Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 28 September 2018 (Tabuk 1397 HS/18 Muharram 1440 HQ) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Sebelum melakukan kunjungan ke beberapa negara, saya telah menyampaikan perihal riwayat hidup para sahabat Badr. Pada hari ini pun saya akan sambung lagi dengan topik tersebut. Diantara para sahabat yang akan disampaikan pada hari ini, salah satunya adalah Hadhrat Umarah bin Hazm radhiyAllahu ta’ala ‘anhu (عُمَارَة بن حَزْم الأَنْصَارِيّ بن زَيْد بن لَوْذَان بن عمرو بن عبد بن عوف بن غنم بن مالك بن النجار الأَنصاري الخزرجي، ثم من بني النجار). Hadhrat Umarah bin Hazm (ra) termasuk 70 sahabat yang ikut baiat Aqabah kedua. Saudara beliau bernama Hadhrat Amru bin Hazm (عمرو بن حزم) dan Hadhrat Mu’amar bin Hazm (معمر بن حزم) juga adalah seorang sahabat. وشهد عمارة بن حزم أيضًا أُحُدًا، والخندق، وسائر المشاهد مع رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم Beliau ikut serta bersama dengan Rasulullah (saw) pada perang Badr, Uhud dan seluruh peperangan lainnya. وكانت معه رايةَ بني مالك بن النّجار في غزْوَةِ الفتح Pada saat Fath Makkah (penaklukan kota Makkah oleh umat Muslim yang berangkat dari Madinah) panji (bendera) Banu Malik bin Najjar dipegang oleh beliau.

Paska Hijrah, Hadhrat Rasulullah (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, saw) menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hadhrat Muhraz bin Nadhlah (مُحْرز بن نَضْلة). Ketika terjadi peristiwa kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang murtad paska kewafatan Rasulullah (saw) dan mereka memulai menyerang umat Muslim, dalam hal ini Hadhrat Umarah bin Hazm ikut berperang dalam melawan mereka dari pihak Muslim bersama dengan Hadhrat Khalid bin Walid. Pada akhirnya Hadhrat Umarah bin Hazm syahid pada perang Yamamah.[1]

Ibunda beliau bernama Khalidah Binti Anas.[2]

Abu Bakr bin Muhammad bin Amru bin Hazm meriwayatkan, نُهِشَ عبد الرحمن بن سهل بحريرات الأفاعي ، فقال رسول الله صَلى الله عَليهِ وَسلَّم : اذهبوا به إلى عمارة بن حزم فليرقه ، قال : قالوا : يا رسول الله إنه يموت ، قال : وإن ، قال : فذهبوا به إلى عمارة فرقاه ، فشفاه الله. “Suatu ketika Hadhrat Abdullah bin Sahl digigit ular, ketika itu Rasulullah (saw) bersabda, ‘Bawalah dia kepada Umarah, nanti dia yang akan melakukan ruqyah (didoakan dengan cara yang khas. Dalam bahasa Urdu: dam). Sahabat itu berkata, ‘Wahai Rasul! Orang ini sudah sekarat.’

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Bawalah kepada Umarah! Nanti dia akan mendoakannya, Allah Ta’ala akan menyembuhkannya.’”[3]

Sesungguhnya Rasulullah (saw)-lah yang telah mengajarkan dam (ruqyah) kepada Hadhrat Umarah dan mengajarkan doa. Dalam hal ini bukan berarti bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) memerlukan ruqyahnya Hadhrat Umarah atau Rasulullah (saw) sendiri tidak mampu melakukannya – na’udzubillah – melainkan orang-orang tertentu telah ditetapkan untuk tugas-tugas tertentu dan di belakang itu semua daya penyucian dan curahan keberkatan Rasulullah (saw) lah yang berperan.

Dalam Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam tertulis bahwa orang-orang munafik biasa datang ke masjid Nabawi dan mengolok-olok perkataan umat Muslim, menghina agama mereka, terkadang mereka pun menyampaikan hinaan secara langsung di hadapan umat Muslim. Suatu ketika beberapa diantara orang-orang munafik itu berkumpul di mesjid Nabawi, Rasulullah (saw) melihat mereka saling berbisik satu sama lain. Raulullah (saw) memerintahkan sahabat untuk mengeluarkan orang-orang munafik itu dari masjid. Lalu dikeluarkanlah mereka.

Hadhrat Abu Ayyub menghampiri Umar bin Qais yang berasal dari Banu Ghanam bin Malik bin Najar yang pada masa jahiliyah sebagai pengawas patung-patung berhala mereka. Sahabat tersebut memegang kaki munafik itu lalu menyeretnya keluar masjid. Ketika diseret dia terus mengatakan, يَا أَبَا أَيّوبَ مِنْ مِرْبَدِ بَنِي ثَعْلَبَة “Wahai Abu Ayyub! Apakah kamu akan mengeluarkanku dari Majlis Banu Tsalabah?”

Lalu sahabat tersebut menghampiri seorang munafik lainnya, Rafi bin Badi’ah dari Banu Najjar kemudian mengikatnya dengan kain cadar, ditarik dan dikeluarkannya dari masjid setelah ditampar satu kali.

Hadhrat Abu Ayyub mengatakan, أَدْرَاجَك يَا مُنَافِقُ مِنْ مَسْجِدِ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ “Wahai orang munafik! Semoga kamu dilaknat, enyahlah kamu dari masjid Rasul.”

Hadhrat Umarah bin Hazm menghampiri seorang munafik lainnya bernama Zaid bin Amru lalu memegang janggutnya dan menyeretnya keluar masjid.

Lalu Hadhrat Umarah memukulkan kedua tangannya dengan keras ke dadanya sehingga terjatuh. Orang munafik itu berkata, “Hai Umarah! Kamu telah melukai saya.”

Lalu Hadhrat Umarah berkata, أَبْعَدَك اللّهُ يَا مُنَافِقُ فَمَا أَعَدّ اللّهُ لَك مِنْ الْعَذَابِ أَشَدّ مِنْ ذَلِكَ فَلَا تَقْرَبَنّ مَسْجِدَ رَسُولِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ “Hai Munafik! Semoga Allah membinasakanmu, azab yang telah Allah siapkan untukmu lebih keras dari ini. Lain kali jangan sekali-kali mendekati masjid Rasulullah (saw) lagi.”[4]

Pada saat perang Tabuk, ketika Rasulullah (saw) berangkat ke medan Tabuk, di jalan unta betina Rasulullah (saw) bernama Qushwa hilang. Para sahabat pergi mencari unta Rasul. Saat itu Rasulullah (saw) bersama dengan Umarah bin Hazm, sahabat yang ikut pada Baiat Aqabah kedua dan perang Badr, saudara Hadhrat Amru bin Hazm.

Perawi meriwayatkan, “Dalam tenda yang terletak diatas unta Hadhrat Umarah terdapat Zaid bin Lushait al Qainuqa’i (زَيْدُ بْنُ اللُّصَيْتِ) juga yakni termasuk ke dalam kelompok yang berada di dalam tenda, Zaid berasal dari Kabilah Banu Qainuqa yakni seorang Yahudi yang masuk Islam namun bersifat munafik.”

Zaid mengatakan (dengan nada menggumam dan mencibir), أَلَيْسَ مُحَمَّدٌ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَيُخْبِرُكُمْ عَنْ خَبَرِ السَّمَاءِ، وَهُوَ لَا يَدْرِي أَيْنَ نَاقَتُهُ؟ “Ketika Muhammad mendakwakan sebagai nabi bersikap seolah-olah bersih dari kesalahan dan memberitahukan kabar dari langit kepada kalian, padahal dia sendiri tidak tahu kemana untanya menghilang.”

Saat itu Umarah berada di dekat Hadhrat Rasulullah (saw) dan kabar olok-olokan tadi sampai kepada Rasulullah (saw) dengan suatu perantara atau Allah yang mengabarkan langsung kepada beliau.

Lalu Rasulullah (saw) bersabda, إنَّ رَجُلًا قَالَ: هَذَا مُحَمَّدٌ يُخْبِرُكُمْ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَيَزْعُمُ أَنَّهُ يُخْبِرُكُمْ بِأَمْرِ السَّمَاءِ وَهُوَ لَا يَدْرِي أَيْنَ نَاقَتُهُ “Ada orang yang mengatakan, ‘Muhammad mengabarkan kepada orang-orang perihal kabar samawi, padahal dia sendiri tidak tahu kemana untanya pergi.’

Rasul bersabda, وَإِنِّي وَاَللَّهِ مَا أَعْلَمُ إلَّا مَا عَلَّمَنِي اللَّهُ “Demi Allah! Saya tidak mengetahui mengenai sesuatu hal kecuali Allah Ta’ala kabarkan kepada saya. Saya tidak mengetahui hal ghaib, namun jika Allah mengabarkan, akan saya kabarkan.”

Untuk membungkam mulut orang Yahudi tersebut Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada Rasulullah.

Rasul bersabda, وَقَدْ دَلَّنِي اللَّهُ عَلَيْهَا، وَهِيَ فِي هَذَا الْوَادِي، فِي شِعْبِ كَذَا وَكَذَا، قَدْ حَبَسَتْهَا شَجَرَةٌ بِزِمَامِهَا، فَانْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُونِي بِهَا “Allah telah memberitahukan padaku perihal unta bahwa unta itu tengah berada di suatu lembah” – mengisyarakan pada suatu lembah – tali unta tersangkut pada sebuah pohon. Pergilah ke sana dan bawalah unta itu kemari.”

Lalu sahabat pergi dan membawa unta Rasul. Bagaimana untuk membungkam mulut orang Yahudi tadi Allah Ta’ala telah memperlihatkan pemandangan kepada beliau perihal tempat dimana unta berada.

Baihaqi dan Abu Naim meriwayatkan, “Hadhrat Umarah pergi menuju tendanya dan berkata, ‘Demi Tuhan! Pada hari ini telah terjadi sesuatu yang ajaib. Baru saja Rasulullah (saw) mengabarkan kepada kami perihal seseorang yang mana Allah kabarkan kepada (saw). Jelaslah bahwa perihal orang munafik tadi (Zaid bin Lushait) telah Allah kabarkan kepada Rasulullah (saw).

Diantara orang yang berada dalam tenda Hadhrat Umarah, salah seorangnya mengatakan, ‘Demi Tuhan! Sebelum anda datang, Zaid telah mengatakan sesuatu seperti yang anda katakan baru saja yakni apa yang beliau katakan perihal Allah Ta’ala mengabarkan kepada Rasulullah (saw), persis Zaid pun mengatakan hal yang sama sebelum anda datang.’

Hadhrat Umarah memegang leher Zaid dan berkata kepada sahabat lainnya, “Wahai para hamba Allah, tadi di dalam tenda saya terdapat ular, namun saya tidak tahu kalau harus mengeluarkannya.”

Umarah berkata kepada Zaid, “Setelah ini kita tidak ada hubungan lagi.”

Sebagian orang beranggapan bahwa di kemudian hari Zaid bertaubat sedangkan sebagian lagi beranggapan dia terus bersikap jahat sampai ajal menjemputnya.

Hadhrat Ziyad bin Naim (زياد بن نعيم) meriwayatkan dari Hadhrat Umarah bin Hazm, “Rasulullah (saw) bersabda, أَرْبَعٌ مِنْ عَمِلِ بِهِنَّ كَانَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَمَنْ تَرَكَ وَاحِدَةً مِنْهُنَّ لَمْ تَنْفَعْهُ الْثَّلَاثُ ‘Ada empat hal yang jika diamalkan, maka akan terhitung sebagai Muslim dan jika meninggalkan salah satunya, maka ketiga amalan yang lainnya tidak akan bermanfaat sedikit pun baginya.’

Saya bertanya kepada Hadhrat Umarah, ‘Apa saja keempat hal tersebut?’

Hadhrat Umarah menjawab, الْصَّلَاةُ، وَالْزَّكَاةُ، وَصِيَامُ رَمَضَانَ، وَالْحَجُّ ‘Shalat, Zakat, Puasa di bulan Ramadhan dan ibadah haji.’”

Penting untuk beriman dan mengamalkan keempat hal tersebut. Shalat adalah wajib, zakat juga diwajibkan bagi yang wajib atasnya, begitu juga puasa perlu ketika sehat, begitu pun ibadah haji diwajibkan bagi yang mampu. Perlu untuk mengimani dan mengamalkan ke empat amalan tersebut. Sabda tersebut tertulis dalam kitab Asadul Ghabah.

Saat ini sebagian umat Muslim memberikan definisi atas status keIslamannya dan ada juga ulama yang memfatwakan kafir dan mengada-adakan sendiri definisi Muslim sekehendak mereka.

Sahabat kedua adalah Hadhrat Abdullah bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau dijuluki Abdur Rahman dan berasal dari Qabilah Banu Hudzail (بني هذيل). [5] Ibunda beliau bernama Ummi Abdin. Beliau wafat pada tahun 32 Hijri. Ayahanda beliau bernama Mas’ud bin Ghafir. Hadhrat Abdullah bin Mas’ud tergolong sahabat awal.

Ketika saudara ipar Hadhrat Umar, Hadhrat Sa’id bin Zaid suami Hadhrat Fatimah Binti Khatab masuk Islam, saat itu juga Hadhrat Abdullah bin Mas’ud baiat. Mereka baiat sebelum Rasulullah (saw) masuk ke Darul Arqam yakni tempat yang dibuat sebagai tempat berkumpul umat Muslim di Makkah. Hadhrat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, لَقَدْ رَأَيْتُنِي سَادِسَ سِتَّةٍ مَا عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ مِنْ مُسْلِمٍ غَيْرِنَا “Saya adalah orang keenam yang baiat masuk Islam. Saat itu di muka bumi ini belum ada yang baiat selain kami berenam.”[6]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud (ra) menuturkan kisah baiatnya [asal mulanya ia masuk Islam], “Ketika saya sampai pada usia dewasa yakni ketika mampu mengenali dan membedakan dengan baik, suatu waktu saya tengah menggembala kambing milik Uqba bin Abu Mu’ith (عقبة بن أبي معيط،), Hadhrat Rasulullah (saw) beserta dengan Hadhrat Abu Bakar menghampiri saya. Beliau (saw) bersabda, يَا غُلَامُ هَلْ مِنْ لَبَنٍ؟ ‘Nak! Apakah kamu menyimpan susu?’

Saya menjawab, نَعَمْ، وَلَكِنِّي مُؤْتَمَنٌ ‘Ya, tapi itu merupakan amanah. Saya tidak dapat memberikannya.’

Sejak kecil beliau berfitrat baik.

Rasul bersabda, فَهَلْ مِنْ شَاةٍ لَمْ يَنْزُ عَلَيْهَا الْفَحْلُ؟ ‘Bawalah kambing yang tidak dapat memberikan susu.’

Lalu saya membawa kambing muda ke hadapan Rasulullah (saw). Lalu Rasulullah (saw) mengikat kakinya dan mulai mengusap tempat keluar susu dan berdoa sehingga keluarlah susu darinya. Kemudian, Hadhrat Abu Bakar membawa wadah. Rasulullah (saw) memerah susu dan dipancarkan kedalam wadah. Beliau (saw) bersabda kepada Hadhrat Abu Bakr, ‘Minumlah!’

Hadhrat Abu Bakar meminumnya lalu Rasulullah (saw) minum.

Lalu Rasulullah (saw) mengusap lagi tempat keluar susu dan bersabda, اقْلِصْ ‘Menyusutlah!’

Lalu menyusutlah tempat keluar susu seperti semula.

Saya berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي مِنْ هَذَا الْقَوْلِ ‘Wahai Rasulullah (saw)! Ajarkan juga pada saya diantara doa-doa yang Anda baca tadi.’

Lalu Rasulullah (saw) mengusap kepala saya dan bersabda, يَرْحَمُكَ اللَّهُ، فَإِنَّكَ غُلَيِّمٌ مُعَلَّمٌ ‘Semoga Allah mengasihimu. Kamu adalah pemuda yang terpelajar lagi pengajar.’”[7]

Beliau meriwayatkan, أَخَذْتُ مِنْ فَمِ النَّبِيِّ  سَبْعِينَ سُورَةً لَا يُنَازِعُنِي فِيهَا أَحَدٌ “Saya telah menghafal 70 surat secara langsung dari Rasulullah (saw).”[8]

Berkenaan dengan beliau (ra) Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis dalam buku Sirat Khatamun Nabiyyin, “Abdullah bin Mas’ud yang notabene bukan dari suku bangsa Quraisy, melainkan berasal dari Qabilah Hudzail adalah seorang yang miskin dan biasa menggembala kambing-kambing milik Uqbah bin Abi Mu’ith, pemuka Quraisy. Setelah masuk Islam, beliau melewati hidupnya bergaul dengan Rasulullah (saw), sehingga menjadi seorang Alim (cendekiawan) ulung. Dasar Fiqh Hanafi kebanyakan bersumber dari ucapan dan ijtihad beliau Ra.”[9]

Perihal keutamaan ilmu agama beliau terdapat riwayat bahwa Hadhrat Ibnu Mas’ud mengatakan, مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ أَيْنَ أُنْزِلَتْ، وَفِيمَ أُنْزِلَتْ، وَلَوْ أَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنِّي بِكِتَابِ اللَّهِ تَبْلُغُهُ الْإِبِلُ لَرَكِبْتُ إِلَيْ “Orang-orang mengetahui bahwa diantara sekian orang, saya termasuk yang menguasai ilmu Kitabullah. Tidak ada surat atau ayat di dalam Al-Qur’an yang tidak saya ketahui dimana dan kapan turunnya.”[10]

Abu Wail (أبو وائل) seorang perawi mengatakan, فما سمعت أحدا أنكر ذلك عليه “Tidak ada yang mengingkari pernyataan yang disampaikan olehnya (Hadhrat Abdullah bin Mas’ud).”[11]

Yang pertama diantara empat nama sahabat yang direkomendasikan Rasulullah (saw) untuk mempelajari Al-Qur’an dari mereka adalah Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, اسْتَقْرِئُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ.”[12]

Dalam buku pengantar untuk mempelajari Al-Qur’an, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Karena kecintaan untuk menghafal Al-Qur’an semakin tinggi di dalam diri orang-orang, Rasulullah (saw) menetapkan satu kelompok guru Al-Qur’an. Mereka menghafal seluruh Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) dan mengajarkannya kepada orang lain. Keempat orang tersebut adalah pengajar unggulan yang tugasnya mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) dan mengajarkannya kembali kepada orang-orang. Kemudian para sahabat yang belajar dari beliau-beliau pun mengajarkannya lagi kepada murid-muridnya. Daftar nama keempat guru itu adalah Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abi Huzaifah, Muadz bin Jabal dan Ubai bin Ka’ab.

Diantara mereka dua nama pertama adalah muhajirin dan dua nama yang kedua adalah dari Anshar. Abdullah bin Mas’ud adalah seorang pekerja (kuli), Salim seorang budak belian yang dibebaskan, sedangkan Mu’adz bin Jabal dan Ubai bin Kaab adalah para pemuka Madinah. Seolah-olah Rasulullah (saw) memperhatikan seluruh grup dan dari setiap grup ditetapkan qorinya.

Terdapat dalam hadits bahwa Rasulullah (saw) bersabda, خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ـ فَبَدَأَ بِهِ ـ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَأُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ‏”‏‏.‏ Khudzul Quraana min arba’ah min Abdillaahi ibni Mas’ud, wa Salim maula Abi Hudzaifah wa Mu’adz ibni Jabal wa Ubay bni Ka’b. Orang yang ingin mempelajari Al-Qur’an, dapat mempelajarinya dari keempat orang tersebut yakni Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abi Huzaifah, Muadz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab.[13]

Keempat orang ini mempelajari seluruh Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) atau memperdengarkan bacaannya kepada Rasulullah (saw) lalu diperbaiki. Namun selain mereka pun banyak juga para sahabat yang mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) secara langsung, sebagaimana dalam riwayat dikatakan bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas’ud membaca Al-Quran dengan suatu gaya, lalu Hadhrat Umar menghentikan bacaannya dan berkata, ‘Bukan begitu bacanya, tapi begini.’

Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Tidak, Rasulullah (saw) lah yang mengajarkan demikian kepada saya.’

Kemudian, Hadhrat Umar mengajak beliau ke hadapan Rasulullah (saw) dan berkata, ‘Wahai Rasul! Orang ini keliru bacaan Qurannya.’

Rasul yang mulia (saw) bersabda, ‘Abdullah! Coba bacakan.’

Ketika dibacakan oleh Abdullah, Rasulullah (saw) bersabda, ‘Bacaannya benar.’

Hadhrat Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Bukankah Anda telah mengajarkan cara baca kata tersebut kepada saya dengan cara yang beda?’

Beliau (saw) bersabda, ‘Cara baca yang kamu lakukan pun benar.’”[14]

Atas dasar itu Hadhrat Mushlih Mau’ud menyimpulkan bahwa tidak hanya keempat sahabat itu saja yang mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) bahkan para sahabat lain pun belajar dari Rasulullah (saw). Sebagaimana yang Hadhrat Umar katakan bahwa Rasulullah (saw) mengajarkan bacaan Al-Qur’an dengan cara yang berbeda. Hadhrat Umar pun memberitahukan bahwa beliau (ra) belajar Al-Qur’an secara langsung dari Rasulullah (saw) juga. [15]

Dalam satu riwayat dikatakan, كَانَ أَوَّلَ مَنْ جَهَرَ بِالْقُرْآنِ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ, “Orang pertama  setelah Rasulullah (saw) yang membaca Al-Qur’an secara terang-terangan di Makkah adalah Abdullah bin Mas’ud.”

Sebagaimana terdapat kisah suatu ketika para sahabat berkumpul, salah seorang berkata, “Orang Quraisy belum pernah mendengarkan Tilawat Al-Qur’an dengan suara tinggi, apakah ada orang yang dapat mengumandangkannya?”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud berkata, “Saya bisa.”

Orang-orang mengatakan, “Kami khawatir jangan sampai orang Kafir akan menganiayamu karena Abdullah ini seorang kuli biasa. Jika ada orang berpengaruh diantara umat Muslim yang dapat melakukannya akan lebih baik. Nantinya jika ada orang kafir yang akan memukulinya, maka kawan kawan dari kabilahnya akan menolongnya.

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mengatakan, دَعُونِي ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ سَيَمْنَعُنِ “Jangan khawatir, Allah akan menyelamatkan saya.”

Sungguh mengherankan melihat gejolak yang ada dalam diri para sahabat. Pada keesokan harinya, waktu matahari sepenggalah beliau pergi ke maqam Ibrahim dan mulai menilawatkan Al-Qur’an dengan suara tinggi. Beliau mulai membaca, بِسمِ اللّهِ الرحمنَ الرحيمِ- رافِعاً بها صَوْتَهُ- الرَّحْمنُ عَلَّمَ الْقُرآنَ، خَلَقَ الانْسَانَ، عَلَّمَهُ الْبَيَانَ…  “Bismillaahirrahmaanirraahiim – dengan suara nyaring lalu – Arrahmaanu allamal Quraan…”

Penduduk Quraisy yang tengah duduk dalam majlis mereka merasa keheranan dengan amalan tersebut. Sebagian mengatakan bahwa orang ini tengah membacakan kalimat-kalimat yang biasa dibacakan oleh Muhammad (saw). Mendengar itu, mereka semua bangkit lalu menampar wajah beliau. Namun beliau terus melantunkannya dan terus membacanya sampai yang diinginkan.

Setelah Abdullah bin Mas’ud kembali kepada para sahabat, melihat bekas tamparan pada wajah Abdullah, sahabat bertanya, “Itulah yang kami khawatirkan jangan sampai mereka memukulimu.”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mengatakan, مَا كَانَ أَعْدَاءُ اللَّهِ أَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْهُمُ الآنَ ، وَلَئِنْ شِئْتُمْ لأُغَادِيَنَّهُمْ بِمِثْلِهَا “Sesungguhnya para musuh Tuhan ini tidak pernah sedemikian rupa tanpa hakikat dalam pandanganku, seperti ketika memukuliku tadi. Jika kalian ingin, aku akan pergi lagi besok untuk melakukan hal yang sama.”

Para sahabat berkata, حَسْبُكَ فَقَدْ أَسْمَعْتُهُمْ مَا يَكْرَهُونَ “Tidak! Sudah cukup. Kamu telah memperdengarkan sesuatu yang tidak ingin mereka dengar.”[16]

Setelah baiatnya Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, Hadhrat Rasulullah (saw) mengajaknya tinggal dekat. Beliau (ra) selalu mengkhidmati Rasulullah (saw). Nabi yang mulia (saw) bersabda pada beliau, “Kapan pun kamu mendengar panggilanku dan pardah (pintu atau kain penghalang) dalam kondisi tidak tertutup, masuklah tanpa harus meminta izin.”

Itu artinya, “Jika pardah di rumah tengah tertutup, janganlah masuk tanpa izin. Sebaliknya jika pardah terbuka, pintu terbuka dan mendengar panggilanku, masuklah tanpa perlu minta izin. Maksudnya saat itu sedang tidak ada wanita.”

Beliau (ra) selalu membantu Rasulullah (saw) mengerjakan pekerjaan rumah seperti memakaikan sepatu Rasul. Kapan pun diperlukan untuk menemani perjalanan, beliau (saw) mengajaknya. Ketika Rasulullah (saw) mandi, beliau terus berdiri menutupi dengan pardah (kain). Diantara para sahabat, beliau (ra) terkenal dijuluki dengan sebutan Sahibus siwaak (صاحب السواك, yang menyimpan sikat pembersih gigi).[17]

Berdasarkan riwayat lainnya beliau (ra) disebut Sahibus siwaak (صاحب السواك), sahibul wasaad (صاحب الوساد) dan juga sahibun na’lain (صاحب النعلين).[18]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud adalah penjaga rahasia RasuluLlah (saw), selalu memasangkan kasur (mengelarkan tikar) untuk Rasul, membawakan siwak dan na’lain (terompah, sandal) Rasul dan sebagainya. Istilah Bahasa Arab dalam kata-kata tadi artinya pemasang alas tidur (tikar), pembawa miswak, dan orang yang membantu untuk berwudhu dan mandi.

Shahibus Sawaad karena beliau biasa memasang alas tidur untuk Rasulullah (saw), Sahibun na’lain karena beliau biasa menyiapkan dan memperbaiki terompah beberkat Rasul, juga menyiapkan air untuk wudhu. Jika RasuluLlah (saw) melakukan safar dengan beliau, maka beliaulah yang melakukan tugas-tugas tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu Malih (أبي المليح) bahwa ketika Rasulullah (saw) mandi, Hadhrat Abdullah bin Mas’ud biasa memasangkan tutupan kain untuk Rasulullah (saw) dan ketika Rasulullah (saw) tidur, beliau biasa membangunkan Rasulullah (saw). Ketika melakukan perjalanan bersama Rasul, beliau (ra) selalu membawa lengkap peralatan.[19]

Hadhrat Abu Musa Al-Asy’ariy radliallahu ‘anhu (أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) meriwayatkan, قَدِمْتُ أَنَا وَأَخِي مِنْ الْيَمَنِ فَمَكُثْنَا حِينًا مَا نُرَى إِلَّا أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا نَرَى مِنْ دُخُولِهِ وَدُخُولِ أُمِّهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Ketika kami baru baru datang dari Yaman, kami beranggapan Abdullah bin Mas’ud termasuk Ahli Bait (keluarga) Rasul (saw) karena Abdullah bin Mas’ud dan ibunda beliau sering keluar-masuk rumah Rasul [sering berada di rumah Nabi saw).”[20]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud ikut serta dalam kedua hijrah yakni pada hijrah ke Habsyah dan Madinah. Beliau ikut serta menyertai Rasulullah (saw) dalam perang Badr, Uhud, Khandak, baiat Ridwan dll. Paska kewafatan Rasulullah (saw), beliau pun ikut serta pada perang Yarmuk. Beliau juga termasuk diantara sahabah yang semasa hidup telah dikabarkan Rasulullah (saw) akan masuk surga.

Dalam mengakhiri kehidupan Abu Jahl pun Hadhrat Abdullah bin Mas’ud memiliki peran. Diriwayatkan oleh Hadhrat Anas bahwa ketika berakhirnya perang Badr, Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, مَنْ يَنْظُرُ لَنَا مَا صَنَعَ أَبُو جَهْلٍ “Apakah ada yang bisa memberikan kabar yang benar mengenai Abu Jahl?”

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud lalu pergi dan mendapati Abu Jahl tengah terluka parah dan sekarat di medan perang. Dua pemuda putra Afra (ابْنَا عَفْرَاءَ) adalah yang telah membuatnya seperti itu. Sambil memegang janggutnya, Hadhrat Abdullah bin Mas’ud berkata, آنْتَ أَبُو جَهْلٍ “Apakah kamu yang bernama Abu Jahl?”

Dalam kondisi demikian pun Abu Jahl menjawab dengan nada sombong, وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ أَوْ قَالَ قَتَلَهُ قَوْمُهُ “Apakah kamu pernah membunuh seorang pemimpin yang lebih hebat dariku?”[21] Riwayat ini tercantum di Bukhari.

Dalam riwayat Sahih Muslim tertulis bahwa Hadhrat Abdullah bin Mas’ud memegang janggutnya dan berkata, “Apakah kamu Abu Jahl?”

Abu Jahl menjawab, “Apakah sebelum ini kamu pernah membunuh seorang pembesar sepertiku?”

Perawi mengatakan bahwa Abu Jahl berkata, فَلَوْ غَيْرُ أَكَّارٍ قَتَلَنِي “Seandainya saja aku terbunuh bukan di tangan seorang petani.”[22]

Dua orang pemuda dari Madinah-lah yang telah menumbangkannya.

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani (ra) menulis lebih rinci dalam tafsir Kabir, “Bagaimana musuh yang seumur hidupnya terbakar dalam api kedengkian dan ketika matipun mereka masih terbakar dalam api tersebut. Hadhrat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa paska perang saya melihat Abu Jahl tengah merintih di suatu sempat disebabkan oleh luka parah. Lalu saya menghampirinya dan bertanya, ‘Bagaimana kabarmu?’

Dia menjawab, ‘Aku tidak menyedihkan kematianku, karena pada akhirnya seorang pejuang selalu mati. Yang aku sedihkan adalah aku terbunuh di tangan dua pemuda Anshar Madinah. Berbuatlah baiklah padaku dengan hanya penggallah leherku supaya rasa sakitku hilang. Namun tolong sedikit sisakan panjang leherku, karena leher para jenderal biasanya disisakan panjang ketika dipenggal.’

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Aku tidak akan pernah membiarkan hasrat terakhirmu ini terpenuhi, untuk itu aku akan penggal lehermu mendekati dagu.’

Memang beliau melakukannya seperti itu.

Coba perhatikan betapa besarnya api kedengkian yang bergejolak dalam diri Abu Jahl. Sepanjang umur dia diliputi rasa dengki karena segala keinginannya untuk menimpakan kerugian kepada Muhammad (saw) tidak pernah berhasil. Lantas ketika akan mati dia terbakar oleh amarah karena terbunuh di tangan dua orang pemuda yang tidak berpengalaman begitu juga permintaan terakhir ketika akan mati, tidak kunjung terpenuhi yakni dia dipenggal dengan menyisakan bagian leher sedikit saja. Walhasil, dia meregang nyawa dalam kondisi terbakar dalam berbagai macam api kemarahan.”[23]

Ketika Hadhrat Abdullah bin Mas’ud hijrah ke Madinah, beliau tinggal di rumah Hadhrat Mu’adz bin Jabal. Sebagian orang berpendapat bahwa beliau tinggal di rumah Hadhrat Sa’ad bin Khaitsamah. Di Makkah beliau dijalinkan persaudaraan dengan Hadhrat Zubair bin Awwam. Sedangkan di Madinah beliau dijalinkan persaudaraan ruhani dengan Hadhrat Mu’adz bin Jabal.

Pada masa permulaan tinggal di Madinah, kondisi ekonomi beliau tidak baik. Sebagaimana ketika Hadhrat Rasulullah (saw) memberikan fasilitas tempat tinggal untuk para muhajir di dekat masjid Nabawi, beberapa orang dari Banu Zuhrah memperlihatkan rasa enggan untuk mengajak Hadhrat Abdullah bin Mas’ud tinggal bersama mereka, karena beliau adalah seorang kuli (buruh) miskin. Mereka menganggap diri kaya.

Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) mengetahui hal tersebut, beliau (saw) memperlihatkan rasa ghairatnya untuk sang khadim tersebut dan bersabda, فلم يبعثني الله إذا إن الله لا يقدس قوما لا يعطي الضعيف منهم حقه “Apakah Tuhan mengutus saya supaya kalian membeda-bedakan? Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan mencurahkan keberkatan kepada suatu kaum yang di dalamnya orang lemah tidak diberikan haknya.”

Lalu Rasulullah (saw) memberikan memberikan tempat pada Abdullah bin Mas’ud yang dekat dengan masjid Nabawi, sedangkan Banu Zuhrah di tempat di pojok belakang masjid.[24]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Suatu ketika Rasulullah (saw) bersabda kepada saya, اقْرَأْ عَلَىَّ ‘Perdengarkanlah surat An-Nisa pada saya.’

Lalu saya menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ “Apalah artinya saya sehingga harus memperdengarkan kepada Anda, karena surat tersebut turun kepada Anda.”

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي “Saya menyukai jika ada orang lain yang menilawatkannya dan saya menyimaknya.”

Lalu saya mulai membacanya dan ketika tiba pada ayat فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا‏ Fakaifa idza ji’naa min kulli ummatin bisyahiidin wa ji’na bika alaa haaulaai syahiidaa.’ – ‘Bagaimana jika Kami (Allah) telah mendatangkan untuk tiap umat saksinya dan menjadikanmu sebagai saksi atas semua umat itu?’, saya melihat Nabi (saw) bercucuran air mata.”[25]

Dalam suatu riwayat dikatakan beliau bersabda, حَسْبُكَ الْآنَ “Cukup sudah!”[26]

Suatu ketika Hadhrat Umar Faruq terhenti di daerah Arafat, ada seseorang yang datang menghadap beliau dan berkata, يا أمير المؤمنين، جئتك من الكوفة وتركت بها رجلا يملي المصاحف عن ظهر قلبه “Wahai Amirul Mukminiin! Saya berasal dari Kufah, saya melihat di sana ada seseorang yang mengimla’ (mendiktekan) Al-Qur’an tanpa melihatnya [tanpa melihat tulisan].”[27]

Lalu Hadhrat Umar bertanya dengan nada marah dalam tradisi Arab, من هو , ويحك ؟ “Siapa gerangan orang itu?”

Sambil ketakutan orang itu berkata, هو عبد الله بن مسعود “Abdullah bin Mas’ud.”

Mendengar nama beliau, amarah Hadhrat Umar mendingin seperti semula lalu bersabda, ويحك، والله ما أعلم بقي من الناس أحد هو أحق بذلك منه، وسأحدثك عن ذلك “Saya tidak menetapkan orang lain lebih berhak dalam tugas tersebut daripada Abdullah bin Mas’ud.”[28] Maksudnya, beliau dapat menulis ayat Al-Qur’an tanpa melihat.

Hadhrat Umar selanjutnya meriwayatkan, أَنَّا سَمَرْنَا لَيْلَةً فِي بَيْتٍ عِنْدَ أَبِي بَكْرٍ فِي بَعْضِ مَا يَكُونُ مِنْ حَاجَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ خَرَجْنَا وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي بَكْرٍ، فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَى الْمَسْجِدِ إِذَا رَجُلٌ يَقْرَأُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَمِعُ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ أَعْتَمَتْ، فَغَمَزَنِي بِيَدِهِ: اسْكُتْ، قَالَ: فَقَرَأَ وَرَكَعَ وَسَجَدَ وَجَلَسَ يَدْعُو وَيَسْتَغْفِرُ “Suatu ketika saya beserta dengan Hadhrat Rasulullah (saw) dan Hadhrat Abu Bakar melewati rumah Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, saat itu beliau tengah melaksanakan shalat nafal dan menilawatkan Al-Qur’an ketika berdiri. Lalu Nabi yang mulia (saw) berdiri mendengarkan tilawat beliau Ra. Kemudian Hadhrat Abdullah bin Mas’ud ruku dan sujud. Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, سَلْ تُعْطَهْ ‘Wahai Abdullah, apapun yang kamu minta saat ini, akan dikabulkan.’”[29]

Lalu Rasulullah (saw) beranjak dari sana dan bersabda, مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ ، فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ “Orang yang merasa bahagia jika dia dapat membaca Quran Karim dengan segar seperti ketika diturunkan maka orang tersebut hendaknya belajar Al-Qur’an dari Abdullah bin Mas’ud.”

Hadits ini terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal.[30]

Hadhrat Abdur Rahman bin Yazid (عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ) meriwayatkan bahwa kami pergi kepada Hadhrat Hudzaifah dan berkata, أَتَيْنَا عَلَى حُذَيْفَةَ فَقُلْنَا حَدِّثْنَا مَنْ أَقْرَبُ النَّاسِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ هَدْيًا وَدَلًّا فَنَأْخُذَ عَنْهُ وَنَسْمَعَ مِنْهُ “Beritahukanlah kepada kami alamat (tanda-tanda) orang yang memiliki perilaku paling mendekati dengan sunnah Rasulullah (saw), supaya kami dapat menuntut ilmu darinya dan mendengarkan hadits-hadits darinya.”

Beliau mengatakan, كَانَ أَقْرَبُ النَّاسِ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ ابْنُ مَسْعُودٍ “Yang paling mendekati dengan Sunnah Rasulullah (saw) adalah Abdullah bin Mas’ud.”[31]

Berkenaan dengan kecintaan beliau dalam mengamalkan Sunnah Rasulullah (saw) dapat tergambar dari satu riwayat paska kewafatan Rasulullah (saw). Ketika para sahabat ditanya, سَأَلْنَا حُذَيْفَةَ عَنْ رَجُلٍ قَرِيبِ السَّمْتِ وَالْهَدْيِ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى نَأْخُذَ عَنْهُ “Siapa diantara kalangan kalian (para sahabat) yang memiliki perilaku paling mendekati Sunnah dan kebiasaan Rasulullah (saw), supaya dapat kami amalkan juga.”

Maka Hadhrat Hudzaifah berkata, مَا أَعْرِفُ أَحَدًا أَقْرَبَ سَمْتًا وَهَدْيًا وَدَلًّا بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ “Menurut hemat saya dari sisi perilaku, kebiasaan, ucapan dan akhlak yang paling mendekati dengan kebiasaan Rasulullah (saw) adalah putra Ummu Abdin (Abdullah bin Mas’ud).”[32]

Mungkin karena itulah Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ‘Saya mencintai sesuatu untuk diamalkan di dalam umat saya apa-apa yang dicintai Abdulah bin Mas’ud.’”[33] (Diriwayatkan di dalam Bukhari)

Hadhrat Al-Qamah meriwayatkan, “Sikap, keindahan akhlak dan kesederhanaan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud disamakan dengan Hadhrat Rasulullah (saw).”[34]

Putra Hadhrat Abdullah bin Mas’ud yang bernama Ubaidullah meriwayatkan, “Kebiasaan beliau ialah ketika orang tertidur, beliau bangun untuk tahajjud. Suatu malam saya pernah mendengar beliau bersenandung sampai pagi seperti yang dilakukan oleh lebah maksudnya beliau tengah berdoa dengan suara yang kecil disertai senandung atau sedang tilawat.”[35]

Hadhrat Ali meriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, لَوْ كُنْتُ مُؤَمِّرًا أَحَدًا مِنْ غَيْرِ مَشُورَةٍ لَأَمَّرْتُ ابْنَ أُمِّ عَبْدٍ “Jika saya menunjuk seseorang sebagai Amir tanpa musyawarah, maka saya akan menunjuk Ibn Ummu ‘Abdin (Abdullah bin Mas’ud).”[36]

Pada tempat lain pernyataan Hadhrat Ali tersebut disampaikan dalam corak lain yang mana itu tercantum di dalam kitab Thabaqatul Kubra tertulis, “Diriwayatkan oleh Hadhrat Ali Ra, ‘Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada saya, لو كنتُ مُؤمَرًا أحدًا دون شورى المسلمين لأمرتُ ابن أم عبد “Jika saya menunjuk seseorang untuk menjadi Amir tanpa majlis musyawarah umat Muslim, maka saya akan menunjuk Ibn Ummu ‘Abdin (Abdullah bin Mas’ud).”’”[37]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, “Paska baiat masuk Islam saya tidak pernah tidur pada saat matahari sepenggalah [yaitu waktu Dhuha sebelum tengah hari].”[38]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud sangat mencintai anak dan istri, ketika beliau memasuki rumah biasanya beliau mengeluarkan suara dari tenggorokan dan berbicara dengan suara tinggi supaya orang rumah menjadi tahu.

Istri beliau Hadhrat Zainab meriwayatkan, جَاءَ ذَاتَ يَوْمٍ فَتَنَحْنَحَ وَعِنْدِي عَجُوزٌ تَرْقِينِي “Suatu hari Abdullah masuk ke rumah, saat itu ada seorang wanita tua tengah memakaikan jimat pada saya.”

Terkadang para wanita memiliki kebiasaan memasang jimat mungkin tujuannya untuk mendapatkan keberkatan.

Istri beliau mengatakan, “Saya tahu bahwa suami saya tidak menyukai hal-hal demikian, untuk itu karena saya takut dengan beliau, lalu saya sembunyikan jimat itu di bawah ranjang. Kemudian, suami saya duduk di dekat saya. Setelah melihat leher saya beliau bertanya, ‘Untuk apa benang ini, apakah kamu memasangnya di leher?’

Saya (istri Abdullah ibn Mas’ud) menjawab, ‘Ini jimat.’

Saat itu juga Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mematahkannya dan membuangnya lalu berkata, إِنَّ آلَ عَبْدِ اللَّهِ لَأَغْنِيَاءُ عَنْ الشِّرْكِ. سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ شِرْكٌ ‘Keluarga Abdullah bersih dari perbuatan syirk. Saya mendengar dari Rasulullah (saw) bahwa jimat termasuk perbuatan syirik.’

Istri beliau berkata, ‘Apa yang anda katakan? Mata saya bengkak, untuk itu saya biasa memesan jimat dari orang Yahudi. Terkadang mata saya merasa sakit dan bengkak lalu mengeluarkan air mata sehingga saya gunakan ini dari orang Yahudi karena dengan memasangnya saya merasa lebih baik.’

Abdullah bin Mas’ud mengatakan pada saya, ‘Semua itu adalah perbuatan setan. Doa Rasulullah (saw) ini cukup bagimu yaitu, أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًاAdzhibil basa Rabban naasi isyfi antasy Syaafii laa syifaaan illaa syifaauka, syifaaan kaamilan laa yughadiru saqamaa. Wahai pelindung Manusia! Jauhkanlah penderitaanku ini. Sembuhkanlah aku, hanya Engkaulah yang Maha Penyembuh. Tidak ada yang lebih mujarab selain dari penyembuhan Engkau penyembuhan yang tidak ada penyakit yang luput darinya.”’”[39]

Perihal orang-orang yang pergi ke tempat para dukun atau sejenisnya, mereka yang sepanjang hari menghirup ganja dan sejenisnya, tidak pernah shalat lalu orang-orang seperti itu dimintai jimat lantas kita mengatakan bahwa setelah mendapatkan jimat darinya jadi sembuh atau mendapatkan karunia atau mendapatkan anak atau begini dan begitu. Riwayat Hadhrat Abdullah bin Mas’ud ini merupakan jawaban bagi orang-orang seperti itu.

Suatu ketika Hadhrat Abdullah bin Mas’ud pergi untuk menemui kawannya, Abu Umair (أَبُو عُمَيْرٍ). Kebetulan kawan tersebut tengah tidak ada. Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mengucapkan salam kepada istri Umair dan meminta air minum. Di rumahnya sedang tidak ada air minum.

Istrinya itu menyuruh pelayannya seorang budak untuk meminta air ke tetangga. Namun sang pelayan itu tidak kembali sampai cukup lama. Melihat hal itu istri Umair mengatakannya pemalas dalam corak melaknat sang pelayan. Mendengar hal itu Hadhrat Abdullah pulang dalam keadaan haus.

Keesokan harinya Abdullah bertemu dengan Abu Umar yang menanyakan kepada Hadhrat Abdullah, يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَيْسَ مِثْلُكَ يُغَارُ عَلَيْهِ هَلَّا سَلَّمْتَ عَلَى أَهْلِ أَخِيكَ وَجَلَسْتَ وَأَصَبْتَ مِنْ الشَّرَابِ “Kenapa pulang cepat tanpa minum air terlebih dahulu?”

Beliau menjawab, قَدْ فَعَلْتُ فَأَرْسَلَتْ الْخَادِمَ فَأَبْطَأَتْ إِمَّا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُمْ وَإِمَّا رَغِبُوا فِيمَا عِنْدَهُمْ فَأَبْطَأَتْ الْخَادِمُ فَلَعَنَتْهَا وَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ “Ketika istrimu melaknat pelayan itu, saya teringat pada sabda Rasulullah (saw) yang menyatakan, إِنَّ اللَّعْنَةَ إِلَى مَنْ وُجِّهَتْ إِلَيْهِ فَإِنْ أَصَابَتْ عَلَيْهِ سَبِيلًا أَوْ وَجَدَتْ فِيهِ مَسْلَكًا وَإِلَّا قَالَتْ يَا رَبِّ وُجِّهْتُ إِلَى فُلَانٍ فَلَمْ أَجِدْ عَلَيْهِ سَبِيلًا وَلَمْ أَجِدْ فِيهِ مَسْلَكًا فَيُقَالُ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْت  ‘Bila seseorang melaknat (mengutuk) seseorang lainnya dan orang yang dilaknat terbukti tidak bersalah maka laknat tersebut akan kembali kepada yang mengucapkannya.’

Lantas saya berfikir, jika sang pelayan tidak bersalah, lantas kenapa pula harus menjadi penyebab atas kembalinya laknat tersebut. Untuk itu lebih baik saya pergi tanpa minum.”[40]

Demikianlah rasa takut beliau pada Allah Ta’ala, ketika ada sedikit saja kekhawatiran munculnya murka Ilahi karena sesuatu hal lalu mereka menghindarkan diri darinya.

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud bertubuh pendek dan kurus berwarna gandum namun beliau biasa memakai pakaian yang baik, berwarna putih dan memakai wangi-wangian. Hadhrat Thalhah (عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُحَادَةَ ، عَنْ طَلْحَةَ) meriwayatkan, كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُعْرَفُ بِاللَّيْلِ بِرِيحِ الطِّيبِ “Beliau dapat dikenal dengan aroma wanginya.”[41]

Hadhrat Ali meriwayatkan, “Suatu ketika Hadhrat Rasulullah (saw) memerintahkan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud untuk memanjat pohon untuk suatu tugas, lalu melihat tubuh yang secara lahiriah kurus, lemah dan berbetis kecil para sahabat mentertawakan beliau.

Melihat hal itu Rasulullah (saw) bersabda, مَا تَضْحَكُونَ ؟ لَرِجْلُ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أُحُدٍ ‘Kenapa kalian tertawa? Timbangan kebaikan Abdullah pada hari kiamat akan lebih berat daripada gunung Uhud sekalipun.’”[42]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud biasa berambut sampai ke telinga. Dalam satu riwayat malah dikatakan bahwa rambut beliau sampai ke leher. Ketika menunaikan shalat biasanya beliau menempatkan rambutnya ke belakang telinga.[43]

Zaid bin Wahb (زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ) meriwayatkan, “Suatu ketika saya tengah duduk di dekat Hadhrat Umar. Tidak lama kemudian datanglah Hadhrat Abdullah bin Mas’ud. Karena beliau bertubuh pendek, jadinya beliau hampir tidak tampak karena terhalang oleh tubuh orang lain yang berpostur tinggi. Ketika Hadhrat Umar melihat beliau, tersenyum lalu berbicara kepada Hadhrat Abdullah sambil tertawa-tawa.

Saat itu Hadhrat Abdullah bin Mas’ud tetap berdiri supaya tampak oleh Hadhrat Umar. Setelah Hadhrat Abdullah beranjak dari tempat itu, Hadhrat Umar melihat beliau dan terus memandangi dari belakang sampai beliau hilang dari pandangan. Lalu Hadhrat Umar bersabda, كُنَيْفٌ مُلِئَ عِلْمًا ، كُنَيْفٌ مُلِئَ عِلْمًا ، كُنَيْفٌ مُلِئَ عِلْمًا  ‘Orang tersebut merupakan wadah besar yang dipenuhi dengan kedalaman pemahaman (ilmu).’”[44]

Bagaimana maqam keilmuan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud dapat diperkirakan ketika tiba saatnya kewafatan Hadhrat Mu’adz bin Jabal dan saat menjelang akhir hayat beliau dimintakan nasihat, lantas beliau bersabda, إِنَّ العلمَ والإِيمانَ مكانَهُما مَنَ ابْتَغَاهُما وجدَهُما يقولُ ذلكَ ثلاثَ مراتٍ والتَمِسُوا العلمَ عندَ أربعَةِ رَهْطٍ عندَ عُوَيْمِرٍ أبي الدَّرْدَاءِ وعندَ سَلْمانَ الفَارِسِيِّ وعندَ عَبْدِ اللهِ بنِ مسعودٍ وعندَ عَبْدِ اللهِ بنِ سَلامٍ الذي كان يَهودِيًّا فَأسلمَ فإني سَمِعْتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ يقولُ إنَّهُ عَاشِرُ عشرَةٍ في الجنةِ “Ilmu dan keimanan memiliki satu maqam (suatu kedudukan tersendiri). Siapa yang berusaha untuk meraih keduanya maka dia akan berhasil.”

Empat nama sahabat yang Alim dan mengamalkan ilmunya yang disebut oleh Hadhrat Muadz bin Jabal untuk menimba ilmu darinya salah satunya adalah Hadhrat Abdullah bin Mas’ud.[45]

Sepeninggal Rasulullah (saw), Hadhrat Umar mengutus beliau ke Kufah sebagai Murabbi untuk memberikan talim dan tarbiyat, sedangkan Hadhrat Ammar bin Yasir diutus sebagai gubernur (Wali atau Amir). Beliau (ra) lalu menuliskan juga pesan untuk penduduk Kufah, “Kedua sahabat ini merupakan orang pilihan Rasulullah (saw), orang khusus dan merupakan sahabat Badr. Ikutilah mereka, taatilah pada perintahnya dan dengarkanlah perkataannya. Saya menganggap Abdullah bin Mas’ud lebih baik bagi kalian dari pada bagi diri saya sendiri.”[46]

Ketika Hadhrat Abdullah bin Mas’ud tengah sakit pada saat-saat terakhir, Hadhrat Utsman (ra) pergi menjenguk beliau dan bertanya, ما تشتكي ؟ “Apakah yang Anda keluhkan?”

Beliau menjawab, ذنوبي “Jika Anda menanyakan keluhan saya maka saya mengeluh akan dosa-dosa. Betapa banyaknya dosa yang telah saya lakukan.”

Kemudian, Hadhrat Utsman (ra) bertanya lagi, فما تشتهي ؟  “Apakah Anda menginginkan sesuatu?”

Beliau menjawab, رحمة ربي “Saya mengharapkan rahmat dari Yang Maha Pelindung.”

Hadhrat Utsman (ra) bertanya, ألا ندعو لك الطبيب ؟ “Maukah saya panggilkan tabib untuk anda?”

Beliau menjawab, الطبيب أمرضني “Justru tabiblah yang telah membuat saya sakit.” Artinya, “Saya ridha atas keridhaan Allah yang tengah terjadi.”

Hadhrat Utsman (ra) bertanya lagi, ألا آمر لك بعطائك ؟  “Maukah saya tetapkan tunjangan untuk anda?”

Beliau menjawab, منعتنيه قبل اليوم فلا حاجة لي فيه “Saya tidak memerlukannya.”

Hadhrat Utsman (ra) bertanya, تدعه لأهلك وعيالك “Itu akan berguna bagi istri dan putra-putri Anda.”

Beliau menjawab, إني قد علمتهم شيئا إذا قالوه لم يفتقروا ، سمعت رسول الله  يقول   “Apakah Anda meragukan putra-putri saya akan menjadi peminta-minta? Saya sudah memerintahkan mereka untuk selalu membaca surah Al-Waqi’ah setiap malam. Saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda, من قرأ الواقعة كل ليلة لم يفتقر ‘Siapa yang setiap hari membaca surat Al-Waqiah di malam hari, dia sama sekali tidak akan pernah mengalami musibah kelaparan.’”[47]

Demikianlah kondisi ketawakkalan dan sifat qanaah yang dimiliki oleh bintang-bintang yang berkilau itu.

Salamah bin Tamam (سلمة بن تمام) mengatakan ada seorang yang menemui Hadhrat Abdullah bin Mas’ud lalu menceritakan mimpinya sebagai berikut, لا تعدم حالماً مذّكراً، رأيتك البارحة ورأيت النبي صلى الله عليه وسلم على منبر مرتفع، وأنت دونه “Pada malam tadi saya melihat Anda dalam mimpi dan juga Hadhrat Rasulullah (saw) yang tengah duduk di mimbar yang tinggi. Anda (Hadhrat Abdullah bin Mas’ud) berada di bawah mimbar itu.

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, يا ابن مسعود، هلم إلي، فلقد جفيت بعدي ‘Wahai ibnu Mas’ud! Datanglah padaku, engkau telah memperlihatkan ketiadaan perhatian sepeninggalku.’

Abdullah ibn Mas’ud bertanya kepada orang itu, ‘Demi Tuhan! Apakah kamu melihat mimpi seperti itu?’

Orang itu menjawab, ‘Ya.’

Lalu beliau (ra) berkata, فعزمت أن تخرج من المدينة حتى تصلي علي ‘Apakah Anda datang dari Madinah untuk menyalatkan jenazah saya?’ Artinya, ‘Telah tiba saatnya kematian saya.’

Selang beberapa masa setelah mimpi itu beliau wafat.”[48]

Namun, sebelum wafat ketika Hadhrat Utsman (ra) mendapatkan kabar bahwa Abdullah sakit, lalu Abdullah dipanggil dari Kufah ke Madinah. Penduduk Kufah meminta beliau (ra) untuk tetap tinggal di Kufah dan mengatakan juga bahwa kami akan menjaga anda.

Namun ketika tidak ada penyakit, mungkin Hadhrat Utsman (ra) memanggil beliau begitu saja. Saat itu tampaknya Hadhrat Abdullah sehat yakni ketika orang itu menceritakan mimpinya. Setelah itu terjadilah peristiwa tersebut yakni Hadhrat Utsman (ra) memanggil beliau dari Kufah ke Madinah, meskipun penduduk Kufah menghendaki beliau (ra) tetap tinggal di Kufah dan berjanji akan menjaga beliau.

Namun beliau berkata, إِنَّ لَهُ عَلَيَّ طَاعَةً “Perintah Khalifah dan taat pada beliau adalah penting bagi saya.”

Beliau pun mengatakan, وَأَنَّهَا سَتَكُونُ أُمُورٌ وَفِتَنٌ ، لا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ أَوَّلُ مَنْ فَتَحَهَا. فر الناس ، وخرج إِلَيْهِ “Akan terjadi fitnah (kekacauan) dan saya tidak menginginkan untuk menjadi penyebab kekacauan.”[49]

Setelah mengatakan demikian beliau berangkat menuju Khalifah. Beliau wafat pada tahun 32 Hijriyah di Madinah. Hadhrat Utsman (ra) memimpin shalat jenazah beliau lalu dikuburkan di Jannatul Baqi. Ketika wafat beliau berusia 60 tahun lebih sedikit.[50]

Berdasarkan riwayat lainnya ketika wafat beliau berusia 70 tahun lebih sedikit.[51]

Saat kewafatan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa (أبو موسى) mengatakan kepada Abu Mas’ud (أبو مسعود), أَتُرَاهُ تَرَكَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ؟ “Apakah anda beranggapan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mewariskan orang yang memiliki kelebihan sama seperti beliau?”

Hadhrat Abu Mas’ud berkata, إِنْ قُلْتَ ذَاكَ، إِنْ كَانَ لَيُؤْذَنُ لَهُ إِذَا حُجِبْنَا، وَيَشْهَدُ إِذَا غِبْنَا “Ketika kami tidak diizinkan untuk masuk ke rumah Hadhrat Rasulullah (saw), saat itu Hadhrat Abdullah bin Mas’ud selalu mendapatkan izin untuk masuk dan ketika kami hilang dari majlis beliau, saat itu Hadhrat Abdullah bin Mas’ud mendapatkan taufik untuk mengkhidmati Rasulullah (saw) dan mendapatkan karunia untuk bergaul dengan beliau (saw). Lantas bagaimana mungkin ada orang yang memiliki kelebihan yang sama seperti beliau?”[52]

Hadhrat Abdullah bin Mas’ud benar-benar disiplin dalam mengamalkan Sunnah Rasul. Suatu ketika ditanyakan kepada Hadhrat Aisyah, يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ رَجُلَانِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ وَالْآخَرُ يُؤَخِّرُ الْإِفْطَارَ وَيُؤَخِّرُ الصَّلَاةَ “Diantara dua sahabat Rasulullah (saw), ada sahabat yang biasa menyegerakan berbuka puasa yakni ketika matahari terbenam langsung berbuka puasa dan segera mendirikan shalat yakni seketika setelah matahari terbenam. Sedangkan sahabat yang kedua melakukan kedua ibadah tersebut dengan menunda dibanding sahabat pertama. Bagaimana pendapat Anda mengenai hal itu?”

Hadhrat Aisyah bertanya, أَيُّهُمَا يُعَجِّلُ الْإِفْطَارَ وَيُعَجِّلُ الصَّلَاةَ “Siapa yang selalu menyegerakan berbuka puasa dan shalat?”

Dijawab, عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ “Hadhrat Abdullah bin Mas’ud biasa menyegerakannya.”

Hadhrat Aisyah bersabda kepada sahabat tersebut, كَذَاكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم “Apa yang dilakukan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud itu, adalah juga kebiasaan Rasulullah (saw).”[53]

Berkaitan dengan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud masih ada lagi riwayat dan peristiwa yang insya Allah akan saya sampaikan kemudian. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat melaksanakan teladan para bintang yang berkilau itu. [aamiin]

Penerjemah               : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid.

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) : http://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1] Ashhaab Badr oleh Qadhi Muhammad Sulaiman h. 182, Maktabah Islamiyah Lahore, 2015.

[2] Siratush Shahaabah jilid 3, h. 455, Darul Isyaat Karachi.

[3] Tarikh Madinah Dimasyq atau Sejarah Kota Damaskus (تاريخ مدينة دمشق), j. Ke 34, terbitan Abdul Baqi bin Ahmad dan Abdurrahman bin Qahthan (عبد الباقي بن أحمد – عبد الرحمن بن قحطان), Bahasan mengenai Abdurrahman ibn Sahl (عبد الرحمن بن سَهْل بن زَيْد بن كعب بن عامر بن عدي بن مَجْدَعة بن حارثة الأنصاري الحارثي); tercantum juga dalam ath-Thabaqaat al-Kubra (طبقات ابن سعد – ج 4 – الطبقة الثانية من المهاجرين والأنصار ممن لم يشهدوا); Subulul Huda war Rasyaad fi sirah khairil ‘ibaad (سبل الهدى والرشاد في سيرة خير العباد) karya Muhammad ibn Yusuf ibn Shalihi asy-Syami, w. 942 H, jilid 10 h. 771, bab ar-rabi’ (keempat), fi ma ‘allamahun Nabiyy saw li-Ashhaabihi, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1993. Al-Ishabah (الإصابة في تمييز الصحابة – ج 4 – عابد – عمرو بن طلق – 4327 – 5875); عَنِ ابْنِ شِهَابٍ الزُّهْرِيِّ قَالَ: «لَدَغَ بَعْضَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- حَيَّةٌ فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: ” هَلْ مِنْ رَاقٍ؟ ” فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّ آلَ حَزْمٍ كَانُوا يَرْقُونَ رُقْيَةَ الْحَيَّةِ، فَلَمَّا نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى تَرَكُوهَا فَقَالَ: “ادْعُوا عمارةَ بنَ حزمٍ” فَدَعَوْهُ فَعَرَضَ عَلَيْهِ رُقَاهُ فَقَالَ: “لَا بَأْسَ بِهَا” فَأَذِنَ لَهُ فِيهَا فَرَقَاهُ»

[4] Sirah ibn Hisyam (سيرة ابن هشام) dan ar-Raudh al-Anf (الروض الأُنف) bab (طَرْدُ الْمُنَافِقِينَ مِنْ مَسْجِدِ الرّسُولِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ).

[5] Nabi Ismail ‘alaihis salaam beribu Hajar yang bersuamikan Nabi Ibrahim ‘alaihis salaam. Hajar sendiri asal Mesir dari kalangan istana. Ismail (as) beristrikan wanita kalangan istana dari Mesir juga dan mempunyai 12 putra. Ke-12 putra ini berpencar di jazirah Arab. Kedar (Qaidar) bin Ismail ialah putra yang tinggal di Makkah dsk. Kedar nantinya punya keturunan yang salah satunya bernama Ilyas bin Mudhar. Ilyas menurunkan Banu Hudzail, Banu Tamim, Kinanah dll. Keturunan Kinanah inilah yang menurunkan Fihr bin Malik bin An-Nadhar bin Kinanah dan disebut Quraisy.

[6] Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim (حلية الأولياء لأبي نعيم), (عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ).

[7] Musnad Ahmad (مسند احمد – الإمام احمد بن حنبل – ج ١ – الصفحة ٣٧٩), Al-Mu’jamul Ausath karya ath-Thabrani (المعجم الأوسط للطبراني: 7621 وأحمد :  3598 و3599 واللفظ له); Shahih ibn Hibban (صحيح ابن حبان), (كِتَابُ إِخْبَارِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ مَنَاقِبِ الصَّحَابَةِ ، رِجَالِهُمْ ), (ذِكْرُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ الْهُذَلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), no. 7186.

[8] Musnad Ahmad nomor 3595.

[9] Sirah Khataman Nabiyyin, h. 124.

Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat (2/219), Imam Nawawi mewartakan kepada pembacanya percakapan antara Imam Abu Hanifah dan juga Abi Ja’far al-Manshur yang ketika itu menjadi khalifah ‘Abbasiyah; قال أبو حنيفة: دخلت على أبي جعفر أمير الموُمنين، فقال لي: يا أبا حنيفة عن من أخذت العلم؟ فقلت: عن حماد (يعني ابن أبي سليمان) عن إبراهيم (يعني النخعي) عن عمر ابن الخطاب، وعلي بن أبي طالب، وعبد الله بن مسعود، وعبد الله بن عباس.فقال أبو جعفر: بخٍ بخٍ استوفيت يا أبا حنيفة. Abu Ja’far: “dari mana kau dapatkan ilmu yang kau miliki?”

Abu Hanifah: “aku mendapatkannya dari Hammad bin Abi Sulaiman, dari Ibrahim al-Nakha’i, dari Umar bin Khathtab. Juga dari Ali. Dan dari Ibn Mas’ud. Juga dari Abdullah bin ‘Abbas. https://www.rumahfiqih.com/z-119-sanad-fiqih-imam-abu-hanifah.html

[10] Shahih al-Bukhari, Kitab fadhailul Qur’aan (كتاب فضائل القرآن), bab Qurra (باب القراء من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم), 5002.

[11] Al-Isti’aab (الاستيعاب – ابن عبد البر – ج ٣).

[12] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab al-Manaqib, bab Manaqib (Keutamaan) Abdullah bin Mas’ud (بَاب مَنَاقِبِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ).
3759 – حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ قَالَ سَمِعْتُ مَسْرُوقًا قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَقَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا

[13] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab keutamaan orang Anshar (كتاب مناقب الأنصار), bab keutamaan Ubay ibn Ka’b (باب مَنَاقِبُ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ رضى الله عنه), no. 3808.

[14] Pengantar Mempelajari Al-Qur’an, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Anwarul ‘Uluum jilid 20, h. 427.

[15] Pengantar Mempelajari Al-Qur’an, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Anwarul ‘Uluum jilid 20, h. 427.

[16] As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), (أول من جهر بالقرآن); Fadhailush Shahaabah karya Imam Ahmad Ibn Hanbal (فضائل الصحابة لأحمد بن حنبل), bab (فَضَائِلُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ).

[17] Asadul Ghabah jilid 3, h. 383, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[18] Ath-Thabaqaaat al-Kubra karya Ibn Sa’d jilid 3, h. 113, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[19] Ath-Thabaqaaat al-Kubra karya Ibn Sa’d jilid 3, h. 113, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990. Al-Mushannaf (المصنف), (كتاب الفضائل), (ما ذكر في عبد الله بن مسعود). (كان عبد الله يستر رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا اغتسل ويوقظه إذا نام ويمشي معه في الأرض وحشا)

[20] Shahih Bukhari No. Hadist: 3479; Asadul Ghabah jilid 3, h. 384, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[21] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab kematian Abu Jahl (بَاب قَتْلِ أَبِي جَهْلٍ), 3962.

[22] Shahih Muslim, Kitab al-Jihad was Sair (كتاب الجهاد والسير), bab kematian Abu Jahl (بَاب قَتْلِ أَبِي جَهْلٍ), no. 1800. Umumnya masyarakat Madinah ialah petani dan pekebun.

[23] Tafsir Kabir, jilid 6, h. 461

[24] Ath-Thabaqaaat al-Kubra karya Ibn Sa’d jilid 3, h. 112-113, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990;

[25] Syamail Muhammadiyah oleh Imam At-Tirmidzi.

[26] Shahih al-Bukhari, Kitab Fadhailul Qur’an, 5050. Asadul Ghabah jilid 3, h. 384, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[27] Al-Mashahif karya Ibn Daud (المصاحف لابن أبي داود). إِنِّي جِئْتُكَ مِنْ عِنْدِ رَجُلٍ يُمِلُّ الْمُصْحَفَ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ

[28] Musnad Ahmad ibn Hanbal jilid 1, h. 128, Hadits 175, Alamul Kutub, Beirut, 1998

[29] Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء) atau Perhiasan para Wali dan Tingkatan-tingkatan Orang-orang yang Suci karya Al-Imam Abu Nu’aim al-Ashfahani r.h (الأصبهاني، أبو نعيم), (جلد : 1  صفحه : 124).

[30] Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل), (مُسْنَدُ الْعَشَرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ), (مُسْنَدُ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ ), (مُسْنَدُ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) jilid 1, h. 156-157, Hadits 265, Alamul Kutub, Beirut, 1998, teks dalam Hilyatul Auliya ialah مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَطِبًا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْ قِرَاءَةَ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

[31] Asadul Ghabah jilid 3, h. 385, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[32] Shahih Bukhari, Kitab al-Manaqib, bab Manaqib Abdullah ibn Mas’ud, No. Hadist: 3762

[33] Shahih Bukhari, Kitab al-Manaqib, bab Manaqib Abdullah ibn Mas’ud, No. Hadist: 3760, Nabi bersabda, “Yang paling saya sukai dari antara kalian ialah yang paling baik akhlaknya.’  إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا, setelah itu beliau saw menyebut empat nama Sahabat yang pertama ialah Abdullah ibn Mas’ud; Keutamaan para Sahabat oleh Imam Ahmad ibn Hanbal (فضائل الصحابة لأحمد بن حنبل ); (فَضَائِلُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ) dan di dalam (رواه الحاكم عن ابن مسعود – رضي الله عنه)  tercantum:  رَضِيتُ لأُمَّتِي مَا رَضِيَ لَهُمُ ابْنُ أُمِّ عَبْدٍ ، وَكَرِهْتُ لأُمَّتِي مَا كَرِهَ لَهَا ابْنُ أُمِّ عَبْدٍ

[34] Ath-Thabaqaaat al-Kubra karya Ibn Sa’d jilid 3, h. 114, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990; (موسوعة أقوال الإمام أحمد في رجال الحديث وعلله – ج 3 – عطاء بن عجلان – الميم); (تاريخ بغداد مدينة السلام – ج 14 – العباس – لطف الله).

[35] Asadul Ghabah jilid 3, h. 386, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[36] Asadul Ghabah jilid 3, h. 385, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut. Jami’ at-Tirmidzi, Abwaabul Manaaqib (أبواب المناقب), bab Manaqib Abdullah ibn Mas’ud (باب مناقب عبد الله بن مسعود رضي الله عنه).

[37] Ath-Thabaqaaat al-Kubra karya Ibn Sa’d (طبقات ابن سعد – ج 3 – الطبقة الأولى في البدريين من المهاجرين والأنصار)

[38] Ath-Thabaqaaat al-Kubra karya Ibn Sa’d jilid 3, h. 114, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990

[39] HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban. Siyarush Shahabah, jilid 2, h. 223, Darul Isyaat, Karachi-Pakistan.

[40] Siyarush Shahabah, jilid 2, h. 223, Darul Isyaat, Karachi-Pakistan. Jaami’ul Masaanid (جامع المسانيد – ج 5 – عبد الله بن قيس أبو موسى – عبد شمس أبو هريرة); Anis as-Saari (أنيس الساري 1-11 –), al-Musnad Imam Ahmad, (المسند للإمام أحمد – ج 4).

[41] Ath-Thabaqaaat al-Kubra karya Ibn Sa’d, Ath-Thabaqaat karya Ibn Sa’ad (الطبقات الكبير لابن سعد), (طَبَقَاتُ الْبَدْرِيِّينَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ), (وَمِنْ حُلَفَاءِ بَنِي زُهْرَةَ بْنِ كِلابٍ), (Abdullah ibn Mas’ud) , jilid 3, h. 116-117, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[42] Al-Amali al-Mahamili riwayat Ibn Yahya al-Bei (أمالي المحاملي رواية ابن يحيى البيع); Asadul Ghabah jilid 3, h. 385, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[43] Ath-Thabaqaaat al-Kubra karya Ibn Sa’d jilid 3, h. 117, Penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990

[44] Ath-Thabaqaat karya Ibn Sa’ad (الطبقات الكبير لابن سعد), (طَبَقَاتُ الْبَدْرِيِّينَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ), (وَمِنْ حُلَفَاءِ بَنِي زُهْرَةَ بْنِ كِلابٍ), (Abdullah ibn Mas’ud). Al-Mushannaf (مصنف ابن أبي شيبة ), (كِتَابُ الْفَضَائِلِ), (مَا ذُكِرَ فِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ).

كَنِيفٌ مُلِئَ فِقْهًا ، وَرُبَّمَا قَالَ الأَعْمَشُ : عِلْمًا

[45] Fadhailush Shahaabah (فضائل الصحابة – النسائي); (تاريخ دمشق لابن عساكر); Sunan at-Tirmidzi (سنن الترمذي), (كتاب المناقب), (باب مناقب عبد الله بن سلام رضي الله عنه).

[46] Asadul Ghabah jilid 3, h. 385, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[47] Syi’bil Iman karya al-Baihaqi. (شعب الايمان للبيهقي ج6 ص13); Asadul Ghabah jilid 3, h. 386-387, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[48] Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق – ج 33 – عبد الله بن المبارك – عبد الأعلى بن هلال). Asadul Ghabah jilid 3, h. 386, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[49] Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ashhaab oleh Ibn Abdul Barri, bagian Tamyiizil Ashhaab, harf ‘Ain, bab Abdullah ibn Mas’ud; 2. Siyar A’lamin Nubala (Biografi tokoh-tokoh Mulia) berisi 40 generasi tokoh-tokoh Islam dari abad 7 hingga abad 14 Masehi (abad 1 s.d. 8 Hijriyah), penulis Al Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz Dzahabi rahimahullah (w. 748 H/1374 M); ( سير أعلام النبلاء » الصحابة رضوان الله عليهم » عبد الله بن مسعود)

[50] Asadul Ghabah jilid 3, h. 387, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut.

[51] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad hishshah som (III), penerjemah Abdullah al-Imadi, h. 230, Nafees Academy, Karachi-Pakistan.

[52] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’ad. (الطبقات الكبرى لابن سعد), jilid 3, h. 119, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1990.

[53] Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 8, h. 51, Alamul Kutub, Beirut, 1998.