بسم اللہ الرحمن الرحیم

Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah radhiyAllahu ta’ala ‘anhu

Asal-usul keturunan Afrika, riwayat hidupnya, kaitannya dengan keluarga Hazrat Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyAllahu ta’ala ‘anhu; perannya dalam hijrah Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (saw) dari Makkah ke Madinah; Ungkapan Keprihatinan dan kecintaan Nabi saw terhadap kota Makkah saat memandang kota Makkah sebelum perjalanannya menuju Madinah; Sambutan penduduk Madinah terhadap Nabi saw; Kerja bersama Nabi (saw) dalam pembangunan rumah dan Masjid; pengkhidmatan ‘Aamir Bin Fuhairah dan kesyahidannya; Sajak-sajak dan Doanya; Ungkapan kebahagiaan dan ketentramannya menjelang kematian karena dibunuh pada waktu menjalankan tugas di jalan Allah.

“Islam tersebar karena keindahan-keindahannya, bukan karena kekerasan.”

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 18 Januari 2019 (Sulh 1398 HijriyahSyamsiyah/Jumadil Awwal 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden UK (Britania)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Pada hari ini saya akan menyampaikan riwayat hidup Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah (عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dan berkenaan dengan beliau cukup banyak riwayat yang dijumpai dalam sejarah. Beliau juga berperan dalam beberapa peristiwa penting sejarah Islam dan mendapatkan taufik untuk menjadi bagian di dalamnya. Suatu hal penting untuk menjelaskan riwayat-riwayat tersebut secara rinci. Beliau mendapatkan julukan Abu Amru.

Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah berasal dari kabilah Azd dan seorang hamba sahaya milik saudara tiri Hazrat Aisyah, Thufail (الطّفيل) bin Abdullah bin Harits bin Sakhbarah al-Azdi (عبد الله بن الحارث بن سَخْبَرة). Beliau ialah seorang budak belian berkulit hitam milik saudara tiri Aisyah dari ibu yang sama tapi dari suami yang lain. [1]

أسلم عامر بن فُهيرة قبل أن يدْخُلَ رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم، دار الأرقم وقبل أن يدعو فيها ‘Aamir Bin Fuhairah termasuk kedalam Muslim awwalin, baiat sebelum Rasulullah memasuki Darul Arqam. Beliau biasa menggembala kambing milik Hazrat Abu Bakr. Setelah memeluk Islam beliau dianiaya oleh orang kuffar. Kemudian, Hazrat Abu Bakr menebus dan membebaskannya.

Pada saat Hijrah ke Madinah, ketika Hazrat Rasulullah dan Abu Bakr bersembunyi di Gua Tsur, Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah biasa menggembalakan kambing Hazrat Abu Bakr. Hazrat Abu Bakr memerintahkan beliau untuk rutin datang ke Gua Tsur dengan membawa kambing-kambing tersebut. Walhasil, beliau biasa menggembala kambing pada siang hari dan membawanya ke dekat Gua Tsur pada sore hari. Hazrat Rasulullah dan Hazrat Abu Bakr biasa memerah susu kambing-kambing tersebut selama di Gua Tsur.

Ketika putra Hazrat Abu Bakr bernama Abdullah Bin Abu Bakr datang berkunjung ke Gua Tsur untuk menemui beliau berdua, maka dari arah belakang Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah menghapus jejak langkah Hazrat Abdullah supaya tidak diketahui kemana perginya beliau dan dicurigai oleh kaum kuffar.

Ketika beliau berdua keluar dari Gua Tsur dan berangkat hijrah menuju Madinah, Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah ikut menyertai. Hazrat Abu Bakr mengendarai unta bersama dengan beliau. Yang bertugas sebagai penunjuk jalan adalah seorang musyrik dari Banu Udail.

آخى رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم، بين عامر بن فُهيرة والحارث بن أوس بن معاذ Setelah hijrah, Hazrat Rasulullah menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hazrat Harits Bin Aus Bin Muadz. Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah ikut serta pada perang Badar dan Uhud dan syahid pada peristiwa Bir Maunah pada usia 40 tahun.

Sebelum hijrah Hazrat Abu Bakr telah membebaskan 7 budak belian yang dianiaya di jalan Allah. Diantaranya Hazrat Bilal Ra dan Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah.

Hazrat Aisyah meriwayatkan dalam menjelaskan peristiwa Hijrah, “Suatu hari kami tengah duduk di rumah Hazrat Abu Bakr tepat tengah hari. Ada yang mengatakan kepada Hazrat Abu Bakr bahwa Rasulullah (saw) tengah menuju kemari dengan mengenakan kain penutup kepala dan saat itu beliau datang tidak seperti pada waktu biasanya.

Hazrat Abu Bakr berkata, فِدًا لَهُ بِأَبِي وَأُمِّي، وَاللَّهِ إِنْ جَاءَ بِهِ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ إِلاَّ لأَمْرٍ ‘Saya rela mengorbankan ayah dan ibu saya demi Rasul. Demi Allah! Jika Rasul datang kemari di waktu seperti ini pasti ada perkara besar.’

Tidak lama kemudian Rasulullah sampai dan meminta izin masuk. Hazrat Abu Bakr mempersilahkan dan masuklah beliau.

Rasul bersabda kepada Abu Bakr, أَخْرِجْ مَنْ عِنْدَكَ ‘Jika ada orang lain di rumah ini, mintakan ia keluar dulu.’

Hazrat Abu Bakr berkata, إِنَّمَا هُمْ أَهْلُكَ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ‘Wahai Rasul! saya rela korbankan ayah dan ibuku demi engkau, di rumah ini hanya ada keluarga Anda, Aisyah dan ibunya, Ummi Ruman.’

Rasul bersabda, فَإِنِّي قَدْ أُذِنَ لِي فِي الْخُرُوجِ ‘Saya sudah mendapatkan izin untuk hijrah.’

Hazrat Abu Bakr berkata, ‘Wahai Rasul! Mohon berkenan untuk mengajak serta saya, saya rela korbankan ayah dan ibuku demi Anda.’

Rasulullah bersabda, ‘Ya. Anda juga ikut dengan saya.’

Hazrat Abu Bakr berkata, ‘Saya rela korbankan ayah dan ibuku demi Anda, silahkan Huzur memilih salah satu diantara dua kendaraan unta betina ini.’

Rasul bersabda, بِالثَّمَنِ ‘[Tidak cuma-cuma!] Saya akan membelinya.’

Hazrat Aisyah berkata, ‘Kami segera mempersiapkan perlengkapan untuk beliau-beliau, kami menyiapkan perbekalan dan memasukkannya ke dalam kantong kulit.’”

Hazrat Asma putri Hazrat Abu Bakr (أسماء بنت أبي بكر الصديق رضي الله عنهما), memotong satu bagian ikat pinggangnya untuk mengikatkan mulut kantong, karena itu beliau dinamai Dzatun Nithaaq (ذَاتَ النِّطَاقِ). Setelah itu Hazrat Rasulullah dan Hazrat Abu Bakr tiba di sebuah Gua di bukit Tsur lalu bersembunyi didalamnya selama tiga malam.

Hazrat Abdulah putra Hazrat Abu Bakr (عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ) biasa datang dan bermalam menyertai beliau berdua di Gua Tsur. Saat itu beliau sudah memasuki usia dewasa. Dia keluar dari gua Tsur dalam keadaan masih gelap. Artinya, ia pulang pada pagi buta seolah-olah melewati malam bersama penduduk Quraisy di Makkah. Rencana apapun yang kaum kuffar lakukan berkenaan dengan beliau berdua, Hazrat Abdullah mengetahuinya dan pergi ke Gua Tsur untuk mengabarkan kepada beliau berdua ketika hari gelap karena seharian beliau di Makkah.

‘Aamir Bin Fuhairah, seorang Maula (budak yang dibebaskan) dari Hazrat Abu Bakr, biasa menggembala beberapa diantara sekian banyak kambing milik Hazrat Abu Bakr. Setelah melewati waktu Isya, beliau membawa kambing-kambing itu ke Gua Tsur sehingga beliau berdua dapat meminum susu segar dan melewati malam. ‘Aamir Bin Fuhairah biasa pergi ke area ternak pada malam hari lalu memanggil kambing-kambing dan ini berlangsung selama tiga malam.

Hazrat Rasulullah dan Hazrat Abu Bakr membayar seseorang dari kabilah Banu Dail sebagai penunjuk jalan ke Madinah, orang itu berasal dari Banu Abd bin Addi, penunjuk jalan yang mahir. Ia telah mencelupkan jari tangannya untuk membuat perjanjian dengan keluarga As bin Wail dan menganut keyakinan yang sama seperti Kuffar Quraisy. Hazrat Rasulullah dan Abu Bakr mempercayainya dan menyerahkan kendaraan unta kepadanya. Beliau berdua mengambil janji dari orang itu yakni tiga hari kemudian ia akan datang ke Gua Tsur dengan membawa unta tersebut di pagi hari. Akhirnya ‘Aamir Bin Fuhairah dan penunjuk jalan berangkat bersama beliau berdua. Penunjuk jalan mengajak ketiganya menyusuri jalan di tepi laut.” (Riwayat Bukhari)[2]

Suraqah bin Malik Bin Ju’syam (سراقة بن مالك بن جعشم) [saat sudah menjadi Muslim] menceritakan [masa ketika ia masih belum menerima Islam], “Suatu hari utusan kaum Kuffar Quraisy datang kepada kami untuk mengabarkan bahwa mereka telah membuat sayembara berhadiah bagi yang dapat membunuh atau menangkap Hazrat Rasulullah dan Hazrat Abu Bakr. Saat itu saya tengah berada di tengah-tengah majlis Banu Mudlij (بَنِي مُدْلِجٍ). Salah seorang dari antara mereka menghampiri dan menyampaikan bagaimana untuk menangkap atau membunuh Rasulullah.

Orang itu mengatakan, ‘Saya melihat ada beberapa bayangan orang di tepi laut. Saya yakin bahwa itu adalah Muhammad dan kawannya.’

Saya mengenalinya namun saya katakan pada orang itu, ‘Itu sama sekali bukanlah Muhammad, melainkan orang yang baru pergi dari antara kita.’ Saya (Suraqah) menyangkalnya. Lalu, saya tinggal beberapa saat dalam majlis tersebut.

Saya bernafsu untuk mendapatkan hadiah itu dan takut jangan sampai didahului oleh orang lain. Kemudian, saya berdiri meninggalkan majlis dan pergi ke rumah. Saya perintahkan pelayan, ‘Keluarkan kuda saya dan ikat di belakang rumah!’

Saya mengambil tombak dan keluar dari arah belakang rumah. Kemudian, saya menaiki kuda dengan menggunakan topangan tombak ke tanah lalu berangkat menunggangi kuda betina. Kuda saya hentak dengan kuat sehingga kuda berlari kencang sampai tiba mendekati Rasulullah. Ketika semakin dekat kuda saya terperosok sehingga saya pun ikut terjatuh.

Saya bangkit dan mengeluarkan anak panah dari wadahnya lalu mengundi nasib apakah saya akan berhasil melukai mereka atau tidak. Apakah niat saya untuk membunuh atau menangkap Rasulullah akan berhasil ataukah tidak. Ternyata jawaban yang keluar adalah yang tidak saya harapkan yaitu saya tidak akan dapat menangkapnya.

Selanjutnya, saya kendarai lagi kuda dan melawan nasib tadi lalu unta membawa saya dengan cepat dan begitu dekatnya kepada Rasulullah sampai sampai saya mendengar Al Quran yang dibacakan rasulullah. Rasulullah (saw) tidak menoleh kesana kemari sedangkan Abu Bakr berkali-kali melihat ke arah belakang. Namun kaki depan kuda saya terperosok ke dalam pasir setinggi lutut. Apa yang terjadi sesaat kemudian ketika saya mendekati lagi Rasulullah ialah kaki kuda saya terperosok lagi ke pasir sehingga membuat saya jatuh. Saya memarahi kuda saya lalu berdiri namun kuda tidak dapat mengeluarkan kakinya dari pasir. Ketika kuda dapat berdiri tegak dengan susah payah mengeluarkan kakinya dari pasir, ia menghembuskan debu ke sekelilingnya. Artinya, begitu dalamnya terperosok, sehingga ketika mengeluarkannya pun membuat pasir berhamburan layaknya debu.

Lalu saya mengundi nasib lagi dengan mengeluarkan anak panah ternyata yang keluar adalah yang tidak saya sukai yaitu saya tidak akan dapat menangkap Rasulullah. Lalu saya berteriak mengatakan kepada mereka, ‘Kalian aman!’

Mereka pun berhenti. Sekarang niat jahat saya sudah hilang. Saya menghampiri Rasulullah dengan menunggangi kuda saya. Ketika saya tidak punya niat jahat, kuda itu pun dapat berlari dan sampai di hadapan Rasulullah. Setelah mendapatkan rintangan berkali-kali untuk menangkap Rasulullah, membuat saya berpikiran pasti ini merupakan berkat keluhuran status Rasulullah saw.

Saya katakan kepada Rasulullah, ‘Kaum Anda (Quraisy) telah membuat sayembara dan telah menyiapkan hadiah besar untuk menangkap Anda.’

Saya lalu menjelaskan semuanya. Kemudian, saya berikan perbekalan kepada mereka dan mengatakan, ‘Perbekalan ini untuk perjalanan tuan.’ Namun, beliau-beliau tidak mengambilnya. Tidak juga meminta apa-apa dari saya kecuali beliau bersabda, أَخْفِ عَنَّا ‘Jangan beritahu siapa pun perihal kami!’ (merahasiakan perjalanan beliau). Artinya, tidak memberitahukan siapapun jalan yang ditempuh oleh beliau.

Saya memohon kepada Rasulullah, ‘Mohon Anda dapat menulis surat jaminan keamanan bagi saya.’

Rasulullah memerintahkan ‘Aamir Bin Fuhairah – hamba sahaya Afrika yang sudah dimerdekakan dan ikut dalam perjalanan bersama Rasulullah – untuk menulis surat jaminan keamanan dan perdamaian. Lalu ia menulisnya diatas selembar kulit dan setelah itu Rasul berangkat.”[3]

Ibnu Syihab (ابْنُ شِهَابٍ) meriwayatkan, “Urwah bin Zubair (عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ) menceritakan kepada saya, ‘Di jalan, Rasulullah (saw) bertemu dengan Hazrat Zubair (ra, yang merupakan ayah Urwah). Hazrat Zubair baru pulang niaga dari Syam bersama kafilah orang-orang Islam. Hazrat Zubair memakaikan pakaian putih kepada Rasulullah (saw) dan Hazrat Abu Bakr ra.

Di Madinah orang-orang Islam mendengar Rasulullah (saw) telah berangkat dari Makkah. Oleh sebab itu, setiap pagi mereka selalu pergi ke medan Hurat dan menanti beliau di sana sampai panas tengah hari membuat mereka kembali. Maksudnya, mereka menanti hingga tengah hari. Ketika matahari sudah mulai menyingsing, mereka pulang karena kepanasan. Mereka menantikan kapan Rasulullah (saw) sampai Madinah?

Pada suatu hari setelah mereka menanti sangat lama dan ketika sampai rumah masing-masing, ada seorang Yahudi yang memanjat puncak benteng mereka untuk melihat, lalu dia melihat Rasulullah (saw) dan sahabat-sahabat beliau yang mengenakan pakaian putih. Fatamorgana lambat laun hilang dari mereka. Tampak bayang-bayang dari jauh. Tetapi, raut wajahnya semakin jelas.

Yahudi tadi lepas kendali dan seketika angkat bicara dengan suara lantang, يَا مَعَاشِرَ الْعَرَبِ هَذَا جَدُّكُمُ الَّذِي تَنْتَظِرُونَ “Hai orang-orang Arab!” – Dia memanggil orang-orang Madinah –  “Inilah junjungan kalian yang tengah kalian nantikan.” Dia tahu bahwa orang-orang Islam pergi setiap hari, berkumpul di satu tempat dalam penantian.

Mendengar ini, orang-orang Islam bangkit dan bergegas menuju senjata masing-masing dan menyambut Rasulullah (saw) di medan Harrat (الْحَرَّةِ). Beliau membawa serta mereka dan menepi ke arah kanan dan turun bersama mereka di perkampungan Bani Amr bin Auf dan ini adalah hari Senin dan bulan Rabi’ul Awwal.

Hazrat Abu Bakr berdiri untuk menemui mereka sedangkan Rasulullah (saw) duduk terdiam. Diantara kaum Ansar ada orang-orang yang belum pernah melihat Rasulullah (saw). Mereka mendatangi dan mengucapkan salam kepada Hazrat Abu Bakr. [mereka mengira beliau (ra) itu Nabi (saw). Tetapi, ketika sinar terik matahari mengenai Rasulullah saw – saat itu matahari tampak naik – lalu Hazrat Abu Bakr mendatangi beliau (saw) dan menaungi Rasulullah (saw) dengan kain cadar beliau, pada saat itulah orang-orang tahu mana yang Rasulullah (saw).

Rasulullah (saw) tinggal lebih dari 10 malam di perkampungan Banu Amr bin Auf. Beliau (saw) membangun sebuah Masjid yang pondasinya diletakkan atas ketakwaan dan di dalamnya beliau (saw) biasa mengerjakan shalat.

Selanjutnya, beliau menunggangi unta beliau sendiri sedangkan orang-orang berjalan kaki menyertai beliau. Unta itu duduk di Madinah di tempat yang mana saat ini adalah masjid Nabawi. Pada hari-hari itu beberapa orang Islam mengerjakan shalat di sana. Itu adalah tempat Suhail dan Sahl mengeringkan kurma. Suatu medan terbuka tempat kedua anak ini selalu mengeringkan kurma, kurma panenan kedua anak yatim ini. Anak-anak ini berada dalam asuhan Hazrat As’ad bin Zurarah.

Ketika unta beliau menempatkan beliau duduk di sana, Rasulullah (saw) bersabda, هَذَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ الْمَنْزِلُ “Jika Allah menghendaki, di sinilah tempat mukim kita.”

Kemudian, Rasulullah (saw) memanggil kedua anak laki-laki tersebut dan menanyakan harga tempat tersebut kepada mereka, supaya bisa dijadikan masjid.

Keduanya mengatakan, “Tidak, ya Rasulullah saw. Kami berikan tanah ini kepada Anda secara cuma-cuma.”

Rasulullah (saw) menolak mengambil tanah ini dari mereka secara cuma-cuma dan beliau membelinya dari mereka. Kemudian, beliau membangun masjid. Rasulullah (saw) meletakkan pondasi bersama orang-orang untuk membangun masjid tersebut dan ketika beliau letakkan pondasi, mereka serentak mengucapkan, هَذَا الْحِمَالُ لاَ حِمَالَ خَيْبَرْ هَذَا أَبَرُّ رَبَّنَا وَأَطْهَرْ ‘hadzal himaalu laa himaala khaibar, hadza abarru Rabbuna wa ath-har’ – ‘Yang dibawa ini bukanlah beban dari Khaibar. Bahkan, hai Tuhan kami, ini lebih kekal, lebih bermanfaat dan lebih suci.’

Selanjutnya, beliau bersabda, اللَّهُمَّ إِنَّ الأَجْرَ أَجْرُ الآخِرَهْ فَارْحَمِ الأَنْصَارَ وَالْمُهَاجِرَهْ ‘Allahumma innal ajra ajrul akhirah farhamil anshar wal muhajirah’ – ‘Ya Allah, pahala yang sebenarnya adalah pahala akhirat. Oleh karena itu, kasihanilah kaum anshar dan kaum muhajirin.’ Ini adalah riwayat al-Bukhari.[4]

Hazrat Mushlih Mau’ud ra juga menulis tentang peristiwa hijrah tersebut. Beliau menerangkannya dengan cara yang berbeda. Oleh karena itu, saya juga hendak terangkan sedikit rinciannya. Beliau menulis, “Akhirnya, Makkah kosong dari orang-orang Islam. Hanya ada beberapa budak saja. Rasulullah saw, Hazrat Abu Bakr dan Hazrat Ali juga masih tertinggal di Makkah.

Ketika orang-orang Makkah menyaksikan buruan mereka sudah lolos dari tangan merekaa, para pemuka berkumpul kembali. Setelah bermusyawarah, mereka memutuskan bahwa kini sudah tepat untuk membunuh Muhammad Rasulullah saw.

Dengan kekuasaan Allah Ta’ala yang khas, sejarah usaha pembunuhan beliau tepat sesuai dengan sejarah hijrah beliau. Ketika orang-orang Makkah berkumpul untuk membunuh beliau di depan rumah beliau, beliau keluar dari rumah beliau dengan niat hijrah dalam kegelapan malam. Di satu sisi, orang-orang kafir berkumpul. Di sisi lain, Allah Ta’ala membimbing beliau. Saat itu beliau pergi ke luar.

Orang-orang Makkah pasti ragu, boleh jadi kabar niat mereka sudah diketahui Muhammad Rasulullah saw. Namun, tetap saja ketika beliau lewat di depan mereka, mereka menganggap beliau ini orang lain. Bukannya menyerang beliau, mereka menepi dan sembunyi dari beliau. Mereka menganggap jangan-jangan orang itu akan memberitakan kepada Rasulullah (saw) bahwa mereka tengah berkumpul. Mereka menepi supaya niat mereka tidak diketahui oleh Muhammad saw.

Sehari sebelum malam itu, Abu Bakr juga telah beliau (saw) beritahu untuk hijrah bersama beliau. Jadi, beliau juga menemui beliau (saw) dan keduanya berangkat dari Makkah seketika dan mereka berlindung dalam sebuah gua yang berada di tepi gunung yang bernama Tsaur (غَارٍ فِي ‏‏جَبَلِ ثَوْرٍ) dengan jarak 3 atau 4 mil dari Makkah.

Ketika orang-orang Makkah mengetahui Muhammad Rasulullah (saw) pergi dari Makkah, mereka mengumpulkan sebuah lasykar dan mengejar beliau. Mereka membawa serta pencari jejak yang melacak beliau sampai ke gunung Tsaur (gunung Banteng). Di sana, dia sampai di depan gunung tersebut, tempat beliau dengan Abu Bakr bersembunyi. Dia mengatakan dengan yakin, ‘Kalau Muhammad (saw) tidak di dalam gua ini berarti ia telah naik ke langit.’

Mendengar pengumuman tersebut, hati Hazrat Abu Bakr mulai khawatir dan beliau mengatakan kepada Rasulullah (saw) dengan pelan, يَا رَسُولَ اللهِ ! هَذَا الطَّلَبُ قَدْ لَحِقَنَا ‘Musuh sudah di depan dan sekarang dia akan masuk ke dalam gua dengan segera.’

Beliau bersabda, لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ  Laa tahzan innallaha ma’ana’ – ‘Abu Bakr! Jangan takut, Tuhan beserta kita berdua.’

Hazrat Abu Bakr menjawab, أَمَا وَاللهِ مَا عَلَى نَفْسِي أَبْكِي، وَلَكِنْ أَبْكِي عَلَيْكَ ‘Ya Rasulullah saw, saya tidak mengkhawatirkan jiwa saya, karena saya adalah manusia biasa yang jikalau terbunuh, tidak masalah. Ya Rasulullah saw, yang saya khawatirkan, jika terjadi apa-apa dengan tuan, keruhanian dan agama akan lenyap dari dunia.’[5]

Beliau bersabda, ‘Saya tidak peduli. Kita di sini bukan berdua saja, Allah Ta’ala yang ketiga dan berada bersama kita.’

Karena sekarang saatnya Allah Ta’ala meningkatkan dan memajukan Islam dan tenggang waktu sudah berakhir bagi orang-orang Makkah, Allah Ta’ala menutup mata orang-orang Makkah. Mereka mulai mengolok-olok si pencari jejak itu dengan mengatakan, ‘Apakah mereka akan berlindung di tempat terbuka ini? Ini bukan tempat berlindung. Di sini juga banyak ular dan kalajengking hidup. Tidak ada orang berakal yang akan mau bersembunyi di sini.’

Tanpa mengamati ke dalam gua, mereka pulang sambil mengolok-olok si pencari jejak.

Setelah menanti di dalam gua selama 2 hari, sesuai dengan persiapan yang ditempuh sebelumnya, tunggangan diantarkan di depan gua pada waktu malam dan Rasulullah (saw) beserta kawan beliau berangkat dengan 2 unta yang berlari cepat. Muhammad Rasulullah (saw) menunggangi seekor unta dan disertai penunjuk jalan, sedangkan Hazrat Abu Bakr dan pelayan beliau, ‘Aamir Bin Fuhairah menunggangi seokor unta yang lain.

Sebelum berangkat ke Madinah, Rasul yang mulia (saw) mengarahkan pandangan ke Makkah, tempat suci beliau dilahirkan, dibangkitkan dan nenek moyang beliau tinggal semenjak zaman Hazrat Ismail as. Beliau mengalihkan pandangan terakhir dan berbicara kepada kota tersebut dengan nada menyesal, أَنْتِ أَحَبُّ بِلاَدِ اللهِ إلى اللهِ، وأَنْتِ أَحَبُّ بِلاَدِ اللهِ إليَّ، فَلَوْ أَنَّ المُشْرِكينَ لَمْ يُخْرِجُوني لَمْ أَخْرُجْ مِنْكِ ‘Hai kampung Makkah, engkau adalah yang paling kucintai, namun orang-orangmu tidak membiarkanku tinggal di sini.’[6]

Pada saat itu, Hazrat Abu Bakr mengatakan dengan amat menyesal, أخرجوا نبيَّهم ، إنَّا للَّهِ وإنَّا إليهِ راجعونَ ليَهْلِكُنَّ ‘Orang-orang tersebut telah mengusir nabinya. Kini mereka pasti akan binasa.’[7]

Ketika orang-orang Makkah gagal dalam mencari beliau, mereka mengumumkan bahwa orang yang membawa kembali Muhammad Rasulullah (saw) atau Abu Bakr dalam keadaan hidup ataupun mati, dia akan dihadiahi 100 unta dan berita pengumuman tersebut dikirim kepada kabilah-kabilah sekitar Makkah. Oleh karena itu, Suraqah bin Malik, seorang pemuka Badui berangkat menyusul beliau karena ketamakan terhadap hadiah tersebut. Sambil mencari-cari, dia mendapati beliau di jalan arah Madinah.

Ketika dia melihat dua unta dan penunggangnya, dia paham mereka adalah Muhammad Rasulullah (saw) dan sahabat beliau. Suraqah melarikan kudanya di belakang mereka, namun kudanya tersandung di tengah jalan dengan keras dan dia terjatuh.

Suraqah setelahnya menjadi Muslim. Dia sendiri menceritakan peristiwanya demikian.”

Selanjutnya, Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis, “Ketika ‘Aamir Bin Fuhairah menuliskan pesan jaminan keamanan dan perdamaian atas instruksi beliau (saw) dan dia berikan kepada Suraqah. Ketika Suraqah hendak berbalik pulang, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala memperlihatkan kabar gaib kepada beliau (saw) tentang keadaan Suraqah di masa depan. Allah Ta’ala memperlihatkan kepada Rasulullah (saw) melalui kabar gaib keadaan masa depan apa yang akan menimpa Suraqah?

Sesuai dengan itu, Nabi (saw) bersabda kepadanya, ‘Suraqah, bagaimana keadaan engkau ketika cincin Kisra berada di tangan engkau?’

Suraqah heran dan bertanya, ‘Kisra bin Hurmuz, raja Iran?’

Beliau bersabda, ‘Iya.’

Nubuatan beliau ini tergenapi kata demi kata setelah 16 tahun. Suraqah menjadi Muslim dan datang ke Madinah. Setelah kewafatan Rasul Karim saw, pertama Hazrat Abu Bakr, kemudian Hazrat Umar menjadi khalifah.

Melihat kemegahan Islam yang terus meningkat, orang-orang Iran mulai menyerang kaum Muslimin. Namun, bukannya dapat menginjak-injak Islam, mereka sendiri dihimpit dalam menghadapi Islam. Orang-orang Iran mulai melakukan serangan-serangan tapi malahan daerah kekuasaan Kisra yang dirampas oleh injakan kuda lasykar Islam. Khazanah (harta perbendaharaan) orang-orang Iran berada dalam genggaman kaum Muslimin. Diantara harta pemerintahan Iran yang berada dalam genggaman lasykar Islam ialah cincin yang selalu dipakai oleh Kisra pada saat bertakhta sesuai dengan tradisi kerajaan Iran.

Setelah Suraqah menjadi Muslim, peristiwa yang dihadapinya sewaktu hijrah Rasul yang (saw), dia ceritakan kepada kaum Muslimin dengan sangat bangga. Orang-orang Islam tahu bahwa Rasulullah (saw) bersabda kepadanya,كَيْفَ بِكَ إِذَا لَبِسْتَ سِوَارَيْ كِسْرَى؟  ‘Suraqah, bagaimana keadaan engkau ketika cincin Kisra berada di tangan engkau?’[8]

Ketika harta ghanimah dibawa dan diletakkan di depan Hazrat Umar dan beliau melihat cincin Kisra berada di dalamnya, semua gambaran itu tampak di depan beliau, Hazrat Umar dan di depan mata.

Itulah saat kelemahan dan ketidak-berdayaan ketika Rasulullah (saw) terpaksa harus meninggalkan tanah kelahiran dan pergi ke Madinah, Suraqah dan orang lain melarikan kuda di belakang beliau dan mengantarkan beliau dalam keadaan hidup ataupun mati sampai orang-orang Makkah, mereka akan memiliki 100 unta dan saat itu beliau berkata kepada Suraqah: Suraqah, bagaimana keadaan engkau ketika cincin Kisra berada di tangan engkau, betapa agung nubuatan itu; betapa jelas kabar gaib itu; betapa nyata kabar gaib itu.

Hazrat Umar melihat cincin Kisra di depannya, kuasa Tuhan beralih ke hadapan mata beliau. Beliau berkata, ‘Panggillah Suraqah!’

Suraqah dipanggil, lalu Hazrat Umar memerintahkan kepadanya supaya memakai cincin Kisra di tangannya.[9]

Suraqah berkata, ‘Hai khalifah Rasulullah saw, memakai emas dilarang bagi kaum Muslimin.’

Hazrat Umar bersabda, ‘Memang dilarang. Betul sekali. Dilarang bagi kaum laki-laki memakai emas. Namun, bukan untuk kesempatan-kesempatan itu. Sekarang bukan kesempatan untuk dilarang. Allah Ta’ala telah memperlihatkan kepada Muhammad Rasulullah (saw) cincin emas berada di tanganmu. Apakah kamu akan memakai cincin ini ataukah saya harus memberi hukuman kepadamu karena sekarang nubuatan ini telah tergenapi dan bagian yang lainnya pun kamu harus genapkan.’

Kritikan Suraqah disebabkan masalah syariat semata. Jika tidak, dia sendiri ingin menyaksikan nubuatan Rasulullah (saw) tergenapi. Suraqah memakai cincin itu di tangannya dan kaum Muslimin menyaksikan nubuatan agung tersebut tergenapi dengan mata kepala sendiri.”

Berdasarkan beberapa buku, kata-kata cincin Kisra dipakaikan kepada Suraqah bin Malik tidak beliau (saw) sabdakan pada kesempatan hijrah melainkan ketika Nabi yang mulia (saw) kembali dari Hunain dan Thaif di tempat Ji’ranah. Tetapi, riwayat secara umum yang diterangkan sebelumnya adalah disabdakan pada kesempatan hijrah, sebagaimana ditulis oleh Hazrat Mushlih Mau’ud (ra).

Ketika Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah hijrah ke Madinah, sesampainya di sana beliau sakit. Rasulullah (saw) mendoakan beliau dan beliau pun sembuh. Hazrat Aisyah meriwayatkan, ketika Rasulullah (saw) setelah hijrah tiba di Madinah, beberapa sahabat beliau jatuh sakit. Hazrat Abu Bakr, Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah dan Hazrat Bilal juga sakit. Hazrat Aisyah memohon izin kepada Hazrat Rasulullah (saw) untuk menjenguk mereka. Maka beliau (saw) pun mengizinkannya. Hazrat Aisyah bertanya kepada Hazrat Abu Bakr mengenai kondisi beliau, maka beliau (ra) membaca syair berikut sebagai jawabannya,

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ … وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ

“Tatkala seseorang bangun di pagi hari di rumahnya, diucapkanlah selamat pagi padanya padahal kematian lebih dekat baginya dari tali sandalnya”.

Maksudnya, setiap orang berada dalam kondisi di mana suatu hari maut bisa saja menghampirinya ketika ia bangun dari tidurnya.

Kemudian, Hazrat Aisyah bertanya kepada Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah mengenai kondisi beliau, maka beliau membaca syair ini,

لَقَدْ وَجَدْتُ الْمَوْتَ قَبْلَ ذَوْقِهِ … إنَّ الْجَبَانَ حَتْفُهُ مِنْ فَوْقِهِ

“kudapati kematianku bahkan sebelum kukecap rasanya.

kematian menghampiri seorang pengecut dengan tiba-tiba.”

كُلُّ امْرِئٍ مُجَاهَدٌ بِطَوْقِهِ … كَالثَّوْرِ يَحْمِي جِلْدَهُ بِرَوْقِهِ

Maksudnya, seorang pemberani setiap saat akan selalu siap menghadapi kematian, sedangkan seorang pengecut tidak siap untuk itu. Ia tidak mempersiapkannya.

Kemudian, beliau (Hazrat Aisyah) bertanya kepada Hazrat Bilal mengenai keadaannya, maka beliau menjawab [dalam bentuk sajak mengenai kerinduannya akan Makkah],

أَلَا لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيتَنَّ لَيْلَةً … بِفَخٍّ وَحَوْلِي إذْخِرٌ وَجَلِيلُ

“Andai diri ini masih sempat melewati suatu malam di lembah Makkah, dan di sekelilingku terhampar rumput idzkhir dan Jalil.”

وَهَلْ أَرِدَنْ يَوْمًا مِيَاهَ مَجِنَّةٍ … وَهَلْ يَبْدُونَ لِي شَامَةٌ وَطُفَيْلُ

Kemudian beliau datang kepada Rasulullah (saw) dan menceritakan perkataan-perkataan para sahabat tadi. Beliau menceritakan bahwa Hazrat Abu Bakr mengatakan demikian, ‘Aamir Bin Fuhairah mengatakan demikian, Hazrat Bilal mengatakan demikian, maka Rasulullah (saw) melihat ke arah langit dan berdoa sebagai berikut, اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ ، كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ ، أو َأَشَدَّ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا ، وَفِي مُدِّهَا ، وَانْقُلْ وَبَاءَهَا إِلَى مَهْيَعَةَ “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah, atau bahkan lebih dari itu. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan untuk kami pada setiap Sha’ dan Mud-nya (Ini adalah satuan takaran) dan jadikanlah Madinah sebagai tempat yang sehat bagi kami dan pindahkanlah wabah penyakitnya ke daerah Mahya’ah [nama lainnya ialah Juhfah]. yakni, jauhkanlah dari kami.”[10]

Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah syahid dalam peristiwa Bi’ru Ma’unah, ketika terjadi pembantaian para sahabat di sana, hanya Hazrat Amru bin Umayyah al-Dhamri [salah satu rombongan Muslim] yang ditawan. Amir Bin Thufail (pimpinan musuh) bertanya kepada beliau sambil menunjuk ke salah satu jenazah, مَنْ هذَا؟ وَ أَشَارَ إِلَى قَتِيْلٍ “Ini siapa?” Hazrat Amru Bin Umayyah (عَمْرُو بْنُ أُمَيَّةَ) menjawab, هذَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ “Ini adalah ‘Aamir Bin Fuhairah”. Amir Bin Thufail mengatakan, لَقَدْ رَأَيْتُهُ بَعْدَمَا قُتِلَ رُفِعَ إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى إِنِّيْ لَأَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ الْأَرْضِ “Saya melihat ‘Aamir Bin Fuhairah setelah dibunuh ia diangkat ke langit, yang mana sampai sekarang pun saya masih melihatnya berada di antara langit dan bumi. Kemudian ia diturunkan ke bumi.”[11]

Kabar mengenai beliau ini sampai kepada Rasulullah (saw) dan beliau mengabarkan mengenai kesyahidan beliau kepada para sahabat dan bersabda, إِنَّ إِخْوَانَكُمْ قَدْ لَقُوا الْمُشْرِكِينَ وَاقْتَطَعُوهُمْ ، فَلَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ أَحَدٌ ، وَإِنَّهُمْ قَالُوا “Sahabat kalian telah syahid dalam menghadapi orang-orang Musyrik. Mereka berdoa kepada Rabb-Nya, رَبَّنَا بَلِّغْ قَوْمَنَا أَنَّا قَدْ رَضِينَا ، وَرَضِيَ عَنَّا رَبُّنَا ، فَأَنَا رَسُولُهُمْ إِلَيْكُمْ ، إِنَّهُمْ قَدْ رَضُوا وَرُضِيَ عَنْهُمْ ‘Ya Tuhan kami! Sampaikanlah kepada saudara-saudara kami bahwa kami ridha kepada Engkau dan Engkau ridha kepada kami.’[12]

Oleh karena itulah, Allah Ta’ala mengabarkan mengenai mereka [kepada orang-orang Muslim di Madinah.] Hal Ini pun te rdapat dalam riwayat Bukhari. Allah Ta’ala pun memperlihatkan suatu pemandangan kepada orang-orang bukan Muslim dan yang mana Rasulullah (saw) mendapat khabar mengenai hal ini juga.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa yang mensyahidkan Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah. Menurut beberapa riwayat yang mensyahidkan beliau adalah Amir Bin Thufail yang menceritakan peristiwa tadi. Amir Bin Thufail sendiri yang bertanya waktu itu (mengenai siapa jenazah yang ia tunjuk). Jadi, orang yang mensyahidkan dari pihak musuh. Sedangkan dari riwayat lain diketahui bahwa Jabbar bin Salma (جبّار بن سُلْمَى الكِلابَيّ) yang mensyahidkan. Bagaimanapun, beliau syahid dalam peristiwa Bi’ru Ma’unah.

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis mengenai peristiwa syahidnya Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah: “Lihatlah! Islam tidak meraih kemenangan dengan pedang. Bahkan Islam meraih kemenangan dengan ajaran yang luhur yang merasuk ke dalam hati manusia dan menciptakan revolusi yang luhur dalam akhlak.

Salah seorang sahabat mengatakan, ‘Penyebab saya masuk Islam hanyalah karena saya singgah di suatu kaum yang telah berkhianat dan mensyahidkan 70 orang Qaari Muslim. Ketika mereka menyerang orang-orang Islam, beberapa diantara orang-orang Islam ada yang naik ke bukit yang tinggi ada juga sebagian yang berdiri melawan mereka. Dikarenakan jumlah musuh sangat banyak sedangkan orang Islam sangat sedikit dan dengan tanpa persenjataan, oleh karena itu mereka mensyahidkan seluruh orang Islam satu per satu.

Pada akhirnya hanya satu sahabat yang tersisa yang ikut serta berhijrah bersama dengan Rasulullah (saw) dan merupakan Khadim dari Hazrat Abu Bakr r.a., beliau bernama ‘Aamir Bin Fuhairah. Begitu banyak orang yang beramai-ramai menangkap beliau dan seseorang dengan sangat kuat menancapkan tombak di dada beliau. Ketika tombak tertancap dari lisan beliau serta-merta terucap sebuah kalimat, فُزْتُ ورب الكعبةFuztu wa rabbil Ka’bah!” – “Demi Tuhan-nya Ka’bah, saya telah berhasil.”

Ketika saya (yakni sahabat yang di kemudian hari menjadi Muslim, yang tadinya teman dari para penyerang) mendengar kalimat ini dari lisan beliau, saya merasa heran dan berkata, orang ini jauh dari keluarganya, jauh dari anak istrinya, mengalami musibah yang besar dan tombak dihujamkan ke dadanya, namun di saat-saat terakhirnya hanya mengatakan, فُزْتُ ورب الكعبة “Demi Tuhan-nya Ka’bah, saya telah berhasil.”

Apakah orang ini sudah gila? Oleh karena itu saya bertanya kepada beberapa orang, “Apa yang terjadi? Mengapa ia mengucapkan kalimat ini?”

Mereka menjawab, “Apakah kamu tidak tahu, orang-orang Islam ini benar-benar telah gila. Ketika mereka meninggal di jalan Allah Ta’ala maka mereka beranggapan bahwa Allah Ta’ala telah ridha kepada mereka dan mereka telah meraih kesuksesan.” [13]

Saya sangat terkesan dengan hal ini, sehingga saya memutuskan pergi ke markaz orang-orang ini untuk melihatnya dan menyelidiki sendiri agama mereka. Saya lalu tiba di Madinah dan masuk Islam.’

Sahabat tadi mengatakan bahwa pada peristiwa tersebut tombak tertancap di dada seseorang (Muslim) sedangkan ia jauh dari tanah airnya. Tidak ada seorang pun sanak kerabatnya di sampingnya. Namun, dari lisannya keluar kalimat, فُزتُ وربِّ الكعبةِ “fuztu wa Rabbil ka’bah.”

Ia sangat terkesan dengan peristiwa itu. Ketika orang tersebut telah masuk Islam setelah peristiwa penyerangan, ia menceritakan kembali kejadian ini. Ketika sampai pada kalimat فُزتُ وربِّ الكعبةِ ‘fuztu wa Rabbil ka’bah’, maka dikarenakan kengerian peristiwa ini seketika badannya menggigil dan ia pun bercucuran air mata.”

Hazrat Mushlih Mau’ud a.s. menulis, “Islam tersebar karena keindahan-keindahannya, bukan karena kekerasan.”

Diriwayatkan juga ketika syahidnya Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah, kata-kata yang terucap dari mulut beliau diantaranya adalah, فُزتُ وربِّ الكعبةِ (fuztu wa rabbil ka’bah) dan (Fuztu waLlahi). Keduanya ada riwayatnya. Disebutkan pula kata-kata ini diucapkan juga oleh sahabat lain.

Hazrat Mushlih Mau’ud r.a. lebih lanjut bersabda, “Dengan membaca sejarah kita mengetahui bahwa para sahabat pergi ke medan perang dengan berpemahaman bagi mereka syahid di medan perang merupakan sarana ketentraman dan kebahagiaan hakiki. Jika mereka menderita suatu kedukaan di medan perang, mereka tidak menganggapnya sebagai kedukaan, melainkan kesukaan. Oleh karena itu di dalam tarikh-tarikh didapati peristiwa-peristiwa semacam ini, di mana mereka merasa terbunuh di jalan Allah Ta’ala merupakan ketentraman yang hakiki bagi diri mereka.

Misalnya, para Hafiz (penghapal Qur’an) yang diutus oleh Hazrat Rasulullah (saw) untuk bertabligh ke suatu suku Arab. Di antara mereka terdapat Haram Bin Milhan yang pergi kepada Kepala Suku Amir yang bernama Amir Bin Thufail untuk membawa pesan Islam, sedangkan sahabat yang lainnya menunggu di belakang. Pada awalnya Amir Bin Thufail dan kawan-kawannya secara munafik menyambutnya dengan baik. Ketika beliau sudah duduk dengan tenang dan mulai bertabligh beberapa orang jahat di antara mereka memberikan isyarat kepada seseorang yang durjana, yang setelah mendapat isyarah ia langsung menusukkan tombaknya kepada Haram Bin Milhan dari belakang dan beliau jatuh. Ketika jatuh dari lisan beliau terucap kata-kata, اللهُ أكبرُ، فُزتُ وربِّ الكعبةِ ‘Allahu Akbar, fuztu wa robbil Ka’bah. Itu artinya, ‘Demi Tuhan-nya Ka’bah saya telah memperoleh keselamatan.’[14]

Kemudian orang-orang jahat tadi mengepung sahabat-sahabat yang lain dan menyerang mereka. Pada kesempatan tersebut seorang khadim Hazrat Abu Bakr yang telah dimerdekakan, Hazrat ‘Aamir Bin Fuhairah yang menyertai Rasulullah (saw) pada saat hijrah, mengenai beliau diriwayatkan bahwa pembunuh beliau sendiri yang belakangan masuk Islam menjelaskan penyebab ia masuk Islam, ‘Ketika saya mensyahidkan ‘Aamir Bin Fuhairah, dari mulut beliau seketika terucap, فُزْتُ والله!  “Fuztu waLlahi”. Artinya, “Demi Allah saya telah sampai kepada tujuan saya.”’[15]

Peristiwa-peristiwa ini menjelaskan bahwa bagi para sahabat, kematian bukannya merupakan kesedihan, justru menjadi sumber kesenangan mereka. Dengan demikian, alangkah beruntungnya mereka, khususnya ‘Aamir Bin Fuhairah yang juga mendapatkan kesempatan untuk mengkhidmati Hazrat Abu Bakr, mendapatkan kesempatan untuk mengkhidmati Hazrat Rasulullah (saw) dan juga berhijrah bersama beliau, dan juga mengkhidmati Islam. Kemudian, beliau juga menyediakan makanan bagi Hazrat Rasulullah (saw) di Gua Tsur. Pada saat itu makanan yang beliau bawakan adalah susu. Beliau ditugaskan untuk membawa susu kambing dan beliau secara rutin selama tiga hari membawa kambing-kambing ke sana sehingga susu kambing bisa selalu sampai ke sana.

Kemudian beliau juga mendapatkan kesempatan untuk menuliskan surat jaminan keamanan untuk Suraqah, yang merupakan perintah dari Hazrat Rasulullah (saw), dan kemudian mengenai syahidnya beliau pun berkat doa beliau Hazrat Rasulullah (saw) mengetahui kabarnya meskipun sedang duduk di tempat yang jauh. Beliau adalah teladan kesetiaan yang setiap saat memperlihatkan kesetiaannya. Semoga Allah Ta’ala terus meninggikan derajat beliau.”

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Muhammad Hashim (Jakarta, Indonesia) dan Mln. Agus Mulyana; Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia). Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) :http://www.islamAhmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Al-Isti’aab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب). Hazrat Abu Bakr (ra) menjalin pernikahan dengan empat orang wanita. Qutailah (ibunya Asma dan Abdullah), Ummu Ruman (ibunya Aisyah dan Abdurrahman), Asma’ binti Umais (janda Ja’far bin Abu Thalib, ibunya Muhammad bin Abu Bakr yang lahir di masa akhir hidup Nabi saw) dan Habibah bint Kharijah. Sebelumnya, Ummu Ruman ialah istri Abdullah bin Harits bin Sukhairah al-Azdi yang berasal dari luar Makkah, di pegubungan as-Surrah. Amir bin Fuhairah ialah budak belian keluarga Abdullah bin Harits. Abdullah bin Harits, Ummu Ruman dan Thufail anak mereka merantau ke Makkah dan mendapat perlindungan dari Abu Bakr. Sesuai tradisi masa itu bagi para pendatang harus memiliki pelindung. Abdullah bin Harits wafat. Abu Bakr pun menikahi Ummu Ruman dan merawat Thufail, anaknya. Ummu Ruman menyatukan ath-Thufail, Asma, Abdullah, Aisyah dan Abdurrahman dalam asuhannya.

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang pakaian (كتاب اللباس), bab taqannu (باب التَّقَنُّعِ), no. 5807.

[3] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (كتاب مناقب الأنصار), bab Hijrah Nabi (saw) dan para Sahabat beliau ke Madinah (باب هِجْرَةُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ), no. 3906. Suraqah asal Kabilah Bani Mudlij yang berdomisili di sebuah lembah yang disebut lembah Qadid. Kala itu Bani Mudlij adalah kabilah Arab yang paling dikenal dengan kepandaian mereka dalam mencari jejak. Suraqah meminta surat jaminan keamanan karena sudah berkeyakinan Nabi (saw) akan dapat mengalahkan mereka yang memusuhinya. Ia perlu itu untuk memastikan akan diperlakukan baik oleh Nabi (saw) dan para pengikutnya nanti ketika dalam keadaan menang atau berkuasa.

[4] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (كتاب مناقب الأنصار), bab Hijrah Nabi (saw) dan para Sahabat beliau ke Madinah (باب هِجْرَةُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ), no. 3906.

[5] Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل), (المجلد الأول), (مسند أبو بكر الصديق).

[6] Ath-Thabrani dalam Tafsirnya; Ibn Katsir dalam Tafsirnya (رواه الطبري في (تفسيره)، (26/ 48)؛ وابن كثير في (تفسيره)، (4/ 176). وصححه القرطبي في (تفسيره)، (16/ 235).)

[7] Shahih ibn Hibban (صحيح ابن حبان), (كِتَابُ السَّيَر), (بَابُ فَرْضِ الْجِهَاد), (ذِكْرُ الْخَبَرِ الْمُدْحِضِ قَوْلَ مَنْ زَعَمَ). Musnad Ahmad dan Shahih an-Nasai. لمَّا أُخْرِجَ النَّبيُّ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ من مَكَّةَ ، قالَ أبو بَكْرٍ : أخرجوا نبيَّهم ، إنَّا للَّهِ وإنَّا إليهِ راجعونَ ليَهْلِكُنَّ ، فنزلت : أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ فعرَفتُ أنَّهُ سيَكونُ قتالٌ

[8] Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ash-haab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب) karya Abu Umar Yusuf al-Qurthubi (أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي), (المتوفى: 463هـ)

[9] Dalailun Nubuwwah karya al-Baihaqi (دلائل النبوة للبيهقي), (جُمَّاعُ أَبْوَابِ إِخْبَارِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْكَوَائِنِ بَعْدَهُ، وَتَصْدِيقِ اللهِ جَلَّ ثَنَاؤُهُ رَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَمِيعِ مَا وَعْدَهُ).  عَنِ الْحَسَنِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أُتِيَ بِفَرْوَةِ كِسْرَى فَوُضِعَتْ بَيْنَ يَدَيْهِ، وَفِي الْقَوْمِ سُرَاقَةُ بْنُ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ قَالَ: فَأَلْقَى إِلَيْهِ سِوَارَيْ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ، فَجَعَلَهُمَا فِي يَدَيْهِ فَبَلَغَا مَنْكِبَيْهِ فَلَمَّا رَآهُمَا فِي يَدَيْ سُرَاقَةَ قَالَ: الْحَمْدُ لِلَّهِ سِوَارَيْ كِسْرَى بْنِ هُرْمُزَ فِي يَدِ سُرَاقَةَ بْنِ مَالِكِ بْنِ جُعْشُمٍ أَعْرَابِيٌّ مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ. وَذَكَرَ الْحَدِيثَ. قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: وَإِنَّمَا أَلْبَسَهُمَا سُرَاقَةَ لِأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِسُرَاقَةَ وَنَظَرَ إِلَى ذِرَاعَيْهِ: «كَأَنِّي بِكَ قَدْ لَبِسْتَ سِوَارَيْ كِسْرَى» [ص:326]. قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ حِينَ أَعْطَاهُ سِوَارَيْ كِسْرَى: الْبَسْهُمَا، فَفَعَلَ فَقَالَ: قُلِ: اللهُ أَكْبَرُ. قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ. قَالَ: قُلِ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي سَلَبَهُمَا كِسْرَى بْنَ هُرْمُزَ وَأَلْبَسَهُمَا سُرَاقَةَ بْنَ جُعْشُمٍ أَعْرَابِيًّا مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ

[10] Musnad Ahmad ibn Hanbal (المسند للإمام أحمد – ج 17 – 23357 – 25479), juga dalam Al-Bidaayah wan Nihaayah.

[11] Ḥilyat-ul-Auliyā’i wa Thabaqāt-ul-Ashfiyā’ (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء) atau (Perhiasan para Wali dan Tingkatan-tingkatan Orang-orang yang Suci.) karya Al-Imam Abu Nu’aim al-Ashfahani r.h.

[12] Dalailun Nubuwwah karya al-Baihaqi (دلائل النبوة للبيهقي), (الْمَدْخَلُ إِلَى دَلائِلِ النُّبُوَّةِ وَمَعْرِفَةِ), (بَابُ جِمَاعِ أَبْوَابِ غَزْوَةِ أُحُدٍ), (بَابُ : غَزْوَةِ بِئْرِ مَعُونَةَ). Juga dalam Ath-Thabaqaat.

[13] Sirah an-Nabawiyah (Perjalanan Hidup Nabi saw) karya Ibn Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), bahasan peristiwa Bi’r Maunah pada bulan Shafar 4 Hijriyah (حديث بئرمعونة في صفر سنة أربع), h. 603, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, 2001.

Jabbar Bin Salma (جَبّار بْنِ سَلْمَى) saat itu ada bersama dengan Amru Bin Tufail dan di kemudian hari mereka masuk Islam. Beliau mengatakan, إنّ مِمّا دَعَانِي إلَى الْإِسْلَامِ أَنّي طَعَنْتُ رَجُلًا مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ بِالرّمْحِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ فَنَظَرْتُ إلَى سِنَانِ الرّمْحِ حِينَ خَرَجَ مِنْ صَدْرِهِ فَسَمِعْته يَقُولُ فُزْتُ ورب الكعبة وَاللهِ فَقُلْت فِي نَفْسِي: مَا فَازَ أَلَسْتُ قَدْ قَتَلْتُ الرّجُلَ قَالَ حَتّى سَأَلْتُ بَعْدَ ذَلِكَ عَنْ قَوْلِهِ فَقَالُوا: لِلشّهَادَةِ فَقُلْت: فَازَ اللهِ لعمر واللهِ

[14] Shahih al-Bukhari.4091.

[15] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’d, Thabaqat atau golongan keempat yaitu para Sahabat yang masuk Islam saat penaklukan Makkah (طبقات ابن سعد – ج 6 – الطبقة الرابعة من الصحابة ممن أسلم عند فتح مكة). Riwayat Jabbar bin Salma.