بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 18 Sulh 1392 HS/Januari 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

إذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (آل عمران: 36)

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (الصافات: 103)

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (آل عمران: 105)

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (التوبة: 122)

 

“Ingatlah ketika perempuan dari Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah nazarkan supaya apa yang ada dalam kandunganku berbakti untuk Engkau. Maka terimalah dia dariku; sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Surah Ali Imran, 3:36).

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelih engkau. Maka pikirkanlah apa pendapat engkau!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada engkau; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk di  antara orang-orang yang sabar.” (Surah Ash-Shaffaat, 37:103).

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan yang mengajak manusia kepada kebajikan dan menyuruh mereka mengerjakan yang baik dan melarang dari kejahatan. Dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia.” (Surah Ali Imran, 3:105).

“Dan tidak mungkin bagi orang mukmin keluar semuanya. Maka mengapa tidak keluar dari setiap golongan mereka satu rombongan supaya mereka memperdalam ilmu agama, dan agar mereka memperingatkan kaum mereka, apabila kembali kepada mereka supaya mereka takut dari kesesatan.” (Surah At-Taubah, 9:122)

Ayat-ayat ini merupakan ayat dari Surah Ali Imran, Surah At-Taubah, dan Surah Ash-Shāffāt. Di dalam ayat-ayat ini diterangkan mengenai keinginan seorang ibu, tarbiyat yang benar dari ibu-bapak kepada anak-anak, peningkatan kesadaran berkorban dalam diri anak-anak dan upaya persiapan untuk itu, keutamaan dan tujuan Waqf-e-Zindegi (wakaf hidup),  kemudian apakah maksud dari melakukan semua itu? Inilah penjelasan semua itu.

      Ayat yang pertama adalah ayat ke-34 dari Surah Ali-Imran. Di dalamnya dijelaskan mengenai keinginan seorang ibu untuk mewaqafkan anaknya demi agama, dan doa agar Allah Ta’ala mengabulkannya.

      Kemudian ayat ke-103 dari Surah Ash-Shāffāt saya tilawatkan setelahnya. Di dalamnya Allah Ta’ala menyebutkan mengenai tarbiyat sang ayah terhadap anaknya agar siap sedia berkorban demi Allah Ta’ala, dan mengenai kesiapan sang anak untuk memberikan segala macam pengorbanan demi Allah Ta’ala.

      Tarbiyat sang ayah telah menghubungkan sang anak dengan keridaan Tuhan. Sang anak berkata, “Wahai ayahanda, engkau akan mendapati saya senantiasa siap untuk melakukan segala macam pengorbanan, bukan hanya akan mendapati saya siap, bahkan engkau akan mendapati saya sebagai orang yang menegakkan contoh luhur kesabaran dan istiqamah.”

      Kemudian saya menilawatkan Surah Ali Imran ayat ke-105. Di dalamnya disebutkan mengenai kelompok yang menyebarkan dan terus-menerus menyebarkan kebaikan-kebaikan serta menghentikan keburukan. Karena inilah perkara yang menjadi sarana untuk memperoleh keridhaan Allah Ta’ala dan menjadikan seseorang berhasil.

      Kemudian Surah At-Taubah ayat 122, saya tilawatkan terakhir. Di dalamnya Allah Ta’ala berfirman bahwa memperoleh pemahaman agama adalah penting, untuk mengenali antara kebaikan dan keburukan. Apakah pemahaman agama itu? Yaitu Syari’at Islam atau Al-Quran al-Karim. Karena Allah Ta’ala berfirman  ورضيت لكم الاسلام دينا (الما ئدة  : 4)  —  “dan Aku telah meridhai Islam sebagai agama bagi kalian.”

Pemahaman Al-Quran dan Keridhaan Allah Ta’ala

      Jadi, memahami Quran Karim adalah penting untuk mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala. Apakah tujuan melakukan semua ini? Ia menjelaskan bahwa agar kalian menjadi orang-orang yang menyelamatkan dunia dari kebinasaan. Jadi, inilah maksud yang untuk menunaikannya pada zaman ini Allah Ta’ala telah mendirikan Jemaat Ahmadiyah dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam.

       Inilah Jemaat yang di dalamnya nampak kepada kita doa-doa para ibu sebelum kelahiran anak-anaknya dengan semangat ini, yaitu رب انى نذرتلك ما فى بطنى محررا فتقبل منى (ال عمران : 36)  — “Wahai Tuhanku! Sesungguhnya aku telah menazarkan kepada Engkau apa yang ada di dalam kandunganku untuk berkhidmat, maka terimalah itu dari aku.”

      Sekarang lihatlah, selain para ibu di Jemaat Ahmadiyah, tidak ada yang berdoa sebelum kelahiran anak-anaknya dengan hasrat untuk mempersembahkan mereka demi berkorban di jalan Allah Ta’ala. Saat ini, selain para ibu Ahmadi, kita tidak akan menemukan ibu yang memiliki semangat ini — baik itu ibu-ibu yang tinggal di Pakistan, atau di India, di salah satu negeri di Asia atau Afrika, yang tinggal di Eropa atau di Amerika, yang tinggal di Australia atau di pulau-pulau lain — yang mempersembahkan anak-anaknya kepada Khalifah-e-Waqt untuk satu tujuan penting ini, dan berdoa kepada Allah Ta’ala, “Wahai Allah! Terimalah waqaf kami.”

      Nampak hanya dan hanya para ibu Ahmadi-lah yang berdoa seperti ini. Mereka khawatir jangan-jangan Khalifah-e-Waqt menolak permohonan mereka. Kondisi ini tidak dapat timbul di tempat lain manapun, semangat ini tidak dapat timbul di tempat lain manapun. Karena hanya Jemaat inilah satu-satunya yang berada di bawah naungan bendera Khilafat, yang telah Allah Ta’ala dirikan dengan perantaraan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

      Tidak cukup sampai di sana, hanya di dalam Jemaat Ahmadiyah-lah terdapat para bapak yang memberikan tarbiyat kepada anak-anaknya dengan cara ini, yakni setelah anak-anaknya memasuki usia remaja, mereka siap untuk setiap pengorbanan.

Kesiapan Melaksanakan Pengorbanan

     Mereka menulis kepada Khalifah-e-Waqt, “Yang pertama adalah janji ibu-bapak saya, yang kedua adalah janji saya. Sekarang, kemanapun Hudhur ingin, kirimkanlah saya untuk berkorban. Hudhur akan mendapati saya termasuk orang-orang yang sabar dan memperlihatkan istiqamah, dan akan mendapati saya termasuk orang-orang yang tidak menyingkirkan ke belakang janji bapak dan ibu saya.”

      Inilah anak-anak yang disebut sebagai orang-orang setia dalam umat Nabi Muhammad saw.. Inilah orang-orang yang menjalankan kewajibannya untuk menjadi termasuk dalam umat Hadhrat Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tarbiyat dari ayah ibu dan fitrat baik sang anak telah mengajarkan mereka mengenai huququllaah (hak-hak Allah) dan mengajarkan juga standar penunaian huququl ‘ibaad (hak-hak sesama hamba).

       Dalam diri mereka telah timbul kegandrungan untuk mendapatkan pemahaman agama dan timbul perhatian dalam diri mereka untuk  mengikuti kehidupan mereka. Bersama dengan itu timbul juga gelora semangat dan hasrat untuk melakukan tabligh Islam dan Ahmadiyah serta untuk mengkhidmati umat manusia.

       Ingatlah selalu, bahwa kaum-kaum yang hidup, jemaat-jemaat yang maju, mereka tidak pernah membiarkan kesadaran, pemikiran-pemikiran, semangat, dan [upaya] untuk menyempurnakan janji itu mati, mereka senantiasa membangkitkannya untuk membuat semangat-semangat itu tetap segar.

      Jika timbul kemalasan maka untuk menjauhkan itu mereka memberikan juga program tarbiyat. Inilah tugas lembaga Khilafat yakni dengan mengamalkan perintah ‘ذکر‘  (ingat, peringatkan) dari Allah Ta’ala, dari waktu ke waktu terus mengingatkan agar di dalam cepatnya kemajuan Jemaat tidak pernah muncul penurunan.

Mempersiapkan Para Pelaksana Tabligh dan Tarbiyat

      Hendaklah senantiasa disiapkan satu demi satu kelompok untuk menyebarkan pesan Tuhan kepada dunia. Sebagaimana sungai yang terus mengalir menjadi penyebab bumi tetap hijau dan segar, demikian pula satu demi satu kelompok yang mengkhidmati agama menjadi penyebab menghijau ranaunya kerohanian.

      Di wilayah-wilayah dimana ladang-ladangnya diolah dengan pengairan irigasi atau sungai, maka para petani di sana mengetahui bahwa jika aliran air terputus sebelum ladang mendapatkan pengairan yang sempurna, maka pengairan harus ditutup, kemudian terpaksa harus mengairi seluruh kebun dari awal lagi. Waktupun akan terbuang, begitupula air.

      Demikian pulalah, jika tidak ada usaha yang terus-menerus untuk pekerjaan ishlah (perbaikan) dan irsyad (nasehat, bimbingan), atau orang yang melakukan usaha itu tidak ada, maka air, atau pesan yang sampai dengan terputus-putus, atau upaya yang dilakukan dengan terputus-putus, itu semua akan menghambat proses pengairan.

      Dalam pekerjaan tarbiyat dan tabligh akan timbul rintangan-rintangan. Jadi, Allah Ta’ala berfirman bahwa hendaklah ada dari setiap kaum kelompok orang yang selalu siap setiap saat, dan tidak akan membiarkan aliran penyampaian pesan Tuhan terputus. Jadi, karena itulah pada hari ini saya mengingatkan kembali bahwa gerakan Waqf-e-Nau (Wakaf Baru) yang dimulai oleh Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’ (IV) rahimahullahu ta’ala adalah dengan harapan dan doa agar kelompok orang yang mengkhidmati agama senantiasa tersedia setiap saat.

      Aliran air ini tidak akan pernah terputus. Para penerjemah literatur-literatur akan selalu tersedia bagi Jemaat. Orang-orang yang menjalankan pekerjaan-pekerjaan tabligh dan tarbiyat akan selalu tersedia dalam jumlah besar. Kelompok Waqifin (pewakaf) yang menjalankan nizam (organisasi) Jemaat akan terus tersedia juga bagi departemen-departemen yang lain.

       Karena itu, kita harus mengedepankan perkara tersebut. Ibu bapak janganlah berlepas diri dari kewajibannya setelah mempersembahkan anak-anaknya. Tidak syak lagi, semangat untuk mempersembahkan anak-anak kedalam Waqifin Nau itu patut dihargai. Tiap tahun datang ribuan permohonan untuk mempersembahkan anak-anak kedalam Waqifin Nau, tetapi setelah mempersembahkan permohonan itu tanggung jawab ibu bapak menjadi bertambah.

Kewajiban  Kedua Orang Tua Mempersiapkan Anak-anak Waqf-e-Nau

      Mempersiapkan anak-anak untuk tujuan khusus, yakni tujuan untuk menyelamatkan dunia dari kebinasaan, yang paling pertama harus berusaha untuk mempersiapkan itu adalah ibu bapak. Meluangkan waktunya dan memberikan contoh, dan yang pertama haruslah menghubungkan anak-anak dengan Allah Ta’ala.

      Haruslah memberikan tarbiyat kepada anak-anak semenjak kecil mengenai keutamaan nizam Jemaat dan kesiapsediaan memberikan segala pengorbanan untuk itu, agar mereka tidak memiliki pemikiran lain. Setelah sampai pada usia kesadaran, ketika anak-anak ikut serta dalam program-program Waqifin Nau dan Jemaat, maka hendaklah di dalam kepala mereka tertanam kuat [pemikiran] bahwa mereka hanya dan hanya mempersembahkan dirinya untuk mengkhidmati agama.

      Sebanyak-banyaknya hendaklah menanamkan di dalam pikiran anak-anak, “Tujuan kehidupan kalian adalah untuk meraih ilmu agama.” Haruslah ditanamkan dalam pemikiran anak-anak Waqifin Nau, bahwa mereka tahun pentingnya masuk ke dalam lembaga-lembaga keagamaan Jemaat untuk memperoleh ilmu agama.

Waqifin Nau di Jamiah Ahmadiyah di Berbagai Negara

       Hendaklah cukup banyak jumlah yang masuk ke Jamiah Ahmadiyah dari Waqifin Nau. Tetapi jumlah dan hitungan [dari laporan] yang ada di hadapan saya, berdasarkan jumlah itu, selain Pakistan, semua negara sangat sedikit jumlahnya. Berkat karunia Allah Ta’ala, saat ini di Pakistan ada 1033 Waqifin Nau yang sedang belajar di Jamiah Ahmadiyah. Di India, jumlah yang sampai ke hadapan saya adalah 93 orang.

      Menurut saya, mungkin Departemen Waqf-e-Nau keliru dalam jumlah ini. Harusnya lebih dari itu. Jika ada kekeliruan dalam jumlah itu, maka Departemen [Waqf-e-Nau] India hendaklah mengumumkan berapa jumlah yang sedang belajar [di Jamiah] dari Waqifin Nau. Di Jerman ada 70 orang, ini laporan sampai Juni tahun lalu. Saat ini di sana telah lebih dari 80 orang. Jumlah ini bukan hanya dari Jerman saja, tetapi di dalamnya termasuk juga anak-anak dari berbagai negara Eropa.

      Di Jamiah Ahmadiyah Kanada ada 55 orang. Sekarang di sana mungkin sudah sedikit bertambah dari jumlah itu. Di dalamnya termasuk juga dari Amerika. Di Jamiah UK, dalam laporan yang lalu ada 120 orang. Mungkin jumlahnya sudah bertambah 10 sampai 15 orang. Di sini juga datang anak-anak dari berbagai negara Eropa yang lain.

       Di Ghana ada 12 orang, ini mungkin Jamiah baru di sana yang menyediakan gelar Syahid, yang mereka laporkan jumlahnya. Begitu juga di Bangladesh ada 23 orang. Jumlah keseluruhan yang sampai sekarang diketahui di kantor departemen [Waqf-e-Nau] adalah 1400 orang. Sedangkan jumlah anak Waqifin Nau laki-laki telah mencapai sekitar 28.000 orang.

Perlu Lebih Banyak Lagi Para Muballigh

     Medan di hadapan kita adalah seluruh dunia. Kita harus sampai ke Asia, Afrika, Eropa, Amerika, Australia, kepulauan-kepulauan, dan ke setiap tempat. Setiap tempat itu maksudnya bukan hanya setiap benua, bukan hanya setiap negara, bukan hanya setiap kota, melainkan kita harus menyampaikan pesan Islam yang elok ke setiap desa, setiap kampung, dan setiap orang di dunia. Oleh karena itu hanya beberapa mubaligh tidak dapat menyelesaikan pekerjaan ini.

       Di antara anak-anak, pada masa kecil mereka memperlihatkan kegembiraan yang sangat besar menjadi Waqf-e-Nau. Akan tetapi, dalam lingkungan Eropa ini, karena tidak ada perhatian yang benar dari ibu bapak, karena terpengaruh oleh pendidikan duniawi, atau karena duduk bersama dalam acara-acara dengan teman-teman mereka, perhatian untuk belajar subyek-subyek lain lebih besar ketimbang masuk Jamiah.

      Pada masa kanak-kanak sebagian mengatakan bahwa mereka akan masuk Jamiah, tetapi setelah lulus dari GCSC, lulus dari Secondary School, kecenderungan-kecenderungan mereka kemudian berubah. Tidak diragukan lagi, sebagian anak memiliki kecerdasan yang khusus, kecenderungan-kecenderungan mereka dapat diketahui semenjak mereka masih kecil.

      Mereka memiliki ketertarikan yang luar biasa terhadap beberapa subyek, seperti beberapa subyek Sains (ilmu pengetahuan). Di dalam pelajaran itu otak mereka pun berjalan sangat baik. Sungguh mereka itu harus didorong untuk mengambil atau mempelajari subyek-subyek itu. Tetapi kebanyakan memilih subyek-subyek setelah lulus dari Secondary School hanya karena mengikuti yang lain secara buta.

       Banyak anak-anak ketika bertemu dengan saya, saya bertanya kepada mereka, maka anak-anak kelas 10 (di sini disebut Year ten, di Amerika, Kanada, Australia, dan yang lainnya disebut dengan Grade) dan sampai GCSC, mereka belum memiliki kesadaran, kesadaran mereka belum terbentuk [untuk menentukan] subyek apa yang harus mereka ambil.

Sejak Awal Menanamkan Kesadaran Ruh Waqaf

      Jadi, jika saja sejak awal tarbiyat dari bapak dan ibu menanamkan dalam diri anak-anak bahwa, “Saya adalah Waqf-e-Nau, dan apapun yang menjadi milik saya adalah milik Jemaat.” Maka kemudian anak-anak ini akan dapat bekerja dengan ruh waqaf yang sebenarnya. Dan akan tercipta juga di dalam diri mereka perhatian untuk meminta bimbingan dari Markaz dan dari Jemaat dalam memilih subyek.

       Seperti telah saya katakan, saat ini hanya bapak dan ibu dalam Jemaat-lah yang mewaqafkan anak-anaknya dengan suatu gelora semangat dan kemudian memberikan tarbiyat kepada mereka dengan semangat dan kepedihan juga, [berharap] semoga anak-anak mereka akan menjadi para pengkhidmat Jemaat dan orang-orang yang menegakkan ruh waqaf.   Namun, kita juga tidak bisa mengatakan bahwa kebanyakan yang mengirimkan anak-anak mereka untuk Waqf-e-Nau, mereka juga memberikan perhatian yang khusus terhadap tarbiyatnya.

       Oleh karena itu, para bapak dan ibu yang mengirimkan anak-anak mereka untuk Waqf-e-Nau haruslah mengintrospeksi diri, sejauh mana mereka tengah menunaikan kewajiban mereka dalam memberikan hadiah itu kepada Jemaat? Sejauh mana mereka berusaha untuk memperindah hadiah tersebut? Sejauh mana mereka menaruh perhatian untuk mempersembahkan [hadiah itu] kepada Jemaat setelah menjadikannya elok menawan? Sejauh mana mereka menyempurnakan kewajiban-kewajiban mereka?

       Dengan menetap di negeri-negeri ini, dimana terdapat segala macam kebebasan, secara khusus sangat diperlukan perhatian dan pengawasan.  Demikian pula di Asia dan di negara-negara miskin di Afrika juga. Setelah mewaqafkan anak-anak janganlah kemudian tidak menaruh kepedulian, melainkan kewajiban bapak dan ibu keduanya untuk melakukan usaha yang istimewa.

Tujuh Hal yang Harus Diperhatikan Waqifin Nau

      Saya juga katakan kepada anak-anak Waqifin Nau yang telah mencapai usia 12 atau 13 tahun, agar mereka mulai merenungkan tentang diri mereka, menaruh perhatian seksama atas pentingnya mereka. Jangan hanya bergembira bahwa mereka adalah Waqf-e-Nau. Pentingnya mereka akan diketahui setelah mengetahui tujuan mereka, yakni apa yang harus mereka raih.

      Ciptakanlah perhatian ke arah itu. Terlebih lagi anak-anak laki-laki dan perempuan yang berusia 15 tahun, hendaklah mereka menyadari tentang pentingnya mereka dan tentang tanggung jawab mereka. Dalam ayat-ayat itu tidak hanya dijelaskan mengenai keinginan bapak dan ibu atau Nizam Jemaat, atau keinginan sebuah kelompok atau beberapa orang, melainkan anak-anak juga telah diingatkan.

       Hal pertama yang harus tercipta di dalam diri setiap anak Waqf-e-Nau adalah tentang perhatian yang sedang saya jelaskan, dan hal-hal yang tertera dalam ayat-ayat itu. Yakni, sebelum kelahirannya telah timbul keinginan di dalam hati ibunya untuk mempersembahkan dirinya demi suatu tujuan yang sangat besar. Kemudian berdoa dengan sangat merendahkan diri agar keinginan itu terpenuhi.

      Oleh karena belakangan sang bapak juga ikut serta dalam keinginan dan doa tersebut, maka seraya menghormati keinginan dan doa mereka itu, anak-anak haruslah berusaha untuk menjadikan dirinya sendiri layak untuk dipersembahkan kepada Allah Ta’ala. Dan ini hanya bisa terjadi manakala ada perhatian untuk menjadikan hati dan pikiran serta perkataan dan perbuatannya sesuai dengan keridhaan Allah Ta’ala.

     Hal kedua adalah, bapak dan ibu telah memberikan kebaikan yang sangat besar kepada kalian. Karena kebaikan itu, hendaklah berdoa untuk mereka, semoga Allah Ta’ala mengasihi mereka  (kedua orang tua). Setiap langkah yang mereka tempuh untuk tarbiyat kalian, hendaklah menjadi utama di dalam hati kalian. Dan hendaklah kalian merasa bahwa, “Saya juga harus menjadi bagian dari usaha yang sedang dilakukan oleh bapak dan ibu saya untuk menyempurnakan janji mereka, saya harus menerima tarbiyat mereka dengan senang hati, dan tidak akan pernah merusak janji ibu bapak saya.”

       Salah satu yang paling wajib untuk menyempurnakan janji untuk mendahulukan agama dari dunia adalah Waqf-e-Nau. Anak-anak Waqf-e-Nau hendaklah menyadari bahwa, “Saya harus yang paling pertama dan yang paling lebih [dalam usaha] untuk menyempurnakan janji ini.”

    Hal ketiga adalah berjanji memperlihatkan kesabaran dan istiqamah (keteguhan) untuk setiap pengorbanan guna meraih keridhaan Allah Ta’ala. “Meskipun dalam keadaan sulit, dalam keadaan keras, dalam setiap keadaan saya akan menyempurnakan janji waqaf saya. Ketamakan duniawi tidak akan pernah dapat menimbulkan ketergelinciran dalam janji waqaf saya.”

Janji Waqaf Kala Kesulitan Dalam Masalah Finansial

       Saat ini, karunia dan ihsan Allah Ta’ala tercurah atas Jemaat. Pada masa Khilafat Tsaniah (Kekhalifahan yang kedua), ada beberapa kesempatan, selama beberapa tahun di Qadian timbul kondisi kesulitan keuangan yang sangat. Tunjangan yang ditetapkan bagi para karyawan untuk kebutuhan pokok mereka, selama beberapa bulan tidak bisa diberikan.

       Begitu pula pada masa awal setelah hijrah, di Rabwah juga berlangsung keadaan seperti itu. Tetapi meskipun terjadi semua keadaan itu, para pewaqaf zindegi (wakaf hidup) di masa itu tidak pernah mengeluh dalam pekerjaan mereka, bahkan perihal keluh-kesah ini jauh dari mereka.

      Pada tahun 1970-1980, di beberapa negara Afrika pun terjadi kondisi seperti itu, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari itu sulit. Tunjangan yang didapat dari Jemaat, habis paling lama hanya 15 atau 20 hari. Para waqafin lokal mungkin hanya bisa satu kali makan dalam satu hari, dengan tunjangan yang diterima oleh mereka. Tetapi mereka senantiasa memenuhi janji waqaf mereka, dan tidak pernah mengurangi pekerjaan tabligh.

       Hal keempat adalah meningkatkan kesadaran bahwa dirinya termasuk ke dalam orang-orang yang menyebarkan kebaikan dan menghentikan keburukan-keburukan, dan berusaha untuk itu. Menegakkan contoh akhlak yang luhur, ketika contoh-contoh akhlak yang luhur telah tegak, kebaikan-kebaikan diamalkan, menyelamatkan diri sendiri dari keburukan-keburukan, maka perhatian orang-orang dengan sendirinya akan tertuju kepada contoh-contoh luhur itu. Pandangan orang-orang akan tertuju kepada Anda, maka ia pun akan mendapatkan kesempatan yang lebih. Jadi, sangatlah penting untuk menciptakan kesadaran ini di dalam diri Anda, disertai dengan usaha keras.

Selalu Meningkatkan Pemahaman Al-Quran,  Hadits dan Buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

        Hal kelima adalah memperoleh pemahaman Al-Quran dan hadits untuk mengenali kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Membaca buku-buku dan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam. Setiap saat berusaha untuk menambah ilmu agamanya.

      Tidak diragukan lagi, anak yang masuk ke Jamiah Ahmadiyah, di sana ia diajarkan ilmu agama. Tetapi janganlah menganggap bahwa setelah lulus dari sana “Sekarang ilmu saya telah sampai pada puncaknya”, melainkan hendaklah senantiasa berusaha untuk meningkatkannya. تفقه فى الدين (tafaqquh fid diin, pemahaman dalam hal-hal agama), akan terus memberikan faedah ketika ada beserta juga di dalamnya ilmu yang baru (segar), ketika air yang segar terus dijumpai di dalamnya.

      Begitu juga bagi [anak-anak Waqf-e-Nau] yang tidak belajar di Jamiah, mereka juga harus terus-menerus menaruh perhatian ke arah membaca (penelaahan). Tidaklah benar bahwa anak-anak Waqf-e-Nau yang sedang menuntut ilmu pengetahuan duniawi, mereka itu tidak membutuhkan ilmu agama. Seberapa banyak literatur yang tersedia, mereka hendaklah menaruh perhatian untuk membacanya. Hendaklah ada perhatian untuk mempelajari (membaca) terjemah Al-Quran al-Karim dan tafsir. Buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang tersedia dalam bahasanya, hendaklah ada perhatian untuk membacanya (mempelajarinya).

      Hal  keenam yang telah Allah Ta’ala perintahkan dan ke arahnya  seorang Waqf-e-Nau hendaknya memberikan perhatian, adalah terjun di medan pertablighan secara amalan nyata. Sekarang ini, sebagian Waqifaate Nau (Waqf-e-Nau perempuan) mengeluh bahwa, “Untuk kami tidak ada Jamiah. Kami tidak bisa mendapatkan ilmu agama.” Jika mereka membaca (belajar) secara pribadi seperti yang telah saya katakan, maka akan tercipta perhatian untuk bertabligh dalam lingkungannya, di manapun wilayahnya. Kesempatanpun akan diperoleh.

       Oleh karena itu, manakala perhatian ke arah tabligh telah tercipta dan kesempatan didapatkan, maka  harus ada perhatian lebih untuk mengadakan persiapan. Dengan demikian, perhatian untuk meningkatkan ilmu agama akan timbul terus-menerus dengan sendirinya.

       Jadi, lapangan pertablighan terbuka bagi setiap orang. Setiap Waqf-e-Nau harus terjun di dalamnya dan hendaknya setiap Waqf-e-Nau ambil bagian lebih dan ambil bagian setelah berpikir bahwa “Saya tidak akan duduk tenang sebelum dunia berada di bawah bendera Hadhrat [Muhammad] shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” Kesadaran dan semangat inilah yang memberikan perhatian ke arah peningkatan ilmu agama, dan perhatian ke arah tabligh pun akan selalu ada.

Penyelamat Dunia dari Kebinasaan

      Hal ketujuh adalah setiap pewakaf zindegi, Waqf-e-Nau, hendaknya menanamkan di dalam benaknya bahwa mereka termasuk ke dalam kelompok orang yang akan menyelamatkan dunia dari kebinasaan, “Jika kalian memiliki ilmu dan kalian  mendapat kesempatan juga, tetapi tidak ada semangat yang sejati untuk menyelamatkan dunia dari kebinasaan, tidak ada kepedihan hati untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, maka usaha yang dapat dilakukan dengan suatu kecepatan, itu tidak akan dapat dilakukan, dan bisa saja berkat tidak turun atasnya.”

     Walhasil, adalah penting setiap orang yang hatinya sedih [berfikir untuk tabligh], untuk memberikan perhatian ke arah doa-doa disamping usaha-usahanya menyampaikan pesan Allah Ta’ala. Doa-doa yang keluar dari rasa perih ini yang insya Allah akan menjadikan kita berhasil dalam tujuan kita.

 

Cakupan Doa Harus Luas

       Oleh karena itu, setiap orang haruslah ingat bahwa cakupan doa kita janganlah terbatas untuk diri kita, melainkan kita harus memperlihatkan alirannya mengalir ke setiap arah, agar tidak ada seorang insanpun yang luput dari karunia yang saat ini Allah Ta’ala telah anugerahkan kepada Jemaat. Hendaklah diingat juga bahwa pencapaian tujuan-tujuan kita tidak akan bisa tanpa doa-doa yang dipenuhi dengan semangat dan simpati yang sejati.

      Jadi, inilah hal-hal dan inilah pemikiran yang hendaknya dimiliki oleh seorang Waqf-e-Nau dan Waqfe Zindegi yang hakiki. Tanpa itu, harapan akan keberhasilan hanyalah khayalan yang sia-sia. Tanpa hal-hal itu Waqf-e-Nau dan Waqfe Zindegi hanyalah gelar yang dilekatkan oleh para Waqf-e-Nau seperti demikian terhadap dirinya, tidak lebih dari itu. Hanya menyandang gelar bukanlah tujuan kita, bukanlah tujuan bapak ibu mereka yang telah mempersembahkan anak-anaknya untuk pengorbanan ini. Jadi, seperti telah saya jelaskan, penting bagi para bapak ibu dan para Waqifin Nau juga untuk melaksanakan tanggung jawabnya.

Pentingnya Waqf-e-Nau Masuk Jamiah Ahmadiyah

        Saya hendak mengingatkan lagi, bahwa untuk menyebarkan agama di dunia, ilmu agama adalah penting. Dan ilmu ini paling banyak bisa diperoleh di lembaga yang tujuannya mengajarkan ilmu agama. Di dalam Jemaat, lembaga ini dikenal dengan nama Jamiah Ahmadiyah.

       Sekarang ini, dengan karunia Allah Ta’ala, sebagaimana yang telah saya katakan bahwa Jamiah-Jamiah tidak hanya ada di Pakistan atau di Qadian saja, tidak terbatas di sana saja, melainkan di UK (Inggris) juga ada, di Ghana juga. Dari keterangan-keterangan yang telah saya kemukakan, dapat diketahui bahwa di Jerman juga ada [Jamiah], di Indonesia juga, di Kanada, dan di Ghana juga seperti telah saya katakan di sana telah dibuka Jamiah baru yang menyediakan gelar Syahid. Sebelumnya di sana sudah ada Jamiah, tetapi hanya mempersiapkan muallim-muallim dalam kursus selama tiga tahun. Jamiah Ahmadiyah yang telah dibuka di Ghana, sekarang ini akan mempersiapkan muballig untuk  seluruh jemaat di Afrika dengan gelar Syahid. Begitu juga, di Bangladesh ada Jamiah Ahmadiyah juga.

       Pekerjaan tabligh adalah pekerjaan yang sangat luas, dan ini bisa [dikerjakan] secara lebih baik oleh muballigh-muballigh yang mendapatkan pendidikan (tarbiyat) secara teratur (dawam).  Oleh karena itu, sebanyak-banyaknya Waqifin Nau, atau sebanyak-banyaknya jumlah Waqifin Nau hendaklah masuk Jamiah. Sedangkan berdasarkan jumlah dan hitungan yang telah saya sebutkan, dengan jumlah itu, dalam waktu dekat bahkan dalam jangka waktu jauh kita tidak bisa menempatkan muballigh di setiap wilayah di tiap negara. Selama tidak tersedia  muallimin dan muballighin setiap waktu, program perubahan yang revolusioner dan tabligh revolusioner sangatlah sulit.

Jumlah Waqf-e-Nau dan Mempelajari Berbagai Bahasa

         Saat ini, laporan dari seluruh dunia yang sampai ke Departemen [Waqf-e-Nau]—mungkin ini laporan sampai Juli 2012—sesuai dengan laporan itu, jumlah Waqifin Nau [pewakaf laki-laki] dan Waqifate Nau [pewakaf perempuan] di atas usia 15 tahun adalah 25000. Terdiri dari 16.988 laki-laki, yang 10.687 di antaranya dari Pakistan. Jumlah Waqifin Nau terbanyak setelah Pakistan adalah Jerman, yakni 1.877 laki-laki dan 1.155 perempuan. Kemudian Inggris, yakni 918 laki-laki, 880 orang lainnya perempuan, jumlah keseluruhan ada 1.798. Tetapi Jumlah yang masuk ke Jamiah Ahmadiyah sangat sedikit, baik di Jerman maupun di UK. Di kedua Jamiah tersebut datang juga mahasiswa dari negara-negara Eropa lainnya, dengan demikian jumlahnya lebih sedikit lagi. Begitu juga di Amerika dan Kanada jumlahnya juga sedikit.

      Jemaat-Jemaat meminta muballigh-muballigh dan murabbi-murabbi, karena itu siapkanlah juga para Waqifin Nau untuk belajar di Jamiah. Saat ini, di Kanada dan Amerika sekitar 800 orang Waqifin Nau di atas 15 tahun. Jika mereka dipersiapkan, maka dalam dua tahun mendatang jumlah yang akan masuk Jamiah-Jamiah bisa ditingkatkan. Tidak hanya untuk menjadi muballigh dan murabbi, melainkan setelah belajar di Jamiah dan setelah memperoleh ilmu agama, mereka juga bisa dipersiapkan untuk menerjemahkan buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ke dalam berbagai bahasa.

       Setelah dididik di Jamiah, mereka juga bisa dispesialisasikan dalam berbagai bahasa. Kemudian yang tidak masuk Jamiah, hendaknya mereka juga menaruh perhatian untuk mempelajari bahasa-bahasa, sekurang-kurangnya mereka hendaknya menguasai 3 bahasa seperti yang disabdakan oleh Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’. Yang pertama adalah bahasanya sendiri, yang kedua bahasa Urdu, yang ketiga bahasa Arab.

Buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Tafsir Hakiki Al-Quran

       Bahasa Arab harus dipelajari untuk memahami tafsir-tafsir Al-Quran al-Karim dan banyak literatur-literatur lain yang tersedia. Jika tidak menguasai bahasa Arab, maka ketika menerjemahkan Al-Quran al-Karim juga tidak bisa dengan terjemahan yang benar. Belajar bahasa Urdu penting karena saat ini pemahaman yang benar tentang agama hanya dapat diperoleh dari buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. karena tafsir-tafsir beliau, buku-buku beliau, tulisan-tulisan beliau merupakan modal dan khazanah yang dapat menciptakan suatu revolusi di dunia, yang bisa menjelaskan ajaran Islam yang benar kepada dunia, yang bisa menjelaskan tafsir hakiki al-Quran al-Karim kepada dunia.

      Jadi, tanpa belajar bahasa Urdu pun, tidak dapat memperoleh kemahiran secara benar dalam bahasa-bahasa [lain]. Ada masa ketika Jemaat sangat kesulitan untuk hal penerjemahan, sekarang juga ada kesulitan, tetapi dengan mahasiswa yang belajar di Jamiah di berbagai negara, sampai batas tertentu kesulitan itu berkurang atau  perhatian ke arah itu timbul.

       Makalah-makalah Jamiah juga diterjemahkan dari bahasa Urdu, buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s., beberapa buku Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani telah diterjemahkan dan menurut pengawas para mahasiswa, [hasil terjemahannya] sudah baik. Tetapi, kalau standarnya tidak begitu tinggi sekalipun, [hasilnya] bisa lebih diperhalus lagi. Bagaimanapun, sebuah usaha telah mulai dilakukan.

       Namun ini hanya beberapa mahasiswa saja, yang kepada mereka diberikan satu dua buku. Kita memerlukan sebanyak-banyaknya orang-orang yang mahir dalam hal bahasa. Para Waqifin Nau harus sangat menaruh perhatian kepada hal ini. Jika selain mahasiswa Jamiah ada yang mahir bahasa, maka seperti yang telah saya katakan, ia pun harus menaruh perhatian untuk mempelajari bahasa Arab dan Urdu. Tanpa itu, tujuan yang karenanya ia menaruh perhatian kepada bahasa, tidak akan terpenuhi.

Keberatan yang Dibuat-buat terhadap Jamiah

       Di sini, di Jerman dan di beberapa tempat lain beberapa orang mengajukan keberatan kepada Jamiah, bahwa pelajaran di sini tidak bagus. Ini merupakan keberatan yang lemah tak berdasar. Menurut mereka, keberatannya adalah, ketika lulus dari Jamiah [para mahasiswa] tidak bisa (tidak fasih) berbicara bahasa Arab atau tidak fasih dalam bercengkrama.

       Sejauh pertanyaan mengenai kemahiran bahasa, karena di Jamiah diajarkan berbagai subyek pelajaran, maka tidak diberikan perhatian hanya kepada satu bahasa saja. Di universitas-universitas atau di sekolah-sekolah lain, diajarkan satu subyek pelajaran dan diberikan perhatian kepada subyek itu. Tetapi di sini diajarkan berbagai subyek pelajaran.

      Ya, jika dilihat ada seseorang yang memiliki kecenderungan kepada salah satu bahasa, atau ada kecenderungan untuk belajar berbagai bahasa, maka insya Allah ia pun akan dispesialisasikan [untuk mempelajari] bahasa-bahasa. Dan keluhan mengenai kefasihan berbicara juga akan menjadi jauh. Tetapi, sejauh pertanyaan mengenai pelajaran, ilmu yang sedang diajarkan dan dengan karunia Allah Ta’ala akan diperoleh oleh para mahasiswa sangatlah luas.

      Di Pakistan, karena memang Jamiahnya sudah lama, di sana dilakukan juga takhassus (pengkhususan) dan spesialisasi. Secara khusus saya mendapatkan informasi dari Jerman, bahwa [keberatan] ini hanyalah alasan beberapa orang untuk tidak mengirimkan anak-anaknya ke Jamiah. Seperti yang telah saya katakan, berkat karunia Allah Ta’ala para mahasiswa yang telah lulus dari Jamiah UK atau Kanada, berdasarkan pengalaman, sampai sekarang mereka sangat berpengaruh dalam medan pertablighan.

       Seperti yang telah saya katakan, bersama dengan itu Insya Allah ilmu mereka akan terus bertambah. Jadi, orang yang orang-orang yang mengatakan [keberatan] ini, dan sebagian tidak senang para mahasiswa masuk Jamiah, orang-orang ini hanya melancarkan fitnah dan di dalam diri mereka terdapat corak kemunafikan. Oleh karena itu, mereka juga hendaknya beristighfar. Beberapa perihal nizam yang telah diingatkan oleh Departemen Waqf-e-Nau, yang saya ulang kembali, mungkin sebelumnyapun sebagian telah dibahas.

Dilepaskan dari “Waqf-e-Nau”

        Dalam Waqf-e-Nau, para bapak dan ibu tidak memberikan tarbiyat kepada anak-anaknya—seperti yang telah saya katakan—setelah  mereka mencapai usia baligh atau sebelum itu. Yakni anak-anak harus mempersembahkan dirinya untuk mengkhidmati Jemaat secara dawam. Dengan tarbiyat seperti itu anak-anak hendaknya mengetahui, mereka hendaknya diingatkan mengenai setiap jenjang pendidikan, Kemudian mintalah juga bimbingan dari Departemen Waqf-e-Nau.

      Mengenai pendidikannya, anak-anak hendaklah ditanya bahwa sekarang kita telah sampai pada tingkatan ini, apa yang akan harus kita lakukan? Dan jika ia berbuat berdasarkan keinginannya sendiri dan masuk ke lembaga-lembaga yang saat ini tidak diperlukan Jemaat, maka hendaklah mereka dilepaskan dari waqaf.

       Anak-anak perempuan Waqifate Nau keturunan Pakistan, dan datang dari Pakistan, yang bisa berbicara bahasa Urdu hendaklah belajar membaca bahasa Urdu juga. Dan yang tinggal di sini, di negara-negara di luar [Pakistan], mereka juga harus mempelajari bahasa lokal. Baik di Inggris, Jerman, atau di wilayah-wilayah yang bahasanya Inggris serta bahasa-bahasa lokal, itu juga hendaknya dipelajari.

       Pelajarilah bahasa Arab, kemudian persembahkanlah diri kalian untuk pekerjaan penerjemahan. Saya melihat kalangan perempuan, anak-anak gadis lebih mahir dalam bahasa. Oleh karena itu mereka juga bisa mempersembahkan dirinya. Kemudian dokter, guru-guru, anak-anak perempuan ini juga bisa mempersembahkan dirinya setelah menjadi guru atau dokter.

       Demikian pula anak laki-laki. Maka hendaknya ada perhatian ke arah ini. Departemen hendaknya mengetahui setiap marhalah (level, tingkat). Nizam Jemaat lokal hendaknya menyelenggarakan forum sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun untuk membimbing anak-anak laki-laki dan perempuan serta untuk tarbiyat, yang di dalamnya ada bimbingan karir dan pendidikan.

Keluhan  mengenai Orang Tua Waqf-e-Nau

       Departemen [lokal] memiliki sebuah keluhan, bahwa setelah mewaqafkan dan mendapatkan nomor referensi sebagian orang tua nyaris tidak ada kontak dengan Jemaat lokal dan dengan pusat, atau tidak mengadakan kontak sebagaimana seharusnya. Ketika telah sampai pada suatu tingkatan, dimana Departemen mengatakan bahwa sudah 8 atau 10 bulan tidak ada hubungan, maka hendaknya mereka dikeluarkan, saat itu kemudian timbul komplain [dari mereka].

       Oleh karena itu, setelah mendapatkan nomor referensi bukan berarti kontak berakhir dan sudah menjadi Waqf-e-Nau. Penting untuk senantiasa menjalin hubungan dengan kantor dan Sekretaris Departemen [Waqf-e-Nau] Nasional dan dengan Markaz. Silabus untuk Waqifin Nau dan Waqifate Nau ditetapkan, sebelumnya hanya yang mendasar saja, sekarang telah ditetapkan silabus untuk anak Waqf-e-Nau laki-laki dan perempuan sampai usia 21 tahun. Itu juga hendaknya dipelajari dan jika dilaksanakan ujian [silabus] atau yang lainnya, maka hendaklah berusaha sekuat tenaga untuk ikut serta di dalamnya. Bagi mereka [Waqifin Nau laki-laki dan perempuan] yang berusia di atas itu, bagi yang menguasai bahasa Urdu mereka harus membaca tafsir al-Quran al-Karim dalam bahasa Urdu, dan bagi yang menguasai bahasa Inggris, mereka hendaklah membaca 5 Volume tafsir [bahasa Inggris]. Buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, pelajarilah terjemahan dalam bahasa yang dikuasai. Secara dawam hendaklah mendengarkan khotbahkhotbah [Jumat] dan ceramah-ceramah. Hendaklah mereka terus meningkatkan ilmunya. Ini juga penting bagi mereka. Kemudian hendaklah mereka juga biasa mengirimkan laporan.

Sekretaris Waqf-e-Nau Harus Bekerja dan Tugas Para Amir dan Sadr Badan-badan

       Di beberapa tempat para sekretaris Waqf-e-Nau tidak bekerja. Mereka hanya duduk memegang jabatan. Mereka juga harus bekerja maksimal. Tahun ini akan diadakan pemilihan, laporan dari Jemaat-Jemaat hendaknya masuk, siapa-siapa saja Sekretaris Waqf-e-Nau yang tidak bekerja. Jika mereka tidak bekerja, meskipun jumlah suara mereka banyak, maka ia tidak akan ditetapkan (ditunjuk).

       Mengenai nishaab (silabus), sebelumnya juga telah disinggung. Jika telah ada sebuah silabus Jemaat, maka haruslah pengaturannya tidak demikian bahwa pengaturannya dapat terpisah-pisah [sendiri-sendiri], anak-anak Waqf-e-Nau juga bisa ikut serta dalam silabus Jemaat [semacam kurikulum talim tarbiyat untuk anak-anak dan remaja jemaat secara umum, bukan hanya Waqf-e-Nau]. Sedikit saja perbedaan kecil diantara keduanya [Silabus Jemaat dan Silabus Waqf-e-Nau). Jika keduanya [kurikulum tarbiyat Jemaat dan silabus wakaf nau] bisa dilakukan koordinasi, maka anak-anak usia athfal bisa mempelajari silabus untuk athfal, khuddam bisa mempelajari silabus untuk khuddam, dan lajnah bisa mempelajari silabus untuk lajnah, atau masing-masing silabus bisa dicampurkan diantara mereka.

       Ketika Sekretaris Tarbiyat, Sekretaris Ta’lim dan Sekretaris Waqf-e-Nau sedang bekerja di bawah departemen dalam Jemaat, dibawah nizam Jemaat, maka merupakan tugas para Amir dan Sadr untuk mengumpulkan mereka [3 sekretaris tersebut] dan buatlah laihah-e-amal (program, panduan beramal) sedemikian rupa jelasnya sehingga bagaimanapun silabus ini dapat dibaca. Secara khusus anak-anak Waqifin Nau hendaklah diikutsertakan di dalamnya.

      Kemudian berbagai negara bisa menerbitkan silabus Waqf-e-Nau dalam bahasanya sendiri. Swedia telah menerbitkan dalam bahasanya. Hendaknya orang-orang Prancis dan Mauritius berusaha untuk menerbitkan [silabus] dalam bahasa Prancis. Upaya ini janganlah sekedar lisan saja. Berikanlah laporan tentang [pekerjaan] ini secara sempurna, siapakah yang dapat menterjemahkan dan hendaknya terjemahan ini selesai dalam waktu dua bulan.

Membuat Program yang Interaktif

      Para Waqifin Nau (anak-anak peserta Wakaf Baru) dalam muthala’ahnya (kegiatan belajarnya, penelaahan) sehari-hari, hendaknya selalu ada buku-buku agama. Meskipun hanya membaca satu atau dua halaman. Seperti yang telah saya katakan, membaca buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah yang terbaik. Begitu juga khotbah [Jumat],  100 % Waqifin Nau dan Waaqifate Nau hendaknya mendengarkan. Berusahalah.

       Suatu hari di sini, di UK, saya mengevaluasi dalam suatu kelas, menurut saya hanya 10 % yang dawam mendengar. Departeman dan juga orang tua, serta para Waqifin-e-Nau sendiri hendaknya memberi perhatian ke arah ini. Hendaknya ada pengaturan juga, sehingga program-program Waqifin-e-Nau yang dibuat adalah program yang interaktif, dan menimbulkan ketertarikan.

Komite Program Waqf-e-Nau dan Bimbingan Karir

         Begitu juga pengurus di setiap negara hendaklah membentuk sebuah komite yang dalam tiga bulan akan memperhitungkan apakah keperluan-keperluan di negara-negara tersebut dalam 10 tahun mendatang? Berapa muballigh yang diperlukan? Berapa penerjemah bahasa yang diperlukan? Berapa dokter yang diperlukan? Berapa guru yang diperlukan? Dan kebutuhan-kebutuhan lain. Begitu juga, ahli-ahli apa yang diperlukan? Berapa banyak ahli bahasa lokal yang diperlukan? Setelah memperhitungkan ini, dalam tiga sampai empat bulan hendaknya laporannya ada, dan Departemen Waqf-e-Nau hendaknya melakukan tindak lanjut yang sebaik-baiknya (proper follow up).

       Sebagian ingin terjun dalam bisnis atau masuk di kepolisian dan ketentaraan atau ingin masuk di lembaga lain. Silakan saja masuk, tetapi hendaklah ia dilepaskan dari waqaf. Ini hendaknya diumumkan. Begitu juga, di setiap negara hendaknya ada komite bimbingan karir yang akan terus mengevaluasi dan mengirimkan laporan mengenai orang-orang yang terjun dalam bidang yang bermacam-macam atau mereka yang tertarik pada bidang yang bermacam-macam, mengenai mereka akan harus ada pemberitahuan.

       Kemudian markaz akan memutuskan dalam kondisi apa seseorang diizinkan. Dan seperti yang telah saya katakan bahwa anak-anak Waqf-e-Nau yang telah mencapai usia 18 tahun jangan lupa untuk memperbaharui janji Waqf-e-Naunya, tulis dan kirimkanlah. Tulislah surat ikatan.

       Demikian juga sebuah majalah untuk Waqifin Nau laki-laki dengan judul “Ismail” dan untuk perempuan dengan judul “Maryam” telah diterbitkan. Hendaknya ada terjemahannya dalam bahasa Jerman dan Prancis.

Jika ada artikel-artikel yang ditulis Waqifin Nau dan Waqifat Nau lokal di sana, maka terbitkanlah. Kalaupun tidak ada, maka bahan-bahannya bisa tersedia dari sini, hendaklah bahan-bahan itu diterbitkan dalam bahasa masing-masing. Bersama dengan bahasa Urdu hendaknya disertakan juga bahasa lokal.

         Semoga Allah Ta’ala menimbulkan perhatian di dalam diri para orang tua — yang telah mempersembahkan anak-anaknya untuk Waqf-e-Nau — untuk berdoa dan memberikan tarbiyat dalam corak yang sungguh akan membuat mereka layak menjadi Waqifin Nau, dan semoga anak-anak ini menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya.

       Anak-anak juga hendaknya memberikan perhatian untuk menyempurnakan janji ibu bapak dan janjinya sendiri. Semoga Allah Ta’ala juga menganugerahkan taufik kepada mereka, dan semoga mereka sungguh masuk ke dalam kelompok orang yang tugasnya semata-mata hanya untuk menyebarkan agama. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada mereka.