Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Masjid di Regina, Kanada

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

4 November 2016 di Masjid Mahmud, Regina, Provinsi Saskatchewan, Kanada

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)


إِنَّمَا يَعْمُرُمَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَوَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُوْلَئِكَ أَنْ يَكُونُوامِنْ الْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”” (QS. At Taubah: 18)

Alhamdulilah (Segala puji bagi Allah) Yang telah memberikan karunia kepada Jemaat Ahmadiyah di Regina sehingga dapat membangun sebuah masjid. Dengan karunia Allah, ini adalah masjid yang sangat Indah. Pada saat ini, jumlah Jemaat di sini dan di sekitarnya berjumlah 160 orang. Dan saya diberitahu bahwa kapasitas masjid ini di semua ruangannya adalah 400 orang jamaah. Jika diperlukan, kapasitas tambahan sebanyak 100 orang di area-area sekitarnya. Pada saat ini, dengan mempertimbangkan jumlah orangnya, masjid ini tiga kali lebih besar dari kebutuhan saat ini.

Saya telah diberitahu bahwa semua pengeluaran telah ditanggung oleh Jemaat lokal atau mereka telah berjanji untuk membayar pengeluaran dan biaya-biayanya. Bahkan, sepertiga dari pengeluaran dan biaya tersebut sudah dijanjikan akan diberikan oleh dua orang. Salah satunya adalah janda dari Dr. Shams-ul-Haq yang telah Syahid.

Telah saya katakan ‘uang yang telah dibelanjakan’, hal demikian karena pada waktu pembangunan masjid ini, sang kontraktor yang membangun masjid ini memberikan harga tender terendah yaitu CAD (Canadian Dolar) 2,8 juta (lebih dari IDR/Indonesian Rupiah 27,3 milyar) dan biaya tersebut menjadi CAD 3,5 juta (lebih dari IDR 34 milyar) setelah termasuk biaya-biaya lainnya. Namun biaya aktual yang timbul dalam proses pembangunan dan penyelesaian masjid tersebut hanyalah CAD 1,6 juta (lebih dari IDR 15 Milyar) saja.

Seorang duniawi yang mendengarkan tentang hal ini mungkin akan sangat terkejut dengan bagaimana mungkin total pengeluaran lebih sedikit dari nilai tender minimum yang diberikan oleh kontraktornya. Seorang duniawi tidak berupaya untuk mampu dalam hal itu. Ini karena ia tidak tahu apa yang disebut dengan pengorbanan itu dan apa itu standar tinggi perngorbanan yang telah didirikan oleh Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as.

Pada masa ini, contoh-contoh mengenai pengorbanan hidup, kekayaan dan juga pengorbanan waktu hanya ditermukan di Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as. Semangat dan suasana hati para anggota Jemaat yang demikian ini dapat ditemukan dimana-mana.  Baik itu di Pakistan, yang mana terdapat para Ahmadi yang siap mengorbankan hidup dan kekayaannya maupun di Afrika, yang mana orang-orang mungkin tidak punya banyak kekayaan namun mereka mengorbankan waktu mereka dan mengorbankan harta mereka sesedikit apapu yang mereka punya untuk pembangunan masjid-masjid atau untuk proyek Jemaat. Baik itu Ahmadi Indonesia atau Eropa atau Kanada, atau baik mereka ada di bagian dunia manapun, Allah memberikan mereka kesempatan-kesempatan untuk berkorban karena mereka lebih memilih ridha dan kesenangan Allah sebagai tujuan hidup mereka.

Saya telah mendapatkan laporan bahwa dalam pembangunan masjid ini setengah dari jumlah uangnya telah berhasil dihemat karena upaya tiga bersaudara yang terlibat dalam bisnis konstruksi dan saat ini tinggal di Saskatoon. Demikian juga, anggota-anggota lainnya memberikan bahagian pekerjaan mereka secara sukarela. Tiga bersaudara ini,  yang adalah kontraktor, juga dibantu oleh seorang kontraktor lainnya yang datang dari Toronto untuk menyelesaikan pekerjaan pembangunan masjid ini – mungkin ia dikirim oleh Allah setelah ia menyelesaikan pekerjaannya.

Namun, mereka semua bekerja sebagai satu tim dengan anggota-anggota dari Saskatoon, Calgary, Edmonton dan Toronto. Tim-tim ini terdiri dari para Khudam dan Anshar. Pekerjaan ditangani para sukarelawan Jemaat kecuali untuk bagian-bagian yang memerlukan keahlian tertentu yang mana para Jemaat tidak mahir melakukannya. Seorang kontraktor duniawi tidak akan berpikir seperti yang demikian ini. Namun orang-orang Ahmadi ini tidak khawatir tentang kekayaan maupun waktu mereka.

Begitu juga para anggota Lajnah yang tidak hanya ikut serta dalam pengorbanan harta, namun juga telah berpartisipasi untuk memasak makanan bagi tim-tim ini. Saya telah diberitahu bahwa kira-kira 41.500 jam telah diinvestasikan dalam penyelesaian pembangunan masjid ini. Tidak peduli bahwa masa kerja per hari itu 8 jam dan 5 hari per minggu, bahkan saya pikir beberapa orang masih saja bekerja menghabiskan banyak waktu terlepas jam berapa maupun hari apa. Mereka pasti telah bekerja secara terus-menerus di semua hari dalam seminggu. Tak peduli hari-hari kerja itu terbatas dalam seminggu. Antusiasme ini ada pada para Ahmadi di seluruh dunia dengan karunia Allah.

Pada satu sisi sebagian umat Muslim di dunia tengah sibuk dalam menyebarkan kekacauan dan kerusakan sementara itu di sisi lain para Muslim Ahmadi sibuk dalam mengorbankan waktu dan harta mereka untuk membangun rumah-rumah Allah di negara-negara yang secara duniawi maju seperti ini. Ini karena Nabi Muhammad saw bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا ِللهِ تَعَالَى – وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

‘Man bana Masjidan liLlaahi banaLlahu lahu baitam fin jannah.’ “Seseorang yang ikut serta dalam pembangunan Masjid semata-mata karena Allah, maka Dia akan membuatkan rumah baginya di surga.”[1]

Hal ini juga karena Imam Zaman ini yang merupakan abdi setia Hadhrat Rasulullah saw memerintahkan para pengikutnya untuk membangun masjid-masjid demi menyebarkan pesan Islam nan penuh kedamaian dan menampilkan gambaran Islam yang sebenarnya dan cemerlang kepada dunia.

Oleh karena itu, para Ahmadi telah mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan dalam pembangunan masjid-masjid [pertama] untuk mendapatkan ridha Allah. Yang kedua, untuk memberantas kesan-kesan dan pemahaman yang salah tentang ajaran-ajaran Islam di benak pikiran orang-orang dan untuk memberitahu kepada dunia bahwa masjid-masjid kaum Muslimin dan ajaran ajaran Islam tidak mendemonstrasikan kebencian, kekacauan ataupun huru-hara. Namun sebaliknya, mereka adalah sumber kebajikan untuk hidup ini dan akhirat nanti. Juga, masjid maupun ajaran Islam adalah sarana untuk menciptakan di hati orang-orang kecintaan kepada Allah dan memenuhi kewajiban terhadap-Nya sebagaimana juga kecintaan dan memenuhi kewajiban kepada sesama ciptaan-Nya.

Dengan pembangunan masjid ini, Jemaat Ahmadiyah di Kanada untuk pertama kalinya mendapatkan kehormatan ketika para sukarelawan mereka dapat menghemat biaya yang banyak dengan berpartisipasi dan mengerjakan sendiri pembangunan masjid tersebut. Di tempat-tempat lain pekerjaan-pekerjaan Jemaat juga selesai dengan cara ini tetapi hal ini terjadi di sini pertama kalinya. Semoga Allah memberikan mereka ganjaran pahala untuk orang-orang yang telah mengorbankan harta dan waktu mereka, baik itu para pria dan wanitanya yang telah memberi maupun berjanji untuk memberikan sejumlah uang yang besar. Semoga Allah menerima pengorbanan pengorbanan mereka dan memberkati mereka dengan tak terhitung banyaknya.

Kita harus selalu ingat bahwa masjid sangat penting untuk  Tarbiyat (pendidikan) kita sendiri dan Tabligh. Oleh karena itu, saya telah meminta Bapak Amir Jemaat Kanada untuk membangun masjid kecil tapi melakukannya di semua cabang-cabang Jemaat. Bapak Amir telah melaporkan kepada saya bahwa mereka telah merencanakan hal itu dan bermaksud untuk membangun lebih banyak masjid tetapi pada ukuran yang lebih kecil. Saya ingin memberitahu bahwa meskipun kita telah merencanakan untuk membangun masjid kecil, tapi kita tidak mampu untuk membangun itu di mana-mana dengan segera. Untuk itu, cobalah untuk menerapkan secara terus-menerus contoh sangat baik ini berupa pekerjaan sukarela dan berusaha untuk menghemat uang Jemaat sekuatnya.

Pada satu kesempatan, Hadhat Masih Mau’ud as bersabda dalam mengungkapkan pentingnya pembangunan masjid,

“Jemaat kita pada masa ini sangat memerlukan pembangunan Masjid-Masjid. Masjid adalah rumah Allah. Ketahuilah! Ketika sebuah Masjid dibangun di sebuah desa atau di sebuah kota bagi kita maka dasar kemajuan Jemaat telah diletakkan. Jika ada sebuah desa atau sebuah kota yang tidak ada orang Islam di sana atau hanya ada sedikit orang Muslim di sana, dan kalian harapkan adanya kemajuan Islam di tempat tersebut, maka bangunlah Masjid di sana. Allah Ta’ala sendiri yang akan menarik orang-orang Muslim ke Masjid tersebut. (artinya, orang Muslim lainnya akan bergabung dengan kalian disamping para penduduk pribumi di situ. Beginilah bertambahnya jumlah kalian)

Namun, syarat atau niatan di balik pembangunan Masjid tersebut harus niat yang baik dan tulus ikhlas. Tidak membangun kecuali semata-mata demi memperoleh ridha Allah. Tidak boleh ada unsur hawa nafsu, keburukan, kekacauan ataupun kepentingan tertentu. (Jika demikian) maka Allah akan memberkahi perbuatan tersebut dengan berkah yang banyak.”[2]

Oleh karena itu, kita harus bekerja keras untuk memenuhi harapan Hadhrat Masih Mau’ud as dan juga memberikan posisi penting pada syarat yang telah diungkapkan oleh beliau. Hal itu ialah dalam diri kita harus ada ketulusan, bukan antusiasme sementara dan membatasi tujuan hanya untuk membangun masjid yang Indah saja. Tidak demikian! Melainkan sangat penting untuk memenuhi tujuan pembangunan masjid yang sebenarnya. Demikian pula, masjid-masjid tidak boleh dibangun hanya untuk memamerkan bangunan dan arsitektur atau demi menunjukkan jumlah pengorbanan-pengorbanan harta atau waktu. Juga, hendaknya tidak ada maksud menyaingi dengan yang lain dalam hal ini. Pembangunan masjid harus dilakukan murni hanya karena ingin meraih ridha Allah. Seperti yang telah saya sebutkan bahwa empat orang kontraktor yang berperan besar dalam pembangunan masjid ini menemui saya kemarin dan merasa senang bahwa Allah mengaruniakannya kesempatan ini. Dengan demikian, Allah Ta’ala telah memberikan kontrak yang lebih banyak kepada mereka. Allah Yang Maha Mulia tidak meninggalkan tanpa memuliakan. Terkadan Dia cepat. Terkadang pula Dia tunda.

Salah satu dari 3 orang bersaudara tersebut yaitu Tn. Mansur menulis kepada saya, “Seorang pemuda biasa bekerja dan ia juga baru saja diterima di sebuah perguruan tinggi lantas meninggalkan pekerjaan pembangunan tersebut. Namun ia kemudian bermimpi bahwa para kontraktor tersebut memerlukannya untuk pekerjaan pembangunan masjid tersebut. Karena itu, ia menghubungi kontraktor tersebut dan mulai bekerja. Kondisi finansial mereka sedang tidak baik sampai-sampai istrinya berkata bahwa tidak ada uang untuk keperluan rumah tangga. Allah memberkati orang tersebut dan pada hari itu atau hari berikutnya Kantor Bantuan Pemerintah mengirimkan uang ekstra yang memang menjadi haknya. Kemudian, mereka mendapatkan uang dari Departemen Jaminan untuk Anak, sehingga mereka menerima sekitar CAD 14,000 (sekitar IDR 136 juta).”

Yang diperlukan adalah niat yang murni dan jujur, kemudian lihatlah bagaimana Allah akan membalasnya dengan ganjaran-Nya. Karena itu, kita harus bekerja keras untuk memenuhi keinginan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Di Afrika, ada banyak orang yang dengan rahmat Allah berkontribusi untuk pembangunan masjid-masjid. Saya ingat bahwa ketika di Ghana, di kota Tamale, ada sebuah masjid kecil yang dibangun dari bata dan disemen di bagian luar dan dalamnya agar membuatnya kuat. Setelah menjadi Khalifah, saya untuk pertama kalinya datang ke Ghana dan mengunjungi Tamale. Saya menyaksikan ada masjid besar terdiri dari dua lantai yang berdiri di sana. Kira-kira ukurannya 3 kali lebih besar dari masjid Anda ini. Masjid tersebut juga memiliki kantor-kantor Jemaat di sampignya. Saya diberitahu bahwa seorang anggota Ahmadi membayar untuk seluruh pengeluarannya. Saya juga tahu bahwa tidaklah mudah untuk anggota tersebut sehingga ia membayar selama periode 3-4 tahun namun ia berkata bahwa ia akan melakukan tugas ini. Karena itu, sikap para Ahmadi yang demikian ini ditemukan dimana saja termasuk di Afrika.

Orang-orang mungkin berpikir bahwa orang-orang di Afrika mungkin menjadi serakah karena kemiskinan mereka. Namun kapanpun mereka memiliki uang, mereka mendirikan standar pengorbanan tinggi yang sangat langka. Dimanapun, sikap untuk membangun masjid-masjid dan melakukan pengorbanan seperti ini dapat ditemukan.

Di Pakistan, kita tidak dapat membangun masjid-masjid. Orang-orang menulis kepada saya dengan menderita sekali agar didoakan supaya dapat mendirikan masjid-masjid di sana. Kita tidak dapat membangun masjid-masjid karena hukum di sana, jadi setidaknya diijinkan untuk membuat aula-aula dimana kita bisa sholat berjamaah. Merupakan hal mustahil untuk berpikir membangun Menara dan kubah. Bahkan, untuk membuat Mihrab sederhana (ceruk menandai arah shalat) saja itu tidak diizinkan. Bahkan, di beberapa tempat ada peraturan yang sangat ketat yaitu para Ahmadi bahkan tidak diperbolehkan mendirikan bangunan yang menghadap kiblat.

Namun rahmat Allah begitu melimpah di luar Pakistan yang bahkan tidak terbayangkan. Ini adalah Karunia dan rahmat Allah yang memberi kita taufik untuk membangun masjid. Karena itu, kita sangat bersyukur kepada Tuhan kita atas hal itu. Hari ini, penghuni tempat ini harus berusaha untuk bersyukur kepada Allah karena Dia telah menyediakan bagi mereka sebuah masjid, sebuah rumah Allah dan khusus untuk beribadah. Memang benar masjid adalah rumah Allah, namun Allah memerintahkan untuk membangunnya bukan untuk keuntungan Diri-Nya sendiri. Tentulah itu untuk manfaat bagi orang-orang yang datang ke masjid ini.

Hal tersebut adalah pertolongan Allah yang agung yang mana rasa terima kasih kita kepada-Nya tidaklah akan cukup. Cara untuk bersyukur kepada Allah atas rahmat dan Karunia-Nya telah diajarkan pada kita dalam ayat ini yang mana telah saya bacakan sebelumnya. Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”” (QS. At Taubah: 18)

Karena itu, iman kepada Allah dan Hari Akhir adalah persyaratan yang pokok sebagai keimanan dan keislaman seseorang. Ia wajib ada tanpa diragukan lagi. Lantas Allah berfirman bahwa adalah penting untuk mendirikan Sholat. Maksudnya apa? Maksudnya adalah shalat berjamaah 5 kali dalam sehari pada waktu-waktunya. Maka, makna mendirikan shalat ialah melakukannya secara berjamaah. Kemudian membayar Zakat. Apa itu Zakat? Zakat adalah menyucikan harta dengan cara mengorbankannya di jalan Allah. Dengan karunia Allah, para Ahmadi sangat rajin dalam hal pengorbanan ini. Namun banyak yang kurang dalam Sholat, terutama Sholat berjamaah padahal itu hal yang asasi. Karena itu, hal ini harus dipenuhi.

Tentang Zakat saya ingin mengatakan bahwa ada Zakat yang wajib untuk setiap orang kaya yang mempunyai uang di bank atau dipegang oleh mereka sendiri, yang memiliki emas atau perak dan ukurannya telah mencapai nishab (batas ukuran wajib zakat). Lantas orang-orang yang memiliki peternakan besar juga wajib membayar Zakat. Hal itu wajib bagi para pria dan wanita. Ada perhitungan jumlahnya sendiri yang telah ditentukan Nabi Muhammad saw sejak masa beliau.

Demikian juga, saya ingin mengatakan bahwa kaum wanita harus secara khusus memikirkan untuk membayar Zakat. Dengan datang ke negara-negara (maju) ini, membuat kondisi keuangan mereka sangat baik dan mereka memiliki banyak emas. Saya lihat baik yang tua maupun yang muda, para wanita tersebut memakai gelang emas berbobot. Tidak apa-apa dalam hal itu. Memakai perhiasan telah Allah izinkan bagi mereka menyatakan bahwa emas tersebut adalah perhiasan. Namun adalah penting untuk membayar zakat atas perhiasan-perhiasan tersebut untuk menyucikan harta. Seluruh pengorbanan harta yang dilakukan ialah untuk penyebaran ajaran Islam dan pemenuhan hak orang-orang. Dengan rahmat Allah, hanya Jemaat Ahmadiyahlah yang membelanjakan di jalan Allah untuk menyebarkan ajaran Islam dengan melakukan pembangunan masjid-masjid, rumah-rumah misi, institusi para mubaligh, pembangunan sekolah-sekolah dan rumah sakit – rumah sakit.

Selanjutnya, setelah [dalam ayat yang telah dibacakan tadi] menyebutkan tentang zakat, Allah berfirman bahwa kalian tidak boleh takut kecuali kepada Allah. Jika seseorang penuh rasa takur kepada Allah, maka hanya dengan demikian maka ia terselamatkan dari begitu banyak dosa. Mereka dapat terselamatkan dari perbuatan-perbuatan buruk yang umum dilakukan di negara-negara ini atas nama kebebasan. Selalu ingat bahwa takut pada Allah adalah sangat penting dan itulah ‘Takwa’ yang sangat sering disebutkan dalam Al Quran dan mengandung ajaran-ajaran yang beraneka.

Karena itu, jika kalian mengikuti semua perintah ini maka kalian termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk di sisi Allah dan memenuhi tujuan dari dibangunnya masjid-masjid. Amal perbuatan, iman dan keteguhan padanya merupakan hal-hal yang dapat memenuhi tujuan dari dibangunnya masjid-masjid. Hal inilah yang membuat seseorang bersyukur kepada Allah. Dengan bahagia atas kenyataan bahwa kita telah membangun sebuah masjid saja, dan kemudian jarang muncul untuk sholat dan menanamkan takut kepada manusia melebihi takut kepada Allah, keserakahan terhadap kesenangan-kesenangan duniawi, mementingkan perkara-perkara duniawi dibanding agama dan melupakan inti sari sejati dari tujuan masjid itu sendiri; hal-hal ini mungkin membantu kita meraih kebaikan sementara pembangunan masjid, namun tidak akan berhasil dalam mendapatkan rahmat Allah secara berkelanjutan. Karena itu, Allah berfirman bahwa populasi sejari dari masjid adalah dari orang-orang yang tumbuh melalui iman dan perbuatan baik mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman bahwa mereka yang mutlak benar dalam memakmurkan masjid ialah yang kuat keimanan dan akidahnya serta terus mempersembahkan amal perbuatan saleh.

Merupakan tanggungjawab para pengurus Jemaat – sebelum anggota Jemaat lainnya – untuk membuat masjid tetap dipenuhi oleh mereka. Untuk bisa mendapatkan rahmat dan Karunia secara berkelanjutan dari pengorbanan harta dan waktu yang dilakukan oleh Jemaat, para pengurus dan setiap anggota Jemaat harus berusaha membuat masjid ini (yang saat ini 3 kali lebih besar dari jumlah Jemaat di sini) menjadi lebih sempit untuk kebutuhan mereka. Masjid-masjid menjadi lebih kecil untuk keperluan para Jemaat ketika jumlah orang-orang yang beribadah di dalamnya dan jumlah orang-orang Jemaat bertambah.

Dalam rangka meningkatkan jumlah anggota Jemaat itu sangat penting untuk melakukan dakwah (Tabligh). Bersyukurlah kepada Allah atas pembangunan masjid ini dengan bertabligh dan menyebarkan pesan Islam Sejati, yaitu Ahmadiyah kepada setiap orang yang hidup di sini. hal ini merupakan ungkapan syukur kepada Allah, sebagaimana itu juga merupakan pemenuhan hak-hak orang-orang di sini. Merupakan hak bangsa ini bahwa kita menyebarkan ajaran Islam hakiki kepada mereka dan menolong mereka keluar dari segala perbuatan buruk. Adalah tugas kita untuk memberitahukan kepada orang-orang mengenai Pencipta Sejati mereka.

Pada saat ini, mayoritas orang cenderung dan tersesat kepada perkara-perkara dan perkembangan duniawi. Namun, mereka tidak tahu bahwa ada akhir yang gelap pada segala gemerlap dan kilauan duniawi ini. Pada saat ini, adalah tanggungjawab dari para anggota Jemaat untuk menunjukkan kepada mereka jalan yang akan membawa mereka kepada akhir yang cerah. Katakan kepada mereka bahwa gemerlap dan kilauan duniawi adalah hanya untuk waktu yang terbatas karena ia akan luntur, namun cahaya hakiki akan bersinar selamanya. akhirat yang baik Hal ini tidak dapat diraih kecuali dengan beribadah dan menyembah Allah dengan keikhlasan dan fana. Hal ini dapat diraih ketika kita lebih khawatir tentang akhirat kita daripada perkara-perkara duniawi. Kita tidak akan bisa menasehati dunia tanpa kita menganalisa diri kita sendiri dan menaruh perhatian pada akhirat. Dengan begitu, kita dapat tegas untuk menunjuki mereka kearah cahaya.

Kita tidak akan memikat atau mempesona orang lain hanya lewat slogan cinta kasih dan perdamaian, namun benar-benar akan memenuhi hak-hak satu sama lain dan akan meningkatkan standar ibadah kita dan akan berusaha untuk meraih cinta dan kasih sayang Allah. Bahkan, setiap kata dan perbuatan dari kita tidak hanya mengandung cinta kepada Allah, tapi juga pada ciptaan-Nya. Orang-orang yang mendekat kepada kita karena melihat kita dari jauh, mendengar slogan-slogan kita tentang cinta kasih dan kerukunan, terkesan dengan ajaran-ajaran Islam yang kita tablighkan tidak boleh dikecewakan oleh kita sampai mengatakan, “Kami tidak mendapati kallian dari dekat apa-apa yang kami lihat dari jauh.” (kita tidak seperti yang terlihat sebelumnya)

Kita harus berusaha membuat dunia ini sebuah tempat surgawi lewat ibadah dan perbuatan-perbuatan baik kita. Nabi Muhammad saw bersabda:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا.  “Saat engkau melewati kebun surga, makan dan minumlah sampai kenyang.” Hadhrat Abu Hurairah ra berkata: “Lalu aku bertanya kepada Rasulullah, يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ ‘Apakah kebun surga itu, ya Rasul Allah?’ Hadhrat Rasulullah saw menjawab, الْمَسَاجِدُ ‘Masjid-masjid adalah kebun-kebun surga.’ Kemudian aku bertanya kembali, وَمَا الرَّتْعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ ‘Apa artinya makan dan minum dari kebun kebun surga? Hadhrat Rasulullah saw menjawab, سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ‘Itu adalah dengan mengucap subhaanaLlah, (Tasbih; yaitu ucapan yang diulang-ulang untuk memuji dan memuja kemuliaan Allah), Alhamdulilah, La illaha illal Allah dan Allahu Akbar. Mengucapkan kalimat-kalimat ini adalah seperti makan dan minum dari Surga.’[3]

Karena itu, bersamaan dengan Shalat di masjid, membacakan kalimat-kalimat Tasbih, Tahmid dan Takbir di dalamnya ini juga sama dengan makan buah-buahan Surga di dunia ini. Dan orang-orang yang memperhatikan pembacakan kalimat-kalimat ini dan beribadah kepada-Nya dalam corak ini tidak hanya akan meraih surga di akhirat saja, bahkan dengan memenuhi hak-hak orang lain juga mengamalkan hukum Allah dan membuat perbuatannya mengikuti perintah-perintah Allah. Berusahalah untuk melakukan perbuatan serupa ini sesuai dengan ajaran ajaran Allah. Demikianlah, betapa diberkatinya orang-orang yang makan buah-buahan surga di dunia ini dan memberikannya pada orang-orang lain juga; mereka akan mendapatkan ridha Allah di akhirat nanti juga. Mereka termasuk orang-orang yang hidup dalam Takwa demi mendapatkan ridha Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Seluruh perintah dalam Al Quran secara perbandingan, yang diberikan tingkat kepentingan tertinggi ialah Takwa; yaitu sadar akan adanya Tuhan, juga kesalehan dan kebajikan atas dasar takut kepada-Nya. Hal ini karena Takwa memberikan kekuatan untuk menahan diri dari perbuatan dosa dan mendorong untuk melakukan perbuatan baik. Takwa benar benar merupakan ‘azimat’ keselamatan dan juga obat untuk dilindungi dari setiap cobaan. Takwa adalah istana dan benteng yang sangat kuat yang melindungi seseorang dari keburukan dan kejahatan.”[4]

Seseorang yang mengikuti jalan Takwa dapat terlindungi dari banyak perbuatan buruk yang dilakukan oleh orang lain yang memandu mereka pada akhir kehancuran. Setiap orang harus ingat bahwa contoh-contoh pengorbanan yang ditunjukkan wajib didasari dengan Takwa atau jika tidak, maka pengorbanan tersebut hanya kebaikan sementara saja. Seperti yang telah saya katakan, adalah sebuah jalan dan cara untuk memenuhi rasa syukur ialah dengan bertabligh. Setelah pembangunan masjid, akan ada banyak orang yang tertarik pada masjid ini dan pada akhirnya akan tertarik pada kalian dan pada Jemaat. Pada saat itu, setiap perbuatan dan tindakan dari para Ahmadi dan kesalehan karena takut kepada Tuhan akan memberikan panduan kepada orang-orang ini. Karena itu, masjid ini memberikan sebuah tanggungjawab kepada setiap Ahmadi yang tinggal di sini dan setiap Ahmadi harus menjadi tauladan agar dapat memenuhi tanggungjawab-tanggungjawab ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Orang-orang dari Jemaat kita harus menjadi suri teladan bagi orang lain. Siapapun yang merupakan Jemaat kita dan menunjukkan akhlak buruk serta menunjukkan kelemahan pada perbuatan-perbuatan baiknya, adalah orang yang lalim dan kejam – karena ia menggambarkan citra buruk tentang Jemaat dan kita semua. Akhlak dan moral yang buruk menanamkan kebencian, sementara sifat dan karakter serta perbuatan orang yang berbudi luhur akan menghasilkan kecenderungan terhadap kebaikan.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Kami menerima banyak surat yang menyatakan bahwa meskipun pengirim surat itu tidak bergabung dengan Jemaat ini namun dengam mengamati beberapa anggota Jemaat, terbangun dalam pikiran dan benak bahwa ajaran-ajaran Jemaat ini adalah berdasarkan ketakwaan.”

Bahkan hari ini banyak orang [non Ahmadi] yang menulis kepada saya (Hudhur) dan bahkan ketika bertemu dengan saya, menyatakan bahwa dengan bertemu dengan para anggota Jemaat merefleksikan ajaran-ajaran yang kita sebarkan adalah berdasarkan kedamaian, cinta kasih dan kepedulian. Karena itu, hal sangat penting bagi setiap Ahmadi agar dapat teguh dalam corak tetap untuk menjalani sifat yang demikian, menyebarkannya dan menjadiakannya bagian dari kehidupan sehari-harinya.

Hadhrat Masih Mau;ud as bersabda,

“Allah Ta’ala juga menyusun catatan harian mengenai tindakan dan perbuatan setiap orang sehari-hari. Karena itu, setiap orang juga harus melakukannya sendiri-sendiri agar dapat menganalisa perbuatan-perbuatan baik maupun buruk yang telah dilakukannya. Tidak hanya merasa cukup dengan mendaftar perbuatan-perbuatannya dalam catatan saja, bahkan haruslah dia analisa apakah ia bertumbuh dalam perbuatan baiknya atau tidak dibanding hari sebelumnya?”

Beliau as bersabda,

“Seseorang seharusnya tidak menjadikan hari kemarin dan hari ini sama saja. Orang yang hari kemarin dan hari ininya sama ketika menganalisa perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya, maka orang tersebut tidaklah beruntung. Kalian seharusnya tidak senang jikalau perbuatan baik yang kalian lakukan di hari kemarin dan hari ini adalah sama. Namun justru kalian harus meningkatkan perbuatan-perbuatan baik kalian setiap hari. Seseorang yang benar-benar mukmin sejati tidak akan pernah sia sia. Malahan, akan banyak orang yang terselamatkan sebagai ganjaran atas keimanan dan kepercayaan orang tersebut.”

Oleh sebab itu, pada hari ini merupakan tanggungjawab para Ahmadi untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Namun untuk mencapai tujuan itu, syarat satu-satunya adalah kita harus meningkatkan level perbuatan baik kita setiap hari.

Beliau as bersabda,

“Ratusan ribu ruh diselamatkan demi satu orang saja. Maka dari itu, tanggungjawab terbesar para Ahmadi ialah untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran. Kita harus menyelamatkan dunia ini yang telah melupakan keberadaan Tuhan. Meskipun ada orang-orang yang memiliki akhlak yang baik. Sebagian dari mereka berkata, ‘Apa manfaat percaya pada agama. Kami hanya berpegang teguh pada moral yang baik saja.’”

Iya, benar sebagian dari akhlak mendasar mereka itu baik. Perlakuan mereka secara umum terhadap sesama sangat baik dengan tidak merampas hak-hak orang lain. Namun, pada sisi lain, atas nama kebebasan akhlak mereka kosong. Tambahan lagi, undang-undang pun melindungi mereka. Sebenarnya, dunia ini telah sama sekali melupakan Allah. Pada situasi yang demikian, jika kita yang telah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as juga cenderung untuk melupakan nilai-nilai mereka, melupakan Allah dan juga ajaran-ajaran Islam serta tersesat, maka siapa yang akan mengkoreksi dan memperbaiki dunia?

Memang benar, janji-janji Allah terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as akan sempurna dengan tepat dan orang-orang dalam jumlah besar akan bergabung dengan Jemaat beliau as. Tapi, janganlah kita menghilangkan diri dari janji-janji itu. Dengan demikian, merupakan tanggungjawab setiap Ahmadi bahwa sesuai dengan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa kita harus melakukan analisa terhadap perbuatan kita setiap hari agar dapat memenuhi tanggungjawab kita sebaik-baiknya. Kita seharusnya tidak senang hanya karena kita sudah membangun sebuah masjid, namun target kita harusnya adalah meningkatkan jumlah orang yang bersujud kepada Allah dan berkumpul di bawah panji Rasul-Nya (Nabi Muhammad) saw. Hal ini tidak bisa dilakukan sampai kita cenderung maju dalam melakukan perbuatan perbuatan baik setiap hari, sampai setiap orang dari kita menjadi tauladan bagi kita sendiri dan juga orang lain. Sampai tidak ada orang yang memberikan penderitaan kepada orang lain, melainkan melaksanakan dan memenuhi hak-hak kerabat dan orang lainnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Wajib bagi kalian untuk menjadi rahmat bagi diri kalian sendiri, anak-anak kalian, istri kalian, saudara dan teman teman kalian, juga bagi kita semua. Kita tidak boleh memberikan kesempatan bagi lawan-lawan kita untuk mengkritik kita.“

Karena itu, setiap orang dari kita harus merasakan keperihan yang dirasakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as ini dan kita harus menjadi suri teladan yang menjadi sarana pembicaraan baik bagi Jemaat dan bagi Hadhrat Masih Mau’ud as. Semoga Allah menolong kita untuk mencapai hal ini. Semoga hari esok kita lebih baik dari hari ini. Semoga anak-anak kita dan generasi kita memahami pengorbanan-pengorbanan yang telah diberikan oleh orang tua-orang tua mereka, masjid-masjid yang telah dibangun oleh mereka, dan tabligh-tabligh yang dilakukan oleh mereka, inspirasi yang mereka berikan kepada anak-anak mereka untuk selalu megutamakan agama dibandingkan perkara perkara duniawi, sesungguhnya merupakan ‘harta’ dan ‘kekayaan’ yang mereka wariskan bagi anak-anak mereka. Semoga generasi-generasi ini dapat menanamkan nilai-nilai dan pemikiran untuk generasi-generasi yang akan datang. Dan semoga rangkaian ini dapat berlanjut atas kehendak Allah. Semoga generasi-generasi yang akan datang menerima rahmat dan keberkatan dari Allah. Semoga ini terjadi atas kehendak dan keinginan Allah. Amien.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono dari sumber referensi: www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab) dan Ratu Gumelar dari www.alIslam.org (bahasa Inggris)


[1] Shahih Muslim, Kitab tentang Masjid-Masjid.سَمِعَ عُبَيْدَ اللهِ الْخَوْلاَنِيَّ يَذْكُرُ: أَنَّهُ سَمِعَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ عِنْدَ قَوْلِ النَّاسِ فِيْهِ حِيْنَ بَنَى مَسْجِدَ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكُمْ قَدْ أَكْثَرْتُمْ وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا ِللهِ تَعَالَى قَالَ بُكَيْرٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ Utsman bin Affan ra berujar kepada orang banyak ketika memperluas Masjid Rasulullah saw: Sekarang kamu telah banyak. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw, bersabda, “Siapa yang membangun Masjid karena Allah…” -Bukair berkata, Seingatku beliau bersabda, “Dengan maksud mencari wajah (ridho) Allah-, niscaya Allah membuatkan rumah di surga untuknya.”

مَنْ بَنَى ِللهِ مَسْجِدًا ، مِنْ مَالِهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ “Barangsiapa membangun masjid dari hartanya, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga.” [HR. ibnumajah No.729]

مَنْ بَنَى ِللهِ مَسْجِدًا ، صَغِيرًا كَانَ ، أَوْ كَبِيرًا ، بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.  “Barangsiapa membangun sebuah masjid karena Allah baik kecil maupun besar, maka Allah akan membuatkan sebuah rumah baginya di surga.”

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ لِبَيْضِهَا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا في الْجَنَّةِ “Barangsiapa membangun masjid karena Allah meski sebesar sangkar burung, atau bahkan lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan baginya satu istana di surga.”

[2] Malfuzhat, Vo. 7, hal 119 – 120, edisi 1985, terbitan Uk

[3] Sunan At-Tirmidzi.

[4] Ayyamush Shulh, Ruhani Khazain jilid 14