Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 12 Januari 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Berkaitan dengan pengaruh quwwat Qudusiyyah (kekuatan kesucian keruhanian) Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (saw), Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (as) bersabda: “Keyakinan saya ialah tidak ada seorang pun dari para Nabi yang pernah dianugerahi quwwat Qudusiyyah sebagaimana yang diberikan kepada Nabi Muhammad (saw). Inilah rahasia dibalik kemajuan Islam bahwa Nabi (saw) memiliki daya tarik yang luar biasa besarnya. Bahkan ucapan beliau memberikan pengaruh yang sedemikian rupa, sehingga siapapun yang mendengarkannya akan terpikat dengan penuh kecintaan. Orang-orang yang tertarik dengan beliau menjadi benar-benar disucikan.”

Beliau as juga bersabda mengenai perubahan-perubahan yang diadakan oleh Hadhrat Rasulullah saw terhadap para Sahabatnya, “Saat kita mempelajari para Sahabat Nabi Muhammad saw, tidak kita temukan satu pun di kalangan mereka yang berdusta. Tidak ditemukan dalam gambaran tentang mereka selain nuur (cahaya). Padahal kalau kita pelajari keadaan bangsa Arab yang mula-mula akan kita temukan bahwa mereka telah jatuh sekali.

Mereka begitu terpusat pada keberhalaan, berani memakan harta para yatim dan terlibat dalam setiap jenis perbuatan buruk. Mereka hidup seperti perampok dan pencuri; artinya mereka tenggelam dalam kenajisan pada titik puncaknya dari ujung kepala hingga ujung kaki.”

Namun, Nabi Muhammad saw menciptakan inqilaab (perubahan) sedemikian rupa yang tidak dapat kita temukan bandingan pemandangannya pada umat-umat lain. Pada kesempatan lain Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Mukjizat Rasulullah (saw) yang ini begitu hebatnya sehingga itu saja cukup untuk membuka mata dunia.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) selanjutnya bersabda: “Mereformasi satu orang saja adalah hal yang sulit. (amat sulit untuk mengubah bahkan satu orang sekalipun). Namun dalam hal ini, Nabi saw mempersiapkan sebuah bangsa, yang memperlihatkan contoh keimanan dan ketulusan sedemikian rupa sehingga demi kebenaran yang mereka pilih dengan ikhlas, mereka rela membiarkan diri disembelih layaknya seekor domba. Memang benar bahwa mereka tidak lagi menjadi manusia-manusia bumi bahkan Nabi saw menjadikan mereka manusia-manusia Langit dengan ajaran, bimbingan dan nasehat beliau saw serta menciptakan dalam diri mereka sifat-sifat kudus (suci). Inilah keteladanan yang layak untuk dicontoh yang Islam persembahkan bagi dunia dan hal ini karena reformasi dan bimbingan tersebut sehingga Allah Ta’ala, melalui nubuatan, telah menamai ‘Muhammad’ kepada Nabi (saw). Melalui nama tersebut, beliau dipuji di dunia ini karena beliau memenuhi dunia ini dengan kedamaian, kerukunan, akhlak mulia dan perbaikan.”

Bahkan hingga hari ini, kita melihat orang-orang yang berpikiran adil mau tidak mau terpaksa mengakuinya, bahwa Rasulullah (saw) datang kepada kaum yang sedemikian rupa keadaannya tenggelam dalam kejahilan, kekerasan dan kekotoran, lalu merubahnya menjadi orang-orang yang muta’allim (terpelajar) dan rabbani (bertuhan).

Beberapa tahun yang lalu, seorang cendekiawan Yahudi datang bertemu saya (Hudhur atba) dan menceritakan, “Meskipun sebagai seorang Yahudi terlarang memasuki Masjidil Aqsa (di Yerusalem), saya pergi ke sana, mengunjungi dan menyaksikan semua di sana.”

Rincian kisahnya cukup panjang. Ringkasnya, ia berkata, “Penanggung jawab di Masjid itu urusan kunjungan luar beberapa kali menampakkan keraguannya saya seorang Muslim. Tiap kali saya bicarakan hal-hal yang menampakkan saya seorang Muslim. Bahkan, saya mengucapkan kalimah Syahadat guna memuaskan keraguannya bahwa saya Muslim. Saya berkata, ‘La Ilaaha ilallah [tiada Tuhan selain Allah] Muhammadur Rasulullah [Muhammad adalah Utusan Allah].’

Pendeknya, ketika kunjungan ke Masjid itu telah habis waktunya, pengurus Masjid itu berkata kepada saya, ‘Meskipun Anda mengucapkan dua kalimah Syahadat tapi saya masih belum yakin akan keislaman Anda. Anda telah selesai mengunjungi Masjid, saya harap Anda menyampaikan fakta yang sebenarnya.’

Saya jawab, ‘Anda benar. Saya memang bukan seorang Muslim. Saya seorang Yahudi. Perihal mengucapkan Syahadat La Ilaaha illaLlah, memang saya percaya dengan La Ilaaha illaLlah tidak ada sesuatu pun yang layak disembah kecuali Allah, karena saya seorang monotheist.

Perihal saya mengucapkan Syahadat Muhammadur Rasulullah [Muhammad adalah Utusan Allah], saya juga yakin Muhammad adalah Utusan Allah. Saya paham sekali sejarah bangsa Arab. Saya mengetahui keadaan bangsa Arab saat pengutusan Nabi Muhammad saw. Tidak ada satu pun pemimpin duniawi yang mampu mengubah keadaan-keadaan yang mana bangsa Arab biasa hidup sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. Tidak ada seorang manusia pun yang dapat memperbaiki keadaan-keadaan mereka dengan kemampuannya sendiri.

Hanya seorang Nabi-lah yang dapat mereformasi dan menyadarkan kembali sebuah bangsa dari kerusakan moral yang sedemikian parah. Oleh karena itu, terlepas dari beriman dan tidaknya saya kepada Muhammad (saw), saya menganggap beliau seorang Nabi yang diutus oleh Tuhan.” Ringkasnya, seorang duniawi saja mengakui revolusi agung yang diadakan oleh Nabi Muhammad saw. Orang-orang berpikiran adil yang melihat perubahan luar biasa yang terjadi pada para Sahabat Nabi saw dengan kekuatan kesucian Nabi Muhammad saw mau tidak mau terpaksa mengakui Nabi Muhammad saw benar-benar Rasul dari Allah.

Berkenaan dengan para sahabat Rasulullah (saw), kedudukan mereka dan perubahan luar biasa pada diri mereka, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda dalam satu kesempatan, ”Perhatikanlah pemandangan para Sahabat Nabi Muhammad saw. Keteladanan para sahabat nan mulia bagaikan keteladanan semua Nabi. Allah Ta’ala hanya suka akan amal perbuatan saja. Mereka siap mengorbankan jiwanya demi agama layaknya domba-domba yang siap untuk disembelih. Perumpamaan mereka ialah seperti bangunan megah kenabian yang berlangsung dari Adam ‘alaihis salaam (bentuk, gambaran, kedudukan dan corak kenabian ada sejak zaman Adam) namun tidak kurang dipahami keagungannya.

Tapi, para Sahabat memperlihatkannya secara cemerlang dan menjelaskan apa yang disebut kejujuran dan kesetiaan. Kehidupan mereka jauh dari setiap jenis sarana kenyamanan. Mereka hidup dari sarana-sarana itu dengan menjaga jarak. Golongan para sahabat adalah orang-orang yang menakjubkan. Mereka patut dihormati dan diikuti.

Qalbu mereka dipenuhi dengan keimanan dan keyakinan. Ketika (seseorang dianugerahi) keyakinan, maka pada tahap awal ia secara bertahap memiliki hasrat untuk mengorbankan harta kekayaannya. Setelah itu, ketika keimanannya meningkat, orang yang dipenuhi keyakinan tersebut bersedia juga mengorbankan hidupnya demi Allah Ta’ala.”

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai keunggulan para Shahabat, “Satu ayat saja telah cukup sebagai bukti kebenaran para sahabat ra bahwa mereka telah membuat revolusi-revolusi besar dalam diri mereka. Itu ialah ayat رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ(Orang-orang) yang perniagaan dan jual beli tidak membuat mereka lalai dari mengingat Allah…(Surah an-Nuur; 24:38) Orang-orang Inggris (Barat) pun mengakui capaian-capaian dalam bandingan para Sahabat itu adalah hal yang sukar. Keberanian ala tanah sahara dan keperwiraan mereka yang agung menimbulkan ketakjuban…

Beliau as bersabda, “Orang-orang beriman memperoleh kesempurnaan yang cukup dalam kecintaan kepada Allah Ta’ala sampai-sampai sebanyak apapun kesibukan dan keadaan mereka tidak dapat menggoyahkan keimanan mereka.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) lebih jauh bersabda, “Ingatlah bahwa para hamba sejati Allah Ta’ala adalah orang-orang yang mengenai mereka Allah berfirman: رِجَالٌ لَّا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ُ (Orang-orang) yang perniagaan dan jual beli tidak membuat mereka lalai dari mengingat Allah. Yaitu ketika qalbu seseorang membangun hubungan dan kecintaan sejati dengan Allah, ia tidak akan dapat memisahkan dirinya daripada-Nya.

Keadaan yang semacam itu mudah dipahami dengan analogi berikut ini yaitu ketika anak seseorang sakit, ia boleh jadi pergi untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari, namun hatinya tetap tertuju kepada anaknya tersebut. Demikian pula, orang-orang yang menciptakan hubungan dan kecintaan sejati dengan Allah, tidak akan dapat melupakan Allah meski dalam situasi apapun….”

Jadi, para sahabat nan mulia, ridhwanuLlahu ‘alaihim (semoga ridha Allah atas mereka), telah membangun hubungan sejati dengan Allah Ta’ala dan kecintaan yang sedemikian rupa, sehingga mustahil menanyakan apakah mereka lalai terhadap Allah atau ragu-ragu untuk melakukan pengorbanan apapun. Ada banyak sekali contoh semacam itu yang terkait dengan para sahabat tersebut.

Ada kisah berkenaan Hadhrat Khabbab bin Al-Arat radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, bahwa ketika menjelang masa ajalnya, beliau begitu takut kepada Allah Ta’ala. [Meskipun telah berkorban besar sekali demi agama serta menerima penderitaan yang luar biasa, beliau amat cemas mengharap akhir yang baik.] Sampai-sampai beliau minta diperlihatkan kain kafannya. Setelah melihat kain kafan itu dan bagi beliau itu begitu mewah dan berlebihan maka beliau berkata sembari mencucurkan air mata, انظروا هذا كفني، لَكِنَّ حَمْزَةَ لَمْ يُوجَدْ لَهُ كَفَنٌ إِلَّا بُرْدَةٌ مَلْحَاءُ إِذَا جُعِلَتْ عَلَى رَأْسِهِ قَلَصَتْ عَنْ قَدَمَيْهِ وَإِذَا جُعِلَتْ عَلَى قَدَمَيْهِ قَلَصَتْ عَنْ رَأْسِهِ حَتَّى مُدَّتْ عَلَى رَأْسِهِ وَجُعِلَ عَلَى قَدَمَيْهِ الْإِذْخِرُ “Perhatikanlah kain kafan saya. Sungguh, Hamzah [paman Nabi saw yang syahid di perang Uhud] tak mendapatkan kain kafan melainkan kain burdah (kain selimut), jika digunakan menutupi kepala maka kakinya akan tersingkap,dan jika digunakan untuk menutupi kaki maka kepalanya akan tersingkap, sehingga kepalanya yg ditutup sementara kakinya ditutupi dengan rerumputan idzhir sesuai petunjuk dari Nabi saw.”

Beliau ra juga mengatakan dengan penuh rasa khasyyat (takut akan Allah), وَلَقَدْ رَأَيْتُنِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أَمْلِكُ دِرْهَمًا وَإِنَّ فِي جَانِبِ بَيْتِي الْآنَ لَأَرْبَعِينَ أَلْفَ دِرْهَمٍ “Semasa saya bersama Rasulullah (saw) saya sama sekali tidak memiliki apa-apa bahkan untuk satu dinar atau satu dirham sekali pun. Akan tetapi kini, karena karunia Allah Ta’ala dan penerimaan Dia atas pengorbanan ini serta buah keberkatan Rasulullah (saw) juga, Allah Ta’ala menganugerahi saya dengan kekayaan yang melimpah ruah sehingga kotak yang ada di sudut rumah saya berisi 40 ribu dirham.”

Kemudian, beliau ra berkata, “Allah Ta’ala menganugerahi saya dengan begitu banyak sekali harta sehingga saya takut sekali bahwa jangan-jangan Allah Ta’ala hanya mengganjar amal perbuatan saya di dunia ini saja, sementara di akhirat nanti saya kehilangan ganjaran itu sama sekali.”

Tatkala Hadhrat Khabbab ra tengah sakit dan tampaknya dekat sakaratul maut, para tamu yang menjenguknya berkata kepadanya, أبشر يا أبا عبد الله ، إخوانك تقدم عليهم غدا “Berbahagialah, wahai Abu Abdullah karena engkau akan menjumpai shahabat-shahabatmu besok (yaitu para Sahabat agung).”

Khabbab pun menjawab sambil menangis, اما انه ليس بي جزع ولكن ذكرتموني أقواما وسميتموهم لي إخوانا “Tidak ada yang membuat saya khawatir, tetapi kalian telah menyebut saya sebagai saudara bagi para Sahabat Nabi yang mana kedudukan mereka amat luhur. Saya tidak tahu apakah saya tepat dinamai sebagai saudara mereka ataukah tidak.”

وان أولئك مضوا بأجورهم كما هي واني أخاف أن يكون ثواب ما تذكرون من تلك الأعمال ما أوتينا بعدهم“Mereka telah berlalu (wafat) mendahului kita dengan membawa semua amal bakti mereka, sebelum mereka mendapatkan ganjaran sedikit pun di dunia sebagaimana yang telah kita peroleh. Sementara kita, kita masih tetap hidup dan mendapat kekayaan dunia, hingga tidak ada tempat untuk menyimpannya lagi kecuali tanah.” Inilah tingkat khasy-yat beliau kepada Allah dan ketakwaannya sampai-sampai menganggap diri begitu rendah. Beliau takut akan Allah dan cemas akan ridha-Nya setelah kewafatan. Beliau ra biasa berdoa agar Allah meridhainya.

Pengkhidmatan dan pengorbanan beliau ra tidak kurang dari para Sahabat yang lain. Suatu kali Hadhrat Ali bin Abi Thalib (ra) menyalatkan jenazah beliau ra. Hadhrat Ali ra saat itu telah menjadi Khalifah. Dalam kata penghormatan yang dicatat dalam sejarah, Hadhrat Ali bin Abi Thalib (ra) berkata, رَحِمَ اللَّهُ خَبَّابًا ، لَقَدْ أَسْلَمَ رَاغِبًا ، وَهَاجَرَ طَائِعًا ، وَعَاشَ مُجَاهِدًا ، وَابْتُلِيَ فِي جِسْمِهِ أَحْوَالا ، وَلَنْ يُضَيِّعَ اللَّهُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا ”  ‘RahimaLlahu Khabbaaban; laqad aslama raaghiban, wa hajara thaa-i’an; wa ‘aasya mujaahidan; wabtuliya fi jismihi ahwaalan; wa lan yudhayyi’aLlahu ajra man ahsana ‘amalan.’  – “Semoga Allah Ta’ala merahmati Khabbab. Ia menerima Islam dengan sukarena dan penuh ghairat. Ia juga ikut hijrah ke Madinah dengan ketaatan. Kemudian ia menjalankan hidupnya sebagai seorang Mujahid. Ia melewati ujian begitu berat, dan menampilkan contoh penuh kesabaran dan ketabahan. Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang yang terbaik dalam amal perbuatannya.”

Kemudian, perhatikanlah bagaimana kedudukan Hadhrat Khabbab bin Al-Aratt di mata Hadhrat Khalifah Umar ra. Pada zaman Hadhrat Umar ra, pernah suatu kali Hadhrat Khabab ra mendatangi majlis beliau maka beliau ra memanggil Hadhrat Khabab ra untuk duduk di atas kursi khusus bersama beliau dan bersabda: “Khabab! Anda layak untuk duduk bersama saya di sini. Sementara saya tidak melihat dari antara hadirin seseorang yang berhak duduk bersamaku di tempat ini kecuali Bilal karena beliau menderita siksaan yang banyak dikarenakan keislamannya pada hari-hari awal.”

Beliau menjawab: “Wahai Amirul Mu’minin! Tidak diragukan lagi bahwa Bilal ra berhak untuk itu, tetapi ada yang menyelamatkan Bilal saat terjadi kezaliman terhadapnya oleh orang-orang musyrik. (Hadhrat Abu Bakr ra yang menolong Bilal dan membebaskannya) Namun, saat itu tidak ada yang menyelamatkan saya dari kezaliman tersebut. Suatu hari saya mengalami hal ini, saya ditangkap oleh orang-orang kafir. Mereka mendorong saya agar menduduki batu bakar yang panas membara. Selanjutnya, ada satu orang dari antara mereka yang menginjakkan kakinya diatas dada saya.” Kemudian beliau membuka bajunya dan menunjukkan kepada Hadhrat Umar ra punggungnya sehingga terlihat tanda memutih bekas penganiayaan di sana yang diakibatkan oleh bara api. (Kulit dan lemak tubuh bagian belakang beliau terbakar yang kemudian meninggalkan garis-garis serta bekasl luka permanen di tubuhnya.)

Hadhrat Khabab ra ikut serta dalam pernah Badr, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Namun, meski demikian, beliau tetap saja merasa cemas dan takut saat kewafatannya, apakah Allah meridhainya ataukah tidak?

Kemudian, ada sahabat Hadhrat Muadz bin Jabal radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau terkenal dengan shalat Tahajudnya yang lama. Karib kerabatnya menjelaskan bahwa beliau setiap shalat Tahajud senantiasa memanjatkan doa kepada Allah sebagai berikut: اللَّهُمَّ قَدْ نَامَتِ الْعُيُونُ ، وَغَارَتِ النُّجُومُ “Allahumma qad naamatil ‘uyuunu; wa ghaaratin nujuumu – “Ya Allah, mata-mata telah tertidur. (Pada jam-jam tahajjud, kebanyakan orang masih tidur). Bintang-bintang telah tenggelam.

وَأَنْتَ حَيٌّ قَيُّومٌ ، اللَّهُمَّ طَلَبِي لِلْجَنَّةِ بَطِيءٌ wa Anta Hayyun Qayyuumun; Allahumma thalabii lil jannati bathii-un Engkau Maha Hidup dan Senantiasa Mandiri serta menegakkan makhluk. Ya Allah pencarian hamba demi surga begitu berkekurangan. (hamba amat kurang dalam beramal saleh).

وَهَرَبِي مِنَ النَّارِ ضَعِيفٌ wa harabii minan naari dha’iifun – Hamba lemah dalam melarikan diri dari api neraka. (Wahai Tuhanku, hamba tahu akan panasnya api neraka, dan harus beramal saleh untuk selamat darinya, namun hamba begitu lemah untuk selamat darinya.)

اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِي عِنْدَكَ هُدًى تَرُدُّهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ Allahummaj’al lii ‘indaka hudan tarudduhu ilaa yaumil qiyaamah; innaka laa tukhliful mii’aad. Wahai Allah bimbinglah hamba secara khusus dari Mu, bimbingan yang diberikan hingga hari Kiamat, Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji. (Pada hari itu Engkau melakukan apa yang telah Engkau peringatkan sebelumnya).” Beliau ra banyak membelanjakan harta di jalan Allah sampai-sampai berhutang dalam rangka pengorbanan harta tersebut.

Berkenaan dengan Muaz bin Jabal, Ibnu Ka’ab bin Malik berkata: “Perlakuan Allah Ta’ala kepada Muaz amat menakjubkan. Beliau orang yang tampan, murah hati, doa-doanya sering dikabulkan, apapun yang dipanjatkan kepada Allah pasti dikabulkan. Allah Ta’ala memperlakukannya dengan spesial. Bahkan jika beliau berhutang, Allah akan menyediakan sarana untuk melunasinya. Allah Ta’ala memberkatinya dengan pemahaman, wawasan dan firasaat yang menakjubkan.”

Mereka itulah para Sahabat yang menyintai Rasulullah saw dikarenakan kecintaan mereka kepada Allah; atau dikarenakan kecintaan mereka kepada Rasulullah saw maka timbul dalam diri mereka kecintaan kepada Allah karena kekuatan kesucian Rasulullah saw menjadikan mereka mengerti kecintaan kepada Allah. Sebagaimana juga telah saya katakan, kekuatan kesucian Rasulullah saw menjadikan timbulnya inqilaab dalam diri para Sahabat. Jika tidak demikian, mustahil menampilkan keteladanan kecintaan dan keasyikan ini. Para Sahabat menyintai Rasulullah saw fiLlaah (dalam Allah) dengan kecintaan yang tanpa tara bandingannya, sebagaimana juga telah Hadhrat Masih Mau’ud as jelaskan.

Selanjutnya, ingatlah sejarah peristiwa pada Hadhrat Shammaas bin Utsman radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau merupakan teladan kecintaan kepada RasuluLlah saw dan teladan pembangunan tingkat agung pengorbanan demi Islam. Kecintaan Hadhrat Thalhah ra telah diceritakan. Bagaimana dalam perang Uhud, beliau meletakkan tangannya di depan wajah Nabi saw demi melindungi beliau dari tembakan anak-anak panah. Ada peristiwa yang sedemikian rupa berkenaan Hadhrat Shammaas juga. Beliau ra berdiri di depan Nabi saw melindungi Nabi saw dengan tubuh beliau ra sendiri.

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda perihal Hadhrat Shammaas (ra), “Jika saya membandingkan Shamaas dengan sesuatu apapun maka saya akan menyamakannya dengan perisai (tameng), karena ketika pertempuran Uhud, ia ibarat perisai bagai saya. Ia menjaga saya dari depan, belakang, kanan, kiri dan berjuang hingga nafas akhirnya.” Shamaas berdiri di depan Nabi saw laksana perisai, hingga ia benar-benar terluka parah karena serangan musuh.

[Setelah perang selesai] Dalam keadaan demikian ia pun dibawa ke Madinah untuk dirawat. Ummu Salamah, istri Nabi saw berkata, “Ia adalah anak paman saya, saya lebih berhak merawatnya.” Maka seketika Rasulullah menyuruh untuk membawa Syammas kepada Ummu Salamah. Namun setelah dua atau tiga hari, ia pun wafat disebabkan luka-lukanya yang begitu parah sekali. Rasulullah (saw) menyampaikan agar Hadhrat Shammaas dimakamkan dengan pakaian yang dikenakannya, sebagaimana para syuhada Uhud lainnya.

Namun, Ummu Salamah berkata, “Ia adalah anak pamanku, aku lebih berhak merawatnya.” Maka seketika Rasulullah menyuruh untuk membawa Syammas kepada Ummu Salamah. Syammas berada di sana sehari semalam, kemudian wafat sebagai syuhada. Rasulullah pun menyuruh untuk membawa jenazahnya ke bukit Uhud untuk di kubur bersama syuhada Uhud lainnya.

Sahabat lainnya, Hadhrat Sa’id ibn Zaid radhiyAllahu ta’ala ‘anhu yang merupakan adik ipar Hadhrat Umar bin Khattab (ra). Beliau ra adalah orang yang karena masuk Islam maka Hadhrat Umar (ra) yang saat itu belum masuk Islam memukulnya, namun istri Said bin Zaid (Fathimah binti Khattab), adiknya Hadhrat Umar bin Khattab (ra) mencegah dengan berdiri di hadapan suaminya sehingga ia terkena pukulan tersebut dan terluka. Hal tersebut memberikan kesan mendalam bagi Hadhrat Umar hingga memalingkan perhatiannya untuk menerima Islam.

Ada satu peristiwa pada Hadhrat Said (ra) yang menguraikan tolok ukur sifat ghina (merasa cukup) dan khasy-yat (takut) kepada Tuhan dalam diri beliau. Beliau (ra) memiliki sebidang tanah yang biasa digunakan sebagai tempat mencari nafkah penghidupan. Ada seorang wanita yang juga memiliki sebidang tanah yang berbatasan dengan milik beliau (ra). Wanita tersebut mengklaim (mengaku-aku) tanah Hadhrat Said (ra) adalah miliknya dengan menuduh beliau telah merebut tanahnya itu.

Hadhrat Said (ra) menjawabnya bahwa beliau ra tidak ingin bertengkar mengenai hal tersebut, kemudian Beliau ra menyerahkannya kepada wanita itu sambil berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah (saw) bersabda, مَنْ أَخَذَ شِبْرًا مِنْ الْأَرْضِ ظُلْمًا طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أَرَضِينَ ‘Jika seseorang secara tidak sah mengambil bahkan merampas tanah milik orang lain, nanti di hari pembalasan, ia harus menanggung beban tujuh tanah seberat bumi.’ Oleh karena itu, saya tidak ingin tuduhan tersebut jatuh kepada saya, serta saya tidak ingin bertengkar juga tidak ingin dunia ini menuduh saya bahwa saya telah merampas tanah milik orang lain. Apalah arti dan harga tanah ini.”

Beliau ra melepaskan tanah itu namun beliau melepaskan diri dari tuduhan dengan cara berdoa terhadap wanita penuduh tersebut. Doa beliau ra mustajab, اللَّهُمَّ إِنْ كَانَتْ كَاذِبَةً فَعَمِّ بَصَرَهَا وَاقْتُلْهَا فِي أَرْضِهَا “Ya Allah ya Tuhanku, kalau seandainya Arwa (nama wanita itu) benar-benar berdusta, (zalim dan tidak teraniaya, ambillah ia, jadikanlah tempat itu buruk baginya.)

Perawi (Urwah bin Zubair) berkata, “Ternyata ia memang tidak meninggal dunia sampai ia buta. Diceritakan, ketika ia sedang berjalan-jalan di tanah pekarangannya, tiba-tiba ia terjerumus ke dalam lubang dan meninggal dunia.”

Beliau termasuk orang yang berani berkata benar tanpa takut celaan para pencela. Ada Hadits lain mengenai Hadhrat Sa’id ibn Zaid ra. Suatu kali beliau berada di Masjid Jami’ (agung) Kufah bersama Wali (Gubernur) dari pihak Mu’awiyah. Sang Gubernur menghormatinya dan memintanya duduk di sisinya. Seseorang Kufah berbicara mengenai Hadhrat Ali ra dengan kata-kata yang melecehkan.

Hadhrat Sa’id ibn Zaid ra mendengar hal ini dengan amat marah. Tanpa berpikiran bahwa lebih bijak untuk diam karena orang itu berbicara di depan Gubernur, Hadhrat Sa’id berdiri dan berkata, أشْهَدُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي سَمِعْتُهُ وَهُوَ يَقُولُ: عَشْرَةٌ فِي الْجَنَّةِ: النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ، وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ، وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ، وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِي الْجَنَّةِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ، وَلَوْ شِئْتُ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ, “Saya bersaksi mendengar Rasulullah saw pernah bersabda, ‘Sepuluh orang pasti masuk Surga: Nabi, Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Malik dan Abdur Rahman bin Auf. Jika kalian mau, saya sampaikan yang kesepuluh.’”

فَقَالُوا: مَنْ هُوَ؟ فَسَكَتَ, قَالَ: فَقَالُوا: مَنْ هُوَ؟ فَقَالَ: هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ Mereka berkata, “Siapakah dia?” Beliau ra diam. Mereka bertanya lagi, ‘Siapakah dia?” Beliau ra menjawab, “Dia adalah Sa’id ibn Zaid.” (Saya sendiri).

Salah satu Hadits yang beliau riwayatkan bahwa Nabi saw mengatakan, مِنْ أَرْبَى الرِّبَا الِاسْتِطَالَةُ فِي عِرْضِ مُسْلِمٍ بِغَيْرِ حَقٍّSesungguhnya riba yang paling buruk adalah merusak kehormatan seorang Muslim tanpa hak.” (Hal paling terlarang adalah secara tidak adil menyerang kehormatan dan integritas seorang Muslim.

Namun, sayangnya, ini adalah hal yang dilupakan umat Islam hari ini, dan kita saksikan bahwa umat Islam – baik atasan maupun bawahan – menyerang kehormatan umat Islam lainnya untuk kepentingan pribadi mereka sendiri.

Sahabat lainnya yang bisa kita sebutkan adalah Hadhrat Shuhaib bin Sinaan Al-Rumi (orang Romawi atau asal wilayah Romawi) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Ketika umat Islam diizinkan Allah Ta’ala untuk hijrah, beliau (ra) pun memutuskan untuk Hijrah. Beliau berangsur-angsur mengalami perkembangan dalam kehidupannya karena awal mulanya beliau datang (ke Mekah) sebagai budak, lalu dibebaskan dan kemudian mulai melakukan perniagaan, hingga akhirnya menjadi saudagar yang kaya raya dan menghasilkan banyak uang dari perniagaannya tersebut.

Ketika beliau hijrah ke Madinah, orang-orang Mekah berkata kepada beliau, أَتَيْتَنَا صُعْلُوكًا، فَكَثُرَ مَالُكَ عِنْدَنَا، وَبَلَغْتَ مَا بَلَغْتَ، ثُمَّ تُرِيدُ أَنْ تَخْرُجَ بِنَفْسِكَ وَمَالِكَ؟، وَاللَّهِ لَا يَكُونُ ذَلِكَ “Dahulu sewaktu kamu datang kepada kami, kamu hanyalah seorang budak yang miskin. Maka, kemudian menjadi banyaklah hartamu di sisi kami, hingga mencapai (kekayaan) seperti ini, lalu kamu ingin pergi dengan dirimu dan harta kekayaanmu? Demi Allah hal itu tidak boleh terjadi.”

Lalu Beliau menjawab, أَرَأَيْتُمْ إنْ جَعَلْتُ لَكُمْ مَالِي أَتُخَلُّونَ سَبِيلِي؟ ‘Baiklah, saya akan meninggalkan semua kekayaan saya di sini, sekarang maukah kalian membiarkan saya pergi?’

Mereka pun mengizinkan beliau pergi. Beliau pun menunjukkan suatu tempat menyimpan setengah dari hartanya kepada mereka untuk mereka ambil.

Ketika beliau bersama keluarga bermaksud keluar untuk pergi ke Madinah. Sekelompok orang Quraisy mengejar beliau. Hadhrat Shuhaib adalah seorang yang gagah berani. Beliau ahli dalam menembakkan anak panah. Ketika beliau melihat rombongan orang Quraisy itu yang tengah mengejar beliau, segera beliau siapkan busur panahnya lalu mengeluarkan semua anak-anak panah dari tempatnya dan menancapkannya di tanah. Beliau berteriak kepada mereka, يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ لَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي مِنْ أَرْمَاكُمْ رَجُلاً، وَايْمُ اللهِ لاَ تَصِلُونَ إِلَيَّ حَتَّى أَرْمِيَ بِكُلِّ سَهْمٍ مَعِي فِي كِنَانَتِي، ثُمَّ أَضْرِبُ بِسَيْفِي مَا بَقِيَ فِي يَدِي مِنْهُ شَيْءٌ، افْعَلُوا مَا شِئْتُمْ، دَلَلْتُكُمْ عَلَى مَالِي وَثِيَابِي بِمَكَّةَ وَخَلَّيْتُمْ سَبِيلِي؟ “Hai orang-orang Quraisy, kalian semua tahu aku jago memanah. Demi Allah, sebelum kalian berhasil mendekatiku, aku akan membidik kalian dengan semua anak panah yang aku bawa. Setelah itu aku akan melawan kalian dengan pedang ini sampai titik darah penghabisan. Sekarang terserah kalian, jika kalian ingin mendekat, mendekatlah. Atau lebih baik bagi kalian untuk membiarkanku pergi dengan aman. Nanti aku tunjukkan di mana setengah harta kekayaanku kusimpan!” [Orang-orang Quraisy setuju memilih harta beliau dibanding berperang dengan beliau]

Maka dari itu, beliau pun meninggalkan seluruh harta kekayaannya di Mekah, dan pergi berhijrah. Jadi dengan penuh kebajikan dan dengan mengorbankan hartanya, beliau berhasil menyelamatkan dirinya dan keluarganya hingga sampai ke Madinah dengan selamat. Saat beliau bertemu dengan Rasulullah (saw), dan memberitahukan bahwa beliau mengorbankan seluruh harta kekayaannya guna menyelamatkan hidup serta keyakinannya agar bisa sampai ke Madinah, maka Rasulullah (saw) menanggapinya dengan bersabda, يَا أَبَا يَحْيَى، رَبِحَ البَيْعُ”“ – “Wahai Abu Yahya (Ayahnya Yahya)! Apa yang engkau lakukan bukanlah sebuah transaksi yang sia-sia, namun transaksi yang sangat menguntungkan.”

Jadi, setiap sahabat memiliki kualitas dan gaya masing-masing yang unik pada diri mereka. Satu kali Hadhrat Umar (ra) berkata kepada Hadhrat Suhaib (ra), يَا صُهَيْبُ ، إِنَّكَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ الْكَثِيرَ ، وَذَلِكَ سَرَفٌ فِي الْمَالِ “Anda amat sangat murah hati dalam memberi makan orang lain, namun saya khawatir Anda ini terlalu boros. [Terlalu banyak bersedekah]” Hadhrat Suhaib menjawab, “Makanan yang saya berikan karena atas perintah Rasulullah (saw). إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ Beliau (saw) menasehati saya, خِيَارُكُمْ مَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَرَدَّ السَّلامَ khiyaarukum man ath’amath tha’aama wa raddas salaam – yang terbaik diantara kalian adalah ia yang memberi makan orang lain dan menyebarkan salam (perdamaian).”

Dengan demikian, menyebarkan salam juga merupakan sebuah amal saleh (perbuatan baik) dan digambarkan sebagai kekhasan orang-orang yang mulia dalam pandangan Rasulullah (saw). [Hadhrat Suhaib (ra)] berkata, “Saya memegang teguh nasehat yang diberikan Rasulullah (saw) kepada saya, ketika saya tiba di Madinah saya membelanjakan apa yang sesuai haknya (sah menurut syariat) dan tidak menikmati secara berlebihan.”

Kedudukan Hadhrat Shuhaib ra juga terhormat di pandangan Khalifah Umar ra. Khalifah Umar ra [menjelang kewafatannya] mewasiyatkan agar Hadhrat Shuhaib ra yang mengimami shalat jenazah beliau dan mengimami shalat Jamaah hingga terpilih Khalifah yang baru.

Selanjutnya Hadhrat Usamah bin Zaid radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau merupakan putra dari Hadhrat Zaid (ra), seorang budak yang dibebaskan oleh Rasulullah (saw). Hadhrat Usamah (ra) sangat beruntung karena Rasulullah (saw) memberikan kesaksian atas kecintaan terhadapnya.

Nabi saw pernah mendudukannya dan Husain di atas lutut beliau saw saat keduanya masih anak kecil lalu mendoakan, اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا ، فَأَحِبَّهُمَا Allahumma inni uhibbuhuma fa-ahibbahuma – “Ya Allah! kasihilah mereka berdua karena sesungguhnya hamba menyayangi mereka berdua.”

Namun, berkaitan dengan Tarbiyat dan agama, memang terdapat kecintaan pribadi tapi yang lebih penting ialah pelaksanaan hukum-hukum Allah Ta’ala. Saat Rasulullah (saw) masih hidup, Hadhrat Usamah (ra) masih sangat muda, sebenarnya beliau baru berusia 18 tahun saat kewafatan Rasulullah (saw). Tapi beliau tetap ambil bagian dalam beberapa pertempuran. Ada Satu peristiwa bahwa saat pertempuran, seorang Kafir yang bertempur dengan Hadhrat Usamah (ra) terdesak dan orang itu seketika mengucapkan kalimah syahadat, tapi beliau (ra) tetap membunuhnya karena ia yakin jika yang dilakukan orang tersebut hanya takut dibunuh.

Lalu Hadhrat Usamahh (ra) bercerita: “Ada ganjalan dalam hati saya sehingga menyampaikan peristiwa tersebut kepada Rasulullah (Saw). Rasulullah (saw) bertanya: أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ ‘Apakah kamu tetap membunuhnya bahkan setelah ia mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (kalimah syahadat)?’ Saya menjawab: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنْ السِّلَاحِ ‘Ia mengucapkan hal itu semata-mata agar tidak dibunuh.’ Rasulullah (saw) berkata: ‘أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا – ‘Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak?’

Hadhrat Rasulullah (saw) mengulangi kalimat tersebut berkali-kali sehingga saya berharap supaya saya tidak menjadi orang Islam sebelum hari itu.”

Selanjutnya Hadhrat Usamah (ra) berkata: “Saya bersumpah sejak saat itu bahwa saya tidak akan membunuh siapapun yang mengucapkan kalimah syahadat.”

Andai saja umat Muslim hari ini dapat memahami hal tersebut. Pada satu segi mereka atas nama Islam melakukan keaniayaan terhadap orang-orang non Islam. Pada sisi lainnya, mereka telah membunuh sesama umat Islam. Sebagai contoh perang Suriah, dalam beberapa tahun terakhir ini sejak dimulainya perang tersebut ratusan ribu umat Islam telah dibunuh oleh umat Islam lainnya. Mereka yang mengucapkan kalimah syahadat membunuh saudara-saudara mereka sesama Islam, dan mereka yang membunuhnya pun melakukannya atas nama Allah dan Rasul-Nya. Begitupun di Yaman orang-orang yang mengucapkan kalimah syahadat diserang dan menjadi sasaran segala jenis penganiayaan dan pembunuhan.

Semoga Allah Ta’ala membimbing umat Islam supaya mereka tidak hanya sekedar berteriak mencintai Rasulullah (saw) dan para sahabatnya, namun juga harus bertindak sesuai dengan teladan Hadhrat Rasulullah (saw) dan para sahabatnya tersebut. Tetapi, fakta yang sebenarnya ialah orang-orang itu menguatkan keakuan mereka atas nama Islam. Mereka tidak tahu apa-apa soal Islam dan ajarannya. Bahkan, mereka hanya berusaha mengokohkan keunggulan mereka saja. Mereka merapal nama Allah namun di hati mereka hanya menuruti keinginan-keinginan nafsu.

Kini, guna menciptakan ketakwaan sejati di dunia, Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud (as). Melihat kondisi umat Islam di dunia sekarang ini, mereka tidak akan pernah mampu mereformasi diri mereka sendiri kecuali jika mereka beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Seharusnya kita patut bersyukur dan tambah bersyukur bahwa Allah Ta’ala meridhai kita untuk menerima Hadi (Pembimbing) zaman ini, yang Allah Ta’ala utus sebagai khadim sejati Rasulullah (saw).

Nabi Muhammad saw telah memberi kita pengertian mengenai kedudukan para Sahabat. Beliau saw menasehati kita agar mengikuti keteladanan mereka. Beliau saw memperjelas bagi kita contoh teladan mereka. Beliau saw bersabda agar menjadikan mereka sebagai panduan untuk diikuti. Inilah wasilah satu-satunya yang jika kita pedomani dan ikuti teladan mereka membuat kita dapat menjadi Muslim hakiki.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Hal yang sebenarnya ialah selama seseorang tidak menghadirkan diri di hadapan istana-istana Ilahi sembari meninggalkan hawa nafsu dan keinginannya, ia tidak akan meraih sesuatu pun bahkan menghadapi kerugian. Namun, tatkala ia meninggalkan hawa nafsu dan keinginan pribadinya dan dating ke hadapan Allah dengan tangan kosong dan dengan hati bersih maka Allah Ta’ala memberikannya anugerah. Tapi, syaratnya ialah seseorang siap untuk mati dan tidak menganggap penting kehinaan dan kematian di jalan-Nya.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Perhatikanlah! Dunia adalah fana namun kenikmatan hakiki hanya akan didapat oleh orang yang meninggalkan (mengosongkan) diri darinya (dunia ini) demi Allah Ta’ala. Mereka yang melakukan hal itu akan didekatkan dengan Allah.” (Lihatlah para sahabat yang meninggalkan duniawi demi Allah Ta’ala lalu mereka dianugerahi Allah Ta’ala dengan kenikmatan yang tak terhingga di dunia ini, namun mereka tidak pernah lupa dengan hari akhirat. Mereka memikirkan hanya bagaimana membuat lebih baik diri mereka untuk kehidupan akhirat mereka setelah mereka mendapatkan banyak karunia duniawi. Mereka menjadi betul-betul untuk Allah Ta’ala saja.)

Mereka yang menjadi orang yang demi Allah maka Allah Ta’ala akan menempatkan mereka sebagai orang-orang yang diterima di bumi. Itulah penerimaan yang orang-orang di dunia berusaha ingin capai sekuat tenaga mereka. Mereka berusaha mendapatkan gelar atau menempati kursi kehormatan di suatu tempat atau di istana atau menjadikan diri termasuk orang-orang yang namanya berhak mendapat kursi kehormatan. Jadi, mereka yang bersiap diri untuk meninggalkan segala sesuatu demi Allah Ta’ala, mereka itulah yang akan ditetapkan setiap jenis kehormatan duniawi juga. Hati orang-orang juga akan terkesan dengan kewibawaan mereka dan mereka akan diterima.

Singkat kata, mereka yang bersiap diri untuk meninggalkan segala sesuatu demi Allah Ta’ala – bukan hanya bersiap diri – namun benar-benar meninggalkan, mereka itulah yang akan dianugerahi. Dengan demikian, mereka yang mengorbankan segala sesuatu demi Allah Ta’ala, akan dianugerahi segala-galanya. Mereka tidak akan meninggalkan dunia ini sampai mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda atas apa yang mereka korbankan di jalan Allah Ta’ala. Allah Yang Maha Kuasa tidak akan berhutang. Dia tidak menolak berapa pun banyaknya jumlah pengorbanan seseorang, namun sayangnya, orang-orang yang menyadari dan mengerti hal tersebut sangat langka (sedikit).”

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk bertindak sesuai dengan ajaran-ajaran tersebut, sehingga kita dapat menjadi hamba sejati Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, serta mengamalkan semua perintah-perintahNya. Aamiin

Setelah Shalat, saya akan mengimami shalat Jenazah hadir Nyonya Amatul Majid Ahmad, istri Tuan Chaudhry Nasir Ahmad, yang merupakan Naib Ameer UK serta Kepala kantor Pusat Jaidad. Almarhumah wafat pada tanggal 9 Januari 2018. Inna lillahi Wa inna ilaihi Rajiun. Beliau cicit dari yang mulia Hadhrat Maulvi Abdullah Sanoori Sahib, Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Setelah menikah, mereka tinggal di dekat Masjid Fazl sejak tahun 1978.

Beliau dawam melaksanakan Shalat, Puasa dan juga Candah. Ia sangat penyayang, menyambut tamu dengan keramahan. Beliau seorang wanita yang saleh dan tulus. Beliau menjadi tempat berbagi dalam setiap kesedihan dan kegembiraan setiap orang. Beliau memiliki hubungan yang kuat dengan Khilafat dan juga senantiasa mendorong anak-anaknya agar menjalin hubungan yang erat dengan Khilafat. Beliau berusaha mendesak anak-anaknya untuk senantiasa dawam shalat. Beliau sekuat tenaga mendidik dan mentarbiyati anak-anaknya sedemikian rupa juga berusaha untuk mengajarkan al-Quran kepada anak-anak di tempatnya.

Selain berkhidmat di bidang Khidmat Khalq dan Dhiyafat di Lajnah Imaillah UK, beliau juga mendapat taufik di bidang Mehman Nawazi (penyambutan tamu). Beliau meninggalkan suami dan 4 putrinya. Sadr UK yang sekarang dan Sadr UK yang sebelumnya, Syumailah Nagi, keduanya mengatakan bahwa Almarhumah seorang yang penuh kecintaan dan setiap orang yang berjumpa dengan Almarhumah pun akan merasakan kecintaan beliau tersebut.

Almarhumah dalam waktu lama menjabat sebagai Mehman Nawazi (penyambutan tamu) di Jalsah UK. Beliau berkhidmat dengan sangat ikhlas dan rajin. Beliau mendapat taufik berkhidmat sebagai Sekretaris Dhiyafat dan bekerja dengan sangat rendah hati.

Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat Almarhumah dan semoga Allah Ta’ala menjadikan segala amal baiknya dilanjutkan oleh putri-putrinya. Seperti telah saya sampaikan setelah shalat, kita akan shalat jenazah hadir. Saya akan mengimami di luar. Hadirin di sini membentuk shaf lurus. aameen.

________________________________

[1] Musnad Ahmad No.25961

[2] Dalam riwayat-riwayat sejarah para Sahabat, kotak berisi uang milik Hadhrat Khabbab itu diumumkan tempatnya kepada teman-teman beliau dan mereka dibebaskan mengambil isinya kala memerlukan uang.

[3] Dalam Kitab Ma’rifatush Shahaabah karya Abu Na’im dan Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid karya Nuruddin ‘Ali bin Abi Bakr al-Haitsami no. 15632, sepulangnya Hadhrat Ali ibn Abi Thalib ra dari perang Shiffin pada 37 Hijriyah (657 M); (معرفة الصحابة لأبي نعيم » حَرْفُ الأَلِفِ » مَنِ اسْمُهُ أَنَسٌ » وَأَنَسُ بْنُ ظُهَيْرٍ الأَنْصَارِيُّ) ; ” طُوبَى لِمَنْ ذَكَرَ الْمَعَادَ ، وَعَمِلَ لِلْحِسَابِ ، قَنَعَ بِالْكَفَافِ ، وَرَضِيَ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ” “Diberkatilah oarang yang terus mengingat kehidupan yang berikut, bertindak sedemikian rupa sehingga memungkinkan dia
mempertangungjawabkannya, tetap puas dengan apa yang mencukupinya, dan tetap rida kepada Allah.

[4] Ath-Thabaqaat al-Kubra (Tingkatan Generasi-Generasi Agung) karya Ibn Sa’ad, juz 3 halaman 88, ath-Thabaqat al-Ula ‘alas sabiqah fil Islam ‘’Khabab bin al-Arth”, Darul Ihya at-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1996.

[5] Tarikh Dimasyq, h. 438. (تاريخ مدينة دمشق – ج 58 – مسعود – معافى)

[6] {Muslim: 5/58} Kitab jual beli; (صحيح مسلم » كتاب المساقاة » باب تحريم الظلم وغصب الأرض وغيرها ); Peristiwa ini terjadi di Madinah pada masa Hadhrat Muawiyah ra bin Abu Sufyan. Gubernur Madinah saat itu
ialah Marwan bin Hakam. Dia dan keturunannya inilah yang nanti menjadi Khalifah (Raja) dinasti Umayyah setelah wafatnya Muawiyah bin Yazid bin Muawiyah.

[7] Shahih Ibni Hibban; (رواه ابن حبان، في صحيح ابن حبان، عن سعيد بن
زيد، الصفحة أو الرقم: 6993); Sunan Abi Daud (سنن أبي داوود، ج3، ص213،
ح4649); peristiwa ini terjadi sekitar tahun 40 Hijriyah setelah beberapa bulan Hadhrat Ali ra wafat. Gubernurnya ialah Ziyad ibn Abihi, saudara angkat Amir Mu’awiyah dan dulunya pernah berada di pihak Hadhrat Ali ra namun menyeberang ke pihak Muawiyah. Ia adalah ayah Ubaidullah ibn Ziyad, gubernur Kufah pada masa Yazid.

[8] Musnad Ahmad ibn Hanbal, bab Musnad Said bin Zaid, no 1564)

[9] Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim; (حلية الأولياء لأبي نعيم »
صُهَيْبُ بْنُ سِنَانِ بْنِ مَالِكٍ); Hadits bermakna sama terdapat dalam ابن هشام: السيرة النبوية 1/477، وابن سعد: الطبقات الكبرى 3/171،
والبلاذري: أنساب الأشراف 1/182،

[10] Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir; ( الطبراني في الكبير (ح/7156))

[11] Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim; (حلية الأولياء لأبي نعيم »
صُهَيْبُ بْنُ سِنَانِ بْنِ مَالِكٍ)

عَنْ حَمْزَةَ بْنِ صُهَيْبٍ ، أَنَّ صُهَيْبًا رضى اللَّهُ تَعَالَى
عَنْهُ كَانَ يُطْعِمُ الطَّعَامَ الْكَثِيرَ ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ

[12] Hadits Ahmad No.20788; juga dalam Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري
» كِتَاب الْأَدَبِ » باب وَضْعِ الصَّبِيِّ عَلَى الْفَخِذِ); Hadhrat
Usamah meriwayatkan: كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَأْخُذُنِي فَيُقْعِدُنِي عَلَى فَخِذِهِ وَيُقْعِدُ
الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَى فَخِذِهِ الْأُخْرَى ثُمَّ يَضُمُّنَا
ثُمَّ يَقُولُ  “Nabi Allah mengajakku lalu mendudukkanku diatas lutut beliau dan mendudukkan Hasan bin ‘Ali diatas lutut sebelah beliau
kemudian beliau merangkul kami dan bersabda: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا
فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا Allahummarham humaa fa-inni arhamuhumaa ‘Ya Allah! kasihilah mereka berdua karena sesungguhnya aku menyayangi
mereka berdua.’

[13] Shahih Muslim, Kitab tentang Iman, bab larangan membunuh orang kafir setelah berkata. ‘Laa ilaaha illallah’

(Visited 176 times, 1 visits today)