Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز

22 Desember 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Pada khotbah Jumat sebelumnya saya berbicara tentang kedudukan agung para sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, juga keutamaan dan perjalanan hidup mereka radhiyALlahu Ta’ala anhum. Dalam benak saya, saya akan membicarakan lebih banyak lagi tentang bahasan ini namun karena sempitnya waktu maka tidak kesampaian. Lalu, saya merasa, sebagai hasil surat-surat dari anggota yang menyebutkan agar saya sekurang-kurangnya menyediakan pokok-pokok pembicaraan supaya para anggota memahami perjalanan hidup para Sahabat dan pengorbanan mereka sehingga dapat terarah perhatian untuk mengikuti keteladanan mereka. Maka dari itu, pada hari ini saya akan membahas topik yang sama.

Hadhrat Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu ialah salah satu sahabat agung Hadhrat Rasulullah (saw). Sebagai seorang sahabat, pastinya beliau telah memiliki kedudukan tertentu. Beliau memiliki banyak kualitas. Keputusan Rasulullah (saw) yang menunjuknya sebagai orang kepercayaan telah diceritakan sebagai berikut: Ketika sebuah rombongan dari Najran meminta agar dikirimkan seseorang kepada mereka, Rasulullah (saw) bersabda, لَأَبْعَثَنَّ إِلَيْكُمْ رَجُلًا أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ حَقَّ أَمِينٍ “Tentu saya benar-benar akan mengirimkan orang kepercayaan saya kepada kalian, orang terpercaya dalam istilah yang sebenarnya. Lalu beliau menyuruh Hadhrat Abu Ubaidah ibn al-Jarrah (ra) berdiri dan memerintahkannya pergi ke sana.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Anas meriwayatkan Rasulullah (saw) bersabda, إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينًا , وَإِنَّ أَمِينَنَا أَيَّتُهَا الأُمَّةُ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ “Setiap bangsa memiliki seorang penjaga (yang dapat dipercaya), dan wahai kaumku! Penjaga kita adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.”

Betapa agungnya kehormatan yang diberikan Rasulullah (saw) kepadanya itu. Ada juga riwayat lain yang menceritakan tentang beliau ra dan menyebutkan kedudukan agung beliau. Dalam perang Uhud, umat Muslim sudah hampir menang, namun, musuh berbalik menyerang dan melempari umat Muslim dengan batu-batu secara kuat. Hal ini terjadi setelah sebagian tentara Muslim meninggalkan tempat tugas mereka yang Nabi saw perintahkan agar tidak ditinggalkan bagaimana pun keadaannya. Batu-batu diarahkan ke Hadhrat Rasulullah (saw) juga.

Dalam sebuah riwayat disebutkan dua cincin pengikat mighfar (helm, penutup kepala dan sebagian wajah) dari besi di kepala beliau (saw), yang digunakan untuk melindungi wajah beliau pecah dan menusuk wajah beliau (saw). Menurut riwayat Hadhrat Abu Bakr, seketika itu Abu Ubaidah (ra) dengan gigitan giginya yang kuat menarik keluar pengikat cincin yang menusuk di wajah Rasulullah (saw) tersebut. Hal itu menyebabkan sebuah gigi beliau tanggal. Lalu beliau ra menggigit cincin kedua dengan cara yang sama dan itu menyebabkan gigi beliau lainnya (gigi depannya) tanggal sebagaimana terjadi sebelumnya.

Hal ini disebabkan kedua cincin itu menusuk kuat ke dalam wajah Nabi saw. Inilah salah satu peristiwa yang merupakan bentuk kecintaan dan kesetiaan beliau terhadap Rasulullah (saw). Peristiwa ini diceritakan terus selama berabad-abad. para periwayat mengatakan sebagaimana terdapat dalam riwayat-riwayat, “Kami belum pernah melihat orang yang giginya tanggal namun setampan Abu Ubaidah.”

Umumnya, tanggalnya gigi tentu dapat mempengaruh perubahan wajah, namun para periwayat mengatakan bahwa hilangnya dua gigi depan Abu Ubaidah (ra) semakin menambah kegagahan paras wajah beliau (ra).

Ada peristiwa lain yang menunjukkan kerendahan hati, jiwa saling bekerjasama dan memecahkan perkara dengan bijak yang ada pada diri Abu Ubaidah (ra). Dikisahkan dalam riwayat-riwayat bahwa pada satu ekspedisi (perang Dzatus Salaasil), Hadhrat Rasulullah (saw) mengirim Amr bin Al-‘Aas (ra) sebagai komandan perang. Sesampainya di tempat yang dituju, Amr bin Al-‘Aas (ra) baru menyadari besarnya pasukan musuh sementara pasukannya sendiri kebanyakan ialah orang-orang Arab dusun. Para Sahabat muhajir dan tokoh-tokoh Sahabat amat sedikit di pasukannya. Cemas akan hal ini, beliau lalu mengirim pesan dan meminta bantuan kepada Rasulullah (saw). Kemudian Rasulullah (saw) mengirim satu unit bataliyon dibawah komando Abu ‘Ubaidah (ra). Rasulullah (saw) mengintruksikan Abu ‘Ubaidah agar beliau tidak berselisih tapi bisa bekerjasama dengan Amr bin Al-Aas.

Tapi terjadi kesalahpahaman, karena Amr bin Al-‘Aas mengira dirinyalah pemimpin kedua kesatuan tersebut. Hal itu ia katakan kepada kedua pasukan tersebut secara langsung bahwa pasukan Abu Ubaidah adalah pasukan bantuan yang datang dan akan berada dibawah komandonya. Hal tersebut menimbulkan kebingungan dari kelompok pasukan Abu ‘Ubaidah.

Para Shahabat besar banyak yang berada dibawah komando Abu Ubaidah [diantara Shahabat tersebut ialah Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Umar]. Diantara mereka berkata kepada Amr, “Nabi saw menjadikan Abu Ubaidah sebagai komandan independen bagi pasukannya. Nabi saw menasehatkan, ‘Kalian berdua jangan berselisih!’ Anda (wahai Amr) ialah komandan atas pasukan Anda, sementara Abu Ubaidah ialah komandan atas pasukannya sendiri.’

Amr menjawab, فَأَنَا أَمِيرٌ عَلَيْكَ ، وَإِنَّمَا أَنْتَ مَدَدٌ لِي ‘Tidak. Saya adalah Amir untuk semuanya karena saya yang dikirim pertama kali sebelumnya.’

Bukannya terlibat lebih jauh dalam perdebatan, Abu Ubaidah (ra) berkata, يَا عَمْرُو ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ قَدْ قَالَ لِي : ” لا تَخْتَلِفَا ” ، وَأَنْتَ إِنْ عَصَيْتَنِي أَطَعْتُكَ ‘Wahai Amr! Rasulullah saw telah menunjuk saya sebagai komandan tersendiri, namun Nabi saw berpesan, “Kalian berdua jangan berselisih!” Jika memang Anda tidak mau menurut kepada kata-kata saya, baiklah saya yang akan menaati Anda.’

Inilah keteladanan agung keelokan beliau dalam bekerjasama dan tidak berdebat lebih lanjut yang memungkinkan munculnya lebih banyak perselisihan. Jadi inilah contoh langkah keputusan yang tepat di tengah situasi yang sulit yaitu melepaskan hak pribadi seseorang demi memperkuat umat Islam. Jenis saling bekerjasama yang luhur ini menjadikan umat Muslim sekarang kuat amat diperlukan oleh umat Muslim saat ini. Hal ini hanya bisa terjadi apabila para pemimpin Islam memiliki cukup bijak untuk saling bekerjasama antara satu dengan lainnya. Semoga demikian.

Selanjutnya terdapat contoh tentang menjalankan pemerintahan dengan adil dan bagaimana cara memenangi hati setiap orang bahkan hingga yang tadinya memusuhi sekalipun, bisa ditemukan pada diri Hadhrat Abu Ubaidah (ra). Ketika Kaisar Romawi mengumpulkan tentara dari seluruh penjuru negerinya dan mengirim mereka guna menghadapi umat Islam, saat itu Abu Ubaidah (ra) adalah panglima semua pasukan.

Beliau mengirimi surat permohonan bantuan kepada pasukan Muslim yang berada di berbagai wilayah yang luas dan sedang memerintah umat Kristen. Kaisar Romawi lalu mengirim pasukan besar lainnya. Hadhrat Abu Ubaidah terlebih dahulu berkonsultasi dengan para Jendralnya lalu memutuskan mengambil langkah strategis untuk sementara waktu meninggalkan beberapa kota dan wilayah yang sudah ditaklukan umat Islam.

Mereka telah menerima pajak dari penduduk setempat yang semuanya non-Muslim, namun Hadhrat Abu Ubaidah (ra) mengembalikan semua penerimaan pajak tersebut kepada mereka yang jumlahnya ratusan ribu sambil berkata: “Karena kini kami sudah tidak mampu lagi melindungi kalian dan tidak dapat memenuhi hak-hak kalian, maka kami kembalikan seluruh jumlah pajak yang telah kami terima dari kalian.”

Keadilan dan pengembalian akan kepercayaan tersebut membawa pengaruh besar kepada orang-orang non-Muslim itu sehingga semua orang Kristen di kalangan penduduk setempat melepas kepergian orang-orang Islam sembari menangis, dan memanjatkan doa dengan sepenuh hati agar Allah Ta’ala segera membawa mereka kembali dengan segera.

Inilah orang-orang yang karena hasil dari hidup bersama dengan Rasulullah (saw), telah menegakan standar kejujuran dan keadilan mereka sedemikian rupa, yang mana tidak pernah dibayangkan sebelumnya, bahkan sampai detik ini tidak ada seorang pun yang bisa melakukannya.

Hari ini guna menjamin terciptanya perdamaian di dunia tidak dapat diraih tanpa melalui keadilan, kejujuran dan pemenuhan hak-hak dengan adil. Namun hal ini tidak dapat ditegakan oleh pemerintahan yang lebih kuat dengan memaksa pemerintahan yang lemah agar bertindak sesuai dengan tuntutan mereka dan mengancam mengambil tindakan jika tidak melaksanakannya. Begitupun hal ini tidak bisa ditegakan di banyak negara Muslim, dimana mereka memungut pajak dari masyarakat luas, namun bukannya dibelanjakan untuk kepentingan rakyatnya, sebaliknya kebanyakan para pemimpinnya memenuhi bank-bank mereka dengan uang tersebut. Padahal mereka mengangkat semboyan cinta Rasulullah (saw) dan para sahabatnya.

Selanjutnya ada Hadhrat ‘Abbas radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu, yang merupakan paman Rasulullah (saw) dari pihak ayah beliau. Hadhrat Abbas terkenal karena kemurahan hatinya (dermawan) dan menyambung tali silaturrahmi. Rasulullah (saw) bersabda, هَذَا عَمُّ نَبِيِّكُمْ ، أَجْوَدُ قُرَيْشٍ كَفًّا ، وَأَوْصَلُهَا “Inilah paman Nabi kalian (Abbas). Beliau merupakan orang yang paling baik hati dan murah hati diantara orang-orang Quraisy. Mendengar hal itu, Hadhrat Abbas bin Abi Muthalib pun membebaskan 70 budak. Inilah standar kemurahan hati orang-orang itu.

Selanjutnya ada Hadhrat Ja’far bin Abi Thalib radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu, sepupu Rasulullah (saw) dari pihak ayah, dan kakak kandung Hadhrat Ali bin Abi Thalib (ra). Beliau beruntung menerima Islam di masa permulaan Islam, dan akibat dari keadaan sulit di Makkah saat itu, beliau pun hijrah ke Habsyah (Abyssinia). Setelah orang-orang Makkah mengetahui hal itu, mereka mengirim utusan terdiri dari orang-orang terkemuka mereka lalu mendatangi tokoh-tokoh dan para pejabat kerajaan Habsyah semari menghadiahi mereka banyak bingkisan berharga. Mereka berkata, “Beberapa pemuda kami telah datang ke negeri Anda dengan meninggalkan agama mereka sebelumnya dan juga tidak bergabung dengan agama Anda. Mereka memeluk agama baru.”

Dengan melalui orang-orang terkemuka Habsyah dan menghadiahi mereka banyak bingkisan berharga, para delegasi terhormat Quraisy tersebut ingin mendapat rekomendasi dan diantar untuk menghadap Raja Habsyah. untuk mengembalikan orang-orang yang baru memeluk Islam tersebut. Mereka pun menyiapkan hadiah-hadiah yang banyak untuk sang Raja. Mereka dapat berjumpa dengannya dan mempersembahkan hadiah-hadiah tersebut.

Setelah mendengarkan delegasi Quraisy itu, sang Raja pun menyuruh memanggil orang-orang Islam ke istananya. Lalu, ia bertanya kepada mereka, مَا هَذَا الدِّينُ الَّذِي فَارَقْتُمْ فِيهِ قَوْمَكُمْ وَلَمْ تَدْخُلُوا فِي دِينِي وَلَا فِي دِينِ أَحَدٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمَمِ “Agama macam apakah ini yang menyebabkan kalian meninggalkan keyakinan kalian yang lama dan juga kenapa kalian tidak menerima keyakinan dari bangsa-bangsa lain (keyakinan yang kami miliki yaitu Kristen)?”

Pada kesempatan tersebut, Hadhrat Ja’far (ra) yang mewakili umat Islam [sebagai juru bicara] berkata, أَيُّهَا الْمَلِكُ كُنَّا قَوْمًا أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ نَعْبُدُ الْأَصْنَامَ وَنَأْكُلُ الْمَيْتَةَ وَنَأْتِي الْفَوَاحِشَ وَنَقْطَعُ الْأَرْحَامَ وَنُسِيئُ الْجِوَارَ يَأْكُلُ الْقَوِيُّ مِنَّا الضَّعِيفَ “Wahai yang mulia Raja! Kami adalah orang-orang bodoh. Kami biasa menyembah berhala, biasa memakan bangkai, dan umumnya kami berlaku kasar serta menganiaya keluarga kami, dan seseorang yang kuat diantara kami akan menindas orang yang lebih lemah.

فَكُنَّا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْنَا رَسُولًا مِنَّا نَعْرِفُ نَسَبَهُ وَصِدْقَهُ وَأَمَانَتَهُ وَعَفَافَهُ فَدَعَانَا إِلَى اللَّهِ تَعَالَى لِنُوَحِّدَهُ وَنَعْبُدَهُ وَنَخْلَعَ مَا كُنَّا نَعْبُدُ نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ الْحِجَارَةِ وَالْأَوْثَانِ Di tengah keadaan seperti itu, Allah Ta’ala mengangkat seorang Rasul dari antara kami, seseorang yang terhormat, jujur, terpercaya, bersih dan kemuliaan keluarganya telah diakui dengan baik. Ia menyeru kami agar menyembah satu Tuhan. Beliau mengajarkan kami untuk tidak menyekutukan apapun dengan Tuhan dan juga tidak menyembah berhala.

وَأَمَرَ بِصِدْقِ الْحَدِيثِ وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ وَصِلَةِ الرَّحِمِ وَحُسْنِ الْجِوَارِ وَالْكَفِّ عَنْ الْمَحَارِمِ وَالدِّمَاءِ وَنَهَانَا عَنْ الْفَوَاحِشِ وَقَوْلِ الزُّورِ وَأَكْلِ مَالِ الْيَتِيمِ وَقَذْفِ الْمُحْصَنَةِ Beliau mengajarkan kami untuk senantiasa jujur, dapat dipercaya, baik hati, memperlakukan tetangga dengan baik dan ia melarang kami bertengkar dan menumpahkan darah tanpa alasan. Beliau mengajarkan kami untuk menjauhkan diri dari hal yang tak bermoral, dan melarang kami dari berdusta, merampas hak anak yatim dan menuduh wanita-wanita yang menjaga diri dari dosa.

وَأَمَرَنَا أَنْ نَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا نُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَأَمَرَنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّيَامِ قَالَ فَعَدَّدَ عَلَيْهِ أُمُورَ الْإِسْلَام Beliau memerintahkan kami untuk menyembah Allah saja tanya menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, memerintah shalat, zakat, puasa dan juga hal-hal terkait Islam.

فَصَدَّقْنَاهُ وَآمَنَّا بِهِ وَاتَّبَعْنَاهُ عَلَى مَا جَاءَ بِهِ فَعَبَدْنَا اللَّهَ وَحْدَهُ فَلَمْ نُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا وَحَرَّمْنَا مَا حَرَّمَ عَلَيْنَا وَأَحْلَلْنَا مَا أَحَلَّ لَنَا فَعَدَا عَلَيْنَا قَوْمُنَا فَعَذَّبُونَا فَفَتَنُونَا عَنْ دِينِنَا لِيَرُدُّونَا إِلَى عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ مِنْ عِبَادَةِ اللَّهِ وَأَنْ نَسْتَحِلَّ مَا كُنَّا نَسْتَحِلُّ مِنْ الْخَبَائِثِ Kami membenarkannya, mengimaninya dan bertindak sesuai dengan ajarannya. Kami beribadah kepada Allah Ta’ala saja tanpa menyekutukan dengan sesuatupun. Kami haramkan apa-apa yang beliau haramkan. Kami halalkan apa-apa yang beliau halalkan. Karena hal tersebutlah, bangsa kami berbalik memusuhi kami, mereka menganiaya kami dengan siksaan yang berat dan berusaha mengembalikan kami kepada agama nenek moyang.

وَلَمَّا قَهَرُونَا وَظَلَمُونَا وَشَقُّوا عَلَيْنَا وَحَالُوا بَيْنَنَا وَبَيْنَ دِينِنَا خَرَجْنَا إِلَى بَلَدِكَ وَاخْتَرْنَاكَ عَلَى مَنْ سِوَاكَ وَرَغِبْنَا فِي جِوَارِكَ وَرَجَوْنَا أَنْ لَا نُظْلَمَ عِنْدَكَ أَيُّهَا الْمَلِكُ Kemudian ketika perlakuan mereka telah melampaui batas, kami meninggalkan tanah air kami dan mencari perlindungan Anda, karena kami telah mendengar sesuatu yang mulia tentang kebenaran dan keadilan tuan. Wahai yang mulia Raja! Kami harap tidak ada seorang pun yang berlaku aniaya terhadap kami di negeri ini.”

Raja Najasyi begitu terkesan dan berkata, “Bacakan padaku sebagian wahyu yang diturunkan kepada Nabi kalian.” Mendengar permintaan tersebut, Hadhrat Ja’far ra menilawatkan beberapa ayat dari كهيعص (surah Maryam) dengan suara yang merdunya sehingga mata Raja Najashi penuh dengan air mata. Sang Raja berkata, إِنَّ هَذَا وَالَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى لَيَخْرُجُ مِنْ مِشْكَاةٍ وَاحِدَةٍ “Demi Allah, tampak sekali kata-kata tersebut dan kata-kata Musa berasal dari sumber yang sama.” Lalu ia berkata kepada para utusan Makkah tersebut bahwa ia tidak akan mengembalikan orang-orang Islam ini kepada mereka, dan orang-orang Islam tersebut bisa tetap tinggal di kerajaannya.

Tatkala keluar dari istana itu, para utusan dari Makkah ini berembuk satu dengan yang lain lalu menyusun rencana untuk memberi tahu Raja pada esok hari bahwa orang-orang Muslim ini tidak percaya Yesus sebagaimana ajaran Kristen dan merendahkan statusnya. Sang Raja kemudian memanggil orang-orang Islam dan bertanya akan pandangan mereka tentang Yesus. Hadhrat Jafar (ra) menjawab, نَقُولُ فِيهِ الَّذِي جَاءَ بِهِ نَبِيُّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَرُوحُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ الْعَذْرَاءِ الْبَتُولِ “Kami mengatakan sebagaimana yang Nabi kami bawa bahwa ia (Yesus) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, ruh-Nya, kalimat-Nya, yang Dia karuniakan kepada Maryam, sang perawan.” Sang Raja kemudian mengambil jerami dari tanah dan mengatakan, مَا عَدَا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ مَا قُلْتَ هَذَا الْعُودَ فَنَاخَرَتْ بَطَارِقَتُهُ حَوْلَهُ حِينَ “Perbedaan antara saya dengan apa yang Anda (Jafar) katakan tidak lebih lebar dari sehelai daun jerami ini [mengenai status Yesus sebagaimana apa yang baru saja Anda gambarkan].” Selanjutnya ia mengatakan kepada kaum Muslim bahwa mereka aman dan memiliki kebebasan di kerajaannya.

Karena kebijaksanaan, pemahaman dan pengetahuan Hadhrat Ja’far-lah, orang-orang Muslim diijinkan untuk tinggal dengan aman di sana.

Sahabat yang lainnya adalah Hadhrat Mush’ab bin Umair radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu. Ibu beliau adalah orang yang kaya raya. Mereka sangat kaya. Mush’ab bin Umair sendiri dibesarkan dengan kemewahan, berpakaian mewah dan memiliki wajah yang tampan.

Saad bin Abi Waqqash ra berkata, “Saya telah melihat Mush’ab pada masa kemewahannya dan setelah keislamannya juga. Ia banyak menerima penderitaan di jalan Allah. [Ia banyak disiksa oleh keluarganya seizin ibunya] Dahulu [saat belum Islam dan bersama orang tuanya], ia adalah pemuda yang bergelimang dalam kemewahan. Sekarang saya melihatnya berjuang dengan sungguh-sungguh di jalan Islam hingga saya pernah melihat kulitnya kering bersisik seperti sisik ular (pecah-pecah mengelupas)… [bajunya usang, sampai-sampai kami menawarinya pelana kami agar kami memboncengnya karena ia terlihat lemas.”]

Suatu hari, para Shahabat duduk-duduk bersama Rasulullah saw di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah saw melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang. Para Shahabat menundukkan kepala juga karena mereka semua tahu dan menyaksikan sendiri keadaan Hadhrat Mush’ab saat dulu masih kaya raya dan penuh kenyamanan. Sekarang kondisinya begitu melarat dan para Shahabat pun dalam kondisi yang sama-sama lemah untuk menolongnya. Lalu ia mendekat dan mengucapkan salam. Nabi saw dan mereka menjawab salamnya dengan penuh kecintaan dan sepenuh hati.

Lalu Nabi saw menghiburnya dengan bersabda, “Segala pujian milik Allah, semoga orang-orang yang berusaha memperoleh harta benda duniawi dikabulkan. Saya dulu telah melihat Mush’ab saat ketika tidak ada seorangpun yang lebih kaya daripada dia di Mekkah. Ia merupakan anak kesayangan orangtuanya, ia menikmati semua jenis makanan dan minuman yang terbaik. Namun, kecintaannya kepada Rasul Allah membawanya kepada keadaan yang sekarang ini, dan ia mengorbankan semuanya demi meraih ridha Allah Ta’ala sehingga Allah Ta’ala pun menanamkan nur di wajahnya.”

Hadhrat Mush’ab bin Umair (ra) mempunyai kapabilitas (kemampuan) dalam hal Tabligh dan Dakwah. Ia sangat pandai menyampaikan Tabligh dan melakukannya dengan penuh kecintaan dan persahabatan. Dalam berdakwah, beliau sering mengucapkan kata-kata, “Bagaimana kiranya kalau Anda duduk dan mendengar (apa yang hendak saya sampaikan)? Jika Anda ridha dengan apa yang saya ucapkan, maka terimalah. Jika Anda membencinya, maka saya akan pergi [Anda boleh tinggalkan]”.

Dengan cara seperti inilah beliau menyampaikan pesan Islam kepada masyarakat yang tinggal di Madinah, dan lewat ceramah beliau banyak orang menerima Islam.

Selanjutnya, Hadhrat Sa’ad Bin Rabi’ radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu yang merupakan sahabat dari kaum Anshar. Setelah hijrah ke Madinah, saat Rasulullah (saw) mengadakan program Muwakhat (yaitu sebuah ikatan persaudaraan antara para Muhajirin dan para Anshar), Rasulullah (saw) menunjuk Abdurrahman bin Auf sebagai saudaranya. Hadhrat Sa’ad bin Rabi (ra) membawa saudara laki-laki yang baru diangkat tersebut ke rumahnya dan memperlakukannya dengan baik serta mengatakan, “Saya ingin memperkuat persaudaraan kita ini. Saya ingin menyerahkan setengah yang saya miliki untuk engkau. Saya juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau sukai dan pilihlah, agar saya bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, nikahilah ia.”

Hadhrat Abdurrahman bin Auf menjawab, بَارَكَ الله لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، وَلَكِنْ دُلَّنِي عَلَى السُّوْقِ ‘BarakaLlahu laka fi ahlika wa maalika’, “Ungkapan anda benar-benar sesuai dengan kebesaran iman anda, semoga kekayaan, properti dan istri-istri anda menjadi keberkatan bagi anda, semoga Allah melimpahkan keberkatan atas itu semua. Saya adalah seorang pedagang dan mampu berusaha dengan kekuatan saya sendiri, jadi beritahu saya arah ke pasar. Saya sangat berterimakasih atas ketulusan hati anda.” Dengan cara seperti itu Hadhrat Abdurrahman bin Auf memulai bisnisnya, dan beliau menjadi salah satu dari para pedagang terkaya yang menghasilkan pendapatan hingga jutaan.

Hadhrat Sa’ad Bin Rabi’ (ra) pun ikut serta dalam perang Uhud dan syahid di dalamnya. Hadhrat Ubay bin Ka’ab ra (seorang dari kalangan Anshar) diminta Nabi saw mencari keberadaan Saad bin Rabi’ kala itu. Hadhrat Ubay menceritakan, “Saya melihatnya telah roboh oleh musuh. Saya memanggilnya. Setelah sampai ke tempatnya, saya temukan ia telah tergeletak di suatu tempat dan menderita luka parah. Saya katakan padanya, ‘Nabi saw yang mengirim saya mencari engkau. Beliau menanyakan keadaan engkau dan mengirim salam kepada engkau.’

Beliau mengirim pesan terakhir kepada Hadhrat Rasulullah (saw), ‘Sampaikan salam saya kepada Nabi saw. Kabarkan kepada beliau bahwa tombak-tombak dan anak-anak panah telah banyak melukai saya. Saya tidak melihat bahwa saya akan hidup. Katakan kepada beliau, جَزَاكَ اللَّهُ عَنِّي خَيْرَ مَا جَزَى نَبِيّاً عَنْ أُمَّتِهِ، وَأَبْلِغْ قَوْمَكَ مِنِّي السَّلامَ، “Wahai Rasul Allah! Meskipun banyak Nabi yang telah berlalu dan mereka senang dengan umatnya, semoga Allah menjadikan Anda sangat ridha dengan kami.”’

Beliau pun menyampaikan pesan kepada umat Islam, إِنَّهُ لا عُذْرَ لَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ إِنْ خُلِصَ إِلَى نَبِيِّكُمْ وَمِنْكُمْ عَيْنُ تَطْرُفُ” “Selama Rasulullah (saw) berada diantara kalian, adalah tugas kalian untuk menjaga beliau. Ingatlah selalu, selama masih ada dari kalian yang hidup, lalu kalian gagal menjaga beliau maka Allah Ta’ala tidak akan menerima alasan apapun di hari kiamat nanti.”’ Saya pun menyampaikan pesannya dan ia wafat.”

Sahabat Nabi saw lainnya, Hadhrat Usaid bin al-Hudhair Al-Anshari radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu yang masuk Islam melalui dakwah Hadhrat Mush’ab ibn Umair ra. Beliau ra berbicara mengenai tiga pengalaman tingkat keruhanian, لَوْ أَنِّي أَكُونُ كَمَا أَكُونُ عَلَى أَحْوَالٍ ثَلَاثٍ مِنْ أَحْوَالِي لَكُنْتُ حِينَ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَحِينَ أَسْمَعُهُ يُقْرَأُ وَإِذَا سَمِعْتُ خُطْبَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِذَا شَهِدْتُ جِنَازَةً وَمَا شَهِدْتُ جِنَازَةً قَطُّ فَحَدَّثْتُ نَفْسِي بِسِوَى مَا هُوَ مَفْعُولٌ بِهَا وَمَا هِيَ صَائِرَةٌ إِلَيْهِ “Tiga keadaan yang jika saya tetap terus begitu maka saya menganggap diri saya termasuk penghuni Surga. Pertama, tatkala membaca al-Quran dan mendengarkan seseorang melantunkan al-Quran suci yang bila saya memperoleh rasa takjub akan kebesaran Tuhan dan terus demikian, saya menganggap diri saya termasuk penghuni Surga.

Kedua, saat Rasulullah saw menyampaikan pidato dan nasehat; saya mendengarkannya dengan penuh seksama. Saya setiap saat berusaha menjaga komitmen (janji) atas keadaan yang saya alami saat mendengarkan nasehat tersebut. Bila tetap terus demikian maka saya menganggap diri saya termasuk penghuni Surga. Ketiga, saat saya menghadiri shalat jenazah (pemakaman) seseorang. Saya berpikir itu seakan-akan itu (pemakaman) jenazah saya sendiri lalu saya memeriksa diri saya sendiri. Inilah keadaan yang bila saya tetap terus demikian maka saya menganggap diri saya termasuk penghuni Surga.”

Inilah tanda ketakutan sempurna beliau akan Tuhan, dan inilah keadaan yang membuat manusia takut akan Tuhan dan terus menerus berusaha untuk melakukan perbuatan baik. Kata beliau ra, “Tiga keadaan yang jika saya tetap terus begitu maka saya menganggap diri saya termasuk penghuni Surga.” Tiga keadaan tersebut tercipta dalam diri beliau. Dalam setiap beliau buktikan sebagai orang yeng termasuk penghuni Surga dan termasuk yang meraih ridha Allah. kesempatan senantiasa berzdikir kepada Allah.

Kualitas lainnya dari Usaid bin Hudhair Al-Anshari adalah kecintaannya yang begitu dalam akan ibadah dan Shalat. Beliau merupakan Imam masjid di wilayahnya. Meskipun sakit beliau tetap datang ke masjid untuk mengerjakan shalat. Bahkan saat kesulitan berdiri untuk melaksanakan shalat pun, beliau tetap datang ke masjid dan shalat dengan duduk agar tidak kehilangan berkat dari shalat berjamaah.

Inilah keadaan para Shahabat dan keteladanan yang mereka tampilkan. Beliau berwawasan luas dan biasa memberikan saran dan musyawarah nan cemerlang. Hadhrat Abu Bakr menyaksikan pendapat Hadhrat Usaid, beliau ra bersabda, “Sekarang tidak tepat untuk berselisih.”

Hadhrat Usaid ra mengalami zaman Khalifah Abu Bakr ra dan Khalifah Umar ra. Hadhrat Usaid bin Hudhair Al-Anshari (ra) menunjukan ketaatan yang sempurna kepada kedua Khalifah yaitu Hadhrat Abu Bakar (ra) dan Hadhrat Umar (ra). Beliau wafat ketika masa Khalifah Hadhrat Umar ibnu Khattab (ra). Beliau pemimpin kabilah (keluarga besar) Aus dan biasa berkata kepada kabilahnya, “Baik pun ada kabilah lain di Madinah yang berselisih atau tidak berselisih, kita tidak boleh berselisih. Maka dari itu, kita berbaiat kepada Abu Bakr ash-Shiddiq.”

Kemudian, ada Shahabat dari kalangan Anshar, yaitu Hadhrat Ubay bin Kaab radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu. Beliau seorang cendikiawan yang terampil dan dawam melaksanakan shalat lima waktu di belakang Rasulullah (saw). Ubay bin Ka’ab ra, suatu ketika, saat Rasulullah (saw) shalat shubuh, beliau bertanya, “Apakah kalian menyaksikan bahwa si Fulan shalat?’ Mereka (para sahabat) menjawab, ‘Tidak.’ Beliau berkata lagi, ‘Si Fulan?’ Mereka menjawab, ‘Tidak.’

Maka, beliau pun bersabda: إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ صَلَاةٍ أَثْقَلُ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ الْآخِرَةِ وَصَلَاةِ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا Sesungguhnya dua shalat ini (Subuh dan isya’) adalah shalat yang berat bagi [bagi yang lemah imannya dan] orang munafik. Sesungguhnya, apabila mereka mengetahui [keberkahan] apa yang ada dalam shalat subuh dan isya’, maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak. “ Nabi saw menekankan pada Shalat Shubuh dan Shalat Isya.

Terdapat juga beberapa hadits yang diriwayatkan Hadhrat Ubay ra tentang memutuskan perkara. Seseorang bertemu dengan Ubay bin Ka’ab dan bertanya, “Saya menemukan sebuah satu cemeti. Apa yang harus saya lakukan?” Hadhrat Ubay ra menjelaskan, “Di zaman Nabi saw saya pernah menemukan bungkusan berisi uang seratus dinar lalu saya menemui Nabi saw dengan membawa barang tersebut, maka Beliau berkata: ‘Umumkanlah (agar diketahui orang) selama satu tahun.’ Maka saya lakukan selama setahun.

Kemudian saya datangi lagi beliau dan beliau berkata: ‘Umumkanlah selama satu tahun.’ Maka saya lakukan selama setahun lagi. Kemudian saya datangi lagi beliau dan beliau berkata: ‘Umumkanlah selama satu tahun.’ Maka saya lakukan selama setahun lagi. Kemudian saya temui beliau untuk yang keempat kali lalu beliau berkata: ‘Kenalilah jumlah isinya dan bungkusan serta penutupnya, nanti bila ada yang datang sebagai pemiliknya berikanlah namun bila tidak ada yang datang maka nikmatilah.’” Jadi inilah standar ketakwaan.

Hadhrat Ubay bin Kaab (ra) suatu kali bertanya kepada Hadhrat Rasulullah (Saw), يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِيْ؟ ‘Wahai Rasulullah, saya hendak memperbanyak shalawat kepadamu, berapa banyakkah saya harus bershalawat kepadamu?’ Rasulullah saw menjawab: مَا شِئْتَ ‘Berapa saja sekehendakmu.’ Saya katakan: الرُّبُعَ ‘Seperempat?’ Maka Rasulullah saw menjawab: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah suatu kebaikan bagimu.’ Saya katakan: النِّصْفَ؟ ‘Setengah?’

Rasulullah saw menjawab: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.’ Saya katakan: فَالثُّلُثَيْنِ ‘Dua pertiga?’ Rasulullah saw menjawab: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ ‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.’ Saya katakan: أَجْعَلْ لَكَ صَلاَتِيْ كُلَّهَا ‘Aku akan menjadikan shalawat kepadamu seluruhnya.’ Rasulullah saw bersabda: إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ ‘Jika demikian, maka semua keinginanmu terpenuhi, dan dosamu akan diampuni.’” Artinya, “Apabila kamu membaca shalawat di sebagian besar doa-doa mu, maka Allah Ta’ala sendiri yang akan melindungimu dari ketakutan dan kesedihan. Dosa-dosamu akan diampuni dan dalam pandangan Tuhan hal tersebut akan menjadi sarana untuk mengangkat derajatmu.”

Hadhrat Ubay bin Kaab (ra) juga sangat menyintai Al-Qur’an dan sering sekali membacanya. Sifat amanahnya telah mencapai kesempurnaan. Hadhrat Ubay meriwayatkan, “Suatu kali Rasulullah saw telah mengutus saya sebagai petugas pengumpul Zakat kepada kabilah Baliy, ‘Udzrah, seluruh Bani Sa’ad dan Hudzaim bin Qudla’ah. Maka saya pungut zakat dari mereka semuanya hingga giliran orang yang terakhir dari mereka yang kediamannya paling dekat dengan rumah Rasulullah saw di Madinah. Maka selesai ia kumpulkan semua hartanya kepadaku, ternyata aku tidak mendapatkan sesuatu yang bisa saya ambil sebagai zakat kecuali unta betina yang masuk umur dua tahun, kemudian saya sampaikan kepadanya bahwa unta tersebutlah yang aku jadikan sebagai zakat.

Kemudian orang itu berkata, ‘Unta itu tidak mengeluarkan susu dan tidak bisa di tunggangi sebagai kendaraan, demi Allah tidak pernah sama sekali Rasulullah saw maupun utusannya sebelum kamu memungut zakat dari harta saya, dan saya tidak akan memberikan harta saya kepada Allah Tabaaraka Wa Ta’ala dan Rasul-Nya dengan unta yang tidak mengeluarkan susu dan tidak dapat ditunggangi, tapi ini ada unta yang kekar dan gemuk maka ambillah (sebagai zakat)!’

Kemudian saya (Ubay) berkata, ‘Saya [seorang kepercayaan dan datang untuk mengambil amanat.] Saya tidak akan mengambil sesuatu yang mana saya tidak diperintahkan untuk memungutnya, Rasulullah tinggal dekat denganmu jika kamu suka menemuinya maka tawarkanlah kepada beliau apa yang kamu tawarkan kepadaku, jika beliau menerima darimu maka akan diterima dan jika beliau menolak maka akan ditolak.’

Maka saya melakukannya dan dia keluar bersamaku dengan memmbawa unta yang ditawarkan kepadaku sampai kami tiba menemui Rasulullah saw. Kemudian ia berkata kepada beliau, ‘Wahai Nabi Allah, telah datang utusanmu kepadaku untuk memungut zakat dari hartaku, demi Allah tidak pernah sama sekali Rasulullah saw maupun utusannya sebelum dia yang memungut dari hartaku, maka saya kumpulkan hartaku kepadanya, kemudian dia menganggap zakat yang harus dikeluarkan dari hartaku adalah anak unta betina yang masuk umur dua tahun, padahal unta tersebut tidak mengeluarkan susu dan tidak dapat ditunggangi sebagai kendaraan. Dan saya telah tawarkan kepadanya agar mengambil seekor unta yang kekar dan gemuk namun dia menolak.’

Laki-laki itu lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, inilah untanya, silahkah engkau ambil, saya membawakannya untukmu.’ Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya: ‘Itulah (anak unta betina umur dua tahun) yang wajib bagimu dan jika kamu memberikan tambahan yang lebih baik maka kami menerimanya dan semoga Allah memberimu balasan pahala.’ Laki-laki yang mukhlish itu berkata, ‘Inilah wahai Rasulullah saya telah datangkan kepada Anda, terimalah!’

(Ia berharap sekali agar Nabi saw menerimanya. Nabi saw pun bahagia dengan pengorbanannya.) Maka Rasulullah saw memerintahkan untuk menerimanya dan beliau mendoakan keberkahan dalam hartanya.”

Hadhrat Ubay bin Ka’ab (ra) adalah seorang yang sangat terpelajar dan memiliki pengetahuan mendalam tentang al-Quran. Majelis-majelis beliau akan senatiasa dipenuhi dengan diskursus-diskursus intelektual yang hebat. Singkatnya beliau memiliki derajat yang tinggi dan istimewa.

Aliran jasa dan karunia dari para sahabat-sahabat yang hebat ini terus berlanjut hingga hari ini, dan kita memetik manfaat dari perkataan mereka. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Apa yang ada pada Nabi Muhammad saw sehingga membuat para Shahabatnya memperlihatkan kejujuran dan keikhlasan hingga batas ini? Mereka bukan hanya tidak terbebani lagi penyembahan berhala-berhala dan menyembah makhluk, bahkan mencari dunia telah ditarik dari batin mereka sepenuhnya dan mereka mulai menyaksikan Allah. Mereka berkorban di jalan Allah dengan penuh semangat dan seolah-olah setiap orang dari mereka ialah Ibrahim.

Mereka bertindak dengan penuh keikhlasan guna menampakkan keagungan Allah Ta’ala secara amal perbuatan tiada tara bandingannya. Mereka telah menerima untuk dibunuh di jalan Allah dengan senang hati. Bahkan, sebagian dari mereka belum pernah meraih martabat kesyahidan dan segera terbetik dalam benak mereka dan seolah-oleh ada kekurangan dalam kejujuran mereka sebagaimana diisyaratkan dalam ayat, مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُواْ تَبْدِيلًا ‘Minal mu`miniina rijaalun shadaquu maa ‘aahaduullaha ‘alaihi faminhum man qadha nahbahu wa minhum man yantazhiru wa maa baddaluu tabdiilaa(n).’ – ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).’ (Surah al-Ahzaab, 33:24)

Itu artinya, diantara mereka terdapat yang meraih martabat kesyahidan dan diantara mereka terdapat yang menunggunya dengan tak sabar. Sudah seharusnya untuk diperhatikan bahwa bukankah perlengkapan duniawi menyertai mereka seperti orang-orang lain? Bukankan pada mereka terdapat anak-anak yang mereka cintai atau kekerabatan lainnya? Namun, daya tarik ini telah menjadikan mereka lalu mereka mengutamakan agama dibanding segala sesuatu.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Pertolongan yang diberikan orang-orang beriman dari kalangan kaum Quraisy di Makkah kepada Rasulullah (saw), dengan mengecualikan satu atau dua orang, maka tidak ada seseorang pun dari bangsa lainnya yang seperti mereka bahkan setengahnya pun tidak, pertolongan semacam itu benar-benar menampilkan kekuatan keimanan dan kebijaksanaan mereka.

Suatu ketika tidak ada pedang yang ditarik dari sarungnya, juga tidak ada anak panah yang digunakan, mereka benar-benar dilarang untuk melakukan pertempuran. Senjatanya hanya berupa kekuatan iman dan nur kebijakan rohani mereka. Mereka biasa menghadapi hinaan dan cacian namun mereka tertarik dengan kecintaan memabukkan yang tanpa mereka sadari. Mereka tidak mempedulikan kerugian apa pun. Mereka tidak takut bala bencana.

Apakah sesuatu hal duniawi yang dimiliki oleh Nabi saw sehingga mereka menjadi mengingini akan hal itu dengan kehidupan dan harta benda mereka serta memutuskan hubungan lama dan bermanfaat dengan kaumnya? Tidak demikian. Melainkan, Nabi Muhamad saw melewati hidup yang lama dalam kesempitan, kesulitan dan kekerasan. Tidak ada satu pun tanda (indikasi) akan adanya sekutu (penolong) dan kekuasaan yang akan mereka dapat untuk mereka cita-citakan di masa mendatang.

Mereka tetap menyertai orang fakir yang papa itu – yang mana sebenarnya beliau saw ialah raja agung – dengan kesetiaan, ketulusan, kecintaan dan keasyikan pada zaman ketika tampaknya lelaki pembaharu itu akan terhabisi dalam beberapa hari tertentu. Jangankan lagi bercita-cita akan keberhasilannya di masa mendatang. Hubungan kesetiaan ini ialah akibat kekuatan iman saja yang mana itu menjadikan mereka tertarik untuk berkorban jiwa sebagaimana seorang yang haus tatkala melihat air segar.”

Dalam Sirul-Khilafah, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Ketahuilah! Semoga Allah merahmati kalian. Para sahabat tersebut layaknya seperti anggota tubuh Rasulullah (saw) dan kebanggaan seluruh umat manusia. Beberapa orang dari mereka seperti mata beliau saw; beberapa lagi seperti telinga, beberapa lagi seperti tangan dan beberapa lagi seperti kaki dari Rasul Yang Maha Pengasih (saw). Apapun yang para sahabat itu lakukan atau upaya apapun yang mereka buat, semuanya dilakukan seperti bagian-bagian tubuh tersebut, dan mereka melakukannya semata-mata demi meraih ridha Tuhan seluruh alam raya ini.”

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk mengikuti jejak bintang-bintang cemerlang ini, sehingga menjadikan kita orang-orang yang mencintai Allah Ta’ala Rasul-Nya (saw). Semoga setiap tindakan dan pekerjaan kita dilakukan murni demi Allah Ta’ala. [Aamiin]

Setelah shalat saya akan mengimami shalat jenazah ghaib untuk Almarhumah Nyonya Areesha Dephan Thorlar, istri Tn. Fahim Dephan Tholar dari Belanda, yang baru beberapa lama ini menetap di Benin. Ia wafat pada tanggal 11 Desember di Benin karena gagal jantung, di usia 62 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Setelah menyelesaikan studinya, ia mendapatkan pekerjaan di salah satu bank. Atas persetujuan Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh), pada tahun 2002 ia menikah dengan Tn. Fahim Dephan Tholar, Ahmadi asli keturunan Belanda. Setelah menikah, ia berpuasa Ramadhan.

Suaminya, Fahim Sahib, yang juga merupakan seorang Ahmadi asli Belanda berkata: “Pada suatu hari, saat kami sedang ngobrol tiba-tiba dia menangis. Awalnya, saya pikir mungkin ucapan saya kasar. Setelah itu baru ia menjelaskan bahwa dia membandingkan dirinya dengan Ahmadiyah dan menyadari bahwa ada perbedaan mencolok antara dia dan Ahmadiyah. Dia berpikir bahwa dia tidak akan pernah mampu menjadi seorang Muslim Ahmadi. Perasaan tersebut membuatnya menangis.”

Almarhumah menyertai Tn. Fahim ke Gambia, dan terlihat bahwa upaya Jemaat Gambia memberi pengaruh positif pada dirinya. Setelah itu Tn. Fahim memberinya formulir Baiat. Ketika dia melihat formulir tersebut, awalnya dia tidak ingin menandatangani formulir tersebut. Namun, setelah membaca isi formulir tersebut dia dengan cepat menandatanganinya, tepat tanggal 18 Maret 2006. Ia mengirimi saya formulir itu dalam surat.

Ia amat menyintai Khilafat. Ia biasa membantu suaminya dalma pekerjaan Jemaat. Suaminya adalah Sekretaris Pers di Jemaat Belanda. Almarhumah membantu di pekerjaan penerjemahan. Ketika ia diseru untuk bergabung dalam Nizham Washiyat dan mengetahui khotbah saya yang menyebutkan soal seruan berwashiyat, ia pun segera mengamalkan washiyat.

Pada tahun 2009 Almarhumah mewakafkan kehidupannya di jalan Allah dan bepergian bersama suaminya ke Benin, Afrika Barat demi menjalankan Darul Aytam (Rumah Yatim Piatu) yang didirikan Jemaat di sana melalui lembaga Humanity First. Tampaknya ini keputusan yang emosional karena Almarhumah bekerja di salah satu Bank dan ia tinggalkan pekerjaan itu dan pergi ke Benin.

Muballigh incharge di Belanda menuturkan, “Saya berusaha menasehatinya bahwa keadaan di Afrika tidak begitu mudah. Ia menjawab, ‘Murabbi Shahib (Bapak Muballigh)! Tidak perlu memberitahu saya soal ini. Saya telah memutuskan hal ini dengan terlebih dahulu memikirkannya secara matang.’

Ia pun menasehati keluarganya yang mengira ia pergi ke Benin demi bekerja di salah satu perusahaan. Mereka berkata, ‘Engkau pergi untuk bekerja di Afrika. Perusahaan-perusahaan di sana menderita kebangkrutan. Pikirkanlah baik-baik keberadaan engkau di sini dan bukan di sana.’

Iman Almarhumah begitu kuat sehingga menjawab keluarganya yang masih Kristen dengan berkata, ‘Tidak perlu kalian mencemaskan saya. Jemaat ini bukanlah perusahaan yang menderita kebangkrutan dan kerugian. Mustahil ia menderita kerugian. Ada pun saya bila saya meninggal, saya ingin dikuburkan di Rumah Yatim di sana.’

Meskipun Nyonya Areesha Dephan Thorlar lahir dan dibesarkan di tengah-tengah masyarakat Eropa dan memiliki pekerjaan yang sangat bagus, namun ia memenuhi janjinya untuk mewaqafkan hidupnya dengan sebaik-baiknya, meskipun keadaannya begitu sulit di Afrika. Ia tepat waktu dan kontinyu dalam melaksanakan shalat. Sejak menerima Ahmadiyah, ia biasa melaksanakan shalat lima waktu dan Tahajjud secara disiplin. Tidak pernah ia meninggalkan shalat.

Bahkan, ia menasehati orang-orang lain agar shalat tepat waktu. Ia rajin menyimak khotbah-khotbah saya tanpa putus. Ia berusaha sekuat mungkin untuk mengamalkan apa-apa ajaran dan nasehat yang terdapat di dalam khotbah-khotbah saya. Diantara kecintaannya terhadap Islam dan Ahmadiyah ialah ketika ia menyaksikan orang-orang Ahmadi lama mempunyai kekurangan dalam amal perbuatan sesuai ajaran-ajaran Islam maka ia amat bersedih karena mereka ialah orang-orang Ahmadi namun mengapa tidak membiasakan diri mengamalkan hukum-hukum Islam sebagaimana seharusnya.

Ia bisa teratur membaca Alquran dan merenungkan terjemahan dan tafsirnya. Ia tidak memiliki anak, namun selalu memperlakukan anak-anak di panti asuhan seperti anaknya sendiri.

Tn. Ahmad Yahya, salah seorang pengurus di Humanity First mengatakan, “Saya mendapat kesempatan pertama kali mengunjungi Darul Ikram, yaitu Rumah Yatim yang diurusi Almarhumah di bawah Humanity First. Anak-anak yatim di sana berusia antara 2 bulan hingga 12 tahun. Meskipun ada staf, namun saya sering di berbagai waktu melihat anak yatim perempuan berusia 2 bulan berada di pangkuannya.

Tiap kali kesehatan seorang anak yatim di sana menurun, ia pun tampak sangat cemas. Ia pun memastikan makanan dan obat baginya dengan cekatan. Jika ia melihat rapor pendidikan anak-anak tersebut yang perlu diprihatinkan maka ia bersikeras memperbaiki tingkat keilmuan anak itu dengan berbagai cara. Tiap kali ada orang yang menanyakan keperluan pribadinya, ia menjawab, ‘Kami para Waqif (yang mewakafkan diri). Kami bersyukur kepada Allah yang memberi kami taufik untuk itu dan memberi kami kesempatan berkhidmat kepada anak-anak yatim ini. Kami bahagia dengan hal ini. Tidak perlu mencemaskan kami.’ Namun, tiap kali ada hal yang secara khusus perlu diperbaiki di Rumah Yatim, ia segera mengarahkan perhatian atas hal itu.”

Doktor Athhar Zubair, ketua Humanity First di Jerman mengatakan, “Suaminya, Tn Fahim, mengatakan, ‘Almarhumah dulu senang bermain lotre dengan sangat antusias, (Ini adalah kebiasaan umum di Eropa untuk bermain lotere). Namun, ketika diberitahu jika hal itu dilarang oleh Islam, ia segera meninggalkannya dan jumlah uang yang ia keluarkan untuk bermain lotre setiap minggunya, mulai disumbangkan ke pembangunan Masjid.”

Doktor Athhar Zubair yang menemani saya saat saya melawat ke Jerman melanjutkan tuturannya, “Tiap kali saya berjumpa dengan Almarhumah, ia pasti menanyai saya perihal lawatan Khalifah. Ia amat terharu mendengar berbagai peristiwa dan kegiatan beliau. Ia orang yang sangat ramah dan menunjukan kasih sayangnya kepada masyarakat setempat. Karena bentuk kasih sayangnya inilah maka semua orang di lingkungan tempat tinggalnya di wilayah Benin memanggilnya ‘Mama’. Dan mereka meminta nasehatnya dalam setiap urusan pribadi mereka.”

Amir Jemaat Benin mengatakan, “Ia senang membayar candah dan dawam dalam membayarnya. Ia berkata kepada Muballigh kita di wilayah Bortono suatu hari, ‘Kalian harus datang untuk menerima titipan candah saya tepat pada waktunya.’ Ia melunasi washiyatnya di waktu awal. Ketika mendengar seruan pembangunan (renovasi) Masjid Baitul Futuh baru-baru ini, ia menjawab seruan saya dengan senang hati. Informasi itu pun beliau bawa dan sebarkan.

Ia bekerja di Rumah Yatim Darul Ikram dengan amat fana dan ikhlas. Ia membesarkan anak-anak yang masih menyusui dan amat memberikan perawatan kepada mereka. Anak-anak di Darul Ikram sekarang menjadi yatim lagi dengan kewafatannya.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhumah dan mencurahkan limpahan rahmat dan ampuaan-Nya atas dirinya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi Jemaat dengan para hamba setia seperti dirinya, yang memahami ruh mewaqafkan diri di jalan Allah. Aamiin.

Perhatian atas Doa

(Nasehat menjelang Jalsah Salanah Qadian)

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز

29 Desember 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Hari ini, dengan anugerah karunia Allah Ta’ala, Jalsah Salanah [Konvensi Tahunan] di Qadian (India) telah dimulai. Berdoalah kepada Allah supaya tiga hari Jalsah di sana dapat ditutup dengan baik dan aman; dan Dia menganugerahi taufik kepada para anggota Jemaat yang tulus dapat mencapai tujuan kehadiran mereka dalam Jalsah ini.

Tujuan itu adalah untuk membuat permohonan dalam doa-doa kepada Allah Ta’ala, untuk berusaha membuat lebih baik keadaan ilmu pengetahuan dan keadaan perilaku mereka, demi memperkuat kita hubungan dengan Allah, mengikuti program-program Jalsah demi memenuhi tujuan ini, memperoleh manfaat dari Jalsah dan atmosfir spiritualnya, membuat mereka lebih menggemari lagi dalam berdoa secara khas yang tidak hanya bagi diri mereka sendiri tapi demi kemajuan Jemaat khususnya, untuk mengalirkan dukungan Ilahi dan pertolongan-Nya guna menggagalkan setiap rancangan dan upaya yang dibuat oleh mereka yang memusuhi Jemaat guna merugikan Jemaat di setiap pelosok di dunia. Berdoalah kepada Allah agar Dia melindungi kita dari kejahatan mereka.

Demikian juga, seyogyanya kita mendoakan umat Muslim secara umum karena beberapa golongan, gerakan dan pemerintahan di antara mereka melakukan keaniayaan, membunuh dan menimpakan kerugian terhadap yang lain atas nama Allah dan Junjungan kita, Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Kewajiban kita untuk berdoa bagi mereka. Karena keaniayaan atas nama Allah dan Rasul-Nya yang dilakukan semua golongan itu membuat kalangan non Muslim menyampaikan kritik dan tuduhan terhadap Islam dan Nabi saw. Hal ini memprihatinkan hati kita sebagai Muslim Ahmadi. Maka dari itu, kita harus mendoakan mereka juga.

Secara khusus saya tujukan seruan [berdoa] ini kepada saudara-saudara yang berkumpul dalam tiga hari ini di kampung halaman Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam, kampung halaman seorang pecinta sejati Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Mereka harus berdoa baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan mengingat semua tujuan Jalsah ini dan doa-doa tersebut di benak mereka.

Mereka juga harus ingat untuk berdoa demi penyempurnaan tujuan yang mana untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) diutus. Tujuan itu adalah untuk membimbing umat Islam, dan juga membuat orang-orang non-Muslim menyadari kebenaran Islam dan membawa mereka ke dalam pangkuan Islam dengan membuktikan keunggulannya kepada mereka.

Demikian juga, kita juga harus berdoa untuk kondisi umum dunia. Semoga Allah memberikan hikmat kebijaksanaan kepada semua manusia, agar mereka dapat diselamatkan dari lubang kehancuran. Hari ini, dunia sangat memerlukan doa-doa para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Untuk itu, saya katakan kepada warga Qadian yang menghadiri Jalsah ini secara khusus, warga Jemaat secara umum, kita harus berdoa semoga Allah dapat memberikan akal sehat kepada penduduk dunia dan semoga Dia memberikan hikmat kebijaksanaan kepada umat Islam supaya orang-orang ini dapat mengerti kenyataan bahwa tanpa mempercayai seseorang yang diutus oleh Allah Ta’ala, mereka tidak dapat bertahan, juga tidak mencapai keselamatan. Semoga mereka memasuki tahun baru dengan memahami hal ini. Semoga Allah mengatur sedemikian rupa terhadap mereka sehingga mereka sadar dan mendapatkan akal sehat.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) berbicara mengenai tema doa di berbagai kesempatan, pertemuan dan buku-buku beliau (as) berulang kali. Setiap segi dari tema berikut ini telah beliau jelaskan – sebagaimana baru saya katakan – seperti apa itu doa, apa keadaan yang hendaknya ada pada seseorang ketika berdoa, bagaimana doa dikabulkan dan bagaimana doa menghilangkan berbagai masalah. Beliau (as) telah secara khusus mengarahkan perhatian kita pada keperluan berdoa.

Hari ini, saya akan menyajikan beberapa kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud (as). Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan aspek fundamental dan sentral untuk pengabulan doa, “Doa tidak diterima sampai hati menjadi suci-murni. Jika hati Anda dipenuhi dengan dendam mengenai seseorang bahkan dalam kaitannya dengan masalah duniawi tertentu, doa Anda tidak dapat diterima.” Sabda beliau as, “Ingatlah hal ini sungguh-sungguh. Janganlah membenci seseorang karena urusan duniawi. Apalah harga duniawi dan kenikmatannya sampai-sampai bermusuh demi itu dengan seseorang.”

Jadi, sangat penting demi pengabulan doa, seseorang tidak memberi tempat pada semua dendam dan kebencian pribadi di hatinya; ia memohon pengampunan atas dosa-dosanya sembari menangis dan merendahkan diri; dan guna mendapatkan pemurnian hati yang permanen, ia harus mengajukan pertolongan kepada Allah juga.

Pada hari-hari ini para penentang Ahmadiyah keras dalam tindakan permusuhan mereka terhadap Jemaat. Maka dari itu, kita harus datang ke hadapan Allah dengan doa-doa kita sembari bersatu seperti satu tubuh. Ketika seseorang tertekan dan tunduk di hadapan Allah dalam sebuah keadaan tidak berdaya dan memohon kepada-Nya, maka kemudian Allah Ta’ala datang memberikan pertolongan-Nya. Maka dari itu, prinsip ini harus selalu diingat. Janganlah melalaikannya selamanya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) [selanjutnya] mengatakan, “Di kalangan manusia terdapat orang yang jika mendengar sesuatu dari satu telinganya, ia keluarkan itu melalui telinga lainnya. (Artinya, hal itu tidak masuk ke hatinya dan tidak beramal sesuai nasehat tersebut.) Ketahuilah! Allah Maha Kaya. Dia tidak peduli hingga seseorang memperbanyak dan berulangkali berdoa dalam keadaan perasaan tertekan (tidak berdaya) dan merintih. Perhatikanlah bagaimana seseorang merasa tertekan dan cemas tatkala istrinya atau anaknya sakit, atau ketika menghadapi gugatan yang membahayakannya di pengadilan. Demikianlah, doa akan menjadi sia-sia secara praktis bila tidak berpengaruh, jika ia kosong dari keperihan hati dan perasaan tertekan yang sejati.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menjelaskan sebelumnya bahwa syarat mendasar pengabulan doa seseorang ialah menyucikan hatinya dari dendam dan kebencian. Sekarang beliau (as) menjelaskan keadaan tertekan dan ketidakberdayaan dalam doa yang juga merupakan syarat pengabulan doa, “Distress (perasaan tertekan, merintih dan susah hati) adalah syarat untuk pengabulan doa.’ Syarat pertama adalah menyucikan hati dan kedua adalah merasa kesusahan. ‘Seperti yang Tuhan katakan,’ أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ (am may- yujiibul- mudhtharra idzaa da-‘aahu) yakni, atau “Siapakah yang mengabulkan doa orang yang kesulitan (sengsara) apabila ia berdoa kepada-Nya?” (An-Naml 63) (27:63)

Dengan demikian, rintihan diperlukan dalam berdoa dan juga penting untuk memiliki keyakinan yang kuat akan kenyataan bahwa hanya Allah saja, Yang dapat bersedia memberi manfaat bagi Anda dalam keadaan tertekan dan tidak berdaya ini. Hanya Dia, Yang menjawab doa dan membantu hamba-hamba-Nya.

Maka dari itu, hari ini saya berbicara dengan para Ahmadi yang berada di Qadian secara khusus dan diantara mereka ialah yang datang dari luar Qadian selama beberapa hari sehingga mereka merasakan suasana keruhanian secara istimewa di desa Hadhrat Masih Mau’ud (as) pada hari-hari ini; sebagaimana juga saya berkata kepada seluruh Jemaat supaya memperhatikan hal ini lalu berusaha mendominasikan perasaan rintihan dalam ibadah-ibadah nafal mereka.

Suatu keharusan bagi mereka yang berada di Qadian untuk menghabiskanlah sebagian besar waktu mereka dalam doa-doa dan mengingat Allah baik dalam waktu berangkat maupun pulang; daripada menyia-nyiakan waktu dalam obrolan sia-sia. Mereka harus dengan tanpa daya menundukkan diri di hadapan Allah Ta’ala, agar Allah, melalui karunia-Nya, dapat memperbaiki situasi para Ahmadi dimanapun mereka menghadapi kesulitan dan agar Dia dapat menjadikan para penentang tidak berhasil.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyebutkan di satu tempat mengenai keadaan tertekan dan realitas doa, “Jangan mempercayai doa hanya sebagai ucapan saja. Sebaliknya, doa adalah suatu bentuk kematian, yang setelahnya seseorang memperoleh kehidupan yang baru, seperti kita temukan dalam sebuah bait syair bahasa Punjabi, ‘Hai orang yang meminta kematian! Engkau harus mati jika ingin meminta dan berdoa!’”

(Artinya, keadaan seseorang yang meminta ialah seperti dia telah meninggal. Ia telah kehilangan segalanya. Bahkan, ia benar-benar melepaskan dirinya, egonya dan benar-benar memusnahkan keberadaannya. Jika seseorang menghadirkan dirinya di hadapan Allah Ta’ala dalam keadaan seperti itu, maka doanya diterima.) Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan, “Doa memiliki pengaruh magnetis (daya tarik) karena menarik anugerah dan berkat [dari Allah].”

Selanjutnya, beliau (as) mengarahkan perhatian pada pentingnya doa, pelaksanaan nawafil dan pengarahan demi meraih karunia Allah Ta’ala, “Kami mengatakan bahwa seseorang yang merendahkan diri dan menangis di hadapan Allah Ta’ala, memperhatikan batasan dan perintah-Nya dengan pandangan mengagungkan (hal yang amat penting yaitu mengagungkan batasan dan hukum Allah. Apakah itu? Hal itu ialah yang Allah Ta’ala jelaskan dalam Al-Qur’anul karim dan Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam nasehatkan. Seseorang hendaknya menjunjung tinggi seluruh perintah yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan jangan meremehkan satu pun.)

“Dengan demikian, ia membuat lebih baik dirinya sebagai akibat terpesona oleh kemuliaan dan kehebatan-Nya…” (Ia meyakini bahwa bila tidak menaati Allah akan mendatangkan hukuman. Oleh karena itu, ia berpedoman terhadap hal itu demi perbaikan dirinya.) “… orang seperti itu pasti akan mengambil bagian dari karunia-karunia Allah. Oleh karena itu, Jemaat kita harus melazimkan diri melakukan shalat Tahajjud, meski hanya dua rakaat jika ia tak mampu banyak, karena paling tidak dia pasti akan mendapat kesempatan untuk berdoa. Doa pada saat itu memiliki dampak unik (yaitu pada saat Tahajjud), karena doa-doa tersebut dipersembahkan dengan perasaan dan gairah sejati…..”

Jika tidak terdapat keperihan khas dan kepedihan hati yang dirasakan dalam qalbu, bilakah seseorang akan bangun dari tidurnya yang nyaman? Bangun tidur pada waktu dini hari ini menciptakan kualitas keprihatinan yang dirasakan qalbu sehingga menimbulkan kegelisahan dan ketidakberdayaan dalam doa yang pada akhirnya mengarahkan pada pengabulan doa.” Artinya, tercipta idhthiraar (perasaan ketidakberdayaan) dan idhthiraab (perasaan keperihan) dalam melaksanakan nafal-nafal pada shalat tahajjud; dan Allah Ta’ala telah berfirman bahwa Dia akan mengabulkan doa-doa orang-orang yang mudhthar (perasaan ketidakberdayaan). Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa keadaan idhthiraar terlihat oleh orang lain tatkala ia mengorbankan kenyamanannya dan bangun tidur untuk beribadah.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) melanjutkan dalam sabdanya, “Namun, jelaslah bahwa mereka yang malas bangun tidur pada malam dini hari, paling memerlukan perasaan keperihan dan kepedihan yang tadi telah saya sebutkan. Sebab, kenyamanan dan kenyenyakan dalam tidur merupakan tanda ketiadaan perasaan keprihatinan dan keperihan tersebut. Namun, mereka yang bangun tidur membuktikan dia mendukung perasaan keperihan yang mencegahnya terus tidur bahkan memprihatinkannya.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan: “Ada satu hal lain yang perlu diterapkan Jemaat kita, yaitu anggota harus menahan diri dari mengucapkan kata-kata kotor dan hal-hal yang tidak berguna (jagalah lidah Anda agar tetap bersih dari membuat pernyataan yang tidak masuk akal atau sia-sia). Jangan menimbulkan luka emosional pada siapa pun dan jangan katakan sesuatu yang tidak pantas atau salah.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan: “Lidah adalah ambang pintu keberadaan kita dan membersihkan lidah kita seolah-olah mendatangkan keberadaan Tuhan ke dalam wujud kita.” (Artinya, lisan (ucapan) ibarat main entrance atau pintu masuk ke sebuah rumah) Ketika Tuhan telah berada di pintu masuk, maka apakah kamu akan heran bila Dia masuk ke dalam rumah. Ingatlah hak-hak Allah dan hak-hak para hamba-Nya. Janganlah melalaikannya secara sengaja. (Jangan melalaikan pemenuhan hak-hak Allah dan juga hak-hak para makhluk-Nya. Perhatikanlah kedua hal ini senantiasa.)

Mereka yang terus berdoa sembari menempatkan hal ini dalam benaknya, atau katakanlah jika mau, ‘Jika mendapatkan kesempatan berdoa kami yakin Allah akan merahmati dan menyelamatkan kami.’ Sarana-sarana lahiriah dari segi kebersihan, dan lain sebagainya tidaklah dilarang bahkan wajib beramal dengan prinsip [bait syair bahasa Persia], ‘ikatlah lalu bertawakkal’, sebagaimana yang telah difirmankan: إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * ’Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan.’ Namun, ingatlah kebersihan dan kemurnian sejati terletak pada apa yang telah dinyatakan dalam ayat: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ‘Sungguh beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya.’ [Asy-Syams, 91:10] Setiap orang harus menganggap sebagai tanggungjawabnya untuk mereformasi diri mereka sendiri. Tidak mungkin mengharapkan karunia Allah, kecuali yang tidak pernah berhenti berdoa, bertobat, beristighfar dan tidak secara sengaja melakukan dosa.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian berkata: ‘Dosa adalah racun yang menghancurkan seseorang dan menghasut siksa Ilahi. Dosa menghilangkan dalam diri seseorang rasa takut dan cinta kepada Allah Yang Maha Kuasa.”

(seseorang hanya bisa berhenti dari dosa jika mereka berpegang teguh pada Allah dengan kecintaan dan ketakutan serta sadar bahwa Allah mengawasinya sepanjang waktu).

Beliau (as) bersabda, “Janganlah menghentikan rangkaian doa, perbanyaklah bertobat dan beristighfar (mencari pengampunan dan perlindungan dari Allah atas dosa-dosa). Doa akan bermanfaat bagi mereka yang meluruhkan hatinya di depan Allah dan melihat tidak ada tempat berlari kecuali Allah. Mereka yang berlari kepada Allah dan mencari perlindungan-Nya dengan perasaan tak berdaya pada akhirnya diselamatkan.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan apa itu doa hakiki: ‘Ada dua jenis doa. Yang pertama adalah doa biasa (doa yang secara umum biasa dilakukan orang-orang) dan yang kedua adalah ketika seseorang meninggikan doanya sampai ke puncak. Itulah jenis doa yang sebenarnya (ketika seseorang mencapai klimaks dalam doa dan mengembangkan keadaan gelisah dalam doa). ‘

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan: “Penting bagi seseorang untuk terus berdoa bahkan jika tidak menghadapi kesulitan (kesengsaraan). (Janganlah hanya berdoa saat menghadapi kesulitan saja. Ketika tidak dalam kesulitan pun tetap berdoa.) Sebab, siapakah yang tahu apa saja kehendak Tuhan dan apa yang terjadi besok. Maka dari itu, berdoalah supaya engkau terselamatkan. Terkadang, bala musibah (kesengsaraan) datang sedemikian rupa mengendalikan seseorang sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk berdoa. Jadi, jika seseorang berdoa sejak sebelumnya, doa tersebut akan bekerja bagi mereka pada saat seperti itu.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian menjelaskan bahwa Alquran dimulai dengan sebuah doa dan diakhiri dengan sebuah doa, “Ketahuilah! Tuhan Yang Maha Kuasa memulai dan mengakhiri Alquran dengan sebuah doa. (Surah Fatihah adalah doa dan Surah Al-Nas juga merupakan doa.) Ini menyimpulkan bahwa manusia itu lemah dan tanpa berkat karunia Allah, ia tidak pernah bisa menjadi suci. Manusia tidak dapat maju dalam kesalehan sampai dia menerima pertolongan dan dukungan Tuhan. Ada sebuah Hadits yang menyebutkan bahwa semuanya itu mati kecuali yang Tuhan hidupkan. Semuanya itu tersesat kecuali yang Tuhan beri hidayah.

Semuanya itu buta kecuali yang Tuhan beri penglihatan. Dengan demikian, seseorang belum meraih karunia Tuhan saat ia menjadikan duniawi sebagai tekad yang paling penting. Tidak ada yang mendapatkan penyucian dari-Nya kecuali mereka yang mendapat karunia-Nya. Hanya mereka yang diselamatkan dari iming-iming dunia ini, atas siapa, Tuhan menganugerahkan karuniaNya.”

Namun, seseorang harus ingat bahwa anugerah Tuhan dimulai dengan doa. Jadi, seseorang juga harus berdoa untuk ini. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan sifat-sifat orang-orang percaya (beriman), “Al-Qur’anul karim (Surah Al-Mu-minuun, 23: 2 -3) menggambarkan dengan jelas, قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ {} الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ {} yang artinya, ‘Ketika hati seseorang yang berdoa meleleh dan menundukkan diri di istana-istana Allah secara ikhlas, jujur dan fana fiLlaah sembari menghapuskan pemikiran-pemikiran lain semuanya, memohon pertolongan kepada-Nya dan meminta karunia hanya kepada-Nya, menciptakan dalam dirinya fokus perhatian, riqqat (kepekaan dan kelembutan perasaan) dan meleleh, pada saat itulah pintu kesuksesan dibukakan kepadanya. Ini artinya, makna kesuksesan benar-benar datang kepada orang-orang beriman, yang merendah hati dalam shalat-shalat mereka’…”

(Itu artinya, tidak akan meraih kesuksesan kecuali orang-orang percaya, yaitu mereka yang menampilkan khasy-yatuLlah (takut akan Allah, kerendahan hati) dalam shalat-shalat mereka dan menjatuhkan diri (tunduk) kepada istana-istana Allah dengan penuh kerendahan hati dan menunjukkan keluarbiasaan dalam ketidakberdayaan keadaan.) Baru saat itulah pintu kesuksesan dibuka bagi mereka yang melaluinya cinta kepada dunia menjadi reda (dingin), karena dua cinta tidak bisa hidup berdampingan di satu tempat sebagaimana disebutkan dalam sebuah bait syair berbahasa Persia,

yang artinya “Dikatakan engkau menginginkan Tuhan dan engkau juga menginginkan dunia ini, tapi ini hanyalah sebuah pemikiran belaka yang tidak mungkin dicapai dan kebodohan. Engkau tidak bisa memiliki keduanya.”

(Artinya, kedua keinginan itu tidak mungkin berkumpul dalam satu waktu. Tentu saja, jika Anda menginginkan Tuhan, maka Tuhan memiliki kemampuan untuk memberi Anda karunia dari dunia ini; tetapi jika Anda hanya mengejar keinginan duniawi ini, maka Anda tidak dapat menemukan Tuhan.)

Pengabulan doa hanya didapat dengan membuat harapan dan keinginan Anda mengikuti kehendak Tuhan. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan hal ini, “Seseorang harus menghilangkan keberadaannya di dalam Allah (fana fiLlaah), dan dengan meninggalkan semua keinginan dan harapan, dia hendaknya mematuhi hanya keinginan dan perintah Allah supaya dengan itu menjadi sebab berkat bagi dirinya sendiri, anak-anaknya, pasangannya, saudara kandung dan kerabatnya dan juga untuk saya. Seseorang tidak boleh memberi kesempatan pada para penentang untuk mengajukan tuduhan.

Tuhan menyatakan, ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ ‘Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu (bersegera, maju, berprestasi) berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.’ (Faathir, 35:33).

Hadirat Masih Mau’ud (as) menyatakan bahwa dua karakteristik yang pertama ialah lebih rendah, dan kita seharusnya menjadi sabiqun bil khairat yaitu orang-orang yang berprestasi dalam perbuatan baik. Bukan kualitas yang bagus untuk tetap diam dalam satu posisi. Amati bagaimana air yang stagnan akhirnya menjadi kotor dan karena pencampuran lumpur maka ia menjadi busuk dan menjijikkan.

Di sisi lain, air yang mengalir selalu baik, bersih dan menyenangkan. Meski ada lumpur di bawahnya, ternyata tidak berpengaruh pada air. Begitulah dengan manusia bahwa dia seharusnya tidak tetap berada dalam keadaan yang sama. Keadaan ini berbahaya. Manusia harus membuat kemajuan setiap waktu. Jadi, untuk pengabulan doa, perlu agar manusia membuat kemajuan dalam melakukan perbuatan baik. Jika tidak, maka Tuhan tidak akan menolong manusia dan dengan demikian manusia tidak akan menjadi bercahaya. Dampak akhirnya ialah mengarah ke irtidaad (kemurtadan). Hal demikian membuat hati manusia buta (tertutupi).”

Jadi, untuk pengabulan doa, perlu agar manusia membuat kemajuan dalam melakukan perbuatan baik setiap hari. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, ia tidak boleh berada dalam satu keadaan saja, melainkan terus maju dalam kebaikan-kebaikan setiap hari seperti air yang mengalir.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian menyatakan, “Pertolongan Allah Ta’ala menyertai mereka yang senantiasa maju dalam kebaikan setiap hari. Mereka tidak stagnan (tetap seperti itu saja). Dalam kemajuan yang berkelanjutan ini, mengarah pada akhir yang baik. Allah Ta’ala telah mengajarkan doa berikut ini dalam Al-Qur’an رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ‘Ya Tuhanku, berilah taufik kepadaku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memperbaiki) anak cucu dan istriku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’ (al-Ahqaf, 46:16).

Hendaknya dawam dalam memanjatkan doa ini supaya tercipta perubahan suci dalam diri anak keturunan dan istri seiring dengan membuat perubahan suci dalam keadaan kamu sendiri. Sebab, seringkali seseorang mendapatkan ujian akibat anak-anaknya dan terkadang karena istrinya.

Perhatikanlah! Ujian pertama yang dialami Hadhrat Adam ialah karena seorang perempuan (istrinya). Dalam Taurat dapat kita ketahui hancurnya iman Bal’am saat menentang Hadhrat Musa. Penyebabnya, istri Bal’am menjadi tamak setelah disuap dengan perhiasan oleh seorang Raja lalu mendesak suaminya (Bal’am) agar berdoa buruk kepada Hadhrat Musa [sesuai desakan sang Raja itu]. Demikianlah, banyak masalah dan kesulitan kaum pria adalah karena anak-anak dan istri. Oleh karena itu, kalian harus memberikan perhatian penuh pada ishlaah (perbaikan) mereka dan seiring dengan itu terus berdoa untuk mereka.”

Dengan demikian, seorang beriman tidak hanya terbatas pada menaruh perhatian terhadap doa dan bertambah dalam amal kebaikan saja, melainkan hendaknya menaruh perhatian pada mengusahakan agar anak keturunan di masa datang juga berada dalam kebaikan. Seiring dengan perhatian terhadap mereka; juga harus mendoakan mereka supaya tercipta ruh kemajuan dalam kebaikan-kebaikan dalalam diri mereka.

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan “Ada riwayat seorang Wali yang tengah berada di atas kapal. Terjadi badai di laut dan kapal tersebut hampir tenggelam tapi selamat karena hasil doa-doanya. Pada saat dia berdoa dia diberitahu melalui wahyu Ilahi, ‘Kami telah menyelamatkan semua orang demi engkau.’

Namun, ini tidak dicapai melalui ucapan saja.” (kita harus berusaha keras dalam mencapai hal ini.) Saran kami adalah terus berupaya menjadikan diri Anda teladan yang baik dan luhur. Selama kehidupan seseorang tidak seperti malaikat, bagaimana dapat dikatakan bahwa mereka telah suci, يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ۩ Artinya, ‘…mereka melakukan apa yang Allah perintahkan kepada mereka..’ (Surah An-Nahl; 16:51). Itu maknanya, ‘Jadikanlah keadaan amal perbuatan kalian sebagaimana yang diperintahkan kepada kalian.’”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menarik perhatian kita pada pentingnya doa dalam sabdanya: “Berbahagialah para tawanan yang berdoa dengan tidak mengenal jemu dan lelah, karena mereka akan dibebaskan pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang buta yang tidak lalai berdoa, karena mereka akan mulai melihat pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang yang berada di dalam kuburan yang memohon pertolongan Ilahi dengan doa, karena pada suatu saat mereka akan dikeluarkan dari kuburan itu.

Berbahagialah kamu, apabila kamu tidak mengenal lelah dan payah (tidak malas) untuk berdoa, roh kamu lebur-lelah untuk berdoa, matamu mengalirkan air mata dan menyalakan suatu api dalam dada untuk mendapatkan rasa kecintaan dalam suasana menyendiri kamu dibawa ke sudut-sudut yang gelap dan di hutan-hutan yang sunyi senyap, dan membikin kamu menjadi gelisah, pandir dan lupa diri, karena akhirnya akan dibukakan karunia Ilahi kepadamu.

Tuhan Yang kami ajak kamu kepada-Nya adalah Pemurah, Pengasih, Penyantun, Benar, Setia dan Penyayang kepada orang-orang yang rendah hati. Kamu juga harus menjadi setia dan berdo’a dengan penuh kejujuran dan kesetiaan supaya Dia pun akan kasihan kepadamu. Tariklah dari keributan dunia dan janganlah membuat perselisihan pribadi bersifat duniawi sebagai corak agama. Terimalah kekalahan demi Tuhan sehingga kamu menjadi pewaris kemenangan besar. Tuhan akan menunjukkan keajaiban bagi mereka yang berdoa dan memberikan karunia luar biasa kepada mereka yang berdoa kepada-Nya. Doa datang dari Tuhan dan kembali kepada-Nya.

Dengan perantaraan doa, Tuhan menjadi dekat denganmu, seperti jiwamu adalah dekat denganmu. Nikmat pertama doa ialah manusia mendapat perubahan suci di dalam dirinya; kemudian oleh karena perubahan itu, Tuhan pun menjadikan perubahan sifat-sifat-Nya bagi orang itu. tetapi untuk orang yang telah mendapat perubahan ini Dia menampakkan sifat-sifat-Nya dengan suatu cara yang lain lagi yang tidak diketahui oleh dunia. (Sifat-sifat Tuhan tidak ada perubahan melainkan penampakan sifat-sifat itu berubah seiring perubahan internal seseorang.) Seolah-olah Dia adalah Tuhan yang lain, padahal tidak ada Tuhan yang lain, hanya penampakan (tajalli) yang baru menyatakan Dia dalam keadaan yang baru. Kemudian, dalam keadaan penampakan yang khas itu Dia mengerjakan hal-hal untuk orang yang telah beroleh perubahan yang suci itu, yang tidak dikerjakan untuk orang-orang lain, inilah yang dikatakan hal yang luar biasa (mu’jizat).”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) memperingatkan anggota Jemaat kearah doa-doa, amal-amal saleh dan keteladanan baik bagi orang-orang: “Para anggota Jemaat harus menampilkan keteladanan bagi orang-orang. Jika seseorang dari kalian menjalani kehidupan yang sama kotor dan tercemar seperti yang dia lakukan sebelum Bai’at dan juga menyatakan dirinya dalam Jemaat kita dan bersamaan dengan itu masih menunjukkan contoh yang buruk dan menunjukkan kelemahan dalam tingkah laku dan kepercayaannya, maka orang tersebut bersalah karena melakukan kekejaman hebat. Ini karena dia membawa nama Jemaat ke dalam keburukan dan juga memberi orang lain kesempatan untuk mengarahkan jari ke arah saya. Orang membenci contoh yang buruk sementara contoh yang bagus mendorong (memotivasi) orang lain.”

Beliau (as) bersabda: “Seseorang pada hari ini dan besok seharusnya tidak sama. Jika seseorang hari ini dan besok tetap sama sehubungan dengan kemajuan dalam kesalehan, maka orang tersebut menghadapi kehancuran. Namun, jika seseorang percaya kepada Tuhan dan memiliki iman yang utuh kepada Dia maka orang itu tidak akan pernah disia-siakan selamanya. Bahkan, sebenarnya karena dia saja, ratusan ribu jiwa diselamatkan.”

Contoh tentang ini diberikan ketika karena ada satu orang suci di sebuah kapal maka Tuhan menyelamatkan semua orang yang ada di sana. Jadi, Tuhan sangat berghairat memperhatikan para hamba-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan senjata kita adalah doa. Oleh karena itu, kita harus mengarahkan fokus kita pada doa. Beliau (as) bersabda, “Tidak tercantum dalam riwayat mana pun bahwa Al-Masih yang dijanjikan itu menghunuskan pedang. Tidak dikatakan ia akan berperang. Melainkan, dikatakan bahwa orang-orang kafir akan mati dengan nafas Al-Masih. Artinya, dia menyelesaikan semua pekerjaan melalui doa. Semua tujuan yang ingin kita selesaikan hanya bisa dicapai dengan doa. Doa mengandung banyak kekuatan.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) selanjutnya menyatakan: “Dikatakan suatu kali seorang raja bersama pasukannya berangkat untuk melancarkan serangan ke sebuah negara. Dalam perjalanan, seorang faqir (pria miskin petapa) meraih kendali kuda itu … “(Ini sebuah hikayat)” … dan mengatakan, ‘Jika Anda menahan diri untuk terus maju, saya tidak akan berperang melawan Anda.’ Raja tercengang dengan ini dan bertanya: ‘Kamu hanyalah pengemis belaka, miskin dan tidak punya apapun. Bagaimana kamu bisa melawan saya?’ Dia menjawab: ‘Saya akan berperang melawan Anda melalui senjata doa yang saya lakukan di awal pagi hari’, yaitu melalui doa-doa yang dilakukan dalam tahajjud [shalat nafal sebelum waktu subuh]. Raja menjawab: ‘Saya tidak bisa melawan ini’, dan berbalik kembali.” Jadi, ini adalah kekuatan doa dan adalah apa yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam berlanjut dengan mengatakan: “Singkatnya, telah ditetapkan oleh Tuhan bahwa doa menghasilkan kekuatan besar. Tuhan telah berkali-kali memberi tahu saya melalui ilham-ilham bahwa semuanya akan terjadi dengan bantuan doa. Senjata kami adalah doa dan saya tidak memegang senjata lain selain doa. Setiap yang kami doakan kepada Allah dalam keadaan diam-diam, Dia tampakan itu secara nyata. Para penentang pada masa dahulu dihukum melalui Nabi-Nabi juga. (yaitu dalam corak perang-perang menghadapi mereka.)

Namun, Allah Ta’ala Maha Mengetahui bahwa kita ialah orang-orang yang lemah. Oleh karena itulah, Dia mengambil alih mayoritas pekerjaan kita semua di Tangan-Nya Sendiri. Tidak ada bagi Islam sekarang kecuali jalan ini yang mana ini tidak dipahami oleh para Ulama dan para Filosof yang berpegang pada hal-hal lahiriah. Jika jalan perang dibukakan (diperintah) bagi kita tentu dimudahkan bagi kita semua sarana-sarana untuk itu. Ketika doa-doa kita mencapai titik puncaknya yang tertentu, para penipu otomatis akan dimusnahkan. ”

Dengan demikian, sabda beliau ‘alaihish shalaatu was salaam ini sangat penting dan harus dipahami. Seluruh penentang beliau (as) pada masa beliau (as) telah gagal dan merugi dalam menghadapi beliau as. Jika kita ingin agar kita dimenangkan atas mereka yang memusuhi kita, tidak ada jalan lain kecuali dengan doa. Untuk itu pun kita harus berusaha.)

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan: “Menurut pandangan kami, tidak ada yang melebihi doa dan tidak ada senjata yang lebih ampuh selain doa. Berbahagialah orang yang memahami hakikat ini yang mana merupakan jalan yang sekarang Tuhan ingin memberi kemajuan pada agama.”

Dengan demikian, senjata yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) demi kemajuan agama itu harus dipergunakan oleh para pengikut beliau as. Senjata inilah yang – insya Allah – akan menghilangkan kesulitan-kesulitan dari kita dan membuat gagal mereka yang memusuhi kita. Maka dari itu, tiap Ahmadi harus menaruh perhatian atas hal ini.

Pada akhirnya saya hendak mempersembahkan doa yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) amalkan bagi umat Muslim. Kita juga dapat berdoa untuk saudara-saudara kita Muslim yang bukan Ahmadi pada umumnya dengan doa ini.

“Ya Tuhan hamba, dengarkanlah doa hamba mengenai umat hamba dan rintihan hamba saat memohon untuk saudara-saudara hamba. Hamba memohon kepada Engkau dengan bertawassul melalui Nabi Engkau yang Khatamun Nabiyyin (saw), juru syafaat untuk orang-orang berdosa, yang syafaatnya diterima. Ya Tuhan hamba, lepaskan mereka dari kegelapan dan bawalah mereka ke dalam cahaya Engkau, bawalah mereka dari tempat berjarak mereka ke dalam kedekatan hadirat Engkau,

Ya Tuhan hamba, kasihanilah mereka yang mengutuki hamba. Jagalah dari kehancuran mereka yang berusaha menghalangi hamba. Tanamkanlah hidayah Engkau di dalam relung hati mereka yang terdalam. Maafkanlah kesalahan dan dosa mereka. Ampunilah mereka. Maafkanlah mereka. Berikanlah mereka keamanan. Bimbinglah dan sucikanlah mereka. Anugerahilah mereka dengan mata yang memungkinkan mereka untuk melihat. Anugerahilah mereka dengan telinga sehingga mereka dapat mendengar. Berikanlah mereka hati yang dengannya mereka dapat memahami. Berilah mereka pancaran cahaya yang dengan itu memungkinkan mereka untuk mengerti [kebenaran]. Rahmatilah mereka. Maafkanlah mereka atas apa yang mereka katakan, karena mereka adalah orang-orang yang tidak tahu.

Ya Tuhan hamba [Saya mohon] Demi wajah Muhammad al-Mushthafa shallaLlahu ‘alaihi wa sallam dan derajatnya yang tinggi, di mana beliau menghabiskan malam-malamnya dengan bersujud dan siang hari di medan laga, dan juga berkendaraan dengan cepat di malam hari juga demi Engkau; dan semua perjalanan menyusahkan yang dilakukan ke ummul Qura (induk semua kota, Makkah); perbaikilah hubungan antara kami dan saudara-saudara kami. Bukalah mata mereka dan terangilah hati mereka. Aktifkan mereka untuk memahami kebenaran yang telah Engkau jelaskan kepada hamba. Tunjukkan jalan-jalan ketakwaan kepada mereka dan maafkan semua yang telah berlalu. Doa terakhir kami adalah semua pujian ditujukan kepada Allah Ta’ala, Tuhan Pemelihara langit yang tinggi.”

Semoga Allah Yang Mahakuasa membuka mata hati umat Muslim sehingga mereka menahan diri untuk tidak menentang seorang yang ditunjuk Tuhan, dan bukannya menjadi pembantu Hadhrat Masih Mau’ud (as). Semoga Allah memungkinkan kita menjadi orang yang memenuhi hak-hak shalat. Mereka yang hadir di Jalsa Qadian harus memberikan perhatian khusus terhadap hal ini dan partisipasi mereka di Jalsa harus menjadi sarana perubahan revolusioner dalam diri mereka. Semoga Allah Yang Maha Kuasa memungkinkan kita semua untuk melakukannya.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

(Visited 30 times, 1 visits today)