Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)

13 September 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Setelah membaca tasyahud, ta’awwudz dan Surat Al-Fatihah, Huzur Aqdas (semoga Allah menguatkan beliau dengan pertolongan-Nya yang Perkasa) bersabda bahwa:

 

Ancaman Bahaya Perang Dunia

Situasi global saat ini bergerak cepat menuju kehancuran. Khususnya krisis Syria bisa menjerumuskan dunia Arab dalam kehancuran besar dan jika kekuatan asing bergabung, kerusakan mengerikan yang mengikutinya tidak akan terbatas pada beberapa negara di Asia, namun di seluruh dunia. Baik negara-negara di Asia, maupun kekuatan dunia tidak berusaha memahami bahwa konflik ini bisa menjadi pemicu Perang Dunia .

Orang-orang Ahmadi menerima Asyiq Shadiq (pecinta sejati) Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dalam mengikuti tuannya, yang datang untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan dan untuk menjalin persaudaraan, mereka perlu banyak berdoa bagi dunia supaya dilindungi dari kehancuran. Kita tidak punya cara lain. Kita bisa berusaha dan mengingatkan dunia mengenai konsekuensi yang mengerikan, yang memang kita lakukan.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda, beliau, sebisa mungkin telah mengingatkan para pemimpin dunia dan politisi dalam hal ini, dan anggota Jemaat juga telah bergabung dengan beliau dalam menyebarkan pesan ini. Beberapa pemimpin ini setuju sekali dengan Hadhrat Khalifatul Masih dan mengatakan kepada beliau bahwa pesan beliau sangat diperlukan saat ini. Namun, ketika saatnya untuk bertindak, mereka mengubah pendirian mereka. Para Ahmadi harus berusaha dan memberikan banyak perhatian untuk berdoa bagi umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya supaya diselamatkan dari kehancuran.

Sejarah pemberontakan di Damaskus

Sekitar delapan puluh delapan tahun lalu (pada tahun 1925), Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu (Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, 1889-1965) menyampaikan khotbah Jumat mengenai situasi yang dihadapi oleh Syria saat itu. Beliau menyampaikan sejarah kuno Damaskus dan pentingnya di masa sebelum Islam. Kemudian Damaskus juga menjadi ibukota selama pemerintahan Muslim. Hadhrat Muslih Mau’ud bersabda bahwa pada masa itu suku Druze memulai pemberontakan untuk kemerdekaan dan didukung oleh umat Islam lainnya melawan pemerintahan Perancis.

Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda bahwa penguasa resmi di syria adalah Perancis walaupun Mufti juga memegang kekuasaan. Jika Mufti tak ingin sesuatu diterbitkan, Gubernur tak berdaya. Jamaah Ahmadiyah memiliki beberapa buku cetakan yang dilarang terbit oleh Mufti, dan ketika Gubernur didekati mengenai hal ini, ia mengatakan ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Setiap perbedaan politik cepat ditangani oleh pemerintahan Perancis. Dalam menanggapi pemberontakan, angkatan udara Perancis membombardir selama 57 jam, meluluhlantakkan bangunan-bangunan bersejarah dan menewaskan ribuan orang.

Hadhrat Masih Mau’ud (Imam Mahdi) ‘alaihis salaam (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, 1835-1908, yang juga adalah asyiq shadiq – pecinta sejati Nabi Muhammad s.a.w.) pernah mendapat wahyu: ‘Bencana Damaskus’. Wahyu ini disempurnakan oleh situasi tahun 1925, karena Damaskus sebelumnya tidak pernah mengalami kerusakan sebesar itu. Tapi, beberapa wahyu sempurna lebih dari sekali. Dalam bencana itu, yang berlangsung 57 jam atau lebih, menurut perkiraan secara hati-hati 7-8 ribu jiwa binasa.

Dampak kekacauan dan campur tangan asing

Sangat disesalkan bahwa meskipun bencana saat itu ditimbulkan oleh orang lain, bencana saat ini yang dimulai di Syria dua setengah tahun yang lalu itu ditimbulkan oleh umat Islam sendiri, dan semakin meningkat. Menurut perkiraan hati-hati sampai 100.000 jiwa telah tewas dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal. Seluruh area telah hancur oleh bom dan tidak ada tempat yang aman.

Pasukan pemerintah membunuh warga dan warga membunuh pasukan pemerintah. Alawi membunuh Sunni dan Sunni membunuh Alawi, dan mereka semua menyatakan membaca syahadat yang sama. Ekstrimis telah bergabung dengan pasukan pemberontak Sunni, yang berjuang atas nama ‘kebebasan’. Kerusakan yang ditimbulkan oleh ekstrimis ini untuk negara baru akan bisa diukur nanti.

Sayangnya musibah ini saat ini memperoleh bentuk yang berbahaya. Mereka tidak menyadari bahwa massa, atas nama kebebasan, dan pemerintah, atas nama menjaga perdamaian, keduanya berperang hebat satu dengan yang lain dan begitu dilemahkan oleh itu sehingga sekarang kekuatan-kekuatan dunia melakukan upaya besar untuk kepentingan pribadi mereka sendiri, atas nama menjaga perdamaian dan atas nama menegakkan kebebasan.

Upaya-upaya ini dapat menelan dunia dalam kehancuran. Beberapa kekuatan dunia serta beberapa pemerintah daerah mendukung pemerintah Syria. sementara pemerintah lainnya, termasuk sebagian besar kekuatan dunia, mendukung pasukan pemberontak. Keadaan ini telah menciptakan situasi yang paling berbahaya.

 

Ajaran Islam Jika Dua kelompok Bertikai

Yang disesalkan adalah bahwa negara-negara Muslim yang terlibat adalah mereka yang mengikuti ajaran, yang mengenainya Allah telah menyatakan bahwa ajarannya telah disempurnakan dan Allah telah memanggil umat Islam “خير أمة” ‘Khaira ummah’ (umat terbaik). Pekerjaan baik apa yang umat Muslim lakukan? Tidak ada lagi kehormatan dalam diri mereka, mereka mencari bantuan dari orang lain untuk membunuh orang mereka sendiri. Allah berfirman mengenai situasi semacam ini:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan jika dua kelompok orang mukmin berperang satu sama lain, damaikanlah diantara mereka, maka jika setelah itu salah satu dari mereka melampaui batas terhadap yang lain, perangilah kelompok yang melampaui batas sampai mereka kembali kepada perintah Allah. Kemudian jika ia kembali, damaikanlah diantara mereka dengan adil, dan berbuat adillah. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang adil’ ( 49:10 )

Standar keadilan telah ditetapkan begitu tinggi dalam ajaran ini sehingga Allah menyatakan dalam Al Qur’an: وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا

“…Dan janganlah permusuhan orang-orang yang mendorong kamu untuk bertindak kecuali dengan keadilan…” ( 5:9)

dan memang telah menyatakan :  هو أقرب للتقوى ‘…itu lebih dekat kepada ketakwaan…” (5:9)

Umat Muslim berulang kali diperintahkan untuk meraih ketakwaan. Sangat memalukan bahwa Presiden Israel malah memberikan nasihat yang seharusnya datang dari umat Muslim. Bahkan jika mereka tidak memikirkan apa yang telah dikatakan presiden Israel, begitu dia membuat saran kepada negara-negara Barat, dewan negara-negara Muslim seharusnya mengumumkan bahwa mereka akan menangani sendiri kekacauan di wilayah mereka, karena mereka mengikuti satu Tuhan dan satu Nabi s.a.w. dan mengikuti ajaran satu kitab dan menganggapnya sebagai pedoman mereka. Bahkan jika ada konflik di antara mereka, mereka akan menyelesaikannya berdasarkan ajaran mereka yang sempurna. Jika pemberontakan muncul di antara mereka, mereka mungkin mengambil bantuan teknis dari luar tetapi perencanaan dan tenaga kerja seharusnya mereka sendiri. Jika inilah pendirian mereka, tidak akan ada orang luar yang berani menantang mereka.

Motif pihak asing

Kepentingan apa yang dimiliki kekuatan-kekuatan lain di daerah-daerah yang ribuan mil jauhnya? Mereka tertarik pada kekayaan negara itu, atau untuk membuktikan superioritas mereka atas kekuatan lawan mereka begitu saja menundukkan negara-negara lemah. Bagaimanapun, itu adalah karena kelemahan negara-negara Muslim dan karena mereka meninggalkan ajaran mereka bahwa orang lain berani lancang menyatakan, seperti yang  dilakukan salah satu negara, bahwa bahkan jika PBB tidak mengizinkan, mereka akan menggunakan kekuatan senjata terhadap Syria karena itu adalah hak mereka. Alasan yang diberikan untuk ‘hak’ ini sangat kekanak-kanakan, dimana PBB tidak bisa mendikte kebijakan luar negeri mereka! bagaimana masalah kebijakan asing memasuki masalah di sini?

Ketika permusuhan begitu kuat orang dibutakan dan orang-orang yang tampaknya terpelajar mengatakan hal-hal bodoh, dan kita melihat ke mereka karena kebijaksanaan mereka! Tapi mereka mengatakan hal-hal bodoh. Duduk ribuan mil jauhnya, urusan apa yang mereka miliki dalam hal ini? Jika ini menjadi urusan seseorang, ini adalah urusan PBB karena negara tersebut termasuk dalam Piagam PBB. Tidak ada suatu negara memiliki pakta/perjanjian, atau urusan [yang relevan], atau dalam bahaya langsung akibat kekacauan negara itu. Dimana relevansinya kebijakan luar negeri di sini? Hadhrat Khalifatul Masih bersabda, beliau tidak memahami logika ini. Hal ini hanyalah kekeras kepalaan dan upaya untuk membuktikan superioritas mereka. Perdamaian dunia tidak ditegakkan dengan cara ini.

Prinsip untuk menegakkan perdamaian dunia

Untuk perdamaian dunia, keadilan harus ditegakkan, dimana ajaran indah Islam menyatakan:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا

“…dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk bertindak selain dengan keadilan …’

dan Hadhrat Khalifatul Masih telah berulang kali menarik perhatian para pemimpin dunia dengan mengacu ayat ini. Jika PBB bekerja berdasarkan prinsip ini, keadilan dapat ditegakkan. disini bukan masalah  kebijakan luar negeri satu negara!

Negara lain telah mengatakan bahwa mereka tidak akan mengirim pasukan darat ke Syria untuk membawa perdamaian, melainkan mereka akan menggunakan kekuatan udara mereka! Artinya, mereka akan mengubah kota dan negara menjadi reruntuhan seperti yang mereka lakukan sebelumnya, membunuh perempuan dan anak-anak tak berdosa, seperti di Irak dan Libya. Apa yang diperoleh di sana (Irak dan Libya) yang dapat diperoleh di sini? Kota berubah menjadi reruntuhan dan tetap tidak ada kedamaian di sana. Allah telah membuat perbandingan untuk mereka dari antara mereka sendiri.

Presiden Rusia (Vladimir Putin) kemarin menulis [di New York Times], bahwa melangkahi PBB dalam keputusan tersebut adalah tidak benar. Dia dengan jelas menulis bahwa tidak ada yang mau PBB bernasib seperti Liga Bangsa-Bangsa yang runtuh. Memang, dia benar.

Kondisi di Mesir

Pemerintah digulingkan di Mesir demi hak masyarakat (rakyat). Dikatakan bahwa pemerintah tidak membayar hak-hak (memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap) masyarakat dan juga menganiaya mereka. Memang benar bahwa sikap rezim Mesir sebelumnya adalah salah, namun setelah pemerintahan digulingkan kelompok ekstrimis berkuasa! Kekuatan dunia besar merasa khawatir. seorang reporter koran besar USA bertanya kepada Hadhrat Khalifatul Masih [selama kunjungan beliau baru-baru ini kesana] tentang perdamaian Mesir di masa depan.

Hudhur menjawab bahwa rezim itu telah diganti untuk menjaga pengaruh Barat sana, tapi itu terbukti sebagai asumsi yang salah. Orang-orang baru yang berkuasa tidak disukai oleh Barat, maupun rakyat Mesir. Oleh karena itu, sekali lagi akan terjadi pertumpahan darah setelah beberapa bulan. Hadhrat Khalifatul Masih mengatakan bahwa sungguh pertumpahan darah mulai lebih cepat dari yang beliau perkirakan !

Kegelisahan di negara-negara Muslim dapat timbul dari alasan apapun, bahkan keluhan sebenarnya dari massa. Tetapi ketika negara-negara Barat ikut campur secara salah, itu berakhir dalam kekacauan. Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa beliau telah menyampaikan beberapa khotbah pada awal tahun 2011 mengenai hal ini dan telah menjelaskan bahwa karena situasi negara-negara Muslim, apapun yang dilakukan kekuatan Barat atas nama perdamaian, baik terang-terangan maupun diam-diam, kerugian utamanya akan dialami umat Muslim, karena kekuatan-kekuatan ini tidak akan merugikan kepentingan mereka sendiri.

Ketika pertumpahan darah terjadi selama rezim Hosni Mubarak, kekuatan-kekuatan ini mendukung massa (rakyat) dan membantu menyingkirkan Mubarak. Ketika rezim berikutnya tidak memperhatikan kepentingan mereka [Barat], dan tentara berkuasa, dan pertumpahan darah terjadi lagi, tidak ada yang bersimpati dengan massa (yaitu massa pendukung Mursi) dan tidak ada upaya yang dilakukan dalam hal ini. Ini adalah politik bermuka dua Barat!

 

Kewajiban penguasa

Negara-negara Muslim harus menunjukkan rasa hormat, lebih-lebih lagi pada masa sekarang. Namun, ini hanya akan terjadi ketika ada ketakwaan dalam hati para penguasa serta massa, ketika, bersama dengan pendakwaan kecintaan kepada Rasulullah s.a.w., juga ada upaya untuk mengamalkan teladan beberkat beliau, ketika penguasa dan rakyat mereka merasakan keprihatinan Rasulullah s.a.w. dan mencoba dan mengikuti ajaran-ajarannya. Berikut ini adalah beberapa sabda Rasulullah s.a.w. yang menarik perhatian para penguasa serta masyarakat terhadap tanggung jawab mereka.

Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan Allah, Dia akan memberikan naungan untuk tujuh orang pada hari itu dan yang pertama adalah imam yang adil.[1]

Beliau juga bersabda bahwa pada hari kiamat yang paling dicintai dan paling dekat dengan Allah adalah pemimpin yang adil dan adil dan yang paling dibenci dan paling jauh dari Allah adalah penguasa yang tidak adil.[2]

Beliau bersabda bahwa ketika seseorang yang diberi wewenang dan tanggung jawab atas orang oleh Allah, lalu lalai dalam menjalankan dan memenuhi kewajibannya, mati, Tuhan akan mengharamkan surga baginya.[3]

Hadhrat ‘Aishah radhiyallahu ta’ala ‘anha mengatakan bahwa ia telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda di rumahnya, ‘Ya Allah siapapun di antara umatku dijadikan pemimpin dalam suatu hal dan dia keras terhadap umat, Engkau perlakukan juga dia dengan keras dan siapa diantara umatku dijadikan pemimpin dalam suatu hal dan lembut kepada umat, Engkau perlakukan juga dia dengan lembut.’[4]

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda perintah-perintah Allah ini adalah hal-hal yang harus direnungkan oleh para pembesar. Jika mereka ingin dicintai Allah mereka harus menghentikan ketidakadilan, jika mereka mengharapkan surga, maka mereka harus bekerja untuk kesejahteraan semua orang tanpa diskriminasi, dan Hadis terakhir , yang merupakan doa adalah sedemikian rupa sehingga akan membuat siapa pun yang memiliki keimanan gemetar. Semoga Allah memberikan pengertian kepada uamt Muslim dan semoga mereka merenungkan dan memahaminya.

Kewajiban Warga Masyarakat (Rakyat)

Rasulullah s.a.w. juga memerintahkan masyarakat mengenai tanggung jawab mereka. Beliau bersabda bahwa setelah beliau orang akan melihat bahwa hak-hak mereka dirampas dan orang lain diutamakan, selain itu orang-orang akan melihat hal-hal yang mereka akan anggap buruk. Beliau ditanya apa perintah beliau untuk waktu seperti itu. Beliau menjawab bahwa pada waktu seperti itu hak-hak para penguasa harus dibayar dan hak yang dimiliki seseorang hendaknya dimintakan kepada Allah. [5]

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda memang pemogokan dan pertumpahan darah tidak diperbolehkan, seseorang cukup meminta haknya pada Allah. Rasulullah s.a.w. pernah ditanya tentang nasihat beliau jika penguasa yang tidak adil berkuasa atas orang-orang, yang menuntut hak-hak mereka, tetapi tidak membayar hak masyarakat. Hudhur bersabda Ahmadi dari negeri Arab juga mengajukan pertanyaan ini kepada beliau (Hudhur). Si penanya mengajukan pertanyaan ini tiga kali sebelum Rasulullah s.a.w. menjawab dan beliau hanya bersabda, “Dalam keadaan seperti itu dengarkan para penguasa dan taati dia. Mereka akan bertanggung jawab atas tanggung jawab apapun yang telah diberikan kepada mereka dan kalian akan bertanggung jawab untuk tanggung jawab apapun yang telah diberikan kepada kalian.”[6]

‘Rasulullah s.a.w. juga meminta orang berjanji setelah mereka Bai’at bahwa mereka akan mematuhi Bai’at dalam setiap situasi, dalam kebahagiaan dan kesedihan, dalam kesulitan dan kemudahan dan bahkan ketika hak-hak mereka dirampas. Beliau juga mengambil janji bahwa mereka tidak akan membantah seseorang yang dijadikan pemimpin kecuali ia secara terbuka melakukan tindakan kufur, yang mengenainya ada perintah yang jelas dari Allah.[7]

Dalam sebuah hadis Qudsi Rasulullah menyampaikan bahwa Allah berfirman bahwa Dia telah mengharamkan ketidakadilan atas diri-Nya dan juga mengharamkannya untuk hamba-Nya, karena itu mereka tidak boleh kejam satu sama lain. [8]

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda jika seseorang ingin diselamatkan dari hisab Ilahi maka dia harus melaksanakan tugas dan kewajibannya dan menyerahkan masalah penguasa kepada Allah dan tetap sibuk dalam berdoa, dan hanya membantah penguasa jika ia jelas bertentangan dengan syariat. Memang, perintah ini bukan tentang jenis fatwa kufur yang diberikan di Pakistan terhadap Ahmadiyah, yang diperintahkan untuk tidak membaca Kalimah syahadat, tidak mengerjakan shalat, tidak mengucapkan salam. Kita adalah Muslim dan mereka meminta kita untuk melanggar syariat, kita tidak akan mengikuti ini. Jika tidak, setiap hukum negara yang lain harus dipatuhi.

Larangan bertindak kejam

Ringkasan dari seluruh ajaran tersebut adalah Hadis terakhir yang menyatakan jangan bertindak kejam satu sama lain. Ini harus diikuti oleh penguasa juga masyarakat. Jika mereka tidak mengikutinya, mereka akan mundur ke zaman ‘kerusakan telah nampak di darat dan laut…’ (30:42) dan sesuai dengan nubuatan Al-Qur’an dan Rasulullah s.a.w., saat seperti itu akan datang dalam umat Muslim selama masa Hadhrat Masih Mau’ud.

Penguasa Muslim dan masyarakat perlu merenungkan ini dan mereka perlu mencari orang yang diutus oleh Allah. Jika rakyat Syria pada khususnya, dan umat Islam dan pada umumnya merenungkan wahyu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tentang “بلاء دمشق” ‘Balaa-e-Dimashq’ ‘Bencana Damaskus’ mereka akan menyadari bahwa beliau diutus oleh Allah dan mereka harus memperhatikan beliau. Jika tidak, di zaman ini tidak ada orang lain selain beliau untuk membimbing orang. Karena sikap pemerintah, organisasi ekstremis atau pemerintah yang dibentuk oleh organisasi-organisasi ekstremis akan mendapatkan keuntungan dari situasi tersebut, dan pembunuhan masyarakat awam dan kekacauan umum yang ditimbulkannya melampaui pemikiran. Semoga Allah memberikan akal kepada penguasa Muslim dan masyarakat supaya mereka dapat memahami ajaran, وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى ‘…Dan saling tolonglah dalam ketakwaan dan kebaikan…” ( 5:3)

Semoga mereka menyebarkan cinta, semoga mereka memenangkan hati. Pemerintahan tidak dapat dijalankan tanpa memenangkan hati dan tanpa memberikan kepada masyarakat hak-hak mereka. Setiap pemimpin Muslim perlu memahami esensi ini. Mereka harus bercermin terhadap sejarah mereka sendiri bahwa bagaimana masyarakat Kristen berdoa supaya pemerintahan Muslim kembali, menggantikan kekuasaan Kristen, dan di sini kita melihat situasi di mana Muslim membunuh Muslim, bukanya menjadi gambaran “رحماء بينهم” ‘…berkasih sayang di antara mereka… ” ( 48 : 30 ). Sementara itu umat Muslim yang melarikan diri ke negara-negara Kristen untuk mengungsi ketempat yang damai, untuk mendapatkan keadilan dan hidup dengan bebas.

Tugas para Ahmadi

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda semoga pesan kita ini mencapai para pemimpin Muslim dan juga mencapai negara-negara Barat dan negara-negara besar lainnya. Seperti disebutkan sebelumnya, Hadhrat Khalifatul Masih telah menyampaikan pesan ini melalui berbagai sumber, bahwa bukannya tidak mungkin bahwa tindakan terhadap Syria akan menelan seluruh dunia. Karena tuntutan kesetiaan kepada negaranya setiap Ahmadi yang tinggal di setiap negara di dunia harus memperingatkan para politisi dari negaranya terhadap bahaya ini.

Semoga Tuhan memberi taufik kepada dunia untuk menerima kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan memberi taufik kepada para penguasa dan masyarakat untuk memenuhi kewajiban mereka sehingga mereka dapat menghentikan perang saudara dan diselamatkan dari kehancuran. Semoga Tuhan juga membuka mata para pemimpin Eropa dan Barat sehingga mereka dapat bekerja dengan adil dan jujur dan menghindari ketidakadilan, dan memberikan hak-hak negara terkecil sekalipun, dan tidak membantu siapa pun untuk kepentingan pribadi.

Semoga Tuhan menyelamatkan anggota Jemaat kita dari keburukan keadaan ini! Banyak Ahmadi yang secara khusus terpengaruh di Syria. Allah telah menurunkan wahyu dengan peringatan tentang Syria dalam ‘Bencana Damaskus’, semoga Dia juga segera menyempurnakan kabar suka wahyu lain dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tentang Syria, “يدعون لك أبدال الشام وعباد الله من العرب” ‘Yad’uuna laka abdalusy Syaami wa ibaadullahi minal ‘Arab.’ – “Abdal (orang-orang suci) dari Syria dan para hamba Allah dari antara orang-orang Arab memohon untuk engkau.”[9]

Semoga seluruh dunia Arab segera bergabung dengan Masih Muhammadi sehingga kegelisahan dunia Arab dimana dunia telah menamainya ‘Arab‘s Spring’ (Musim Semi Arab) menjadi musim semi kebaikan rohaniah lebih dari apapun yang duniawi!

Semoga orang-orang ini menjadi orang yang berdoa untuk Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan memiliki hubungan dengan beliau dalam menyebarkan ajaran damai Islam di dunia.

Semoga kita juga mendapat taufik untuk memahami serta memenuhi tanggung jawab kita! Semoga kita menyerap rahmat Allah dan selalu menunjukkan kepada dunia arah kebenaran dan menegakkan perdamaian dan menyebarkan pesan ini. Semoga Allah melindungi dunia dari kengerian dan kehancuran perang!

Penerjemah               : Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Editor                         : Dildaar Ahmad, Editor Khotbah Jumat Jemaat Indonesia

Referensi                    : www.alislam.org

[1] Shahih Bukhari, Kitab al-Adzan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَة عَنْ النَّبِيِّ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ (أولهم) الْإِمَامُ الْعَادِلُ. (البخاري، كتاب الأذان)

[2] Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Ahkam

وعَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ. (الترمذي، أبواب الأحكام)

[3] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam

عن رَسُول اللَّه: مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ. (البخاري، كتاب الأحكام)

[4] Musnad Imam Ahmad

وورد في رواية أن أحدًا سأل عائشة عَنْ شَيْءٍ فَقَالَتْ أُخْبِرُكَ بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ  يَقُولُ فِي بَيْتِي هَذَا (وهذا نوع من الدعاء) اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ. (مسند أحمد، باقي مسند الأنصار)

[5] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Fitan (tentang fitnah-fitnah)

عن زَيْد بْن وَهْبٍ سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ قَالَ: قَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ: إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا، قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَدُّوا إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللهَ حَقَّكُمْ. (البخاري، كتاب الفتن)

[6] Shahih Muslim, Kitab al-Imarah

إن أحد الصحابة سأل النبي: أَرَأَيْتَ إِنْ قَامَتْ عَلَيْنَا أُمَرَاءُ يَسْأَلُونَا حَقَّهُمْ وَيَمْنَعُونَا حَقَّنَا فَمَا تَأْمُرُنَا فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ ثُمَّ سَأَلَهُ فِي الثَّانِيَةِ أَوْ فِي الثَّالِثَةِ فَجَذَبَهُ الأَشْعَثُ بْنُ قَيْسٍ وَقَالَ اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ مَا حُمِّلُوا وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ. (مسلم كتاب الإمارة)

[7] Shahih al-Bukhari, Kitabul Fitan

عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ: دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ قُلْنَا أَصْلَحَكَ اللهُ، حَدِّثْ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِن النَّبِيِّ ، قَالَ: دَعَانَا النَّبِيُّ  فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لا نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إِلا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِن اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ. (البخاري، كتاب الفتن

[8] Shahih Muslim, Kitab al-Birri wash shilah

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ فِيمَا رَوَى عَن اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ: يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا. (مسلم، كتاب البر والصلة).

[9] Tadhkirah, hal. 160, edisi 2009