Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 30 Mei 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Satu karunia bahkan karunia dari Allah Ta’ala yang besar sekali kepada Jemaat Ahmadiyah ialah bahwa Dia telah mengarahkan para anggotanya semua pada satu corak perilaku yang sama dan Dia membuat Nizham Khilafat berjalan setelah wafatnya Hadhrat Masih Mau’ud ’alaihish shalaatu was salaam. Selama 106 tahun terakhir dari sejarah Jemaat menjadi saksi kenyataan bahwa setelah Hadhrat Masih Mau’ud as wafat, seperti yang beliau nyatakan dalam buku beliau Al-Wasiyyat anggota Jemaat telah menerima Khilafat dengan ketaatan sempurna.

Setiap Ahmadi di seluruh dunia — tidak peduli apa latar belakang etnis atau kebangsaannya — sangat paham bahwa ketaatan kepada Khilafat ‘alaa minhajin nubuwwah yang dimulai setelah kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah tugas terbesarnya. Di sini saya tidak mengacu pada orang-orang yang memisahkan diri dari Jemaat pada tahun-tahun awal [berdirinya Jemaat, yaitu golongan Lahore] dan kini tidak memiliki pijakan, melainkan, saya merujuk pada mayoritas Jemaat Ahmadiyah yang memahami kedudukan Hadhrat Masih Mau’ud as dan memiliki pemahaman bahwa dalam ketaatan kepada Khilafat terletak kesatuan, kemajuan dan darinya datang kekuatan untuk menanggapi serangan penentang Ahmadiyah. Karena, pertolongan Ilahi sekarang terkait dengan Khilafat dari era kedua Islam.

Namun perlu dipahami, bahwa orang yang hanya secara lisan mengaku beriman, tidak meraih rahmat Allah. Ayat Istikhlaf (ayat 56 Surah Al Nur) menjanjikan Khilafat kepada orang mukmin sejati dan memberikan kabar suka mengubah ketakutan mereka menjadi keamanan, dan berjanji untuk meneguhkan mereka.

Ini tentu dijanjikan kepada mereka yang berdoa, beribadah kepada Allah dan berkorban untuk menegakkan Keesaan Tuhan. Ada banyak yang mengatakan لا الہ الا اللہ (tidak ada yang patut disembah kecuali Allah), tetapi dalam kenyataannya hanya mereka yang menghargai لا الہ الا اللہ, yaitu yang hanya berpaling kepada Allah dalam setiap situasi, dan yang tidak berpaling kepada siapa pun kecuali Allah. Pada setiap Hari Khilafat yang kita peringati harus menarik kita menuju menyembah Allah, doa, tetap teguh pada Tauhid (Keesaan Tuhan) serta mengukur setinggi mana standar kita dalam menyebarkan Keesaan Tuhan. Jika standar kita dalam hal ini tidak naik maka mengadakan konvensi (jalsah, perkumpulan), memberikan pidato, wacana akademis dan perayaan lainnya tidak berarti apa-apa. Yang dibutuhkan adalah memahami ruh itu semua. Kita akan memahami hakikat Keesaan Tuhan jika kita condong pada doa dan akan dijadikan penerima karunia Allah yang dijanjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Allah telah menarik perhatian kita untuk berdoa dan beribadah kepada-Nya supaya tetap terhubung dengan Khilafat, untuk meraih berkah Ilahi, untuk menyingkirkan kesulitan kita dan memiliki kedamaian batin, dan doa serta ibadah memang senjata kita yang sebenarnya yang bisa kita andalkan terus-menerus. Cara dan sarana sementara tidak membawa keberhasilan. Kita melihat bahwa dalam catatan sejarah nabi Allah, kesuksesan hanya datang melalui doa, khususnya dalam sejarah Islam dan khususnya lagi pada zaman Hadhrat Rasulullah saw dan Khulafa-ur Rasyidin, kemenangan datang melalui doa dan tidak melalui kekuatan duniawi. Perlu diingat bagaimana pun, bahwa meskipun adanya semua janji Ilahi tetapi pengorbanan jiwa tetap diberikan dan standar ibadah harus selalu ditingkatkan.

Pada yang Jumat lalu saya telah berbicara merujuk kepada seorang Ahmadi yang temannya dari golongan Syiah, yang telah mengatakan kepadanya, “Para Ahmadi tidak menanggapi hal-hal itu (kezaliman yang dialami) dengan tepat.” Saya (Hudhur) telah mengatakan bahwa ternyata teman orang Ahmadi itu juga memiliki pandangan yang sama. Meski pun saya tidak menyebutkan nama apa pun, tampaknya orang itu mengerti dan menulis kepada saya untuk mengatakan bahwa itu hanya pandangan teman Syiah-nya dan ia tidak sependapat. Tetapi saya mendapatkan informasi dari berbagai sumber bahwa orang itu memiliki pandangan seperti itu. Kita harus ingat bahwa semua berkat ada dalam doa, karena Allah telah menyatakan, فصلِّ لربك وانحر ‘fa-shalli li Rabbika wanhar’ – “maka shalatlah bagi Tuhan engkau, dan berikan pengorbanan.” (QS.108:3).

Jadi, ibadah kepada Allah dan pengorbanan yang menjadikan kita penerima karunia Allah. Tidak ada keraguan bahwa adalah sifat manusia menjadi gelisah ketika cobaan dan kesengsaraan berlangsung lama. Seperti disebutkan dalam khotbah Jumat lalu, dalam situasi seperti itu mukmin sejati mengucapkan suara cemas, “متى نصر الله” ‘mataa nashrulLaahi.’ – “Kapan datang pertolongan Allah?” (QS. 2:215). Mereka mengatakan begitu bukan karena putus asa, melainkan untuk menarik belas kasihan Tuhan. Mereka melakukannya dengan benar-benar menyerahkan diri kepada Allah, memanjatkan doa-doa mereka ke titik tertinggi serta mematuhi standar tinggi pengorbanan dan kemudian, sebagai jawaban datang suara: “ألا إن نصر الله قريب” Sungguh, pertolongan Allah sudah dekat.” (QS.2:215).

Allah mewahyukan hal ini kepada Hadhrat Masih Mau’ud as pada berbagai kesempatan, dan juga mewujudkan hal ini dalam praktek, kita juga menjadi saksi untuk itu dan Insya Allah akan terus menjadi saksi untuk itu. Pertolongan Tuhan datang dalam lingkup tertentu, dan tentu saja ada kemenangan agung pertolongan Ilahi yang akan kita saksikan.

Musuh merancang makar berbahaya. Dalam perspektif duniawi, situasi di negara-negara Muslim, khususnya di Pakistan sangat berbahaya. Namun Allah memiliki kekuasaan atas segala sesuatu dan Dia adalah sebaik-baik Perencana dan Dia akan menghancurkan rencana musuh. Kita perlu berpaling kepada doa dan istighfar untuk menghilangkan kecemasan kita dan juga untuk dapat mengurus kemenangan kita. Allah menyatakan: فسبح بحمد ربك واستغفره ‘fasabbih bihamdi Rabbika wastaghfirhu.’ – “maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan engkau, dan mohonlah ampunan-Nya…”(Surah an-Nashr, 110:4)

Kita semua perlu memahami hal ini, dan kita perlu menyampaikan doa-doa kita ke titik tertinggi. Saya telah menyebutkan sebelumnya bahwa kita memiliki pemahaman yang sangat baik tentang ruh pengorbanan, tetapi kita perlu memahami hakikat doa. Untuk menikmati buah dari pengorbanan kita, kita sangat perlu untuk meningkatkan standar doa-doa kita dan perlu untuk menimbulkan kondisi itu dalam diri kita yang Tuhan inginkan. Allah menyatakan, أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأَرْضِ أَإلَهٌ مَعَ اللهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ “Atau, Siapa yang menjawab orang tertekan ketika ia menyeru kepada-Nya, dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi? Apakah ada Tuhan selain Allah? Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran. “(Surah an-Naml, 27:63)

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis: “Ingatlah, Tuhan Yang Maha Esa tidak peduli, kecuali doa yang dipanjatkan terus-menerus dan dengan penuh kepedihan, Dia tidak peduli. Seorang yang istrinya atau anak kurang sehat, atau ketika seseorang menghadapi kesedihan mendalam, ia menjadi sangat tertekan. Kecuali doa itu tulus, dan hati merasa dan dibuat dalam keadaan tertekan, doa itu tetap tidak efektif dan sia-sia. Sangat penting bahwa doa dipanjatkan dengan hati sedih supaya dikabulkan, seperti dinyatakan, أمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأَرْضِ أَإلَهٌ مَعَ اللهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ “Atau, siapa yang menjawab orang tertekan ketika menyeru kepada-Nya.” (Surah an-Naml, 27:63)”.[1]

Kita perlu fokus pada doa dan ibadah kepada Tuhan lebih dari sebelumnya, dan kita perlu memanjatkannya dengan penuh kepedihan, dan kita perlu menarik belas kasihan Tuhan. Berikutnya saya menarik perhatian kepada beberapa doa yang pertama kali dianjurkan oleh Hadhrat Khalifatul Masih III rh. pada saat 100 tahun Jemaat, dan saya juga mengingatkan mereka kemudian pada saat 100 tahun Khilafat.

 Doa-doa ini hendaknya tidak dilupakan atau menurun, melainkan mereka harus menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Selain itu kita perlu menghiasi shalat kita. Doa-doa ini sering disebut-sebut di MTA tetapi saya juga menyebutkannya untuk mengingatkan. Yang terpenting adalah Surah Al-Fatihah, itu harus dibaca banyak-banyak. Shalawat yang biasa kita baca dalam shalat juga harus dibaca berulang-ulang. Lalu ada doa yang diilhamkan oleh Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan harus banyak dibaca, “سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم اللهم صل على محمد وآل محمد” Subhanallaahi wa bihamdihii Subhanallaahil ‘adziim Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammad — Mahasuci Allah dan dengan pujian-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung; ya Allah sampaikanlah shalawat atas Muhammad [saw] dan keluarga Muhammad [saw].”[2]

Hadhrat Abu Huraira ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ ‘Kalimataani khafiifataani ‘alal lisaani tsaqilataani fil miizaani ilar Rahmaani, subhanallaahi wa bihamdihii, subhanallaahil ‘adziim.’ – “Ada dua ucapan yang sangat ringan di lidah untuk diucapkan tetapi sangat berat pada timbangan dan sangat disukai Allah Yang Maha Pemurah dan itu adalah: Subhanallaahi wa bihamdihii dan Subhanallaahil ‘adziim.

Karena kalimat itu sangat disukai oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, kita perlu membacanya untuk menarik rahmat-Nya.

Lalu doa, رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ ‘Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa mil ladunka rahmatan innaka antal Wahhaab’ – “Ya Tuhan kami, janganlah biarkan hati kami sesat setelah Engkau memberi petunjuk pada kami; dan berikanlah kami rahmat dari sisi-Mu; pasti, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”(Surah Ali Imran, 3:9)

Hadhrat Nawab Begum Sahiba ra bermimpi setelah wafatnya Hadhrat Masih Mau’ud as di mana beliau as menasihatkan agar dirinya banyak-banyak membaca doa ini. Ketika dia menceritakan mimpinya kepada Hadhrat Khalifatul Masih I ra beliau mengatakan beliau tidak akan pernah berhenti membaca doa ini dan akan banyak-banyak membacanya. Beliau mengatakan bahwa selain doa ini untuk memohon kekuatan iman, doa ini juga bagus untuk tetap terhubung dengan Khilafat.

Doa lain yang perlu diperhatikan adalah, رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ‘Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabraw wa tsabbit aqdaamanaa wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.’ – “Wahai Tuhan kami, curahkanlah kesabaran kepada kami, dan teguhkan langkah-langkah kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.” (Surah al-Baqarah, 2:251)

Doa, “اللهم إنا نجعلك في نحورهم ونعوذ بك من شرورهم” ‘Allahumma innaa naj’aluka fii nuhuurihim wa na’uudzubika min syuruurihim.’ – Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau berada dalam leher-leher mereka dan kami berlindung kepada Engkau dari kejahatan mereka.” Riwayat Hadits menceritakan, Rasulullah saw biasa membaca doa ini saat merasakan bahaya dari sekelompok orang.[3] Kalimat نَجْعَلُكَ فِىْ نُحُوْرِهِمْ ’naj’aluka fii nuhuurihim’ – “kami menjadikan Engkau berada dalam (memohon kepada Engkau agar Engkau memasuki kedalam) leher-leher mereka”, tidak jelas dan tidak dipahami maknanya bagi sebagian orang. Dengan menjelaskan arti dari kata nahr (bentuk tunggal dari nuhuur), dapat membuat jelas makna tersebut. Arti dari kata النحر an-nahr adalah dada bagian atas, atau gabungan antara leher dan dada, dan khususnya tempat perhiasan kalung melingkar, saluran tenggorokan yang berada di atas dada. Makna doa tersebut sebagai berikut: “Ya Allah! Perangilah mereka sedemikian rupa sehingga mata rantai kehidupan mereka terhenti dan kami selamat dari kejahatan mereka. Hanya Engkau-lah Penghancur kekuatan orang-orang jahat, para pencipta kerusuhan dan orang-orang yang aniaya. Maka, hentikanlah mereka dan kami memohon perlindungan kepada Engkau dari kejahatan mereka.”

Kita juga harus sibuk membaca Istighfar, “أستغفر الله ربي من كل ذنب وأتوب إليه” AstaghfiruLlaaha rabbi min kulli dzanbin wa atuubu ilaihi’ – “Aku memohon ampun kepada Allah dari setiap dosa dan aku kembali kepada-Nya”. Beberapa waktu lalu saya telah mendorong untuk berdoa ini yang berdasarkan mimpi [Hadhrat Masih Mau’ud as], رَبِّ كُلُّ شَيْءٍخَادِمُكَ رَبِّ فَاحْفَظْنا وَانْصُرْنا وَارْحَمْنا Rabbi kullu syai-in khaadimuka Rabbi fahfazhnii wanshurnii warhamnii.’ – Tuhanku, segala sesuatu adalah hamba Engkau, Ya Tuhanku, lindungilah kami, tolonglah kami dan kasihanilah kami”[4]

Doa yang dikutip dalam khotbah Jumat lalu juga harus dimasukkan dalam doa-doa rutin. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ ‘Rabbana-ghfirlanaa dzunuubana wa israafana fii amrina wa tsabbit aqdaamana wanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.’ – “Ya Tuhan kami, ampunilah kesalahan-kesalahan kami dan tindakan kami yang berlebihan dalam urusan-urusan kami, dan teguhkanlah langkah kami dan tolonglah kami melawan orang-orang kafir.” (Surah Ali Imran, 3:148)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Saat aku tengah berdoa untuk para anggota Jemaatku dan kemudian untuk Qadian, turun wahyu kepadaku: زندگی کے فیشن دور جا پڑے ‘zindegi ke fashion se dur ja pare he’ — Mereka telah ditarik dari mode kehidupan), dan kemudian, “فسَحِّقْهم تسحيقًا.” (Fasahhiqhum tashiiqa – Kemudian gilinglah mereka hingga hancur-luluh)”.

Beliau as bersabda, “Aku bertanya-tanya dalam diriku mengapa tindakan giling (menghancur-luluhkan) telah dikaitkan denganku. Lalu kulihat doa yang ditulis di dinding Baitud Dua yang adalah sebagai berikut: يَارَبِّ فَاسْمَعْ دُعَاءِيْ وَمَزِّقْ أَعْدَاءَكَ وَاَعْدَاءِيْ وَانْجِزْ وَعْدَكَ وَانْصُرْ عَبْدَكَ وَأَرِنَا اَيَّامَكَ وَشَهِّرْلَنَا حُسَامَكَ وَلاَ تَذَرْمِنَ الْكَافِرِيْنَ شَرِيْرًا ‘Yaa Rabbi fasma’ du’aa-ii wa mazziq a’daa-aka wa a’daa-ii wanjiz wa’daka wanshur ‘abdaka wa arinaa ayyaamaka syahhir lanaa husaamaka wa laa tadzar minal kaafiriina syariiraa.’ – “Ya Tuhan-ku, dengarlah doaku, hancur-leburkanlah musuh Engkau dan musuhku, sempurnakanlah janji Engkau, tolonglah hamba Engkau, perlihatkanlah hari-hari (pertolongan) Engkau, dan hunuslah pedang Engkau untuk musuh-musuh kami dan janganlah Engkau lepaskan seorang pun yang nakal dari orang-orang yang ingkar.”[5]

Berikutnya, saya akan memberikan penghormatan kepada orang yang sangat sayang, tulus, setia, paling berguna yang juga memiliki banyak kualitas besar lainnya. Beliau adalah Dr Mahdi Ali Qamar, putra Chaudhry Farzand Ali Sahib. Beliau disyahidkan di Rabwah pada 26 Mei 2014. Beliau akan mengunjungi Bahisti Maqbarah di Rabwah dengan istrinya, seorang putra dan seorang kerabat pada pukul 5 pagi ketika dua penyerang tak dikenal datang dengan sepeda mottor dan menembaknya.

Dr Mahdi Ali adalah seorang ahli jantung dari Amerika Serikat yang mengunjungi Rabwah bersama istri dan dua anak untuk Waqf Arzi di Tahir Heart Institute. Beliau tinggal di lembaga ini dan pada hari itu akan mengunjungi pemakaman setelah shalat Subuh. Saat ia mendekati pintu gerbang pemakaman, dua orang muncul dengan sepeda mottor dan menembak ke arahnya dan melarikan diri ke jalan utama. Dr Mahdi ditembak sebelas kali dan syahid di tempat. Innaa lilLaahi wa innaa illaihi raaji’uun.

Keluarga Dr. Syahid berasal dari kabupaten Faisalabad. Ayahnya, Tn. Chaudhry Farzand Ali baiat di masa mudanya di tangan Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Setelah itu, kakaknya juga baiat dan keluarganya pindah ke Rabwah. Kakek Dr. Syahid, Tn. Master Ziaud Din Syahid, adalah syahid pertama dari para syahid dari Rabwah tahun 1974 ketika penembakan di stasiun Sargodha. Dr Mahdi Ali lahir pada 23 Desember 1963. Pada hari Mirza Bashir Ahmad Sahib, yang dikenal sebagai ‘Qamarul Anbiya’ (bulan para nabi) wafat. Berdasarkan hal ini ayahnya menambahkan ‘Qamar’ untuk nama Dr Mahdi, dan kakek dari pihak ibu juga menambahkan nama Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pada nama Dr Mahdi itu. Nama lengkapnya, Mahdi Ali Bashiruddin Qamar.

Beliau menerima pendidikan awal di Rabwah. Beliau mahasiswa yang sangat cerdas dan menjanjikan. Ketika bergabung dengan fakultas kedokteran di Faisalabad beliau menghadapi banyak penentangan dan harus pergi. Namun beliau kembali untuk menyelesaikan studinya. Beliau berkhidmat di rumah sakit Fazl Umar, Rabwah 1989-1991. Beliau berimigrasi ke Kanada dengan ibunya di mana ia lulus ujian medis dan mulai magang. Ia pergi ke Universitas Brooklyn di New York untuk mengambil spesialisasi di bidang kardiologi dan mulai bekerja di Columbus, Ohio, dan menetap di sana. Ketika Hudhur mendorong para dokter untuk berkhidmat di Tahir Heart Institute, Dr Mahdi salah satu dokter yang berkhidmat secara sukarela di institut. Ini adalah kunjungan seperti itu yang ketiga. Beliau juga pernah berkhidmat di Jemaat di berbagai tingkatan.

Beliau seorang yang sangat lembut, penuh kasih, orang yang tidak pernah berselisih dengan siapa pun. Istrinya mengatakan, “Beliau sangat lembut dan penuh kasih dengannya dan selalu mengabaikan kesalahan dan sangat memperhatikan keluarganya. Beliau sangat sayang kepada anak-anaknya, dan memberikan waktu untuk pendidikan dan tarbiyat mereka dan memiliki kepribadian yang sangat taat. Jika saya (istri) jengkel pada sesuatu beliau selalu mengatakan kepadanya untuk tidak marah. Beliau sangat rendah hati. Perlakuan pada mertuanya sangat baik.”

Ibu istrinya (mertunya) mengatakan bahwa almarhum pernah tinggal bersama mereka selama 5 tahun dan beliau tidak pernah mendengarnya meninggikan suara dan beliau selalu memperlakukannya seperti ibunya. Beliau sangat ramah. Para tamu biasa tinggal di tempat mereka selama acara-acara Jemaat. Beliau juga akan menjemput tamu dari bandara. Beliau banyak membantu mereka yang kurang beruntung.

Dr Mahdi juga memiliki bakat artistik (bakat seni). Beliau seorang penyair yang sangat baik. Kumpulan puisi berjudul ‘Barg e Khayal‘ dalam tahap cetak. Ia juga kaligrafis yang terampil. Ia memiliki kecintaan yang besar dan kesetiaan pada Khilafat dan selalu dengan semangat mengikuti ketika didorong ke arah tujuan yang baik. Ia sangat murah hati dalam memberi sumbangan dan gerakan-gerakan keuangan dan menyumbangkan sejumlah besar untuk masjid di Columbus. Demikian juga, ia menyumbang dengan murah hati untuk masjid di lingkungan leluhurnya di Rabwah. Ia juga di garis depan menyumbang ke Tahir Heart Institute. Dia sangat giat menyeru orang kepada Allah dan sangat banyak membaca dari segi materi keagamaan. Dr Mahdi biasa memberikan tanggapan yang paling efektif terhadap tuduhan dan keberatan di YouTube. Dr Mahdi Ali meninggalkan seorang janda, Wajeeha Mahdi Sahiba dan tiga putra. Abdullah Ali, 15, Ali Hashim, 7 dan Asher Ali, 3, yang bersamanya pada saat penembakan.

Saya kutip beberapa bait puisi Dr Mahdi Syahid. Dia berkata dalam puisi terakhirnya yang ditulis pada 28 Maret 2014:

Kita akan berhadap-hadapan dengan kematian,

berbincangbincang dengannya tentang capaian kehidupan,

Tidak ada satu Yazid pun yang akan dapat menghapusnya,

karena benarlah kata-kata putra al-Batul [6]

Semuanya akan binasa

yang akan tinggal hanya kata-kata Allah dan Rasul-Nya.

Dalam puisi sebelumnya, ia menulis:

Wahai Ilahi, inilah satu harapanku,

Andai saja tertumpahnya darahku bermanfaat di jalan Engkau.

            Ia juga menulis qashidah dengan judul ‘Nuurul Istikhlaf’:

Kasih Sayang Maha Benar telah memberiku minuman kehidupan,

sehingga ia telah mengikat jalan hidupku dengan Nizham Khilafat

Sementara matahari dan bulan mengagumi cahaya Istikhlaf,

kesuraman telah jatuh pada para murid setan.

Tn. Hadi Ali, mubaligh kita dan tinggal di sini (di Inggris) untuk waktu yang lama, adalah kakak Dr Mahdi Ali Shahid. Dia mengatakan, bahwa saudaranya juga menyukai kaligrafi seperti dirinya. Dia menulis, “Saudara kami adalah orang yang luar biasa dan meskipun kehilangannya sangat besar untuk seluruh keluarga kami, dengan karunia Allah semata, keluarga tunduk kepada kehendak Allah dan tetap teguh. Signature (tanda tangan) email Dr Mahdi Ali adalah dalam bahasa Arab, “قُولوا للناس حُسنًا” ‘…quuluu lin naasi husnaa…’ yang artinya: “Katakanlah apa-apa yang baik kepada orang-orang.” (Surah al-Baqarah, 2:84)

Kakak perempuannya menulis, “Dr Mahdi Ali memiliki kepribadian yang bijaksana dan serius dari masa kanak-kanak dan tidak tertarik pada hal-hal yang tidak berguna. Sejak kecil ia mengerjakan shalat dengan tekun. Ia anggota aktif Badan-badan. Sebagai seorang anak ia biasa menjadi bagian dari kelompok anak-anak yang membangunkan orang untuk shalat Subuh di Rabwah dengan membaca tilawat keras-keras. Ia menyintai membaca sejak usia dini dan sangat berpengetahuan dalam karya-karya agama. Ia biasa mengambil manfaat dari menemani para tetua di Rabwah. Dia memiliki kecintaan yang khusus pada Rabwah dan akhirnya memberikan hidupnya di wilayah itu. Ia menjadi dokter mengikuti keinginan orangtuanya dan memang menjadi dokter yang sangat ulung. Ia menerima banyak penghargaan untuk profesinya. Dia tidak pernah menyia-nyiakan waktu dan selalu mencari ilmu pengetahuan. Meskipun jadwal sibuk, ia menyisihkan waktu untuk menghabiskan waktu dengan istri dan anak-anaknya dan mengajari anak-anaknya membaca Al-Qur’an. Dia memiliki sifat yang sangat pemaaf dan lebih suka menempatkan dirinya dalam kesulitan daripada membiarkan orang lain menderita.”

Teman sekamar kuliahnya, Dr Mahmud menulis bahwa Dr Mahdi Ali dawam dalam shalat dan puasa sejak hari-hari kuliah. Dia sedikit lebih senior dari Dr Mahmud, sehingga ia membimbing dan membantunya dengan sangat lembut. Dia bagian dari kelompok dokter yang mempelopori Bank Darah Rabwah. Masukannya paling signifikan dalam memulai Bank Darah.

Dr Nasim Rehmatullah Sahib menulis, “Dr Mahdi Ali Syahid adalah orang yang sangat rendah hati yang selalu memiliki senyum di wajahnya. Dr Mahdi Syahid bertemu saya beberapa waktu lalu dan sejak mengetahui tentang kesyahidannya, saya melihat wajahnya tersenyum ceria, Ia memiliki wajah yang sangat damai. Beberapa, yang telah melihat foto-fotonya, telah menulis kepada saya bahwa Dr Mahdi Ali Syahid terlihat damai seolah-olah tertidur saat dadanya bersimbah darah.

Ketua Jemaat Columbus, Abdul Salam Sahib menulis bahwa Dr Mahdi Ali Syahid tiba di Columbus sepuluh tahun yang lalu dan selalu menjadi anggota yang sangat aktif. Dia memiliki rasa ketaatan pada Jemaat dan selalu menyambut yang lain dengan riang. Dia tidak pernah menolak setiap tugas yang diberikan kepadanya dan memiliki ghairat kecintaan kepada Khilafat.

Ketika saya mengunjungi Columbus pada tahun 2012 Dr Mahdi Ali Syahid telah terjaga sepanjang malam untuk menghias masjid dan melakukan kaligrafi dengan Hadi Ali Sahib dan kemudian ia pergi bekerja di pagi hari. Dia selalu membayar untuk apa pun dekorasi pekerjaan masjid yang ia lakukan dari kantongnya sendiri. Ketika ia bekerja di sekitar masjid tidak ada yang bisa membayangkan bahwa dia adalah seorang dokter senior. Dia bekerja dengan sangat sederhana.

Seorang teman dokter menulis, “Saya memiliki kesempatan untuk bekerja dengannya. Kadang-kadang orang merasa iri atas kesuksesan profesionalnya dan menciptakan kesulitan baginya. Namun ia selalu menghadapi situasi seperti itu dengan riang dan tidak pernah terlihat menampakkan kemarahan dan selalu tenang dan tersenyum. Ia biasa mengatakan, ‘Mengapa kita harus terganggu, kita memiliki doa-doa Khalifah-e-waqt dengan kita.’

Ketika ia datang ke sini (Inggris), ia bertemu saya dan sangat senang. Sekembalinya dia mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia telah bertemu saya dan berbicara tentang pertemuan itu. Emailnya biasa menggunakan tanda tangan, ‘Seseorang harus menimbulkan perubahan dalam dirinya yang ingin dia lihat pada orang lain.’ Ia adalah contoh hidup dari hal ini.”

Dr Noori Sahib, dari Tahir Heart Institute (Yayasan Jantung Tahir) menulis bahwa Dr Mahdi Ali sangat populer di kalangan pasien. Orang-orang miskin sangat semangat datang kepadanya untuk pengobatan. Ia memperlakukan setiap pasien dengan perhatian pribadi. Ia sangat sederhana dan berpakaian secara sederhana sehingga sulit membedakannya ketika di antara pasien. Dia berkhidmat secara sukarela Tahir Heart Institute. Kunjungan rutinnya ke Tahir Heart Institute menunjukkan komitmen yang tulus kepada profesinya. Dia memiliki sifat yang sangat rendah hati dan memori yang sangat baik, minatnya meliputi Al-Qur’an, buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as, puisi dan kaligrafi.

Tn. Mubarak Siddiqui, yang ada di sini, adalah teman sekelas, menulis, “Mahdi Ali memiliki kualitas seorang mukmin sejati sejak usia dini. Dia sangat cerdas dan seorang hamba setia Jemaat yang menyintai Khilafat. Walaupun ada di depan kami dalam performa akademik dan keuangan, ia memiliki sifat yang sangat rendah hati dan sabar. Kadang-kadang selama hari-hari sekolah saya tidak memiliki beberapa buku pelajaran. Dia berkata kepada saya, saya telah membaca buku ini setengah hari, sekarang anda membacanya untuk sisa hari itu. Sedemikian rupa sehingga, terkadang ia bahkan meminjamkan bukunya sehari sebelum ujian, meskipun demikian kebanyakan waktu ia meraih posisi pertama di kelas. Ketika baru-baru ini datang ke London saya berkata kepadanya, ‘Anda sekarang seorang ahli bedah terkenal di Amerika Serikat, mari kita pergi ke sebuah restoran yang sangat baik.’ Tetapi dia menjawab, ‘Saya orang yang rendah hati yang sama. Kita bisa pergi makan di setiap restoran yang sederhana.’ Saya tidak pernah mendengar beliau mengatakan satu patah kata tidak beradab. Beliau memiliki rasa penghormatan untuk Jemaat. Tidak ada yang berani mengatakan sesuatu yang negatif di hadapannya tentang seorang pengurus walau selevel rendah atau kecil sekalipun. Beliau Ahmadi teladan. Beliau membantu teman-temannya secara finansial dengan sangat diam-diam.”

Teman lainnya menulis, Dr Mahdi Ali memiliki suara yang sangat merdu dan ikut serta dalam tilawat al-Qur’an dan perlombaan pembacaan puisi sejak usia dini dan mencapai peringkat yang baik. Ia sering membacakan bait-bait syair Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, yang temannya mengatakan, puisi itu menggema sejak kewafatannya:

Selamanya mereka membuat makar ‘tuk hancurkan taman Ahmad

Tetapi rencana Tuhan tersembunyi menunggu di jalan mereka.

Apa perlunya seorang mukmin sejati mencari pembunuh!

Yang matanya bercahaya dan nafasnya seperti pedang!

Hai para penindas!

Dosa-dosa kalian akan menjadi kejatuhan kalian.

Mereka akan menjerat kaki kalian seperti belenggu! [7]

Dr Sultan Mubasher Sahib menulis bahwa Dr Mahdi Ali adalah yang paling penuh kasih tentang orang miskin. Dia membuka rekening bank pada kunjungan terakhirnya ke Rabwah dan meminta Dr Mubasher untuk membantu orang miskin dengan dana yang ia simpan. Setelah dia menelepon untuk mengatakan bahwa mantan pekerja Jemaat membutuhkan dana karena ia sedang membangun rumah, dan jika bisa dia dibantu dengan Rupees 100.000. Ia juga mengatakan bahwa ia akan membayar biaya kuliah setiap mahasiswa kedokteran.

Teman Dr Mahdi Hafiz Abdul Qudoos mengatakan bahwa ketika Dr Mahdi bekerja di rumah sakit Fazl Umar ia datang menemuinya dan mengatakan kepadanya bahwa pasien tunawisma di rumah sakit membutuhkan darah. Ia mengatakan ia telah memberikan satu botol darah dan ingin temannya untuk memberikan botol yang lain. Dr Mahdi Ali Syahid biasa mengirim bahan untuk Tahir Heart Institute termasuk stent dan biasa mengatakan bahwa ia bangga mengkhidmati rumah sakit. Dia ingin membangun rumah di Rabwah sehingga ia tidak menjadi beban pada akomodasi Jemaat. Dia puas tentang perkembangan anak-anaknya meskipun tinggal di USA. Ini karena dia secara pribadi menyediakan waktu untuk anak-anaknya.

Salah satu temannya mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan persaudaraan yang penuh kasih. Dia mengatakan ketika ia tiba di Rabwah kali ini pada hari Sabtu dia menelepon saya dan meminta untuk datang. Waktu itu jam 10 malam dan saya memintanya untuk beristirahat, tapi ia bersikeras supaya aku pergi menemuinya. Kami bertemu. Dengan penuh kasih ia memberikan stetoskop terbaru sebagai hadiah, bertanya kepada saya tentang arah kiblat dan lain sebagainya. Dia mengatakan kami bertemu larut malam dan berbicara sampai 11:15 ketika saya pergi. Beberapa jam kemudian, di pagi hari ia pergi ke Bahisti Maqbarah dan menjadi syahid di sana.

Situs web koran Dawn mengomentari kesyahidan Dr Mahdi Ali dengan memberikan latar belakang penentangan terhadap Jemaat diikuti dengan kata-kata, “Dr Qamar Ali Mahdi bukan dokter biasa. Sementara ia memegang Young Investigator Award oleh American College of Cardiology dan termasuk diantara Dokter Top Amerika untuk tahun 2003-2004 dan Ahli jantung Top Amerika selama bertahun-tahun 2005, 2006, 2007, 2009, 2010, 2011, dan 2012. Ia juga memegang Pyysicia Recognition Award oleh American Medical Association. Wajah cerahnya yang berkacamata tersenyum di samping profilnya, ‘Saya percaya dalam memberikan perawatan terbaik pada pasien, mempertahankan standar profesional tertinggi, memberikan kontribusi bagi kemajuan lembaga yang saya tergabung di dalamnya. Prioritas pertama saya adalah melaksanakan tanggung jawab profesi saya dengan kompetensi, kejujuran dan integritas.’

Ia memang melaksanakannya dengan kompetensi, kejujuran dan integritas. Sebagai kesimpulan penulisnya berkomentar, ‘Maafkan aku, Dr Qamar Ali Mahdi, aku gagal melindungimu tetapi aku mengangkat suaraku atas penganiayaan ini. Kuabaikan keselamatanku supaya aku tak mati esok tanpa terlebih dahulu kuangkat suaraku melawan keaniayaan ini.’”

Banyak surat kabar dari Pakistan, Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan sejumlah surat kabar dan saluran berita di dunia telah mengutuk pembunuhan biadab dan tidak manusiawi terhadap Dr Mahdi Ali. Lebih dari tiga puluh surat kabar telah memuat berita tersebut. Ini termasuk, National Post Canada, The Star Canada, CBC News Canada, Global News, CNN, USA Today, New York Times, Washington Post, Columbus Despatch, Wall Street Journal, The Express Tribune, Washington Times, The Strategic Intelligence, Daily Mail, BBC Urdu, Al-Jazeera, Dawn dan lain-lain.

Sementara semua koran tersebut mengutuk pembunuhan barbar atas Dr Mahdi Ali, mereka juga memperkenalkan Jemaat dan rincian yang diberikan tentang penganiayaan terhadap kita dari beberapa dekade terakhir. Dengan cara pengenalan koran ini telah menyebutkan pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as dan menyebutkan nama beliau, mereka juga menyebutkan bahwa Ahmadiyah adalah sebuah komunitas yang damai, dan mengutuk pembunuhan orang tak berdosa atas nama Jihad. Beberapa makalah juga memuji kerja sosial Jemaat. Dr Mahdi Ali membuka jalan baru pertablighan dengan memberikan hidupnya dan membuat Jemaat diperkenalkan.

Wall Street Journal, surat kabar terkenal di dunia yang diterbitkan di Amerika Serikat meliput berita kesyahidannya dengan memperkenalkan Jemaat dan mengutip penganiayaan terhadapnya juga mengutip Ketua Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan (seorang wanita), “Setiap golongan minoritas di Pakistan dianiaya, namun komunitas Ahmadiyah menghadapi perlakuan terburuk. Beberapa surat kabar berbahasa lokal mempublikasikan materi anti-Ahmadiyah tapi tidak ada tindakan terhadap mereka. Jika komunitas Kristen diserang, Anda akan melihat Perdana Menteri mengeluarkan pernyataan kutukan, pejabat mengunjungi korban. Tetapi itu tidak terjadi dengan komunitas Ahmadiyah. Tidak ada satu pun yang berdiri di sisi mereka.”

Saya menyatakan, Allah berdiri di sisi Ahmadiyah dan akan terus berdiri di sisi kita di masa depan.

Surat kabar itu juga mengutip seorang rekan Dr Mahdi Ali, Shantani Sinha, “Dia adalah salah seorang yang paling jujur, etis dan jenis orang yang tidak ada keburukan sedikit pun padanya” kata Dr Sinha, ia menambahkan, “Dr. Qamar kembali ke Pakistan untuk memberikan perawatan jantung gratis. Ia sangat pemurah.” Dr Sinha juga mengatakan, “Ada kemungkinan bahwa ini bisa terjadi, dan ia tahu itu. Saya hanya berharap bahwa hal itu mungkin akan membantu meningkatkan kesadaran tentang pembunuhan yang tidak masuk akal terhadap orang yang sangat baik yang telah pergi untuk melakukan hal yang baik. “

Surat kabar itu juga mengutip seorang pejabat polisi mengatakan, “Kita sering melihat pamflet dan poster yang mengatakan dirawat di rumah sakit ini bertentangan dengan Islam karena rumah sakit ini dijalankan oleh Ahmadiyah.”

Al-Jazeera melaporkan, seorang peneliti mengatakan, laporan berkala yang diterima tentang amannya orang-orang yang menyerang komunitas Ahmadiyah, karena tahu negara tidak akan melakukan apa-apa untuk membawa mereka ke pengadilan.

Washington Post juga melaporkan, kejahatan ini terjadi karena semua orang tahu tidak ada tindakan yang akan diambil.

Lancaster Eagle Gazette, sebuah koran lokal daerah tempat tinggal Dr Mahdi telah meliput kesyahidannya secara rinci dan dengan komentar dari rekan-rekannya. “Ini menyedihkan,” kata manajer pengembangan bisnis kardiovaskular, Kelly Marion. “Tiap orang di rumah sakit ini berair matanya.”

Qamar adalah anggota dokter pendiri Gordon B. Snider Cardiovascular Institute di FMC pada tahun 2011 dan dihormati sebagai Legendary Philanthropist oleh pusat medis pada tahun 2013. “Makalah ini juga mengatakan bahwa kematian Dr Mahdi tidak hanya mempengaruhi komunitas Ahmadiyah tetapi juga telah dirasakan oleh masyarakat luas.”

Dalam liputan beritanya, Surat Kabar ‘The Columbus Dispatch’ mewawancarai putra sulung Dr Mahdi Ali, Abdullah Ali dan melaporkan: “Apakah yang dirasakan sang anak ketika ayahnya dibunuh karena pelanggaran memberikan perawatan medis gratis bagi masyarakat miskin di tanah kelahirannya?” Abdullah Ali mempertimbangkan pertanyaan itu. “Saya kecewa dan sangat sedih,” kata remaja 16 tahun itu dengan tenang. Wartawan takjub karena melihatnya ”tidak marah atau dendam.”

Surat Kabar Fox 28 Columbus juga melakukan wawancara terhadap putra sulung Dr Mahdi Ali, Abdullah Ali di mana dia mengatakan, ayahnya adalah orang besar dan ia yakin, seandainya para pembunuh menyempatkan diri untuk berbicara dengan beliau (syahid), beliau akan membawa beberapa perubahan positif dalam hidup mereka. Dia mengatakan, para pembunuh hanya melakukan ini untuk menyakiti Jemaat, yang ia yakin mereka tidak tahu apa-apa tentangnya. Saya mengatakan bahwa memang, ini adalah kenyataan. Para maulawi (ulama) telah meracuni orang melawan kita, yang benar-benar tidak tahu tentang hal-hal itu.

BBC Urdu juga telah meliput kesyahidan dan menyebutkan penganiayaan terhadap Ahmadiyah dan juga menerbitkan gambar dari pamflet [dari para penentang Jemaat] yang memberitahu orang-orang bahwa mendapatkan perawatan dari Tahir Heart Institute adalah haram dan dosa besar. Pamflet itu juga mengatakan, siapa pun yang memiliki hubungan dengan Ahmadiyah menjadi kafir. Innaa lillaah!

Syahid ini memiliki kehidupan yang sukses dan menggunakannya untuk melayani kemanusiaan dan mendapatkan kematian yang memberinya hidup yang kekal dengan Allah. Semoga Allah memberikan saudara kita ini kedudukan tinggi di surga dan kedudukannya terus meningkat, semoga dia diberikan tempat di kaki para kekasih Allah. Semoga Tuhan menjaga istri dan anak-anaknya dalam perlindungan-Nya dan semua keinginan dan doa Dr Mahdi Ali untuk anak-anaknya terkabul.

Seperti telah saya sebutkan sebelumnya, senjata terbesar untuk meraih kemajuan dan mengalahkan musuh adalah doa. Namun Tuhan juga menarik perhatian dengan cara-cara dan sarana tertentu yang nampak yang juga harus digunakan sebanyak mungkin. Karenanya, berdasarkan kejadian ini, manajemen [keamanan] di Rabwah perlu waspada lebih dari sebelumnya. Manfaatkan sumber daya kalian dan buat perencanaan secara maksimal lalu serahkan masalah tersebut dengan Allah. Tiap warga Rabwah perlu waspada. Syahid tersayang ini telah menumpahkan darahnya di tanah Rabwah dan menarik perhatian kita pada doa dan perencanaan. Dengan demikian, ada kebutuhan besar untuk memberi perhatian. Ahmadi di seluruh dunia harus berdoa untuk Ahmadi Pakistan karena mereka kini hidup dalam kondisi yang sangat tak tertahankan dan situasi memburuk! Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk melakukannya!

Seluruh negeri telah menjadi tempat kekejaman dan penindasan. Beberapa hari yang lalu seorang wanita dilempari batu sampai mati di dalam pagar lingkungan Pengadilan Tinggi.[8] Pembunuhan dan kekacauan terjadi di sana tiap hari dan kita bahkan tidak bisa mengatakan, itu karena mereka telah mensyahidkan seorang Ahmadi. Ketika pensyahidan dan penindasan ini berlangsung, tentu ada aparat kepolisian dan itu terjadi di depan mereka. Penindasan di Pakistan ini berlangsung atas nama Allah dan Rasul-Nya. Atas nama Rasul itu yang merupakan dermawan terhadap kemanusiaan, yang merupakan rahmat bagi semesta alam. Hati kita berdarah atas hal ini. Jika mereka harus melakukan penindasan setidaknya mereka mestinya tidak melakukannya atas nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka seharusnya tidak melakukan penganiayaan atas nama sang dermawan kemanusiaan dan rahmat bagi seluruh alam dan memburukkan nama Islam!

Tetapi mereka tidak mengerti dan mereka tidak tahu kemana mereka menuju! Ketika keputusan Allah akan terjadi dan Insya Allah pasti akan terjadi, nama dan tanda-tanda orang-orang ini akan dilenyapkan. Para penindas maupun para pendukung penindasan tidak akan tetap tinggal bertahan. Jadi, kita perlu berdoa dan banyak berdoa. Semoga Tuhan menjauhkan masyarakat dari jeratan para maulwi dan semoga mereka memahami kebenaran dan menerima Imam Zaman.

Saya (Hudhur V atba) akan mengimami shalat jenazah gaib untuk almarhum Syahid setelah shalat Jumat. Penerjemahan oleh:

Mln. Hasan Bashri, Shd

Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Mln. Ataul Ghalib Yudi Hadiana

[1] Tafsir:.. Hadhrat Masih Mau’ud, vol III, hal 574

[2] Tadzkirah, halaman 25, edisi IV, terbitan Rabwah.

[3] Sunan Abi Daud, kitab tentang Shalat, bab tentang doa yang sebaiknya dipanjatkan jika cemas akan kejahatan suatu kaum, hadits nomor 1537.

[4] Tadzkirah, halaman 363, edisi IV, terbitan Rabwah.

[5] Tadhkirah, p. 664, edisi 2009

[6] Al-Batul, julukan untuk Siti Fatimah, artinya wanita suci, putra beliau ialah al-Hasan dan al-Husain.

[7] Kalaam-e-Mahmud (Puisi-Puisi Mahmud, Hadhrat Khalifatul Masih II ra), h.282, Nazharat Isyaat Rabwah

[8] Honor Killing: Pembunuhan karena rasa malu untuk kehormatan. Dilakukan oleh laki-laki dalam sebuah keluarga terhadap perempuan anggota keluarga mereka yang dianggap mencoreng kehormatan keluarga. Sering terjadi di Pakistan.