KHOTBAH IDUL FITRI 2017

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz)

pada 26 Juni 2017/ Syawal 1438 Hijriyah Qamariyah

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (Britania Raya)

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ … فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

Hari ini adalah Hari Id yang mana merupakan hari berbahagia dan bergembira. Kita merayakan kegembiraan ini berdasarkan perintah Allah. Sebab, Allah Ta’ala telah menetapkan Hari Id ini bagi kita supaya dirayakan dengan segala sukacita sehubungan dengan memandang tuntutan-tuntutan fitrah manusiawi yang mana telah menempatkan suatu keinginan untuk merayakan kegembiraan-kegembiraan itu bersama-sama dengan karib-kerabat dan teman-teman setiap kali diberikan kesempatan untuk itu. Kita melihat para pemeluk agama-agama dan kaum-kaum yang lain di dunia, juga telah menetapkan hari-hari untuk merayakan kegembiraan-kegembiraan sesuai dengan fitrah insaniah tersebut. Namun, hari-hari bahagia kaum-kaum ini menghilangkan corak ijtimā (pertemuan bersama) sebagaimana yang telah Islam perintahkan hal mana hari bahagia Id Islam itu memiliki keistimewaan dengan menambahkan Khotbah Id dan juga Shalat Id di dalamnya. Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam telah memberitahukan pada kita bahwa manusia itu seyogianya berkumpul bersama di Hari Id ini untuk mendengarkan perintah-perintah Allah dan untuk beribadah kepada-Nya disamping juga merayakan kegembiraan-kegembiraan Id.

Seyogianya keteladanan pengamalan dua tanggung jawab yang Allah Ta’ala tetapkan terhadap manusia tampak dari amal perbuatannya. Apa kedua tanggung jawab itu? Yang pertama : adalah menunaikan hak-hak Allah [huqūqullāh] dan yang lainnya : adalah menunaikan hak-hak hamba [huqūqul-ibād].

Guna menjalankan hak-hak Allah Ta’ala, kita akan mengarahkan perhatian pada ibadah, di hari-hari biasa kita menunaikan shalat lima waktu; adapun di Hari Id yang merupakan hari kita merayakan kegembiraan-kegembiraan, kita harus melaksanakan enam shalat. Mungkin saja bagi orang-orang duniawi akan mengatakan yang dituntut dari orang-orang Muslim di hari ini adalah diharuskan menjalankan shalat-shalat itu dan mereka telah ditarik perhatiannya ke arah ibadah-ibadah bukannya menikmati kegembiraan, berpesta pora dan berleha-leha.

Tetapi seorang beriman akan memahami betul bahwa kebahagian sejati itu tersembunyi di balik ibadah-ibadahnya kepada Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya karena Dia telah mengaruniai kita kesempatan ini untuk menunaikan hak-hak beribadah kepada-Nya dan hak-hak makhluk-Nya; di samping itu kita merayakan kegembiraan kita bersama-sama dengan kerabat dan teman-teman kita.

Di hari ini telah ditetapkan (diwajibkan) pada kita enam shalat, bukan lima dan selanjutnya kita akan membaca Surah Al-Fātihah lebih banyak lagi daripada hari-hari biasa ketika kita mesti membaca Surah Al-Fātihah di setiap rakaat shalat. Ketika kita membaca الحمد لله رب العالمين [alhamdu lillāhi rabbul-ālamiĪn] di dalam Surah Al-Fātihah dan kita bersyukur pada Allah Ta’ala serta dengan cara demikian kita tengah memuji dan menyanjung-Nya. Berarti kita tengah membaca Surah Al-Fātihah dan membaca [alhamdu lillāhi rabbul-ālamiĪn] di dalamnya, kita tengah bersyukur pada Allah Ta’ala yang di dalam Fardhu dan shalat-shalat Sunnah di hari-hari biasa itu sebanyak 32 kali (17 rakaat shalat fardhu lima waktu + 15 rakaat shalat sunnah, rawatib + witr) adapun pada hari Id kita akan membaca الحمد لله رب العالمين [alhamdu lillāhi rabbul-ālamiĪn] sebanyak 34 kali dan kita pun tengah bersyukur pada Allah Ta’ala. Adapun mereka yang mengamalkan shalat-shalat nafal, mereka membacanya lebih banyak lagi dari pada 34 kali. [contoh shalat Tahajjud, Dhuha, isyraq dst])

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Di dalam kata [alhamdu lillāhi] terdapat pengajaran bagi orang-orang Muslim yaitu apabila mereka ditanya dan dikatakan kepada mereka, ‘Siapa Tuhan kalian?’, seorang Muslim itu harus menjawabnya, ‘Tuhanku adalah Dia yang seluruh puja-puji adalah kepunyaan-Nya, tidak ada satu jenis kesempurnaan dan kekuasaan pun melainkan Dia Pemilik sejatinya.’” – maksudnya, segala macam kesempurnaan dan kekuasaan, Allah Ta’ala saja pemilik sejatinya.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan makna-makna الحمد لله ‘alhamdulillāh’ yang terdapat di dalam Surah Al-Fātihah, beliau bersabda,

“Makna الحمد لله [alhamdu lillāh] adalah segala puji dan sanjungan seluruhnya dialamatkan pada Dia Yang bernama ‘Allah’. Sungguh sudah dimulai dengan kalimat الحمد لله [alhamdu lillāhi] dikarenakan tujuan yang dikehendaki adalah menjadi hamba-hamba Allah dengan kesadaran jiwa dan tarikan alami.” (Ibadah itu tidak terbatas hanya menjalankan ritual-ritual lahiriah semata melainkan ibadah itu dijalankan dengan kesadaran jiwa dan seyogianya timbul ketertarikan dalam fitrah manusia ke arah ibadah.)

Beliau (as) bersabda,

“Tidak mungkin tercipta tarikan yang memancar dengan keasyikan dan kecintaan terhadap seseorang melainkan apabila terbukti ia merupakan himpunan kesempurnaan-kesempurnaan yang komprehensif dan ia sesuatu yang dengan perantaraannya secara otomatis kalbu tersebut menyanjungnya.” [Jika seseorang merenungkan, pujian hakiki itu tidak akan bergerak dari kalbu manusia melainkan hanya untuk Dzat Allah Ta’ala, karena Dia merupakan rangkuman seluruh keistimewaan-keistimewaan dan sifat-sifat-Nya. )

Beliau bersabda,

“…dan ketahuilah al-hamd – pujian yang sempurna itu sesuai dengan dua keistimewaan, yaitu kamālul-husn [kesempurnaan kejuitaan/kebagusan] dan kamālul-ihsān [kesempurnaan kebajikan].” (tiadalah mungkin pujian seseorang itu melainkan apabila berhiaskan dua keistimewaan ini, salah satunya adalah kejuitaan dan keelokannya; yang kedua adalah ihsān-nya atau perlakuan baiknya. Dikarenakan kedua keistimewaan inilah manusia menyanjung seseorang dan berterima kasih padanya. Beliau (as) bersabda,) “Dan apabila pada diri seseorang berpadu kedua keistimewaan ini, kalbu akan berkorban dengan sendirinya (secara spontan). Secara lebih gamblang Al-Qur’an bermaksud memunculkan dua bahasan tentang kebenaran kedua keistimewaan Allah Ta’ala tersebut supaya menarik manusia kepada Zat Yang tidak ada tara bandingan-Nya, tidak ada tara-Nya dan supaya mereka menyembah-Nya disertai kesadaran jiwa.”

Al-Qur’an bertujuan supaya mengarahkan perhatian manusia kepada Allah Ta’ala dengan kesadaran jiwa dan tarikan tersebut dengan karunia keistimewaan husn dan ihsān-Nya. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Dikarenakan Allah merupakan kumpulan semua sifat yang sempurna, perkara yang akan muncul adalah keelokan dan kejuitaan-Nya, dan tatkala sifat-sifat yang sempurna itu berpadu di dalamnya, Dia telah menunjukkan itu pada pantulan kejuitaan-Nya secara jelas. Sehubungan dengan ihsan (kebaikan), manusia adalah yang lebih banyak meraih manfaat ihsan Allah Ta’ala dan hal itu karena manusia memperoleh faedah dari semua makhluk Allah Ta’ala.

Di antara kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala terhadap manusia adalah Dia menciptakan setiap makhluk untuk kemanfaatan manusia sehingga manusia menyerap manfaat dari segi mana saja ia mau dan kapan pun dia mau. Selama manusia lebih banyak mengambil faedah dengan sifat-sifat Allah Ta’ala yang tampak dalam corak husn (kejuitaan) dan meraih manfaat dari ihsān (perlakuan baik) yang terdapat contohnya di setiap makhluk Allah Ta’ala, tidak ayal lagi, kebaikan Allah Ta’ala terhadap manusia adalah manusia mampu mendapatkan faedah dari setiap makhluk ciptaan Allah Ta’ala di berbagai waktu yang dia mau. Oleh karenanya, betapa sepantasnya kita bersyukur pada Allah Ta’ala karena kita memperoleh manfaat yang sangat banyak dari sifat-sifat-Nya yang tampak dalam corak husn dan meraih faedah dengan ihsān-Nya yang tampak dalam bentuk memberikan faedah segala sesuatunya.

Kita harus melaksanakan hak ubudiyah-Nya (penghambaan terhadap Allah) dari kedalaman hati kita sebagaimana dalam hal ini menuntut dari kita supaya kita menjadi hamba-hamba sejati Allah Ta’ala yang mengamalkan perintah-perintah-Nya. Dengan kedudukan kita sebagai Muslim kita harus lebih banyak lagi dibandingkan orang-orang biasa dalam hal memuji Allah Ta’ala dan bersyukur kepada-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala mewajibkan pada kita sebagai orang-orang Muslim untuk menunaikan hak-hak-Nya dan seiring dengan itu juga menunaikan hak-hak hamba-hamba-Nya. Tidak diragukan lagi, dalam kerangka bersyukur kepada Allah Ta’ala – atas husn dan ihsan-Nya yang terus Dia nyatakan untuk hamba-hamba-Nya – semestinya kita memperlakukan makhluk-Nya dengan husn dan ihsan tersebut sesuai kemampuan kita dan standar kita, dan sekiranya kita mengerjakan itu, maka Dia akan memberikan kemudahan pada kita memahami secara tepat untuk ucapan kita, الحمد لله رب العالمين  [alhamdu lillāhi rabbul-ālamiĪn]. Selanjutnya kita akan mengekspresikan secara amal perbuatan kita, maka kita akan menjalankan hak makhluk-makhluk Allah di samping menunaikan hak beribadah pada Allah Ta’ala.

Sesungguhnya baiknya perlakuan terhadap saudara-saudara, menyebarkan pesan kasih sayang dan damai di suatu tempat, menjalani kehidupan di dalam masyarakat dengan kecintaan dan harmoni, menunaikan hak-hak orang lain, itulah apa yang menarik manusia memperolah kebahagiaan-kebahagiaan Id hakiki. Oleh karena itulah dalam segi ini kita harus mengupayakan ungkapan kebahagiaan-kebahagiaan juga, maka seharusnya kebahagiaan-kebahagiaan itu tidak hanya sebatas diri kita, malahan kita harus membagi-baginya dengan masyarakat juga pada berbagai level.

Dalam hal ini banyak sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan kekhususan-kekhususan ini. Sekarang saya akan menyampaikannya pada kalian dan itu tampak jelas bagi kita, bagaimana kita mencapai tangga naik husn dan ihsān sesuai kadar kecakapan dan kemampuan masing-masing. Setiap kita harus mengerahkan kecakapan dan kemampuannya di jalan-jalan ini, karena sebenarnya kita hanya akan meraih kebahagiaan-kebahagiaan Id hakiki apabila kita berupaya untuk mencapai standar-standar ini.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Maksud dari hasanah (kebaikan) adalah terciptanya hubungan baik antara seseorang dengan Allah Ta’ala dan kecintaan Allah Ta’ala akan beredar pada setiap zarah wujudnya; sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰInnallaaha ya’muru bil ‘adli wal- ihsaani wa iitaa-i dzil qurbaa.’ – ‘Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat ihsaan (kebajikan), memberi [seperti kepada] kepada kerabat.’ (An-Nahl, 91).

adil terhadap Allah Ta’ala adalah kalian menaati-Nya dengan mengingat karunia-karunia-Nya, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun dan kalian mengenal Dia…” (maksudnya, kalian benar-benar mengenal kekuasaan-Nya dan kedudukan-Nya).

“Dan apabila kalian ingin melakukan lebih atas hal itu, maka dalam hal ini tingkatannya ihsaan (di sini Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan apa yang dimaksud berlaku ihsaan terhadap Allah Ta’ala, lalu bersabda,) “Ketahuilah dan itu adalah keyakinanmu terhadap Allah Ta’ala seolah-olah engkauh tengah melihat-Nya.” (maksudnya engkau yakin terhadap Zat Allah Ta’ala yang mana engkau membayangkan-Nya setiap saat engkau tengah melihat Allah Ta’ala) “..dan engkau berbuat baik terhadap mereka yang tidak berbuat baik kepadamu. Dan apabila engkau melakukan perbuatan lebih, maka terdapat tingkatan dari hasanah yang lebih tinggi dari itu. Ketahuilah! Itu adalah engkau mencintai Allah dengan kecintaan alami, tidak menginginkan adanya surga dan tidak takut akan neraka.” (maksudnya, dia yang mencapai tingkatan ini harus berbuat ihsan pada orang-orang yang yang tidak berbuat baik kepadanya dan memperlakukan mereka dengan perlakuan seperti terhadap kerabat. Adapun makna perlakuan terhadap Allah Ta’ala seperti halnya perlakuan terhadap kerabat adalah seseorang mencintai Allah Ta’ala dengan kecintaan alami. Padahal sudah semestinya Allah dicintai karena kebaikan-kebaikan dan karunia-karunia-Nya yang banyak, tidak terbilang dan tidak terhitung. Seseorang mencintai Allah bukan karena berhasrat ingin berada pada surga dan takut akan neraka.)

“..bahkan, sekiranya ditetapkan dalam hal ini tidak ada surga atau neraka, semestinya pula tidak melemah semangat kecintaan dan ketaatan Anda kepada-Nya. Apabila kecintaan pada Allah Ta’ala semacam ini diraih, padanya timbul tarikan dan di sana tidak terdapat ketidak-semangatan.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda :

“Perlakukanlah makhluk Allah seakan-akan pada hakikatnya mereka adalah kerabat kalian. Tingkatan ini adalah tingkatan tertinggi dari semua tingkatan. Karena dapat ada penyakit riya (pamer) mencampuri dalam tingkatan ihsan, manakala seseorang itu telah menyembunyikan kebaikan tersebut, ia tidak mendesaknya mengatakan padanya: Saya telah melakukan kebaikan ini dan itu kepadamu.

Akan tetapi cinta seorang ibu terhadap anaknya tidak dicampuri oleh cela riya (pamer) sama sekali. (artinya cinta ibu terhadap anaknya tidak ada riya dan juga ketamakan di dalamnya), bahkan jika ada seorang raja memerintahkan sang ibu untuk membunuh anaknya yang berakibat kematian sang anak dan ia tidak akan dihukum atas hal itu; namun apakah ibu tersebut akan senang mendengar perintah tersebut dan mengikutinya? Tentu tidak! Bahkan, ia akan mencela terhadap sang raja.

Sampai-sampai sekiranya ia tahu bahwa ia akan mati sebelum anaknya mencapai pemuda, maka sesungguhnya ia sama sekali tidak akan kosong dalam memeliharanya dikarenakan kecintaan alaminya terhadap anaknya.

Di banyak kesempatan, para bapak memberikan rezeki kepada anak-anak di usia dewasa mereka dan dalam hal ini tidak ada keinginan mereka bahwa anak-anak mereka memberikan manfaat pada mereka, tapi seiring dengan itu, mereka (para bapak) tetap saja akan menyayangi mereka dan menarbiyati mereka. Dan itu adalah perkara yang alami. Maka kecintaan yang mencapai tingkatan ini merupakan isyarat firman Allah Ta’ala, وإيتاء ذي القربى Wa ītāi dzil-qurbā maksudnya kalian akan mencintai Allah dengan kecintaan jenis ini yang di dalamnya tidak terdapat keinginan nan tamak untuk berada dalam tahap-tahap ketinggian derajat dan tidak takut dari kehinaan.

Sungguh Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menarik perhatian dalam petikan yang sangat indah dan berbobot ini hingga kita mencapai puncak dalam menunaikan kedua jenis kewajiban. Beliau menjelaskan pada kita apa tujuan menunaikan hak Allah dan menyatakan kecintaan pada-Nya. Beliau (as) telah menunjukkan pada kita pengenalan secara tulus murni terhadap Allah Ta’ala dan dengan jalan syukur kepada-Nya sebagaimana telah beliau beritahu kita apakah mikraj (tingkatan naik) dalam indahnya memperlakukan hamba-hamba Allah. Ini adalah prinsip yang memungkinkan dapat memberikan jaminan kebahagiaan hakiki dan kedamaian sejati bagi dunia.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) menambahkan penjelasan dari sudut yang lain mengenai penunaian hak-hak makhluk dan ta‘alluq billāh (menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala). Ketahuilah! Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah memberikan topik yang sama di berbagai sabda tapi sebagian kata-katanya menyiratkan cahaya atas berbagai segi lainnya untuk topik tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda :

“Apa yang Allah Ta’ala kehendaki dari kalian? Sesungguhnya Dia menghendaki kalian memperlakukan orang-orang dengan adil; dan di atas itu, berlaku ihsan kepada orang yang berbuat ihsan pada kalian; dan di atas itu; kalian bersikap kasih sayang kepada makhluk Allah seakan-akan mereka itu kerabat mereka sendiri seperti halnya ibu-ibu mereka memperlakukan anak-anaknya.”

Di sini Hadhrat Masih Mau’ud (as) menerangkan tangga tingkatan kebaikan-kebaikan itu dan puncak kebaikan-kebaikannya dan itu adalah kalian berbuat ihsan kepada orang yang tidak berbuat baik pada kalian. Ini juga merupakan suatu keistimewaan di antara keistimewaan-keistimewaan seorang mukmin. Maka barangsiapa berbuat mal makruf kepadamu tentu biasanya engkau akan berbuat hal yang makruf kepadanya, akan tetapi berlaku ihsan terhadap orang yang tidsak berbuat ihsan kepadamy itulah kebaikan hakiki.

Sabda beliau as lagi:

“Kalian harus bersikap simpati (kasih sayang) terhadap makhluk Allah seakan-akan kalian adalah kerabat mereka sendiri seperti halnya para ibu memperlakukan anak-anak mereka.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menerangkan di sini,

“Engkau harus berlaku adil tidak hanya kepada orang yang berbuat ihsan (baik) kepadamu semata bahkan engkau pun harus berbuat ihsan kepadanya, bahkan engkau akan memberikan perlakuan kepadanya sebagaimana para ibu memperlakukan anak-anak mereka.”

Sebab di dalam berbuat ihsan (kebajikan) tersebut tersembunyi suatu unsur menonjolkan diri (riya, pamer). Sedangkan orang yang berbuat ihsan adakalanya memamerkan juga kebajikannya. Akan tetapi orang yang karena dorongan thabi’i (alami) – bagai seorang ibu berbuat bajik – ia sekali-kali tidak dapat menonjolkan diri. Jadi, derajat kebajikan yang puncak itu adalah dorongan thabi’i (alami), yakni bagai seorang ibu

Ayat tersebut bukan hanya berkenaan dengan sesama makhluk (ciptaan) saja, bahkan bertalian dengan Tuhan. Berbuat adil terhadap Tuhan ialah dengan mengingat nikmat-nikmat-Nya, memperlihatkan kepatuhan terhadap-Nya. Berbuat ihsan (kebajikan) terhadap Tuhan ialah mempunyai keyakinan terhadap Dzat-Nya demikian rupa, sehingga seakan-akan menyaksikan Dia.

Berbuat iitaai-dzil-qurba (memberi kepada kaum kerabat) ialah, beribadah kepada-Nya bukan karena ketamakan akan surga, dan bukan pula karena takut akan neraka, melainkan meskipun seandainya tidak ada surga dan neraka, tidak timbul perubahan di dalam semangat kecintaan dan ketaatan [kepada Tuhan].”[1]

Perhatikanlah! Orang-orang mengatakan terlebih dalam perkara yang sederhana sekali pun bahwa sesungguhnya Allah tidak mendengar doa mereka, maka mereka mengemukakan kesulitan demikian; dan masalah demikian terjadi pada mereka lalu mulai mengeluh pada Allah dan tidak mengingat kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala.

Adapun Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Kalian harus mencintai Allah Ta’ala dengan gejolak alamiah sembari mengingat-ingat karunia-karunia dan nikmat-nikmat-Nya.”

Inilah standar-standar yang harus kita pelihara dan pada saat itulah kita akan kebahagiaan hakiki. Allah Ta’ala telah mengaruniakan banyak karunia kepada kita dan kita tengah menikmati anugerah-anugerah sehari-hari dari-Nya yang tiada terhingga. Akan tetapi banyak orang tidak bersyukur kepada Allah atas hal itu dengan cara segera mengucapkan Alhamdu-lillāh atau dengan kalimat syukur lainnya di samping menaati-Nya dengan mengingat akan karunia-karunia-Nya. Adapun pada saat berbahagia, maka pada akhirnya mereka melupakan-Nya akan apa-apa yang Allah Ta’ala kehendaki dari kita.

Pada hakikatnya, bukanlah merupakan kekuasaan manusia untuk berbuat ihsaan pada Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menerangkan pada kita makna berbuat ihsan pada Allah Ta’ala yaitu memperkukuh hubungan kalian dengan Allah Ta’ala dengan mengingat karunia-karunia-Nya dan seolah-olah kalian itu tengah melihat Dia, maka inilah tanda seorang beriman sejati secara definisi (batasan).

Kita memohon pada Allah Ta’ala semoga memberikan taufik pada kita untuk menciptakan kondisi ini pada kita dan meneguhkan kita untuk beribadah kepada-Nya dengan memelihara diri dari keburukan akhlak; dan tanpa punya maksud apa pun, dengan dorongan kecintaan yang tulus kepada-Nya sembari menempatkan dalam pemikiran terhadap husn dan ihsan Allah Ta’ala; bukan dengan dorongan bersyukur kepada-Nya semata.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengutarakan mengenai bahasan tersebut lebih banyak lagi. Akan saya bacakan pada kalian lebih banyak lagi kutipan sabda beliau demi lebih memperjelaskan topik tersebut, maka di dalam satu tempat beliau bersabda,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh kalian berlaku adil kepada-Nya dan kepada makhluk-Nya. Itu artinya, menunaikan hak Allah (pelaksanaan kewajiban kepada Allah) dan dan hak hamba-hamba-Nya (pelaksanaan kewajiban kepada sesama hamba Allah). Andai kalian mampu melakukan lebih banyak dari itu, janganlah membatasi hanya berbuat adil semata bahkan berbuat ihsanlah dan lakukanlah ibadah-ibadah fardhu lebih banyak lagi dan beribadahlah kepada Allah dengan ketulusan seakan-akan kalian tengah melihat Dia.” (Sesungguhnya ibadah-ibadah fardhu yang telah ditetapkan Allah Ta’ala adalah shalat lima waktu sedangkan shalat Id dan shalat Jum’ah itu wajib. Adapun berbuat ihsan yaitu bahwa seseorang itu akan memperhatikan ibadah-ibadah nafal dan juga zikir)

“…serta memperlakukan orang-orang dengan lebih baik melebihi hak mereka.” (artinya perlakukanlah orang-orang dengan cinta kasih, kelemah-kelembutan dan belas kasih melebihi yang menjadi hak mereka.) “Andai kalian mampu, berbuat lebihlah dari itu, maka sembahlah Allah secara tulus tanpa disertai keinginan dan tujuan; dan khidmatilah makhluk Allah sebagaimana salah seorang di antara kalian mengkhidmati dengan rasa kekerabatan.”[2]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda menerangkan ajaran Al-Qur’an mengenai bersikap simpati kepada orang-orang dan berlaku ihsan pada mereka,

“Berbuat adillah kalian kepada manusia secara global (umum), janganlah kalian membebani (ikut campur urusan) mereka melebihi hak kalian terhadap mereka dan berpegang teguhlah pada keadilan.” (Jangan mempraktikan jenis pelanggaran apa pun terhadap mereka, bisa saja kalian meminta atau mengambil hak kalian atas mereka dan kalian jangan meminta tambahan hak yang lalu membuat kalian merampas hak-hak mereka, dengan demikian hal itu akan meniadakan tuntutan keadilan. Karena itulah kalian harus berpegang teguh pada dahan-dahan dan rumpun-rumpun keadilan dan jangan mengharapkan lebih daripada hak kalian atas mereka. Harap diperhatikan bahwa sebagian orang di dalam pelaksanaan-pelaksanaannya mereka berupaya mengambil yang bukan haknya].

Adapun apabila kalian mempersembahkan yang lebih dari tingkatan ini juga, maka dalam hal ini terdapat derajat ihsan setelah adil; yaitu engkau berbuat ihsan pada saudaramu yang telah berlaku buruk padamu (pertama-tama beliau bersabda : sesungguhnya dia yang tidak berbuat ihsan padamu, engkau harus berbuat baik padanya, lalu beliau (as) bersabda : engkau harus berbuat ihsan kepada orang yang berlaku buruk padamu dan dia telah berupaya menempatkanmu pada kerugian) “…dan engkau memberikan kenyamanan bukannya gangguan dan kesakian yang dia timpakan padamu (maksudnya persiapkanlah kebahagiaan bagi orang yang menyakitimu) dan engkau raihlah tangannya dengan menolong dan berbuat ihsan padanya.

Kemudian terdapat tingkatan ītāi dzil-qurbā; yaitu manakala engkau berbuat ihsan pada saudaramu dan kepada orang-orang, harusnya tidak disertai dengan niat menyebut-nyebut kebaikan pada mereka malahan seyogianya timbul secara alami, dalam pemikiran tidak ada timbul tuntutan seperti meminta pada si penerima agar memberikan balasan, bahkan seyogianya timbul darimu suatu model ihsan (kebaikan) seorang kerabat pada kerabatnya sebagai buah kesadaran hasil dari hubungan dekat yang kuat.

Ini merupakan puncak kesempurnaan kemajuan akhlak; [maksudnya puncak kesempurnaan kemajuan akhlak itu adalah mereka akan memelihara kebaikan dengan cara ini. Inilah yang Allah Ta’al perintahkan pada kita mengenainya secara terbatas].

Ketahuilah! Insan itu memiliki kepentingan pribadi atau tuntutan dan tujuan pribadi di dalam memberikan bantuan kepada sesama makhluk, tapi seyogianya tumbuh kesadaran persaudaraan dan kekerabatan insaniah pada tingkatan tinggi yang mana dari kita akan muncul kebaikan pada manusia dengan sendirinya dengan kesadaran alami tanpa sedikit pun rasa keberatan, tanpa diiming-imingi balasan ucapan terima kasih, doa atau balasan jenis apa pun dari orang yang menerima kebaikan tersebut.”[3]

(Maksudnya seharusnya kebaikan itu muncul tanpa adanya macam-macam keberatan (keterpaksaan) dan tanpa adanya harapan atau hasrat di balik itu, yaitu bila ia berbuat ihsan pada seseorang, maka orang itu akan berterima kasih dan mendoakannya. Apabila kebaikan terlahir tanpa berbagai harapan maka itu adalah kebaikan sejati yang timbul dari kesadaran alami.

Berkali-kali Hadhrat Masih Mau’ud a.s menasihatkan di banyak tempat mengenai muwaasah (hamdardi, bersikap simpatik) kepada sesama makhluk dan berlaku tulus pada mereka, malahan di suatu tempat beliau bersabda,

“Sebagian orang tengah menjalankan kewajiban-kewajiban kepada Allah dengan mengerjakan shalat, berpuasa dan mereka tampaknya sebagai hamba-hamba yang saleh. Namun, secara khusus dalam hal menunaikan hak-hak makhluk, pandangan mereka berubah-ubah.” (maksudnya standar-standar mereka untuk kebaikan itu berubah-ubah), dan ini kenyataannya.

Sebagian orang menuliskannya juga di dalam surat-surat kepada saya (Hudhur atba) mengenai perilaku orang-orang. Tidak ini saja, bahkan para wanita juga menulis di berbagai kesempatan mengenai suami-suaminya, demikian juga sebagian anak-anak menuliskan tentang bapak-bapaknya; suami-suami mereka dan bapak-bapak mereka rajin pergi ke masjid dan melakukan pengkhidmatan-pengkhidmatan juga untuk Jemaat, namun perilaku mereka di dalam rumah sangat tidak sesuai, malah ketika anak-anak tersebut melihat demikian, mereka akan mendapatkan pengaruh negatif sampai ke tingkat mereka menjauh dari agama dan dari keaktifan Jemaat.

Jika seseorang diantara kaum bapak mengadukan istri-istri dan anak-anaknya, maka mungkin saja baginya dapat memahami mereka secara tenang dan kecintaan bukannya dengan sikap keras. Bukan maksudnya membatasi atau mengurangi menunaikan hak-hak sesama hamba dengan memberikan pertolongan kepada orang lain dan mengkhidmati mereka yang di luar rumah di hadapan orang-orang; melainkan yang pertama dan paling utama adalah menunaikan hak-hak orang-orang di dalam rumah.

Apabila seseorang memperlakukan orang-orang lain seperti perlakuan terhadap kerabat (keluarga) dan memperlakukan kerabat (keluarga) seperti perlakuan pada orang lain, maka hal ini tidak boleh sama sekali. Karena Allah Ta’ala yang mana telah menyebutkan tertib (urutan) berperilaku baik dimulai dari kerabat, oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran,

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (النساء:37)

Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” [QS Al-Nisā’ : 37].

Di dalam ayat ini terdapat tertib [urutan berlaku baik] yang seyogianya kita pelihara. Setelah kedua orang tua, orang terdekat pada seseorang adalah istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya baik laki-laki maupun perempuan kemudian membantu makhluk Allah Ta’ala. Dalam hal ini juga bermacam-macam. Ada para tetangga. Diantara tetangga itu ada yang masih kerabat dan yang bukan kerabat bahkan terdapat pula tetangga-tetangga yang merentang panjang hingga tingkat yang telah beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as) terangkan pada suatu tempat bahwa silsilah tetangga-tetangga kalian itu terbentang hingga 40 buah rumah bahkan hingga seratus rumah.

Kemudian dia yang duduk beserta kalian di pertemuan-pertemuan kalian, di masjid dan pada waktu shalat Jumat, mereka semua termasuk ke dalam kategori tetangga. Mereka yang melakukan perjalanan bersama-sama dengan kalian mereka pun menjadi tetangga kalian dan kalian harus berlaku baik terhadap mereka. Kemudian kalian harus berlaku baik terhadap yag dimiliki oleh tangan kanan kalian dan membantunya.

Harus diingat bahwa Allah Ta’ala menjelaskan dalam tertib urutan ini mengenai hak-hak mereka semua, tidak Dia firmankan, kalian tunaikan hak-hak sebagian mereka dan jangan tunaikan hak-hak yang lainnya, justru Allah Ta’ala menetapkan hak-hak semuanya, oleh karena itu tidak sepantasnya seseorang merampas hak yang lainnya.

Beliau (as) bersabda, “Kalian harus beribadah kepada Allah Ta’ala dan tidak akan menyekutukan-Nya dengan seorang pun”,

Hadhrat Masih Mau’ud as sehubungan dengan menjelaskan berbuat baik terhadap kedua orang tua dan kerabat, bersabda,

“Kalimat ini meliputi anak-anak, saudara-saudara dan kerabat baik yang dekat maupun yang jauh semuanya.” (dalam hal ini termasuk ahli bait atau penghuni rumah, anak-anak, saudara-saudara, kerabat-kerabat dekat dan kerabat-kerabat jauh, lalu sabdanya), “Berlaku-baiklah terhadap anak-anak yatim, orang-orang miskin juga … tetangga yang dekat dan teman yang dekat … dan berbuat baik juga terhadap tetangga yang masih merupakan kerabat dan mereka yang sedikit memiliki hubungan agak jauh. Demikianlah terhadap teman-teman, harus berlaku baik terhadap teman-teman sewaktu perjalanan atau shalat atau di tempat-tempat menempuh studi agama, dan terhadap ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan) dan semua binatang yang kalian pelihara.” (dalam hal ini beliau (as) menerangkan semua binatang, kalian harus berlaku baik kepada semua).[4]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) memberikan penjelasan tambahan di tempat yang lain, sabdanya,

“Berbuat baiklah terhadap ibu-bapak kamu, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang sesanak saudara, tetangga yang bukan kerabat, orang-orang yang ada dalam perjalanan (musafir), pembantu rumah-tangga, sahaya, kuda, kambing, kerbau, lembu, dan binatang-binatang lainnya yang kamu kuasai, sebab Tuhan –yang adalah Tuhan kamu– menyukai perbuatan-perbuatan itu. Dia tidak menyukai orang-orang yang tidak peduli dan mementingkan diri sendiri.”[5]

Dan Dia tidak menginginkan orang-orang bakhil (kikir) serta yang mengajarkan kebakhilan (kekikiran) kepada orang-orang, dan yang menyembunyikan hartanya sendiri. Yakni mereka berkata kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan bahwa mereka tidak mempunyai sesuatu.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menambahkan perihal memiliki rasa simpati dan melakukan hal ma’ruf (baik) kepada binatang juga dan beliau (as) menerangkan dengan menyebutkan juga nama-namanya [nama-nama binatang seperti di sabda tersebut tadi]. Maka dari itu, bila terhadap binatang saja kita diperintahkan melakukan belas kasih, maka betapa kita seharusnya memperhatikan rumah, istri, anak-anak dan yang lainnya sesuai kedudukan mereka. Allah Ta’ala berfirman bahwa mereka yang tidak menunaikan kewajiban-kewajiban ini berarti termasuk orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Lalu mereka akan menjadi orang-orang yang kafir (ingkar, tidak tahu berterima kasih) yang tidak bersyukur kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala memberikan mereka istri-istri dan anak-anak dan jika mereka tidak berlaku baik terhadap mereka ini berarti mereka tidak bersyukur terhadap Allah Ta’ala.

Di suatu Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai hak-hak sesama,

“Ketahuilah! Di dalam Syariat itu terdapat dua haq (kewajiban). HuqūquLlāh (pelaksanaan kewajiban kepada Allah) dan huqūqul-ibād (pelaksanaan kewajiban kepada sesama makhluk Allah). Ketahuilah! Menjalankan kewajiban-kewajiban kepada Allah itu hal yang mudah. Tidak ada seseorang yang bernasib malang karena Allah Ta’ala tidak meminta makan dan tidak membutuhkan sesuatu (maksudnya sesungguhnya Allah tidak meminta suatu hajat dari kalian). Sesungguhnya Dia menghendaki dari kalian beriman kepada-Nya Yang Maha Esa, tidak memiliki sekutu dan beriman kepada sifat-sifat-Nya yang kamil dan beriman kepada rasul-rasul-Nya dan mengikuti mereka.

Adapun dalam bidang memenuhi hak-hak sesama, seseorang itu akan menghadapi kesulitan-kesulitan ketika hawa nafsunya memperdayainya (menipunya)… karena itu ia harus berkomitmen akan menetapinya [hak-hak hamba]. Dan menjaganya sebatas memungkinkan sehingga seseorang itu tidak akan dianggap merusak hak-hak orang lain.”[6]

Inilah kewajiban seorang beriman untuk menunaikan hak-hak hamba Allah secara sempurna juga terutama hak-hak mereka yang Allah Ta’ala telah tetapkan tanggung jawab mengenainya. Tidak hanya hak-hak secara materi (yang bersifat lahiriah) semata, bahkan merupakan perlu juga menunaikan hak-hak yang bersifat ungkapan sikap dan perasaan simpatik.

Sebagian orang mengatakan, “Sesungguhnya kami menyediakan dengan baik keperluan-keperluan lahiriah penghuni rumah kami namun seiring itu mereka tidak bersyukur (tidak menghargai atau berterima kasih).”

Tidak diragukan lagi, para istri itu harus berterima kasih terhadap suami-suami mereka dan anak-anak harus berterima kasih kepada bapak-bapak mereka jika mereka menyediakan dengan baik kebutuhan-kebutuhan lahiriah mereka; tetapi pada saat bersamaan; kaum bapak juga harus menaruh perhatian pada perasaan simpatik mereka dan menunaikan kewajiban mereka dari sisi ini juga serta memperbaiki suluk (perlakuan, tingkah laku) mereka juga. Sebab, seorang manusia itu bukanlah seekor hewan yang sekiranya perhatian terhadap makan dan minumnya telah menjadi sempurna, berarti telah memenuhi haknya. Bahkan, seorang manusia itu memerlukan perlakuan baik dari segi ungkapan-ungkapan rasa simpatik dan empati juga. Semestinya menjaga perkara ini juga.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) menasihatkan bahwa penunaian kedua jenis kewajiban-kewajiban ini diperlukan untuk menyempurnakan iman. Sabdanya :

“Sesungguhnya agama itu terdiri dari dua bagian. Mencintai Allah dan mencintai sesama manusia hingga tingkat seseorang menganggap penderitaan mereka dihitung sebagai penderitaannya dan mendoakan mereka.”

Kalau demikian, tertib yang ada di sini untuk mengekspresikan kecintaan terhadap manusia sesuai dengan tingkat kedekatannya, lalu secara umum akan datang tingkat mencintai terhadap semua manusia, maksudnya seseorang akan mencintai mereka hingga ke jenjang sampai-sampai ia akan menganggap penderitaan mereka sebagai penderitaannya. Pada kenyataannya, hakikat slogan atau motto yang kita teriakan yaitu, “Love For All Hatred For None” (الحب للجميع ولا كراهية لأحد) itu akan membuat seseorang meningkat kepedulian dan kecintaan terhadap sesama sehingga mereka akan menganggap penderitaan sesamanya sebagai penderitaannya.

Apabila dalam hal ini seibarat lingkup dalam ikatan-ikatan kekerabatan, maka apakah mungkin menyatakan kecintaan terhadap mereka? Kalau demikian, setiap orang harus menaruh perhatian terhadap penunaian hak-hak itu terlebih sehubungan dengan kesempatan Id. Dan di mana saja, di sana terdapat kekeruhan atau kekerasan di dalam hubungan-hubungan kerabat di dalam rumah-rumah kalian atau dalam lingkup yang mencakupi kalian atau di antara orang-orang secara keseluruhan; ia harus menghilangkannya dan mengarahkannya terhadap kelemah-lembutan dan kekerabatan (kekeluargaan).

Sesungguhnya sifat-sifat Allah Ta’ala itu banyak dan semuanya sempurna. Allah Ta’ala telah memerintahkan kita supaya menjadi orang-orang yang menampilkan sifat-sifat-Nya dan mengamalkannya dengan segala kemampuan kita. Setiap kita akan mempersembahkan teladan terbaik dan terindahnya dalam hal husn (kebagusan) dan ihsan (kebajikan) sepanjang memungkinkan sehingga kebahagiaan Id tidak sebatas berada pada diri kita dan tidak berada pada udara yang meliputi kita saja, bahkan diri kita harus membawa keluar dari tempat ini dan meliputi seluruh masyarakat supaya setiap orang akan menjadi orang-orang yang menunaikan hak-hak orang lain.

Ketahuilah! Menunaikan hak-hak itu adalah suatu keharusan untuk menjaga persatuan Jemaat juga, karena hal itu di satu sisi akan mengantarkan pada kebahagiaan hakiki dan di sisi yang lain akan menghantarkan kemajuan Jemaat.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda sembari menasihatkan pada kita mengenai hal ini,

“Harus menjadi suatu dustuur (kebiasaan, peraturan) untuk menolong saudara yang lemah dan menguatkannya. Tidaklah sesuai jika ada dua bersaudara, yang satu dapat berenang, yang satunya lagi tidak mampu, lantas tidakkah yang bisa berenang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan yang tidak bisa renang dari ketenggelaman atau malah menenggelamkannya? Tidak! Bahkan, kewajibannya untuk menyelamatkannya dari ketenggelaman.

Dalam hal itu di dalam Quran Syarif difirmankan, وتعاونوا على البر والتقوى Ta’aawanuu alal birri wat taqwa yakni saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Pikullah beban saudara yang lemah. Kuatkanlah mereka dalam hal amal perbuatan, keimanan dan harta.”

Sebagaimana perlu juga mengobati jasmani mereka. Suatu Jemaat itu tidak dianggap suatu Jemaat selama orang-orang yang kuat belum menopang saudara-saudara mereka yang lemah. Satu cara untuk itu ialah dengan menutupi kelemahan mereka.

Inilah yang diajarkan juga oleh para sahabat Nabi saw, yaitu tidak bersikap kesal melihat kelemahan orang-orang yang baru menjadi Muslim karena sebelum ini pun kalian lemah juga. Begitu juga penting bagi orang besar (berkedudukan) untuk mengkhidmati yang kecil (orang biasa) dan memperlakukannya dengan kecintaan dan kelembutan.

Ingatlah! Sebuah Jemaat tidak bisa disebut Jemaat jika orang-orang di dalamnya saling memakan satu terhadap yang lain. Jika empat orang duduk bersama lantas menggunjing kelemahan saudara yang lemah, mulai menceritakan keburukannya, menghinanya dan memandang sebelah mata dan dengan penuh kebencian kepada orang yang lemah dan miskin. Hal ini tidak boleh terjadi melainkan seharusnya ia melaksanakan pertemuan tersebut guna menggalang kekuatan dan persatuan yang kedua-duanya merupakan faktor pendorong kecintaan dan keberkatan-keberkatan.

Maka mengapakah kita tidak melapangkan jangkauan kekuatan akhlak? Ini akan bisa diperoleh jika rasa simpatik, kasih sayang, sikap memaafkan dan kelembutan diterapkan…” (maksudnya kalian jadikanlah pertolongan dan kecintaan kalian, maaf dan pengampunan kalian serta kesejahteraan kalian meliputi semua itu) “…dan selalu mengutamakan sikap kasih sayang, simpati, menutupi kelemahan dari segala kebiasaan lainnya.”[7]

Saya (Hudhur) katakan, tidak boleh bagi setiap orang menyebarkan aib orang lain di antara orang-orang setelah hal itu diketahui. Adapun apabila dalam hal ini terdapat aib atau keburukan sebatas tersiar di dalam suatu Jemaat dan nyaris menjadi keburukan yang bersifat umum, maka semestinya mereka memberitahukannya kepada para pengurus tanpa harus menyebutkannya di setiap tempat.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) melanjutkan dan bersabda,

“Seharusnya tidak melancarkan serangan perkataan terhadap orang-orang atas perkara-perkara yang remeh-temeh dan sepele karena ini akan membawa pada melukai dan menyakiti perasaan-perasaan. Sesungguhnya Jemaat itu akan merupakan suatu Jemaat apabila sebagian di antaranya memberikan pertolongan pada yang lainnya dan menutupi aib satu sama lain. Manakala demikian, para anggota Jemaat akan menjadi seperti satu tubuh, dan satu sama lain akan merasakan keterlukaan masing-masing; dan akan menganggap orang yang sangat disayanginya termasuk orang yang tengah dirundung kemalangan.

Allah Ta’ala telah mengingatkan para Sahabat Nabi Muhammad (saw) juga dengan nikmat dan persaudaraan ini. Sekiranya mereka membelanjakan gunung emas sekalipun, mereka tetap tidak bisa meraih persaudaraan yang telah mereka peroleh dengan perantaraan Nabi Muhammad (saw); dan sama halnya Allah Ta’ala telah mendirikan Jemaat ini, pasti Dia akan meneguhkan persaudaran tersebut di dalam Jemaat ini.”

Saya katakan, kita harus sungguh-sungguh berupaya untuk menyebarkan kecintaan, harmoni, persaudaraan, menjalankan kewajiban-kewajiban di segala segi dan pada setiap jenjang. Inilah yang akan menjadikan Id itu motivasi untuk meraih kebahagiaan hakiki dari Id tersebut. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala supaya memberikan taufik kepada kita untuk menjadi orang-orang yang bersyukur kepada Allah secara hakiki dan memberikan taufik juga kepada kita untuk menunaikan hak-hak ibadah dan hak-hak hamba Allah Ta’ala.

Setelah khotbah yang kedua kita akan berdoa bersama. Berdoalah supaya kita menjadi hamba-hamba sejati Allah Ta’ala, orang-orang mukmin sejati dan kita diberikan taufik untuk menunaikan hak-hak sesama hamba-Nya. Kita juga berdoa supaya Allah Ta’ala mengangkat penderitaan anggota Jemaat di mana saja berada terhadap apa yang tengah mereka hadapi, menghilangkan kesukaran-kesukaran yang tengah menimpa mereka dikarenakan mereka bergabung pada Jemaat Ahmadiyah. Kemudian, terdapat orang-orang yang tengah menghadapi penetapan putusan yang bertentangan terhadap mereka, maka berdoalah pada Allah Ta’ala supaya menghilangkan kesulitan mereka dan membebaskan mereka dari ketetapan itu. Di sana juga ada orang-orang yang dipenjara di jalan Allah terutama di Pakistan dan di Aljazair. Berdoalah pada Allah Ta’ala supaya dengan segera melepaskan ikatan mereka dan menghilangkan penderitaan mereka semua dengan berbagai sebab atau berbagai macam penderitaan mereka.

Saya mengucapkan Id Mubarak dengan perantaraan MTA kepada seluruh dunia dan saya berdoa kepada Allah Ta’ala supaya Dia memberkati kalian semua dengan kebahagiaan Id hakiki. Was salamu ’alaikum Warahmatullahi wa bakatuhu.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَآءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوْااللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah : Mln. Abdul Karim Munwanna & Dildaar AD

Referensi     : terjemahan bahasa Arab di website resmi www.islamahmadiyya.net

[1]  [Bahtera Nuh].

[2]  Shouthul haqq

[3] Izalah Auham

[4] Casyma-e-ma’rifat halaman 200

[5] Filsafat Ajaran Islam halaman 50

[6] Malfuzhat

[7] Malfuzhat jilid 3, h. 347-348, edisi 1985, terbitan UK.

(Visited 149 times, 1 visits today)