Download

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

tanggal 27 Zhuhur 1389 HS/Agustus 2010

di Masjid Baitul Futuh, London-UK

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

                     أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ                    

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمـٰنِ الرَّحِيمِ

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ

تَنَزَّلُ الْمَلٰٓٮِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ‌ۚ مِّنْ كُلِّ اَمْرٍ

سَلٰمٌ هِىَۛ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Sesungguhnya, Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadr. dan apakah engkau mengetahui apa Lailatul Qadr itu ? Lailatul Qadr itu lebih baik daripada seribu bulan. Di dalamnya turun malaikat-malaikat dan ruh dengan izin Allah mengenai segala perintah. Salam – hingga fajar terbit.” (Al-Qadar, 97:1-6)

Insya Allah Ta’ala, dalam beberapa hari mendatang ini kita akan memasuki 10 (sepuluh} hari terakhir bulan Ramadan, yang menurut beberapa Hadiths, adalah merupakan juga beberapa malam saat datangnya Lailatul Qadar. Yakni, suatu malam yang demikian khas, yang di dalamnya Allah Ta’ala berkenan menghampiri para hamba-Nya yang sejati berkat kebaikan sifat qurb-Nya yang khas. Kaum Muslimin pada umumnya memberikan perhatian khusus kepada Salat dan Tarawih mereka pada periode 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadan ini. Bahkan mereka yang semula acuh tak-acuh pada 2 (dua) kali periode 10 (sepuluh) hari bulan Ramadan,  namun khusus pada 10 (sepuluh) hari terakhir ini, berusaha untuk meningkatkan derajat maqom rohani mereka. Para anggota Jamaat pun tak ketinggalan untuk meningkatkan peribadatan mereka kepada Allah Ta’ala melalui Salat Tahajud dan Nawafil lainnya. Alasan semua ini, kata mereka, karena di dalam Hadith disebutkan, bahwa Lailatul Qadar yakni malam yang penuh berkat, turun di suatu malam di antara 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadan. Namun, apakah orang dapat disebut Mukmin dan hamba Allah yang sejati apabila ia hanya meningkatkan peribadatan di 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadan itu, lalu merosot lagi selama setahun  sesudahnya? [Padahal Allah Ta’ala telah menyatakan: wa maa khalaqtul jinna wal insa ilaa li-ya’budun, yakni, …’dan Aku tidak menjadikan Jinn dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku’ (Q.S. 51 / Al Dhariyat : 57)].

Memusatkan pikiran dan tenaga  untuk beribadah selama 10 (sepuluh) hari itu saja demi untuk mendapatkan satu malam Lailatul Qadr yang dikatakan lebih baik selama hidup, tentulah jauh dari maksud utama diciptakan-Nya manusia, [ialah untuk senantiasa menyembah Allah]. Jika Allah sudah ridha, Dia pun akan memberikan karunia-Nya yang khas, yang menuntun hamba-Nya kepada suatu kondisi yang memungkinkannya untuk mendapatkan suatu pengalaman rohani yang luar biasa. Yakni, dirinya mampu memenuhi tujuan utama diciptakannya oleh Allah, ialah untuk menyembah-Nya. Ia mengalami kemajuan dan peningkatan rohani yang semakin menguat. Inilah hendaknya yang harus diperhatikan. Orang yang berpuasa dengan ikhlas dan membaca serta merenungi kandungan isi Al Qur’an, yakni puasanya semata-mata untuk meneguhkan keimanannya kepada Allah, Maka niscaya Allah pun akan memandang orang tersebut sedang berusaha untuk menjalankan berbagai perintah Allah sesuai dengan kemampuannya, mendoa dan memohon sedemikian rupa, sehingga Allah pun berkenan untuk menjawabnya: فَاِنِّىْ قَرِيْبٌؕ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ

“Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku.” (Surah Al-Baqarah, 2:187). bahkan, Allah tidak hanya mendengar doa-doa permohonannya itu, melainkan juga memberinya Lailatul Qadr sesuai dengan janji-Nya untuk membumi dan memberi kedekatan qurb-Ilahi bagi para hamba-Nya yang sejati tersebut. Jika manusia memenuhi janji [Baiat]-nya, maka Allah Ta’ala pun akan meningkatkan derajat kerohanian mereka. Jika masih ada berbagai kelemahan, maka kesalahannya selalu ada di pihak manusia, baik dari segi usahanya maupun dari segi praktek kehidupannya. Allah Ta’ala telah memberikan bulan Ramadan yang diberkati-Nya ini setiap tahun, lengkap dengan periode 10 (sepuluh) terakhir yang mengharamkannya dari api neraka dan Lailatul Qadr, yang semuanya itu merupakan fasilitas yang tertinggi untuk memperoleh qurb Ilahi. Maka selebihnya adalah sejauh manakah pihak manusia mau berusaha untuk mendapatkannya.! Pengalaman rohani yang dibawakan oleh suatu malam [Lailatul Qadr] yang khas ini mampu memberikan inqilabi haqiqi, revolusi rohani yang luar biasa pada orang yang menerimanya. Begitulah seharusnya. Jika tidak, tentulah maksud dan tujuan utama ‘malam istimewa’ tersebut tak terpenuhi.

Jika ada orang yang mempercayai bahwa dikarenakan ia telah mendapatkan satu malam Lailatul Qadr yang kadar peribadatannya lebih baik dari 1.000 bulan, oleh karena itu ia tidak perlu beribadat lebih lanjut, adalah dusta. Justru sebaliknya, Lailatul Qadr yang sejati membuat seorang hamba Allah semakin ber-fanafillah, sehingga berbagai karunia Allah Ta’ala pun mengalir kepadanya sesuai dengan pernyataan-Nya, bahwa apabila manusia berusaha mencapai qurb Ilahi, yakni menjaga dan meningkatkan janji Baiatnya, maka Allah Ta’ala pun mendengar mengabulkan permohonannya. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Lailatul Qadr adalah saat untuk mensucikan diri bagi manusia sehingga dirinya menjadi sesuai dengan semua perintah Ilahi.” [2]

[Berbagai ikhtiarnya untuk mencapai derajat rohani yang tinggi itulah yang membuat dirinya layak untuk mendapatkan Lailatul Qadr]. Kedatangan bulan Ramadan memfasilitasi untuk perubahan diri tersebut, khususnya lagi pada 10 (sepuluh) hari terakhirnya, dengan cata memperoleh Lailatul Qadr.

Contohnya adalah Rasulullah Saw sendiri, yang semakin giat beribadah maupun beramal shalih. Semakin rajin bangun di tengah malam, dan keluarga beliaupun tak ditinggalkan. Berusaha agar mereka pun jangan sampai termahrumkan dari berbagai karunia Allah Ta’ala yang semakin besar pada 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadan tersebut. Akan tetapi, maksudnya adalah, jangankan pada periode khusus tersebut, bahkan di hari-hari biasa pun, tempo dan cara beliau beribadat sungguh memikat hati. Inilah contoh berberkat yang beliau telah tetapkan bagi kita. Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk dapat menciptakan kondisi yang sama tersebut di lingkungan rumah kita masing-masing, yakni demi untuk memperoleh maghfirah-Nya.

Rasulullah Saw bersabda: Orang yang berpuasa sepenuh ikhlas demi untuk memperoleh ridha Ilahi, maka segala dosanya di masa lampau diampuni, Begitupun bagi mereka yang rajin ber-Tahajjud di tengah malam agar mendapatkan Lailatul Qadr dengan sabar dan istiqamah, segala dosanya diampuni.

Berpuasa di bulan suci Ramadan menuntut syarat adanya keimanan yang semakin teguh dan mendapat ridha Allah Ta’ala. Jika tidak, Dia tidak memperdulikan orang yang sekedar berlapar-lapar puasa. Ikhtiar untuk mendapatkan Lailatul Qadr pun memerlukan syarat, ialah, semata-mata demi untuk memperoleh keridhaan Allah Ta’ala, tidak dicampuri dengan maksud  duniawi. Ridha Ilahi-lah yang hendaknya menjadi tujuan utama doa-doa kita.

Rasulullah Saw bersabda: Carilah Lailatul Qadr di malam 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadan. Jika pun merasa masih ada berbagai kelemahan diri, hendaknya jangan sampai mengganggu 7 (tujuh) malam terakhirnya. Bahkan, kalaupun dikarenakan satu dan lain hal masih juga tak mendapatkan sesuatu keberkatan bulan Ramadan, hilangkanlah segala sikap ‘excuse’ (memaklumi kelemahan) tersebut pada 10 (sepuluh) hari terakhirnya.

Pada suatu Hadith lain, Rasulullah Saw bersabda: ‘Lailatul Qadr ini telah diperlihatkan kepada sebagian dari antaramu pada 7 (tujuh) malam pertama, sedangkan kepada sebagian lainnya pada 7 (tujuh) malam terakhirnya.’ Hal ini mengklarifikasi Hadith sebelumnya, yakni, tak ada satu malam yang tertentu di antara 10 (sepuluh) malam tersebut. Melainkan, akan datang pada salah satu malam di antaranya. Dan pada Hadith lainnya disebutkan: Carilah di malam-malam ganjil di antara 10 (sepuluh) malam tersebut.

Maka barangsiapa yang mendapatkan Lailatul Qadr, sesungguhnya  semata-mata hanya karunia Allah Ta’ala yang khas. Oleh karena itu sangatlah penting untuk memuliakan pengalaman tersebut dengan cara senantiasa meningkatkan kerohanian diri. Difirmankan, bahwa peribadatan di malam [Lailatul Qadr] itu khair, atau lebih baik dibandingkan 1.000 bulan, yang kurang lebih sama dengan 83 tahun. Maka, bagi orang yang berhasil mendapatkannya berarti doa-doanya selama hidup, yakni segala permohonannya yang baik untuk iman Islamnya, untuk perbaikan dirinya, dikabulkan. [Adapun segala permohonannya yang tidak baik dalam pandangan Allah Ta’ala, tidak akan dikabulkan].

Ringkasnya, Allah Ta’ala hanya akan mengabulkan segala apa yang baik dalam pandangan-Nya. Bagi seorang Mukmin sejati, Lailatul Qadr ini pun meningkatkan derajat kerohaniannya ke tahap yang lebih tinggi. Sedangkan maksud dari ‘tanajalul malaikati wa ruh…’, yakni turunnya para malaikat [dan ruhul qudus] ialah agar menimbulkan inqilabi haqiqi dalam hubungannya dengan Allah Ta’ala (habluminallah). Peribadatannya yang sangat intensif pada malam itu menjadi senilai dengan peribadatannya selama hidup, dikarenakan ia menjadi faham dan mempraktekkan maksud Allah menciptakan dirinya, ialah semata untuk beribadah kepada-Nya. Dan ia berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan serta meningkatkan hal ini.

Malam Lailatul Qadr ini sangat bermakna sebagaimana dikatakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s.: ‘Salah satu hikmah dari ayat Al Quran:اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada Lailatul Qadr’, maksudnya adalah diwahyukannya Al Qur’an Karim. Yakni, tuntunan Syariat yang sempurna bagi umat manusia telah diturunkan di bulan suci Ramadan [dalam bentuk Kitabullah Al Qur’an Karim], sebagaimana Allah Ta’ala firmankan: شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِىْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ

‘Bulan Ramadan ialah bulan yang di dalamnya Al-Quran diturunkan …’ (Q.S. 2 / Al Baqarah : 186). [3]

Maksudnya, wahyu pertama tersebut bukan hanya disampaikan di bulan Ramadan, namun malaikat Jibril pun mengulang-ulanginya secara keseluruhan setiap tahun pada bulan Ramadan, kepada Rasulullah saw.

Akan tetapi hal ini pun menekankan hikmah: Disebabkan saatnya sudah mendesak, petunjuk yang sempurna tersebut pun diwahyukan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya ini: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِىْ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ “Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan…” (Surah Ar-Rum : 42). Kerusakan yang tengah merajalela di dunia ketika itu sungguh tak ada bandingannya, sehingga diperlukan pewahyuan Kitabullah yang sempurna ini, sebagaimana dikatakan di berbagai bagian Al Qur’an, yang antara lain. Allah Ta’ala berfirman di dalam Surah ad-Dukhan,

وَالْكِتٰبِ الْمُبِيْنِ

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِىْ لَيْلَةٍ مُّبٰرَكَةٍ‌ اِنَّا كُنَّا مُنْذِرِيْنَ‏

فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ

اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَا‌ؕ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَ

رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

“Tuhan Maha Terpuji, Maha Mulia. Demi Kitab yang menjelaskan. Sesungguhnya, Kami menurunkannya dalam suatu malam yang diberkati, Sesungguhnya, Kami selalu memberi peringatan. Di dalamnya, diputuskan semua perkara yang bijaksana. Dengan perintah dari sisi Kami. Sesungguhnya, Kami selalu mengutus rasul-rasul. Suatu rahmat dari Tuhan engkau. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Surah Ad-Dukhan, 44:2-7).

Begitulah Kitabullah sumber petunjuk hidayah yang nyata dan terbuka telah diwahyukan di malam yang penuh berkat tersebut kepada seorang insan kamil yang tanpa lelah terus menerus menyeru umat manusia untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa, alih-alih menyembah seorang anak manusia yang pasti akan mengalami kematian, lalu  menjadikan kematiannya itu sebagai sumber keselamatan. [Rasul Saw tersebut pun menyeru manusia agar menjauhi segala sikap ketidak-adilan. Sebaliknya, penuhilah kewajiban huquuqullah dan huquul ‘ibaad. Berkat makbuliyyat doa-doa insan paripurna Saw inilah sehingga Syariat yang sempurna ini diwahyukan. Yang bukan saja menjadi sumber nur hidayah di zaman kegelapan 1.400 tahun yang lalu, melainkan juga akan terus menyinari dunia hingga Hari Kiamat. Hal ini disebabkan Rasul ini adalah Khataman Nabiyyin, dan pembawa Syariat yang terakhir. Maka, kapan saja terusik oleh kondisi dunia yang semakin parah, dan para hamba Allah yang sejati menyeru dan memohon pertolongan Allah, Dia pun menenteramkan mereka dengan jawaban:اِنَّهٗهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ‘…Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui,’. (Surah Ad-Dukhan, 44:7) Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang adalah seorang hamba dan pecinta Rasulullah Saw yang sejati dan diutus berkat ketaatannya yang sempurna, bersabda,

“Dengan mendalami makna surah Al-Qadar akan dapat diketahui sebuah poin yang sangat halus. Didalm surah ini dengan kata-kata yang bersih dan jelas, Allah Ta’ala berfirman, bahwa ketika seorang’ Muslih’ dari langit datang ke bumi, maka bersamaan dengannya akan turun para malaikat yang akan menarik orang-orang yang hatinya terbuka- -kepada kebenaran. Maka dari mafhum ayat-ayat ini kita memperoleh hikmah yang baru, bahwa jika disuatu masa kesesatan dan kelalaian yang pekat secara serentak dan luar biasa timbul, dengan sendirinya didalam kekuatan umat manusia. Suatu gejolak dan kecenderungan untuk menyelidikki/mempelajari agama, berarti hal itu adalah suatu tanda bahwa seorang’ Muslih’ dari langit telah lahir. Karena tanpa turunnnya Ruhul Qudus, maka gejolak-gejolak yang demikian tidak akan muncul. Gejolak-gejolak yang seperti itu, kemampuan/fungsi dan sifatnya ada dua macam, yaitu gejolak sempurna dan gejolak tidak sempurna. Gejolak sempurna adalah gejolak yang memberikan kesuciai dan kesederhanaan di dalm ruh, serta memperetajam kemampuan akal dan pemahaman, yang kemudian membawasnya kepada kebenaran. Dan gejolak tak sempurna adalah gerakan yang timbulkan oleh Ruhul Qudus yang memenag mempertajam akal dan pemahaman, namun karena kemampuan orangnya yang tidak baik, maka gejolak tersebut tidak membawanya kepada kebenaran. Bahkan orang yang memiliki gejolak kedua ini adalah kenyataan daripada Quran Surat Al Baqarah ayat 11:

 فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ۬ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضً۬ا‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ

Yakni dengan adanya pergolakan didalam akal dan pemahaman orang itu, justru keadaannya menjadi lebih buruk dari keadaan sebelumnya. Sebagaiman yang terjadi di masa para nabi, bahwa sewaktu mereka datang, maka para malaikat pun turun. Sehingga dengan gerakan-gerakan terselubung yang dilakukan oleh para malaikat itu, semua rohani manusia secara umum akan terlibat dalam suatu pergolakan. Orang-orang yang berfitrat baik akan semakain ditarik kepad apara nabi tersebut. Dan orang-orang jahil serta ‘anak-anak syetan ‘ akan terbangun dari impian kesesatan, dan mereka pun sudah mulai memberikan perhatian kea rah agama. Namun karena kemampuan buruk mereka, mereka tidak dapat mengarah kepada kebenaran. Jadi, pengaruh gebrakan para malaikat yang turun bersama-sama dengan para muslih rabbani itu adalah ditujukan terhadap setiap orang. Namun, gebrakan akan berpengaruh baik terhadap orang-orang yang baik, dan akan berpengaruh buruk terhadap orang-orang yang buruk- Dan sebagaimana yang telah kami terangkan diatas, ayat yang mulia ini فِىْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌۙ فَزَادَهُمُ اللّٰهُ مَرَضًا “…di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah lagi penyakit mereka…” (Surah Al-Baqarah, 2:11) inipun mengisyaratkan kepada kedua pengaruh yang berlainan tersebut. [4]

Perlu diingat bahwa ketika seorang nabi turun/diutus, maka pada saat itu ada sebuah ‘Lailatul – qadar’. Yaitu, dimana nabi tersebut beserta kitab yang dianugerahkan kepadanya turun dari langit. Namun Lailatul- qadar yang paling besar adalah yang telah dianugerahkan kepada Rasulullah saw. Pada hakikatnya ujung Lailatul- qadar beliau tersebut mengembang sampai ke hari kiamat. Dan seluruh gejolak yang timbul di dalam kekuatan- -hati dan kekuatan pikiran manusia semenjak zaman yang mulia Rasulullah saw. hingga sekarang, adalah pengaruh dari Lailatul – qadar tersebut. Perbedaannya hanyalah bahwa pengaruh-pengaruh itu menimbulkan pergolakan yang ‘kamil dan mustakim’ pada kekuatan akal orang-orang baik; dan pada kekuatan orang-orang ytang bejat, bisa menimbulkan pergolakan yang menyesatkan dan ghair-mustakim.

Dan di masa lahirnya seorang Naib (wakil) Yang Mulia Rasulullah saw. ke dunia ini, maka saat itu gejolak-gejolak tersebut pun akan semakin menggebu-gebu. Bahkan semasa Sang Naib tersebut telah berada di dalam rahim ibunya, maka sejak saat itu kekuatan manusia secara tersembunyi mulai bergejolak sedikit demi sedikit dan akan timbul suatui pergerakan sesuai dengan keamampuan masing-masing. Ketika Sang Naib mulai memperoleh mandat dalam ke-naib-nya, maka pergolakan tersebut akan menggebu-gebu dengan sangat drastis sekali. Jadi, Lailatul Qadr yang telah ditetapkan ketika datangnya seorang Naib dari Rasulullah saw pada hakikatnya adalah cabang dari Lailatul Qadrbeliau itu juga. Atau dapat dikatakan sebagai bayangan dari Lailatul Qadr yang diperoleh oleh Rasulullah saw. Allah Ta’ala benar-benar mengangkat tinggi kemulian Lailatul Qadr tersebut sebagaimana halnya ayat ini diperuntukkan padanya, فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ  yakni, ‘Di dalamnya diputuskan semua perkara yang bijaksana’ (Surah Ad-Dukhan, 44:5) Yakni dimasa Lailatul Qadryang diberlakukan hingga hari kiamat itu, segala macam hikmat dan makrifat akan disebarluaskan ke seluruh dunia. Segala macam ilmu yang menakjubkan, kemahiran-kemahiran yang ajaib, ciptaan-ciptaan yang menarik akan dikembangkan di seantero alam. Dan didalam kekuatan manusia sesuai dengan berbagai macam kemampuan mereka serta sesuai dengan berbagai kesempatan un tuk pengembangan ilu dan akal segala potensi yang laten, atau segala kemungkinan untuk maju, mampu mereka capai, kesemuanya ini akan dizahirkan. Namun dari segala sesuatunya itu akan terus zahir dengan drastis dari gejolak-gejolak yang timbul dimasa ketika akan lahirnya seorang Naib Rasulullah saw. ke dunia ini. Pada hakikatnya penjabaran tentang ayat-ayat surah Al qadar ini telah diterangkan di dalam surah Al- Zilzal. Karena sebelu surah Al-zilzal telah diturunka surah Al-Qadar terlebih dahulu dimana diterangkan bahwa memang demikianklah’ sunatullah’. Yaitu, kalam Allah Ta’ala. Turun di malam Lailatul-qadar. Nabi-Nya pun Dia turunkan ke dunia pada saat Lailatul-qadar. Dan disaat Lailatul-qadar jugalah para malaikat itu turun, yang dengan perantaraan mereka di dunia timbul gejolak-gejolak kea rah kebenaran. Dari masa kegelapan, malam kesesatan hingga terbitnya fajar kebenaran, para malaikat it uterus sibuk dalam upaya menarik hati manusia yang terbuka kearah kebenaran.” [5]

Merujuk kepada tulisan elok Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Huzur bersabda: Seandainya dunia, khususnya kaum Muslimin mau memahami missi tabligh beliau, maka alih-alih menentang, eloklah mereka itu menjadi ansar-ansar penolong beliau. Adapun berbagai dalil yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sudah demikian kuat. Bagi mereka yang mendambakan kedamaian dan keteduhan jiwa, yang mencari-cari seorang Mushlih Rabbani, menunggu-nunggu Al Masih Al Mahdi hendaknya berpikir dan merenungkan sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini: Manakala zaman sudah diliputi kegelapan rohani, sehingga manusia berpengharapan kepada agama, maka pada saat itulah isyarat kedatangan seorang Mujaddid segera datang dari langit.

Ketika saat untuk kedatangannya sudah matang, manusia sudah tak sabar lagi menunggu-nunggunya. Namun ketika beliau mendakwakan diri. Mereka pun menentangnya, [yang tak lain hanya merusak kehidupan diri mereka sendiri]. Sedangkan mereka yang menerimanya, memperoleh berkat bagi kehidupan mereka di dunia ini maupun di Akhirat kelak. Sudah berkali-kali kaum Muslimin meneriakkan perlunya Khilafat untuk meng-ishlah Dunia Islam. Namun, bagaimana mungkin Khilafat dapat ditegakkan, jika nubuwwah Al Masih tidak datang mendahuluinya? Pada saat kedatangan Rasulullah Saw, banyak orang-orang yang berfitrat shalih, mudah mengenali kebenaran beliau. Namun bagi mereka-mereka yang semacam Abu Jahal. Yakni, mereka yang menganggap dirinya paling benar, menjadi musnah. Pada awal kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kita menyaksikan contoh teladan dari Hadhrat Maulana Nuruddin r.a. dan juga Sahibzada Abdul Latif syahid r.a., yang meskipun berasal dari tempat yang jauh-jauh, datang menemui dan baiat menerima kebenaran beliau a,s, Sedangkan Maulwi Muhammad Hussain Batalwi yang tinggal berdekatan dan teman sepermainan dengan beliau a.s., tetap memahrumkan dirinya sendiri. Jadi, mereka yang tidak mau menerima kebenaran yang haqiqi adalah takabbur, egois dan pemikirannya pun menjadi negatif, sehingga kondisi kerohanian mereka pun menjadi rusak [sebagaimana disebutkan oleh ayat fadzada humullahu maradha]. Maka, keadaan mereka yang menolak kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sekarang ini pun sama seperti itu. Mereka pikir, mereka telah membuat berbagai fatwa yang benar, padahal tidak berhasil karena melawan terhadap insan utusan Ilahi. Di dalam surat kabar Al Fazal International, tuan Tahir Nadim menulis kisah latar belakang kaum Arabia menjadi orang-orang Ahmadi. Beliau menuliskan kisah tuan Tahir Hani yang kini menjadi seorang Waqfi Zindiqi, yang bekerja keras memimpin Seksi Arab Desk, Beliau mengisahkan: Pada mulanya aku berupaya dengan berbagai cara untuk menentang missi Jamaat Ahmadiyah. Oleh karena itu aku pun mendalami beberapa buku terbitan Jamaat, yang kemudian aku bawa ke hadapan seorang ulama besar yang aku pikir berkemampuan untuk mematahkan semua aqidah Ahmadiyah. Akan tetapi, tuan ulama besar itu  hanya bisa melecehkan berbagai buku tersebut tanpa mendasarinya dengan dalil  Al Quran. Oleh karena itu, aku pun mempertemukan ulama besar itu dengan tuan Mustapha Tsabit dalam suatu perdebatan. Namun cara ini pun ternyata tak bermutu [ia hanya membuang-buang waktu semalam penuh]. Maka saya pun meninggalkan orang yang dianggap alim itu bahkan orang-orang menganggapnya alim besar dan kemudian Allah Ta’ala membimbing saya menuju kearah kebenaran-Nya.” [6]

Jadi, meskipun berilmu agama tinggi, tetapi karena menolak kebenaran Imam Mahdi a.s., mereka pun sudah tidak mempunyai akal sehat lagi. [Berbagai dalil mereka menjadi tumpul. Karena sikap permusuhan mereka, maka nilai kerohanian mereka pun lenyap. Tak ada lagi ruh kebenaran. Tak ada lagi hikmah dalam pemikiran keagamaan mereka]. Ketaqwaan yang sejati hanya terkait dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah Ta’ala. Karena mereka menentang seorang utusan Ilahi, maka sudah tidak ada lagi nilai ketaqwaan di dalamnya.

Kini pun begitu. Mereka yang mengatakan dirinya berilmu agama, tetapi karena sudah tidak memiliki petunjuk Ilahi, mereka pun mengikuti cara dan perbuatan syaitan. Yakni, menumpahkan darah atas nama agama. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah sabdakan: Lailatul Qadr yang haqiqi merujuk kepada Lailatul Qadr yang Allah Ta’ala telah karuniakan kepada Rasulullah Saw, yang pancaran nur hidayahnya akan berlangsung terus hingga Yaumil Akhir; yang akan senantiasa mampu memikat qalbu orang-orang yang berfitrat baik untuk datang menghampiri syiar kebenaran ini. Namun, bagi mereka yang rucah, mereka pun menghilang dari jalan lurus [karena memilih untuk mengikuti jalan Syaitan, jatuh ke dalam jurang kemusnahan]. Periode Lailatul Qadr tersebut kini dipancarkan kembali berkat sikap tabi’i Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kepada Rasulullah Saw. Dengan mengenali beliau a.s. kita pun dapat memperoleh Lailatul Qadr haqiqi ini dengan memuliakan dan mengenali amanat Lailatul Qadr beliau Saw tersebut. Namun ada pula berbagai reaksi yang diperlihatkan manusia terhadap hal ini: Yakni, ada yang mengikuti ajaran agamanya dengan baik, lalu mendapatkan faedah petunjuk Ilahi berkat fitratnya yang baik. Adapula mereka yang menganggap dirinya pewaris agama yang paling berhak, lalu mulai menciptakan kerusakan dan kebiadaban atas nama agama. Atau, ada pula yang menyalah-gunakan berbagai penemuan [sumber khazanah] baru untuk merusak akhlak dan nilai-nilai kehidupan yang baik. Sementara pihak lainnya, menggunakan berbagai fasilitas [khazanah atau teknologi baru] tersebut untuk memberi faedah kepada kaum mukminin, dan menjadikannya sebagai sumber penyiaran amanat Ilahi. Semua reaksi positif maupun negatif tersebut justru menjadi bukti kebenaran seorang insan utusan Ilahi lengkap dengan Lailatul Qadrnya.

Maka penting untuk diingat di sini, bahwa Allah Ta’ala telah menegaskan: ‘…tanazzalul malaikati wa ruh…, hiya hatta mathlail fajr], yakni, para malaikat akan turun hingga menyingsingnya fajar kemenangan. Pada hakekatnya, para malaikat tersebut telah turun sejak zaman Rasulullah saw, hingga Islam berjaya. Itulah yang dimaksud dengan ‘mathlail fajri’, yang tidak akan pernah menjadi tenggelam lagi. Ini karena agama yang telah disempurnakan-Nya. Namun, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sabdakan: Hal ini akan mewujud kembali dengan syarat adanya tabi’i yang sempurna kepada Rasulullah Saw. Yakni, nur hidayah [Lailatul Qadr] tersebut berlangsung selama 30 (tiga puluh) tahun hingga zaman Khulafaur-Rasyidah. Setelah itu, secara bertahap menyebarlah kegelapan rohani, hingga akhirnya betul-betul gelap gulita. Kini, Lailatul Qadr tersebut bersinar kembali seiring dengan kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang tiada lain adalah zilli atau bayangan dari Rasulullah Saw sendiri. Inilah zaman pasca ‘matlail fajri’ yang timbul sepeninggal Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Maka untuk memperoleh faedah dari era baru dan agar melindungi kemenangan yang telah Allah Ta’ala taqdirkan melalui Islam Ahmadiyah, agar tetap berjaya di seluruh dunia, yakni, agar tetap meningkat derajat kerohaniannya, Allah Ta’ala mengingatkan kita semua dengan Lailatul Qadr pada setiap datangnya bulan Ramadan. Di satu pihak era Lailatul Qadr Rasulullah Saw berakhir dengan wafatnya beliau, dan juga wahyu ‘matlail fajri’, namun di pihak lain, hal tersebut akan bersinar kembali dengan pesan: Apabila Ummah menjalankan perintah Al Qur’an dan hikmah Ramadan, yakni berusaha untuk memperoleh karunia dari ‘malam yang sangat istimewa’ ini. Dengan menciptakan kembali kemuliaan rohani ini, maka Allah Ta’ala pun berkenan untuk memberikan keridhaan-Nya yang agung. Maka jika kita menghargai hal ini dengan cara memenuhi berbagai macam kewajiban kita, niscaya kita pun akan senantiasa mendapatkan faedah dari khazanah yang telah dibawakan oleh Rasulullah Saw ini.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan berbagai karunia-Nya kepada kita sekalian. Sementara pihak penentang, mereka pikir dengan menganiaya kita ingin melihat kita mengalami kegelapan, menginginkan kemusnahan dan melumatkan kita, padahal suatu Jamaat Ilahi yang sejati sekali-kali tidak akan pernah menjadi rusak ataupun dihancurkan. Semoga berbagai bentuk keaniayaan yang terjadi di Pakistan justru menjadi sebab datangnya Lailatul Qadr [bagi kita], sehingga kita pun dapat menyaksikan perwujudan [hiya hatta mat lail fajr], yakni menyingsingnya fajar, ‘salamun’ atau kedamaian yang kekal, serta kemenangan Jamaat Ahmadiyah.

Khotbah ke-II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‑ أُذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdo’alah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan do’a kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah yang Mahaluhur menolongnya dengan kekuatan-Nya yang agung

[2] Malfuuzhaat, jilid awwal, halaman 536, terbitan Rabwah

[3] Bukhari, Kitaab Fadhailil Qur’aan, baab kaana Jibril ya’rudhul Qur’aana ‘alan Nabiyy saw

[4] Syair Parsi yang maksudnya sebagai berikut:

*Hujan yang lembut akan menumbuhkan bunga tulip di dalam taman, dan akan menumbuhkan lalang di tanah gersang.

[5] Izaalah Auham, Ruhani Khazain

[6] Al-Fadhl International,