Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 28 September 2018 (Tabuk 1397 HS/18 Muharram 1440 HQ) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Sebelum melakukan kunjungan ke beberapa negara, saya telah menyampaikan perihal riwayat hidup para sahabat Badar. Pada hari ini pun saya akan sambung lagi dengan topik tersebut. Diantara para sahabat yang akan disampaikan pada hari ini, salah satunya adalah Hadhrat Umarah Bin Hazm radhiyAllahu ta’ala ‘anhu (عُمَارَة بن حَزْم الأَنْصَارِيّ بن زَيْد بن لَوْذَان بن عمرو بن عبد بن عوف بن غنم بن مالك بن النجار الأَنصاري الخزرجي، ثم من بني النجار). Hadhrat Umarah Bin Hazm (ra) termasuk 70 sahabat yang ikut serta pada baiat Aqabah kedua. Saudara beliau bernama Hadhrat Amru Bin Hazm (عمرو بن حزم) dan Hadhrat Mu’amar bin Hazm (معمر بن حزم) juga adalah seorang sahabat. وشهد عمارة بن حزم أيضًا أُحُدًا، والخندق، وسائر المشاهد مع رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم Beliau ikut serta bersama dengan Rasulullah (saw) pada perang Badar, Uhud dan seluruh peperangan lainnya. وكانت معه رايةَ بني مالك بن النّجار في غزْوَةِ الفتح Pada saat Fath Makkah (penaklukan kota Makkah oleh umat Muslim yang berangkat dari Madinah) panji (bendera) Banu Malik Bin Najjar dipegang oleh beliau.

Paska Hijrah, Hadhrat Rasulullah (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, saw) menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hadhrat Muhraz Bin Nadhlah (مُحْرز بن نَضْلة). Ketika terjadi peristiwa kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang yang murtad paska kewafatan Rasulullah (saw) dan mereka memulai menyerang umat Muslim, dalam hal ini Hadhrat Umarah Bin Hazm ikut berperang dalam melawan mereka dari pihak Muslim bersama dengan Hadhrat Khalid Bin Walid. Pada akhirnya Hadhrat Umarah Bin Hazm syahid pada perang Yamamah. Ibunda beliau bernama Khalidah Binti Anas.

Abu Bakr Bin Muhammad bin Amru bin Hazm meriwayatkan, نُهِشَ عبد الرحمن بن سهل بحريرات الأفاعي ، فقال رسول الله صَلى الله عَليهِ وَسلَّم : اذهبوا به إلى عمارة بن حزم فليرقه ، قال : قالوا : يا رسول الله إنه يموت ، قال : وإن ، قال : فذهبوا به إلى عمارة فرقاه ، فشفاه الله. “Suatu ketika Hadhrat Abdullah Bin Sahal digigit ular, ketika itu Rasulullah (saw) bersabda, ‘Bawalah dia kepada Umarah, nanti dia yang akan melakukan ruqyah (didoakan dengan cara yang khas. Dalam bahasa Urdu: dam). Sahabat itu berkata, ‘Wahai Rasul! Orang ini sudah sekarat.’

Rasulullah (saw) bersabda, ‘Bawalah kepada Umarah nanti dia akan mendoakannya, Allah Ta’ala akan menyembuhkannya.’”[1]

Sesungguhnya Rasulullah (saw)-lah yang telah mengajarkan Hadhrat Umarah untuk mendoakan dan mengajarkan doa. Dalam hal ini bukan berarti bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) memerlukan ruqyahnya Hadhrat Umarah atau Rasulullah (saw) sendiri tidak mampu melakukannya naudzubillah melainkan orang-orang telah ditetapkan untuk tugas-tugas tertentu dan dibelakang itu semua daya pensucian dan curahan keberkatan Rasulullah (saw) lah yang berperan.

Dalam Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam tertulis bahwa orang-orang munafik biasa datang ke masjid Nabawi dan mengolok-olok perkataan umat Muslim, menghina agama mereka, terkadang mereka pun menyampaikan hinaan secara langsung di hadapan umat Muslim. Suatu ketika beberapa diantara orang-orang munafik itu berkumpul di mesjid Nabawi, Rasulullah (saw) melihat mereka saling berbisik satu sama lain. Raulullah (saw) memerintahkan sahabat untuk mengeluarkan orang-orang munafik itu dari masjid. Lalu dikeluarkanlah mereka.

Hadhrat Abu Ayyub menghampiri Umar Bin Qais yang berasal dari Banu Ghanam Bin Malik Bin Najar yang pada masa jahiliyah sebagai pengawas patung-patung berhala mereka. Sahabat tersebut memegang kaki munafik itu lalu menyeretnya keluar masjid. Ketika diseret dia terus mengatakan, “Wahai Abu Ayyub! Apakah kamu akan mengeluarkanku dari Majlis Banu Tsalabah?”

Lalu sahabat tersebut menghampiri seorang munafik lainnya, Rafi Bin Badi’ah dari Banu Najjar kemudian mengikatnya dengan kain cadar, ditarik dan dikeluarkannya dari masjid setelah ditampar satu kali.

Hadhrat Abu Ayyub mengatakan, “Wahai orang munafik! Semoga kamu dilaknat, enyahlah kamu dari masjid Rasul.”

Hadhrat Umarah Bin Hazm menghampiri seorang munafik lainnya bernama Zaid Bin Amru lalu memegang janggutnya dan menyeretnya keluar masjid.

Lalu Hadhrat Umarah memukulkan kedua tangannya dengan keras ke dadanya sehingga terjatuh. Orang munafik itu berkata, “Hai Umarah! Kamu telah melukaiku.”

Lalu Hadhrat Umarah berkata, “Hai Munafik! Semoga Allah membinasakanmu, azab yang telah Allah siapkan untukmu, lebih keras dari ini. Lain kali jangan sekali-kali mendekati masjid Rasulullah (saw) lagi.”

Pada saat perang Tabuk, ketika Rasulullah (saw) berangkat ke medan Tabuk, di jalan unta betina Rasulullah (saw) bernama Quswa hilang. Para sahabat pergi mencari unta Rasul. Saat itu Rasulullah (saw) bersama dengan Umarah bin Hazm, sahabat yang ikut pada Baiat Aqabah kedua dan perang Badar, saudara Hadhrat Amru Bin Hazm.

Perawi meriwayatkan, “Dalam tenda yang terletak diatas unta Hadhrat Umarah terdapat Zaid bin Lushait al Qainuqa’i (زَيْدُ بْنُ اللُّصَيْتِ) juga yakni termasuk ke dalam kelompok yang berada di dalam tenda, Zaid berasal dari Kabilah Banu Qainuqa yakni seorang Yahudi yang masuk Islam namun bersifat munafik.”

Zaid mengatakan (dengan nada menggumam dan mencibir), أَلَيْسَ مُحَمَّدٌ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَيُخْبِرُكُمْ عَنْ خَبَرِ السَّمَاءِ، وَهُوَ لَا يَدْرِي أَيْنَ نَاقَتُهُ؟ “Ketika Muhammad mendakwakan sebagai nabi bersikap seolah-olah bersih dari kesalahan dan memberitahukan kabar dari langit kepada kalian, padahal dia sendiri tidak tahu kemana untanya menghilang.”

Saat itu Umarah berada di dekat Hadhrat Rasulullah (saw) dan kabar olok-olokan tadi sampai kepada Rasulullah (saw) dengan suatu perantara atau Allah yang mengabarkan langsung kepada beliau.

Lalu Rasulullah (saw) bersabda, إنَّ رَجُلًا قَالَ: هَذَا مُحَمَّدٌ يُخْبِرُكُمْ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَيَزْعُمُ أَنَّهُ يُخْبِرُكُمْ بِأَمْرِ السَّمَاءِ وَهُوَ لَا يَدْرِي أَيْنَ نَاقَتُهُ “Ada orang yang mengatakan, ‘Muhammad mengabarkan kepada orang-orang perihal kabar samawi, padahal dia sendiri tidak tahu kemana untanya pergi.’

Rasul bersabda, وَإِنِّي وَاَللَّهِ مَا أَعْلَمُ إلَّا مَا عَلَّمَنِي اللَّهُ “Demi Allah! Saya tidak mengetahui mengenai sesuatu hal kecuali Allah Ta’ala kabarkan kepada saya. Saya tidak mengetahui hal ghaib, namun jika Allah mengabarkan, akan saya kabarkan.”

Untuk membungkam mulut orang Yahudi tersebut Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada Rasulullah.

Rasul bersabda, وَقَدْ دَلَّنِي اللَّهُ عَلَيْهَا، وَهِيَ فِي هَذَا الْوَادِي، فِي شِعْبِ كَذَا وَكَذَا، قَدْ حَبَسَتْهَا شَجَرَةٌ بِزِمَامِهَا، فَانْطَلِقُوا حَتَّى تَأْتُونِي بِهَا “Allah telah memberitahukan padaku perihal unta bahwa unta itu tengah berada di suatu lembah” – mengisyarahkan pada suatu lembah – tali unta tersangkut pada sebuah pohon. Pergilah ke sana dan bawalah unta itu kemari.”

Lalu sahabat pergi dan membawa unta Rasul. Bagaimana untuk membungkam mulut orang Yahudi tadi Allah Ta’ala telah memperlihatkan pemandangan kepada beliau perihal tempat dimana unta berada.

Baihaqi dan Abu Naim meriwayatkan, “Hadhrat Umarah pergi menuju tendanya dan berkata, ‘Demi Tuhan! Pada hari ini telah terjadi sesuatu yang ajaib. Baru saja Rasulullah (saw) mengabarkan kepada kami perihal seseorang yang mana Allah kabarkan kepada (saw). Jelaslah bahwa perihal orang munafik tadi (Zaid bin Lushait) telah Allah kabarkan kepada Rasulullah (saw). Diantara orang yang berada dalam tenda Hadhrat Umarah, salah seorangnya mengatakan, ‘Demi Tuhan! Sebelum anda datang, Zaid telah mengatakan sesuatu seperti yang anda katakan baru saja yakni apa yang beliau katakan perihal Allah Ta’ala mengabarkan kepada Rasulullah (saw), persis Zaid pun mengatakan hal yang sama sebelum anda datang.’

Lalu Hadhrat Umarah memegang leher Zaid dan berkata kepada sahabat lainnya, “Wahai para hamba Allah, tadi di dalam tendaku terdapat ular, namun saya tidak tahu kalau harus mengeluarkannya.”

Umarah berkata kepada Zaid, “Setelah ini kita tidak ada hubungan lagi.”

Sebagian orang beranggapan bahwa di kemudian hari Zaid bertaubat sedangkan sebagian lagi beranggapan dia terus bersikap jahat sampai ajal menjemputnya.

Hadhrat Ziyad Bin Naim (زياد بن نعيم) meriwayatkan dari Hadhrat Umarah bin Hazm, “Rasulullah (saw) bersabda, أَرْبَعٌ مِنْ عَمِلِ بِهِنَّ كَانَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَمَنْ تَرَكَ وَاحِدَةً مِنْهُنَّ لَمْ تَنْفَعْهُ الْثَّلَاثُ ‘Ada empat hal yang jika diamalkan, maka akan terhitung sebagai Muslim dan jika meninggalkan salah satunya, maka ketiga amalan yang lainnya tidak akan bermanfaat sedikit pun baginya.’

Saya bertanya kepada Hadhrat Umarah, ‘Apa saja keempat hal tersebut?’

Hadhrat Umarah menjawab, الْصَّلَاةُ، وَالْزَّكَاةُ، وَصِيَامُ رَمَضَانَ، وَالْحَجُّ ‘Shalat, Zakat, Puasa di bulan Ramadhan dan ibadah haji.’”

Penting untuk beriman dan mengamalkan keempat hal tersebut. Shalat adalah wajib, zakat juga diwajibkan bagi yang wajib atasnya, begitu juga puasa perlu ketika sehat, begitu pun ibadah haji diwajibkan bagi yang mampu. Perlu untuk mengimani dan mengamalkan ke empat amalan tersebut. Sabda tersebut tertulis dalam kitab Asadul Ghabah.

Saat ini sebagian umat Muslim memberikan definisi atas status keIslamannya dan ada juga ulama yang memfatwakan kafir dan mengada-adakan sendiri definisi Muslim sekehendak mereka.

Sahabat kedua adalah Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud (عبد الله بن مسعود) RadhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau dijuluki Abdur Rahman dan berasal dari Qabilah Banu Hudzail (بني هذيل). Ibunda beliau bernama Ummi Abdin. Beliau wafat pada tahun 32 Hijri. Ayahanda beliau bernama Mas’ud Bin Ghafir. Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud tergolong sahabat awal. Ketika saudara ipar Hadhrat Umar, Hadhrat Sa’id Bin Zaid suami Hadhrat Fatimah Binti Khatab masuk Islam, saat itu juga Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud baiat. Mereka baiat sebelum Rasulullah (saw) masuk ke Darul Arqam yakni tempat yang dibuat sebagai tempat berkumpul umat Muslim di Makkah. Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud meriwayatkan, “Saya adalah orang keenam yang baiat masuk Islam. Saat itu di muka bumi ini belum ada yang baiat selain kami berenam.”

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud (ra) menuturkan kisah baiatnya [asal mulanya ia masuk Islam], “Ketika saya sampai pada usia dewasa yakni ketika mampu mengenali dan membedakan dengan baik, suatu waktu saya tengah menggembala kambing milik Uqba Bin Mu’ith, Hadhrat Rasulullah (saw) beserta dengan Hadhrat Abu Bakar menghampiri saya. Beliau (saw) bersabda, ‘Nak! Apakah kamu menyimpan susu?’

Saya menjawab, ‘Ya, namun itu merupakan amanah, saya tidak dapat memberikannya.’

Sejak kecil beliau berfitrat baik.

Rasul bersabda, ‘Bawalah kambing yang tidak dapat memberikan susu.’

Lalu saya membawa kambing muda ke hadapan Rasulullah (saw) . Lalu Rasulullah (saw) mengikat kakinya dan mulai mengusap tempat keluar susu dan berdoa sehingga keluarlah susu darinya. Kemudian, Hadhrat Abu Bakar membawa wadah. Rasulullah (saw) memerah susu dan dipancarkan kedalam wadah. Beliau (saw) bersabda kepada Hadhrat Abu Bakr, ‘Minumlah!’

Hadhrat Abu Bakar meminumnya lalu Rasulullah (saw) minum.

Lalu Rasulullah (saw) mengusap lagi tempat keluar susu dan bersabda, ‘Menyusutlah!’

Lalu menyusutlah tempat keluar susu seperti semula.

Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Ajarkan juga pada saya diantara doa-doa yang Anda baca tadi.’

Lalu Rasulullah (saw) mengusap kepala saya dan bersabda, يرحمك الله، فإنك عليم معلم ‘Semoga Allah mengasihimu. Kamu adalah pemuda yang terpelajar lagi pengajar.’”[2]

Beliau meriwayatkan: Saya telah menghafal 70 surat secara langsung dari Rasulullah (saw).

Berkenaan dengan beliau (ra) Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis dalam buku Sirat khatamun nabiyyin bahwa Abdullah Bin Mas’ud yang notabene bukan dari suku bangsa Quraisy, melainkan berasal dari Qabilah Hudzail adalah seorang yang miskin dan biasa menggembala kambing-kambing milik Uqbah Bin Abi Mu’ith, pemuka Quraisy. Setelah masuk Islam, beliau melewati hidupnya bergaul dengan Rasulullah (saw), sehingga menjadi seorang Alim (cendekiawan) ulung. Dasar Fiqh Hanafi kebanyakan bersumber dari ucapan dan ijtihad beliau Ra.

Berkenaan dengan fadhilah ilmu agama beliau terdapat riwayat bahwa Hadhrat Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa orang-orang mengetahui bahwa diantara sekian orang, saya termasuk yang menguasai ilmu Kitabullah, Tidak ada surat atau ayat dalam Al-Qur’an yang tidak saya ketahui dimana dan kapan turunnya.

Abu Wail seorang perawi mengatakan, “Tidak ada yang mengingkari pernyataan yang disampaikan oleh Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud. Diantara empat nama sahabat yang direkomendasikan oleh Rasulullah (saw) untuk mempelajari Al-Qur’an darinya salah satunya yang teratas adalah Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud.”

Dalam buku pengantar untuk mempelajari Al-Qur’an, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Karena kecintaan untuk menghafal Al-Qur’an semakin tinggi di dalam diri orang-orang, Rasulullah (saw) menetapkan satu kelompok guru Al-Qur’an. Mereka menghafal seluruh Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) dan mengajarkannya kepada orang lain. Keempat orang tersebut adalah pengajar unggulan yang tugasnya mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) dan mengajarkannya kembali kepada orang-orang. Kemudian para sahabat yang belajar dari beliau-beliau pun mengajarkannya lagi kepada murid-muridnya. Daftar nama keempat guru itu adalah Abdullah Bin Mas’ud, Salim maula Abi Huzaifah, Muadz Bin Jabal dan Ubai Bin Ka’ab.

Diantara mereka dua nama pertama adalah muhajirin dan dua nama yang kedua adalah dari Anshar. Abdullah Bin Mas’ud adalah seorang pekerja (kuli), Salim seorang budak belian yang dibebaskan, sedangkan Mu’adz Bin Jabal dan Ubai Bin Kaab adalah para pemuka Madinah. Seolah-olah Rasulullah (saw) memperhatikan seluruh grup dan dari setiap grup ditetapkan qorinya.

Terdapat dalam hadits bahwa Rasulullah (saw) bersabda, خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ـ فَبَدَأَ بِهِ ـ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَأُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ‏”‏‏.‏ Khudzul Quraana min arba’ah min Abdillaahi ibni Mas’ud, wa Salim maula Abi Hudzaifah wa Mu’adz ibni Jabal wa Ubay bni Ka’b. Orang yang ingin mempelajari Al-Qur’an, dapat mempelajarinya dari keempat orang tersebut yakni Abdullah Bin Mas’ud, Salim maula Abi Huzaifah, Muadz Bin Jabal dan Ubay Bin Ka’ab.[3]

Hadhrat Mushlih Mau’ud menulis, “Keempat orang ini mempelajari seluruh Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) atau memperdengarkan bacaannya kepada Rasulullah (saw) lalu diperbaiki. Namun selain mereka pun banyak juga para sahabat yang mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) secara langsung, sebagaimana dalam riwayat dikatakan bahwa suatu ketika Abdullah Bin Mas’ud membaca Al-Quran dengan suatu gaya, lalu Hadhrat Umar menghentikan bacaannya dan berkata, ‘Bukan begitu bacanya, tapi begini.’

Abdullah Bin Mas’ud berkata, ‘Tidak, Rasulullah (saw) lah yang mengajarkan demikian kepada saya.’

Kemudian, Hadhrat Umar mengajak beliau ke hadapan Rasulullah (saw) dan berkata, ‘Wahai Rasul! Orang ini keliru bacaan Qurannya.’

Rasul yang mulia (saw) bersabda: Abdullah! Coba bacakan.

Ketika dibacakan oleh Abdullah, Rasulullah (saw) bersabda, ‘Bacaannya benar.’

Hadhrat Umar berkata, ‘Wahai Rasul! Bukankah Anda telah mengajarkan cara baca kata tersebut kepada saya dengan cara yang beda?’

Beliau (saw) bersabda, ‘Cara baca yang kamu lakukan pun benar.’”

Atas dasar itu Hadhrat Mushlih Mau’ud menyimpulkan bahwa tidak hanya keempat sahabat itu saja yang mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) bahkan para sahabat lain pun belajar dari Rasulullah (saw). Sebagaimana yang Hadhrat Umar katakan bahwa Rasulullah (saw) mengajarkan bacaan Al-Qur’an dengan cara yang berbeda. Hadhrat Umar pun memberitahukan bahwa beliau (ra) belajar Al-Qur’an secara langsung dari Rasulullah (saw) juga.

Dalam satu riwayat dikatakan bahwa setelah Rasulullah (saw), yang paling pertama membaca Al-Qur’an secara terang-terangan di Makkah adalah Abdullah Bin Mas’ud. Sebagaimana terdapat kisah suatu ketika para sahabat berkumpul, salah seorang berkata, “Orang Quraisy belum pernah mendengarkan Tilawat Al-Qur’an dengan suara tinggi, apakah ada orang yang dapat mengumandangkannya?”

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud berkata, “Saya bisa.”

Orang-orang mengatakan, “Kami khawatir jangan sampai orang Kafir akan menganiayamu,karena Abdullah ini seorang kuli biasa. Jika ada orang berpengaruh diantara umat Muslim yang dapat melakukannya akan lebih baik. nantinya jika ada orang kafir yang akan memukulinya, maka kawan kawan dari kabilahnya akan menolongnya.

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud mengatakan, “Jangan khawatir, Allah akan menyelamatkan saya.”

Sungguh mengherankan melihat gejolak yang ada dalam diri para sahabat. Pada keesokan harinya, waktu matahari sepenggalah beliau pergi ke maqam Ibrahim dan mulai menilawatkan Al-Qur’an dengan suara tinggi. Beliau mulai membaca, بِسمِ اللّهِ الرحمنَ الرحيمِ- رافِعاً بها صَوْتَهُ- الرَّحْمنُ عَلَّمَ الْقُرآنَ، خَلَقَ الانْسَانَ، عَلَّمَهُ الْبَيَانَ…  “Bismillaahirrahmaanirraahiim – dengan suara nyaring lalu – Arrahmaanu allamal Quraan…”

Penduduk Quraisy yang tengah duduk dalam majlis mereka merasa keheranan dengan amalan tersebut. Sebagian mengatakan bahwa orang ini tengah membacakan kalimat-kalimat yang biasa dibacakan oleh Muhammad (saw). Mendengar itu, mereka semua bangkit lalu menampar wajah beliau. Namun beliau terus melantunkannya dan terus membacanya sampai yang dinginkan.

Setelah Abdullah Bin Mas’ud kembali kepada para sahabat, melihat bekas tamparan pada wajah Abdullah, sahabat bertanya, “Itulah yang kami khawatirkan jangan sampai mereka memukulimu.”

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud mengatakan, “Sesungguhnya para musuh Tuhan ini tidak pernah sedemikian rupa tanpa hakikat dalam pandanganku, seperti ketika memukuliku tadi. Jika kalian ingin, aku akan pergi lagi besok untuk melakukan hal yang sama.”

Para sahabat berkata, “Tidak! Sudah cukup. Kamu telah memperdengarkan sesuatu yang tidak ingin mereka dengar.”

Setelah baiatnya Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud, Hadhrat Rasulullah (saw) mengajaknya tinggal dekat. Beliau (ra) selalu mengkhidmati Rasulullah (saw). Nabi Karim (saw) bersabda pada beliau, “Kapan pun kamu mendengar panggilanku dan pardah (pintu atau kain penghalang) dalam kondisi tidak tertutup, masuklah tanpa harus meminta izin.”

Itu artinya, “Jika pardah di rumah tengah tertutup, janganlah masuk tanpa izin. Sebaliknya jika pardah terbuka, pintu terbuka dan mendengar panggilanku, masuklah tanpa perlu minta izin. Maksudnya saat itu sedang tidak ada wanita.”

Beliau (ra) selalu membantu Rasulullah (saw) mengerjakan pekerjaan rumah seperti memakaikan sepatu Rasul. Kapan pun diperlukan untuk menemani perjalanan, beliau (saw) mengajaknya. Ketika Rasulullah (saw) mandi, beliau terus berdiri menutupi dengan pardah. Diantara para sahabat, beliau dijuluki dengan Sahibus siwaak (yang menyimpan sikat pembersih gigi). Berdasarkan riwayat lainnya beliau disebut Sahibus siwaak, sahibul wasaad dan juga sahibun na’lain. Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud adalah penjaga rahasia rasul, selalu memasangkan kasur (mengelarkan tikar) untuk Rasul, membawakan siwak dan na’lain (terompah, sandal) Rasul. Istilah Bahasa Arab ini artinya pemasang alas tidur (tikar), pembawa miswak, dan orang yang membantu untuk berwudhu dan mandi. Shahibus Sawaad karena beliau biasa memasang alas tidur untuk Rasulullah (saw), Sahibun na’lain karena beliau biasa menyiapkan dan memperbaiki terompah beberkat Rasul, juga menyiapkan air untuk wudhu. Jika RasuluLlah (saw) melakukan safar dengan beliau, maka beliaulah yang melakukan tugas-tugas tersebut.

Diriwayatkan oleh Abu Malih bahwa Ketika Rasulullah (saw) mandi, Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud biasa memasangkan pardah untuk Rasulullah (saw) dan ketika Rasulullah (saw) tidur, beliau biasa membangunkan Rasulullah (saw). Ketika melakukan perjalanan bersama Rasul, beliau (ra) selalu membawa lengkap peralatan.

Hadhrat Abu Musa Al Asy’ariy radliallahu ‘anhu (أَبَا مُوسَى الْأَشْعَرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) meriwayatkan, قَدِمْتُ أَنَا وَأَخِي مِنْ الْيَمَنِ فَمَكُثْنَا حِينًا مَا نُرَى إِلَّا أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا نَرَى مِنْ دُخُولِهِ وَدُخُولِ أُمِّهِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Ketika kami baru baru datang dari Yaman, kami beranggapan Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud termasuk Ahli Bait (keluarga) Rasul (saw) karena Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud dan ibunda beliau sering keluar masuk rumah Rasul [sering berada di rumah Nabi saw).”[4]

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud ikut serta dalam kedua hijrah yakni pada hijrah ke Habsyah dan Madinah. Beliau ikut serta menyertai Rasulullah (saw) dalam perang Badar, Uhud, Khandak, baiat Ridwan dll. Paska kewafatan Rasulullah (saw), beliau pun ikut serta pada perang Yarmuk. Beliau juga termasuk diantara sahabah yang semasa hidup telah dikabarkan Rasulullah (saw) akan masuk surga.

Dalam mengakhiri kehidupan Abu Jahl pun Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud memiliki peran. Diriwayatkan oleh Hadhrat Anas bahwa ketika berakhirnya perang Badar, Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, “Apakah ada yang bisa memberikan kabar yang benar mengenai Abu Jahl?”

Lalu Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud pergi dan mendapati Abu Jahl tengah terluka parah dan sekarat di medan perang. Dua pemuda putra Afra-lah yang telah membuatnya seperti itu.

Sambil memegang janggutnya, Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud berkata, “Apakah kamu yang bernama Abu Jahl?”

Dalam kondisi demikian pun Abu Jahl menjawab dengan nada sombong, “Apakah kamu pernah membunuh seorang pemuka yang lebih hebat dariku?” Diriwayatkan oleh sahih Muslim. Riwayat pertama dari Bukhari.

Dalam riwayat Sahih Muslim tertulis, “Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud memegang janggutnya dan berkata: apakah kamu abu Jahl?”

Abu Jahl menjawab, “Apakah sebelum ini kamu pernah membunuh seorang pembesar sepertiku?”

Perawi mengatakan bahwa Abu Jahl berkata, “Seandainya saja aku tidak terbunuh di tangan seorang petani.”

Dua orang pemuda dari Madinahlah yang telah menumbangkannya.

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani (ra) menulis lebih rinci dalam tafsir Kabir, “Bagaimana musuh yang seumur hidupnya terbakar dalam api kedengkian dan ketika matipun mereka masih terbakar dalam api tersebut. Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud meriwayatkan bahwa paska perang saya melihat Abu Jahl tengah merintih di suatu sempat disebabkan oleh luka parah. Lalu saya menghampirinya dan bertanya, ‘Bagaimana kabarmu?’

Dia menjawab, ‘Aku tidak menyedihkan kematianku, karena pada akhirnya seorang pejuang selalu mati. Yang aku sedihkan adalah aku terbunuh di tangan dua pemuda anshar Madinah. Berbuatlah baiklah padaku dengan hanya penggallah leherku supaya rasa sakitku hilang. Namun tolong sedikit sisakan panjang leherku, karena leher para jenderal biasanya disisakan panjang ketika dipenggal.’

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud berkata, ‘Aku tidak akan pernah membiarkan hasrat terakhirmu ini terpenuhi, untuk itu aku akan penggal lehermu mendekati dagu dan memang beliau melakukannya seperti itu.

Hadhrat Mushlih Mau’ud menulis, “Coba perhatikan betapa besarnya api kedengkian yang bergejolak dalam diri Abu Jahl. Sepanjang umur dia diliputi rasa dengki karena segala keinginannya untuk menimpakan kerugian kepada Muhammad (saw) tidak pernah berhasil. Lantas ketika akan mati dia terbakar oleh amarah karena terbunuh di tangan dua orang pemuda yang tidak berpengalaman begitu juga permintaan terakhir ketika akan mati, tidak kunjung terpenuhi yakni dia dipenggal dengan menyisakan bagian leher sedikit saja. Walhasil, dia meregang nyawa dalam kondisi terbakar dalam berbagai macam api kemarahan.”

Ketika Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud hijrah ke Madinah, beliau tinggal di rumah Hadhrat Mu’adz Bin Jabal. Sebagian orang berpendapat bahwa beliau tinggal di rumah Hadhrat Sa’ad bin Khaitsma. Di Makkah beliau dijalinkan persaudaraan dengan Hadhrat Zubair Bin Awwam. Sedangkan di Madinah beliau dijalinkan persaudaraan ruhani dengan Hadhrat Mu’adz Bin Jabal. Pada masa permulaan tinggal di Madinah, kondisi ekonomi beliau tidak baik. Sebagaimana ketika Hadhrat Rasulullah (saw) memberikan fasilitas tempat tinggal untuk para muhajirin di dekat masjid Nabawi, beberapa orang dari Banu Zuhrah memperlihatkan rasa enggan untuk mengajak Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud tinggal bersama mereka, karena beliau adalah seorang tukang kuli yang miskin dan menganggap diri mereka kaya.

Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) mengetahui hal tersebut, beliau (saw) memperlihatkan rasa ghairatnya untuk sang khadim tersebut dan bersabda, “Apakah Tuhan mengutus saya supaya kalian membeda-bedakan? Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan mencurahkan kepada suatu kaum yang di dalamnya orang lemah tidak diberikan haknya.”

Lalu Rasulullah (saw) memberikan memberikan tempat pada Abdullah Bin Mas’ud yang dekat dengan masjid Nabawi, sedangkan Banu Zuhrah di tempat di pojok belakang masjid. Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud meriwayatkan, “Suatu ketika Rasulullah (saw) bersabda padaku, اقْرَأْ عَلَىَّ ‘Perdengarkanlah surat An-Nisa padaku.’

Lalu saya menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ “Apalah artinya saya sehingga harus memperdengarkan kepada Anda, karena surat tersebut turun kepada Anda.”

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, إِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي “Saya menyukai jika ada orang lain yang menilawatkannya dan saya menyimaknya.”

Lalu saya mulai membacanya dan ketika tiba pada ayat فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا Fakaifa idza ji’naa min kulli ummatin bisyahiidin wa ji’na bika alaa haaulaai syahiidaa. Bagaimana jika Kami (Allah) telah mendatangkan untuk tiap umat saksinya dan menjadikanmu sebagai saksi atas semua umat itu?”, saya melihat Nabi (saw) bercucuran air mata.[5]

Dalam riwayat dikatakan beliau bersabda, “Cukup sudah!”[6]

Suatu ketika Hadhrat Umar Faruq terhenti di daerah Arafat, ada seseorang yang datang menghadap beliau dan berkata, “Wahai Amirul Mukminiin! Saya berasal dari Kufah, saya melihat di sana ada seseorang yang mengimla (mendiktekan) Al-Qur’an tanpa melihatnya.”

Lalu Hadhrat Umar bertanya dengan nada marah dalam tradisi Arab, “Siapa gerangan orang itu?”

Sambil ketakutan orang itu berkata, “Abdullah Bin Mas’ud.”

Mendengar nama beliau, amarah Hadhrat Umar mendingin seperti semula. Lalu bersabda, “Saya tidak menetapkan orang lain lebih berhak dalam tugas tersebut daripada Abdullah Bin Mas’ud. Beliau dapat menulis ayat Al-Qur’an tanpa melihat.”

Hadhrat Umar meriwayatkan, “Suatu ketika saya beserta dengan Hadhrat Rasulullah (saw) dan Hadhrat Abu Bakar melewati rumah Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud, saat itu beliau tengah melaksanakan shalat nafal dan menilawatkan Al-Qur’an ketika berdiri. Lalu Nabi Karim (saw) berdiri mendengarkan tilawat beliau Ra. Kemudian Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud ruku dan sujud. Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ‘Wahai Abdullah, apapun yang kamu minta saat ini, akan dikabulkan.’”

Lalu Rasulullah (saw) beranjak dari sana dan bersabda, “Orang yang merasa bahagia jika dia dapat membaca Quran Karim dengan segar seperti ketika diturunkan, maka orang tersebut hendaknya belajar Al-Qur’an dari Abdullah Bin Mas’ud.”

Hadits ini terdapat dalam Musnad Ahmad Bin Hanbal.

Hadhrat Abdur Rahman Yazid meriwayatkan bahwa kami pergi kepada Hadhrat Hudzaifah dan berkata, “Beritahukanlah kepada kami alamat (tanda-tanda) orang yang memiliki perilaku paling mendekati dengan sunah Rasulullah (saw), supaya kami dapat menuntut ilmu darinya dan mendengarkan hadits-hadits darinya.”

Beliau mengatakan, “Yang paling mendekati dengan Sunnah Rasulullah (saw) adalah Abdullah Bin Mas’ud.”

Berkenaan dengan kecintaan beliau dalam mengamalkan Sunnah Rasulullah (saw) dapat tergambar dari satu riwayat paska kewafatan Rasulullah (saw). Ketika para sahabat ditanya, سَأَلْنَا حُذَيْفَةَ عَنْ رَجُلٍ قَرِيبِ السَّمْتِ وَالْهَدْيِ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى نَأْخُذَ عَنْهُ “Siapa diantara kalangan kalian (para sahabat) yang memiliki perilaku paling mendekati Sunnah dan kebiasaan Rasulullah (saw), supaya dapat kami amalkan juga.”

Maka Hadhrat Hudzaifah bersabda, مَا أَعْرِفُ أَحَدًا أَقْرَبَ سَمْتًا وَهَدْيًا وَدَلًّا بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ “Menurut hemat saya dari sisi perilaku, kebiasaan, ucapan dan akhlak yang paling mendekati dengan kebiasaan Rasulullah (saw) adalah putra Ummu Abdin (Abdullah Bin Mas’ud).[7]

Mungkin karena itulah Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ‘Saya mencintai sesuatu untuk diamalkan dalam umat saya apa apa yang dicintai oleh Abdulah Bin Mas’ud.’” (Hadits Bukhari)

Hadhrat AlQamah meriwayatkan, “Sikap, keindahan akhlak dan kesederhanaan Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud disamakan dengan Hadhrat Rasulullah (saw).”

Putra Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud yang bernama Ubaidullah meriwayatkan, “Kebiasaan beliau ialah ketika orang tertidur, beliau bangun untuk tahajjud. Suatu malam saya pernah mendengar beliau bersenandung sampai pagi seperti yang dilakukan oleh lebah maksudnya beliau tengah berdoa dengan suara yang kecil disertai senandung atau sedang tilawat.”

Hadhrat Ali meriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, “Jika saya menunjuk seseorang sebagai Amir tanpa musyawarah, maka saya akan menunjuk Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud.”

Pada tempat lain pernyataan Hadhrat Ali tersebut disampaikan dalam corak lain yakni dalam kitab Tabaqatul Kubra tertulis, “Diriwayatkan oleh Hadhrat Ali Ra, ‘Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada saya, “Jika saya menunjuk seseorang untuk menjadi Amir tanpa majlis musyawarah umat Muslim, maka saya akan menunjuk Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud.”’”

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud meriwayatkan, “Paska baiat masuk Islam saya tidak pernah tidur pada saat matahari sepenggalah.”

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud sangat mencintai anak dan istri, ketika beliau memasuki rumah biasanya beliau mengeluarkan suara dari tenggorokan dan berbicara dengan suara tinggi supaya orang rumah menjadi tahu.

Istri beliau Hadhrat Zainab meriwayatkan, “Suatu hari Abdullah masuk ke rumah, saat itu ada seorang wanita tua tengah memakaikan jimat pada saya.”

Terkadang para wanita memiliki kebiasaan memasang jimat mungkin tujuannya untuk mendapatkan keberkatan.

Istri beliau mengatakan, “Saya tahu bahwa suami saya tidak menyukai hal-hal demikian, untuk itu karena saya takut dengan beliau, lalu saya sembunyikan jimat itu di bawah ranjang. Kemudian, suami saya duduk di dekat saya. Setelah melihat leher saya beliau bertanya, ‘Untuk apa benang ini, apakah kamu memasangnya di leher?’

Saya (istri Abdullah ibn Mas’ud) menjawab, ‘Ini jimat.’

Saat itu juga Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud mematahkannya dan membuangnya lalu berkata, ‘Keluarga Abdullah bersih dari perbuatan syirik. Saya mendengar dari Rasulullah (saw) bahwa jimat adalah termasuk kedalam perbuatan syirik.’

Istri beliau berkata, ‘Apa yang anda katakan? Mata saya bengkak, untuk itu saya biasa memesan jimat dari orang Yahudi. Terkadang mata saya merasa sakit dan bengkak lalu mengeluarkan air mata sehingga saya gunakan ini dari orang Yahudi karena dengan memasangnya saya merasa lebih baik.’

Abdullah Bin Mas’ud mengatakan pada saya, ‘Semua itu adalah perbuatan syaitan. Doa Rasulullah (saw) ini cukup bagimu yaitu, أَذْهِبِ الْبَأْسَ رَبَّ النَّاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًاAdzhibil basa Rabban naasi isyfi antasy Syaafii laa syifaaan illaa syifaauka, syifaaan kaamilan laa yughadiru saqamaa. Wahai pelindung Manusia! Jauhkanlah penderitaanku ini. Sembuhkanlah aku, hanya Engkaulah yang Maha Penyembuh. Tidak ada yang lebih mujarab selain dari penyembuhan Engkau penyembuhan yang tidak ada penyakit yang luput darinya.”’”[8]

Perihal orang-orang yang pergi ke tempat para dukun atau sejenisnya, mereka yang sepanjang hari menghirup ganja dan sejenisnya, tidak pernah shalat lalu orang-orang seperti itu dimintai jimat lantas kita mengatakan bahwa setelah mendapatkan jimat darinya jadi sembuh atau mendapatkan karunia atau mendapatkan anak atu begini dan begitu. Riwayat Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud ini merupakan jawaban bagi orang-orang seperti itu.

Suatu ketika Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud pergi untuk menemui kawannya Abu Umair Kebetulan kawan tersebut tengah tidak ada. Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud mengucapkan salam kepada istri Umair dan meminta air minum. Di rumahnya sedang tidak ada air minum. Istrinya itu menyuruh pelayannya seorang budak untuk meminta air ke tetangga. Namun sang pelayan itu tidak kembali sampai cukup lama. Melihat hal itu istri Umair mengatakan pemalas dalam corak melaknat sang pelayan. Mendengar hal itu Hadhrat Abdullah pulang dalam keadaan haus.

Keesokan harinya Abdullah bertemu dengan Abu Umar yang menanyakan kepada Hadhrat Abdullah alasan kenapa pulang cepat tanpa minum air terlebih dahulu. Beliau menjawab, “Ketika istrimu melaknat pelayan itu, saya teringat pada sabda Rasulullah (saw) yang menyatakan, ‘Orang yang dilaknat, jika dia terbukti tidak bersalah, maka laknat tersebut akan kembali kepada yang mengucapkannya.’

Lantas saya berfikir, jika sang pelayan tidak bersalah, lantas kenapa pula harus menjadi penyebab atas kembalinya laknat tersebut. Untuk itu lebih baik saya pergi tanpa minum.”

Demikianlah rasa takut beliau pada Allah Ta’ala, yakni ketika ada sedikit saja kekhawatiran akan munculnya murka Ilahi karena sesuatu hal lalu mereka menghindarkan diri darinya.

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud bertubuh pendek dan kurus berwarna gandum, namun beliau biasa memakai pakaian yang baik, berwarna putih dan memakai wangi-wangian. Hadhrat Talha meriwayatkan, “Beliau dapat dikenal dengan aroma wanginya.”

Hadhrat Ali meriwayatkan, “Suatu ketika Hadhrat Rasulullah (saw) memerintahkan Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud untuk memanjat pohon untuk suatu tugas, lalu melihat tubuh yang secara zahir kurus, lemah dan berbetis kecil para sahabat mentertawakan beliau.

Melihat hal itu Rasulullah (saw) bersabda, مَا تَضْحَكُونَ ؟ لَرِجْلُ عَبْدِ اللَّهِ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أُحُدٍ ‘Kenapa kalian tertawa? Timbangan kebaikan Abdullah pada hari kiamat akan lebih berat daripada gunung Uhud sekalipun.’”[9]

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud biasa berambut sampai ke telinga. Dalam satu riwayat malah dikatakan bahwa rambut beliau sampai ke leher. Ketika menunaikan shalat biasanya beliau memposisikan rambutnya ke belakang telinga.

Zaid Bin Wahab meriwayatkan suatu ketika saya tengah duduk di dekat Hadhrat Umar. Tidak lama kemudian datanglah Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud. Karena beliau bertubuh pendek, jadinya beliau hampir tidak tampak karena terhalang oleh tubuh orang lain yang berpostur tinggi. Ketika Hadhrat Umar melihat beliau, tersenyum lalu berbicara kepada Hadhrat Abdullah sambil tertawa-tawa. Saat itu Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud tetap berdiri supaya tampak olah Hadhrat Umar. Setelah Hadhrat Abdullah beranjak dari tempat itu, Hadhrat Umar melihat beliau dan terus memandangi dari belakang sampai sampai beliau hilang dari pandangan. Lalu Hadhrat Umar bersabda, “Orang tersebut merupakan wadah besar yang dipenuhi dengan ilmu.”

Bagaimana maqam keilmuan Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud dapat diperkirakan ketika tiba saatnya kewafatan Hadhrat Mu’adz Bin jabal dan saat menjenlang akhir hayat beliau dimintakan nasihat, lantas beliau bersabda, “Ilmu dan keimanan memiliki satu maqam. Siapa yang berusaha untuk meraihnya, maka dia akan berhasil.”

Empat nama sahabat yang alim dan mengamalkan ilmunya yang disebut oleh Hadhrat Muadz Bin Jabal untuk menimba ilmu darinya salah satunya adalah Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud.

Sepeninggal Rasulullah (saw), Hadhrat Umar mengutus beliau ke Kufah untuk memberikan talim dan tarbiyat sebagai Murabbi, sedangkan Hadhrat Ammar Bin Yasir diutus sebagai gubernur. (Wali atau Amir) Lalu beliau (ra) menuliskan juga pesan untuk penduduk Kufah, “Kedua sahabat ini merupakan orang pilihan Rasulullah (saw), orang khusus dan merupakan sahabat Badar. Ikutilah mereka dan taatlah pada perintahnya dan dengarkanlah perkataannya. Saya menganggap Abdullah Bin Mas’ud lebih baik bagi kalian dari pada bagi diri saya sendiri.”

Ketika Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud tengah sakit pada saat-saat terakhir, Hadhrat Utsman (ra) pergi menjenguk beliau dan bertanya, ما تشتكي ؟ “Apakah Anda ada keluhan?”

Beliau menjawab, ذنوبي “Jika Anda menanyakan keluhan saya, maka saya mengeluh akan dosa-dosa. Betapa banyaknya dosa yang telah saya lakukan.”

Kemudian, Hadhrat Utsman (ra) bertanya lagi, فما تشتهي ؟  “Apakah Anda menginginkan sesuatu?”

Beliau menjawab, رحمة ربي “Saya mengharapkan rahmat dari Yang Maha pelindung.”

Hadhrat Utsman (ra) bertanya, ألا ندعو لك الطبيب ؟ “Maukah saya panggilkan tabib untuk anda?”

Beliau menjawab, الطبيب أمرضني “Justru tabiblah yang telah membuat saya sakit.” Artinya, “Saya ridha diatas keridhaan Allah yang tengah terjadi.”

Hadhrat Utsman (ra) bertanya lagi, ألا آمر لك بعطائك ؟  “Maukah saya tetapkan tunjangan untuk anda?”

Beliau menjawab, منعتنيه قبل اليوم فلا حاجة لي فيه “Saya tidak memerlukannya.”

Hadhrat Utsman (ra) bertanya, تدعه لأهلك وعيالك “Itu akan berguna bagi istri dan putra-putri Anda.”

Beliau menjawab, إني قد علمتهم شيئا إذا قالوه لم يفتقروا ، سمعت رسول الله  يقول   “Apakah Anda meragukan putri-putri saya akan menjadi peminta minta? Saya sudah memerintahkan mereka untuk selalu membaca surah Al-Waqiah setiap malam. Saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda, من قرأ الواقعة كل ليلة لم يفتقر ‘Siapa yang setiap hari membaca surat Al Waqiah di malam hari, dia sama sekali tidak akan pernah mengalami musibah kelaparan.’”[10]

Demikianlah kondisi ketawakkalan dan sifat qanaah yang dimiliki oleh bintang-bintang yang berkilau itu.

Salma Bin tawam mengatakan ada seorang yang menemui Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud lalu menceritakan mimpinya sebagai berikut: “Pada malam tadi saya melihat anda dalam mimpi dan juga Hadhrat Rasulullah (saw) yang tengah duduk diatas mimbar yang tinggi.” Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud berada di bawah mimbar itu.

“Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ‘Wahai ibnu Mas’ud! Datanglah padaku, engkau telah memperlihatkan ketiadaan perhatian sepeninggalku.’

Abdullah bIn Mas’ud bertanya kepada orang itu, ‘Demi Tuhan! Apakah kamu melihat mimpi seperti itu?’

Orang itu menjawab, ‘Ya.’

Lalu beliau (ra) berkata, ‘Apakah kamu datang dari Madinah untuk menyalatkan jenazah saya?’ Artinya telah tiba saatnya kematian saya.

Selang beberapa masa setelah mimpi itu beliau wafat.

Namun sebelum wafat ketika Hadhrat Utsman (ra) mendapatkan kabar bahwa Abdullah sakit, lalu Abdullah dipanggil dari Kufah ke Madinah. Penduduk Kufah meminta beliau (ra) untuk tetap tinggal di Kufah dan mengatakan juga bahwa kami akan menjaga anda. Namun ketika tidak ada penyakit, mungkin Hadhrat Utsman (ra) memanggil beliau begitu saja. Saat itu nampaknya Hadhrat Abdullah sehat yakni ketika orang itu menceritakan mimpinya. Setelah itu terjadilah peristiwa tersebut yakni Hadhrat Utsman (ra) memanggil beliau dari Kufah ke Madinah, meskipun penduduk Kufah menghendaki supaya beliau (ra) tetap tinggal di Kufah dan berjanji akan menjaga beliau.

Namun beliau berkata, “Perintah Khalifah dan taat pada beliau adalah penting bagi saya.”

Beliau pun mengatakan, “Akan terjadi kekacauan dan saya tidak menginginkan untuk menjadi penyebab kekacauan.”

Setelah mengatakan demikian beliau berangkat menuju Khalifah. Beliau wafat pada tahun 32 Hijri di Madinah. Hadhrat Utsman (ra) memimpin shalat jenazah beliau lalu dikuburkan di Jannatul Baqi. Ketika wafat beliau berusia 60 tahun lebih sedikit. Berdasarkan riwayat lainnya ketika wafat beliau berusia 70 tahun lebih sedikit.

Saat kewafatan Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud, Abu Musa mengatakan kepada Abu Mas’ud, “Apakah anda beranggapan Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud mewariskan orang yang memiliki kelebihan sama seperti beliau?”

Hadhrat Abu Mas’ud berkata, “Ketika kami tidak diizinkan untuk masuk ke rumah Hadhrat Rasulullah (saw), saat itu Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud selalu mendapatkan izin untuk masuk dan ketika kami hilang dari majlis beliau, saat itu Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud mendapatkan taufik untuk mengkhidmati Rasulullah (saw)dan mendapatkan karunia untuk bergaul dengan beliau (saw). Lantas bagaimana mungkin ada orang yang memiliki kelebihan yang sama seperti beliau?”

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud benar-benar disiplin dalam mengamalkan Sunnah Rasul. Suatu ketika ditanyakan kepada Hadhrat Aisyah, “Diantara dua sahabat Rasulullah (saw) ada sahabat yang biasa menyegerakan berbuka puasa yakni ketika matahari terbenam langsung berbuka puasa dan segera mendirikan shalat yakni seketika setelah matahari terbenam. Sedangkan sahabat yang kedua melakukan kedua ibadah tersebut dengan menunda dibanding sahabat pertama.”

Hadhrat Aisyah bertanya, “Siapa yang selalu menyegerakan?”

Dijawab, “Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud biasa menyegerakannya.”

Hadhrat Aisyah bersabda kepada sahabat tersebut, “Seperti itu jugalah kebiasaan Rasulullah (saw) seperti yang dilakukan oleh Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud.”

Berkaitan dengan Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud masih ada lagi riwayat dan peristiwa yang insya Allah akan saya sampaikan kemudian. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat melaksanakan teladan para bintang yang berkilau itu. [aamiin]

 

Penerjemah             : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid.

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi proof reading (baca ulang dan komparasi naskah) : http://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Tarikh Madinah Dimasyq atau Sejarah Kota Damaskus (تاريخ مدينة دمشق), j. Ke 34, terbitan Abdul Baqi bin Ahmad dan Abdurrahman bin Qahthan (عبد الباقي بن أحمد – عبد الرحمن بن قحطان), Bahasan mengenai Abdurrahman ibn Sahl (عبد الرحمن بن سَهْل بن زَيْد بن كعب بن عامر بن عدي بن مَجْدَعة بن حارثة الأنصاري الحارثي)

طبقات ابن سعد – ج 4 – الطبقة الثانية من المهاجرين والأنصار ممن لم يشهدوا
الإصابة في تمييز الصحابة – ج 4 – عابد – عمرو بن طلق – 4327 – 5875

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ الزُّهْرِيِّ قَالَ: «لَدَغَ بَعْضَ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- حَيَّةٌ فَقَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: ” هَلْ مِنْ رَاقٍ؟ ” فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّ آلَ حَزْمٍ كَانُوا يَرْقُونَ رُقْيَةَ الْحَيَّةِ، فَلَمَّا نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى تَرَكُوهَا فَقَالَ: “ادْعُوا عمارةَ بنَ حزمٍ” فَدَعَوْهُ فَعَرَضَ عَلَيْهِ رُقَاهُ فَقَالَ: “لَا بَأْسَ بِهَا” فَأَذِنَ لَهُ فِيهَا فَرَقَاهُ»

[2] Musnad Ahmad.

[3] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab keutamaan orang Anshar (كتاب مناقب الأنصار), bab keutamaan Ubay ibn Ka’b (باب مَنَاقِبُ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ رضى الله عنه), no. 3808.

[4] (Shahih Bukhari No. Hadist: 3479)

[5] Syamail Muhammadiyah oleh Imam At-Tirmidzi.

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab Fadhailul Qur’an

[7] Shahih Bukhari No. Hadist: 3478

[8] HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban.

[9] Al-Amali al-Mahamili riwayat Ibn Yahya al-Bei (أمالي المحاملي رواية ابن يحيى البيع)

[10] Syi’bil Iman karya al-Baihaqi. (شعب الايمان للبيهقي ج6 ص13)