Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 5 Tabuk 1393 HS/September 2014

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

Alhamdulillah, dengan segala karunia Allah Ta’ala Jalsah Salanah UK telah selesai dilaksanakan pada minggu yang lalu. Mereka yang duduk menghadirinya dan juga mereka yang duduk menyaksikan-nya dari jauh melalui MTA di seluruh pelosok dunia telah mendapat banyak faedah dari berkat-berkatnya. Setiap orang yang mulaqat dan tidak terhitung banyaknya orang-orang yang telah menulis, menyatakan bahwa dengan karunia Allah Ta’ala Jalsah Salanah tahun ini sangat baik sekali dan banyak peningkatan di semua sektor. Para penceramah juga telah menyusun bahan-bahan ceramah mereka sangat baik sekali. Semuanya sarat dengan ilmu pengetahuan dan keruhanian.

Setelah Jalsah usai, umumnya saya mengungkapkan di dalam Khotbah Jumat semua berkat-berkat dan karunia-karunia Allah Ta’ala, dan semua pertolongan yang diturunkan oleh-Nya selama Jalsah berlangsung. Kesan-kesan para tamu yang hadir juga saya uraikan. Begitu juga pada kesempatan itu saya menyampaikan syukur dan terima kasih kepada Panita Jalsah dan para petugas sukarelawannya.

Suasana Jalsah Salanah, dengan karunia Allah Ta’ala memberi kesan sangat baik kepada setiap orang yang bertabiat bersih. Kebanyakan orang-orang bukan Jemaat dan juga bukan Muslim yang datang ke Jalsah Salanah hanya ingin membuktikan sampai sejauh mana kebenaran dan apa hakikat penyampaian teman-teman Ahmadi mereka kepada mereka mengenai berkat-berkat dan faedah Jalsah Salanah. Ketika orang-orang Ghair Ahmadi ini datang menyaksikan sendiri keadaan Jalsah, sebagian besar dari mereka mengakui bahwa apa yang mereka saksikan dan rasakan kesan-kesannya jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Sebagian dari mereka begitu terkesan sehingga menyatakan Baiat masuk Jemaat.

Pada tahun ini dua orang tamu Bangsa Rusia menyatakan Baiat setelah meneliti semua keadaan Jalsah Salanah. Sekalipun tamu-tamu dari Guatemala, Chile dan Kosta Rika dari Amerika Selatan tidak menyatakan Baiat di waktu Jalsah, tetapi mereka segera memperoleh kesan yang sangat besar di hari berikutnya. Di waktu mulaqat dengan saya mereka menyatakan, “Kami menyesal sekali tidak ikut menyatakan Baiat di waktu Baiat Internasional berlangsung. Hati kami sepenuhnya condong akan hal ini. Sekarang kami sudah mengenal dan paham betul tentang kebenaran. Kami menyaksikan bagaimana karunia-karunia Allah turun atas Jemaat dan kami ingin menyatakan Baiat. Terimalah baiat kami!” Oleh sebab itu kemarin setelah shalat Zhuhur sebanyak 6 orang, terdiri dari 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan telah menyatakan Baiat bersama-sama di tangan saya.

Saya hendak menguraikan kesan-kesan orang-orang yang mengikuti Jalsah, namun, sebelum itu, saya ingin menyampaikan mengenai para Mubayyi’in baru yang tidak berbaiat saat Jalsah, tapi berbaiat setelah Jalsah. Salah seorang dari yang Baiat itu dari Guatemala, Tn. Sami Qadir. Ia kebangsaan asli Yordania tinggal di Guatemala dalam rangka pekerjaannya. Beliau berkata, “Di dalam Jalsah ini saya menyaksikan hangatnya persatuan dan persaudaraan, cinta kasih, toleransi yang Hadhrat Rasulullah saw sendiri ingin menciptakannya. Beliau sangat terkesan oleh pelaksanaan Jalsah yang diatur oleh suatu nizam yang sangat rapi, lebih-lebih sangat terkesan sekali oleh disiplin, keikhlasan, kesetiaan, simpati dan rasa persaudaraan diantara sesama.”

Selanjutnya beliau mengatakan, “Jalsah merupakan gambaran Hadis Rasulullah saw yang mengatakan “تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ” – Kau lihat orang-orang mu’min dalam hal saling menyayangi, menyintai dan akrab satu sama lain adalah laksana satu tubuh, apabila salah satu anggotanya terasa sakit maka seluruh tubuh terasa sakit.’”

Beliau berdoa semoga Allah Ta’ala memberi pembalasan yang sebaik-baiknya kepada seluruh panitia Jalsah. Amin!

Seorang kawan dari Kosta Rika bernama Tn. Haidar Sabilya datang menghadiri Jalsah, dalam memberi kesannya berkata, “Sistim penyelenggaraan Jalsah ini sangat mengesankan saya, alangkah patuh dan setianya setiap anggota Jemaat yang diberi tugas untuk melaksanakan kewajiban mereka. Saya sangat bergembira mendapat kesempatan berdiskusi dan bertukar pikiran dengan para tamu dari berbagai Negara sungguh memicu perhatian saya terhadap Agama sehingga saya merasa banyak perobahan dalam iman dan keyakinan saya. Saya sangat tertarik dengan pidato-pidato Imam Jemaat Hadhrat Khalifatul Masih yang berisi nasihat dan wejangan-wejangan yang sangat jelas dan bermanfaat ditujukan kepada seluruh dunia Islam tanpa membedakan antara golongan Sunni ataupun Syiah.”

Seorang perempuan dari Kosta Rika bernama Diana Naima mengatakan, ”Menghadiri Jalsah Salanah merupakan pengalaman yang sangat unik. Dengan penuh kecintaan dan rasa persaudaraan bertemu dengan para tamu terdiri dari berbagai jenis keturunan dan bangsa yang datang dari berbagai Negara di dunia, menanamkan kesan-kesan yang sangat indah di dalam lubuk hati saya. Suasana Baiat yang sangat indah dan menarik hati itu mengingatkan saya kepada zaman Hadhrat Rasulullah saw. Saya sangat meyakini bahwa Jemaat Ahmadiyah pasti akan maju dan melaluinya pesan Islam yang berdasarkan atas cinta kasih akan semakin tersebar luas.” Beliau juga yang telah baiat kemarin.

Seperti telah saya sampaikan, empat orang laki-laki dan dua orang perempuan dari para tamu yang berasal dari Guatemala, Chile dan Kosta Rika, setelah menyaksikan suasana Baiat bersama di Jalsah timbul keyakinan yang sangat mendalam kemudian kemarin mereka menyatakan Baiat semuanya.

Pendeknya, Jemaat Ahmadiyah yang menyebarkan amanat Islam hakiki dan sangat indah giat berusaha menghimpun umat manusia menjadi satu, setiap tamu yang datang dapat menyaksikan langsung peragaan kasih sayang satu sama lain yang telah membuat mereka terpaksa menyerahkan diri menjadi bagian dari Islam hakiki ini atau sekurang-kurangnya kritikan atau keraguan mereka tentang Islam pasti semakin berkurang setelah menyaksikan pakta itu. Pemandangan seperti itu selalu diperlihatkan oleh Allah Ta’ala kepada kita di setiap zaman. Hal itu menjadi bukti nyata bahwa ajaran Islam ini tidak pernah mengalami usang dan tidak pernah pula Jemaat Ahmadiyah hampa dari pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala.

Pada suatu ketika sebuah keluarga Jemaat di Pakistan memberi tahu saya, seorang perempuan tua dari keluarga mereka sangat menentang Jemaat. Tetapi karena masih terikat hubungan keluarga dekat, mereka tinggal bersama-sama dalam satu rumah. Ia tidak pernah datang ke Rabwah untuk menghadiri Jalsah. Setelah dibujuk dengan berbagai macam alasan akhirnya perempuan tua itu ikut ke Rabwah untuk menghadiri Jalsah itu. Semua pemandangan di berbagai sudut Jalsah diperlihatkan kepadanya. Sebelumnya ia sering berkata, “Saya tidak mau pergi sebab takut terkena sihir orang-orang Rabwah.”

Walhasil, setelah menyaksikan suasana Jalsah, mendengar pidato-pidato dan menyaksikan pengaturan sistim Langgar Khana, perempuan tua itu akhirnya Baiat masuk Jemaat. Peristiwa ini terjadi di zaman Khilafat ke II, sebuah keluarga telah memberi tahu saya. Sebetulnya, pada zaman setiap Khalifah kita menyaksikan kejadian seperti ini. Bila saja orang menghadiri Jalsah, natijahnya ia mendapat kesan baik atau kesan Jalsah telah membuatnya yakin kemudian Baiat masuk Jemaat. Maka, itulah tanda bukti kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. Itulah juga tanda dukungan Allah Ta’ala kepada Khilafat. Perkara-perkara yang kita saksikan itu tidak dapat tercipta karena usaha manusia.

Sebagaimana telah saya katakan dalam Khotbah Jumat yang lalu bahwa suasana Jalsah adalah sebuah tabligh secara diam-diam. Setiap Ahmadi yang hadir, setiap petugas atau pegawai Jalsah adalah Muballigh secara diam-diam. Semua tamu Ghair Ahmadi menyaksikan semua pekerjaan berlangsung dengan tenang, tidak ada kepanikan, tidak ada kericuhan, tidak terdengar suara percekcokan, melainkan semua nampak bermuka ceria dan gembira. Dari anak-anak kecil sampai orang-orang tua, laki-laki maupun perempuan berhati gembira dan senang melaksanakan pengkhidmatan. Mereka tekun melaksanakan tugas masing-masing. Para tamu Ghair sangat terkesan menyaksikan suasana demikian. Suasana Jalsah itu menjadi sarana kemajuan iman bagi para Ahmadi yang baru pertama kali menghadiri Jalsah Salanah. Begitu juga orang-orang yang sering menghadiri Jalsah mendapat kesan-kesan baik yang dapat meningkatkan iman mereka. Namun ada juga beberapa orang tertentu yang dengan niat baik, bahkan ada juga sebagai adat kebiasaan berbicara untuk mencari kelemahan atau kesalahan. Bahkan orang seperti itu juga memberi penilaian secara umum bahwa pada kesempatan Jalsah kali ini perilaku para petugas lebih baik dari Jalsah sebelumnya.

Sekarang saya hendak kemukakan kesan-kesan para tamu yang menghadiri Jalsah. Tn. Boniface Ntwa Boshie Wa, Speaker (Juru Bicara, Ketua) Parlemen Bandondo di Kinshasa, Kongo baru pertama kali menghadiri Jalsah Salanah. Beliau menghadiri semua acara Jalsah, mendengarkan ceramah-ceramah dengan tekun dan di waktu sembahyang juga beliau tetap duduk di panggung Jalsah dan beliau juga menyaksikan suasana Baiat Internasional. Beliau berkata, “Di sini siapa pun yang saya jumpai sangat responsif dan ramah-tamah seolah-olah sama-sama sudah lama kenal. Setiap orang mengucapkan salam, itulah tanda kecintaan sejati, itulah mazhab dan agama sejati. Kami pernah mengadakan suatu acara tertentu di sebuah Provinsi di Negara kami. Pada hari pertama saja, disebabkan pengaturan yang tidak beres terjadi kerusuhan yang menyebabkan 26 orang meninggal. Karenanya program terpaksa dibatalkan.”

Beliau merasa takjub menyaksikan Jalsah yang dihadiri oleh puluhan ribu orang, nampak berjalan tenang dan lancar sedikitpun tidak terdengar riuh atau kebisingan. Jangankan suatu yang menimbulkan kematian, sedangkan teriakan suara kerusuhan pun sama-sekali tidak terdengar. Melihat anak-anak kecil berkeliling memberi air minum dengan perangai ceriah sangat menarik perhatian saya. Adat kebiasaan anak sebaya dengan mereka ini biasanya mengharapkan sesuatu dari orang lain, namun Jemaat telah memberi tarbiyyat sedemikian rupa sehingga mereka telah mempunyai akhlaq untuk mendahulukan kesenangan orang lain dari pada kesenangan diri mereka sendiri. Anak-anak ini setelah dewasa tidak akan menyusahkan orang lain melainkan sebaliknya akan menjadi para pengkhidmat yang menyenangkan. Beliau menulis, “Setelah menghadiri Jalsah beliau pergi ke Kedutaan Negeri beliau, Kongo dan bercerita kepada Duta Besar-nya bahwa beliau sudah sering menghadiri conference di banyak Negara, akan tetapi tidak pernah melihat sebuah organisasi yang menyelenggarakan suatu pertemuan yang luar biasa baik dan tertibnya seperti Jalsah Salanah ini, yang dihadiri puluhan ribu orang banyaknya.”

Menteri Dalam Negeri Benin, Tn. Francis Houessou mengatakan, “Saya tidak mempunyai kata-kata untuk mengungkapkan pujian dan penghargaan terhadap keistimewaan penyelanggaraan Jalsah ini. Jalsah luar biasa baiknya dan teratur sekali. Saya menyaksikan para petugas sukarelawan Jemaat Ahmadiyah menjalankan kewajiban dengan khidmat penuh semangat, sangat luar biasa mengherankan dan mengesankan saya. Semangat keikhlasan seperti itu telah menjadi santapan ruhani bagi para anggota Jemaat. Itulah sebabnya Jemaat Ahmadiyahh berdiri di sepanjang jalan kemajuan. Saya melihat anak-anak, orang-orang dewasa bahkan orang-orang tua pun tidak memikirkan makan-minum mereka sendiri. Satu yang mereka pikirkan yaitu ‘Jalsah berhasil dengan gemilang.’

Saya telah melihat negara-negara besar dunia, bahkan melihat berbagai penyelenggaraan yang dilakukan Amerika Serikat negara Super Power, namun saya tidak pernah melihat negara-negara Super Power itu juga melakukan penyelenggaraan yang betul-betul teratur seperti ini. Di sini anak-anak kecil pun menjalankan tugas dengan sukarela berjiwa semangat dan giat. Bila saja menerima petunjuk, mereka menaatinya.

Rahasia mengapa Jemaat Ahmadiyah memiliki kekuatan internasional tiada lain adalah Jemaat mempunyai pemimpin seorang Khalifah. Dengan terus terang saya menyatakan sekarang Jemaat Ahmadiyah-lah yang sedang giat untuk menegakkan keamanan dunia. Hanyalah Ahmadiyah yang sedang giat mengajarkan persaudaraan, kesabaran dan toleransi serta kasih sayang satu sama lain demi menegakkan keamanan dan perdamaian di dunia.”

Menteri Pertahanan Uganda, Tn. Dr. Crispus Kiyongga yang ikut menghadiri Jalsah, mengatakan, “Sungguh di luar kemampuan saya untuk melukiskan kesan-kesan keadaan dan suasana Jalsah Salanah. Selama dua hari saya menghadiri acara Jalsah secara teratur. Saya telah menyaksikan pameran juga, semua keadaan patut dilihat dan diperhatikan dengan seksama.” Pada suatu hari beliau mulaqat dengan saya. Beliau berkata, “Disiplin seperti yang saya lihat di dalam Jalsah ini hanya para tentara yang dapat menciptakannya.” Saya katakan kepada beliau, “Tentara Uganda sekalipun tidak dapat mengorganisasi disiplin seperti itu.” Mendengar itu beliau pun setuju dan berkata, “Sungguh betul perkataan tuan ini, tidak ragu lagi. Tidak ada Tentara di manapun di dunia yang mampu menciptakan disiplin seperti itu, hanya Jemaat yang Tuan pimpin!”

Dua orang tamu dari Yunani datang menghadiri Jalsah. Satu orang bernama Antigoni dan seorang lagi bernama Panagiotis. Tn. Panagiotis telah menerjemahkan buku-buku Jemaat kedalam Bahasa Yunani. Setelah kembali ke Yunani dari Jalsah beliau mengirim surat elektronik (e-mail) dan mengatakan, “Bukanlah perkara kecil menyaksikan sebuah pertemuan sejumlah besar manusia dalam suasana yang sangat aman dan nyaman demi menyampaikan rasa cinta dan kasih sayang, menjalin pesaudaraan dan untuk memanjatkan doa-doa. Melihat pengkhidmatan serempak dan memberi pertolongan terhadap sejumlah besar manusia, bukanlah perkara kecil atau sederhana.

Jemaat Ahmadiyah menolong orang bukan karena melihat dia miskin melainkan pertolongan diberikan melalui berbagai proyek agar mereka bisa berdikari di atas kaki mereka sendiri. Sekalipun sangat banyak memberi pertolongan berupa berbagai macam proyek kemanusiaan tanpa pamrih, Jemaat Ahmadiyah tetap bersikap merendahkan diri, dan hal itu bukanlah perkara kecil. Selama Jalsah berlangsung kami tidak pernah mendengar suatu keluhan apapun dan tidak pula kami melihat muka orang yang tidak cerah ceria melainkan selalu bermuka manis dan senyum. Lagi pula kami tidak pernah mendengar orang yang berbicara dengan suara keras. Setiap relawan melaksanakan tugas mereka dengan semangat penuh dedikasi. Sekalipun pekerjaan yang mereka lakukan sangat berat namun mereka tetap selalu bermuka ceria dengan senyuman. Setiap petugas selalu berusaha membuat para tamu yang tinggal di Lokasi Jamiah Ahmadiyah seperti tinggal di rumah mereka sendiri.”

Dari antara delegasi yang datang dari Nigeria ada seorang Direktur Televisi bernama Tn. Isaac yang mengatakan, “Semua jenis persiapan Jalsah Salanah bertaraf Internasional. Dimulai dari penerimaan tamu di Bandara sampai berakhirnya Jalsah Salanah semua penyelenggaraan dari segala segi sangat istimewa. Ceramah-ceramah Jalsah sangat baik dan mantap. Saya pertama kali menyaksikan pemandangan Baiat Internasional dan hal itu meninggalkan kesan yang sangat mengharukan di dalam lubuk hati saya. Suasana Jalsah terasa sangat menggugah semangat keruhanian saat Khalifatul Masih sendiri hadir di dalamnya sehingga saya tidak dapat menahan perasaan haru menitikkan air mata, sebab saya menyaksikan ribuan orang-orang Ahmadi taat berserah diri di hadapan Khalifah mereka. Saya tidak pernah menyaksikan pemandangan kecintaan dan kasih sayang seperti itu selama kehidupan saya, yang ditunjukkan oleh semua yang hadir di dalam Jalsah. Sekembali ke Nigeria akan saya beritahukan orang-orang di sana bahwa semua orang Muslim harus memiliki prilaku seperti itu.”

Ny. Sakinah Nawal, Asisten Editor Surat Kabar ‘National Mirror’ dari Nigeria berkata, “Setibanya di Jalsah Salanah UK timbul kesan bahwa setiap anggota Jemaat Ahmadiyah memiliki perasaan cinta-kasih satu sama lain dan setiap waktu bertemu saling menghormati dengan murah senyum dan setiap waktu siap untuk menolong satu sama lain. Saya bekerja sebagai wartawan selama 18 tahun, sekarang dengan hati terbuka dan dengan rasa bangga saya katakan bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah sebuah organisasi yang mematuhi dan mengamalkan ajaran Islam sejati dan menjadi contoh terbaik bagi semua orang Muslim diseluruh dunia. Penyelenggaraan Jalsah Salanah sangat baik dan sempurna dari segala seginya. Setiap orang baik laki-laki maupun perempuan, tua muda serta anak-anak sekalipun, semuanya menghormati para tamu dengan cinta-kasih penuh persaudaraan, tidak pernah saya saksikan di dalam pertemuan orang-orang Muslim lainnya sepanjang hayat saya.”

Wali Kota Kastarlee dari Belgia yang juga anggota Parlemen Flemmish di sana berkata, ”Dengan menghadiri Jalsah Salanah ini saya dapat mengetahui ajaran Islam yang sebenarnya. Lagi pula saya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana orang-orang ini mengamalkan ajaran itu. Saya dapat menyaksikan kecintaan dan kasih sayang mereka satu dengan yang lain dari perilaku dan air muka mereka. Sebelum sampai di lokasi Jalsah saya mengira Jalsah ini hanya bertaraf lokal saja. Namun setelah Jalsah dimulai saya kagum melihat suasana Jalsah ini bertaraf Intenasional. Mereka mengamalkan apa-apa yang mereka katakan sesuai dengan apa yang mereka tablighkan. Penyelanggaraan Jalsah ini telah diatur dengan persiapan yang luar biasa hebatnya sehingga tidak akan ada tandingannya di tempat lain di manapun juga. Saya kembali ke negeri saya sambil membawa kenangan kecintaan dan kesan-kesan yang sangat mengharukan hati nurani saya. Anda semua telah memberi tahu saya ajaran Islam yang sejati. Saya sempat mengunjungi anjungan Humanity First dan juga Engineers Association yang sangat mengagumkan, banyak sekali ragam pengkhidmatan kemanusiaan yang telah dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah. Semua itu sangat mengagumkan dan mengherankan saya.”

Seorang Vice-Mayor (Wakil Wali Kota) Tornhought, salah satu kota di Belgia yang juga anggota Counselour (DPRD) telah mengungkapkan kesan-kesannya. Ia berkata, ”Apa yang telah saya lihat di media sungguh bertentangan dengan pengamalan Islam yang saya saksikan sendiri di Jalsah Salanah ini. Gambaran Islam yang ditampilkan oleh Jemaat Ahmadiyah sungguh Islam yang sejati. Tidak diragukan lagi bahwa ajaran Islam itu sangat indah. Ajaran Islam yang telah dijelaskan oleh Khalifah Ahmadiyah, untuk menghimpun seluruh umat manusia dibawah naungan satu bendera adalah sebuah kebaikan yang sangat besar. Saya pernah melihat kegiatan Jemaat Ahmadiyah sedang mengkhidmati kemanusiaan di sebuah kota di negara saya. Namun kini setelah datang ke Jalsah saya melihat kenyataan Jemaat Ahmadiyah sedang giat mengkhidmati kemanusiaan di seluruh dunia. Saya yakin tidak ada suatu organisasi agama lain yang mengkhidmati kemanusiaan sedemikian luas ruang lingkupnya seperti yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah, dan giat menyebarkan ajaran kecintaan, persaudaraan dan perdamaian ke seluruh dunia. Saya melihat para relawan melaksanakan tugas di Jalsah juga sangat mengesankan. Para petugas yang mengkhidmati para tamu menganggap diri mereka sangat beruntung. Saya pikir jika semangat bekerja orang-orang di negara saya seperti ini tentu tidak akan menghadapi kesulitan ekonomi seperti yang kini sedang dihadapi.”

Istri Wakil Wali Kota Tornhought tersebut juga berkata, ”Ketika saya mengunjungi Jalsah Gah kaum ibu saya menyaksikan contoh kecintaan mereka satu sama lain tidak pernah saya saksikan dimanapun selama kehidupan saya. Ketika Khalifatul Masih memasuki Jalsah Gah kaum wanita nampak suatu pemandangan yang sangat menakjubkan. Sekalipun jumlah kaum wanita ribuan banyaknya namun tidak terdengar suara bising, senyap di setiap sudut tidak ada yang berbicara sedikitpun. Ketika Khalifatul Masih berpidato nampak suasana yang sangat menarik perhatian, sekalipun ribuan orang jumlah wanita yang hadir, semuanya mendengarkan pidato dengan tekun dan penuh perhatian, senyap tidak ada yang berbicara sedikit pun. Dari pidato Khalifatul Masih saya mendapat jawaban terhadap pertanyaan yang terpendam di dalam benak saya mengenai masalah kaum wanita berdasarkan ajaran Islam. Ketika mula-mula masuk kedalam Jalsah Gah kaum wanita, timbul sedikit perasaan takut di dalam hati saya, namun ketika mulai mendengar pidato Khalifatul Masih maka semua perasaan takut itu hilang.”

Seorang tamu, kawan kontak tabligh dari Belgia, Tn. Chauboum Ahmad berkata, “Sudah lama saya mengenal Jemaat Ahmadiyah namun baru pertama kali menghadiri Jalsah. Selama tiga hari Jalsah saya telah mendapat segala macam pengalaman. Saya dengan terbuka mengatakan bahwa Ahmadiyah adalah Islam sejati. Di sini saya melihat orang-orang menangis di waktu sujud sambil memanjatkan doa, membuat hati saya sangat terkesan.”

Tn. Keneth Cremona, tamu dari Negara Malta, pegawai departemen sosial yang melayani orang-orang ma’zur (difabel, orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik) berkata, ”Yang paling menarik perhatian saya adalah banyak anak-anak kecil pun giat menjalankan tugas memberi air minum kepada peserta Jalsah. Saya juga sangat senang hati mendengar pidato Khalifatul Masih tentang ketaatan bahwa perintah apapun yang diberikan kepada para petugas, mereka harus menaati-nya sekalipun datangnya dari seorang petugas anak masih kecil. Hati saya sangat terkesan membaca sebuah petuntjuk di dalam sebuah buku kecil yang mengatakan bahwa ‘Ambillah makanan sesuai dengan keperluan jangan berlebihan.’ Alangkah indahnya, masalah sekecil itu pun sangat diperhatikan oleh Jemaat.”

Tn. Ivan Bartolo, seorang wartawan dari Malta, yang juga pemandu acara sebuah stasiun TV yang telah mengenal Jemaat Ahmadiyah selama tiga tahun, dan pernah mewawancarai saya juga, mengatakan, “Sudah jelas sekali bagi saya bahwa selama 125 tahun Jemaat Ahmadiyah mencapai kemajuan yang luar biasa sehingga mampu berdiri di 206 Negara di seluruh dunia. Saya yakin hal ini tidak mungkin tanpa pertolongan Ilahi. Di Jalsah segala sesuatu diatur menurut sistem dan disiplin tertentu. Dimana terdapat disiplin di sana pasti ada Tuhan.”

Beliau ini seorang beragama Kristen, mempunyai kesan-kesan sesuai dengan ajaran agama Kristani. Beliau telah mewawancarai saya dan memberi tahu bahwa sekembali ke negerinya akan membuat sebuah film dokumenter mengenai Jemaat untuk stasiun TVnya yang masa tayangnya satu jam.

Selain dari beliau, seorang lagi sebagai pengajar di College of Philosophy, penulis berbagai tajuk dalam Surat-surat Kabar di negerinya mengatakan bahwa beliau ingin menulis sebuah buku yang lengkap dan mendetail tentang jalannya acara-acara Jalsah beserta pidato-pidato yang diucapkan selama Jalsah agar orang-orang lain di negerinya mendapat banyak faedah dan nasihat dari semua yang diberikan di waktu Jalsah berkenaan dengan agama dan kebaikan dunia.

Tamu-tamu Ahmadi dan juga ghair Ahmadi datang dari Guyana untuk menghadiri Jalsah. Dari antara mereka ada seorang Profesor bidang sejarah dan beragama Kristen, Tn. Thierry Atticot. Beliau mengatakan, “Saya menerima undangan untuk menghadiri Jalsah. Saya tidak mengerti mengapa orang-orang Jemaat mengundang saya untuk menghadiri Jalsah. Beberapa buah Video klip dipertunjukkan kepada saya, tapi saya tidak mendapat gambaran yang pasti macam apa Jalsah ini. Namun kini saya sudah paham Jalsah tidak terbatas hanya kepada orang-orang Jemaat saja, sungguh merupakan sebuah even yang sangat penting bagi seluruh masyarakat dunia juga. Jalsah seperti ini sangat diperlukan bagi dunia dimana slogan ‘Love for all hatred for none’ harus selalu dikumandangkan. Pada setiap permulaan acara Jalsah ayat-ayat Qur’an yang dibacakan memberi kesan yang sangat menentramkan iman dan ruh saya yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Sekarang saya sudah memperoleh beberapa buah video tilawat itu, saya yakin dengan mendengarkannya akan memperoleh ketenteraman di dalam hati saya.”

Dalam kesempatan Jalsah ini banyak sekali wartawan datang dari negeri ini dan juga dari berbagai negara lainnya. Seorang wartawati beragama Hindu berkata, ”Ibu saya melarang saya menghadiri pertemuan orang-orang Muslim dan berkata, ‘Mereka itu orang-orang yang sangat berbahaya. Nanti kamu akan dipukuli dan disiksa, tidak ada yang tahu kemana nanti kamu akan dibawa.’ Namun saya tidak percaya kepada perkataan ibu saya. Apabila sudah kembali ke rumah, apa yang saya saksikan dan apa yang saya peroleh dalam Jalsah ini akan saya ceritakan kembali kepada ibu saya, orang-orang Ahmadi lebih aman dari pada orang-orang Hindu. Ajarannya begitu indahnya sehingga ibu saya nanti perlu menyaksikan sendiri keadaan Jalsah ini. Saya bersyukur memperoleh banyak sekali manfaat dari Jalsah ini.”

Ny. Maryam Abdel, seorang wartawati dari Belize, di mana Jemaat baru berdiri pada tahun ini, datang menghadiri Jalsah. Beliau juga seorang anchor (pemandu acara) terkenal di TV Krem di sana. Beliau mengatakan, ”Pengalaman menghadiri Jalsah ini saya rasakan lebih banyak dari yang saya bayangkan sebelumnya. Orang-orang yang melaksanakan tugas berlaku sangat hormat dan perangai mereka sangat lemah lembut. Motto Jemaat ‘Love for all hatred for none’ setelah saya renungkan betul-betul, sungguh memberi kesan sangat indah di dalam lubuk hati saya dan saya meni’mati suasana kecintaan satu sama lain selama menghadiri Jalsah. Jemaat telah memberi segala sesuatu kepada saya. Untuk itu saya sangat berterima kasih dan hal itu semua akan selalu saya ingat, dan kepada semua panitia juga saya mengucapkan banyak terima kasih.

Saya lahir di tengah-tengah keluarga Muslim Sunni (ahli sunnah wal jama’ah) yang fanatik. Bapak saya seorang Muslim garis keras. Dengan keras menyuruh saya harus memakai hijab (pardah) seperti orang-orang Muslimah lainnya. Akibatnya setelah dewasa saya tinggalkan hukum-hukum Islam dan lemparkan semua pardah dan kudungan itu, tetapi saya tetap percaya kepada Tuhan. Tetapi, setelah datang menghadiri Jalsah ini saya mendapat pengalaman yang sangat aneh sekali. Saya tidak melihat seorang gadis atau wanita pun yang terkurung, melainkan bebas dan merdeka. Saya lihat mereka pergi kesana-kemari dengan bebas, ada yang membaca nazam, ada yang pergi ke Bazar, bertemu satu sama lain dengan cinta kasih. Saya berpikir di dalam hati seandainya saya lahir di kalangan keluarga Ahmadi tentu saya tidak menjadi pembangkang seperti saya lakukan di dalam keluarga saya di waktu yang lalu. Di dalam Jalsah saya berkenalan dengan banyak sekali kawan-kawan wanita Ahmadi.”

Para Ahmadi sungguh bernasib baik sekali, mereka harus bersyukur kepada Allah Ta’ala, bagi mereka yang telah lahir di tengah-tengah keluarga Ahmadi dan banyak dari mereka yang Allah Ta’ala berikan taufiq untuk menjadi Ahmadi. Mereka harus menjaga diri dari perilaku pembangkang. Ada juga gadis-gadis Ahmadi yang bersifat membangkang. Mereka harus ingat bahwa orang-orang lain yang datang ke sini terkesan oleh perilaku kita. Oleh karena itu, jangan sampai terperosok dalam sikap mental rendah diri [rendah diri karena mengamalkan ajaran Islami dan mengagumi tradisi budaya non Islami]. Ajaran Islam adalah suatu ajaran yang sangat bersesuaian dengan tuntutan tabiat manusia, dan kita harus berusaha untuk mengamalkannya.

Seorang wartawati Kristen berkata, “Saya tidak pernah melihat di dalam Gereja saya orang-orang yang ramah dan hormat seperti di dalam Jalsah ini. Saya secara teratur pergi ke Gereja dan sangat patuh mengamalkan ajaran agama. Saya bukan seorang peminum minuman keras dan bukan pula seorang perokok, semua itu perbuatan buruk dan saya menganggapnya buruk sekali. Di dalam Jalsah ini saya merasakan suatu suasana yang khas sekali.”

Tn. Artimef, seorang Non Ahmadi dari Kazakhstan yang hadir dalam Jalsah dan berkata, ”Saya sangat berterima kasih sedalam-dalamnya kepada Khalifatul Masih dan Jemaat yang telah mengundang saya untuk hadir di dalam Jalsah ini dan memberi kesempatan untuk berbicara di depan hadirin. Pertama kali saya mendapat undangan untuk menghadiri Jalsah Salanah di UK lima belas tahun silam dan saya mulai menyelidiki Jemaat Ahmadiyah semenjak Ahmadiyah mulai berdiri di Kazakhstan.

Sebagai seorang Sarjana di bidang agama saya telah melakukan penelitian tentang berbagai agama selama setengah abad. Motto Jemaat Ahmadiyah ‘Love for all hatred for none’ sangat menarik hati saya. Pada masa ini kita berada di dalam situasi dunia yang sangat memprihatinkan, di mana golongan ekstremis sedang meningkat melakukan aksinya atas nama agama. Jemaat Ahmadiyah inilah yang sedang berusaha untuk menjalin persaudaraan sesama manusia dengan sangat cemerlang, yang semenjak permulaan telah dimiliki oleh agama Islam. Sekarang Jemaat Ahmadiyah adalah organisasi Islam yang paling terkemuka dan paling maju dengan pesatnya di seluruh dunia.

Secara jelas, hal ini adalah benar bahwa ajaran-ajaran Jemaat Ahmadiyah telah menarik hati puluhan juta manusia, dan ajaran-ajaran ini juga menarik hati bangsa Kazakh dan mudah dipahami. Hal itulah yang ditakutkan oleh mereka yang menamakan diri mereka pemimpin agama dan itulah sebabnya mereka dengan gigih melakukan penentangan untuk menghancurkan Jemaat Ahmadiyah.”

Kita juga harus banyak-banyak berdoa semoga Allah Ta’ala melindungi para anggota Jemaat Ahmadiyah di Kirgistan dan Kazakhstan.

Banyak tamu istimewa datang menghadiri Jalsah dari Siera Leone, diantaranya Tn. Usman Fafo, General Secretary Interreligious Council Sierra Leone, kemudian seorang Professor sebuah Universitas yang mengepalai bidang sains bernama Mr Karim dan juga beliau General Secretary of Siera Leone Muslim Congress, lalu Mr. Ambou Bangole, Chairman of Ruling Party (ketua Partai berkuasa) di Ibu Kota Negara Sierra Leone. Dengan karunia Allah Ta’ala, Mr. Ambou Bangole menyatakan Baiat masuk Jemaat Ahmadiyah. Di waktu mulaqat beliau berkata bahwa program Jalsah telah disiarkan langsung melalui Televisi Nasional Sierra Leone dan disaksikan oleh Presiden. Setelah menyaksikan pidato Mr Tommy Kallon, Presiden menelepon salah seorang delegasi yang hadir dan mengucapkan selamat kepada Jalsah.

Minister of Legal Affairs (Menteri urusan Hukum) Trinidad dan Tobago, Mr. Parkash Ramadar yang menghadiri Jalsah mengatakan, “Kecintaan Jemaat terhadap Hadhrat Khalifatul Masih demikian dalamnya, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Jalsah Salanah mempunyai keistimewaan sangat luar biasa di dalam segala segi. Keikhlasan dan semangat para petugas sungguh merupakan bukti sebagai saksi bahwa Jemaat ini bukan ciptaan manusia, melainkan dibalik Jemaat ini ada tangan Tuhan yang bekerja. Dengan menghadiri Jalsah ini hati saya sangat tergerak, saya mohon doa agar dapat menjalani kehidupan dengan penuh iman dan keikhlasan dalam segala segi kehidupan saya.”

Delegasi yang terdiri dari 9 orang datang dari Kroasia untuk menghadiri Jalsah. Mereka terdiri dari lima orang wanita Katholik dan empat orang pria dari Universitas. Satu diantara 4 orang pria ini adalah Kepala Muslim/Arabic Centre di Zagreb, sedangkan tiga pria lainnya Katholik. Kepala Muslim Centre berkata, ”Saya telah menghadiri banyak pertemuan di berbagai Negara di dunia. Tetapi keikhlasan dan kecintaan yang nampak di dalam Jalsah Jemaat Ahmadiya, seperti yang ditunjukkan oleh anak-anak, tidak pernah saya saksikan sebelumnya di manapun juga. Para petugas sukarela Jamiah Ahmadiyah melakukan pengkhidmatan terhadap kami, cara pengkhidmatan mereka sangat menarik perhatian dan sangat mengesankan.”

Seorang anggota delegasi, Ny. Sandra berkata, ”Para petugas bekerja keras, kami tidak tahu kapan mereka istirahat. Bila saja kami lihat mereka selalu sibuk melaksanakan tugas. Saya tidak pernah menyaksikan sebelumnya selama hayat saya relawan yang bekerja dengan penuh dedikasi seperti itu. Menyaksikan pelaksanaan Baiat Internasional, sujud syukur dan orang-orang berdoa sambil menangis sungguh mengherankan kami semua.”

Ny. Maya, seorang mahasiswi anggota delegasi merasa puas dengan jawaban yang saya berikan atas pertanyaan yang diajukannya. Ia berkata, “Jika orang-orang Muslim umum dan para pemimpin agama mereka juga meminta bimbingan dari Khalifah Ahmadiyah pasti banyak sekali masalah mereka yang dapat dipecahkan dengan aman dan damai.” Kemudian, ia juga bertanya tentang orang-orang di masyarakat, sekalipun telah memperoleh ilmu pengetahuan di masyarakat yang beradab, tetapi mengapa cenderung kepada perbuatan ekstrim? Apa dan mengapa muncul kaum Jihadist (orang-orang yang mempromosikan jihad)? Telah saya jawab secara rinci dan ia merasa tenang dengan jawaban itu.

Ny. Roberta, Mahasiswi Master Bahasa Inggeris dan Prancis dari Kroasia yang juga mendalami studi agama-agama dunia, mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang tokoh-tokoh berbagai agama dan dasar-dasar mencapai perdamaian dunia. Setelah dijawab, ia mengatakan, “Saya merasa puas dengan jawaban-jawaban yang diberikan.”

Direktur Kementrian Kebudayaan Negara Haiti, Tn. Gary Guiteau hadir dalam Jalsah. Beliau menyatakan sangat gembira berkesempatan menghadiri Jalsah Salanah. Setelah menyaksikan pelaksanaan Jalsah ini dengan yakin mengatakan, Jemaat Ahmadiyah merupakan teladan bagi semua organisasi di seluruh dunia. Dengan melihat para petugas melakukan pengkhidmatan dengan penuh dedikasi sangat mengherankan dan merasa iri hati untuk ikut dalam kelompok sukarelawan itu. Semua orang, tua muda, besar kecil, laki-laki maupun perempuan, semua mengambil bagian dalam pengkhidmatan itu.

Selanjutnya saya ingin menyampaikan kesan-kesan dari para pendatang baru ke dalam Jemaat. Diantaranya ialah seorang perempuan dari Meksiko, Nn. Yanna Lopez Rejon yang mengatakan, “Saya belajar banyak sekali dari Jalsah ini. Bukan saja saya mengenal hakikat kehidupan saya bahkan saya mengetahui sebab-sebab keadaan yang terjadi di balik dunia Muslim zaman ini. Dulu saya selalu menganggap golongan yang saya percayai sangat baik, namun setelah menghadiri Jalsah ini baru merasa inilah Jemaat yang benar-benar mengamalkan teladan Hadhrat Rasulullah saw. Saya senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala agar dimasukkan kedalam golongan orang-orang baik yang mendapat bimbingan dari seorang Khalifah yang benar. Sekarang saya paham Allah Ta’ala telah mengabulkan doa saya dan Dia memberi taufiq kepada saya untuk masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang benar.”

Seorang Ahmadi baru dari Belize, Tn. Evan Vernon, Hamzah Rasyid nama Islamnya, berkata, ”Selama tiga hari Jalsah ini saya telah mengetahui betapa besarnya Jemaat Ahmadiyah ini. Nizam dan Peraturan Jalsah Salanah ini mempunyai daya tarik laksana sihir. Saya melihat orang-orang dari 80 negara terdiri dari berbagai latar belakang menghadiri Jalsah ini. Diantara mereka tentu ada yang miskin dan kaya, politisi dan juga pemimpin Bangsa dan Negara. Tidak terhitung banyaknya relawan yang berkhidmat tanpa pamrih untuk menyukseskan Jalsah ini. Pengkhidmatan mereka sangat baik dan patut dipuji.”

Sadr Lajna Imaillah Jemaat Marshall Islands (sebuah kepulauan di Laut Pasifik), Ny. Mary Lintha Johnny, yang juga seorang Ahmadi baru ikut menghadiri Jalsah. Beliau berkata, ”Menghadiri Jalsah Salanah bagi saya merupakan ni’mat ‘uzma (ni’mat yang sangat besar). Semenjak saya sampai di sini saya menyaksikan semua saudara dan saudari di sini meiliki rasa simpati dan kecintaan yang sangat dalam satu sama lain, yang merupakan gambaran nyata dari motto Jemaat ‘Love for all hatred for none.’ Di waktu bercakap-cakap dengan mereka saya merasa sangat akrab sekali seakan-akan kami sudah saling mengenal satu sama lain. Ketika mendengar pidato Hadhrat Khalifatul Masih timbul sebuah perasaan yang sangat luar biasa mengesankan di dalam lubuk hati saya sehingga tidak tertahan air matapun mulai mengalir deras dari kedua belah mata saya, saya tidak dapat melukiskan perasaan saya dengan kata-kata. Pemandangan Baiat Internasional juga sangat mengagumkan dan sangat mengesankan. Tanpa ragu setelah menghadiri Jalsah ini terasa hubungan saya lebih dekat lagi dengan Allah Ta’ala.”

Seorang Lajnah AfrikaAmerika menceritakan sebuah mimpinya kepada saya, “Di dalam mimpi saya melihat diri saya sedang menunaikan shalat di sebuah Masjid yang indah sekali. Masjid itu sangat besar dan luas. Di sana banyak sekali manusia yang datang dan saya tidak mengenali mereka. Saya merasa bahwa saya sedang berada di suatu Negara lain. Setelah datang ke Jalsah ini saya mendapat ta’wilnya bahwa saya sedang menyaksikan banyak sekali orang-orang dari berbagai Negara menunaikan shalat bersama di sini. Sekarang saya berdoa semoga Allah Ta’ala menjadikan saya seorang Muslimah yang baik, yang menjalani kehidupan dengan patuh taat terhadap agama.”

 Ahmadi baru dari Meksiko, Tn. Basyir Koyaso berkata, ”Orang-orang yang datang dari berbagai Negara di dunia, hati mereka penuh dengan kecintaan kepada Khalifah-e-Waqt, yang tidak ada tandingannya. Para petugas yang melayani tamu melaksanakan tanggung jawab mereka dengan penuh ikhlas dan taat serta berdedikasi. Jemaat Ahmadiyah organisasi teladan bagi dunia dan sedang giat menampilkan ajaran Islam hakiki.”

Seorang Imam Masjid dari Meksiko, Tn. Ibrahim Ceco belum lama ini baiat masuk Jemaat Ahmadiyah bersama tujuh puluh orang pengikutnya, berkata, “Saya merasa di dalam hati banyak sekali karunia dan berkat-berkat dari Allah Ta’ala turun di dalam Jalsah Salanah ini. Semua orang yang datang dari seluruh dunia berhimpun di bawah naungan Khilafat dengan penuh kecintaan dan rasa persaudaraan satu sama lain. Berkat mendengar pidato Hadhrat Khalifatul Masih ilmu pengetahuan saya semakin bertambah dan dengan itu saya memperoleh ketenteraman hati juga. Setiap orang yang datang menghadiri Jalsah menjadi saksi bahwa Islam adalah sebuah agama yang aman dan damai, yang diperlukan oleh setiap bangsa di dunia.”

Seorang Ahmadi baru dari Panama, Tn. Gregorio Gonzales berkata, ”Saya sangat tertarik dengan sistim penyelenggaraan Jalsah Salanah UK ini di mana dapat dirasakan kecintaan dan persaudaraan satu sama lain dengan sangat hangat dan mengesankan. Jalsah ini mewajibkan kita untuk mengajak orang-orag lain ikut menghadirinya agar mereka juga menjadi bagian dari Jemaat Ahmadiyah, dan semoga warga Jemaat Panama dapat mengambil faedah yang sebesar-besarnya dari Jalsah ini.”

Seorang Ahmadi dari Guyana Prancis, Mr. Diavia Abdou datang menghadiri Jalsah untuk pertama kali. Beliau Baiat pada 2008. Beliau berkata, “Saya seorang Muslim keturunan, yang menjadi Muslim Ahmadi pertama di Guyana. Tetapi, hari ini setelah menghadiri Jalsah Salanah ini saya dapat berpikir Islam hakiki itu seperti apa dan kini saya baru paham pentingnya hakikat Ahmadiyah dan Khilafat Ahmadiyah.”

Seorang kawan dari Belgia, Tn. Abdou Fall yang berasal dari Senegal berkata, “Ketika saya pergi ke Masjid Ahmadiyah di Belgia, saya melihat perilaku orang-orang sangat kasih sayang satu sama lain. Di sini pun saya melihat orang-orang berperilaku kasih sayang satau sama lain. Tinggal di lingkungan orang-orang yang saling menyintai dan menjalin persaudaraan erat satu sama lain sangat mengesankan hati saya. Saya ikut menyatakan Baiat dalam acara Baiat Internasional. Saya tidak dapat menceritakan bagaimana perasaan hati saya di waktu menyatakan Baiat itu. Dalam kesempatan Jalsah setiap hari saya menyaksikan orang-orang menunaikan ibadah. Sungguh, orang Ahmadi adalah Muslim hakiki. Saya percaya Khalifah dilantik oleh Allah Ta’ala, ketika untuk pertama kali saya bertemu dengan Khalifatul Masih betul-betul bertambah yakin, Khalifah ini dipilih oleh Allah Ta’ala.”

Seorang kawan dari Philippina, Tn. Yul Adelf Olaya, yang bekerja di PBB dan Baiat setahun yang lalu mengatakan, “Saya bersyukur dapat menghadiri Jalsah Salanah. Apa yang saya cari sudah saya peroleh di Jalsah ini. Insya Allah Ta’ala dari sekarang sampai masa mendatang saya akan menjalani kehidupan sebagai orang Ahmadi. Selama Jalsah Salanah saya menyaksikan para sukarelawan melaksanakan tugas dengan perasaan penuh cinta dan rasa persaudaraan, sangat mengesankan dan patut mendapat pujian. Saya saksikan mereka bekerja dari pagi sampai malam tidak tahu berhenti untuk rehat (istirahat). Saya melihat anak-anak dengan gembira melayani air minum, merupakan pemandangan yang menakjubkan.”

Seorang kawan dari Mali, Tn. Kayta Hama-uLlah yang ikut Baiat Internasional di waktu Jalsah berkata, ”Selama menghadiri Jalsah saya mempunyai perasaan yang tidak pernah saya alami selama hidup saya. Saya pertama kali datang ke sini, namun saya sudah berniat untuk datang lagi di Jalsah mendatang. Saya pikir jika musuh-musuh Jemaat Ahmadiyah berusaha sekuat tenaga pun untuk mengadakan Jalsah, sedikitpun tidak akan mampu menandingi Jalsah yang diselenggarakan oleh Jemaat Ahmadiyah. Saya kira sekalipun PBB yang mempunyai kekuatan dunia Internasional juga tidak akan mampu menyelenggarakan ijtima seperti semaraknya Jalsah Salanah ini. Jemaat Ahmadiyah sungguh benar tidak diragukan lagi. Itulah sebabnya saya menerima Jemaat Ahmadiyah dengan hati yang sangat tulus.”

Wilayah yang menghadapi situasi pembatasan-pembatasan contohnya ialah Kirgistan dan Kazakhstan, seperti telah pernah saya sebutkan. Di sini juga ada semangat yang ajaib. Seorang kawan dari Kazakhstan, Tn. Askar Umar yang menghadiri Jalsah berkata, “Dengan karunia Allah Ta’ala sebelumnya juga saya beberapa kali menghadiri Jalsah Salanah. Namun baru pertama kali ini saya tinggal di Jamiah Ahmadiyah. Saya merasakan baik sekali tinggal bersama-sama dengan tamu-tamu yang datang dari berbagai negara. Sebab, mendapat kesempatan untuk bertukar pikiran dengan mereka. Yang paling baik lagi adalah dalam satu tempat dapat menunaikan shalat berjamaah bersama mereka dalam jumlah yang cukup banyak. Bagi kami penting sekali, sebab kembali ke Kazakhstan kami tidak dapat menunaikan shalat berjamaah seperti itu dalam jumlah yang banyak. Di sini dengan menunaikan shalat berjamaah saya merasa betapa ruginya jika tidak shalat secara berjamaah.”

Dengan karunia Allah Ta’ala, pada tahun ini Tim dari Central Press (Pers Pusat) bersama Tim Pers UK, keduanya bekerja sama dengan baik sekali. Pada tahun ini untuk pertama kali liputan Jalsah Salanah dilakukan dengan baik sehingga amanat Ahmadiyah, Islam Hakiki sampai ke seluruh pelosok dunia. Berkat usaha rabtah Tim dari Central Press (Pers Pusat), datang beberapa orang Pers dan Media dari Negara-negara lain juga dan mereka sangat terkesan sehingga memberikan komentar yang sangat positif. Melalui Pers, amanat Jemaat Ahmadiyah sampai kepada lebih kurang 13 juta orang penduduk UK. Sekarang tentang artikel yang sedang disusun dan berita-berita yang masih dalam proses setting belum diterima kabar. Dapat diperkirakan kurang lebih 12 atau 13 juta orang di negara-negara luar UK akan menerima pesan ini. Amanat perkenalan mengenai Islam dan ajarannya.

Sehubungan dengan kegiatan Pers dan Media saya akan menjelaskan juga bahwa orang-orang yang terdiri dari berbagai jenis kepercayaan, yang mempunyai kepercayaan kepada suatu Agama ataupun orang-orang yang tidak mempunyai kepercayaan suatu Agama, atau yang percaya kepada Tuhan ataupun tidak percaya kepada Tuhan, setelah datang menghadiri Jalsah dan menyaksikan suasananya, mereka sangat terkesan. Biasanya banyak juga tamu yang terdiri dari berbagai macam kepercayaan datang untuk menghadiri Jalsah. Mereka mengenakan pakaian model mereka masing-masing. Mereka mempunyai kebiasaan sendiri. Banyak perempuan berpakaian sederhana dan anggun namun sopan. Pada umumnya apabila datang ke ijtima kita mereka membawa kerudung namun mereka tidak mengenakannya di atas kepala mereka, walaupun beberapa orang diantara mereka membawa kerudung juga. Tetapi, jika tidak membawa pun tidak apa-apa. Kita tidak bisa menerapkan peraturan kita kepada mereka. Namun, orang-orang lelaki kita berlaku keras yang menimbulkan perasaan kaku.

Seorang wanita perwakilan dari BBC datang ke Jalsah tanpa memakai tutup kepala (kerudung). Tetapi ada seorang laki-laki datang dari belakangnya kemudian menutupkan kudungan wanita diatas kepalanya. Wanita itu sangat dikenal oleh laki-laki kita itu dan beliau juga sudah tahu Jemaat kita. Beliau sudah pernah mewawancarai saya, duduk sambil mengenakan pakaian yang sopan dan anggun dengan kerudung di atas kepalanya. Tapi pada waktu itu beliau tidak mengenakan kudungan. Beliau tertawa terhadap perlakuan laki-laki itu, namun beliau berkata, “Andai orang lain diperlakukan seperti ini, boleh jadi ia tidak akan senang dan akan marah. Atau akan mendapat kesan yang salah.”

Maka, laki-laki dari kalangan kita harus sadar betul, mereka tidak diberi kekuasaan untuk memaksa orang lain berbuat demikian. Mereka harus menjaga diri, bukan kewajiban mereka untuk menutupkan kepala perempuan dari luar keluarga sendiri.

Laki-laki diperintah untuk menjaga pandangan mata, mereka harus menepati kewajiban mereka sendiri. Tidak ada perintah untuk memaksa menutup kepala sekalipun terhadap orang perempuan Muslim sendiri apa lagi terhadap perempuan non Muslim. Laki-laki seperti itulah barang kali ada dua tiga orang di dalam Jemaat kita yang bersifat ekstrim yang mencemarkan nama baik Islam. Jangan sekali-kali ada yang mengira bahwa mereka itulah yang menjadi petugas reformasi dunia.

Begitu juga ada seorang Ahmadi yang menemani seorang wartawan wanita lain lagi. Telah terjadi dua kali peristiwa seperti itu. Seorang Ahmadi berkata kepada teman Ahmadi lainnya untuk memberi tahu wartawan wanita itu harus menutup kepalanya di dalam lingkungan mereka [Jemaat]. Saya hendak berkata kepada laki-laki Ahmadi yang semacam itu, “Pertama, jagalah keluarga kalian sendiri, insya Allah dunia akan baik dengan sendirinya. Perlakuan seperti itulah yang membuat orang-orang benci terhadap Islam. Peristiwa mengenai seorang wartawan wanita ini mengingatkan kita kembali kepada kisah sebelumnya, seorang wartawan wanita yang meninggalkan ajaran Islam disebabkan bapaknya sendiri berlaku keras terhadapnya. Akhirnya ia menjadi seorang wanita yang membangkang. Namun ketika ia menyaksikan perilaku dan kebebasan para wanita Ahmadi pada waktu Jalsah, terbetik keinginan di dalam hatinya, ‘Alangkah bahagianya saya jika saya lahir di dalam keluarga Ahmadi.’”

Jadi, mengenai usaha perbaikan di dalam Jemaat, seharusnya perbaikan terhadap kaum perempuan dilakukan oleh perempuan lagi. Khususnya di Eropa telah terjadi kehebohan bahwa laki-laki Muslim berlaku kasar, tidak adil dan kejam terhadap sesama Muslim dan pelampau batas terhadap kaum wanita. Perbuatan laki-laki seperti itu merusak segala masalah. Jika timbul suatu masalah demikian di kalangan kaum perempuan, kewajiban kaum perempuan-lah untuk mengambil alih dan memberi pengertian dengan rasa hormat dan penuh kasih sayang. Jelaskanlah juga bahwa di lingkungan ini harus begitu keadaannya. Biarkan Lajnah yang melakukan tugas pekerjaan mereka sendiri, bagaimanapun tidak akan menjadi halangan, apalagi seorang wartawan perempuan yang datang berkunjung itu berpakaian rapi dan sopan menurut standar mereka sendiri.

Begitu juga, dengan karunia Allah Ta’ala MTA melakukan peranan yang sangat besar dalam menyiarkan semua Program Jalsah yang dilakukan tahun ini, seperti yang biasa dilakukan di tahun-tahun yang lalu. Di belahan dunia manapun orang-orang Ahmadi yang menyaksikan siaran langsung program-program Jalsah melalui MTA menyatakan rasa syukur dan gembira sekali. Di sana orang-orang Ghair Ahmadi juga terutama orang-orang Ghair Ahmadi Arab telah mengirimkan kesan-kesan yang sangat baik. Bahkan mereka mengatakan bahwa inilah Islam Hakiki yang yang sangat dibutuhkan oleh umat Islam saat ini. Kebanyakan dari mereka juga mengatakan bahwa inilah Khilafat Hakiki yang sekarang sangat diperlukan oleh umat Islam di seluruh dunia.

Pada tahun ini program-program MTA yakni acara-acara Jalsah Salanah selama tiga hari ditayangkan live (langsung) selama beberapa jam setiap hari oleh Televisi Nasional Ghana, Televisi Nasional Sierra Leone dan melalui satu Televisi swasta di Nigeria. Kesannya baik sekali di negara-negara itu dan telah diterima sambutan dan tanggapan yang sangat menggembirakan dari sana. Tanggapan dari Ghana diantaranya seorang kawan ghair Ahmadi menulis dari Kumasi, Ghana, ”Saya mendengar banyak sekali tentang Jemaat Ahmadiyah, tetapi ketika saya melihat program Jemaat yang disiarkan langsung oleh TV Nasional Ghana, saya heran sekali, apa yang Imam Lokal di daerah kami beritahukan tentang Ahmadiyah semuanya dusta. Saya baru pertama kali mendengar ajaran Islam yang sangat indah dan menolak serta mengutuk kelompok ekstrimis.”

Seorang Ahmadi menulis, ”Saya bersama adik perempuan saya yang masih ghair menyaksikan Program Jalsah melalui Televisi Ghana. Setelah menyaksikan siaran langsung itu ia begitu tertarik sehingga memutuskan untuk menjadi Ahmadi. Saya baru pertama kali menyaksikan acara Baiat Internasional. Sebagai Ahmadi saya merasa sangat bangga. Program itu saya saksikan bersama beberapa kawan Kristen juga dan setelah menyaksikan kemajuan-kemajuan Jemaat yang luar biasa ia sangat kagum.”

Seorang lagi dari Ghana menulis, “Ahmadiyah hanya menyampaikan pesan ajaran kecintaan dan perdamaian. Saya telah menyintai Jemaat ini. Dalam waktu dekat saya akan bergabung dengan Jemaat.” Setelah menyaksikan siaran langsung acara-acara Jalsah, seorang non Ahmadi menulis, “Saya menjadi tahun falsafah dan tujuan Jemaat Ahmadiyah sehingga tidak lama lagi saya pun akan menggabungkan diri kedalam Jemaat Ahmadiyah.” Demikian pula ada banyak orang lainnya yang mengirimkan kesan-kesannya serta memberitahukan bahwa mereka akan bergabung dengan Jemaat.

Seorang kawan Kristen dari Sierra Leone, Tn. Frans Forbi menulis, ”Saya mengucapkan banyak terima kasih, berkat menyaksikan siaran langsung saya merasa terkesan dan bahagia.”

Seorang saudara Ahmadi dari Sierra Leone bernama Tn. Al-Haaj Ali Mami juga menulis, “Untuk menyaksikan program siaran langsung saya mengundang seorang tetangga yang sangat terkesan. Saya melihat bahwa ramai sekali orang-orang lain juga menyaksikan siaran langsung program-program Jalsah di tempat mereka.” Seorang bernama Tn. Abu Bakar Konti berkata, “Betapa agungnya Jalsah ini. Kita berdoa semoga Allah menyebarluaskannya di seluruh penjuru dunia.” Seorang non Ahmadi di kota Freetown, Sierra Leone mengatakan, “Jalsah itu sangat luar biasa, program-programnya sangat bermanfaat.” Seorang lagi berkata, “Saya menyaksikan program-program Jalsah bersama teman non Ahmadi saya dan sangat terkesan.”

Di Nigeria, Televisi Nasional juga kali ini menayangkan program-program Jalsah. Diperkirakan jutaan orang menyaksikan siaran langsung ceramah-ceramah dalam Jalsah Salanah itu melalui stasiun TV ini. Hitungan jutaan ini tidak termasuk media-media Pers lain yang telah disebutkan. Demikian pula sebanyak 330.000 orang juga menyaksikan program-program Jalsah di hari terakhir melalui siaran Live Streaming MTA di internet. Pemirsa via Live Streaming pada dua hari awal, perbandingannya beberapa ribu lebih banyak dibanding pada tahun-tahun sebelumnya. Jumlah itu di luar jumlah pemirsa MTA.

Kita harus ingat bahwa tanggapan positif yang kita dengar harus dapat meningkatkan kita untuk lebih maju, tidak hanya membuat kita puas karena kemajuan sudah banyak kita peroleh, lalu tinggal diam. Bangsa yang maju selalu mencari jalan untuk meningkatkan lagi kemajuan mereka. Kita maklum dan kita harus selalu berpikir bahwa banyak kelemahan juga terdapat pada kita. Dalam melaksanakan suatu program yang sangat besar, sudah biasa terjadi kekurangan dan kelemahan. Tidak perlu khawatir, namun sedapat mungkin kita harus berusaha untuk menjauhkannya. Catatlah kekurangan-kekurangan itu kemudian panitia pelaksana harus berusaha untuk memperbaikinya pada tahun yang akan datang. Kelemahan-kelemahan itu bukan hanya disebabkan oleh para panitia, melainkan disebabkan juga oleh sebagian peserta yang keras kepala dan perilaku mereka menimbulkan problem. Mereka tidak banyak menaruh perhatian terhadap peraturan. Untuk menghadapi situasi demikian itu harus disediakan pengaturan dan mereka harus dilatih dahulu sebelum datang ke tempat Jalsah. Misalnya, di dalam Tenda utama tentang anak-anak telah diterima keluhan dari pihak petugas perempuan bahwa seorang perempuan membawa anak-anaknya duduk di tenda utama dan petugas memberi tahu, “Di sini tidak ada tempat duduk bagi anak-anak.” Perempuan itu berkata, “Baiklah saya tidak tahu hal ini.”

Tidak lama kemudian petugas itu mengetahuinya bahwa perempuan itu bukan Ahmadi, maka petugas itu kembali dan meminta maaf kepadanya sambil memberi tahu, jika anak-anak itu tidak membuat bising boleh saja duduk di dalam Tenda Utama itu. Namun, seorang perempuan Ahmadi yang duduk berdekatan dengan perempuan itu mulai bertengkar dengan petugas itu, berkata sambil mengemukakan argumentasi yang bermacam-macam, “Apakah ada Hadis yang melarang duduk di sini?”

Syukurlah petugas itu menghadapinya dengan sabar dan sopan, kemudian dengan tenang pergi meninggalkannya agar masalah itu tidak menimbulkan ketegangan. Keras kepala seperti itulah yang sering terjadi di kalangan perempuan, bahkan di kalangan laki-laki juga sering kali terjadi. Orang seperti itu harus merubah prilaku. Syukurlah orang-orang yang duduk di kawasan itu tidak banyak menaruh perhatian terhadap kejadian itu.

Sejauh mana masalah Hadis yang dipertanyakan itu, memang betul ada Hadis-nya dan di dalam Al-Quran juga ada. Dari manapun juga perintah itu datangnya, harus ditaati. Ada perintah untuk menaati Amir. Bahkan, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ ‘isma’uu wa athii’uu wa in istu’mila Habasyiyyun ka-anna ra-sahu zabiibah.’ – “Sekalipun seorang pimpinan yang telah ditetapkan atas kamu itu seorang Habsyi (negro) yang mempunyai kepala sebesar kismis (anggur kering), kamu harus mendengar dan menaatinya.”[2] Jadi, dalam perkara kecil seperti itu, tidak perlu menunjukkan perilaku pembangkang, ada Hadisnya atau pun tidak ada Hadis-nya. Memang Hadis telah mengatakan, “Taatilah!” Untuk menaatinya penting sekali bagi setiap orang yang menamakan dirinya Ahmadi. Tetapi sebuah petunjuk bagi semua panitia laki-laki maupun perempuan harus dicatat yaitu jika ada orang yang berperilaku demikian harap diberitahukan kepada officer bersangkutan supaya AIMs card-nya dibatalkan, selanjutnya ia tidak akan diberi izin lagi untuk menghadiri Jalsah Salanah. Jemaat Ahmadiyah tidak memerlukan orang yang bertabiat pembangkang.

Selain dari itu diterima keluhan lain dari kaum wanita bahwa terkadang tidak ada pengaturan untuk kebersihan dan sebagainya di toilet-toilet. Berkenaan dengan makanan, roti dan lain-lain mendapat pujian bahwa tahun ini cukup baik. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq agar standarnya dapat ditingkatkan lebih baik lagi pada tahun yang akan datang. Diterima lagi keluhan dari kaum wanita bahwa seorang perempuan tua datang terlambat karena itu tidak disediakan makanan baginya. Biar orang terlambat datang untuk makan, bagaimanapun dan waktunya kapanpun, terutama orang sakit, anak-anak ataupun orang sudah tua, jika makanan itu tersedia, harus diberinya makan. Bahkan, harus diberi tahu juga bahwa sekarang mereka dilayani secara khusus. Harus diberitahu juga bahwa hari ini datang terlambat, jika besok terlambat lagi disebabkan suatu alasan tertentu maka batas waktu untuk makan itu sampai pukul berapa, harus diberi tahu. Tetapi yang terpenting adalah harus berperilaku ramah tamah, sopan-santun, simpati dan kasih sayang terhadap mereka. Sebuah eksperimen tahun ini telah dilakukan, yaitu menyediakan washroom dan toilet di dalam Tenda yang cukup luas dan cukup mendapat perhatian dan pujian.

Telah diterima keluhan dari seorang tamu dari Rusia tentang transportasi. Mereka tinggal di Jamiah Ahmadiyah, namun transportasi tidak cukup memadai mengakibatkan mereka terlambat datang di tempat Jalsah sehingga tidak dapat mengikuti acara pada permulaan, tidak sempat mendengar sebuah pidato. Seperti itu pula di waktu kembali ke Jamia juga terlambat, karenanya mereka ketinggalan menunaikan shalat Tahajjud bersama. Mengingat hal demikian harus menjadi perhatian bagi Jalsah tahun yang akan datang dan hal ini harus dicatat di dalam Red Book (Buku Merah, Pencatat Kelemahan-Kelemahan untuk Dikoreksi dan Diperbaiki di masa mendatang).

Secara ringkas, dengan karunia Allah Ta’ala secara menyeluruh Jalsah telah berakhir dengan sangat baik dan sukses. Para tamu juga sangat senang dan gembira dan banyak yang memperoleh kesan-kesan sangat baik. Materi para penceramah juga sangat baik. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memelihara dan menegakkan standar yang baik ini dan semoga membuatnya bagian dari kehidupan kita.

Sebagaimana para tamu menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada semua petugas baik laki-laki maupun perempuan, saya pun mengucapkan terima kasih kepada semua petugas laki-laki maupun perempuan, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan ganjaran sebanyak-banyaknya kepada mereka. Semoga Allah Ta’ala menerima pengkhidmatan mereka dan di waktu mendatang diberi taufiq untuk berkhidmat jauh lebih baik lagi dari sekarang. Bukan hanya pengkhidmatan secara lahiriah saja melainkan semoga semangat pengkhidmatan sesuai dengan ajaran Islam pun ditanamkan di dalam kalbu mereka. Semoga Allah Ta’ala menjadikan semua yang hadir dan semua panitia, sebagai para Ahmadi yang benar dan hakiki! [آمين. Aamiin!!] (Alihbahasa Hasan Basri)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adzan, bab amamatul ‘abdi wal maula, no. 693

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اسْتُعْمِلَ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ