Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 01 Juni 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Seorang sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Hadhrat Ukkasyah ibn Mihshan, beliau tergolong sebagai sahabat terkemuka. Beliau ikut pada kesempatan perang Badr dengan menunggang kuda. Pada kesempatan itu pedang beliau patah. Mendengar hal itu, Nabi saw menghadiahi sebatang kayu kepada beliau, yang mana seolah-olah di tangan beliau menjadi pedang besi yang tajam yang beliau gunakan dalam peperangan sehingga Allah Ta’ala menganugerahkan kemenangan.

Dengan pedang itu jugalah beliau menyertai Rasulullah (saw) dalam berbagai peperangan. Pedang kayu itu menyertai beliau sampai beliau menjumpai Tuhannya (akhir hayat). Nama pedang itu al-‘Aun.

Hadhrat Rasulullah (saw) memberikan kabar suka kepada beliau bahwa beliau akan masuk ke dalam surga tanpa hisab. Pada kesempatan perang Badr, Rasulullah (saw) saw bersabda kepada para sahabat, “Penunggang kuda yang terbaik di Arab sekarang bersama dengan kita.”

Sahabat bertanya, “Siapa gerangan, wahai Rasulullah (saw)?

Beliau bersabda, “Ukkasyah putra Mihshan.”

Hadhrat Abu Hurairah Ra meriwayatkan, “Saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda, ‘Satu kelompok dari antara umat saya sebanyak tujuh puluh orang ribu akan masuk surga tanpa hisab dan wajah mereka akan bersinar seperti bulan pada malam ke-14.’

Ukkasyah ibn Mihshan al-Asadi berdiri mengangkat penutup mukanya dan mengatakan, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Doakanlah saya, semoga Allah Ta’ala memasukkan saya kedalam golongan tersebut. Rasulullah (saw) saw bersabda, ‘Ya Allah! Masukkanlah dia dalam golongan tersebut.’

Ada orang lain lagi dari kalangan Anshar yang berdiri mengatakan, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Doakanlah saya, semoga Allah Ta’ala memasukkan saya kedalam golongan tersebut.’

Rasulullah (saw) saw bersabda, سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ  ‘Ukkasyah telah mendahuluimu.’

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad menceritakan peristiwa ini buku beliau, ‘Sirat Khataman Nabiyyin’, “Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda di dalam sebuah Majelis, ‘Satu kelompok dari antara umat saya sebanyak tujuh puluh ribu orang akan masuk surga tanpa hisab.’ Artinya, mereka akan mendapatkan ketinggian ruhani dan karunia Allah Ta’ala begitu memancar pada mereka, sehingga sudah tidak diperlukan lagi hisab [perhitungan amal].

Beliau (saw) pun bersabda, ‘Wajah mereka pada hari kiamat akan bersinar layaknya Badr (bulan) pada malam ke-14 (purnama) yang bersinar di langit.’

Lalu, Hadhrat Ukkasyah mengatakan, ‘Wahai Rasul Allah! Doakan juga untuk saya agar termasuk kedalam golongan tersebut.’

Kemudian, Rasul mendoakan beliau untuk dimasukkan.

Setelah menjelaskan dengan rinci peristiwa ini, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Ra menyampaikan beberapa pandangan, “Meskipun tampaknya ini merupakan peristiwa kecil dalam Majlis Rasulullah (saw) namun di dalamnya terdapat khazanah makrifat yang banyak, karena dari itu dapat diketahui: pertama, hal itu mengisyaratkan begitu besarnya karunia Allah Ta’ala atas umat Rasulullah (saw) dan limpahan ruhani Rasulullah (saw) telah sampai pada kesempurnaan sehingga 70 ribu diantara umat beliau yang karena maqom ruhani dan karunia Allah Ta’ala yang khas atasnya, seolah-olah pada hari kiamat akan terbebas dari kesulitan penghisaban. Dari angka 70 ribu pun bisa diartikan bahwa jumlahnya sangat besar.

Kedua, darinya dapat diketahui bahwa begitu dekatnya Rasulullah (saw) dengan Allah Ta’ala sehingga atas permintaan Rasulullah (saw), Allah Ta’ala dengan segera memberitahukan kepada beliau melalui kasyaf atau ilham bahwa Ukkasyah pun akan masuk kedalam golongan 70 ribu tadi. Mungkin saja Ukkasyah sebelumnya tidak termasuk kedalam golongan tersebut namun sebagai buah dari doa beliau, Allah Ta’ala anugerahkan karunia itu kepada beliau Ra.

Ketiga, dari kejadian tersebut dapat diketahui bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) sangat memperhatikan adab kepada Allah ta’ala dan beliau ingin meningkatkan umat beliau dalam tolok ukur amal kerja keras mereka sehingga ketika ada orang lain mengajukan permohonan doa yang sama setelah Hadhrat Ukkasyah, dengan memperhatikan penyerapan maqam ruhani yang diraih golongan yang suci tersebut, beliau menolak  permintaannya untuk mendoakan lebih secara individu. Beliau menekankan kepada umat muslim untuk meningkatkan ketakwaan, keimanan dan amal saleh; dan bersabda jika ada perhatian ke arah itu, maka kalian akan mendapatkan maqam tersebut.

Keempat, dari peristiwa itu tampak sangat jelas perihal keluhuran akhlak beliau karena Rasulullah (saw) menolak tidak dalam corak yang dapat menyinggung perasaan orang Anshari tadi, melainkan menolaknya dengan corak yang sangat halus.

Hadhrat Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat Ukkasyah sebagai komandan dalam berbagai Sariyah (ekspedisi). Hadhrat Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat Ukkasyah sebagai komandan bagi 40 orang Muslim pada bulan Rabiul awwal tahun 6 Hijri untuk menghadapi kabilah Bani Asad. Kabilah ini berada di dekat sebuah sumber mata air bernama Ghamar yang berjarak beberapa hari perjalanan dari Madinah ke arah Makkah. Grup Ukkasyah segera berangkat dan sampai mendekat kabilah Bani Asad untuk menghentikan kejahatan mereka. Ternyata kabilah itu mengetahui kabar kedatangan pasukan Muslim lalu berhamburan kesana-kemari. Lalu, Ukkasyah dan kawannya kembali ke Madinah dan tidak terjadi peperangan yakni merekapun berupaya untuk menghindari peperangan tanpa sebab. Dalam kejadian itu terkandung jawaban atas apa yang dituduhkan terhadap umat Muslim bahwa mereka hobi berperang dan gemar menumpahkan darah.

Hadhrat Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan perihal firman Allah ‘idza jaa-a nashrullahi wal fathi..) yakni ketika surah An-Nashr turun kepada Rasulullah (saw), beliau memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan demi shalat berjamaah. Setelah shalat beliau menyampaikan pidato yang dengannya pecahlah tangisan orang-orang. Lalu Rasulullah (saw) bersabda, ‘Wahai orang-orang! Nabi seperti apakah saya ini?’

Mendengar hal itu orang-orang menjawab, “Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan ganjaran kepada anda, anda adalah nabi yang terbaik, layaknya seorang ayah yang penyayang bagi kami dan layaknya saudara yang mencintai dan tulus menasihati kami. Anda telah menyampaikan pesan dan wahyu Allah kepada kami  dan menyeru kami kepada jalan Tuhan engkau dengan hikmat dan nasihat. Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada anda ganjaran terbaik yang Dia berikan kepada para Nabi-Nya.”

Lalu Rasulullah (saw) bersabda, “Wahai umat Muslim! Saya katakan kepada kalian dengan sumpah demi Allah jika saya pernah berbuat aniaya kepada salah seorang diantara kalian, silahkan bangkit dan balaslah terhadap saya.”

Namun tidak ada yang bangkit. Lalu beliau (saw) mengatakan lagi dengan bersumpah, namun tidak ada yang bangkit. Lalu beliau mengatakannya uuntuk yang ketiga kali, “Saya katakan kepada kalian dengan sumpah demi Allah jika saya pernah berbuat aniaya kepada salah seorang diantara kalian, silahkan bangkit dan balaslah terhadap saya sebelum saya dituntut pembalasan di hari Qiamat.”

Lalu bangunlah seorang lelaki tua bernama ‘Ukkasyah bin Mihshan, beliau mendekat sampai berhadapan dengan Rasulullah (saw) dan berkata: “Demi ayah dan ibu saya, wahai Rasulullah (saw), kalau anda tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali sudah tentu saya tidak akan berdiri.”

Lalu ‘Ukkasyah berkata lagi: “Sesungguhnya dalam banyak perang, saya bersama Anda, wahai Rasulullah (saw). Pada masa itu saya mengikuti unta Anda dari belakang. Setelah dekat, saya pun turun dari unta saya menghampiri anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium kaki Anda. Tetapi anda telah mengambil tongkat dan memukul unta Anda untuk berjalan cepat, yang mana pada masa itu cambuk itu mengenai saya. saya tidak tahu apakah Anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta tersebut.”

Hadhrat Rasulullah (saw) berkata: “Wahai ‘Ukkasyah, demi Tuhan, tidak mungkin saya sengaja memukul kamu.” Kemudian Rasulullah (saw) berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkatku ke mari.” Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah dan berkata kepada Hadhrat Fatimah, “Wahai putri Rasulullah! Berikan tongkat Rasulullah (saw) padaku”. Kemudian Fatimah berkata: “Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya, apakah ini hari peperangan bukan haji?.”

Berkata Bilal: “Sungguh engkau tidak tahu perihal ayah anda, Rasulullah (saw). Beliau (saw) tengah menyampaikan perpisahan kepada orang-orang dan sebelum kewafatannya dan tengah meminta balasan dari orang-orang.”

Bertanya Fatimah lagi: “Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk membalas Rasulullah (saw)?”

Lalu beliau mengatakan, “Wahai Bilal ! katakan pada Hasan dan Husain untuk berdiri di hadapan orang itu dan meminta balasan dari orang itu.”

Maka, Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah (saw). Setelah Rasulullah (saw) menerima tongkat tersebut dari Bilal maka beliau pun menyerahkan kepada ‘Ukkasyah.

Melihat hal demikian maka Abu Bakr dan Umar tampil ke depan sambil berkata: “Wahai ‘Ukkasyah, janganlah kamu balas Rasulullah (saw) balaslah atas kami berdua dan jangan katakan apa-apa kepada Rasulullah (saw).”

Rasulullah (saw) berkata: “Wahai Abu Bakr! Wahai Umar! Duduklah kalian berdua, sesungguhnya Allah telah menetapkan tempatnya untuk Anda berdua.”

Kemudian Ali bangun, lalu berkata, “Wahai ‘Ukkasyah! Saya adalah orang yang senantiasa berada di samping Rasulullah (saw). Oleh karena itu, Anda pukullah saya dan janganlah membalas Rasulullah (saw). Ini tubuh saya. Silahkan cambuki mau 100 kali pun”. Lalu Rasulullah (saw) berkata, “Wahai Ali duduklah. Sesungguhnya Allah telah menetapkan tempat Anda dan mengetahui isi hati Anda.”

Setelah itu, Hasan dan Husain bangun dengan berkata: “Wahai ‘Ukkasyah, bukankah Anda tahu bahwa kami ini adalah cucu Rasulullah (saw)? Balaslah kepada kami sama jika Anda ingin memukul Rasulullah (saw).”

Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah (saw) pun berkata, “Wahai qurrata ‘aini (buah hatiku)! Duduklah kamu berdua.”

Berkata Rasulullah (saw), “Wahai ‘Ukkasyah pukullah saya.”

Kemudian ‘Ukkasyah berkata: “Ya Rasulullah (saw), anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju.” Maka Rasulullah (saw) pun membuka baju. Setelah Rasulullah (saw) membuka baju maka menangislah semua yang hadir. Mereka mengatakan, “Hai Ukkasyah, apakah kamu benar benar mau memukul Rasulullah (saw)?”

Setelah ‘Ukkasyah melihat putih tubuh Rasulullah (saw) maka ia pun mencium perut beliau dan berkata, “Saya tebus engkau dengan jiwa saya, wahai Rasulullah (saw), siapakah yang sanggup memukul Anda.”

Lalu Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, “Anda akan memukul saya atau memaafkan saya?”

Hadhrat Ukkasyah menjawab, “Ya Rasulullah (saw), saya telah memaafkan supaya Allah memaafkan saya pada hari kiamat nanti.”

Kemudian Rasulullah (saw) berkata, “Dengarlah Anda sekalian, sekiranya Anda hendak melihat kawan ahli syurga, maka orang tua inilah.”

Kemudian semua para jemaah bangkit dan mencium kening Hadhrat Ukkasyah dan menyampaikan ucapan Mubarak padanya dan mengatakan, “Berbahagianya Anda yang telah mendapatkan maqam tinggi dan kedekatan dengan Rasulullah (saw) di surga.”

Inilah Hadhrat Ukkasyah, beliau telah memanfaatkan kesempatan itu, yakni entahlah nanti akan dapat kesempatan seperti itu lagi atau tidak. Ketika Rasulullah (saw) mengabarkan perihal akan berpulangnya ke hadirat Ilahi, beliau memanfaatkan kesempatan tersebut untuk tidak hanya mengecup bahkan mencium tubuh Rasulullah (saw).

Pada masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr Ra, Hadhrat Ukkasyah pergi dengan Hadhrat Khalid Bin Walid untuk memerangi kaum murtad (orang-orang yang tidak hanya keluar dari Islam tapi juga berbuat makar). Isa Bin Umailah meriwayatkan dari ayahnya, ketika Hadhrat Khalid Bin Walid pergi untuk bertempur, jika mendengarkan azan dikumandangkan dari suatu pemukiman maka beliau tidak menyerang. Jika tidak terdengar azan maka beliau menyerang. Ketika beliau Ra sampai di suatu tempat yang bernama Buzakha, beliau mengutus Hadhrat Ukkasyah bin Mihshan dan Hadhrat Tsabit Bin Aqram (radhiyallahu ‘anhuma) sebagai informan (pencari tahu) atas gerak-gerik musuh. Mereka berdua mengendarai kuda. Kuda Hadhrat Ukkasyah bernama Arrizaam sedangkan kudanya Hadhrat Tsabit dinamai Al-Muhabbar.

Mereka berjumpa dengan Tulaihah dan saudaranya Salamah (tokoh golongan murtad). Keduanya (Tulaihah dan saudaranya Salamah) berada di depan mendahului pasukan mereka untuk menjadi informan atas gerak-gerik kaum Muslim. Tulaihah berhadapan dengan Hadhrat Ukkasyah sedangkan Salamah berhadapan dengan Hadhrat Tsabit. Kedua bersaudara itu mensyahidkan kedua sahabat tersebut.

Abu Waqid al-Laitsi meriwayatkan, “Kami berada di depan 200 lasykar pasukan berkuda. Kami berdiri di dekat jenazah Hadhrat Ukkasyah dan Hadhrat Tsabit yang terbunuh, sampai tibalah Hadhrat Khalid ibn Walid yang kemudian atas perintah beliau kami menguburkan jenazah mereka berdua dalam pakaian yang berlumuran darah. Ini adalah peristiwa 12 Hijri.”

Demikianlah peristiwa syahidnya beliau.

Ada juga Sahabat Nabi Muhammad (saw) lainnya yaitu Hadhrat Kharijah ibn Zaid. Beliau berasal Bani Aghar dari al-Khazraj (golongan suku yang tinggal di Madinah). Putri beliau, Habibah dinikahkan dengan Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq yang dari pernikahan itu lahir Ummu Kultsum putri Abu Bakr.

Nabi (saw) mempersaudarakan Kharijah ibn Zaid dengan Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq. Kharijah termasuk tokoh diantara kabilahnya dan termasuk sahabat terkemuka. Beliau baiat pada hari Aqabah. Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq pun tinggal di rumah Kharijah setelah hijrah ke Madinah. Kharijah ikut serta dalam Perang Uhud dan disyahidkan dalam peperangan itu setelah berperang dengan berani. Anak-anak panah menancap di tubuh beliau dan puluhan luka mengenai beliau.

Shafwan ibn Umayyah (tokoh kafir Quraisy masa itu) lewat di dekat tubuh beliau. Ia mengenalinya. Ia memutilasinya (memotong-motongnya) lalu berkata, ‘Inilah orangnya yang ayah pesankan pada hari Badr.’ Ayahnya, Umayyah ibn Khalf (tokoh Quraisy yang terbunuh dalam perang Badr.) Ia berkata, ‘Jiwaktu bergetar saat mengingat pembunuhan secara mutilasi terhadap para Shahabat Muhammad (saw).’ Shafwan membunuh ibn Qoqal Kharijah ibn Zaid dan Aus ibn Arqam.

Hadhrat Kharijah ibn Zaid dan saudara sepupunya, Hadhrat Saad Bin Rabi’, keduanya dikuburkan di dalam satu kuburan. Diriwayatkan pada perang Uhud, Hadhrat Abbas Bin Ubadah mengatakan dengan suara yang tinggi, “Wahai jamaah umat Muslim, menyatulah dengan Allah dan nabi-Nya. Musibah yang kalian dapatkan itu disebabkan ketidaktaatan kalian kepada Nabi kalian sendiri. Dia menjanjikan pertolongan kepada kalian, namun kalian tidak sabar.”

Lalu Hadhrat Aabbas Bin Ubadah menurunkan (melepas) baju besinya dan bertanya kepada Hadhrat Kharijah Bin Zaid, “Apakah Anda memerlukan ini?”

Kharijah mengatakan, “Tidak, apa yang Anda inginkan (kesyahidan), itu jugalah yang saya inginkan.”

Lalu mereka mengumpulkan kaum mereka. Abbas Bin Ubadah mengatakan, “Jika terjadi sesuatu terhadap Rasulullah (saw) (beliau mendapatkan kesulitan) dalam pengetahuan kita, maka alasan apa yang akan kita berikan di hadapan Allah nanti?”

Hadhrat Kharjah mengatakan, “Kita tidak punya alasan dan dalil apa-apa di hadapan Allah nantinya.”

Hadhrat Abbas Bin Ubadah menghadapi Sufyan Bin Abdu Syams as-Salmi. Sufyan inilah yang mensyahidkan Hadhrat Abbas Bin Ubadah. Sedangkan Hadhrat Kharijah Bin Zaid mendapatkan lebih dari 10 luka disebabkan anak panah.

Pada perang Uhud itu Hadhrat Malik Bin ad-Duhsyum lewat di dekat Hadhrat Kharijah Bin Zaid. Hadhrat Kharijah tengah luka parah, beliau mendapatkan sekitar 13 luka parah. Hadhrat Malik mengatakan padanya, “Apakah Anda tahu bahwa Muhammad (saw) telah disyahidkan?”

Hadhrat Kharijah mengatakan, “Jika saja beliau disyahidkan, sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan mati. Muhammad saw telah menyampaikan pesannya, kamu pun berperanglah untuk agamamu.”

Hadhrat Kharijah memiliki dua anak yang salah satunya bernama Hadhrat Zaid Bin Kharijah yang wafat pada masa kekhalifahan Hadhrat Usman Ra. Putri kedua Hadhrat Kharija Bin Zaid adalah Hadhrat Habibah Binti Kharijah yang menikah dengan Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq. Ketika Hadhrat Abu Bakr Siddiq wafat, istri beliau, Habibah dalam kondisi hamil. Abu Bakr bersabda, ‘Saya berharap seorang putri darinya’, sebagaimana memang benar terlahir seorang anak perempuan darinya.

Lalu seorang sahabat Rasul yang bernama Hadhrat Ziyad Bin Lubaid. Ibu beliau bernama Umrah Binti Ubaid ibn Mathruf. Seorang putra Hadhrat Ziad bernama Abdullah. Ziad hadir dalam baiat Aqabah Tsaniyah (ke-2) bersama 70 sahabat dan masuk Islam. Sesampainya di Madinah beliau merobohkan patung berhala dalam kabilahnya, Banu Bayadha. Mereka dulu biasa menyembahnya sebagai berhala.

Kemudian, Ziyad beliau pergi ke hadapan Rasulullah (saw) di Makkah dan tinggal bersama beliau (saw) di sana sampai Rasulullah (saw) hijrah ke Madinah. Beliau pun ikut serta berhijrah dari Makkah ke Madinah. Beliau sampai di Madinah setelah Rasulullah (saw) sampai. Karena itulah Hadhrat Ziad disebut dengan Muhajir Anshari. Artinya, beliau termasuk Muhajirin (orang yang berhijrah) dan Anshari (asal Madinah) juga. Hadhrat Ziyad ikut serta bersama dengan Rasulullah (saw) dalam perang Badr, Uhud, Khandaq dan peperangan lainnya. Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) datang ke Madinah sebagai Muhajir (pengungsi) dan melewati kabilah Banu Bayadhah, Hadhrat Ziyad mengucapkan Ahlan wa sahlan (selamat datang) dan mempersilahkan rumahnya untuk ditempati. Atas hal itu Hadhrat Rasulullah (saw) saw bersabda, “Lepaskan ikatan unta saya. Dia akan memilih sendiri.”

Pada bulan Muharram tahun 9 Hijriah, Nabi (saw) menetapkan para juru pungut (muhashshil) yang berbeda untuk memungut sedekah dan zakat, maka Hadhrat Ziyad ditetapkan menjadi juru pungut untuk daerah HadhraMaut. Beliau terus melakukan pengkhidmatan tersebut sampai masa kekhalifahan Hadhrat Umar. Setelah pensiun dari tugas tersebut, beliau menetap di Kufah dan wafat di sana pada 41 Hijri.

Dalam sejarah diriwayatkan, ketika kekisruhan kemurtadan dan makar tengah memuncak pada masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr, sebagian orang menolak untuk membayar zakat, Asy’ath Bin Qais Al-Kindi pun melakukan makar jahat. Hadhrat Ziyad ditugaskan untuk menghadapinya. Ketika beliau menyerangnya, dia mencari perlindungan di benteng Najir. Hadhrat Ziyad mengepungnya dengan ketat, sampai-sampai dia kesulitan, akhirnya memberikan pesan bahwa dia akan membuka pintu benteng dengan syarat dia dan 9 kawannya dijamin keamanannya.

Hadhrat Ziad mengatakan, “Tulislah perjanjian, saya akan beri stempel.”

Lalu mereka membuka pintunya. Ketika dilihat perjanjiannya, kesembilan nama kawan kawannya tertulis namun Asy’ath sendiri lupa menulis namanya. Lalu dia dan tawanan lainnya dikirim kepada Hadhrat Abu Bakr di Madinah.

Lalu ada seorang sahabat bernama Ma’tab Bin Ubaid Ra. Beliau tidak memiliki anak, keponakan beliau bernama Asir Bin Urwah menjadi pewaris beliau. Ma’tab Bin Ubaid ikut serta dalam perang Badr dan Uhud. Beliau disyahidkan pada peristiwa Raji’. Sepuluh umat Muslim disyahidkan pada peristiwa tersebut.

Berkenaan dengan peristiwa tersebut Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra), “Hari itu merupakan hari yang sangat berbahaya bagi umat Muslim. Hadhrat Rasulullah (saw) mendapatkan kabar mengerikan dari empat arah. Namun yang paling beresiko bagi beliau ialah yang berasal dari Quraisy yang semakin berani disebabkan [keunggulan relatif mereka] dalam perang Uhud.

Setelah merasakan kegentingan itu Hadhrat Rasulullah (saw) mengutus satu grup yang berjumlah 10 orang sahabat pada bulan safar tahun 4 hijri dan menetapkan Ashim Bin Tsabit sebagai komandannya yang kepadanya diperintahkan untuk secara diam-diam pergi ke dekat Makkah untuk mencari informasi perihal kaum Quraisy dan melaporkannya kepada beliau saw atas rencana-rencana mereka. Namun belum saja grup ini berangkat,  beberapa orang dari qabalah Adhal dan Qarah datang menghadap beliau dan menyampaikan, ‘Di dalam kabilah kami banyak sekali orang yang cenderung kepada Islam. Mohon tuan utus beberapa orang Sahabat tuan bersama kami untuk membaiatkan kami dan mengajarkan kami ajaran islam.’

Hadhrat Rasulullah (saw) mengecek perihal keinginan mereka dan grup yang telah dipersiapkan untuk mencari informasi itu akhirnya dikirim untuk pergi dengan perwakilan kabilah Adhal itu. Namun sebenarnya, seperti yang di kemudian hari diketahui orang-orang ini pendusta. Mereka datang di Madinah atas hasutan Banu Lihyan yang telah merancang strategi ini untuk membalas dendam kematian pemimpinnya Sufyan Bin Khalid supaya dengan alasan itu umat Muslim keluar dari Madinah untuk berikutnya diserang.

Dalam hal ini Banu Lihyan telah mempersiapkan banyak sekali hadiah unta sebagai imbalan bagi orang-orang Banu Adhal dan Qarah. Ketika orang-orang kabilah Adhal dan Qarah sampai diantara Asfan dan Makkah, lalu mereka mengabarkan secara diam-diam kepada Banu Lihyan, “Beberapa Muslim tengah datang bersama kami, datanglah kemari.”

Mendengar kabar itu, dua ratus pemuda Banu Lihyan yang diantaranya 100 pemanah meluncur untuk mengepung umat 10 orang pasukan Muslim dan menyergapnya pada satu tempat yang bernama Raji’. Bagaimana 10 orang dapat melawan 200 orang? Namun umat Muslim tidaklah diajarkan untuk menyerah. Jika terjadi kondisi seperti itu maka perintahnya jika dikepung ialah berperang. Kesepuluh sahabat tadi segera menaiki tempat ke ketinggian untuk bersiap melakukan perlawanan. Orang kafir yang bagi mereka mengelabui bukanlah suatu aib, memanggil pasukan Muslim untuk turun dari bukit dan mengatakan mereka berjanji tidak akan membunuh pasukan Muslim.

Ashim Ra menjawab, “Kami tidak percaya dengan perjanjian kalian. Kami tidak dapat turun untuk ini.”

Lalu, pasukan Muslim menengadahkan wajah ke langit dan mengatakan, ”Ya Tuhan, Engkau menyaksikan kondisi kami saat ini, kabarkanlah kepada Rasulmu perihal kondisi ini.”

Walhasil, Ashim dan sahabat yang lain melawan mereka dan syahid dalam peristiwa itu. Setelah 7 sahabat terbunuh dan hanya tersisa Khubaib Bin Adi dan Zaid Bin Datsanah dan satu lagi sahabat lainnya, maka orang kafir yang awalnya berkeinginan untuk menangkap mereka hidup-hidup mengatakan kepada ketiga sahabat ini, “Turunlah, kami berjanji untuk tidak menganiaya kalian.”

Kali ini umat Muslim yang sederhana ini terkelabui dan turun menghampiri mereka, namun sesampainya dibawah pasukan kafir mengikat tiga orang itu dengan tali panah lalu kawan Khubaib dan Zaid yang dalam sejarah namanya Abdullah Bin Tariq tidak dapat bersabar lagi lalu berteriak mengatakan, “Ini perjanjian buruk kalian yang pertama, entahlah apa yang akan kalian lakukan nanti.”

Abdullah menolak untuk ikut pergi sehingga orang kafir menyeret paksa Abdullah sampai cukup jauh lalu membunuhnya dan jenazah beliau dibuang di sana. Karena balas dendam mereka telah terpenuhi lalu demi membahagiakan orang-orang Quraisy dan demi ketamakan mereka akan imbalan uang, mereka membawa Zaid dan Khubaib ke Makkah. Setelah sampai di Makkah mereka menjualnya ke tangan Qarib. Khubaib dibeli oleh anak-anaknya Harits bin Amir Bin Naufal, karena Khubaib telah membunuh Harits pada perang Badar sedangkan Zaid dibeli oleh Safwan Bin Umayyah. Pada akhirnya mereka berdua pun disyahidkan. [dieksekusi di depan publik].

Lalu, salah seorang diantara para Sahabat Badri (ikut dalam perang Badr) ialah Hadhrat Khalid Bin Bukair Ra. Hadhrat Khalid Bin Bukair, Hadhrat Aqil, Hadhrat Amir dan Hadhrat Ayas termasuk golongan awal yang bersama-sama masuk Islam di Darul Arqam. Keempat bersaudara tersebut adalah yang paling awal menerima Islam di Darul Arqam. Hadhrat Rasulullah (saw) telah menjalinkan persaudaraan antara Hadhrat Khalid Bin Bukair dengan Hadhrat Zaid Bin Datsanah. Beliau ikut dalam perang Badr dan Uhud. Beliau disyahidkan dalam peristiwa Raji’ yang telah disampaikan sebelumnya bagaimana 10 orang Sahabat dibunuh dengan cara dikelabui. Sepuluh sahabat disyahidkan di tempat itu termasuk beliau.

Sebelum perang Badr Rasulullah (saw) saw telah mengutus sebuah Sariyah (pasukan ekspedisi) dibawah komando Abdullah Bin Jahsy untuk menghadapi kafilah Quraisy dalam satu perang Sariyah. Di dalamnya ikut serta juga Hadhrat Khalid Bin Bukair.

Beliau disyahidkan pada bulan Safar tahun 4 Hijriyah pada usia 34 tahun bersama dengan Hadhrat Ashim bin Tsabit dan Hadhrat Martsad Bin Abi Martsad al-Ghanawi pada peristiwa Raji’ ketika berperang melawan Qabilah Adhal dan Qarah.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa ketika orang-orang kabilah Adhal dan Qarah membawa para sahabat tersebut ke daerah Raji’ yang merupakan nama sumber mata air kabilah Hudzail dan posisinya berada di penghujung Hijaz, mereka menipu para sahabat tersebut dengan memancing emosi kabilah Hudzail atas para sahabat. Para sahabat saat itu berada dalam kemah, melihat orang-orang menghampiri mereka dari empat penjuru dengan masing-masing memegang pedang. Para sahabat pun mempersiapkan diri untuk mempertahankan diri tanpa gentar.

Pihak kaum Kuffar mengatakan, “Demi Tuhan! Kami tidak akan membunuh kalian, kami hanya ingin menangkap kalian dan menyerahkan kalian kepada orang-orang Makkah untuk mengambil imbalan dari mereka.”

Hadhrat Martsad Bin Abi Martsad, Hadhrat Asim bin Tsabit dan Hadhrat Khalid Bin Bukair Ra mengatakan, “Demi Tuhan! Kami tidak melakukan perjanjian dengan orang-orang Musyrik.  Akhirnya ketiga sahabat ini bertarung sampai syahid.”

Hadhrat Hasan Bin Tsabit Ra menulis berkenaan dengan mereka dalam sebuah syairnya:

Alaa laitanii fiihaa syahidtu Ibna thariq

Wa Zaidan wa maa tughniyal amaaniy wa martsada

Wa daafa’tu ‘an hibba Khubaib wa Aashim

Wa kaana syifaa-an lau tadaaraktu Khalidan

Seandainya saya bersama dengan Ibnu Thariq, Zaid dan Murshid pada peristiwa Raji’, meskipun keinginan tidak berguna, maka aku akan selamatkan kawanku Khabib dan Asim dan jika aku dapati Khalid, diapun akan selamat.

Merekalah orang-orang yang telah memberikan banyak pengorbanan untuk melindungi agama dan untuk menjaga keimanan mereka sehinga mereka menjadi orang-orang yang meraih keridhaan Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam tulisannya bersabda, “Syukur dipanjatkan terhadap Tuhan yang Maha Mengutus Yang telah berbuat ihsan dan menjauhkan segala kesedihan. Shalawat dan salam atas Rasul itu yang merupakan imam bagi insan dan jin; dan yang menarik kepada kesucian hati dan surga. Salam atas para sahabatnya yang telah berlari kepada sumber mata air keimanan layaknya orang yang kehausan dan telah disinari dengan kesempurnaan ilmu dan amalan  dalam malam gelap kesesatan.”

Lalu beliau As bersabda berkenaan dengan para sahabat, “Mereka merupakan singa di di siang hari dan rahib di malam hari dan bintangnya agama.”

Maksud dari rahibnya malam adalah mereka beribadah di malam hari dan bintangnya agama. Keridhaan Allah Ta’ala senantiasa menyertai mereka. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk memperbaiki kondisi amalan dan keilmuan dan meninggikan standar ibadah di malam hari. [aamiin]

Setelah shalat jumat nanti saya akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk seorang muballigh Uganda bernama Ismail Malagala Sahib. Beliau wafat pada tanggal 25 Mei sebelum shalat jumat disebabkan oleh serangan jantung pada usia 64 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuwn. Ismail Malagala lahir di Uganda tepatnya di kabupaten Makono pada tahun 1954. Kedua orang tuanya dulunya adalah Kristen, untuk itu beliau terlahir sebagai Kristen juga.

Ismail Malagala adalah kakak ipar seorang Ahmadi bernama Haji Syuaib Nasirah, untuk itu almarhum biasa berkunjung ke rumahnya. Karena Haji tersebutlah, almarhum tertarik kepada Islam dan dilakukan soal jawab sampai waktu yang panjang. Setelah itu perlahan-lahan mulailah cahaya Islam menyinari beliau sehingga pada akhirnya beliau baiat pada tahun 1978 dan masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah.

Setelah itu almarhum menyampaikan kepada Bpk. Haji tersebut, “Sejak kecil saya bercita-cita untuk menjadi pendeta, namun karena saat ini saya telah menerima Islam, apakah saya dapat mengkhidmati Islam?”

Setelah itu, disampaikan kepada almarhum, “Untuk mengkhidmati Islam, Anda dapat mewakafkan hidup.”

Muhammad Ali Qahiro, Amir Jemaat Uganda saat itu baru saja kembali dari Pakistan ke Uganda setelah menyelesaikan pendidikan di Jamiah Rabwah. Lalu beliau mengirimkan Ismail Malagala dan kelima khudam lainnya ke Pakistan pada 1980. Almarhum masuk Jamiah pada tahun 1980 dan belajar pada kelas khusus dan beliau lulus pada tanggal 1 Maret 1988.

Principal Jamiah pada saat itu Bpk. Mir Mahmud Ahmad Nasir menulis kesan-kesannya berkenaan dengan almarhum terkait masa-masa belajar di Jamiah, “Dari sisi kelimuan beliau memang lemah tapi dapat bekerja sama dengan baik dan merupakan mahasiswa yang taat, rendah hati dan rajin beribadah. Keistimewaan beliau adalah selalu berkunjung kepada tokoh suci Jemaat dan meminta doa dari mereka. Almarhum menuntut ilmu di Jamiah dengan sangat gigih dan ketika Hudhur ke-4 terpaksa Hijrah dari Pakistan pada tahun 1984, dalam kondisi genting seperti saat itu beliau melaksanakan tugas keamanan dengan sebaik-baiknya dan penuh keberanian.”

Principal Jamiah Rabwah saat ini, Bpk. Mubasyir Ayaz menulis perihal almarhum, “Kami dulu bersama sama di Jamiah, beliau berakhlak sangat baik dan pendiam, terhitung diantara mahasiswa yang rajin beribadah dan sufi. Bersikap taat merupakan keistimewaan beliau. Karena saat itu saya bertugas sebagai zaim, untuk itu saya sering berhubungan dengan beliau, beliau adalah figure yang rendah hati dan taat. Beliau sangat hobi bermain sepak bola, terhitung sebagai anggota tim yang khusus dimasukkan.”

Setelah lulus jamiah, beliau ditugaskan di Uganda sebagai muballigh dimana beliau bertugas di berbagai jemaat sebagai Muballigh.

Pada tahun 2007 beliau berkunjung ke Pakistan bersama dengan dua muballig Uganda lainnya, di sana beliau mendapatkan taufik untuk menyelasikan tugas editing terjemahan Al-Quran Karim dalam Bahasa Uganda dan mereka menyelesaikan tugas ini dalam kurun waktu 3 bulan. Mungkin dari sisi keilmuan, beliau lemah di Jamiah, namun di kemudian hari keilmuan beliau sangat meningkat dan beliau terus tingkatkan.

Almarhum sangat hobi bertabligh dan melalui tabligh beliau banyak sekali orang yang baiat. Beliau biasa menempuh jarak yang jauh dengan sepeda untuk bertabligh. Suatu ketika beliau pergi untuk tabligh, sedangkan istri beliau wafat, namun tidak ada sarana komunikasi untuk mengabarkan kepada beliau. Ketika kembali dari tabligh, baru diketahui istri beliau telah wafat dan juga telah dimakamkan. Seumur hidup beliau sibukkan diri untuk mengkhidmati agama dengan kesederhanaan. Beliau bertabiat lembut, penyayang dan penuh simpatik. Selalu memperhatikan orang-orang miskin, mencintai khilafat dan menganggap penting untuk mentaati segala perintah Khilafat. Secara khusus para mubllighin Afrika dan para wakaf zindegi mereka, saya perhatikan, memiliki jalinan yang khas dengan Khilafat.

Amir Sahib Uganda Muhammad ali Qahiro Sahib menulis, “Almarhum merupakan muballigh yang ideal, sangat mukhlis dan dai ilallaah dan pengkhidmat agama. Meskipun menghadapi banyak kesulitan, namun beliau tidak pernah mengeluh bahkan dalam keadaan bagaimanapun beliau terus sibuk mengkhidmati agama. Paska kewafatan istri pertama, beliau menikah untuk kedua kalinya dan beberapa masa kemudian menikah untuk yang ketiga kali.”

Salah seorang istri beliau menulis, “Seumur hidup saya mengenali beliau sebagai insan yang penuh kasih sayang, lembut hati, damai dalam berbagai kondisi dan bersyukur kepada Allah Ta’ala.”

Putri beliau menuturkan, “Ayah kami sangat penyayang dan penyabar, selalu memperhatikan keperluan kami dan selalu mengajarkan untuk sealu mengamalkan perintah agama.”

Almarhum meninggalkan dua istri dan 9 anak. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat-Nya atas beliau, menganugerahkan maghfirah-Nya dan semoga terus menjalinkan anak keturunan beliau dengan Jemaat dan Khilafat. [aamiin]

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi                     : www.alislam.org dan islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

(Visited 115 times, 1 visits today)