Download

Khotbah Idul Fitri 2008

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 2 Ikha 1387 HS/Oktober 2008

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

“Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala pada hari ini kita sedang merayakan ‘Id, yaitu ‘Idul Fitri nan penuh berkat. ‘Id secara etimologi berarti: apa-apa atau sesuatu yang kembali lagi dan lagi, sedangkan menurut terminologi Islam, ‘Id itu terbatas pada ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. ‘Idul Fitri adalah hari raya yang kita rayakan selepas bulan Ramadhan, yaitu hari dimana kita makan dan minum dengan bebas. Adapun ‘Idul Adha adalah ‘id yang berkaitan dengan ibadah haji dan ibadah qurban.

Oleh karenanya, ‘Id itu adalah hari bersuka-ria dan bergembira. Terdapat dalam hadits bahwa ‘Id itu merupakan hari makan minum, hari bersuka cita dan hari bergembira. Dari lafal inilah dipergunakan kata ‘Id untuk berbagai kesempatan yang menggembirakan. Ekspresi atau gaya bahasa itu, dipergunakan juga dalam bahasa Urdu, di mana saja Saudara-saudara dapat mengungkapkan kebahagiaan yang besar kepada orang yang membahagiakan Saudara-saudara, “Sungguh engkau telah menjadikan hariku sebagai ‘Id (hari raya),” atau “Engkau telah menjadikan hari ini sebagai ‘Id bagi kami.”

Dalam keadaan bagaimana pun, ‘Id yang kita rayakan itu akan datang kepada kita dua kali setiap tahun, sebagaimana orang-orang Muslim, baik tua maupun muda tahu akan hal itu, dan tentunya untuk mengatakan kepada kita, “Berbahagialah kalian atas persembahan beraneka pengorbanan baik harta maupun jiwa dan yang lainnya, karena sesungguhnya kalian telah mempersembahkannya berdasarkan perintah Allah Ta’ala dan kalian pun telah diberikan taufik untuk berkorban dengan karunia Allah Ta’ala.” Jika demikian, kita merayakan ini sesuai dengan perintah Allah dan dengan maksud mencari ridha-Nya.

Kata ‘Id terdapat dalam Al-Quran, walaupun kata itu untuk orang-orang Nasrani (pengikut Al-Masih), bukan untuk orang-orang Islam. Itu ada dalam firman Allah Ta’ala:

{قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ}

“Isa putra Maryam berdoa: ‘Ya Tuhan kami turunkanlah kepada Kami suatu hidangan dari langit yang akan menjadi ‘Id (hari raya) bagi Kami, yaitu orang-orang yang sekarang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezekilah kami, dan Engkaulah Pemberi rezki yang paling Utama.’ [QS. Al-Maidah, 5:115].

Makna-makna ‘Id yang disebutkan di dalam doa pengikut Isa ini bertolak belakang sepenuhnya dengan apa-apa yang sudah saya terangkan sebelumnya menurut sudut pandang Islam. Perihal mana perintah Allah terhadap orang-orang Muslim untuk merayakan ‘Id itu sesudah mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan. Konteks (pembicaraan tersirat) ayat ini memberitahukan dengan jelas kepada kita bahwa orang-orang Masihi (Kristen, Nasrani) itu tidak mencari ‘Id sebagai buah dari pengorbanan yang mereka persembahkan. Demikian itu pula mereka juga tidak akan dikaruniakan ‘Id dari Allah Ta’ala sebagai balasan atas sebagian dari pengorbanan-pengorbanan mereka. Tak salah lagi memang Allah Ta’ala telah menurunkan suatu ‘Id kepada orang-orang mereka di masa awal dan orang-orang mereka yang datang kemudian. Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberi peringatan kepada mereka perihal mana Allah Ta’ala berfirman:

{قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ}

“Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepada kamu, barangsiapa yang ingkar diantaramu sesudah [turun hidangan itu], maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Ku-timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.” [QS. Al-Maidah, 5:116].

Pandangan secara umum terhadap tema ini menerangkan bahwa Tuhan Yang Maha Mengetahui hal yang gaib dan yang nyata, telah memperingatkan orang-orang Nasrani, karena Dia tahu mereka itu tidak akan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Sebab itu, mereka akan mendapatkan balasan dari Allah Ta’ala. Secara amal perbuatan kita dapat memperhatikan corak ketidak-bersyukuran mereka terhadap nikmat-nikmat Allah sekarang ini, dimana mereka menyalahgunakan pemanfaatan rezeki yang Dia turunkan kepada mereka. Jika demikian, mereka itu sudah benar-benar mendapatkan peringatan dari Allah dengan adanya azab-Nya dikarenakan oleh kesesatan mereka ini.

Ringkasnya, ‘Id mereka itu (‘Id orang Nasrani) bukanlah ‘Id yang didambakan orang-orang Muslim. Demikian pula, ‘Id mereka ini bukanlah ‘Id yang telah diperintahkan Allah Ta’ala kepada kita untuk merayakannya serta bergembira di dalamnya, bahkan Allah sudah mengajarkan kepada kita, orang-orang Muslim, suatu doa dalam Surah Al-Fatihah yang kita baca di dalam shalat sehingga kita terhindar dari ‘Id semacam itu. ‘Id seorang mu’min ialah yang datang kembali, lagi dan lagi disertai kabar-kabar suka dari Allah Ta’ala, dan ‘Id itu datang dengan membawa tanda-tanda pengabulan doa. Maksudnya adalah, “Rezeki-rezeki duniawi akan menemui kepunahan, sedangkan rezeki-rezeki Kami tidak akan pernah habis-habisnya.” Jadi, barangsiapa dikaruniakan rezeki-rezeki ini maka ia adalah ahli waris nikmat-nikmat yang difirmankan pada ayat:

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا}

“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-[Nya], mereka itu akan termasuk orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, shiddiq- shiddiq, syuhada, dan orang-orang shaleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS An-Nisa, 4:70).

Pendek kata, ‘Id yang hakiki itu adalah ‘Id yang datang dengan disertai karunia-karunia dan nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang hanya dapat diperoleh melalui ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan ketaatan kepada Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikarenakan ketaatan inilah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiani ‘alaihis salaam pada masa ini telah diberikan nikmat-nikmat yang paling utama yang diserahkan berdasarkan ketaatan tersebut. Beliau itulah utusan yang dibangkitkan Allah Ta’ala sebagai Masih dan Imam Mahdi. Hakikatnya, beliau as memperoleh derajat kenabian melalui ketaatan kepada Nabi saw. Lalu, di sana pun ada derajat-derajat lain yang akan dicapai oleh orang-orang mu’min – dengan karunia Allah Ta’ala – masing-masing mendapatkannya sesuai dengan tingkat ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah pemberian nikmat-nikmat yang akan membedakan antara Muslim Ahmadi dan yang lainnya.

Pembicaraan saya ini tidak dimaksudkan hanya tentang orang-orang Nasrani saja, yang kesudahan ‘Id mereka lahir dalam bentuk mendapatkan peringatan dari Allah Ta’ala. Tetapi, saya juga menujukan kata-kata saya kepada orang-orang Muslim selain kita yang tidak beriman kepada Imam Zaman ini. Sebenarnya dengan penolakan mereka terhadap kemungkinan seseorang dari umat ini mendapatkan derajat kenabian sebagai buah dari ketaatan kepada Nabi saw, mereka sendiri telah mengunci (menutup) pintu-pintu untuk mendapatkan nikmat-nikmat yang selain derajat nabi. Yang saya maksudkan adalah derajat shiddiq, syahid dan shaleh. Tidak ada artinya ‘Id yang ada pada mereka yang memiliki kepercayaan [seperti itu], karena walau bagaimana pun mereka itu menegakkan ibadah-ibadah dan pengorbanan-pengorbanan secara lahiriah, tidak ada bagian bagi mereka untuk [mendapatkan] nikmat-nikmat itu.

Pada kenyataannya, jika ada orang yang merayakan ‘Id hakiki pada zaman ini, mereka itu adalah orang-orang Muslim Ahmadi. Karena iman mereka kepada Masih Mau’ud (Imam Mahdi) as, mereka dapat berharap dari Allah untuk memperoleh nikmat-nikmat itu, yang seorang mu’min bisa dapatkan dengan taat serta tunduk kepada Rasulullah saw. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Kita berdoa dalam shalat dengan membaca doa, اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ

‘Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.’ Maksud [doa] itu adalah kita memohon kepada Allah Ta’ala empat tanda (kategori) dalam bentuk empat kesempurnaan supaya iman kita meningkat dan untuk kebaikan semua manusia, yaitu: (1) kesempurnaan para nabi (kamaalul anbiya’), (2) kesempurnaan para shiddiq (kamaalush-shiddiiqiin), (3) kesempurnaan para syahid (kamaalusy-syuhadaa’) dan (4) kesempurnaan orang-orang saleh (kamaalush-shaalihiin)” – Itu artinya, kita menerima nikmat-nikmat ini karena meningkatnya iman kita dan karena beramal untuk kebaikan manusia. Adapun kesempurnaan yang khusus sehubungan dengan nabi adalah ia menerima ilmu gaib dari Allah Ta’ala, yang akan menjadi satu tanda bagi orang-orang yang lain.” – Maksudnya, Allah Ta’ala berkata-kata dengannya secara berkesinambungan tanpa putus dan menyatakan kabar-kabar gaib kepadanya.

Selanjutnya beliau as bersabda,

“Adapun kesempurnaan khas berkaitan dengan shiddiq ialah ia menjadi seorang mu’min yang diperkuat dengan khazanah-khazanah kebenaran (kejujuran) dalam bentuk yang sempurna, artinya ia mengenali beragam kebenaran yang tersembunyi di dalam kalam (firman) Allah Ta’ala, sebagai makrifat yang menjadi tanda keberadaannya yang luar biasa.”[2] Maksudnya, ia menjadi orang yang mengetahui ilmu-ilmu Al-Quran dan tahu beragam hakikat-hakikat Kitab Allah Ta’ala dan percaya kepada kabar-kabar gaib-Nya.[3]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Sesungguhnya shiddiq itu adalah orang yang tahu bermacam-macam kebenaran dan mengamalkannya sepenuhnya dari dalam lubuk hatinya.” — Jadi, seseorang itu tidak cukup hanya mendapatkan ilmunya saja, tetapi ia harus mengamalkannya serta memberikan faedah dengan ilmu-ilmu yang diperolehnya dengan mempelajari Quran Karim.

Selanjutnya bersabda,

“Sesuai dengan contoh itu, ia harus tahu hakikat makrifat-makrifat halus berikut: Apakah tauhid Allah Ta’ala itu? Apakah taat kepada Allah Ta’ala itu? Apa arti cinta kepada Tuhan Yang Maha Pencipta, Yang mulia nama-Nya? Bagaimana supaya terlepas dari syirik? Apakah hakikat penghambaan itu? Apakah hakikat dari ikhlas dan taubat? Apakah hakikat dari sabar, tawakkal, ridha, inmiha (hilang) dan fana, shidq dan wafa (kejujuran dan kesetiaan), tawadhu’ dan kedermawanan, munajat dan doa, maaf dan malu, amanah dan takwa serta akhlak-akhlak fadhilah (utama) yang lainnya, bahkan lebih dari itu ia harus menjadi orang yang memiliki semua sifat-sifat yang mulia ini.”[4]

Semua ini merupakan poin yang sangat penting. Maksudnya seseorang itu tidak cukup sebatas mengetahui secara keilmuan tentang semua akhlak ini serta ajaran-ajaran yang telah ia pelajari dan ia pahami, tetapi ia harus menjadi seseorang yang menerapkannya, mengamalkannya juga.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Sesungguhnya pencapaian seseorang diantara kalian dalam kesempurnaan الصدّيق shiddiq yaitu manakala ia memperhatikan kelemahannya dan kekurangan kekuatannya. Sembari melihat keadaannya dan keterbatasannya ia mengatakan: إياك نعبد (kepada Engkau kami menyembah) kemudian ia berkomitmen untuk jujur dan melepaskan diri dari dusta. Ia akan membenci segala macam najis dan kotornya dusta. Ia berjanji akan menjauhi perkataan dusta dan sekali-kali tidak akan memberikan kesaksian palsu.

Ia tidak akan mengatakan perkataan dusta yang ditimbulkan oleh luapan-luapan jiwa. Ia tidak akan mengatakannya [kedustaan] untuk perkataan yang remeh-temeh, tidak berdusta walau untuk mencari baiknya saja dan tidak pula untuk lepas dari kondisi yang buruk, artinya tidak akan pernah ia berlindung kepada dusta dalam keadaan apa pun. Maka, apabila ia tetap berkomitmen dengan janjinya dari segi [menjauhi] dusta ini, berarti secara istimewa ia telah beramal sesuai dengan Firman-Nya إياك نعبد – ‘hanya kepada Engkau kami menyembah’, dan amalan seperti ini termasuk sebagai ibadah yang mulia.”[5] Beginilah, definisi indah dari shiddiq, yaitu ketika seseorang melakukan segala sesuatu dan yang dilakukannya itu tergolong sebagai ibadah.

Kemudian, beliau as bersabda:

“Kesempurnaan الشهيد syahid ketika kemalangan, kesakitan dan kesengsaraan tetap menunjukkan kekuatan iman, kekuatan moral dan stabilitas, apa-apa yang dianggap sebagai tanda yang luar biasa. Pendeknya, apabila iman seseorang itu kuat, ia mendapatkan kekuatan untuk mengerjakan amal-amal saleh. Apabila tumbuhnya kekuatan iman ini menjadi sempurna maka seorang mu’min seperti ini akan menduduki martabat syahid… apabila ia berada pada keadaan ini, ia tidak akan pernah bimbang dan ragu dalam mengorbankan hidupnya.”[6] Itu artinya, ketika imannya sampai pada tingkat ini, ia akan siap sedia untuk mempersembahkan berbagai macam pengorbanan sampai-sampai berkorban jiwa juga.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Orang-orang yang الصالح shalih (saleh) yaitu mereka yang menyingkirkan segala macam kerusakan dari dalam diri mereka. Maka sebagaimana rasa pada mulut seseorang yang sehat akan sehat, demikian juga tidak akan tinggal pada orang-orang saleh segala aneka penyakit, tidak juga penyakit rohaniah serta tidak ada pada mereka itu segala macam kerusakan. Sesungguhnya kesempurnaan orang shaleh tersembunyi dalam pengorbanan dirinya untuk orang lain.” – itu artinya, untuk menjadi manusia yang “shalih”, kesadaran untuk mengadakan reformasi [perbaikan] harus tumbuh dari dalam dirinya, lalu ia bangkit dengan mereformasi jiwanya mencegah segala perbuatan buruk. Inilah kesempurnaan shallaah atau kesempurnaan orang shaleh.

Selanjutnya beliau as bersabda:

“Pada hakikatnya kesempurnaan insan yang saleh adalah menghindari segala macam kerusakan sehingga ia menjelma menjadi صلاح shalaah – “orang shaleh”, di mana saja, kesalehannya akan menjadi tanda (keistimewaan), dan itulah eksistensinya yang luar biasa.”

Sesungguhnya gambaran-gambaran yang dipetik dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud as ini menarik perhatian kita terhadap pentingnya bersyukur kepada Allah Ta’ala, ketika dengan perantaraan karunia-Nya yang khas, Dia memasukkan kita kedalam golongan orang yang diberikan nikmat atas mereka, yang beriman kepada Imam Zaman, dan mereka berusaha untuk memahami Quran Karim dengan pemahaman yang benar. Begitu pula sabda-sabda ini menarik perhatian kita kepada segala bentuk pertanggung-jawaban kita, yang setiap kita harus menunaikannya sebagai target (sasaran) sampai derajat-derajat tinggi yang disebutkan di atas.

 Boleh jadi bagi seseorang yang duduk di kamar yang gelap mengatakan, “Saya tidak dapat mengambil manfaat dari barang-barang bermanfaat yang ada di dalam kamar, sebab saya tidak bisa melihat dikarenakan gelap.” Adapun orang yang di kamarnya ada cahaya, kemudian kamar itu kaya dengan barang-barang yang bermanfaat, yang bisa memainkan peran yang besar dalam mereformasi kebutuhan-kebutuhan hidupnya juga, apabila ia tidak bisa mengambil faedah dari itu karena kemalasan dan kelengahannya, ia akan terhitung sebagai orang yang berdosa.

Kita telah melewati periode Ramadhan yang di dalamnya kita diberikan taufik untuk banyak beribadah, membaca dan mempelajari Al-Quran dan melakukan refleksi (perenungan diri) di dalamnya, masing-masing sesuai dengan kemampuannya. Kita juga telah melaksanakan pengorbanan-pengorbanan dan menghiasinya dengan moral yang baik. Sekiranya kita melestarikan setiap kebaikan ini dalam hidup kita sehari-hari, maka ini akan menjadi motivasi meraih ketaatan penuh kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya, serta menjadi faktor pendorong untuk mendekatkan diri kepada Allah dan rasul-Nya.

Inilah ‘Id hakiki itu, yang orang mu’min raih setelah mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan dan mengadakan perubahan-perubahan yang baik pada dirinya, dan tidak mungkin penderitaan-penderitaan yang hendak ditimpakan dari arah para penentang untuk menjauhkan kita dari ‘Id ini akan menimpa kita. Tatkala seorang mu’min memperoleh ‘Id hakiki, mustahil penderitaan-penderitaan duniawi akan jadi penghalangnya, sebagaimana kita lihat selanjutnya ada kabar-kabar suka dari Allah Ta’ala dan rasul-Nya karena ketaatan kita kepada Allah dan rasul-Nya.

Sesungguhnya mereka yang menetapi bulan puasa, Allah akan berikan balasan yang baik atas kebaikan-kebaikan mereka – yang mereka upayakan untuk memperbaiki dirinya. Allah adalah Yang Paling Penyayang diantara para penyayang, terhadap hamba-hamba-Nya, termasuk hamba-Nya yang hina juga, dan Dia akan melipatgandakan pahala mereka karena rahmat-Nya mengungguli segalanya. Allah Ta’ala berfirman mengenai janji-Nya untuk memberi ganjaran yang berlipat ganda:

{مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ}

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya [pahala] sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya [dirugikan].” [QS Al-An’aam, 6:161].

Inilah Tuhan kita yang senantiasa menurunkan karunia-karunia-Nya kepada para hamba-Nya setiap saat. Dia memberi ganjaran atas setiap kebaikan sepuluh kali lipat. Sebagai contoh, di bulan Ramadhan, Dia telah memberikan kita bagian pahala 300 hari puasa berbanding 30, sebagaimana terdapat pada hadits ini,

“Sekiranya seseorang berpuasa enam hari pada bulan Syawal juga, tentu Allah akan memberinya ganjaran puasanya setahun penuh.”[7]

Inilah Tuhan yang kita imani itu dan kita berpegang teguh pada dahan-dahan pohon-Nya. Dia Yang meminta pengorbanan dari seorang hamba, Dia ganjar pengorbanan itu tanpa perhitungan. Allah Ta’ala meminta dari kita pengorbanan puasa 30 hari, lalu Dia menerimanya dengan karunia-Nya dan memberikan balasan kepada kita berlipat-lipat ganda.

Kemudian Dia menjadikan bagi kita ’Id juga sebagai tanda atas pengabulan ini, dan memerintahkan kepada kita untuk makan-minum dan bergembira pada hari ini serta kita berterima kasih (bersyukur) kepada Allah Ta’ala. Lalu mengapakah syukur kepada Allah itu datang sebelum segalanya dimulai? [Mahasuci Allah dan Mahaluhur], syukur ini dengan shalat ‘Id, untuk mengingatkan manusia supaya bersyukur kepada Allah Ta’ala di sela-sela ibadah, karena Allah-lah yang menempatkan manusia dalam kesulitan secara lahiriah atau menuntut dari manusia pengorbanan, maka Dia yang akan mengaruniakan baginya setelah kesempitan ada kelapangan, dan Dia yang menurunkan nikmat-nikmat-Nya kepada manusia dan memberinya balasan yang berlipat lagi banyak atas pengorbanan-pengorbanannya.

 ‘Id itu pada kenyataannya merupakan pernyataan Tuhan secara terbuka berupa nikmat-Nya kepada kita, setelah kita mempersembahkan pengorbanan di bulan Ramadhan dan kita berhasil dalam menghadapi hal-hal yang dilarang bahkan dari hal-hal yang diperbolehkan. Inilah hal yang harus membuat pandangan kita mengarah kepada bahwa Allah Ta’ala selalu mengembalikan segala perbuatan kita dengan ganjaran yang tanpa perhitungan kepada kita, maka tidaklah mungkin pengorbanan — apapun jenisnya — yang kita persembahkan pada jalan agama Allah akan disia-siakan dan akan dibiarkan tanpa ganjaran. Pendeknya, selama kita menaati perintah Nabi saw dan beriman kepada pecinta sejatinya as maka Allah Ta’ala tidak akan pernah membiarkan dan menyia-nyiakan kebaikan ini juga tanpa pahala, terutama apabila kita berkorban pada jalan ini, baik dalam keadaan sempit maupun lapang, baik suka maupun duka.

Karenanya, setiap Muslim Ahmadi hendaknya selalu mengingat bahwa sebagaimana perbuatan apa pun pada jalan Allah Ta’ala tidak akan percuma tanpa balasan atau tanpa ganjaran, demikian pula pengorbanan-pengorbanan yang orang-orang Ahmadi persembahkan tidak akan pernah sia-sia, dengan izin Allah. Sesungguhnya firman Allah Ta’ala berikut ini:

فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ﴿﴾ اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ؕ﴿

﴾ “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS Al-Insyirah, 94:6-7),

memberikan ketenteraman kepada kita apabila kita tengah melewatkan hari ini di sela-sela kesempitan dan musibah, maka sesungguhnya kemudahan dan kelapangan dekat, dengan izin Allah, di samping itu hujan-hujan karunia Allah akan turun kepada kita tanpa batas. Inilah tafsir para ahli tafsir terdahulu atas ayat tersebut.

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra menerangkan, bahwa Allah Ta’ala menjadikan zona kesempitan menjadi sempit (terbatas), dimana menjadikannya sebagai ism ma’rifah dengan ال (al), sedangkan kata “يُسْرًاyusran memberikan faedah yang tidak terbatas pada kedua-dua tempatnya [baik pada ayat ke-6 maupun ayat ke-7], yang mana datang dengan bentuk ism nakirah.[8]

Pemberitahuan ini menjadikan iman kita kuat dan memberikan ketentraman kepada kita bahwa Allah Ta’ala akan memberikan nikmat kepada kita atas segala amal dan setiap musibah yang kita hadapi pada jalan-Nya, dan segala pengorbanan yang kita persembahkan karena-Nya, kesudahannya akan menjadi ‘Id bagi kita, bukan sebagai peringatan dan ancaman. Mereka yang mengingkari Imam Zaman meluputkan diri mereka dari ‘Id hakiki, ketika mereka tidak mendapatkan ‘Id, mereka mengingkari bahwa dengan kekuasaan Allah-lah terciptanya para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shaleh. Hakikatnya adalah, sebenarnya dengan melakukan penolakan terhadap nikmat-nikmat Allah ini, mereka telah mengingkari ‘Id hakiki juga.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Siapakah ‘mun’am ‘alaihim’ (mereka yang mendapatkan ni’mat-ni’mat karunia)? Dan bagaimana bisa mereka itu menjadi bagian dari mereka [yang mendapat nikmat]? Sesungguhnya shiddiq itu adalah orang yang memiliki keyakinan penuh terhadap kalam (firman) Allah, bukan orang yang ragu dan bingung berada pada lembah [pemahaman] “naasikh dan mansukh” [kepercayaan bahwa sebagian ayat-ayat Al-Quran bisa dibatalkan oleh ayat yang lain atau hadits nabi], atau pun dalam masalah wafat atau hidupnya Isa as, atau mereka yang masih bimbang tentang ayat وآخرين منهم (dan kaum yang lain di antara mereka) sembari menanyakan ‘Siapakah mereka ini? Bagaimana mungkin Mirza Ghulam Ahmad memproklamirkan dirinya adalah Masih dan Mahdi? ‘

Mereka yang mempersembahkan persembahan nazar-nazar di atas kuburan-kuburan gurunya, syeikhnya serta membagi-bagikan makanan, mereka tidak tahu apa itu shidq (kejujuran) dan haq (kebenaran). Pada saat rasa malu dan sifat amanah tersembunyi, di manakah adanya kejujuran dan kebenaran? Apabila dusta, kezaliman, permusuhan muncul dengan merajalela maka bagaimana di sana akan ada shiddiq? Sesungguhnya mereka yang memperbolehkan dusta untuk kebaikan — sampai-sampai menuliskan itu di dalam tafsir-tafsir mereka — bagaimana mungkin untuk mereka ada jalinan dengan ke-shiddiq-an? Mereka yang menganjurkan orang lain pada beragam kezaliman, bilakah bagi mereka akan beroleh kedekatan dengan Allah Ta’ala? Mereka yang menyaksikan pembunuhan orang-orang yang teraniaya serta tidak bersalah sebagai perbuatan yang akan diberikan ganjaran, bagaimana bisa iman mereka menjadi kuat? Atas dasar apa mereka ini mendakwakan iman kepada Nabi saw?”

Sungguh! Hadhrat Sayyidina wa Maulana, Muhammad Mushthafa saw telah memberitahukan pada Hijjatul Wida (Haji terakhir), bahwa mencemarkan nama baik orang lain itu dan juga melakukan intervensi terhadap harta benda dan jiwa mereka adalah haram. Tetapi para mullah fanatik melakukan penentangan kepada kita. Mereka bangkit dengan tindakan-tindakan mereka yang tercela mengatasnamakan Allah Ta’ala dan mengatasnamakan Nabi Agung saw, kemudian mereka mendeklarasikan bahwa mereka itu adalah khuddam khatmun nubuwwah (sebagai para pelayan Nabi saw)!

Mereka menganjurkan orang lain untuk melakukan pengorbanan diri tetapi tiap kali mereka sendiri mendengar kata pengorbanan jiwa, semangat mereka sirna. Sesungguhnya mereka dijangkiti oleh segala penyakit rohaniah. Mereka setiap saat melakukan kerusakan. Mereka ini bukan shiddiqiin. Tidak pula termasuk syuhada serta tidak bisa masuk kelompok shaalihiin. Adapun kenabian sudah terlebih dahulu mereka ingkari. Demikianlah, selain itu, mereka telah menutup semua pintu-pintu nikmat Allah. Hari ini, tidak ada seorang pun akan menjadi pewaris nikmat-nikmat ini selain para khadim shadiq (pelayan sejati) dari Hadhrat Masih Mau’ud as, mereka yang akan menjadi ahli waris nikmat-nikmat itu melalui peningkatan standar keimanan mereka serta mereka akan merayakan melalui ‘Id hakiki. Hal itu yang seyogianya setiap Muslim Ahmadi senantiasa berusaha untuk meraihnya.

Saat ini kita menghadapi rintangan, ancaman jiwa kita akan binasa, orang-orang yang dikasihi akan dibunuh, orang-orang yang kita cintai akan disyahidkan oleh karena kita mempercayai bahwa pintu-pintu nikmat-nikmat dan berkat Allah tidak akan terkunci, kita meyakini limpahan-limpahan [karunia] Sayyidina Mushthafa saw tetap berkesinambungan, dimungkinkan pada kalangan para pengikut Nabi saw berhasil meraih maqam nubuwwah (kenabian).

Maka, biarkanlah pihak-pihak yang memusuhi ada di tempat mereka sedangkan kita tetap menjalankan apa yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita. Allah Ta’ala telah beritahukan pada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa kemudahan itu akan datang setelah kesulitan, dan pertolongan-pertolongan itu adalah dekat adanya, orang-orang yang ingkar akan menemui kehinaan dan kemalangan, segala tipu daya tidak akan pernah dapat merintangi lajunya “جَرِيّ الله” ‘Jariyyullah’ – utusan Allah. Allah Ta’ala memberikan wahyu dalam bahasa Arab kepada Hadhrat Masih Mau’ud as: بَعْدَ العُسْرِ يُسْرٌ – ‘Ba’dal ‘usri yusrun’ – “Setelah kesempitan ada kemudahan.” Dan sesungguhnya, kemudahan ini merupakan ketetapan untuk Jemaat Masih Mau’ud as dengan izin Allah Ta’ala, dan tentu akan datang kepada kita dan akan kita peroleh sesuai dengan janji Allah Ta’ala. Kemudahan ini bukan hal biasa, melainkan merupakan kabar gembira untuk kemenangan yang nyata. Karena itu, tidak ada alasan untuk gelisah atau kacau pikiran yang disebabkan oleh penderitaan-penderitaan dan kesusahan-kesusahan sekarang ini.

Pada hakikatnya, rangkaian pengorbanan orang-orang Muslim Ahmadi itu dimulai ketika Hadhrat Sahibzada Abdul Latief Syahid dan Maulvi Abdur Rahman mengorbankan hidupnya. Pada saat itu juga pihak-pihak yang memusuhi menyangka mereka akan mengeksekusi dengan cara ini juga terhadap Jamaah Islam Ahmadiyah, atau mereka akan menghalang-halangi orang dari Ahmadiyah, tetapi Jemaat sama sekali tidak melupakan contoh-contoh terbaik yang telah menampilkan syuhada ini dan keteguhan yang dimanifestasikan kepada orang-orang setelah mereka, bahkan sebenarnya untaian kesyahidan itu berjalan secara berkesinambungan hingga zaman kita ini.

Manisnya kesyahidan yang dipersembahkan oleh para putra-putra Jemaat nyata dari waktu ke waktu, sekarang dan nanti. Banyak dari antara mereka telah disyahidkan ketika sedang melaksanakan shalat pada Ramadhan dua tahun lalu. Dua orang pemuda dan satu orang lagi, seorang tua meraih derajat syahid di Ramadhan tahun ini juga. Para penentang menyangka dengan cara ini mereka dapat mematahkan semangat kita dan menggagalkan kita, dan mampukah serangan-serangan ini akan mendatangkan kerugian kepada suatu kaum, mereka yang senantiasa siap sedia untuk mengorbankan hidupnya pada jalan Allah? Sekali-kali tidak! Sekali-kali tidak! Musuh telah membangun front untuk melawan kita pada bulan Ramadhan, akan tetapi kenyataannya tindakan-tindakan mereka ini telah membantu kita meraih berkat-berkat Ramadhan lebih banyak lagi dibandingkan dengan sebelumnya.

Tindakan-tindakan mereka ini tidak sebatas pembunuhan para Ahmadi yang tidak bersalah saja, bahkan kalangan pemerintahan — akibat tekanan para mullah yang fanatik — dengan keras memenjarakan para Ahmadi dengan dalih-dalih (alasan) lemah yang tidak masuk di akal, sebagai ganti daripada diserang oleh para pembunuh. Mereka menuduh kita telah mencoreng kehormatan Nabi saw, sesuatu yang tidak mungkin sedikit pun terbesit dalam benak seorang Muslim Ahmadi. Malahan kita beriman kepada Masih dan Mahdi itu, yang telah mengajarkan kepada kita, bahwa kita akan mendermakan jiwa kita bahkan menjadikan diri sebagai lorong-lorong jalan sempit untuk keluarga Muhammad saw. Perihal mana beliau as menyampaikan satu bait syair [dalam bahasa Persia]:

 جان و دلم فدائے جمال محمدؐ است

خاکم نثار کوچۂ آل محمدؐ است

“Segenap jiwa dan hatiku kukorbankan untuk keindahan Muhammad saw, Sesungguhnya setiap debu partikel dari diriku kukorbankan demi menjadi lorong-lorong jalan bagi keluarga Muhammad saw.”[9]

Sungguh! Tuduhan keji dan zalim ini sangat menyesakkan kita dan lebih menyakiti kita dibandingkan gangguan yang lainnya. Maka, “Wahai musuh yang berfitrat buruk dan yang batinnya kotor, kembalikanlah akal sehat kalian sebentar saja. Sesungguhnya Allah, Sang Pemberi keputusan, akan hadir pada setiap tindak-tanduk kalian yang memalukan serta sikap permusuhan kalian terhadap kami. Manakala batu penggiling Allah itu berputar, ia akan menggiling dan menumbuk segalanya.”

Adapun kami benar-benar senantiasa mendapatkan kabar suka dan selalu akan mendapatkan kabar suka setiap saat: “Sebagaimana pengorbanan-pengorbanan kalian pada bulan Ramadhan, itu telah menjadi ‘Id bagi kalian, demikian pula pengorbanan-pengorbanan ini pun akan berkembang dan memberikan buahnya.” Dan sebagaimana kita telah menunaikan puasa Ramadhan dengan mengendalikan diri kita pada jalan Allah Ta’ala. dan mencari ridha-Nya, demikian juga orang-orang Muslim Ahmadi akan keluar dengan kedamaian dan dengan langkah yang kokoh keluar dari penentangan hebat dan dari siksaan luar biasa yang ditimpakan kepada mereka.

Namun saya ingin mendudukkan kata-kata saya di sini untuk para Ahmadi juga, sepatutnya kita tidak boleh lupa, sebagaimana kita juga telah mencapai standar tinggi dalam melaksanakan shalat fardhu dan nafal — termasuk segi pengorbanan yang sifatnya sementara waktu dalam Ramadhan — demikian juga kita seharusnya mencurahkan segenap kemampuan untuk mencapai standar tinggi pada jalan pengorbanan-pengorbanan sesuai standar Jemaat, dan semestinya mendawamkannya supaya karunia-karunia Allah itu turun secara berkesimbungan.

 Kita harus senantiasa memikirkan bahwa kemajuan Ahmadiyah sebagai Islam sejati akan segera terwujud sesuai janji Allah Ta’ala tanpa sedikit pun ada keraguan. Tetapi, kita harus melihat seberapa besar peran serta kita dalam hal itu, supaya kita dapat merayakan ‘Id hakiki yang merupakan syarat untuk kemajuan Ahmadiyah sebagai Islam sejati.

 Oleh karena itu, apabila kita menginginkan mendapatkan kemenangan dengan segera dengan perantaraan ‘Id hakiki tersebut, maka penting sekali bagi kita meningkatkan standar ibadah-ibadah kita secara terus-menerus, dengan berpatokan kepada persembahan pengorbanan-pengorbanan yang lain, dan untuk sampai kepada derajat shiddiq, syahid dan saleh, di sana perlu melaksanakan semua hal yang berkaitan dengan hak-hak Allah (huququllah) dan hak-hak hamba (huququl ‘ibad), dan manakala kita selalu berusaha untuk memperindah dengan semua akhlak yang telah disebutkan oleh Masih Mau’ud as ketika beliau memperkenalkan kepada kita mengenai shiddiq, syahid dan saleh — sehubungan terjalinnya hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatnya standar-standar ibadah — maka sesungguhnya segala tipu-daya musuh yang menurutnya diusahakan untuk mengeksekusi kita, tidak akan pernah sedikit pun memberikan pengaruh kepada kita, bahkan akan berbalik kepadanya dan akan mengeksekusinya juga.

Sesungguhnya para musuh bergembira dengan syahidnya dua anggota Jemaat Islam Ahmadiyah yang aktif, sebagaimana nampak dari tulisan-tulisan mereka. Saya telah memakai kata الإشتهاد (isytihaad — meraih kesyahidan), sedangkan musuh-musuh kita mengatakan mereka berdua itu dibunuh — tetapi dalam hal ini mereka benar-benar keliru. Maka sebenarnya kita bergembira, karena kita akan mendapatkan kabar-kabar suka yang lebih besar daripada pengorbanan-pengorbanan kita. Karena itu, seyogianya kita berusaha sekuat tenaga untuk menerima kabar-kabar gembira ini yang tanda-tanda lahirnya sudah nampak, dengan izin Allah. Maka waspadalah kita dari terluputnya memperoleh kebaikan-kebaikan karena adanya kelemahan kita. Sesungguhnya kita yakin bahwa para pemilik fitrah baik dan sehat, semuanya akan berkumpul dengan izin Allah Ta’ala di bawah panji sang pecinta sejati Nabi Saw sebagaimana janji Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Ketika kegelapan meliputi dunia dan menyebar ke segala penjuru, maka sesungguhnya kegelapan itu sendiri sudah barang tentu membutuhkan turunnya cahaya dari langit, dan pada kesempatan tersebut Allah Ta’ala menurunkan para malaikat-Nya yang cemerlang dan Ruhul qudus turun ke bumi sesuai dengan karakter para malaikat. Maka, Ruhul qudus akan menjadi penghubungnya dengan sang Reformer (Imam Zaman) itu, yang mendapatkan kemuliaan terpilih dan terseleksi, serta akan menjadi mamur (pengemban amanat) untuk menyampaikan seruan kepada kebenaran. Para malaikat akan menumbuh-kembangkan jalinan (hubungan) mereka dengan semua orang yang bernasib baik, orang–orang yang memberikan bimbingan dan orang-orang yang siap sedia” – artinya bagi para malaikat itu ada interaksi dengan orang-orang saleh – “Mereka akan menariknya kepada kebaikan dan memberikan taufik kepada mereka untuk kebaikan-kebaikan. Pada sisinya jalan-jalan keselamatan dan kebahagiaan menjadi jelas kepada dunia. Demikianlah perkara itu berkesinambungan sehingga agama itu mencapai puncak kesempurnaannya yang telah ditakdirkan untuknya.

Terbukanya hakikat ini bukan terletak pada kemampuan (potensi) setiap individu (perorangan). Sesungguhnya pandangan pemuja dunia yang tersaputi kabut tidak akan mampu untuk melihat nur ini, malahan hakikat-hakikat agama pada pandangan mereka merupakan bahan untuk melancarkan perolok-olokan, mereka menganggap makrifat-makrifat Ilahi itu sebagai kebodohan, ketololan dan bahan tertawaan.”

Jadi, apabila orang-orang yang menganggap dirinya ulama itu tidak mampu untuk melihat nur ini, maka tidak ada bagian mereka untuk melihat nur itu, adapun orang-orang yang bernasib baik fitrahnya maka mereka akan diberikan tahap demi tahap. Dan apabila jalan-jalan keselamatan dan kebahagiaan nyata adanya pada hari ini, maka hanyalah akan sempurna dengan perantaraan orang-orang yang beriman kepada Masih Muhammadi, yang merupakan Imam Zaman. Dan apabila risalah Sayyidina Muhammmad Mushthafa Saw pada hari ini sampai ke ujung-ujung dunia, maka itu hanya akan sempurna pada tangan para khadim Masih Muhammadi.

Bagaimana pun kerja kerasnya upaya para musuh untuk merintangi laju ini, maka mereka tidak akan pernah berhasil dalam hal itu, karena ini merupakan takdir Allah Ta’ala. dan sudah tentu akan tergenapi. Sungguh! Pada hari ini penglihatan mereka tidak dapat melihat hakikat ini, akan tetapi bilamana saatnya fajar itu terbit, orang-orang yang tidak dapat melihat ini akan mengerti bahwa apa yang disabdakan Imam Zaman adalah hak dan benar.

Pada saatnya, sekecil apa pun eksistensi semua syuhada yang mengorbankan hidupnya dan menumpahkan darahnya pada jalan Ahmadiyah, akan mengumumkan sembari berkata kepada musuh: “Lihatlah, hai orang yang bernasib malang, apakah darahku akan sia-sia?” Pada saatnya anak-anak setiap syuhada dan keluarga tercintanya akan mengumumkan kegembiraaan dan kebahagiaan sembari mengatakan: “Perhatikanlah, sesungguhnya bapak-bapak kami, suami-suami, isteri-isteri, kakek, saudara-saudara lelaki dan saudara-saudara perempuan kami, yang telah mempersembahkan pengorbanannya, mereka akan tampil pada fajar ini mendapatkan banyak nur dan sinar dari Tuhan, Pemilik Kekuatan.”

Hari ini kita menyaksikan ‘Id hakiki itu yang karenanya berbagai suku dan bangsa mempersembahkan pengorbanan-pengorbanannya, dan dengan terbitnya fajar ini kita dapat memperhatikan sempurnanya apa-apa yang Allah Ta’ala janjikan kepada Masih Mau’ud as dengan segala keindahan dan kemegahan.” — Janji itu adalah ilham dalam bahasa Arab

– “عيد آخر، تنال منه فتحا عظيما” ‘al-‘Iidul aakhar tanaalu minhu fathan ‘azhiima

‘Id yang lain, yang akan engkau raih adalah kemenangan yang besar”.

Pada hari itu setiap Muslim Ahmadi, setiap anggota Jamaat Masih Muhammadi as — baik tua maupun muda, laki-laki, perempuan akan meneriakkan yel-yel: ‘Mubarak! So Mubarak’ – “Berkat! Seratus berkat!” Sesungguhnya, keberhasilan meraih ‘Id ini adalah tujuan utama dalam hidup setiap Muslim Ahmadi.

 Inilah ‘Id yang karenanya kita seyogianya senantiasa tunduk bersimpuh pada pintu-pintu gerbang Tuhan kita Yang Mahakuasa, Pemilik Kekuatan yang luar biasa, Yang Maha Mendengar doa-doa. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan kita taufik untuk itu sehingga kita bisa menyaksikan kemenangan Ahmadiyah sebagai Islam sejati di seluruh dunia. Amin tsumma amin.

Inilah [khotbah ‘Id yang saya sampaikan], dan saya akan mengucapkan selamat hari raya kepada semua yang hadir di depan saya dan kepada setiap Ahmadi yang mendengarkan saya melalui layar MTA. Semoga Allah mengaruniakan ‘Id kepada Saudara-saudara sekalian dengan kebahagiaan dan keberkatan-keberkatan. Sesungguhnya ini merupakan ‘Id pertama pada abad kedua Khilafah Islam Ahmadiyah — [1908-2008]. Semoga Allah Ta’ala menjadikannya sebagai faktor pendorong untuk ribuan berkat bagi kita, dan memungkinkan kita bisa menyaksikan ‘Id hakiki tersebut yang menjadi tujuan utama dalam hidup kita.

Sekarang, kita akan berdoa bersama-sama. Berdoalah, terutama untuk kemenangan dan kejayaan Islam dengan segera. Berdoalah kepada Allah Ta’ala., semoga Dia menjaga dan melindungi anggota Jemaat dari segala kejahatan, karena sesungguhnya saat ini musuh tengah berupaya dengan mengerahkan segenap kekuatannya untuk mendatangkan berbagai kerugian kepada Ahmadiyah, dan beberapa negara-negara Islam mensupport dan memberikan subsidi.

Sesungguhnya penentangan terhadap Ahmadiyah tidak hanya terbatas di Pakistan saja, bahkan Ahmadiyah saat ini sedang menghadapi penentangan di setiap penjuru dunia; di mana saja kita dicegah untuk melangkah maju dan berkembang, hal itu membuat musuh tidak bisa tidur nyenyak, karena akalnya sudah lepas kontrol. Dari antara yang menjadikan iman kita bertambah kuat lagi adalah bahwasannya kemenangan pada akhirnya adalah milik kita, kitalah orang-orang yang berusaha untuk memberikan pertolongan pada akhirnya nanti dengan izin Allah. Akan tetapi itu tidak akan sempurna tanpa disertai dengan doa. Hadhrat Masih Mau’ud as diberikan senjata doa secara eksklusif.

Berdoalah untuk syuhada Ahmadiyah, semoga Allah memberikan kemuliaan dan karamah atas segala kesyahidan, dengan mendapatkan qurb-Nya dan diangkat derajatnya, semoga Dia memberikan jaminan kepada para isteri, putra-putri, ibu, orang-orang yang mereka kasihi serta orang-orang yang menjadi bagian keluarga mereka, menjaga dan melindungi mereka dari segala kejahatan, sehingga kesyahidan ini akan senantiasa menjadi sesuatu yang dibanggakan bagi mereka semua. Semoga Allah Ta’ala mengilhami mereka dengan kesabaran dan ketabahan yang indah dan senantiasa meningkatkan semangat dan gairah mereka. Sesungguhnya perpisahan mereka yang disyahid dengan keluarga mereka terjadi pada bulan Ramadhan belum lama ini, maka kita berdoa kepada Allah Ta’ala semoga membalut luka mereka dan meningkatkan kesabaran dan ketabahan untuk senantiasa menjadi orang-orang yang menerima ridha Allah.

Kemudian berdoalah untuk kebebasan mereka yang dipenjara di jalan Allah, semoga Allah Ta’ala mengakhiri hari-hari pemenjaraan mereka dan mereka dapat merayakan ‘Id dengan bebas. Doakanlah mereka yang menazarkan hidupnya untuk mengkhidmati Ahmadiyah, Islam Hakiki. Semoga juga Allah memberikan taufik kepada anak-anak yang masuk dalam Program Waqf-e-Nou untuk memenuhi tuntutan-tuntutan wakaf dan dapat memenuhi janjinya secara baik dan sempurna.

Doakanlah saudara-saudara yang tergabung dalam lembaga Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid, supaya mereka dapat menunaikan kewajiban mereka sebagaimana janji mereka. Semoga Allah memberikan berkah pada harta dan jiwa mereka, keberkatan-keberkatan tanpa putus dan tanpa henti. Kemudian doakanlah untuk mereka semua yang mengkhidmati Jemaat di berbagai bidang dan yang secara khusus ditempatkan bekerja sebagai relawan MTA yang mencurahkan segenap kemampuannya dalam menyampaikan dakwah Masih Mau’ud as ke seluruh dunia. Doakanlah untuk semua dai ilallah, semoga kerja keras mereka, dengan karunia Allah, akan membuahkan hasil dan Allah Ta’ala melimpahi mereka semua dengan karunia-Nya yang sempurna.

Berdoalah kepada Allah untuk penduduk Qadian, semoga mereka diberikan taufik untuk menjalankan hak tinggal di kota Hadhrat Masih Mau’ud as. Berdoalah kepada Allah untuk orang-orang Rabwah, semoga kejayaan dan kegembiraan dapat kembali kepada mereka dengan segera, dan kepada mereka Allah memberikan kelapangan dari segala kesusahan, mewujudkan keinginan mereka untuk tinggal bermukim di negeri ini.

Demikian juga, doakanlah untuk para Ahmadi yang menempati seluruh kota dan desa di Pakistan, semoga Allah memelihara mereka, karena di sana Jemaat menghadapi penentangan yang sangat keras dan hidup di tengah-tengah penindasan dan permusuhan. Tetapi dengan karunia Allah Ta’ala, para Ahmadi di sana menghadapi masa-masa sulit dengan gagah berani serta kekuatan jiwa. Kita memohon kepada Allah Ta’ala semoga Dia menguatkan iman mereka semakin bertambah dan bertambah lagi, dengan demikian seorang pun dari mereka selamanya tidak akan pernah tersandung. Amin.[10]

Kemudian beliau menyampaikan Khotbah ke-2 seperti biasa, dan setelahnya memimpin doa bersama.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud a.s. terhadap Firman Allah Ta’ala:

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا} “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan rasul maka mereka termasuk orang-orang yang kepada mereka Allah memberi nikmat yaitu nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syuhada, dan orang-orang shaleh.” Surah an-Nisa, 4:70

[3] Ash-shiddiiq – [الصِدِّيْقُ : الذي يُصَدِّقُ قَوْلَهُ بِالْعَمَلِ] — [1]. yang membuktikan ucapannya dengan perbuatannya; [الصِدِّيْقُ : الصَدُوْقُ , المُسْتَقِيْمُ ] — [2]. Yang benar, lurus. [الصِدِّيْقُ : البارُّ الدائِمُ التَّصْدِيْقُ] — [3]. yang berbakti serta selalu mempercayai; [الصِدِّيْقُ : لَقَبُ أَبِيْ بَكْرٍ] — [4]. Nama sebutan untuk Sayyidina Abu Bakar r.a. [Sumber : Kamus Bahasa Arab – Indonesia, Kamus Al-Munawwir & Kamus Kontemporer (al-’ashriy ) — Penerj.

[4] Tiryaqul Qulub; Ruhani Khazain Jilid 15 h.420

[5] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud a.s. atas Surah an-Nisa, 4:70

[6] Idem. (sama dengan diatas)

[7] Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasaa-i dan Ibnu Majah.

 عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ رواه مسلم وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه

Dari Abu Ayyub al Anshari Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun.”

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا رواه ابن ماجه والنسائي ولفظه

Dari Tsauban, pembantu Rasulullah saw, dari Rasulullah saw, beliau saw bersabda : “Barangsiapa yang melakukan puasa enam hari setelah hari raya ‘Idul Fithri, maka, itu menjadi penyempurna puasa satu tahun. [Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya – QS al An’am/6 ayat 160-]”.

[8] Kata al-‘usri (kesukaran, kesempitan) dalam ayat diatas didahului kata al (bentuk ism ma’rifah atau tertentu, jadi kesukaran yang itu, bukan semua kesukaran). Hal ini berbeda dengan yusran (kemudahan, bentuk ism nakirah, lebih luas cakupannya).

[9] Durre Tsamin bahasa Persia, halaman 89

میری جان اور دل حضرت محمد مصطفی صلی اللہ علیہ وسلم کے جمال پر فدا ہے اور میری خاک آل محمد صلی اللہ علیہ وسلم کے کوچہ پر نثار ہے۔

“إن قلبي وروحي فداء لجمال محمد ، وإن ترابي فداءٌ لأزقة آل محمد”

[10] Diambil dari Khotbah Iedul Fitri Hadhrat Khalifatul Masih al-khaamis ayyadahullah, Majalah At-Taqwa Edisi September 2009 dan Website Alislam.org al-arabiyyah http://islamahmadiyya.net/pdf/p18_27_sep09.pdf.