بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

Tanggal 1 Nubuwwah 1392 HS/November 2013

Di Masjid Auckland, Selandia Baru

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

 

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأَبْصَارُ * لِيَجْزِيَهُمُ اللهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (النور: 37-39)

“Cahaya ini sekarang menyala di rumah-rumah yang mengenainya Allah telah menetapkan, bahwa mereka ditinggikan dan nama-Nya diingat di dalamnya. Mereka memuliakan Dia di dalamnya di pagi hari dan sore hari; orang-orang lelaki yang perdagangan maupun jual beli tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah dan mendirikan shalat dan membayar zakat. Supaya Allah akan memberi mereka ganjaran terbaik atas amalan mereka, dan menambahkannya kepada mereka dari karunia-Nya. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.’ (QS An-Nur, ayat 37-39).

Hari ini Tuhan telah memberi taufik kepada Jemaat Selandia Baru untuk membangun masjid mereka. Semoga Tuhan memberkati masjid ini untuk Jemaat dalam segala hal! Selandia Baru adalah Jemaat kecil dengan hanya empat ratus anggota, namun mereka telah membuat sebuah masjid yang sangat baik dengan kapasitas lebih besar dari jumlah mereka. Semoga Allah membuat mereka melebihi kapasitasnya! Anggota Jemaat yang telah bekerja siang dan malam dengan sangat antusias untuk menyelesaikan masjid. Seperti kebiasaan dalam Jemaat, mereka melakukan sendiri banyak pekerjaan [di gedung] melalui Waqari Amal dan menghemat biaya. Total biaya pembangunan masjid dan beberapa renovasi adalah 3,5 juta dolar NZ[1]. Karena Jemaat kecil, uangnya tidak bisa segera dikumpulkan, karena itu mengambil pinjaman. Namun, saya (Hadhrat Khalifatul Masih V) berharap bahwa anggota Jemaat akan segera melunasi pinjaman.

Tahun ini Jemaat Selandia Baru mencapai 25 tahun, oleh karena itu, terlepas dari jumlah mereka yang kecil, para anggota sangat ingin mengirimkan hadiah masjid kepada Allah dalam bentuk rumah-Nya. Perlu diingat bahwa semangat yang mendasari pemberian hadiah ini, hendaknya tidak tetap menjadi hadiah berdasarkan pinjaman. Upaya harus dilakukan untuk melunasi pinjaman secepat mungkin sehingga pengorbanannya murni. Pinjaman ini diambil oleh Jemaat dengan prasangka baik kepada anggota, bahwa mereka akan berkorban untuk pembangunan guna meraih keridhaan Allah.

Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda مَنْ بَنَى مَسْجِدًا للهِ بَنَى اللهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ. Man bana masjidan liLlaahi banaLlahu lahu fil jannati mitslahu bahwa seseorang yang membangun masjid karena Allah; Allah akan membuat rumah untuknya di surga. Adakah orang yang tidak menginginkan sebuah rumah di surga? Tidak ada seorang Ahmadi pun bahkan bisa memikirkan tidak meraih kenikmatan Allah dan tidak ingin mendapat berkat memiliki rumah yang dibangun di surga.

Ini adalah keindahan Jemaat bahwa dimanapun di dunia, Jemaat memberikan pengorbanan harta tanpa perhitungan. Hakekat pengorbanan harta yang Hadhrat Masih Mau’ud as mulai pada para sahabat beliau untuk menyampaikan pesan-pesan Islam ke seluruh dunia dan yang mengenainya beliau bersabda, bahwa beliau kagum melihat ketulusan tak terbatas dan kecintaan sahabat-sahabat beliau, hari ini, setelah lewat seratus tahun, hal itu masih ada pada para anggota Jemaat.

Terlepas di negara manapun para Ahmadi berada, mereka mengungguli satu sama lain dalam kesetiaan dan ketulusan. Jemaat New Zealand terdiri atas 60 % orang-orang dari Fiji, imigran Pakistan 23 % dan sisanya dari beragam etnis. Jadi Jemaat kecil ini yang terdiri dari berbagai macam orang-orang unggul dalam ketulusan. Perlu diingat bahwa ketulusan secara lahiriah, pengorbanan sementara — baik itu waktu atau kekayaan — tidak cukup bagi seorang mukmin sejati. Bahkan, martabat seorang mukmin sejati adalah dalam menjalankan ketakwaan dengan penuh tekad dan keteguhan sambil memperhatikan tujuan penciptaannya.

Dalam hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan: “Karena kurangnya pemahaman dan adanya sifat takut-takut, orang-orang dari berbagai karakter menetapkan tujuan yang berbeda bagi kehidupan mereka dan membatasinya pada tujuan dan keinginan-keinginan duniawi. Namun, tujuan yang Allah Ta’ala nyatakan dalam Kitab suci-Nya: وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS.51:57 ). Berdasarkan ayat ini, tujuan sesungguhnya kehidupan manusia adalah menyembah Allah, memperoleh makrifat mengenainya-Nya dan menjadi kepunyaan-Nya.”[2]

Perlu diingat, bahwa setelah masuk dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as, bukanlah tujuan kita untuk memberikan pengorbanan berdasarkan semangat sementara. Sebaliknya, kita harus menyembah Allah dengan keteguhan, dan ini hanya mungkin ketika seseorang memiliki kesadaran bahwa Allah adalah Pemilik semua kekuatan dan Mengawasi segala sesuatu yang dia lakukan, Memiliki pengetahuan tentang apa yang ada di dalam hatinya dan juga Memiliki pengetahuan tentang apa yang ingin dia lakukan di masa depan. Barulah dapat kita katakan bahwa dia berusaha untuk menjadi milik Tuhan. Kita seharusnya tidak menyembah Tuhan hanya ketika kita membutuhkan pertolongan-Nya, ketika kita berada dalam kesulitan, ketika kebutuhan duniawi kita tidak terpenuhi. Bahkan kita juga harus memperhatikan ibadah kepada Allah di masa yang baik. Perdagangan dan perniagaan duniawi hendaknya tidak membuat kita menjauh dari ibadah kepada Allah. Masjid ini tidak boleh terbatas menjadi sebuah bangunan belaka. Kebesaran dan keindahannya hendaknya tidak hanya mengingatkan kita tentang Waqari Amal yang kita lakukan untuk itu dan berapa banyak kontribusi yang kita lakukan untuk itu.

Bahkan gedung ini seharusnya mengingatkan kita bahwa membangun masjid di dunia ini akan menjadikan kita penerima berkat sebuah rumah di surga dari Allah. Dan ini akan terjadi ketika, setelah membuat masjid kita juga memenuhi hak-hak mesjid. Ini akan terjadi ketika, seperti dinyatakan dalam ayat yang dibacakan di awal, mukmin sejati adalah mereka yang: رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ — “…yang tidak melalaikan mereka perdagangan atau jual beli…Memang, mereka tidak lalai dari mengingat Allah, shalat dan zakat. Kita para Ahmadi harus bercita-cita untuk menjadi mukmin semacam ini. Sebuah pusat (tempat) shalat ada di sini sebelumnya, tetapi ada perbedaan yang jelas antara sebuah pusat (tempat) shalat dan masjid. Selain dari fitur arsitektur masjid, menara dan kubah, masjid memiliki hawa kesucian.

Dalam kunjungan saya tahun 2006 ke Selandia Baru, Saya telah meminta Jemaat untuk membangun sebuah masjid yang patut, dengan tujuan bahwa menara dan kubah akan mengingatkan mereka bahwa mereka telah membangun sebuah masjid dengan mengorbankan waktu dan kekayaan mereka, dan juga perlu untuk memenuhi haknya (hak masjid). Selain itu, menara dan kubah juga menjadi daya tarik bagi masyarakat lokal dan dapat menjadi sarana Tabligh. Orang-orang tertarik untuk mengetahui gambaran Islam yang sebenarnya atau sekedar ingin tahu.

Saya telah mengamati sejauh ini, bahwa dengan karunia Allah gambaran Jemaat meningkat berlipat ganda dengan adanya bangunan masjid dan karena ini peningkatan gambaran penunaian tanggungjawab terhadap masjid dapat terpenuhi. Apa itu hak-hak masjid? Pertama bahwa perdagangan dan perniagaan seseorang hendaknya tidak menjauhkannya dari mengingat Allah, pada kenyataannya bangunan masjid harus menarik seseorang untuk shalat dan mengingat Allah. Ketika panggilan ‘Hayya ‘alash shalaah’ (marilah kita shalat) selama adzan diserukan, dia harus melupakan perdagangan serta perniagaannya dan pergi ke masjid. Dapat dikatakan bahwa hari ini jarak masjid sangat jauh dan suara adzan juga tidak terdengar karena tidak disiarkan keluar. Oleh karena itu, harus disadari bahwa kita telah membangun masjid ini untuk memenuhi hak ibadah kepada Allah dan untuk mengetahui alasan penciptaan kita.

Juga, telah disebutkan sebelumnya bahwa hari ini semua orang membawa telepon seluler. Ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan menyetel alarm untuk waktu shalat. Mereka yang tinggal dekat dengan mesjid harus datang ke masjid dan mereka yang jaraknya jauh harus mengerjakan shalat di tempat kerja. Orang-orang di sekitar mereka akan melihat ini dan akan tertarik. Hal ini bisa mendorong pada mengundang teman-teman ke masjid dan dengan demikian dia akan mengingat Allah serta mulai menyampaikan pesan Islam kepada orang lain.

Hadhrat Rasulullah saw telah menimbulkan perubahan revolusioner di antara para sahabat beliau, dan ayat-ayat yang dibacakan di awal menggambarkan teladan mereka. Mereka sibuk dalam perdagangan bernilai jutaan namun hati mereka penuh dengan mengingat Allah dan mereka selalu tertarik kepada pengorbanan harta. Dan untuk perubahan revolusioner inilah di zaman ini, Tuhan mengutus pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw, Hadhrat Masih Mau’ud as, untuk memperkuat hubungan dengan Tuhan, untuk menjaga shalat dan membuat pengorbanan harta.

Saya sering menyebutkan bahwa sikap Jemaat dalam pengorbanan harta sangat tinggi, namun ada kebutuhan besar untuk memperhatikan shalat. Masjid harus diramaikan, karena menegakkan shalat yang sejati adalah ketika dikerjakan berjamaah di masjid, dan masjid dibangun untuk tujuan ini. Allah menyatakan, bahwa orang mukmin lebih peduli tentang akhirat daripada dunia ini. Ketika seseorang mencapai usia tua ia khawatir dan menangis kepada Tuhan berdoa untuk akhir hidup yang baik (husnul-khatimah). Tetapi Allah menyatakan bahwa seorang mukmin sejati tidak sampai ke tahap tersebut (tahap menangis dan berdoa untuk akhir hidup yang baik) di usia tuanya, melainkan ia tertarik pada Tuhan, pada ibadah kepada-Nya, menyucikan dirinya yaitu sejak usia muda dan selama masa kemudahan dan kemakmurannya.

Seorang mukmin sejati mengingat Allah siang dan malam dengan ketakutan terhadap akhirat selalu hadir dalam pikirannya. Demikianlah kondisi para sahabat Rasulullah saw, dan Hadhrat Masih Mau’ud as datang untuk menanamkan kondisi ini dalam diri kita. Beliau bersabda: “Hati hamba selalu sedih bahwa semoga Allah Ta’ala juga melimpahkan berkat para sahabat pada Jemaat kita. semoga mereka juga menanamkan kebenaran dan kejujuran, ketulusan dan ketaatan dalam diri mereka seperti yang dimiliki para sahabat. Semoga mereka tidak takut pada siapa pun selain Allah. Semoga mereka bertakwa karena kecintaan Allah beserta dengan orang yang bertakwa: أنَّ الله مع المتقين annallaaha ma’al muttaqiin.’ -QS.9:36).”

Jika kita menginginkan berkat Tuhan dan juga ingin menjadikan rumah kita termasuk di rumah-rumah yang ditinggikan dengan perintah (izin) Allah, maka kita perlu mengisi rumah kita dengan mengingat Allah dan menjaga rasa takut kepada-Nya selalu hadir dalam hati kita. Kekhawatiran tentang dunia, kekhawatiran tentang perdagangan seseorang seharusnya tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa takut kepada Tuhan. Hadhrat Masih Mau’ud as berulang kali meminta Jemaat untuk menanamkan ketakwaan dan mendahulukan Tuhan.

Dalam menerangkan kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as, saya katakan; “Bahkan jika seseorang memperoleh keuntungan sementara karena mengejar keduniawian dia masih merasa rentan. Tetapi jika seseorang menjadi kepunyaan Tuhan, dia mendapatkan-Nya serta mendapatkan dunia. Seperti disebutkan sebelumnya, para sahabat Rasulullah saw biasa sibuk dalam perdagangan bernilai jutaan namun mereka tidak pernah lupa mengingat Allah dan tidak pernah lupa rasa takut kepada Tuhan.”

Di zaman ini kita mengatakan bahwa setelah melakukan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as kita telah membawa perubahan suci dalam diri kita. Namun, perubahan ini hanya akan bermanfaat ketika itu adalah perubahan yang nyata dan bukan sekedar pengakuan lisan. Seseorang dihargai oleh Allah dengan rezeki duniawi maupun ruhani, ketika dia membawa perubahan sejati dan murni di mana shalat dikerjakan untuk keridhaan Allah dan perbuatan baik lainnya juga dilakukan. Allah tidak melarang seseorang melakukan perdagangan dan jual-beli, yang Dia katakan adalah bahwa perdagangan dan perniagaan ini hendaknya tidak membuat seseorang jauh dari mengingat-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda bahwa jika kita gagal untuk mengerjakan shalat apa perbedaan antara kita dan orang lain, dan apa manfaat melakukan baiat? Jika kita menganggap diri kita bagian dari Jemaat maka kita harus menjadikan jelas bahwa kita akan menyesuaikan setiap kata dan perbuatan kita sesuai dengan ridha Allah. Kita akan memiliki rasa takut kepada Tuhan di dalam hati kita dan pandangan kita akan lebih tertuju pada akhirat daripada dunia ini.

Menguraikan poin ini, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Ingatlah, hamba Allah Ta’ala yang sempurna adalah mereka yang mengenainya dinyatakan: “…yang perdagangan atau jual beli tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah…”. Ketika hati benar-benar terhubung kepada Allah dan menanamkan cinta menggebu kepadanya-Nya maka tidak bisa terpisah dari-Nya. Kondisi ini dapat dipahami dari contoh anak seseorang yang sakit. Tidak peduli di mana orang itu (orang tua anak itu), dan tidak peduli dia sedang sibuk apa, hati dan pikirannya akan menyertai anaknya. Demikian pula, mereka yang menanamkan hubungan kecintaan sejati dengan Tuhan Yang Maha Esa tidak bisa melupakan Allah Ta’ala dalam keadaan apapun.”

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda: “..Keduniawian dan iman tidak dapat hidup berdampingan.” Namun, beliau juga bersabda: “Kami tidak mengatakan bahwa petani harus meninggalkan pertanian atau pedagang meninggalkan perdagangan atau pegawai meninggalkan pekerjaannya atau bisnisman meninggalkan bisnisnya dan duduk menganggur. Sebaliknya, kami mengatakan hendaknya [menjadi orang] “…yang perdagangan atau jual beli tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah…” Sementara mereka terlibat dalam tugas-tugas mereka tetapi hati mereka mengingat Allah. Seorang pedagang dalam perdagangan, seorang petani di bidang pertanian, seorang raja di pemerintahannya, singkatnya apapun tugas yang harus dia lakukan, dia terus menjadikan Allah sebagai tujuan; dan melakukan apa yang dia inginkan sambil menjaga kebesaran-Nya dan kekuasaan-Nya serta mematuhi apa yang telah diperintahkan dan apa yang telah dilarang dalam perintah-perintah-Nya.”

makna “Dan melakukan apa yang dia inginkan” berarti bahwa ketika seseorang mematuhi semua ini, dia tidak akan memiliki cara lain kecuali mengikuti Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut mengatakan: “Takutlah kepada Allah dan kemudian kerjakan semuanya. Kapan Islam memberikan ajaran bahwa seseorang harus meninggalkan perdagangan dan duduk-duduk seperti orang lumpuh, dan bukannya melayani orang lain, justru menjadi beban bagi mereka. Tidak sama sekali! Bahkan menjadi malas adalah dosa. Bagaimana bisa orang seperti itu melayani Allah dan agama-Nya serta mencukupi kebutuhan keluarganya yang telah dipercayakan kepadanya oleh-Nya? Ini harus selalu diingat, bahwa bukanlah kehendak Allah bahwa dunia harus benar-benar ditinggalkan, melainkan kehendak-Nya adalah: قد أفلح من زكاها “Sesungguhnya telah berhasillah barangsiapa yang memperbanyaknya(QS.91:10). Orang yang berhasil hanyalah mereka menjaga diri mereka sendiri supaya tetap suci. Sucikanlah diri sedemikian rupa sehingga masalah-masalah [duniawi] ini tidak membuat kalian lalai dan kemudian dunia kalian akan menjadi tunduk pada agama. Manusia tidak diciptakan untuk dunia. Jika hati murni dan seseorang selalu penuh ghairat serta semangat untuk membuat Allah ridha maka dunia juga menjadi halal bagi orang itu. Perbuatan dinilai dari niatnya.”

Ini adalah kondisi yang setiap Ahmadi harus tanamkan. Saat kita telah berjanji untuk mendahulukan agama diatas hal-hal duniawi, itu menandakan bahwa hal-hal duniawi akan tunduk kepada agama. Beruntunglah orang di antara kita yang memiliki pandangan ini dan menjalani hidup mereka dengan itu. Melakukan baiat dan membangun masjid akan menjadi sia-sia tanpa itu, dan berlangsungnya Jalsah (New Zealand) ini juga akan sia-sia karena ini bukanlah pertemuan duniawi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pengetahuan agama dan kebaikan rohaniah. Perubahan murni lebih dari sebelumnya harus ditanamkan dengan pembangunan mesjid baru. Ini juga insya Allah akan membuka jalan tabligh, jadi amalan kita harus dibentuk sesuai itu.

Saya menarik perhatian Jemaat Selandia Baru dan organisasi Badan-Badan untuk tidak hanya mengandalkan cara-cara tabligh tradisional tetapi menemukan cara dan sarana baru untuk dipraktekkan dan memperkenalkan Islam sebanyak mungkin. Beliau bersabda bahwa liputan Maori TV pada acara mengenai terjemahan Al-Quran dalam bahasa Maori adalah sumber pengenalan Jemaat, dan peresmian masjid akan lebih meningkatkan pengenalan ini. Allah telah menyediakan pengaturan ini dan itu harus dibantu untuk penyebaran Islam demi meraih keridhaan Allah. Sementara memenuhi hak ibadah kepada Allah, juga menunjukkan akhlak yang tinggi, cinta, kasih sayang dan kerja sama sehingga benar-benar memperkenalkan Islam kepada orang-orang daerah (setempat) dan membantu menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam. Jika tekad kuat, bahkan Jemaat kecil pun dapat melakukan tugas ini. Masjid-mesjid Indah telah dilihat oleh Ahmadi di seluruh dunia melalui MTA. Mereka juga akan tertarik pada beberapa fakta dan pengetahuan tentang hal itu. Masjid ini dinamai Baitul Muqeet (Rumah Allah, Yang Maha Menjaga) dan lokasinya nyaman, dekat dengan stasiun kereta api dan jalan tol.

 Area di bawah dua hektar, dibeli pada tahun 1999, dan hall dibangun di sini yang digunakan sebagai pusat shalat. Selama perjalanan beliau pada 2006 Hadhrat Khalifatul Masih menyarankan untuk memperluas bangunan. Pembangunan dimulai pada bulan Juli 2012 dan selesai pada Agustus 2013. Masjid ini terdiri dari dua lantai. Menara 18,5 meter. Majlis Amilah Lokal (Dewan Pengurus Jemaat Lokal) menganggap masjid memiliki kapasitas 600 meter tetapi menurut saya mungkin dapat menampung 750 jamaah, dan 300 orang dapat mengerjakan shalat di bangunan lama, jadi jumlah total 1000 orang. Sebuah Langgar Khana juga telah dibangun.

Seperti kebiasaan dalam Jemaat, kontribusi besar dilakukan untuk pembangunan masjid, perempuan memberikan perhiasan mereka dan anak-anak menyumbangkan uang saku mereka. Dikatakan bahwa pada dua titik selama pembangunan konstruksi tidak ada dana di rekening Jemaat pada akhir bulan, tetapi kontraktor harus dibayar. Majelis Amilah Nasional dan Badan-badan segera mengumpulkan 100.000 dolar atau lebih untuk melakukan pembayaran. Dengan karunia Allah beberapa anggota membuat pengorbanan lebih dari 100.000 dolar dan semua orang memberi sesuai dengan kemampuan mereka.

 Jemaat New Zealand kecil tetapi biaya pembangunan masjid besar sehingga anggota melakukan pengorbanan yang luar biasa. Semoga Tuhan memberikan banyak berkat pada semua orang yang memberikan pengorbanan, mereka yang tidak bisa memberikan finansial memberikan waktu mereka dan melakukan Waqari Amal.

Semoga Tuhan meningkatkan ketulusan mereka dan menjaga generasi mereka berikutnya tetap terhubung kepada Jamaat Ahmadiyah dan meningkatkan iman mereka! Semoga mereka memenuhi hak-hak masjid dan juga mengisi rumah mereka dengan mengingat Allah. Semoga mereka dipenuhi dengan semangat memenuhi hak-hak umat manusia dan ditarik untuk menyebarkan pesan Islam sejati.

Seperti disebutkan sebelumnya, ini adalah hari-hari Jalsah Selandia Baru, jadi perhatian istimewa harus diberikan kepada shalat selama Jalsah. Perlu berdoa agar Tuhan dapat membawa perubahan murni dalam diri kita semua, dan semoga hati kita memiliki rasa takut lebih besar kepada Allah, dan semoga perubahan murni menjadi bagian dari kehidupan kita, dan semoga semua peserta Jalsah menjadi penerima doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as bagi mereka yang menghadiri Jalsah.

[1] Dollar New Zealand. Mata uang Selandia Baru.

[2] Islami Ushul ki Filasafi (Filsafat Ajaran Islam), Ruhani Khazain, jilid 10, h. 414