Hadhrat Abdullah ibn Jahsy, Hadhrat Ka’ab Bin Zaid, Hadhrat Salih ibn Adi bergelar Syuqran dan Hadhrat Malik ibn ad-Dukhsyum radhiyAllahu ta’ala ‘anhum

 

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 11 Mei 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada hari ini, diantara beberapa sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang akan saya bahas, yang pertama ialah Hadhrat Abdulah Bin Jahsy radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Ibunda beliau bernama Umaimah Binti Abdul Muthallib yang merupakan bibi Hadhrat Rasulullah Saw dari garis ayah [Umaimah ialah saudari Abdullah ibn Abdul Muthalib, ayah Nabi saw]. Dengan begitu Hadhrat Abdullah Bin Jahsy adalah saudara sepupu Hadhrat Rasulullah saw. Beliau masuk Islam sebelum Hadhrat Rasulullah Saw memasuki Darul Arqam. Darul Arqam adalah rumah atau Markaz milik seorang Sahabat Nabi saw yang termasuk awal masuk Islam yang bernama Arqam bin Abul Arqam (Arqam ibn Abdu Manaf ibn Asad al-Makhzumi). Rumah tersebut letaknya tidak jauh dari Makkah (di luar kota Makkah namun tidak jauh).

Rumah tersebut menjadi markas umat Muslim karena biasa digunakan sebagai tempat berkumpulnya mereka untuk mempelajari agama, beribadah dan kegiatan lainnya. Disebabkan kemasyhurannya sehingga dikenal juga dengan sebutan Darus Salaam (rumah perdamaian). Rumat itu berfungsi sebagai markas selama tiga tahun. Umat Muslim beribadah di dalamnya secara sembunyi-sembunyi dan Hadhrat Rasulullah Saw juga mengadakan Majlis-Majlis di dalamnya. Setelah Hadhrat Umar radhiyAllahu ta’ala ‘anhu baiat, umat Islam mulai berani menampilkan keberadaannya. Di dalam riwayat dikatakan Hadhrat Umar merupakan orang terakhir yang baiat masuk Islam di markas tersebut. Pendek kata, Hadhrat Abdulah Bin Jahsy baiat sebelum tempat tersebut dijadikan sebagai markas.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa keluarga beliau pun tidak bebas dari penganiayaan orang-orang Musyrikin Quraisy. Beliau pernah dua kali hijrah (pindah) ke Habsyah (Abbesinia, Afrika sekarang) disertai kedua saudara beliau, Abu Ahmad dan Ubaidulah, juga kedua saudari beliau Hadhrat Zainab Binti Jahsy dan Hadhrat Hamnah Binti Jahsy. Saudara beliau, Ubaidullah setelah sampai di Habsyah menjadi Kristen dan wafat sebagai Kristen juga. Hadhrat Ummu Habibah Binti Abu Sufyan istri Ubaidullah saat itu tetap berada di Habsyah. Lalu, Hadhrat Rasulullah saw menikah dengannya.

Hadhrat Abdulah Bin Jahsy pulang ke Makkah sebelum hijrah ke Madinah. Selanjutnya, dari Makkah beliau pergi ke Madinah dengan membawa serta seluruh anggota Qabilahnya, Banu Ghanam ibn Dodan yang telah baiat masuk Islam. Dengan demikian, Hadhrat Abdulah Bin Jahsy membuat kota Makkah kosong dari semua kerabatnya sehingga kawasan tempat tinggal mereka sepi. Banyak sekali rumah mereka yang dikunci.

Begitu jugalah yang terjadi pada zaman ini di beberapa tempat di Pakistan juga karena para Ahmadi mengosongkan beberapa kampung [dengan berhijrah ke luar Pakistan].

Ibnu Ishaq (sejarah Muslim) mengatakan, “Ketika Banu (keluarga besar) Jahsy Bin Riyab hijrah dari Makkah dan mengosongkan rumah-rumah mereka, Abu Sufyan bin Harb menjual rumah-rumah mereka kepada Amr Bin Alqamah. Ketika kabar penjualan ini sampai kepada Hadhrat Abdulah Bin Jahsy di Madinah, beliau menyampaikan kejadian tersebut kepada Hadhrat Rasulullah Saw. Hadhrat Rasulullah bersabda: ‘Wahai Abdullah! Tidakkah engkau ridha jika sebagai ganti rumah tersebut Allah menggantinya dengan sebuah istana di surga?’

Hadhrat Abdulah Bin Jahsy menjawab: ‘Ya, Rasulullah, saya ridha.’

Beliau bersabda: ‘Istana tersebut adalah untukmu.’ Artinya, rumah-rumah yang kalian tinggalkan sebagai gantinya kalian akan mendapatkan tempat di surga, yakni istana-istana.

Hadhrat Rasulullah (saw) pernah diutus Hadhrat Abdulah Bin Jahsy oleh untuk suatu peperangan ke arah lembah Nakhlah yang mengenai hal itu kita temukan keterangan di dalam buku Sirah al-Halabiyyah sebagai berikut, “Setelah shalat Isya, Hadhrat Rasulullah bersabda kepada Hadhrat Abdulah Bin Jahsy untuk datang pada pagi hari dengan membawa persenjataan karena akan dikirim ke suatu tempat.

Setelah shalat subuh Hadhrat Rasulullah mendapati Hadhrat Abdullah Bin Jahsy tengah berdiri menunggu di depan pintu rumah beliau dengan membawa serta senjata berupa panah, tombak dan tameng. Hadhrat Rasulullah memanggil Ubay Bin Kaab lalu memerintahkannya menuliskan surat. Setelah selesai ditulis surat tersebut, Hadhrat Rasulullah memanggil Hadhrat Abdullah Bin Jahsy dan menyerahkan surat itu kepadanya. Beliau (saw) bersabda, ‘Saya tetapkan Anda sebagai ketua grup yang saya utus.’

Dalam riwayat lain juga tertulis bahwa Nabi Saw pada awalnya menetapkan Hadhrat Ubaidah Bin Harits ibn Abdul Muththalib sebagai ketua grup. Namun sebelum keberangkatan, ketika beliau pergi ke rumah untuk perpisahan, anak-anak beliau datang menghadap Hadhrat Rasulullah sambil menangis. Karena itu sebagai gantinya Hadhrat Rasulullah menetapkan Hadhrat Abdullah Bin Jahsy sebagai ketua. Ketika mengutus, Hadhrat Rasulullah menjuluki Hadhrat Abdullah Bin Jahsy dengan sebutan Amirul Mukminin. Dengan demikian Hadhrat Abdullah Bin Jahsy adalah sahabat yang beruntung, pada masa Islam beliau yang pertama djuluki sebagai Amirul Mu-minin (pemimpin orang-orang beriman).

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ‘anhu menjelaskan tafsir ayat,  يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلشَّهۡرِ ٱلۡحَرَامِ قِتَالٖ فِيهِۖ  Yas-aluunaka anisy syahril haraami qitaalin fiihi (Surah al-Baqarah, 2:218), “Ketika Hadhrat Rasulullah hijrah dari Makkah dan sampai di Madinah Munawwarah, saat itupun murka penduduk Makkah tidak berkurang sedikitpun, bahkan mereka mulai mengancam orang-orang Madinah, ‘Karena kalian (Muslim Madinah) memberikan perlindungan kepada orang-orang kami (Muslim Makkah), maka dari itu, hanya satu cara bagi kalian yakni kalian bunuh mereka semua atau kalian tinggalkan Madinah. Jika tidak, kami bersumpah akan menyerang Madinah untuk membunuh kalian semua dan menculik para wanita kalian.’[1]

Tidak hanya mengancam, bahkan mereka melakukan persiapan untuk menyerang Madinah. Pada masa-masa itu, Nabi Muhammad Saw terkadang berjaga semalaman. Para sahabat juga tidur dengan ditemani senjata di tangan mereka agar pihak yang memusuhi tidak dapat menyerang secara tiba-tiba di malam hari. Dalam keadaan seperti itu, di satu segi, Nabi Muhammad Saw mulai melakukan perjanjian dengan kabilah-kabilah yang tinggal di sekitar Madinah, supaya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mereka akan membantu kaum Muslimin.

Sementara itu, di sisi lain kabar yang menyebutkan kaum Quraisy tengah melakukan persiapan menyerang Madinah. Karena itu, Nabi saw mengutus Hadhrat Abdullah Bin Jahsy bersama 12 orang ke Nakhlah disertai secarik surat dengan pesan Nabi saw, ‘Bukalah surat ini dua hari kemudian setelah perjalanan.’

Hadhrat Abdullah Bin Jahsy pun membuka surat tersebut dua hari kemudian di dalamnya tertulis: ‘Kalian tinggallah sementara di Nakhlah, carilah informasi mengenai keadaan Quraisy lalu laporkan kepada kami.’

Secara kebetulan, saat itu tengah datang kafilah Quraisy dari arah Syam (Suriah) yang membawa barang dagangan dan melewati dekat mereka. Hadhrat Abdullah Bin Jahsy berijtihad (mengambil kesimpulan dan keputusan) secara pribadi lalu menyerang kafilah tersebut yang mengakibatkan terbunuhnya Amru Bin Al-Hadhrami dari pihak Kafir, dua orang ditawan dan umat Muslim menguasai harta rampasan. Ketika beliau sampai di Medinah dan mengisahkan kejadian tersebut, Nabi Muhammad Saw sangat murka dan bersabda: ‘Saya tidak memerintahkan kalian untuk bertempur.’

Beliau saw pun menolak untuk menerima harta rampasan.

Ibnu Jarir menulis dari riwayat Hadhrat Ibnu Abbas bahwa Hadhrat Abdullah Bin Jahsy dan kawan-kawan beliau telah keliru beranggapan saat itu belum masuk bulan Rajab padahal bulan rajab telah dimulai. Mereka mengangap saat itu masih 30 Jumadis tsani dan belum mulai bulan Rajab. Walhasil, atas terbunuhnya Amru Bin Al-Hadhrami di tangan umat Muslim, kaum Musyrikin mulai heboh dengan mengatakan, ‘Sekarang umat Muslim sudah tidak menghargai bulan suci yang di dalam bulan tersebut segala jenis peperangan dihentikan.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: “Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan perihal keberatan tersebut, ‘Memang benar berperang pada bulan tersebut merupakan hal yang sangat dibenci dan dosa menurut Allah Ta’ala. Namun yang lebih dibenci dari itu adalah melarang orang-orang ke jalan Allah dan melarang pernyataan tauhid Ilahi, merusak kesucian Masjid Haram dan mengusir orang-orang dari rumahnya tanpa disebabkan suatu kejahatan, melainkan hanya semata-mata beriman kepada Tuhan yang Esa.

Kalian memang ingat akan satu hal namun kalian tidak berpikir bahwa betapa besar kejahatan yang kalian sendiri tengah lakukan dengan mengingkari Tuhan dan Rasul-Nya, merusak kehormatan Masjidil Haram lalu mengusir penduduknya dari sana tanpa dasar kebenaran. Ketika kalian sendiri terjerumus dalam perbuatan yang sangat buruk lantas betapa tidak malunya kalian memprotes dan mengkritik umat Islam? Mereka (umat Muslim) telah melakukan kekeliruan tanpa sengaja, sedangkan kalian melakukan semua itu secara sengaja.’”

Hadhrat Sayyid Zainul Abidin Waliyullah Syah Sahib menulis syarh (penjelasan) atas satu hadits Bukhari perihal dampak positif Sariyah yang dipimpin Hadhrat Abdullah Bin Jahsy, “Kejadian itu memberitahukan yang menjadi tujuan diutusnya perwakilan tersebut. Mereka telah berhasil sepenuhnya karena mendapatkan informasi yang akurat mengenai rencana dan gerak-gerik Quraisy Makkah dengan perantaraan para tawanan yang mereka (pihak Muslim) dapat.

Peristiwa pembunuhan Al-Hadhrami merupakan sisipan dan kebetulan semata. Sebagian sejarawan yang berpendapat telah muncul di benak para anggota Sariyah ini untuk membalas dendam karena harta para Muhajirin di Makkah yang telah dirampas oleh kaum Musyrik Quraisy. Pendapat seperti ini tidaklah benar. Melainkan tujuan utama misi ini adalah supaya mendapatkan informasi yang otentik dengan perantaraan kafilah Hazrami perihal maksud dan tujuan kafilah yang dipimpin oleh Abu Sufyan Bin Harb dan juga rencana perang kaum Quraisy Makkah.

Misi ini telah dibebankan kepada mereka secara rahasia. Karena itu, pasukan Muslim tidak membiarkan kesempatan untuk menguasai kafilah yang sedikit itu lepas dari genggaman. Keliru anggapan yang menyatakan perwakilan Muslim tadi diutus untuk mencari informasi mengenai persiapan perang Quraisy Makkah, namun justru malah merampok kafilah dan kembali menghadap Hadhrat Rasulullah Saw.

Hadhrat Abdullah Bin Jahsy adalah sahabat yang bermartabat mulia dan merupakan saudara sepupu Hadhrat Rasulullah saw. Hadhrat Rasulullah Saw telah memilih sahabat tersebut untuk misi tersebut karena keadaannya yang dapat dipercaya dan dapat menjaga rahasia. Ketika Hadhrat Rasulullah mendapatkan informasi mengenai persiapan perang pihak Quraisy Makkah, beliau pun melakukan persiapan dan melakukannya secara diam-diam.”

Beliau (Hadhrat Sayyid Zainul Abidin Waliyullah Syah Sahib) menulis, “Memang dalam kitab-kitab Maghazi (kitab yang berkaitan dengan peperangan) terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Hadhrat Rasulullah telah menampakkan kemarahan kepada Hadhrat Abdullah Bin Jahsy dan kawan-kawannya. Namun, kemarahan tersebut beralasan yakni jangan sampai dalam misi tersebut terjadi sesuatu yang dapat menimbulkan fitnah (kerusuhan). Namun, terkadang beberapa hal tampak sebagai kesalahan, tetapi itu bersesuaian dengan kehendak Ilahi dan terkadang beberapa kejadian sepele dapat memberikan hasil yang luar biasa. Suatu hal yang mungkin saja jika Hadhrat Abdullah Bin Jahsy tidak diutus dalam misi tersebut, tidak terjadi apa yang telah terjadi itu.

Demikian pula, jika kafilah dari Syria yang dipimpin Abu Sufyan itu sampai tanpa hambatan ke Makkah maka kaum Musyrikin Quraisy pasti akan memanfaatkannya untuk melakukan persiapan besar dalam menyerang umat Muslim, yang tampaknya akan sulit bagi para sahabat yang jumlahnya sedikit dan persenjataan ala kadarnya untuk menghadapinya. Namun dengan adanya peristiwa Hadhrat Abdullah Bin Jahsy tersebut, para pemuka Quraisy yang takabbur naik pitam. Karena itu, dengan gejolak murka dan ketakabburan, mereka terburu-buru bertolak ke daerah Badar dengan membawa sekitar seribu lasykar pasukan dengan persenjataan lengkap. Mereka membawa tekad untuk menyelamatkan kafilahnya, namun mereka tidak menyadari di sana lah kematiannya telah ditakdirkan.

Di sisi lain ada juga kemungkinan lain seandainya para sahabat telah mengetahui mereka dibawa untuk menghadapi pasukan dengan persenjataan lengkap, bisa saja diantara mereka ada yang bimbang. Walhasil, kerahasiaan telah memberikan manfaat yang berfungsi sebagai parit pelindung dalam peperangan yang mana dalam istilah peperangan masa kini disebut dengan kamuflase.

Tertulis dalam sejarah bahwa kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya telah membuat Hadhrat Abdullah Bin Jahsy melepaskan diri dari keduniawian. Jikapun ada keinginan, mereka ingin bagaimanapun caranya jiwa yang dicintainya dapat dikorbankan di jalan Allah. Memang harapan mereka ini terpenuhi. Beliau memiliki tanda keistimewaan terpotongnya telinga beliau di jalan Allah. Berkenaan dengan itu keterangan lebih rinci bagaimana terkabulnya doa Hadhrat Abdullah Bin Jahsy.

Dalam hal ini terdapat riwayat terkenal perihal pengabulan doa yang beliau panjatkan sebelum beliau syahid. Ishaq putra Saad Bin Abi Waqash meriwayatkan dari ayahnya, “Ayah menyampaikan kepada saya bahwa Hadhrat Abdullah Bin Jahsy pernah mengatakan kepada ayah pada hari ketika perang Uhud: ‘Mari kita berdoa kepada Allah Ta’ala.’ lalu keduanya saling berdampingan. Pertama, Hadhrat Sa’ad berdoa: ‘Ya Allah ketika esok hari saya berhadapan dengan musuh, pertemukanlah hamba dengan lawan yang tangguh dan menggetarkan hati. Karunikanlah hamba kemenangan terhadapnya supaya hamba dapat membunuhnya di jalan Engkau dan mengambil senjatanya.’

Lalu Hadhrat Abdullah Bin Jahsy mengaminkan doanya.

Setelah itu Hadhrat Abdullah Bin Jahsy memanjatkan doa, ‘Ya Allah pada peperangan esok, pertemukanlah pada hamba lawan yang tangguh dan menggetarkan hati. Lalu kami berdua bertarung sehingga dia unggul dan dapat membunuh hamba kemudian dia memotong hidung dan telinga hamba. Sehingga pada hari hamba menghadap Engkau, Engkau akan bertanya pada hamba, “Wahai Abdullah! Di jalan siapakah hidung dan kedua telingamu terpotong?” Lalu hamba akan menjawabnya: “Di jalan Engkau dan Rasul Engkau.” Lalu, Allah akan menanggapi, “Engkau memang benar.”

Hadhrat Sa’ad mengatakan, ‘Doa Abdullah Bin Jahsy lebih baik dari doa saya. Pada hari terakhir aku melihat hidung dan kedua telinga beliau tergantung di tali yakni terpotong dan teruntai di tali.’”

Inilah kekejaman yang biasa dilakukan oleh orang kafir. Demikian pulalah yang terkadang dilakukan oleh umat Muslim radikal saat ini atas nama Islam.

Diriwayatkan oleh Hadhrat Muthallib bin Abdillah Bin Khantab, “Pada hari ketika perjalanan ke Uhud, Hadhrat Rasulullah bermalam di suatu tempat tidak jauh dari Syekhain, tempat dekat Madinah. Lalu Hadhrat Ummi Salamah membawakan hidangan daging bakar lalu Rasul menyantapnya. Kemudian membawakan juga Nabiz (sirup kurma) dan Rasul meminumnya. Saya mengira itu adalah sejenis Harira. Lalu seseorang mengambil wadah yang berisi sirup kurma dan meminumnya sebagian.

Lalu wadah tersebut diambil oleh Hadhrat Abdullah Bin Jahsy dan dihabiskannya. Seorang lainnya mengatakan, ‘Sisakan juga untuk saya. Apakah engkau tahu besok pagi kamu akan pergi kemana?’ Orang itu bertanya kepada Hadhrat Abdullah Bin Jahsy.

Lalu Hadhrat Abdullah Bin Jahsy menjawab: ‘Ya saya tahu. Saya ingin berjumpa dengan Allah Ta’ala dalam keadaan kenyang yakni setelah makan banyak. Keadaan tersebut lebih saya sukai daripada menjumpai Allah dalam keadaan haus.’”

(Sungguh ajaib curahan cinta para sahabat ini kepada Allah Ta’ala yang mana persiapan yang dilakukannya pun sungguh unik.)

“Hadhrat Abdullah Bin Jahsy dan Hadhrat Hamzah dikuburkan dalam satu kuburan. Hadhrat Hamzah adalah paman dari Hadhrat Abdullah Bin Jahsy. Ketika disyahidkan usia beliau 40 tahun lebih sedikit. Hadhrat Rasulullah menjadi wali dari harta peninggalan beliau lalu Hadhrat Rasulullah membelikan darinya barang dan menyerahkannya kepada putra Hadhrat Abdullah Bin Jahsy di Khaibar.”[2]

Hadhrat Abdullah Bin Jahsy memiliki keistimewaan dalam hal menyampaikan gagasan. Beliau termasuk diantara para sahabat yang dimintai musyawarah oleh Hadhrat Rasulullah perihal perang Badar. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menerangkan satu peristiwa perihal saudari Hadhrat Abdullah Bin Jahsy pada saat sekembalinya Hadhrat Rasulullah dari perang Uhud. Terdapat dalam sejarah atau beliau ra meriwayatkan dalam bahasa sendiri, “Pada perang Uhud kita menyaksikan bagaimana Hadhrat Rasulullah menampilkan ketabahan yang luhur dan teladan akhlak yang mulia, beliau memperlihatkan kasih sayang dan menghibur orang-orang. Dari keadaan perang tersebut diketahui betapa luhurnya standar akhlak beliau saw dan juga dapat diketahui pengorbanan para sahabat yang tiada bandingannya.

Saya sampaikan kejadian pada saat itu ketika beliau saw kembali ke Madinah dari perang Uhud. Para wanita Madinah yang diliputi kesedihan setelah mendengar kabar (desas-desus) syahidnya (terbunuhnya) Nabi Saw. Akhirnya setelah mengetahui kabar kedatangan beliau saw, para wanita tadi berjalan tidak jauh keluar kota Madinah untuk menyambut beliau saw.

Diantara para wanita itu ada adik perempuan Hadhrat Abdullah Bin Jahsy yang bernama Hamnah Binti Jahsy (حَمْنَةَ بِنْتِ جَحْشٍ ). Keluarga dekat wanita tersebut telah syahid dalam perang sejumlah 3 orang laki-laki. Ketika Nabi Saw melihat wanita itu, lalu bersabda: ‘Bersedihlah atas para lelaki engkau.’ (Ini merupakan satu ungkapan dalam Bahasa Arab yang artinya, ‘Saya kabarkan bahwa kerabat kamu telah terbunuh.’)

Hamnah Binti Jahsy bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapakah laki-laki yang syahid itu?’

Beliau Saw bersabda: ‘Paman kamu Hamzah telah syahid.’

Mendengar hal itu Hadhrat Hamnah mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uwn. Semoga Allah ta’ala meninggikan maqam beliau. Betapa baiknya kewafatannya.’

Setelah itu, Nabi saw bersabda lagi, ‘Ada satu lagi kerabatmu yang meninggal.’

Hamnah Binti Jahsy bertanya: ‘Wahai Rasulullah, siapa pria itu?’

Beliau Saw bersabda: ‘Saudaramu, Abdullah Bin Jahsy.’

Hadhrat Zainab mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uwn. Alhamdu lillah, betapa baiknya kewafatannya.’

Setelah itu bersabda lagi, ‘Ada satu lagi kerabatmu yang meninggal.’

Hamnah Binti Jahsy bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa pria itu?’

Beliau saw bersabda, ‘Suamimu (Mush’ab ibn Umair) telah syahid.’

Mendengar hal itu Zainab bergelinang air mata lalu mengatakan, ‘Aduhai! Peperangan! Betapa sedihnya.’

Melihat itu Hadhrat Rasulullah saw bersabda:  إِنَّ لِلرَّجُلِ لَشُعْبَةٌ مِنَ الْمَرْأَةِ مَا هِيَ لَهُ شَيْءٌ  ‘Coba lihat, betapa dalamnya jalinan seorang wanita dengan suaminya. Ketika saya kabarkan kepada Zainab akan kewafatan pamannya, dia mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uwn. Ketika saya kabarkan kepada Zainab akan kewafatan saudaranya, dia mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uwn. Namun, ketika saya kabarkan kewafatan suaminya dia langsung mengatakan, “Betapa sedihnya.” dan tidak dapat menahan air matanya dan merasa amat bersedih.

Lalu Hadhrat Rasulullah bersabda, ‘Pada saat seperti itu seorang wanita melupakan kerabat dekatnya sekalipun, bahkan melupakan saudara kandung yang mana ia sedarah dengannya. Namun, seorang wanita tidak mampu melupakan suaminya yang mencintainya.’

Setelah itu beliau Saw bertanya kepada Hamnah, ‘Setelah mendengarkan kabar kewafatan suamimu kenapa kamu katakana, “Sedih sekali”?’

Hamnah menjawab: ‘Ya Rasulullah, saya teringat anaknya. Siapa yang akan memeliharanya nanti sepeninggalnya?’

Dalam hal ini kecintaan seorang suami pada tempatnya. Seorang istri umumnya pasti akan mengenang suaminya yang penyayang dan mencintainya. Namun, Hamnah memikirkan anak-anaknya dan beliau mengungkapkannya. Dalam hal ini terdapat pelajaran bagi para pria dan wanita masa ini yakni jadilah suami yang mencintai dan jadilah ibu yang memikirkan anaknya. Perlu juga bagi para suami yang mencintai untuk melaksanakan kewajibannya terhadap istri dan anak-anaknya. Pada saat ini banyak sekali keluhan diterima mengenai para suami yang dari itu terungkap mereka tidak melaksanakan tanggung jawabnya.

Juga betapa indahnya sabda Hadhrat Rasulullah saw kepada Hamnah: “Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan seorang suami kepadamu sebagai pengganti yang lebih baik dari suamimu dalam hal mengurus anak.”

Sebagai buah dari doa beliau saw tersebut, Hadhrat Talhah menikah dengan Hadhrat Hamna yang darinya terlahir Muhammad Bin Talhah. Namun kita jumpai dalam sejarah kecintaan Hadhrat Talha kepada putra kandungnya tidak seperti kecintaannya kepada putra-putri Hamnah dari pernikahan terdahulu (anak-anak tiri) sehingga orang-orang mengatakan tidak ada orang yang lebih dari Talhah dalam mengurus anak orang lain. Ini merupakan buah dari doa Hadhrat Rasulullah saw.

Lalu, sahabat kedua adalah Hadhrat Ka’ab Bin Zaid radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Nama beliau adalah Ka’ab Bin Zaid Bin Qais Bin Malik berasal dari Qabilah Banu Najjar. Hadhrat Ka’ab hadir pada perang Badr dan beliau syahid pada perang Khandaq. Diriwayatkan bahwa beliau wafat terkena panah Umayyah Bin Rabi’ah Bin Shakhr. Beliau termasuk kedalam para sahabat dalam kejadian di Bi’r Ma’unah. Semua kawan beliau disyahidkan dan hanya beliau yang selamat. Bi’r Ma’unah adalah tempat dimana Hadhrat Rasulullah Saw mengutus 70 sahabat atas permohonan satu kabilah yang di dalamnya banyak sekali Hafiz Quran dan Qori. Namun kabilah itu mensyahidkan mereka dengan tipuan kecuali Hadhrat Ka’ab.

Beliau selamat dalam peristiwa tersebut karena saat itu beliau lari ke bukit dan berdasarkan riwayat, kaum kuffar pun menyerang dan membuat beliau terluka sangat parah. Mereka menganggap beliau sudah wafat dan meninggalkannya. Padahal saat itu beliau masih bernyawa. Beberapa hari kemudian datang ke Madinah dan sehat kembali.

Sahabat yang ketiga adalah Hadhrat Salih ibn Adi bergelar Syuqran radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Nama beliau adalah Salih ibn Adi dan mendapat julukan Syuqran.  Julukan itulah yang dikenal orang. Beliau keturunan Habsyah. Beliau adalah Maula (mantan hamba sahaya atau budak) milik Hadhrat Abdur Rahman Bin Auf. Hadhrat Rasulullah saw memilih beliau sebagai khadim dan membelinya dari Abdur Rahman Bin Auf. Dalam riwayat lain dikatakan Hadhrat Abdurrahman Bin Auf menyerahkan beliau kepada Hadhrat Rasulullah sebagai hadiah.

Hadhrat Salih Syuqran ikut serta dalam perang Badar. Karena beliau seorang budak, tidak bebas, untuk itu Hadhrat Rasulullah saw tidak menetapkan suatu bagian harta rampasan untuknya. Hadhrat Rasulullah menetapkan beliau sebagai pengawas tawanan. Para tawanan yang diawasi oleh beliau, memberikan upah sebagai tebusan, untuk itu Hadhrat Syuqran mendapatkan lebih banyak harta dibanding dengan mereka yang mendapat harta rampasan. Beliau tidak medapatkan bagian dari harta rampasan, namun harta yang beliau dapatkan dari upah pengawasan jumlahnya lebih banyak dari bagian harta rampasan.

Setelah perang Badr, Nabi Muhammad saw memerdekakan beliau. Hadhrat Ja’far Bin Muhammad Sadiq mengatakan, “Syuqran termasuk Ahli Suffah yang selalu berada di dekat majlis Rasulullah Saw.”

Hadhrat Syuqran (ra) mendapatkan kehormatan hadir saat memandikan dan menguburkan jenazah Hadhrat Rasulullah saw. Hadhrat Abdullah ibnu Abbas bin Abdul Muthalib meriwayatkan, “Jenazah Rasulullah Saw dimandikan dengan memakai pakaian beliau Ra saat beliau wafat. Mereka yang masuk kedalam kuburan Nabi saw ketika menguburkan beliau saw adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib, Fadhl Bin Abbas bin Abdul Muthalib, Qutsam Bin Abbas bin Abdul Muthalib, Syuqran dan Aus Bin Khuli.”

Hadhrat Syuqran mengatakan, “Demi Allah! Saya-lah yang menggelar kain cadar lembut di dasar kuburan Rasulullah saw.” Berdasarkan riwayat Sahih Muslim kain tersebut berwarna merah. Inilah kain cadar yang selalu dikenakan dan digunakan sebagai hamparan oleh Hadhrat Rasulullah saw.

Hadhrat Syuqran meriwayatkan, “Saya tidak suka jika ada orang yang menggunakan kain ini paska kewafatan Hadhrat Rasulullah saw, karena Hadhrat Rasulullah selalu mengenakan dan menggelar kain tersebut.”

Hadhrat Rasulullah saw pada kesempatan perang Marisi’ menetapkan Hadhrat Syuqran sebagai pengawas para tawanan dan harta, senjata, hewan dan lain-lain yang didapat dari kamp-kamp Marisi’. Beliau sahabat yang jujur dan amanah, untuk itu beliau ditugaskan sebagai pengawas.

Berkenaan dengan beliau ada satu riwayat bahwa Hadhrat Umar mengutus putra Hadhrat Syuqran yang bernama Abdurrahman Bin Syuqran kepada Hadhrat Abu Musa Asy‘ari dan memberikan tulisan pesan yang berbunyi: “Saya kirimkan kepada Anda seorang pria saleh bernama Abdurrahman Bin Salih Syuqran yang dulunya adalah Maula (hamba sahaya yang telah dimerdekakan) Hadhrat Rasulullah. Perlakukanlah dia dengan memperhatikan bagaimana kedudukan ayahnya di mata Hadhrat Rasulullah saw.”

Inilah derajat yang Islam berikan kepada para ‘abid (budak, hamba sahaya). Tidak hanya memerdekakan mereka dari perbudakan bahkan menjadikan anak keturunannya sebagai orang yang patut dihormati.

Dalam satu riwayat dikatakan bahwa Hadhrat Syuqran memilih tinggal di Madinah. Ada juga satu rumah beliau di Bashrah. Beliau wafat pada masa kekhalifahan Hadhrat Umar.

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Malik ibn ad-Dukhsyum radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, berasal dari keluarga Banu Ghanam Bin Auf, Qabilah Khazraj. Ada putri beliau bernama Farya. Para ulama berbeda pendapat dalam hal apakah Hadhrat Malik Bin Dukhsyum ikut serta pada baiat Aqabah atau tidak? Menurut Ibnu Ishaq dan Musa Bin Utbah, beliau ikut dalam baiat Aqabah. Perselisihan pendapat selalu terjadi antara para ulama. Hadhrat Malik Bin Dukhsyum ikut serta menyertai Hadhrat Rasulullah dalam seluruh Ghazwah (perang yang diikuti Nabi saw seperti Badar, Uhud, Khandaq dan beberapa lainnya.)

Suhail Bin Amru adalah termasuk pemuka dan pembesar Quraisy, beliau ikut serta di pihak kaum Musyrik dalam perang Badar. Hadhrat Malik Bin Dukhsyum menjadikan beliau sebagai tawanan. Dalam riwayat dikatakan Amir Bin Saad meriwayatkan dari ayah beliau Hadhrat Sa’ad Bin Abi Waqqas yang menceritakan, “Pada perang Badar saya menembakkan panah kepada Suhail Bin Amru yang mengakibatkan putusnya urat nadi beliau, lalu saya terus menelusuri jejak tetesan darahnya. Saya melihat Hadhrat Malik Bin Dukhsyum memegang rambut bagian depannya.

Saya katakan, ‘Dia adalah tawanan saya. Saya-lah yang memanahnya.’

Namun Malik mengatakan, ‘Dia adalah tawanan saya. Saya-lah yang menangkapnya.’

Lalu, kami berdua membawa Suhail ke hadapan Hadhrat Rasulullah Saw, lalu Hadhrat Rasulullah mengambil Suhail dari keduanya. Namun, di daerah Rawaha, Suhail lepas dari tangan Hadhrat Malik Bin Dukhsyum. Hadhrat Malik berteriak memanggilnya di tengah keramaian orang-orang dan terus mencarinya.

Nabi saw bersabda pada saat itu siapapun yang menemukannya, maka bunuhlah ia. Penyebabnya, Suhail datang untuk memerangi umat Muslim lalu menjadi tawanan namun melarikan diri sehingga dapat menimbulkan resiko lagi. Bagaimanapun dia adalah seorang tawanan perang. Dan telah diperintahkan untuk membunuhnya. Namun memang dia telah ditakdirkan harus selamat. Hadhrat Rasulullah Saw-lah yang menemukannya kembali. Bukannya sahabat yang lain, Hadhrat Rasulullah saw-lah yang menemukannya kembali. Namun Nabi Karim saw tidak membunuhnya. Seandainya ditemukan oleh sahabat, ia akan dibunuh. Karena ditemukan oleh Hadhrat Rasulullah saw sendiri maka Rasul tidak membunuhnya. Inilah teladan beliau Saw dan teladan ini merupakan jawaban beliau kepada orang-orang zalim yang menuduh beliau saw berbuat zalim dan melakukan pembunuhan. Meskipun tawanan itu telah ditetapkan untuk dibunuh, namun ketika Rasul saw sendiri yang menemukannya, beliau tidak membunuhnya. Menurut riwayat Hadhrat Rasulullah menemukan Suhail di rerindangan pohon Samurah (Satu nama pohon di Arab) lalu beliau saw memerintahkan supaya dia diikat tangannya dengan lehernya.”

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari bahwa Hadhrat Itban bin Malik yang merupakan salah seorang sahabat Anshar yang ikut serta dalam perang Badar datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah penglihatan saya sudah lemah. Saya biasa mengimami shalat dalam kaum saya. Ketika turun hujan saya tidak dapat mengimami shalat di masjid disebabkan banjir pada selokan antara saya dan masjid mereka. Wahai Rasul! Saya berkeinginan Rasul berkenan datang ke tempat saya dan shalat di rumah saya. Saya jadikan sebuah Mushalla di rumah.”

Hadhrat Rasulullah bersabda, “Insya Allah saya akan datang.”

Beliau menuturkan, “Hadhrat Rasulullah bersama dengan Hadhrat Abu Bakar datang ke rumah kami pada pagi hari ketika mulai siang. Saat itu Hadhrat Rasulullah meminta izin dan saya mengizinkan beliau. Ketika beliau datang ke rumah kami, beliau tidak duduk. Beliau bersabda, ‘Pada bagian rumah yang sebelah mana engkau ingin saya shalat?’

Saya mengisyarahkan ke suatu pojok rumah dan mengatakan sebelah sana. Hadhrat Rasulullah Saw berdiri di tempat itu untuk mulai shalat lalu shalat. Beliau mengucapkan allaahu akbar dan kami pun berdiri membuat saf mengikuti beliau. Beliau shalat dua rakaat lalu salam. Kami menghidangkan hidangan yang telah disiapkan yakni daging dan roti. Lalu Rasul ditahan pulang agar dapat menyantap hidangan yang disiapkan untuk beliau.

Perawi mengatakan beberapa tetangga di sekitar rumah datang dari berbagai arah, ketika sudah berkumpul ada orang yang bertanya: “Dimanakah Malik Bin Dukhsyum?”

Ada yang menjawab dari antara mereka: “Dia orang munafik. Dia tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya. “ (Mungkin mereka mengatakan demikian karena ia tidak datang, padahal tinggal di daerah itu.) Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “Jangan berkata begitu, apakah kamu tidak melihat dia mengucapkan laa ilaaha illaallaah? Darinya berarti dia mengharapkan keridhaan Allah.”

Orang yang mengatakan itu berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Kami melihat perhatiannya dan simpatinya diperuntukkan bagi orang-orang munafik.”

Mungkin disebabkan oleh kelembutan hatinya sehingga berkeinginan untuk bertabligh kepada orang-orang munafik dan mendekatkan mereka kepada Islam, untuk itu bersikap simpati kepada orang-orang munafik. Karena itulah timbul kesalahpahaman di benak para sahabat yang lain.

Lalu Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Allah Ta’ala pasti mengharamkan api bagi orang-orang yang mengucapkan Laailaaha illaallaah dengan syarat disertai dengan mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala.” (Al-Bukhari)

Di dalam riwayat ini juga terdapat jawaban bagi mereka yang menyatakan diri sebagai ulama yang melontarkan fatwa takfir khususnya mereka berbuat zalim kepada para Ahmadi dari sisi ini. Fatwa-fatwa para ulama ini jugalah yang telah mengacaukan ketentraman dan kedamaian negeri-negeri Muslim. Di Pakistan saat ini didirikan grup-grup yang bernama ‘Labbaik ya Rasulullah’. Memang mereka meneriakkan ‘Labbaik ya Rasulullah’, namun mereka bertentangan dengan petunjuk dan sabda Hadhrat Rasulullah yang pernah bersabda, “Siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illaallaah janganlah katakan orang itu bukan Muslim. Allah Ta’ala telah mengharamkan api neraka atas orang itu, jika dia melakukannya dengan mengharapkan keridhaan Ilahi.”

Mereka menuduh kalian (para Ahmadi) mengucapkan Laailaaha illaallaah tidak disertai dengan mengharapkan ridha Ilahi. Apakah para ulama ini lebih mengetahui isi hati orang lain dibandingkan Hadhrat Rasulullah? Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan bangsa ini dari mereka.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Hadhrat Itban Bin Malik mengatakan kepada Hadhrat Rasulullah saw, “Malik bin Dukhsyum adalah orang munafik.”

Atas hal itu Rasul bersabda, “Bukankah dia memberikan kesaksian Laa ilaaha illAllaah?”

Itban menjawab, “Tentu saja. Namun, kesaksiannya tidak ada.”

Hadhrat Rasulullah saw bertanya, “Bukankah dia shalat?”

Lalu dia menjawab, “Tentu saja. Namun shalatnya bukanlah shalat.”

Mungkin seperti halnya Maulwi pada masa ini, benak sebagian mereka pun ada yang keras.

Hadhrat Rasulullah Saw bersabda, “Inilah orang-orang yang berkenaan dengannya Allah Ta’ala telah melarangku untuk memberikan suatu jenis pendapat dari diri sendiri.”

Hanya Allah-lah yang mengetahui kondisi hati. Allah Ta’ala telah melarang Hadhrat Rasulullah. Namun, para ulama itu – khususnya ulama Pakistan (para ulama penentang) – merasa  memiliki izin untuk melakukan kezaliman sesukanya atas nama Islam.

Hadhrat Anas Bin Malik meriwayatkan bahwa Hadhrat Malik bin Dukhsyum dicaci di depan Hadhrat Rasulullah Saw, maka Hadhrat Rasulullah bersabda: “Laa tasubbuu ash-haabi – kalian janganlah mencaci sahabat sahabatku.”

Sekembalinya dari perang Tabuk, Hadhrat Rasulullah berhenti di suatu tempat namanya Dza Awan. Di sana beliau mendapatkan wahyu perihal masjid Dhirar lalu Hadhrat Rasulullah memanggil Hadhrat Malik Bin Dukhsyum dan Hadhrat Ma’an Bin Adi. Beliau saw memerintahkan mereka untuk berangkat ke masjid Dhirar. Keduanya dengan cepatnya sampai di Qabilah Banu Salim bin Auf yang merupakan kabilah Hadhrat Malik Bin Dukhsyum. Hadhrat Malik Bin Dukhsyum mengatakan kepada Hadhrat Ma’an Bin Adi, “Berikanlah saya waktu untuk mengambil api dari rumah.”

Dia kemudian dari tempat keluarganya membawa ranting pohon kurma yang sudah dibakar lalu keduanya pergi ke masjid Dhirar. Berdasarkan satu riwayat mereka membakar masjid tersebut dan menghancurkannya sekitar waktu antara Maghrib dan Isya.

Kita tidak dapat berburuk sangka kepada para sahabat Nabi saw. Sebagian orang telah salah faham mengenai orang lain sehingga berkesan bahwa mungkin orang ini telah sesat. Memandang mereka melakukan kesalahan sampai-sampai menyebutnya munafik. Namun di kemudian hari orang yang disangka munafik tersebut (Malik ibn Dukhsyum) terbukti menjadi orang yang menghancurkan markas orang-orang munafik atas perintah Allah. Semoga Allah Ta’ala terus meninggikan maqam (derajat) para sahabat dan memberikan taufik kepada kita semua untuk terus mengevaluasi diri sejauh mana kita telah melaksanakan perintah Allah Ta’ala.

 

 

 

 

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi (Indonesian Desk, London-UK)

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi                     : www.alislam.org dan islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Surah al-Baqarah, 2:218;  يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلشَّهۡرِ ٱلۡحَرَامِ قِتَالٖ فِيهِۖ قُلۡ قِتَالٞ فِيهِ كَبِيرٞۚ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَكُفۡرُۢ بِهِۦ وَٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ وَإِخۡرَاجُ أَهۡلِهِۦ مِنۡهُ أَكۡبَرُ عِندَ ٱللَّهِۚ وَٱلۡفِتۡنَةُ أَكۡبَرُ مِنَ ٱلۡقَتۡلِۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِكُمۡ إِنِ ٱسۡتَطَٰعُواْۚ وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah [134]. Dan berbuat fitnah [135] lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”

[2] Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibn Sa’ad.

(Visited 169 times, 1 visits today)