Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Kunci Perdamaian dan Harmoni

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

23 September 2016 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Rasulullah saw pada suatu kesempatan bersabda mengenai tanda mu’min hakiki (orang beriman yang sejati) yaitu, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ‘Laa yu-minu ahadukum hatta yuhibbu li-akhihi ma yuhibbu li-nafsihi.’ – “Tidak akan beriman setiap dari kalian hingga kalian menyukai bagi saudaranya apa yang kalian sukai terjadi bagi diri kalian sendiri.”[1] Ini adalah prinsip yang membimbing guna meletakkan dasar bagi kecintaan, kerukunan (harmoni) dan perdamaian di dunia pada semua tingkatan, mulai dari tingkat rumah tangga hingga hubungan-hubungan antar bangsa di tingkat internasional. Prinsip tersebut juga menjauhkan pertikaian, menciptakan kelembutan di hati dan mengarahkan pada penunaian kewajiban antara satu dengan yang lain.

Di berbagai kesempatan saya telah menyampaikan ajaran ini di depan mereka yang bukan Muslim. Mereka sangat terkesan. Namun, tujuan kita bukan mengabarkan kepada orang-orang perihal sebuah ajaran indah supaya mereka berkesan lalu cukup itu saja. Melainkan, tujuan kita ialah mengokohkan dunia dengan keindahan ajaran ini dan seluruh ajaran Islam melalui perbuatan kita. Hal yang mungkin, orang selain Ahmadi menanyakan, “Ajaran ini begitu indah tetapi berapa orang diantara kalian (para Ahmadi) yang mengamalkannya dan tidak menampakkan keakuan di tiap urusan saat kami uji?”

Keindahan suatu ajaran akan tampak dengan sendirinya ketika seseorang yang mengatakannya memperlihatkannya melalui perbuatannya. Orang-orang takkan mengenali keistimewaan kita yang khas selama perbuatan kita tidak sesuai dengan apa yang kita nyatakan. Orang-orang tidak hanya merasa puas dengan mendengarkan nasehat saja tapi mereka bahkan mengamati amal perbuatan kita juga.

Ketika dalam perjalanan di Jerman, dalam khotbah Jumat terakhir, saya juga menyampaikan tentang seorang kepala Distrik yang berkeberatan atas sebuah sikap yang mereka anggap tidak baik (menyakiti) terhadap kaum wanita yaitu tidak menjabat tangan mereka. Ketika saya telah memberikan jawaban terperinci mengenai hal itu, maka ada seseorang yang berkomentar, “Memang sangat benar setiap orang berhak untuk melakukan apa yang digariskan oleh agama atau tradisinya selama itu tidak merugikan negara atau masyarakat luas. Tetapi, ini adalah yang dinyatakan oleh Khalifah kalian saja. Kenyataannya akan diketahui ketika kami melihat apakah para muda/i Ahmadi atau mayoritas dari kalian mengamalkan hal ini (penjelasan Khalifah) atau tidak.” Jadi, ketika kita bicara mengenai akhlak mulia berkaitan dengan perintah-perintah agama, orang lain juga akan memperhatikan yang kita lakukan juga. Oleh karena itu, ketika kita berbicara mengenai perilaku akhlak yang luhur merujuk pada sebuah perintah agama, orang selain kita mengamati amal perbuatan kita juga.

Tidak ada yang dapat menyangkal sabda Baginda Nabi Muhammad saw tentang mendirikan akhlak mulia oleh orang-orang yang beriman yaitu, لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ ‘Laa yu-minu ahadukum..’ “Kalian takkan menjadi mu’min hakiki selama tidak menunjukkan akhlak yang tinggi dan tolok ukur dari rasa dan empati kalian tidak meningkat antara satu dengan yang lain. Apakah tolok ukur yang dimaksud? Itu adalah حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ hatta yuhibbu li-akhihi ma yuhibbu li-nafsihi.’ – ‘…sehingga apa yang engkau sukai untuk dirimu, sukailah untuk orang lain juga.’”

Oleh karena itu, ketika kita berjuang keras tanpa henti untuk memperoleh keadilan bagi diri kita sendiri, saat itu juga kita menerapkan tolok ukur yang sama dalam memberikan hak bagi orang lain. Jadi, ketika kita gelisah untuk mendapatkan hak-hak kita, maka kita juga harus gelisah jika hak-hak orang lain belum kita berikan.

Ketika kita melakukan kesalahan, kita ingin dimaafkan, tidak ingin dihakimi dan tidak ingin dihukum. Maka, ketika orang lain melakukan kesalahan yang sama, selama ia tidak melakukan itu berulang kali dan menjadi kebiasaannya, maka kita harus berperilaku dengan perlakuan yang sama seperti yang diperuntukkan bagi diri kita sendiri dan memaafkan orang tersebut. Adapun jika ia melakukan kesalahan (pelanggaran atau kejahatan) yang menentang masyarakat luas ataupun kepentingan nasional, maka hal ini merupakan kejahatan melawan negara – dan karenanya yang memutuskan perkara tersebut adalah institusi (lembaga Negara), bukan pribadi.

Yang ingin saya tekankan adalah, dalam keseharian urusan kita di masyarakat, apakah kita memberikan hak yang sama kepada orang lain sebagaimana kita memberikan kepada diri kita atau tidak? Atau mempunyai pemikiran yang demikian atau tidak. Rumah atau keluarga inti adalah lingkup terkecil dari perkara-perkara ini. Lantas lingkup yang lebih luas adalah teman-teman, kenalan, saudara dan kerabat lainnya. Ketika pemikiran ini ditanamkan dalam lingkup lebih kecil, dalam lingkaran yang terbatas, maka pemikiran yang sama akan menembus dan terserap pada lingkup masyarakat yang lebih luas lagi. Apabila yangg demikian terjadi maka tidak akan ada lagi sifat egois. Bukannya demikian, malahan akan ada lebih banyak diskusi mengenai memberikan hak-hak, kecenderungan memberikan maaf akan meningkat dan tren menghukum orang lain akan berkurang.

Dalam Alquran, Allah telah menekankan untuk mengajarkan kecenderungan memaafkan bersama dengan kesadaran akan hak hak dan kebutuhan-kebutuhan yang terlihat nyata. Allah berfirman dalam Al-Quran, الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ “Orang yang beriman adalah orang yang menginfakkan harta bendanya baik dalam keadaan sempit maupun dalam keadaan lapang, menahan marah, mema’afkan orang lain. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (Surah Ali Imran, 3:135)

Dalam ayat ini, pertama-tama perhatian kita ditarik pada membelanjakan harta untuk memberikan hak-hak bagi orang-orang yang membutuhkan. Muhsin (pelaku kebaikan) adalah orang yang menolong orang-orang lain, melakukan hal-hal mulia, dan memelihara ketakwaan. Orang yang memberikan manfaat bagi orang lain demi meraih ridha Allah dan dengan mengikuti ketakwaan benar-benar tidak egois dalam memberikan hak-hak pada ciptaan Allah. Ia membelanjakan harta dengan terang-terangan dan dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan ridha Allah. Ketika kondisi ini tercipta pada seseorang, orang tersebut tidak menunjukkan keegoisan, tidak mengharapkan hal buruk untuk saudaranya, dan orang-orang yang demikian memulai kemajuan ruhani dan masuk dalam golongan yang dicintai dan diridhai Allah.

Kemudian Allah juga berfirman bahwa tanda lain mereka yang berlaku baik adalah mengendalikan emosi mereka. Mereka menahan amarah ketika adalah wajar untuk marah, yang dapat dilakukan setelah kemudian diikuti dengan memaafkan. Bukanlah hal yang biasa atau sepele untuk menahan setiap jenis amarah dan menyingkirkan keinginan untuk balas dendam dari dalam hati. Merupakan hal yang luar biasa untuk tidak hanya melawan rasa amarah, namun juga untuk berbuat baik kepada orang yang berbuat zalim. Allah ingin melihat hal ini berkembang di dalam diri orang-orang yang beriman.

Ada sebuah peristiwa terkait Hadhrat Imam Hasan ibn Ali bin Abi Thalib r.anhuma bahwa suatu kali beliau marah sekali atas kesalahan budaknya dan memutuskan hendak menghukumnya. Budaknya itu mengatakan, يا مولاي ‘Wahai Tuanku!’, وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَdan orang-orang yang menahan amarahnya..’ Atas hal itu, Hadhrat Hasan menurunkan tangannya atau tidak mengangkat tangannya. Menjadi berani karena hal itu, budaknya tersebut melanjutkan ayat itu, وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ…dan memaafkan (kesalahan) orang…’ Hadhrat Hasan menjawab, قد عفوت عنك ‘Saya telah memaafkan engkau.’ Lalu budak itu berkata, وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ…Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan…” mengakhiri ayat 134 dari surat Ali Imran yang dibacanya. Maka, Hadhrat Hasan ra.anhuma pun berkata, أنت حر لوجه الله تعالى ، ولك ضعف ما كنت أعطيك “Kini engkau saya merdekakan karena Allah. Bagi engkau dua kali lipat dari apa-apa yang pernah saya berikan.”[2]

Mereka yang ingin dikasihi oleh Tuhan akan melaksanakan takwa, dimana mereka tidak hanya memaafkan yang berbuat zalim, namun juga berbuat ihsaan kepada orang-orang zalim tersebut. Mengacu kepada ayat Al Quran di atas, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dalam sebuah kesempatan: “Kita harus ingat bahwa ada permusuhan yang sangat sengit dan berbahaya antara aql (intelektualitas, kecerdasan) dan kemarahan. Ketika nafsu dan amarah menguasai seseorang maka intelektualitasnya tidak akan bisa benar.

Namun, orang yang bersabar dan menunjukan teladan kesabaran dan kelunakan hatinya, akan dianugerahi cahaya cemerlang yang kemudian menciptakan cahaya baru dalam kekuatan kecerdasan (intelektualitas) dan daya pikirnya. Kemudian cahaya tersebut terjaga tetap terang dan ia dihasilkan dari cahaya. Sedangkan, dalam kondisi amarah dan nafsu akan membuat gelap hati dan pikiran, selanjutnya, kegelapan ini akan mengarah pada kegelapan yang lain lagi.[3]

Selanjutnya beliau as bersabda, “Ingatlah! Orang yang dalam kondisi keras dan jatuh kedalam kemarahan, dari pembicaraannya tidak akan keluar ma’rifat (wawasan ilmu pengetahuan) dan hikmat kebijaksanaan. Orang yang hatinya cepat marah akan kehilangan hal-hal yang berhikmat dibandingkan dengan lawannya. Lidah orang yang biasa berkata-kata kotor dan liar tanpa kendali akan kehilangan dan tidak mendapat bagian dari sumber mata air lathaa-if (kehalusan dan kelembutan). (Jika dari mulut seseorang terus saja keluar kata-kata kotor, vulgar dan caci-maki dan tidak bisa menahan diri sendiri maka ia akan kehilangan ucapan kebaikan, hal-hal baik dan yang disenangi oleh Allah Ta’ala. Orang seperti itu terus saja dalam kevulgaran)

Kemarahan dan hikmat kebijaksanaan tidak bisa tinggal bersama. Orang yang dalam keadaan maghdhuubul ghaddhab (cepat marah) itu punya akal yang tumpul dan pemahamannya tidak tepat. (Dalam kondisi marah maka kapabilitas dan kekuatan berpikir seseorang menjadi luntur dan ia bersifat kekanak-kanakan atau berpikir yang tidak-tidak.) Orang yang cepat marah tidak akan meraih kemenangan dan pertolongan dalam kesempatan apa saja. Kemarahan itu setengah kegilaan. Ketika kemarahan itu memuncak maka akan menjadi sempurnalah kegilaannya.[4]

Ajaran Islam penuh dengan kebijaksanaan. Bahkan ketika seseorang berlawanan dengan seseorang lainnya, dan ia tinggal memberikan hukuman, keputusannya dicapai dengan pemikiran yang mendalam dan tidak dengan gejolak emosi yang menguasai diri. Pada beberapa kesempatan, seseorang memang harus tegas. Namun melakukannya dengan rasa amarah adalah tidak benar. Islam memiliki konsep hukuman, namun ada prinsip-prinsip dan regulasinya. Menghukum dalam keadaan marah akan jauh dari kebijaksanaan dan keadilan. Untuk alasan tersebut, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Jika engkau menghukum dalam gejolak amarah, maka hati engkau akan mengeras. Dan dengan hati yang keras, kata-kata bijak dan pemahaman yang mendalam tidak dapat terucapkan dari mulut. Alih-alih demikian, pemikiran malah menjadi tumpul.” Karena itulah, Allah memerintahkan untuk menahan amarah, tetap dalam kepala dingin dan baru kemudian memutuskan untuk menghukum atau tidak, kalau memang engkau memiliki wewenang untuk melakukan hal tersebut. Tidak semua orang memiliki wewenang untuk menghukum.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa kita harus memiliki sifat sabar dan meningkatkan standar kesabaran. Mereka yang sabar menjadi tercerahkan dan juga menerima petunjuk dari Allah. Jika seorang mu’min menggunakan kebijakan untuk memutuskan sesuatu, maka tidak akan ada ketergesa-gesaan dalam pengambilan keputusannya, meskipun perkaranya adalah hal yang tidak disukai. Alih alih, dilakukanlah pemikiran yang mendalam dan kesabaran. Segala rincian juga aspek baik dan buruknya dipertimbangkan.

Jelas bahwa tidak semua orang mempunyai wewenang menghukum. Zaman sekarang ini, menghukum adalah pekerjaan institusi yang bersangkutan. Secara individu, orang mungkin dapat memaafkan mereka yang berbuat zalim, namun untuk hukuman, bantuan dari hukum atau institusi terkait dibutuhkan. Jika hal ini terus diingat, pertengkaran karena hal kecil, dan juga habisnya uang dan waktu dalam proses pengadilan tidak akan terjadi. Jika pengadilan memaafkan yang berbuat zalim, lawannya akan murka terhadap putusan tersebut dan membawa perkaranya ke pengadilan yang lebih tinggi meskipun perkaranya tergolong sepele dan tidak serius.

Beberapa orang Ahmadi juga berkeras untuk membawa perkara ke pengadilan bukannya keputusan arbitrase yang diambil dalam Jemaat oleh Dewan Qadha. Mereka bahkan menderita kerugian (dalam hal uang dan waktu) untuk pengadilan yang tidak perlu karena perkara-perkara tersebut. Allah Ta’ala, setelah meminta kita untuk menahan amarah tidak menyatakan agar kita hanya terus-menerus memaafkan saja dengan tanpa sesuatu hikmah dan tidak mengampuni tanpa alasan. Kita diminta untuk memutuskan setelah menjelaskan kebijaksanaan di balik hukuman maupun maaf yang diberikan.

Allah Ta’ala berfirman, وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ  “Dan pembalasan terhadap suatu pencederaan adalah pencederaan yang setimpal dengannya, tetapi barang siapa yang memaafkan dan memperbaiki, maka ganjarannya ada pada Allah. Sesungguhnya, Dia tidak menyukai orang-orang aniaya.” [Asy-Syura, 42:41] Jadi intinya ialah untuk membuat pelaku kejahatan sadar akan kejahatannya dan berubah menjadi orang yang lebih baik, bukan melakukan pembalasan dan tidak menyeretnya ke pengadilan yang membuat kedua pihak membuang waktu dan uang. Dan, mungkin saja timbul pemikiran buruk terhadap kepengurusan Jemaat jika perkaranya diangkat [diajukan ke pengadilan]. Jika maaf bisa merubah orang, maka lebih baik memaafkan. Namun, jika hukuman dirasa perlu untuk membawa perubahan baik pada mereka, maka kebijaksanaan menuntut agar memberikan hukuman dan perkara tersebut tidak diragukan lagi akan dibawa pada institusi yang bersangkutan.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda tentang ajaran penuh hikmat ini di berbagai kesempatan. Beliau bersabda dalam Tiryaqul Qulub mengomentari ayat yang tadi ditilawatkan, “Menurut hukum keadilan, setiap perbuatan jahat ada balasan yang setimpal. Namun jika orang yang menjadi korban kemudian memaafkan orang yang bersalah dengan catatan yang bersalah akan berubah menjadi lebih baik jika dimaafkan dan bukan malah justru terdorong untuk mengulangi perbuatan salahnya, maka orang yang memaafkan akan mendapatkan pahala yang besar dari Tuhan.”[5]

Juga dalam buku Barahin Ahmadiyah, beliau as bersabda bahwa keadilan menuntut yang bersalah menerima hukuman yang setimpal. Namun jika maaf diberikan dengan niat untuk membawa perubahan diri yang lebih baik dan tidak menyebabkan hasil yang buruk, Allah berfirman bahwa orang yang memaafkan tersebut akan mendapatkan ganjaran pahala sebesar yang Dia inginkan. [6]

Memaafkan dan mengampuni harus dilakukan ketika sudah jelas bahwa orang yang bersalah tersebut tidak akan mengulangi kesalahannya. Beberapa kriminal kambuhan yang melakukan kejahatan sebagai bagian dari kebiasaannya juga meminta maaf setiap kali mereka melakukan kejahatan. Untuk orang orang seperti itu, hukuman justru diperlukan. Hukuman yang dikenakan haruslah mengarah pada perubahan diri menjadi lebih baik. Menurut Al-Quran [Surah Asy-Syura, 42:41], tidaklah terpuji untuk mengenakan hukuman untuk seluruh perkara maupun memberikan maaf untuk semua kasus dan perkara tanpa terkecuali. Tergantung dari keadaan tiap kasus. Merupakan maksud Al-Quran bahwa balasan (hukuman) ataupun maaf diberikan tergantung dari situasi dan kebijaksanaan yang diambil.

Artinya, maksud dari memaafkan dan menghukum bukanlah yang tanpa kendali dan pembatas, melainkan ada peraturan-peraturan dan batasan-batasan dan itu harus kuat berdasarkan itu lantas dapat membuat faedah sempurna tercapai. Inilah hikmah berharga dari memaafkan dan menghukum menurut Islam mengharuskan kita untuk terus ingat bahwa yang dituju adalah perubahan dalam diri yang bersangkutan untuk menjadi lebih baik.

Sampai saat ini kita perhatikan setiap kejahatan dihukum dan para kriminal dijebloskan ke penjara agar terjadi perubahan dalam diri mereka. Namun, analisa dari penelitian-penelitian yang dilakukan di negara-negara maju mulai menulis bahwa para kriminal justru melakukan lebih banyak kejahatan setelah selesai masa hukuman mereka di penjara. Penyebabnya adalah karena baik yang menghukum maupun para kriminal tersebut bertindak sesuai hukum manusia, dan tidak ada satu pun dari mereka yang takut kepada Tuhan dalam hati dan pikiran mereka.

Bagaimanapun, ajaran secara umum yang diberitahukan kepada para mu’min ialah untuk menanamkan kebiasaan memaafkan kekurangan-kekurangan, dan keputusan yang dia jatuhkan terhadap orang yang berbuat kesalahan agar didasarkan pada jenis dan tingkat keberatan kejahatan itu sendiri, juga keadaan dan perilaku pelakunya pada masa sebelumnya.

Allah Ta’ala tidak ingin kalian menutup atas kesalahan seseorang dan terus-menerus memberikan maaf kepadanya. Demikian pula, Dia tidak ingin kalian membuat keputusan hukuman dalam kondisi terdapat amarah. Hal demikian karena pengampunan kepada tiap pelaku kejahatan dan pendosa akan mengarah pada kerusakan dalam masyarakat. Sebagaimana pula senantiasa membabi buta tanpa timbang periksa untuk terus-menerus memberikan hukuman kepada pelaku kejahatan dan pendosa akan mengembangbiakan perselisihan dan dendam di hati, menciptakan kebencian dan rasa muak dalam masyarakat serta gangguan kekacauan terhadap perdamaian akan terus-menerus menyebar luas.

Ketika kita menelaah suasana sosial kita, kita dapati bahwa seseorang yang haknya diperlakukan dengan salah menuntut keras supaya para kriminal dihukum sehingga menjadi contoh pelajaran bagi yang lain; dan agar mereka tidak melakukan kejahatan yang sama lagi. Sementara pada saat yang sama, para pelaku kejahatan dan kesalahan mengatakan bahwa seharusnya mereka diampuni dan dimaafkan.

Zaman sekarang, banyak organisasi Hak Asasi Manusia yang terbentuk. Mereka terlibat dalam banyak perbuatan-perbuatan baik. Pada waktu yang sama, mereka secara berlebihan juga terlibat dalam usaha untuk mendapatkan pengampunan bagi setiap pelaku kejahatan. Begitu juga, para pelaku kejahatan itu yang sedikit tahu tentang perintah-perintah Tuhan, menuntut untuk dimaafkan karena Tuhan juga memaafkan. Terlepas dari manfaatnya bagi masyarakat, mereka menuntut semua orang harus diampuni baik secara pribadi maupun oleh masyarakat. Orang-orang yang terlibat secara berlebihan dalam perkara-perkara seperti ini, adalah para pelaku kejahatan, atau yang ingin keputusannya menguntungkan mereka – dan bukan berdasarkan keadilan. Di satu segi, mereka melakukan kejahatan namun di segi lain ingin terbebas dari hukuman dengan secara tidak sah menyitir perintah-perintah Tuhan. Orang-orang yang demikian tidak pernah memaafkan orang lain ketika kekejaman dilakukan kepada mereka. Mereka mementingkan diri mereka sendiri karena membengkokkan aturan-aturan dan melupakan prinsip “menyukai sesuatu untuk orang lain sebagaimana menyukainya untuk diri mereka sendiri”.

Islam menolak apa yang dikatakan oleh orang-orang egois ini. Islam memutuskan dengan dasar keadilan paripurna yaitu jika perubahan diri (menjadi lebih baik) akan dihasilkan dari memaafkan, maka memberikan maaf adalah lebih baik. Dan jika jelas bahwa tidak ada cara selain memberikan hukuman maka pemberian hukuman perlu dilakukan. Ini adalah filosofi ajaran Islam.

Sekarang, kita lihat seberapa jauh Nabi Muhammad saw memberikan maaf dan ampunan dan bagaimana beliau menasihati para Sahabat (ra) mengenai hal ini. Contoh yang telah saya sampaikan ialah Hadhrat Imam Hasan ra yang memaafkan pekerja beliau tapi itu kesalahan kecil. Kita bisa amati puncak tertinggi sifat pemberian maaf ada pada Hadhrat RasuluLlah saw. Beliau memaafkan orang-orang yang bahkan ketika keputusan telah diambil untuk menghukum mereka. Beliau tidak memaafkan mereka yang melakukan kejahatan pada orang lain, namun beliau memaafkan mereka yang melakukan kesalahan kepada beliau saw dan yang bahkan membunuh anak anak beliau saw – karena para pelakunya sudah berubah menjadi orang yang lebih baik.

Perhatikanlah sebuah contoh dalam sebuah riwayat, [seorang penentang Nabi saw bernama] هبار بن الأسود Habar bin Al-Aswad telah menyerang putri Nabi saw, Hadhrat Zainab radhiyAllahu Ta’ala ‘anha dengan tombak saat hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu Hadhrat Zainab ra tengah hamil. Akibat serangan Habar ini, kandungan Hadhrat Zainab ra mengalami keguguran. Akhirnya luka inilah yang membuatnya wafat. Atas kesalahannya itu Rasulullah saw memutuskan untuk membunuhnya.

Pada saat penaklukan kota Mekkah oleh kaum Muslimin, dia (Habar bin Al-Aswad) lari lalu bersembunyi entah dimana, tetapi tatkala Rasulullah saw kembali ke Madinah, Habar hadir di hadapan Rasulullah saw dan sambil memohon belas kasih berkata, “Sebelumnya saya telah lari karena takut. Dosa saya sudah besar. Tetapi pikiran akan sifat pemaaf Tuan-lah yang membawa saya kembali (datang) ke sini. Meski saya sudah layak untuk dihukum. Wahai Nabi Allah, kami tadinya berada dalam kejahilan dan kemusyrikan kemudian dengan perantaraan Tuan, Allah telah memberikan petunjuk kepada kami dan menghindarkan kami dari kehancuran. Saya mengakui pelanggaran-pelanggaran saya, maka maafkanlah kejahilan saya.”

Maka dari itu Rasulullah saw memaafkan pembunuh anak perempuan beliau itu dan beliau bersabda, “Hai Habar, pergilah, saya telah memaafkan engkau. Ini merupakan kebaikan Allah bahwa Dia telah menganugerahkan taufik [kepada engkau] untuk masuk Islam. Dan memberikan taufik untuk bertaubat hakiki.”[7] Ketika beliau melihat perubahan telah terjadi untuk menjadi orang yang lebih baik, beliau memaafkan orang yang bahkan pembunuh anak perempuan beliau saw sendiri.

Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah saw tidak pernah melakukan pembalasan terhadap perlakuan keterlaluan seseorang yang ditujukan pada beliau secara pribadi.”[8]

Beliau saw memaafkan wanita Yahudi yang memberikan beliau makanan yang diracun meskipun akibat buruk yang terjadi kepada para Sahabat.[9]

Pada saat perang Uhud, Hindun istri Abu Sufyan (keduanya penentang keras Nabi saw) melakukan kekejaman yang berlebihan. Ia merusak wajah paman Nabi saw, Hadhrat Hamzah ra dengan memotong telinga dan hidung beliau. Hindun juga memotong anggota tubuhnya yang lain lalu mengeluarkan hati beliau dari jenazahnya kemudian mengunyahnya [namun dimuntahkannya, tidak ditelannya]. Sebaliknya, setelah Fatah Makkah (ditaklukannya Makkah oleh umat Muslim), Hind menghadiri majelis Hadhrat Rasulullah saw dengan wajah yang ditutupi. Ia mengambil baiat dan menjadi Muslim.

Hadhrat Rasulullah saw mengenali suaranya lalu bertanya apakah ia adalah istri dari Abu Sufyan. Ia membenarkannya namun ia telah menerima Islam dengan hati yang tulus kemudian bertanya balik bahwa apakah ia dapat dimaafkan atas apa yang telah terjadi di masa lalu.

Hadhrat Rasulullah saw pun memaafkan Hindun, dan pemaafan serta belas kasih beliau sedemikian rupa pengaruhnya pada diri Hindun sehingga terjadi perubahan total pada dirinya. Sekembalinya ke rumah dia memecahkan semua berhala. Pada malam itulah setelah baiat dia menyiapkan makan untuk Rasulullah saw dan secara khusus dia menyuruh menyembelih dua ekor kambing lalu dipanggang dan mengirimkannya kepada Hudhur saw dan bersama itu pula dia juga berkata bahwa “Dewasa ini hewan ternak kami masih sedikit, karena itu saya mengirim hadiah yang sangat sederhana”, maka Hudhur saw mendoakannya. Perhatikanlah sikap pemaaf Hudhur ini, bahwa Hudhur tidak hanya memaafkan bahkan beliau juga mendoakannya, “بارك الله لكم في غنمكم، وأكثر ولادتها.” ‘Semoga Allah memberkati hewan gembalaan kalian dan menambahkan anak-anak mereka.” Karena itu, akibat doa itu banyak sekali keberkatannya dan berkat doa itu kambing-kambingnya sampai tidak terurus.[10]

Abdullah bin Ubay bin Salul, yang dikenal semua orang sebagai pemimpin kaum munafik dimaafkan oleh Rasulullah saw meskipun banyaknya kejahatan yang telah ia lakukan. Dan Rasulullah pun melaksanakan shalat Jenazah baginya meskipun Hadhrat Umar ra telah berkali kali meminta untuk tidak dilakukan sholat jenazah bagi Abdullah bin Ubay bin Salul.[11]

Demikian pula riwayat lain seorang penyair ternama, Ka’ab bin Zuhair yang sambil menyerang kehormatan perempuan-perempuan Islam, suka menggubah syair-syair yang sangat jorok, maka faktor itulah Rasulullah saw memerintahkan untuk membunuhnya. Saudara Kaab menulis surat kepadanya bahwa kini kota Mekkah telah ditaklukkan karena itu datanglah dan mintalah maaf kepada Rasulullah saw. Maka dia datang ke Madinah lalu menginap di rumah salah seorang yang dikenalnya dan shalat subuh dia lakukan bersama Nabi saw di Mesjid Nabawi. Tanpa memperkenalkan dirinya dia datang ke hadapan Rasulullah saw [seolah-olah dia bukan Ka’ab]. Hadhrat Rasulullah saw tidak mengenal seperti apa itu rupa Kaab atau mungkin Kaab menutupi wajahnya dengan kain tapi sebenarnya Rasulullah saw juga tidak kenal dengannya. Dia berkata, “Ya Rasulullah saw, Ka’ab bin Zuhair datang dalam keadaan taubat. Dia datang untuk memohon maaf. Jika diizinkan maka dia dibawa di hadapan Tuan.”

Beliau bersabda, “Ya”. Maka dia melanjutkan, “Saya-lah Ka’ab bin Zuhair”. Begitu mendengar ini – sebab ada perintah untuk membunuhnya – seorang sahabat berdiri untuk membunuhnya tapi Rasulullah saw bersabda, “Biarkanlah dia sebab dia datang untuk memohon ampun.” Lalu, dia memperdengarkan sebuah syair di depan Rasulullah saw. Sebagai hadiah untuk menyatakan kegembiraannya, beliau saw menyelimutkan selimut beliau kepadanya. (As-Siratul Halabiyyah, jilid 3, hlm. 214-215, Cetakan Beirut)

Demikianlah, tolok ukur luhur sifat pemaaf Baginda Nabi Muhammad saw. Beliau saw tidak hanya memaafkan saja bahkan memberikan hadiah bagi orang yang meminta maaf dan menghormatinya dengan doa-doa baginya. Ada banyak contoh yang tak terhitung perihal teladan sifat pemaaf beliau saw. Derajat beliau saw dalam hal itu mencengangkan umat manusia yang menelaahnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Mereka yang dekat dengan Tuhan dicaci-maki dan diperlakukan dengan buruk, namun selamanya mereka diberikan perintah, وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ‘Hindarilah orang-orang jahil!’ Manusia yang paripurna yaitu Rasulullah saw menjadi sasaran dari penganiayaan, dikutuk, dihina dengan kata-kata keji dan kotor dan diperlakukan buruk secara keterlaluan. Namun, apa yang diperbuat oleh pemilik akhlak luhur itu berkebalikan dari semua perlakuan mereka tersebut. Beliau saw malah mendoakan mereka. Karena Allah berjanji bahwa jika beliau tidak menghiraukan mereka yang bodoh, maka kehormatan dan hidup beliau akan dilindungi oleh-Nya. Dan, para penganiaya tidak akan mencapai target mereka dalam menyakiti beliau. Maka, demikianlah yang terjadi. Musuh-musuh beliau tidak hanya tidak mampu menodai kehormatan beliau, malahan mereka menjatuhkan diri di bawah kaki beliau saw dalam kondisi terhina atau dihancurkan di depan mata beliau.”[12]

Nasihat apakah yang diberikan beliau kepada para Sahabat untuk mendapatkan standar tinggi dalam hal memaafkan? Saya akan ketengahkan satu riwayat dari sekian banyak riwayat, أَنَّ رَجُلًا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw dan bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي خَادِمًا يُسِيءُ وَيَظْلِمُ أَفَأَضْرِبُهُ “Ya Rasululloh, saya mempunyai seorang budak yang suka berbuat buruk dan berlaku lalim. Apakah saya dapat menghukum jasmani kepadanya?” Rasulullah saw bersabda, تَعْفُو عَنْهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً “Maafkanlah ia setiap hari 70 kali (sangat banyak).”[13] Beginilah tolok ukur yang telah dibuat oleh Rasulullah saw dalam perlakuan baik terhadap para pekerja dan bawahan.

Dalam hal ini ada yang ingin saya perjelas bahwa pada zaman sekarang sudah tidak ada lagi perbudakan, dan seorang pekerja yang juga mu’min (orang beriman) diharapkan melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik dan benar. Ia jangan sampai merusak pekerjaan yang dipercayakan kepadanya sembari beralasan bahwa Nabi saw memerintahkan untuk memaafkan para pelayan. Itu sikap yang salah. Sebab, beliau saw dalam segi lainnya memerintahkan hal lain yaitu jika seseorang ditugasi dengan sesuatu pekerjaan maka ia harus menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Beliau memerintahkan bagi kedua belah pihak, baik para pekerja maupun para atasan (majikan). Para majikan diperintahkan untuk memaafkan pembantunya dan hendaknya tidak marah atas perkara-perkara yang sepele. Sementara itu, para pekerja mempunyai tanggungjawab untuk menunaikan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya dengan sebaik-baiknya.

Hadhrat Masih Mau’ud as menasihati kita tentang memaafkan dan mengampuni, “Tujuan didirikannya Jemaat adalah supaya ketakwaan menembus dan menyerap pada lidah, telinga, mata dan bahkan setiap anggota tubuh. Cahaya ketakwaan ada di luar dan di dalam tiap-tiap anggota tubuh agar menjadi teladan terluhur Akhlaq hasanah (akhlak yang anggun dan elok) dan sama sekali tidak mengedepankan amarah dan murka pada keadaan dan kesempatan yang tidak tepat.”

Beliau lebih lanjut bersabda “Saya telah mengamati bahwa kelemahan berupa amarah masih bisa ditemukan di banyak anggota Jemaat. Rasa dendam dan kebencian mereka tumbuhkan hanya karena perkara-perkara sepele. Mereka pun lalu berselisih diantara mereka sendiri. Orang-orang yang demikian tidak punya tempat dalam Jemaat. Saya tidak mengerti apa susahnya seseorang menahan amarah, tetap diam dan tidak merespon jika orang lain mengatai-ngatainya.”

Ishlaah (perbaikan) Jemaat (organisasi) apa saja itu dimulai dengan akhlak (moral yang baik). Hal pertama, suatu keharusan bagi seseorang untuk bersabar saat proses berkembang maju dalam Tarbiyat. Cara terbaik untuk itu ialah jika ada seseorang yang berbicara keji, kita harus berdoa kepada Allah supaya Dia memperbaiki orang itu dan tidak sampai kebencian timbul dalam hati.”

Beliau lebih lanjut bersabda, “Allah sama sekali tidak menyukai jika sifat hilm (kelembutan hati), kesabaran dan pengampunan yang merupakan kebajikan utama digantikan dengan sifat-sifat keras dan liar yang menyerupai sifat binatang.” Jika kalian mengalami kemajuan perilaku kalian dalam sifat-sifat terpuji itu, maka kalian segera akan meraih kedekatan dengan Tuhan.”

Beliau as bersabda, “Memang benar keadaan tiap orang itu tidak sama. Hal ini terdapat juga di dalam Al-Qur’an, قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا “Katakanlah: ‘Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.’ Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.” (Surah al-Isra, 17:85) Hadhrat Masih Mau’’ud as lebih lanjut bersabda, “Beberapa orang sangat baik dalam perilaku tertentu namun buruk dalam perilaku yang lain. Jika satu kelakuan memiliki semburat kebaikan sedangkan kelakuannya yang lain buruk, ini bukan berarti perubahan diri itu tidak mungkin terjadi.”[14]

Maksud beliau as, Allah Ta’ala adalah Pencipta tabiat-tabiat manusia. Anda sekalian bisa memperhatikan bagaimana sebagian kalangan orang sangat hebat dalam sebagian akhlaknya yang sangat maju dan berkembang sementara pada saat yang sama mereka lemah dalam sebagian bidang akhlak lainnya. Namun, hal ini bukan berarti ishlaah mereka itu mustahil dan sulit bagi mereka untuk menghiasi dengan semua segi akhlak.

Memang, setiap manusia memiliki sifat-sifat berbeda. Mereka yang memiliki kelemahan-kelemahan juga menerapkan sebagian kebajikan-kebajikan. Mereka bukan hanya memiliki kelemahan saja dan sama sekali tidak memiliki kebajikan. Tetapi, Hadhrat Masih Mau’ud as menginginkan agar kita berupaya untuk mengadakan perubahan dalam diri kita mengikuti perintah-perintah Allah dan menerapkan derajat tinggi perilaku kita yang termasuk ciri khas orang-orang mu’min sejati.

Kita harus senantiasa menyingkirkan kelemahan-kelemahan kita, menghilangkan kekurangan-kekurangan kita dan selalu membuat suasana yang aman dan damai. Untuk itu, prinsip yang dinasihatkan kepada kita oleh Nabi Muhammad saw adalah: “Sukailah untuk saudaramu apa yang engkau sukai untuk dirimu.” Semoga Allah mengaruniai kita taufik untuk mencapai standar-standar yang demikian. آمين [Aamiin]

[1] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang iman.

[2] Malfuzhat, jilid 1, h. 179-180, edisi 1985, UK

Tercantum dalam Kitab الفرج بعد الشدة al-Farj ba’dasy Syiddah karya Imam Abu Ali al-Muhsin at-Tanukhi (Basra-Iraq, 939-994), bab keempat, tentang من استعطف غضب السلطان بصادق لفظ واستوقف مكروهه بموقظ … » والله يحب المحسنين No. 1341. Juga, tercantum dalam Kitab Syi’bil Iman, karya Imam al-Baihaqi, bahasan ke-57, pasal tentang tarkil ghadhab atau menjauhi amarah, riwayat serupa, hanya saja kejadiannya pada Ali Zainul Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Jariyah (pembantu perempuan) Ali bin al-Husain menuangkan air kepada Ali untuk berwudhu, tetapi bejana yang dipegangnya terlepas dari tangannya sehingga mengenai wajah Ali. Lalu ia (Ali) mengangkat mukanya hendak menatap muka jariyahnya itu lantaran marah. Tetapi sebelum matanya menatap mata budaknya, Maka berkatalah jariyah itu, إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ : وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ “Sesungguhnya Allah berfirman: “…dan orang-orang yang menahan amarahnya..” Ali menjawab, قَدْ كَظَمْتُ غَيْظِي “Aku telah menahan amarahku.” Jariyah itu melanjutkan, وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ…dan memaafkan (kesalahan) orang…” Lalu, Ali menjawab, قَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْكِ “Semoga Allah mengampunimu.” Kemudian, jariyah itu berkata, وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ…Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan…” Mengakhiri ayat 135 dari surat Ali Imran yang dibacanya. Maka, Ali pun berkata, اذْهَبِي فَأَنْتِ حُرَّةٌ “Kini engkau aku merdekakan karena Allah…

[3] Al-Hakam, (الحكم، مجلد4، رقم17، عدد10/5/1902م، ص5-4)

[4] Al-Hakam, 10 Maret 1903, h. 8, jilid 7, nomor 9, rujukan Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as jilid 2, h. 153.

[5] Tiryaqul Quluub, Ruhani Khazain jilid 15, h. 153

[6] Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain jilid awal, h. 433-434, hasyiah dar hasyiah no.3

[7] As-Siratul Halabiyyah, jilid 3, hlm. 106, Cetakan Beirut. Tercantum juga dalam Mu’jam al-Kabir karya Imam ath-Thabrani, Musnad an-Nisa dzikr Zainab

[8] Shahih Muslim-Kitabul Fadhail, Bab. Muba’idatuhu Mulatsamu Wa Ikhtiyaruhu. Sumber lain : Musnad Imam Ahmad; Kitab : Sisa musnad sahabat Anshar; Bab : Lanjutan Musnad yang lalu; عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ خَادِمًا لَهُ قَطُّ وَلَا امْرَأَةً وَلَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ شَيْئًا قَطُّ إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا خُيِّرَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ قَطُّ إِلَّا كَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَيْهِ أَيْسَرُهُمَا حَتَّى يَكُونَ إِثْمًا فَإِذَا كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ الْإِثْمِ وَلَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ مِنْ شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَكُونَ هُوَ يَنْتَقِمُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ Dari Aisyah berkata; “Rasulullah saw tidak pernah memukul pembantunya sama sekali dan tidak pula isterinya. Rasulullah saw juga tidak pernah memukul kecuali ketika berjihad di jalan Allah. Dan tidak beliau pernah diberi pilihan antara dua perkara kecuali beliau lebih menyukai yang lebih mudah dari keduanya, kecuali perkara tersebut mengandung dosa. Apabila ia mengandung dosa maka beliau orang yang terjauh dari dosa. Dan, tidaklah beliau pernah membalas untuk dirinya dari sesuatu yang menimpanya sehingga akan melanggar aturan-aturan Allah, tapi beliau hanya membalas karena Allah.”

[9] Shahih Al-Bukhari no. 2617 dan Zadul Ma’ad 3/298. Pada suatu ketika ada seorang wanita Yahudi memberi hadiah kepada Nabi Saw berupa daging kambing. Nabi Saw tidak tahu ternyata daging itu telah diberi racun. Nabi Saw pun memakannya. Setelah itu Nabi Saw diberi tahu bahwa daging itu ada racunnya. Nabi Saw berbekam dan dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala beliau tidak meninggal. Wanita tadi dipanggil dan ditanya maksud tujuannya. Ternyata dia ingin membunuh Nabi Saw untuk menguji apa beliau saw seorang Nabi atau bukan. Nabi Saw memaafkan dan tidak menghukumnya.

[10] Siratulhalbiyah jilid 3 hlm. 118 Cetakan Beirut.

[11] Namun, pada saat ayat ke-80 Surah at-taubah diturunkan Nabi saw beranggapan shalat jenzah untuk orang munafik masih terbuka pilihan. Namun, di ayat ke-84, Allah melarang shalat jenazah untuk orang munafik yang ingkar. Dalam Khotbah Jumat 20 Februari 2004, Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda, “Kemudian Abdullah bin Ubay bin Salul mengenai pelanggaran-pelanggaran (pengkhianatan-pengkhianatan) yang pernah dia lakukan terhadap Rasulullah saw setiap orang mengetahuinya, tetapi itupun beliau maafkan. Ada dalam sebuah riwayat bahwa meskipun adanya segenap kelancangan-kelancangannya dan kelicikan-kelicikannya itu pada saat wafatnya Hudhur saw. melakukan shalat jenazahnya. Hadhrat Umar sangat marah (tidak setuju) atas sikap itu dan berkali-kali beliau memohon, “Hudhur, janganlah menyalatkan jenazahnya”, dan Hadhrat Umar pun membeberkan pelanggaran-pelanggaran (pengkhianatan-pengkhianatan) yang telah dilakukan Abdullah bin Abi Salul. Tetapi Rasulullah saw sambil tersenyum bersabda: “Wahai Umar, mundurlah ke belakang, saya diberikan wewenang [oleh Allah Ta’ala] untuk orang-orang [munafiq] seperti itu baik engkau memohonkan ampunan atau tidak adalah sama, sekali pun 70 kali memohonkan ampunan baginya, maka Allah tidak akan memaafkannya”. Kemudian beliau saw bersabda, “Jika saya mengetahui lebih 70 kali (dilakukan) istighfar akan dimaafkan maka saya akan beristighfar [lebih dari] 70 kali”. Dan beliau tetap menyembahyangkan jenazahnya dan beliau pergi ke kuburan mengantar jenazahnya.” Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Jenazah. Dalam Khotbah Jumat 1 April Februari 2005, Hadhrat Khalifatul Masih V atba menjelaskan mengenai sifat Syakir (menghargai kebaikan orang lain) dari Nabi Muhammad saw. Abdullah bin Ubay bin Salul yang bersedia memberikan pakaiannya yang hanya punyanya yang cocok untuk paman Nabi saw, Abbas bin Abdul Muthallib, yang saat itu statusnya ialah tawanan perang Badar dan bagian atasannya tidak berpakaian.

[12] Pidato Jalsah Salanah 1897, h. 9; Malfuzhat, jilid 1, h. 103, edisi 1985, UK

[13] Musnad Ahmad ibn Hanbal, Musnad al-Asyirah, Musnad al-Mukatstsirina minash Shahabah, Riwayat Abdullah ibn Umar ibn al-Khaththab r’anhuma, no. 5483. Juga dalam Sunan Abi Daud, Kitab tentang Adab, abwaabun Naum (tentang tidur), hak mamluk tercantum جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ نَعْفُو عَنِ الْخَادِمِ فَصَمَتَ ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ الْكَلاَمَ فَصَمَتَ فَلَمَّا كَانَ فِى الثَّالِثَةِ قَالَ اعْفُوا عَنْهُ فِى كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً ‘Seorang laki-laki datang menemui Nabi Saw lalu berkata, “Wahai Rosulullah berapa kali kita memaafkan pembantu kita?” Kemudian Nabi Saw pun diam. Orang tersebut mengulangi pertanyaannya namun Nabi Saw pun tetap diam. Kemudian orang tersebut mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali maka Rosulullah Saw pun mengatakan, “Maafkan dia dalam sehari 70 kali” Penulis ‘Aunul Ma’bud Kitab Syarh atau komentar atas Sunan Abu Dawud Rohimahumallah mengatakan, “… sabda Nabi Saw 70 kali ada pendapat ulama yang menyebutkan yang dimaksud dengan angka ini adalah banyaknya dan bukanlah pembatasan.”

[14] Malfuzhat, jilid 7, h. 127-128, edisi 1985, UK