Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Makna Syahid

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

14 Desember 2012 di Baitus Sabuh, Hamburg, Jerman

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

    

Pada umumnya, pengertian dari kata “الشهيد” – syahid  ialah orang yang mengorbankan hidupnya di jalan Tuhan. Tidak ragu lagi bahwa orang demikian yang mengorbankan jiwanya di jalan Allah Ta’ala memperoleh maqam (kedudukan) syahid. Allah Ta’ala membukakan pintu surga baginya. Akan tetapi  syahid  mempunyai arti yang sangat luas. Ia memiliki arti yang sangat luas, ia memiliki arti yang lain lagi. Oleh karena itu pada hari ini saya akan menerangkan arti  syahid  berdasarkan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan juga menurut Hadits-hadits Rasulullah s.a.w..

“Mengapa memohon Doa Menjadi Syahid Bukannya Kemenangan?”

Anak-anak yang lahir, tinggal dan baru beranjak besar di negara-negara ini sering mengajukan pertanyaan ini kepada saya. Pun, beberapa hari yang lalu di sebuah kelas anak-anak perempuan Waqf-e Nou di Hamburg, seorang anak [perempuan] telah mengajukan sebuah pertanyaan: “Apabila tuan [Hudhur] menguraikan mengenai peristiwa para syahid sering kali tuan menceritakan bahwa sang syahid berkata kepada keluarga dekatnya begini, ‘Berdoalah untuk saya mudah-mudahan saya menjadi seorang  syahid atau saya mendapat kedudukan seorang syahid atau menjadi orang mendapatkan keberuntungan sebagai syahid.’ Maka daripada berdoa untuk menjadi syahid mengapa tidak memanjatkan doa agar mendapat kemenangan atas para musuh? Mengapa tidak berdoa demikian?”

Sesungguhnya memanjatkan doa untuk meraih kemenangan  atas musuh adalah doa yang utama. Dan memang ada janji-janji Allah Ta’ala juga kepada Jemaat-Jemaat Ilahi bahwa kemenangan akan diraih oleh mereka. Berulang kali Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud, bahwa beliau akan, kesuksesan-kesuksesan, kemenangan-kemenangan dan kejayaan. Dan kita yakin sekali bahwa kita akan menyaksikan dengan jelas dan cemerlang tanda-tanda kemenangan itu.

Dengan karunia Allah Ta’ala kita sekarang sedang menyaksikan dengan jelas gejala-gejala kemenangan itu, bahkan, setiap tahun kendati pun terdapat penentangan-penentangan, ratusan ribu orang telah baiat memilih masuk ke dalam Ahmadiyah, dan juga di negara-negara yang sedang bergolak dengan penentangan yang sangat keras pun banyak orang yang baiat, dan semua ini mengarahkan kepada kemajuan dan kemenangan [Jemaat Ahmadiyah] yang tengah kita saksikan.

Begitu juga program yang lain yang dibuat oleh Jemaat, mempersembahkan ajaran-ajaran Islam yang hakiki dan menghapuskan keraguan atau syak wasangka dunia terhadap Islam. Hal ini adalah langkah-langkah kemajuan dan kemenangan yang sedang diperjuangkan oleh Jemaat Ahmadiyah. Pada suatu ketika akan datang masanya revolusi rohaniah luar biasa, insya Allah Ta’ala Ta’ala akan berkobar dimana-mana di dunia ini, dan yang untuk itu setiap orang Ahmadi hendaknya harus berusaha dan juga berdoa.

Bagaimanapun  untuk maksud dan tujuan yang agung itu sangat diperlukan pengorbanan-pengorbanan, juga diperlukan pengorbanan jiwa. Dan para anggota Jemaat Ahmadiyah di manapun diperlukan, mereka memberikan segala macam pengorbanan dan mereka selalu siap untuk berkorban. Di antaranya pengorbanan berupa jiwa atau nyawa juga yang bagi para pengorban jiwa itu akan diberi martabat syahadat (kesyahidan), dan orang-orang itu siap masuk ke surga keridaan Allah Ta’ala. Akan tetapi sebagaimana telah saya katakan, bahwa kesyahidan bukan hanya sekedar itu saja, makna syahid bukan sekedar itu saja. Para pemuda dan juga orang-orang dewasa yang mengajukan pertanyaan harus mendalami detail (rincian) makna  syahid  itu agar setiap orang berusaha untuk meraih kedudukan syahid itu, memahami ruh doa itu [doa minta menjadi syahid] dan masuk kedalam surga keridhaan Allah Ta’ala.

Hadits-Hadits Nabi s.a.w. mengenai Syahid, Nabi s.a.w. pun Memohon Kemenangan bukan Mati Syahid

Pada suatu ketika Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda kepada Abu Hurairah r.a., bahwa jika seseorang mati di jalan Allah Ta’ala mulai dianggap syahid  maka tidak akan banyak orang-orang yang menjadi  syahid  di dalam umatku.”[2]

Di dalam Hadits Muslim diriwayatkan Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Orang yang dengan niat bersih dan lurus menginginkan kesyahidan maka Allah Ta’ala akan memasukkannya ke dalam golongan orang-orang syahid  sekalipun ia mati di atas tempat tidur.”[3]

Kita menyaksikan [di dalam tarikh, sejarah] ketika terjadi Perang Badar mengingat janji Allah Ta’ala maka Rasulullah s.a.w. memohon kemenangan. Beliau s.a.w. juga memohon keselamatan untuk orang-orang Muslim yang menyertai beliau s.a.w. dalam Perang Badar itu. Beliau tidak meminta kesyahidan  dengan mengorbankan jiwa. Beliau memohon kepada Allah Ta’ala, “Jika orang-orang Muslim ini hancur binasa maka siapakah lagi yang akan beribadah kepada Engkau?”[4]

Allah Ta’ala juga telah menjelaskan tujuan penciptaan manusia, yakni itulah dia beribadah kepada-Nya.

Tidak Boleh Mengharapkan Perang

Oleh karena itu, tujuan kehidupan seorang mu’min sejati bukan untuk mengorbankan jiwanya hanya satu kali saja melainkan terus menerus berusaha demi meraih keridhaan Allah Ta’ala dan setiap waktu siap sedia untuk memberikan setiap jenis pengorbanan. Ya, untuk hal ini terdapat riwayat juga dalam Hadits-Hadits bahwa seorang mu’min tidak boleh mengharapkan terjadinya perang. [5]

Akan tetapi apabila ia dipaksa musuh untuk berperang maka ia tidak boleh berbalik karena takut melainkan harus menghadapinya dengan mardaanahwaar (gagah berani) sekalipun harus mengorbankan jiwanya dan atas hal itu ia takkan pernah mundur ke belakang. Ketika perang telah diizinkan dan sedang berkecamuk maka setelah berperang melawan musuh, seorang mu’min akan meraih kedudukan syahid atau mendapatkan kemenangan, dan dalam hal ini tak ada rasa takut dan gentar dalam corak apa pun.

Dalam situasi zaman sekarang tidak diijinkan perang [keagamaan]. Ada juga orang-orang yang memusuhi Jemaat Ahmadiyah, dan mereka memusuhi kita, yang secara pengecut melakukan serangan setelah itu sembunyi atau melarikan diri. Akan tetapi, sekalipun mereka menyerang sambil berhadapan namun sekarang tidak ada perintah untuk berperang. Banyak orang-orang Ahmadi yang menerima ancaman melalui surat, “Tinggalkanlah Ahmadiyah jika tidak, bersiap-sedialah untuk dibunuh.”

Dalam kesempatan demikian keberanian seorang mu’min sangat tinggi dan orang-orang Ahmadi di Pakistan tengah memperlihatkan hal ini bahwa nyawa tidak diragukan lagi akan melayang namun íman dan keridhaan Allah Ta’ala tidak dapat dikorbankan. Itulah keadaan orang mu’min sejati yang tetap tegak dalam menghadapi berbagai keadaan.

Allah Ta’ala telah mengajar orang-orang beriman sebuah doa memohon agar dimasukkan ke dalam golongan para nabi, para shiddiq, para syahid dan orang-orang saleh (An-Nisa ayat 70). Akan tetapi apa cakupan luasnya? Seperti telah saya katakan apa maknanya yang luas itu? Apa falsafahnya? Apa uraian detailnya?

Untuk memahaminya Allah Ta’ala telah bermurah hati kepada kita dengan memberi taufiq kepada kita untuk beriman kepada Imam Zaman, Masih Mau’ud dan Mahdi Mau’ud a.s., yang telah menjelaskannya secara terbuka kepada kita sehingga kita menjadi paham yaitu hal apakah ini?

Saat ini saya tidak akan menjelaskan satu persatu apa yang telah diterangkan di dalam ayat tersebut mengenai nabi, shiddiq, syahid dan shaleh. Seperti telah saya katakan, saya akan menjelaskan apa yang telah dipertanyakan mengenai syahid  yang sekarang sedang dibahas, akan saya perjelas lagi sedetail mungkin, dan saya akan menjelaskannya berdasarkan cahaya penjelasan dan tafsir beliau a.s.. Sebab, bahasan tentang syahid-lah yang sedang berlangsung.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menulis di banyak tempat tentang hakikat, tingkatan dan kedudukan atau martabat syahid. Saya akan menyampaikan beberapa tulisan beliau sehingga jelaslah bahwa mengapa untuk mendapatkan martabat syahid doa sangat diperlukan sekali. Dan untuk syahid  macam apa doa sangat diperlukan? Dan hendaknya kita berdoa untuk jenis syahid yang mana dan mengapa orang mu’min sejati harus menginginkannya.

 

Keluhuran: Hidup Syahid Bukan Sekedar Mati Syahid

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“Masyarakat umum menganggap syahid itu hanyalah orang yang mati di medan perang atau tenggelam di sungai atau karena serangan wabah penyakit dan lain-lain. Akan tetapi saya katakan bahwa pendapat demikian atau terbatas hanya kepada pengertian demikian, jauh dari keluhuran mu’min. Sesungguhnya syahid adalah orang yang telah memperoleh kekuatan istiqamah (keteguhan) dan sakinah (ketentraman) dari Allah Ta’ala.

Tidak ada gejolak atau bencana yang dapat menggoyahkannya…”  —  Hal itu tidak dapat menggoyahkannya dari kedudukannya  —  “…Dia menghadapi musibah demi musibah dan berbagai kesulitan dengan gagah berani, sehingga sekalipun harus mengorbankan jiwanya karena Allah Ta’ala maka tanpa merasa takut dan bimbang ia menyerahkan jiwanya untuk dikorbankan maka ia mendapatkan istiqlal (ketetapan hati) yang tidak biasa.”

(Ia memperoleh istiqlal yang luar biasa) “tanpa merasa sedih dan menyesal ia menyerahkan kepalanya.” (tanpa merasa sedih, dengan ikhlas menyerahkan kepalanya untuk dikorbankan) Dan ia menginginkan, ‘Saya berkali-kali hidup dan berkali-kali menyerahkannya untuk dikorbankan di jalan Allah Ta’ala.’ Di dalam ruhnya merasakan bahagia dan lezat atas sayatan pedang kepada tubuhnya atau pukulan-pukulan yang menghancurkan seluruh tubuhnya. Itu memberinya kehidupan, kesenangan dan kesegaran baru kepadanya. Itulah makna dari pada Syahid.”

Faedah Apa Bila  Syahid Hanya oleh karena Kematian?  

Beliau a.s. bersabda: “Lafaz syahid ini keluar dari perkataan “الشَهْد” syahd (madu). Manusia tahan melakukan ibadah keras dan tahan menghadapi berbagai macam kesulitan dan kesusahan di jalan Allah Ta’ala. Ia merasakan semua itu seperti madu manis dan lezat rasanya.

Sebagaimana syahd (madu) sesuai dengan firman Tuhan فيه شفاء للناس — fiihi syifaa-ul lin naas (surah an-Nahl 70), artinya madu itu mengandung kesembuhan (antidot) bagi manusia, begitu juga  syahid sebagai antidot. Orang yang bergaul dengan para syuhada (para  syahid ) akan mengalami kesembuhan dari berbagai penyakit (rohaniah).”

Jika martabat  syahid  itu hanya diperoleh melalui kematian, bagaimana manusia dapat memperoleh faedah dari pergaulan dengannya itu? Kebaikan hakiki, berjalan di atas keridhaan Allah Ta’ala dan memperoleh qurb (kedekatan) Allah Ta’ala itu adalah satu martabat syahid juga yang orang-orang hidup mendapatkan kesembuhan berbagai penyakitnya melalui pergaulan. Selanjutnya beliau a.s. bersabda: “Satu derajat dan kedudukan yang bernama syahid ialah juga tatkala manusia dalam setiap pekerjaannya, ia melihat Allah Ta’ala, atau  sekurang-kurangnya jika di waktu melakukan pekerjaannya ia yakin sedang melihat Allah Ta’ala. Hal itu ihsan juga namanya.”[6]

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bahwa salah satu kedudukan  syahid  itu adalah, manusia melihat Tuhan di waktu sedang melakukan setiap pekerjaan atau ia yakin bahwa Tuhan sedang melihat apa yang sedang ia kerjakan.”[7]

Yakni, pekerjaan yang pada umumnya dikerjakan, ia terdapat keyakinan di dalamnya dari itu, “Allah Ta’ala tengah melihat pekerjaan saya.” Jika keadaannya selalu seperti itu maka ia akan selalu menaruh perhatiannya terhadap pekerjaan-pekerjaan yang baik kemudian manusia tidak dapat mengerjakan pekerjaan buruk.

Apakah ihsaan berkenaan dengan Dzat Allah Ta’ala? Beliau bersabda bahwa apabila keadaannya demikian maka ia disebut ihsaan. Apa ihsaan itu? Untuk penjelasannya di satu tempat beliau a.s. bersabda, bahwa:

 “Allah Ta’ala memerintahkan kepada kalian, yaitu berlakulah adil kepada-Nya dan kepada makhluk-Nya.” (keadaan sebelum ihsaan adalah adil) kemudian bersabda, “Yakni tunaikanlah hak Allah dan hak hamba-hamba-Nya. Jika dapat berbuat lebih dari itu maka kalian bukan hanya berlaku adil melainkan berlakulah ihsaan, yakni melebihi fardhu-fardhu (kewajiban-kewajiban yang diperintahkan). Dan menghambalah kepada Tuhan dengan penuh ikhlas seakan-akan kalian sedang melihat Tuhan.”

Pertama adalah fardhu-fardhu yang telah ditetapkan, ibadah-ibadah itu dilakukan, akan tetapi lebih dari itu, nawafil (nafal-nafal, tambahan-tambahan) juga dilakukan. Melaksanakan pemenuhan hak ibadah kepada Allah Ta’ala dan mengikat hubungan dengan Allah Ta’ala, jika semua itu dilaksanakan, maka itulah bandgi (ubudiyyat, penghambaan, penyembahan), dan itulah ihsaan. Hal ini yang akan membawa kepada martabat syahid. Selanjutnya beliau a.s. bersabda: “Penuhilah hak sesama manusia lebih dari batas kewajiban.”[8]

Hanya sekedar memenuhi hak-hak mereka saja tidak cukup, untuk meraih peringkat yang lebih tinggi, untuk dapat dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang meraih martabat syahid, maka bersamaan dengan memenuhi hak-hak manusia, perlakukanlah mereka dengan kasih-sayang, lemah-lembut dan ihsaan (kebaikan lebih).

Kemudian dalam menjelaskan tuntutan keadilan yaitu,  Timbulkanlah hubungan erat dengan Allah Ta’ala sehingga betul-betul yakin tidak ada yang patut disembah, tidak ada yang patut dicintai dan tidak ada yang patut menjadi tumpuan tawakkal selain dari pada-Nya. Tidak ada yang patut menjadi tumpuan tawakkal selain dari pada-Nya sebab Dia adalah Khaliq atau Pencipta. Dia Penegak kehidupan ini serta nikmat-nikmat-Nya. Dan Dialah Rabb Yang Memelihara. Dan Dia menyediakan dan memberi berbagai jenis nikmat.

Tidak Cukup Hanya “Yakin” Tetapi “Benar-benar Yakin”

 Selanjutnya beliau a.s. bersabda: “Bagi seorang mu’min tidak cukup hanya yakin terhadap semua perkara tersebut atau hanya tahu (mengetahui) bahwa Allah Ta’ala adalah Pemilik segala Kekuatan dan Rabb, bahkan ia harus lebih maju lagi dari itu, yaitu “Ia harus betul-betul yakin akan keagungan Allah Ta’ala Yang Maha Tinggi dan menjadi sangat adab dan hormat dalam melakukan ibadah di hadapan Allah Ta’ala, dia menjadi pelaksana ibadah dengan kerinduan dan kecintaan yang timbul di dalam hatinya.”

(Keadaan seperti itulah yang harus dimiliki, yaitu menghadap Allah Ta’ala dengan penuh adab. Merendah-rendah di hadapan-Nya dan menyembahnya dengan hati yang lurus. Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda): “Kalian harus fana (larut) dalam mencintai Allah Ta’ala seakan-akan telah melihat Keagungan-Nya, Keperkasaan-Nya dan Keindahan-Nya yang kekal abadi.”[9]

Oleh karena itu, apabila manusia melihat akan ketidakterbatasan dan ketidakhabisan dari ihsaan-Nya, yakin akan sifat itu, selalu memberikan perhatian dalam beribadah kepada-Nya, maka ia tidak akan melakukan gerakan seperti ini, yaitu gerakan yang bertentangan dengan keridhaan-Nya, apabila keadaannya sudah demikian maka ia telah sampai pada maqam (kedudukan, kondisi, derajat) syahid.

 Di sini juga beliau a.s. menjelaskan mengenai syahid, yaitu apabila hubungan dengan Allah Ta’ala sudah demikian tegak maka kekuatan istiqamah (keteguhan) pun muncul, kemudian manusia menjadi siap untuk menghadapi setiap jenis pengorbanan demi meraih keridhaan Allah Ta’ala.  Semua itu terjadi bukan karena keterpaksaan, bahkan ketenangan akan dirasakan dalam menghadapi kesulitan di jalan Allah Ta’ala dan hal itu menjadi sumber ketenteraman.

Orang beriman tegak berdiri dengan gagah berani menghadapi setiap kesulitan. Tidak ada rasa takut dan duka cita serta putus asa atau penyesalan di dalam hatinya. Ia tidak akan berkata: “Jika saya tidak mengerjakan ini, atau jika saya menerima tawaran ini dan itu dan takluk kepada ancaman-ancaman untuk meninggalkan Ahmadiyah, atau saya harus memutuskan hubungan dengan Ahmadiyah karena ancaman mereka niscaya saya selamat [terhindar] dari kesulitan yang dihadapi.”

“Api Ujian Keimanan” Menjadi Sarana Ketentraman

Orang beriman tidak akan pernah berfikir seperti itu jika ia betul-betul beriman. Sebaliknya, kekuatan iman dan keyakinan akan Wujud Tuhan Yang Mahakuasa dalam menghadapi kesulitan-kesulitan menjadi sarana ketenangan, ketenteraman dan sukacita. Inilah maqam (kedudukan) syahid. Kemudian beliau bersabda: ”Derajat syahid  didapat bila manusia beribadah kepada Allah Ta’ala sambil menghadapi kesulitan-kesulitan.”[10]

Ia mengorbankan sarana kesenangan duniawinya di jalan keridhaan dan ibadah-Nya. Bukan saja ia berkorban bahkan ia mencapai suatu maqam (kedudukan) dimana ia menerima suatu ketenangan dan ketenteraman dari Allah Ta’ala berkat amal-amal ibadahnya. Ia merasakan sangat lezat dalam ibadahnya itu seperti merasakan lezatnya madu. Hendaknya shalat dan ibadah-ibadah orang mu’min, perhatian terhadap shalat atau perhatian terhadap ibadah-ibadah bukan atas dasar terpaksa melainkan karena keyakinan penuh serta kamil (sempurna) terhadap Allah Ta’ala, dan karena, “Allah Ta’ala sedang melihat dan memperhatikan saya. Setiap amal yang dikerjakan karena Allah Ta’ala akan menjadi sarana keridhaan Allah Ta’ala.”

Keridhaan itu akan membimbing ke arah martabat syahid . Demikian juga apabila seseorang meninggalkan setiap keburukannya dan ia meninggalkan karena Allah Ta’ala telah melarangnya — “Saya ingin meraih keridhaan-Nya, ingin memperkuat hubungan dengan Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala melihat setiap amal baik maupun buruk manusia, kebiasaan buruk saya dan amal jahat saya dapat menjadi penyebab kemarahan Tuhan kepada saya” —  maka hal itu semua bukan saja akan menahannya dari keburukan-keburukan bahkan akan membawa perhatiannya terhadap amal-amal kebaikan, dan akan meningkatkan iman dan keyakinannya yang kuat, dan itulah tujuan kehidupan manusia. Itulah tujuan kehdiupan seorang mu’min.

 

Syahid Adalah Nama dari Kualitas Hati

 Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ”Orang-orang pada umumnya menganggap syahid  itu adalah orang yang mati terbunuh dengan panah atau senapan atau mati secara tiba-tiba karena suatu musibah”.[11]

Di sini juga saya akan menerangkan satu hadist. Hadhrat Rasulullah s.a.w. menerangkan bahwa ada lima orang yang mati termasuk golongan syahid  yaitu mati karena wabah, mati karena sakit perut, mati karena tenggelam, mati terkubur oleh reruntuhan rumah yang roboh dan mati di jalan Allah Ta’ala.[12]

Sehubungan dengan itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tidak hanya menjelaskan:  “Hal demikian di sisi Allah Ta’ala bukanlah kedudukan syahaadah (kesyahidan).” — (Ini adalah kesyahidan dikarenakan kematian secara lahiriah saja, akan tetapi, di sisi Allah Ta’ala ada lagi kedudukan  syahid  yang harus dicari oleh setiap orang mu’min.)

Bahkan beliau a.s. bersabda: “Menurut pendapat saya ada lagi kedudukan syahid lainnya, hakikat syahid  adalah satu keadaan yang kaitannya dengan hati. Ingatlah, shiddiq mempunyai hubungan kedekatan dengan nabi dan kedudukannya nomor dua  setelah  nabi.”

Di awal khotbah saya [Hudhur V atba] telah menyampaikan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Berdoalah demikian agar menjadi orang-orang yang beramal saleh, menjadi orang-orang yang menaati Allah Ta’ala dan rasul-Nya, mereka adalah para nabi atau para shiddiq atau para syahid atau para saleh)

 

Derajat Nabi, Shiddiq, Syahid dan Saleh

 Maka beliau a.s. bersabda: ”Ingatlah bahwa shiddiq mempunyai hubungan kedekatan dengan nabi. Dan derajatnya kedua sesudahnya, dan syahid adalah tetangga shiddiq. Sedangkan martabat nabi merangkum semua sifat [kesempurnaan], ia shiddiq juga, syahid juga dan shaleh. Akan tetapi kedudukan shiddiq dan syahid adalah berlain-lainan. Tidak perlu dibahas apakah shiddiq itu juga syahid atau tidak? Kedudukan sempurna yang dipahami mengenainya setiap urusan yang bersifat luar biasa dan mu’jizat, kedua kedudukan itu dari segi tingkat dan martabat berbeda satu sama lain.

Oleh sebab itu Allah Ta’ala memberi kekuatan sedemikian rupa sehingga amal perbuatan dan akhlak yang baik memancar darinya dalam keadaannya yang sangat sempurna dan berlaku tanpa dibuat-buat. Tidak ada suatu rasa takut atau harapan yang menjadi sebab berlakunya amal-amal baik itu, melainkan amal perbuatan itu merupakan bagian dari fitrat alami dan tabiatnya sendiri. Perlakuan fitrati dan tabiatnya itu tidak dibuat-buat. Tidak ada perasaan terpaksa dalam fitratnya.

Seumpama seorang pengemis di tempat ramai meminta sedekah dari seseorang (kita melihat di kalangan orang-orang duniawi. Beliau a.s. memberikan contoh ada pengemis yang datang kepada seseorang) ”maka orang itu baik padanya ada uang banyak atau tidak, akan terpaksa memberinya sesuatu.”

(Apabila ia sedang berada di hadapan banyak orang, bila ia pernah mengatakan dirinya memiliki banyak uang atau pun tidak mengatakan demikian maka selanjutnya ia juga menjadi malu dan terpaksa memberi karena malu. Bersabda) ”Bila bukan karena takut kepada Allah [ikhlas], ia memberi karena malu terhadap orang lain. (Bagaimana dengan kata orang bahwa tuan itu seorang kaya tapi ketika ada orang meminta tidak diberi)

”Tetapi pada diri seorang syahid tidak ada satu pun jenis keterpaksaan yang demikian. Kekuatan dan kemampuannya selalu meningkat terus. Kekuatannya semakin banyak meningkat maka semakin berkurang kesulitan yang dihadapinya dan ia tidak merasa ada suatu beban dalam melakukan kebaikan apapun. ”

(Ia bertahan dengan penuh sabar menghadapi setiap kesulitan semata-mata karena Allah Ta’ala. Ia selalu siap memikul tanggung jawabnya tanpa ragu atau tanpa dibuat-buat dan tanpa mengharapkan suatu pembalasan.) Selanjutnya beliau bersabda, ‘’Misal di kepala seekor gajah ada seekor semut apakah ia gajah itu  akan merasakannya ?’’[13]

Dari satu segi, bagi seorang mu’min hakiki ada satu-satunya penderitaan, yaitu bagi mu’min yang sangat menginginkan derajat syahid. Oleh karena itu beliau a.s. banyak bersabda, bahwa sebenarnya syahadat (kesyahidan) adalah nama dari kaifiyat (keadaan kualitas, mutu) hati, keadaan hati yang timbul karena keyakinan dan keimanan yang sempurna terhadap Allah Ta’ala. Yakni, seperti telah dijelaskan, ia meyakini demikian, ”Apa yang sedang saya kerjakan sedang diawasi oleh Allah Ta’ala dan setiap pekerjaan dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala. ”

Maka, amal yang baik dan akhlak tertinggi muncul dalam bentuk aslinya dari orang mu’min yang demikian. Yakni amal salehnya dilakukan bukan untuk pamer melainkan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala, dan keridhaan Allah Ta’ala itu dihasilkan bukan hanya karena usaha melainkan ia merupakan bagian dari fitrat dan tabiat orang mu’min yang secara terus menerus berusaha untuk itu.

Semata-mata Mencari Keridhaan Allah Ta’ala

 Apabila ia berusaha untuk terus menerus beramal demikian maka tidak timbul pikiran lain dalam benaknya melainkan hanya untuk menghasilkan keridhaan Allah Ta’ala. Umpamanya ia mendapat kesempatan untuk berkhidmat kepada Jemaat, ia melakukan pekerjaan dengan cara yang sebaik-baiknya bukan karena demikian bahwa, ”Semoga mereka memuji saya.” Melainkan, ”Semoga meraih keridhaan Allah Ta’ala. ” Pengkhidmatannya sedemikian rupa kuat berakar dalam dirinya sehingga ia justru tidak merasa tenang dan tenteram tanpa melakukan pengkhidmatan [terhadap Jemaat].

Banyak orang yang menyatakan kegelisahannya karena tidak mendapat tugas untuk berkhidmat. Beliau a.s. memberi misal dengan seorang faqir atau pengemis yang menghampiri orang-orang untuk meminta-minta sedekah. Biasanya orang-orang materialistik pun memberinya sedekah. Akan tetapi pada umumnya orang-orang memberinya sedekah untuk pamer.

Tetapi orang syahid  tidak demikian, ia memberi sedeqah karena fitrat baiknya mendorongnya untuk berbuat demikian, dan kekuatan untuk beramal baik secara fitratinya itu setiap waktu meningkat terus menerus. Setelah mengerjakan tugas apapun atau pengkhidmatan apapun ia tidak merasa bahwa ia telah mengerjakan suatu karya besar sehingga patut mendapat pujian atau penghargaan atau pernyataan gembira dari orang-orang.

Sama sekali tidak berpikir demikian bahwa ia harus mendapat suatu pujian atau pembalasan dari orang-orang dunia. Tidak pernah berpikir bahwa  ”karena berkhidmat dalam Jemaat maka pasti para pemimpin Jemaat memberi suatu penghargaan kepada saya.” Tidak sama sekali tidak mengharapkan demikian. Melainkan semata-mata demi meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam kitabnya ‘’Taryaaqul Quluub’’ bersabda :

‘’Yang dimaksud dengan kedudukan syahadah (kesyahidan) itu adalah kedudukan yang bila seorang insan meyakini Tuhan dan Hari Kiamat dikarenakan kekuatan keimanannya begitu meningkat seakan-akan ia menyaksikan di hadapan matanya.

Berkat dari keyakinannya itu kesulitan dan kerepotannya di waktu menunaikan suatu kebaikan menjadi hilang. Setiap qadha dan qadar (hal-hal yang ditakdirkan) oleh Allah Ta’ala — disebabkan persesuaian dengan suasana itu turun ke dalam kalbu (hati) dengan rasa yang sangat lezat laksana madu, sehingga semua serambi dada penuh diliputi rasa manis, dan setiap kedukaan dan kesakitan nampak dalam corak sebagai in’aam (karunia-karunia dari Allah Ta’ala).

 Maka di sini syahid ialah sebutan kepada orang yang menyaksikan Tuhan dikarenakan kekuatan imannya, dan takdir Tuhan yang pahit pun dirasakannya manis laksana madu. Dalam segi makna itulah sebutan syahid. Dan martabat ini sebagai tanda bagi mu’min (orang beriman) yang sempurna.‘’[14]

Kecintaan Kepada Allah Ta’ala Harus Di Atas Kecintaan Kepada Selain-Nya

Setiap orang mu’min toh beriman kepada hari pembalasan tapi apa makna keyakinan terhadapnya? Keyakinan kepadanya timbul berkat ada hubungan dengan Allah Ta’ala. Orang dunyadaar (duniawi, materialistik) juga, demi orang yang dicintainya berani memikul berbagai kesulitan, maka sudah seberapakah berbagai kesulitan yang harus telah kita pikul demi untuk Allah Ta’ala yang harus paling dicintai lebih dari semua yang dicintai?

Hasil dari mencintai dunia mereda seiring dengan berlalunya waktu dan berakhir di dunia ini juga. Akan tetapi hasil dari mencintai Allah Ta’ala tidak akan pernah berakhir bahkan sampai Hari Kiamat juga akan terus meningkat lebih banyak lagi. Ganjaran amal saleh membawa manusia sampai ke dalam surga. Kebanyakan natijah (akibat) amal manusia di dunia ini sangat keras dan pahit.

Misalnya seorang dunyadaar, demi meraih sarana-sarana kenikmatan duniawi seringkali mengambil keuntungan dengan banyak berkata dusta. Akan tetapi seorang mu’min hakiki menganggap dusta itu sama dengan syirik ia tidak pernah berusaha mengambil faedah dari dusta.

Bahkan sebaliknya, di dunia ini ia berkata benar yang kadangkala menjadi penyebabnya menerima kerugian juga. Misalnya Ahmadiyah adalah satu kebenaran. Kita telah beriman kepada Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud, yang datang sesuai dengan janji Allah Ta’ala. Akan tetapi disebabkan kebenaran inilah banyak sekali orang Ahmadi di berbagai negara di dunia sedang terperangkap dalam berbagai kesulitan. Yang paling sulit  keadaannya ialah [para Ahmadi] di Pakistan. Dengan menyatakan keimanannya orang-orang Ahmadi di sana dikenakan berbagai hukuman tetapi mereka tetap tegak dalam keimanan mereka.

Terapkanlah Kejujuran dalam Permohonan Suaka

Di sini sambil lalu saya ingin memberitahu bahwa para Ahmadi disebabkan situasi dan kondisi, mereka datang ke negeri ini untuk mencari suaka (asylum). Disebabkan menyatakan kebenaran maka mereka dianiaya di negeri sendiri kemudian hijrah berdatangan ke negeri ini. Akan tetapi apabila mereka membuat pernyataan dusta atau salah demi mendapat status suaka maka mereka akan menyia-nyiakan semua kebenaran iman mereka.

Di negara-negara ini [Barat] manusia sangat menghargai kejujuran. Sebagian dari mereka menceritakan dengan jujur, sebab kebanyakan kasus mereka betul-betul tulen, mereka mendapat tekanan dan penyiksaan dari musuh-musuh Jemaat, namun ada juga orang-orang yang betul-betul tidak menanggung kesulitan atau kesusahan dari pihak musuh.

Akan tetapi mereka harus berkata jujur dan katakan bahwa: “Penindasan dan penganiayaan di sana secara fisik ataupun secara undang-undang membuat kami sangat tertekan dan tidak mempunyai kebebasan.  Sekarang keadaan penindasan semakin meningkat sehingga kami tidak bisa bertahan oleh karena itu kami hijrah dari sana. Sekalipun sampai sekarang ratusan ribu Ahmadi tetap berada di Pakistan dan Insya Allah akan tetap tinggal, akan tetapi setiap orang mempunyai kekuatan dan kesabaran yang berbeda-beda. Oleh sebab itu kami telah datang ke sini.”

Dengan demikian orang-orang di sini paham. Dengan perasaan simpati  mereka memberi visa yang panjang atau suaka. Akan tetapi jika berdusta maka terbukalah baginya kesempatan untuk banyak kali berdusta. Sering terjadi tuntutan (case) mereka ditolak atau banyak juga yang lulus. Namun jelaslah bahwa cara mereka mengemukakan tuntutan (case) itu menimbulkan kemarahan Allah Ta’ala. Jadi, keridhaan Allah Ta’ala harus menjadi perhatian kita sepenuhnya.

  Maka hendaknya kita senantiasa meletakan keridhaan Allah Ta’ala di hadapan kita. Kepada siapapun saya berkata agar dalam mengemukakan case (tuntutan) itu atas dasar kebenaran atau tidak berdusta. Kemudian mereka juga betul-betul berkata atas dasar kebenaran dan berdoa juga kepada Allah Ta’ala maka saya melihat bahwa case (tuntutan) mereka dalam beberapa hari saja sudah diluluskan.

Hadits Nabi s.a.w. tentang Menjaga Kejujuran, Berhijrah karena agama serta Shiddiq dan  Syahid

Sesuai dengan sebuah Hadits Rasulullah s.a.w. orang yang berkata benar atau menjaga kebenaran kemudian ia hijrah karena agama maka ia juga adalah syahid bahkan shiddiq.

Diriwayatkan dari Abud Darda’ r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang yang hijrah dari satu tempat ke tempat lain demi menjaga imannya dari kerusakan disebabkan timbulnya fitnah atau kerusuhan di kawasannya, dalam pandangan Allah Ta’ala ia adalah shiddiq. Jika ia mati dalam keadaan demikian maka ia adalah syahid. Beliau saw menilawatkan ayat ini وَالَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرُسُلِهِ أُولَئِكَ هُمُ الصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ عِنْدَ رَبِّهِمْ yang artinya: “Orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya maka ia di sisi Tuhannya adalah shiddiq dan syahid .”

Kemudian beliau s.a.w. bersabda: “Orang yang pergi dari satu negeri ke negeri lain demi menyelamatkan imannya maka di Hari Kiamat ia akan bersama Isa Ibnu Maryam dalam tingkatan yang sama di surga”.[15]

Oleh karena itu, saudara-saudara yang datang ke negeri ini jika datang demi agama maka tegakkanlah selalu kebenaran atau selalu berkata benar, perkuatlah keimanan dan yakinlah kepada Hari Pembalasan.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa Hari Pembalasan berupa hukuman dan ganjaran kebaikan adalah perkara yang sangat pasti.[16]

Sebagaimana itu adalah firman Allah Ta’ala dan sabda Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Beliau a.s. selanjutnya menjelaskan lebih jelas lagi. Maka jika Hari pembalasan itu adalah hal yang pasti mengapa kita tidak menjalani kehidupan sesuai dengan perintah Allah Ta’ala demi memperoleh ganjaran yang baik? Demi kehidupan duniawi mengapa manusia harus menjadi mangsa hukuman Allah Ta’ala. Ini adalah satu topik lain lagi. Akan tetapi, ringkasnya, orang yang menaruh perhatian penuh terhadap Hari pembalasan mempunyai keyakinan yang sempurna terhadap Allah Ta’ala maka ia adalah orang beriman dan juga syahid.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kesempurnaan syahid adalah di waktu hari-hari musibah (kesulitan), kesedihan dan ujian memperlihatkan kekuatan iman, kekuatan akhlaknya dan keteguhan langkahnya sehingga menjadi sebuah tanda disebabkan keadaannya yang luar biasa.” (Tiryaqul Quluub, Ruhani Khazain, jilid 15, halaman 516)

Selanjutnya beliau a.s. bersabda: “Setiap kali nilai keimanan menguat, sedemikian pula amal-amal pun akan bernilai kuat. Sehingga demikian bahwa bila kekuatan iman ini  berkembang secara sempurna maka orang mu’min demikian akan berada pada kedudukan syahid. Sebab, tidak ada  satu perkara pun yang dapat menghentikannya. (apapun tidak dapat menghalanginya) Dalam menyerahkan jiwanya juga ia tidak akan merasa takut dan menyesal” (Malfuuzhaat, jilid awwal halaman 226, edisi 2003, terbitan Rabwah.)

Pendek kata, untuk mendapatkan derajat syahid bukan hanya menyerahkan jiwa saja, melainkan [makna syahid ialah] meraih standar keimanan yang setinggi-tingginya dan mencapai keridhaan Allah Ta’ala, dan setiap waktu yakin secara sempurna bahwa Allah Ta’ala sedang melihat  setiap amal perbuatannya.“

Keyakinan pada Akhirat dan Kedatangan Masih Mau’ud

Secara ringkas saya juga ingin memberitahu hal ini  bahwa bagaimana standar keimanan yang telah Allah Ta’ala tetapkan bagi seorang mu’min. Allah Ta’ala berfirman, “يؤمنون بالغيب” yu’minuuna bilghaib  —  “beriman kepada yang gaib” (Surah Al-Baqarah, 2:4). Firman-Nya lagi: Dirikanlah salat, belanjakanlah harta kamu di jalan Allah Ta’ala, berimanlah secara sempurna kepada semua Nabi yang sudah lalu dan kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Berimanlah  kepada Imam Zaman ini dan Masih Mau’ud. Allah Ta’ala berfirman: “وبالآخرة هم يوقنون” (wa bil aakhirati hum yuu-qinuun) “dan orang mu’min yakin akan akhirat.” (Al-Baqarah:5).

Yakni, yakin kepada perkara-perkara akan datang yang telah dijanjikan, dan perkara paling besar di zaman akhir yang telah dijanjikan tiada lain adalah kedatangan Masih Mau’ud (Imam Mahdi). Itulah sebabnya tentang “وبالآخرة هم يوقنون”  (wa bil aakhirati hum yuuqinun) Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan: “Allah Ta’ala telah menetapkan wajib beriman kepada saya”.[17]

Selanjutnya untuk memperkuat keimanan Allah Ta’ala berfirman bahwa perkuatlah iman kamu sekalian. Tanda seorang mu’min sejati adalah ia sangat mencintai Allah Ta’ala. Hal ini juga harus diperhatikan oleh setiap orang bahwa Allah Ta’ala harus dicintai lebih dari pada yang lain. Jika tidak ada iman seperti itu maka iman menjadi lemah.

Kemudian iman kepada Allah Ta’ala, iman kepada Malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada Rasul-rasul-Nya, sebelumnya pun telah disebutkan bahwa beriman kepada semua perkara ini sangat penting. Dan selanjutnya standar iman juga harus semakin meningkat.

Tentang standar iman Allah Ta’ala berfirman: “Apabila disebut nama Allah Ta’ala di hadapan orang-orang beriman maka hati mereka menjadi gemetar karena khauf dan khasy-yat (takut) kepada Allah Ta’ala.”

 

Jihad Tabligh, Jihad Ishlah Diri dan Makna “Kami Dengar dan Kami Taat”

 

Selanjutnya beliau a.s. bersabda, bahwa orang mu’min adalah mereka yang berjihad di jalan Allah Ta’ala. Sekarang  jihad juga ada bermacam-macam jenisnya. Jihad dengan pedang, jihad ini sudah tertutup dengan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Sekarang tidak ada perang-perang agama sehingga jihad semacam itu tidak ada.

Jihad yang merupakan kewajiban setiap Ahmadi untuk menguatkan iman, untuk mendapatkan martabat syahadat (syahid) dan harus dilakukan di setiap tempat dan di setiap negara, yaitu jihad tabligh. Maka dimana ada kewajiban jihad untuk memperbaiki nafs (jiwa) sendiri maka di sana jihad untuk menyampaikan amanat Tuhan juga adalah kewajiban setiap orang Ahmadi. Jihad itu dapat dilakukan di setiap negara dan di setiap tempat, dan orang-orang yang datang di negeri ini juga harus berlomba-lomba mengambil bagian di dalam jihad ini.

Selanjutnya beliau a.s. bersabda bahwa hijrah demi meraih keridaan Allah Ta’ala adalah bagian dari keimanan.

Dan tanda iman adalah apabila orang-orang beriman diseru kepada hukum-hukum Allah Ta’ala maka mereka berkata : سمعنا وأطعنا  (sami’naa wa atha’naa – kami dengar dan kami taat), maksudnya bukan didengar dengan kuping kanan keluar dari kuping kiri, melainkan didengar dan ditaati, dan inilah keistimewaan yang melekat pada mu’min sejati.

Banyak sekali perkara, banyak nasihat-nasihat dan khotbah-khotbah juga telah banyak anda dengar, bukan hanya didengar lalu diam, melainkan harus didengar dan ditaati (diamalkan) juga.  Diamalkan sedemikian rupa sehingga menjadi contoh bagi yang lain. Maka, jika hal ini semua diamalkan maka akan menjadi mu’min sejati dan akan sampai kepada kedudukan yang akan membawa kepada status syahid.

Bukanlah karakter seorang mu’min dengan mulai membahas [sebuah perintah] sambil berkata, “Perkara ini begini maksudnya dan penafsirannya begini begitu, atau, mulai menghujat [mendebat]. Cara demikian bukan pekerjaan orang mu’min. Selanjutnya, inilah tugas seorang mu’min sejati, yaitu apabila hukum-hukum Allah Ta’ala dikemukakan kepadanya maka hatinya mulai gemetar karena takut. Itulah karakter mu’min sejati. Kemudian dia bersujud di hadapan Allah Ta’ala memohon kekuatan untuk mengamalkan semua hukum-hukum itu. Selanjutnya, semakin meningkatnya kecintaan terhadap Rasulullah s.a.w. juga adalah tanda orang mu’min sejati.[18]

Maka itulah keistimewaan yang harus dimiliki oleh orang-orang mu’min di zaman ini. Bahkan di zaman ini, sesuai dengan bunyi salah satu butir syarat baiat yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., bahwa Allah Ta’ala telah mengutus beliau a.s. sebagai asyiq shadiq Rasulullah s.a.w. dan Masih Mau’ud untuk melanjutkan tugas beliau s.a.w. dalam rangka mengikuti beliau s.a.w., [kaitannya dengan ini], hubungan dengan beliau a.s. juga harus lebih [lebih besar, lebih penting, lebih erat] dibanding semua hubungan duniawi yang lain.[19]

Tanda-tanda Keistimewaan Mu’min Hakiki

 Itulah keistimewaan-keistimewaan seperti yang telah saya katakan, harus dimiliki oleh seorang mu’min, dan apabila keistimewaan ini telah diperoleh maka seorang insan akan meraih martabat syahid, sekalipun ia mati di atas tempat tidurnya. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk mendapatkan kedudukan itu dan harus menciptakan keyakinan yang sempurna terhadap Dzat Allah Ta’ala. Timbulkanlah keyakinan yang sempurna terhadap Hari Pembalasan. Dalam setiap amal perbuatan masing-masing harus yakin sepenuhnya akan hal itu. Dalam setiap amal perbuatan masing-masing harus yakin sepenuhnya, “Allah Ta’ala sedang menyaksikan diriku.”

Demi keridhaan Allah Ta’ala apabila ingin melepaskan diri dari kesulitan harus meminta pertolongan kepada-Nya. Minta kekuatan iman sedemikian rupa yang dapat menjadi sebuah tanda. Perkuatlah iman sehingga tidak ada suatu keserakahan duniawi atau suatu keinginan yang dapat mengubah iman kita.

Bersihkanlah pikiran dan hati dari setiap jenis rasa takut dalam melakukan amal-amal kebaikan. Jadilah pelaku setiap amal kebaikan secara lurus tanpa dibuat-buat. Jadikanlah setiap kebaikan bagian dari fitrat kita. Jadilah hamba yang selalu menundukkan kepala di hadapan Allah Ta’ala demi memperoleh kekuatan istiqamah (keteguhan) dan sakinah (ketentraman).

Carilah standar ibadah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Itulah standar yang harus diusahakan oleh setiap orang mu’min, dan untuk itu harus banyak-banyak memanjatkan doa. Adakah orang mu’min yang berkata mengapa kita harus berdoa untuk meraih kedudukan syahid? Kedudukan syahid seperti itulah yang setiap orang mu’min harus memanjatkan doa untuknya supaya ia menjadi mu’min hakiki.

Kutipan-kutipan di atas yang saya sampaikan secara singkat dari sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Hal ini sungguh demikian pentingnya dimana setiap orang harus mempunyai keinginan untuk meraihnya, memilikinya dan menerapkannya di dalam seluruh kehidupannya.

Apabila standar itu sudah diperoleh, maka kita dapat memperoleh kedudukan syahid dengan tetap tinggal negara yang aman tenteram sekali pun, selain dari kita mengorbankan jiwa karena serangan musuh dan tembakan peluru. Untuk itu semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua.

 

Shalat Jenazah Gaib Syahid Maqsood Ahmad Sahib bin Nawab Khan Sahib

Sebagaimana pada hari Jumat yang lalu ketika saya menyampaikan khotbah di Hamburg, Jerman diterima kabar tentang disyahidkannya seorang anggota Jemaat di Pakistan dan pada waktu itu salat jenazahnya belum ditunaikan dan hari ini insya Allah Ta’ala akan kita laksanakan.

Nama orang yang disyahidkan itu adalah Maqsood Ahmad Sahib Bin Nawab Khan Sahib telah disyahidkan di Quetta Pakistan pada tanggal 7 Desember 2012 dalam umur 31 tahun, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Dalam keluarga beliau, orang pertama yang masuk Jemaat adalah buyut ayah beliau bernama Muhtaramah Bhagpari Sahibah, berasal dari kampung Nangal dekat Qadian. Beliau baiat langsung kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Setelah berdiri Negara Pakistan keluarga ini hijrah ke Sahiwal kemudian pada tahun 1965 pindah ke Quetta. Pendidikannya sampai di Sekolah Menengah. Bekerja bersama dengan ayahnya di kontruksi bangunan. Abang yang disyahidkan ini, Manzoor Ahmad telah disyahidkan juga pada bulan Nopember 2012 yang lalu. Sebelum disyahidkan Maqsood sahib hanya bekerja di konstruksi bangunan. Sebelumnya ia bekerja dengan saudaranya di toko hardwarenya. Setelah abangnya disyahidkan maka ia bekerja sepenuhnya di toko.

Peristiwa pensyahidannya itu adalah demikian yaitu pada tanggal 7 Desember jam 9 pagi Maqsood sahib dengan karyawannya sampai di toto hardware di Satelite Town. Setelah menempatkan karyawan di tokonya, mengantarkan kedua anaknya di sekolah di Satelite Town.

 Setelah keluar melepaskan anaknya datang 2 orang mengendarai sepeda motor yang tidak dikenalnya dan mereka menembak beliau. Beliau menerima tembakan lima butir peluru, empat butir mengenai kepala dan satu butir lagi mengenai pundak beliau kemudian beliau langsung dibawa ke Rumah Sakit namun beliau menghembuskan nafas terakhir di dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Seperti telah saya katakan kakaknya telah disyahidkan beberapa bulan yang lalu.

Pelaku Khidmat Khalq yang Mukhlis

Beliau pernah diculik pada tahun 2009 kemudian dibebaskan setelah membayar uang tebusan yang cukup banyak sekali. Beliau sangat bersemangat melakukan khidmat khalq dan selalu membantu menyelenggarakan pos-pos kesehatan dan bukan hanya menyerahkan mobil untuk keperluan itu namun beliau sendiri yang menjalankan kendaraan itu. Demikian juga untuk kegiatan da’wah ilallah beliau selalu menyerahkan kendaraan itu.

Sangat memperhatikan muballigh-muballigh yang datang ke Quetta, dan beliau merasa gembira sekali mengkhidmati mereka. Beliau biasa melakukan tugas menjaga keamanan dengan penuh semangat terutama di waktu  hari Jum’at. Sadr Jemaat Quetta mengatakan bahwa Syahid  Sahib sangat ikhlas melayani para tetamu, sangat mukhlis dan beliau orang pendiam tidak banyak bercakap. Tidak pernah marah kepada siapapun dan tidak pernah pula membuat orang lain marah.

Di beberapa waktu kalau para penentang menggunakan perkataan yang keras maka perkataan mereka itu dibalikkan dengan senyman akan tetapi senyumannya ini tidak berarti beliau tidak merasakan sebagai ejekan. Setelah tiba di rumah perkataan mereka yang telah mereka katakan disampaikan kepada penghuni rumah sambil menangis, ‘Orang-orang yang menentang itu mengatakan perkataan seperti ini padaku.’

 Tiga hari sebelum disyahidkan beliau menelepon Sadr Jemaat dan berkata “Mengapa tidak datang kepada saya untuk mengambil uang chandah saya.” Ketika didatangi beliau membayar semua kewajiban chandah. Beliau sangat mencintai anak isteri dan tidak pernah berkata keras terhadap mereka. Tidak pernah berkata dengan perkataan keras pada istri dan anaknya. Selain selalu hormat kepada ibu-bapa, beliau juga sangat hormat kepada kedua orang mertuanya.  Memikirkan semua keperluan mereka.

Selain ayahnya Tn. Nawab Khan, istrinya Ny. Sajidah Maqsud dan seorang anak laki-laki Masroor yang umurnya 9 tahun. Anak perempuan Maryam Maqsud 7 tahun. Dua orang saudara perempuannya. Ibunya sudah wafat. Beliau mempunyai ibu yang kedua, ayahnya menikah dua kali.

Mengenai beliau, muallim Satelite Town menulis, “Kepribadiannya sederhana. Seorang pengkhidmat tamu yang memiliki akhlak yang agung di rumahnya. Menghargai dengan hatinya setiap murabbi (pemberi tarbiyyat) dan muallim. Menghormati setiap orang. Rumahnya merupakan markaz shalat. Dan berusaha untuk selalu mengerjakan shalat berjamaah di rumahnya. Selain di rumahnya senantiasa diadakan shalat berjamaah juga untuk kegiatan Waqf Nou dan kelas Atfal.

Memberikan perhatian khusus pada tarbiyyat anak-anak bahkan beliau berpikir seperti ini yaitu sekarang keadaan di Quetta sudah demikian mengkhawatirkan maka anak-anak akan dihijrahkan dari sini, ia tengah bermusyawarah dengan muallim dan  telah menulis surat seperti ini tetapi adalah takdir Allah Ta’ala sebelum (hijrah) telah menganugerahkan derajat syahid  kepadanya.

Orang tuanya memiliki 2 orang anak laki-laki dan keduanya sudah disyahidkan dan keduanya telah berkorban di jalan Allah Ta’ala. Ayah beliau sambil mengangkat kedua belah tangan di mukanya menghadap ke atas berdoa: ‘Ya Allah Ta’ala kedua anakku sudah Engkau ambil, sekarang jatuhkanlah hukuman kepada orang-orang zalim itu.’ Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau di sisi-Nya.”

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhum, derajat syahid  ini telah ditulis dalam taqdirNya.  Semoga Allah Ta’ala menolong dan menjaga anak-anaknya dan berada dalam lindunganNya.  Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada istri dan anak-anaknya kesabaran, kekuatan dan keberanian.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, bab bayaan asy-Syuhadaa,

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Apakah yang tergolong syahid menurut anda sekalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasul Allah! Yang terbunuh di jalan Allah itulah syahid.” Bersabda, “Kalau demikian maka para syahid di kalangan umatku akan sedikit.” Mereka bertanya, “Lalu siapa sajakah mereka, wahai Rasul Allah?” Bersabda, “Siapa saja yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, barangsiapa yang wafat di jalan Allah maka ia syahid, yang mati karena thaun dan sakit perut, ia syahid.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ؟ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ: مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ. قَالَ: إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ. قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ. (صحيح مسلم، باب بيان الشهداء)

[3]Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, bab istihaab thalabusy syuhaaa fii sabiilillaah Ta’alaأَنَّ النَّبِيَّ قَالَ مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ .

[4] Shahih Muslim, Kitab al-Jihaad was sair, bab al-amdaad bil malaa-ikah fi ghazwah Badr (pertolongan para malaikat di perang Badr)

حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ بَدْرٍ نَظَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُشْرِكِينَ وَهُمْ أَلْفٌ وَأَصْحَابُهُ ثَلاَثُمِائَةٍ وَتِسْعَةَ عَشَرَ رَجُلاً فَاسْتَقْبَلَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقِبْلَةَ ثُمَّ مَدَّ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَهْتِفُ بِرَبِّهِ: «اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ».

Mengabarkan kepada kami Umar ibn al-Khaththab, ia berkata, “Ketika terjadi perang Badr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan pandangannya kepada pasukan musuh kaum musyrikin yang berjumlah seribu orang sementara sahabat beliau berjumlah 319 laki-laki, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapkan wajah beliau ke arah Kiblat sembari membuka kedua telapak tangannya, beliau berdoa memohon kepada Tuhannya, Allahumma anjis lii maa wa’adtanii Allahumma aati maa wa’adtanii Allahumma in tuhlik haadzihil ‘ishaabah min ahlil Islaam la tu’bad fil ardhi.’ (Ya Allah, tepatilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, berilah apa yg telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika pasukan Islam yg berjumlah sedikit ini musnah, niscaya tak ada lagi orang yg akan menyembah-Mu di muka bumi ini)

[5] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jihad, bab laa tamannu liqaa-al ‘aduwwi (bab janganlah sekali-kali mengharap bertemu musuh)         

ُمَّ قَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ لاَ تَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلاَلِ السُّيُوفِ- ثُمَّ قَالَ- اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ».

Ketika di suatu tempat, rombongan kaum Muslimin dihadang musuh, kemudian beliau s.a.w. berdiri di depan orang-orang [Muslim] lalu berpidato [memberi semangat]: “Wahai manusia, janganlah sekali-kali mengharap bertemu musuh dan mintalah kesehatan [keselamatan] kepada Allah, jika para musuh menemui engkau, hendaklah bersabar (bersiteguh tidak gentar), dan ketahuilah bahwa surga ada di bawah kilatan pedang-pedang.” Kemudian beliau s.a.w. berdoa: ‘Allahumma munzilal kitaabi wa mujriyas sahaabi wa haazimal ahzaabi ihzimhum wanshurna ‘alaihim’ – “Ya Allah Yang Menurunkan Kitab, Yang Menjalankan awan-awan, Yang Menghancurkan golongan-golongan, hancurkanlah mereka dan menangkanlah kami diatas mereka.”

[6] Malfuuzhaat, jilid awwal halaman 276, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[7] Malfuuzhaat, jilid awwal halaman 423, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[8] Syahnah-e-Haqq, Ruhani Khazain jilid 3, halaman 550-551

Contoh fardhu di bidang ibadah salat. Salat 5 waktu adalah fardhu dan salat-salat sunnah lainnya sebagai nawafilnya [tambahannya].

[9] Izalah Auham, Ruhani Khazain jilid 3, halaman 550-551

[10] Malfuuzhaat, jilid awwal halaman 276, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[11] Malfuuzhaat, jilid awwal halaman 253, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[12] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adzan, bab fadhlit Tahjiir ilazh zhuhr

ثثُمَّ قَالَ: «الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِيقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ».

[13] Malfuuzhaat, jilid awwal halaman 253-254, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[14] Tiryaqul Quluub, Ruhani Khazain, jilid 15, halaman 420-421

[15] Ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma-tsur, Tafsir Surah al-Hadid ayat 19 jilid 8 halaman 59, Darul Ihya at-Turats al-Arabi, Beirut, edisi 2001

أخرج ابن مردويه عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم‏:‏ ‏”‏من فر بدينه من أرض إلى أرض مخافة الفتنة على نفسه ودينه كتب عند الله صديقا، فإذا مات قبضه الله شهيدا، وتلا هذه الآية ‏{‏والذين آمنوا بالله ورسله أولئك هم الصديقون والشهداء عند ربهم‏}‏ ثم قال‏:‏ والفارون بدينهم من أرض إلى أرض يوم القيامة مع عيسى ابن مريم في درجته في الجنة‏”‏‏.

Dikeluarkan [riwayat ini] oleh Ibn Mardawaih dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang melarikan diri karena agama dari satu negeri ke negeri lain untuk menghindari fitnah (ujian) atas dirinya dan agamanya, Allah menetapkannya sebagai shiddiq di sisi-Nya, apabila ia mati Allah menjadikannya syahid lalu beliau membacakan ayat ini ‘walladziina aamanuu billaahi wa rusulihi ulaa-ika humush shiddiiquuna wasy syuhadaa-u ‘inda rabbihim’ – “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya maka itulah mereka orang-orang shiddiq dan syahid di pandangan Tuhan mereka.” Dan orang-orang yang lari beserta agama mereka dari satu negeri ke negeri lain di hari kiamat akan beserta Isa ibn Maryam dalam derajatnya di surga.”‏

[16] Barahin Ahmadiyah, jilid awwal halaman 460, hasyiyah number 11.

[17] Review of Religions, Maret-April 1915, halaman 164, jilid 14, number 3-4

[18] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, bab hubbir Rasul s.a.w. minal iman

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Maka Aku bersumpah Demi Dia yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seseorang diantara kamu beriman hingga aku dia lebih mencintai diriku dibanding kecintaannya kepada ayah dan ibunya.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ».

[19] Izalah Auham, Ruhani Khazain jilid 3, halaman 564