Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز – ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 24 Agustus 2018 (Zhuhur 1397 HQ/13 Dzul Hijjah 1439 HQ) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

 

Hadhrat Ashim bin Tsabit (عَاصِمُ بنُ ثَابِت) radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu adalah termasuk sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (saw). Ayah beliau bernama Tsabit Bin Qais dan ibunda beliau bernama Syamus binti Abu Amir.[1] Hadhrat Rasulullah (saw) menjalinkan ikatan persaudaraan antara beliau dengan Abdullah Bin Jahsy. Hadhrat Ashim termasuk yang tetap tegar bersama dengan Rasulullah (saw) pada saat perang Uhud. Dalam perang itu ada saat ketika disebabkan serangan gencar musuh yang tiba-tiba, pasukan Muslim kalang kabut. Beliau telah bertekad untuk tetap menemani Rasulullah (saw) sampai maut menjemput. Beliau dikenal sebagai salah satu pemanah andalan Rasulullah (saw).[2]

Beliau berasal dari kabilah Aus dan ikut serta pada perang Badr.[3]

Pada saat perang Badr, Hadhrat Rasulullah (saw) bertanya kepada para sahabat, كَيْفَ تُقَاتِلُونَ الْقَوْمَ إِذَا لَقِيتُمُوهُمْ؟ “Ketika berhadapan dengan musuh, bagaimana kalian akan bertempur?”

Hadhrat Ashim menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِذَا كَانَ الْقَوْمُ مِنَّا حَيْثُ يَنَالُهُمُ النَّبْلُ ، كَانَتِ الْمُرَامَاةُ بِالنَّبْلِ “Wahai Rasulullah (saw)! Jika ada musuh mendekat dan dapat dijangkau dengan panah, maka kami akan memanahnya. Jika maju lebih dekat lagi dan dapat dijangkau lemparan batu, maka kami akan menghujaninya dengan batu-batu.”

Lalu beliau mengangkat tiga batu dengan satu tangan dan tangan lainnya mengangkat dua batu. Beliau berkata, فَإِذَا اقْتَرَبُوا حَتَّى يَنَالَنَا وَإِيَّاهُمُ الرِّمَاحُ، كَانَتِ الْمُدَاعَسَةُ بِالرِّمَاحِ “..dan jika lebih mendekat lagi dan terjangkau oleh tombak kami, maka kami akan menghadapinya dengan tombak.” فَإِذَا انْقَضَتِ الرِّمَاحُ ، كَانَتِ الْجِلادُ بِالسُّيُوفِ “..lantas jika tombak patah, maka kami akan bertarung dengan pedang.”

Mendengar hal itu Rasulullah (saw) bersabda, بِهَذَا أُنْزِلَتِ الْحَرْبُ “Seperti itulah berperang.” Lalu beliau bersabda, مَنْ قَاتَلَ فلْيُقَاتِلْ قِتَالَ عَاصِمٍ “Siapa yang akan berperang, maka ia harus berperang dengan cara yang dilakukan oleh Ashim.”[4]

Pada zaman itu berperang menggunakan panah, tombak dan pedang. Batu-batu juga digunakan. Peperangan di zaman itu tidak seperti zaman sekarang, dengan membom secara membabi buta, sehingga warga sipil dan anak-anak pun menjadi korban.

Ada seorang non Muslim yang menulis buku berkenaan dengan peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah (saw) yang isinya: “Kalian menghujat Muhammad (saw) bahwa beliau melakukan banyak peperangan, namun dalam peperangan beliau jumlah korban yang meninggal hanya ratusan atau ribuan, sedangkan kalian yang mengaku sebagai negeri yang maju dan berperikemanusiaan justru dalam satu peperangan saja – dia menyebutkan perang dunia kedua – telah membinasakan lebih dari tujuh puluh juta (70.000.000) jiwa yang mayoritasnya adalah penduduk sipil.”[5]

Namun malangnya pada masa ini umat Muslim pun malah meminta bantuan dari mereka (barat) dan salig membunuh sesama Muslim tanpa membeda bedakan. Alih-alih menempuh cara-cara berperang yang berbeda ketika musuh datang atau mendekat, justru malah umat Muslim sendirilah yang melakukan serangan dan membunuh orang-orang tak berdosa.

Dalam satu riwayat, Hadhrat Ali kembali dari perang Uhud, dengan membawa pedangnya yang disebabkan sering digunakan untuk berperang, menjadi bengkok. Hadhrat Ali berkata kepada Hadhrat Fatimah, أمسكي سيفي هذا فقد أحسنت به الضرب اليوم “Tolong simpankan pedang yang layak dipuji ini, dia telah bermanfaat sekali di medan perang.”

Mendengar hal itu Rasulullah (saw) bersabda, ِنْ كُنْتَ أَحْسَنْتَ بِهِ الْقِتَالَ، فَقَدْ أَحْسَنَهُ عَاصِمُ بْنُ ثَابِتٍ، وَسَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ، وَالْحَارِثُ بْنُ الصِّمَّةِ “Jika hari ini kamu telah berperang dengan hebat menggunakan pedang, Sahl Bin Hunaif, Abu Dujanah, Ashim bin Tsabit dan Harits Bin Samah pun telah menampilkan pertarungan pedang dengan hebat.”[6]

Dalam satu riwayat Hadhrat Rasulullah (saw) telah berbuat ihsan dengan membebaskan salah seorang tawanan perang Badr yang bernama Abu Azzah Abdullah ibn Amru Bin Umair al-Jumahi, seorang penyair. (أَمَّنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنَ الأُسَارَى يَوْمَ بَدْرٍ أَبَا عَزَّةَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ عُمَيْرٍ الْجُمَحِيَّ وَكَانَ شَاعِرًا)

 karena dia telah berkata, يَا مُحَمَّدُ إِنَّ لِي خَمْسَ بَنَاتٍ لَيْسَ لَهُنَّ شَيْءٌ فَتَصَدَّقْ بِي عَلَيْهِنَّ “Wahai Muhammad, saya mempunyai 5 anak perempuan, tidak ada orang lain yang merawatnya selain saya, untuk itu bebaskanlah saya sebagai sedekah.”

Lalu Rasulullah (saw) membebaskannya.

Setelah itu Abu Izzah berkata kepada Rasul, أُعْطِيكَ مَوْثِقًا أَنْ لاَ أُقَاتِلَكَ وَلاَ أُكَثِّرَ عَلَيْكَ أَبَدًا

Saya berjanji dengan sebenarnya kepada anda bahwa di masa yang akan datang saya tidak akan berperang melawan anda dan tidak juga akan mendukung untuk memerangi siapapun.

Lalu Rasulullah (saw) memulangkannya tanpa meminta bayaran apapun. Ketika kaum Quraisy akan berangkat ke medan Uhud, datanglah Shafwan Bin Umayyah (صَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ) dan berkata kepada Abu Azzah, اخْرُجْ مَعَنَا Kamu pun berangkatlah dengan kami.

Dia berkata, إِنِّي قَدْ أَعْطَيْتُ مُحَمَّدًا مَوْثِقًا أَنْ لَا أُقَاتِلَهُ ‘Saya telah berjanji kepada Muhammad (saw) tidak akan pernah berperang melawan beliau. Beliau berbuat ihsan (baik) ini hanya kepada saya tidak kepada siapapun.’

Lalu Safwan memberikan jaminan bahwa jika dia terbunuh, maka Safwan akan menjadikan anak-anak Abu Azzah sebagai anaknya dan jika masih hidup, maka dia akan memberikan harta yang melimpah yang hanya dapat dinikmati oleh keluarganya saja.

Abu Azzah dibujuk dengan mengatakan, “Kamu tidak perlu khawatir, jika kamu terbunuh dalam peperangan, maka aku akan rawat anak-anakmu seperti anak sendiri. Jika kamu selamat, aku akan berikan banyak harta.”

Setelah itu Abu Azzah berangkat untuk mengumpulkan penduduk Makkah. (Dia tidak hanya ikut berperang bahkan mengajak penduduk kabilah lain juga untuk berperang melawan Muslim.) Begitu juga dia ikut dalam perang Uhud dari pihak Quraisy dan tertawan lagi, selain dia tidak ada orang Quraisy yang tertawan.

Ketika ditangkap, dia ditanya, “Bukankah Anda telah berjanji untuk tidak berperang melawan orang-orang Muslim?”

Dia menjawab, يَا مُحَمَّدُ إِنَّمَا أُخْرِجْتُ كَرْهًا وَلِي بَنَاتٌ فَامْنُنْ عَلَيَّ. “Wahai Muhammad! Keadaan saya terpaksa. Karena itu, berbuat baiklah dengan membebaskan saya karena saya memiliki anak-anak perempuan.”

Dia beralasan sama yakni memiliki anak-anak perempuan dan sebelumnya pernah dibebaskan, namun ikut lagi berperang melawan Muslim.

Atas hal itu Rasul bersabda, أَيْنَ مَا أَعْطَيْتَنِي مِنَ الْعَهْدِ وَالْمِيثَاقِ؟ “Mana janjimu yang kamu sampaikan padaku? Sekali kali tidak, kali ini kamu tidak bisa bebas. لَا، وَاللهِ لَا تَمْسَحُ عَارِضَيْكَ بِمَكَّةَ تَقُولُ: سَخِرْتُ بِمُحَمَّدٍ مَرَّتَيْنِ Demi Tuhan! Sekarang kamu tidak akan mengumumkan lagi di Makkah bahwa kamu telah menipu dan membodohi Muhammad. (naudzubillah).”

Dalam riwayat lain dikatakan Nabi yang mulia (saw) bersabda, إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يُلْدَغُ مِنْ جُحْرٍ مَرَّتَيْنِ “Sesungguhnya seorang beriman tidak terperosok kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.”

Lalu beliau (saw) memerintahkan kepada Ashim bin Tsabit, يَا عَاصِمُ بْنَ ثَابِتٍ قَدِّمْهُ فَاضْرِبْ عُنُقَه “Wahai Ashim! Majulah dan penggal leher dia (bunuh dia)!”[7]

Lalu Ashim maju dan memenggal lehernya.

Orang itu telah dihukum setelah melakukan kezaliman dan pelanggaran janji, namun masih ada orang-orang yang melontarkan kritik atas pribadi Rasulullah (saw) dengan mengatakan – naudzubillah – beliau telah berbuat kejam.Saat itu ada seorang politikus Belanda bernama Wilder menghujani pribadi Rasulullah (saw) dengan hujatan padahal jika memang ada orang yang dapat memperlihatkan teladan memberikan maaf seperti yang dilakukan Rasulullah (saw) di negerinya, dapat dipahami bahwa sah-sah saja ia melontarkan keberatan seperti itu, namun justru mereka sendiri tidak pernah dapat memperlihatkan teladan seperti itu.

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad menulis dalam buku Sirat Khataman Nabiyyiin derkenaan dengan peristiwa Raji’ dan Hadhrat Ashim telah dijelaskan juga, beliau menulis: “Hadhrat Rasulullah (saw) mengutus satu grup yang berjumlah 10 orang sahabat pada bulan Shafar tahun 4 Hijriyah dan menetapkan Ashim Bin Tsabit sebagai komandannya yang kepadanya diperintahkan untuk secara diam-diam pergi ke dekat Makkah untuk mencari informasi perihal kaum Quraisy dan melaporkannya kepada beliau (saw) mengenai rencana-rencana mereka.

Namun belum saja grup ini berangkat, beberapa orang dari Kabilah Adhal dan Qarah datang menghadap beliau dan menyampaikan, ‘Di dalam kabilah kami banyak sekali orang yang cenderung kepada Islam. Mohon tuan utus beberapa orang Sahabat tuan bersama kami untuk membaiatkan kami dan mengajarkan kami ajaran Islam.’

Hadhrat Rasulullah (saw) gembira demi mengetahui perihal keinginan mereka itu maka grup yang telah dipersiapkan untuk mencari informasi itu akhirnya dikirim untuk pergi dengan perwakilan kabilah Adhal tersebut. Namun, seperti yang di kemudian hari diketahui, orang-orang ini pendusta. Mereka datang di Madinah atas hasutan Banu Lihyan yang telah merancang strategi ini untuk membalas dendam kematian pemimpinnya Sufyan Bin Khalid supaya dengan alasan itu umat Muslim keluar dari Madinah untuk berikutnya diserang.

Dalam hal ini Banu Lihyan telah mempersiapkan banyak sekali hadiah unta sebagai imbalan bagi orang-orang Banu Adhal dan Qarah. Ketika orang-orang kabilah Adhal dan Qarah sampai diantara Usfan dan Makkah, lalu mereka mengabarkan secara diam-diam kepada Banu Lihyan, “Beberapa Muslim tengah datang bersama kami, datanglah kemari.”

Mendengar kabar itu, dua ratus pemuda Banu Lihyan yang diantaranya 100 pemanah meluncur untuk mengepung 10 orang pasukan Muslim dan menyergapnya pada satu tempat yang bernama Raji’. Bagaimana 10 orang dapat melawan 200 orang? Namun umat Muslim tidaklah diajarkan untuk menyerah. Jika terjadi kondisi seperti itu maka perintahnya jika dikepung ialah berperang. Kesepuluh sahabat tadi segera menaiki tempat ke ketinggian untuk bersiap melakukan perlawanan. Orang kafir yang bagi mereka mengelabui bukanlah suatu aib, memanggil pasukan Muslim untuk turun dari bukit dan mengatakan mereka berjanji tidak akan membunuh pasukan Muslim.

Ashim (ra) menjawab, ‘Kami tidak percaya dengan perjanjian kalian. Kami tidak dapat turun untuk ini.’

Lalu, pasukan Muslim menengadahkan wajah ke langit dan mengatakan, اللَّهُمَّ بَلِّغْ عَنَّا نَبِيَّنَا أَنَّا قَدْ لَقِينَاكَ فَرَضِينَا عَنْكَ وَرَضِيتَ عَنَّا ‘Ya Allah, Engkau menyaksikan keadaan kami saat ini, kabarkanlah kepada Rasul Engkau perihal ini.’[8] Walhasil, Ashim dan sahabat yang lain melawan mereka dan syahid dalam peristiwa itu.

Berkenaan dengan peristiwa Raji itu terdapat satu riwayat ketika Quraisy Makkah mendapatkan kabar orang yang syahid di tangan Banu Lihyan di daerah Raji, diantaranya ialah Ashim bin Tsabit. Karena Ashim telah membunuh salah seorang pemimpin besar Quraisy pada perang Badr, pihak Quraisy mengutus pasukan khusus ke Raji dengan memberikan pesan untuk memotong kepala atau bagian tubuh Ashim lainnya dan membawanya kepada mereka supaya mereka yakin sehingga dendam mereka terbalaskan.

Dalam riwayat lain dikatakan ibu orang yang telah dibunuh oleh Ashim yang bernama Sulafah binti Sa’d telah bernazar (bersumpah) untuk meminum arak (minuman keras) yang dituangkan di dalam tengkorak kepala pembunuh anaknya. Namun bagaimana pertolongan Allah Ta’ala ketika mereka sampai di tempat jenazah Ashim, mereka mendapati lebah tengah mengerumuni jenazah Ashim dan lebah tersebut tidak berhasil diusir dengan berbagai cara. Mereka telah berusaha untuk mengusir lebah lebah itu, namun upayanya gagal, akhirnya mereka terpaksa kembali dengan tangan kosong. Setelah itu turunlah hujan disertai badai yang membawa serta jenazah Ashim entah kemana.

Tertulis dalam riwayat bahwa ketika baiat masuk Islam, Ashim berjanji di masa yang akan datang sama sekali akan meningalkan segala bentuk kemusyrikan sampai sampai tidak akan menyentuh orang Musyrik. Ketika Hadhrat Umar mendapat kabar syahidnya beliau dan kejadian tersebut, mengatakan, “Allah Ta’ala sangat menghargai perasaan hamba-hamba-Nya yang mana setelah wafat pun Allah Ta’ala mengabulkan janji Ashim dan menyelamatkan beliau dari sentuhan orang-orang Musyrik.”[9]

Beliau Ra dijuluki dengan sebutan Hamiyyud Dabr yang artinya telah diselamatkan dengan perantaraan lebah. Setelah wafat pun Allah Ta’ala menyelamatkan beliau dengan perantaraan lebah. Rasulullah (saw) paska syahidnya Hadhrat Ashim dan sahabat-sahabat beliau, beliau melakukan qunut pada shalat subuh selama satu bulan. Beliau mendoakan buruk bagi Kabilah Ri’l, Dzakwaan dan Banu Lihyan.[10]

Dalam satu riwayat lain ketika Hadhrat Ashim melontarkan panah ke arah musuh, seiring dengan itu beliau terus membaca syair yang berbunyi:

(الْمَوْتُ حَقٌّ وَالْحَيَاةُ بَاطِلُ) Almautu haqqun wal hayaatu baathil – Mati itu haqq, sedangkan kehidupan itu batil

(وَكُلُّ مَا حَمَّ الإِلَهُ نَازِلُ ) wa kullu maa hammallaahu naazil – Semua yang ditakdirkan Tuhan pasti terjadi pada manusia

 (بِالْمَرْءِ وَالْمَرْءُ إِلَيْهِ آيِلُ) bil mar-i wal mar-u ilaihi aayil – Dan manusia pasti kembali kepada-Nya.

 (itulah yang akan terjadi dan manusia harus menerima keputusan tersebut.)[11]

Beliau berperang dengan menembakkan anak-anak panah. Ketika anak panah beliau pun habis, beliau berperang dengan menggunakan tombak. Setelah tombaknya patah, beliau menggunakan pedang. Pada akhirnya beliau wafat dalam pertarungan itu.[12]

Sahabat kedua adalah Hadhrat Sahl bin Hunaif al-Ausi al-Anshari (سَهْلِ بْن حُنَیف الاَوسی الاَنْصاری). Ayah beliau bernama Hunaif, ibunya bernama Hind binti Rafi. Dari garis ibu beliau memiliki dua saudara pria bernama Abdullah dan Nu-man. Beliau mempunyai anak-anak bernama Asad, Utsman dan Sa’d. Anak keturunan Hadhrat Sahl menetap di Madinah dan Baghdad. Hadhrat Rasulullah (saw) menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hadhrat Ali Ra. Beliau mengikuti perang Badr dan seluruh perang lainnya menyertai Rasulullah (saw) Saw. Hadhrat Sahl Bin Hunaif adalah sahabat yang mulia, namun kondisi ekonomi beliau lemah.

Ibnu Ainah meriwayatkan beliau mendengar az-Zuhri mengatakan, “Rasulullah (saw) tidak memberikan bagian harta yang didapat dari Banu Nadhir kepada siapapun dari kalangan Anshar kecuali kepada kepada Hadhrat Sahl bin Hunaif dan Hadhrat Abu Dujanah, karena kedua orang itu sangat lemah ekonominya.”[13]

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa paska hijrahnya Hadhrat Rasulullah (saw) ke Madinah, Hadhrat Ali tinggal di Makkah selama tiga hari tiga malam dan amanat-amanat orang-orang yang dititipkan kepada Rasulullah (saw), beliau kembalikan kepada mereka. Lalu Hadhrat Ali menjumpai Hadhrat Rasulullah (saw) dan tinggal di rumah Hadhrat Kultsum Bin Hadam (كلثوم بن الهدم) bersama dengan Rasulullah (saw). Selama perjalanan Hadhrat Ali menginap di Quba selama satu dua hari.

Beliau (Hadhrat Ali) meriwayatkan, “Di Quba ada seorang wanita Muslim yang tidak ada suaminya. فرأيت إنسانا يأتيها من جوف الليل ، فيضرب عليها بابها ، فتخرج إليه فيعطيها شيئا معه فتأخذه Saya melihat pada malam hari datang seorang pria ke rumah wanita itu lalu mengetuk pintu. Wanita itu keluar dan pria itu memberikan sesuatu kepada wanita itu. Saya merasa curiga melihat kejadian tersebut, saya tanyakan kepada wanita itu, يا أمة الله ، من هذا الرجل الذي يضرب عليك بابك كل ليلة ، فتخرجين إليه فيعطيك شيئا لا أدري ما هو ، وأنت امرأة مسلمة لا زوج لك ؟ ‘Wahai hamba Allah siapa gerangan pria yang setiap malam mengetuk pintu rumahmu. Ketika kamu temui, dia memberikan sesuatu padamu. Saya tidak tahu apa benda tersebut. Kamu adalah wanita Muslimah dan suamimu sedang tidak ada, untuk itu tidak dibenarkan bagimu keluar malam untuk menemui pria yang bukan mahram lalu berbincang dengannya.’

Wanita itu menjawab, هذا سهل بن حنيف بن واهب قد عرف أني امرأة لا أحد لي ، فإذا أمسى عدا على أوثان قومه فكسرها ، ثم جاءني بها ، فقال : احتطبي بهذا ‘Beliau adalah Sahl bin Hunaif. Beliau tahu saya sendiri untuk itu ketika tiba sore hari beliau menghancurkan patung berhala milik kerabat kaumnya lalu memberikan potongan berhala itu untuk saya bakar.’”[14]

Hadhrat Ali sering menceritakan kejadian ini sampai tiba kewafatan Hadhrat Sahl di Iraq. Dalam rangka menghapuskan syirik kaumnya beliau melakukan cara-cara seperti itu.

Hadhrat Sahl bin Hunaif termasuk sahabat terkemuka yang telah memperlihatkan keteguhan pada perang Uhud. Pada hari itu beliau bertekad untuk terus menyertai Rasul sampai syahid. Beliau Ra terus berperan sebagai benteng bagi Rasulullah (saw). Ketika umat Muslim berhamburan disebabkan serangan musuh yang dahsyat, beliau melontarkan panah dari dekat Rasulullah (saw) Saw. Rasulullah (saw) bersabda, نبِّلوا سهلا فإنه سهل nabbiluu sahlan fainnahuu sahlun artinya berikan panah kepada Sahl, karena memanah mudah baginya.[15]

Kemudian, diriwayatkan ada seorang Yahudi bernama Ghuzul yang mahir menggunakan tombak. Tombak yang dilontarkan olehnya dapat menjangkau jarak yang tidak dapat ditempuh orang lain. Pada saat pengepungan Banu Nadhir, sebuah kemah disiapkan untuk Rasulullah (saw). Ghuzul melontarkan tombak yang dapat menjangkau kemah tersebut. Atas hal itu Rasul memerintahkan sahabat untuk memindahkan kemah dari tempatnya. Kemah lalu dipindahkan.

Setelah itu Hadhrat Ali bergerak ke arah Ghuzul yang saat itu membawa sekelompok kawanan untuk membunuh pemimpin besar Muslim (Nabi saw). Hadhrat Ali mendapatkan kesempatan untuk membunuhnya. Hadhrat Ali akhirnya berhasil memenggal kepalanya dan beliau persembahkan kepada Rasulullah (saw).

Sementara kawan-kawan Ghuzul melarikan diri. Rasulullah (saw) mengirimkan 10 orang sahabat di bawah pimpinan Hadhrat Ali untuk menyergap mereka dan berhasil membunuh mereka. Hal demikian karena mereka telah secara diam-diam menyerang kaum Muslimin. Pasukan yang diutus beserta Hadhrat Ali tersebut diantaranya Hadhrat Abu Dujanah dan Hadhrat Sahl bin Hunaif.[16]

Tidak ada hari-hari yang tenteram pada masa itu, setiap saat selalu bersiaga atas kemungkinan serangan musuh dan memang demikianlah seharusnya perlakuan yang diberikan kepada musuh seperti itu.

Setelah kemenangan (penaklukan) Khaibar, Hadhrat Rasulullah (saw) bergerak ke arah Wadil Qura. Ketika lasykar Rasulullah (saw) tiba di Wadil Qura, pasukan Yahudi telah bersiap untuk berperang dan menyambut pasukan Muslim dengan hujan anak panah. Budak belian Rasulullah (saw) yang bernama Mudda’am yang tengah menurunkan muatan unta terkena anak panah yang menyebabkan wafat seketika. Rasulullah (saw) langsung memerintahkan untuk berbaris, panji diserahkan kepada Hadhrat Sa’d bin Ubadah. Diantara sekian bendera, bendera pertama diserahkan kepada Hadhrat Khabbab Bin Mundzir, kedua kepada Hadhrat Sahl Bin Hunaif dan ketiga kepada Hadhrat Abbad Bin Bisyr. Disebabkan peperangan itu seluruh wilayah tersebut berada diatas kekuasaan umat Muslim dan Allah menganugerahkan kemenangan dan harta kekayaan yang banyak.

Hadhrat Rasulullah (saw) tinggal selama 4 hari di daerah tersebut. Beliau (saw) lalu membagikan ghanimah (harta rampasan perang) kepada para sahabat. Beliau membiarkan tanah dan ladang di bawah kepemilikan Yahudi namun telah ditetapkan juru pungut dari pihak Muslim. Seperti itulah perlakuan baik yang luar biasa terhadap musuh yang mana kepemilikan harta tetap di tangan pemiliknya hanya dimintai pajak. Sesuai tradisi pada masa itu, sah-sah saja jika menguasai harta kekayaan musuh seperti itu, namun Rasulullah (saw) justru telah berbuat baik kepada mereka.[17]

Mengenai hal itu Hadhrat Mirza Basyir Ahmad menulis di dalam buku ‘Sirah Khataman Nabiyyin’ sebagai berikut:

Ketika negeri Syria berhasil dikuasai dan penduduknya yang beragama Kristen telah di bawah kekuasaan pemerintah Islam, suatu ketika sahabat Rasulullah (saw), Sahl Bin Hunaif dan Qais Bin Sa’d tengah terduduk di suatu kota di Qadisiyah. Lewat di hadapan mereka iring-iringan yang membawa jenazah orang Kristen. Kedua sahabat tersebut pun berdiri untuk menghormati jenazah.

Kemudian ada seorang Muslim yang kurang tarbiyat dan tidak mengetahui akhlak yang diajarkan Islam, ketika melihat hal tersebut merasa heran dan bertanya kepada keduanya, إِنَّهَا مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ، أَىْ مِنْ أَهْلِ الذِّمَّةِ “Ini adalah jenazah orang Kristen, kenapa kalian berdiri?”

Mereka menjawab, “Ya kami pun tahu itu jenazah bukan Muslim. إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم مَرَّتْ بِهِ جَنَازَةٌ فَقَامَ فَقِيلَ لَهُ إِنَّهَا جَنَازَةُ يَهُودِيٍّ‏ Namun, ini adalah Sunnah Rasulullah (saw) yaitu suatu ketika beliau melihat iring-iringan jenazah non Muslim lewat di depan beliau, beliau pun berdiri. Ketika beliau ditanya, ‘Bukankah itu jenazah orang Yahudi?’ Beliau bersabda, أَلَيْسَتْ نَفْسًا ‘Bukankah di dalamnya terdapat jiwa ciptaan Tuhan?[18]

Demikianlah satu cara penghormatan pada kemanusiaan dan cara untuk mengakhiri kebenciaan diantara para pengikut berbagai agama yang pondasinya diletakkan oleh Hadhrat Rasulullah (saw) dan teladan itu pulalah yang dicontoh oleh para sahabat.

Abu Wail (أَبُو وَائِلٍ) meriwayatkan, “Tatkala kami tengah berada di Shiffin, Hadhrat Sahl Bin Hunaif berdiri dan berkata, أَيُّهَا النَّاسُ اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْ فَإِنَّا كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ، وَلَوْ نَرَى قِتَالاً لَقَاتَلْنَا، ‘Wahai orang-orang! Anggaplah diri kalian sendiri bersalah (koreksilah diri kalian sendiri), karena ketika peristiwa Hudaibiyah kita bersama dengan Rasulullah (saw). Jika kita melihat pertarungan, maka pasti akan bertarung.

Tidak lama kemudian datanglah Hadhrat Umar Bin Khaththab dan berkata kepada Rasul, يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَسْنَا عَلَى الْحَقِّ وَهُمْ عَلَى الْبَاطِلِ “Wahai Rasulullah (saw)! Bukankah kita berada diatas kebenaran dan mereka batil?”

Beliau (saw) bersabda, بَلَى “Tentu.”

Lalu Hadhrat Umar berkata, أَلَيْسَ قَتْلاَنَا فِي الْجَنَّةِ وَقَتْلاَهُمْ فِي النَّارِ “Bukankah korban dari pihak kita di surga sedangkan korban dari pihak mereka di neraka?”

Beliau (saw) bersabda, بَلَى “Tentu.”

Hadhrat Umar berkata, فَعَلَى مَا نُعْطِي الدَّنِيَّةَ فِي دِينِنَا أَنَرْجِعُ وَلَمَّا يَحْكُمِ اللَّهُ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ “Kenapa kita bertahan dalam kehinaan untuk urusan agama?” – Maksudnya, terjadi perjanjian pada hari Hudaibiyah. – “Apakah kita akan kembali dari sini begitu saja sebelum Allah Ta’ala memutuskan antara kita dengan mereka?”

Rasulullah (saw) bersabda, ابْنَ الْخَطَّابِ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَلَنْ يُضَيِّعَنِي اللَّهُ أَبَدًا “Wahai putra Khaththab! Saya adalah Rasul Allah. Allah Ta’ala sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan saya.”

Lalu Hadhrat Umar menghampiri Hadhrat Abu Bakr lalu mengatakan sama seperti yang dikatakan kepada Rasulullah (saw).

Hadhrat Abu Bakr berkata, إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ، وَلَنْ يُضَيِّعَهُ اللَّهُ أَبَدًا‏ “Beliau adalah Rasul Allah Ta’ala. Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan beliau.”

Tertulis dalam Shahih al-Bukhari, فَنَزَلَتْ سُورَةُ الْفَتْحِ، فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى عُمَرَ إِلَى آخِرِهَا‏.‏

Kemudian, turunlah surah Al-Fath dan Rasulullah (saw) membacakannya kepada Hadhrat Umar sampai akhir.

Hadhrat Umar berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَوَفَتْحٌ هُوَ “Wahai Rasulullah (saw)! Inikah kemenangan?”

Beliau (saw) bersabda, نَعَمْ “Ya.”’”[19]

Dalam menjelaskan hadits tersebut Hadhrat Sayyid Waliyullah Syah Sahib menulis, “Shiffin merupakan satu nama tempat yang terletak antara Iraq dan Syria (Suriah). Ia tempat terjadinya pertempuran antara Hadhrat Ali dan Hadhrat Muawiyah. Ketika pasukan Muawiyah merasa mulai kalah, mereka lalu mengangkat mushhaf-mushhaf Al-Quran majid [diikatkan di tombak-tombak mereka] dan mengatakan, ‘Putuskanlah berdasarkan hukum Al Quran!’

Perang pun terhenti. Hadhrat Ali pun mengumumkan untuk menghentikan perang. Sebagian orang pun memprotes penghentian perang.

Hadhrat Sahl berada di pihak pasukan Hadhrat Ali. Hadhrat Sahl berkata kepada mereka yang protes, اتَّهِمُوا أَنْفُسَكُمْittahimuu anfusakum yakni janganlah menganggap hanya pendapat kalian yang benar, karena sebelum ini Hadhrat Umar telah salah pengertian ketika perjanjian Hudaibiyah.

Namun kejadian-kejadian di kemudian hari memberitahukan diturunkannya keberkatan atas sikap istiqamah dan pemenuhan janji yang dilakukan Rasulullah (saw) sehingga beliau terjaga dari marabahaya.

Sesuatu yang dianggap sebagai kelemahan dan kehinaan oleh orang-orang, justru hal tersebut telah Allah jadikan penyebab kekuatan dan kehormatan. Baik dalam perkara besar maupun kecil, Hadhrat Rasulullah (saw) (saw) selalu menjaga perjanjian-perjanjian.”[20]

Meskipun di sini [di Shiffin pihak Ali] telah terkecoh sehingga tidak membuahkan hasil sebagaimana pada perjanjian Hudaibiyah, namun seorang beriman hendaknya selalu berbaik sangka. Jika ia diajak pada pemenuhan janji perdamaian yang dilakukan atas nama Allah, lakukanlah setelah memperhatikan segala sesuatunya. Demikianlah kualitas seorang mukmin. Namun, bagaimanapun jangan sampai tertipu lagi untuk kedua kalinya.

Memang dalam perjanjian Hudaibiyah, Allah Ta’ala telah memberi kabar kepada Rasulullah (saw), dengan mengutip hal itu Hadhrat Sahl mengatakan, ‘Jika kita diseru (diajak) pada perjanjian damai atau penghentian peperangan, kita pun hendaknya menempuh perdamaian dengan memperhatikan kejadian perjanjian Hudaibiyah.’”

Hadhrat Sahl bin Hunaif meriwayatkan, “Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada saya, أَنْتَ رَسُولِي إِلَى أَهْلِ مَكَّةَ، قُلْ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَرْسَلَنِي يَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَيْكُمْ، وَيَأْمُرُكُمْ بِثَلَاثٍ: ‘Anda adalah utusan saya kepada warga negeri Makkah. Pergilah ke Makkah. Sampaikanlah salam saya kepada mereka.

Katakan pada mereka Rasulullah (saw) memerintahkan kalian atas tiga hal: Pertama, لَا تَحْلِفُوا بِغَيْرِ اللَّهِ janganlah bersumpah atas nama selain Allah, seperti atas nama bapak dan kakek moyangmu (لا تحلفوا بآبائكم), karena itu adalah terlarang, dosa.

Kedua, وَإِذَا تَخَلَّيْتُمْ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ، وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا ketika kalian buang hajat, janganlah menghadapkan wajah dan punggung (membelakangi) ke arah kiblat. (Artinya, seharusnya menghadap ke utara atau selatan.)

Ketiga, وَلَا تَسْتَنْجُوا بِعَظْمٍ وَلَا بِبَعْرَةَ janganlah membersihkan kotoran setelah buang hajat dengan menggunakan tulang atau kotoran sapi.”[21] (di dalamnya terdapat hikmah besar karena banyak jenis bakteri yang dapat beresiko infeksi. Sekarang terbiasa menggunakan tisu dan air, namun pada zaman itu menggunakan batu dan tulang dari hutan, seperti yang beliau sabdakan tadi.)

Seperti telah dijelaskan sebelumnya mengenai Hadhrat Ali yang mengatakan, فَقَدْ أَحْسَنْتُ بِهِ الضَّرْبَ الْيَوْمَ “Hari ini pedang saya telah tampil luar biasa.”

 Rasulullah (saw) pun bersabda berkenaan dengan Hadhrat Ashim bin Tsabit dan Sahl bin Hunaif, إِنْ كُنْتَ أَحْسَنْتَ بِهِ الْقِتَالَ، فَقَدْ أَحْسَنَهُ عَاصِمُ بْنُ ثَابِتٍ، وَسَهْلُ بْنُ حُنَيْفٍ، وَالْحَارِثُ بْنُ الصِّمَّةِ “Pedang-pedang mereka pun telah tampil luar biasa.”[22]

Ketika orang-orang berbaiat kepada Hadhrat Ali, Hadhrat Sahl ikut serta. Ketika Hadhrat Ali berangkat ke Bashrah (sekarang wilayah Iraq dekat Kuwait dan Iran), beliau menunjuk Hadhrat Sahl sebagai pejabat sementara (Amir Maqami) di Madinah. Hadhrat Sahl ikut serta dalam perang Shiffin beserta dengan Hadhrat Ali.

Hadhrat Ali menetapkan Hadhrat Sahl sebagai gubernur Fars (wilayah Iran bagian selatan sekarang), namun penduduknya meminta supaya beliau diberhentikan dan keluar dari wilayah Fars. Setelah itu, Hadhrat Ali menunjuk Hadhrat Ziyad ibn Abihi sebagai penggantinya dan penduduk Fars pun menerimanya, hidup akur dan mau membayar pajak.[23]

Hadhrat Sahl diberhentikan bukanlah karena melakukan pelanggaran – naudzubillah – , melainkan perbedaan tabiat. Setiap manusia memiliki keistimewaan masing-masing. Dari sisi keistimewaan ini Hadhrat Ziyad dapat memerintah penduduk negeri itu dengan lebih baik, sehingga mereka hidup rukun, rela diperintahnya dan pemerintah menerima pajak.

Hadhrat Sahl Bin Hunaif wafat di Kufah pada tahun 38 Hijriyah sepulang dari perang Shiffin. Jenazah beliau dishalatkan oleh Hadhrat Ali.

Hadhrat Hanasy Bin Mu’tar meriwayatkan ketika Hadhrat Sahl bin Hunaif wafat, Hadhrat Ali tiba ke lapangan untuk menyalatkan jenazah beliau. Ketika shalat jenazah, Hadhrat Ali mengucapkan takbir 6 kali sehingga membuat sebagian orang-orang merasa aneh dan menentang. Beliau lalu mengatakan kepada orang-orang bahwa Hadhrat Sahl adalah Sahabat Badr. Ketika jenazah beliau dan rombongan sampai di daerah Jabbanah, mereka berjumpa dengan Hadhrat Qarazhah ibn Ka’b beserta dengan beberapa kawannya, mereka menyampaikan kepada Hadhrat Ali, “Wahai Amirul Mu-miniin! Kami belum menyalatkan jenazah Hadhrat Sahl.”

Lalu Hadhrat Ali mengizinkan mereka untuk menyolatkan jenazah beliau, sehingga mereka bisa menyolatkan jenazah Hadhrat Sahl bermakmum kepada Hadhrat Qarazhah.[24]

Sahabat ketiga, Hadhrat Jabbar bin Shakhr (جَبَّارِ بْنِ صَخْرٍ الْأَنْصَارِيِّ). Beliau putra Sakhr Bin Umayyah. Hadhrat Jabbar ikut dalam baiat Aqabah kedua bersama dengan 70 sahabat Anshar lainnya. Nabi (saw) telah menjalinkan persaudaraan antara Hadhrat Jabbar dengan Hadhrat Miqdad Bin Amru. Ketika perang Badr beliau berusia 32 tahun. Rasulullah (saw) biasa mengutus beliau untuk menaksir panen kharis yakni kurma ke daerah Khaibar dll. Beliau wafat di Madinah pada masa kekhalifahan Hadhrat Utsman di tahun 30 Hijriyah. Ketika wafat beliau berusia 62 tahun. Hadhrat Jabbar ikut menyertai Rasulullah (saw) dalam perang Badr, Uhud, Khandaq dan seluruh peperangan lainnya.[25]

Hadhrat Jabbar Bin Shakhr Ra meriwayatkan, “Rasulullah (saw) bersabda ketika berada di sebuah jalan ke Makkah, bersabda, مَنْ يَسْبِقُنَا إِلَى الْأُثَايَةِ‘Siapa yang ingin pergi mendahului kami ke ‘Utsayah?’ — Abu Uwais berkata dalam riwayatnya, Rasulullah (saw) mendorong kami ke Utsayah – beliau (saw) berencana membendung telaga Utsayah kemudian mengisi air di sana serta memenuhinya hingga kami datang kepadanya.

Saya (Jabbar) berdiri dan berkata, ‘Saya.’

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Pergilah!’

Lalu saya pergi hingga ketika sampai di ‘Utsayah. Saya membuat bendungan di telaganya dan mengisinya dengan air hingga penuh. Selanjutnya, mata saya tidak kuat lagi hingga saya tertidur. Saya tidak terbangun hingga datang seorang laki-laki yang dihantar oleh kendaraannya menuju air lalu dia menahannya di dalamnya.

Dia berkata, يَا صَاحِبَ الْحَوْضِ ‘Wahai penghuni telaga’, dan ternyata orang itu adalah Rasulullah (saw).

Saya berkata, ‘Ya.’

Rasulullah (saw) menyuruh minum untanya lalu pergi menuntunnya. Kemudian bersabda: ‘Ikutilah saya dengan membawa setimba air’, maka saya mengikutinya dengan membawa setimba air lalu beliau berwudhu dengan sempurna dan saya ikut berwudhu bersamanya, kemudian beliau berdiri shalat. (Sesampainya di sana perbuatan yang paling pertama dilakukan adalah wudhu dan berdiri untuk shalat nafal) Saya ikut berdiri di sisi kirinya hingga beliau mengait tangan saya seraya menggeser saya ke sisi kanannya lalu kami shalat. Kemudian beliau diam sejenak hingga orang-orang datang.”[26]

Ketika Rasulullah (saw) shalat nafal pun, beliau (Hadhrat Jabbar) berpikir untuk shalat bersama dengan Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) memindahkan posisi beliau yang tadinya sebelah kiri ke sebelah kanan. Ketika shalat berjamaah dan jumlahnya dua orang, maka makmum hendaknya berdiri sebelah kanan imam.

Pada saat perang Badr, Rasulullah (saw) berdoa, اللهم اكفني نوفل بن خويلد ‘Allahumma akfiniy Naufal Ibni Khuwailid’ – “Ya Allah! Cukuplah Engkau bagiku untuk menghadapi Naufal Bin Khuwail.” Ia adalah pemimpin Musyrikin Makkah Quraisy. Hadhrat Jabbar Bin Shakhr telah menjadikannya tawanan. Hadhrat Ali datang padanya lalu membunuhnya.

Rasulullah (saw) bertanya, “Apakah ada yang mengetahui kabar Naufal?”

Hadhrat Ali berkata, “Saya telah membunuhnya.” Kemudian, Rasulullah (saw) berdoa, الحمد لله الذي أجاب دعوتي منه “Segala puji bagi Allah yang telah mengabulkan doa hamba darinya.”

Dia adalah musuh berat sehingga untuk menghadapinya beliau berdoa kepada Allah Ta’ala, “Engkau cukuplah bagiku.” Allah Ta’ala memberikan sarana untuk kematiannya.[27]

Selanjutnya, dalam satu riwayat, ketika Rasulullah (saw) telah hijrah ke Madinah, setiap orang berkeinginan supaya Rasulullah (saw) berkenan tinggal di rumah mereka. Berkenaan dengan itu banyak sekali riwayat. Namun Rasulullah (saw) bersabda, “Dimana pun nantinya unta betina saya duduk, di rumah tersebutlah saya akan tinggal.”

Ketika unta beliau berjalan di gang-gang Madinah, setiap orang memohon kepada Rasulullah (saw), “Wahai Rasul, tinggallah di rumah kami.”

Namun beliau bersabda, خلّوا سبيلها فإنها مأمورة “Biarkanlah unta ini b ebas berjalan! Biarkan dia memilih sendiri untuk duduk atas kehendak Allah.”

Sampai-sampai unta beliau duduk di tempat saat ini pintu masjid Nabawi berada. Ketika unta terduduk, Rasulullah (saw) mengalami tanda-tanda turun wahyu. Pada saat itu Rasul masih berada diatas unta lalu unta bangun dan berjalan sedikit. Rasulullah (saw) melepaskan tali kekangnya lalu unta tersebut duduk di tempat tadi dan meletakkan lehernya di tanah. Saat itu Hadhrat Jabbar berkeinginan supaya unta Rasul berhenti di lingkungan Banu Silmi dan berusaha untuk membuat unta itu bangkit, namun tidak mau.

Lalu Rasul turun dan bersabda, هنا المنزل إن شاء الله “Insya Allah kami akan tinggal di sini.” Rasul menilawatkan ayat, وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ “Dan katakanlah, ‘wahai Tuhanku! Turunkanlah aku di tempat turun yang diberkati, karena Engkau adalah sebaik-baik yang menurunkan.’” (Al Mu-minun: 30)

Lalu Rasulullah (saw) bersabda, أي بيوت أهلنا أقرب “Rumah siapa yang paling dekat?”

Hadhrat Abu Ayyub Anshari berkata, أنا يا نبي الله، هذه داري وهذا بابي وقد حططنا رحلك فيها “Saya, wahai Nabi Allah! Ini rumah saya, ini pintu rumah saya dan kami telah meletakkan barang Anda di dalam.”

Beliau bersabda, فانطلق فهيّئ لنا مقيلا “Ayo, persiapkan tempat untuk kami istirahat.”[28]

Lalu beliau pergi untuk mempersiapkan tempat istirahat Rasul.

Sya-su Bin Qais (شَأسُ بْنُ قَيْسٍ) seorang pria tua yang sangat kafir. Ia memiliki kedengkian dan kebencian yang dalam kepada umat Muslim. Suatu ketika dia lewat di dekat kumpulan umat Muslim yang sedang berbincang-bincang. Ketika orang tua itu melihat kecintaan, persatuan dan kerukunan antar sesama umat Muslim – mereka tengah dalam suatu majlis yang mana kebahagiaan, riang tawa dan kecintaan dirasakan oleh umat Muslim setelah mereka masuk Islam dan mereka telah melewati permusuhan pada zaman jahiliyah. Suasana yang rukun padahal dulunya saling bermusuhan, namun setelah masuk Islam umat Muslim mengalami kehidupan yang damai rukun dan saling mencintai satu sama lain.

Melihat pemandangan itu orang tua tersebut merasa kesal. Sya-su bin Qais berkata, قَدِ اجْتَمَعَ مَلأُ بَنِي قَيْلَةَ بِهَذِهِ الْبِلادِ ، لا وَاللَّهِ مَا لَنَا مَعَهُمْ إِذَا اجْتَمَعَ مَلَؤُهُمْ بِهَا مِنْ قَرَارِ “Para pemimpin Banu Qilah berada di daerah itu. Selama pemimpin mereka hidup rukun satu sama lain, tidak mungkin kami bisa tenang, bagaimana permusuhan dapat berubah menjadi persahabatan bahkan kecintaan dan kasih sayang satu sama lain. Akhirnya dia menugaskan seorang Yahudi muda untuk ikut gabung dalam majlis umat Muslim itu dengan niat menyinggung kisah perang Bu’ats (بُعَاثٍ), perang antara Aus dan Khazraj di masa kehidupan masa jahiliyah dulu.

Ia lalu memperdengarkan syair di hadapan umat Muslim yang dulunya sering dilontarkan untuk memojokan satu sama lain. Akhirnya orang Yahudi itu melakukan tugasnya, sehingga kabilah pertama membacakan syair yang pernah dibacakan pada saat perang untuk menghujat pihak kabilah musuh dan hal ini menorehkan lagi luka lama.

Setelah mendengarkan syair-syair masa jahiliyah, mereka menjadi teringat kembali masa masa itu. Lalu kabilah musuh pun membalas dengan mengatakan bahwa penyair kami pun membalas syair tadi dengan jawaban berikut. Lalu dibalas lagi dengan syair oleh kabilah pertama. Akhirnya suasana yang tadinya penuh kasih sayang dan kerukunan berubah menjadi saling mencaci satu sama lain, berselisih dan saling berbangga diri, sampai-sampai diantara mereka dua orang terlibat bentrok antara Hadhrat Haritsah bin al-Harits dari kabilah Aus (حَارِثَةَ بْنِ الْحَارِثِ مِنَ الأَوْسِ) dan Hadhrat Jabbar Bin Sakhr dari kabilah Khazraj.

Salah seorang diantara keduanya mengatakan, “Jika kalian – demi Allah – sekarang pun kita dapat mulai kembali berperang.”

Kedua belah pihak itu saling emosi dan mengatakan, ‘seperti itulah yang tengah terjadi.’ Mereka meneriakkan kalimat, قَدْ فَعَلْنَا , السِّلاحَ السِّلاحَ ، مَوْعِدُكُمُ الظَّاهِرَةُ – وَالظَّاهِرَةُ : الْحَرَّةُ ‘Perang!’ ‘Perang!’ Mereka mulai menetapkan tempat bertarung dan saling beradu mulut perihal masa jahiliyah dulu. Kabilah Aus berkumpul sesama Aus. Kabilah Khazraj berkumpul sesama kabilah Khazraj.

فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ فِي مَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ مِنْ أَصْحَابِهِ حَتَّى جَاءَهُمْ Sampailah kabar tersebut kepada Rasulullah (saw) lalu beliau (saw) mengunjungi kabilah Aus dan Khazraj disertai para sahabat muhajirin. Beliau (saw) bersabda, يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ اللَّهَ اللَّهَ ، أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ بَعْدَ إِذْ هَدَاكُمُ اللَّهُ إِلَى الإِسْلامِ ، وَأَكْرَمَكُمْ بِهِ ، وَقَطَعَ بِهِ عَنْكُمْ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ ، وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ , وَأَلَّفَ بِهِ بَيْنَكُمْ ، تَرْجِعُونَ إِلَى مَا كُنْتُمْ عَلَيْهِ كُفَّارًا ؟ “Wahai orang-orang Muslim! Bertakwalah kepada Allah! Bertakwalah kepada Allah! Apakah saat ini pun kalian saling menyatakan hal-hal pada masa jahiliyah dulu padahal saya berada di tengah-tengah kalian dan Allah telah memberikan hidayah kepada kalian untuk masuk islam, menganugerahkan kehormatan kepada kalian dengan perantaraannya, mengakhiri perkara jahiliyah dari kalian, menyelamatkan kalian dari kekufuran, menciptakan kerukunan diantara kalian? Apakah kalian akan kembali lagi pada kekufuran seperti sebelumnya?”

فَعَرَفَ الْقَوْمُ أَنَّهَا نَزْغَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ ، وَكَيْدٌ مِنْ عَدُوِّهِمْ ، فَأَلْقَوُا السِّلاحَ مِنْ أَيْدِيهِمْ ، وَبَكَوْا وَعَانَقَ الرِّجَالُ مِنَ الأَوْسِ وَالْخَزْرَجِ بَعْضُهُمْ بَعْضًا ، ثُمَّ انْصَرَفُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَامِعِينَ مُطِيعِينَ Para sahabat menyadari ini merupakan bisikan setan dan taktik musuh. Akhirnya mereka membuang senjata mereka, mulai menangis dan kedua kabilah – Aus dan Khazraj – itu saling berpelukan. Mereka lalu kembali pulang demi taat sepenuhnya pada perkataan Rasul.[29]

Allah Ta’ala telah memadamkan api yang dinyalakan oleh musuh mereka, Sasy Bin Qais (شَأسِ بْنِ قَيْسٍ) dan apa yang telah dilakukannya. Lalu turunlah ayat, قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَىٰ مَا تَعْمَلُونَ “Katakanlah, ‘Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?’”

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنتُمْ شُهَدَاءُ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalangi orang-orang beriman dari jalan Allah, kamu menghendakinya bengkok, padahal kamu menjadi saksi tentang itu? Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.’” (Ali Imran:99-100)

Lalu, turunlah ayat berkenaan dengan orang seperti Hadhrat Aus Bin Qaizhi dan Hadhrat Jabbar Bin Shakhr dan kawannya yang telah tergoda Syats lalu bersikap seperti pada zaman Jahiliyah, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تُطِيعُوا فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati suatu golongan dari antara orang-orang yang diberi kitab, mereka pasti akan mengembalikanmu menjadi orang-orang kafir setelah kamu beriman. Dan bagaimana mungkin kamu akan ingkar padahal ayat ayat Allah telah dibacakan kepadamu, dan Rasul Nya pun ada di tengah tengahmu dan barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran :101-102)[30]

Demikianlah keadaan para Sahabat itu. Mereka pernah terperangkap tipu daya setan. Namun ketika disadarkan dan Rasulullah (saw) berkata kepada mereka, “Kenapa kalian kembali kepada kejahiliyahan?” Segera saja timbul penyesalan dalam diri mereka lalu melangkah pada perdamaian bahkan menampakkan kecintaan dan persaudaraan. Seperti itulah peri kehidupan para sahabat dan teladan mereka.

Sekarang, kisah ini merupakan contoh yang sangat baik bagi mereka yang karena hal-hal sepele saja lantas terjerumus dalam semangat palsu dan kebanggaan (keakuan). Jika orang-orang yang haus darah dan tukang perang itu menjadi bersaudara, lantas kenapa orang-orang yang membaca kalimah yang sama bahkan lahir dalam satu Jemaat yang sama tidak dapat membuang kesombongan dan keakuannya?

Banyak sekali permasalahan yang dikasuskan ke pengadilan yang mana diantaranya ialah disebabkan kebanggaan palsu dan dendam. Hal ini mengakibatkan permusuhan yang berkepanjangan, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya. Beberapa pemuda kita menulis, “Disebabkan permusuhan antar keluarga di kalangan kami sehingga ketika kami ingin menjalin perjodohan dengan keluarga lain, perjodohan kami terkendala.”

Orang-orang seperti ini hendaknya berpikir, Allah Ta’ala telah mengajarkan kecintaan dan kasih sayang, persatuan dan telah dijadikan satu kaum, kita hendaknya hidup sebagai satu kesatuan, janganlah tenggelam lagi di dalam kesombongan palsu. Semoga Allah Ta’ala memberikan akal kepada semuanya.

Dalam satu riwayat, ketika Hadhrat Umar mengeluarkan orang Yahudi dari Khaibar. Beliau sendiri berangkat ke Khaibar dengan membawa serta Anshar dan Muhajirin yang diantaranya Hadhrat Jabbar Bin Shakhr dan Hadhrat Zaid Bin Tsabit. Beliau berdua selalu pergi ke Khaibar untuk menaksir hasil panen dan sesuai dengan pembagian semula kedua orang ini memisahkan bagian setiap orang. Dalam pembagian lembah Qura selain memberikan bagiannya kepada sahabat lain, Hadhrat Umar pun memberikan satu bagian untuk Hadhrat Jabbar bin Shakhr.[31]

Demikianlah sebagian riwayat hidup para sahabat, semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau-beliau.

[1]Nama lengkap beliau beserta ayah dan kakek moyangnya ialah (عَاصِمُ بنُ ثَابِت بن أَبي الأَقْلَح، واسم أَبي الأَقلح قيس بن عِصْمَة بن النعمان بن مالك بن أَمَةَ بن ضُبَيْعَةَ بن زيد بن مالك بن عوف بن عَمْرو بن عوف بن مالك بن الأَوس الأَنصاري الأَوسي ثم الضُّبَعي)

[2]Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 243, Ashim bin Tsabit, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996.

[3]Asadul Ghabah fi Ma’rifatish Shahaabah (أسد الغابة), jilid 3, h. 5, Ashim bin Tsabit, terbitan Darul Fikr, Beirut, Lebanon, 2003.

[4]Al-Mu’jam al-Kabir karya Imam ath-Thabrani (المعجم الكبير للطبراني), bab ra (بَابُ الرَّاءِ), nama Rafi (مَنِ اسْمُهُ رَافِعٌ), jilid 5, h. 34, Rifa’at bin al-Mundzir, Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 2002.

[5] World Faith by Ruth Cranston, Haper and Row Publishers, New York, 1949, page 155 juga mengatakan hal serupa: “Muhammad orang Arab itu [saw] tidak pernah menjadi orang yang memulai peperangan. Setiap perang yang beliau lakukan sifatnya membela diri. Apabila beliau berperang tujuannya hanyalah untuk menyelamatkan diri. Beliau berperang dengan cara dan menggunakan senjata sesuai zamannya. Dengan yakin dapat dikatakan bahwa tidak ada negara Kristen dari 140.000.000 orang pada hari ini (buku ini ditulis tahun 1949) yang telah membinasakan 120.000 orang sipil tak berdaya hanya dengan satu ledakan bom saja dapat melakukan tuduhan jahat terhadap seorang pemimpin agung yang telah melakukan penyerangan dan diserang di dalam seluruh peperangan yang telah membunuh hanya 500 atau 600 orang saja dianggap paling kejam.Membandingkan jumlah kematian di tangan Nabi Arabia [saw] di alam kegelapan abad ketujuh ketika manusia sedang haus darah satu sama lain dengan jumlah kematian di abad kita abad kedua puluh yang gilang-gemilang ini merupakan kebodohan. Tidak perlu diceritakan lagi pembantaian massal oleh orang-orang Kristen di zaman inkuisisi dan Perang Salib ketika para prajurit Kristen dengan bangga mencatat semua peristiwa ketika mereka berjalan di sela-sela mayat orang-orang tak beriman terendam darah sedalam mata kaki.”

[6] Majma’uz zawaaid wa manbaul fawaid (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد), (باب غزوة أحد), (باب فيمن أحسن القتال يوم أحد) no. 10117. Al-Mustadrak ‘alash shahihain (المستدرك على الصحيحين), oleh Hafizh Abu Abdullah Muhammad ibn Abdullah, Kitab al-Maghazi was Saraya (معرفة الصحابة), jilid 5, h. 1963, hadits 4309, Maktabah Nazar Mushthafa al-Baz, Makkah al-Mukarramah Riyadh, 2000.

[7] Kitab al-Maghazi (كتاب المغازي) karya Muhammad ibn Umar Al-Waqidi (مُحَمّدُ بْنُ عُمَرَ الْوَاقِدِيّ), jilid I, h. 110-111, bab Badr al-Qitaal, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2004.

[8] Shahih Muslim Kitab al-Imarah, bab Tsubutil Jannati lisy Syahid

[9] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 516

[10] Asadul Ghabah fi Ma’rifatish Shahabah jilid 3, h. 6, Maktabah Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, Lubnan, 2008.

[11] Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء) atau Perhiasan para Wali dan Tingkatan-tingkatan Orang-orang yang Suci karya Al-Imam Abu Nu’aim al-Ashfahani r.h; (مَا عِلَّتِي وَأَنَا جَلْدٌ نَابِلُ ) ‘maa ‘illatii wa ana jaldun naabil’ – Apa alasanku, sedangkan aku pemberani dan tangkas; (وَالْقَوْسُ فِيهَا وَتَرٌ عُنَابِلُ ) wal qausu fiihaa watrun ‘anaabil’ – Busur terpasangi senar yang panjang; (إِنْ لَمْ أُقَاتِلْكُمْ فَأُمِّي هَابِلُ) il lam uqaatilakum fa-ummii haabil’ – Bila ‘ku tak perangi kalian, ibuku kehilanganku.”

[12] As-Sirah al-Halabiyyah jilid 2, h. 234, Sariyah Raji’, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002.

[13] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 274, dari Bani Hanasy bin Auf, terbitan Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996; Al-Isti’aab fi ma’rifatil ashhaab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب), jilid 2, h. 223, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002.

[14]As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), Hijrah (هجرة الرسول صلى الله عليه وسلم), tempat transit di Quba (منازله صلى الله عليه وسلم بقباء), h. 348, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2001.

[15]Ath-Thabaqaat karya Ibn Sa’d (الطبقات الكبرى ۳ /۴۷۱); Al-Isti’aab fi ma’rifatil ashhaab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب), jilid 2, h. 223, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002.

[16] As-Sirah al-Halabiyyah jilid 2, h. 359, ghazwah Banu Nadhir, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1999.

[17] Syarh Zurqani ‘ala Mawaahibil Laduniyyah, jilid 3, h. 301-303, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996. Imta’ul Asma karya al-Maqrizi (إمتاع الأسماع – المقريزي), ghazwah Wadi al-Qurro, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996.

[18] Shahih al-Bukhārī, Kitābul-Janā’iz, Bābu Man Qāma Li-Janāzatil-Yahūdī (باب مَنْ قَامَ لِجَنَازَةِ يَهُودِيٍّ), Hadīth No. 1312; Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 658

[19] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Jizyah, bab itsmun man ‘ahada tsumma ghadara (berdosa buat siapa yang berjanji lalu menipu), 3182.

[20] Terjemahan dan Syarh Shahih al-Bukhari, oleh Hadhrat Sayyid Zainul Abidin Waliyullah Syah Shahib, jilid 5, h. 543.

[21]Mushannif Abdur Razzaq ash-Shan’ani (مصنف عبد الرزاق الصنعاني), (كِتَابٌ: الْأَيْمَانُ وَالنُّذُورُ), (بَابٌ: الْأَيْمَانُ، وَلَا يُحْلَفُ إِلَّا بِاللَّهِ), no. 15920. Juga dalam Majma’uz Zawaaid wa manba’ul fawaaid (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد), (كتاب الأيمان والنذور), (باب بماذا يحلف،والنهي عن الحلف بغير الله)

[22] Majma’uz zawaaid wa manbaul fawaid (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد), (باب غزوة أحد), (باب فيمن أحسن القتال يوم أحد) no. 10117.

[23] Al-Isti’aab fi ma’rifatil ashhaab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب), jilid 2, h. 223, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002. Ziyad ibn Abihi yang masuk Islam pada masa Khilafat Abu Bakr menjadi Amir (gubernur) Fars (termasuk Istakhr) dan Kerman (keduanya Iran bagian selatan sekarang) pada masa Khalifah Ali. Pada masa Muawiyah, awalnya ia menolak baiat dan menjadi bawahan Muawiyah. Setelah dibujuk, akhirnya ia baiat dan menjadi gubernur Kufah (termasuk Iraq sekarang) lalu Bashrah. Kufah diserahkan kepada Mughirah ibn Syu’bah. Setelah wafat Mughirah pada 670, wilayah kekuasaannya termasuk juga Kufah. Ziyad wafat pada 673 dan digantikan oleh putranya Ubaidullah ibn Ziyad yang mendapat kekuasaan hanya di Bashrah saja namun Yazid putra Muawiyah yang berkuasa setelah wafatnya Muawiyah pada 680 memerintahkannya mengendalikan Kufah juga guna menghadapi Husain ibn Ali.

[24] Al-Mustadrak ‘alash shahihain (المستدرك على الصحيحين), Kitab Ma’rifatush Shahabah (معرفة الصحابة), jilid 3, h. 483, dzikr Manaqib Sahl ibn Hunaif, hadits 5827, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2002. Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 248, wa min hulafa bani Adi, terbitan Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996.

[25] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 293, wa min hulafa bani Adi, terbitan Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996.

[26]Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل), (مُسْنَدُ الْمَكِّيِّينَ) Musnad orang-orang Makkah dan Madinah, (حَدِيثُ جَبَّارِ بْنِ صَخْرٍ) Hadits Jabbar ibn Shakhr, hadits no. 15550 jilid 5, h. 330, Alamul Kutub, Beirut, 1998.

[27] Subulul Huda war Rasyaad fi sirah khairil ‘ibaad (سبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد) karya Muhammad ibn Yusuf ibn Shalihi asy-Syami, w. 942 H, jilid 4 h. 49, ghazwah Badr al-Kubra, dzikr ramy Rasulullah saw al-kuffaar bil hashbaa, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1993.

[28] Subulul Huda war Rasyaad fi sirah khairil ‘ibaad (سبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد) karya Muhammad ibn Yusuf ibn Shalihi asy-Syami, w. 942 H, jilid 3 h. 272-273, jama’ abwaab al-Hijrah ilal Madinah asy-Syarifah, bab as-Saadis (ketujuh) mengenai kedatangannya, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1993.

[29]Jami’ul Bayaan (جامع البيان عن تأويل آي القرآن)

[30] Subulul Huda war Rasyaad fi sirah khairil ‘ibaad (سبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد) karya Muhammad ibn Yusuf ibn Shalihi asy-Syami, w. 942 H, jilid 3 h. 398-399, jama’ abwaab badh’ umuur daarat baina Rasulullah (saw) wal Yahud wal munafiqiin, bab as-Saabi’ (ke-7) mengenai niat Sya-su bin Qais, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1993.

[31] Sirah an-Nabawiyah (Perjalanan Hidup Nabi saw) karya Ibn Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), jilid 3, h. 639, Amr Fadak fi khabr Khaibar, al-Mamlakah al-‘Ashriyah, Shaida, terbitan 2011.