emosional dan menangis. Beliau senantiasa mendengarkan khotbah setiap Jumat. Beliau mengatakan kepada saya, ‘Khalifah yang semoga Allah Ta’ala tolong, telah menceritakan mengenai saya.’”

“Tn. Bilal meninggalkan putra berusia 11 tahun dan putri berusia 12 tahun. Kakak laki-laki tertuanya adalah seorang Ahmadi dan tinggal di Jerman, namun dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuannya yang lain bukanlah Ahmadi, oleh karena itu beliau menghadapi banyak perlawanan dari mereka. Akan tetapi Allah Ta’ala mempengaruhi mereka berdua dengan cara sedemikian rupa sehingga pada saat Jenazah beliau dishalatkan, para saudara/inya yang bukan Ahmadi berkata, ‘Kalian para Ahmadi silahkan menshalatkannya dan tidak dilarang untuk menggunakan masjid kami.’ Oleh karena itu, dengan karunia Allah Ta’ala, banyak orang yang hadir ikut shalat di belakang kami. Alhamdu lillah.”

Jenazah kedua yang akan saya sebutkan adalah Ibu Salima Mir, mantan ketua Lajnah Imaillah Karachi. Beliau istri Abdul Qadir Dar Sahib. Beliau juga wafat pada tanggal 17 Maret 2018 pada usia 90 tahun. Ayah beliau merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as), yaitu Mir Ilahi Bakhsh Sahib dari Sheikhupura, Gujrat yang baiat pada 1904. Ibu Almarhumah, Maryam Begum, lulusan Madrasah putri di Qadian. Almarhumah tekun mempelajari Al-Qur’an.

Nyonya Salima Mir Sahiba menikah pada tahun 1946 dan setelah perpisahan (pembagian wilayah anak benua India) anatar India dan Pakistan, beliau pindah ke Karachi. Pada tahun 1961, beliau dan keluarga pindah ke Iran. Di sana ada beberapa keluarga Ahmadi dan mereka pun mengatur berbagai kegiatan baik itu shalat Jumat maupun pertemuan lainnya.

Suami beliau wafat pada tahun 1964 dan beliau kembali ke Karachi dan tinggal bersama kakak beliau, Mir Amanullah Sahib. Sambil membesarkan delapan anaknya, beliau juga melanjutkan pendidikannya dan menyelesaikannya hingga tingkat sarjana. Seiring dengan itu, beliau mulai bekerja di kantor Lajnah Imaillah bidang pengiriman surat-menyurat.

Di samping itu, beliau juga mewakafkan diri dalam berbagai bidang di bawah naungan Lajnah Imaillah. Pada tahun 1981 ketika dibentuk Muntazima Committee, Hadhrat Khalifatul Masih III (rh) menunjuk beliau sebagai ketua komite.

Almarhumah berbicara mengenai dirinya sendiri, “Ketika Khalifatul Masih III rha mempercayai saya sebagai Ketua Lajnah, saya dikuasai perasaan aneh sehingga heran dengan urusan saya sendiri. Saya berkata kepada diri sendiri, ‘Dari mana saya dapat memenuhi hak kewajiban ini yang begitu berat?’ Beliau rajin mengirim surat-surat kepada Khalifatul Masih III rha. Dengan karunia Allah, Lajnah Imaillah di Karachi mulai berkembang.

Pada satu segi, ada soal ketaatan kepada Khalifah, sementara dari segi lainnya, saya merasa kurang ilmu dan tidak berpengalaman bekerja di wilayah yang luas misalnya. Saya pun mengarahkan diri pada doa dan amat merendahkan diri kepada Allah Ta’ala lalu saya mulai bekerja. Saya mengadakan rapat-rapat lembaga Jemaat dalam waktu-waktu berdekatan dan melawat ke berbagai cabang Lajnah Imaillah. Saya menegaskan pada para anggotanya perlunya ketaatan dan berpegang pada Nizham LI, menghiasi diri dengan akhlak Islam nan luhur, jihad melawan bid’ah-bid’ah serta menjauhi adat-adat yang bertentangan dengan Nizham Jemaat.”

(Kebiasaan sebagian orang khususnya kaum ibu mengkritik Nizham Jemaat tanpa pertimbangan. Kaum laki-laki juga demikian tanpa sebab apa-apa mengkritik.) beliau menegaskan bahwa jangan ada memunculkan kritik apa pun di majlis-majlis Jemaat, melainkan banyak-banyaklah beristighfar.

Beliau memulai pekerjaannya di Lajnah pada tahun 1961 di Iran kemudian pada tahun 1986 ketika Lajnah Imaillah Karachi bergabung kembali dengan Lajnah Imaillah Markaziyah (Pusat), Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) menunjuk beliau sebagai ketua Lajnah Imaillah Karachi. Beliau berkhidmat sebagai ketua Lajnah Imaillah Karachi dari tahun 1986 hingga tahun 1997. Selama masa jabatannya, banyak pekerjaan yang diselesaikan khususnya berkenaan dengan penerbitan buku-buku. Pada masa kepengurusannya sebanyak 60 buku dan dua majalah telah diterbitkan. Kelas-kelas penyegaran Daiyah-Daiyah ilaLlah (para pendakwah dari kalangan Lajnah Imaillah), dan pertablighan dimulai.

Atas hal tersebut maka Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) mengungkapkan kegembiraannya yang luar biasa dengan mengatakan, “Dengan karunia Allah Ta’ala, Anda melakukan pekerjaan Anda dengan sangat luar biasa, dan saya doakan semoga Allah Ta’ala memberkati umur panjang, kesehatan dan kebahagiaan Anda. Semoga Dia mengganjar orang-orang yang membantu Anda di dunia ini dan di akhirat nanti.”

Ada banyak cerita tentang pekerjaannya, dimana Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) serta Hadhrat Khalifatul Masih III (rh) begitu mengaguminya. Dalam satu surat, Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) menulis: “Saya menerima laporan dari Anda perihal kegiatan Lajnah Imaillah Karachi disertai ungkapan perasaan keikhlasan dan keyakinan Anda yang begitu besar. Saya begitu menghormati pengabdian dan ketulusan Anda dari lubuk hati saya. Saya selalu berdoa kepada Allah Ta’ala untuk kesuksesan Anda dan semoga Dia menjadikan hari-hari Anda penuh dengan kemuliaan.”

Ny. Salima Mir menjadi janda di usia 36 tahun. Putri beliau berkata, “Saya tidak pernah mendengar sedikit pun ucapan ketidaksabaran dan ketidakbersyukuran yang keluar dari mulut ibu saya. Beliau tetap mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Ta’ala dalam segala keadaan. Beliau senantiasa berpikir positif dan juga ingin melihat hal tersebut ada dalam diri anak-anaknya.

Ketika suami saya sakit parah untuk yang terakhir kalinya, ibu saya datang ke berkunjung ke rumah. Hal pertama yang beliau berikan kepada saya setelah wafatnya suami saya ialah Malfuzat dalam beberapa jilid (kumpulan kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as). Beliau berkata, ‘Setelah kewafatan ayahmu (ibu menjadi janda), ibu menghabiskan hidup ibu dengan Malfuzat ini dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah.’ Beliau pun berkata bahwa kecintaan kepada Allah harus melebihi hubungan kecintaan kita kepada yang lainnya.”

Salah seorang putri beliau melanjutkan, “Ketika suami saya mendekati saat-saat terakhirnya, para dokter meminta saya untuk menandatangani sesuatu diatas sebuah blangko, namun saya tidak bisa mengontrol diri dan mulai menangis dengan suara yang keras.

Ibu saya yang ada di dekat situ pun mendengarnya, namun saat itu saya begitu tertekan. Ketika saya sudah berhenti dan meninggalkan rumah sakit, saya hampiri ibu saya dan beliau dengan nada yang keras berkata, ‘Kamu adalah putriku dan putriku tidak seharusnya memperlihatkan ketidaksabaran seperti itu, dan mengapa jeritan seperti itu keluar darimu?’

Beliau kemudian berkata, ‘الصبر عند الصدمة الأولى Ash-shabru ‘indash shadamatil uula – Kesabaran yang ditunjukan pada saat pertama kali seseorang tertimpa musibah itu merupakan kesabaran sejati, karena setiap orang baru menunjukan kesabarannya setelah itu. Suami engkau itu milik Allah, Dia Yang memberikannya kepadamu sebagai titipan dan kini Dia mengambil kembali milik-Nya tersebut.’”

Beliau rajin berdoa. Anak-anak beliau berkata bahwa Ibunda mereka selalu memberikan mereka nasehat dengan bahasa Punjab, “Jangan pernah melepaskan diri dari Khalifah dan selalu berpegang teguhlah pada Khilafat.”

Beliau sangat memperhatikan pardah. Dimanapun beliau melihat adanya kekurangan dalam menjalankan pardah, maka beliau akan menjelaskan sedemikian rupa yang membuat orang lain tidak tersinggung. Salah satu cucu perempuan beliau menjalankan test mengemudi di London, dan instrukturnya adalah seorang pria. Lalu beliau duduk mendampingi cucunya seraya berkata, “Saya tidak akan mengizinkan kamu pergi sendiri dengan seorang pria.” Orang-orang pun mengejek hal itu namun beliau tidak memperdulikan cemohan dunia tersebut.

Salah satu putri beliau menulis, “Ketika putri bungsu beliau dilamar seorang pemuda, pemuda itu ingin melihatnya sebelum berbahas lebih lanjut perihal lamaran. Saya mengatakan kepada Almarhumah untuk membuka pardah si bungsu sedikit, namun Almarhumah menolaknya, ‘Meski itu berarti lamaran dibatalkan.’”

Dimanapun seseorang mengenakan pardah ataupun kerudung di kepalanya maka beliau selalu berkata bahwa ada buku untuk Lajnah yang mana instruksi-intruksi dari para Khalifah ada di dalamnya. Buku tersebut berjudul: الأزهار لذوات الخمار Al-Azhaar li dzawaatil khimaaar “Bunga-bunga bagi orang-orang yang menutupi diri mereka.”

Kemudian beliau mengatakan, “Jika kamu ingin membeli sebuah bunga maka kamu pun harus membeli  Aruni (pembungkus yang digunakan sebagai penutupnya). Bunga-bungat tersebut pasti ditutupi (berpardah).”

Salah seorang cucu perempuan beliau berkata, “Ketika saya akan menikah nenek saya menyerahkan kepada saya buku Hadhrat Nawab Mubaraka Begum Sahiba, beliau menggaris bawahi nasehat yang ada di dalamnya bab tentang ‘Melepaskan anak perempuan’ dan menyuruh saya untuk membacanya berulang-ulang.

Selanjutnya ia berkata, “Nenek saya tidak menyukai wanita-wanita menghadiri acara apapun yang berlangsung hingga larut malam. Kalau kami ada acara perkuliahan di Universitas atau acara di rumah teman, Almarhumah nenek selalu menemani.”

Hari ini banyak wanita-wanita yang menulis kepada saya bahwa mereka ingin bermalam di rumah seseorang. Hal ini jelas-jelas salah dan para remaja putri kita harus menjauhi hal-hal tersebut. Cucu Ny. Salima Mir Sahibah berkata bahwa apabila kami melewatkan shalat subuh, maka nenek kami seharian penuh tidak akan berbicara kepada kami dan hal itu merupakan hukuman terbesar kami.

Suatu kali ketika mengadakan perjalanan ke Chicago di Amerika Serikat, seorang gadis di rombongan menyetel musik dan berdiri seolah-olah bergoyang mengikuti irama musik. Almarhumah memegang gadis itu dari belakang dan berkata kepadanya, ‘Matikan musiknya ya. Tidakkah Anda tahu apa yang dikatakan tentang berjoget?’

Almarhumah juga mengasuh seorang gadis Kristen. Beliau mengajarinya doa-doa dan pelajaran moral lainnya. Gadis itu berkata, “Saya telah menjadi orang yang seperti Ahmadi.”

Ny. Amatul Bari Nasir mengatakan, “Allah Ta’ala merestui saudari Salima Mir untuk mengkhidmati Lajna Karachi dalam waktu yang sangat lama. Meski beliau sudah tidak ada lagi di dunia ini, namun orang-orang yang dilatih beliau dan kini berkhidmat di berbagai belahan dunia akan tetap menyimpan nama beliau dan menghidupkan pekerjaan beliau. Nama beliau terkait dengan contoh kesempurnaan dalam bekerja. Beliau sangat memperhatikan pekerjaan dan akan mengajarkan begaimana melakukan pekerjaan. Beliau tidak perduli terhadap pujian, sebaliknya beliau ingin agar orang-orang yang bekerja bersamanya dilatih bagaimana caranya melakukan pekerjaan. Beliau mendorong timnya sedemikian keras saat mereka mengerjakan untuk menerbitkan buku-buku.

Di akhir umurnya, beliau terpaksa pergi ke luar negeri sering sekali hal mana itu mempengaruhi jalannya pekerjaan Jemaat. Maka dari itu, beliau pun mengajukan permohonan kepada Markaz supaya menunjuk ketua lainnya. Sebuah pertemuan pun diadakan. Almarhumah mengalungkan kalung bunga kepada Ny. Behti yang terpilih sebagai Ketua yang baru. Beliau mempersilahkannya dudu di kursi ketua. Beliau juga membicarakan kalimat cemerlang perihal pengkhidmatan dan menegaskan tentang ketaatan. Demikianlah, beliau menyelesaikan tanggungjawabnya dengan penuh kehormatan.”

Demikianlah yang diceritakan para pengurus. Di dalam hal itu terdapat pelajaran bagi mereka yang dihapuskan (tidak menjabat lagi) dalam sebuah tanggungjawab kepengurusan dalam Jemaat atau yang tidak lagi mendapat taufik kepercayaan sebagai pengurus. Terkadang mereka menyatakan sikap-sikap keberatannya (gemar mengkritik atau mengomel-ngomel) terhadap kepengurusan Jemaat. Bukannya bersyukur kepada Allah Ta’ala – sama saja –  baik dalam keadaan mendapatkan kesempatan berkhidmat atau tidak. Jika seseorang tidak mendapat kesempatan berkhidmat terhadap Jemaat di satu bidang, carilah jalan-jalan lain untuk mengkhidmati Jemaat. Namun, bukan suatu keharusan untuk harus memangku jabatan tertentu demi mendapat kesempatan berkhidmat terhadap Jemaat.

Lalu ia (Ny. Amatul Bari Nasir) berkata: “Saudari Salima Mir Sahibah akan menangani segala perkara dengan tenang dan penuh rasional. Jika seseorang curhat (mencurahkan perasaan) kepada beliau tentang masalah pribadinya, orang tersebut tidak akan pernah takut jika rahasianya terungkap. Beliau akan menjaga rahasia tersebut. Beliau akan menyimpan dalam-dalam semua rahasia tersebut. Inilah sifat mulia beliau. Saya tidak tahu bagaimana beliau mengubur hal-hal pribadi orang-orang lain di dalam hatinya.” Hal ini [tidak suka mengumbar rahasia dan hal pribadi orang lain] merupakan sesuatu yang semakin jarang ditemukan saat ini bahkan di kalangan kaum laki-laki.

Ny. Amatul Noor dari Karachi menulis: “Ny. Salima Mir merupakan wanita yang penuh kasih sayang dan tanpa pamrih. Beliau memiliki kepribadian yang tenang dan bukannya menonjolkan diri, beliau malah berada di belakang dan lebih menonjolkan pekerjaan orang lain. Beliau adalah sosok yang selalu tersenyum dan ceria. Disamping parasnya yang cantik, Allah Ta’ala pun menganugerahi beliau keindahan dan kecantikan hati.”

Ketika beliau mempercayai saya sebagai ketua lokal LI, saya berkata, ‘Wilayah ini begitu luas. Saya belum berpengalaman. Saya tidak mempunyai sarana transportasi juga.’

Almarhumah berkata, ‘Jangan cemas. Dua putri saya tinggal di dekat Anda. Kapan saja memerlukan mobil untuk mengunjungi saudari-saudari Jemaat, berkatalah kepadanya, niscaya mereka akan menyediakan bagi Anda. Atau, kontak saya saja, biar nanti saya mengutus orang untuk membawa mobil saya ke tempat Anda. Jangan cemas.’

Beliau orang yang rendah hati dan memperlakukan para anggota timnya di tempat duduk yang dekat beliau dan sejajar.

Sekretaris LI di Karachi bidang Isyaat mengatakan, “Saya menemukan kesempatan untuk bekerja dengan Ms. Selima Mir sejak 1986 dan saya menemukan dia murah hati dan sederhana. Pada satu kesempatan didapat informasi tentang seorang wanita yang biasanya sangat antusias dalam pengkhidmatan, tetapi terputus dari Jemaat untuk jangka waktu tertentu. Ketika kami cari tahu, ternyata ia tengah sakit. Ian memiliki beberapa benda-benda yang langka dan bersejarah.

Kami mengontaknya dengan hikmah di bawah pengawasan Ibu Salimah, tapi wanita itu meninggal sebelum kami mendapatkan benda-benda itu. Kami berkata kepada salah seorang keluarganya, ‘Jika pada kalian terdapat benda-benda seperti ini milik orang yang telah wafat itu, berikanlah kepada kami, niscaya kami akan bayarkan harganya. Karena itu milik bersejarah Jemaat dan Tabarruk Hadhrat Masih Mau’ud as. Kami menemukan sebuah kotak yang di dalamnya terdapat surat-surat tulisan tangan Hadhrat Masih Mau’ud as, dan tulisan-tulisan Khalifah pertama. Kotak itu juga bernilai historis (bersejarah). Almarhumah membawanya dengan penuh hikmah dan juga sempat mengobati seorang wanita yang telah menjauh dari Jemaat.

Semua orang yang menulis tentang beliau mempunyai perkataan yang sama bahwa beliau merupakan wanita mulia yang senantiasa menunjukan ketabahan dan kesabaran yang tinggi. Beliau merupakan model akhlak sempurna yang memiliki hubungan kuat dengan Khilafat dan selalu mendorong orang laian agar membangun hubungan dengan Khilafat. Beliau selalu melakukan amal perbuatan baik dan menasehati orang lain agar melakukan hal yang sama. beliau tidak hanya menasehati anak-anaknya namun juga memberikan nasehat kepada setiap orang dengan cara yang sama, baik mereka kawan dekat maupun orang lain. Beliau selalu membimbing putri-purti beliau dalam segala hal dan menanamkan keyakinan yang kuat terhadap Allah Ta’ala. Beliau merupakan sosok yang selalu menerima dengan segala keputusan Allah Ta’ala. semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat beliau dan semoga Dia memberi taufik kepada putra-putri beliau agar untuk terus memajukan amal saleh mereka. Amin.

Selanjutnya, saya akan mengimami shalat kedua Jenazah tersebut setelah shalat Jumat.

Penerjemahan oleh Dildaar Ahmad Dartono & Yusuf Awwab

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ  وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ  أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

________________________________

[1] Dalaa-ilun Nubuwwah (Dalil-Dalil kebenaran kenabian) atau (دلائلالنبوة للبيهقي) karya Imam al-Baihaqi, bab pengenalan mengenai Dalil-Dalil Kenabian (الْمَدْخَلُ إِلَى دَلائِلِ النُّبُوَّةِ وَمَعْرِفَةِ), bab-bab tentang perang Uhud ( بَابُ جِمَاعِ أَبْوَابِ
غَزْوَةِ أُحُدٍ); Suatu hari, beliau bersabda kepada putranya Abdullah bin Amr bin Haram (Jabir), “Wahai jabir, tidak seorang pun yang diajak berbicara oleh Allah, kecuali dari balik tabir. Tetapi, Allah telah berbicara berhadap-hadapan dengan ayahmu. Allah berfirman kepadanya, ‘Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, niscaya kuberikan.’ …dst.. setelah itu turunlah sebuah ayat dari Surah Ali Imran,  وَلاتَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا

[2] Hadits Shahih Al-Bukhari No. 5023 – Kitab Makanan

[3] Hadits Shohih Muslim, Kitab Waris, Bab Barangsiapa meninggalkan
harta maka untuk ahli warisnya

[4] An-Nasaa’iy no. 1578

[5] HR. Bukhori no. 1252 dan Muslim no. 926; عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَتَى عَلَى امْرَأَةٍ تَبْكِى عَلَى صَبِىٍّ لَهَا فَقَالَ لَهَا « اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى ». فَقَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّى وَمَا تُبَالِى بِمُصِيبَتِى. فَلَمَّا ذَهَبَ قِيلَ لَهَا إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَتْ بَابَهُ فَلَمْ تَجِدْ عَلَى بَابِهِ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَعْرِفْكَ. فَقَالَ « إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ ».

Dari ‘Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, ‘Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menemui seorang wanita yang sedang
menangis karena baru saja ditinggal mati anaknya yang masih kecil. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada wanita tersebut, “Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Maka wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, Engkau tidak mendapat musibah seperti yang aku alami’. Kemudian ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam meninggalkannya, ada yang mengatakan kepada wanita tersebut bahwa yang baru saja berbicara dengannya adalah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Setelah mendengar hal itu maka wanita itupun segera mendapati rumah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan dia tidak menemukan ada yang menjaga pintu rumah beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian dia mengatakan, ‘Wahai Rosulullah, aku (waktu itu –ed.) tidak mengenalimu’. Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya sabar itu hanya ada pada saat guncangan pertama musibah”.

(Visited 49 times, 6 visits today)