Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 16 Maret 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Seraya menyebutkan status para sahabat Rasulullah saw, Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam (as) menyampaikan dalam satu kesempatan, “Para sahabat (ra) yang mulia – semoga Allah berkenan dengan mereka semua – merupakan bukti-bukti yang bercahaya atas siirah (perjalanan hidup dan karakter) Rasulullah (saw). Siapa pun yang menyia-nyiakan dalil-dalil ini, berarti ia menyia-nyiakan kenabian Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, hanya seseorang yang benar-benar memuliakan Rasulullah (saw) lah yang dapat menghargai para sahabat beliau yang terhormat tersebut. Seseorang yang tidak memuliakan para sahabat Rasulullah saw, maka ia sama sekali tidak akan pernah bisa memuliakan Rasulullah (saw). Jika dia mengatakan bahwa dia mencintai Nabi saw, maka dia adalah pembohong dalam klaimnya karena sama sekali tidak mungkin seseorang mengaku mencintai Nabi saw dan dalam waktu yang bersamaan memusuhi sahabat beliau saw juga”

Kemudian beliau as berkata: “Para Sahabat adalah sekelompok orang suci yang belum pernah memisahkan diri dari Nabi mereka, dan tidak segan mengorbankan jiwa mereka di jalannya. Mereka begitu fana taat kepadanya sehingga mereka selalu siap menanggung setiap bencana dan penderitaan karenanya.”

Jadi, ini adalah kedudukan para Sahabat, – semoga Allah berkenan dengan mereka -, yang setiap Ahmadi harus selalu taruh di depan matanya sebagai pedoman. Ketika kita membaca Sirah para sahabat dan melihat model praktis mereka, tampak jelas status mereka yang hebat. Posisi ini harus menjadi alasan untuk menarik perhatian kita pada fakta bahwa biografi mereka, teladan mereka, pekerjaan mereka, tingkat ibadah mereka, dan ketaatan mereka menjadi panduan bagi kita yang harus dijadikan bagian dari kehidupan kita.

Sekarang saya akan menceritakan beberapa kisah dari beberapa sahabat Rasulullah (saw).

Hadhrat Abu Dujana Al-Ansari merupakan sahabat yang menerima Islam sebelum hijrahnya Rasulullah (saw) ke Madinah. Beliau dari kalangan Anshar dan merupakan penduduk asli Madinah. Beliau juga memiliki kehormatan untuk turut serta dalam perang Badar bersama Rasulullah (saw) dan beliau berjuang dengan amat gagah berani. Demikian pula beliau pun berkesempatan ikut serta dalam perang Uhud. Ketika perang Uhud, setelah umat Muslim diserang balik. Maksudnya, pada awalnya umat Islam mendapatkan kemenangan, namun kemudian diserang balik oleh orang-orang kafir dikarenakan beberapa Sahabat meninggalkan pos (tempat tugas) mereka sehingga orang-orang kafir menduduki pos-pos yang ditinggalkan tersebut dan berbalik menyerang mereka. Dari antara para sahabat yang tetap berdiri di dekat Rasulullah (saw) salah satunya adalah Hazrat Abu Dujana (ra), dan beliau mengalami luka yang parah saat melindungi Rasulullah (saw). Namun beliau tidak mundur meski penuh luka-luka.

Ada sebuah riwayat yang menyebutkan suatu ketika Rasulullah saw mengangkat sebilah pedang dan bersabda: Siapa yang akan menunaikan hak pedang ini? Seketika itu juga Hadhrat Abu Dujanah ra menyambut seruan Rasulullah saw, “Saya. Wahai Rasulullah.” Rasulullah saw pun menyerahkan pedang itu kepadanya. Ia bertanya: Ya Rasulullah saw, apa maksudnya menunaikan hak pedang ini? Rasulullah saw bersabda: “Tidak ada darah orang Muslim yang akan mengalir karena pedang ini. Dan kedua, tidak ada musuh kafir yang akan selamat dari pedang ini.” Artinya, wajib untuk menggunakan pedang ini hanya untuk memerangi orang-orang kafir yang datang memerangi Islam dan ingin melenyapkan Islam.

Dalam sebuah riwayat menyebutkan seketika itu Hadhrat Abu Dujanah ra dengan penuh semangat maju diantara barisan Muslim dan kuffar dan sambil membusungkan dada terjun ke medan perang.

Hadhrat Rasulullah saw ketika melihatnya bersabda, “Ini adalah tindakan yang dibenci Tuhan kecuali  situasi yang seperti ini (medan perang).”

Hadhrat Abu Dujanah ra syahid ketika perang Yamamah saat memberantas Musailamah Al-Kazzab. Beliau berkata kepada teman-temannya supaya melemparkannya ke dalam benteng dari atas pagar (perhatikan bahwa tembok itu sangat tinggi) dan saat mereka melemparkannya, kakinya patah akibat jatuh, namun tetap berjuang dengan segenap keberanian dan membuka pintu benteng demi masuknya pasukan Muslim. Abu Dujana menunjukkan keberanian yang besar dan menjadi syahid dan berkelahi dengan sangat berani.

Suatu ketika saat beliau sakit, beliau berkata kepada sahabatnya, “Mungkin hanya dua amalan saya saja yang diterima Allah Ta’ala. Pertama, saya tidak pernah membicarakan keburukan orang lain serta bicara yang sia-sia. Kedua, saya tidak menyimpan dendam atau kebencian di dalam hati saya kepada orang Islam lainnya.”

Lalu, sahabat lain adalah Hadhrat Muhammad bin Maslamah (ra). Beliau termasuk kalangan Anshar yang awal masuk Islam. Beliau juga ikut dalam perang Uhud dan tetap berdiri berjuang dengan berani disamping Rasulullah (saw) dengan sangat gigihnya. Satu yang istimewa darinya adalah Rasulullah (saw) menyampaikan nubuatan pada dirinya dan itu terjadi. Pada satu kesempatan seraya menyerahkan pedang beliau (saw) kepadanya, Rasulullah (saw) bersabda, “Selama bertempur melawan orang-orang Musyrik, maka kamu harus terus memerangi mereka dengan pedang ini. Namun ketika tiba waktunya saat orang-orang Islam saling berperang satu sama lain, kamu harus mematahkan pedang ini, dan tetap diam di rumah sampai seseorang membunuhmu atau kematian menghampirimu.”

Beliau melaksanakan nasehat Nabi saw tersebut. Hadhrat Muhammad bin Maslamah (ra) mematahkan pedangnya itu setelah terbunuhnya Hadhrat Utsman bin Affan. Beliau mengambil pedang kayu untuk berjaga-jaga.

Seseorang mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya: “Apa hikmah kebijaksanaan di balik itu?” Beliau menjawab, قَدْ فَعَلْتُ مَا أَمَرَنِي بِهِ رَسُولُ اللَّهِ  وَاتَّخَذْتُ هَذَا أُرْهِبُ بِهِ النَّاسَ “Saya telah melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Saya tidak akan membawa pedang besi sesuai dengan nasehat Nabi, tapi pedang kayu tidak akan menyakiti siapapun.”

Sahaba mengatakan bahwa setelah kemartiran Utsman, fitnah (penghasutan dan kerusuhan) mulai tampak tapi itu tidak mempengaruhi Muhammad bin Maslamah. Guna menjaga diri beliau dari kerusuhan saat itu, maka beliau pergi mengasingkan diri, dan beliau berkata, “Jika kerusuhan ini tidak berakhir saya akan menghabiskan hidup saya di pengasingan.”

Sahabat-sahabat ini ketika mereka berperang, alasan di balik peperangan mereka ialah karena musuh menyerang agama, dan karena Rasulullah memerintahkan mereka untuk memerangi orang-orang kafir yang menyerang agama dan bermaksud untuk melenyapkannya. Selama kaum Muslim didasarkan pada hal itu, mereka tetap kuat dan menang, dan ketika mereka mulai berperang di antara mereka sendiri dan memotong leher antara satu terhadap yang lain karena tertipu oleh kata-kata orang munafik, maka mereka tidak lagi bersatu. Pemerintah mereka terlihat ada secara lahiriah namun perlahan melemah. Hari ini kita melihat bahwa perbedaan diantara umat Islam telah mencapai puncaknya. Hari ini, kita menyaksikan bahwa perselisihan diantara umat Islam sudah melampaui batas. Maka dari itu nubuatan Rasulullah (saw) yang lainnya pun sudah tergenapi yaitu bahwa setelah era kegelapan, maka muncul lah cahaya, yaitu ketika masa Al-Masih yang dijanjikan tiba, kalian harus menerima al-Masih tersebut dan bergabung dengan Jemaatnya, karena keberkatan ada di dalamnya.

Tapi kita melihat bahwa umat Islam karena kurangnya kepercayaan pada utusan ini telah menjadikan mereka haus bahkan terhadap darah warga setanah airnya sendiri. Hal ini berdampak pada dunia non-Muslim dalam praktiknya sekarang berkuasa atas umat Islam.

Kita menemukan kejadian yang mengatakan bahwa Muhammad bin Maslamah berpendirian lurus dan sangat taat, dan kemudian para Khalifah sangat mempercayainya, terutama Hadhrat Umar dan Hadhrat Utsman, semoga Allah berkenan dengan mereka, yang telah mempercayakannya beberapa tugas penting dan pekerjaan yang diperlukan. Hadhrat Umar mengirimnya untuk mencari fakta dan menyelidiki keluhan yang dia terima terhadap beberapa pejabat dari berbagai negeri dan wilayah.

Salah satu sahabat yang paling awal adalah Hadhrat Abu Ayyub Al-Ansari (ra). Beliau beruntung mendapatkan kehormatan sebagai tuan rumah dan menerima Rasulullah (saw) saat hari-hari pertama beliau (saw) di Madinah. Rumah Abu Ayyub Al-Anshari (ra) terdiri dari dua lantai. Lantai atas ditempati beliau sementara lantai bahwa diperuntukan bagi Rasulullah (saw). Suatu malam bejanah air di lantai atas tempat beliau tinggal pecah. Beliau dengan sang istri pun sepanjang malam mengelapnya hingga kering dengan selimut mereka. Keesokan harinya beliau menceritakan kejadian malam itu kepada Rasulullah (Saw) dan meminta beliau (Saw) untuk pindah ke lantai atas. Rasulullah (saw) menerima permintaan tersebut dan tinggal di rumah beliau selama kurang lebih enam atau tujuh bulan. Beliau mencoba sebaik mungkin memenuhi kewajibannya dan tanggungjawabnya.

Betapa beruntungnya orang yang menyambut Rasulullah saw di Madinah. Setiap orang berharap bahwa Nabi akan tinggal di rumahnya, dan setiap orang akan meminta Nabi untuk tinggal di rumahnya. Sampai akhirnya Rasulullah saw memutuskan untuk melepas unta beliau dan dimana unta tersebut berhenti maka beliau saw akan tinggal di sana. Unta beliau saw berhenti di rumah Hadhrat Abu Ayyub Anshari ra. Inilah kebahagiaan beliau. Tapi orang-orang merasa tidak puas hingga akhirnya sekali lagi unta dilepas oleh Nabi saw, tapi tetap saja rumah Hadhrat Abu Ayub ra yang terpilih. Beliau ra lah yang beruntung.

Hadhrat Abu Ayub Anshari ra tinggal di lantai atas rumahnya yang terdiri dari dua tingkat. Nabi saw tinggal di lantai dasar. Suatu malam sebuah gerabah berisi air pecah di lantai atas (diketahui gerabah digunakan untuk menyimpan air, dan sekarang juga di negara-negara miskin di Dunia Ketiga seperti Pakistan, menyimpan air di dalamnya) Singkatnya, bejana itu pecah. Abu Ayyub dan istrinya terus mengeringkan airnya untuk waktu yang lama dengan telapak tangan mereka.

Pagi harinya, beliau menceritakan kepada Nabi (saw) apa yang terjadi pada malam hari dan meminta beliau saw untuk tinggal di lantai atas. Nabi saw menyetujuinya. Sekitar 6 atau 7 bulan Rasulullah saw tinggal di rumah beliau ra. Dan beliau ra mendapat karunia untuk memenuhi hak pengkhidmatan terhadap Rasulullah saw. Beliau ra dan istrinya selalu makan dari sisa makanan Rasulullah saw yang beberkat. Kedua suami istri ini biasa bertayammum dari tempat dimana jari-jari Nabi saw pernah berada. Suatu kali Rasulullah saw tidak makan makanan yang disediakan. Ketika ditanya maka beliau saw bersabda: “Saya tidak suka bawang merah dan bawang putih (mentah), maka saya tidak memakannya.” Hadhrat Abu Ayub Anshari ra lalu berkata: “Jika begitu apapun yang Rasulullah saw tidak sukai maka saya juga tidak akan sukai.” Inilah sebuah bentuk rasa cinta yang menakjubkan.

Hazrat Abu Ayyub Ansari (ra) ikut serta dalam semua peperangan yang diikuti Rasulullah (saw). Dalam Pertempuran Khaybar, pemimpin orang-orang Yahudi terbunuh dan Nabi menikah dengan putrinya, Shafiyah. Pagi hari saat Rasulullah (saw) hendak memimpin shalat subuh, didapatinya Hadhrat Abu Ayyub berjaga di tenda beliau semalaman. Nabi bertanya kepadanya mengapa menjaga beliau pada malam itu. Beliau menjawab: “Kerabat Shafiyah menghadapi kekalahan di tangan kami, dan beberapa di antara mereka juga telah terbunuh. Jadi saya takut ada orang dari kalangan mereka yang datang ke sini dan mencoba membalas dendam, jadi saya datang ke sini sebagai penjaga.”  Rasulullah (saw) pun kemudian mendoakan Hadhrat Abu Ayyub sebagai berikut: اللّهُمّ احْفَظْ أَبَا أَيّوبَ كَمَا بَاتَ يَحْفَظُنِي “Allahumma hfazh Aba Ayyuba kama baata yahfazhunii.”- “Wahai Tuhan! Jaga dan lindungilah selalu Abu Ayyub sebagaimana ia menjagaku sepanjang malam!”

Hadhrat Abu Ayyub Al-Anshari juga ambil bagian dalam perang melawan kekaisaran Romawi meskipun usianya sudah tua. Beliau ikut dalam peperangan tersebut hanya ingin menyaksikan pemenuhan nubuatan Rasulullah (Saw) mengenai penaklukan Konstantinopel. Kendati beliau di masa-masa penyerangan tersebut jatuh sakit. Ketika beliau ditanya keinginannya yang terakhir, beliau menjawab, “Sampaikan salam saya ke setiap umat Islam dan kuburkanlah saya sejauh mungkin yang dapat kalian mampu di negeri musuh.”

Maka mulai dari itu, saat kewafatannya di malam hari, jenazahnya dibawa sejauh mungkin di negeri musuh guna dikuburkan. Bahkan saat ini kuburan beliau berada di Turki, dan dikatakan oleh para peziarah bahwa orang-orang di sana telah membuat-buat beberapa bid’ah juga yang diantaranya yaitu siapa yang berdoa di kuburan tersebut maka hajatnya akan dikabulkan. Mereka tidak meminta kepadanya, namun percaya permohonan di makamnya akan dikabulkan. Ringkasnya, kisah-kisah pun dibuat-buat dan bermunculan.

Doa yang dimintakan oleh Nabi saw supaya semoga Tuhan melindungi Abu Ayyub telah dikabulkan. Beliau berpartisipasi dalam banyak peperangan dan kembali dengan selamat. Beliau pun hidup lama.

Selanjutnya, diantara Sahabat Rasulullah (saw) lainnya, yaitu Hadhrat Abdullah bin Rawahah (ra), seorang penyair termasyhur di Arabia, dan juga terkenal dengan julukan Sang Penyair Rasulullah (saw). Setelah perang Badar berakhir, beliau merupakan salah seorang yang membawa berita kemenangan kepada orang-orang Madinah.

Ada beberapa peristiwa yang menunjukkan kecintaannya kepada Nabi saw. Contohnya, sebagai berikut:

Usamah bin Zaid bin Haritsah meriwayatkan kepada Urwah: Suatu kali sebelum peristiwa Badar, Rasulullah saw bersama Usamah pergi dengan mengendarai keledai ke satu tempat untuk menengok Sa’ad bin Ubadah yang sakit di Banu al-Harits bin al-Khazraj. Mereka melewati sekelompok orang yang adalah campuran dari orang-orang Musyrik (penyembah berhala, orang Yahudi dan orang Islam. Diantara mereka ada Hadhrat Abdullah bin Rawaha ra dan ketika itu juga ada Abdullah bin Ubay (seorang munafik). Beliau saw menyampaikan salam kepada mereka, turun dari kendaraan dan bertabligh di sana membacakan ayat-ayat Qur’an. Abdullah bin Ubay berkata kepada Rasulullah saw: “Wahai sodara, anda tidak perlu datang menganggu majlis kami. Meski benar, tidak baik apa yang Anda katakan. Kembalilah ke tempat perjalanan Anda dan sampaikan pesan itu hanya kepada orang-orang yang mana Anda akan ke sana.” Mendengar itu langsung Hadhrat Abdullah bin Rawaha ra berdiri dan berkata: “Ya Rasulullah saw! Engkau silahkan terus datang ke majlis kami, kami sangat senang, tidak usah perdulikan Abdullah bin Ubay meskipun dia pemimpin di sini.” Inilah bagaimana ghairat dan kecintaan kepada Nabi saw, beliau ra perlihatkan secara langsung tanpa mempedulikan para tokoh itu dan orang-orang duniawi tersebut.

Ada riwayat dari Ibn Abbas, Nabi (saw) bersabda: “Beberapa sahabat ditugaslah oleh Nabi (saw) untuk sebuah ekspedisi, termasuk Abdullah bin Rawahah. Kebetulan hati itu pada hari Jumat. Para sahabat berangkat sementara beliau menunda berangkat, memisahkan diri untuk shalat berjamaah bersama Nabi saw lalu baru berniat bergabung dengan rombongan. Ketika shalat berjamaah telah selesai, Nabi saw melihatnya di Masjid lalu beliau bertanya, مَا مَنَعَكَ أَنْ تَغْدُوَ مَعَ أَصْحَابِكَ؟  ‘Apa yang menghalangi Anda berangkat bersama para Sahabat?’ Ia menjawab: ‘Saya ingin shalat berjamaah dengan Anda pada hari Jumat dan mendengarkan khotbah Anda lalu baru bergabung dengan mereka. Nabi berkata: لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَدْرَكْتَ فَضْلَ غَدْوَتِهِمْ ‘Jika Anda menghabiskan apa yang ada di bumi semuanya, baru Anda akan menyadari kebajikan dari keberangkatan mereka, karena mereka mengikuti perintah.’

Inilah pelajaran kita bahwa ketaatan ialah kewajiban. Hal ini diceritakan dalam riwayat bahwa Abdullah bin Rawahah setelah peristiwa ini menjadi yang pertama berangkat ketika ditugaskan dan yang terakhir pulang.

Ada satu kisah dimana Urwah bin Zubair menceritakan bahwa Rasulullah (saw) menunjuk langsung Zaid bin Harits (ra) sebagai Panglima perang. Beliau mengatakan bahwa jika Zaid tertimpa sesuatu (terbunuh) maka Ja’far bin Abi Thalib yang akan menjadi panglimanya. Jika Ja’far pun mati, maka Hazrat Abdullah bin Rawahah (ra) yang akan mengambil kendali. Jika Abdullah (ra) juga mati maka umat islam harus memilih siapa yang mereka kehendaki sebagai panglima. Ketika tiba waktunya giliran Abdullah sebagai panglima. Ketika pasukan berangkat, beliau pun menangis. Seseorang bertanya kenapa lalu beliau berkata, “Demi Allah saya benar-benar tidak mencintai ataupun berhasrat sedikit pun dengan dunia. Akan tetapi saya mendengar Rasulullah (saw) berkata mengenai ayat al-Quran: وَإِنْ مِنكُمْ إِلا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا (مريم: 71) “Dan tiada seorang pun dari antara kamu melainkan akan datang kepada hal itu. Ini adalah ketetapan mutlak dari Tuhan engkau.” Disitu dikatakan bahwa setiap orang pasti menghadapi nerakanya. Jadi setelah melewati jalan yang halus ini yaitu hari penghisaban, saya tidak mengetahui bagaimana keadaan saya nantinya. Ketika peperangan Mota rasulullah (saw) bersabda mengenai para panglima perang bahwa saya melihat mereka di Surga duduk diatas takhta emas. Jadi inilah orang-orang yang memenuhi tujuan mereka.

Rasulullah saw bersabda: Berkenaan dengan orang-orang yang syahid diperang Muta, saya melihat mereka sedang duduk di pohon emas disurga dan mereka adalah orang-orang yang telah mencapai tujuannya. Keinginan Abdullah bin Rawahah akan kesyahidan tertera dalam bait syairnya berikut ini:

لَكِنَّنِي أَسْأَلُ الرَّحْمَنَ مَغْفِرَةً وَضَرْبَةً ذَاتَ فَرْعٍ تَقْذِفُ الزَّبَدَا

أَوْ طَعْنَةً بِيَدَيْ حَرَّانَ مُجْهِزَةً بِحَرْبَةٍ تَنْفُذُ الأَحْشَاءَ وَالْكَبِدَا

” Akan tetapi, yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman
Keampunan dan kemenangan di medan perang
Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan
Bertekuk lututnya angkatan perang syetan
Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan ….. Mati syahid di medan perang…!!

حَتَّى يَقُولُوا إِذَا مَرُّوا عَلَى جَدَثِي

Hingga dikatakan, bila mereka melewati mayatku,

يا أَرْشَدَاللهُ مِنْ غَازٍ وَقَدْ رَشَدَا

“Wahai prajurit perang yang dibimbing oleh Allah, Dia memang telah memimpinmu.”

Di perang Muta muslim yang berjumlah 3000 orang menghadapi 200.000 orang musuh. Heraklius, kaisar Romawi menyuruh vasalnya (raja bawahannya), Amir Ghassan untuk menghadapi umat Muslim. Ketika itu orang-orang Muslim bermusyawarah untuk disampaikan pesan kepada Rasulullah saw agar melakukan penambahan pasukan atau apapun itu keputusan beliau saw. Tapi Hadhrat Abdullah bin Rawaha ra lah yang menyemangati mereka untuk terus berderap maju menghadapi musuh. Dalam perang itu Hadhrat Abdullah bin Rawaha ra menunjukkan keberanian yang sangat luar biasa.

Zaid bin Arqam menyebutkan harapan Abdullah bin Rawahah untuk meraih Syahadah (kesyahidan): Abdullah bin Rawahah mendapat tugas untuk Pertempuran Mu’tah. Abdullah bin Rawahah ialah wali (pemberi nafkah) Zaid bin Arqam, seorang yatim piatu dan membesarkannya. Zaid berkata, “Saya mendengar satu malam Abdullah bin Rawahah mengulangi bait-bait puisi berikut, yang menyebutkan keluarganya dan mengatakan sekarang tidak akan datang kembali kepada mereka. Ia melantunkan bait-bait ini dengan kebahagiaan dan membicarakan istrinya:

إذا بلَّغتني وحملت رحلي … مسافة أربعٍ بعد الحساء

Apabila kamu membawaku dan tungganganku.
Menempuh perjalanan jauh setelah meminum air segar di Hisaa’

فزادك أنعمٌ وخلاك ذمٌّ … ولا أرجع إلى أهلي ورائي

Aka mengikutimu adalah kesenangan dan meninggalkanmu adalah kehinaan.
Aku tidak akan kembali lagi kepada keluargaku yang aku tinggalkan.

Abdullah bin Rawahah memperlihatkan keberanian dalam bidang jihad seperti yang dikisahkan oleh Abdul Salam bin Numan bin Bashir: Ketika Jaafar bin Abi Thalib tewas, orang-orang memanggil Abdullah bin Rawahah, yang berada di sisi pasukan. Ia pun datang dan bersyair mengenai diri sendiri:

يا نفس إلا تقتلي تموتي … هذا حياضُ الموتِ قد صُليتِ

وما تمنيتِ فقد لقيتِ … إن تفعلي فعلَهُما هديتِ

     Wahai diri, bila engkau tidak tewas terbunuh, engkau pasti mati

     Inilah kematian sejati yang sejak lama engkau nanti

     Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini

     Jika engkau ikuti jejak keduanya, engkau berada dalam petunjuk.

     (Dua orang yang telah mendahuluinya mencapai kesyahidan adalah Zaid dan Ja’far.)

Hadhrat ‘Abdullah bin Rawahah (ra) memperlihatkan mutiara pengorbanan yang besar dalam medan pertempuran. Mush’ab bin Syabiah meriwayatkan setelah kesyahidan Hazrat Zaid (ra) dan Hazrat Ja’far (ra), Hazarat ‘Abdullah bin Rawahah (ra) maju ke garis depan. Sebuah tombak melayang menghujam tubuh beliau, dan seketika itu juga darah mengucur keluar dengan derasnya. Beliau mengangkat tangan, menyeka darah serta melumuri wajah beliau dan terjatuh di tengah-tengah garis pertempuran musuh. Namun sebagai panglima perang beliau bangkit dan terus mempompa semangat umat islam hingga nafas terakhir. Sambil meminta bantuan beliau membakar semangat umat Islam dengan mangatakan: “Lihatlah wahai umat Islam! tubuh saudaramu ini tergeletak di depan musuh. Maju dan pukul mundur lah musuh tersebut dan lawan mereka.” Oleh karena itu, orang-orang islam pun terus menerus melawan para musuh tersebut dengan begitu dahsyat. Dan Hazrat ‘Abdullah pun meraih kesyahidan.

Ketika janda beliau menikah, maka suaminya bertanya: Coba beritahu saya apa kekhususan dari kesucian Hadhrat Abdullah bin Rawaha ra (almarhum suamimu)? Janda beliau menyampaikan sifat yang paling agung darinya. Ia berkata: “Abdullah bin Rawahah (ra) tidak akan meninggalkan rumah sebelum melaksanakan shalat sunnah dua rakaat. Demikian pula hal yang paling pertama beliau lakukan setelah masuk ke rumah adalah berwudhu terus melaksanakan shalat sunnah dua rakaat.” Inilah orang-orang yang setiap saat dan kesempatan senantiasa mengingat Allah Ta’ala.

Mengenai standar ketaatannya, Abu Laila meriwayatkan bahwa suatu kali Nabi saw berpidato di dalam Masjid. Abdullah bin Rawaha ra tengah dalam perjalanan hendak masuk ke Masjid. Saat itu ia mendengar Nabi saw bersabda, “Duduklah!” Ia pun langsung duduk padahal masih di luar Masjid. Ketika Nabi saw selesai berpidato lalu bersabda kepada Abdullah bin Rawaha ra, “Wahai Abdullah bin Rawahah! Semoga Allah meninggikan gairat ketakwaanmu kepada Allah dan rasul-Nya.”

Apakah tolok ukur mereka dalam majelis-majelis keagamaan, ikut terlibat dalam percakapan yang bermakna dan memenuhi hak-hak mereka satu sama lain? Abdullah bin Rawahah (ra) biasa berkata kepada Hazrat Abu Dardaa’ (ra), “Wahai Abu Dardaa! Mari duduk bersama-sama guna membangkitkan (memperkuat) keimanan kita. Ayo kita berbicara tentang agama (keimanan).”

Rasulullah (saw) bersabda mengenai duduk berkumpul (menghadiri majlis keagamaan): “Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat-Nya kepada Abdullah bin Rawhah (ra). Ia menyukai majelis-majelis seperti itu yang mana para malaikat pun menyukainya.”

Abdullah bin Rawahah (ra) ialah penyair yang mahir. Ia termasuk tiga orang penyair Rasulullah. Kedua orang lainnya ialah Ka’ab bin Malik dan Hasan ibn Tsabit. Penulis buku Mu’jamusy Syu’ara mengatakan bahwa beliau bermartabat tinggi diantara para penyair sebelum Islam dan sesudah Islam. Berikut betapa bagusnya madah yang beliau sampaikan kepada Rasulullah:

لو لم تكنْ فيه آياتٌ مبينة … كانت بديهتُه تُنبيك بالخبرِ

Jika tidak ada padanya ayat-ayat nan jelas

Sebuah kabar sudah cukup diberitahukan oleh wajahnya

Artinya, bahkan, jika tidak ada pada Nabi Muhammad asl-Mushthafa ayat-ayat yang menunjukkan kebenarannya maka wajahnya saja sudah cukup menjadi dalil kebenarannya.

Mereka itulah kaum yang merupakan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw. Mereka mengenali kebenaran dengan hanya melihat wajah beliau saja.

Lalu, dari sejarah pun kita belajar mengenai keberanian dan kegagahan yang luar biasa dari dua pemuda bersaudara yaitu Hadhrat Mu’adz bin Harith bin Rifa’at dan Hadhrat Mu’awwidz bin Harith bin Rifa’at. Mereka berdua hadir dalam perang Badar dan juga berperan dalam membunuh Abu Jahl. Dalam perang Badar yang begitu sengit. Orang-orang Islam melihat sebuah laskar tentara musuh yang jumlahnya tiga kali lipat banyaknya dan dilengkapi dengan berbagai macam peralatan tempur. Mereka datang ke medan tempur dengan niat melenyapkan nama Islam. Mereka semua mahir berperang dan berkeinginan kuat untuk melenyapkan Islam. Sementara umat Islam sangat miskin ketika itu. Orang-orang Islam yang lemah ini jumlahnya sangat sedikit dengan peralatan tempur seadanya.

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad dalam buku ‘Sirat Khataman Nabiyyin’ menceritakan hal ini. Mereka melewati kehidupan dengan kemiskinan dan kesusahan. Dari segi materi, mereka tidak ada apa-apanya di depan para penduduk Makkah. Jika dilihat dari segi duniawi maka mereka akan mudah dihancurkan dalam beberapa menit saja. Namun, kecintaan kepada Tauhid dan risalah Nabi saw telah mewarnai mereka dengan sebuah perasaan yang membuat mereka lebih kuat dari setiap sesuatu di dunia. Keimanan dalam diri mereka telah meniupkan kehidupan kuat yang luar biasa. Mereka mempersembahkan di medan perang demi agama suatu pengkhidmatan yang tidak ditemukan dalam pemandangan di dunia. Kita temukan setiap orang dari mereka senang hati untuk berkorban jiwa di jalan agama.

Semangat kaum Anshar dapat kita temukan secara jelas dalam riwayat yang Abdur Rahman bin Auf (ra) ceritakan: “Ketika peperangan dimulai, saya menoleh ke kanan -ke kiri, dan melihat tidak ada satu orang pun selain dua pemuda dari kalangan Anshar tersebut. Ketika saya melihat mereka berdua hati saya langsung jatuh, karena biasanya dalam setiap peperangan saya selalu didampingi para pejuang terlatih di kanan dan kiri. Saya pun diliputi pemikiran tentang bagaimana cara dua (pemuda) ini dapat melindungi saya. Tiba-tiba salah satu pemuda tersebut berbisik dengan cara merahasiakannya agar tidak diketahui saudaranya, “Tuan, Manakah yang bernama Abu jahal yang sudah menyebabkan penderitaan Rasulullah (saw) di mekah? Saya telah bersumpah atas nama Allah Ta’ala bahwa saya akan membunuhnya”. Atau dia berkata, “Saya akan berusaha sampai mati untuk bisa mendekatinya.”

Hadhrat Abdurrahman berkata: “Belum sempat saya menjawab tiba-tiba saudaranya yang satunya lagi di samping saya menanyakan hal yang sama kepada saya. Tingkat keberanian mereka berdua membuat saya kagum, sebab Abu Jahal merupakan Jendral ternama yang dikelilingi para prajurit yang tangguh dan berpengalaman. Saya pun menunjuk orang yang bernama Abu Jahal tersebut. Sesaat setelah saya menunjukan orang yang dimaksud, kedua pemuda ini melesat bagaikan elang, membabat setiap musuh yang ada depan mereka hingga sampai ke tempat Abu Jahal. Mereka pun menyerang Abu Jahal dengan sangat cepat, hingga membuat para panglima lainnya ‘melongo’ (terpaku) hanya menyaksikan dan tidak mampu berbuat apa-apa. Abu Jahal pun mereka berdua jatuhkan dan tersungkur ke tanah. Saat itu ada Ikrimah bin Abu Jahal juga disamping ayahnya. Tapi Ikrimah tidak bisa menyelamatkan Abu Jahal, ayahnya. Namun, Ikrimah dapat menjatuhkan Mu’adz dan menebas tangan kanan Mu’adz. Tangan Mu’az yang terkena pedang terkulai lemas namun tidak putus penuh. Lalu dia memutuskan tangannya sendiri agar tidak menyulitkannya untuk terus berperang. Ia menyerang Ikrimah namun Ikrimah selamat darinya.”

Jadi, inilah dua pemuda yang memiliki semangat dan keluhuran akan keimanan mereka. Bentuk kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah (saw) lah yang membuat mereka tidak gentar untuk menghabisi Abu Jahal, musuh yang hendak menghabisi Islam tersebut dan telah bertahun-tahun menganiaya Nabi saw. Para Sahabat itu tidak seperti orang-orang yang konon disebut para Jihadits yang meradikalisasi para pemuda dan berkata kepada mereka agar berperang demi Islam. Para Sahabat berperang dengan tujuan agung dengan berkata, “Para musuh takkan membiarkan kami hidup tenang dan damai padahal kami telah meninggalkan kampung halaman kami. Sekarang, terpaksa kami harus mempersembahkan pengorbanan demi mengokohkan perdamaian dan mengakhiri fitnah (menghentikan ketidakadilan).”

Sebaliknya hari ini, guna menggulingkan pemerintahan, para pemuda diculik dan kemudian diradikalisasikan (dibuat agar menjadi radikal dan berpandangan kekerasan). Beberapa hari lalu ada berita mengenai seorang remaja 14 tahun yang berhasil selamat melarikan diri dari para penculik itu. Ia menceritakan kisahnya bahwa ia dibawa paksa ke sebuah Madrasah. Mereka memaksanya melakukan latihan-latihan kekerasan. Jika tidak mau, ia akan diperlakukan dengan kekerasan hingga ia mau. Jadi, ia dipersiapkan secara paksa untuk berperang atas nama mereka namun telah berhasil susah payah menyelamatkan diri dan melarikan diri dari mereka. Gerakan-gerakan dari kalangan Muslim ini bertindak dengan mengatasnamakan Islam padahal tindakan mereka berlawanan dengan ajaran Islam. Pada masa dahulu, kenapa peperangan dilakukan atas nama Islam dan kenapa orang-orang dengan mudahnya siap mengorbankan hidup mereka, hal itu dilakukan hanya untuk melindungi agama mereka dan demi menegakan perdamaian di dunia. Oleh karena itu ada perbedaan besar antara orang-orang yang berjihad dahulu dengan para Jihadis hari ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Saya ingin melihat keteladanan para Sahabat Nabi Muhammad saw di kalangan para anggota Jemaat saya. Hal itu ialah mengutamakan Allah Ta’ala dan tidak membuat terhambat halangan apa pun di jalan mereka dan tidak menghitung-hitung harta-harta dan jiwa-jiwa mereka demi berkorban di jalan Allah. Kabar-kabar sampai kepada saya dari sebagian orang yang dari hal itu dapat diketahui bahwa jika sedikit saja mereka menderita kerugian dalam harta atau pekerjaan lain atau menghadapi ujian maka terjadilah keraguan segera dalam diri mereka.” (Mereka mengira mungkin mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as itu suatu kesalahan sehingga mereka menderita cobaan ini. Demikianlah yang terjadi dalam hal keraguan terkait agama, Allah Ta’ala dan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as juga.) “Mungkin baru dapat diketahui oleh tiap orang seberapa jauh ia dari tujuan dan maksud hakiki. Pikirkanlah! Apa perbedaan antara mereka dan para Sahabat. Para Sahabat menginginkan ridha Allah sementara mereka menghadapi berbagai musibah dan kesulitan di jalan ini. Jika seseorang dari mereka tidak menghadapi kesulitan dan musibah untuk sementara waktu niscaya ia akan menangis dan tertekan.” (Sebagian Sahabat demikian kuat keyakinannya sampai-sampai peristiwa yang menimpa mereka dalam hal musibah, kesulitan dan kesabaran akan menambah kedekatan mereka dengan Allah.) “Mereka telah memahami bahwa dibawah ujian-ujian tersebut tersembunyi pemandangan ridha Allah dan perbendaharaannya.”

Dalam hal ini, beliau as menyebutkan bait syair dalam bahasa Farsi (Persia):

 ہر بلا كين قوم را حق داده است
زير آن گنج كرم بنهاده است

Har bala kiin qaum raa haq daadah ast

Zeer aan ganj karm nahaadah ast.

Setiap kali Tuhan menguji satu kaum dengan sesuatu

Maka, Dia akan perlihatkan di akhirnya keadaan yang lebih baik dan karunia yang sangat banyak.

Selanjutnya, beliau as bersabda, “Al-Qur’an mengandung pujian terhadap para Shahabat. Bacalah ia supaya kalian mempelajari bagaimana kehidupan para Shahabat ialah bukti praktis (saksi hidup) kebenaran Nabi Muhammad saw. Kedudukan para Sahabat tercantum dalam ayat, مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُواْ تَبْدِيلًا ‘Minal mu`miniina rijaalun shadaquu maa ‘aahaduullaha ‘alaihi faminhum man qadha nahbahu wa minhum man yantazhiru wa maa baddaluu tabdiilaa(n).’ – ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).’ (Surah al-Ahzaab, 33:24). Itu artinya, diantara mereka terdapat yang meraih martabat kesyahidan dan seolah-olah itu memenuhi cita-cita mereka. Sementara itu, diantara mereka terdapat yang menunggu supaya tercapai kesyahidan. Para Sahabat tidak pernah tergantung pada keduniawian. Mereka tidak pernah berhasrat sekali akan berumur panjang atau berharta dan makmur sejahtera. Tatkala saya merenungi teladan para Sahabat, saya mengakui kekuatan penyucian dari Nabi Muhammad saw dan kesempurnaan aliran karunia beliau. Bagaimana beliau saw mengubah mereka dan mengarahkan perhatian mereka kepada Allah. Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammadin wa baarik wa sallim.”

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik kepada kita untuk mencontoh suri tauladan para sahabat ra, Aamiin

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan tentang para sahabat Rasulullah (saw): “Pada intinya, adalah tugas kita untuk tetap mencari ridha Allah Ta’ala dan tetap menjadikan hal tersebut sebagai tujuan akhir kita. Segala upaya dan perhatian kita harus lah demi mencari ridha Allah Ta’ala, bahkan baik dalam keadaan kesusahan dan kesulitan sekalipun. Ridha Allah lebih mulia dan lebih tinggi dari semua kelezatan duniawi.”

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk menunaikan kewajiban ini sebaik mungkin. Aamiin.

Setelah shalat Jumat, saya akan memimpin shalat jenazah ghaib dari yang terhormat Al-Haaj Ismail BK Addo Sahib. Beliau seorang Ahmadi Ghana dan wafat tanggal 8 March diusia 84 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Innalilahi wa innailahi rajiun. Beliau seorang politikus ternama yang meninggalkan karir politiknya demi dekat dengan Khilafat e Ahmadiyya in London. Beliau lahir sebagai seorang Ahmadi. Ayah beliau seorang Kristen dan baiat pada tahun 1928. Beliau bekerja sebagai guru di UK. Beliau memiliki kecintaan yang mendalam dengan Khilafat dan menunjukan cinta, kasih sayang dan ketaatan yang besar kepada setiap Khalifah. Beliau merupakan sanggota Komita yang dibentuk oleh Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) untukmembuat buku guna merespon buku yang ditulis Salman Rushdie. Beliau pun memainkan peranan penting dalam bidang pertablighan.

Pada tahun 1986, ketika Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) mendirikan PAN African association, beliau ditunjuk sebagai first president pertamanya. Beliau juga dipilih sebagai president pertama Jemaat Peckham. Pada tahun 1994, setelah peresmian MTA, beliau merupakan siswa terkemuka untuk Urdu Class programme. Beliau berusaha sekuat tenaga untuk belajar bahasa Urdu, hingga ia dikenal dengan julukan “Bara Bacha”. Beliau merupakan orang Ghana yang semua orang kenal dengannya. Beliau memiliki dua istri. Para anggota keluarganya mengatakan bahwa beliau dawam shalat tahajud dan tidak meninggalkannya meski dalam kondisi sakit. Beliau membaca al-Quran dengan suara yang merdo dan gairat yang tinggi. Pada tahun 2005 beliau mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan Haji  dengan kedua istrinya. Beliau orang yang sangat menyenangkan dan sederhana. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajatnya dan menganugerahi ampunan dan karunia-Nya. Amiin!

Penerjemahan oleh Dildaar Ahmad Dartono & Yusuf Awwab

________________________________

[1] Hadhrat Muhammad bin Maslamah ra, mendapat kepercayaan dalam beberapa jabatan sejak zaman Khalifah Abu Bakr ra. Jabatannya semakin naik dan bertambah penting pada masa Khalifah Umar dan Khalifah Utsman. Namun, sejak syahidnya Khalifah Utsman, pada masa Khalifah Ali, beliau bersikap netral dan mengasingkan diri di bukit Uhud.

[2] Penyerangan lewat laut dan darat terhadap ibukota kekaisaran Romawi Timur, Konstantinopel dimulai pada masa Khalifah Utsman ra pada 32 Hijriyah. Penglima pasukan ialah Hadhrat Muawiyah ra, Amir/Gubernur Syam (Suriah dsk) saat itu.  Setelah Khulafa-ur Rasyidin berakhir dan Muawiyah menjadi penguasa seluruh wilayah Muslim, pada tahun 42, 43, 44 dan 46 Hijriyah, Muawiyah juga mengirim pasukan ke sana. Antara tahun 49-55 dikirimlah lagi pasukan ke Konstantinopel dibawah pimpinan Sufyan bin Auf. Pasukan ini menderita penyakit dan berbagai masalah, maka dikirimkanlah bala bantuan di bawah pimpinan Yazid putra Muawiyah (berumur 20-an tahun). Pasukan bala bantuan ini diikuti oleh Husain bin Ali, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn az-Zubair (berumur antara 40-an dan 50-an tahun), dan Abu Ayyub al-Ansari (80 tahun). (Tarikh Madinah Dimashq karya Ibn Asakir dan Tarikhul Islam karya Adz-Dzahabi) Menurut riwayat Abu Ayyub berwasiyat: “Aku mendengar dari Nabi Saw bahwa seorang yang sholeh akan dimakamkan di kaki dinding Konstantinopel, aku berharap orang itu adalah diriku.” (Ibnu ‘Abd Rabbih, al ‘Aqd al-Farid, jild. 5, hal. 116) “Sekiranya aku syahid disini wahai Yazid (panglima Bani Umaiyyah), kalian kuburkan aku di tepi benteng Konstantinopel, kerana aku ingin mendengar derapan tapak kaki kuda sebaik-baik raja ketika mereka akan menaklukkan Konstantinopel”; “Aku mendengar baginda Rasulullah S.A.W mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut & aku juga ingin mendengar derapan tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda”

[3] Hadhrat Abu Ayyub al-Anshari berusia 80 tahun ketika wafat. Beliau mengalami zaman Nabi saw sejak sebelum hijrah ke Madinah, mengalami 4 Khalifah Rasyidin (11-40 Hijriyah) dan mengalami zaman pemerintahan Muawiyah (40-61 H). Beliau baiat kepada semua Khalifah, termasuk Hadhrat Ali ra. Berpihak kepada Hadhrat Ali ra saat terjadi perbedaan pendapat dengan banyak Sahabat lainnya. Bahkan, menjadi Amir maqami Madinah di pihak Ali. Namun, di zaman Muawiyah, ia ikut serta dalam program jihad menghadapi Romawi.

[4] Terjemahan bahasa Arab dari syair Farsi (Persia) ini ialah “كلما ابتلى الله قوما بأمر جعل وراءه أفضالا ونِعَما كثيرة”

(Visited 154 times, 1 visits today)