Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

pada 01 Juli 2016 di Baitul Futuh, London

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ * وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman! Apabila dipanggil untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Hal demikian adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan, apabila telah diselesaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah kepada Allah banyak banyak, supaya kamu mendapatkan kebahagiaan. Dan, apabila mereka melihat sesuatu perniagaan atau hiburan, berhamburanlah mereka kepadanya, dan meninggalkan engkau berdiri sendirian. Katakanlah, ‘Apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik daripada hiburan dan perniagaan. Dan Allah adalah sebaik baik Pemberi Rezeki” (Surah Al-Jumu’ah, 62:10-12)

Ketika Allah memberikan perintah untuk berpuasa, Dia juga berfirman أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ bahwa hari-hari di bulan Ramadhan adalah berbilang dan terbatas jumlahnya. Ketika bulan Ramadhan dimulai, banyak dari kita berpikiran ini adalah bagaikan Mushim panas yang berkepanjangan dan bertanya-tanya bagaimanakah 30 hari ini akan dilalui. Namun Allah telah berfirman bahwa hari hari bulan Ramadhan adalah berbilang. Dan kini, hari hari tersebut telah berlalu dan kita sudah berada di hari ke-25 bulan puasa Ramadhan. Banyak orang yang menulis kepada beliau dan mengatakan bahwa bulan Ramadhan berlalu terlalu cepat. Hal itu memang benar, bahwa ketika Ramadhan dimulai, kita merasa seakan akan hari hari yang dilewati begitu lama untuk dilalui, namun seiring dengan berjalannya waktu, maka tidak begitu terasa demikian.

Hari ini Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Di sisa 4-5 hari ini, kita harus berjuang dan berusaha agar segala kelemahan yang ada agar dihilangkan. Berdoalah kepada Allah semoga Dia menutupi segala kekurangan dan cela kita, agar Dia menyayangi dan mengampuni kita dan tidak meninggalkan kita tanpa berkah dan rahmat Ramadhan.

Sebagaimana telah saya katakan, hari ini Jumat Akhir (di bulan Ramadhan) umumnya disebut dengan istilah ” جمعة الوداعJumu’atul wida’ (Jumat perpisahan, terakhir). Pada umumnya, banyak orang Muslim berpikiran dengan menghadiri Jumat terakhir ini, seluruh doa akan dikabulkan, semua shalat dan Ibadah yang tertunda akan dilupakan dan dimaafkan. Namun konsep dan anggapan seperti ini sama sekali tidak benar. Orang yang benar-benar beriman tidak seharusnya berpikir dan beranggapan seperti itu. Seorang Ahmadi sejati dan beriman secara hakiki beranggapan hal seperti itu bagaikan ejekan dan hinaan kepada agama.

Allah telah begitu Pemurah dan Pengasih kepada kita sehingga kita dijadikan sebagai orang-orang yang telah mengimani ghulam shadiq (pelayan dan abdi yang sejati) dari Hadhrat Rasulullah saw, yang telah menyucikan kita dari pemikiran-pemikiran yang dapat menghinakan agama dan membimbing kita kepada ajaran sejati Islam. Tidak hanya beliau as memperkenalkan kita kepada ajaran sejati Islam, namun juga telah membuka jalan dan kesempatan bagi kita menuju pada kedekatan kepada Allah Ta’ala .

Satu kali di sebuah majelis pernah Hadhrat Masih Mau’ud as ditanyai sebuah pertanyaan, “Pada Jumat Akhir bulan Ramadhan ini, orang-orang melakukan shalat empat raka’at yang disebut sebagai Shalat Qadha e-Umri yang mereka artikan empat rakaat shalat ini dilakukan sebagai pengganti segenap shalat yang telah dilewatkan (tidak dilakukan) oleh orang tersebut selama hidupnya. Apakah ada buktinya demikian? Apakah memang shalat tersebut begitu arti pentingnya? Apakah ini dibolehkan?”

Hadhrat Masih Mau’ud as kemudian bersabda: “Ini tindakan laghaw (sia-sia). Dan siapapun yang sengaja meninggalkan shalat selama setahun penuh karena berpikiran akan dapat menggenapkan semuanya dengan hanya melakukan satu kali Qadha-e-Umri sesungguhnya ia melakukan dosa. Tetapi, jika seseorang melakukan shalat tersebut dengan penuh penyesalan, penuh tobat dan berniat tidak akan pernah meninggalkan shalat lagi maka tidak ada salahnya.”

Lebih lanjut lagi Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Kami menjawab pertanyaan itu sesuai dengan (mengikuti contoh) jawaban Hadhrat Ali ra. Suatu ketika di masa kekhalifahan Hadhrat Ali ra, seorang pria melakukan shalat di waktu yang salah. Seseorang kemudian menanyakan kepada Hadhrat Ali ra, ‘Engkau ialah Khalifah saat ini, mengapa tidak menghentikannya?’ Beliau menjawab, ‘Saya takut mungkin akan salah menurut ayat Al-Quran, أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى * عَبْدًا إِذَا صَلَّى ‘Apakah engkau melihat orang yang melarang? Seorang hamba ketika ia shalat?’ (Surah Al-‘Alaq, 96:10-11)

“Jika seseorang bertaubat dan menyesali perbuatannya kemudian berdoa, maka janganlah ia dihentikan. Karena pada dasarnya, ia hanya sedang berdoa. Memang itu di satu pihak menunjukkan kurangnya semangat dan tanggungjawab (bagi yang melihat orang yang melakukan shalat di waktu yang salah dan tidak menghentikannya), namun perbuatan dinilai berdasarkan niatnya. Karena itulah, Hadhrat Ali ra juga berhati-hati dikarenakan ayat-ayat Al Quran tersebut.”

Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan aturan ini dengan juga memperhatikan ayat yang sama dari Al-Quran. Beliau juga memperjelas bahwa jika seseorang tidak berniat untuk mengkoreksi dan merubah dirinya sendiri dari saat itu dan seterusnya namun hanya ingin melengkapi shalat-shalat yang telah dilewati dan ditinggalkan seumur hidup, maka hal ini adalah salah.[1]

Dalam Jemaat Ahmadiyah, tidak ada itu konsep Qadha-e-Umri. Kita toh telah mengimani Imam Zaman; dan bersamaan dengan itu kita menerima syarat ini, yaitu mencegah bid’ah-bid’ah. Kita akan mengutamakan agama diatas perkara-perkara duniawi. Ketika kita sudah berjanji untuk mengutamakan agama diatas perkara-perkara duniawi, maka bagaimana mungkin berpikir untuk melewatkan Shalat atau Shalat Jumat? Shalat Jumat terakhir di Bulan Ramadhan bagi kita memiliki arti yang berbeda. Bagi Ahmadi sejati, kita mengucapkan Selamat Tinggal kepada Jumat ini dengan hati yang berat, kita mengucapkan selamat tinggal kepada hari-hari yang diberkati ini. Jumat adalah sebuah cara bagi kita untuk menyelenggarakan Shalat berjamaah sehingga kita berdoa semoga Allah membuat kita bisa menyaksikan hari-hari yang diberkati ini kembali di tahun berikutnya dan menyambut Ramadhan kembali di tahun depan. Hal ini harus menjadi pemikiran kita.

Tidak ada yang mengucapkan salam perpisahan kepada orang-orang yang tercinta dengan mengatakan, “Pergilah kamu! Kamu akan berpisah dengan kami. Karena itu, kami akan melupakanmu sekarang. Kenangan tentang kamu akan kami lupakan.”

Mereka yang meninggalkan kita selamanya, maka kita bahkan tidak dapat melupakan kenangan-kenangan mereka. Orang yang ditinggalkan akan berusaha untuk mempertahankan warisan dan peninggalan mereka dengan melanjutkan amalan-amalan baik mereka. Orang-orang yang beriman berdoa bagi orang-orang terkasih mereka yang telah wafat dengan khusyuk dan sungguh-sungguh. Orang-orang yang kita sayangi yang pergi untuk sementara ke kota lain atau ke negara lain untuk pekerjaan mereka tidak akan pernah kita lupakan.

Pada saat ini, kita lihat dengan menggunakan sarana kemudahan seperti telepon, SMS atau media chatting lain misalnya Skype, Whatsapps dan lain-lain, orang-orang tetap bisa berhubungan dengan  yang mereka cintai. Kita tidak pernah mengucapkan selamat tinggal kepada yang kita cintai dengan mengatakan, “Kami akan melupakan kalian untuk setahun atau dua tahun. Kami akan melupakan siapa kalian, dan kemudian akan memikirkan kalian lagi ketika kita bertemu lagi. Lalu kita akan menganalisa dan mempertimbangkan apakah kita akan mempertahankan hubungan kita atau tidak.”

Apakah kita pernah menyaksikan sikap dan perilaku yang demikian dalam hubungan-hubungan duniawi? Jika ada yang berlaku demikian, maka dia akan dianggap gila. Ketika kita memikirkan Dzat yang paling kita cintai, Rabbul ‘Alamin (Penguasa Segala Alam), Dia yang Memberikan kita segalanya, Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), Yang berfirman untuk beriman teguh kepada-Nya, agar tidak memutuskan hubungan dengan-Nya, yang berfirman agar menjadikan-Nya yang paling kita cinta dan selalu mengingat-Nya.

Bagaimana mungkin kita akan mengatakan, “Kami akan hanya mengingat-Nya untuk sementara di bilangan hari-hari Ramadhan saja dan sekarang kita bebas. Sejak hari Jumat ini, kita mengucapkan selamat tinggal kepada-Nya dan melupakan-Nya selama setahun penuh dan ketika Ramadhan yang akan datang tiba, kita baru akan mengingat-Nya kembali. Bahkan jika kita tidak melakukan kewajiban kita selama bulan Ramadhan, kita masih punya satu hari Jumat terakhir di bulan Ramadhan untuk membayar kewajiban kita.”

Orang-orang yang memiliki pemikiran seperti ini mungkin tidak mengucapkannya secara lisan, namun jelas melakukannya dalam perbuatan. Kita bisa menyaksikan hal ini dengan berkurangnya yang hadir di masjid pada minggu-minggu yang akan datang pada Jumat-Jumat setelah Ramadhan. Hal ini menunjukkan kurangnya iman.

Seorang yang beriman jauh dari pemikiran-pemikiran yang demikian. Seorang yang beriman akan dipenuhi dengan rasa syukur kepada Tuhan. Seorang yang beriman melalui Ramadhan untuk meraih keridhoan Allah. Seorang yang beriman sejati dengan hati berat akan bersaksi bahwa kita mengucapkan selamat tinggal kepada Ramadhan, namun kita akan ingat kenangan-kenangannya. Kita akan selalu melanjutkan untuk menyembah Allah dengan cara yang sama yang kita lakukan selama bulan Ramadhan.

Kita telah menyaksikan dengan kagum jalan-jalan cinta-Nya yang menginspirasi. Ketika kita berjalan menuju Tuhan, Dia tetap memegang janji-Nya dan datang berlari kepada kita. Bagaimana mungkin kita dapat mengingat hubungan duniawi kita namun melupakan Pencipta kita? Merupakan kebaikan Tuhan-lah kepada kita bahwa Dia dengan terus menerus memberikan kita kesempatan untuk melakukan shalat Jumat-shalat Jumat sehingga kita dapat mengalami perasaan yang sama dengan ketika Ramadhan.

Kita mungkin hanya punya satu Jumat Akhir di bulan Ramadhan dalam satu tahun, namun setiap 7 hari ada hari Jumat dan inilah bagaimana kita dapat ikut serta ambil bagian dalam berkah dan rahmat tersebut. Berkah dan rahmat yang sama yang dicari orang ketika hari Jumat Akhir di bulan Ramadhan juga dapat dicapai di hari Jumat yang lain. Ada sebuah momen yang tiba ketika hari Jumat ketika semua doa akan dikabulkan. Momen ini hanya berlangsung sebentar dan sesaat saja. Setelah hari ini, kita harus tahu bahwa sesungguhnya kita tidaklah jauh dari berkah dan rahmat ini namun akan mengalami perasaan yang sama setelah tujuh hari berlalu, yaitu pada setiap hari Jumat. Seorang yang beriman tidak pernah mengucapkan selamat tinggal kepada kebajikan dan berkah serta rahmat. Seorang yang beriman tidak pernah menjauhkan dirinya dari Allah Ta’ala. Seorang yang beriman akan selalu mencari jalan dan kebajikan untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah. Setiap kebajikan dapat menuntun seseorang kepada Tuhan. Seorang yang beriman tidak akan membatasi dirinya sendiri pada shalat Jumat saja.

Rasulullah saw bersabda kepada kita untuk menemui Allah dengan sering. Bagaimana caranya… dengan melakukan shalat 5 waktu setiap hari, antara hari Jumat dan hari Jumat selanjutnya, antara Ramadhan dengan Ramadhan selanjutnya. Dan doa-doa ini akan menjadi penebusan dosa untuk segala dosa yang dilakukan selama periode ini, dengan syarat bahwa orang tersebut tidak melakukan dosa-dosa yang lebih besar.

Melalui shalat lima waktu, seseorang akan dapat selalu berhubungan dengan Tuhan dan mendapatkan kasih sayang-Nya. Ikut serta dan ambil bagian dalam ibadah di setiap Jumat dan momen yang merupakan momen diterima dan dikabulkannya doa doa. Teruskanlah reformasi di bulan ini selama setahun penuh sehingga engkau dapat menyaksikan kasih sayang Tuhan selama setahun penuh pula. Hari ini, setiap orang dari kita harus berikrar bahwa Jumat ini dan Ramadhan ini akan membuat kita menjaga doa dan shalat kita, juga ibadah kita pada hari-hari Jumat. Kebajikan dan keutamaan dari Ramadhan ini akan dilanjutkan sampai Ramadhan selanjutnya.

Kita harus berikrar untuk tetap teguh dan melanjutkan kebajikan-kebajikan ini sehingga kita dapat secara terus-menerus melatih dan melakukannya sampai Ramadhan selanjutnya sehingga ketika kita memasuki Ramadhan selanjutnya, kita membuat target-target baru dan meningkatkan kebajikan yang kita lakukan, dan juga meningkatkan kedekatan kepada Tuhan. Banyak dari kita yang harus melalui berbagai tahap untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah. Kita tidak bisa hanya mengandalkan Ramadhan saja. Jika kita hanya mengandalkan bulan Ramadhan, maka kita akan butuh waktu yang sangat lama dan kita tidak akan dapat meraih tujuan dan target-target kita.

Selama Ramadhan ini, saya telah menyampaikan Khotbah mengenai Takwa, pengabulan doa, ibadah kepada Allah dan sebagainya. Setelah setiap khotbah, saya menerima banyak surat mengatakan bahwa kita sekali lagi telah diingatkan dan menjadi lebih memahami pesan Hadhrat Masih Mau’ud as. Ceramah dan khotbah-khotbah ini hanya akan membantu ketika kita membuat isi ceramah dan Khotbah-khotbah tersebut sebagai bagian dari kehidupan keseharian kita.

Tiap Jumat itu penting. Tidak terkait Shalat Jumat di bulan Ramadhan atau pun Jumat Akhir di bulan Ramadhan. Pentingnya hari Jumat ialah hanya untuk menolong kita menjaga seluruh shalat lima waktu kita dan juga shalat Jumat – shalat Jumat kita. Ramadhan hadir untuk mengingatkan kita agar tidak menjauhkan diri dari penyembahan kepada Allah dan kebajikan-kebajikan. Bahkan dalam ayat yang telah saya bacakan, pentingnya Shalat Jumat juga ditekankan: “Hai orang-orang yang beriman! Apabila dipanggil untuk shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Hal demikian adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan, apabila telah diselesaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan ingatlah kepada Allah banyak banyak, supaya kamu mendapatkan kebahagiaan. Dan, apabila mereka melihat sesuatu perniagaan atau hiburan, berhamburanlah mereka kepadanya, dan meninggalkan engkau berdiri sendirian. Katakanlah, ‘Apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik daripada hiburan dan perniagaan. Dan Allah adalah sebaik baik Pemberi Rezeki.’” (62:10-12)

Maka dari itu, dari ayat ini dapat kita ketahui bahwa Allah mengarahkan perhatian kita untuk menghadiri Jumat secara teratur. Dia berfirman, “Jika kalian mendengarkan dan menyimak Adzan Jumat dan telah tahu waktu shalat Jumat telah masuk – ada pun pada hari-hari ini waktu Jumat telah ditentukan dan orang-orang sudah tahu itu – kalian harus meninggalkan kesibukan kalian dan menghadiri Jumat.”

Telah diketahui bahwa khotbah ialah bagian dari Shalat Jumat. Hendaknya tidak malas menghadiri khotbah dan tidak berpikiran hanya datang ketika Shalatnya saja dan itu dianggap cukup. Melainkan, harus berusaha keras untuk datang menyimak Khotbah Jumat ini. Berkaitan dengan hal ini, saya katakan, dan itu hal yang sangat penting.

Di masa ini, Allah telah menganugerahkan kita kemudahan berupa MTA (Muslim Television Ahmadiyya). Di Eropa dan di sebagian negara Afrika, waktu Shalat Jumat adalah sama. Selama sarana ini tersedia, selama itu pula kita harus mendengarkan Khotbah dari Khalifah-e-Waqt. Termasuk karunia agung dari Allah Ta’ala kepada kita bahwa Dia merancang sketsa Jemaat dengan corak yang sama melalui sarana ini. Di Negara-negara yang waktu shalat Jumatnya tidak sama [dengan waktu shalat Jumat di tempat Khalifah], para Ahmadi di tempat itu harus mendengar secara langsung Khotbah tersebut atau pun di waktu yang lain dari rekaman Khotbah tersebut [siaran ulang di MTA].

Para Khatib (pengkhotbah), Mubasysyir (Muballigh) dan para dai yang berkhotbah di Jemaat-Jemaat lokal mereka harus menggunakan kutipan-kutipan terperinci dari Khotbah saya dan membacakannya dalam khotbah mereka kepada Jemaat lokal mereka pada hari Jumat yang sama, atau di hari selanjutnya (Sabtu dst), atau di hari Jumat berikutnya. Inilah cara yang sangat agung untuk menciptakan kesatuan dalam Jemaat.

Ke arah barat sana dari sini [Amerika dsk], saat khotbah disampaikan di sini, waktu di sana ialah pada pagi hari. Mereka bisa mendengarkannya pada pagi harinya itu. Selanjutnya, mereka dapat menyebutkan dalam khotbah mereka tentang apa-apa yang telah saya jelaskan dalam khotbah saya. Di negara-negara timur [Asia dsk], siang hari telah lewat [pada saat Khalifah tengah berkhotbah]. Saat itu mereka tengah mengalami petang hari atau lebih dari itu juga. Maka, mereka harus menyebutkan hal-hal itu [khotbah Khalifah-e-Waqt] kepada para Jamaah shalat Jumat pada hari Jumat setelahnya.

Telah diketahui bahwa era Hadhrat Masih Mau’ud as memiliki keterkaitan istimewa dengan Jumat; dan Allah Ta’ala telah menjadikan Khotbah Khalifa-e-Waqt (Khalifah yang hidup masa itu) sebagai bagian dari keterkaitan tersebut melalui penemuan ini (penemuan saluran televisi, dalam hal ini MTA).

Maka dari itu, jika seseorang tidak menghadiri Jumat karena berpikiran bahwa jika ia menghadiri Jumat maka urusan-urusan duniawinya akan terganggu maka ia bukan hanya salah bahkan kerugian akan menerpanya. Sesungguhnya menjadikan suatu pekerjaan itu berkembang dan penuh berkah di dalamnya merupakan perbuatan Allah. oleh karena itu, Anda harus senantiasa ingat, jika Allah tidak memberikannya maka pekerjaan-pekerjaan Anda tidak akan diberkati dan jika dia yang menganugerahkannya maka itu akan menjadi berkah pada diri Anda.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman dalam ayat selanjutnya kepada kita, “Jika pada kalian ada urusan dan kesibukan duniawi, kalian dapat menyelesaikannya sebelum atau sesudah Jumat. Jika kalian secara khusus meninggalkan itu semua di waktu Jumat dan mematuhi menghadiri ibadah Jumat maka kalian akan menerima karunia-karunia Allah dan berkat-berkat dari-Nya dalam urusan duniawi kalian. Suatu hal yang salah jika kita mengurus perkara dan urusan lain dan justru meninggalkan Shalat Jumat. Jika seseorang tidak mematuhi dan mengindahkan Allah, maka tugas dan urusan-urusan mereka tidak akan diberkahi. Hanya Allah yang dapat menganugerahi kita berkah dan membantu menyejahterakan dan memakmurkan kita.

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman, “Perniagaan ataupun kegiatan-kegiatan duniawi ini seharusnya tidak mencegah kalian untuk menghadiri ibadah Jumat.” Telah diketahui bahwa ketiadaan kehadiran ibadah Jumat yang terlihat disebabkan oleh hal-hal dimaksud perlu diperhatikan secara khusus di masa modern ini. Sebagaimana telah saya sebutkan tadi, Jumat berkaitan secara khusus dengan zaman Masih Mau’ud. Oleh karena itu, kalian harus menaruh perhatian sekali bahwa di masa modern ini, perniagaan yang dilakukan tidak lagi bersifat lokal regional seperti pada masa lalu yang rombongan pedagangnya membawa barang-barang dagangan sesuai corak kebutuhan lokal di satu kota sama. Namun lingkupnya sekarang sudah internasional – yang mana akan membuat kalian jauh lebih sibuk. Hiburan-hiburan kesibukan-kesibukan yang tersedia saat ini juga sifatnya global – yang membuat kalian lupa waktu yang sudah terpakai. Dalam hal itu, wajib bagi setiap orang beriman untuk memperhatikan pentingnya Jumat di setiap keadaan. Kita tidak boleh lupa bahwa tujuan utama yang terpenting bagi seorang yang beriman adalah untuk mencapai ridha  Allah dan hendaknya menjadi demikian.

Pada sahabat Nabi saw dengan quwwat qudsiyyah (daya penyucian) Nabi Muhammad saw sudah tersucikan dengan sempurna dan mengutamakan ridha Allah dibanding segala sesuatu. Maka dari itu, tidak mungkin kita berpandangan mereka meninggalkan Jumat karena urusan perniagaan dan permainan. Yang mereka lakukan ialah menyesuaikan perniagaan dan permainan mereka berdasarkan pengaturan waktu ibadah di hari Jumat. Maka dari itu, apa yang digambarkan dalam Surah ini sesungguhnya melukiskan gambaran era kita, yaitu era Hadhrat Masih Mau’ud as. Suatu era dimana duniawi akan diutamakan dibanding agama. Orang-orang akan sangat sibuk dengan urusan perniagaan dan permainan dalam 24 jam. Jarak-jarak [yang dulu terasa jauh] akan pendek sehingga permainan dan kesia-siaan yang berlangsung di tiap negeri tersedia bagi tiap orang yang duduk-duduk saja di rumah melalui sarana elektronika (televisi dll) yang tersambung tiap saat.

Allah Ta’ala berfirman, “Jika kalian menjaga arah yang benar dalam prioritas pilihan kalian, maka kalian akan menerima karunia-karunia Allah pula. Apa yang ditawarkan Allah adalah jauh lebih baik dari segala perniagaan dan hiburan ini. Sesungguhnya, Dia-lah Penganugerah segala jenis rezeki. Dari karunia-Nyalah datang semua rezeki. Dia-lah Satu-Satunya pemberi rezeki. Jika kalian menjaga ibadah Jumat kalian, maka Dia akan memberkahi kalian dalam rezeki duniawi kalian pula.”.

Oleh karena itu, kita harus senantiasa menempatkan pentingnya Jumat di benak pikiran kita. Kita yang telah beriman kepada Imam Zaman yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as seharusnya tidak pernah merasa cukup untuk membatasi ibadah Jumat kita hanya di bulan Ramadhan atau di Jumat Akhir di bulan Ramadhan.

Saya hendak menyajikan beberapa Hadits lain guna menerangkan lebih jelas pentingnya Jumat. Hadhrat Rasulullah saw bersabda tentang pentingnya Jumat dan keberkatannya bahwa pada hari Jumat,  إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ باب مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلاَئِكَةُ، يَكْتُبُونَ الأَوَّلَ فَالأَوَّلَ، فَإِذَا جَلَسَ الإِمَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ ‏”‏‏ “Pada hari Jumat terdapat para malaikat di setiap pintu masjid mencatat siapa saja yang datang lebih awal ke Masjid. Mereka menulis daftar nama-nama orang yang datang ke Masjid secara berurutan. Ketika Imam (Khatib) duduk setelah menyelesaikan khotbahnya barulah penulisan daftar itu berhenti.”[2]

Mereka yang datang di akhir akan diberikan pahala yang setara dengan sebuah telur ayam. Mereka yang datang lebih awal akan dianugerahi pahala yang jauh lebih besar dan siapa yang datang pertama akan menerima pahala setara dengan seekor unta.”[3]

Contoh-contoh hadits ini memberitahukan, janganlah kalian berpikiran jika kalian datang ke masjid lebih awal, duduk-duduk di masjid dan menunggu shalat itu berarti membuang-buang waktu. Tidak demikian, melainkan orang tersebut menjadi berhak memperoleh ganjaran dan orang yang lebih dahulu datang ke masjid lalu duduk di sana itu lebih istimewa dibanding yang datang kemudian. Ia akan terlibat lebih aktif dalam mengingat Allah – yang membantunya untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda di suatu kesempatan mengenai pentingnya hal ini, إِنَّ النَّاسَ يَجْلِسُونَ مِنَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى قَدْرِ رَوَاحِهِمْ إِلَى الْجُمُعَاتِ الأَوَّلَ وَالثَّانِيَ وَالثَّالِثَ “Pada hari Kiamat orang per orang akan dikumpulkan berdasarkan urutan mereka menghadiri shalat-shalat Jumat. Pertama, kedua, ketiga.”[4]

Lebih jauh lagi, Rasulullah saw juga bersabda, احْضُرُوا الْجُمُعَةَ وَادْنُوا مِنْ الْإِمَامِ فَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَخَلَّفُ عَنْ الْجُمُعَةِ حَتَّى إِنَّهُ لَيَتَخَلَّفُ عَنْ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِهَا ‘uhdhurul Jumu’ata wadnuu minal Imaami fa-innar rajula layatakhallafu ‘anil Jumu’ati hatta innahu layatakhallafu ‘anil jannati wa lamin ahlihaa.’ – “Hadirilah Jumat dan duduklah dekat Imam. Mereka yang menunda-nunda melaksanakan shalat Jumat, sehingga tertunda masuk surga, padahal ia adalah ahlinya (termasuk menjadi penghuninya).”[5]

Dengan demikian, semua hadits tersebut menyebutkan tentang pentingnya shalat Jumat tanpa memandang itu pada bulan Ramadhan atau bulan lainnya. Arti membelakangi surga ialah seseorang yang karena kemalasannya dan tidak menganggap penting Jumat dapat membawanya pergi jauh dari surga dan dari Tuhan meski telah meraih kebaikan-kebaikan lainnya.

Tanpa menyadari pentingnya ibadah shalat Jumat, orang-orang mencari alasan untuk tidak melakukannya. Hadhrat Rasulullah saw bersabda mengenai hal ini, مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ طَبَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى قَلْبِهِ “Mereka yang meninggalkan shalat Jumat selama tiga kali berturut-turut dengan menganggap enteng dan tanpa ada halangan apa-apa maka Allah akan menutup dan menyegel hati mereka.”[6] Segel tersebut menyiratkan mereka tidak diberikan taufik untuk berbuat kebajikan ataupun mendapatkan kecintaan atau kedekatan dengan Tuhan. Jelas bahwa semua Hadits menyebutkan semua hari Jumat itu penting dan kita harus berjuang dan berusaha keras melaksanakan shalat Jumat. Tetapi, ada orang-orang yang dikecualikan dari kewajiban Shalat Jumat ini. Allah bukan penindas. Para budak, anak-anak, orang sakit dan wanita dikecualikan dan dibebaskan dari kewajiban ini.

Beberapa wanita yang biasa beserta anak-anak saat ke masjid menulis kepada saya mengeluhkan bahwa mereka diberitahu pengurus agar tidak datang untuk shalat Jumat karena gangguan yang disebabkan oleh anak-anak yang mereka bawa. Saya katakan bahwa Allah Ta’ala membebaskan kaum wanita dari kewajiban shalat Jumat, dan itu hanya wajib bagi kaum pria.[7] Kaum wanita yang membawa anak-anak lebih baik tidak datang untuk shalat Jumat, bila memang di masjid itu tidak ada ruangan khusus bagi mereka.

Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as ditanya perihal kewajiban shalat Jumat bagi kaum wanita, beliau menjawab, “Bila suatu hal telah jelas dan tegas dari Sunnah dan Hadits, buat apa memperbanyak rincian tafsir perihal itu? Selama ini Nabi Muhammad saw telah mengecualikan kaum wanita dari kewajiban shalat Jumat, dan itu hanya untuk kaum laki-laki saja.”[8]

Maka dari itu, menghadiri Jumat hanyalah suatu keharusan bagi kaum laki-laki saja. Kaum laki-laki harus menghadirinya kecuali jika sakit atau ada alasan lain yang dibenarkan.

Pada tahun 1895 atau 1896, Hadhrat Masih Mau’ud as ingin memulai usulan kepada pemerintah supaya para pekerja di kantor-kantor dibebaskan dua jam untuk Shalat Jumat. Usulan ini menghebohkan kaum Muslimin. Namun, Maulvi Hussain Batalvi menerbitkan pengumuman yang mengatakan, “Usulan itu baik. Tapi jangan sampai Tn. Mirza yang mengirimkan usulan itu kepada pemerintah. Kita yang harus mengusulkannya sendiri.” Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan kepadanya untuk silakan saja melakukan hal tersebut. Beliau mempunyai pandangan itu bukan untuk kebanggaan dan kebesaran diri.[9]

Namun hal itu tidak pernah terjadi. Maulvi Hussain Batalvi dan ulama Muslim lain juga tidak melakukan apapun mengenai hal itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as suatu kali mengirimkan sebuah Memorial (peringatan) ke Viceroy (raja muda wakil raja dari Inggris di India), Lord Curzon. Beliau memulai peringatan tersebut dengan memberikan apresiasi terhadap segala sesuatu yang telah dilakukan oleh pemerintah Inggris bagi kaum Muslim terutama dalam mengembalikan masjid Badshahi di Lahore dan masjid lainnya yang dilintasi oleh jalur kereta api juga telah diberikan kembali kepada kaum Muslim. Beliau meminta agar pemerintah Inggris memperluas kebaikan mereka kepada kaum Muslim dan mengizinkan kaum Muslim melakukan shalat Jumat, maka hal tersebut akan sangat dihargai.

Beliau as menulis, “Namun, tersisa satu harapan dan umat Muslim pun berharap harapan itu terpenuh yaitu hari Jumat adalah hari raya Islami yang sangat penting. Al-Quran telah menyebutkannya sebagai hari libur secara khusus. Ada Surah khusus dalam Al-Qur’an yaitu Surah al-Jumu’ah. Di surah ini telah diperintahkan bahwa ketika Adzan dikumandangkan untuk Jumat, maka tinggalkanlah segala kesibukan duniawi, berkumpullah di Masjid-Masjid dan lakukanlah shalat Jumat dengan setiap syarat-syaratnya. Siapa yang tidak melakukan hal ini adalah sangat berdosa dan mendekati keluar dari Islam. Apa yang terkandung di dalamnya berupa penegasan dalam Al-Quran atas shalat Jumat dan menyimak khotbah dalam ukuran ketegasannya tidak sebagaimana shalat Id. Oleh karena itulah, hari Jumat ialah hari libur bagi kaum Muslim sejak masa awal Islam. Selama 800 tahun ketika kaum Muslim berkuasa di India, mereka selalu libur pada hari Jumat.”

Lantas beliau mengatakan ada tiga kelompok kaum di India… orang-orang Hindu, Muslim dan Kristen. Pemerintah Inggris telah menetapkan hari Minggu sebagai hari libur bagi orang-orang Hindu dan Kristen. Karena itu, kaum Muslim harus memiliki hari Jumat. Jika kaum Muslim diberikan libur pada hari Jumat untuk melakukan ibadah, hal ini akan tertulis dalam tinta emas. Jika tidak diberikan satu hari penuh, setidaknya setengah hari libur harus dikabulkan.[10]

Saat ini, umat Muslim dan para ulamanya menuduh Hadhrat Masih Mau’ud as ditanamkan oleh pemerintah Inggris. Namun, faktanya beliaulah yang membuat pemerintah Inggris menyadari tugas-tugas mereka untuk memenuhi hak-hak kaum Muslim. Pemimpin umat Muslim yang lain tidak mendapat taufik untuk melakukan itu. Sebab, ini adalah sebuah era yang untuk membuat pentingnya Islam jelas terlihat dan ajaran Islam sejati diamalkan melalui perantaraan beliau as. Inilah tugas kepada beliau as. Allah Ta’ala yang mempercayakan tugas ini kepada beliau as.

Maka dari itu, kita yang menyatakan diri beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as harus dapat merefleksikan ajaran Islam sejati dalam kata-kata maupun perbuatan kita. Kita harus membuat keutamaan dan berkah Ramadhan ini sebagai bagian dari keseharian kita, Insya Allah. Kita harus memenuhi perjanjian (baiat) yang kita buat kepada Sang Imam Zaman. Saya menarik perhatian kita bahwa hari Jumat ini dihubungkan dengan masa Hadhrat Masih Mau’ud as dan relevansinya dengan zaman dan saat ini.

Saat ini saya hendak mengutip sabda Hadhrat Masih Mau’ud as yang menjelaskan bahwa sekarang adalah zaman beliau as dan itu ada hubungannya dengn Jumat, dan itu mengarahkan perhatian kia pada tanggungjawab kita. Beliau as bersabda, “Nikmat yang Tuhan telah sempurnakan ialah agama ini yang Dia namai Islam. Selanjutnya, dalam nikmat tersebut terdapat hari Jumat yang merupakan penyempurna semua hari. Ini mengisyaratkan bahwa penyempurnaan nikmat yang akan dalam corak لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ  ‘Dan supaya Dia membuat agama Islam sebagai agama dominan (unggul) atas seluruh agama di dunia’, terdapat ‘Jumat’ yang sangat agung di dalamnya. Jumat dimaksud telah tiba karena Tuhan telah mempercayakan secara khusus Jumat tersebut kepada Masih Mau’ud.”[11]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Saya katakan dengan benar bahwa Allah telah menyediakan kesempatan baik untuk mereka yang beruntung. Selamat kepada mereka yang mendapat manfaat dari hal ini sebagaimana semestinya. Mereka yang menghubungkan diri denganku janganlah merasa bangga dengan menyangka telah mendapat semua yang kalian harus atau telah kalian dapatkan. Memang benar kalian beruntung dibandingkan mereka yang telah menolakku dan membuat Allah Ta’ala tidak senang karena penolakan ini. Dan, hal ini memang benar bahwa dengan berprasangka baik, kalian telah melindungi diri kalian sendiri dari murka-Nya.

Namun, sebenarnya, kalian telah dekat dengan mata air kehidupan yang Allah Ta’ala telah ciptakan untuk hidup yang kekal. Kenyataannya, kalian telah dekat air kehidupan ini namun kalian tetap harus meminum air tersebut sehingga Allah Ta’ala memuaskan dahaga kalian dengan layak. Dan hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Tanpa pertolongan-Nya, tidak ada yang dapat dilakukan. Saya tahu pasti bahwa mereka yang meminum mata air kehidupan ini tidak akan terbuang sia-sia dan tidak akan mati. Air memberikan kehidupan. Cairan kehidupan ini akan melindungi mereka dari kehancuran dan juga dari setan yang terkutuk. Namun bagaimana manusia dapat mendapat manfaat dari cairan kehidupan ini? Cara dan jalannya ialah memenuhi dua kewajiban agama yang Allah wajibkan atas kalian, pertama, melakukan kewajiban kalian kepada Allah dengan sebaik mungkin,dan kedua memenuhi juga kepada sesama makhluk.”[12]

Sehingga sekarang kita harus membuat sebuah janji bahwa kita akan termasuk orang yang memenuhi perjanjian bai’at kita. Juga, menunaikan tugas-tugas kita kepada Allah Ta’ala dan kepada sesama manusia dalam cara yang diharapkan orang beriman untuk melakukannya, dan sebagaimana yang telah diperintahkan Allah, dan sesuai yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, dan dengan demikian kita dapat terus mendapatkan rahmat dan berkah bulan Ramadhan selama hidup kita. Semoga Allah membantu kita untuk dapat melakukannya.  [آمين Aamiin]

[1] Malfuzhat, jilid pancham,h. 366

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab permulaan penciptaan, bab penyebutan malaikat, h. 3211.

[3] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Jumat, bab keutamaan Jumat, h. 881. “Siapa yang mandi pada hari Jum’at seperti cara mandi junub, kemudian pergi seawal mungkin untuk melaksanakan solat Jumat seolah ia berkurban seekor onta. Siapa yang pergi untuk melaksanakan solat jumat pada waktu yang kedua, maka seolah dia berkurban seekor sapi. Siapa yang pergi pada waktu yang ketiga, maka seolah dia berkurban seekor kambing. Siapa yang pergi pada waktu yang keempat, maka seolah dia berkurban seekor ayam. Siapa yang pergi pada waktu yang kelima, maka dia seolah berkurban sebutir telur. Apabila imam sudah berada di atas mimbar, para malaikat berkumpul untuk mendengarkan khotbahnya”.

[4] Sunan Ibni Majah, Kitab tentang Penegakan Shalat dan Sunnah, bab Tahjir ilal-Jumu’ah, hadits 1094

[5] Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, Musnad Penduduk Bashrah, Hadits Samurah ibn Jundab, hadits 19253, terbitan Alamul Kutub, Beirut 1998

[6] Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, h. 339, Hadits Abil Ja’ad adh-Dhamiri, hadits 14951, terbitan Alamul Kutub, Beirut 1998

[7] Sunan Abi Daud, Kitab tentang Shalat, bab al-Jumu’ah lil mamluuk wal mar-ah, hadits 1067, الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ 

[8] Al-Badr, 11/09/1903, h. 336, jilid 2, no. 34

[9] Dzikr-e-Habib oleh Hadhrat Mufti Muhammad Shadiq ra, rukhshat barae Namaz Jumat, h. 43-44.

[10]Al-Hakam, 24 Januari 1903, h. 5-6, jilid 7, no. 3

[11] Malfuzhat, jilid som (III), h. 183, edisi 1985, UK

[12] Malfuzhat, jilid som (III), h. 184, edisi 1985, UK

(Visited 193 times, 1 visits today)