Khilafat: Berkah dari Allah

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 25 Mei 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ *

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Terjemahannya ialah “Allah telah berjanji kepada orang orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal shaleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu para Khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan para Khalifah orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka; dan niscaya Dia akan menggantikan mereka sesudah ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barang siapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang orang yang durhaka. Maka Dirikanlah shalat, dan bayarlah zakat, dan taatlah kepada Rasul itu supaya kamu mendapat rahmat.” (Surah An-Nuur, 24:56-57)

Dalam ayat-ayat tersebut terkandung janji Allah Ta’ala. Ketahuilah! Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan menikmati karunia Khilafat jika keadaan mereka ialah demikian dan demikian. Sebagai hasilnya, mereka pun akan mendapatkan ketentraman dan kedamaian setelah dicekam ketakutan. Jadi, ini merupakan janji, bukan nubuatan. Hal ini berarti Allah Ta’ala pasti akan memberikannya. Allah Ta’ala pasti akan memberikannya kepada mereka yang memenuhi persyaratan-persyaratan yang menyertai janji tersebut.

Apa saja persyaratannya? Allah Ta’ala berfirman, يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا “…beribadah kepada-Ku, menjauhi syirik sepenuhnya.” Yang artinya, mereka tidak akan dapat mengambil manfaat dengan baik dari janji tersebut jika tidak beribadah sesuai hak ibadah yang semestinya dan jika tidak menjauhi syirik sepenuhnya sebagaimana yang dikehendaki Allah Ta’ala. Jadi, meskipun ada Khilafat, namun orang-orang seperti itu tidak akan dapat menarik manfaat dari Khilafat, jika tidak memenuhi persyaratan-persyaratan ini.

Al-Qur’an mengandung penjelasan bagi kita bahwa pada akhir zaman nanti akan berdiri Khilafat alaa minhajin nubuwwah. Dari hadits-hadits Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam juga dapat diketahui bahwa Khilafat alaa minhajin nubuwwah akan berdiri yang merupakan Khilafat abadi. Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun telah menjelaskan secara gamblang kepada kita bahwa Khilafat akan berdiri setelah beliau dan terus eksis. Namun bersamaan dengan itu, Allah Ta’ala menjelaskan kepada umat Muslim bahwa untuk menarik manfaat dari janji Khilafat dan demi mengambil bagian dari nikmatnya maka mereka harus menciptakan perubahan diri dalam perilaku dan keadaan mereka. Dengan hanya mengaku sebagai Muslim dan dengan hanya menyatakan keimanan secara lahirian, tidak lantas akan menjadikan mereka berhak atas nikmat Khilafat.

Dengan demikian, Allah Ta’ala menasihatkan umat Muslim supaya mereka melaksanakan kewajiban beribadah dan menyelematkan diri dari syirk dengan cara menegakkan shalat, membayar zakat dan taat kepada Rasul. Setelah melaksanakan hal itu, barulah mereka akan dapat meraih rahmat Allah Ta’ala.

Dalam ketaatan kepada Rasul, perlu diingat hal-hal yang disabdakan Hadhrat Rasulullah (saw), مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي “Siapa yang menaatiku, berarti menaati Allah. Siapa yang membangkang terhadapku, berarti membangkan terhadap Allah. Siapa yang menaati Amir yang kutetapkan, berarti menaatiku. Sebaliknya, siapa yang bersikap tidak taat pada Amir yang kutetapkan, berarti tidak taat padaku.”[1]

Khalifah dalam Nizham Khilafat adalah Amir terbesar yang ditetapkan oleh Hadhrat Rasulullah. Dari hal ini jelaslah bahwa ketaatan kepada Khilafat pun sepenting sebagaimana ketaatan kepada Hadhrat Rasulullah. Namun, dalam hal ini bukanlah Khilafat yang didapatkan dengan cara paksaan dan dengan bantuan para penguasa duniawi, melainkan itu ialah Khilafat yang berdiri diatas dasar minhajin nubuwwah yang mengenainya Hadhrat Rasulullah saw telah menyampaikan kabar suka. Itu ialah Khilafat yang ditakdirkan berdiri setelah kedatangan Al-Masih yang dijanjikan lalu mata rantai Khilafatnya pun berlangsung, karena Al-Masih yang dijanjikan merupakan khatamul khulafa. Dan juga Khilafat ini tidak akan melakukan peperangan dan tidak akan menganiaya melainkan akan menekankan untuk menegakkan shalat-shalat, penyebaran agama, menekankan untuk membayar zakat dan memberikan pengorbanan harta.

Saat ini nizham tersebut hanya dilakukan Jemaat Ahmadiyah. Begitu juga, tanpa Khilafat persatuan tidak dapat tercipta yang mana itu merupakan tujuan tertinggi ketaatan kepada Rasul. Tidak diragukan lagi bahwa Umat Muslim yang lainpun mendirikan shalat, namun karena tidak adanya persatuan di dalam hati mereka terjadi pertentangan. Meskipun memiliki satu keyakinan, karena mempermasalahkan hal-hal yang sifatnya sepele, terciptalah perpecahan.

Para Ulama memanfaatkan mimbar-mimbar pidato demi kemasyhurannya dan demi tujuan pribadinya bahkan sekarang di Pakistan para ulama memiliki misi politik yang juga saling berselisih satu sama lain. Begitu jugalah kondisi para pengikutnya. Beberapa waktu lalu ketika terjadi demonstrasi menentang terhadap pemerintah, setelah itu ulama terpecah menjadi dua grup. Ada yang mengatasnamakan “Labbaik Ya Rasulullah” demi mendapatkan tujuan pribadi dan berusaha untuk menjadi pemimpin. Ada juga yang dengan mengatasnamakan “Khatam e Nubuwwat” berupaya untuk menarik perhatian orang-orang. Pemandangan ini disaksikan oleh orang-orang melalui Televisi yang ditayangkan salah satu channel TV Pakistan. Meskipun demikian tetap saja para pengikutnya tidak menyadari juga siapa sebenarnya yang mereka ikuti.

Apakah mereka yang akan menjadi sarana untuk memperoleh ketentraman agama bagi umat manusia atau bagi umat Muslim umumnya? Apakah mereka akan memberikan bimbingan yang benar? Sama sekali tidak mungkin. Bahkan, mereka sendiri rusak keadaannya dan itu sesuai dengan hadits Rasulullah Saw yang menyatakan para ulama di akhir zaman merupakan seburuk-buruk makhluk di kolong langit.[2] Jika rakyat membayar zakat melalui pemerintah, tidak tahu kemana dana tersebut digunakan.

Meskipun pemerintah menyatakan uang tersebut dibelanjakan untuk kemaslahatan orang yang membutuhkan, namun milyaran rupiah dana zakat telah disalahgunakan dan kabar tersebut ditayangkan oleh media. Terlalu jauh bagi pemerintahan-pemerintahan itu kalau menggunakan dana zakat untuk penyebaran Islam. Apa yang tengah dilakukan pemerintahan yang didirikan dengan mengatasnamakan Islam saja dan pemerintahan yang kaya dengan minyaknya? Tidak ada misi penyebaran Islam yang tengah mereka lakukan.

Jika ada yang tengah melakukan misi ini dengan disertai pengorbanan-pengorbanan mendalam, itu adalah Jemaat Ahmadiyah. Pekerjaan ini pun tidak akan berjalan jika tanpa adanya Nizham Khilafat. Sebagian ulama dan kalangan modernis diantara umat Islam menyatakan bahwa Nizham Khilafat harus ada. Namun jika dikatakan kepada mereka untuk menerima nizam yang telah didirikan Allah, mereka tidak mau menerima bahkan semakin menjadi-jadi dalam penentangan.

Penentangan yang baru-baru ini terjadi dua hari lalu di Sialkot tepatnya di masjid kita dan sebuah rumah di sebelahnya. Polisi dan pihak pemerintah bersatu atau bisa dikatakan berada di bawah komando mereka sedangkan para Maulwi dan ratusan pengikut mereka menyerang Mesjid beserta rumah yang di sebelahnya. Mereka beranggapan telah melakukan jasa besar demi ‘menyelamatkan Islam’ dengan menyerang di malam hari. Beberapa hari sebelum kejadian itu, rumah tersebut telah disegel oleh polisi tanpa alasan. Tidak ada legalitas untuk melakukan itu. Tidak ada orang saat itu. Meskipun demikian mereka menyerang rumah yang disegel itu dibawah komando polisi dan merusaknya.

Mesjid dan rumah ini sudah berdiri jauh hari sebelum Pakistan berdiri bahkan lebih dari satu abad lamanya. Tidak ada alasan bagi mereka untuk menuduh sebagian masjid ini baru dibangun hari ini oleh orang Ahmadi sehingga mereka dapat merobohkan menaranya atau kubahnya. Inilah kondisi mereka yang melampaui batas dalam penentangan. Mereka mengumumkan juga sampai sekarang bahwa mereka akan merusak dan merobohkan masjid-masjid Ahmadiyah yang lainnya.

Diantara mereka ada Hafiz Quran (penghapal Qur’an), Qori (biasa tilawat Qur’an dengan baik) dan yang berafiliasi dengan partai politik. Memang, yang gelarnya Hafiz Quran namun benaknya sama sekali kosong dengan ruh ajaran Al-Qur’an. Memang, pastinya kosong karena mereka mengingkari Khatamul Khulafa dan hakim adil yang diutus Allah Ta’ala.

Memang secara lahiriah banyak kalimat Al-Qur’an yang mereka hapal namun mereka miskin dari ilmu al-Qur’an. Begitu juga Qori (Gelar Qori Al-Qur’an di Pakistan) pasti fasih tilawatnya. Untuk memahami ajaran Al Quran, benak mereka sudah tersegel dan ini pun merupakan hukuman Allah Ta’ala sehingga mereka tidak dapat memahami ajaran Al-Qur’an. Namun berkenaan dengan pengrusakan dan kekisruhan, otak mereka tebuka lebar untuk menerimanya. Seberapa pun mereka diminta untuk melakukan pengrusakan dan untuk itu ditemukan cara-cara baru, dari sisi ini kita tidak dapat menandingi mereka.

Bagaimanapun, demikianlah kondisi mereka, mereka pun berbicara saling menyerang satu sama lain di masjid mereka sendiri. Dengan membuat kekisruhan dan rencana jahat, berarti mereka merusak kesucian masjid mereka sendiri. Masjid-masjid kita pun yang murni didirikan untuk beribadah kepada Allah Ta’ala telah dirusak kesuciannya dengan disegel, diserang dan dihancurkan.

Ini merupakan dampak mengutamakan tujuan pribadi mereka diatas agama; dan sebelum menerima Khilafat yang berdiri sesuai dengan nubuatan Rasulullah, mereka akan terus berbuat demikian dan tidak dapat ditaruh harapan apapun dari mereka untuk melakukan kebaikan.

Memang ada juga beberapa tokoh yang baik. Ada seorang wanita anggota DPR yang dengan penuh keberanian menyampaikan keprihatinannya atas insiden ini. Ia menolak keras tindakan ini. Coba perhatikan, apa yang dilakukan para maulwi atau orang yang bertabiat maulwi dan politikus yang gandrung dengan kemasalahatan pribadi kepada wanita yang tak berdaya itu. Sampai saat ini yang tampak adalah mereka mengincar orang-orang yang baik seperti itu dengan diberikan pilihan kalau tidak keluar dari politik atau dipaksa untuk meminta maaf.

Sejauh berkenaan dengan perasaan kita dalam hal mereka telah menghancurkan kenangan zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan pemerintah telah menyegelnya; seperti biasa jawaban kita adalah dan seharusnya demikian yaitu, اِنَّمَاۤ اَشۡکُوۡا بَثِّیۡ وَ حُزۡنِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ وَ اَعۡلَمُ مِنَ اللّٰہِ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ Innamaa asykuu batstsii wa huznii ilallaah artinya, “Kesedihan dan tangisan dukaku, aku persembahkan ke hadapan Allah Ta’ala.” (Surah Yusuf, 12:87)

Tentu kita memiliki ikatan emosional dengan bangunan tersebut namun pernyataan ikatan terluhur dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as) tidak hanya dengan menjaga bangunan-bangunan, melainkan dengan mengamalkan ajaran beliau (as) dan dengan menjalinkan diri dengan nizam Khilafat paska kewafatan beliau. Artinya, dengan meraih hal-hal yang telah diajarkan Tuhan demi mengambil manfaat dari nikmat Khilafat, dengan memperbaiki standar ibadah, dengan mengamalkan perintah-perintah Ilahi dan dengan meningkatkan standar ketaatan. Untuk itu kita harus mengupayakan hal-hal tersebut.

Ada seorang yang bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), “Apa tujuan kedatangan seorang Khalifah?”

Dalam hal ini jawaban yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) harus senantiasa kita ingat selalu yakni tujuannya adalah ishlaah (perbaikan).

Lalu beliau As menjelaskan, “Ishlaah (perbaikan), coba perhatikan! Mata rantai generasi umat manusia yang bermula dari Hadhrat Adam, setelah berlalu masa yang panjang, ketika itu kondisi amal perbuatan manusia sudah melemah, manusia melupakan tujuan utama kehidupan, mereka melupakan kitab Allah Ta’ala dan mereka terjauh dari jalan petunjuk Allah Ta’ala. Dalam keadaan demikian, dengan karunia Allah Ta’ala semata, Dia memberikan petunjuk kepada dunia dengan perantaraan utusannya lalu mengeluarkan manusia dari jurang kesesatan.

Keagungan Allah yang Maha tinggi memperlihatkan manifestasi-Nya. Seperti halnya pelita lampu, Dia pancarkan lagi Nur Makrifat di dunia ini. Dia jadikan lagi keimanan bercahaya terang lagi memancarkan nur.

Walhasil, sudah menjadi sunnah Tuhan yang telah berlangsung sejak dahulu sebagaimana itu juga sejak Hadhrat Adam sampai Hadhrat Rasulullah Saw. Setelah berlalu masa yang panjang, ketika orang-orang melupakan ajaran Nabi sebelumnya, kehilangan jalan lurus, kehilangan kekayaan iman dan kehilangan cahaya makrifat dan keempat penjuru dunia diliputi oleh kegelapan yang berbahaya, kesesatan dan dosa-dosa maka sifat Allah Ta’ala memancar dengan kuatnya dan dengan perantaraan manusia agung lalu nama Allah, Tauhid dan akhlak fadilah disebarkan lagi di dunia ini setelah sebelumnya ditegakkan ma’rifat Allah Ta’ala.

Ribuan tanda bukti yang jelas akan keberadaan Tuhan dibukakan sehingga makrifat, ketakwaan dan kesucian yang telah hilang dari dunia ini ditegakkan lagi. Dengan demikian, Jemaat didirikan berdasarkan sunnah yang sama ini.”

Di kalangan umat Muslim pun keimanan dan ketakwaan telah hilang begitu juga di kalangan non Muslim. Maka dari itu, pada zaman ini Allah Ta’ala telah mengutus Khatamul Khulafa sesuai dengan nubuatan Hadhrat Rasulullah (saw). Allah Ta’ala Sendirilah yang menegakkannya.

Beliau bersabda, “…terjadi satu revolusi agung.” Dengan demikian, untuk Sunnah yang telah berjalan sejak awal ini, ini perlu untuk direnungkan.

Beliau bersabda, “Sesuai dengan Sunnah ini berdirilah Jemaat kita ini.” Artinya, Jemaat Ahmadiyah pun berdiri bertujuan untuk memberikan bukti yang terang perihal keberadaan Allah Ta’ala, penegakkan tauhid lagi dan akhlak fadhilah dibangun lagi dari permulaan. Sebagaimana yang kita saksikan, sebagian besar kondisi amal perbuatan umat Muslim adalah lemah. Mereka terlibat dalam penyembahan kuburan, berbuat syirik, melakukan bid’ah, umum melakukan kefasikan dan dosa. Mereka sendiri mengakui dalam hal ini yang dimuat tulisan-tulisan pada kolom-kolom surat kabar mengenai hal itu.

Namun, seperti yang telah saya katakan, mereka tidak mau menerima orang yang Allah Ta’ala utus. Seorang utusan yang menjadi pengikut Hadhrat Rasulullah saw dari kalangan umat beliau saw sendiri demi memberikan petunjuk dan mengeluarkan manusia dari lobang kesesatan. Mereka terjerumus dalam syirik yang tersembunyi. Tidak tersisa lagi akhlak fadhilah di dalam diri mereka.

Namun kalimat terakhir dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) seperti yang telah saya katakan sebelumnya harus kita perhatikan. Artinya, Jemaat kita ini berdiri sesuai dengan Sunnah yang sudah lama tadi. Ketika kefasikan, dosa dosa dan kerusakan terjadi di dunia, akhlak telah sirna, orang-orang melupakan tauhid, syirk menyebar, pada saat seperti itu Allah Ta’ala mengutus salah seorang yang Dia kasihi lalu agama dihidupkan kembali kemudian dilakukan penyegaran dan perbaikan. Jadi, jika setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) namun kita tidak melakukan revolusi ini, maka ini patut dikhawatirkan.

Kita harus senantiasa mengevaluasi setiap saat apakah kita tengah berusaha untuk menyelaraskan kehidupan kita dengan nasihat-nasihat yang diberikan kepada kita untuk meraih nikmat yang melekat dengan Khilafat atau tidak? Bagaimanakah tolok ukur amal perbuatan kita?

Kita harus melihat bagaimana kualitas ibadah-ibadah kita dan bagaimana shalat-shalat kita, apakah setiap perbuatan dan ucapan kita bersih dari syirik atau tidak? Bagaimana tingkatan pengorbanan harta kita? Tolok ukur ketaatan kita pada level mana? Apakah kita tengah meraih Tolok ukur seperti yang diharapkan Allah Ta’ala dan Rasulullah ataukah tidak? Dan juga mengenai tolok ukur yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) harapkan dari para pengikutnya, apakah kita tengah berupaya untuk sampai pada standar tersebut atau tidak?

Terdapat sabda Hadhrat Rasulullah saw mengenai keutamaan ibadah dan shalat. Dalam hadits dikatakan, Hadhrat Abu Hurairah Ra meriwayatkan Hadhrat Rasulullah saw bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ  “Sesungguhnya amal perbuatan seorang hamba yang pertama kali akan dihisab (dimintai pertanggungjawaban, penilaian) pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan-amalannya yang lain akan dihisab dan dipertimbangkan seperti itu.”[3]

Maka dari itu, demikianlah pentingnya shalat. Pada hari-hari ini karena bulan Ramadhan sehingga perhatian banyak orang tertuju pada masjid dan shalat. Namun, hal pentingnya bukanlah terbatas hanya karena Ramadhan lalu memadai. Allah Ta’ala tidak hanya akan menanyakan shalat-shalat kita di bulan Ramadhan saja, melainkan shalat-shalat seumur hidup kita akan dimintai pertanggungjawaban jga. Untuk itu harus diberikan perhatian khusus.

Merupakan kasih sayang Allah Ta’ala yang tak terhingga kepada para hamba-Nya yang mana difirmankan bahwa kekurangan dalam ibadah-ibadah fardhu disebabkan kelemahan manusiawi dan dalam tabiat manusia juga kadang naik-turun sehingga terkadang kewajiban tidak dapat ditunaikan, فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا maka Allah Ta’ala berfirman, “Tutupilah kekurangan ibadah fardhunya dengan Ibadah ibadah nafal yang mungkin telah dia lakukan selama hidup.”

Dalam sebuah riwayat Hadhrat Jabir ibn Abdullah (Ra) meriwayatkan, “Saya mendengar Hadhrat Rasulullah saw bersabda,  “‏ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ ‏” ‘“Meninggalkan shalat dapat mendekatkan manusia pada syirik dan kekufuran.’”[4] Ini merupakan hal yang patut dikhawatirkan. Syirk merupakan dosa yang tidak termaafkan. Ia sangat dibenci oleh Allah Ta’ala. Apakah bila seseorang dengan melakukan dosa tersebut kita dapat meraih limpahan keberkatan nikmat Khilafat? Sama sekali tidak.

Bagaimana shalat seharusnya? Apa hakikat dan standar ruhnya. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan berkenaan dengan hal tersebut, “Sebagian orang pergi ke masjid-mesjid, mendirikan shalat dan mengamalkan rukun-rukun Islam lainnya, namun mereka tidak mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala dan tidak terdapat revolusi yang jelas dalam akhlak dan kebiasaan mereka.” (Dalam kebiasaan dan akhlak orang yang shalat seyogyanya tercipta revolusi yang jelas.) “Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa ibadah-ibadah mereka bersifat formalitas, tidak ada hakikatnya. Karena menjalankan perintah Tuhan seperti layaknya benih yang memiliki pengaruh terhadap ruh dan tubuh, kedua-duanya.”

(Sebagaimana ketika kita menanam tanaman lalu tumbuh perlahan-lahan. Begitu juga shalat harus memberikan pengaruh pada ruh kita, tubuh kita dan akhlak kita. Pengaruhnya harus tampak jelas.)

Beliau melanjutkan bersabda: “Orang yang memelihara ladangnya, dia dengan giat menyemaikan benih, jika dalam beberapa bulan tidak tampak hasilnya, maka anggap saja benihnya rusak.” (maksudnya jika benih tadi tadi tidak tumbuh berkembang.) “Begitu juga keadaan ibadah-ibadah.”

(Saya [Hudhur V atba] jelaskan kata-kata berbahasa Urdu tersebut kepada orang-orang umumnya karena terkadang setelah saya selesai khotbah, beberapa penerjemah menanyakan kepada saya bahwa saya menggunakan beberapa istilah yang mereka tidak paham maknanya.)

Jika manusia meyakini Allah itu Esa dan tiada sekutu bagi-Nya, mendirikan shalat, berpuasa, dan pada lahiriahnya sedapat mungkin melaksanakan perintah Ilahi, namun dia tidak mendapatkan pertolongan yang khas dari Allah Ta’ala, maka anggap saja benih yang dia semaikan itu rusak.”[5]

Inilah point (pokok pikiran) yang harus senantiasa kita perhatikan yaitu cari tahulah sejauh mana kedekatan kita dengan Tuhan melalui perbaikan kualitas (mutu) ibadah-ibadah kita, akhlak-akhlak kita dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika akhlak kita dan kebiasaan kita berada pada jalur yang seharusnya, berarti shalat-shalat kita memberikan manfaat pada kita dan kita semakin dekat dengan Allah Ta’ala. Jika keadaan-keadaan lahiriah kita tidak mengalami perubahan, berarti kedekatan dengan Allah Ta’ala pun tidak didapatkan dan shalatnya pun tidak memberikan manfaat apa-apa.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Apakah shalat itu? Shalat adalah doa yang dipanjatkan dengan segala kerendahan hati dan dengan penuh kesadaran akan kesucian-Nya, keterpujian-Nya, kekudusan-Nya, disertai dengan istighfar dan shalawat kepada Nabi Muhammad (saw). Apabila kalian mendirikan shalat, janganlah seperti orang yang tidak mengerti, dengan membatasi doa-doa kalian pada pelafalan kalimat-kalimat Bahasa Arab saja.” (Artinya, Bahasa Arab bukanlah bahasa ibu kalian maka dari itu yang tidak paham Bahasa Arab hendaknya tidak hanya melafalkan secara lisan saja [perlu memahami arti doa] karena dengan begitu tidak muncul suasana hati yang semestinya ada.)

“Karena shalat dan istighfar mereka sifatnya tradisi saja yang tidak disertai hakikat. Ketika mendirikan shalat, selain membaca ayat-ayat al-Qur’an yang merupakan Firman Tuhan dan membacakan doa-doa ma-tsurat (yang biasa dipanjatkan) oleh kalam Hadhrat Rasulullah dan yang wajib dipahami mak-maknanya juga supaya dapat mengetahui inti pokoknya. Lalu, selebihnya dapat juga memanjatkan doa-doa lain. Kalian harus berdoa dengan doa-doa sendiri dalam bahasa sendiri secara tadharru’ (merendahkan diri). Hal demikian supaya memberikan pengaruh penghambaan dan ketidakberdayaan terhadap kalbumu.”

Kemudian beliau bersabda, “Shalat merupakan sarana yang dapat membuat langit tunduk kepada manusia yakni Allah menjadi dekat. Orang yang melaksanakan shalat dengan menunaikan hak shalat berpikiran bahwa dirinya telah tiada dan ruhnya telah meleleh lalu tersungkur di hadapan singgasana Ilahi. Rumah yang di dalamnya terdapat shalat yang seperti itu, tidak akan pernah hancur. Terdapat didalam hadits, jika shalat diwajibkan pada kaum Nabi Nuh maka mereka tidak akan pernah binasa.

“Ibadah Haji dilakukan dengan berbagai syarat.” (Artinya, tidak diwajibkan bagi setiap orang selama belum ada beberapa persyaratan untuk melakukan ibadah haji. Ia tidak diwajibkan bagi setiap orang.) Begitu juga puasa bersyarat.” (Puasa tidak diwajibkan bagi orang yang sakit dan musafir namun keduanya dapat mengqodonya di kemudian hari.) “Zakat juga bersyarat.” (Orang yang berharta, barulah dia harus membayarkan zakatnya.) “Namun shalat tidaklah bersyarat. Ibadah-ibadah wajib yang sebelumnya tadi disebutkan dilakukan sekali setahun, namun lain halnya shalat yang harus dilakukan lima kali dalam sehari. Maka dari itu, sebelum shalat dilakukan sepenuhnya sesuai tuntutan-tuntutannya maka tidak akan dapat keberkatan yang diharapkan darinya dan tidak juga dari baiat ini akan mendapat manfaat.”

Beliau bersabda: “Sebelum shalat dilakukan sepenuhnya sesuai tuntutan-tuntutannya maka tidak akan dapat keberkatan yang diharapkan darinya dan tidak juga akan mendapat manfaat dari baiat yang kalian lakukan padaku.”

Inilah standar yang harus kita upayakan untuk meraihnya.

Allah Ta’ala berfirman: Hindarilah Syirk. Telah diriwayatkan berkenaan dengan ini bahwa Rasulullah Saw sangat menghawatirkan terjadinya syirk dalam umat beliau. Sebagaimana terdapat hadits dari Ubadah bin Nusayyi (عُبَادَةُ بْنُ نُسَيٍّ) memberitahukan perihal Syaddad ibn Aus (شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ) bahwa suatu ketika ia menjumpai Syaddad ibn Aus di tempatnya shalat dan tengah menangis, lalu ditanyakan kepada beliau, “Kenapa Anda menangis?”

Beliau menjawab, شَيْئًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُهُ فَذَكَرْتُهُ فَأَبْكَانِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ “Saya teringat sesuatu yang saya dengar dari Hadhrat Rasulullah saw dan sabda beliau itu membuat saya menangisinya. Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي الشِّرْكَ وَالشَّهْوَةَ الْخَفِيَّةَ   ‘Aku menghawatirkan akan terjadi syirik dan hasrat tersembunyi di kalangan umatku.’

Lalu saya bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُشْرِكُ أُمَّتُكَ مِنْ بَعْدِكَ ‘Wahai Rasulullah apakah sepeninggal Hudhur, umat Islam akan terjerumus dalam syirik?’

Rasul menjawab, نَعَمْ أَمَا إِنَّهُمْ لَا يَعْبُدُونَ شَمْسًا وَلَا قَمَرًا وَلَا حَجَرًا وَلَا وَثَنًا وَلَكِنْ يُرَاءُونَ بِأَعْمَالِهِمْ وَالشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ أَنْ يُصْبِحَ أَحَدُهُمْ صَائِمًا فَتَعْرِضُ لَهُ شَهْوَةٌ مِنْ شَهَوَاتِهِ فَيَتْرُكُ صَوْمَهُ ‘Ya. Meskipun umatku tidak akan menyembah matahari, bulan, patung berhala, namun mereka akan bersikap pamer atas amalannya, terjadi penipuan, amalan yang dibuat-buat, dan akan terjerumus di dalam hasrat yang tersembunyi. Jika diantara mereka ada yang tengah berpuasa di pagi hari , lalu berhasrat sesuatu, maka dia akan meninggalkan puasanya dan memenuhi hasratnya itu, dia tidak mempedulikan puasanya. Memang pada penampakan luarnya saja dia puasa.’”[6]

Pada khotbah Jumat lalu pun saya telah sampaikan kejadian ada anak yang berpuasa ikut sahur demi membahagiakan orang tua, namun siang harinya dia makan di suatu restoran lalu pada sore harinya dia ikut berbuka puasa dengan keluarga layaknya sepanjang hari berpuasa. Inilah keadaan orang-orang itu dan itu dimuat dalam suatu suratkabar-suratkabar di sini (Inggris) dan disampaikan penuturan seperti yang disampaikan Jumat lalu.

Jadi sangatlah mengerikan, jika kita mengevaluasi diri dengan dalam, maka akan banyak sekali contoh syirik khafi (sembunyi-sembunyi). Terkadang shalat pun bolong disebabkan mengikuti hasrat keinginan dan puasa pun terkadang bocor karena alasan duniawi. Ada seorang pemuda yang mengatakan kepada saya, “Karena saya memiliki usaha pizza dan ketika membuat pizza terpaksa harus mengetes rasanya, untuk itu saya tidak mampu berpuasa atau meninggalkan beberapa puasa.”

Dalam hal ini saya hanya dapat mengucapkan Innaa lillaahi wa inna ilaihi raji’uun atas hal itu yakni sebagai Ahmadi ada yang masih melakukan perbuatan seperti itu. Saya tidak tahu apakah dia merasa malu atau tidak terhadap perkataannya itu?! Namun setelah mendengarkan perkataan orang-orang yang seperti itu, bagaimanapun saya merasa malu. Bila seseorang menyatakan telah mendapatkan karunia Allah Ta’ala, namun jika tidak mengamalkan hukum-hukum-Nya, berarti pernyataannya itu adalah dusta.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Allah Ta’ala berfirman di dalam Al Quran, إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا ‘…wa yaghfiru maa duuna dzaalik.’ (Surah An-Nisa, 4:49) yakni Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Untuk itu jangan dekati syirik dan anggaplah sebagai pohon terlarang.”[7] Sekarang tengah berlangsung penjelaskan masalah syirik.

Lalu beliau (as) bersabda, “Tauhid tidaklah hanya sebatas mengucapkan laa ilaaha illaaLlaah, sedangkan ribuan berhala terkumpul di dalam hati. Melainkan orang yang memberikan kemuliaan yang merupakan hak Tuhan kepada sesuatu perbuatan, sesuatu rencana, sesuatu makar tipuan dan upaya-upaya; atau menaruh kepercayaan pada seseorang sebagaimana itu seharusnya kepada Tuhan; atau mengagungkan dirinya sesuatu kemuliaan yang seharusnya kepada Tuhan; maka dalam pandangan Allah Ta’ala semua amalan tersebut merupakan penyembahan berhala.”

Inilah penjelasan dari hadits tersebut. Berhala tidaklah hanya benda yang terbuat dari emas, perak, tembaga atau batu lalu diyakini dan disembah, melainkan setiap sesuatu, perbuatan ataupun ucapan yang diberikan kemuliaan padahal merupakan hak Tuhan, dalam pandangan Tuhan itu merupakan berhala. Jadi, perlu bagi kita untuk memperhatikan sampai sedalam mungkin.

Penunaian zakat dan pengorbanan harta ditetapkan perlu bagi orang-orang yang mendapatkan anugerah Khilafat. Kemudian Hadhrat Rasulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud ra, “‏ لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ، فَهْوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا ‏”‏‏.‘Laa hasada illa fi itsnataini rajulun ataahuLlahu maalan fasullitha ‘ala halakatihi fil haqqi, wa rajulin ataahuLlahul hikmata, fahuwa yaqdhi biha wa yu’allimuhaa.’ – “Tidak boleh mendengki (iri hari, cemburu) kecuali terhadap dua hal; seorang yang telah Allah Ta’ala anugerahi dengan harta dan dia senantiasa banyak pergunakan harta tersebut di jalan kebenaran dan seseorang yang Allah berikan hikmah (kecerdasan dan ilmu) lalu dia mengamalkannya, menggunakannya untuk memutuskan perkara bagi orang-orang dan mengajarkannya kepada orang lain.” [8]

Hadhrat Hasan meriwayatkan Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ” حَصِّنُوا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ ، وَدَاوَوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ ، وَأَعِدُّوا لِلْبَلاءِ الدُّعَاءَ “ ‘hashshinuu amwaalakum biz zakaati; wa daawau mardhakum bish shadaqati, wa a’idduu lil balaa-id du’aa.’ – “Lindungilah harta kalian dengan membayarkan zakatnya; sembuhkanlah orang-orang yang sakit dengan perantaraan sedekah; siapkanlah diri menghadapi bencana dengan sebelumnya banyak berdoa.”[9] Artinya, beliau saw menekankan untuk membayar zakat, sedekah dan pengorbanan harta.

Jadi, orang yang diwajibkan membayar zakat, harus membayarnya sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Tidak semua orang diwajibkan zakat, namun bagi mereka yang tidak diwajibkan zakat dinasihatkan supaya melaksanakan sedekah.”

Jika terdapat dorongan untuk memperhatikan orang-orang yang memerlukan dan hal itu ialah suatu keharusan; maka demikian pula, di sana harus menaruh perhatian untuk menciptakan persatuan, karena corak terbaik membelanjakan zakat dan harta adalah dengan mengikuti Khilafat. Di dalam Nizham Jemaat memungkinkan dalam corak yang lebih baik untuk menghimpun daftar informasi orang-orang yang memerlukan atau mungkin juga tidak memiliki apa-apa. Jemaat-Jemaat hendaknya mengatur dan menyediakan daftarnya serta mengirimkan informasi ini ke Markas. Pada umumnya ada daftar informasi orang-orang yang memerlukan yang datang laporannya ke Markas. Demikian pula, kepada Khalifah juga datang informasi dari berbagai tempat dan dari berbagai macam orang-orang. Orang yang bersangkutan juga terkadang mengirimkan surat kepada Khalifah menceritakan mengenai dirinya sendiri.

Berdasarkan hal itu, Jemaat hendaknya membelanjakannya di tempat itu. Inilah sebabnya, di Afrika atau di negara-negara lainnya, Jemaat sedapat mungkin berusaha untuk memberikan kemudahan dan pertolongan sesuai dengan kemampuan kepada orang-orang di sana dengan menyediakan fasilitas untuk kesehatan, pendidikan, makanan dan lain-lain. Dan yang saya perhatikan kebanyakan para Ahmadi melakukan pengorbanan harta dengan penuh rasa simpati untuk menolong saudara-saudaranya yang miskin yang mana dengan perantaraan itu tercipta satu kesatuan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan mengenai hubungan antara shalat dan zakat sesuai dengan ajaran Allah, “Jika orang-orang melaksanakan shalat dengan khusyu, secara otomatis mereka akan menjauhi perbuatan laghw.” (Jika shalat yang dilakukan dengan benar, maka perbuatan laghw pasti akan dapat ditinggalkan.) Dan mendapat keselamatan dari dunia yang kotor lalu kecintaannya kepada dunia akan mendingin kemudian timbul di dalam dirinya kecintaan kepada Tuhan. Itu akan menghasilkan وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ لِلزَّکٰوۃِ فٰعِلُوۡنَ ۙ walladziina hum lizzakaati faailuwn yakni mereka akan membelanjakan hartanya di jalan Allah.”

(Artinya, jika seseorang telah menjauhi perbuatan laghw, tidak membelanjakan sesuatu untuk hal yang laghw dan timbul perhatian kepada ibadah, jika ia seorang yang berharta, maka akan timbul perhatian untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah.)

Beliau bersabda: “Ini merupakan buah dari وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَ ‘walladziina ‘anil laghwi mu’ridhuwn. Sebagai buah dari menghindari perbuatan laghw, akan timbul perhatian untuk melakukan pengorbanan harta dan ia mulai merasakan keadaan orang-orang laint. Karena ketika kecintaan kepada dunia sudah mendingin, sebagai konsekwensinya mereka akan membelanjakannya di jalan Allah. Sekalipun seseorang itu memiliki harta sebanyak yang dimiliki oleh Qorun, mereka tidak akan memperdulikannya dan tidak akan segan-segan untuk mengorbankannya di jalan Allah.”

Beliau As bersabda: “Ada ribuan orang yang tidak membayar zakat sampai-sampai orang miskin dalam kaumnya satu per satu meninggal, namun orang seperti itu tidak akan memperdulikannya padahal terdapat perintah untuk mengeluarkan zakat dari setiap sesuatu. Begitu juga halnya perhiasan perhiasan. Namun, batu-batuan mewah tidak ada zakatnya (berlian, permata dll). Para hartawan, bangsawan, berdasarkan hukum syariat diperintahkan kepada mereka untuk menghitung-hitung harta kekayaannya dan keluarkanlah zakatnya. Tidak hanya uang yang mengendap sampai satu masa tertentu saja, keluarkanlah zakatnya, namun terkadang mereka tidak membayarnya.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman kondisi, وَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عَنِ اللَّغۡوِ مُعۡرِضُوۡنَ ‘walladziina ‘anil laghwi mu’ridhuwn akan timbul jika manusia membayar zakatnya.” (Artinya, jika seseorang membayar zakat, maka akan ada upaya untuk terhindar dari perbuatan laghou dan melakukan shalat dengan khusyu. Jika shalatnya benar, maka akan terhindar dari hal-hal sia-sia. Jika terhindar dari perbuatan laghw, maka akan timbul perhatian untuk mengorbankan harta.)

Beliau As bersabda, “Orang yang melakukan pengorbanan harta adalah orang yang terhindar dari perbuatan laghw.”

Satu sama lain saling berkaitan. Seolah-olah beliau bersabda, “Membayar zakat merupakan dampak positif dari menjauhi perbuatan laghw.”[10]

Walhasil, shalat akan mengarahkan perhatian pada menjauhi hal-hal laghw (sia-sia); sedangkan amal perbuatan menjauhi hal-hal laghw akan mengajak manusia untuk mengamalkan hukum-hukum Ilahi. Begitu juga akan timbul perhatian, bukannya membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang tidak jaiz, akan membelanjakannya di jalan Allah Ta’ala. Beliau As juga mengambil kesimpulan bahwa dengan membelanjakan harta di jalan Allah, akan menyelamatkan manusia dari hal-hal laghw.

Lalu, Allah Ta’ala menasihatkan orang-orang yang mendapatkan nikmat Khilafat untuk meninggikan standar ketaatannya. Dalam hadits dikatakan, bersumber dari Hadhrat Ubadah bin Shamit yang meriwayatkan, بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَعَلَى أَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا لاَ نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ ‏.‏ “Kami baiat di tangan Rasulullah saw atas janji akan mendengar dan taat, baik dalam keadaan suka maupun tidak suka, dalam keadaan susah maupun mudah. Di manapun juga, kami tidak akan bertengkar dengan siapapun yang berhak atas amar pemerintahan atau keputusan atau suatu urusan, kami akan tetap teguh berdiri di atas kebenaran atau kami akan senantiasa mengatakan yang benar, dan dalam urusan Tuhan kami tidak akan takut cercaan pencerca (kritikan pengkritik) atau gentar dengan celaan seseorang.”[11]

Dalam hal ini beliau tidak bersabda hanya untuk diri beliau sendiri, melainkan merupakan nasihat bagi Khilafat dan nizam di masa yang akan datang. Sebagaimana ada dalam hadits, Hadhrat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersabda, عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ ‏ “Dalam keadaan sulit ataupun lapang, bahagia ataupun tidak bahagia, ketika hak terampas ataupun mendapatkan prioritas, walhasil dalam berbagai kondisi adalah wajib bagi kalian untuk mendengar dan taat pada perintah penguasa.”[12]

Berkenaan dengan ketaatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Taatlah kepada Allah, Rasul-Nya dan para penguasa. Jika ketaatan itu dilakukan dengan tulus maka hati akan memperoleh sinar sedangkan jiwa akan mendapatkan kebahagiaan serta cahaya. Mujahadah tidaklah begitu diperlukan sebagaimana diperlukannya ketaatan. Ketaatan harus ditunjukan dengan tulus terlebih dahulu dan ini adalah perkara sulit. Adalah penting untuk meleburkan keakuan kedalam ketaatan karena tidak mungkin untuk menjadi seseorang yang taat tanpa hal ini. Sedangkan ego merupakan emosi yang dapat menciptakan suatu berhala bahkan di dalam hati para penganut Tauhid Ilahi.

Betapa penuh berkatnya para sahabat ridhwanuLlah ‘alaihim ajma’iin, mereka segolongan orang yang benar-benar mengabdikan diri dalam ketaatan kepada Rasulullah saw. Memang benar suatu kaum tidak akan menjadi suatu golongan serta tidak akan memiliki semangat kebangsaan dan kerukunan jika tidak mengamalkan prinsip ketaatan. Jika perbedaan dan perselisihan pendapat merupakan hal yang lazim terjadi, maka pandanglah hal ini sebagai pertanda keadaan yang buruk dan kemunduran. Jika terjadi pertentangan dan kemunduran terus terjadi, kemajuan dan perkembangan tidak akan muncul. Dengan berbagai sebab dan segi, pertentangan serta konflik internal pun juga terjadi di balik lemahnya serta mundurnya keadaan umat Islam.

Jika perbedaan pendapat ditinggalkan dan hanya ada satu orang yang ditaati, yaitu wujud yang Allah Ta’ala perintahkan untuk ditaati, maka kesuksesan dalam segala hal pun dapat diperoleh. [Hadits] يَدُ الله مَعَ الْجَمَاعَة ‘YaduLlahi ma’al Jamaa’ah’ ‘Tangan Allah Ta’ala menyertai al-Jama’ah’ (orang-orang yang bersatu-padu dalam satu imam, pimpinan)[13]; di sanalah terletak rahasianya. Dalam hal ini, Allah Ta’ala menyukai persatuan, sedangkan kesatuan tidak dapat dibangun jika ketaatan tidak diterapkan.

Pada masa Rasulullah saw, para sahabat merupakan orang-orang tegas yang memiliki pemikiran hebat bermutu tinggi. Allah Ta’ala menciptakan mereka dalam segi ini sehingga mereka memiliki kecakapan dalam pokok-pokok prinsip politik juga. Kompetensi serta kecerdasan Hadhrat Abu Bakar ra, Hadhrat Umar ra serta para sahabat selain keduanya ketika mereka memegang kekuasaan menjadi Khalifah, lalu dengan kebaikan niat dan kebagusan sistem yang mereka jalankan demi memikul beban pemerintahan nan berat sangat jelas menunjukkan betapa mampunya mereka untuk bersikap tegas dan memiliki pemikiran yang hebat. Namun di hadapan Rasulullah saw, mereka memandang tidak berarti segala pemikiran dan ketajaman pandangan yang mereka miliki.

Apapun yang Rasulullah saw sabdakan, mereka anggap harus dilaksanakan. Begitu setianya mereka di dalam perwujuan ketaatan kepada beliau saw sehingga mereka mencari keberkatan di sisa air wudhu beliau saw dan menganggap mulut beberkat beliau patut dimuliakan. Jika mereka tidak memiliki semangat ketaatan dan pengabdian yang seperti ini dan jika mereka memandang pemikiran mereka adalah yang terbaik dan yang patut dimunculkan, maka akan ada pertentangan diantara mereka dan mereka tidak akan memperoleh derajat yang tinggi.

Menurut saya, satu penjelasan berikut ini sudah cukup untuk mengakhiri pertentangan antara Syiah dan Sunni, yaitu para sahabat Nabi saw tidak pernah saling berselisih dan bermusuhan karena kemajuan dan capaian-capaian keberhasilan yang mereka peroleh menunjukkan bahwa mereka itu bersatu dan tidak ada permusuhan antara satu dengan yang lainnya.

Para penentang Islam yang kurang dalam pemahamannya mengatakan Islam disebarkan dengan kekerasan dan paksaan, tetapi di sini saya katakan hal itu tidak benar. Hal yang sebenarnya ialah hati mereka dibasahi dengan semangat ketaatan. Sebagai buah ketaatan dan persatuan, mereka telah memenangkan hati orang-orang. Keyakinan saya adalah mereka menarik pedang hanya sebagai upaya untuk melindungi diri saja. Bahkan, jika mereka tidak menarik pedang, mereka tetap akan memenangkan dunia dengan kata-kata mereka. Ada suatu perkataan [bahasa Persia], ’sahn kaz dil aid nasyind la jarm bar dil’ ‘Kata-kata yang keluar dari hati, tak diragukan lagi, bahwa itu akan dapat menyentuh dan meluluhkan hati yang lain!’

Para sahabat Nabi Muhammad (saw) menerima kejujuran dan kebenaran. Mereka menerimanya dengan ketulusan hati, tanpa keterpaksaan dan tanpa adanya kepura-puraan. Hanya kebenaran merekalah yang menjadi sarana kesuksesan mereka. Sungguh benar! Orang benar hanya menggunakan kekuatan kebenarannya.

Air muka dan jasmani penuh berkat Hadhrat Rasulullah saw memancarkan cahaya tawakkal (penyerahan diri) kepada Allah dan mengandung corak jamaali (kecantikan, keindahan) dan jalaali (keagungan). Wajah beliau saw yang bercahaya ini mempunyai daya tarik dan kekuatan yang dapat menarik hati orang-orang kepadanya. Dan Jemaat sahabat beliau saw merupakan teladan yang patut dicontoh dalam hal ketaatan kepada Rasulullah saw, dan terbukti, dan terbukti, استقامت ‘istiqamat’ (kemantapan, keteguhan, integritas) mereka dalam ketaatan ini sedemikian rupa فوق الكرامة fauqal karaamah’ (berada pada martabat kehormatan, sangat luar biasa) sehingga siapa pun yang melihat mereka, tidak dapat untuk tidak tertarik kepada mereka.

Maka dari itu, sekarang ini perlu sekali untuk mencontoh keadaan para sahabat dan persatuan mereka, karena Allah Ta’ala telah menghimpunkan Jemaat ini yang disiapkan di bawah tangan Al-Masih yang dijanjikan dengan Jemaat yang disiapkan di bawah tangan Hadhrat Rasulullah saw. Kesuksesan suatu Jemaat hanya tergantung pada hasil mengamalkan teladan orang-orang seperti itu.” (Mereka yang membuat perubahan dalam keadaan mereka sesuai ajaran ini dan memperlihatkan teladan tinggi ketaatan.)

“Karena itu, kalian yang menamakan diri (dikenal) sebagai golongan Al-Masih yang dijanjikan dan ingin bergabung dengan golongan para sahabat, tanamkanlah keadaan para sahabat di dalam diri kalian, warnailah diri kalian dengan warna para Sahabat Nabi Muhammad saw. Tirulah ketaatan mereka. Jadikanlah diri kalian dalam kecintaan dan kesatuan satu dengan yang lain seperti mereka. Pendeknya, terapkanlah akhlak para sahabat dalam segala bentuk.”[14]

Meskipun hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as sampaikan kepada para sahabat beliau pada waktu itu, namun jika kita ingin senantiasa menegakkan kemajuan Jemaat dan jika ingin mengupayakan untuk mengabadikan Nizham Khilafat, maka kita harus menegakkan teladan tersebut secara terus-menerus, sehingga Jemaat akan memperoleh kemajuan-kemajuan seperti yang didapatkan sebelumnya.

Jadi, inilah tolok ukur yang diperlukan untuk meraih limpahan keberkatan dari nikmat-nikmat Allah Ta’ala. Kita pun harus meningkatkan tolok ukur ibadah-ibadah kita, menjaga shalat-shalat kita dan menyucikan perkataan dan perbuatan kita sepenuhnya dari berbagai macam syirik serta membelanjakan harta kita di jalan Allah Ta’ala. Sebagaimana setiap saat kita harus menjaga standar tertinggi kesetiaan dan ketaatan kepada Khilafat. Pada saat itu, baru kita dapat meraih limpahan nikmat Khilafat dan keberkatan Allah Ta’ala yang menyertainya, sehingga kita dapat terus menjalin hubungan yang erat dengan Khilafat yang berlangsung sampai hari kiamat dan dapat mengikatkan anak keturunan kita dengannya.

Dalam menyampaikan kabar suka mengenai Khilafat yang abadi ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Janganlah hati kalian menjadi kusut karena bagi kalian perlu pula melihat Kudrat yang kedua. Kedatangannya kepada kalian membawa kebaikan karena ia (Kudrat kedua itu) selamanya akan tinggal bersama kalian; dan sampai hari kiamat silsilah (mata rantai) ini tidak akan terputus.

Kudrat Kedua itu tidak dapat datang sebelum saya pergi; akan tetapi bila saya pergi, maka Tuhan akan mengirimkan Kudrat Kedua itu kepadamu, yang akan tinggal bersama kamu selama-lamanya; sebagaimana janji Allah Ta’ala yang tercanum dalam buku saya, Barahin Ahmadiyah. Janji itu bukan untuk saya, melainkan untuk kamu. Seperti firman Tuhan, ‘Aku akan menjadikan Jemaat ini, yaitu mereka yang mengikuti engkau kemenangan diatas golongan-golongan lain sampai kiamat.’

Dari itu mestilah datang kepadamu hari perpisahanku, supaya sesudah itu baru datang hari yang jadi hari perjanjian kekal. Tuhan kita adalah Tuhan yang menepati janji, setia dan benar. Dia akan memperlihatkan kepadamu segala apa yang sudah dijanjikan-Nya. Meskipun masa ini adalah masa akhir dunia serta banyak malapetaka akan tiba, tetapi mestilah dunia akan tetap berdiri sebelum segala hal yang dikabarkan Tuhan itu terjadi semuanya. Saya diutus dari Tuhan sebagai cerminan suatu kudrat dari-Nya. Saya adalah kudrat Tuhan yang berjasad. Kemudian, sesudah saya ada lagi beberapa orang lain yang jadi mazhar (cerminan) Kudrat Kedua dari Tuhan.”[15]

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah menganugerahkan nikmat itu kepada kita dan sejak sekitar 110 tahun yang lalu kita terus menyaksikan karunia Allah Ta’ala tersebut dan terpenuhinya janji-janji yang Dia sampaikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap orang yang telah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) untuk dapat senantiasa meraih manfaat dari limpahan keberkatan-keberkatan Khilafat dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk Allah Ta’ala.

Pada minggu lalu pun saya telah menekankan kepada Anda sekalian untuk memanjatkan doa secara khusus bagi para para Ahmadi Pakistan. Demikian pula saya mengulang lagi hal ini. Para Ahmadi Pakistani hendaknya menaruh perhatian khusus untuk berdoa, tingkatkanlah tolok ukur shalat-shalat kalian dan zikir Ilahi anda sebanyak banyaknya, lebih dari sebelumnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik untuk ini kepada kita semua. Amin.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi                     : www.alislam.org dan islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam (كتاب الأحكام), bab firman Allah, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan ulil amri minkum (باب قول الله تعالى و {أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم} [النساء:), no. 7137.

[2] Al-Jaami’ li Syi’bil Iman (Kumpulan cabang-cabang Iman) karya al-Baihaqi, cabang ke-18, bab nasyril ‘ilmi (penyebarluasan ilmu), pasal berkata, ‘yanbaghi li thalibil ‘ilmi..’, jilid 3, halaman 317-318, hadits 1763, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh-Saudi Arabia, 2004. يُوْ شِكُ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ الإِسْلاَمِ إِلاَّ اسْمُهُ, وَلاَ يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ, مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى, عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ, مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةِ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ. ‘Yuusyika ‘alan naasi zamaanun laa yabqa minal Islami illa ismuhu, wa laa yabqa minal Qur’aani illa rasmuhu, masaajiduhum ‘aamiratun wa hiya kharaabum minal huda, ‘ulamaa-uhum syarru man tahta adiimis samaa-i, min ‘indihum takhrujul fitnati wa fiihim ta’uud.’ “Akan datang suatu zaman, Islam tinggal namanya dan Al-Qur’an hanya tulisannya, masjid-masjidnya ramai akan tetapi kosong dari petunjuk dan para ulama mereka adalah seburuk-buruk orang yang ada di bawah kolong langit, dari sisi mereka keluar fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka.”]

[3] Sunan Abi Daud no. 864, riwayat Harits bin Qubaishah

[4] Shahih Muslim, Kitab tentang Iman, Jabir bin Abdullah

[5] Malfuzhat jilid 10

[6] Musnad Ahmad, Musnad orang-orang Syam, no. 16498

[7] (Tuhfah Golerwiyah)

[8] Shahih Bukhari, Kitab tentan ilmu, Bab Al Ightibath fil ‘ilmi wal hikmahi wa qaala ‘Umar tafaqqahu qabla an tusawwaduu (Suka cita dan berharap ingin memperoleh ilmu dan hikmah serta sabda Umar, ‘Berilmulah sebelum kamu tidak bisa apa-apa!’.

[9] Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath 2/274 no. 1963

[10] Malfuzhat

[11]Shahih Muslim, kitaab al-Imarah, bab wujuubu tho’athil umaro fiighoiri ma’shiyati wa tahrimuha fi ma’shiyah (kewajiban taat kepada para amir dalam hal bukan dosa dan larangat taat dalam hal dosa), hadis no. 1709

[12] Shahih Muslim Kitabul Imaarah.

[13]Sunan at-Tirmizi 6/334. Kitab al-Fitan, bab Luzumis Sunnah, juga diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak 1/115, 116 كتاب العلم

[14] Al-Hakam, 10 Februari 1901, h. 1-2.

[15] Al-Wasiyat, Ruhani Khazain jilid 20 hal. 305-306

(Visited 20 times, 1 visits today)