Khotbah Jumat

Tanda-tanda Kebenaran

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

9 Desember 2016 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

.

Mereka yang matanya telah tertutupi sesuatu dan telah memutuskan tidak akan percaya maka mereka tidak akan menyaksikan pertolongan dan tanda-tanda Allah. Memang merupakan hal yang sunnah (karakteristik dan perbuatan biasa) orang-orang yang tidak percaya kepada para Nabi bahwa meskipun telah menyaksikan mukjizat, mereka menuntut tanda-tanda lain yang akan membuat kebenaran jelas pada mereka. Karena mereka melebihi batas, Allah pun mengunci pintu hati mereka. Kemudian, mereka gagal untuk mencapai kebenaran tersebut. Terkadang, Allah membuat orang-orang yang demikian itu sebagai tanda pelajaran untuk mendukung kebenaran seorang Nabi kepada orang-orang.

Para penentang Hadhrat Masih Mau’ud as juga seperti ini; yang bahkan setelah menyaksikan banyak tanda kebenaran beliau as; mereka tetap saja tidak percaya atau tetap keras kepala dalam penentangan mereka. Beberapa diantara para pemimpin mereka menjadi tanda peringatan. Hadhrat Masih Mau’ud as mengabarkan bahwa banyak tanda dari Allah yang akan merefleksikan kebenaran beliau. Hadhrat Masih Mau’ud as bahkan mengungkapkan kepada orang-orang tentang tanda-tanda yang telah dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa Nabi Muhammad saw telah bersabda tentang banyak hal dan mengabarkan berbagai hal juga yang mana telah sempurna. Tapi para pemuka agama itu tidak mempercayai tanda-tanda tersebut dan bahkan mereka membuat orang-orang lain kehilangan petunjuk untuk mempercayai kebenaran (Hadhrat Masih Mau’ud as). Dan mereka masih terus melakukan hal ini hingga hari ini. Sering kali Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan berbagai tanda yang menandai kebenaran Ahmadiyah dalam berbagai corak.

Ketika menyatakan mengenai berbagai tanda tersebut, Hadhrat Masih Mau’ud as secara khusus menyampaikan bahwa tanda-tanda itu juga telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad saw. Diantara tanda-tanda ini adalah gerhana bulan dan gerhana matahari.

Ketika tanda ini tidak dipenuhi, para ulama akan menunjukkan Hadits Nabi saw itu sambil menangis. Tapi kemudian ketika tanda tersebut dengan sempurna tidak hanya sekali, tetapi dua kali: sekali di India dan kedua kalinya di Amerika, orang-orang yang menuntut tanda ini hanya berbalik dari perkataan mereka karena tidak mampu menolaknya bahwa itu telah terjadi (sempurna). Mereka tidak menerima tanda ini dan berbalik meninggalkannya karena kekeras-kepalaan dan kedegilan mereka.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Salah satu teman saya mengatakan kepada saya, ‘Setelah tanda ini terpenuhi, salah satu ulama bernama Tn. Ghulam Murtaza menyatakan kekecewaan dan kesedihannya yang sangat dan berkomentar sambil menepukkan tangannya ke pahanya bahwa dunia sekarang akan tersesat.’ Pikirlah kembali, apakah Maulwi itu adalah juru selamat yang lebih baik dan lebih memberi selamat  bagi dunia daripada Allah?”

Demikian juga, contoh wabah tha’un itu pun salah satu tanda sebagai dukungan bagi kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. hukuman yang telah dinubuatkan. Juga ada tanda-tanda seperti pergerakan aliran air sungai dan laut, masyarakat sedang dikembangkan, pegunungan yang dicabik-cabik dengan ledakan [bom dst], penerbitan media cetak (buku-buku, suratkabar dan sebagainya) yang berlimpah dan pengembangan cara-cara baru transportasi. Ringkasnya, ada banyak tanda seperti yang telah diberitahukan oleh Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa bukannya mengambil manfaat dan merenungi tanda-tanda dan dukungan Ilahi tersebut malah menaruh tuduhan yang sangat tidak relevan dan lucu terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Meski Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan tanda demi tanda namun bersamaan dengan itu beberapa orang datang mengatakan kritik terhadap beliau as bahwa surban Hadhrat Masih Mau’ud as tidak lurus, lantas bagaimana ia bisa menjadi Al-Masih yang dijanjikan? Mereka mengajukan keberatan dalam hal itu.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as menunjukkan kepada mereka begitu banyak mukjizat, tetapi orang masih datang dengan keberatan yang tidak masuk akal, “Bagaimana mungkin ia bisa menjadi Al-Masih yang dijanjikan sedangkan ia tidak dapat mengucapkan huruf “ق” ‘Qaaf’ dengan benar?” Meski Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan tanda demi tanda namun bersamaan dengan itu beberapa orang datang mengatakan kritik terhadap beliau as, “Bagaimana kami dapat mengikuti dia padahal ia membelikan perhiasan untuk istrinya dan menggunakan minyak almond?” Demikianlah jenis tuduhan-tuduhan konyol (bodoh) terhadap beliau.

Lalu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan: “Janganlah menutup mata terhadap tanda-tanda Allah. Banyak orang datang kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan meminta beberapa tanda. Beliau as akan menjawab, ‘Apakah engkau mendapatkan manfaat atas tanda-tanda yang telah ditunjukkan di masa lalu sehingga membutuhkan lebih banyak lagi tanda itu sekarang? Bila engkau belum mendapatkan apa-apa dari ribuan tanda yang sudah ditunjukkan, maka bagaimana engkau akan mendapatkan manfaat jika saya menunjukkan sebuah tanda sekarang?’ Orang-orang ini memang akan selalu tetap terampas (dari nikmat). Keuntungan mereka ada pada penentangan mereka.

Mengenai salah satu tanda teragung yang tampak jelas setiap hari, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Dalam buku ‘Barahin Ahmadiyyah’, Allah telah mengajarkan doa ini kepada saya, رب لا تذرني فردا وأنت خير الوارثين yang artinya ‘Jangan tinggalkan aku sendirian dan bentuklah aku menjadi sebuah Jemaat’. Wahyu berikutnya, يأتيك من كل فج عميق  yang artinya Allah akan memenuhi semua kebutuhan dan keuangan engkau guna memenuhi keperluan para tamu. Lalu, يأتون من كل فج عميق ‘Orang-orang akan datang kepadamu dari setiap arah’ yang artinya para tamu akan datang kepada engkau dari berbagai jalur dan jalan.”

“Nubuatan ini telah 26 tahun berlalu [saat pidato Hudhur II ra] dan sedang digenapi sampai hari ini dengan keagungan besar. Ini adalah tanda perkembangan Jemaat yang masih tercapai. Perkembangan dan kemajuan dari Jemaat setiap hari dalam pengorbanan harta adalah salah satu perwujudan terbaik dari kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud. Tapi ini hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang terbuka matanya, dan tidak oleh yang buta (mata hatinya).”

Saat ini saya hendak mempersembahkan kepada Anda sekalian tentang beberapa ilham Hadhrat Masih Mau’ud as yang terkait dengan hubungan dengan sarana-sarana kemajuan dan kemenangan Jemaat. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan hal itu bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as sering kali diberitahu oleh Allah bahwa Jemaat beliau juga harus memberikan pengorbanan dalam cara yang sama seperti para pengikut Nabi-Nabi sebelumnya. Saya pernah bermimpi masuk ke dalam rumah ‘Nizaam-ud-din’. Makna ‘Nizaam-ud-din’ adalah ‘cara agama’. Mimpi ini berarti bahwa Jemaat Ahmadiyah suatu hari akan menjadi cara agama (Islam dilakukan) dan akan menaungi dan memasuki (mengalahkan) semua sistem lain di dunia. Insya Allah.

Tapi bagaimana mungkin kemenangan ini akan berlangsung? Mengenai ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Dalam mimpi dinubuatkan, kadang-kadang kita akan masuk dalam kemenangan tersebut sesuai dengan cara ‘Hasani’ dan terkadang akan masuk sesuai dengan cara ‘Husaini’. Telah diketahui bahwa keberhasilan Hadhrat Hasan ra dicapai melalui rekonsiliasi (perdamaian). Sementara itu, keberhasilan Hadhrat Husain ra dicapai melalui kesyahidan (martir). Jadi Hadhrat Masih Mau’ud as telah diberitahu dalam ilham ini bahwa Jemaat beliau as akan mencapai tingkat ‘Nizaam-ud-din’ tetapi melalui rekonsiliasi dan cinta kasih, dan demikian pula beberapa melalui pengorbanan dan kesyahidan.

Jika salah satu dari kita berpikiran bahwa Jemaat ini akan berkembang tanpa melalui cinta kasih dan pengertian saja, maka dia keliru. Dan jika seseorang berpikir bahwa Jemaat akan berkembang tanpa ada kesyahidan dan pengorbanan, maka dia juga tidak benar. Kemajuan kita dipastikan akan kita lalui dengan kedamaian dan cinta kasih di beberapa waktu dan di sisi lain kita menghadapi pilihan jalan Hadhrat Husain, yaitu melalui jalan kematian di hadapan musuh. Ini berarti bahwa kita akan mengorbankan hidup kita tapi sekali pun demikian kita takkan menerima tawaran dan perkataan dia (yang memusuhi).

Dua jalan ini ditakdirkan bagi kita. Kita tidak ditentukan hanya pada jalan al-Masihiyyah (keindahan, kelemah-lembutan) saja dan tidak pula hanya jalan al-Mahdawiyyah (kegagahan, keagungan) saja. Melainkan, kita akan harus melangkah di jalan tengah. Maka dari itu, keberhasilan akan melalui perdamaian dan cinta kasih sementara lainnya akan melalui pengorbanan. Setelah itu Jemaat akan memasuki rumah ‘Nizaam-ud-din’ dan akan mencapai kesuksesan. Kedua situasi ini jelas kita lihat Jemaat perlihatkan keteladanannya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra kemudian mengatakan di kesempatan lain, “Hadhrat Masih Mau’ud as menerima sebuah ilham dan diperlihatkan juga sebuah mimpi kepada saya bahwa sebagian dari kita akan masuk di sebuah rumah dekat Masjid Mubarak (rumah Mirza Nizhamuddin) dengan cara corak Hasani dan sebagian lagi dengan corak Husaini. Kami sendiri bingung tentang arti ilham dan mimpi tersebut. Saya mendengar langsung Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa beliau as tidak tahu makna ilham tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, terungkaplah makna-makna itu pada waktu yang tepat. Bahkan, Hadhrat Masih Mau’ud as pernah bersabda pada waktu ketika tidak satu orang pun yang percaya kepada beliau, ‘Allah Ta’ala memberitahuku bahwa Jemaatku akan mencapai begitu banyak keberhasilan mencapai suatu tingkatan sehingga kaum-kaum lain di dunia akan ditinggalkan sebagaimana pada hari-hari ini kita memandang orang-orang gipsi (nomaden, pengembara).’”

Kita menyaksikan tanda-tanda dukungan Allah pada setiap hari haru dan Insya Allah akan datang suatu hari ketika kita akan mencapai kemajuan ke tingkat yang membuat komunitas atau Jemaat lain terlihat kecil jika dibandingkan Jemaat. Namun untuk melakukannya kita perlu menanamkan semangat reformasi dan agama dalam diri kita dan generasi kita supaya Allah menganugerahi kita pemandangan tersebut. Di mana pun terdapat dukungan dari Allah maka oposisi juga muncul. Karena memang Jamaat para nabi selalu menghadapi penentangan yang demikian. Namun penentangan ini tidak membuat kita takut, tapi malah membuat kita lebih kuat dalam iman kita.

Beberapa hari yang lalu, kantor Tahrik Jadid dan penerbitan Jemaat ‘Ziaul Islam Press’ di Rabwah digerebek oleh skuad kontra teroris departemen kepolisian Punjab, Pakistan. Dua orang Mubaligh dan beberapa pengurus lainnya ditangkap. Mengenai hal ini beberapa orang Jemaat dari Rabwah, baik laki-laki maupun wanita menulis surat kepada saya, “Kami tidak takut akan aktivitas (penangkapan) ini. Iman kami kuat. Keyakinan kami meningkat berkali kali lipat setelah peristiwa tersebut. Kami siap untuk menghadapi setiap kesulitan dan membayar pengorbanan apapun.“

Ini adalah semangat yang harus ada pada setiap orang beriman. Ini adalah hal-hal yang telah dinubuatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Kita manyaksikan penyempurnaan janji-janji dan dukungan-dukungan Ilahi yang tanpa batas dan tak terhitung. Tanpa keraguan sedikit pun, memang kemenangan terakhir akan ada pada Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as. Pertentangan dan permusuhan akan selalu ada dan kita hadapi. Itu akan terus berlanjut di masa mendatang. Orang-orang miskin yang menggerebek kantor-kantor Jemaat di Rabwah takut akan tindakan teror dari pihak para Ahmadi. Mereka paling takut dibanding lainnya. Hal demikian karena para Ahmadi meminta mereka untuk takut kepada Allah. Mereka pun berkata, “Bagaimana mungkin para Ahmadi yang memikirkan mendesak kita agar takut kepada Allah. Siapa yang lebih keras terornya dibanding mereka yang mengarahkan perhatian kita agar takut kepada Allah? Oleh karena itu, tangkap dan habisi mereka (para Ahmadi).”

Kita berdoa semoga Allah memberi mereka kebijaksanaan dan kecerdasan untuk memahami kebenaran permasalahan yang sebenarnya. Semoga Allah melindungi negara dari para ekstremis agama dan ulama ini yang merupakan teroris yang sebenarnya. Mereka adalah orang-orang yang telah benar-benar menyebar kerusakan di negeri ini dan tidak ada seseorang yang hidupnya aman dari mereka.

Semoga Allah memberikan kekuatan untuk regu kontra teroris ini untuk melawan orang-orang yang benar-benar berbahaya bagi negara, yang secara nyata menghancurkan akar negara dengan menjarah – bukan menangkap para Ahmadi yang cinta damai, pemberi selamat yang sejati dari negara tersebut dan merupakan warga negara yang taat hukum. Para Ahmadi harus berdoa semoga Allah melindungi Pakistan dan melindunginya dari kerusakan dan kelaliman dan masalah-masalah yang ditimbulkan oleh para lalim yang demikian (Amien). Sejauh mengenai pengorbanan, para Ahmadi telah memberikan pengorbanan di masa lalu dan akan terus memberikan pengorbonan-pengorbanan dan Allah akan segera memberikan imbalan berbuah pahala.

Demikian juga, pemerintah Aljazair menindas para Ahmadi di sana. Semoga Allah melindungi mereka dan memberi mereka daya tahan atas segala kekejaman ini. Semoga Allah membantu pemerintah mereka memahami niatan para Ahmadi yang memang sangat damai dan merupakan warga negara yang taat hukum. Mereka disangka sangat merusak dan merencanakan melawan terhadap pemerintah negara tersebut. Namun di seluruh dunia tidak aka nada seorang Ahmadi pun yang ditemukan berjuang melawan hukum pemerintah negaranya. Kami adalah orang-orang yang menyebarkan cinta kasih, perdamaian dan harmoni dan kami tidak akan ragu-ragu untuk memberikan pengorbanan jika diperlukan dalam rangka mencapai tujuan tersebut, Insya Allah.

Saya kembali pada perkataan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra yang mengatakan bahwa oposisi (penentangan) yang paling berbahaya dan paling besar di dunia ialah permusuhan yang berasal dari kerabat dekat. Mereka tidak bisa menanggung kenyataan bahwa seseorang diantara mereka bisa mendapatkan begitu banyak rasa hormat dan dianggap begitu penting di dunia. Mereka yang berjuang untuk setiap jengkal properti melawan Ahmadi, bagaimana mereka dapat menghadapi kenyataan begitu banyak orang mengikuti dan menganggap Ahmadi sebagai orang yang penting. Oleh karena itu mereka mencoba sebaik baiknya untuk menekan Ahmadi. Mereka yang menjadi tak berdaya dan tidak bisa berbuat banyak, bahkan orang-orang seperti itu mencoba untuk mengambil kebencian di dalam hati mereka dengan satu cara atau cara yang lain.

 Hadhrat Khalifatul Masih I ra mengatakan bahwa salah satu orang kaya dari Syahpur mendapat gelar ‘Khan Bahadur’. Setelah itu dari kalangan keluarga yang sama seorang perempuan miskin menamakan anaknya sebagai ‘Khan Bahadur’. Ketika wanita tersebut ditanyakan mengenai alasannya, dia mengatakan, ‘Saya tidak tahu apa pekerjaan anak saya nanti ketika ia dewasa, tapi setidaknya dia akan dipanggil dengan nama yang sama seperti orang kaya itu.’ Jadi, orang-orang yang tidak bisa berbuat banyak untuk mencapai suatu kedudukan, mereka suka menamai diri dengan nama-nama kedudukan tersebut.

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as mendakwakan diri, salah satu kerabat beliau as juga menyatakan diri sebagai Imam. Kerabat tersebut melakukannya setelah menyadari bahwa banyak orang yang mengikuti Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga ia juga bisa mendapatkan perhatian yang sama dan dianggap penting. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memberikan contoh pepatah Persia yang mengatakan (terjemahan) ‘pemikiran dan kemampuan merenungkan seseorang adalah sesuai dengan kekuatan dan pandangannya sendiri’.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengumumkan bahwa beliau as dikirim sebagai Hakaman Adlan (Hakim Adil) untuk seluruh dunia. Mengimani beliau as adalah suatu keharusan. Tidak hanya diperlukan oleh orang orang-orang kecil tetapi juga orang-orang besar bahkan raja-raja harus percaya pada beliau as dan mengikuti beliau as. Kerabat yang mengklaim sebagai Imam Mahdi mengatakan bahwa dia diutus sebagai seorang pemimpin untuk kasta/tingkat golongan tertentu. Sementara itu, ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menyebarkan pendakwaannya menulis bahwa mengimani beliau adalah suatu kewajiban bagi tiap orang bahkan menuntut Ratu Inggris untuk mengikuti beliau as. Bahkan, beliau as menulis surat kepada Sang Ratu Inggris yang memerintah negeri beliau. Sementara kerabat beliau as itu dan temannya hanya klaim sebatas nama saja.

Kualitas keberanian kerabat beliau yang telah mengajukan klaim sebagai Imam ini begitu rendah sehingga ketika dibawa polisi ke kantor dan ditanya tentang hal itu, ia benar-benar membantah tuduhan tersebut dan mengatakan, ‘Seseorang sudah menuduh tuduhan palsu kepada saya dengan pernyataan ini.’ Oleh karena itu, penentangan terburuk adalah yang berasal dari kerabat dekat. Ketika kerabat kami bergabung dengan barisan penentang mereka amat berkeberatan dengan kami dan mengusahakan gangguan di setiap jalan, baik yang boleh maupun tidak.

Setelah mengungkap kejadian ini Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Kami memiliki banyak kerabat berjumlah puluhan yang tidak berhubungan dengan kami lagi karena Ahmadiyah. Maksud saya, itu bukan karena kami tidak ingin bertemu dengan mereka tetapi karena mereka tidak ingin berhubungan dengan kami. Saudara-saudara kami biasa untuk melakukan kekerasan secara verbal dan makian kepada kami. Bibi yang kemudian menerima Ahmadiyah baru-baru ini tadinya juga banyak bersikap buruk terhadap kami.”

“Saya ingat bahwa ketika saya berusia sekitar enam atau tujuh tahun dan saya memanjat tangga ketika Bibi tersebut berulang kali mengatakan dalam bahasa Punjabi “Jayoo Jaya kaa oho ji koko” ‘Ayah dan Anak sama-sama burung gagak’ (seperti layaknya ayahnya yang buruk, begitu juga anaknya). Dia mengatakan hal itu berkali-kali sehingga tertanam dan teringat sampai ke dalam hati saya. Saya memberitahukan hal ini sesampainya saya di rumah dan bertanya artinya.

Di Qadian, Hadhrat Masih Mau’ud as diboikot [tidak boleh diajak bicara dan harus dijauhi]. Tidak ada seorang pun diizinkan pergi ke rumah beliau as untuk mengerjakan pekerjaan apapun ataupun mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Seorang saudari kami, istri paman, keluarga dan kerabat sampai-sampai sepupu dari pihak ibu yaitu Ali Sher biasa merendahkan dan menindas kami dengan buruk.

Suatu kali dari daerah Gujarat, teman-teman Hadhrat Masih Mau’ud as yang merupakan tujuh bersaudara semuanya datang ke Qadian. Mereka berjalan menuju taman Hadhrat Masih Mau’ud as. Dalam perjalanan mereka, salah satu kerabat kami yang bekerja di kebun Hadhrat Masih Mau’ud as bertanya tentang kunjungan mereka ke Qadian. Mereka menjawab, ‘Kami telah datang dari Gujarat hanya untuk bertemu Tn. Mirza.’ Si kerabat mengatakan kepada mereka, ‘Saya sepupunya. Saya tahu pasti seberapa buruk dia!’

Setelah mendengar hal ini salah satu dari 7 bersaudara itu memegangnya dengan ketat dan memanggil saudara-saudaranya yang lain. Si kerabat menjadi khawatir karena mengalami hal ini tetapi Ahmadi yang menahannya mengatakan, ‘Saya tidak akan memukul Anda karena Anda adalah kerabat dari Tn. Mirza. Saya hanya ingin menunjukkan kepada saudara-saudara saya tentang wajah Anda karena sampai saat ini kita telah mendengar bahwa Setan ada tapi kami belum pernah melihatnya.’”

Lalu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as diberitahu oleh Allah bahwa hanya garis keturunan beliaulah yang akan terus berlanjut dan yang lain [dari kerabat beliau] akan berakhir. Meski terjadi penentangan yang banyak dari kalangan keluarga sendiri, Allah Ta’ala telah menentramkan Hadhrat Masih Mau’ud as dengan berfirman, “Hanya garis keturunan engkaulah yang akan terus berlanjut dan yang lain [dari kerabat engkau] akan berakhir.” Ini adalah persis bagaimana hal itu terjadi.

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as mendakwakan diri beliau [sebagai Mujaddid, Imam Mahdi dan Masih Mau’ud], ada sekitar 70 orang laki-laki dalam keluarga beliau. Tapi, sekarang dari keluarga beliau as, hanya mereka yang masuk Ahmadiyah yang hidup dan generasi dari kerabatnya yang lain telah selesai dan berakhir. Tidak ada yang bertahan, kecuali bagi yang keturunan Hadhrat Masih Mau’ud as secara biologis atau keturunan rohani. Meskipun mereka [yang tidak beriman dari keturunan 70 orang laki-laki tersebut] telah berusaha sebisa mereka untuk menghancurkan nama Hadhrat Masih Mau’ud as tetapi sebagai akibatnya mereka sendiri yang hancur dan generasi penerus mereka tidak tumbuh. Hal ini juga salah satu tanda terbesar dari kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra ketika menceritakan peristiwa bai’atnya ‘Taa-i Sahiba’  mengatakan, “Ada beberapa nubuatan dan bukti-bukti yang mungkin tampak kecil tapi setelah direnungkan, makna tersembunyi di dalamnya membantu seseorang menambah imannya berkali-kali lipat. Ada sebuah ilham Hadhrat Masih Mau’ud as yang saya hanya tahu tentang nubuatan ini hari kemarin. Meski itu terkait satu orang saja dan keadaannya namun mengandung beberapa nubuatan. Beberapa saudara Jemaat lainnya telah memberitahu saya bahwa mereka telah mengetahui ilham ini sebelumnya. Sedangkan saya baru tahu hari kemarin saja.

Kemarin pada saat kewafatan ‘Taa-i Sahibah’ (istri uwak) saya, Tn. Sheikh Yaqoob Ali mengatakan, ‘Ada sebuah nubuatan lama Hadhrat Masih Mau’ud as, تائي آئي “Taa-i aa-i” (istri paman/uwak sudah datang).’ (‘Taa-i’ adalah bibi Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Beliau adalah istri kakak Hadhrat Masih Mau’ud as, Mirza Ghulam Qadir). Orang orang Ahmadi yang sudah tua mengatakan pada saat itu mereka ungkapkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, sulit untuk memahami makna ilham tersebut. Seseorang akan mengatakan satu hal dan orang lain akan menerjemahkannya dalam cara-cara lain. Masing-masing menjelaskan sesuai pemahamannya.

Namun satu arti sederhana yang dapat diambil intisarinya dari hal tersebut adalah bahwa seorang wanita yang hubungannya merupakan bibi (Taa-i = istri paman atau istri uwak), akan datang. Arti dari kedatangan dapat memiliki dua penjabaran yang berbeda. Salah satunya, datang mendekat atau arti lainnya adalah dia memasuki Jemaat Ahmadiyah. Kalau hanya dipahaman ‘datang’ saja maka tidak bisa dikatakan nubuatan apapun, karena kerabat sering datang. Dalam keluarga kami, bahkan banyak orang tua biasa memanggil istri dari kakak Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai ‘Taa-i’. Seolah-olah, namanya adalah ‘Taa-i’. Orang-orang yang telah membaca buku-buku tentang Ahmadiyah menyadari fakta bahwa ‘Taa-i’ adalah penentang yang gigih pada saat nubuatan ‘Muhammadi Begum’. Karena dia anak tertua dalam keluarga dan nubuatan tersebut mengenai keponakannya (anak perempuan dari saudarinya), karena itu ia menganggap wajib baginya untuk menghentikan hubungan ini karena ia berpikir itu sebagai aib bagi keluarga. Baginya adalah keharusan untuk melakukan usaha penghentian itu.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa menurut fitrat alami kaum perempuan, seorang perempuan yang tertua, akan menganggap kehormatan dan martabat keluarga itu lebih penting dari pada semua masalah keagamaan bahkan lebih penting daripada masalah politik dan dari semua hal lainnya. Pada saat itu, pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai Al-Masih yang dijanjikan itu bagi ‘Taa-ii’ tidak sepenting martabat keluarga. Umumnya, amat sulit bagi seorang yang lebih tua untuk mematuhi seorang yang lebih muda. Usianya sang ‘Taa-i’ lebih tua daripada Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as tidak menuntut bagian harta beliau dalam properti. Makan-minum sehari-hari Hadhrat Masih Mau’ud as datang dari rumah Sang ‘Taa-i’ sehingga dari segi ini ia menganggap dirinya baik hati kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Secara alami, kaum perempuan umumnya memiliki perasaan demikian karena itu wanita tersebut menganggap Hadhrat Masih Mau’ud as memerlukannya dan tergantung padanya. Tidak terpikirkan olehnya bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as belum menerima bagian harta beliau as dalam properti warisan keluarga. Tapi hanya karena ia mengirimi beliau as makanan dan menanggung biaya makanan beliau as maka ia menganggap diri lebih tinggi dan telah baik hati pada beliau as.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan dalam salah satu bait syair Bahasa Arab, لُفاظاتُ المَوائدِ كان أُكْـلِي وصِرتُ اليومَ مِطْعـامَ الأهالي ‘Lufaazhaatul mawaa-idi kaana uklii. Wa shirtul yauma mith’aamal ahaalii.’ – “Ada suatu masa ketika aku hidup dari potongan roti orang lain namun Allah Ta’ala telah memberikan taufik kepadaku sehingga ribuan orang makan dari meja makanku.”[1]

Dalam bait ini, juga jelas bahwa jatah harta (warisan keluarga) Hadhrat Masih Mau’ud as tidak pernah secara terpisah dibagikan kepada beliau as. Melainkan, bagian warisan beliau as ada pada saudara beliau as yang tidak pernah merasa perlu bertanggungjawab memberikan harta warisan jatah beliau as. Hal demikian karena ayah Hadhrat Masih Mau’ud as juga dulu mengatakan, “Putra saya yang ini tidak akan mampu untuk mengurus properti.” Jadi mempertimbangkan semua situasi internal itu maka tidak mungkin bagi “Taa-i ‘untuk memasuki lingkaran Ahmadiyah. Namun dia kemudian menerima Ahmadiyah.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa tidak ada itu alasan logika, penjelasan atau sebab-sebab keagamaan, tetapi karena alasan keadaan keluarga, dimana ia menganggap dirinya sebagai pemilik dan hubungannya dengan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah seperti antara majikan dan hambanya (Nauzubillah). Artinya, ia menganggap diri majikan dan Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai hambanya. Dia menganggap Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai orang miskin yang tidak bekerja dan hidup dari makanannya. Dalam kondisi ini, ia tidak pernah menerima bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as menikahi putrid saudarinya (keponakannya, Muhammadi Begum). Karena ia adalah anak tertua, secara khusus ia yang paling menentang hal ini. Pada saat itu, penentangan (terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as) sangat keras.

Kerabat Hadhrat Masih Mau’ud as telah meninggalkan beliau dan beliau juga tidak akan bertemu mereka. Hadhrat Amma Jaan ra mengungkapkan bahwa penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as begitu gigih sampai tingkat ada seorang wanita berusia lanjut dalam keluarga ibu Hadhrat Masih Mau’ud as yang menangis berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang mengizinkan kita untuk bahkan melihat anak Chiragh Bibi (ibu Hadhrat Masih Mau’ud).’

Hadhrat Masih Mau’ud as diisolasi seperti perlakuan pada pencuri dan perampok karena beliau dianggap aib keluarga. Di era tersebut, bahkan hanya untuk berharap bahwa ‘Taa-i’ akan menerima Ahmadiyah merupakan anggapan mustahil dan tidak realistis. Hati orang bisa berubah, tapi kita perlu melihat ke dalam keadaan-keadaan tersebut.

Hadhrat Masih Mau’ud as menerima ilham, تائي آئي ‘Taa-i aa-i’ (istri paman/uwak sudah datang) pada waktu itu. Nubuatan tersebut juga menggambarkan bahwa wanita itu akan memasuki Jemaat pada saat hubungannya dengan orang yang akan mengambil baiat tersebut sebagai ‘Taa-i’ atau bibi. Jika dia menerima Ahmadiyah pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as maka nubuatannya akan menggunakan istilah berbeda yaitu ‘Bhawaj aa-i’ (Kakak ipar sudah datang). Jika dia menerima Ahmadiyah di tangan Khalifatul Masih I ra, maka nubuatan itu akan menggunakan istilah ‘Seorang wanita dari keluarga Hadhrat Masih Mau’ud as datang’ tapi kata spesifik ‘Taa-i’ memberitahukan bahwa wanita itu akan menerima Ahmadiyah di tangan putra Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika tidak ada putra dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang menjadi Khalifah maka kata ‘Taa-i’ akan menjadi sia-sia.

Nubuatan dalam ilham ini mengandung tiga aspek. Pertama, salah seorang putra Hadhrat Masih Mau’ud as akan menjadi Khalifah. Kedua, hubungan wanita tersebut dengan Hadhrat Muslih Mau’ud ra adalah sebagai bibi dari pihak Ayah. Ketiga, terkait umur wanita tersebut yang akan hidup untuk waktu yang lama. Hal ini karena ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menerima nubuatan, beliau as berusia 70 tahun dan nubuatan itu tentang seseorang yang lebih tua daripada beliau. Wanita itu akan berbaiat masuk Jemaat ketika salah seorang putra Hadhrat Masih Mau’ud as menjadi Khalifah. Suatu hal yang sangat besar untuk memiliki usia panjang karena otak manusia bahkan tidak dapat meramalkan bahwa seorang muda akan hidup lama. Apalagi meramal seorang berusia tua akan hidup lama lagi. ‘Taa-i’ meninggal di tahun 1927. Oleh karena itu, hal tersebut adalah tanda yang sangat besar untuk mengkonfirmasi kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan nubuatan ini memiliki sejumlah tanda-tanda tersembunyi di dalamnya. Pembaiatannya, baiatnya ia di tangan Hadhrat Muslih Mau’ud ra dan akan adanya salah seorang putra Hadhrat Masih Mau’ud as yang menjadi Khalifah terkandung dalam sebuah nubuatan yang terdiri dari dua kata saja.

Bukan hanya telah menerima Ahmadiyah, Taa-i juga melakukan ‘Wasiyyat’. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa mempertimbangkan jenis tradisi dan perasaan yang ditemukan pada orang-orang dari keluarga kuno, merupakan sebuah perubahan menakjubkan bahwa Taa-i memutuskan untuk melakukan Wasiyyat. Hal demikian karena, pertama, sebelumnya ia menentang penguburan Hadhrat Masih Mau’ud as di tempat bukan pekuburan keluarga dan beliau as harus dikubur di tempat yang berbeda. Saat kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as, ia mengirim surat kepada keluarga beliau as berisi pesan agar Hadhrat Masih Mau’ud as jangan dikuburkan kecuali di pekuburan keluarga. Ia melakukan penentangan setelah itu dalam waktu lama. Tapi, kemudian ia melakukan Wasiyyat dan dimakamkan di ‘Bahisti Maqbara’. Untuk orang dengan kebijaksanaan mendalam, hal itu adalah tanda agung. Ini mungkin tampaknya merupakan hal yang kecil dan terkait seorang pribadi saja tetapi memiliki banyak tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. Meski sebelumnya ia adalah penentang keras dan berpendapat agar dimakamkan di pekuburan keluarga, tetapi setelah masuk Jemaat dan bergabung dalam Nizham Al-Washiyyat lalu dimakamkan di ‘Bahisti Maqbara’.

Ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengungkapkan perihal peristiwa dalam perjalanan Hadhrat Masih Mau’ud as ke Delhi, “Ketika seseorang bertawakkal (meletakkan kepercayaan) pada Allah, ia hendaknya tidak pernah membayangkan bahwa karya-karya yang dilakukan oleh-Nya tidak akan berbuah hasil. Melainkan, jika Anda percaya kepada Allah maka milikilah kepercayaan dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memperlihatkan hasil agung dari karya-Nya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Saya dahulu masih kecil ketika Hadhrat Masih Mau’ud as melakukan perjalanan ke Delhi. (beliau tengah berpidato di depan Jemaat Delhi) Beliau as melakukan perjalanan ziarah ke makam-makam para Wali Allah (orang suci) yang berbeda dan melakukan doa untuk waktu lama dan mengatakan, ‘Saya melakukannya karena saya tidak ingin keturunan mereka kehilangan kesempatan mengenali cahaya kebenaran yang telah dikirim di zaman ini oleh Allah untuk reformasi (perubahan) mereka. Suatu hari akan datang ketika Allah akan memberikan terang kepada hati mereka dan mereka akan menerima kebenaran.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Saya masih sangat muda ketika hal ini dikatakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as namun hal tersebut masih memiliki dampak pada hati saya. Jadi jika Jemaat di sini (Delhi) ingin melihat hasil yang bermanfaat dari upaya mereka maka mereka harus meletakkan kepercayaan mereka kepada Allah. Suatu hari akan datang ketika hal yang Allah ingin menangkan akan menang.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan semua ini saat menjawab sambutan Jemaat Delhi. Oleh karena itu, bahkan pada hari ini, itu juga merupakan tanggung jawab Jemaat Delhi untuk menyebarkan pesan Hadhrat Masih Mau’ud as dengan kebijaksanaan tertinggi. Akhir-akhir ini, dengan karunia Allah, proses menyebarkan pesan telah dipercepat melalui pameran-pameran. Tapi ada juga penentangan dari umat Islam kalangan non Ahmadi lainnya, sehingga masih perlu untuk menyebarkan pesan ini kepada mereka. Dan hal yang paling penting adalah Doa, dan banyak perhatian harus dilakukan dalam hal Doa.

Lalu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga mengungkapkan latar belakang sebuah ru-ya (mimpi) Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as melihat bahwa ada sebuah parit yang sangat panjang. Banyak domba telah dibaringkan di sana. Setiap domba diurus oleh tukang daging dengan pisau di tangannya dan dengan tatapan mereka ke langit seolah-olah sedang menunggu perintah Ilahi.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Waktu itu saya berjalan-jalan di tempat tersebut. Saya mendekati mereka dan membacakan ayat Al-Qur’an yang mengatakan قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ ‘Katakanlah kepada mereka, “Apa peduli Tuhan saya untuk engkau, jika engkau tidak menyembah-Nya dan mematuhi perintah-perintah-Nya?”’

Saat saya mengatakan ini, tukang daging yang sebenarnya malaikat memahami bahwa mereka telah diberikan izin dan mereka meletakkan pisau-pisau mereka diatas leher-leher domba-domba tersebut sambil mengatakan [kepada domba-domba], ‘Bukankah kau tidak lebih dari domba yang makan kotoran?’

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menafsirkan hal ini yang artinya akan ada wabah parah – dan memang sekitar 70.000 orang meninggal karena wabah kolera. Jadi, jika seseorang tidak peduli dengan Allah, maka Dia juga tidak peduli padanya dan tidak ada yang bisa menghentikan karya Allah.

Beliau ra mengatakan, “Setelah 300 tahun pengutusan Nabi Isa (Yesus Kristus) as, agama Kristen berkembang besar. Tetapi jika kita merenungkan kondisi kita, maka diperlukan waktu yang jauh lebih sedikit dari itu – ketika Ahmadiyah akan diberkati dengan pertumbuhan dan ekspansi yang sangat besar, Insya Allah. Apakah itu Ulama atau pemimpin agama di Pakistan, atau siapapun penguasa duniawi, bagi Allah, mereka tidaklah penting. Bahkan, mereka ibarat domba-domba dan tidak pernah dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan Ahmadiyah.

Tapi untuk mencapai ini kita tidak bisa hanya mengandalkan para mubaligh kita saja dengan berpendapat itu adalah tugas mereka untuk menyebarkan Ahmadiyah. Melainkan, jika kita ingin menjadi bagian dari perkembangan ini dan memang kita harus menjadi bagian perkembangan ini, maka kita juga harus mengalihkan diri pada doa-doa dan harus meningkatkan keruhanian kita serta harus memperkuat hubungan kita dengan Allah. Inilah hal-hal yang akan mengakhiri penentangan terhadap Ahmadiyah dan akan membantu kita berkontribusi dalam pengembangan Ahmadiyah, Insya Allah. Semoga Allah memberkati kita dengan keadaan tersebut, Amien. آمين

Setelah shalat, saya ingin mengimami shalat jenazah gaib untuk Mukarram Tn. Sufni Zafar Ahmad yang adalah seorang misionaris di Indonesia. Beliau meninggal pada usia 71 karena serangan jantung pada 8 November. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau dilahirkan pada 18 Agustus 1945 di Padang, Sumatera. Ayahnya, Tn. Zaini Dahlan berbaiat di tangan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pada tahun 1923. Ia, bersama dengan dua orang lainnya mendirikan rumah misi di Jawa dan Sumatera. Oleh karena itu, ayahnya adalah termasuk misionaris perintis di Indonesia. Tn. Zaini Dahlan memiliki tiga anak. Beliau mengajukan Tn. Sufni Zafar Ahmad untuk dedikasi hidup (waqf zindegi) dan mengirimnya ke Jamiah Ahmadiyah Rabwah untuk mendapatkan pendidikan agama.

Tn. Sufni Zafar Ahmad melakukan perjalanan ke Rabwah pada 17 Juli 1963 dan menghabiskan sekitar 11 tahun di sana. Pada tahun 1974 beliau kembali ke Indonesia dan pertama kali ditugaskan di Kalimantan. Kemudian beliau diangkat sebagai misionaris regional (Muballigh Daerah) dan Amir daerah di Jawa Barat. Kemudian beliau juga bertugas di Jawa Timur dan Papua. Dari tahun 1985 sampai 1987 beliau bertugas di Jambi dan 1987-1991 bertugas di Sumatera utara sebagai misionaris regional. Dari tahun 1991 hingga 1997, beliau mengajar mata pelajaran ‘Fiqah’ di Jamiah Ahmadiyah Indonesia. Selama waktu ini beliau juga terpilih sebagai pengurus dalam departemen pengajaran bagi para Mubayyi’ baru.

Dari tahun 1997 sampai 2001 beliau menjabat sebagai Muballigh daerah di Lampung, Indonesia. Melalui upayanya banyak Jamaat baru diciptakan di Indonesia bersama dengan pembangunan beberapa masjid dan rumah-rumah misi. Beliau juga mendapat kehormatan untuk menerjemahkan beberapa buku ke dalam bahasa Indonesia. Filosofi Zakat, pengorbanan di jalan Allah, pemakaman dan arti sebenarnya dari Jihad dalam Islam adalah beberapa buku yang beliau tulis. Beliau mendapat pensiun pada tahun 2001 dan menderita berbagai penyakit.

Beliau memiliki hubungan khusus kecintaan dan loyalitas dengan Khilafat serta ketaatan yang tinggi. Beliau adalah pengkhidmat Jemaat yang sangat tulus. Beliau telah meninggalkan seorang istri, satu putri dan dua putra. Semoga Allah menjaga mereka untuk selalu terkait dengan Jama’at dan membantu mereka maju dalam melakukan perbuatan baik seperti ayah mereka. Semoga mereka juga mengungkapkan ketulusan dan kesetiaan mereka kepada Jemaat. Semoga Allah membantu mereka menjadi Ahmadi sangat aktif, Ameen.

Penerjemah    : Dildaar Ahmad Dartono dengan sumber referensi www.Islamahmadiyya.net (Arab) dan & Ratu Gumelar dengan sumber referensi                : www.alislam.org (bahasa Inggris).

[1] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 11, h. 313.