Khotbah ‘Iedul Adha

Hadhrat Khalifatul Masih III –  Mirza Nasir Ahmad r.h.a.,

tanggal 5 Januari 1974

di Mesjid Aqsa, Rabwah-Pakistan

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Setelah pelaksanaan Jalsah Salanah saya terserang flu berat, yang pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Akan tetapi terkadang bertemu dengan para sahabat pun menjadi suatu bentuk sarana penyembuhan. Oleh karena itu saya datang ke sini untuk mengimami shalat ‘Id, sehingga dalam hal ini saya bisa mengucapkan ‘Id Mubarak kepada para anggota Jemaat  Saudara-saudara, yang mana selanjutnya secara singkat akan saya sampaikan. Nampaknya, sejak nabi yang pertama hingga masa pengutusan Hadhrat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, pelaksanaan tarbiyat untuk [kesiapan] mengemban tanggung jawab syariat sempurna yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w. telah lama berlangsung dalam berbagai macam coraknya. Akan tetapi sejak masa Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam, aktifitas tarbiyat ini secara khusus telah mencapai peningkatan yang signifikan.

Hadhrat Ibrahim a.s. beserta anak keturunan beliau telah melanjutkan tugas tarbiyat ini di salah satu bagian permukaan bumi, di mana di tempat itu telah ditakdirkan pengutusan Nabi Akram Muhammad Rasulullah s.a.w. dan telah ditetapkan bahwa kaum inilah yang pertama-tama mengemban tanggung jawab besar tersebut di pundak mereka.

Setelah pelaksanaan tarbiyat selama ribuan tahun, maka para penduduk Arab dari segi potensi fitrat mereka telah dinyatakan layak untuk melaksanakan syariat Quran Karim ini dan dianggap mampu untuk dianugerahi tanggung jawab menjaga syariat yang sempurna ini. Seolah-olah ini merupakan suatu pondasi yang terus diperkuat dengan perantaraan para nabi yang datang silih berganti. Kemudian setelah proses tarbiyat dan persiapan selama ribuan tahun lamanya, maka diutuslah Hadhrat Nabi Karim s.a.w. Beliau s.a.w. adalah nature insaniyat (fitrat, saripati kemanusiaan), demi beliau s.a.w.-lah alam semesta ini diciptakan. Dalam diri beliau s.a.w. umat manusia bisa menyaksikan keindahan manifestasi sifat-sifat Allah Ta’ala. Jadi, jelaslah bahwa bersamaan dengan diutusnya Hadhrat Rasulullah s.a.w., umat manusia telah diberikan suatu bentuk tugas yang baru. Generasi umat manusia sebelum masa Rasulullah s.a.w. telah secara terus menerus diberikan tarbiyat guna mengemban tanggung jawab ini. Setelah masa pengutusan beliau s.a.w. pondasi ini telah ditinggikan secara bertahap hingga mencapai suatu derajat kerohanian yang tertinggi dan di dalamnya mulai timbul perluasan, sehingga di masa kita sekarang ini perluasan tersebut telah siap untuk mencapai puncaknya.

Sekarang, umat manusia akan berlindung di dalam benteng rohaniah agung Hadhrat Muhammad Rasulullah s.a.w.. Mereka akan terhindar dari segala macam serangan setan, lalu menyenandungkan puji-pujian kepada Allah Ta’ala dan mengirimkan shalawat kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w., maka dengan ini mereka akan menjalani hidupnya dengan damai. Tanggung jawab untuk membawa Islam sampai pada puncak penyebarluasannya dan tugas untuk memperluas ruang lingkup keberkatan-keberkatan rohaniah Hadhrat Rasulullah s.a.w. telah diletakkan di pundak umat Muhammadiyah, dan di zaman sekarang ini tanggung jawab tersebut dalam bentuknya yang sempurna telah diserahkan kepada golongan dari umat Muhammadiyah ini yang diberi nama Jemaat Ahmadiyah, dan yang pondasinya telah diletakkan oleh Hadhrat Mahdi Ma’hud dan Masih Mau’ud a.s..

Inilah Jemaat yang saat ini sedang terus menerus mempersembahkan pengorbanan di hadapan Allah Ta’ala, dan memperlihatkan contoh pengorbanan yang memancar dari mata air kecintaan kepada Hadhrat Muhammad Musthafa s.a.w.. Mereka dengan kebaikan dan kebajikannya akan membawa dunia ini kepada Tuhan Yang Satu dan menumbuhkan di dalam hati manusia kecintaan kepada-Nya. Seolah-olah tujuan utama dari Jemaat ini adalah bahwa kita akan senantiasa berusaha untuk sebisa mungkin memperluas dan meninggikan benteng Islam ini. Walhasil, meskipun Jemaat ini lemah dan tidak berdaya, dipandang hina, serta dianggap sebagai Jemaat yang terusir, akan tetapi dengan penuh suka cita Jemaat ini terus melangkah maju dalam mempersembahkan pengorbanan ke hadapan Allah Ta’ala, dan dengan karunia Allah Ta’ala senantiasa berusaha untuk mencapai kesuksesan dalam memperluas bangunan rohaniah ini. Alhamdulillah ‘ala Dzalik.

‘Id kita ini pada dasarnya mengingatkan kita pada pengorbanan-pengorbanan. ‘Id ini menyegarkan kembali ingatan kita dalam memberikan pengorbanan di hadapan Allah Ta’ala untuk meraih suatu tujuan khusus. Dikarenakan sekarang ini semua anggota Jemaat Ahmadiyah – baik itu laki-laki maupun perempuan, orang dewasa maupun anak-anak – sibuk dalam memberikan pengorbanan di jalan Allah Ta’ala, oleh karena itu saya ucapkan ‘Id  Mubarak kepada semuanya, dan saya berdoa semoga keberkatan-keberkatan yang telah kita raih sebagai natijah (hasil) dari pengorbanan-pengorbanan kita ini, Allah Ta’ala terus menambahnya, dan semoga  Saudara-saudara menjadi pewaris dari nikmat-nikmat Allah Ta’ala ini, yang mengenai hal itu kita telah diberikan kabar suka.

Ini adalah kabar suka yang telah disebutkan oleh para nabi terdahulu. Hadhrat Rasulullah s.a.w. pun telah memberikan kabar suka berkenaan dengan nikmat-nikmat agung ini, demikian juga dengan para pengikut sejati beliau  s.a.w. pun telah menyinggungnya. Allah Ta’ala dengan karunia-Nya telah menganugerahkan taufik kepada kita semua untuk memberikan pengorbanan di jalan-Nya, sehingga kita bisa mendapatkan seluruh nikmat yang dahulu mengenainya telah senantiasa diberikan kabar suka kepada kita.

Demikian juga dengan keberkatan hakiki dari pengorbanan yang berhubungan dengan ‘Id ini, semoga kita mendapatkan semua keberkatan itu. Allaahumma Amiin. (Harian Al-Fazl, Rabwah, 16 Januari 1974, Hal. 6-8)